REVIEW - HENRY'S FIRST DATES

Tidak ada komentar

Henry's First Dates berlatar di dunia sarat kebajikan penuh manusia berhati mulia, sehingga saat si tokoh utama mengalami nasib nahas pun hidupnya tak pernah kekurangan cinta. Sebagai remake dari 50 First Dates (2004), film ini mengembalikan kenaifan 2000-an guna menyusun ruang eskapisme dari kelamnya realita masa sekarang. 

Anterograde amnesia masih jadi sorotan, tapi sebagaimana judulnya perlihatkan, Henry's First Dates menukar peran gender dua protagonisnya. Henry (Nadech Kugimiya) merupakan si pemilik amnesia, sedangkan Lucy (Nicha Yontararak aka Minnie) jadi pihak yang memberi serangkaian kencan pertama secara berulang. Pakem konservatif soal "laki-laki pelindung perempuan" pun dilucuti. 

Pasca kecelakaan, otak Henry tak mampu merekam memori baru sehingga ia bakal mengulang hari yang sama selepas bangun dari tidur. Supaya menjaga perasaan Henry yang selalu terpukul tiap fakta itu diutarakan di hadapannya, ayah (Kiat Kitjaroen) dan adik Henry, Kanoon (Artit Somnoi), senantiasa melakukan reka ulang untuk hari kecelakaan yang kebetulan bertepatan dengan ulang tahun sang ayah. 

Humor konyol nan absurd khas sinema Thailand dijadikan pondasi. Tengok saja keisengan yang melandasi kejutan ulang tahun si ayah, di mana setiap hari Kanoon mesti mengenakan kostum ular sembari berlagak bak hewan melata tersebut. Lucu, bodoh, tapi dari situlah kehangatan keluarga Henry berhasil dipotret oleh Mez Tharatorn selaku sutradara. Henry's First Dates menggunakan tawa untuk menata dinamika antara manusia yang berusaha saling berbagi rasa bahagia.

Romansanya bermula kala perhatian Henry tertuju ke Lucy, yang telah berkeliling ke banyak negara guna mencari rute penerbangan balon udara. Menjadi objek asmara laki-laki setempat sudah jadi rutinitas yang Lucy alami di masing-masing destinasi, tapi toh di matanya semua cuma asmara kilat. Tapi Henry yang tidak mampu mengingatnya begitu hari berganti justru meninggalkan kesan berbeda, ibarat rumah bertambat yang telah lama Lucy nantikan. 

Cinta mereka pun terbit. Perempuan yang mudah melupakan dan laki-laki yang tidak mampu mengingat. Perempuan yang mencari pijakan untuk mendarat dan laki-laki yang baru berusaha terbang. Terdengar romantis di atas kertas, apalagi terkait kesanggupan Lucy menyiapkan rangkaian skenario kencan, yang karena amnesia milik Henry selalu terasa bagai kencan pertama di setiap harinya. 

Sayang, naskah Henry's First Dates terlampau bergantung pada keunggulan dua pelakonnya dalam menyusun chemistry khas pasangan romcom yang menuntut keduanya menyeimbangkan kemesraan dan kejenakaan, ketimbang menginjeksi alurnya dengan skenario kencan sarat kreativitas serta romantisme.

Seluruhnya berlangsung generik. Lucy mencegat Henry di jalan, mengajaknya meneliti rute penerbangan balon udara, sejenak berjalan-jalan, itu saja. Keputusan mengubah nyanyian sederhana selaku metode komunikasi dua tokoh utama di 50 First Dates menjadi nomor musikal konyol memang mendukung tersampaikannya elemen komedi, tapi juga melucuti sisi manis dari kencan protagonisnya. Paling tidak Nadech Kugimiya dan Minnie masih sanggup menjaga senyum penonton sewaktu menyaksikan mereka berbagi rasa. 

Tapi seiring kencan dilaksanakan, tanda tanya terkait kondisi medis Henry mulai timbul. Apabila ia melewati hari demi hari tanpa tidur apakah memorinya tetap terhapus? Di beberapa kesempatan, Henry pingsan akibat takut ketinggian (alias kesadarannya hilang serupa saat tertidur) tapi mengapa ingatannya tidak hilang selepas bangun? Sekali lagi, Henry's First Dates memang mengembalikan kenaifan sinema 2000-an, di mana logika acap kali dikesampingkan atas nama hiburan ringan nan hangat. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: