REVIEW - THE SHEEP DETECTIVES
Kendati mendapat ulasang sangat positif, The Sheep Detectives tidak bakal berseliweran di musim penghargaan, maupun meraup pendapatan hingga ratusan juta dollar. Tapi suatu hari, entah berapa tahun lagi, akan ada orang yang iseng-iseng menontonnya di layanan OTT atau siaran televisi Minggu pagi, kemudian terhipnotis oleh pesonanya, atau bahkan menjadikan adaptasi novel Three Bags Full karya Leonie Swann ini sebagai "comfort movie" mereka. Tipikal film semacam itu.
Awalnya semua berlangsung damai sebagaimana biasa di kota kecil bernama Denbrook. George Hardy (Hugh Jackman), si gembala yang mengisolasi diri di antara hijaunya padang rumput pinggiran kota, mengabdikan hidup untuk merawat domba-domba miliknya. Makanan serta obat-obatan tak pernah lalai ia berikan, pula afeksi, termasuk kala tiap sore membacakan novel misteri di hadapan para domba yang seolah memperhatikan dengan takzim.
Satu jenis peran yang mampu Hugh Jackman lakoni secara meyakinkan selain jagoan super kekar nan tangguh adalah figur laki-laki penyayang. Kehangatan terpancar dari sorot matanya. Tapi tentu domba-domba tersebut hanya peduli soal mengisi perut dan tak memahami cinta sang gembala bukan?
Salah! Sebagaimana film tentang dunia hewan lain, terungkap kalau domba-domba ini lebih cerdas dari yang manusia tahu. Mendiskusikan cerita whodunit yang George bacakan jadi salah satu hal rutinitas, kendati cuma Lily (Julia Louis-Dreyfus) alias si "domba terpintar di dunia" yang senantiasa berhasil memecahkan misterinya. Tapi semuanya menyayangi George. Sehingga saat suatu pagi tubuh George ditemukan tak lagi bernyawa, Lily dan teman-teman merasa wajib menyibak tirai kebenaran mengenai tragedi itu.
George dibunuh memakai racun. Dari situlah kita diajak semakin jauh berkenalan dengan warga Denbrook lain, dan persis seperti yang bisa diharapkan dari "film Inggris" atau "film whodunit" atau "film whodunit Inggris", The Sheep Detectives punya segudang karakter unik, dengan beberapa yang paling menonjol antara lain Tim (Nicholas Braun) si polisi bodoh, Caleb (Tosin Cole) yang juga seorang gembala, Beth (Hong Chau) si pemilik penginapan, hingga Elliot (Nicholas Galitzine) si reporter yang datang untuk meliput festival kebudayaan.
Tapi yang menjadikan presentasi The Sheep Detectives terasa spesial adalah penokohan penuh warna bagi makhluk dalam peternakan, yang biarpun punya segudang perilaku absurd, eksistensinya nampak nyata berkat perpaduan penulisan dengan kualitas CGI mumpuni.
Domba-domba ini bukan semata karakter komputer tanpa jiwa. Interaksi mereka acap kali menggelitik berkat selipan humor eksentrik khas sinema Britania dalam naskah buatan Craig Mazin, pun secara mengejutkan, terselip hati yang besar di tengah dinamika para hewan berbulu yang konon punya kompleksitas emosi ini. Sehari sebelumnya, saya menonton Gohan yang memperlakukan seekor anjing dengan penuh cinta, dan di sini, Kyle Balda selaku sutradara menaruh sikap serupa terhadap domba.
Alurnya juga mengandung setumpuk pesan yang dapat berguna bagi pembelajaran anak, sekaligus menghadirkan perenungan untuk penonton dewasa: Menelaah konsep kematian yang muncul dari bagaimana para domba percaya jika mereka akan berubah menjadi awan sewaktu hidup telah menemui akhir, proses memberanikan diri menghadapi rasa sakit (para domba digambarkan cenderung memilih menghapus memori mereka bila terjadi peristiwa memilukan), sampai perihal keberagaman yang diwakili oleh diskriminasi yang diterima anak domba apabila lahir di musim dingin alih-alih musim semi seperti rekan-rekannya.
The Sheep Detectives adalah film keluarga yang sempurna. Penonton bakal dengan senang hati memaafkan andai elemen misterinya digarap setengah-setengah. Hebatnya, itu tidak terjadi, sebab filmnya berhasil melahirkan whodunit berkelas. Sepanjang 109 menit, The Sheep Detectives rutin menebar remah-remah misteri, sembari secara aktif melibatkan kita dalam proses investigasi.
Narasi George saat membacakan surat yang sedang ia tulis dipakai mengawali penceritaan. Kepada siapa surat tersebut dialamatkan? Pertanyaan sederhana tersebut merupakan lapisan pertama misterinya, yang akan dikupas secara berkala, untuk kemudian mengungkap misteri-misteri lain yang jauh lebih besar. The Sheep Detectives mungkin bukan "film terhebat tahun ini" tapi ia jelas salah satu yang paling komplet.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar