REVIEW - AKU SEBELUM AKU

Ketika orang tua mencederai jiwa anak, bisakah mereka sepenuhnya disalahkan, atau kita perlu menelisik lebih jauh perihal dampak trauma lintas generasi? Apakah "memahami" bersinonim dengan "menjustifikasi"? Melalui film orisinal Netflix yang digarap apik ini, Gina S. Noer selaku sutradara sekaligus penulis, menaruh lampu sorot pada benturan familial tanpa ujung tersebut.

Jati (Bima Sena) adalah siswa berprestasi. Kejuaraan olimpiade berskala nasional sanggup ditembus, sehingga wajahnya kini terpampang pada spanduk raksasa di sekolahnya. Tapi alih-alih kedamaian, justru serangan panik yang menyambangi Jati. Melihat kondisi tersebut, ayahnya, Jaya (Ringgo Agus Rahman), justru berkomentar, "Itu karena kamu jarang salat!" 

Jaya memang tidak menerapkan hukuman fisik. Memukul anak pantang ia lakukan. Itulah pasal Jaya merasa menjadi ayah terbaik yang paling mengerti tentang Jati. Tapi persoalan psikologis luput diperhatikannya. Jati tertekan oleh tuntutan sang ayah supaya ia menimbun prestasi akademis demi kesuksesan hari tua. 

Ada satu adegan menarik yang menunjukkan kejelian Gina mengutak-atik perspektif. Jaya jengah melihat kegembiraan Jati yang "hanya" mendapat posisi enam dalam perlombaan lari. Kalimat-kalimat seperti "Ayah bakal selalu ada buat kamu", "Kamu harus melihat masa depan", sampai "Kamu harus melakukan yang terbaik" mengisi ceramah Jaya kepada Jati. 

Di film lain, adegan serupa, dengan baris kalimat sama persis, bisa saja ditampilkan lewat bingkai motivasional bernuansa positif. Tapi Gina memandangnya dari sisi berbeda, lalu coba menyadarkan penonton mengenai adanya sisi toxic dari hal-hal beraroma inspiratif sebagaimana nasihat Jaya tadi. 

Singkat cerita, Jati makin tertekan hingga berujung keluar dari sekolah lamanya. Melalui dukungan ambunya (Prastiwi Dwiarti), Jati pindah ke sekolah baru yang bukan cuma mengedepankan prestasi akademik. Sudah barang tentu Jaya gerah akan keputusan tersebut, tanpa peduli bahwa sang putra akhirnya menemukan secercah kebahagiaan. 

Di sekolah baru, Jati segera terlibat proyek bersama Asa (Widuri Puteri), yang bertujuan mengupas sejarah keluarga masing-masing. Dari situlah Jati menyadari adanya posibilitas kalau tindak-tanduk sang ayah dibentuk oleh masa lalunya, pula masa lalu leluhur mereka. Diiringi kompilasi lagu-lagu para jawara indi (Goodnight Electric, Nostress, Frau, Monkey to Millionaire, dll.), proses pencarian protagonisnya pun dimulai.

Kita bukan diminta membenarkan cela-cela dalam diri Jaya, melainkan menemukan pemahaman guna mencetuskan solusi akan problematika yang telah menghantui banyak keluarga sejak dahulu kala. Akibat trauma masa lalu, alih-alih berusaha mengerti seluk-beluk anaknya, Jaya mendefinisikan "ayah yang baik" sebagai "ayah yang berbeda dengan ayahnya". Jaya terlampau berfokus pada luka lamanya sebagai anak, sampai membubuhkan bilur luka baru di hati anaknya.

Sayang, tidak semua elemen narasi dalam naskahnya berjalan baik. Signifikansi perihal rahasia di balik identitas Asa patut dipertanyakan. Gina mungkin hendak membandingkan dua situasi berlawanan terkait garis keturunan, bahwa adanya ikatan darah maupun tidak, mestinya bukan tolok ukur besarnya kasih sayang. Masalahnya, keberadaan poin tersebut cenderung mendistraksi ketimbang menguatkan narasi utama. Format serial rasanya lebih tepat jika cakupan penceritaan ingin diperluas dengan cara demikian. 

Naskahnya pun terkesan berlebihan dalam mencekoki penonton dengan kalimat quotable, entah yang beraroma positif (kata-kata mutiara, petuah bijak) atau negatif (biasanya tertuang dalam ucapan Jaya yang jamak kita dengar di dunia nyata). Aku Sebelum Aku bak terlampau berambisi mendorong penonton membagikan kutipan favorit mereka di media sosial pasca menutup halaman Netflix.

Sedangkan terkait penyutradaran, Gina masih piawai memainkan bahasa visual guna menggugah emosi lewat cara subtil. Sebutlah rasio yang beralih bak home video lawas kala Jaya pulang ke rumah masa kecil dan menyambangi ruang intimnya lagi, simbolisme dalam rapuhnya engsel pintu kamar Jati, hingga nuansa liris ketika Jaya berjalan beriringan bersama leluhurnya di tengah hutan selepas berdamai dengan trauma. 

Jajaran pelakonnya tidak kalah trengginas. Bima Sena, Widuri Puteri, serta Ringgo Agus Rahman, kendati karakter masing-masing bergulat dengan detail masalah berbeda, ketiganya bermain dalam satu benang merah: menghidupkan para lebah yang tengah gundah saat berjuang menemukan jalan pulang ke rumah. 

(Netflix)

REVIEW - EVIL DEAD BURN

Evil Dead Burn tidak mendorong formula waralabanya yang mulai usang untuk berevolusi, tapi Sébastien Vaniček selaku sutradara kentara mewarisi semangat Sam Raimi muda, sewaktu membuat filmnya mengolok-olok sembari menertawakan konsep kematian. 

Simak adegan prosesi pemakaman Will (George Pullar) yang jadi salah satu korban pertama Deadites. Kekhidmatan ditiadakan oleh suara bising konstruksi yang menguarkan aroma kecanggungan. Jenazah Will pun tak ditangani dengan hormat oleh petugas krematorium yang menari-nari sambil menyalakan api, setelah sebelumnya hampir menjatuhkan peti. Kematian bukan untuk diratapi di sini.

Kemudian, Alice (Souheila Yacoub), istri Will, terpaksa menghabiskan waktu bersama keluarga sang suami. Joseph (Hunter Doohan), adik Will, dan pacarnya, Thya (Luciane Buchanan), memang bersikap baik, tapi tidak dengan orang tua mereka, Susan (Tandi Wright) dan Edgar (Erroll Shand). Sementara si nenek, Polly (Maude Davey), sudah takluk oleh alzheimer. 

"Haruskah keputusan berkeluarga membuat individu kehilangan jati diri mereka?" jadi tanda tanya yang dilempar oleh Sébastien Vaniček dan Florent Bernard lewat naskah buatan mereka. Semasa hidup, Will adalah suami kasar yang mewajibkan Alice mengikuti pilihannya. Demikian pula Susan dan Edgar yang berperilaku bak hama bagi sang menantu. 

Sehingga ketika nanti Deadites mulai menebar teror dengan merasuki satu per satu keluarga Will, perjuangan Alice untuk selamat pun melahirkan alegori mengenai upaya perempuan lepas dari kungkungan keluarga toksik si mantan suami. 

Jangan mengharapkan eksplorasi mendalam atau sorotan kompleks terkait dinamika psikologis. Di samping alegori tersebut, praktis Evil Dead Burn bergerak tanpa jalinan cerita, dan sebatas hadir untuk memuaskan dahaga penonton yang ingin berfoya-foya tanpa pikir panjang di tengah pesta darah besar-besaran. 

Satu-satunya tanda eksistensi cerita terletak pada selipan mitologi serinya, terutama seputar kitab Necronomicon dan Belati Kandarian yang bentuknya lebih dekat ke arah pengingat ketimbang perluasan. Ditambah beberapa detail seperti pilihan senjata protagonis hingga langit merah darah sebagai latar babak puncak, Evil Dead Burn melahirkan amalgam dari keseluruhan waralabanya, baik trilogi arahan Raimi, versi 2013 karya Fede Álvarez, juga Evil Dead Rise (2023). Kaya akan fan service namun miskin pengembangan. 

Tapi tidak ada keraguan sedikitpun soal kapasitas Sébastien Vaniček menumpahkan kesintingan khas sinema splatter. Vaniček piawai mengeskalasi kekacauan liar dalam serbuan Deadites lewat bahasa visual, dibantu tata kamera penuh gaya arahan Philip Lozano yang seolah mengharamkan kediaman. Berkat visualnya, tiap serangan Deadites bak membikin seisi Bumi gonjang-ganjing. "Neraka dunia" mungkin istilah paling pas.

Hal-hal menyakitkan sekaligus menjijikkan tumpah ruah, yang berfungsi mendorong si protagonis sampai ke batas ketahanan fisik sampai membuatnya terkesan tidak kalah lihai daripada Deadites perihal mencurangi kematian. Tapi amunisi filmnya bukan hanya berupa kekerasan ekstrim semata. Seisi studio serentak mual berjamaah kala menyaksikan pemandangan "sederhana" yang melibatkan gigi palsu. 

Tersisa satu keluhan. Vaniček terlampau bernafsu menginjak pedal gas dari awal hingga akhir, luput menyadari bahwa apabila tingkat intensitas secara konstan bertengger di level teratas, artinya sebuah film minim akan dinamika. Apalagi tanpa dibarengi penceritaan memadai, juga ketergantungan atas formula klasik waralabanya yang mulai terasa memerlukan penyegaran, lambat laun daya kejut gore-nya mulai melemah, bahkan sedikit melelahkan.

Apakah tetap menyenangkan? Tentu! Tidak satu manusia pun lolos dari kebrutalan, pun rangkaian skenario nahas yang menimpa mereka tidak jarang turut diwarnai oleh goresan komedi gelap. Evil Dead Burn memang film jahat (in a good way) yang bersikap masa bodoh di depan kesakralan kematian, menertawakan, bahkan mengacungkan jari tengah ke arahnya. 

REVIEW - THE ODYSSEY

Ada alasan kuat mengapa di karya terbarunya, Nolan mengangkat mitologi epos, sebuah bentuk literatur yang tak memberatkan sisi faktual. Tujuan sang auteur adalah mengeksplorasi proses kala suatu cerita dikonstruksikan oleh banyak kata "konon", di mana unsur kebenaran cenderung samar dan bias personal merupakan pilar utama. 

Nolan di sini bak telah menuntaskan pelatihan yang dijalani sepanjang karirnya, yakni perihal penolakan atas kelinearan melalui pemugaran struktur narasi konvensional. The Odyssey adalah karyanya yang paling berjodoh dengan metode bertutur non-linear. Bukan sekadar gaya-gayaan atau alat penghantar plot twist, melainkan potret berlangsungnya aktivitas bercerita, yang acap kali terjadi secara acak, pun tidak jarang bersifat impulsif sesuai dengan dinamika perasaan si penyampai. 

Sehingga epos Odyssey yang konon sudah dirumuskan oleh Homer lebih dari milenium lalu merupakan kendaraan sempurna untuk Nolan. Pasalnya ia mengisahkan soal Odysseus (Matt Damon), Raja Ithaca yang telah meninggalkan kerajaannya selama 20 tahun guna memimpin pasukan di Perang Troya. 

Benarkah Odysseus merengkuh kejayaan lewat taktik Kuda Troya yang tersohor? Terpenting, apakah ia masih hidup? Benarkah kabar mengenai pemenjaraannya? Mengapa sang raja tidak kunjung pulang tatkala istrinya, Penelope (Anne Hathaway), dipusingkan oleh ratusan laki-laki, termasuk Antinous (Robert Pattinson), yang bernafsu meminangnya? Kapan kekhawatiran putra Odysseus, Telemachus (Tom Holland), bakal disembuhkan oleh kepulangan ayahnya? 

Setumpuk kesimpangsiuran itulah yang Nolan soroti. Melalui naskahnya yang memberatkan penggunaan dialog untuk menyelipkan detail informasi terkait bangunan dunianya, ia beri ruang bagi tiap-tiap karakter guna membagi perspektif mereka yang saling sela-menyela mengenai Odysseus. Sehingga lumrah bila tiada urutan tetap, pun dengan tingkat kebenaran yang senantiasa dipertanyakan. Demikianlah mekanisme konsepsi suatu cerita.

Uniknya, Nolan membubuhkan sudut pandang modern yang agak berlawanan dengan tendensi epos mengagungkan kepahlawanan. Peperangan yang lazim jadi lahan subur penghasil pahlawan enggan dirayakan, tidak peduli sehebat apa sepak terjang sang figur. Sebaliknya, kondisi kelam pascaperang, entah kekalutan berskala besar di sebuah negeri maupun yang lebih kecil berupa serangan PTSD terhadap para prajurit, lebih dikedepankan.

Sama seperti Oppenheimer, The Odyssey punya protagonis yang seiring waktu mulai mempertanyakan warisannya terhadap dunia. Kegamangan Odysseus tentang status mana yang lebih pantas ia sandang antara "pahlawan" dan "pembunuh", melatari upaya Nolan mendekonstruksi perihal kepahlawanan, kemudian mendatangkan twist subtil yang tidak merasa perlu secara lantang memproklamasikan eksistensinya. 

Seiring Odysseus melayari lautan menuju Ithaca, Nolan membentangkan visinya soal dunia ajaib Yunani kuno melalui perspektif yang lebih realistis. Beberapa makhluk mitologi menampakkan diri, namun tidak secara reguler, sebab di mata manusia biasa keberadaan mereka pun tetaplah anomali. Dewa tidak sebegitu narsis membagikan kedigdayaan di hadapan rakyat jelata. Hanya Athena (Zendaya) yang sesekali terlibat dialektika batiniah dengan Odysseus.

Kemegahan lanskap dalam sinematografi arahan Hoyte van Hoytema tidak dipenuhi fenomena ajaib seperti warna-warni letupan ilmu sihir, tapi lebih difungsikan guna memotret sebegitu kerdilnya manusia, bahkan Odysseus, di tengah bentangan semesta. Pun sekalinya fenomena yang mengkhianati logika muncul di depan mata, bukan keajaiban yang Nolan ingin penonton rasakan, melainkan kengerian.

The Odyssey dipenuhi momen yang tak ubahnya kisi-kisi untuk film horor seorang Christopher Nolan. Sebutlah saat sepak terjang Circe si penyihir (Samantha Morton) menampakkan visual khas body horror kelas satu, hingga kunjungan ke sarang Polyphemus (Cyclops putra Poseidon) yang jadi panggung bagi departemen tata suara memamerkan hasil kerja luar biasa tatkala teriakan si monster menggema dengan begitu mencekam.

Mari sejenak membicarakan tentang suara. Ragam jenis suara bertebaran selama 173 menit, tetapi satu yang paling berkesan adalah suara senar busur yang senantiasa Odysseus petik sebelum melesatkan panahnya. Sejak dini Nolan telah menyiratkan betapa suara sederhana itu akan punya peranan esensial dalam narasinya, bahkan ampuh menerbitkan air mata saking menggugahnya. 

Sekali lagi, The Odyssey bercerita tentang cerita. Sebagaimana figur penyair (Travis Scott) yang mengetukkan tongkatnya sembari membagikan puisi oral, Nolan pun memakai suara sebagai alat bantu bertutur, kemudian melanjutkan warisan Homer, memenuhi tugasnya selaku pencerita yang menyuarakan lagu versinya mengenai Odysseus ke masa kini. 

REVIEW - MOANA (2026)

Menonton adaptasi live action dari Moana (2016) ibarat sedang menikmati sajian lezat yang dimasak dengan sepenuhnya mengikuti resep sampai ke detail terkecil. Tentu empunya resep layak dibanjiri pujian lebih deras, namun tidak mengubah fakta bahwa makanan tersebut memang enak disantap. 

Hati saya masih tergerak menyaksikan petualangan orang-orang Motunui melayari perairan luas sembari menyuarakan lagu We Know The Way, kesakralan dari nomor An Innocent Warrior, juga kala sang protagonis melantangkan "I Am Moana" kala pencarian identitasnya mencapai titik resolusi. 

Tapi segala sisi terang Moana (2026) memang berasal dari keidentikan dengan materi aslinya. Baik lagu, dialog, pengadeganan, hingga cerita yang masih menyoroti upaya Moana (Catherine Laga'aia), putri kepala suku Motunui, mengarungi samudera guna mencari Maui (Dwayne Johnson) si manusia setengah dewa, untuk mengembalikan hati Te Fiti yang dipercaya bakal mengusir penderitaan rakyatnya.

Apakah kinerja Thomas Kail selaku sutradara beserta timnya pantang diapresiasi karena hanya sebatas menyajikan kopian? Rasanya perspektif tersebut kurang bijak. Sebab serupa alegori resep masakan di atas, keserakahan industri yang jadi alasan utama eksistensi filmnya, juga kemalasan memodifikasi racikan bumbu, tidak mengubah fakta kalau film ini sarat akan pesona. Di tangan sineas medioker, Moana bisa berujung bencana yang lebih parah, sebagus apa pun materi aslinya. 

Kendati demikian, tidak sukar mendeteksi minimnya ketulusan dari para peramu kisahnya. Alih-alih bersuara dari hati, baik pengadeganan sang sutradara maupun penulisan Jared Bush dan Dana Ledoux Miller terkesan cuma dilandasi tujuan tunggal: menciptakan ulang momen-momen film orisinalnya. Tidak lebih dari menuntaskan daftar periksa, yang acap kali mengalir buru-buru bak tak sabar mencapai garis akhir. 

Penggunaan medium live action juga mengandung plus-minus sama kuat. Setiap elemen fantasinya muncul ke permukaan, sebutlah dalam pertemuan dua protagonis dengan Tamatoa (Jemaine Clement) si kepiting raksasa, atau konfrontasi mereka melawan Te Kā, saya dibuat rutin mempertanyakan signifikansi peralihan mediumnya, akibat gaya CGI yang masih kental nuansa animasi ketimbang menjajal bentuk fotorealisme. 

Di lain pihak, terselip daya pikat tersendiri sewaktu menyaksikan para manusia sungguhan menari secara ekspresif sambil menyanyikan syukur gembira atas anugerah dari semesta. Catherine Laga'aia sempurna menerjemahkan kompleksitas Moana yang mencampuradukkan sisi keras kepala, penyayang, penuh harap, terkadang naif, juga menyisakan ruang bagi kejenakaan. Dwayne Johnson adalah Dwayne Johnson seperti biasa, meski agak janggal melihatnya mengenakan kostum prostetik yang jauh dari kata "natural". 

"Who needs a new song? This old one's all we need." Demikian bunyi sepenggal lirik lagu Where You Are. Ironis. Tatkala pemujaan berlebih terhadap kekolotan budaya lama tersebut merupakan sesuatu yang dienyahkan oleh tokoh utamanya, Moana versi live action justru membuktikan jika ada kalanya lagu baru tak diperlukan, apalagi bila ia lahir prematur. Seumpama dirilis satu sampai dua dekade ke depan ketika publik mulai haus akan nostalgia dunia Moana, bisa jadi reputasi film ini bakal jauh lebih positif. 

REVIEW - OBSESSION

Film horor sudah secara aktif mencerminkan ketakutan masyarakat suatu era, dari destruksi oleh nuklir pada 1950-an sampai teknofobia dan lenyapnya ruang personal di 2000-an. Obsession karya Curry Barker menggemakan salah satu ketakutan generasi masa kini: Hanya ada kepalsuan dalam cinta, sehingga kelak kita akan terdorong menuju lubang kesepian gelap nan tanpa ujung. 

Alkisah, Bear (Michael Johnston), Nikki (Inde Navarrette), Ian (Cooper Tomlinson), dan Sarah (Megan Lawless) adalah empat sahabat yang bekerja di toko musik kepunyaan ayah Sarah. Bear ingin mengutarakan cintanya pada Nikki, namun kekhawatiran akan penolakan senantiasa menutup pintu keberaniannya. 

Kesempatan bukannya enggan mampir di hadapan Bear. Nikki bahkan sempat secara terang-terangan menanyakan apakah Bear menyukainya, yang langsung ia sangkal. Ketimbang merengkuh peluang di depan mata, Bear justru mengambil jalan pintas dengan menggunakan "One Wish Willow", sebuah mainan yang konon mampu mengabulkan segala jenis permintaan. Bear meminta supaya Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia. 

Bukan cuma pengecut, banyak laki-laki cenderung berpikiran pendek, termasuk mengharapkan sesuatu yang tak benar-benar mereka pahami. Mereka sekadar mendambakan permukaan, tanpa mau mengupas lapisan-lapisan yang mungkin menyelubungi suatu harapan tatkala menjadi kenyataan. Bear merupakan representasi sempurna dari spesies laki-laki semacam itu. 

Singkat cerita, harapan Bear terkabul. Nikki terobsesi padanya, meminta untuk bermalam di rumahnya, mengajaknya berbaring bersama di ranjang, menanggalkan pakaiannya lalu meminta Bear mendekap tubuhnya. Malam itu adalah realisasi dari fantasi para laki-laki yang menomorsatukan nafsu daripada otak maupun hati. 

Tapi segera saja, Bear diingatkan ke ungkapan "be careful what you wish for". Perilaku Nikki semakin aneh, dari sekadar memamerkan senyuman janggal, mengamati Bear saat terlelap di malam hari, hingga hal-hal lain yang jauh lebih ekstrim. Bear ketakutan, tapi patutkah ia diberi status "korban"?

Dari sinilah naskah buatan Barker menyediakan observasi berlapis. Penceritaannya memberi penonton ruang guna mengamati detail situasi. Hipotesis pun diutarakan, bahwa sejatinya Bear merupakan pelaku. Di satu titik, identitas asli Nikki menyeruak ke permukaan, dan ia meminta Bear mengakhiri penderitaannya. Bear menolak. 

Protagonis kita menikmati obsesi yang Nikki curahkan, hanya saja tak ingin semua melesat ke luar kendalinya. Inilah satu lagi contoh dari kecenderungan laki-laki mengambil keuntungan dari penderitaan perempuan. Sejatinya bukan Nikki yang Bear dambakan, melainkan citra tentangnya yang dia ciptakan dalam dunia fantasinya. 

Tapi toh poin-poin di atas tidak menampik fakta kalau perilaku Nikki memang mengerikan. Curry Barker secara jeli menyerap prinsip dari konsep uncanny valley untuk menebar teror. Contoh terbaiknya tentu pada adegan yang seketika memantik ingatan terhadap momen penampakan legendaris di Kairo (2001) karya Kiyoshi Kurosawa. 

Selain mencekam, adegan tersebut membuktikan kreativitas sang sutradara yang ogah menyalin mentah-mentah lalu bersembunyi di balik topeng "penghormatan". Barker memodifikasinya, kemudian melahirkan entitas angker yang sepenuhnya baru. Beberapa jumpscare-nya memiliki daya kejut tinggi tanpa perlu bergantung pada tata suara berisik berkat pengaturan timing yang cerdik, pun segelintir elemen kekerasannya mujarab menyulut teriakan penonton. Departemen penyutradaraan Obsession luput dari cela. 

Menariknya, hapuskan keberadaan "One Wish Willow", dan besar kemungkinan segala peristiwanya bakal tetap berlangsung, walau dalam taraf keekstriman yang menurun. Mainan itu bukan artefak berbahaya, mengingat kutukan sebenarnya bersumber dari hasrat yang mengiringi permintaan Bear. Alih-alih hantu, iblis, atau monster, yang menyeruak ke permukaan sewaktu terjadi fenomena supernatural di Obsession adalah sisi gelap manusia. 

Segala sudut Obsession berpusat pada manusia. Itulah sebabnya ia terasa begitu dekat dan cengkeramannya teramat kuat. Manusia yang mendapat sorotan paling benderang adalah Inde Navarrette. Performanya tidak melulu soal pertunjukan seringai aneh khas horor konvensional. Selain untuk mengatrol efek kejut, tindak-tanduknya yang sarat akan ketidakterdugaan berfungsi sebagai penegas kalau Nikki berperilaku di luar kendalinya. 

Ketika tiba waktunya diri Nikki yang asli mengambil alih kesadaran biarpun hanya beberapa detik, ekspresi yang Navarrette hadirkan menampakkan sekelebat luka seorang perempuan yang direnggut dari kebebasannya untuk menyetir jalan kehidupan menuju ke arah yang ia inginkan. 

Saya punya sedikit saran. Ajak pacar atau teman kencan laki-laki kalian menonton dua film, yaitu (500) Days of Summer dan Obsession. Jika dia memandang masing-masing protagonis laki-lakinya sebagai korban, segera lari sejauh mungkin. 

REVIEW - SUPERGIRL

Menilik upaya segerombolan laki-laki kulit putih konservatif Amerika Serikat untuk menyabotase Supergirl karena dipandang tak memuaskan dahaga bejat mereka, sungguh ingin saya, seusai menonton, secara lantang menyuarakan betapa memukaunya film ini. Sayang, adaptasi dari seri komik Supergirl: Woman of Tomorrow punya satu masalah besar yang menyulitkan lahirnya argumen balasan: filmnya memang tidak sebagus itu. 

Kali pertama kita bertemu Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock), ia sedang berkeliling galaksi bersama anjingnya, Krypto, dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-23. Planet dengan matahari merah jadi kesukaannya, sebab di situ kekuatan Kara sebagai Kryptonian dinetralkan, sehingga ia bisa menikmati sensasi memabukkan alkohol. 

Menjadi pahlawan super bak bukan jalan hidup Kara, setidaknya sampai takdir mempertemukannya dengan Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), bocah yang berambisi membunuh Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts), sebagai bentuk balas dendam setelah si penjahat keji membantai keluarganya. 

Dimulailah road trip berlatar luar angkasa yang mengalir selama sekitar 108 menit tanpa banyak daya tarik. Daripada menyuplai cerita dengan rangkaian friksi trengginas atau petualangan yang menyulut rasa cemas, naskah buatan Ana Nogueira sekadar melakukan tarik-ulur terhadap misi dua protagonisnya meringkus Krem. 

Sebagai antagonis, Krem kaya akan potensi. Filmnya tak ragu membuat beberapa warga tanpa dosa kehilangan nyawa demi menandaskan kebiadaban sang penjahat. Tapi di luar itu, karakternya mudah dilupakan karena tak memiliki daya tarik lain. Fakta seputar bagaimana ia rutin menculik perempuan guna dijadikan alat berkembang biak pun luput dikembangkan, baik sebagai modal narasi kuat mengenai gender maupun pondasi untuk mengokohkan mitologi semestanya. 

Untunglah, Craig Gillespie selaku sutradara tak membiarkan penonton melalui perjalanan generik ini tanpa ditemani daftar putar apik, di mana selain jadi asupan energi, lagu-lagu bernuansa alternatif seperti catch these fists milik Wet Leg hingga (I've Got) a Trouble in Mind dari The Limiñanas, turut mencerminkan sisi pemberontak dalam diri Kara. 

Saya suka bagaimana Supergirl memotret sosok Kara Zor-El. Jauh berbeda dibanding interpretasi Helen Slater empat dekade lalu, Milly Alcock, dengan tindak-tanduk bak bintang rok yang ogah terikat pada cara bertutur normatif, menjembatani perspektif bahwa pahlawan perempuan tidak melulu identik dengan keanggunan ala dewi. Individu kacau yang secara sembrono keluar dari zona nyaman (baca: planet bermatahari kuning) sebagai cara mematikan rasa yang penuh sesak oleh luka pun pantas diberi gelar kepahlawanan. Konklusi filmnya turut menegaskan jika Supergirl adalah pahlawan yang menyelesaikan misinya sampai tuntas. 

Pesona serupa sayangnya tak kuasa film ini tampilkan kala memaparkan koneksi antara Kara dan Ruthye, dua individu yang semestinya bertindak selaku obat bagi bilur hati masing-masing. Jangankan kehangatan, dinamika keduanya justru amat melelahkan akibat ketidakcakapan naskahnya mengolah penokohan Ruthye, sehingga ia berakhir sebagai bocah doyan merengek yang minim fungsi. 

Di tengah perjalanan, Kara turut bersinggungan jalan dengan Lobo (Jason Momoa) si pemburu hadiah sinting dari Planet Czarnia, yang kebetulan punya target serupa. Momoa mampu menularkan kegembiraannya berakting secara semaunya kepada penonton, hanya saja, kebingungan departemen naskah yang tidak tahu bagaimana cara menjustifikasi kemunculan si pemburu hadiah betul-betul kentara. Alhasil eksistensi Lobo tak punya signifikansi. 

Bagaimana dengan perkara baku pukul yang cenderung jadi menu utama sinema pahlawan super? Craig Gillespie rupanya belum memiliki daya imaji yang cukup tinggi untuk bisa mempresentasikan ketangguhan makhluk Krypton yang eksplosif. Generik, tidak jarang sukar diikuti gerak-geriknya, pula minim money shot selaku penegas kekuatan bombastis Kara. Klimaks yang jauh lebih masif berhasil menutupi ragam kekurangan tersebut, tapi sekali lagi, kendati bukan sebuah bencana, secuplik keunggulan yang sesekali tersebar belum cukup menghasilkan argumen balasan guna membungkam para penentang filmnya.