REVIEW - DEAR YOU

Dear You arahan Lan Hongchun adalah film tentang kesetiaan serta kerinduan terhadap rumah. Baik rumah berwujud bangunan tempat berteduh, pasangan yang mencintai, keluarga yang mengasihi, kawan-kawan serumpun yang senasib, juga tanah air yang mendengar tangisan pertama kita di dunia. 

Semua berawal dari pencarian Hiou-ui (Zheng Runqi) terhadap kakek yang tak pernah dikenalnya. Sang kakek, Den Bhagseng, dipercaya menetap sebagai orang sukses di Tailan, setelah berpuluh-puluh tahun lalu meninggalkan istrinya saat kabur guna menghindari wajib militer di tengah Perang Saudara Tiongkok. Butuh waktu agar bisa menikmati keruwetan perjalanan Hiou-ui, yang kerap terlampau liar menggerakkan alurnya. 

Istri Bhagseng, Sogriu (Wu Shaoqing), menghabiskan puluhan tahun menyeka sisa-sisa kenangan perihal sang suami. Pasalnya, qiaopi (istilah bagi sepucuk surat yang dikirim para diaspora untuk keluarga mereka di Tiongkok, biasanya disertai sejumlah uang) terakhir Bhagseng hanya berisi selembar foto berisi sosoknya bersama seorang perempuan dan beberapa bocah. Hati Sogriu tersayat. Kekasih hidup yang sudah puluhan tahun dinanti kepulangannya telah menemukan "rumah baru". 

Sampai hasil investigasi Hiou-ui mengungkap lembar-lembar masa lalu lain yang sempat terkubur, dan membawa Dear You bertransformasi dari melodrama keluarga berbumbu romansa klise menjadi drama epik tentang upaya merawat ingatan. 

Kilas balik segera mengambil alih. Bhagseng muda (Wang Yantong) kita ikuti rutinitasnya. Penghasilan bulanan pas-pasan sebagai penarik angkong yang semuanya ia kirim guna menghidupi Sogriu dan anak-anaknya, mengharuskan Bhagseng tinggal di gudang kumuh dalam penginapan kepunyaan Zia Lamgi (Li Sitong memerankan versi muda, Usha Seamkhum yang angkat nama lewat How to Make Millions Before Grandma Dies memerankan versi tua), perempuan yang wajahnya tercetak di foto. Kedekatan keduanya segera terjalin.

Qiaopi yang tak pernah absen Bhagseng layangkan tiap bulan mewakili peran Dear You selaku surat cinta untuk surat cinta. Betapa rapuh secarik kertas. Kombinasi cuaca buruk dan nasib sial sudah bisa memusnahkan eksistensinya. Tapi itulah kenapa, sebagaimana memori manusia, surat begitu bermakna. Sifatnya tak selamanya, luar biasa ringkih, namun dapat menghilangkan sekat tebal berbahan baku samudra membasuh kerinduan akan rumah. 

Perjuangan Lamgi dan Bhagseng mencuatkan komparasi menarik. Sebagai anak perempuan, yang dalam dialek Tiochiu disebut "zao-gian" alias "anak yang pergi", Lamgi seolah ditakdirkan meninggalkan rumah untuk mengabdi pada suami. Sedangkan selaku laki-laki, Bhagseng juga dituntut meninggalkan rumah dalam rangka wajib militer. Disatukan benang merah berupa kecintaan pada aneka rupa rumah masing-masing, keduanya melancarkan pemberontakan. 

Penginapan milik Lamgi turut jadi rumah sementara bagi para diaspora Tiochiu (termasuk Bhagseng), yang di sela-sela kerinduan akan rumah, tak henti-hentinya saling menjaga. Sebab di tanah asing, solidaritas tersebut bak pengganti rumah untuk masing-masing dari mereka. 

Saya tidak bisa membayangkan betapa bermaknanya Dear You di mata orang-orang Tiochiu. Tapi bisa saya pastikan, filmnya efektif perihal memberi pencerahan terkait setumpuk konteks budaya dan politik kepada penonton awam. Dear You berhasil dipresentasikan sedemikian rupa supaya gampang diakses oleh segala kalangan dengan menyisipkan unsur drama keluarga, percintaan, dan tentunya humor.

Komedinya mengedepankan absurditas sarat sentuhan deadpan khas sinema Cina (juga Tailan). Sebagai taktik meniadakan tubrukan tone dengan sisi dramatiknya, para penulis naskah membelah penceritaannya ke dalam dua wajah. Paruh awal kaya akan taburan humor, yang porsinya makin ditekan seiring eksplorasi atas masa lalu Bhagseng diperdalam. Upaya tersebut berhasil, kendati lahir masalah baru: terkadang Dear You terasa bak disusun oleh dua film berbeda. 

Tapi jika yang anda nantikan adalah banjir air mata, tidak perlu khawatir. Dear You adalah ahlinya. Lan Hongchun tidak merasa perlu mengeksploitasi adegan melodrama secara berlebihan. Rasa haru bakal merambat seiring twist-nya, yang kaya akan bobot emosi, mulai mengupas lapisan-lapisan masa lalu sang protagonis, dan kita pun perlahan menyadari kebenaran yang selama puluhan tahun luput dirawat, dan kerinduan terhadap rumah akhirnya disembuhkan oleh kepulangan. 

REVIEW - MAJU (JEJAK PAHIT SI KEMBANG GULA)

Visi besar Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula) guna mempersembahkan warna baru di dunia film anak masih tersandung oleh keterbatasan kompetensi serta sumber daya. Tapi toh saya dengan senang hati mengapresiasi upaya para pembuatnya, mengingat orang-orang berkompetensi tinggi pemilik sumber daya tanpa batas masih menyibukkan diri memenuhi industri dengan horor medioker dan drama penguras air mata soal derita kaum jelata. 

Disutradarai Franklin Darmadi yang kali terakhir mengarahkan film panjang di Medley hampir dua dekade lalu (2007), Maju membuka penceritaannya dengan long take sederhana, yang merepresentasikan ambisi besar di antara keterbatasan mereka. Dipotretnya rutinitas pagi  murid-murid SMP yang petualangannya bakal segera kita simak. 

Empat anak memegang peranan sentral: Bagas (Aradhana Rahadi), Kirana (Princeza Leticia), Hanna (Bebe Gracia), dan Gerald (Axandro Juliano). Mereka tergabung dalam kelompok pramuka di bawah bimbingan Pak Wira (Bukie B. Mansyur), yang hendak melakukan survei ke desa lokasi jambore. Pak Kades (Unang Bagito) dan Bu Kades (Sarah Sechan) merupakan pemimpin desa tersebut.

Judul eksentriknya merujuk pada kembang gula yang dikisahkan, sedang populer di kalangan siswa. Bagas menggandrunginya, bahkan di saat jajanan manis itu membuatnya pusing, mual, bahkan berhalusinasi. Adegan beraroma psikedelik sesekali dipakai untuk menggambarkan gelagat janggal yang Bagas alami. Sebuah penegas kecil soal ambisi besar sineasnya kendati dihantui keterbatasan.

Efek samping mengkhawatirkan di atas adalah kewajaran, sebab si kembang gula rupanya narkoba yang disamarkan agar dapat dipasarkan ke anak-anak. "Berani juga", begitu pikir saya mendapati fenomena kelam yang film ini pakai sebagai konflik utama. 

Singkat cerita, Bagas mendadak hilang. Besar kemungkinan ia diculik, dan penonton pun diajak bertualang bersama tiga anak lain guna mencari keberadaannya. Adit (Alby Ersani), bocah dari kampung setempat yang kerap dirundung akibat punya masalah perkembangan, turut mengulurkan bantuan. 

Tidak sulit menyadari keterbatasan eksekusi filmnya, ditinjau dari resolusi gambar yang tidak selalu tinggi, maupun kinerja inkonsisten departemen penyuntingan. Ada kalanya adegan berpindah secara buru-buru, tapi di kesempatan lain, transisi malah tak kunjung datang hingga mencuatkan kecanggungan dalam peristiwa yang bergulir terlalu lama.

Aset terbesar terkait elemen petualangannya terletak pada penokohan para tokoh utama, yang digambarkan sebagai anggota pramuka cerdas nan terampil. Sayang, naskah buatan Dedey Natalia luput menyediakan suplai memadai perihal keunggulan itu, yang berpotensi menciptakan tontonan unik. Sepanjang 98 menit mereka jarang menerapkan ilmu kepramukaan guna mengatasi rintangan. Baru di klimaks bocah-bocah ini unjuk gigi, pun dalam takaran ala kadarnya. 

Pengarahan Franklin Darmadi turut menyisakan keluhan. Di saat naskahnya kerap melucuti keseruan petualangan akibat narasi yang terlalu betah menghabiskan waktu di momen minim signifikansi alih-alih menggerakkan alur dengan lincah, permainan tempo sang sutradara juga kekurangan energi, membuat progresi kisahnya makin terasa berlarut-larut. 

Kesan serupa terpancar lewat cara Franklin membungkus fase resolusi, yang bukannya seru dan bertenaga, hanyalah montase yang serba tergesa-gesa. Setidaknya ia cukup berhasil menyulap kenekatan Pak Wira dan murid-muridnya menyusup ke markas penculik jadi rangkaian sekuen yang lumayan efektif menyulut ketegangan. 

Ulasan ini lebih banyak mencantumkan kekurangan daripada kelebihan? Mungkin, tapi setidaknya ada perasaan tenang kala menonton Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula), kemudian mendapati bahwa di luar sana masih banyak "sineas kecil" yang menolak latah meramaikan tren industri yang semakin membosankan. 

REVIEW - SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY

Brand New Day menjelmakan sosok Spider-Man  (Tom Holland) yang karirnya tengah moncer. Kriminal makin sering diringkusnya, warga New York memujanya, aparat pun sepenuhnya menyuarakan dukungan. Sementara Peter Parker justru makin berkutat dengan sepi. Film ini mengenakan topeng film pahlawan super, tapi di dalam, terkandung kisah soal manusia dewasa yang kepayahan mengatur work-life balance. 

MCU memiliki satu-satunya waralaba Spider-Man yang tumbuh bersama penontonnya. Jika saat menyaksikan Homecoming (2017) kamu, seperti Peter, sedang menggeluti gegap gempita dunia SMA dengan segudang kawan-kawan, maka seperti Peter juga, Brand New Day bakal mewakili realitamu, berupa menyempitnya lingkaran pertemanan. 

Bedanya, kondisi Peter lebih ekstrim. Mantra Doctor Strange menghapus memori seantero dunia terhadapnya, termasuk dari ingatan si sahabat, Ned Leeds (Jacob Batalon), juga kekasihnya, MJ (Zendaya). Di tengah kesendirian tersebut, muncul ancaman baru dari perempuan misterius (Sadie Sink) yang menebar ancaman bagi DODC (Department of Damage Control) dengan bersenjatakan kekuatan merasuki pikiran orang-orang.

Ketika saya menyusun tulisan ini, identitas dari sang perempuan misterius rasanya sudah bukan lagi suatu rahasia. Tapi demi kenyamanan bersama, anonimitas si karakter akan tetap saya pertahankan. Satu yang pasti, Sadie Sink mempersembahkan figur antagonis kompleks, yang bakal memiliki keselarasan dengan generasi sekarang: seorang anak muda yang terluka oleh keserakahan pemerintah. 

Sedangkan Peter masih bergulat dengan silang sengkarut internal dirinya. Selain kegagalan mengatur work-life balance akibat ketiadaan hubungan antar manusia, fisik Peter turut mencuatkan keresahan tersendiri. DNA laba-laba yang selama ini terkendali bak mulai coba mendominasi. Emosinya mudah meletup-letup, indranya menajam, jaring organik pun keluar dari pergelangan tangannya. 

Naskah buatan Chris McKenna dan Erik Sommers menyisipkan metafora dalam fenomena janggal di atas. Apa yang Peter alami jadi perlambang keengganan individu menerima perubahan (baik fisik maupun psikis) yang menemani perjalanan memasuki fase usia dewasa. 

Di sini, pendewasaan disamakan dengan kesediaan mengamini perubahan. Relatable. Kita semua mengalaminya. Hanya saja, patut disayangkan Brand New Day menawarkan resolusi yang terlampau instan bagi problematika tersebut. Tanpa gradasi, pula begitu "ajaib" khas sinema Hollywood arus utama.

Tapi tiada keluhan terkait pengarahan Destin Daniel Cretton yang enggan menggarap porsi drama secara sekenanya. Sang sutradara begitu apik memainkan dinamika antar individu, benar-benar membangun ruang intim bagi dua karakter yang sedang terlibat interaksi alih-alih sekadar membiarkan mereka asal bicara guna mengisi waktu. Tengok caranya mengemas ending yang demikian hangat.

Sudah barang tentu performa Tom Holland memegang peranan besar dalam tersampaikannya elemen dramatik Brand New Day. Semburat senyum simpul bertabur sedikit rasa pahit kala Peter diam-diam mengamati Ned, hingga deburan haru yang seketika menusuk-nusuk hati sang jagoan ketika dekapan sang (mantan) kekasih kembali ia rasakan, hanyalah segelintir contoh mengenai kemampuan si aktor menangani emosi lewat tuturan non-verbal.

Ingar bingar aksinya tidak kalah mengesankan, sekali lagi berkat penyutradaraan Destin Daniel Cretton yang mau bersusah payah menggabungkan efek praktikal dengan komputer. Dibarengi daftar putar mengasyikkan yang ia susun, Cretton membawa kita berayun lincah bersama Spidey, sambil sesekali memamerkan keunggulannya merumuskan money shot

Beberapa panel ikonik komik Spider-Man tidak luput Cretton reka ulang (kebanyakan terletak dalam montase pertarungannya melawan beragam lawan di paruh awal) sebagai upaya menyelipkan fanservis yang tidak pernah mencuri sorotan utama dari presentasi cerita. 

Begitu pula humornya, yang berbeda dibanding tabiat buruk MCU beberapa tahun lalu, hadir dalam takaran tepat tanpa pernah menghancurkan keseimbangan tone. Contohnya banter antara Spider-Man dengan Frank Castle / Punisher (Jon Bernthal), yang sebatas bertugas memperkaya varian warna film daripada memaksanya bercampur aduk. 

Segala keunggulan yang saya rangkum di tulisan ini sejatinya bermuara pada satu kesimpulan: Brand New Day merupakan karya yang berhasil mencapai keseimbangan di semua aspek. Itulah mengapa ia layak mendapat cap "terbaik" di antara tetralogi kepunyaan Marvel Studios.

REVIEW - AKU SEBELUM AKU

Ketika orang tua mencederai jiwa anak, bisakah mereka sepenuhnya disalahkan, atau kita perlu menelisik lebih jauh perihal dampak trauma lintas generasi? Apakah "memahami" bersinonim dengan "menjustifikasi"? Melalui film orisinal Netflix yang digarap apik ini, Gina S. Noer selaku sutradara sekaligus penulis, menaruh lampu sorot pada benturan familial tanpa ujung tersebut.

Jati (Bima Sena) adalah siswa berprestasi. Kejuaraan olimpiade berskala nasional sanggup ditembus, sehingga wajahnya kini terpampang pada spanduk raksasa di sekolahnya. Tapi alih-alih kedamaian, justru serangan panik yang menyambangi Jati. Melihat kondisi tersebut, ayahnya, Jaya (Ringgo Agus Rahman), justru berkomentar, "Itu karena kamu jarang salat!" 

Jaya memang tidak menerapkan hukuman fisik. Memukul anak pantang ia lakukan. Itulah pasal Jaya merasa menjadi ayah terbaik yang paling mengerti tentang Jati. Tapi persoalan psikologis luput diperhatikannya. Jati tertekan oleh tuntutan sang ayah supaya ia menimbun prestasi akademis demi kesuksesan hari tua. 

Ada satu adegan menarik yang menunjukkan kejelian Gina mengutak-atik perspektif. Jaya jengah melihat kegembiraan Jati yang "hanya" mendapat posisi enam dalam perlombaan lari. Kalimat-kalimat seperti "Ayah bakal selalu ada buat kamu", "Kamu harus melihat masa depan", sampai "Kamu harus melakukan yang terbaik" mengisi ceramah Jaya kepada Jati. 

Di film lain, adegan serupa, dengan baris kalimat sama persis, bisa saja ditampilkan lewat bingkai motivasional bernuansa positif. Tapi Gina memandangnya dari sisi berbeda, lalu coba menyadarkan penonton mengenai adanya sisi toxic dari hal-hal beraroma inspiratif sebagaimana nasihat Jaya tadi. 

Singkat cerita, Jati makin tertekan hingga berujung keluar dari sekolah lamanya. Melalui dukungan ambunya (Prastiwi Dwiarti), Jati pindah ke sekolah baru yang bukan cuma mengedepankan prestasi akademik. Sudah barang tentu Jaya gerah akan keputusan tersebut, tanpa peduli bahwa sang putra akhirnya menemukan secercah kebahagiaan. 

Di sekolah baru, Jati segera terlibat proyek bersama Asa (Widuri Puteri), yang bertujuan mengupas sejarah keluarga masing-masing. Dari situlah Jati menyadari adanya posibilitas kalau tindak-tanduk sang ayah dibentuk oleh masa lalunya, pula masa lalu leluhur mereka. Diiringi kompilasi lagu-lagu para jawara indi (Goodnight Electric, Nostress, Frau, Monkey to Millionaire, dll.), proses pencarian protagonisnya pun dimulai.

Kita bukan diminta membenarkan cela-cela dalam diri Jaya, melainkan menemukan pemahaman guna mencetuskan solusi akan problematika yang telah menghantui banyak keluarga sejak dahulu kala. Akibat trauma masa lalu, alih-alih berusaha mengerti seluk-beluk anaknya, Jaya mendefinisikan "ayah yang baik" sebagai "ayah yang berbeda dengan ayahnya". Jaya terlampau berfokus pada luka lamanya sebagai anak, sampai membubuhkan bilur luka baru di hati anaknya.

Sayang, tidak semua elemen narasi dalam naskahnya berjalan baik. Signifikansi perihal rahasia di balik identitas Asa patut dipertanyakan. Gina mungkin hendak membandingkan dua situasi berlawanan terkait garis keturunan, bahwa adanya ikatan darah maupun tidak, mestinya bukan tolok ukur besarnya kasih sayang. Masalahnya, keberadaan poin tersebut cenderung mendistraksi ketimbang menguatkan narasi utama. Format serial rasanya lebih tepat jika cakupan penceritaan ingin diperluas dengan cara demikian. 

Naskahnya pun terkesan berlebihan dalam mencekoki penonton dengan kalimat quotable, entah yang beraroma positif (kata-kata mutiara, petuah bijak) atau negatif (biasanya tertuang dalam ucapan Jaya yang jamak kita dengar di dunia nyata). Aku Sebelum Aku bak terlampau berambisi mendorong penonton membagikan kutipan favorit mereka di media sosial pasca menutup halaman Netflix.

Sedangkan terkait penyutradaran, Gina masih piawai memainkan bahasa visual guna menggugah emosi lewat cara subtil. Sebutlah rasio yang beralih bak home video lawas kala Jaya pulang ke rumah masa kecil dan menyambangi ruang intimnya lagi, simbolisme dalam rapuhnya engsel pintu kamar Jati, hingga nuansa liris ketika Jaya berjalan beriringan bersama leluhurnya di tengah hutan selepas berdamai dengan trauma. 

Jajaran pelakonnya tidak kalah trengginas. Bima Sena, Widuri Puteri, serta Ringgo Agus Rahman, kendati karakter masing-masing bergulat dengan detail masalah berbeda, ketiganya bermain dalam satu benang merah: menghidupkan para lebah yang tengah gundah saat berjuang menemukan jalan pulang ke rumah. 

(Netflix)

REVIEW - EVIL DEAD BURN

Evil Dead Burn tidak mendorong formula waralabanya yang mulai usang untuk berevolusi, tapi Sébastien Vaniček selaku sutradara kentara mewarisi semangat Sam Raimi muda, sewaktu membuat filmnya mengolok-olok sembari menertawakan konsep kematian. 

Simak adegan prosesi pemakaman Will (George Pullar) yang jadi salah satu korban pertama Deadites. Kekhidmatan ditiadakan oleh suara bising konstruksi yang menguarkan aroma kecanggungan. Jenazah Will pun tak ditangani dengan hormat oleh petugas krematorium yang menari-nari sambil menyalakan api, setelah sebelumnya hampir menjatuhkan peti. Kematian bukan untuk diratapi di sini.

Kemudian, Alice (Souheila Yacoub), istri Will, terpaksa menghabiskan waktu bersama keluarga sang suami. Joseph (Hunter Doohan), adik Will, dan pacarnya, Thya (Luciane Buchanan), memang bersikap baik, tapi tidak dengan orang tua mereka, Susan (Tandi Wright) dan Edgar (Erroll Shand). Sementara si nenek, Polly (Maude Davey), sudah takluk oleh alzheimer. 

"Haruskah keputusan berkeluarga membuat individu kehilangan jati diri mereka?" jadi tanda tanya yang dilempar oleh Sébastien Vaniček dan Florent Bernard lewat naskah buatan mereka. Semasa hidup, Will adalah suami kasar yang mewajibkan Alice mengikuti pilihannya. Demikian pula Susan dan Edgar yang berperilaku bak hama bagi sang menantu. 

Sehingga ketika nanti Deadites mulai menebar teror dengan merasuki satu per satu keluarga Will, perjuangan Alice untuk selamat pun melahirkan alegori mengenai upaya perempuan lepas dari kungkungan keluarga toksik si mantan suami. 

Jangan mengharapkan eksplorasi mendalam atau sorotan kompleks terkait dinamika psikologis. Di samping alegori tersebut, praktis Evil Dead Burn bergerak tanpa jalinan cerita, dan sebatas hadir untuk memuaskan dahaga penonton yang ingin berfoya-foya tanpa pikir panjang di tengah pesta darah besar-besaran. 

Satu-satunya tanda eksistensi cerita terletak pada selipan mitologi serinya, terutama seputar kitab Necronomicon dan Belati Kandarian yang bentuknya lebih dekat ke arah pengingat ketimbang perluasan. Ditambah beberapa detail seperti pilihan senjata protagonis hingga langit merah darah sebagai latar babak puncak, Evil Dead Burn melahirkan amalgam dari keseluruhan waralabanya, baik trilogi arahan Raimi, versi 2013 karya Fede Álvarez, juga Evil Dead Rise (2023). Kaya akan fan service namun miskin pengembangan. 

Tapi tidak ada keraguan sedikitpun soal kapasitas Sébastien Vaniček menumpahkan kesintingan khas sinema splatter. Vaniček piawai mengeskalasi kekacauan liar dalam serbuan Deadites lewat bahasa visual, dibantu tata kamera penuh gaya arahan Philip Lozano yang seolah mengharamkan kediaman. Berkat visualnya, tiap serangan Deadites bak membikin seisi Bumi gonjang-ganjing. "Neraka dunia" mungkin istilah paling pas.

Hal-hal menyakitkan sekaligus menjijikkan tumpah ruah, yang berfungsi mendorong si protagonis sampai ke batas ketahanan fisik sampai membuatnya terkesan tidak kalah lihai daripada Deadites perihal mencurangi kematian. Tapi amunisi filmnya bukan hanya berupa kekerasan ekstrim semata. Seisi studio serentak mual berjamaah kala menyaksikan pemandangan "sederhana" yang melibatkan gigi palsu. 

Tersisa satu keluhan. Vaniček terlampau bernafsu menginjak pedal gas dari awal hingga akhir, luput menyadari bahwa apabila tingkat intensitas secara konstan bertengger di level teratas, artinya sebuah film minim akan dinamika. Apalagi tanpa dibarengi penceritaan memadai, juga ketergantungan atas formula klasik waralabanya yang mulai terasa memerlukan penyegaran, lambat laun daya kejut gore-nya mulai melemah, bahkan sedikit melelahkan.

Apakah tetap menyenangkan? Tentu! Tidak satu manusia pun lolos dari kebrutalan, pun rangkaian skenario nahas yang menimpa mereka tidak jarang turut diwarnai oleh goresan komedi gelap. Evil Dead Burn memang film jahat (in a good way) yang bersikap masa bodoh di depan kesakralan kematian, menertawakan, bahkan mengacungkan jari tengah ke arahnya. 

REVIEW - THE ODYSSEY

Ada alasan kuat mengapa di karya terbarunya, Nolan mengangkat mitologi epos, sebuah bentuk literatur yang tak memberatkan sisi faktual. Tujuan sang auteur adalah mengeksplorasi proses kala suatu cerita dikonstruksikan oleh banyak kata "konon", di mana unsur kebenaran cenderung samar dan bias personal merupakan pilar utama. 

Nolan di sini bak telah menuntaskan pelatihan yang dijalani sepanjang karirnya, yakni perihal penolakan atas kelinearan melalui pemugaran struktur narasi konvensional. The Odyssey adalah karyanya yang paling berjodoh dengan metode bertutur non-linear. Bukan sekadar gaya-gayaan atau alat penghantar plot twist, melainkan potret berlangsungnya aktivitas bercerita, yang acap kali terjadi secara acak, pun tidak jarang bersifat impulsif sesuai dengan dinamika perasaan si penyampai. 

Sehingga epos Odyssey yang konon sudah dirumuskan oleh Homer lebih dari milenium lalu merupakan kendaraan sempurna untuk Nolan. Pasalnya ia mengisahkan soal Odysseus (Matt Damon), Raja Ithaca yang telah meninggalkan kerajaannya selama 20 tahun guna memimpin pasukan di Perang Troya. 

Benarkah Odysseus merengkuh kejayaan lewat taktik Kuda Troya yang tersohor? Terpenting, apakah ia masih hidup? Benarkah kabar mengenai pemenjaraannya? Mengapa sang raja tidak kunjung pulang tatkala istrinya, Penelope (Anne Hathaway), dipusingkan oleh ratusan laki-laki, termasuk Antinous (Robert Pattinson), yang bernafsu meminangnya? Kapan kekhawatiran putra Odysseus, Telemachus (Tom Holland), bakal disembuhkan oleh kepulangan ayahnya? 

Setumpuk kesimpangsiuran itulah yang Nolan soroti. Melalui naskahnya yang memberatkan penggunaan dialog untuk menyelipkan detail informasi terkait bangunan dunianya, ia beri ruang bagi tiap-tiap karakter guna membagi perspektif mereka yang saling sela-menyela mengenai Odysseus. Sehingga lumrah bila tiada urutan tetap, pun dengan tingkat kebenaran yang senantiasa dipertanyakan. Demikianlah mekanisme konsepsi suatu cerita.

Uniknya, Nolan membubuhkan sudut pandang modern yang agak berlawanan dengan tendensi epos mengagungkan kepahlawanan. Peperangan yang lazim jadi lahan subur penghasil pahlawan enggan dirayakan, tidak peduli sehebat apa sepak terjang sang figur. Sebaliknya, kondisi kelam pascaperang, entah kekalutan berskala besar di sebuah negeri maupun yang lebih kecil berupa serangan PTSD terhadap para prajurit, lebih dikedepankan.

Sama seperti Oppenheimer, The Odyssey punya protagonis yang seiring waktu mulai mempertanyakan warisannya terhadap dunia. Kegamangan Odysseus tentang status mana yang lebih pantas ia sandang antara "pahlawan" dan "pembunuh", melatari upaya Nolan mendekonstruksi perihal kepahlawanan, kemudian mendatangkan twist subtil yang tidak merasa perlu secara lantang memproklamasikan eksistensinya. 

Seiring Odysseus melayari lautan menuju Ithaca, Nolan membentangkan visinya soal dunia ajaib Yunani kuno melalui perspektif yang lebih realistis. Beberapa makhluk mitologi menampakkan diri, namun tidak secara reguler, sebab di mata manusia biasa keberadaan mereka pun tetaplah anomali. Dewa tidak sebegitu narsis membagikan kedigdayaan di hadapan rakyat jelata. Hanya Athena (Zendaya) yang sesekali terlibat dialektika batiniah dengan Odysseus.

Kemegahan lanskap dalam sinematografi arahan Hoyte van Hoytema tidak dipenuhi fenomena ajaib seperti warna-warni letupan ilmu sihir, tapi lebih difungsikan guna memotret sebegitu kerdilnya manusia, bahkan Odysseus, di tengah bentangan semesta. Pun sekalinya fenomena yang mengkhianati logika muncul di depan mata, bukan keajaiban yang Nolan ingin penonton rasakan, melainkan kengerian.

The Odyssey dipenuhi momen yang tak ubahnya kisi-kisi untuk film horor seorang Christopher Nolan. Sebutlah saat sepak terjang Circe si penyihir (Samantha Morton) menampakkan visual khas body horror kelas satu, hingga kunjungan ke sarang Polyphemus (Cyclops putra Poseidon) yang jadi panggung bagi departemen tata suara memamerkan hasil kerja luar biasa tatkala teriakan si monster menggema dengan begitu mencekam.

Mari sejenak membicarakan tentang suara. Ragam jenis suara bertebaran selama 173 menit, tetapi satu yang paling berkesan adalah suara senar busur yang senantiasa Odysseus petik sebelum melesatkan panahnya. Sejak dini Nolan telah menyiratkan betapa suara sederhana itu akan punya peranan esensial dalam narasinya, bahkan ampuh menerbitkan air mata saking menggugahnya. 

Sekali lagi, The Odyssey bercerita tentang cerita. Sebagaimana figur penyair (Travis Scott) yang mengetukkan tongkatnya sembari membagikan puisi oral, Nolan pun memakai suara sebagai alat bantu bertutur, kemudian melanjutkan warisan Homer, memenuhi tugasnya selaku pencerita yang menyuarakan lagu versinya mengenai Odysseus ke masa kini.