MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON DECEMBER 11, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

SILAM (2018)

Silam, yang juga adaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, awalnya diniati sebagai spin-off terbaru Danur untuk mengeksploitasi kesuksesan franchise-nya. Sampai tiba-tiba niat tersebut dibatalkan, dan embel-embel “From the Danur Universe” dihapus dari seluruh materi promosi. Untunglah, sebab meski lambat, seri Danur tengah berprogres ke arah positif, hingga tahun ini, Asih jadi judul pertama yang pantas disebut baik. Menyertakan Silam, yang bahkan jauh lebih buruk dibanding film pertama, bakal mengembalikannya ke titik nadir.

Pasca meninggalnya sang ayah, Baskara (Zidane Khalid) merasa dibenci oleh ibunya (Nova Eliza), yang seolah menyalahkan seluruh perbuatan putera semata wayangnya itu. Ditambah perundungan di sekolah, lengkap sudah penderitaan Baskara. Sampai ia menemukan foto saudara kembar ayahnya, Anton (Surya Saputra), lalu memutuskan minggat ke rumah pamannya. Mengapa di balik foto pribadi tertulis nama serta alamat saudara kembar sendiri? Entah. Sepertinya ini hanya cara malas Lele Laila (Danur 2: Maddah, Keluarga Tak Kasat Mata, Asih) selaku penulis naskah agar Baskara menemukan kediaman Anton.

Tapi sebelum itu, kita menyaksikan lebih dahulu peristiwa yang membuka mata batin Baskara, yakni ketika kepalanya terbentur lantai setelah didorong oleh teman sekelasnya. Sejak itu Baskara dapat melihat hantu. Peristiwa tersebut terjadi pada suatu ruangan terlarang di sebuah museum. Mengapa ruangan terlarang tidak diberi gembok atau pengamanan ekstra dalam bentuk apa pun? Entah. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskahnya.

Seandainya anda lupa, film ini disutradarai Jose Purnomo (Alas Pati, Jailangkung, Gasing Tengkorak) yang belakangan bak bersemangat menjadi Nayato 2.0 perihal menyajikan horor-horor bobrok. Di sini, Jose menunjukkan bahwa ia belum banyak berubah, walau soal menciptakan jump scare, tampak sedikit peningkatan. Ada sekitar tiga momen yang sanggup menyentak berkat ketepatan timing.

Soal membangun kengerian, dia masih Jose yang kita sayangi bersama. Di tangan sutradara mumpuni, adegan kala Baskara mampir ke kuburan ayahnya di tengah malam kemudian dikepung barisan setan bisa hadir mencekam. Walau lagi-lagi, timbul pertanyaan. Jika Baskara sudah menyadari kemampuannya melihat hantu, kenapa ia nekat ke kuburan hanya untuk meminta petunjuk yang takkan memperoleh jawaban? Bocah SD kebanyakan takkan melakukan itu. Sekali lagi saya cuma bisa menjawab, “entah”. Sepertinya ini hanya bentuk kemalasan lain dari penulis naskah guna membuka jalan menampilkan kengerian.

Tapi naskahnya masih menyimpan kelebihan. Berbeda dengan Baskoro Adi Wuryanto selaku kompatriotnya sesama pemuja kekosongan cerita dalam horor, pelan-pelan naskah Lele Laila meningkat. Setibanya Baskara di rumah Anton, plot Silam mulai memancarkan daya tarik. Baskara menyadari keanehan pada tingkah Anton, Ami (Wulan Guritno) sang istri, juga dua puteri kembar mereka (yang dicomot dari The Shining). Didasari keanehan itu Silam menghadirkan cerita sungguhan, di mana tercipta pertanyaan, juga misteri untuk digali. Bukan bentuk misteri segar, pun besar kemungkinan anda bisa menebak jawabannya sedari awal. Namun paling tidak, keberadaannya menjauhkan Silam dari deretan horor kosong yang gagal membedakan antara plot dengan segmen-segmen jump scare tak mengerikan.

Sayang, di sela-sela misteri kita dipaksa jadi saksi kecanggungan penyutradaraan Jose. Ada satu momen yang melibatkan hantu gadis cilik dengan riasan dan perilaku yang bagai kombinasi penggila black metal dan emo. Si hantu mengikuti Baskara dan teman barunya yang juga mampu melihat makhluk halus, Irina (Dania Michelle). Pemandangan itu sontak memancing tawa seisi studio. Jose baru saja menghantarkan salah satu kelucuan tak disengaja paling epic sepanjang tahun. Satu lagi elemen mengganggu adalah keputusan Jose, yang seperti biasa merangkap DOP, menerapkan warna kusam termasuk di situasi gelap gulita, sehingga gambar terlihat keruh dan sukar dilihat.

Kemudian tibalah konklusinya, yang terjangkit penyakit mayoritas film horor lokal, yakni kegagalan menghadirkan penutup memuaskan. Babak akhirnya begitu berantakan, di mana beberapa poin cerita dibiarkan tanpa kejelasan atau memunculkan plot hole akibat penyertaan sebuah twist. Kalau itu belum cukup, jangan khawatir. Anda bakal mendapat hal lain untuk ditertawakan, tatkala Silam mengajarkan bahwa untuk membatalkan perjanjian dengan setan, seseorang hanya butuh berniat, tanpa perlu repot-repot melangsungkan ritual. Mendengar itu, karakternya pun berkata, “Saya niatkan pembatalan perjanjian.....”. Oh, for God's sake!

AQUAMAN (2018)

Aquaman adalah kali pertama film DCEU (or whatever the official name is) berambisi mencampur beraneka elemen, dan alih-alih menghasilkan kekacauan, justru memperkaya filmnya (Wonder Woman berhasil karena cara tutur sederhana). Alasannya tak lain karena James Wan beserta segenap tim tahu hendak membuat tontonan seperti apa: film pahlawan super yang menyenangkan. Jadi, tiap elemen yang dicampurkan, semuanya hanya mengalir menuju tujuan tersebut.

Menilik ceritanya, naskah karya David Leslie Johnson-McGoldricka (Wrath of the Titans, The Conjuring 2) dan Will Beall (Gangster Squad) sesungguhnya sebatas satu lagi cerita asal muasal pahlawan super, khususnya di paruh awal ketika kita diperlihatkan bagaimana Thomas Curry (Temuera Morrison) si penjaga mercusuar bertemu Atlanna (Nicole Kidman) sang Ratu Atlantis. Keduanya jatuh cinta, kemudian memiliki momongan bernama Arthur Curry yang selepas dewasa, dikenal pula sebagai Aquaman (Jason Momoa).

Lalu cerita melompat beberapa tahun ke depan, tepatnya pasca peristiwa di Justice League. Mera (Amber Heard), Puteri kerajaan Xebel, berusaha meyakinkan Arthur agar ia bersedia kembali ke Atlantis guna merebut tahta dari sang adik tiri, Orm (Patrick Wilson), yang berhasrat menyatukan tujuh lautan untuk memulai perang dengan manusia darat yang amat ia benci.

Babak pertamanya menerapkan plot yang serupa dengan Black Panther, namun lebih lemah. Arthur menantang Orm memperebutkan tahta, tapi berhasil dikalahkan akibat tindakan gegabah dan kepercayaan diri berlebih. Soal pembangunan dunia, kita melihat beberapa konsep bawah laut menarik semisal warna suara saat seseorang bicara, dan gerakan tubuh mereka termasuk rambut. Tapi di luar itu, Wan seolah cuma menjalankan kewajiban, ingin lekas melangkah ke babak kedua yang jauh lebih menarik.

Di sana, Arthur dan Mera pergi mencari trisula legendaris yang konon dapat memberikan pemiliknya kekuatan mengontrol seluruh penjuru lautan beserta isinya, dalam perjalanan yang mengembalikan ingatan akan film-film petualangan oldskul bertema pencarian harta karun. Ada harta tersembunyi, Gurun Sahara, hingga pria dan wanita yang terikat hubungan benci-lalu-cinta. Nantinya, deretan lokasi aneh yang bak diangkat dari karya-karya Jules Verne dan H. P. Lovecraft telah menanti untuk kita kunjungi.

Dalam upaya menghibur penonton, tidak semua humornya mendart tepat sasaran, yang untungnya mampu Wan tebus lewat sekuen aksi dengan gaya bervariasi. Dua protagonis wanita, Mera dan Atlanna, diberi gaya bertarung lebih dinamis, saat kamera yang ditangani Don Burgess (Forrest Gump, The Conjuring 2, Wonder) selaku sinematografer, bergerak lincah tanpa putus (ciri khas Wan kala menggarap horor). Sementara Arthur lebih keras, lebih brutal, yang menghasilkan luka serta darah di sana-sini, yang cukup jauh mendorong rating PG-13 sampai ke batasnya.

Pada lingkup aksi lebih besar, Aquaman sesungguhnya tak jauh berbeda dibanding judul-judul DCEU lain, di mana CGI tampil inkonsisten. Tapi filmnya beruntung memiliki Wan, yang serupa mayoritas sutradara horor besar, tumbul dengan pemikiran bahwa gambar yang memiliki dampak (plus pembangunan tensi) merupakan aspek terpenting. Alhasil, ia tak asal mencampur aduk keriuhan efek komputer. Tengok adegan kala ratusan, bahkan mungkin ribuan Trench—makhluk laut buas yang membunuh Atlanna—mengerumuni Arthur dan Mera, yang berenang sambil membawa suar merah menyala bagai tengah membelah samudera.

Pemandangan serupa muncul lagi di third act-nya yang menyatukan monster-monster laut dan para prajurit kerajaan dalam satu peperangan dahsyat. Bahkan, Wan masih sempat menyuntikkan momen khas film kaijuu yang meski berdosis kecil namun memukau, membuat saya berharap, kelak Wan berkesempatan ambil bagian mengerjakan salah satu judul MonsterVerse.

Kuncinya tak lain keberanian Wan setia pada komik—yang bagi sebagian pihak berpotensi membuat film tampak norak—yang akhirnya justru memfasilitasi visinya merangkai visual fantastis. Lihat saja desain sekaligus warna-warni yang bertebaran di departemen artistik Aquaman, khususnya pada kostum. Raja Nereus (Dolph Lundgren) mengenakan warna hijau, demikian pula Mera (belum termasuk gaun ubur-ubur yang sekali ia pakai), tubuh Orm dibalut zirah ungu di klimaks, bahkan Arthur memakai kostum klasik jingga-hijau miliknya.

Di sela-sela gelaran visualnya, Aquaman tetap menyisakan ruang bagi jajaran pemainnya unjuk kebolehan. Momoa makin memantapkan kapasitasnya sebagai jagoan badass yang masih sempat melontarkan lelucon setelah perutnya dihantam ledakan. Sedangkan Amber Heard melanjutkan prestasi Gal Gadot dan Margot Robbie, menegaskan jika ada satu hal yang memposisikan DCEU di depan MCU adalah banyaknya jagoan wanita ikonik yang kuat sekaligus rupawan.

Aquaman bergulir bagai fase pertama MCU, hanya saja lebih besar, lebih ambisius, dan memiliki sentuhan visual lebih kuat. Walau harus diakui, Aquaman turut tertular sindrom “antagonis lemah”, tatkala penokohan Orm lebih condong ke arah satu lagi penjahat megalomania generik ketimbang saudara yang terluka. Pun potensi Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) sebagai sosok simpatik urung terpenuhi, akibat sulit sepenuhnya menyalahkan Arthur atas tragedi yang menimpa villain satu ini. Beruntung, sisi heroisme protagonis berhasil ditekankan, apalagi pasca sebuah kejutan terungkap, yang memberi Arthur alasan personal untuk melakukan aksi kepahlawanan, meski pada akhirnya, bentuk kepahlawanan terbesar Aquaman adalah menggiring DCEU menuju cahaya harapan yang sebelumnya dibukakan Wonder Woman.

TUSUK JELANGKUNG: DI LUBANG BUAYA (2018)

Welcome to another episode of “The Unlucky, Ugly, Very Very Gloomy Day of Rasyid Harry”. Setelah semesta sempat berpihak sehingga saya berkesempatan melewatkan Arwah Tumbal Nyai: Part Nyai dan Wengi: Anak Mayit, niatan untuk tidak menonton Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya pun timbul karena saya ingin fokus memanjakan diri dengan JAFF dan JCW. Sayang seribu sayang bisikan iblis datang lagi, kali ini dalam wujud Josep Sibuea (Postingan Biasa), yang didorong kemurahan hatinya, berbagi voucher agar saya bersedia (dengan amat sangat terpaksa) menonton horor memabukkan ini. “Biar lo bisa ikut ngetawain”, begitu katanya.

Tapi saya orangnya optimistis. Mustahil film ini—yang menurut sutradara Erwin Arnada (Guru Ngaji, Nini Thowok) bukan sekuel atau remake Tusuk Jelangkung (2002) melainkan revitalisasi—seburuk itu. Benar saja, optimisme saya terbukti. Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya memang suguhan inovatif. Didorong keinginan tampil beda, sebagaimana Tommy Wiseau menciptakan drama yang berbeda lewat The Room, berbagai formula didobrak, pemahaman baru pun dimunculkan.

Mungkin cuma alur dalam naskah tulisan Sigit saja yang formulaik, yakni tentang kenekatan kakak-beradik vlogger, Sisi (Nina Kozok) dan Arik (Rayn Wijaya), menyatroni daerah angker Taman Lubang Buaya demi memuaskan satu juta subscribers mereka. Tentu setibanya di lokasi, mereka mendapati diri tidak berdaya di hadapan para hantu. Apalagi saat boneka jelangkung yang akhirnya lepas dari kebotakan menahun turut ambil bagian.

Erwin menolak memperlihatkan riasan bubur basi khas horor murahan negeri ini. Saya mengapresiasi itu, walau salah satu wajah hantu jelas meniru Smiley (2012); satu hantu bayi CGI sukses membuat perempuan di belakang saya berujar, “Yah, nggak jadi takut deh...”; dan sosok misterius bertanduk selaku antagonis utama nampak bak cosplayer prajurit Viking yang tersesat di alam gaib. Bukan masalah, sebab terpenting adalah niat TAMPIL BEDA.

Pada dinding kamar protagonisnya, terpasang beberapa target lokasi angker untuk dikunjungi serta hasil-hasil riset. Terpampang pula foto Slenderman dilengkapi tulisan “Hantu Kepala Buntung”. Saya baru tahu dua mitologi tersebut berkaitan. Saya pun baru tahu kalau hantu kepala buntung rupanya kepalanya tidak buntung. Terima kasih Tusuk Jelangkung: Di Rumah Buaya, saya yang amatir soal ilmu perdemitan ini jadi tercerahkan.

Seperti judulnya, Tusuk Jelangkung: Di Lubang Buaya—atau demi mempermudah kita sebut saja Tusuk Lubang—berlokasi di lubang buaya. Tapi ingat, ini film inovatif, sehingga lubang buaya yang dimaksud pun bukan terletak di Jakarta, melainkan Bali. Menurut Erwin, Taman Lubang Buaya di bali dahulu dipakai untuk melatih buaya sebelum ditinggalkan dan kini dianggap angker. Saya tidak menemukan hasil pencarian untuk tempat tersebut di Google, tapi mungkin saja karena letaknya amat tersembunyi. Sebab mustahil kalau pembuat film ini hanya mengarang cerita kan? Iya kan???

Menariknya, ada salah satu tokoh pendukung, yakni Kepala Desa setempat yang diperankan Slamet Ambari. Dari Turah (2016), kita tahu bahwa Slamet berlogat ngapak, dan di sini, logat itu terdengar begitu kental. Mari beri tepuk tangan bagi Tusuk Lubang yang berpartisipasi menegakkan diversity. Memang kenapa kalau orang berlogat ngapak jadi Kades di Bali? Itu hak semua WNI, bung! Saya hanya kecewa ia tidak diberi dialog,”Bli, nyong kencot kiye, nganti mumet endhase lah, tulung”.

Kecewa, sebab tokoh lain memperoleh banyak dialog ajaib yang tak terdengar seperti interaksi antara manusia. Satu lain poin menarik terkait penulisan naskah adalah mantra Jelangkung yang kembali diganti. Setidaknya, “Datang untuk dimainkan, hilang untuk ditemukan” lebih enak didengar ketimbang “Datang gendong, pulang bopong”. Hebatnya, mantra itu segera dimodifikasi lagi oleh Nina Kozok, menjadi “Datang untuk dimainkan, please help me find something”. Terima kasih Tusuk Lubang, saya yang amatir soal ilmu perdemitan ini jadi tahu bahwasanya hantu sekarang sudah mengikuti tren multilingualisme.

Tusuk Lubang nantinya berpuncak pada usaha Arik bersama kekasihnya, Mayang (Anya Geraldine), menyeamatkan Sisi yang terperangkap di alam gaib. Saya suka melihat Rayn dan Anya berakting di satu layar. Keduanya sungguh pemberani. Lihat saja, ketika ada hantu kain terbang, ekspresi mereka datar-datar saja, seolah itu hanya kain kiloan biasa yang dijual di Mayestik.

Apakah Tusuk Lubang menyeramkan? Tentu tidak. Ingat, ini sajian inovatif, horor pendobrak batas yannng tujuannya bukan lagi menakut-nakuti penonton, namun memancing tawa. Erwin paham betul tujuan itu, lalu memilih sudut-sudut kamera yang sama sekali tidak menstimulus rasa takut. Sungguh jeli sutradara kita ini! Bahkan hingga akhir, Tusuk Lubang masih sempat mengutarakan pesan soal penghematan air. Pesan seperti apa? Saksikan saja sendiri, tapi hati-hati. Menonton film ini memberi sensasi seolah lubang anda sedang ditusuk-tusuk.

JCW 2018 - THE CRIMES THAT BIND (2018)

Saya belum pernah membaca satu pun seri novel misteri Kyoichiro Kaga karya Keigo Higashino, yang merupakan sumber adaptasi bagi film ini serta dua film televisi, serial satu musim berjumlah 10 episode, dan satu film layar lebar lain berjudul The Wings of the Kirin (2012). Tapi sejak kecil saya gemar membaca manga bertema detektif, khususnya The Kindaichi Case Files alias Detektif Kindaichi. Dan The Crimes That Bind memunculkan lagi ketegangan dan perasaan bersemangat seperti saat membaca karya-karya kolaborasi Yozaburo Kanari dan Fumiyo Sato dahulu.

Ada puzzle rumit berdaya tarik tinggi, pembunuh dengan masa lalu tragis yang kemungkinan bakal menarik simpati penonton, dan terpenting, berbeda dibanding jajaran kompatriotnya dari Barat, Katsuo Fukuzawa (I Want to Be a Shellfish) selaku sutradara, tahu cara menjadikan tiap pengungkapan dan kejutan tampil dramatis, bahkan saat penonton sudah bisa meraba beberapa bagiannya.

Filmnya dibuka oleh cerita mengenai wanita misterius bernama Yuriko Tajima (Ran Itô), yang meninggalkan rumah tanpa alasan jelas untuk tinggal sendirian di dekat laut dan bekerja di sebuah bar. Suatu hari ia meninggal akibat gagal jantung. Sang putera, Kyoichiro Kaga (Hiroshi Abe), yang tak selama ini tak tahu keberadaan sang ibu pun datang, kemudian memutuskan mencari seorang pria yang sempat menjalin asmara bersama Yuriko sebelum kematiannnya. Kyoichiro ingin tahu apa yang terpendam dalam hati mendiang ibunya, termasuk alasannya kabur dari rumah.

Enam belas tahun berselang, ditemukan mayat wanita di kamar seorang pria. Tubuh wanita itu telah membusuk karena dibiarkan teronggok selama 20 hari. Detektif yang ditugaskan mengusut kasus tersebut, Yuhei Matsumiya (Junpei Mizobata), curiga akan adanya keterkaitan dengan kematian seorang pria yang tewas dicekik lalu dibakar (wanita itu juga tewas dicekik). Sewaktu Yuhei meminta bantuan Kyoichiro, terungkap bahwa dua misteri yang terpisah selama lebih dari satu dekade rupanya saling terikat.

Laju awal The Crimes That Bind sebenarnya kurang mulus. Pilihan gaya berupa pemakaian tulisan guna mendeskripsikan situasi alih-alih menuturkannya lewat penceritaan layak, meski membantu menyederhanakan misteri sekaligus mempersingkat durasi, juga terasa mengganggu. Apalagi bantuan yang diberikan tak seberapa besar karena penuturan investigasinya sendiri amat terbata-bata di awal. Presentasi terhadap beberapa fakta dilakukan secara kurang jelas, sehingga babak pertamanya memaksa penonton memeras otak lebih keras dari seharusnya.

Beruntung, pelan-pelan, pijakan berhasil ditemukan. Investigasi semakin memikat sewaktu cara bercerita dari naskah karya Lee Jeong-mi pun semakin rapi. Tidak lupa pula Jeong-mi menebar twist mengejutkan di beberapa bagian. Saya pun merasa lebih terfasilitasi dan terdorong untuk terlibat memecahkan kasus, khususnya berkat banyaknya variasi teka-teki yang naskahnya miliki. Dari mencari identitas, mengamati setumpuk foto, tulisan selaku pesan kematian, dan banyak lagi. “Repetisi” tidak ada dalam kamus film ini.

Serupa banyak film detektif, third act yang bertindak selaku pengungkapan fakta, bergulir terlampau panjang. Tapi dalam konteks film ini, masalah itu bisa dimaafkan, karena ketimbang penjelasan fakta berbelit, klimaksnya dipakai menggali kisah emosional mengenai masa lalu si pelaku. Pemotongan sekitar tiga menit (cukup panjang di dunia film) takkan berakibat buruk, namun besarnya dampak rasa yang dihasilkan adalah bayaran yang setimpal. The Crimes That Bind merupakan kombinasi menghibur antara penelusuran misteri berdaya cengkeram tinggi dengan elemen drama keluarga menyentuh hati.

JCW 2018 - COLOR ME TRUE (2018)

Apalah cinta kalau tidak saling mewarnai hidup sepasang manusia? Dalam Color Me True a.k.a. Tonight, at the Movies, tokoh Puteri fiktif dari film hitam-putih lawas yang terlupakan, tiba-tiba keluar dari layar. Tapi bukan menyeberang ke dunia nyata yang memberinya warna, melainkan pertemuan dengan sineas muda yang tiap hari, seorang diri, mendatangi bioskop demi melihat si gadis impian yang takkan mampu dia jangkau.....setidaknya hingga keajaiban datang.

Pemuda itu bernama Kenji (Kentaro Sakaguchi), yang berprofesi sebagai asisten sutradara. Artinya, ia dituntut berlarian ke sana-kemari mengerjakan tugas, dari melukis properti layar, sampai melayani megabintang Ryunosuke Shundo (Kazuki Kitamura dalam performa komikal menghibur) yang menyebut dirinya sendiri “Pria Tampan”. Bagi Kenji, kemunculan Puteri Miyuki (Haruka Ayase) turut mewarnai kehidupan membosankan miliknya, walau menariknya, di awal pertemuan, Miyuki dengan polah antiknya justru merepotkan Kenji. Tapi seiring proses saling mengenal dan memahami, Miyuki justru menginspirasi naskah film perdana Kenji, sebab cinta memang sumber inspirasi terbesar, termurni, dan terjujur.

Kita semua menyimpan mimpi serupa Kenji, di mana sosok pujaan (fiktif atau bintang dunia nyata), secara ajaib muncul di samping kita. Color Me True bukan film pertama yang mengusung konsep tersebut, bukan juga yang terbaik dalam hal eksekusi elemen fantasinya. Setelah Miyuki mewarnai tubuhnya dengan riasan dan pakaian, sejatinya film ini tak ubahnya romansa bernuansa “head over heels biasa. Miyuki memanggil Kenji “pelayan”, dan sang pemuda menuruti segala keinginan sang Puteri.

Color Me True diawali sebagai ode bagi sinema, dengan narasi mengenai tendensi dilupakannya film-film lama, yang teronggok di dalam lemari berdebu, atau lebih buruk, hilang. Protagonisnya adalah seseorang yang mencintai film namun begitu jarang kita mendengar ia bicara soal film. Pun Color Me True menghabiskan banyak durasi di studio film namun urung menunjukkan sihir pembuatan film, padahal Miyuki meminta Kenji membawanya ke sana untuk melihat bagaimana dunia tempat tinggalnya dibuat.

Ya, meninjau eksplorasi konsep, Color Me True belum menawarkan pendekatan baru, meski sulit ditampak, efektivitasnya sebagai hiburan cukup tinggi. Komedinya bekerja dengan baik, sementara interaksi kedua tokoh utamanya mudah memancing senyum. Bukan kejutan tatkala pertemuan seorang Puteri yang bertindak semaunya, memukul semuanya yang ia anggap tidak sopan dengan pria pemalu yang selalu meragu menghasilkan beragam pemandangan lucu.

Kentaro Sakaguchi melakoni perannya dengan apik, lewat gestur canggung dan senyum penuh kepolosan, membuat sosoknya bisa dipercaya sebagai pemuda naif. Sedangkan Haruka Ayase memancarkan pesona bintang film masa lalu yang bersinar teranng dalam tiap kemunculannya di layar. Berhiaskan puluhan baju elegan beraneka warna dan gaya, Haruka nampak seperti reinkarnasi Audrey Hepburn.

Color Me True bisa saja berakhir menjadi romansa biasa, yang solid namun jauh dari kesan spesial, kalau bukan karena 30 menit terakhirnya: parade momen mengharukan yang enggan memberi penonton waktu mengatur napas maupun menahan banjir air mata. Ketika anda kira sebuah momen sudah cukup emosional, momen lain yang lebih menyesakkan segera menyusul. Terus demikian hingga shot penutup.

Film ini mengesampingkan pendekatan subtil demi gaya melodramatik, yang untungnya berhasil mencapai tujuannya terkait olah rasa. Sutradara Hideki Takeuchi (Thermae Romae) dan penulis naskah, Keisuke Uyama, tahu apa yang membuat penonton terisak serta bagaimana memaksimalkannya. Entah melalui dialog bertaburan kalimat manis nan memorable, atau sentuhan kecil semisal penempatan fokus kamera pada senyum simpul karakternya. Scoring bergaya orkestra megah gubahan Norihito Sumitomo (Whiteout, Dragon Ball Z: Resurrection ‘F’) yang setia mengiringi tiap situasi, terdengar layaknya musik yang mengalun dalam hati kala kita berlinang air mata karena cinta. Sejak La La Land, belum pernah saya menangis sekeras ini, hingga dada dan tenggorokan terasa sakit. Such a beautiful love story!

WIDOWS (2018)

Steve McQueen (Shame, 12 Years a Slave) melakukan apa yang kebanyakan sutradara takkan berani lakukan. Dia memasang Liam Neeson dan Jon Bernthal—dua aktor yang identik dengan machismo—dalam jajaran pemain, memberi keduanya peran singkat untuk mengakomodasi terciptanya suguhan bertema women’s empowerment. Di balik konsep heist-nya, Widows yang diadaptasi dari serial televisi Inggris berjudul sama (1983-1985) pun bertaburan ragam topik kompleks seperti seksisme, politik korup, hingga rasisme.

Empat wanita—Veronica (Viola Davis), Linda (Michelle Rodriguez), Alice (Elizabeth Debicki), Amanda (Carrie Coon)—tengah berduka akibat kematian suami masing-masing pasca kegagalan sebuah aksi perampokan yang dipimpin Harry (Liam Neeson). Seolah belum cukup, masalah lain silih berganti hadir, salah satunya tuntutan Jamal (Brian Tyree Henry), bos mafia korban perampokan Harry dan kawan-kawan, kepada Veronica agar mengembalikan uang curian itu, yang akan dipakai berkampanye guna menumbangkan pesaingnya, Jack (Colin Farrell).

Menulis naskahnya bersama Gillian Flynn (Gone Girl), McQueen memaparkan realita pahit para janda yang acap kali dipandang lemah tak berdaya setelah ditinggal sosok lelaki pendamping. Stigma negatif itulah yang coba diruntuhkan Widows, di mana para janda dipaksa menanggung dosa mendiang suami mereka. “Sudah mati saja masih merepotkan”. Mungkin demikian kalimat kasarnya. Tapi dari situlah wanita-wanita film ini menemukan jalan pembuktian diri.

Widows merupakan proses membuktikan kemandirian dan lepas dari bayang-bayang pria.Veronica diancam Jamal, Linda kehilangan toko akibat hutang judi suaminya, tapi kisah paling mengikat datang dari Alice. Merupakan korban KDRT, ketergantungan akan suami menyulitkannya menemukan pijakan sendiri. Bahkan sang ibu (Jacki Weaver) memaksanya mengeruk uang para pria kaya demi kelangsungan hidup, karena menurutnya, wanita tak semestinya independen dan mesti mengandalkan sokongan pria.

Sebagai pemilik reputasi tertinggi, wajar bila Viola Davis menonjol. Kepiawaiannya mengolah rasa akan mengisi banyak perbincangan soal musim ajang penghargaan. Tapi tak semestinya kita melupakan Elizabeth Debicki. Performa Debicki kuat namun subtil, di mana tanpa banyak letupan, ia memperlihatkan transformasi mengagumkan seorang wanita gamang yang pelan-pelan lelah diperlakukan bagai sampah. Prosesnya dipaparkan detail (penderitaan, pemicu perubahan, rintangan), sehingga saat tiba di garis akhir, yang saya rasakan adalah kepuasan.

Walau bertabur kritik sosial (termasuk mengenai kekerasan beraroma rasisme oleh aparat yang meski singkat namun memberi dampak hebat), McQueen tetap sadar bahwa ia sedang membuat film heist. Elemen heist sendiri mulai dikedepankan setelah Veronica mengajak para janda lain meneruskan pekerjaan suami mereka yang belum tuntas, yakni merampok uang senilai $5 juta. Di tengah memanasnya iklim politik kala dua nama berebut kuasa, siapa sangka para wanita yang dikira tak punya daya setelah menjanda berencana merampas harta?

Total terdapat dua perampokan: Opening dan klimaks. Sejak adegan pembuka, McQueen, yang dikenal sebagai sutrdara drama, langsung membuktikan kapasitas mengemas heist selaku hiburan popcorn. Ketegangan berhasil dibawa ke puncak, terlebih tiap kali rencana karakternya menemui rintangan kemudian terjadi hal mengejutkan. McQueen paham timing yang tepat untuk menyentak penontonnya.

Dibantu sang sinematografer langganan, Sean Bobbitt, McQueen menerapkan pergerakan kamera yang akan menyerap kita ke dalam situasi di layar, termasuk sebuah momen kala kamera itu bergerak melingkari Daniel Kaluuya, yang tampil amat intimidatif memerankan Jatemme, adik sekaligus kaki tangan Jamal, yang juga berperan sebagai eksekutor berdarah dingin.

Satu-satunya ganjalan hanya, walau tersaji intens, aksi perampokannya bergulir terlalu mudah. Ya, McQueen memang tidak bertujuan menyajikan perampokan bergaya nan over-the-top serupa seri Ocean’s, namun setelah penantian dan perencanaan panjang, penonton (serta jajaran tokohnya) pantas mendapatkan lebih banyak porsi heist. Tapi anda akan melupakan kelemahannya setiap Widows memamerkan kekuatannya, termasuk last shot emosional yang menggambarkan bagaimana para janda itu memiliki satu sama lain.

JCW 2018 - SHOPLIFTERS (2018)

Melalui Shoplifters, sutradara/penulis naskah Hirokazu Kore-eda (Our Little Sister, After the Storm) mengobrak-abrik tatanan konsep keluarga ideal yang dianut mayoritas masyarakat. Makna keluarga digugat lewat pertanyaan “What makes a family?”. Apakah hubungan darah merupakan keharusan? Apakah karena mengandungnya, seorang wanita otomatis menjadi ibu terbaik bagi sang anak? Apakah sebuah keluarga yang memenuhi kebutuhan dengan mengutil pantas disebut ideal?

Menurut Kore-eda, semua hanya soal perspektif, dan Shoplifters mengajak kita mengintip nilai kekeluargaan dari sudut pandang lain guna memancing perenungan. Coba tengok jajaran karakternya. Osamu Shibata (Lily Franky) selalu mengajak puteranya, Shota (Kairi Jō), mencuri makanan hingga alat mandi di supermarket. Istrinya, Nobuyo (Sakura Ando), bekerja di tempat laundry dan kerap mengambil benda di saku cucian. Hatsue (Kirin Kiki) si nenek yang rutin menerima pensiunan mendiang suaminya pun sesekali terjun di aksi pencurian. Turut tinggal bersama mereka adalah pula gadis muda bernama Aki (Mayu Matsuoka) yang berprofesi sebagai stripper.

Suatu hari, Osamu membawa pulang Yuri (Miyu Sasaki), setelah merasa iba melihat bocah itu ditelantarkan kedua orang tuanya di luar rumah. Keluarga ini pun dengan senang hati merawat Yuri, sambil sesekali mengajarinya satu-dua trik mengambil barang. Melihatnya dari kacamata moral maupun hukum, semuanya nampak keliru. Osamu sekeluarga merupakan pencuri yang mengajari bocah cilik bertindak kriminal. Pun bakal lebih mudah bagi orang-orang melihat Yuri selaku korban penculikan.

Keluarga Shibata bukan lingkungan layak bagi tumbuh kembang Yuri. Tapi benarkah? Kore-eda bermain-main dengan perspektif, namun sebagaimana ia usil menyentil sistem pendidikan lewat pernyataan “School is for kids who can’t study at home”, Shoplifters dikemas dalam kejenakaan. Kriminalitas yang dipicu kemiskinan bukan ditampilkan sebagai perwujudan amarah atau luapan balas dendam pada ketidakadilan hidup. Interaksi antara anggota keluarga tampil hangat, sesekali memancing tawa melalui celotehan (penulisan dialognya luar biasa), bahkan saat ditimpa musibah pun, karakternya masih sempat bercanda ria.

Kore-eda membuat saya betah berlama-lama singgah di kediaman keluarga Shibata, walau serupa kebanyakan karya sang sutradara, Shoplifters sejatinya tak memiliki bentuk alur konservatif di mana satu konflik besar menggerakkan arah cerita. Film ini ibarat rekaman keseharian karakternya yang dijahit oleh ketelatenan Kore-eda bermain tempo serta dinamika. Menganut gaya realisme, sang sutradara mampu menghadirkan dramatisasi tanpa memaksa penonton “merasakan”. Bahkan bisa jadi anda tidak sadar Kore-eda sedang memantik emosi anda lewat permainan sudut kamera dan timing.

Salah satu triknya adalah menempatkan sudut pandang pada saksi. Apabila suatu peristiwa besar terjadi, guna menstimulus emosi, Kore-eda lebih seiring membawa kita melihat respon orang yang menyaksikannya, sambil tetap menceritakan apa yang terjadi. Baginya, hal terpenting bukan kejadian di luar, namun dalam hati karakter. Itulah mengapa ia kerap mendadak mengakhiri adegan di tengah pembicaraan. Kore-eda tak berniat menangkap obrolannya, tapi apa yang seorang individu rasakan terhadap diri sendiri dan/atau individu lain.

Shoplifters bergerak lembut, hingga anda mungkin tak menyadari bahwa ini adalah misteri yang sedang menyamar. Bahkan film ini bisa saja menjadi thriller, kala seiring waktu, rahasia-rahasia gelap nan mengejutkan seputar tokoh-tokohnya diungkap. Terkadang, pengungkapan terjadi lewat obrolan kasual seolah itu bukan persoalan penting.

Kemudian babak ketiganya berubah haluan, sewaktu tatanan moralitas ideal coba mengonfrontasi perspektif alternatif yang ditawarkan filmnya, sambil menunjukkan sisi kelam dari absolutisme dalam nilai sosial kita, yang cenderung memaksa semua pihak tunduk pada “kebaikan tunggal”. Pada akhirnya, Shoplifters bukan sebuah usaha menjustifikasi kriminalitas, melainkan observasi mengenai kecacatan yang selalu ada tidak peduli seberapa harmonis suatu keluarga.

Semua aktornya, dari mendiang Kirin Kiki hingga si aktris cilik Miyu Sasaki, memberikan akting subtil mengesankan, walau penampilan Sakura Ando adalah yang paling mencengkeram. Pada satu adegan non-verbal, Kore-eda meletakkan kamera tepat di depan Ando, tak sedikitpun digerakkan, membiarkannya menangkap seluruh luapan rasa sang aktris, sementara saya duduk diam. Tidak menangis atau tercengang, tapi seluruh bulu kuduk di tubuh saya berdiri serentak. That was the most poweful acting I’ve seen this year.

MORTAL ENGINES (2018)

Jika tujuan anda datang menyaksikan Mortal Engines adalah untuk melihat perwujudan keunikan konsep dunia post-apocalyptic kaya yang dijanjikan, anda akan pulang tanpa membawa apa pun. Tapi jika eskapisme jadi satu-satunya yang dicari, maka adaptasi novel berjudul sama karya Philip Reeve ini bakal mudah menyunggingkan senyum. Setelah berulangkali mendampingi Peter Jackson, Christian Rivers rupanya sudah mewarisi insting sang mentor perihal blockbuster filmmaking.

Filmnya bertempat pada masa pasca “Sixty Minute War” yang menghancurkan peradaban, di mana kota-kota, dengan London sebagai pusat, berevolusi menjadi lingkungan portabel, yang berpindah-pindah dan saling memangsa guna memenuhi kebutuhan sumber daya. Tapi Mortal Engines tidak tertarik menjabarkan detail etnografis. Sedari awal, menu utamanya adalah aksi saling mangsa kota-kota beroda, ketika London di bawah komando Thaddeus Valentine (Hugo Weaving) mengejar kota tambang kecil tempat protagonis kita, Hester Shaw (Hera Hilmar) menetap.

Rivers sanggup membuat perburuan tersebut tampak masif, bombastis, bak dua monster raksasa bertukar serangan. Tapi pertanyaan-pertanyaan macam “Apakah wujud nomaden itu dipakai semua atau hanya sebagian kota?” atau “Bagaimana kondisi kehidupan sosial-masyarakat di dalamnya?”, urung dijawab. Penonton hanya tahu bahwa era kita disebut “Screen Age” karena ketergantungan manusianya pada teknologi layar dengan Minions menjadi dewa. Semua itu sebatas sentuhan komedi, bukan usaha eksplorasi.

Padahal, dalam cerita yang khusus menciptakan konsep dunia baru yang memodifikasi realita, eksplorasi itu bersifat vital. Sangat disayangkan, sebab desain produksinya telah memberi dukungan maksimal lewat keberagaman desain kota sampai deretan bentuk pesawat tempur yang mengambil inspirasi dari tampilan pesawat masa lalu. Intinya, Mortal Engines dihiasi elemen visual menarik.

Pun Mortal Engines turut memperhatikan penokohan dua protagonis. Tom (Robert Sheehan) adalah sejarawan muda naif yang belum terpapar dunia luar, apalagi sejak terpaksa mengubur mimpi menjadi penerbang. Sedangkan Hester adalah gadis yang terluka (fisik dan mental) setelah menyaksikan Thaddeus menghabisi sang ibu tepat di depan matanya. Luka itu demikian menyakitkan, membuat Hester ingin menghapus perasaannya.

Bisa ditebak, romansa dipaksakan terjadi di antara Tom dan Hester, namun tak sampai mengurangi daya tarik mereka, terlebih berkat kemampuan Hera Hilmar menyeimbangkan ketangguhan dengan kerapuhan. Karakterisasi solid itu bukan berhenti di protagonisnya saja. Ya, Thaddeus sang antagonis utama memang sosok megalomania standar yang bersembunyi di balik topeng pemimpin sekaligus ayah penyayang, namun Shrike (Stephen Lang), si mantan anggota batalion mayat hidup selaku antagonis sekunder diberi lebih banyak dimensi serta hati. Motivasinya personal, dengan latar belakang tragis yang turut disertakan.

Tapi bentuk terbaik film ini memang tatkala fokusnya sebatas memberi hiburan. Rivers mampu menghadirkan pacing lincah, menggerakkan filmnya secara cepat, dinamis, tanpa harus berantakan. Sedangkan naskah buatan Peter Jackson bersama dua penulis langganannya, Fran Walsh dan Philippa Boyens, meski lemah soal pembangungan dunia rupanya solid dalam hal mengikat atensi lewat jalinan alur yang tak menyisakan kekosongan, di mana karakternya selalu punya hal (penting) untuk dilakukan.

Sebagai sutradara, Rivers mungkin belum berada di level setara Jackson perkara merangkai gelaran laga bombastis berskala besar, tapi ia telah menguasai teknik membangun intensitas menjelang sekuen aksi. Tambahkan musik epic buatan Junkie XL (Deadpool, Batman v Superman: Dawn of Justice), kita pun memperoleh spectacle menghibur, yang meski jauh dari sempurna, meninggalkan beberapa potensi kisah menarik untuk digali lebih lanjut dalam sekuel.