REVIEW - BUGONIA
Seiring masyarakat yang semakin mengedepankan sifat individualis, saya merasa upaya saling memahami antar individu pun semakin melemah. Tutur kata sesama manusia dipandang bak kebisingan semata, alih-alih petunjuk untuk mengerti jalan pikirannya.
Itulah kenapa saya mengagumi Bugonia, yang bertindak selaku remake dari film Korea Selatan, Save the Green Planet! (2003). Dia pintar. Bukan karena twist gilanya yang hanyalah bumbu penyedap bagi bahan pokok berupa naskah kuat (ditulis oleh Will Tracy) yang menempatkan penonton di tengah perdebatan dua karakter. Kita diajak memahami mereka, daripada buru-buru menghakimi.
Michelle Fuller (Emma Stone) dan Teddy Gatz (Jesse Plemons) jadi figur yang saling bentrok. Michelle adalah CEO perusahaan farmasi, sedangkan Teddy si penggila teori konspirasi meyakini kalau perempuan sukses tersebut sejatinya merupakan bagian spesies alien bernama "Andromedans" yang berencana menghancurkan Bumi. Dibantu Don (Aidan Delbis), sepupunya yang autis, Teddy menculik Michelle dengan tujuan memaksanya membatalkan niatan tersebut. Apakah tudingan itu berdasar atau sebatas teori konspirasi liar?
Jurang kelas yang memisahkan keduanya tidak mungkin lebih lebar lagi. Sewaktu Teddy berolahraga dengan gerakan-gerakan canggung nan ngawur yang ia pelajari sendiri, Michelle membekali diri dengan pelatih pribadi serta teknologi berbiaya tinggi. Jika kediaman Teddy ditampilkan dalam kesemrawutan berhiaskan warna-warna mencolok, sinematografi arahan Robbie Ryan banyak menerapkan wide shot guna menangkap rumah serba teratur kepunyaan dengan sentuhan warnanya yang memudar.
Harta melimpah, rumah mewah, seluruh tubuh yang terawat. Tanpa harus berasal dari galaksi Andromeda pun, Michelle sudah nampak bagai alien di hadapan Teddy. Tapi jangan buru-buru menghakimi. Bugonia lebih dari sekadar gesekan kelas biasa. Kelak, bentangan lanskap yang mendominasi di paruh awal bakal perlahan dikurangi kuantitasnya, berganti dengan close-up seiring menguatnya intensitas. Kita tidak lagi melihat gambaran luar dan mulai dibawa menelisik lebih jauh ke dalam.
Yorgos Lanthimos adalah sutradara hebat yang paham betul jika ia diberkahi dua aktor hebat. Mengambil gambar dari jarak dekat memungkinkan Emma Stone memainkan gurat-gurat mikro di wajahnya, menghadirkan performa menggelitik sekaligus janggal yang menyedot atensi bak magnet berdaya tarik tinggi. Sementara Jesse Plemons memunculkan dualisme menarik sebagai laki-laki yang omongannya seolah penuh keyakinan tetapi rautnya menguarkan keraguan.
Baik Michelle maupun Teddy sama-sama bukan figur simpatik, dan memang tidak perlu menjadi demikian. Daripada dipusingkan soal mesti kepada siapa menaruh simpati, kita diajak mengobservasi benturan dua individu yang membawa kebenaran mereka masing-masing. Banyak terjadi aksi saling manipulasi, pun tampuk kekuasaan silih berganti, sementara musik gubahan Jerskin Fendrix terdengar menggelegar untuk menggarisbawahi betapa pentingnya obrolan yang tak ubahnya debat kusir konyol ini.
Dibanding film orisinalnya, Yorgos memilih pendekatan yang cenderung "membisukan" luapan emosi. Terkadang memang sedikit melelahkan, tapi kesabaran penonton untuk mencurahkan perhatian bakal terbayar lunas di babak ketiga.
Ditemani lantunan sendu lagu Where Have All the Flowers Gone versi Marlene Dietrich, Bugonia menunjukkan rapuhnya manusia dengan mortalitas mereka. Kekayaan maupun kekuasaan tak ada artinya di hadapan akhir dari segalanya. Seketika timbul pertanyaan "nakal" di kepala saya: Apakah kita memang pantas dihukum akibat kegagalan mengasihi dunia, atau Sang Pencipta yang banyak dipuja sejatinya cuma entitas sadis belaka?
REVIEW - THE SHEEP DETECTIVES
Kendati mendapat ulasang sangat positif, The Sheep Detectives tidak bakal berseliweran di musim penghargaan, maupun meraup pendapatan hingga ratusan juta dollar. Tapi suatu hari, entah berapa tahun lagi, akan ada orang yang iseng-iseng menontonnya di layanan OTT atau siaran televisi Minggu pagi, kemudian terhipnotis oleh pesonanya, atau bahkan menjadikan adaptasi novel Three Bags Full karya Leonie Swann ini sebagai "comfort movie" mereka. Tipikal film semacam itu.
Awalnya semua berlangsung damai sebagaimana biasa di kota kecil bernama Denbrook. George Hardy (Hugh Jackman), si gembala yang mengisolasi diri di antara hijaunya padang rumput pinggiran kota, mengabdikan hidup untuk merawat domba-domba miliknya. Makanan serta obat-obatan tak pernah lalai ia berikan, pula afeksi, termasuk kala tiap sore membacakan novel misteri di hadapan para domba yang seolah memperhatikan dengan takzim.
Satu jenis peran yang mampu Hugh Jackman lakoni secara meyakinkan selain jagoan super kekar nan tangguh adalah figur laki-laki penyayang. Kehangatan terpancar dari sorot matanya. Tapi tentu domba-domba tersebut hanya peduli soal mengisi perut dan tak memahami cinta sang gembala bukan?
Salah! Sebagaimana film tentang dunia hewan lain, terungkap kalau domba-domba ini lebih cerdas dari yang manusia tahu. Mendiskusikan cerita whodunit yang George bacakan jadi salah satu hal rutinitas, kendati cuma Lily (Julia Louis-Dreyfus) alias si "domba terpintar di dunia" yang senantiasa berhasil memecahkan misterinya. Tapi semuanya menyayangi George. Sehingga saat suatu pagi tubuh George ditemukan tak lagi bernyawa, Lily dan teman-teman merasa wajib menyibak tirai kebenaran mengenai tragedi itu.
George dibunuh memakai racun. Dari situlah kita diajak semakin jauh berkenalan dengan warga Denbrook lain, dan persis seperti yang bisa diharapkan dari "film Inggris" atau "film whodunit" atau "film whodunit Inggris", The Sheep Detectives punya segudang karakter unik, dengan beberapa yang paling menonjol antara lain Tim (Nicholas Braun) si polisi bodoh, Caleb (Tosin Cole) yang juga seorang gembala, Beth (Hong Chau) si pemilik penginapan, hingga Elliot (Nicholas Galitzine) si reporter yang datang untuk meliput festival kebudayaan.
Tapi yang menjadikan presentasi The Sheep Detectives terasa spesial adalah penokohan penuh warna bagi makhluk dalam peternakan, yang biarpun punya segudang perilaku absurd, eksistensinya nampak nyata berkat perpaduan penulisan dengan kualitas CGI mumpuni.
Domba-domba ini bukan semata karakter komputer tanpa jiwa. Interaksi mereka acap kali menggelitik berkat selipan humor eksentrik khas sinema Britania dalam naskah buatan Craig Mazin, pun secara mengejutkan, terselip hati yang besar di tengah dinamika para hewan berbulu yang konon punya kompleksitas emosi ini. Sehari sebelumnya, saya menonton Gohan yang memperlakukan seekor anjing dengan penuh cinta, dan di sini, Kyle Balda selaku sutradara menaruh sikap serupa terhadap domba.
Alurnya juga mengandung setumpuk pesan yang dapat berguna bagi pembelajaran anak, sekaligus menghadirkan perenungan untuk penonton dewasa: Menelaah konsep kematian yang muncul dari bagaimana para domba percaya jika mereka akan berubah menjadi awan sewaktu hidup telah menemui akhir, proses memberanikan diri menghadapi rasa sakit (para domba digambarkan cenderung memilih menghapus memori mereka bila terjadi peristiwa memilukan), sampai perihal keberagaman yang diwakili oleh diskriminasi yang diterima anak domba apabila lahir di musim dingin alih-alih musim semi seperti rekan-rekannya.
The Sheep Detectives adalah film keluarga yang sempurna. Penonton bakal dengan senang hati memaafkan andai elemen misterinya digarap setengah-setengah. Hebatnya, itu tidak terjadi, sebab filmnya berhasil melahirkan whodunit berkelas. Sepanjang 109 menit, The Sheep Detectives rutin menebar remah-remah misteri, sembari secara aktif melibatkan kita dalam proses investigasi.
Narasi George saat membacakan surat yang sedang ia tulis dipakai mengawali penceritaan. Kepada siapa surat tersebut dialamatkan? Pertanyaan sederhana tersebut merupakan lapisan pertama misterinya, yang akan dikupas secara berkala, untuk kemudian mengungkap misteri-misteri lain yang jauh lebih besar. The Sheep Detectives mungkin bukan "film terhebat tahun ini" tapi ia jelas salah satu yang paling komplet.
REVIEW - GOHAN
Seperti yang diekspektasikan dari film seputar anjing, Gohan bakal menguras air mata sampai tuntas, tapi ia melakukannya secara "cantik". Alih-alih pesakitan, si anjing dijadikan pembawa harapan. Proses menemukan nurani lebih diutamakan oleh produksi terbaru GDH 559 ini ketimbang tragedi.
Filmnya mendefinisikan peran anjing selaku sahabat manusia dengan menjadikannya saksi penciptaan memori-memori seiring berlalunya guliran waktu. Sepanjang 141 menit durasi, ia memaparkan tiga cerita yang merambah tiga warna genre berbeda, digarap oleh tiga sutradara, serta menampilkan tiga aktor anjing sebagai pemeran utama.
Di kisah pertama, Gohan (diperankan anak anjing bernama Kori) yang masih kecil terlantar di emper 7-Eleven sebelum diselamatkan oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur bidang otomotif yang sedang menimbang-nimbang untuk pulang ke Jepang pasca dipaksa pensiun oleh perusahaan tempatnya mengabdi selama 35 tahun. Nama "Gohan" disematkan oleh si kakek.
Dari tiga cerita filmnya, inilah yang paling emosional. Tidak heran, sebab ia digawangi oleh figur paling berpengalaman, yakni Chayanop Boonprakob, yang bermodalkan deretan judul-judul hebat dalam filmografi miliknya, sebutlah SuckSeed (2011), A Gift (2016), Friend Zone (2019), sampai The Red Envelope (2025).
Chayanop enggan membangun melankoli. Dua karakternya dibawa saling menyelamatkan hidup masing-masing daripada digiring meratapi nasib buruk mereka. Pun sesekali muncul selipan humor yang dengan apik mengawinkan dua wajah eksentrik sinema Jepang dan Tailan. Dipandu pengarahan sang sutradara yang menolak buru-buru sementara musik bergaya akustik mengalun lembut, segmen pertamanya hadir bak semilir angin yang mendamaikan.
Kitachima Yasushi menciptakan protagonis yang mudah mencuri hati (bahkan caranya melafalkan nama "Gohan" pun sanggup mengaduk-aduk emosi!) lewat sosok Hiro yang tengah belajar untuk beranjak dari kenangan lama sembari merekam kenangan baru.
Cerita kedua menjejakkan kakinya ke ranah road trip, di mana Gohan dewasa (Meechok) mesti kabur dari tempat penampungan anjing yang memperlakukannya secara kejam. Pelariannya mendapat uluran tangan dari Namcha (Poe Mamhe Thar), migran asal Myanmar yang bekerja tanpa dokumen di penampungan tersebut. Namcha memberinya nama baru: Brownie.
Kendati memaparkan fenomena meresahkan seputar penyalahgunaan penampungan sebagai medium pengeruk uang, segmen garapan Baz Poonpiriya (Bad Genius) ini berujung jadi yang terlemah. Naskahnya luput mengembangkan ketersesatan para protagonisnya jadi sajian bermakna. Kebersamaan Namcha dengan Gohan/Brownie yang secara kuantitas cenderung singkat, gagal ditutupi oleh kualitas presentasi, sehingga terkesan cuma bertugas menjembatani dua cerita yang lebih kuat.
Atta Hemwadee (Not Friends) memungkasi perjalanan Gohan melayari samudra kehidupan lewat sebuah romantika manis. Gohan tua yang kini dipanggil Hima (juga diperankan anjing bernama Hima) kembali hidup terlantar di stasiun Hua Takhe. Dia menggantungkan diri pada makanan pemberian para penumpang, termasuk Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pelé (Jinjett Wattanasin), yang pertama kali kita temui tatkala hendak mendaftar ke universitas.
Sang waktu terus bergerak dalam aliran pasti tepat di depan mata kita dan Gohan/Hima. Jaideen dan Pelé mulai berkuliah, benih romansa tumbuh kemudian runtuh, Jaideen menjalani profesi sebagai pramugari selepas lulus, sedangkan Pelé kesulitan menyelesaikan studinya. Bagi dua manusia tersebut kehidupan di dunia nyata baru saja dimulai, tapi ujung jalan sudah nampak dekat di mata Gohan/Hima.
Segmen penutup ini adalah romantika berkualitas khas sinema "Negeri Gajah Putih", yang tidak sekadar mencuatkan rasa manis, pula membawa sayatan yang meninggalkan bilur di hati, sekaligus menawarkan perspektif mendalam terhadap konfliknya, ketika ia menampik justifikasi dan romantisasi atas kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Karakternya berproses bukan semata demi cinta buta, tapi perbaikan atas kualitas diri.
Saya mencintai pilihan konklusinya. Gohan menjauhi pakem generik beserta segala kegemarannya memakai dramatisasi murahan demi menguras air mata penonton. Filmnya tidak tertarik mengeksploitasi dan hanya ingin "mengabadikan" sebagai caranya mencintai.
REVIEW - BILLIE EILISH - HIT ME HARD AND SOFT: THE TOUR (LIVE IN 3D)
"Birds of a feather, we should stick together, I know". Sewaktu Billie Eilish melantunkan baris lirik indah dari tembang Birds of a Feather yang jadi penutup konsernya, sekelompok penonton dalam studio turun ke depan layar, bernyanyi, berjingkrak, sembari berangkulan bak bulu-bulu yang terjalin erat kala sang burung mengangkasa. Mereka seperti benar-benar sedang menyaksikan konser secara langsung. Sebuah pengalaman transendental yang hanya bisa dicapai sinema kelas satu.
Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) merupakan film yang akan membuatmu mengagumi dua sutradaranya: Billie Eilish si musisi muda dengan kekayaan visi yang bukan bintang pop kosong hasil kurasi industri semata, dan James Cameron sang "Dewa Sinema" yang mau berusaha memahami generasi sekarang alih-alih bersikap arogan dengan mengerdilkan mereka.
Latarnya adalah konser di Manchester (2025) yang jadi bagian Hit Me Hard and Soft: The Tour. Di lagu Chihiro selaku nomor pembuka, Eilish muncul dari dalam sangkar lalu membagikan lirikan tajam khasnya ke arah lautan manusia yang meneriakkan namanya. Cameron menangkap figur sang musisi bagai jagoan laga karismatik yang kerap menghiasi karya-karyanya.
Cameron jelas mengagumi Eilish. Dia hadir bukan untuk unjuk gigi sebagai pemeran utama, melainkan sosok pendukung yang memfasilitasi upaya si bintang muda merealisasikan visinya. Sebelum konser dimulai, Eilish menjabarkan keinginannya, pula hal apa saja yang hendak ia lakukan di atas panggung, kemudian menutup dengan pertanyaan, "Bisakah kita melakukan itu?" Cameron menjawab santai, "Ya." Jika salah satu sutradara paling jenius berada di pihakmu, kemustahilan bukan lagi sesuatu yang patut dikhawatirkan.
Seiring konser berjalan, kita pun perlahan dibuat menyadari bahwa dua seniman lain era dan medium ini sejatinya tidak seberapa jauh berbeda. Sebagaimana Cameron, Eilish pun gemar mengeksplorasi ragam teknologi yang bisa menyulap konsernya jadi pesta meriah, bahkan saat tengah membawakan lagu-lagu bertempo lambat.
Tata cahaya dengan warna-warni tajam yang menyesuaikan suasana tiap lagu, pemakaian teknik vocal loops yang mengharuskan puluhan ribu orang dalam Co-op Live untuk membisu sejenak setelah bernyanyi dan berteriak tanpa henti, semua melahirkan pengalaman sensoris yang terasa imersif kala diterjemahkan ke layar perak oleh Cameron.
Format 3D jadi senjata pamungkas guna menggenjot kesan imersif tersebut. Gambarnya memiliki kejernihan serta kedalaman luar biasa, sehingga setiap kali kamera diletakkan dari perspektif penonton, kita akan merasa seperti sungguh-sungguh berdiri di belakang kerumunan manusia tersebut. Sadarkah kalian kalau para anggota band pengiringnya mengenakan baju merah dan biru sebagai simbol efek 3D?
Sekali waktu kita diajak mengunjungi kondisi di balik panggung untuk mendengarkan obrolan Eilish dan Cameron. Beberapa topik dibicarakan, mulai dari pilihan gaya berpakaian, ambisinya menginspirasi sebagai figur publik perempuan, hingga keinginan membahagiakan para penggemar lewat performanya di atas panggung. Sederhananya, hal-hal yang sudah sering kita temui di banyak film konser.
Bukan tipikal wawancara yang mengupas ruang intim sang narasumber secara mendalam, tapi bukan masalah, sebab dokumenter Billie Eilish: The World's a Little Blurry (2021) sudah eksis untuk memenuhi tujuan tersebut. Sedangkan Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) lebih mengedepankan spektakel, kendati itu bukan berarti ia mengeliminasi emosi. Hanya saja, daripada berasal dari obrolan, dinamika rasa terbesarnya dihasilkan oleh atmosfer konsernya.
Memotret reaksi penonton sepanjang konser merupakan praktik lumrah dalam film konser, namun di sini pemandangan tersebut lebih sering ditampilkan. Cameron memakainya selaku medium observasi seputar budaya generasi muda, yang tak sekalipun terkesan menghakimi.
Pemujaan terhadap bintang pop bukan dibingkai sebagai obsesi tak sehat, melainkan tali pengaman yang mengentaskan mereka dari titik nadir kehidupan. Pun Cameron enggan memandang aktivitas merekam jalannya konser secara negatif. Bukannya anak-anak muda ini larut dalam jerat teknologi. Begitulah cara mereka menciptakan serta menyimpan kenangan.
Wajah mereka senantiasa dibanjiri air mata. Setiap lagu mampu menyentuh hati orang yang berbeda-beda, setiap orang pun membawa beragam cerita yang seketika terbayang tiap saya mengamati gurat-gurat rasa di wajah mereka. Tanpa sadar, terjalin koneksi antara dua kelompok penonton (konser dan bioskop) yang terpisah oleh sekat ruang dan waktu.
REVIEW - MORTAL KOMBAT II
Lebih dari 600 fatality telah hadir dalam lebih dari tiga dekade perjalanan Mortal Kombat. Beberapa keren, beberapa buruk. Ada sadisme, ada pula kekonyolan. Posibilitas tanpa batas guna menghabisi lawan. Di situlah pesona gim satu ini, yang menjauhkannya dari barisan peniru gagal di luar sana. Tapi Mortal Kombat II entah bagaimana memilih bermain terlalu aman dengan mendesain mayoritas eksekusinya secara generik.
Invasi Shao Kahn (Martyn Ford) terhadap Edenia, yang bertindak selaku pembangun latar belakang tragis bagi Kitana (Adeline Rudolph) kala menyaksikan sang ayah, Raja Jerrod (Desmond Chiam), tewas mengenaskan sementara ibunya, Ratu Sindel (Ana Thu Nguyen), terpaksa berlutut di hadapan si kaisar keji, berhasil jadi momen pembuka yang menjanjikan.
Begitu pun kala (AKHIRNYA!) kita dibawa mengunjungi Johnny Cage (Karl Urban), jagoan laga 90-an yang karirnya telah meredup. Di bawah bimbingan Raiden (Tadanobu Asano), bersama Sonya Blade (Jessica McNamee), Liu Kang (Ludi Lin), Jax (Mehcad Brooks), dan Cole Young (Lewis Tan), Cage terpilih sebagai perwakilan Earthrealm dalam turnamen Mortal Kombat.
Setelahnya, naskah buatan Jeremy Slater nyaris secara total meniadakan alur. Tapi toh ini waktunya turnamen berlangsung pasca upaya licik Shang Tsung (Chin Han) melucuti kekuatan Earthrealm di film pertama. Tiada lagi waktu berbasa-basi, yang turut ditegaskan pada keberanian filmnya menghabisi siapa saja. Tidak satu karakter pun terjamin keselamatannya.
Sayang, cara Simon McQuoid selaku sutradara menangani barisan "pertarungan sampai mati" (yang kebanyakan bergulir singkat demi mengatrol kuantitas setinggi mungkin) terlalu ala kadarnya, tanpa koreografi mumpuni, termasuk ketika masing-masing karakter memamerkan special moves mereka yang akhirnya tidak nampak spesial.
Kegagalan paling fatal adalah sempitnya ruang eksplorasi terkait fatality. Tentu saya tidak berharap Liu Kang menjatuhkan mesin arkade, Jax mengubah kakinya jadi seukuran raksasa, atau Quan Chi menarik leher lawan hingga memanjang. Masalahnya, kecuali hantaman palu perang Shao Kahn yang luar biasa brutal, serta sayatan over-the-top dari kipas Kitana di klimaks, filmnya gagal mengeksplorasi opsi selain aksi saling tusuk membosankan.
Alhasil ketiadaan plotnya makin terasa. Film pertama setidaknya masih punya konflik lintas generasi antara klan Shirai Ryu dengan Lin Kuei, yang kali ini masih membara saat Hanzo Hasashi / Scorpion (Hiroyuki Sanada) mendapati musuh bebuyutannya, Bi-Han (Joe Taslim), hidup kembali dengan identitas baru: Noob Saibot.
Sedangkan di Mortal Kombat II, tiap perhentian sewaktu aksinya rehat sejenak, terasa begitu hampa nan membosankan. Dua karakter paling menarik, Kitana dan Johnny Cage, terpaksa mendapati proses mereka menemukan kedamaian hidup dipaparkan dengan luar biasa mentah. Usaha filmnya memancing tawa lewat humor verbal murahan buatan Slater pun berakhir hambar.
Tidak ada yang salah dengan performa jajaran pemainnya. Karl Urban diberkahi karisma selaku penghantar one-liner, kendati naskahnya terlalu bergantung pada celetukan yang kaya akan referensi budaya populer namun miskin kreativitas guna membangun penokohan Johnny Cage. Adeline Rudolph pun berhasil menghidupkan figur prajurit tangguh dengan masa lalu tragis yang mudah penonton dukung kejayaannya.
Ditilik dari permukaan, tokoh-tokohnya tampak luar biasa berkat pilihan estetika yang presisi terkait desain mereka. Lihat bagaimana Baraka (CJ Bloomfield) diinterpretasikan. Mortal Kombat II memang punya kulit yang sempurna, tapi lalai mengasah taringnya supaya tidak tumpul.
REVIEW - SALMOKJI: WHISPERING WATER
Sebagian alasan mengapa Salmokji: Whispering Water terasa menonjol dibanding sesamanya adalah perihal latar (berdasarkan legenda urban sebuah lokasi nyata bernama Waduk Salmokji) yang tidak diperlakukan sebagai tempat angker biasa, melainkan seperti karakter tersendiri. Kita dibuat memahami medannya, juga apa yang mampu ia perbuat terhadap para tamu tak diundang. Sederhananya, kendati menguarkan aroma kematian, Salmokji terasa hidup.
Pondasi ceritanya memang tidak jauh beda dibanding banyak horor bertema tempat angker. Sekelompok kru perusahaan penyedia street-view yang dikepalai Han Su-in (Kim Hye-yoon), mendatangi Waduk Salmokji guna merekam kondisi di sana. Rekaman sebelumnya tidak bisa digunakan akibat kemunculan sosok misterius dalam salah satu foto. Ada kekhawatiran, tapi toh mereka mesti bersikap profesional.
Begitu pengambilan gambar dimulai, rangkaian fenomena di luar nalar pun segera terjadi, termasuk kedatangan mendadak Woo Gyo-sil (Kim Jun-han) si produser senior yang sempat berhari-hari hilang. Yoon Ki-tae (Lee Jong-won), salah satu produser sekaligus mantan pacar Su-in, kelak turut menyusul. Saya mengapresiasi bagaimana masa lalu Su-in dan Ki-tae hanya dipaparkan tersirat selaku pondasi bagi dinamika karakternya, alih-alih dibiarkan mendistraksi konflik utama.
Waduk Salmokji memiliki pesona misterius yang perlahan mengaliri tubuh kita dengan sensasi kecemasan yang sukar dijelaskan. Perlahan kita dibuat mengakrabi lokasinya, sembari berusaha menguraikan rahasia kelam yang terbenam jauh di dalamnya. Ada rasa tidak nyaman kala mengamati waduk penuh air di malam hari yang seolah membentang tanpa mengenal batasan dimensi.
Sayang, walau mampu memberi lokasinya karakteristik kuat, naskah buatan Lee Sang-min, belum seberapa piawai mengeksplorasi mitologi yang bersemayam di sana secara menarik, untuk dapat lebih jauh menyulut keingintahuan penonton. Tidak banyak subteks, tiada pula jejak sejarah guna ditelusuri.
Tapi sebagai sutradara, Lee Sang-min berhasil menjalankan tugasnya menjauhkan film ini dari kemonotonan visual. Deretan karakternya merupakan orang media yang sedang bertugas, sehingga mereka pun membekali diri dengan berbagai peralatan. Ada kamera pendeteksi gerakan, kamera 360 derajat, sampai kamera ransel perekam street-view. Visualnya variatif.
Selain membantu terciptanya setup menarik menuju tiap teror, karena ragam peralatan di atas belum sejamak itu dimanfaatkan oleh film horor lain, kesan familiar pun lenyap. Kita tidak tahu dari mana teror bakal muncul, sehingga kecemasan dalam proses mengantisipasinya pun dibangun secara efektif.
Di luar beberapa desain visual mengerikan (adegan "barisan kepala mengambang" jadi favorit saya), sejatinya payoff yang Salmokji berikan untuk berbagai setup menarik tersebut masih berkutat di pemandangan-pemandangan yang cenderung generik, seperti penampakan muka hantu, penampakan tangan hantu, dll.
Eksekusinya menjadi solid berkat kejelian sang sutradara mengatur timing, supaya seklise apa pun wujud terornya, jantung penonton tetap berhasil digedor. Komposisi musiknya turut berperan. Penggunaan musik yang riuh memang berujung mengeliminasi kengerian, namun ia bak injeksi adrenalin yang mengatrol intensitas. Salmokji Whispering Water bukan tontonan menyeramkan, melainkan tipikal horor arus utama yang mengutamakan keseruan, dan berhasil mencapai tujuannya.
Di jajaran penampil, Kim Hye-yoon menyalurkan teror melalui olah ekspresinya, yang seolah menghipnotis penonton supaya turut mencurigai ketidakberesan Waduk Salmokji. Misteri berkutat di tiap sorot mata sang aktris. Misteri yang seiring waktu lebih banyak melempar pertanyaan baru ketimbang jawaban penghilang rasa ragu.
Ada kalanya Salmokji Whispering Water terasa melelahkan karena bak berusaha terlampau keras bersikap ambigu, tapi lewat ambiguitas itulah filmnya bisa terus menetap di benak penonton, bahkan jauh selepas pemutaran berakhir. Entah lewat diskusi bersama, maupun perumusan teori-teori.
Termasuk perihal konklusi sarat enigma yang bagai peleburan dua horor legendaris: The Shining (1980) dan The Descent (2005). Sayang, dampak emosi yang berpotensi amat menusuk dari konklusi itu, dilucuti kekuatannya oleh repetisi berlebihan terhadap elemen ilusi dalam alurnya. Penonton sudah berulang kali mengalaminya. Alhasil, kita takkan dikuasai keterkejutan sebesar protagonisnya tatkala film ini memamerkan ilusi pamungkasnya.



.png)

.png)

.png)



%20(1).png)