REVIEW - BADUT GENDONG
Hantunya tampak unik sekaligus mengerikan, pengarahan aksi Charles Gozali masih bertenaga seperti biasa, akting jajaran pemainnya pun tepat sasaran. Sayangnya Badut Gendong terjerembab akibat naskah yang tanpa arah. Film ini ibarat rumah besar penuh perabot mewah serta teknologi modern, tapi karena pondasinya ringih, terlihat bisa roboh kapan saja.
Idenya dilandasi eksplorasi terhadap budaya menarik dari Solo yang (setahu saya) belum pernah diangkat ke layar lebar. Bukti betapa kaya budaya negeri ini, baik yang bersifat mistis maupun yang berpotensi terkoneksi ke sana. Badut gedong sebutannya, di mana sesuai nama tersebut, si seniman menari sembari mengenakan kostum badut, untuk menghasilkan ilusi seolah ia sedang digendong oleh benda mati itu.
Darso (Marthino Lio) jadi pelakon badut gendong yang kita ikuti kisah hidupnya. Dia memilih pulang kampung pasca suatu tragedi merenggut nyawa istrinya, Darsi (Dayinta Melira), yang tengah hamil muda. Alih-alih kedamaian, kepulangan Darso justru menempatkannya di antara konflik antara warga dengan korporasi yang berniat mengambil alih lahan secara paksa.
Serangkaian gesekan pun terjadi. Kendati Arini (Clara Bernadeth) selaku pengacara perusahaan berniat menempuh jalan damai, Billy (Khiva Rayanka) lebih menyukai cara yang menampik kemanusiaan. Ketika amarah Ki Kamboja (Barry Prima) si dukun sakti desa membuncah, turunlah kekuatan jahat haus darah yang turut menyeret Darso dan badutnya ke pusat permasalahan.
Kemudian filmnya melangkah ke teritori slasher, ketika Darso yang tubuhnya dikendalikan oleh si boneka badut mulai membunuh satu per satu penghuni kampung, dari mereka yang pernah bersalah padanya, anggota perusahaan yang bersikap kasar, hingga warga tak bersalah. Iblis tidak pandang bulu dalam menumpahkan amarahnya, dan para penyuka horor brutal bakal puas menyaksikan anggota tubuh manusia berceceran di sepanjang durasi.
Charles beberapa kali menyusun shot yang berhasil memotret sisi angker sang badut, terutama setiap ia mengambil alih tubuh Darso yang terlelap, kemudian menggerakkannya secara perlahan di sela-sela keheningan.
Saya kagum pada bagaimana teknis "gendong-menggendong" ini dieksekusi. Marthino Lio seperti benar-benar ada dalam kondisi tak berdaya dan bergerak di bawah pengaruh badutnya. Ada adegan di mana Darso dikejar-kejar oleh Billy beserta anak buahnya, yang saya asumsikan melibatkan kombinasi antara akting meyakinkan dengan trik kamera apik.
Gelaran aksi Badut Gendong juga sama mengagumkannya. Didukung koreografi tangkas dan tata kamera yang menari lincah, Charles membuat (badut) Darso bak jagoan laga dengan refleks tingkat dewa yang sanggup begitu cekatan menghindari desingan peluru.
Semua terdengar memuaskan? Memang. Karena seperti telah disinggung di awal tulisan, hanya satu departemen di Badut Gendong yang meninggalkan kekecewaan. Departemen yang semestinya merupakan tulang punggung, yakni naskah. Sewaktu deretan keunggulan di atas absen dari layar guna memberi waktu bagi ceritanya mengalir, daya tarik filmnya pun turut absen. Badut Gendong terasa hampa kala aroma kematian tidak sedang menyeruak.
Diceritakan, gara-gara bencana alam yang mendadak menyerang, akses menuju desa terputus, sehingga saat pembantaian terjadi, mereka tidak bisa mengandalkan pertolongan pihak luar. Tapi naskahnya gagal membangun kesan bahwa penonton sedang terjebak bersama tokoh-tokohnya. Semua berjalan nihil urgensi. Belum lagi ketiadaan misteri yang mesti dipecahkan atau problematika mendalam untuk ditelusuri.
Marthino Lio tampil efektif memerankan laki-laki berhati rapuh yang hanya mengenal kepiluan akibat rasa kehilangan, tapi penokohan Darso luput dieksplorasi oleh naskahnya. Darso mesti berbagi sorotan dengan duo Arini dan Jamil si Babinsa (Derby Romero) dengan investigasi miskin daya tarik mereka, yang didominasi adegan berboncengan motor. Badut Gendong tidak buruk, hanya saja naskahnya gagal menjalankan peran menggendong penceritaan.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar