REVIEW - AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?
Di adaptasi novel berjudul sama karya Khoirul Trian ini, bila ada karakter sedang melakukan sesuatu, bahkan untuk hal sederhana seperti berjalan, jangan harap semua berlangsung mulus. Dia akan terjatuh, mendadak terserang penyakit, atau mengalami musibah eksternal yang entah datang dari mana. Korban kutukan dalam film horor pun rasanya takkan sesial itu.
Begitulah problem di Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?, maupun banyak tearjerker lain yang berupaya terlampau keras memeras air mata penonton. Belum sempat kita meresapi dampak emosi suatu peristiwa, filmnya sudah menimpakan kesialan lain pada karakternya, bak dikejar tuntutan memenuhi daftar periksa.
Sosok ayah yang disebut oleh judulnya bernama Yudi (Dwi Sasono). Dia senantiasa murung, memancarkan ketidakberdayaan, hemat pula dalam berkata-kata. "Diam itu emas" bak jadi pepatah favorit Yudi. Hanya saja, alih-alih sungguhan menghasilkan emas, sikap diamnya cuma membawa cemas. Bagi sang istri, Lia (Unique Priscilla), yang tiap hari dibuatnya kesal, maupun anak-anaknya, Dira (Mawar de Jongh) dan Darin (Rey Bong) yang merindukan kehadiran figur ayah di rumah.
Sepulang kerja, Yudi membawa gulai yang tak lagi bisa dimakan akibat kemasukan air hujan. Sewaktu gas habis, bukannya menolong Lia mengangkat tabung ke warung, Yudi malah mencetuskan ide cemerlang guna memakai kompor minyak yang sudah tak dipakai sedari pandemi. Telur dadar buatannya pun gosong. Puncaknya, keteledoran Yudi membuat gas yang baru istrinya beli meledak.
Lia harus menjalani rawat inap di rumah sakit sehingga terpaksa berhenti berjualan soto untuk sementara, Yudi terlilit utang puluhan juta di koperasi, Dira kesulitan mencari kerja, Darin yang sudah tiga bulan terlambat membayar SPP juga kerap terlibat perkelahian di sekolah. Di tengah semua itu, Yudi masih saja duduk diam sambil diiringi bunyi token listrik yang tak mampu ia isi ulang.
Naskah buatan Kuntz Agus (juga duduk di kursi sutradara) dan Oka Aurora mengharap belas kasih penonton, namun lalai memperlihatkan kualitas positif yang Yudi miliki (dia buruk di segala hal!), kecuali lewat twist di penghujung durasi yang kental aroma romantisasi terhadap "nilai kekeluargaan" usang, dengan menjustifikasi pilihan orang tua mengubur rahasia atas nama "membahagiakan anak". Wahai para orang tua, hidup anak justru bakal makin repot jika kalian kukuh menyembunyikan fakta.
Di luar kualitas naskah, sejatinya film ini digarap memadai. Kuntz Agus tahu cara mengalirkan alur secara mulus, pengadeganannya pun enggan bersikap murahan ketika ogah mengemis tangis dalam tiap kesempatan. Sedangkan di departemen akting, Unique Priscilla sebagai figur ibu pejuang, Dwi Sasono yang bak mengunjungi kembali karakternya di Budi Pekerti, Mawar de Jongh sebagai individu yang memegang integritas kendati dijerat kemiskinan, hingga Rey Bong sebagai remaja pemberontak, semuanya mengolah rasa dengan solid.
Pada satu kesempatan, Dira mengutarakan minatnya melanjutkan S2 ke Inggris. Ibunya menyampaikan penolakan melalui jawaban, "Mau kuliah apa mau kabur sih?" Dira memang ingin sejenak melepaskan diri dari kepenatan dinamika keluarganya yang seolah lupa cara berkomunikasi. Tidak satu pun ruang berbicara disediakan guna menguraikan masalah yang tiada henti menyerbu mereka. Rasanya di luar sana bakal banyak orang mengamini intensi Dira.
Materi milik Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? memang berpotensi melahirkan kedekatan dengan penonton, baik untuk mereka yang mesti menghadapi keluarga disfungsional, maupun di hati barisan anak yang tak lagi mempunyai figur ayah (momen penutup serta adegan pengiring kreditnya akan terasa menusuk).
Sayangnya, alih-alih berfokus memperdalam deretan elemen relatable di atas, film ini lebih tertarik menginjeksi sebanyak mungkin kesialan bagi protagonisnya. Banyak yang semestinya tidak perlu terjadi, termasuk konflik puncak di babak ketiga, yang mustahil pecah andai karakternya lebih cekatan menjabarkan kebenaran.
Naskahnya membungkam kapasitas karakternya berbicara demi memanjangkan permasalahan. Perasaan penonton memang dapat terkoneksi dengan karakter yang dihantui nasib buruk, tapi orang-orang dalam Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? menciptakan kesialan mereka sendiri.


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar