REVIEW - THE KING'S WARDEN

Sewaktu menonton The King's Warden, saya duduk di samping dua perempuan lanjut usia asal Korea, yang sebelum film dimulai, terlibat obrolan panjang. Entah apa yang dibicarakan. Ada sekat bahasa tebal di antara kami. Selang beberapa menit, filmnya mengawali narasi dengan teks mengenai Danjong, raja era Joseon di tahun 1450-an yang diasingkan. Nama yang belum pernah saya dengar sebelumnya. 

Kemudian kita diajak berkenalan dengan Eom Heung-do (Yoo Hae-jin) yang mengepalai sebuah desa miskin di daerah Cheongnyeongpo. Begitu miskin serta lapar rakyatnya, tatkala Heung-do mendengar rumor bahwa suatu desa bakal makmur bila dijadikan tempat pengasingan pejabat negara, dia tidak berpikir dua kali untuk menyabet peluang tersebut. 

Tanpa Heung-do tahu, figur yang hendak diasingkan ke Cheongnyeongpo bukanlah pejabat biasa, melainkan Yi Hong-wi (Park Ji-hoon) alias Pangeran Nosan alias Raja Danjong yang baru saja dikudeta oleh pamannya sendiri. Nosan baru berusia 16 tahun. Kebengisan politik kerajaan yang tak mengenal belas kasih bahkan di antara keluarga telah merenggut semangatnya. Nosan enggan makan, matanya pun hampa, seolah keputusasaan enggan berhenti bertandang. 

Penceritaan sang sutradara, Jang Hang-jun, yang turut menulis naskah bersama Hwang Seong-gu, mengalir dengan mulus. Kisahnya mungkin tak punya cengkeraman intensitas luar biasa maupun "bumbu penyedap" berlebih, tapi penonton dibuat paham betul soal kekisruhan beraroma politis di dalam tembok istana, pula penderitaan rakyat jelata di luar. 

Kita pun mendapat sosok karakter utama menarik dalam diri Eom Heung-do. Terselip ambiguitas moral khas protagonis sinema Korea Selatan. Dia bukan orang suci. Si kepala desa tidak ragu mengakali aturan, menjilat penguasa, pula merumuskan sedikit kebohongan demi mengenyangkan perutnya serta warga desa, yang sudah sekian lama tak diisi semangkuk nasi hangat. Kadang metodenya patut dipertanyakan, namun intensinya tulus. 

Heung-do dan para warga terus menyediakan makanan bagi Nosan, dan si pangeran selalu menolaknya akibat keputusasaan yang sempat memantik niat untuk mengakhiri hidup. Titik balik terjadi kala si raja remaja menolong warga dari serangan harimau. Sayang, dampak emosional momen tersebut dilemahkan oleh pemanfaatan teknologi secara kurang bijak, saat sang sutradara memaksakan diri memunculkan "harimau CGI" dengan gamblang kendati kualitasnya serba terbatas. 

Sejak itulah Nosan mulai bersedia mencicipi masakan warga. Ada poin menarik tatkala Heung-do mempresentasikan masakan tersebut di hadapan Nosan. Berbeda dengan suguhan buatan koki istana yang serba mewah sekaligus mudah diperoleh, di Cheongnyeongpo, masing-masing varian menu didapat dari hasil perjuangan (buah yang susah payah dipetik, ikan yang dipancing memakai trik rumit, dll.) Bukankah makanan buah kerja keras memang lebih lezat? 

Sebagai bentuk balas budi, Nosan mulai rutin mengajak seluruh warga makan bersama, bahkan mengajari baca tulis anak-anak setempat. The King's Warden mengambil latar lebih dari 500 tahun lalu, namun permasalahannya masih relevan hingga kini: figur yang tulus memedulikan rakyat akan selalu coba disingkirkan oleh gerombolan penguasa haus harta. 

Filmnya ditutup oleh konklusi yang luar biasa efektif memeras air mata penonton. Selain karena skenario tragis nan mengharukan di dalamnya, totalitas akting Yoo Hae-jin, yang matanya dipenuhi deburan sakit hati dan oleh sang sutradara diberi sorotan utama, berkontribusi besar memaksimalkan potensi adegan tersebut. 

Saya meneteskan air mata melihatnya, begitu pula dua perempuan Korea di sebelah. Saya tetap tidak mengerti obrolan keduanya sewaktu kredit bergulir, tapi rasanya saya mulai sedikit memahami sekelumit perasaan mereka. Perasaan rakyat biasa yang merindukan kebaikan hati pemimpin negara. Begitu hebat kekuatan sinema, ia mampu meniadakan sekat bahasa juga budaya. 

REVIEW - PROJECT HAIL MARY

Ryland Grace (Ryan Gosling) terbangun di pesawat luar angkasa dalam kondisi amnesia. Dia tidak tahu sudah seberapa jauh dari Bumi, berapa lama ia pergi, pula alasannya berada di sana. Konstelasi bintang yang menyemarakkan langit semesta tidak lagi menyimpan kenangan akan keping-keping identitas dirinya. 

Tapi andai ingatannya tak lenyap pun, rasanya kondisi Grace takkan jauh lebih baik. Di Bumi ia bukanlah siapa-siapa, yang juga tak punya siapa-siapa. Seorang ilmuwan biologi molekuler yang dicap gagal dan terpaksa berkarir sebagai guru. Grace sudah tersesat jauh sebelum luar angkasa mengombang-ambingkannya. Jati dirinya telah lenyap tanpa campur tangan amnesia. 

Alurnya kemudian bergerak bolak-balik antara masa kini (luar angkasa) dan masa lalu (Bumi). Alkisah, matahari perlahan meredup akibat dikonsumsi oleh mikrob bernama "astrophage" yang secara misterius berkembang biak di Venus. Akibatnya, dalam waktu kurang lebih 30 tahun, Bumi diperkirakan bakal mengalami pendinginan global. 

Gabungan negara-negara dunia pun menginisiasi "Project Hail Mary" guna mencari jalan keluar. Grace termasuk salah satu ilmuwan yang terlibat. Bagaimana detail proyek tersebut? Mengapa sebagai ilmuwan Grace malah turut terbang ke luar angkasa? Semakin sedikit kalian tahu perihal detail naskah buatan Drew Goddard, yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Andy Weir, makin baik. 

Di Bumi, kendati dikelilingi banyak manusia selama menjalankan proyek, Grace tetap dikuasai sepi. Sebaliknya, tatkala benar-benar seorang diri di luar angkasa, protagonis kita justru nampak lebih hidup. Sinematografi arahan Greig Fraser menangkap komparasi ironis itu. Latar Bumi terkesan lebih "lega" tetapi warnanya cenderung redup. Sedangkan luar angkasa, walau acap kali terlihat sesak karena banyak mengambil latar dalam pesawat, nyatanya lebih royal perihal menumpahkan warna.

Di kursi sutradara, Phil Lord dan Christopher Miller mengeksplorasi penerapan efek praktikal, dari membangun set sungguhan, memakai jasa puppeteer, hingga pemanfaatan layar LED (bukan berarti tanpa keterlibatan efek komputer), guna melahirkan ragam pemandangan semesta megah yang terkesan magis sekaligus immersive

Pada satu kesempatan, Grace menjelajah keluar pesawat, lalu sekujur tubuhnya dibasuh oleh pancaran cahaya merah yang indah. Grace menikmatinya bak tengah memperoleh berkah. Seolah saat itu angkasa mendengar nyanyian duka Grace, kemudian menghadiahkan keindahan semesta yang masih asing bagi sang ilmuwan. 

Bila membicarakan cerita, sejatinya Project Hail Mary amat sederhana. Bahkan ada kalanya, saat-saat yang Grace habiskan seorang diri di pesawat, entah untuk memecahkan misteri tentang ingatannya, mengakali persoalan teknis, atau sekadar bersantai menikmati berlalunya denting waktu, berlangsung lebih lama dari seharusnya. 

Nantinya Grace bakal bertemu alien berwujud batu yang ia beri nama Rocky (digerakkan oleh lima puppeteers termasuk James Ortiz, yang turut mengisi suaranya), yang mengarungi angkasa menaiki pesawat berukuran masif dengan wujud bak kerangka raksasa, yang kehadirannya seketika menguarkan misteri semesta yang terlampau luas untuk dapat diproses oleh manusia. 

Rocky pun mempunyai wujud abstrak. Tanpa wajah tapi kaya emosi. Penonton diajak menyaksikan langkah demi langkah yang Grace lalui supaya bisa berkomunikasi dengan si alien. Kita dibuat memahami metode yang protagonisnya pakai. Penyertaan elemen saintifik yang cukup kental (meski konon kadarnya tidak sebanyak di novel) memungkinkan penonton menyelami detail masalah serta solusi tiap problematika ilmiahnya. Project Hail Mary enggan memandang penonton sebagai makhluk bodoh, melainkan partner yang terlibat aktif dalam perjalanannya.

Kehadiran Rocky semakin memperkaya sentuhan humor yang tidak pernah malu-malu untuk tampil sebagai sorotan utama. Project Hail Mary memang 156 menit yang ringan, menyenangkan, pula mengandung banyak situasi yang membuat "tantangan tahan tangis" akan sukar dilangsungkan. Terkadang filmnya menuang sakarin terlampau banyak, di mana tiap sudut seolah didesain guna menumpahkan tawa atau air mata , tapi pendekatan tersebut substansial dalam upaya Project Hail Mary membicarakan tentang "harapan".

Semematikan apa pun potensi kehancuran yang Bumi alami, Project Hail Mary menolak mengurung kita dalam sangkar nestapa. Sebaliknya, ia tampil bagai buku petunjuk mengenai cara mengarungi kegelapan dunia tanpa perlu mengorbankan harapan. 

Judulnya merujuk pada jenis umpan panjang dalam american football yang biasanya dianggap sebagai upaya putus asa akibat rasio keberhasilan yang demikian minim. Begitu pun misi yang Grace emban. Tapi di sini, alih-alih diidentikkan dengan pertaruhan berisiko, "ketidakpastian" justru dipakai merepresentasikan kemungkinan tanpa batas. 

Grace tengah mengarungi petualangan yang mengeliminasi batasan. Dia ingin bebas. Ryan Gosling memerankan si tokoh utama dengan kecanggungan yang membuatnya mudah disukai, pula kepiluan yang seketika memancing simpati. Dia tidak berambisi dipuja layaknya pahlawan. Daripada menjadi penyelamat semesta, Grace lebih tertarik melestarikan kebaikan. Tidak ada aksi kepahlawanan yang lebih besar dari itu. 

REVIEW - SUZZANNA: SANTET DOSA DI ATAS DOSA

Tepat sebelum klimaks film ini pecah, Pramuja (diperankan Reza Rahadian yang di dunia nyata cukup vokal menyuarakan keresahan atas isu sosial) menyuarakan penolakan atas penindasan oleh tangan besi penguasa, guna menggerakkan perlawanan warga. Momen itu saja sudah memberi Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa relevansi. Sebuah horor yang mewakili ketakutan terbesar masyarakat Indonesia, yang tidak melulu bersinggungan dengan dunia klenik.

Alkisah, Suzzanna (Luna Maya) beserta seluruh penduduk Desa Karang Setan dipaksa tunduk pada kekuasaan Bisman (Clift Sangra) si juragan bengis yang membuat warga terlilit utang dengan jumlah di luar nalar, sembari menebar ketakutan melalui tindak kekerasan barisan preman miliknya. 

Bukannya mereka cuma berdiam diri, tapi bahkan laporan ke pihak berwajib juga tidak kunjung digubris. Segenap warga Karang Setan adalah orang kecil yang tak punya daya untuk melawan. Ayah Suzzanna (El Manik) yang hendak menggagalkan niat Bisman mencalonkan diri sebagai kepala desa berujung tewas disantet, sedangkan ibunya (Yatti Surachman) jadi korban opresi. 

Bisman ingin mempersunting Suzzanna. Bukan karena cinta sejati, sebab di satu kesempatan, si juragan mengirim santet yang membuat Suzzanna hilang ingatan sehingga bersedia patuh padanya. Naskah buatan Jujur Prananto, Ferry Lesmana, dan Sunil Soraya memotret kedangkalan akal lelaki bejat yang hanya mendambakan tubuh perempuan tanpa memedulikan jiwanya. 

Terciptalah gambaran realita perempuan yang hidup dalam "dunia laki-laki". "Pulangkan suami saya ke Gusti Allah!", pinta seorang istri pada dukun bernama Nyi Gayatri (Djenar Maesa Ayu), kerabat Pramuja yang ditemui si pemuda kala mengunjungi Karang Setan demi memecahkan misteri soal keberadaan ayahnya. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memberi suara serta kuasa bagi perempuan tertindas macam itu, tidak terkecuali Suzzanna, yang akhirnya mempelajari ilmu santet sebagai murid Nyi Gayatri.

Banteng (Budi Bima), Lawu (Iwa K.), dan Kawi (Restu Triandy aka Andy /rif) merupakan tiga anak buah Bisman yang paling kejam. Satu per satu dari mereka pun jadi target balas dendam Suzzanna, yang oleh Azhar Kinoi Lubis selaku sutradara, dipresentasikan lewat rentetan serangan teluh brutal, yang kendati masih cenderung minim variasi, sudah cukup mendatangkan kepuasan bagi para penikmat gore.

Menariknya, film ini tak serta merta menjadikan Suzzanna (baca: perempuan) sebagai makhluk barbar yang mengutamakan otot di atas otak. Sebelum menghabisi penyiksa hidupnya, Suzzanna lebih dulu memecah belah mereka dengan menyulut ketidakpercayaan satu sama lain. Giliran para pemegang kuasa yang merasakan teror dari adu domba. Ketika laki-laki hanya bisa berujar "bunuh, bunuh, bunuh!", perempuan menjadikan mereka pion di atas papan catur yang ia mainkan. 

Sayang, selipan momen-momen non-esensial, ditambah beberapa pengadeganan berlarut-larut, membuat durasinya membengkak sampai 135 menit. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa pun sempat tiba di titik saat suguhan audiovisual megah di atas rata-rata horor lokal atau parade santet brutal tak lagi cukup menjaga intensitas. 

Humornya juga sempat memunculkan distraksi tatkala terlampau asyik menertawakan "kopi kencing kuda" sehingga menggiring alurnya keluar jalur. Tapi saya mengapresiasi keputusan cerdik menunjuk Azis Gagap guna memerankan salah satu linmas, yang ciri khas lawakannya dimanfaatkan untuk mengeksplorasi kesaktian Suzzanna di luar ragam santet mematikan.

Sebagai Suzzanna, pelototan mata serta senyum janggal Luna Maya kembali berhasil menghidupkan kembali sang Ratu Horor di layar lebar. Begitu mirip, sampai saya mulai mempertanyakan keperluan mengenakan riasan prostetik yang masih membatasi ruang gerak mimik wajah sang aktris. Nilai lebih patut disematkan kepada Reza Rahadian yang memberi filmnya lebih banyak bobot emosional dibanding mayoritas horor Indonesia. Azhar menyadari itu, lalu beberapa kali memakai close-up guna mengeksploitasi (in a good way) performa aktornya. 

Ada satu poin penting: film ini menolak menghakimi balas dendam protagonisnya. Benar bahwa Pramuja bertindak selaku penyeimbang moral saat beberapa kali membujuk Suzzanna bertobat, namun ia pun tidak sepenuhnya menyalahkan keputusan si perempuan. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memahami betapa karakternya berhak melawan. 

REVIEW - TUNGGU AKU SUKSES NANTI

Tunggu Aku Sukses Nanti karya Naya Anindita adalah perayaan bagi mereka yang tidak bisa memandang Lebaran sebagai perayaan, akibat keluarga yang semestinya menyediakan sistem pendukung justru ogah merayakan perjuangannya. 

Montase tahun-tahun lebaran mengawali observasi kita terhadap hidup Arga (Ardit Erwandha), yang merangkum secara efektif dinamika keluarga besar si protagonis: Ayah dan ibu yang diremehkan akibat kesulitan finansial; sepupu yang gemar memamerkan kesuksesan, tante-tante yang tak pernah kehabisan bahan sindiran, hingga para om yang menjadikan teras sebagai "markas perokok".

Banyak dari kita bakal merasakan familiaritas dari potret tersebut. Dilandasi naskah buatan Evelyn Afnilia, Naya memang sengaja mendesain keluarga Arga bak keluarga kebanyakan masyarakat Indonesia. 

Salah satu yang dikedepankan adalah perihal sosok menyebalkan bernama Tante Yuli (Sarah Sechan), dengan segala ocehan tentang belum berhasilnya si ponakan memperoleh pekerjaan. Arga dituding kurang keras berusaha. Pastinya ada "Yuli-Yuli" dalam hidup kita, entah dalam wujud tante juga, om, bude, atau pakde, yang senantiasa hadir membawa sindiran pedas, seolah menghancurkan Lebaran para kerabat dengan menabur luka merupakan misinya. 

Arga berambisi membungkam Tante Yuli. Dia pun ingin segera bisa membantu perekonomian keluarga, setelah ayahnya (Ariyo Wahab) kehilangan pekerjaan dan mesti mencari nafkah sebagai ojol, sedangkan usaha warung mie ayam ibunya (Lulu Tobing) tak kunjung berkembang. 

Tapi Arga sendiri bukan manusia sempurna, dan karena itulah karakternya terasa dekat. Sebagaimana dikeluhkan Fanny (Fita Anggriani Ilham) dan Wicak (Reza Chandika), dua sahabat yang setia mendengarkan keluh kesahnya, Arga memang kurang cerdik dalam berjuang. Bagaimana tidak? Dia cuma mengirim satu lamaran kerja, hanya karena bingung, apa jadinya bila melamar di banyak tempat dan seluruhnya diterima. 

Singkat cerita Arga berhasil diterima bekerja di perusahaan properti. Begitu gaji serta bonus perdananya turun, ia segera mengecek saldo tabungan yang seketika melonjak dari 1,2 juta menjadi 32 juta. Momen tersebut mendapat respon riuh dari penonton. Film ini memang bakal menghasilkan kedekatan ekstra bagi mereka yang rutin memeriksa isi saldo guna mengatur keuangan sehari-hari sampai hafal betul jumlahnya. 

Tunggu Aku Sukses Nanti tahu betul pengalaman target penontonnya, kemudian menjadikan itu sebagai bahan memilah skenario kejadian apa saja yang perlu ditampilkan, juga pemandangan yang harus ditangkap oleh kamera untuk memantik dampak emosional (pelukan keluarga misalnya). Terkesan kalkulatif alih-alih menguarkan aroma kebebasan berekspresi? Mungkin, tapi kalkulasinya dilangsungkan dengan cermat. 

Departemen aktingnya turut berjasa besar menghantarkan rasa, dari Ardit Erwandha lewat ekspresi sarat pahit-manis realita kaum kelas menengah, Lulu Tobing beserta reaksi harunya kala sang putra sulung membagi gaji pertamanya, hingga Niniek L. Karim sebagai nenek yang diam-diam menangis di balik bahu si cucu kesayangan yang dipeluknya.

Satu hal yang agak disayangkan adalah keputusan filmnya bermain aman kala menjustifikasi perangai buruk anggota keluarga, dengan mengungkapnya sebagai kasih sayang yang disalahartikan. Realitanya tidak semua kerabat menyebalkan menyimpan intensi baik semacam itu. Tapi saya memahami pilihan tersebut. Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film lebaran arus utama yang dituntut mengambil jalan tengah dengan mengamini nilai luhur kekeluargaan, guna merebut hati penonton seluas mungkin.

Tapi saya kesulitan menerima cara naskahnya memaksakan diri melempar konflik terkait pemecatan yang Arga alami. Sebagai aset terbesar yang selalu mendatangkan keuntungan tertinggi, bagaimana mungkin pihak perusahaan begitu saja memercayai fitnah bodoh yang demikian mudah dicari kebenarannya? Resolusi yang ditawarkan di penghujung durasi pun terlampau bergantung pada kebetulan magis, sehingga malah mengkhianati tujuan filmnya melukis realita.

Tunggu Aku Sukses Nanti bukan sebuah karya yang sempurna, tapi tidak ada film yang lebih sempurna untuk ditonton bersama keluarga di tengah suasana Idul Fitri. Tatkala di momen penutupnya Arga menyunggingkan senyum seiring tetesan air matanya membasahi pipi, dada saya pun dibuat sesak oleh kenangan suka-duka dari tahun demi tahun Lebaran bersama keluarga yang tiba-tiba menyeruak.

REVIEW - DANUR: THE LAST CHAPTER

Tidak ada salah kaprah yang benar-benar parah dalam judul keempat dari waralaba yang telah mengumpulkan lebih dari tujuh juta penonton ini. Danur: The Last Chapter merupakan horor konvensional yang digarap secara kompeten oleh orang-orang dengan bekal pemahaman memadai seputar selera penonton arus utama. "Dosa" terbesarnya adalah stagnasi, di mana kemerosotan kualitas selalu bisa dihindari, namun upaya meningkatkan seperti enggan dilalui. 

Alkisah, pasca peristiwa Sunyaruri (2019), Risa (Prilly Latuconsina) telah menutup mata batinnya. Kini ia hanya PNS biasa tanpa ikatan dengan para makhluk dari "dunia sana", termasuk Peter cs. Sampai suatu ketika, perangai sang adik, Riri (Zee Asadel), yang hari-harinya disibukkan oleh balet, mendadak menjadi janggal. 

Keanehan turut dialami Risa. Kendati kemampuan spesialnya sudah lenyap, ia kembali mendapat beberapa penglihatan. Bedanya, alih-alih sekadar mencium bau danur, Risa ikut merasakan kematian menyakitkan para pemilik ingatan yang disambanginya. 

Konsep di atas memang terdengar segar. Naskah buatan Lele Laila pun memberi dimensi berbeda dalam fenomena kerasukan. Bukan semata wujud keusilan atau kejahatan hantu, tapi upaya mengkomunikasikan rasa sakit yang mengiringi akhir hidup mereka. Jiwa-jiwa yang melayang-layang di "dunia antara" ini perlu wadah guna menampung luka yang urung terobati. 

Masalahnya terletak pada eksekusi repetitif. Risa akan mendapatkan penglihatan, merasakan kematian, lalu tiba-tiba kembali ke realita. Begitu seterusnya. Monoton, walau untuk ukuran Danur yang cenderung jinak, menyaksikan Risa berkali-kali kehilangan nyawa sudah termasuk pemandangan mencengangkan.

Formulanya masih stagnan, di mana 98 menit durasinya diisi kompilasi karakternya mondar-mandir, kemudian dikejutkan oleh penampakan hantu.Naskahnya bersedia menahan diri untuk tidak melempar jumpscare setiap lima menit sekali, tapi modus operandi si hantu dalam meneror korbannya terlampau generik. Mau bagaimana lagi? Memang itulah yang digemari target pasarnya. 

Kali ini giliran Canting (Anya Zen) yang diberi kesempatan beraksi. Dibanding Asih atau Ivanna, Canting dengan desain klise khas "hantu penari Jawa", takkan bertahan lama di ingatan penonton, tapi ada kepuasan tersendiri kala menyaksikan film ini memberi payoff bagi teror yang sudah diperkenalkan sejak Maddah (2018).  

Sebagai judul yang menandai kembalinya suatu waralaba sukses setelah absen tujuh tahun, lengkap dengan subjudul "The Last Chapter", skala penceritaan film ini rasanya terlalu kecil untuk bisa menjustifikasi statusnya selaku babak pamungkas. Daripada klimaks sebuah saga ia lebih seperti cerita pelengkap minim urgensi, biarpun keberanian mengakhiri alurnya secara konklusif layak diapresiasi. 

Mengingat Awi Suryadi duduk lagi di kursi sutradara, tak mengherankan saat Danur: The Last Chapter mau lebih meluangkan usaha menyusun berbagai pilihan shot bergaya. Ciri khas sang sutradara berupa putaran kamera kembali diterapkan, obrolan kasual dipresentasikan lewat perspektif unik (pemanfaatan refleksi di microwave jadi salah satu bentuk kreativitas), sementara crash zoom dimanfaatkan guna menguatkan dramatisasi. 

Efek spesial yang diterapkan sebagai cara memanipulasi tubuh salah satu karakternya di klimaks pun cukup mengundang kekaguman, meski sayangnya momen tersebut diselesaikan secara prematur, serba tergesa-gesa, sebelum ia berhasil menguatkan kapasitas filmnya perihal menggedor jantung penonton. 

Tapi toh segala nilai minus tadi sudah saya duga jauh-jauh hari bakal menghiasi film ini. Danur: The Last Chapter memang tak pernah memberi janji muluk mengenai lonjakan kualitas atau perombakan formula. Dia berangkat dengan misi sederhana, yakni memuaskan hasrat pecinta horor konvensional, dan berhasil melakukannya. 

REVIEW - PELANGI DI MARS

Baru kemarin saya menulis tentang bagaimana Na Willa sukses sebagai film anak berkat keberhasilan sang sineas membuat dirinya dan penonton mundur ke masa kecil. Pelangi di Mars karya Upie Guava berada di kutub berlawanan, dengan memotret anak-anak memakai perspektif dewasa, hingga mengerdilkan mereka bak makhluk dangkal miskin nalar. 

Sudah lama tidak ada film Indonesia mendatangkan kekecewaan sebesar ini bagi saya. Bersenjatakan genre fiksi ilmiah serta pernak-pernik efek komputer canggih, Pelangi di Mars berkesempatan menuliskan namanya dalam buku sejarah sinema tanah air. Sayang, kendati visual spektakuler berhasil disajikan, eksistensi naskahnya terkesan begitu samar. 

Alkisah di masa depan Bumi mengalami krisis air bersih akibat monopoli perusahaan bernama Nerotex. Karenanya, misi menuju Mars pun dilangsungkan, guna mencari Zeolith Omega, mineral langka yang konon mampu memurnikan air. Pratiwi (Lutesha) jadi salah satu pelaksana misi, yang kini melanjutkan pencarian bersama putrinya, Pelangi (Myesha Lin), yang lahir di Planet Merah tersebut, serta Batik (Bimo Kusumo Yudo) si robot baik.

Di tengah perjalanan, drone milik Nerotex mengawasi gerak-gerik mereka. Pratiwi segera berlindung, tapi Pelangi, dengan polosnya hanya bengong. Pelangi di Mars merupakan tipe film yang bakal menjelaskan tindakan tak logis bocah dengan selorohan malas, "Namanya juga anak-anak". Kesan serupa hadir saat Pelangi terlibat konflik dengan salah satu rekannya gara-gara alasan bodoh, seolah ia tak mampu secara mandiri memeras otaknya sendiri. 

Belum lama ini saya menonton video berisi seorang bocah yang bisa membongkar trik pertunjukan sulap di sebuah pesta ulang tahun. Kendati kerap dituding mengidap brainrot, di saat bersamaan, konten media sosial turut membuka lebar gerbang ilmu pengetahuan generasi alfa. Intinya, mereka cerdas. Tapi cara naskah buatan Upie Guava dan Alim Sudio memperlakukan bocah-bocah ini (baik protagonis maupun target pasar filmnya), kentara mengecilkan kapasitas pikir mereka. 

Singkat cerita Pratiwi diyakini tewas pasca sebuah kecelakaan, kemudian alurnya melompat menuju enam tahun berselang. Pelangi (kini diperankan Messi Gusti) sudah makin tumbuh, pun Batik yang tadinya cuma berupa potongan kepala, sudah mempunyai tubuh gagah nan sempurna. Bagaimana Pelangi sanggup merakitnya sendiri? Tanpa ada penjelasan, alih-alih berhasil membuat si tokoh utama nampak jenius, naskah Pelangi di Mars sekadar menampakkan kemalasannya. 

Sebagai spektakel pun film ini kekurangan daya hibur. Dihabiskannya sekitar 50 menit hanya untuk memperkenalkan secara berlarut-larut, para robot yang akan menemani petualangan Pelangi: Sulil (Dimitri Arditya) si robot India, Petya (Gilang Dirga) si robot Rusia, Yoman (Kristo Immanuel) si robot rasta, dan Kimchi (Vanya Rivani) si robot (sok) Korea. 

Jangankan penokohan mendalam, selain hal-hal permukaan seperti asal negara dan penulisan stereotipikal, seluruh robot di atas tak memiliki kekhasan. Kemampuannya serupa, begitu pula kepribadian mereka yang bisa dideskripsikan dengan dua kata, yakni "berisik" dan "menyebalkan". Puasa saya nyaris batal akibat rasa kesal sewaktu Batik mengucapkan "monggo" untuk keseribu kali. 

Apa yang terjadi pasca enam individu tersebut berkumpul? Mereka berkeliaran di tengah lanskap gersang Mars sambil mengoceh tanpa henti memperdebatkan bahasan-bahasan trivial. Ketimbang mengembangkan alur, filmnya lebih tertarik menyuruh tokoh-tokohnya menari diiringi lagu K-pop. Apakah pembuatnya berpikir, karena menggandrungi konten TikTok maka generasi alfa dapat dihibur begitu saja tanpa kisah berbobot?

Humornya tidak kalah parah. Mengandalkan banyolan-banyolan tentang "keranjang kuning" hingga budaya populer Korea Selatan, penulisnya bak berupaya keras menyamakan frekuensi dengan anak-anak. Tapi untuk apa menyelipkan lelucon "ankara Messi" yang notabene tidak dipahami bocah? Patut diingat, kita bisa memanggil kenakan masa kanak-kanak yang dahulu pernah dilalui, tapi berubah menjadi bocah zaman sekarang adalah kemustahilan.

Kemegahan visualnya jelas jadi penebus dosa. Efek CGI-nya juara, dari objek-objek yang mengisi fokus adegan sampai lanskap cantik yang melatarinya, pun kendati berakhir hanya sebagai kosmetik tanpa dibarengi kepribadian berwarna, desain jajaran robotnya harus diakui sarat kreativitas. Sempurna? Belum, apalagi bila mau memperhatikan detail (di satu adegan, karakternya menyebut nama "Sofia Petrovsky" tapi tulisan di layar malah berbunyi "Trotsky"), namun untuk ukuran produk tanah air, Pelangi di Mars tetap patut dikategorikan sebagai batu loncatan.

Andai penceritaan tidak dinomorduakan. Andai filmnya tidak menutup kisah begitu saja tanpa menggiring si protagonis belajar memecahkan persoalan, atau minimal membuatnya melewati klimaks seru. Yoman sempat berkata, "Antiklimaks nih!", dan saya cuma bisa menyetujui celetukan tersebut.