REVIEW - BILLIE EILISH: THE WORLD'S A LITTLE BLURRY

"You guys need to be fucking okay because y'all the reason I'm okay", ungkap Billie Eilish pada para penggemar di sebuah konser. Apa spesialnya kalimat tersebut? Bukankah hampir semua musisi pernah mengucapkan hal serupa? Keberhasilan terbesar The World's a Little Blurry adalah membuat penonton awam (baca: bukan penggemar) mengagumi Eilish, lalu percaya bahwa ucapan di atas bukan lip service semata. 

Menit-menit pertamanya langsung menggambarkan betapa fenomenal perjalanan karir Billie Eilish, yang hanya berselang lima tahun pasca lagu Ocean Eyes viral, sudah berstatus "wanita pertama yang memenangkan empat kategori mayor dalam satu gelaran Grammy Awards". Ketika ia menjabarkan ide video klip (yang kelak terealisasi untuk lagu When the Party's Over), kita pun paham, seperti apakah Billie Eilish selaku artis. Mempunyai visi kuat sekaligus ingin memegang kontrol penuh atas karyanya. 

Lalu bagaimana Billie Eilish selaku manusia? Tentu proses kreatifnya diperlihatkan, termasuk mengunjungi studio di kamar sempit legendaris tempatnya bersama sang kakak, Finneas, melahirkan deretan lagu hit. Tapi dokumenter karya R. J. Cutler ini paling bersinar kala menyoroti ruang intim si bintang pop, yang memang dikenal tidak ragu bicara soal hal-hal personal termasuk kesehatan mental. 

The World's a Little Blurry sama raw-nya dengan citra Eilish. Setidaknya, cara Cutler mengemasnya lewat rekaman home video, menjadikannya organik. Curahan perasaan, pertengkaran, patah hati, semua tampil jujur. Pendekatan ini sudah sering dipakai banyak dokumenter dengan bintang pop selaku subjek, namun tidak ada yang seterbuka Eilish. Kejujuran yang membuatnya makin beresonansi kuat dengan para penggemar. Billie Eilish merepresentasikan remaja seusianya, baik dari lagu, kepribadian, masalah pribadi, hingga obsesi terhadap Justin Bieber (yang dari idola, menjadi kawan sekaligus salah satu pendukung Eilish guna melewati beratnya popularitas). 

Durasi yang mencapai 140 menit memang agak terlalu panjang. Lagu-lagu Eilish selalu menghipnotis, pun performanya di atas panggung luar biasa, tapi kuantitas pemakaian footage konser, yang kerap digunakan sebagai transisi antar konflik, sejatinya dapat dipangkas. 

Biarpun demikian, tidak sedikitpun dokumenter ini terasa membosankan. Dinamika terjaga baik, penuh kondisi naik-turun, yang paling tergambar saat memasuki fase Coachella 2019. Momen yang merupakan salah satu landmark karir sang musisi itu berubah pahit. Selepas konser, Eilish bertengkar dengan kekasihnya, Brandon Adams alias Q (keduanya putus di awal 2020). Ditambah lagi, ia kecewa akibat insiden lupa lirik di salah satu lagu. Hari berganti, dan kepahitan kembali berganti dengan kebahagiaan, kala terjadi pertemuan perdana antara Eilish dengan idola terbesarnya. Justin Bieber. 

Mayoritas durasi mengambil latar waktu di tengah proses pengerjaan album debut Eilish, When We All Fall Asleep, Where Do We Go? (2019). Banyak hal terjadi, banyak cobaan menghadang, namun perjalanan panjang nan berliku itu terbayar lunas lewat kesuksesan critical dan komersial. Begitu pula film ini. Durasi panjangnya terbayar lunas ketika mencapai konklusi mengharukan.

Dampak itu diperoleh karena keberhasilan membuat penonton merasa mengenal, bahkan mengagumi si protagonis. Kentalnya elemen drama keluarga turut memperkuat kekuatan emosional filmnya. The World's a Little Blurry bukan (sekadar) cerita tentang megabintang dan musik, melainkan perjuangan seorang remaja bertahan hidup di tengah kegilaan zaman seperti sekarang. Prosesnya melawan kegelapan, baik dari dalam maupun luar, serta bagaimana kehadiran keluarga bisa jadi pembeda. Salah satu dokumenter tentang pop star terbaik dalam beberapa waktu terakhir. 


Available on APPLE TV+

REVIEW - THE DARK AND THE WICKED

Pernah datang ke tempat baru dan langsung disambut suara-suara hewan sesaat setelah menginjakkan kaki di sana? Saya pernah. Hawa langsung terasa berat (sejam kemudian proses syuting berhenti karena salah satu kru kesurupan, tapi ini cerita untuk lain hari). Fenomena itu konon menandakan keangkeran suatu tempat.

The Dark and the Wicked dibuka oleh situasi serupa. Sebuah peternakan di malam hari, anjing melolong, kambing mengembik, dan seorang wanita bernama Virginia (Julie Oliver-Touchstone) yang nampak cemas, sementara sang suami, David (Michael Zagst), terbaring sakit. Clearly, there's something dark and wicked there. 

Beberapa waktu berselang, meski sudah dilarang, kedua anak Virginia, Louise (Marin Ireland) dan Michael (Michael Abbott Jr.) datang, setelah tahu kondisi David memburuk. Selama seminggu berada di sana, pelan-pelan Louise dan Michael mulai sadar, bahwa sang ayah bukan terserang sakit biasa, serta mengapa sang ibu melarang kehadiran mereka. Tentu kesadaran tersebut datang terlambat.

Ditulis sekaligus disutradarai oleh Bryan Bertino, dari segala sisi, The Dark and the Wicked sebenarnya dibangun di atas pondasi formulaik. Kisah degradasi psikis akibat gangguan kekuatan jahat, entah sudah berapa ribu kali kita temui di film horor. Begitu pula taktik Bertino dalam menebar teror. Menariknya, perihal teror, bagaimana Bertino menangani keklisean malah jadi keunggulan utama film ini.

Bertino selalu punya cara untuk memberi twist, mengecoh ekspektasi penonton, sehingga saat sebuah teror muncul, efeknya berlipat ganda. Pemahaman atas ekspektasi itulah alasan mengapa jump scare-nya, yang memposisikan kualitas di atas kuantitas, cenderung efektif. Jumlah tidak terlalu banyak, pun tidak harus selalu berisik, namun hampir selalu sukses menggedor jantung.

Misal sewaktu Virginia mengiris wortel. Pengalaman memberi tahu bahwa akan ada jari yang teriris. Tapi saat saya bersiap dibuat meringis oleh pemandangan menyakitkan penuh darah, rupanya Bertino tak memerlukan penggambaran gamblang guna menghasilkan dampak serupa. Cukup dengan tiba-tiba menyelipkan satu instrumen berbeda di tengah-tengah iringan scoring atmosferiknya. Bertino caught me off-guard with that one. 

Menemani tempo lambatnya, tata suara ditambah musik buatan Tom Schraeder menunjang nuansa mencekam yang sang sutradara inginkan. Bertino ingin membuat horor yang sungguh-sungguh menyeramkan (baca: bukan semata mengagetkan penonton), dan itu berhasil. The Dark and the Wicked tampil meresahkan, memanfaatkan kecemasan penonton akan kengerian yang dapat muncul dari tiap sudut peternakan. Karena kita tidak pernah benar-benar tahu sosok si penebar teror (sejalan dengan kepercayaan "iblis bisa mengambil wujud apa saja"), kecemasan itu pun berlipat ganda.

Semakin ke belakang, inovasi yang Bertino lakukan memang agak berkurang, namun presentasinya tetap solid. Tata suara masih kuat, visual masih creepy, beberapa jump scare juga tetap bekerja dengan baik. Masalah sebenarnya adalah penulisan. Pada eksplorasi tentang bagaimana rasa bersalah dan rasa takut menghancurkan manusia. Walau mendominasi durasi, penuturannya tipis, kurang menarik, pun gagal memancing kepedulian terhadap karakter, yang hingga akhir tidak pernah kita kenal betul. Mereka tetap menjadi orang asing.

Mengawali karir lewat The Strangers (2008), sekaligus menulis naskah sekuelnya, The Strangers: Prey at Night (2018), tidak mengejutkan kala Bertino kembali menghembuskan aroma nihilisme. Bahwa eksistensi manusia tidak bermakna. Bahwa sekuat apa pun usahanya, seriligius apa pun kita, pada akhirnya manusia tetap tidak berdaya di hadapan kekuatan jahat. 


Available on KLIK FILM

REVIEW - GUNPOWDER MILKSHAKE

Saat Atomic Blonde (2017) pertama diumumkan, saya mengira bakal mendapat John Wick-esque versi wanita. Seperti kita tahu, hasilnya berbeda (yang mana bukan masalah). Lebih serius, lebih suram, lebih mengedepankan intrik spionase kompleks. Empat tahun berselang, Navot Papushado (Rabies, Big Bad Wolves) menghidupkan harapan itu melalui Gunpowder Milkshake. 

Alurnya sendiiri mengikuti formula yang membuat John Wick populer (selain karena aksinya tentu saja), salah satunya terkait pembangunan mitologi unik dalam dunia kriminal. Diner dan rumah sakit yang mau membuka pintu bagi para pembunuh selama tak membawa pistol, gudang senjata berkedok perpustakaan, dan lain-lain. Hanya saja, tanpa kematian seekor anjing. 

Sam (Karen Gillan) adalah pembunuh bayaran, yang dipekerjakan oleh Nathan (Paul Giamatti), kepala HR untuk perusahaan bernama The Firm. Ibu Sam, Scarlet (Lena Headey), juga melakoni profesi serupa, sebelum mendadak pergi meninggalkannya 15 tahun lalu. Walau handal, Sam dikenal sukar diatur, dan kerap bertindak di luar misi. 

Seperti kala ia memilih menyelamatkan Emily (Chloe Coleman) si bocah berusia 8 ¾ tahun, ketimbang mengembalikan uang milik The Firm sesuai instruksi. Alhasil, Sam berbalik jadi buronan The Firm. Seolah belum cukup bahaya mengancam, nyawanya turut diincar Jim McAlester (Ralph Ineson), bos gangster yang menaruh dendam setelah Sam membunuh puteranya. 

Satu hal yang langsung mencuri perhatian sejak menit pertama adalah visual. Cahaya khas neo(n)-noir yang di satu titik, pantulannya membuat langit malam memancarkan semburat merah muda, sampai perpaduan properti beraneka warna, semua mampu memanjakan mata. Meski banyak baku tembak dan kematian, film ini terlihat cerah, manis, seperti segelas milkshake. 

Sementara naskahnya, yang ditulis oleh Papushado bersama Ehud Lavski, menawarkan pemanis lain melalui dinamika dua tokoh utama. Berkat penampilan Chloe Coleman, Emily jadi tandem yang pas bagi Sam. Sikapnya dewasa, tapi bukan kedewasaan berlebihan yang menghilangkan sisi kanak-kanaknya. Emily dewasa karena dia cerdas dan kuat. Pula kritis, sehingga kerap membuat Sam kehabisan kata-kata untuk merespon perkataan si bocah.

Karen Gillan adalah pilihan tepat bagi sineas yang ingin memunculkan kecanggungan dalam interaksi. She is such a mood. Memakai gaya deadpan andalannya, Gillan bak orang yang mengusung prinsip "fuck my life". Kombinasikan itu dengan kemampuannya menangani adegan aksi, ia sempurna menghidupkan visi sang sutradara. 

Papushado jelas menginginkan keunikan, khususnya terkait aksi. Baginya, sekuen aksi tidak cuma seru, juga harus sesekali menggelitik, dan mementahkan ekspektasi penonton. Karakternya "tidak boleh" asal menusukkan pisau, tapi menghunuskannya melalui sela-sela pelatuk pistol. Kejar-kejaran mobil bukan saja adu kecepatan, pula kecerdikan layaknya bermain petak umpet. 

Tentu sentuhan kekerasan tidak dilupakan, yang lagi-lagi sering muncul dengan cara serta waktu tak terduga. Darah berceceran, tubuh meledak, sementara kepala ada yang terpotong, ada yang remuk. Papushado tahu bagaimana memancing tepuk tangan penonton. Tapi dari semua aksi, pertarungan di perpustakaan adalah yang terbaik, baik di sini maupun di antara seluruh film aksi rilisan 2021 secara menyeluruh. 

Gunpowder Milkshake jadi satu lagi film bertema empowerment. Para jagoan wanita film ini bertugas membereskan kekacauan para pria (The Firm), hanya untuk kemudian dikhianati. Alurnya merupakan proses mereka melepaskan diri dari situasi tersebut, dan sepak terjang trio sisterhood makin memperkuat temanya.

Pada aksi berlatar perpustakaan tadi, Michelle Yeoh tampil bersenjatakan rantai yang menegaskan statusnya sebagai ikon wuxia, Angela Bassett tanpa basa-basi mengayunkan dua martil, dan Carla Gugino  membantai lawan memakai senjata mesin diiringi lagu Piece of My Heart milik Janis Joplin. Tambahkan Karen Gillan dan Lena Headey sebagai ibu-anak yang berbaikan lewat cara ekstrim (baca: membunuh), lalu pengarahan penuh tenaga dengan intensitas yang terjaga begitu rapi, maka terciptalah moviegasm. 


Available on NETFLIX (US)

REVIEW - 'I, WILL, SURVIVE' TRILOGY

Hampir bersamaan dengan trilogi Fear Street, Indonesia juga menelurkan konsep yang serupa meski tak sama. Tiga film, I, Will, dan Survive karya Anggy Umbara dirilis dalam satu hari. Kisah dan karakternya saling terhubung, walau beberapa tidak secara langsung, dan ketiga judul punya subgenre berbeda. I adalah aksi-thriller soal vigilante, Will mengusung tema survival, sedangkan Survive merupakan torture porn. 

I - Film pertama mengisahkan tentang keputusasaan Sanjaya (Omar Daniel), dalam mencari sang istri, Mila (Amanda Rigby), yang telah menghilang selama enam bulan. Apakah ia diculik, kabur, atau malah sudah meninggal? Tiada kejelasan. Di sisi lain, kita turut melihat bagaimana Sanjaya membenci ayahnya, Bisma (Arswendy Beningswara), yang ia yakini, bertanggung jawab menghilangkan banyak nyawa tak bersalah kala masih bertugas sebagai tentara dulu. 

Tidak mengejutkan rasanya, saat saya menyebut Arswendy merupakan penampil terbaik di sini. Satu adegan di meja makan jadi contoh. Mendengar sindiran pedas si putera sulung untuk kesekian kali, hati Bisma hancur. Mata sang aktor berkaca-kaca, tapi ia menahan letupan emosi, menciptakan rasa sesak, seolah ditelannya seluruh air mata yang hendak jatuh.

Lalu hal yang ditakutkan Sanjaya sungguh terjadi. Mila ditemukan tidak bernyawa. Tubuhnya dimutilasi, dibuang di tengah kebun kosong. Dikuasai dendam, Sanjaya pun teringat obrolan dengan rekan-rekannya tentang petrus (film ini menyebut petrus sebagai vigilante, yang mana keliru). Berbekal senapan milik ayahnya, Sanjaya nekat menghakimi para pelaku kriminal, dari preman kelas teri hingga koruptor, yang menurutnya, gagal diadili oleh negara.  

Naskah yang juga ditulis oleh Anggy, mengambil keputusan ganjil dengan membuat Sanjaya dan Bisma berbaikan di awal durasi. Secara psikis, perdamaian itu semestinya mengangkat salah satu beban terberat di pundak Sanjaya. Bakal lebih masuk akal jika keduanya masih bertikai, sehingga batin Sanjaya makin bergejolak. Sebab di satu sisi ia membenci perbuatan ayahnya, namun di sisi lain, amarah semakin sulit ditahan. Keputusan nekat dalam kondisi pikiran keruh macam itu, lebih bisa dipahami. 

Bagaimana modus operandi Sanjaya? Dia menembak dari dalam mobil, yang diparkir di atas jembatan layang. Ya, aksi super berbahaya tersebut dijalankan di tengah keramaian, kala banyak kendaraan melintas. Bahkan Sanjaya tidak menunggu situasi sepi. Sekadar tengok kanan-kiri pun tidak. Alasan "Wajar, karena Sanjaya amatir" tidak bisa diterima, karena itu adalah logika dasar. Untungnya, setelah membeli senapan baru dari luar negeri, Sanjaya memindahkan posisinya ke puncak gedung yang lebih tersembunyi. 

Anggy memakai tempo cepat, yang sayangnya tak berdampak signifikan, akibat tanpa dibarengi penulisan kreatif. Aksi Sanjaya repetitif. Tiba di lokasi, bidik, tembak, selesai. Tidak ada variasi, intensitas, maupun bobot emosi. Naskah urung menggali perihal vigilante secara mendalam, sehingga gagal memancing penonton agar ikut merenungkan isu tersebut. Semua berlangsung datar. 

Berbeda dari biasanya, pengarahan Anggy miskin gaya. I memerlukan gaya khas Anggy, agar minimal, bukan cuma menampilkan adegan sniping ala kadarnya. Membosankan. Setidaknya sampai kemunculan twist yang memberi sedikit angin segar, sekaligus menyiratkan gagasan menarik soal bagaimana trilogi ini saling terhubung (2,5/5)

WILLJika I (begitu juga Survive nantinya) langsung tancap gas sejak awal, Will merupakan installment paling sabar. Selama 30 menit pertama, narasi dibangun secara layak, mengisahkan retaknya pernikahan Andra (Morgan Oey) dan Vina (Anggika Bolsterli). Andra kesal atas sikap Vina yang selalu mendiamkannya. Kelak terungkap, ada alasan menyakitkan di balik kerenggangan hubungan keduanya.

Morgan dan Anggika ibarat jaminan mutu departemen akting sebuah film, dan itu terbukti, khususnya kala Will mencapai titik balik, di mana keduanya mengobrak-abrik perasaan satu sama lain, juga penonton. Alhasil, saat selepas pertengkaran dengan sang istri Andra nekat memacu sepeda gunungnya melintasi rintangan berbahaya, saya bisa memahami kenekatan itu sebagai wujud pelampiasan rasa sakit. Mungkin di hati kecilnya, Andra berharap bisa melukai diri sendiri. 

Hal itu benar terjadi, namun tidak dengan cara yang ia harapkan. Andra mengalami kecelakaan, tubuhnya terluka parah, membuatnya terjebak seorang diri di tengah hutan. Setelah prolog menjanjikan, Will justru terjun bebas kala memasuki babak utama. Jika 30 menit pertama adalah proses penuh kesabaran dalam membangun pondasi narasi, satu jam berikutnya adalah ujian kesabaran bagi penonton.

Tugas penulisan berpindah ke tangan Bounty Umbara, namun kekurangan Will masih seperti pendahulunya, yakni terkait kreatvitias eksplorasi. Daya tarik sekaligus sumber ketegangan utama film survival terletak pada perjuangan protagonisnya bertahan hidup. Kadang ia harus bertaruh nyawa, kadang pula otaknya dituntut untuk bekerja lebih keras dari biasa. 

Apa yang Andra lakukan di sini? Merekam video, minum air dari daun, merekam video, minum lagi, merekam lagi, lalu bermimpi. Apa isi mimpi itu? Tentu saja minum. Bedanya, kali ini ia minum di sungai. Tapi jangan khawatir, interaksi Andra dengan daun bakal kembali, ketika ia lapar, lalu mengunyah daun lain yang ada di sekitarnya. 

Begitu akhirnya lepas dari rutinitas minum, bisa menebak elemen apa lagi yang filmnya pakai? Ya, halusinasi tentu saja. Terjadi dua halusinasi. Peristiwa pertama, biarpun presentasinya agak konyol, mampu memberi pemaknaan heartbreaking, yang mampu sejenak menghilangkan kantuk. Lain cerita soal halusinasi kedua. Muncul jelang akhir, momen ini berjalan terlalu lama, pula overly dramatic, cenderung manipulatif. 

Will adalah film survival yang sangat sedikit mengandung usaha bertahan hidup. Naskahnya bak ditulis oleh orang yang jarang menonton film serupa, sementara penyutradaraan Anggy (kali ini Bounty juga menjadi co-director) bagai tidak bertenaga. Kosong. Bahkan Morgan terlihat bosan di layar. 

This movie lacks desperation too. Tangan kiri serta kaki kanan Andra terluka, namun ia masih bisa bergerak. Setidaknya bila dibanding James Franco di 127 Hours, opsi yang tersedia bagi Andra jauh lebih banyak. Tapi dengan alasan "khawatir lukanya jauh lebih parah", ia cuma berbaring. In a movie like this, we want to see the characters tried their best. Dan begitu melihat bagaimana cara Andra selamat, saya hanya bisa mengelus dada (1,5/5)

SURVIVEDi Will, kita melihat Vina diculik oleh Dani si psikopat bertopeng (Onadio Leonardo), dan Survive langsung memperlihatkan istri Andra itu disekap dalam suatu ruangan. Akibat buruknya tata suara, gabungan teriakan Vina ditambah suara rantai terasa menyakitkan bagi telinga. Untuk kondisi tersebut tidak terlalu sering terulang di sepanjang film.

Selain Vina, Mila (istri Sanjaya dari film pertama) rupanya juga jadi korban Dani. Apa alasan Dani melakukan semua ini? Di sela-sela siksaan yang ia berikan pada dua wanita tersebut, terdapat flashback, tentang masa kecil Dani. Dani kecil (Fatir Tan Malaka) diajari oleh ayahnya (Teuku Rifnu Wikana), bahwa laki-laki harus kuat. "Kuat" di sini berarti, tidak ragu menyiksa wanita yang dianggap membangkang. Karena begitulah perbuatan ayah Dani terhadap ibu tirinya, Surti (Cindy Nirmala). 

Survive berusaha menjabarkan proses terbentuknya sosok psikopat kejam. Banyak film melakukan itu, dan andai dieksekusi dengan baik, berpotensi melahirkan thriller psikologis kompleks. Naskah buatan Anggy terasa bermasalah, akibat terkesan bersimpati kepada si psikopat, sambil menggambarkan para korban sebagai individu yang pantas dihabisi. 

Narasi semacam itu berhasil, andai antagonis bersikap "objektif", alias percaya bahwa perbuatannya bertujuan memperbaiki dunia. John Kramer di Saw misalnya. Sedangkan Dani, walau dicekoki hal serupa mengenai "menjaga peradaban" oleh ayahnya, melakukan aksinya juga didasari pemenuhan nafsu. 

(SPOILER STARTS) Kelak terungkap, Dani akhirnya membunuh sang ayah, karena menyadari ibunya tidak bersalah. Poin ini mengganggu. Wajar bila ajaran soal "menghukum para pendosa" tetap bertahan hingga ia dewasa, tapi jika ia tak menyalahkan sang ibu, mengapa orang-orang yang Dani hukum cuma wanita yang menurutnya "berdosa"? Artinya, sebagaimana telah disebut, kejahatan Dani memang didorong hasrat pribadi, sehingga tuturan perihal kompleksitas moral ala Saw pun gagal diterapkan. (SPOILER ENDS)

Kita tahu bagaimana Survive berakhir, termasuk cara Vina lolos. Sehingga intensitas sekaligus rasa penasaran tidak terlalu tinggi. Sebagai gantinya, Anggy menunjukkan berbagai kejadian "sakit". KDRT, pembunuhan, mutilasi, pemerkosaan, hingga yang paling ekstrim, elemen incestuous, yang meski tidak gamblang, cukup mencengangkan karena muncul dalam film Indonesia. 

Tapi jangan harap kegilaan-kegilaan di atas mendominasi. Ada beberapa, namun hanya mengisi sebagian kecil durasi. Sisanya, serupa dua film pertama, Survive cenderung repetitif dan melelahkan, biarpun cast-nya tidak mengecewakan. Anggika berusaha sekuat tenaga mencurahkan rasa sakit fisik dan mental, Teuku Rifnu Wikana mampu menghidupkan sosok sampah masyarakat yang mudah untuk dibenci, sementara Onadio, walau tak bisa disebut "bagus", minimal ia (berusaha) menjauhi keklisean "Oh-I'm-So-Crazy", yang jadi stereotip kala ada aktor memerankan psikopat. (2/5)

Available on KLIK FILM

REVIEW - SPACE JAM: A NEW LEGACY

"This isn't a real basketball", keluh LeBron James saat melihat para Looney Tunes bermain secara absurd, yang kemudian dijawab oleh Bugs Bunny, "Yes, but it's fun. You remember fun?". Interaksi tersebut mencerminkan reaksi mayoritas kritikus dan para cinephile berselera tinggi dalam menyikapi Space Jam: A New Legacy. "This isn't a real cinema. This is a shameless product placement!". Jawaban saya seperti Bugs Bunny. "Yes, but it's fun. You remember fun???".

Berhasil meraup pendapatan melebihi 250 juta dollar saat rilis tahun 1996 (setara sekitar 430 juta dollar sekarang), agak mengejutkan memang, mendapati Space Jam baru memperoleh sekuel 25 tahun setelahnya. Sekuel standalone (meski beberapa humor yang merujuk pada film pertama bisa ditemui), di mana Michael Jordan digantikan oleh LeBron James. Keputusan tepat, mengingat penonton di luar penggemar NBA pun tahu, bagaimana keduanya bergantian mengisi posisi puncak daftar atlet basket terbaik sepanjang masa (sama seperti Pele dan Maradona, atau CR7 dan Messi di sepakbola). 

Memang agak disayangkan, elemen self-referential, yang jadi salah satu pesona Space Jam dihilangkan (tentu kita ingat kelucuan olok-olok soal karir baseball Michael Jordan yang tak segemilang karir basketnya). Tapi Space Jam: A New Legacy menggantikannya dengan kisah ayah-anak, yang meski klise, secara mengejutkan tampil cukup hangat.

Diceritakan, hubungan LeBron dengan puteranya, Dom (Cedric Joe), tidak begitu akrab. Mengikuti formula "orang tua merasa tahu yang terbaik, tapi apakah itu keinginan anak?", LeBron mendorong Dom untuk total menekuni basket, padahal si bocah lebih menggemari gim. Bukan sekadar bermain, dia membuat gim video sendiri di usia yang masih sangat muda. 

Sekilas, sempat tersaji momen hangat ketika LeBron berusaha mendekatkan diri pada Dom, lalu mencoba bermain gim buatan sang anak. Sederhana, pula dibarengi pep talk formulaik, namun efektif menggambarkan betapa dukungan sekecil apa pun dari orang tua, nyatanya berdampak besar mengangkat moral anak. Dom membuat gim basket, dan ia menyertakan teknik yang ayahnya pernah ajarkan. Gambaran bahwa, biarpun dari luar tampak membangkang, sejatinya selalu ada tendensi bagi anak mengagumi sosok sang ayah. Kekaguman itu sayangnya acap kali pudar, seiring ketidakpedulian orang tua akan keinginan si buah hati.

Hingga suatu hari, LeBron diundang mengunjungi kantor Warner Bros. guna menyaksikan presentasi terkait proyek yang melibatkan dirinya. Presentasi itu dibuat oleh kecerdasan buatan bernama Al-G Rhythm (Don Cheadle). Ketika LeBron menolak, bahkan menyebut presentasi itu sebagai "salah satu rencana terbodoh yang pernah dia dengar", Al-G merencanakan balas dendam. Dibawanya LeBron dan Dom memasuki serververse, dunia digital tempat seluruh karakter fiktif Warner Bros. tinggal, lalu ditantangnya King James dalam sebuah pertandingan basket. 

LeBron mesti membentuk tim, dan kita tahu, pada akhirnya tim itu berisikan para Looney Tunes. Tapi sebelumnya, beberapa kali kita diajak terlebih dahulu singgah di berbagai tempat, atau lebih tepatnya IP familiar, dari Metropolis dan para Justice League, Wonder Woman di Themyscira, dunia sihir Harry Potter, bahkan Maroko tahun 1941 di Casablanca (1942), kala filmnya melempar lelucon meta menggelitik tentang kalimat legendaris "Play it, Sam". Musik tema ikonik milik tiap karakter juga bisa kita dengar dalam kemunculan mereka. 

Dibantu Bugs Bunny (Jeff Bergman, yang turut mengisi suara Sylvester, Yosemite Sam, Fred Flinstone, dan Yogi Bear), akhirnya semua Looney Tunes berkumpul. Pertandingan puncaknya dimulai jauh lebih cepat, sekaligus berlangsung lebih lama (mendekati satu jam) dari dugaan. Tapi memang banyak yang coba filmnya pamerkan di situ. 

Visualnya memberi upgrade modern bagi gaya kartun tradisional film pertama, tanpa mengurangi "warna" khas Looney Tunes. Lawan mereka, yang dipanggil "Goon Squad", adalah barisan monster yang terlahir dari desain kreatif, berupa gabungan figur atlet basket dunia nyata dengan makhluk-makhluk seperti naga, harpy, laba-laba, yang semuanya dibuat berdasarkan julukan masing-masing atlet. 

Pertandingannya adalah parade warna-warni nan bertenaga, di mana keabsurdan kartun dituangkan dari imajinasi kreatif Malcolm D. Lee (Scary Movie 5, Girls Trip) selaku sutradara. Lee kentara cuma ingin bersenang-senang, dan sebaiknya, kita sebagai penonton pun demikian. Ketika para Looney Tunes mulai mengerahkan seluruh amunisi gila, selain membangkitkan nostalgia, somehow mereka tampak heroik. Sekumpulan pahlawan masa kecil yang berjuang menyelamatkan dunia dari kesuraman penuh aturan-aturan membosankan. 

Humornya, termasuk kehadiran sesosok cameo mengejutkan, lumayan efektif memancing tawa. Sementara banyaknya karakter Warner Bros. di jajaran penonton, menghasilkan proses pencarian easter eggs menyenangkan. LeBron sendiri tampak tidak terlalu canggung berinteraksi dengan karakter kartun, walau tentu saja, dia lebih meyakinkan saat harus berpose bersama bola basket dalam balutan gerak lambat. Cheadle pun solid, namun agak mengecewakan tatkala naskahnya berujung menjadikan karakter Al-G satu lagi villain generik. Padahal saat diperkenalkan, penokohannya cukup relatable, sebagai sosok yang tersakiti akibat merasa kurang diapresiasi. 

Memang benar alurnya klise. Gagasan dasarnya bisa disebut pengulangan film pertama. Saya bisa membayangkan, beberapa tahun lagi Space Jam: A New Legacy akan diputar di RCTI sebagai tontonan keluarga hari Minggu, dengan dubbing Bahasa Indonesia. Tapi sebagai sajian yang semata mengarah hiburan ringan, film ini berhasil. Mengharapkan lebih dari itu adalah sikap yang kurang bijak.


Available on HBO MAX

REVIEW - FEAR STREET PART THREE: 1666

Masih ada darah, pembunuh berkeliaran, pula kutukan penyihir, tapi selaku penutup trilogi, 1666 bukan repetisi. Kini giliran real-life horror lebih dikedepankan. Horor nyata yang dekat, relevan, pun seolah menjelaskan asal muasal segala kebejatan masyarakat. Setelah berabad-abad lamanya, rupanya manusia tidak pernah berubah. Masih ada pembunuh berkeliaran, masih ada kutukan penyihir, namun dibanding semua itu, manusia lebih kejam dan menyeramkan.

Kisahnya melanjutkan peristiwa 1978 dan 1994, tatkala Deena (Kiana Madeira), Josh (Benjamin Flores Jr.), dan Ziggy (Gillian Jacobs) berhasil mengembalikan potongan tangan Sarah Fier. Di situlah Deena menyaksikan kembali tragedi 1666 melalui memori Sarah. Dia "menjadi" Sarah, sedangkan para cast yang pernah kita temui di dua film pertama, turut menjadi karakter lain di masa tersebut. Apakah karena memori Sarah dan Deena berbenturan kemudian melebur, atau mereka memerankan leluhur karakternya? 

Kecuali Solomon yang merupakan kakek buyut Nick (keduanya diperankan Ashley Zukerman), sisanya tidak begitu jelas. Tapi tiap karakter berbagi karakteristik dengan "versi modern" mereka. Julia Rehwald misalnya. Dia memerankan Lizzie, yang seperti Kate, sama-sama "pengedar narkoba". Jika Sam adalah kekasih Deena, maka di sini Olivia Scott Welch turut mengisi peran Hannah Miller, puteri seorang pastor sekaligus kekasih Sarah. 

Baik di 1994 maupun 1666, protagonisnya terlibat romansa lesbian, dan dari sana presentasi soal real-life horror berasal. Suatu hari, koloni tempat Sarah tinggal mendadak seperti dikutuk. Hasil panen busuk, air mengering, hewan ternak menggila, sebelum akhirnya terjadi pertumpahan darah. Penduduk percaya, semua itu akibat kutukan penyihir. Pertanyaannya, "Siapakah jati diri sang penyihir?". 

Isu bullying dan persepsi terhadap LGBT mengisi dua film perdana, namun 1666 menjadikannya sentral cerita. Bukan cuma pernak-pernik, melainkan pondasi narasi, yang berhasil mengaduk-aduk emosi sepanjang paruh pertama durasi. Bagaimana prasangka terhadap kelompok yang berbeda menyulut kebencian publik, sekaligus memuncukan tendensi melempar fitnah, guna memposisikan mereka selaku kambing hitam. 

Kebencian, kebodohan, fitnah/hoax, kekolotan pikir. Tak ada yang lebih mengerikan dari semua itu. Amukan massa di mana "menegakkan kebenaran" jadi topeng, walau sejatinya mereka cuma ingin meluapkan amarah tanpa memedulikan fakta, adalah horor dunia nyata paling menyeramkan. Secara keseluruhan, trilogi Fear Street menyampaikan bahwa selain kutukan, kekejian manusia pun diwariskan secara turun-temurun, sehingga tetap awet menebar ketakutan di tiap sudut jalan. Berbeda dari seri buku karya R. L. Stine, adaptasi filmnya memberi pemaknaan lain yang lebih relevan terhadap judul "Fear Street". 

Leigh Janiak masih menyutradarai, sekaligus menulis naskahnya, kini bersama Phil Graziadei (1994), dan Kate Trefry. Terkait penceritaan, termasuk sebagai konklusi trilogi, naskahnya solid. Selain perihal relevansi di atas, naskahnya pun mampu menarik benang merah antara seluruh konflik dan peristiwa, bahkan hingga detail terkecil, yang telah disuguhkan dua pendahulunya. Segalanya saling terhubung, melahirkan mitologi yang kokoh.

Setelah menghabiskan setengah jalan sebagai horor period (tetap mengandung gore meski kuantitasnya tidak seberapa), lewat cara tak terduga, 1666 kembali banting setir menjadi slasher memasuki paruh kedua. Leigh Janiak sekali lagi sukses menyajikan aksi kejar-kejaran seru, bahkan dengan skala yang agak ditingkatkan. Serupa 1978, Janiak punya metode cerdik untuk menghadirkan kebrutalan tanpa harus tampil terlalu vulgar, lewat pemakaian warna neon ditambah properti glow in the dark guna menyamarkan pertumpahan darah. 

Mengingat relevansi di pesan-pesannya, tak heran jika 1666 turut melempar kritik bagi mereka yang mestinya (dan dari luar terlihat) baik, namun memanfaatkan kekuatan serta kekuasaan demi keburukan. Tentu saja target utamanya adalah aparat penegak hukum dan pemerintah. Meski pencari horor arus utama atau slasher "gila" mungkin terkejut mendapati paruh pertamanya minim darah pula teror konvensional, relevansi isu ditambah kesuksesan menyatukan friksi yang membentang selama lebih dari 300 tahun, menjadikan Fear Street Part Three: 1666 penutup trilogi yang mengesankan. Dan sewaktu Live Forever alias lagu terbaik sepanjang masa diperdengarkan, tiada alasan untuk tidak menyukai film ini. 


Available on NETFLIX

REVIEW - A PERFECT FIT

Pertemuan tak sengaja yang diawali oleh ramalan, percintaan yang terhalang takdir dan kehendak keluarga, sosok orang ketiga yang jauh lebih baik dari sang kekasih, semua adalah formula pokok, bahkan bisa disebut klise, dalam kisah romansa. Tokoh utama A Perfect Fit pun menyadari, nasibnya serupa dengan keklisean film. 

Kata "klise" memang jarang disebut bersamaan dengan nama Garin Nugroho, yang menulis naskah A Perfect Fit, sementara Hadrah Daeng Ratu menjadi sutradara. Tapi patut diingat, belum lama ini Garin juga menulis naskah untuk 99 Nama Cinta (2019) buatan Danial Rifki. Sebuah film religi pop, yang menghadirkan sudut pandang berbeda, pula jauh lebih baik bila dibanding rekan-rekan sejawatnya. Mungkinkah A Perfect Fit bernasib sama?

Mengambil latar Bali yang identik dengan spiritualitas, Garin berupaya menautkan romansanya ke elemen tersebut. Bagaimana pertemuan dua insan merupakan wujud restu semesta, lalu sebaliknya, perpisahan (disebabkan ketidakcocokan weton misalnya) terjadi karena alam tidak mendukung. Sehingga saat Saski (Nadya Arina) diramal bakal menemukan "jalan baru" oleh Bu Hadrah (Christine Hakim), ramalan itu dimaknai sebagai perwakilan suara semesta.

Alhasil, sewaktu Saski berhenti di sebuah toko sepatu, sementara kamera menyorot sajen yang terletak di depannya, itu nampak bak kehendak alam, bukan kebetulan biasa. Kebetulan, Saski memerlukan sepatu baru guna menghadiri perayaan ulang tahun pacarnya, Deni (Giorgino Abraham). Rio (Refal Hady) selaku pemilik toko memilihkan sepasang sepatu, beralasan bahwa sepatu itu "sesuai dengan karakter Saski". Kenapa? Sayangnya tidak dijelaskan. Padahal penjabaran terkaitnya, akan memperkuat pemaknaan soal "a perfect fit".

Bisa ditebak, Saski dan Rio saling jatuh cinta, di saat sebenarnya, mereka telah "ditakdirkan" untuk bersama orang lain. Saski dan Deni telah bertunangan, pun Rio hendak dijodohkan dengan teman lamanya, seorang pebisnis sukses bernama Tiara (Anggika Bolsterli). Kita pun diajak menghabiskan paruh pertama, menyaksikan berkembangnya hubungan "terlarang" Saski dan Rio yang mulai diam-diam bertemu.

Apa yang menyenangkan dari A Perfect Fit (yang membuatnya bisa disebut "A Perfect Flirt) adalah aktivitas saling goda dua tokoh utama. Dua manusia yang sudah mengetahui perasaan satu sama lain, namun karena menyadari bahwa rasa itu tidak semestinya tumbuh, alih-alih mengutarakannya secara gamblang, mereka cuma saling melempar "tanda". Tidak hanya percintaan manis, sexual tension (salah satu ciri khas Garin) pun tersirat di antara mereka. That's what a fun affair feels like in real life. 

Refal Hady makin berkarisma, memudahkan kita mendukung kemenangannya, pula mampu mengatasi beberapa rayuan gombal "puitis" yang tak jarang terdengar menggelikan (satu lagi ciri khas Garin, namun kali ini terasa tidak cocok diterapkan di sini). Sedangkan penampilan loveable Nadya Arina membuat saya berharap suatu hari ia mendapat peran di film komedi romantis. Sebelumnya ia pernah bermain di Love Reborn (2018), namun karakternya di situ cenderung serius. Begitu kuat dan menyenangkan chemistry Refal-Nadya, filmnya mengalami penurunan kualitas kala keduanya lebih sering berpisah di paruh kedua.

Proses pertunangan mereka terus berjalan, yang semestinya menambah dilema, tapi sayangnya A Perfect Fit terjebak dalam keklisean, di mana lawan asmara tokoh utama digambarkan sebagai antagonis. Beni adalah anak orang kaya sombong nan manja, pun Tiara merupakan bos yang semena-mena. Sebuah simplifikasi, yang membuat second act-nya melelahkan, sebab selain sudah mengetahui hasilnya, penonton tidak perlu terjebak dalam dilema dua protagonis. Kita tidak perlu ikut repot menentukan pilihan. 

Mungkin Garin ingin menyelipkan kritik terhadap kekejaman kapitalisme yang diusung pengusaha rakus, yang mana sah saja, tapi mengapa mesti keduanya diberi penokohan tersebut? Khususnya Tiara, apalagi saat akhirnya kita diajak bersimpati padanya. Tanpa menjadikannya pengusaha keji, itu akan sepenuhnya berhasil, sebab Anggika Bolsterli, setelah absen hampir dua tahun (terakhir muncul di Eggnoid yang rilis Desember 2019), membuktikan bahwa ia masih pantas berada di jajaran aktris muda papan atas lewat kapasitasnya bermain emosi.

Kekurangan-kekurangan A Perfect Fit memang terkumpul di babak keduanya. Di penulisan, ada inkonsistensi terkait pesan, ketika di satu sisi Garin seolah ingin mengkritik seksisme dalam praktik pengecekan keperawanan di malam pertama, namun di sisi lain, malah memunculkan kalimat mengenai "perempuan harus menerima kodratnya". Di penyutradaraan, Hadrah yang karirnya mengkhawatirkan pasca membesut horor-horor produksi Baginda KKD, membuktikan masih punya sensitivitas menangani romantisme. Meski pada sebuah momen, gayanya terasa kurang cocok menerjemahkan naskah khas Garin. 

Adegan yang dimaksud adalah sewaktu ibu Saski (Ayu Laksmi) yang mengalami sakit parah, melakukan gerakan pernapasan, sementara suaminya (I Made Sidia) membaca mantra/doa. Jika ditangani sendiri oleh Garin, kemungkinan besar musik tradisional bakal digunakan. Hadrah memakai orkestra mendayu, yang justru melucuti spiritualitas adegannya. Beruntung, setelah deretan kelemahan-kelemahan di atas, A Perfect Fit mampu menutup penceritaan secara romantis, lagi-lagi berkat kombinasi manis Refal Hady dan Nadya Arina. 


Available on NETFLIX