REVIEW - MARTY SUPREME

Sepanjang 150 menit, berkali-kali Marty Supreme seperti hendak melangkahkan kaki di rute "from zero to hero" yang familiar, hanya untuk berputar balik dan menjatuhkan protagonisnya ke titik nol. Sebab tidak ada "hero" di karya penyutradaraan teranyar Josh Safdie ini. Hanya individu yang dibuat terombang-ambing oleh permainan sang takdir, bak bola yang bolak-balik dipukul di atas meja pingpong. 

Kredit pembukanya cukup nyeleneh: sekumpulan sperma berlomba mencapai ovum, lalu setelah pembuahan terjadi, sel telur itu berubah menjadi bola pingpong. Seperti itulah kehidupan Marty Mauser (Timothée Chalamet) yang karakternya terinspirasi dari figur Marty Reisman. Konon, rata-rata kecepatan bola pingpong di pertandingan kompetitif adalah 100-140 km/jam. Bayangkan terus melaju sekencang itu tanpa henti setiap hari. 

Marty adalah atlet tenis meja profesional sekaligus wakil Amerika Serikat di kejuaraan dunia tahun 1952 yang digelar di London. Marty berambisi memenangkan turnamen tersebut. Dia YAKIN akan memenangkannya. Sampai laga final mempertemukannya dengan wakil Jepang, Koto Endo (Koto Kawaguchi), yang mempersenjatai diri dengan raket karet yang meredam suara. Marty takluk. Jatuhlah ia dari puncak dunia menuju dasar jurang berlumpur. 

Eksekusi pertandingan tenis mejanya mengagumkan. Kesan autentik bak tengah menyaksikan turnamen profesional sungguhan berhasil Josh Safdie bangun, tatkala para pelakon memamerkan kecakapan bermain masing-masing. Koto Kawaguchi merupakan atlet, sedangkan latihan intens Timothée Chalamet terbukti membuahkan hasil. Kendati menerima bantuan efek komputer (beberapa adegan diambil tanpa bola, yang baru ditambahkan secara digital di fase pasca produksi), bila tak dibarengi gerak tubuh meyakinkan sang aktor, kecanggihan teknologi seperti apa pun akan sia-sia. 

Singkat cerita, Marty berupaya menata ulang kejayaannya, sehingga ia memerlukan sejumlah uang, baik untuk melunasi setumpuk utang maupun membayar biaya pendaftaran turnamen. Belum lagi rentetan masalah pribadi lain, seperti perselingkuhannya dengan Rachel (Odessa A'zion), teman masa kecil Marty yang telah bersuami. 

Seperti karya-karya Safdie lain, konfliknya dipaparkan dalam intensitas tinggi yang memupuk kecemasan lewat penyuntingan secepat kilat, close-up ekstrim, hingga tempo bicara para aktor yang bak berondongan peluru dari senapan mesin. 

Kekhasan sang sutradara pun nampak dari betapa liar guliran alurnya. Bermula dari problematika sederhana seperti mencari dana untuk berlaga di ajang tenis meja, Marty kemudian mesti berurusan dengan polisi, mafia keji, juga Kay Stone (Gwyneth Paltrow), aktris film senior yang sedang berusaha membangun ulang karirnya di dunia panggung. Keliaran dan keanehannya terus bertambah seiring waktu, sampai ketika salah satu karakter "mengakui" identitasnya sebagai vampir yang hidup dari tahun 1616, saya menganggapnya selaku posibilitas. 

"Memang bukan takdirnya" merupakan kalimat yang paling pas dipakai menggambarkan perjalanan Marty. Menyaksikan usaha demi usaha Marty senantiasa membentur tembok kegagalan yang acap kali terasa absurd memang awalnya menyenangkan, tapi karena dilangsungkan selama dua setengah jam, filmnya pun sempat mencapai titik jenuh akibat kesan repetitif. Ketidakterdugaan dari rangkaian skenario liarnya jadi mudah diduga. 

Di sinilah kehebatan performa Timothée Chalamet berperan sebagai penyelamat. Energinya luar biasa. Chalamet membuat Marty bak personifikasi dari kekalutan. Ekspresinya seusai memenangkan pertandingan di paruh akhir bukan semata luapan kegembiraan seorang atlet, tapi kulminasi dari segala emosi yang menyambangi hatinya sedari awal kisah. Berkat kelihaian sang aktor mengolah rasa, konklusinya yang bermaksud mendekonstruksi makna "juara", berhasil menghasilkan dampak emosi secara maksimal. 

REVIEW - CRIME 101

Crime 101 yang mengadaptasi novela berjudul sama buatan Don Winslow punya jiwa serupa Heat (1995) karya Michael Mann. Bukan aksi yang dikedepankan, melainkan alur pikir para manusia yang melakoninya. Kegundahan batin mereka lebih dipentingkan dari spektakel berbasis kriminalitas. 

Seperti Heat, kisahnya berpusat pada pertarungan antara perampok dan polisi yang masing-masing enggan saling merendahkan sang lawan. Si perampok adalah Mike (Chris Hemsworth) yang menjalankan tindak kriminalnya dengan disiplin luar biasa. Alhasil, tak sedikit pun DNA pernah tertinggal di TKP. Chris Hemsworth dengan setelan jas, rambut dipotong pendek rapi, serta kacamata hitam bak personifikasi dari ketelitian Mike. 

Sedangkan si penegak hukum adalah Detektif Lou Lubesnick (Mark Ruffalo) yang diasingkan dari kesatuan akibat rasio pemecahan kasusnya rendah. Lou pun ngotot melempar teori yang ditolak oleh rekan-rekan sesama polisi, bahwa serangakaian perampokan di sekitar jalan raya 101 dilakukan oleh satu pelaku.....dan dia benar. 

Rumah tangga Lou juga tidak kalah bermasalah, di mana sang istri secara sengaja berkali-kali berselingkuh. Sebaliknya, Mike tengah terpikat pada Maya (Monica Barbaro), kendati ia sadar kalau pekerjaannya menuntut hidup yang teralienasi demi menghindari distraksi. 

Tapi jika Heat merupakan "permainan laki-laki", Crime 101 menyediakan ruang bagi perempuan lewat kehadiran Sharon (Halle Berry), yang tak pernah dihargai secara layak di perusahaan asuransi tempatnya bekerja selama 11 tahun. Dunia tiga tokoh utama kita berlainan, namun mereka memiliki kemiripan: baik Mike, Lou, atau Sharon "bermain sesuai aturan" di tengah kekacauan ekosistem yang mengerdilkan keteraturan. 

Ketika Mike beraksi serba hati-hati sembari mengusung prinsip untuk tak melukai satu orang pun, Ormon (Barry Keoghan), yang dikirim sebagai penggantinya di salah satu perampokan, justru berlaku membabi-buta. Lou mendapati kesatuannya tak pernah memedulikan kebenaran, bahkan menutupi brutalitas yang diperbuat sesama polisi. Sharon juga terjebak dilema tatkala menyadari pihak perusahaan tega melakukan segala cara guna mencurangi klien mereka. 

Naskah buatan sang sutradara, Bart Layton, betul-betul membedah penokohan tiap individu. Sekali lagi elemen aksi memang tidak jadi menu utama Crime 101, tapi bukan berarti diolah setengah matang. Tengok bagaimana Layton menginjeksi deretan adegan kejar-kejaran mobil dengan energi serta efek kejut, alih-alih sekadar melakukannya untuk memenuhi formulasi film aksi. 

Alurnya tidak menyediakan lika-liku tak terduga, belum pula mendobrak pakem lama film kriminal sarat drama, tapi Layton memastikan penceritaannya tersaji rapi, kendati selama 140 menit mesti berkali-kali beralih fokus antara tiga tokoh utamanya (plus Ormon sebagai "bonus").

Sebelum sekuel Heat, yang masih berkutat di pra-produksi, resmi diluncurkan, Crime 101 adalah hal terdekat yang bisa kita dapat. Jika Heat merepresentasikan kemurnian aksi khas sinema 90-an, maka Crime 101, dengan konklusinya yang menolak moralitas hitam-putih, menjadi wajah dari kompleksitas masa kini, di mana hukum gagal melindungi kesejahteraan bahkan keselamatan masyarakat. 

REVIEW - BLADES OF THE GUARDIANS

Gurun menjadi panggung kejar-kejaran antara beberapa fraksi prajurit dan sekelompok pendekar dalam misi mereka melindungi sesosok individu penting. Blades of the Guardians ibarat Mad Max: Fury Road yang dipindahkan ke latar Dinasti Sui, di mana alih-alih mobil raksasa dan ledakan bombastis, adaptasi manhua berjudul sama ini dimotori ayunan pedang para pendekar yang mampu menentang gravitasi. 

Salah satunya bernama Dao Ma (Wu Jing), seorang pemburu hadiah yang mendapat misi untuk mengawal Zhi Shilang (Sun Yizhou), pemimpin pasukan pemberontak sekaligus "kriminal paling dicari", untuk memasuki daerah Chang'an. 

Ada sedikit kejanggalan. Zhi Shilang memakai topeng serta riasan guna menyembunyikan identitas, namun penyamaran itu sudah dihafal oleh prajurit kerajaan yang mengincarnya. Mengapa tidak ia buka saja samaran tersebut? Kenapa pula sang pemimpin besar perlawanan punya tindak-tanduk konyol bak orang tolol? Sebelum kehadiran sekuel yang dapat menyediakan jawaban, semua hal di atas masih merupakan anomali mengganggu. 

Seiring perjalanan, Dao Ma bertatap muka dengan ahli bela diri lain. Ada yang bakal memegang peranan besar di alur seperti Ayuya (Chen Lijun) si "Putri Gurun Pasir", Shu (Yu Shi) si pendekar berambut putih, hingga Di Ting (Nicholas Tse) dengan misi rahasianya, namun ada pula yang sekadar numpang lewat. Jet Li sebagai Chang Guiren adalah salah satunya, tapi bukan berarti kemunculannya tak berkesan. Kendati tak selincah masa primanya, sang legenda laga terbukti masih punya karisma luar biasa. 

Dao Ma yang selalu membawa seorang anak kecil bernama Xiao Qi (Ju Qianlang) pun memulai perjalanan melintasi gurun, dalam 126 menit yang punya alur tipis sekaligus penuh sesak secara bersamaan. Bisa demikian sebab naskah buatan Chao-Bin Su dan Larry Yang terus menyuplai film dengan permasalahan yang terus datang dan pergi, tanpa pernah mengembangkannya jadi struktur narasi berarti. 

Jangan harap merasakan kepedulian terhadap cerita maupun manusia-manusianya, tapi untungnya, Yuen Woo-ping selaku sutradara tahu bagaimana menyusun shot supaya jajaran pendekarnya nampak keren kala beradu jurus. Apalagi Blades of the Guardians diberkahi nama-nama yang memiliki screen presence tinggi. Bukan keselamatan karakternya yang bakal penonton pedulikan, tapi bagaimana cara mereka menghunuskan pedang.

Koreografinya sarat gerak akrobatik memukau sebagaimana mestinya film wuxia kelas satu, pun dengan latar yang menolak tampil monoton. Para jagoannya bertarung di tengah beragam elemen, dari kobaran api, badai pasir, hingga hujan salju. Alih-alih jadi penghalang, hal-hal tersebut justru dijadikan amunisi, membuat mereka bisa mengayunkan pedang yang membara, atau terbang ke arah lawan sambil mengendarai ganasnya badai. 

Rangkaian baku sabetnya hadir jauh lebih brutal dari wuxia kebanyakan. Intrik politik kompleks maupun drama humanis menyentuh takkan bisa ditemukan di sini, tapi jika kalian menikmati melihat para pendekar mempermalukan hukum fisika, kemudian memenggal kepala musuh dengan cara menendangnya sekeras mungkin, maka Blades of the Guardians adalah spektakel yang layak dikonsumsi.

REVIEW - KOKUHO

Kikuo muda (Sōya Kurokawa) menyaksikan tubuh ayahnya, seorang bos yakuza, luruh lalu membanjiri hamparan salju dengan darahnya, serupa goresan warna merah melengkapi riasan putih di wajah pelakon kabuki. Kokuho (berarti "harta karun nasional") yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Shuichi Yoshida memang membicarakan perihal dualisme kehidupan, di mana dua kutub berseberangan acap kali menciptakan kontradiksi, namun terkadang justru saling melengkapi.

Setelahnya, Kikuo (versi dewasa diperankan Ryo Yoshizawa) tumbuh di bawah asuhan Hanai Hanjiro II (Ken Watanabe) si aktor kabuki ternama. Hanjiro yang pernah terpesona menyaksikan akting Kikuo, memberinya latihan seni peran kabuki bersama dengan putranya, Shunsuke (Ryusei Yokohama). Sama-sama melakoni peran onnagata (aktor laki-laki yang memerankan tokoh perempuan) memudahkan terjalinnya persaudaraan erat di antara keduanya. 

Kikuo dan Shunsuke pun mewakili dualisme kehidupan. Kendati berbakat dan berhasrat, mengingat sifat turun-temurun dunia kabuki, ketiadaan ikatan darah dengan sang guru membuat karir Kikuo diyakini takkan mulus. Sebaliknya, Shunsuke si anak kandung yang lebih gemar berpesta ketimbang berkesenian, bak ditakdirkan punya masa depan cerah. Tapi realita tidak sesederhana itu, sebab posisi mereka punya "madu dan racun" masing-masing. 

"Cantik" adalah deskripsi sempurna bagi filmnya. Selain departemen rias selaku peraih nominasi Academy Awards, tata artistik yang berjasa menghidupkan latar pementasan kabuki pun demikian memukau. Di kursi sutradara, Lee Sang-il bukan cuma menunjukkan keelokan kulit luar. Keindahan visual jadi ekspresi cintanya terhadap kabuki, membuat Kokuho nampak sebagai upaya melanggengkan cabang kesenian tersebut alih-alih sebatas pameran hampa. 

Tengok bagaimana dalam tiap pementasan, sinopsis singkat mengenai cerita yang diangkat selalu dicantumkan. Lee Sang-il ingin penontonnya benar-benar mengerti sehingga mampu meresapi, ketimbang jadi spektator bodoh yang dialienasi. Sang sutradara seolah merindukan era di mana seni masih berupa ekspresi hati daripada sekadar komoditi.

Hari-hari protagonisnya makin mengakrabi pilu begitu seni dalam hatinya mulai diracuni ambisi. Masalah keluarga, carut-marut percintaan, gesekan kepentingan antar pelaku seni, hingga perebutan gelar bergengsi dunia kabuki, senantiasa mengiringi tahun-tahun kehidupan dewasa Kikuo. Sederhananya, hidup Kikuo berantakan. 

Tapi di sinilah dualisme Kokuho kembali nampak. Mungkinkah kepahitan realita memang diperlukan guna melahirkan keindahan dunia panggung yang serba pura-pura? Mangiku (Min Tanaka), aktor kabuki senior sekaligus penyandang gelar "kokuho", pernah memperingatkan Kikuo bahwa wajah rupawannya kelak bisa mendatangkan kehancuran. 

Selama 175 menit, dinamika Kikuo dan Shunsuke tidak pernah lepas dari dualisme. Kejujuran dan kebohongan, memiliki dan kehilangan, jelita dan buruk rupa, jatuh dan bangun, manis dan pahit, hingga tentunya, realita dan sandiwara yang seringkali malah saling mengisi. Di satu titik, Kikuo berhasil memperoleh puncak kesuksesan, namun selain sayup-sayup tepuk tangan penonton, kita justru melihatnya terduduk seorang diri di balik tirai panggung yang sepi. 

Naskah buatan Satoko Okudera menggerakkan alurnya secara agresif, membentangkan kisah lima dekade yang acap kali menghadirkan lompatan waktu. Tidak semua penonton bakal mudah beradaptasi dengan gaya tersebut, tapi di sisi lain, durasi yang mendekati tiga jam dibuatnya terkesan singkat. Rangkaian peristiwa yang Satoko pilih untuk tak munculkan juga merupakan hal-hal yang bisa kita isi sendiri celahnya lewat penalaran sederhana. 

Memasuki paruh kedua, kekuatan penceritaannya sempat mengendur seiring beralihnya fokus narasi menuju tetek-bengek dari balik layar kabuki yang tak memiliki daya magis sekuat presentasi di atas panggungnya. Beruntung, Kokuho diberkahi jajaran pelakon yang mendefinisikan "totalitas" dalam seni peran melalui penampilan mereka, untuk menjaga supaya narasinya tetap mengandung bobot. 

Khususnya Ryo Yoshizawa lewat kombinasi olah rasa dan raga. Lee Sang-il banyak memakai close-up, membuat kamera menangkap dari dekat tiap sudut tubuh sang aktor yang seluruhnya "berbicara". Simak betapa menggetarkan aktingnya sewaktu Kikuo menggantikan sang guru memainkan kisah The Love Suicides at Sonezaki. Ekspresi yang bak corong emosi, ragam eksplorasi gestur yang mendorong kapasitas fisik sampai ke titik ekstrim, semua menyatu, menubuh dalam diri si "harta karun nasional" yang mengabdikan seumur hidupnya mencari "suatu pemandangan". 

REVIEW - THE THINGS YOU KILL

Film dibuka dengan gambar kabur yang baru menemukan fokusnya setelah beberapa detik. Bukan suatu kealpaan teknis. Pemandangan tersebut mengingatkan pada tahap-tahap saat kita membiasakan diri dengan realita sewaktu baru terbangun setelah terlelap, sebab melalui The Things You Kill, Alireza Khatami berniat memaparkan proses individu berjuang untuk lepas dari mimpi buruknya. 

Ali (Ekin Koç), seorang profesor bidang literatur, merupakan individu yang dimaksud. Kendati jauh dari derita, terdapat beberapa ganjalan dalam kehidupannya. Pertama, rumah tangga Ali bersama Hazar (Hazar Ergüçlü) belum juga dikaruniai momongan. Kedua, hubungan buruk dengan sang ayah, Hamit (Ercan Kesal), sebab menurut Ali, ia memperlakukan ibunya, Sakine (Güliz Şirinyan), yang sakit-sakitan dengan buruk.

Suatu hari datanglah kabar duka. Sakine meninggal akibat terjatuh di rumah, dan Ali curiga ayahnya bertanggung jawab. Kecurigaan itu ia sembunyikan dari Hazar, namun justru dibagikannya pada Reza (Erkan Kolçak Köstendil), pria yang baru Ali kenal sewaktu tiba-tiba muncul dan melamar sebagai tukang kebun. 

Di salah satu kelasnya, Ali mendiskusikan bahwa akar kata Bahasa Arab dari "translate" adalah "rajam" alias "to kill". Aktivitas menerjemahkan tidak lepas dari transformasi. Sebuah kata mengalami transformasi bunyi, bahkan makna, bila melewati alih bahasa. Alireza Khatami menerapkannya ke konteks transformasi manusia, melempar argumen bahwa seseorang perlu "membunuh" (tentunya tidak secara literal) agar dapat berubah. 

Ali perlu mengubah dirinya yang sadar atau tidak, tumbuh dengan dibentuk oleh paham patriarki yang menghalangi laki-laki untuk terbangun dari delusi maskulinitas. Alhasil, laki-laki cenderung ogah membuka diri, yang acap kali dipandang sebagai tanda kerapuhan, bahkan di hadapan pasangan. Sebutan "tidak jantan" pun amat ditakuti. Itulah alasan Ali menyembunyikan hasil tes yang mengungkap adanya kelainan di spermanya. 

Alireza Khatami dengan teliti menelanjangi betapa beracunnya pemujaan atas maskulinitas. Laki-laki malu bercerita, namun tidak pernah ragu melampiaskan amarah mereka terhadap perempuan. Lucunya, mungkin atas dasar "bro code", Ali begitu gampang berkeluh kelah di depan Reza yang baru saja ia kenal. 

Diskusi Ali dan Reza mengawali tahap alurnya bertransformasi membentuk tatanan sureal yang bertindak selaku simbol eksistensi wajah kelam dalam benak manusia. Naskahnya begitu apik mengonstruksi misteri, sehingga teka-tekinya efektif memancing keinginan penonton untuk turut serta menguraikan anomali seputar mimpi buruk yang bersemayam di hati protagonisnya. 

Ali takut sekaligus benci pada ayahnya, akibat kenangan buruk semasa kecil. Sewaktu ia akhirnya bersedia mengutarakan kegundahan tersebut, sekali lagi gambar yang tadinya sempat memburam mulai menemukan fokus, menandai keberhasilan si tokoh utama terbangun dari mimpi buruk. Masalahnya, kadang seseorang justru menjadi sesuatu yang ia benci/takuti, apalagi jika melibatkan persoalan pola asuh orang tua. Semakin keras ia menampik, malah semakin mendekat pula hal itu. 

Sang sutradara mengarahkan rangkaian penelusuran di atas dengan kerapian luar biasa. Dibuatnya The Things You Kill mencengkeram secara perlahan lewat kepiawaian membangun intensitas tanpa bergantung pada trik-trik murahan. Babak terakhirnya tampil mencekam, saat Khatami menyoroti betapa mengerikannya ketika kita menatap wajah mimpi buruk yang bisa jadi bakal selalu terulang. Tapi toh kita tetap mesti menghadapinya, agar terlepas dari perangkap stagnasi untuk kemudian bertransformasi. 

(Klik Film)

REVIEW - WUTHERING HEIGHTS (2026)

Layar hitam, sementara erangan laki-laki terdengar, sambil sayup-sayup diiringi suara berderit bak tali yang tengah meregang. Apakah ia sedang orgasme atau menanti ajal di tiang gantungan? Ternyata keduanya terjadi secara bersamaan. Tidak salah ketika orang Prancis mendeskripsikan sensasi orgasme sebagai "la petite mort" atau "kematian kecil". 

Wuthering Heights karya Emerald Fennell, selaku adaptasi layar lebar ke-17 (setidaknya menurut Wikipedia) dari novel berjudul sama buatan Emily Brontë, menampakkan dua sisi hasrat yang dapat membawa nikmat yang menghidupkan sekaligus luka yang mematikan. 

Bentangan lanskap yang seolah enggan melepas genggaman mendung jadi latar, sementara gemuruh musik gubahan Anthony Willis membawa atmosfer gotik untuk membuka pertemuan dua tokoh utamanya: Cathy (Charlotte Mellington), putri Mr. Earnshaw (Martin Clunes), bangsawan pemilik manor Wuthering Heights; dan Heathcliff (Owen Cooper), anak miskin yang dibesarkan oleh si bangsawan. 

Keduanya bersahabat, menghapus kesepian masing-masing sembari memendam cinta bagi satu sama lain. Bertahun-tahun setelahnya, Cathy dewasa (Margot Robbie) menarik perhatian tetangga barunya, Edgar (Shazad Latif), yang hidup bermandikan harta kendati bukan berdarah bangsawan. Edgar mengundang Cathy untuk menetap di kediamannya selama sekitar dua minggu. Heathcliff dewasa (Jacob Elordi) pun dikuasai api cemburu. 

Sekembalinya ke Wuthering Heights, Cathy yang kentara tak menyimpan ketertarikan pada Edgar dan hanya memedulikan kerinduan terhadap "si sahabat" justru mendapat penolakan tatkala Heathcliff mengusirnya. 

Fennell enggan memandang kecemburuan Heathcliff selaku wujud cinta luar biasa. Sebaliknya, maskulinitas rapuh laki-laki disentilnya. Mengapa laki-laki sebegitu getol mempertahankan harga diri sarat gengsi, biarpun itu berpotensi melukai mereka? Bukan cuma Heathcliff, Mr. Earnshaw yang menenggelamkan diri dalam alkohol pun serupa. Fennell mengubah jalur Wuthering Heights menjadi kisah relevan tentang bagaimana maskulinitas laki-laki merusak hidupnya sendiri, juga orang-orang di sekitarnya. 

Heathcliff memutuskan pergi, sedangkan Cathy terpaksa menikahi Edgar demi menyelamatkan finansial keluarga. Latar pun berpindah menuju kediaman si laki-laki kaya yang berisi ragam gaya arsitektur eksentrik, juga setumpuk gaun unik nan cantik yang Edgar siapkan untuk istrinya. Sinematografi arahan Linus Sandgren membingkai tiap shot-nya bak lukisan indah yang memancing kekaguman.

Masalahnya, ada kalanya film ini mengemis rasa kagum penonton secara berlebihan. Tengok montase berisi rutinitas Cathy pasca menikah, yang didesain tak ubahnya video klip musik bervisual menawan namun terkesan artificial, pula tanpa rasa. Fennell seperti mengarahkan Robbie untuk berpose semata alih-alih berakting.

Walau harus diakui, pilihan membungkus materi klasik ini dalam sampul pop modern menghadirkan daya tarik. Barisan lagu elektropop garapan Charli XCX ditempatkan di latar tahun 1800-an, menciptakan anakronisme guna mewakili penolakan tunduk pada kekakuan moralitas masa lampau. Fennell menghapus segala sopan santun khas drama period, menggantinya dengan sensualitas yang mengintip di segala sisi. Telur yang pecah, adonan kue, bahkan siput yang merayap perlahan, seluruhnya menguarkan aroma seksual. 

Singkat cerita, Heathcliff kembali dengan identitas baru. Seorang laki-laki tampan yang telah merengkuh sukses besar. Terjadilah perselingkuhan, tapi alih-alih saling mengisi sebagaimana kala mereka kecil, Cathy dan Heathcliff kini saling menghancurkan. Seiring menguatnya rasa bersalah di hati Cathy, Heathcliff justru makin menggila. 

Fennell mengemas perselingkuhan keduanya serupa opera sabun yang efektif menyulut rasa geregetan penonton. Konyol, namun daya hiburnya sukar ditampik, biarpun sangat disayangkan, naskahnya sekadar memedulikan spektakel guna memuaskan hasrat penonton menyaksikan kenakalan dua karakternya, tanpa dibarengi dampak emosi memadai, bahkan tatkala jajaran pemainnya tampil apik.

Bakal banyak yang mengeluhkan lemahnya chemistry, Margot Robbie dan Jacob Elordi, namun saya memandangnya sebagai kesengajaan, sebab filmnya memang bukan berniat menggambarkan penyatuan hati dua tokoh utama, melainkan kerenggangan mereka akibat obsesi tak sehat. Secara individual keduanya bermain kuat. 

Di antara pemeran pendukung, Hong Chau (memerankan Nelly, pelayan Cathy sejak kecil) tampil memukau lewat kemampuannya menyiratkan luka terpendam melalui pengolahan ekspresi, sedangkan Owen Cooper membuktikan bahwa performa kuatnya di serial Adolescence (2025) bukanlah kebetulan. 

Pada akhirnya, apa yang Wuthering Heights sebenarnya incar memang terasa ambigu. Sebagai hiburan pop, naskahnya tetap dipenuhi kalimat puitis khas literatur klasik. Dia ingin menampilkan atmosfer gotik, tapi musik modern serta berbagai visual kaya warnanya jelas berasal dari spektrum berlawanan. Fennell seolah dirasuki jiwa Cathy. Sama-sama ingin memiliki sesuatu tanpa mau melepaskan hal lainnya.