REVIEW - THE DEVIL WEARS PRADA 2

1 komentar

"Chick flick". Dahulu, istilah (seksis) tersebut kerap disematkan bagi tontonan semacam ini. Film khusus perempuan. Tidakkah laki-laki juga boleh menikmati film tentang setumpuk gaun bermerek yang dikenakan oleh protagonis perempuan seraya ia menavigasi hidup dan karirnya? Serupa pendahulunya dua dekade lalu, The Devil Wears Prada 2 memberkati mata  dengan kecantikannya, pula menyulut tawa serta memenuhi hati lewat perjalanan si tokoh utama. 

Kali pertama penonton bertemu lagi dengan Andy (Anne Hathaway), ia sedang berjalan melintasi keramaian New York. Bagaimana kamera menangkap pergerakannya, seketika mengingatkan pada pemandangan dari film-film pop 90-an dan awal 2000-an. Wajar, sebab David Frankel kembali duduk di kursi sutradara. 

Andy dihadapkan pada fakta bahwa media cetak mulai hilang termakan zaman, tatkala ia dan rekan-rekan jurnalis lain kehilangan pekerjaan secara mendadak. Di saat bersamaan, Runway yang telah beralih ke medium digital, tengah didera skandal yang mengakibatkan kredibilitas Miranda Priestly (Meryl Streep) dipertanyakan. 

Takdir bertaut. Andy direkrut sebagai editor guna mengatrol reputasi perusahaan, bertemu lagi dengan mantan bos yang dulu ia takuti, Nigel (Stanley Tucci) yang masih baik hati, berurusan dengan kekisruhan korporasi, pula bersinggungan dengan Emily (Emily Blunt) yang sekarang memegang jabatan penting di salah satu pendana terbesar Runway: Dior. Saya tersentuh oleh reuni para perempuan (plus seorang lelaki) yang sama-sama berjibaku mengejar karir masing-masing ini. 

Andy kembali ke Runway bukan lagi pesuruh Miranda, melainkan rekan yang nyaris setara. Selain karena kini ia adalah jurnalis ternama, perubahan zaman membuat Miranda bukan lagi figur "tak tersentuh" seperti 20 tahun lalu. Dia mesti menggantung mantelnya sendiri, dilarang menghina bawahan, mendapati keterbatasan biaya, bahkan terpaksa menerima disetir oleh keinginan pihak lain.

Penggambaran tersebut sesuai dengan era yang enggan menjustifikasi eksistensi atasan toksik, tapi di sisi lain, rasanya ada "mistisisme" yang lenyap. Salah satu alasan The Devil Wears Prada begitu ikonik adalah penokohan Miranda yang terpisah amat jauh dari realita manusia biasa, dan keputusan lebih mendekatkannya ke bumi atas nama tuntutan zaman agak melucuti pesona filmnya. 

Sebagai representasi era, perubahan tersebut memang diperlakukan. Era di mana jurnalisme berubah, sementara majalah mode yang dulu sakral kini direduksi menjadi konten yang publik nikmati sambil buang air. Saya merasa ulasan film pun mengalami nasib serupa. Telaah mendalam dianggap tindak berlebihan oleh publik yang lebih menggandrungi pemberian skor atau penghakiman "baik/jelek" secara instan. 

Tapi naskah buatan Aline Brosh McKenna tidak bersikap layaknya makhluk purba yang mengerdilkan paham kekinian sambil mengenang "the good ol' days." Perspektifnya cukup berimbang, dengan mengamini betapa modernisasi, sebagaimana perihal apa pun di dunia ini, punya sisi positif dan negatif. Misal di satu kesempatan saat Andy mendapati stigma buruk yang ia sematkan pada Gen Z dibantah oleh kecerdikan asistennya, Jin Chao (Helen J. Shen). 

Keresahan The Devil Wears Prada 2 terkait modernisasi cenderung dialamatkan pada fenomena hilangnya "keindahan" akibat tuntutan industri yang mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Film ini ingin melestarikan keindahan seperti desain baju, karya tulis, lukisan, hingga majalah bak kitab suci, maupun seni untuk membuat segala hal tersebut. 

Jadilah dua jam penuh keindahan visual hasil persembahan baju-baju glamornya. Dunia milik kaum jetset yang mewah nan meriah. Di situlah jajaran pelakonnya berperan menginjeksi humanisme. Interaksi antara Anne Hathaway yang masih piawai mencurahkan kecanggungan, Emily Blunt yang membuat tindakan merendahkan orang lain jadi hiburan menyenangkan, dan Stanley Tucci lewat gaya deadpan andalannya, senantiasa membuat senyum saya mengembang. 

Meryl Streep tetaplah Meryl Streep. Master seni peran yang punya segudang cara untuk menyulap kalimat sederhana jadi terdengar memiliki jutaan warna. Terdapat dua peristiwa yang menangkap kelihaiannya mengolah rasa. Pertama sewaktu ia dan Tucci berbagi momen personal, kedua saat Miranda mengakui ketidaksempurnaannya sembari menjabarkan realita mengenai perempuan yang mengorbankan banyak hal demi karir. 

Miranda memang tak ubahnya monster, tapi dia berasal dari era yang menuntut perempuan bekerja dua kali lebih keras dan bersikap dua kali lebih ganas dari laki-laki supaya berkesempatan mereguk sukses. Kini waktunya bagi generasi Andy untuk memastikan bahwa perempuan di industri tidak perlu bertransformasi menjadi "Miranda 2.0" guna mencapai puncak dunia. 

Tentu saya menyadari resolusi konflik yang film ini tawarkan terkesan menggampangkan. Tapi toh saya enggan ambil pusing, sebab realitanya, andai prinsip "women support women" sungguh diterapkan secara tepat, pun perempuan memiliki lebih banyak daya dan kuasa, dunia ini dengan segala badainya memang bakal menjadi lebih gampang diarungi. 

1 komentar :

Comment Page:
Abhiem mengatakan...

Apakah Meryl Streep layak masuk nominasi Oscar melalui perannya di film ini?