REVIEW - THE CHRONOLOGY OF WATER

Tidak ada komentar

Berangkat dari memoar berjudul sama buatan Lidia Yuknavitch, The Chronology of Water adalah tipe film yang akan terus bergulir di batin penontonnya jauh selepas durasi tuntas. Penceritaannya menentang keteraturan struktur narasi dalam rangka mengedepankan konstruksi emosi. Kisahnya bisa berakhir, namun rasa yang dihasilkan menetap dan terukir. 

Melalui debut penyutradaraannya ini, Kristen Stewart mengambil beberapa pilihan berani. Dibantu tata sinematografi arahan Corey C. Waters, keseluruhan film (bukan parsial sebagaimana gemar dilakukan banyak sineas) ia presentasikan dalam gaya visual video rumahan guna menguarkan aroma keintiman. 

Demikian pula terkait voice over Lidia Yuknavitch (diperankan Imogen Poots) yang acap kali diucapkan lewat bisikan luar biasa lirih demi menggarisbawahi kesan personal. Si protagonis bak tengah curi-curi kesempatan mengutarakan setumpuk rahasia yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang. 

Tapi tindakan berani Stewart (turut menulis naskahnya) yang paling signifikan terletak pada gaya bertutur. Ibarat aliran air yang memiliki kronologinya sendiri, alurnya bergerak bebas layaknya memori yang datang dan pergi secara acak. Ada kalanya menggenang dengan tenang, namun bisa berdebur deras di lain kesempatan.

Alkisah, Lidia punya dua kegemaran: menulis dan berenang. Keduanya jadi alat untuk kabur dari kehidupannya di rumah. Pasca si kakak, Claudia (Thora Birch) pergi, Lidia jadi target pelecehan ayahnya, Mike (Michael Epp), sementara sang ibu, Dorothy (Susannah Flood), melakukan pembiaran sembari tenggelam dalam kubangan alkohol. 

Berenang jadi media pembebasan diri bagi Lidia. Sewaktu melaju di kolam ia seolah bergerak pergi dari penderitaan, dan tatkala luka tak lagi tertahankan, menyelam ke dasar jadi pilihan guna menghilang sejenak dari kehidupan. Tapi bahkan setelah berhasil memisahkan diri dari keluarga untuk berkuliah, masalah masih juga enggan berpisah. 

Melalui alurnya yang bergerak maju-mundur, pula metode penyuntingan yang coba meniru bagaimana memori bekerja dengan melepaskan diri dari kesan kohesif, kita dibawa menyaksikan dinamika dunia Lidia. Beberapa hubungan toxic, adiksi alkohol dan narkoba, kehamilan tak terduga, karir olahraga serta prestasi akademis yang satu per satu runtuh, semua mesti dihadapinya. Tentu banyak dari kekacauan tadi hadir akibat ulah Lidia sendiri, dan filmnya tak berniat menampik realita tersebut. 

Lidia bukan protagonis yang (selalu) simpatik. Tapi haruskah? Kita terbiasa dikondisikan oleh sinema arus utama, untuk percaya bahwa karakter utama mesti piawai mendulang simpati, seolah hanya individu yang mendekati kesempurnaan saja yang patut diikuti perjalanannya. The Chronology of Water bukan bertujuan mengemis simpati penonton, melainkan memberi ruang bicara bagi orang-orang seperti Lidia, yang menghabiskan seumur hidupnya berjuang menenangkan riak-riak trauma.

Kendati naskah buatan Stewart secara mengagumkan hadir dengan baris-baris kalimat puitis, visualisasinya kental akan ketidaknyamanan. Sebagaimana penokohan Lidia yang menjauhi kesucian khas protagonis Hollywood, Stewart enggan mempermanis presentasi dengan tujuan memudahkan dan menyamankan penonton. 

Kekerasan hingga seksualitas tampil gamblang. Bukan selaku perayaan atas kebejatan atau semata ekspresi kenakalan sang sineas, tapi wujud komitmen guna menyediakan ruang berbicara apa adanya bagi individu seperti Lidia. Pelaksanaannya tidak asal. Terlihat dari sensitivitasnya saat menolak kevulgaran saat menggambarkan pelecehan yang Lidia alami. 

Imogen Poots bermain luar biasa sebagai perempuan yang disudutkan oleh lika-liku luka yang begitu garang. Matanya sendu. Senyumnya kaya akan ironi. Raut mukanya ibarat pintu menuju batin Lidia, yang tak ubahnya buku berisi cerita yang takkan pernah bisa usai dibaca. Lidia bukannya mampu menyulap segala deritanya supaya lenyap, melainkan tumbuh bersamanya. Saya sendiri tidak bisa melupakan apa yang film ini tampilkan. Sewaktu kredit bergulir, saya cuma terdiam, membiarkan seluruh perasaan mengalir layaknya air yang memenuhi gelas bernama "hati". 

(Klik Film)

Tidak ada komentar :

Comment Page: