12/09/26

REVIEW - OASIS: DON'T LOOK BACK IN ANGER

0 View

Teruntuk yang menghabiskan lebih dari satu dekade menanti gencatan senjata Gallagher Bersaudara namun kurang beruntung disambangi oleh tur mereka pada tahun 2025 seperti saya, Oasis: Don't Look Back in Anger adalah hal yang paling mendekati pengalaman menonton konsernya. Rasanya normal bila keran air mata ogah menutup selama dua jam. 

Sampai saya menengok ke arah istri di kursi sebelah, dan ternyata matanya pun bak dibasahi titik-titik kabut. Dia bukan penggemar. Beberapa nada serta lirik Oasis familiar di telinganya, tapi tidak kata per kata. Fenomena itu jadi bukti dalil yang diutarakan Will Lovelace dan Dylan Southern selaku sutradara, bahwasanya Oasis membinasakan sekat-sekat pemisah kemanusiaan.

Karya mereka minim kejelian eksperimentasi Blur yang mengundang takzim para cendekia skena musik, bukan pula representasi jejas hati kaum terbuang serupa Suede. Kita tidak perlu punya identitas tertentu untuk merasa terwakili oleh olahan nada Gallagher Bersaudara. 

"Kami bukan mewakili gagasan sayap kanan", ucap Noel di sesi wawancara filmnya. Oasis mungkin merupakan satu dari sedikit musisi yang cocok bersikap apolitis. Mereka tidak wajib menggiring persepsi pendengarnya ke satu sisi. Sebagaimana nampak di banyak rekaman film ini, lagu serta konser Oasis ibarat suaka aman bagi siapa saja untuk menyesap setetes kebahagiaan manis kendati hanya sejenak.  

Pasca rekap soal puncak karir hingga kejatuhan mereka (yang turut menandai runtuhnya hegemoni Britpop), penonton diajak menyambangi hari-hari latihan Oasis jelang tibanya tur reuni bersejarah yang diawali di Cardiff. Steven Knight selaku penulis enggan sekadar menggambarkan sekumpulan laki-laki paruh baya menggeber distorsi gitar di ruang latihan sempit tersebut. 

Intensitas turut dibangun. Kecemasan pelan-pelan makin mencekik tatkala kekhawatiran jika segalanya takkan bergulir mulus jadi posibilitas yang sukar ditepis. Fakta bahwa Liam baru bergabung di hari kedua secara cerdik dipakai oleh para pembuatnya guna menebalkan ketegangan. Mikrofon tak bertuan nampak berdiri di tengah kehampaan. Lovelace dan Southern paham bagaimana cara memberi "suara" bagi visual filmnya.

Nyatanya, begitu Liam menumpahkan karisma sembari bernyanyi (disamakannya dengan proses mengeksorsis iblis), jari-jari Noel menari-nari di atas gitar, sementara Bonehead membentuk "tembok suara" khas Oasis melalui isiannya, semua berlangsung baik-baik saja. Pada akhirnya musik merekalah yang bicara, sebagaimana musik yang sama berbicara ke lubuk hati jutaan pendengar di luar sana. 

Tengok saja kisah-kisah humanis yang terpotret di antara rangkaian panggung Oasis Live '25 Tour: Seorang ibu dari Wales memperoleh jembatan berkomunikasi dengan anaknya yang autis berkat Talk Tonight, sepasang sahabat penyelam dari Korea Selatan terhubung lewat Acquiesce, sedangkan penyintas ledakan bom di Manchester mendapat kekuatan guna menghadapi survivor guilt dengan mendengarkan Don't Look Back in Anger

Setiap negara pun memiliki "lagu kebangsaan Oasis" masing-masing. Argentina dengan Wonderwall, sementara Some Might Say jadi penyulih semangat rakyat Irlandia. Kemudian sewaktu konser digelar, tercipta pengalaman komunal tanpa batasan daerah, gender, ras, maupun usia. Sederhananya, dokumenter ini menangkap hal-hal luar biasa dengan skala yang cenderung sukar dipercaya, terkait relasi musisi dan pemujanya. 

Di bioskop tempat saya menonton, tiga bocah yang masih pantas duduk di bangku SMP nampak antusias, tertawa, saling berjabat tangan, bahkan melompat kegirangan seraya memasuki studio. Kaus Oasis dengan bangga mereka kenakan. Band asal Manchester ini memang pernah mati suri selama 15 tahun, namun para penggemarnya terus mewariskan karya mereka ke telinga dan hati generasi berikutnya. 

Dibarengi penyuntingan liar dari George Cragg dan Martina Zamolo yang sempurna menggambarkan "kekacauan" lautan manusia dalam konser Oasis, Lovelace dan Southern gemar betul menangkap reaksi emosional para penonton konser, yang pada akhirnya menularkan rasa serupa pada penonton filmnya. Jadilah suguhan sarat empati yang kaya akan sensitivitas, namun tetap sejalan dengan semangat Oasis yang menolak nuansa melodrama secara berlebih. 

Kita takkan menyaksikan Gallagher Bersaudara duduk berdua seraya menitikkan air mata sebelum akhirnya berpelukan mesra. Liam tetaplah figur dengan segudang komentar eksentrik yang separuh di antaranya begitu jenaka, sedangkan separuh sisanya sukar dimengerti oleh non-Mancunian. Keduanya masih sama, hanya semakin dewasa untuk bisa memahami bahwa alih-alih berubah, mereka cuma harus menerima satu sama lain. 

Di sebuah adegan, seorang pendeta Manchester berkhotbah tentang proses memaafkan sesama manusia, dengan menjadikan reuni Gallagher Bersaudara sebagai pondasi cerita. Apakah Oasis otomatis menjadi band religius? Tentu tidak. Oasis tak perlu memaksakan diri menjadi apa pun selain diri sendiri, atau menggiring karya mereka guna menyokong narasi tertentu. Oasis enggan membatasi bagaimana musik mereka "berbicara", dan karena itulah lagu-lagunya ampuh meruntuhkan segala macam tembok pembatas yang manusia dirikan. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

Posting Komentar