REVIEW - RESIDENT EVIL (2026)
Bryan (Austin Abrams), seorang kurir medis, diutus mengirim paket penting ke rumah sakit di Racoon City. Bagaimana tugas tersebut diinstruksikan terdengar bak misi dalam gim. Pasca tujuh iterasi yang sebatas mengenakan kulit luar waralabanya, pengambilalihan oleh Zach Cregger melahirkan adaptasi Resident Evil yang membuat penonton merasa bak sedang memainkan gimnya.
Berlatar kala virus (tidak pernah disebut sebagai "t-Virus") yang mengubah penderitanya menjadi monster pertama kali menyebar, Resident Evil jadi pengingat bahwa sebelum petualangan heroik dari nama-nama seperti Leon S. Kennedy, Jill Valentine, atau Chris Redfield, dunia turut berputar di sekitar orang-orang biasa seperti Bryan (poin yang semakin ditegaskan di akhir cerita).
Diselimuti musik pemantik kecemasan gubahan Ryan dan Hays Holladay, Bryan memulai perjalanannya menuju Racoon City, melintasi jalanan bersalju licin, sebelum mobilnya menabrak sesosok perempuan aneh. Tidak perlu banyak beranalisis guna menarik kesimpulan soal identitas si perempuan sesungguhnya.
Naskah buatan Zach Cregger dan Shay Hatten mengambil keputusan tepat dengan tak langsung menaruh protagonisnya di tengah gempuran gerombolan zombi. Selama sekitar setengah jam pertama, sebelum ragam monster berdesain unik yang bagai berasal dari alam mimpi buruk body horror menampakkan diri, Bryan hanya disibukkan oleh seorang zombi saja.
Serupa pemain gim pemula, Bryan masih perlu beradaptasi, belajar mengakali banyak hal termasuk teknik menembakkan senjata. Cregger ingin filmnya sedekat mungkin mencerminkan pengalaman memainkan Resident Evil. Sinematografi arahan Dariusz Wolski pun begitu apik menerjemahkan tata kamera khas gimnya, baik lewat sudut pandang orang ketiga saat kita mengikuti si karakter berjalan dan melangkah keluar dari mobil, atau orang pertama ala FPS (first-person shooter).
Tidak hanya zombi yang membuat Bryan frustrasi. Serupa teknik yang gimnya pakai untuk menantang kecakapan pemain, stok amunisi yang tersembunyi hingga pintu yang senantiasa terkunci rapat merupakan faktor-faktor yang menggiring Bryan nyaris patah arang. Sayang, film ini tak sampai membuat Bryan kepayahan mengatur inventaris barang bawaannya.
Perihal menakut-nakuti, Cregger tidak selalu memerlukan campur tangan departemen musik guna memberi efek kejut. Kehebatan penyutradaraan Cregger jadi bukti bahwa dengan kecerdikan mengatur mise-en-scène serta timing tiap zombi dan monster menebar ancaman, dentuman tata suara tidak melulu wajib dikerahkan, dan cuma perlu diterapkan pada momen tertentu supaya daya bunuhnya tak melemah.
Bergulir selama 95 menit, Resident Evil cenderung mengedepankan upaya si tokoh utama bertahan hidup ketimbang pengembangan cerita. Salah satu metode yang Cregger gunakan untuk menjaga daya tarik adalah memakai humor. Menggelitik, tidak murahan, memberi ruang bagi Austin Abrams untuk mengolah kebingungan Bryan yang dihujani jutaan tanda tanya lewat barisan celetukannya, namun harus diakui juga berdampak pada berkurangnya kengerian.
Menjelang babak akhir, ketipisan alur dan repetisi dari elemen survival-nya mulai berdampak. Di gim, dua poin di atas tidak selalu jadi persoalan, sebab pemain berpartisipasi secara langsung. Ada risiko besar yang kita rasakan langsung bila gagal membuat si jagoan bertahan hidup. Medium film tak punya privilese tersebut, sehebat apa pun sang sineas membangun kesan immersive.
Untungnya Cregger menyimpan amunisi lain berupa kreativitas tinggi dalam mengkreasi set piece. Resident Evil punya ide berlimpah untuk memodifikasi serangan para monster/zombi, sehingga bukan sekadar mengandalkan kejar-kejaran generik, dari adegan "hujan zombi" sampai mayat hidup yang sanggup berfusi dengan begitu ngeri.
Kendati gagal mengulangi level kreativitas yang sama, klimaksnya mampu menghantarkan banjir darah menyenangkan selagi menyoroti kebodohan Umbrella Corporation (sebagaimana kerap diperbincangkan terkait aktivitas mereka di gimnya). Resident Evil adalah prolog efektif bagi gelaran cerita yang lebih masif. Sebuah kisah mengenai kehancuran dunia di tangan manusia-manusia bodoh dengan ego selangit.

%20(1).png)
1 komentar :
Comment Page:sangat fun dan enjoyable, tapi sedikit kecewa dg klimaksnya yg para scientist estafet di lab itu. paham sih, mungkin dibikin demikian agar kesan "game"nya kerasa, tapi kesannya terlalu repetitif dan jatuhnya karakternya jadi terkesan sangat oon.
Posting Komentar