REVIEW - OTHER MOMMY

Tidak ada komentar

Isyarat positif pertama dalam Other Mommy dihadirkan oleh minimnya waktu yang ia habiskan untuk berbasa-basi. Kurang dari 15 menit, adaptasi novel Incidents Around the House karya Josh Malerman ini sudah membuat tokoh-tokohnya menyadari eksistensi sosok "ibu yang lain", tanpa mengharuskan penonton melalui friksi klise mengenai skeptisisme.

Bela (Arabella Olivia Clark) beserta orang tuanya, Russell (Jay Duplass) dan Ursula (Jessica Chastain), sekilas nampak bahagia, namun tidak butuh waktu lama bagi naskah buatan Nathan Elston menampakkan wajah disfungsional dalam keluarga kecil ini. Jejak-jejak penelantaran sesekali terdeteksi, pun jelas bahwa Ursula tengah terlibat perselingkuhan. 

Segera pula teror dari entitas misterius berupa doppelgänger yang menyerupai fisik Ursula (sehingga dipanggil "Other Mommy") menebar teror dengan mengiming-imingi kebahagiaan abadi bagi Bela. Chastain menghidupkan sang makhluk misterius lewat senyum janggal yang melucuti segala nuansa kemanusiaan dari wajah manusia. 

Menyusul setelahnya adalah rangkaian serbuan imajinatif, dalam skala lebih besar nan lebih ambisius ketimbang penampakan hantu milik horor generik. Kuncinya terletak pada percampuran ragam subgenre, yang membawa Other Mommy mendekati paparan horor kosmik (sang doppelgänger bak berasal dari perguruan entitas jahat yang sama dengan Pennywise), dengan sedikit bubuhan warna body horror tiap filmnya memamerkan sisi sadis si antagonis. 

"Other Mommy" tidak pernah dilukiskan selaku hantu atau makhluk mistis biasa, melainkan entitas kosmik ajaib penghuni kasta lebih tinggi dengan segala kuasanya atas manipulasi ruang. Sederhananya, ia luar biasa sakti. Poin yang turut menjadi bumerang kala hadir pertanyaan: Kalau sekuat dan sesakti itu, kenapa mesti muncul dan menghilang alih-alih menyerang terus-terusan? Kenapa ada kalanya menyalakan lampu dapat mengusirnya, sedangkan di kesempatan berbeda ia mampu menyerang di tengah keramaian terang benderang? 

Mungkin saya saja yang terlalu memusingkan logika dan aturan. Tapi tidak bisa disangkal bahwa Other Mommy adalah horor dengan daya hibur tinggi. Alurnya padat berkat konsistensi naskahnya menyuguhkan problematika tanpa henti, temponya pun cepat. Bahkan terlalu cepat, terutama perihal bagaimana Rob Savage selaku sutradara meramu jumpscare yang tak jarang usai terlampau prematur sebelum penonton sempat meresapi kengeriannya.

Klimaksnya tidak kalah buru-buru. Walau meleburkan ragam subgenre, nyatanya Other Mommy masih terjangkit penyakit khas horor supernatural berupa kelalaian menawarkan hentakan di babak puncak yang berakhir instan. Bedanya, jika para hantu dan iblis lain dienyahkan oleh doa serta ritual miskin imajinasi, Other Mommy, dalam upayanya tampil kekinian, menggunakan kata-kata bernada katarsis, yang sayangnya tidak dibarengi penulisan mendalam maupun pilihan diksi mumpuni. 

Elemen dramanya menempuh jalur kegemaran horor modern, di mana ancaman yang mesti protagonisnya hadapi merepresentasikan pergulatan batin mereka daripada sekadar tipu daya iblis kejam. Kisahnya menitikberatkan soal keharusan individu menghadapi ketidaksempurnaan yang kerap dipaksa bersemayam dalam gelap, tersembunyi di balik pintu bernama "kebohongan". Biarpun kebohongan merupakan tindak manusiawi, bukan berarti ia layak dilanggengkan. 

Masalahnya, keinginan membangun kesan modern itu menemui batu sandungan berupa ketidakseimbangan perspektifnya. Ketika Ursula dipotret bak biang segala luka, Russell ibarat figur suci tempat seluruh kesabaran terpatri. Menjadikan mereka sesama manusia pemilik cela rasanya bakal memproduksi drama humanis yang lebih efektif. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: