Tampilkan postingan dengan label Achmad Romie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Achmad Romie. Tampilkan semua postingan
DI BALIK LAYAR - DONGENG MISTIS (2018)
Rasyidharry
Bukan, ini bukan review seperti biasa, karena sebagaimana
beberapa dari kalian tahu, saya adalah salah satu produser Dongeng Mistis. Seperti judul artikelnya, kali ini saya hendak menceritakan
sekelumit proses di balik layar film ini.
Awal Keterlibatan
Semua bermula di awal 2017, saat
Gandhi Fernando datang ke Yogyakarta untuk proses pra-produksi Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017)
karya Ismail Basbeth, di mana ia termasuk salah satu produser eksekutif
sekaligus aktor. Sebelumnya kami sempat bertemu sejenak dua kali, yakni seusai
pemutaran spesial Midnight Show
(2016) di Yogyakarta dan pada Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2016.
Karena datang terlalu pagi, saya
(disusul Taufiqur Rizal dari Cinetariz) berbaik hati menemani. Di situlah dia menunjukkan
beberapa proyek yang sedang dikerjakan, dari trailer Mantan (2017),
klip Zodiac: Apa Bintangmu? (rencana
rilis awal 2019), dan konsep film horor omnibus yang merupakan cikal bakal Dongeng Mistis.
Sejujurnya saya bukan penggemar Renee
Pictures. Tapi satu yang saya suka, selalu ada usaha tampil segar. The Right One (2014) memang lemah di
naskah dan chemistry, namun berani
menghadirkan romansa bergaya Before
Sunrise. Tuyul: Part 1 (2015) tampak
menonjol bila disandingkan dengan horor-horor lokal belakangan. Lalu ada Midnight Show buatan Ginanti Rona, slasher solid yang bahkan menyerempet
gaya giallo yang jarang disentuh
sineas kita.
Selang beberapa bulan, sewaktu saya
disibukkan penyelesaian skripsi, Gandhi kembali menghubungi, menawarkan posisi
produser untuk Dongeng Mistis, yang
saat itu berada di tengah fase produksi. Saya tentu tertarik, tapi pertanyaan
ini terus berkecamuk.....
Reviewer Kok Jadi Produser?
Apakah etis jika saya terjun ke
industri film sebagai pembuat tapi meneruskan kegiatan review film? Selama beberapa bulan saya gamang. Sebenarnya beberapa
reviewer kita sudah melakukan itu.
Daniel Irawan sebagai konsultan di Magma Entertainment bahkan menulis naskah
bersama Charles Gozali untuk Malam
Jahanam yang hendak diproduksi,
Elbert Reyner menjadi astrada Buffalo
Boys, Vincent Jose sebagai produser di Renee Pictures, dan tentunya Witra
Asliga yang beberapa waktu lalu merilis film panjang perdananya, The Returning.
Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?
Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?
Intinya, saya merasa bodoh dan
ingin menjadi pintar.
Peran di ‘DONGENG MISTIS’
Begitu saya bergabung, Dongeng Mistis hendak memulai
pasca-produksi. Peran saya adalah mengisi posisi Gandhi yang sudah mulai disibukkan oleh aktivitas Mister Indonesia lalu Mistet Supranationl. Salah satunya soal pengisian musik, di mana kami bekerja sama
dengan Spinach Records milik DJ Riri. Saat itu kami kebingungan. “Mau dibawa ke
mana musiknya kalau diisi para DJ yang minim pengalaman di film?”. Akhirnya, kami nekat berkata, “Just use your roots.
If it’s an electronic music, we’re gonna make an electro-horror then”.
Hasilnya tidak mengecewakan. Terselip keunikan yang pastinya bukan
bunyi-bunyian asal berisik.
Proses berikutnya sekaligus yang
paling menantang (Baca: ruwet) adalah urusan birokrasi, baik ke bioskop maupun
LSF. Di sinilah tujuan awal saya terpenuhi. Saya yang biasanya mengacuhkan
birokrasi (saat kuliah selalu berkata “Fuck
them!” ketika kampus menyulitkan pementasan yang saya buat) kini tahu
tahap-tahap mengurus sensor, di mana saya akhirnya mengalami langsung betapa
ajaibnya LSF. Begitu pula soal distribusi—poster, trailer, maupun DCP film—, penentuan tanggal tayang, pembagian
jatah layar, juga aktivitas pasca-produksi lain.
Filmnya Sendiri Bagaimana?
Dongeng Mistis adalah omnibus berisi enam cerita buatan enam
sutradara yang menampilkan enam hantu khas Indonesia (666, get it?). Enam sutradara ini hampir semuanya debutan, keputusan
yang kerap dilakukan Renee Pictures, berpijak pada tujuan membukakan pintu bagi
talenta-talenta muda untuk terjun ke industri (Mempunyai kredit layar lebar
termasul salah satu syarat penting jika sutradara ingin dilirik).
Sementara keenam hantunya adalah
Pocong, Sundel Bolong, Genderuwo, Begu Ganjang, Bajang, dan Lehak. Khusus nama
yang disebut terakhir, itu adalah makhluk baru ciptaan sutradara/penulis naskah
Andra Fembriarto (Sinema Purnama)
yang dibuat berdasarkan gabungan budaya-budaya milik beragam daerah Indonesia.
Saya tidak bisa memberi penilaian
pada film ini, tapi saya bisa memberi sedikit gambaran mengenai tiap segmen. Sundel Bolong karya Ihsan Fadli (sempat menjadi astrada 2 di Cek Toko Sebelah) jadi segmen paling
atmosferik berkat visualnya. Di rumah yang tengah mati lampu di malam hari,
seorang ibu hamil (Maryam Supraba) harus menghadapi teror Sundel Bolong yang penuh
akal bulus guna menjebak korbannya. Pocong
garapan Achmad Romie mengisahkan ustaz (Kiky Armando) yang keimanannya diuji,
kala di tengah perjalanan pulang seusai mengajar ngaji, diganggu sesosok
pocong. Saya suka bagaimana ahli agama tidak digambarkan sebagai jagoan
sempurna di sini.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Daya tarik terbesar Begu Ganjang karya Vicky Ray adalah hantu
yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Anda akan diajak memahami legenda
Begu Ganjang melalui investigasi wartawan bernama Daniel (Gandhi Fernando).
Terakhir adalah Lehak yang rasanya
cukup tepat disebut sebagai segmen paling artistik. Efek visual warna-warni
serta tarian tradisional akan membawa anda mengunjungi dunia fantasi rekaan
Andra Fembriarto yang mengetengahkan keputusan seorang gadis (Btari Chinta)
melakukan tarian terkutuk pemanggil Lehak.
Silahkan sambangi bioskop mulai 22
NOVEMBER 2018, dan jangan ragu-ragu mengutarakan pendapat kalian mengenai
filmnya di kolom komentar, entah baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah saya
akan terlibat pada produksi film lain, sehingga bukan mustahil ini merupakan
yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, ini kesempatan langka melihat nama saya
di layar lebar, hehehe....
Sebelum menonton, simak dulu trailer-nya berikut ini
November 21, 2018
Achmad Romie
,
Ade Firman Hakim
,
Andra Fembriarto
,
Btari Chinta
,
Dea Ananda
,
Gandhi Fernando
,
horror
,
Indonesian Film
,
Khiva Iskak
,
Kiky Armando
,
Maryam Supraba
,
Orizon Astonia
,
Putri Ayudya
,
Vicky Ray
DI BALIK LAYAR - CRAZY GIRLFRIEND STADIUM 3
Rasyidharry
Artikel kali ini bukan sebuah review, bukan pula membahas film,
melainkan web series Crazy Girlfriend musim ketiga yang merupakan hasil produksi Web TV Asia Indonesia. Bukan,
ini juga bukan artikel endorsement.
Seperti judulnya, saya akan membahas sedikit proses di balik layar (sambil
sedikit promosi) serial ini, karena kebetulan, saya berkontribusi menulis
naskahnya.
Saya termasuk penonton musim
pertamanya yang tayang awal 2017 lalu dan cukup menyukainya. Bukan konsep baru,
tapi kegilaan Karina Nadila sebagai Gladys si pacar sinting jelas hiburan
menyenangkan di waktu senggang. Lebih dari setahun berselang, Gandhi Fernando
berniat melanjutkan Crazy Girlfriend
yang cukup lama tertunda, salah satunya karena persoalan biaya. Saya pun setuju menjadi penulis naskah, karena
sebelumnya pun sempat menulis beberapa episode Gadun the Series.
Pertanyaannya, “Bagaimana membuat
serial dengan biaya minim, atau bahkan sama sekali nihil?”. Akhirnya tercetus
ide untuk mengubah konsep. Setelah musim pertama dan kedua yang memiliki story arc panjang dengan durasi tiap
episode sekitar 5 menit (bahkan lebih), diputuskan bahwa musim ketiga cenderung
berbentuk sketsa berdurasi 1-2 menit. Saya pun mulai menulis sekitar 15
episode. Proses yang cukup memusingkan, karena lagi-lagi terbentur soal dana,
beberapa ide tidak bisa dimasukkan. Semua episode harus berlokasi di satu
tempat (indoor) dan hanya melibatkan
dua pemain: Karina dan Gandhi.
Saya sadar, setelah menembak
pacarnya sendiri di musim kedua, meningkatkan kegilaan Gladys bukan hal mudah. Saya
pun memutuskan menambah unsur absurditas (contohnya bisa dilihat di episode
pertama yang saya unggah di bawah). Tapi itu saja tidak cukup. Perlu ada
modifikasi lain. “Nino (Gandhi Fernando) harus lebih berperan dalam humornya!”,
begitu pikir saya. Menyaksikan beberapa episode lama, saya berujar, “He’s too manly, too normal”. “Kejantanan”
Nino pun saya lucuti. Jadilah musim ketiga menampilkan Nino yang baru, lebih lemah, lebih cengeng, lebih penakut, lebih pasif, lebih (merasa) teraniaya.
Ditambah beberapa skrip yang sudah
Gandhi tulis sebelumnya (3 episode berkelanjutan yang menampilkan 2 bintang
tamu), proses pengambilan gambar pun dimulai. Sekitar 12 episode diambil selama
1 hari. Sayang saya tidak bisa bercerita banyak mengenai proses ini karena
kebetulan sedang ada di luar kota.
Sekarang episode pertama Crazy Girlfriend 3—yang seperti
musim-musim sebelumnya masih disutradarai oleh Achmad Romie—yang berjudul Kamu
Selingkuh? akhirnya sudah diunggah di kanal YouTube Gandhi Fernando. Kalian juga bisa menonton episode pertamanya di bawah artikel ini. Selamat
menikmati dengan santai!
Agustus 20, 2018
Achmad Romie
,
Gandhi Fernando
,
Indonesian Film
,
Karina Nadila
,
TV Series
Langganan:
Postingan
(
Atom
)







