REVIEW - SEKAWAN LIMO 2: GUNUNG KLAWIH

Mungkin pernyataan ini terkesan bias, tapi saya selalu merasa bahwa bila dilontarkan memakai bahasa daerah, umpatan cenderung terdengar sebagai ungkapan keakraban yang tak jarang menggelitik ketimbang murni hinaan. Itulah mengapa Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, yang notabene dipenuhi umpatan, masih menyenangkan diikuti kendati kekacauan penceritaan hadir selaku batu sandungan. 

Running joke-nya ada di seputaran muka Benidictus "Beni" Siregar sang "tulang punggung sinema Indonesia" yang kemungkinan bakal muncul dalam (minimal) delapan judul tahun ini. Mengolok-olok tampilan visual sang komedian sudah jadi rutinitas di tiap film, tapi toh mendengar karakter lain memanggilnya "rai codot" tetap terdengar lucu. Setidaknya lebih lucu daripada "muka kelelawar". 

Tiga tahun pasca peristiwa di Gunung Madyopuro, Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Andrew (Indra Pramujito), Dicky (Firza Valaza), dan Juna (Benidictus Siregar) si arwah penasaran, kembali berkumpul setelah Andrew sekeluarga mendapat serangan klenik yang mengancam nyawa mereka. Keputusan nekat pun diambil. Mereka harus mendaki Gunung Klawih guna mencari pertolongan dukun setempat yang konon sakti mandraguna. 

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih adalah film yang serba buru-buru. Progresi cerita melaju bak mobil yang dipacu di jalan bebas hambatan, sedangkan penyuntingannya seolah tak membekali diri dengan kerangka pasti, bukan cuma bergerak cepat, pula luar biasa liar hingga tak jarang memusingkan. 

Minimal di paruh awal, ketergesaan tersebut tak sampai meruntuhkan fokus penceritaan. Keluarga Andrew dalam bahaya, Bagas mendapati hubungannya dengan Lenni merenggang akibat ketidakjelasannya dalam menapaki hidup, Dicky pun tengah kesulitan merebut hati putri kekasihnya, tapi babak pertama Sekawan Limo 2 praktis berstatus "filmnya Juna". 

Juna menjadi figur sentral yang perspektifnya berfungsi sebagai pintu bagi penonton untuk memasuki alurnya. Bersama Juna, kita pun diajak mengunjungi kerajaan demit, kemudian bertemu Wisang (Joshua Suherman) si kepala keamanan beserta asistennya, Kina (Elsa Japasal), yang menjabarkan bangunan dunia unik dari filmnya. 

Bagaimana demit diklasifikasikan dalam beberapa jenis, hingga perbedaan antara mereka dan arwah penasaran macam Juna, seluruhnya membentuk semesta absurd yang senada dengan gaya komedik filmnya. Tatkala banyak horor lokal terlalu malas memikirkan lore, berbekal "seni menertawai memedi" serupa film pertama, naskah buatan Nona Ica justru berani bereksplorasi. 

Tentu semuanya dipaparkan dengan tawa. Satu hal yang paling mengagumkan terkait humornya adalah bagaimana jajaran pemain Sekawan Limo 2 seolah tak pernah kehabisan selorohan Bahasa Jawa untuk dilontarkan. Mereka saling sindir, melempar hinaan, yang sekali lagi, lebih memancarkan keguyuban daripada kebencian. Di luar para "sekawan limo", Cak Kartolo dan Ning Tini melahirkan duet maut yang bertukar kata bak berondongan senapan otomatis. 

Barulah seiring naskahnya memberi sorotan lebih terhadap karakter selain Juna, kesan berantakan filmnya semakin terasa mengganggu. Daripada berbagi dengan rapi, para protagonisnya saling berebut titik fokus dengan cara yang amat semrawut. 

Pun tidak semua karakter punya proses semenarik Juna. Bayu Skak yang juga kembali duduk di kursi sutradara memang (seperti biasa) tampil memadai memerankan lelaki yang meratapi nasib menyedihkan miliknya. Hanya saja, karakter Bagas beserta romantika klisenya bersama Lenni, ditambah selipan cinta segitiga dengan Aruna (Jihane Almira) yang dipaksa masuk di pertengahan durasi, tidaklah seberapa menarik. 

Upaya menyulut dampak emosi, termasuk kesulitan Bagas beranjak dari bayangan kesuksesan semu pasca peristiwa di Gunung Madyopuro menjadikannya bintang dunia maya pun gagal dicapai akibat kacaunya aliran penyuntingan. Cara bercerita Sekawan Limo 2: Gunung Klawih sangat tidak nyaman diikuti. Untungnya saya tidak keliru menata ekspektasi. Saya cuma berharap dibuat tertawa, dan filmnya mampu memenuhi itu. 

REVIEW - MONSTER PABRIK RAMBUT

Beberapa orang mungkin bakal menganggap karya terbaru Edwin ini terlampau aneh, tapi bagi saya di situlah pesona Monster Pabrik Rambut. Dituturkannya kisah tentang bagaimana kebusukan sistem dapat menghancurkan manusia, lewat pendekatan yang terasa menentang sistem di balik keseragaman horor, yang berpotensi menghancurkan industri perfilman Indonesia.

Sesuai judulnya, pabrik rambut bernama PT Raga Abadi jadi panggung investigasi Putri (Rachel Amanda kembali menghadirkan protagonis yang mudah disukai) terhadap kematian misterius sang ibu yang bekerja di situ. Segera saja Putri menemukan keanehan, di mana banyak buruh yang kurang tidur akibat terlalu banyak lembur, bertingkah bak orang kesurupan sebelum mengalami kecelakaan kerja. 

Didik Nini Thowok memerankan si pemilik pabrik, perempuan misterius bernama Maryati. Dia bukan satu-satunya karakter yang menegaskan perspektif film ini akan fluiditas gender. Maryati sendiri punya hobi unik memainkan maket pabrik, lengkap dengan figur mini yang mewakili buruhnya. "Rakyat jelata hanyalah boneka mainan bagi para penguasa", mungkin demikian keresahan yang ingin ditumpahkan oleh naskah buatan Edwin, Eka Kurniawan, dan Daishi Matsunaga. 

Nantinya penyelidikan Putri juga melibatkan adiknya, Ida (Lutesha), yang mengikuti langkah sang kakak bekerja di PT Raga Abadi. Lutesha membawakan sosok Ida dengan bersenjatakan presisi luar biasa kala menangani komedi bergaya deadpan. Satu lagi saudara mereka adalah Bona (Iqbaal Ramadhan) yang mempunyai kemampuan aneh.

Karakter Bona sejalan dengan keliaran eksplorasi b-movie era 80-an yang dianut Monster Pabrik Rambut. Bona bisa sesuka hati memutilasi anggota tubuhnya, yang kemudian bisa segera tumbuh lagi. Tatkala Putri dan Ida menerima daun telinga sang adik yang dipotong oleh penagih utang, mereka cuma berujar santai, "Nanti juga tumbuh lagi." Bagi rakyat kecil, terluka adalah perihal biasa. 

Film ini memang berjalan di garis batas. Serupa kelompok sinema yang jadi sumber inspirasinya, Monster Pabrik Rambut tidak takut memenuhi narasinya dengan elemen eksentrik, dari kemampuan spesial Bona hingga keputusan mengganti hantu dengan monster berbentuk...well, rambut. Beberapa adegan kematian pun dipresentasikan secara over-the-top, termasuk saat badan salah satu karakter menggelembung sebelum meledak. 

Biar demikian, relevansi dalam kisahnya, terutama mengenai kegagalan sistem, membuat Monster Pabrik Rambut masih terasa membumi. Asal muasal si monster punya kaitan subtil dengan kegagalan sistem tata kota rancangan pemerintah. Problematika di pabrik pun sama. Alih-alih mengacungkan jari pada perseorangan, Edwin mengarahkan lampu sorot pada sistem yang gagal menyediakan pilihan bagi manusia di dalamnya.

Nantinya segelintir orang akan bangkit untuk menggugat sistem itu, dan di situlah satu-satunya keluhan saya untuk narasi film ini terletak. Perlawanan para buruh, yang sebelumnya berhasil dicuci otak bahkan sampai menggelar "ritual" guna mengucap syukur atas kebaikan Maryati, terkesan hadir secara mendadak, tanpa menyediakan waktu bagi jiwa mereka melewati proses transisi.

Di luar kekurangan tadi, alurnya bergulir dengan apik. Efektivitas misterinya dalam menyulut rasa penasaran seolah jadi bukti bahwa daripada senantiasa bergantung pada kompilasi penampakan hantu guna mengisi guliran durasi, horor lokal juga bisa memiliki sesuatu untuk dipertanyakan dan diresapi. 

Estetika filmnya tidak kalah memuaskan. Monster Pabrik Rambut mengembalikan sesuatu yang semakin jarang dipunyai horor modern, yaitu kesan "kotor". Sewaktu horor masa kini cenderung nampak sangat jernih, film ini mengedepankan visual yang serba kusam (in a good way), sehingga tingkat ketidaknyamanan pun meninggi. Citra yang semakin diperkuat oleh penggunaan efek praktikal, yang melenyapkan kehigienisan ala efek komputer dari deretan adegan sadisnya. 

Di departemen audio, lagu Kepala, Pundak, Kerja Lagi yang dibawakan Sal Priadi (juga berakting secara natural sebagai buruh bernama Rudi) dengan suara "raw" selaku ciri khasnya, sembari diiringi gitar yang digenjreng bak suara derap langkah pasukan militer, terdengar bagai lagu kebangsaan yang dinyanyikan secara patuh oleh barisan buruh di bawah efek hipnotis sang penguasa. 

Ketika horor dalam negeri masih susah (baca: ogah) lepas dari formula melelahkan seperti hantu yang begitu rajin memamerkan wajahnya ke arah penonton, maupun penggunaan lagu beraroma tempo dulu yang makin lama makin kehilangan keangkerannya, Monster Pabrik Rambut datang dan mengacak-acak sistem banal tersebut. 

REVIEW - HOKUM

Salah satu templat tertua di film horor adalah penampakan hantu. Kita dibiasakan untuk menghafal, bahwa ketika bangunan angker dijadikan panggung, pastilah eksistensi hantu benar adanya, sementara para skeptis beserta segala keraguan mereka bakal terkena batunya. Hokum berupaya mendekonstruksi formula itu dengan mendorong penonton mempertanyakan, apakah kita tengah berada dalam film horor konvensional atau bukan. 

Sebagaimana kita saksikan di karya-karya Damian McCarthy sebelumnya (Caveat, Oddity), semua hal maupun orang tidak sepenuhnya seperti yang nampak di permukaan. Begitu pun si protagonis, Ohm Bauman (Adam Scott), novelis Amerika yang sedang menyambangi hotel bernama The Bilberry Woods di area rural Irlandia. 

Sekilas ia hanya novelis berengsek yang menolak memberi tanda tangan, bahkan bersikap kasar kepada salah satu penggemarnya. Kelak sikap itu akan dijabarkan akarnya. Demikian pula alasan mengapa Ohm memilih akhir (terlalu) kelam guna menutup cerita novel terbarunya, yang sempat ia bagikan di hadapan Fiona (Florence Ordesh) si bartender hotel. 

Ada yang aneh dengan The Bilberry Woods dan sekelilingnya, termasuk keberadaan Jerry (David Wilmot) yang menetap di tengah hutan, hingga legenda mengenai penyihir yang konon bersemayam. Ada pula kabut pekat menyelubungi hati Ohm. Cukup sampai situ seluk-beluk plot yang perlu kalian tahu. Berikutnya, biarkan naskah buatan McCarthy membawa kita mengarungi perjalanan sarat progresi plot tak terduga.

Hokum enggan tampil mengejutkan secara asal, sebab setiap tikungan memiliki alasan. Sama halnya dengan gelaran jumpscare yang rutin meramaikan presentasi film ini. Bentuknya cenderung berkutat pada penampakan wajah hantu generik yang senantiasa diiringi musik berisik. Menyebalkan? Terkadang. Efektif menggedor jantung? Jelas! McCarthy jeli mengatur timing dalam pengadeganannya. 

Tapi coba simak lebih jauh deretan jumpscare klise tersebut. Beberapa dialami langsung oleh si protagonis, yang seiring waktu akan kita sadari merupakan unreliable narrator, entah karena kondisi mental atau tendensinya menenggak alkohol. Sedangkan sisanya berupa flashback yang dituturkan oleh karakter lain, tak ubahnya dalam "sesi cerita seram" di tengah api unggun. 

Sederhananya, tidak satu pun pengalaman mengerikan di atas bisa kita pastikan kebenarannya. Mungkin saja semuanya, sebagaimana novel fiktif yang Ohm lahirkan, hanyalah kebohongan (hokum), baik yang sifatnya disengaja atau dikarenakan adanya kekeliruan karakternya memersepsikan realita. 

Hokum tampil bak kisah-kisah horor di dunia nyata yang kesahihannya sulit dibantah, tapi juga sukar untuk dibuktikan. Babak keduanya berjalan cukup berlarut-larut sehingga terasa agak melelahkan tatkala alih-alih memperdalam eksplorasi, McCarthy terkesan hanya tertarik mengulur waktu (film ini idealnya cuma membutuhkan durasi sekitar 90 menit). 

Setidaknya titik tersebut memberi kita waktu guna memikirkan ulang segala peristiwa yang telah terjadi. Keseluruhan Hokum sendiri, biarpun belum sempurna, memancing hadirnya perenungan terkait semua yang saya kira sudah saya ketahui betul mengenai film horor. 

REVIEW - STAR WARS: THE MANDALORIAN AND GROGU

The Mandalorian and Grogu adalah film Star Wars terlemah. Orang-orang di baliknya bak mengira tengah memproduksi kelanjutan serial yang jadi basis ceritanya, alih-alih sebuah tontonan layar lebar. Jadilah 132 menit episodik yang kacau pula tanpa tujuan. This isn't the way. 

Din Djarin alias "Mando" (Pedro Pascal) masih pemburu hadiah karismatik. Si kecil Grogu pun tetap menggemaskan. Hati siapa tidak meleleh melihatnya memukuli helm besi Mando saat ketakutan? 

Ketika musik ikonik gubahan Ludwig Göransson yang meleburkan nuansa misterius western dan kemegahan space opera berkumandang, penonton serialnya bakal segera menyadari, bahwa dari kulit luar ini masih The Mandalorian yang mereka cintai. Tapi begitu cerita mulai dituturkan, kegembiraan tersebut perlahan berubah jadi kekecewaan bercampur kebosanan.

Kali pertama kita bertemu Mando, ia sedang menyerbu markas salah satu petinggi Galactic Empire, guna menjalankan misi dari New Republic. Gelaran aksinya (baik dalam penyerbuan ini maupun di titik-titik berikutnya) berlangsung solid. Tanpa terobosan baru, tanpa ketegangan luar biasa, tanpa momen super keren yang bakal melegenda, tapi Jon Favreau selaku sutradara jelas tahu cara merangkai aksi layar lebar yang punya daya hibur. 

Ceritanya mengikuti modus khas The Mandalorian: Si protagonis menerima misi yang mengharuskannya mampir ke beberapa persinggahan guna bertemu informan, yang akan memberi petunjuk tentang sebuah tempat atau informan lain, lalu ia bergerak menuju persinggahan berikutnya, dan seterusnya. 

Seiring perjalanan, Mando dan Grogu bertemu beragam makhluk menarik, dari Rotta the Hutt (Jeremy Allen White), putra Jabba the Hutt yang likeable dan bertolak belakang dari ayahnya; Embo si pemburu hadiah dari spesies Kyuzo dengan desain keren ala samurai Jepang; hingga Dragonsnake, si monster raksasa intimidatif yang seperti berasal dari semesta Lovecraftian. 

Potensinya tersebar di segala sudut, tapi alurnya, yang dipresentasikan dalam format episodik oleh naskah buatan Jon Favreau, Dave Filoni, dan Noah Kloor, terlalu miskin urgensi maupun aspek menarik apa pun. Ragam permasalahan silih berganti datang dan pergi, yang menjadikan alurnya tampil menyerupai kompilasi episode-episode sebuah serial.

Tidak semua film wajib punya satu konflik besar untuk dituntaskan, tapi ketiadaannya di sini, membuat The Mandalorian and Grogu kekurangan daya guna menjaga atensi penonton selama lebih dari dua jam. Penuturan episodiknya pun menyebabkan inkonsistensi perihal intensitas akibat pacing yang naik-turun secara tidak teratur. 

Di satu kesempatan, dua protagonis kita tersudut di tengah hutan Nul Hatta, lalu selama beberapa waktu, filmnya beralih menampilkan petualangan kecil dari Grogu. Momen ini cocok dirilis sebagai satu episode santai di pertengahan musim sebelum serialnya memasuki babak final. Tapi sebagai bagian film, kehadirannya mengacaukan tempo penceritaan. 

Bahkan trilogi prekuel dengan segala tetek bengek politik serta romansa opera sabunnya, maupun The Rise of Skywalker yang terlampau menyeriusi berbagai kekonyolan alurnya, tidak semembosankan ini. Star Wars: The Mandalorian and Grogu bakal membuat penontonnya menguap kebosanan, kemudian menguap dengan cepat dari ingatan. 

REVIEW - BADUT GENDONG

Hantunya tampak unik sekaligus mengerikan, pengarahan aksi Charles Gozali masih bertenaga seperti biasa, akting jajaran pemainnya pun tepat sasaran. Sayangnya Badut Gendong terjerembab akibat naskah yang tanpa arah. Film ini ibarat rumah besar penuh perabot mewah serta teknologi modern, tapi karena pondasinya ringih, terlihat bisa roboh kapan saja. 

Idenya dilandasi eksplorasi terhadap budaya menarik dari Solo yang (setahu saya) belum pernah diangkat ke layar lebar. Bukti betapa kaya budaya negeri ini, baik yang bersifat mistis maupun yang berpotensi terkoneksi ke sana. Badut gedong sebutannya, di mana sesuai nama tersebut, si seniman menari sembari mengenakan kostum badut, untuk menghasilkan ilusi seolah ia sedang digendong oleh benda mati itu. 

Darso (Marthino Lio) jadi pelakon badut gendong yang kita ikuti kisah hidupnya. Dia memilih pulang kampung pasca suatu tragedi merenggut nyawa istrinya, Darsi (Dayinta Melira), yang tengah hamil muda. Alih-alih kedamaian, kepulangan Darso justru menempatkannya di antara konflik antara warga dengan korporasi yang berniat mengambil alih lahan secara paksa. 

Serangkaian gesekan pun terjadi. Kendati Arini (Clara Bernadeth) selaku pengacara perusahaan berniat menempuh jalan damai, Billy (Khiva Rayanka) lebih menyukai cara yang menampik kemanusiaan. Ketika amarah Ki Kamboja (Barry Prima) si dukun sakti desa membuncah, turunlah kekuatan jahat haus darah yang turut menyeret Darso dan badutnya ke pusat permasalahan. 

Kemudian filmnya melangkah ke teritori slasher, ketika Darso yang tubuhnya dikendalikan oleh si boneka badut mulai membunuh satu per satu penghuni kampung, dari mereka yang pernah bersalah padanya, anggota perusahaan yang bersikap kasar, hingga warga tak bersalah. Iblis tidak pandang bulu dalam menumpahkan amarahnya, dan para penyuka horor brutal bakal puas menyaksikan anggota tubuh manusia berceceran di sepanjang durasi. 

Charles beberapa kali menyusun shot yang berhasil memotret sisi angker sang badut, terutama setiap ia mengambil alih tubuh Darso yang terlelap, kemudian menggerakkannya secara perlahan di sela-sela keheningan.

Saya kagum pada bagaimana teknis "gendong-menggendong" ini dieksekusi. Marthino Lio seperti benar-benar ada dalam kondisi tak berdaya dan bergerak di bawah pengaruh badutnya. Ada adegan di mana Darso dikejar-kejar oleh Billy beserta anak buahnya, yang saya asumsikan melibatkan kombinasi antara akting meyakinkan dengan trik kamera apik. 

Gelaran aksi Badut Gendong juga sama mengagumkannya. Didukung koreografi tangkas dan tata kamera yang menari lincah, Charles membuat (badut) Darso bak jagoan laga dengan refleks tingkat dewa yang sanggup begitu cekatan menghindari desingan peluru. 

Semua terdengar memuaskan? Memang. Karena seperti telah disinggung di awal tulisan, hanya satu departemen di Badut Gendong yang meninggalkan kekecewaan. Departemen yang semestinya merupakan tulang punggung, yakni naskah. Sewaktu deretan keunggulan di atas absen dari layar guna memberi waktu bagi ceritanya mengalir, daya tarik filmnya pun turut absen. Badut Gendong terasa hampa kala aroma kematian tidak sedang menyeruak.

Diceritakan, gara-gara bencana alam yang mendadak menyerang, akses menuju desa terputus, sehingga saat pembantaian terjadi, mereka tidak bisa mengandalkan pertolongan pihak luar. Tapi naskahnya gagal membangun kesan bahwa penonton sedang terjebak bersama tokoh-tokohnya. Semua berjalan nihil urgensi. Belum lagi ketiadaan misteri yang mesti dipecahkan atau problematika mendalam untuk ditelusuri.

Marthino Lio tampil efektif memerankan laki-laki berhati rapuh yang hanya mengenal kepiluan akibat rasa kehilangan, tapi penokohan Darso luput dieksplorasi oleh naskahnya. Darso mesti berbagi sorotan dengan duo Arini dan Jamil si Babinsa (Derby Romero) dengan investigasi miskin daya tarik mereka, yang didominasi adegan berboncengan motor. Badut Gendong tidak buruk, hanya saja naskahnya gagal menjalankan peran menggendong penceritaan.

REVIEW - THE TESTAMENT OF ANN LEE

Kita cenderung terlampau ringan menghakimi suatu perihal berdasarkan perspektif hasil bentukan norma umum. Misal kala melabeli ritual suatu sekte dengan cap "sesat" namun mewajarkan ibadah agama-agama yang "diakui". Bila mengupasnya lebih jauh dari ini, niscaya saya pun bakal dianggap menistakan ajaran. 

The Testament of Ann Lee menampilkan kisah hidup figur pemimpin dari sekte Shakers yang berkembang di abad 18. Dipresentasikan bak hikayat dengan segala "konon" yang terucap dari mulut naratornya, alih-alih upaya menyebarkan kesesatan, film ini bertujuan memotret bagaimana paham religius lahir dari keresahan umat manusia. 

Ann Lee (Amanda Seyfried) menemukan pencerahan spiritualnya kala menghadiri pertemuan kelompok Shakers yang dipimpin oleh pasutri Jane (Stacy Martin) dan James (Scott Handy). Nama aneh tersebut diambil dari cara beribadah yang mengharuskan penganutnya menggetarkan tubuh mereka sembari mengeluarkan teriakan liar selaku cara detoksifikasi dosa. 

Di kursi sutradara, Mona Fastvold mempresentasikan jalannya ibadah kelompok Shakers dalam bentuk musikal yang tampil bak ritual sakral. Setiap gerakan dan nyanyian adalah wujud katarsis atas emosi-emosi yang tak diberi ruang untuk meletup di luar lingkup sekte, dan pengadeganan musikal dari Fastvold memastikan penonton dapat menangkap emosi yang karakternya lepaskan. Hasilnya menghipnotis. 

Melalui pertemuan kelompok Shakers pula Ann Lee bertemu suaminya, Abraham (Christopher Abbott). Pernikahan keduanya tidak berlangsung mulus. Ann Lee terganggu dengan kesukaan Abraham pada sadomasokisme, yang membangkitkan lagi trauma masa kecil kala menyaksikan sang ayah menyetubuhi ibunya secara kasar. Baginya, hubungan badan semacam itu adalah dosa. Ditambah lagi, Ann Lee kehilangan empat anak yang semuanya meninggal sebelum menginjak usia setahun. 

Duka tersebut yang mendorong Ann Lee makin aktif menyusuri jalan religi, bahkan menjadi salah satu pentolan Shakers, hingga sempat dijebloskan ke penjara akibat dianggap mengganggu ketertiban. Di tengah pengurungan, Ann Lee memperoleh penglihatan yang membuat anggota Shakers percaya bahwa ia merupakan mesiah yang telah lama dinantikan. 

Penglihatan itu Ann Lee dapat tatkala ia melakukan aksi mogok makan dan minum. Bisa jadi semuanya cuma halusinasi bukan? Benar, tapi filmnya enggan menghakimi secara instan. Timbul sebaris pertanyaan provokatif: Apa yang membedakan pengalaman spiritual Ann Lee dengan penglihatan yang didapat para figur agama? 

"Mother Ann", begitu ia dipanggil sejak peristiwa tadi. Ajaran Shakers pun semakin gencar disebarkan, termasuk soal penolakan atas aktivitas seksual yang dipandang selaku dosa terbesar. Memang aneh, pun penonton dipersilakan berpikir demikian. The Testament of Ann Lee menjabarkan alasan di baliknya, yang tidak pernah bermuara pada penyimpulan benar/salah. 

Semua kembali pada trauma masa lalu Ann Lee, yang entah sadar atau tidak, memandang seks sebagai medium para lelaki memamerkan kendali mereka. Itulah keresahan yang Ann Lee beserta banyak anggota perempuan Shakers rasakan. Mereka mendambakan kesetaraan, baik seputar gender maupun ras (Ann Lee menentang keras perbudakan terhadap kulit hitam, dan menjalin kekerabatan dengan suku Indian). Bukan agama lain yang ingin Ann Lee lawan, melainkan kemapanan. 

Penampilan Amanda Seyfried begitu piawai menyedot atensi. Sosoknya tak seberapa karismatik, tapi saya rasa itulah citra yang ingin dibangun oleh Mona Fastvold. Berbeda dengan banyak pemimpin sekte laki-laki, Ann Lee enggan menggunakan metode manipulasi, tapi meyakinkan para pengikutnya bahwa ia berbagi keresahan dan luka yang sama dengan mereka, dan mungkin juga kita. 

(Disney+)