REVIEW - PERSEPSI

Menonton Persepsi sama halnya anda mencoba menjawab pertanyaan, "Klub basket apa yang jadi favorit saya?". Lalu setelah melakukan pencarian lewat proses yang rumit, saya berkata, "Jawabannya adalah, TIDAK ADA. Karena saya tidak suka basket. BAM! Mindblowing kan?". 

Pasti anda kesal karena merasa dibohongi. Begitulah Persepsi, yang jadi debut Renaldo Samsara selaku sutradara (sebelumnya menulis naskah I Am Hope dan Cinta itu Buta). Naskah turut ditulis olehnya, bersama Matthew Hart yang merangkap co-director. Naskah yang ambisius, pretensius, kacau, dangkal, pula ditutup dengan twist curang, yang membuat segala hal yang muncul sebelumnya terasa percuma. 

Pertama kita diperkenalkan kepada Rufus Black (Arifin Putra) si ilusionis ternama, yang berniat membuat reality show berhadiah satu juta dollar, di mana empat peserta ditantang tinggal selama lima hari, di rumah sang ilusionis yang berada di pulau terpencil. Bukan rumah biasa, melainkan bekas terjadinya pembunuhan sadis. Konon beberapa penyewa cuma kuat bertahan beberapa hari. 

Paragraf di atas merupakan deskripsi alur sederhana, bahkan klise, yang dapat dengan mudah disampaikan oleh film horor buruk sekalipun. Tapi hal sederhana itu bahkan gagal dilakukan oleh Persepsi, yang akibat narasi berlubang-lubang, menyulitkan penonton memperoleh pemahaman, bahkan soal poin-poin mendasar. Padahal durasinya cuma 52 menit. Sedikit tambahan eksposisi takkan melukai filmnya (bahkan bisa memperbaiki). 

Alur bergerak cepat. Terlalu cepat malah, seperti motor peserta balapan liar yang akhirnya kehilangan kendali. Mendadak kita diperkenalkan pada keempat peserta: Laila (Hannah Al Rashid), Michael (Nino Fernandez), Lingga (Irwansyah), dan Andrea (Nadine Alexandra). Empat individu dengan penokohan nyaris kosong. 

Michael adalah ayah tunggal yang butuh uang untuk biaya pengobatan anaknya, Lingga memiliki restoran, Laila seorang pengacara, sementara Andrea ikut serta bukan karena uang, tetapi.....entahlah, cuma itu karakteristik yang naskahnya berikan. Sifat mereka kurang lebih sama, kecuali Lingga yang kerap bersikap brengsek. Apakah inkonsistensi Michael yang kadang menyebut dirinya "aku", kadang "saya", bahkan dalam satu kalimat, juga terhitung karakteristik? 

Apakah mereka asing terhadap satu sama lain? Sepertinya begitu. Tapi bagaimana Lingga tahu anak Michael tengah dirawat di rumah sakit, kalau penjelasan tentang itu tidak ada sebelumnya? Entah ada banyak bagian yang dipangkas, atau memang para pembuatnya tidak memedulikan kelayakan bercerita. Renaldo Samsara dan Matthew Hart bak hanya mengincar gaya, sebab begitu tiba di lokasi, anda akan langsung menyadari bahwa hampir 100% filmnya dikemas memakai sudut pandang orang pertama, kecuali di beberapa bagian flashback (we'll get into this flashback later).

Bukan seperti mockumentary standar, karena perspektif bukan berasal dari kamera yang dibawa karakter, melainkan mata karakter itu sendiri, pun rutin berpindah dari satu orang ke orang lain. Sebenarnya pilihan teknis ini bisa berdampak signifikan (baca: bukan gaya-gayaan semata). Sudut pandang orang pertama dapat memberi kesan immersive, dan adanya empat sudut pandang, memungkinkan tercapainya kesadaran akan dimensi ruang secara menyeluruh. 

Sayang, semuanya berhenti di ranah potensi. Ada beragam bentuk teror, dari jump scare khas horor mistis, hingga gore. Kengerian gagal ditemukan akibat kekacauan. Kekacauan dalam hal apa? Nyaris segalanya. Pilihan shot yang kurang mendukung, timing perpindahan perspektif yang tidak tepat, penyuntingan membingungkan, sampai penceritaan. Bagaimana mungkin merasakan kengerian bila penonton kesulitan memahami apa yang sedang mengancam karakternya? Bukan, ini bukan penerapan prinsip "the scariest thing is the unknown", melainkan sebatas penuturan kacau. 

Alurnya nonlinear, terus berpindah dari masa kini ke masa lalu kala tragedi menimpa keluarga Lewis Ford (Cornelio Sunny). Seperti terdapat niat membangun koneksi antar kedua linimasa, namun lagi-lagi, penceritaannya terlalu berantakan untuk bisa dinikmati. Pun sekali lagi, amat buru-buru. Di penghujung hari kedua, salah satu peserta memilih berhenti. Tibalah adegan perpisahan, yang didesain guna memancing kesedihan penonton, tapi rasa tersebut tak pernah muncul, sebab mengenal karakternya saja tidak, apalagi peduli. Hari ketiga dan keempat berlalu begitu saja. 

Kemudian sampailah kita di konklusi yang dilengkapi twist sebagaimana sudah saya sebutkan. Twist yang jadi puncak dari segala kecurangan twist mana pun. Twist yang membuat keseluruhan filmnya tidak berguna, termasuk upaya eksplorasi kisahnya perihal persepsi. Twist yang mematikan segala potensi filmnya. Karena apabila kelemahan-kelemahannya diperbaiki pun, menjadi percuma gara-gara twist ini. Twist yang memantapkan status Persepsi sebagai salah satu film terburuk tahun ini. Oh, dan jika anda membaca tentang banyaknya bintang mengisi film ini (Nirina Zubir, Samuel Rizal, Acha Septriassa, dll.), entah di artikel, media sosial, IMDb, atau di halaman Bioskop Online, ketahuilah bahwa mayoritas cuma muncul beberapa detik di akhir sebagai cameo. 


Available on BIOSKOP ONLINE

REVIEW - F9

Kita sudah terlatih untuk berharap bahwa di tiap sekuelnya, seri Fast & Furious akan tampil lebih bombastis, lebih gila, lebih tidak masuk akal. Di The Fate of the Furious (2017), F. Gary Gray melawan kemustahilan, dengan membawa Dominic Toretto (Vin Diesel) dan tim menghadapi pasukan "zombie mobil", kemudian kapal selam. Penggemar pun berandai-andai, kapan bakal diajak pergi ke luar angkasa. Karena di titik ini, rasanya cuma itu cara meningkatkan skala. Memasuki film kesembilan, harapan tersebut dipenuhi. 

Gagasan membawa Fast & Furious ke luar angkasa sudah didengungkan selepas Furious 7 enam tahun lalu. Dan tanpanya, baik film kedelapan maupun Hobbs & Shaw selaku spin-off, masih sanggup membelalakkan mata. Artinya, terpenting bukan cuma "seberapa mustahil", namun bagaimana kemustahilan itu dikemas. 

Apa yang muncul di F9 sejatinya cukup gila. Film mana lagi berani menampilkan Pontiac Fiero melayang di angkasa? Tapi sekali lagi, kita sudah terlatih untuk mengharapkan kegilaan di titik tertinggi. Sewaktu adegan luar angkasa tadi tampil bak selipan humor belaka, yang lebih mirip parodi dalam sebuah iklan atau sketsa (walau tetap ada ledakan dan semacam aksi kebut-kebutan), yang muncul adalah kekecewaan. Fast & Furious seperti telah kehabisan ide, lalu membuat film terbaru berdasarkan tebakan mengenai apa saja yang penggemar harapkan. 

Apa lagi yang penggemar harapkan selain luar angkasa? Tentu saja kebangkitan Han (Sung Kang) dari kubur. Kampanye "Justice for Han" dijadikan salah satu energi penggerak marketing filmnya. Han memang kembali, dan Sung Kang masih sekeren dulu, tapi bila menginginkan keadilan baginya, bersiaplah kecewa. Penjelasan bagaimana ia bertahan hidup menunjukkan kemalasan naskah buatan Daniel Casey dan Justin Lin (Chris Morgan absen sebagai penulis untuk pertama kali sejak 2 Fast 2 Furious, demi mengerjakan Hobbs & Shaw), untuk memberi alasan layak tanpa perlu terdengar masuk akal. Han pun tak diberi waktu bersinar dalam deretan aksi, dan jika menanti keadilan terkait kematiannya di tangan Deckard Shaw (Jason Statham), silahkan bersabar sampai film kesepuluh (credits scene-nya menjanjikan itu).

Tapi bukan Han saja yang kembali. Sekali lagi, pembuatnya menduga penonton menyukai reuni, saat wajah-wajah lama muncul lagi, meski cuma sebatas glorified cameo. Alhasil F9 tampil bak sekumpulan reuni, yang diperpanjang jadi bermenit-menit adegan, kemudian disatukan sebagai film berdurasi 145 menit. Bagaimana bisa demikian? Mari bahas dulu alurnya. 

Adegan pembuka menampilkan flashback kala Dom muda (Vinnie Bennett) melihat kematian sang ayah di lintasan balap. Justin Lin, yang duduk di kursi sutradara seri ini untuk kali kelima (terakhir di Fast & Furious 6), mampu membuat sekuen intens nan bombastis, namun lebih "membumi" guna menguatkan nuansa tragis momen itu. Memori kala Fast & Furious masih murni soal balapan muncul lagi. Begitu pun di flashback lain, sewaktu Dom muda menantang sang adik, Jakob (Finn Cole), beradu dalam balapan liar. 

Ya, Dom ternyata memiliki adik. Setelah terpisah bertahun-tahun, Jakob (versi dewasa diperankan John Cena) muncul lagi di hadapan Dom, kali ini sebagai lawan. Seperti biasa, rencana si antagonis masih melibatkan peralatan canggih sebagai MacGuffin, yang mampu meretas apa pun. Ares namanya. Jakob berusaha mengumpulkan dua keping Ares, dan somehow Cipher (Charlize Theron) turut terlibat. Meski awalnya ragu karena telah memilih kehidupan damai, Dom akhirnya bersedia mengumpulkan timnya lagi, mengunjungi berbagai negara di dunia, untuk.....untuk apa?

London, Edinburgh, Köln, hingga Tokyo disambangi, sebab guna menghentikan Jakob, beberapa hal diperlukan, dan hal-hal tersebut cuma bisa didapat dengan mendatangi beberapa kenalan Dom yang tersebar di kota-kota tadi. Mayoritas adalah wajah lama yang muncul sebagai cameo atas nama nostalgia, termasuk Queenie, yang memberi Helen Mirren kesempatan unjuk gigi di tengah kebut-kebutan. Tapi secara keseluruhan, di luar dugaan, perjalanan keliling dunia ini minim aksi.

Setiap kota memiliki pertemuan, setiap pertemuan diperpanjang lewat obrolan-obrolan membosankan, sebelum penonton dibawa beralih ke kota berikutnya, guna menyaksikan obrolan lain, yang terkadang diselipi humor tidak lucu. Duet Roman (Tyrese Gibson) dan Tej (Ludacris) masih menggelitik, namun praktis cuma mereka berdua saja yang mampu mengubah humor kering naskahnya jadi tontonan renyah. 

Setiap aksi yang ditunggu akhirnya datang, Lin dan tim kentara sudah sekuat tenaga memeras otak, memikirkan kegilaan baru apa yang mesti ditampilkan. Tapi tanpa Chris Morgan, eksplorasinya terkesan stagnan. Beberapa masih memukau, sebutlah saat mobil Dom dan Letty (Michelle Rodriguez) berayun bak Spider-Man, ketika akhirnya Ramsey (Nathalie Emmanuel) akhirnya duduk di balik kemudi, mengendarai truk baja berisi alat elektromagnet yang sanggup menarik paksa sebuah mobil, atau momen singkat sewaktu Dom menggunakan cara ekstrim guna menangkap Jakob yang melayang di udara. 

Sisanya? Medioker. Merupakan pencapaian luar bisa bila dimunculkan di film lain, namun kembali lagi, kita sudah terlatih mengharapkan kegilaan di titik tertinggi dalam seri Fast & Furious. Meski rasanya mayoritas akan sepakat, bahwa potensi John Cena gagal dimanfaatkan. Jika dibandingkan Dwayne Johnson, debut Cena di franchise ini bak kekurangan suntikan testosteron. Bahkan sosoknya kalah badass dibanding debutan lain, yakni Elle (Anna Sawai), yang mencuri perhatian baik dalam hand-to-hand combat, maupun kala berdiri di belakang senapan mesin.

F9 merupakan film terlemah sejak.....entahlah, mungkin Fast & Furious (2009). Sulit mengingatnya, karena sejak Fast Five membawa seri ini ke arah baru satu dekade lalu, tiap installment selalu sukses menyajikan hiburan mengesankan. Setidaknya kali ini Dom tidak berkata "one last ride", dan menyadari bahwa sampai kapan pun ia takkan bisa meninggalkan kehidupan berbahaya ini. Well, minimal sampai film kesebelas selaku penutupnya dirilis (film kesepuluh masih dijadwalkan rilis tahun depan, namun jangan kecewa kalau akhirnya mundur).

REVIEW - IN THE HEIGHTS

Pagi di Washington Heights. Seorang pria beranjak dari tempat tidur, tersenyum, lalu menggumam, "This is the best day of my life", sebelum membuka bodega yang telah ia kelola selama bertahun-tahun, sebagai warisan mendiang sang ayah. Di tengah perjalanan, permen karet menempel di sepatunya. Sejenak ia kesal, tapi seketika nyanyian, tarian, dan senyumannya kembali. Begitu pun saat menyadari dirinya kehabisan susu akibat rusaknya pendingin. 

Satu demi satu pelanggan datang. Bukan cuma berbelanja, pula bercengkerama, bergunjing, membicarakan apa saja yang bisa dibicarakan. Kemudian kita diajak keluar, melihat aktivitas pagi hari seluruh warga, yang mayoritas merupakan keturunan imigran Puerto Rico. Kita melihat tiap sudut komplek, mengunjungi bisnis-bisnis yang dijalankan. Usnavi (Anthony Ramos) nama pemilik bodega tersebut. Dialah protagonis kita, namun In the Heights bukan semata tentangnya. Karena ini bukan kisah individu, melainkan komunal. 

Dan bukan kisah biasa. Para imigran kerap dipanggil "dreamers". Mereka memang pemimpi-pemimpi, yang hidup berlandaskan jiwa sueñitos (jika diterjemahkan secara harafiah berarti "mimpi kecil"). Digambarkan bahwa membeli lotere yang menjanjikan hadiah utama senilai 96 ribu dollar jadi bagian rutinitas. Jumlah yang dibeli tak seberapa. Gagal menang pun tidak masalah. Bukan wujud kemalasan, namun perlambang dari impian memperbaiki kehidupan yang tak pernah pupus, seburuk apa pun situasinya. Sebab In the Heights, meski mengangkat banyak perjuangan dan kesulitan, bukan film soal penderitaan. Sebaliknya, ini kisah mengenai mereka yang menganggap hidup adalah anugerah. Bahwa hidup, mimpi, dan cinta, patut dirayakan.

Usnavi punya mimpi pulang ke kampung halaman guna mengelola kembali bar pinggir pantai milik ayahnya. Satu lagi impiannya adalah berkencan dengan pegawai salon bernama Vanessa (Melissa Barrera), tapi ia tak punya cukup nyali untuk mengutarakan itu. Sementara Vanessa bercita-cita menjadi perancang busana, dan pindah ke apartemen yang lebih baik, di pusat kota. Sahabatnya, Nina (Leslie Grace), dielu-elukan sebagai kebanggaan warga, berkat keberhasilannya berkuliah di Stanford, meski sebuah ganjalan membuatnya risih atas puja-puji tersebut.

Masih banyak tokoh lain yang kita temui. Sonny (Gregory Diaz IV), sepupu Usnavi yang membantunya mengurus bodega; Benny (Corey Hawkins), sahabat Usnavi sekaligus mantan kekasih Nina; Claudia (Olga Merediz), yang tidak hanya merawat Usnavi sejak kecil, pula seisi komunitas. Ya, walau Usnavi merupakan sentral, naskah buatan Quiara Alegría Hudes, yang mengadaptasi pertunjukan musikal berjudul sama karyanya bersama Lin-Manuel Miranda, sejatinya menggali begitu banyak karakter, memberi semuanya kesempatan bersinar.

Hasilnya adalah 143 menit yang ramai, namun tertata dan terpusat, walau pengurangan durasi beberapa menit rasanya akan membantu. Pondasinya tetap soal kehidupan secara luas, dan kehidupan imigran Puerto Rico secara spesifik. Bagaimana selaku minoritas yang senantiasa dipersulit mereka selalu berusaha merayakan hidup, menggapai mimpi, dan tentunya, mencari definisi "rumah". Jawabannya standar. Home is people, not a place. Karena destinasi memang nomor dua. Paling utama adalah proses mencapai destinasi itu. Proses memahami definisi rumah sesungguhnya. 

Hitung mundur menuju blackout berkali-kali tampil di layar (dimulai dari H-3). Peristiwa blackout ini nantinya dipakai memunculkan metafora dari kata "powerless" (lagu Blackout), perihal imigran yang menolak memadamkan api kehidupan, biarpun terus dilucuti dayanya oleh para penguasa juga mayoritas. 

Pernah mengarahkan dua judul Step Up, termasuk Step Up 3D (2010) selaku installment terbaiknya, Chu jelas piawai menciptakan kemeriahan. Apalagi didukung Anthony Ramos yang gestur terkecilnya saja bak tarian, serta Melissa Barrera yang...well, simply breathtaking (khususnya di nomor The Club). Sedangkan deretan lagu gubahan Lin-Manuel Miranda mungkin bukan tipe yang bakal bisa dihafalkan dalam sekali dengar, tapi festivity, pula curahan perasaan yang jujur dan sesekali menggelitik (sangat Miranda!), memberinya kekuatan.

Tapi sekali lagi, In the Heights bukan sekadar meriah. Sensitivitas sang sutradara tampak betul di sini. Melalui pilihan shot yang menyokong rasa yang terkandung di tiap momen, Chu melahirkan keindahan. Dari keindahan romantisme kala senja menjadi latar romantika Nina dan Benny (lagu When the Sun Goes Down) yang seolah mengatakan bahwa gravitasi pun tak kuasa menahan kekuatan cinta, hingga keindahan di balik kesenduan, sebagaimana saat Nina meluapkan isi hatinya (lagu Breathe), juga nuansa magis sewaktu lilin-lilin menyala di tengah gelapnya malam tanpa lampu di Washington Heights (lagu Alabanza). 

In the Heights menunjukkan kekuatan sejati film musikal, di mana eksplorasi-eksplorasi mampu diwakili oleh lagu, sehingga penceritaan tradisional tidak diperlukan. Misalnya, tanpa perlu banyak melihat karakternya bertukar kata cinta, kita dapat memahami perasaan mereka. Keberhasilan mencapai hal tersebut, menjadikan In the Heights film musikal terbaik sejak La La Land mengaduk-aduk hati kita setengah dekade lalu. 

REVIEW - THE DAY I DIED: UNCLOSED CASE

Di sebuah desa terpencil kala badai menerjang, seorang gadis bernama Se-jin (Roh Jeong-eui) menghilang. Sepucuk surat ditemukan di kediamannya, sementara sepatu sang gadis tergeletak di tepi tebing. Seluruh temuan mengarah pada satu kesimpulan: Se-jin bunuh diri akibat tekanan mental. Semua pihak mewajarkan, sebab nasib remaja ini memang malang. Dia dibawa ke desa tersebut oleh polisi, karena Se-jin merupakan saksi kunci kasus penyelundupan besar yang dilakukan ayahnya. Tinggal sendirian di tempat asing sembari menanggung kesedihan tentu bukan hal gampang, apalagi untuk anak seusianya. 

Benarkah sesederhana itu? Kalau jawabannya "ya", tentu debut Park Ji-wan selaku sutradara sekaligus penulis naskah ini takkan dibuat. Tapi jangan terkecoh oleh sampulnya. The Day I Died: Unclosed Case memang menawarkan investigasi ala kisah misteri, namun ketimbang kasus itu sendiri, penekanan lebih diberikan pada korban. Korban yang bakal terlupakan begitu kasus ditutup. Korban yang hanya dianggap sebagai salah satu bagian kasus, bak benda tak bernyawa, alih-alih manusia yang dengan segala kerumitannya.

Lalu diperkenalkanlah kita pada tokoh utama. Kim Hyeon-soo (Kim Hye-soo), seorang polisi yang baru kembali dari masa rehat. Kondisi psikis Hyeon-soo tidak sedang baik-baik saja. Perceraian yang dipicu perselingkuhan suami, hingga tudingan tindak indisipliner terus menghantui. Sebelum resmi bertugas lagi, ia diminta menyelidiki kematian Se-jin. Bukan untuk menggali kebenaran maupun menemukan keberadaannya (baik masih hidup atau tidak), melainkan bentuk formalitas, agar kasus itu bisa segera ditutup.

Sebagai sajian misteri, The Day I Died: Unclosed Case masih menyimpan masalah mendasar, yakni membuat hal simpel jadi terkesan berbelit-belit. Misalnya nama-nama yang terus dilempar, tanpa memberi penonton kesempatan untuk mencerna, nama siapa yang dimaksud. Praktik itu biasa dipakai di film bertema investigasi, karena pada dasarnya, investigasi memang soal mengaitkan benang merah (yang acap kali kusut) di antara banyak individu. Cukup bisa dimaklumi. Kita dituntut memberi perhatian ekstra.

Lain halnya soal usaha Park Ji-wan menerapkan penceritaan bertempo cepat, dengan menolak berlama-lama di satu titik. Positifnya, alur tidak terasa draggy. Tetapi tanpa kerapian bertutur, kerumitan-kerumitan tidak perlu pun ikut hadir, termasuk dari buruknya penyuntingan. Beberapa kali muncul flashback, dan sering timbul kebingungan, apakah alur tengah berada di masa sekarang, atau sudah memasuki flashback. 

Tapi seperti telah disampaikan, The Day I Died: Unclosed Case menekankan pada studi karakter ketimbang kasus. Penyelidikan Hyeon-soo membawanya menemui saksi, detektif yang dahulu membantu Se-jin, hingga Sooncheon Daek (jika sebelumnya Lee Jung-eun meneror kita di Parasite, kali ini sebaliknya, ia mampu mencuri hati), perempuan bisu yang meminjamkan rumahnya untuk dihuni oleh Se-jin. Seiring proses, sang detektif mulai menyadari bahwa kondisinya dan Se-jin memiliki kemiripan. 

Dari situlah aspek drama film ini berasal, dan naskah Park Ji-wan menemukan kekuatannya. Paralel heartbreaking dihadirkan antara detektif dan si korban, membuat sang protagonis (serta penonton) mempertanyakan esensi penyelidikan polisi. Apakah arti sesungguhnya dari istilah "case closed"? Apakah saat secara resmi kasus dinyatakan usai? Apakah itu saja cukup? Jika belum, harus sejauh mana kebenaran dicari? 

Daripada "cuma" memecahkan kasus, Hyeon-soo lebih berusaha mengenal sosok Se-jin, yang justru makin mendekatkannya pada kebenaran. Kebenaran mengenai individu yang menderita, terluka, bahkan diasingkan, akibat kesalahan orang lain. Park Ji-wan menghadirkan perspektif berbeda (yang terasa hopeful walau nuansa filmnya kelam dan sesekali depresif) tentang penderitaan. Ketika seseorang menderita sampai di titik destruktif, belum tentu ia ingin mati. Mungkin justru itulah caranya bertahan hidup. Itulah caranya untuk mempertahankan "rasa", sebab kehilangan rasa sama saja dengan kematian.


Available on VIU

REVIEW - SWEET & SOUR

Belum menonton versi Jepangnya, yaitu Initiation Love (2015) yang merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Kurumi Inui, saya pun sempat mengira Sweet & Sour sebuah komedi romantis biasa. Mungkin bakal mengharukan bagi penonton dengan pengalaman serupa karakternya, namun hanya sampai di situ. Rupanya, film garapan sutradara Lee Gye-byeok (dahulu merupakan astrada Park Chan-wook di Oldboy) ini menawarkan lebih. 

First act-nya tampil bak perwujudan fantasi banyak pria, ketika Jang-hyuk (Lee Woo-je) mesti diopname akibat hepatitis. Suster bernama Jung Da-eun (Chae Soo-bin) bertugas merawatnya. Suster ini bukan cuma baik, pula menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada Jang-hyuk. Selalu menebar senyum, mengecup manis botol infus si pasien, bahkan tertidur pulas di samping ranjangnya. Terlibat romansa dengan suster cantik saat dirawat di rumah sakit. Rasanya hampir semua pria pernah mengimajinasikan hal itu.

Awalnya Jang-hyuk tidak percaya. Begitu pula teman-temannya. Sebab Jang-hyuk bukan tipe yang masuk kategori "menarik" bagi sebagian orang. Dia bukan pria tampan idola wanita, pun tubuh tambunnya membuat kepercayaan diri Jang-hyuk kerap ciut. Tapi seiring waktu, hubungan keduanya justru makin erat, hingga akhirnya resmi berpacaran selepas Jang-hyuk keluar dari rumah sakit. Woo-je dan Soo-bin melahirkan percintaan manis nan menggemaskan lewat chemistry mereka, dan saya pun berharap romantisme ini takkan pernah pupus.

Jang-hyuk adalah kekasih dengan segudang perhatian. Hal-hal seperti membuatkan makanan dan mengganti lampu di rumah Da-eun yang padam, bersedia dilakukan. Dia pun berjanji akan menguruskan badan, agar mereka bisa memakai kaos couple. Di sinilah terjadi titik balik. 

Alurnya melompat dan kini Jang-hyuk (Jang Ki-yong) tampak berhasil mewujudkan janji tersebut. Berat badannya menurun drastis, sementara karirnya melonjak. Dia ditugaskan bekerja sebagai karyawan kontrak sebuah perusahaan besar di Seoul. Muncul tantangan besar, karena berarti, Jang-hyuk harus setiap hari bolak-balik Incheon-Seoul (berjarak sekitar 27 km). Berangkat di pagi buta, melewati kemacetan luar biasa, lalu pulang larut malam selepas menjalani lembur demi lembur tak berujung. 

Dikuasai kelelahan ditambah kuantitas (dan kualitas) pertemuan yang menurun, romantisme Jang-hyuk dan Da-eun perlahan luntur. Apalagi di kantor barunya, Jang-hyuk bertemu Han Bo-yeong (Krystal Jung), sesama karyawan kontrak. Walau saling benci di awal, karena terus berinteraksi sebagai partner di berbagai proyek, benih cinta mulai tumbuh. Kesetiaan Jang-hyuk diuji. Seperti judulnya, inilah fase tatkala percintaan manis (sweet) berubah menjadi asam (sour) kala dihadapkan pada realita dunia nyata. 

Pastinya kesalahan ada pada Jang-hyuk, namun naskah yang ditulis sang sutradara bersama Sung Da-som, menjadikannya tidak sesederhana itu. Alasan kedekatan Jang-hyuk dan Bo-yeong dapat dimengerti. Keduanya sama-sama karyawan kontrak yang bak tidak dianggap oleh para karyawan tetap, sementara tuntutan pekerjaan memaksa mereka terus bersama. Penonton dibuat memahami tanpa harus membenarkan.

Apalagi chemistry Ki-yong dan Krystal nyaris menandingi kombinasi Woo-je dan Soo-bin di paruh pertama. Krystal menyempurnakan transformasinya, dari idol ke aktris layar kaca, dan sekarang menjadi aktris layar lebar bertalenta, setelah tahun lalu melakoni debut di More Than Family. Krystal dengan segala "keantikannya" adalah faktor utama keberhasilan bumbu komedi Sweet & Sour. 

Babak keduanya agak repetitif, namun setidaknya bukan tanpa alasan. Sebab di sinilah rutinitas melelahkan protagonisnya dipaparkan, walau harus diakui, presentasinya lebih panjang dari kebutuhan narasi. Beruntung ada poin lain yang coba disampaikan. Selain ujian terhadap cinta, serta sulitnya membagi sama rata antara pekerjaan dengan kehidupan personal, Sweet & Sour juga sebuah drama dunia kerja, yang tak ketinggalan membahas eksploitasi tenaga kerja, khususnya yang berstatus karyawan kontrak. Tidak seberapa mendalam, tapi cukup menambah variasi serta kompleksitas penceritaan. 

Saya yakin obrolan mengenai film ini bakal didominasi oleh satu elemen: twist. Twist mengejutkan dengan presentasi mengagumkan. Rapi, cerdik, tidak terkesan mencurangi penonton. Berbagai "tanda" sejatinya telah disebar, bahkan sejak menit-menit pertama lewat suatu petunjuk visual. Twist tersebut mengubah keseluruhan wajah filmnya, dari tontonan yang berpotensi dianggap problematik, menjadi empowering. Dari kisah seputar ujian kesetiaan, menjadi gambaran menyentuh tentang bagaimana hal-hal kecil bisa memperkuat atau menghancurkan suatu hubungan. Bagaimana kebaikan berlandaskan kasih sayang tulus merupakan kunci. 


Available on NETFLIX

REVIEW - THE CONJURING: THE DEVIL MADE ME DO IT

James Wan membuat Saw, yang akhirnya menjadi waralaba menguntungkan, meski tanpanya di kursi penyutradaraan, kualitas sekuelnya cenderung menurun. James Wan membuat Insidiousyang akhirnya menjadi waralaba menguntungkan, meski tanpanya di kursi penyutradaraan, kualitas sekuelnya cenderung menurun. Pasti anda sudah memahami polanya.

The Conjuring pun serupa. Deretan spin-off-nya (kecuali Annabelle: Creation yang brilian) gagal menyamai pencapaian dua installment seri utamanya, yang masuk di jajaran horor modern paling mengesankan. Tapi kini tiba waktunya Wan melepas ciptaannya (lagi). Michael Chaves (The Curse of La Llorona), sementara Wan sibuk menyiapkan Malignant (rilis bulan September), yang bisa saja mengawali lahirnya waralaba baru. Sejarah pun terulang lagi, sebagaimana paragraf pembuka tulisan ini.

Wan "cuma" mendapat kredit "story by", untuk naskah buatan David Leslie Johnson-McGoldrick (The Conjuring 2, Aquaman), yang kembali mengangkat salah satu pengalaman mistis Ed Warren (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga). Tepatnya pembunuhan yang dikenal sebagai kasus "Devil Made Me Do It" yang terjadi pada 1981, di mana sang tersangka, Arne Cheyenne Johnson (Ruairi O'Connor), mengaku berada di bawah kendali setan kala membunuh. Sejarah mencatat, itulah kali pertama di pengadilan Amerika Serikat, alasan "kerasukan setan" dipakai tersangka guna menyangkal segala tuduhan.

Di awal, kita mengetahui bahwa yang kerasukan adalah David (Julian Hilliard), adik dari kekasih Arne, Debbie (Sarah Catherine Hook). Ed dan Lorraine melakukan pengusiran setan, yang malah berujung kekacauan, tatkala setan berpindah ke tubuh Arne. Berikutnya seperti sudah ditulis di atas, Arne melakukan pembunuhan, menyangkal dengan alasan kerasukan, sedangkan Ed dan Lorraine menjalankan investigasi guna membuktikan eksistensi setan di pengadilan.

Meski filmnya tidak lebih banyak menerapkan unsur courtroom drama (proses pembuktian hal mistis di depan hakim dan juri terdengar menarik), naskah karya Johnson-McGoldrick masih punya cukup amunisi berupa penyelidikan suami-istri Warren, supaya 112 menit durasinya bukan sebatas kompilasi jump scare. The Conjuring: The Devil Made Me Do It benar-benar mempunyai cerita. Ada misteri yang mampu menjaga atensi penonton, meski kemudian, semakin jauh bergulir, alurnya semakin hilang arah. Perihal pembuktian kalau Arne tidak bersalah seolah dilupakan, sepenuhnya beralih ke pola generik tentang "mengalahkan kekuatan jahat demi menyelamatkan nyawa seseorang".

Perubahan terbesar film ini dibanding dua pendahulunya justru terletak pada cara melempar teror. Seperti biasa, tiap seri The Conjuring selalu melabeli diri sebagai "kasus terseram dan/atau paling berbahaya yang pernah Ed dan Lorraine hadapi". Kali ini, pernyataan tersebut bukan hiperbola semata, sebab secara esensi, memang betul. Karena di sini, lawan utama mereka adalah manusia, dan kejahatan manusia dapat lebih berbahaya dibanding setan mana pun. 

Itu pula mengapa tidak muncul figur hantu ikonik seperti sebelumnya. Terornya mengutamakan "apa yang dilakukan" ketimbang "siapa". Apakah hasilnya lebih mengerikan? Sayangnya tidak. Level Chaves masih jauh di bawah Wan. Beberapa jump scare cukup mengejutkan, namun tak sampai benar-benar menggedor jantung. Penyebabnya tak lain desain set piece yang berantakan. Entah terlalu gelap, amera bergoyang terlampau kencang, atau kekacauan dalam kontinuitas sebuah sekuen. Bukannya takut, saya lebih sering dibuat kebingungan mencerna suatu peristiwa. Begitu pula soal build-up. Chaves belum begitu piawai membangun antisipasi penonton.

Minimal Chaves mempresentasikan adegan eksorsis dengan solid (walau rekaman suara pengusiran setan nyata yang dilakukan Ed dan Lorraine, yang diperdengarkan saat kredit, lebih menyeramkan). Intensitas mampu dijaga, sembari karakternya melakukan gerakan-gerakan "tidak manusiawi", yang mana merupakan kekhasan film bertema eksorsis. Tidak lupa, Chaves menyelipkan beberapa nod untuk The Exorcist (1973).

The Conjuring: The Devil Made Me Do It mempertahankan spirit yang diletakkan film kedua (dan berlanjut di Annabelle Comes Home), yakni romansa Ed dan Lorraine. Baik motivasi maupun resolusi yang diambil, didasari cinta keduanya. Kualitas teror boleh mengalami penurunan, namun keberhasilan menjaga semangat dasar tersebut, menjaga film ketiga ini dari kerusakan total. Biarpun tanpa Wan di kursi sutradara, kita mesti was-was menantikan kelanjutan seri ini. 

REVIEW - THE KID DETECTIVE

Seperti judulnya, The Kid Detective memang sebuah kisah detektif. Melibatkan kasus pembunuhan, diisi berbagai elemen neo-noir, baik dalam penceritaan maupun gaya artistik, termasuk alunan musik jazzy gubahan Jay McCarrol. Tapi di balik penyelidikan-penyelidikannya, ada jalinan cerita yang jauh lebih relatable. Mengenai anak yang (dipandang dan merasa) gagal memenuhi potensinya.

Banyak orang pernah mengalami hal serupa. Tumbuh dewasa sebagai orang biasa, atau malah dianggap pecundang, akibat dibebankan ekspektasi terlampau tinggi. Misal karena semasa kecil ia berstatus juara kelas, atlet berbakat, atau bergelimang prestasi di berbagai lomba. The Kid Detective bicara tentang bagaimana si bocah berusaha membuktikan kemampuannya tatkala menginjak kepala tiga.

Bocah itu bernama Abraham "Abe" Applebaum (Jesse Noah Gruman), yang saat baru berumur 12 tahun menjadi selebritis lokal di kotanya, karena dicap "detektif jenius". Dia mampu memecahkan kasus-kasus minor, seperti uang penggalangan dana yang dicuri, atau peliharaan hilang. Bahkan dia mempunyai kantor sendiri, di mana sang sahabat sekaligus puteri walikota, Gracie (Kaitlyn Chalmers-Rizzato), menjabat sekretaris. 

Sampai terjadilah peristiwa menghebohkan. Gracie lenyap tanpa jejak. Jangankan Abe, kepolisian pun gagal menemukannya. Selang 20 tahun, Abe (kini diperankan Adam Brody) masih merasa gagal. Demikian pula cara masyarakat memandangnya. Bukan lagi bocah jenius, melainkan pecundang berumur 32 tahun, yang menolak tumbuh dewasa, sebab alih-alih mencari "pekerjaan sungguhan", Abe masih menjalankan praktek sebagai detektif. Kasus yang diusut masih tidak jauh beda. Kucing hilang, uang hilang, dan semacamnya.

Naskah buatan sang sutradara, Evan Morgan, menekankan pada bagaimana anak sekecil Abe tidak seharusnya mengemban beban sebesar itu. Abe tak (sepenuhnya) salah. Masyarakat berperan membentuk pribadinya. Ekspektasi dan tuntutan-tuntutan berlebih jadi pemicu. Sewaktu akhirnya Abe menerima kasus penting, sang ayah melarangnya, karena menganggap puteranya itu kurang pengalaman. Tapi sang ayah juga mengeluhkan keputusan Abe mengusut kasus itu tanpa dibayar demi pembuktian diri. Apa pun tindakan Abe, selama tidak sesuai norma sosial, pasti dianggap salah.

Kasus penting tersebut adalah pembunuhan terhadap seorang siswa SMA. Caroline (Sophie Nélisse), kekasih korban, menjadi klien Abe. Kalimat yang Abe ucapkan kepada Caroline, rasanya sempurna merangkum investigasi mereka. "No matter how simple a case may seem, it's always shocking what you find". Alias, sederet kejutan sudah menanti di depan. Siapa pelaku sesungguhnya? Apakah benar korban merupakan remaja kutu buku biasa yang tak bermasalah sedikitpun? Apa kaitannya dengan geng kriminal setempat?

Meski kompleksitas yang seringkali terkesan ruwet jadi salah satu sifat noir, Morgan memilih pendekatan lebih bersahabat demi memperluas jangkauan pasarnya. Keping-keping misteri tersusun rapi, gampang diikuti, sementara pengungkapan petunjuk serta fakta yang dilakukan bertahap, mampu mempertahankan daya tarik alur hingga mencapai babak akhir tatkala mayoritas kejutan ditumpahkan.

Morgan turut membuktikan kepiawaian merangkai komedi. Kebanyakan berupa komedi hitam yang tidak cuma menggelitik, pula tajam, berani, bahkan terkadang ada di garis batas moralitas. Ada kalanya Morgan seperti membuat naskah selepas menghadiri kelas penulisan Shane Black. Karena selain komedi hitam, interaksi dua protagonis (Abe dan Caroline) pun menghadirkan dinamika menarik antara pria dewasa yang ingin menunjukkan dirinya bukanlah seorang pecundang, dan gadis remaja naif, yang tetap meyakini kehebatan sang detektif meski berulang kali ia berbuat hal-hal yang pantas dipertanyakan.

Adam Brody tampil kacau, tentu dalam artian positif. Kadang saya dibuat ikut meragukan kapasitas Abe, tetapi tidak sekalipun menganggapnya pecundang. Abe adalah pria yang jatuh terlalu dalam, dan penampilan Brody membuat saya ingin melihatnya bangkit. Abe mungkin kerap berkelakuan tidak bertanggung jawab, terlebih untuk ukurang orang seusianya, tapi Brody mampu menunjukkan, bahwa sejatinya Abe tetap orang baik, yang terjebak rasa sakit berkepanjangan. 


Available on NETFLIX