REVIEW - LEE CRONIN'S THE MUMMY

Tidak ada komentar

Seorang anak perempuan menerima buah beracun dari perempuan misterius, memakannya, kemudian tertidur. Tapi alih-alih ciuman pangeran tampan, dia baru membuka mata delapan tahun berselang pasca pesawat yang mengangkut sarkofagus tempatnya bersemayam mengalami kecelakaan. Dia bukan terbangun sebagai puteri bahagia, melainkan monster haus darah. 

Menjauh dari petualangan arkeologis milik Stephen Sommers (bakal mendapatkan film keempatnya di tahun 2028), Lee Cronin membawa The Mummy kembali ke akar horornya, lewat peleburan hikayat supernatural Mesir dan versi sinting dari Snow White selaku pondasi cerita, dengan sentuhan khas Evil Dead sebagai cara menumpahkan darah. 

Anak di atas bernama Katie (Emily Mitchell), putri sulung Charlie Cannon (Jack Reynor) dan Larissa Cannon (Laia Costa), pasutri Amerika yang menetap di Mesir. Suatu hari, sewaktu tengah bermain sendirian di taman, Katie diculik oleh perempuan aneh (Hayat Kamille). Charlie berupaya mengejar, namun badai pasir ganas menyapu sisa jejak keberadaan putrinya. 

Delapan tahun berselang, pasutri ini telah pindah ke Albuquerque, New Mexico, tinggal bersama Sebastián (Shylo Molina) si anak kedua dan Maud (Billie Roy) si bungsu, di rumah Carmen (Verónica Falcón), ibu Larissa. Duka akibat hilangnya Katie selalu membayangi, semburat cahaya bahagia cenderung sukar menerangi mereka, tapi pada dasarnya keluarga ini tetap harmonis. Naskah buatan Lee Cronin menampik formula usang seputar keluarga disfungsional dalam horor arus utama Hollywood. 

Sampai pihak berwajib mengabari bahwa Katie (kini diperankan Natalie Grace) telah ditemukan. Katie masih bernyawa namum perangainya berbeda. Departemen tata rias merealisasikan sosok baru Katie dengan apik, mencapai keseimbangan antara figur manusia dan monster untuk mencuatkan ketakutan kita terhadap ketidakpastian. Kegemaran Cronin dan sinematografernya, Dave Garbett, memakai split diopter shot makin mengentalkan nuansa tidak nyaman dari eksistensi Katie. 

Sederhananya, ada pihak yang melakukan mumifikasi pada tubuh Katie, lalu menyimpannya dalam sarkofagus untuk alasan yang belum terungkap. Cronin menggunakan mumifikasi sebagai simbol atas tindak menyembunyikan fakta. Mengubur sejarah. Pembungkaman. Sepanjang 133 menit durasi, beberapa karakternya pun sempat digambarkan kehilangan kemampuan berbicara akibat beragam alasan. Suara mereka dirampas. 

Mitologi mumi didekonstruksi, dijadikan monster yang lahir dar upaya mengubur kebenaran. Di antara paparan mengenai rasa janggal yang pasutri Cannon rasakan mengenai putri mereka, alurnya menyelipkan subplot tentang Detektif Dalia (May Calamawy) beserta investigasinya di Mesir perihal kasus Katie. Subplot tersebut cenderung mengacaukan pacing dan intensitas karena acap kali muncul di tengah jalannya teror, tapi toh keberadaannya memang senada dengan tema film soal "menyibak tabir rahasia."

Sebagaimana di Evil Dead Rise (alasan mengapa bagi saya Evil Dead buatan Fede Álvarez masih jauh lebih gila) ada kalanya Cronin terkesan menahan diri urusan menambah tumpukan mayat. Momen saat sebuah "pertemuan" terjadi sebelum babak ketiga pun enggan dimanfaatkan sebagai wadah pertumpahan bergalon-galon darah. 

Untungnya, tiap tiba giliran bagi sentuhan gore mengambil alih sorotan utama, Cronin mampu memaksimalkan tingkat efektivitasnya. Tengok "adegan kuku" yang sanggup meledakkan rasa sakit tingkat tinggi secara tak terduga. Di beberapa kesempatan, filmnya mendorong daya tahan tubuh Katie (dan toleransi rasa sakit penonton) sampai ke titik paling ekstrim. Pemandangan menjijikkan pun tidak luput disebar di banyak titik, termasuk sebuah peristiwa yang melibatkan cairan dari tubuh jenazah. Entah kapan terakhir kali saya berteriak histeris dan merasa mual sebanyak ini dalam bioskop. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: