REVIEW - THE FURIOUS
Para pelakon The Furious akan membuat penonton percaya terhadap eksistensi manusia super. Mereka bisa melontarkan jurus-jurus bela diri, berlari secepat kilat, hingga melakukan gerakan-gerakan gimnastik ekstrim bak akrobat dalam waktu sepersekian detik.
Ceritanya sederhana: Ada pria bisu yang baru kita ketahui namanya di penghujung durasi (Xie Miao) dalam perjuangannya menolong sang putri, Rainy (Yang Enyou), dari sekapan sindikat perdagangan anak; ada pula Navin (Joe Taslim) yang berupaya menyelidiki keberadaan istrinya, Matia (Jeeja Yanin), seorang jurnalis yang hilang saat tengah menginvestigasi sindikat tersebut.
Keduanya menyatukan kekuatan, berpacu dengan waktu, sembari menunjukkan kapasitas fisik di atas rata-rata manusia biasa guna menghadapi lawan-lawan yang tak kalah gila seperti Ho (Brian Le) si tukang pukul brutal, Tak (Yayan Ruhian) si pembunuh sadis bersenjatakan panah, dan Paklung (Joey Iwanaga) selaku dalang dari segala kejahatan.
Setiap lapis koreografi memerlukan kemampuan atletik tingkat tinggi, bahkan di luar adegan baku hantam. Hentakan kaki si jagoan sewaktu berlari seolah mampu mengguncang bumi. Sedangkan saat ia dihantam oleh kendaraan yang melaju kencang, peristiwa tersebut nampak mematikan sebab Kenji Tanigaki selaku sutradara memastikan dampak tiap benturan sungguh terasa.
Pengarahan Tanigaki menggarisbawahi kata "arts" dalam istilah "martial arts". Estetika dinomorsatukan, seperti ketika Xie Miao beraksi sambil berdiri di atas tumpukan tubuh musuh-musuhnya yang sudah tak berdaya, atau bagaimana Joe Taslim akhirnya memamerkan jurus-jurus judo yang selama ini cenderung dipandang kurang sinematik.
Apa pun yang mampu menguatkan kekerasan estetis dalam The Furious bakal senang hati diterapkan oleh Tanigaki, kendati harus sambil mengacungkan jari tengah pada realisme. Tokoh-tokohnya memanfaatkan barang apa pun untuk berkelahi, dari sepeda sampai palu godam raksasa.
Bagaimana nasib seorang karakter jika menerima pukulan telak dari palu godam di kepalanya? Jangan khawatir, ia bukan saja bertahan hidup, namun masih cukup kuat untuk terlibat pertarungan melawan empat pria lain. Satu-satunya realisme di The Furious adalah sewaktu memotret tindak korupsi aparat yang mengutamakan keuntungan personal ketimbang melayani masyarakat.
Hampir semua pelakon diberi ruang unjuk kebolehan. Xie Miao yang secara lantang menyuarakan ketangguhan tanpa perlu berkata-kata, Joe Taslim yang kembali mendemonstrasikan "wajah marah" bak monster yang jadi ciri khasnya, Yayan Ruhian dengan seringai yang menguarkan aroma kematian, juga Brian Le yang sanggup bergerak lincah layaknya rudal biarpun berbadan besar. Bahkan si kecil Yang Enyou bukan cuma bocah lemah yang menunggu pertolongan secara pasif. Leher seorang penculik tidak ragu disayatnya demi menyelamatkan diri.
Satu-satunya keluhan saya untuk The Furious hanyalah momen pengepungan di tangga yang bagai difungsikan untuk tes daya tahan protagonisnya, dengan penyajian yang terlampau berlarut-larut. Saya pikir itulah klimaksnya, dan kebanyakan film aksi memang bakal berpuas diri menjadikan pengepungan tersebut selaku puncak. Tapi The Furious masih menyimpan satu lagi kesintingan.
Cerita utamanya telah usai, sehingga daripada babak ketiga konvensional, pertempuran pamungkas film ini lebih terasa seperti encore bombastis. Kenji Tanigaki melahirkan klimaks film aksi paling gila sejak threesome di The Raid pertama, berupa kemeriahan royal rumble berdarah yang membawa sang sutradara menyuguhkan kekacauan terkendali. Kamera arahan Meteor Cheung menari-nari, aktor-aktornya berkelahi seolah sambil kerasukan memedi, sedangkan penonton bertepuk tangan sembari berteriak meminta lagi dan lagi.
REVIEW - POWER BALLAD
Hal yang saya kagumi dari karya-karya John Carney adalah kemampuan (kalau bisa disebut demikian) memanusiakan musik. Lagu/musik menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu, entah pembuatnya, yang memainkannya, atau sebatas para pendengar yang haus akan asupan rasa. Begitu pula dalam Power Ballad.
Rick Power (Paul Rudd) adalah musisi Amerika yang kini menetap di Dublin, Irlandia, bersama istri dan putri remajanya. Mimpi menjadi bintang rok pengguncang stadion telah lama (terpaksa) ia kubur, dan demi membayar segala tagihan, banting setir jadi vokalis band pesta pernikahan bernama "The Bride and Groove" pun dilakukan. Sesekali Rick coba membawakan lagu ciptaannya, yang selalu direspon dingin oleh para tamu yang berharap mendengarkan jajaran Top 40.
"Human jukebox". Demikian sebutan yang disematkan bagi Rick dkk. Tidak bisakah band yang hanya dituntut membawakan nomor-nomor terkenal milik musisi lain punya makna lebih? Bisa! Setidaknya itulah yang hendak diutarakan oleh naskah buatan John Carney dan Peter McDonald. Hanya saja, Rick belum menyadarinya.
Proses menemukan kesadaran tersebut berawal kala Danny Wilson (Nick Jonas) si mantan anggota boy band ternama berduet dengan Rick di atas panggung selaku tamu kehormatan sebuah pesta pernikahan. Malamnya, ia dan Rick menghabiskan berjam-jam berdua. Rick yang mengenang ambisi masa lalunya, juga Danny yang masih berambisi membuktikan kapasitas sebagai musisi serius, saling berkeluh kesah dalam obrolan dua kawan yang berbagi kesukaan serupa, sembari ditemani berbotol-botol bir serta rokok.
Carney masih jago mengolah obrolan sederhana dua penggila musik jadi momen asyik penyedot atensi penonton, yang diposisikan bak orang ketiga dalam lingkaran pertemanan singkat dua tokoh utamanya. Tentu mereka bakal mengadakan sesi jamming dadakan di sela-sela obrolan. Rick memberi masukan bagi album baru Danny, pun sebaliknya, Danny diajak menikmati nada-nada gubahan Rick.
Kemudian dimainkanlah How to Write a Song Without You, yang aslinya ditelurkan oleh otak brilian John Carney dan Gary Clark. Sebuah alunan catchy yang menolak lenyap dan senyap dari otak saya kendati hari demi hari sudah berlalu. Di semesta filmnya, dikisahkan bahwa Rick belum berhasil menyelesaikan lagu yang seketika mencuri hati Danny tersebut. Malam magis pun berakhir, dan keduanya mesti kembali menempuh kenyataan masing-masing.
Enam bulan berselang, dan album baru Danny mereguk sukses luar biasa berkat sebuah single yang membuat jiwa jutaan pendengar bertekuk lutut. Judulnya? How to Write a Song Without You. Pencurian karya telah terjadi. Tapi, seberapa pun kerasnya ia meyakinkan keluarga maupun rekan-rekan, Rick kesulitan membuktikan keabsahan tudingan kalau Danny mencuri lagunya. Pasalnya, tidak ada hasil rekaman selaku barang bukti.
Petualangan Rick menggugat keadilan, disajikan oleh Carney dalam wujud pembauran menyenangkan antara komedi ringan dengan drama sarat rasa sakit. Saya memahami alasan Rick sebegitu terluka, bahkan sampai di titik tercipta kesenjangan dengan keluarganya sendiri. Di mata protagonis kita, tidak hanya sekeping lagu atau potensi banjir harta hasil royalti yang dicuri, namun skenario impian di mana mimpi siang bolongnya menyabet kejayaan di industri musik dapat bertaut dengan realita.
Tapi sekali lagi, lagu baru menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu. How to Write a Song Without You lebih punya makna mendalam bagi Rick ketimbang Danny. "It's just a nice song" ucap Danny pada kekasihnya, Marcia (Havana Rose Liu), yang kemudian merespon, "But it's real". Masalahnya, makna lagu tersebut tidaklah nyata untuk Danny.
Power Ballad bukan semata mendiskusikan kompleksitas tangga nada, tapi kisah-kisah di baliknya yang banyak menyertakan rasa-rasa milik manusia. Berpijak pada prinsip tersebut, John Carney menggelar adegan klimaksnya yang luar biasa efektif memorak-porandakan dinding pertahanan emosi penonton. Memanfaatkan daya bunuh tinggi dari korus How to Write a Song Without You, Carney memotret pemandangan indah tatkala sebuah lagu akhirnya memberi makna bagi manusia-manusia yang berkaitan dengannya.
REVIEW - TOY STORY 5
Terdapat momen saat Jessie (Joan Cusack) menatap pemilik pertamanya, Emily, dengan "ekspresi mainan" yang terlihat kosong. Tanpa Emily tahu mainan gadis koboi favoritnya itu memiliki rasa, dan tatapan tersebut sarat akan kasih sayang. Seketika saya berandai-andai, apakah mainan saya semasa kecil dulu juga memberi tatapan serupa. Apakah mereka juga merasa sedih kala kebersamaan kami perlahan tergerus seiring singgahnya teknologi dalam hidup saya?
Bentrokan antara mainan konvensional dengan teknologi bukanlah problematika kemarin sore. Tapi berbeda dengan konsol gim, kapasitas smartphone atau tablet mampu mencakup seluruh aspek di kehidupan anak. Alhasil, ancaman yang dirasakan Jessie, Buzz (Tim Allen), dan para mainan lain berada di titik tertinggi sewaktu Bonnie (Scarlett Spears) diberi hadiah tablet bernama Lilypad "Lily" (Greta Lee) oleh orang tuanya.
Bonnie memerlukan Lily guna terkoneksi dengan teman-teman sebaya yang lebih banyak hidup di dunia maya. Tapi apakah berarti ia tidak lagi memerlukan mainan kesayangannya? Situasi begitu genting, sampai Woody (Tom Hanks) dengan kepala yang mulai membotak mesti kembali untuk mengulurkan bantuan.
Di lain pihak, sesekali kita diajak mengikuti petualangan sekelompok mainan Buzz Lightyear versi baru, pasca kargo yang membawa mereka karam di sebuah pulau kosong. Adegan pembuka yang mengambil latar di pulau tersebut jadi ajang unjuk gigi bagi departemen animasi yang kembali memberi terobosan kualitas. Detail alamnya luar biasa nyata, tidak jarang Toy Story 5 seolah bak hibrida berisi karakter animasi yang eksis di dunia live action.
Saya kembali terpukau saat latarnya beralih ke rumah lama Emily yang kembali dikunjungi oleh Jessie akibat suatu "kecelakaan". Semburat sinar surya yang mempersilakan para mainan menikmati kehangatannya tampak amat indah. Lalu ketika hati mereka dirundung pilu, seisi rumah terlihat kelabu seolah dikuasai mendung. Disokong jajaran tim handal, Andrew Stanton selaku sutradara membuktikan bahwa film animasi sudah makin piawai memanipulasi emosi penonton lewat permainan cahaya.
Singkat cerita, Buzz dan Woody mulai mencari keberadaan Jessie, dan film Toy Story pun kembali menggunakan "misi penyelamatan" selaku alat penggerak cerita. Kebencian protagonisnya terhadap Lilypad si benda modern mengingatkan pada keresahan Woody atas kehadiran Buzz di film pertama, dan nantinya, kecemasan mainan akan fakta bahwa si pemilik kelak bakal tumbuh dewasa, juga mengundang kesamaan dengan pokok bahasan film ketiga.
Dibanding judul-judul sebelumnya, Toy Story 5 memang paling banyak menerapkan pengulangan. Tapi toh dampaknya tidak melemah. Salah satunya karena naskah buatan Andrew Stanton dan Kenna Harris selalu punya cara memukau penonton lewat kreativitas mereka mengeksplorasi bangunan dunianya. Sebuah dunia yang sejatinya begitu kaya, namun tak disadari manusia dengan segala ketidakpedulian mereka akan hal kecil.
Tentunya air mata penonton dewasa masih akan tumpah ruah mendapati trauma berkepanjangan di batin Jessie diberi konklusi, yang dimotori kepekaan luar biasa dalam pengadeganan Stanton. Di situlah kita menyaksikan cinta para mainan kepada sang pemilik akhirnya berbalas, seiring timbulnya kesadaran kalau pendewasaan tidak selalu bersinonim dengan melupakan.
Di luar dugaan, proses yang dilalui Lily tidak kalah menyentuh. Serupa Jessie (dan banyak dari kita yang sudah terlalu kenyang menyantap rasa pahit kehilangan serta kegagalan), Lily mulai mempertanyakan seberapa berharga dirinya. Hati saya patah saat karakter yang awalnya nampak seperti antagonis mengesalkan ini mengambil keputusan ekstrim didorong oleh keputusasaan.
Toy Story 5 memang tidak memprovokasi kita untuk serta merta membenci teknologi. Cepat atau lambat teknologi akan menginvasi hampir seluruh sendi keseharian manusia, dan alih-alih seutuhnya menampik, film ini mengajak kita belajar hidup bersama sembari mencari cara untuk memanfaatkannya secara bijak.
Sedikit disayangkan, babak ketiganya kekurangan presentasi seru guna menguatkan puncak penceritaan. Keputusan menaruh fokus pada proses internal Bonnie menggali keberanian yang terkubur terlampau jauh dalam dirinya bukan berarti tiada kesempatan guna mengatrol kualitas spektakel. Setidaknya ia memberi persembahan spesial berupa salah satu pemandangan paling romantis sepanjang sejarah Toy Story.
Di tengah perjalanan menuruni mal selepas menonton, perhatian saya dan istri tercuri oleh seorang anak yang nampak bersemangat membawa pulang mainan yang baru dibelikan oleh orang tuanya. Seketika kenangan soal mainan masa kecil kembali memenuhi dada. Saya teringat bahwa dahulu aktivitas bermain mendatangkan kebahagiaan yang sedemikian besar, jadi rasanya, mainan-mainan saya pun menyimpan kebahagiaan serupa. Semoga.
REVIEW - WARKOP DKI: VIRALIN DOOOONG..!!
Media sosial sempat ramai saat potret mendiang Dono yang berdiri dikelilingi sepasukan tentara sembari mengenakan kaos bertuliskan "We fight for a clean government", disandingkan dengan foto Desta, aktor yang memerankannya di Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sedang berjoget ria di tengah kampanye rezim. Tapi haruskah kita memusingkan sikap politik para pelakon?
Mungkin tidak bila: 1) Dono tidak vokal menyentil pemerintah, 2) Warkop DKI merupakan grup lawak apolitis, 3) Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sama sekali tidak mengangkat isu politis. Ketiga poin di atas tidak terpenuhi. Kendati minim secara kuantitas, tiap humor politis dilontarkan oleh film ini, semuanya keluar dari mulut Desta. Sulit bagi saya ikut tertawa.
Patut disayangkan, sebab Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memiliki poin yang tidak dipunyai para pendahulunya selaku produk "reborn", yakni penceritaan memadai. Alurnya menyoroti sulitnya trio Dono (Deddy Mahendra Desta), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) lepas dari jerat kemiskinan. Sampai tercetuslah ide membuat konten di YouTube. Rasa lapar membuat mereka "kebelet viral".
Tentu dua jam durasinya masih tersusun atas sketsa-sketsa, tapi naskah buatan Theo Arnoldy, Dany Beler (juga selaku konsultan komedi), Daryl Wilson, dan sang sutradara, Herwin Novianto, bisa menjahit seluruhnya secara rapi. Masing-masing sketsa tidak dibiarkan meluber ke segala penjuru, melainkan digiring supaya mengalir ke arah cerita utama.
Proses penulisannya turut melibatkan tiga figur ternama Tailan, Banjong Pisanthanakun, Thamsatid Charoenrittichai, dan Ter Chantavit Dhanasevi sebagai penggagas ide cerita. Pengaruh mereka baru benar-benar terasa di paruh kedua, tatkala trio protagonisnya nekat membuat konten horor yang melibatkan penggunaan mayat sungguhan.
Sentuhan horornya tidaklah baru, tapi efektif menjalankan peran sebagai penyegar suasana di sela-sela usaha tiga aktor utamanya untuk terlihat dan terdengar semirip mungkin dengan Warkop DKI orisinal, sembari mengenakan wig bergaris rambut buruk. Kita sudah familiar dengan interpretasi Vino dan Tora dalam dua film reborn pertama, sehingga wajar jika sorotan lebih diarahkan pada Desta.
Baik cara bicara, permainan raut wajah, sampai olah tubuh dari Desta memang sangat mirip dengan Dono. Mengesankan? Ya, kendati performanya lebih dekat ke arah impression seorang komedian ala sketsa Saturday Night Live ketimbang "akting" sebagaimana ditampakkan Abimana Aryasatya di film pertama. Desta sekadar meniru tampilan luar daripada membuka pintu agar sosok Dono sungguh-sungguh "merasuk" dalam jiwanya.
Keseluruhan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memang terasa bak impression bagi film-film klasik Warkop DKI. Mirip dari luar, namun kurang perihal kedalaman yang substansial. Para penulisnya jelas sudah khatam menonton semua film Warkop DKI. Terlihat dari kesanggupan mereka memadupadankan serta memodifikasi lelucon, misal ketika memelintir "adegan kap mobil" dari Kesempatan dalam Kesempitan (1985).
Masalahnya, humor film ini cenderung tak bertaring. Beberapa menggelitik, tapi lebih banyak yang terkesan kekurangan kreativitas. Karya-karya terbaik Warkop DKI di layar lebar senantiasa jeli mencari titik tengah antara kekonyolan ringan dengan kreativitas sarat ketidakterdugaan. Mereka adalah komedian yang paling piawai menyamarkan kejeniusan sebagai kebodohan.
Begitu pula perihal guyonan beraroma politis yang di sini dilempar secara asal, hanya bersifat performatif dan seolah eksis semata karena Warkop DKI memang gemar mencolek tema tersebut alih-alih didasari keresahan nyata.
Ada perasaan mengganjal seusai menyaksikan konklusi serba bahagia kepunyaan film ini. Seketika saya teringat sebaris lirik lagu tema serial televisi Warkop DKI yang berbunyi, "Kita nggak pernah sukses." Warkop DKI memang lebih sering mereguk kesialan. Selain demi menunjang kelucuan, ketidaksuksesan mereka kerap dijadikan cara menyentil praktik kecurangan.
Dono, Kasino, dan Indro tidak pernah lolos dari kesialan, yang bak mengakali sistem sebagai cara instan meraup keuntungan, atau tatkala pikiran mesum menguasai otak mereka. Kecurangan dan seksisme selalu dikenai balasan setimpal di film-film Warkop DKI. Maka, ketika Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memilih konklusi aman nan bahagia, ia pun gagal mengkritisi kebelet viralnya para manusia modern.
Di fase epilog, kita disuguhi pemandangan ketika Dono, Kasino, dan Indro memberi tumpangan kepada tiga perempuan berpakaian seksi, lalu mengajak mereka ke pantai sambil berujar, "Ini baru Warkop!" Film-film Warkop DKI adalah representasi era di mana ia lahir. Judul-judul produksi Soraya yang sarat seksisme berlatar pantai memberi cerminan akan masa gelap perfilman Indonesia di era 90-an. Momen penutup tersebut makin menegaskan ketidakmampuan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! mewakili zamannya.
REVIEW - GARUDA DI DADAKU
Garuda di Dadaku adalah film anak yang memadai. Selama 78 menit durasinya, para bocah di studio tempat saya menonton berulang kali tergelak, beberapa bahkan turut bersorak ketika sang protagonis memenangkan pertandingan. Tapi apakah ia bakal menyulut ketertarikan mereka terhadap cabang olahraga yang diangkat? Rasanya tidak.
Debut penyutradaraan Ronny Gani yang sudah malang melintang di perfilman dunia sebagai animator (termasuk di banyak judul populer MCU) ini mengambil latar di semesta yang sama dengan versi orisinalnya (2009), saat membuat tokoh utamanya, Putra (Keanu Azka), bercita-cita menjadi pemain sepakbola karena mengidolakan Bayu (Emir Mahira) yang kini telah menjadi andalan timnas.
Supaya lebih bersahabat bagi penonton anak, selain menggeser format presentasi menjadi animasi, naskah buatan Makbul Mubarak dan Sofia Lo menaburkan bumbu fantasi. Diceritakan, para dewa berwujud burung garuda rutin menyambangi dunia manusia (tepatnya Indonesia) guna memilih calon atlet sepakbola berbakat, kemudian memberkatinya dengan beragam keunggulan.
Mitologinya menarik. Garuda di Dadaku mengejawantahkan anekdot soal bagaimana deretan pemain terbaik memperoleh kehebatan mereka karena diberkati dewa sepakbola. Mungkin semasa kecil, Lionel Messi pernah disambangi oleh dewa berbentuk burung rufous hornero.
Hidup Putra yang terancam mesti mengubur cita-cita akibat penyakit asma seketika berubah sejak kehadiran Gaga (Kristo Immanuel), garuda kecil pembawa jersei sakti yang secara ajaib memperbaiki kondisi fisik Putra, pula mengatrol kemampuan olah bolanya.
Tercetuslah ide membentuk tim untuk berlaga di turnamen junior, namun tersisa satu persoalan: Apa jadinya 11 orang di lapangan tanpa pelatih? Datanglah Naya (Quinn Salman), putri seorang pelatih terpandang yang bersedia menggembleng Putra dan teman-temannya. Naya adalah karakter favorit saya. Cerdas, tegas, pun eksistensinya relevan di tengah seksisme yang masih menyelubungi kultur sepakbola modern. Tengok reaksi media sosial kala Marie-Louise Eta ditunjuk menangani tim Union Berlin untuk sementara.
Menarik pula mengamati karakter Ayah (Ibnu Jamil), yang mewanti-wanti supaya Putra tidak memforsir fisiknya, tanpa harus terkesan mengekang kebahagiaan sang anak. Ketimbang memenjarakan mimpi, Ayah memilih membuka ruang diskusi. Kendati utamanya ditujukan bagi penonton anak, Garuda di Dadaku tak lalai mengajak para orang dewasa supaya turut belajar.
Terkait departemen animasi, saya rasa tiada hal signifikan yang layak dikeluhkan. Pergerakannya mulus, pilihan warna cerahnya pun efektif memancing antusiasme bocah. Masalah terletak tiap adegan pertandingan mengambil alih sentral penceritaan. Keseruan di lapangan hijau sama sekali tak nampak akibat eksekusi ala kadarnya.
Muncul pertanyaan. Jika sudah kadung dibumbui unsur fantasi demi menghibur penonton anak, mengapa tidak sekalian menggila? Memakai ragam jurus absurd serupa Captain Tsubasa misal? Lagipula penggunaan entitas dewa garuda sudah jauh lebih absurd dibanding kemunculan alien/mutan di seri Inazuma Eleven, jadi kenapa harus menahan diri? Ataukah keterbatasan biaya menyempitkan ruang eksplorasi?
Tapi jika dipandang selaku cerita sepakbola realis pun, Garuda di Dadaku kekurangan satu elemen esensial, yakni perihal daya tarik cabang olahraga itu sendiri. Bagaimana bisa di dunia nyata, tanpa tendangan-tendangan super, sepakbola terasa seru? Filmnya luput menjawab itu. Apa perlunya membuat Naya membuat tim Putra memainkan tiki-taka kalau detail taktiknya sendiri lalai ditelusuri?
Garuda di Dadaku memang punya banyak pesan bermakna, tapi beberapa di antaranya gagal diutarakan dengan mulus. Contohnya tentang "berusaha dengan kekuatan sendiri." Kelak Putra tidak lagi bergantung pada jersei ajaib pemberian Gaga, namun proses yang ia dan timnya lalui terlampau instan. Tidak sampai sebulan, segerombolan bocah yang awalnya tak memahami aturan sepakbola ini mendadak bertransformasi jadi sehebat Ronaldinho di puncak kejayaannya.
Filmnya mengajarkan supaya menjauhi kecurangan, namun di partai puncak, Gaga yang tidak terlihat di mata orang selain Putra dan rekan-rekannya, merecoki aksi tim lawan. Tapi setidaknya anak-anak akan pulang dengan perasaan senang (dan ini bukan pencapaian yang bisa dianggap remeh). Saya kira itu saja hal yang dirasa penting oleh para pembuat Garuda di Dadaku.
REVIEW - BACKROOMS
Bersama judul-judul seperti Obsession, Talk to Me, Iron Lung, dan masih banyak lagi, Backrooms mengokohkan era kejayaan horor hasil buah pikir kreatif para "YouTuber filmmakers" yang bermodalkan kecintaan terhadap genrenya serta ambisi tampil beda, berani menjauh dari kekolotan pakem industri.
Backrooms bermula dari creepypasta internet tentang suatu ruang liminal di luar realita kita, yang kemudian diangkat oleh Kane Parsons selaku sutradara film ini menjadi seri web berjudul sama pada 2022. Bagi generasi lawas materi tersebut mungkin bakal dipandang sebelah mata. "Kurang menjual", "terlalu remeh", "terlalu aneh", "tidak jelas", dan entah kata-kata bernada mengerdilkan apa lagi yang terucap.
Tapi bagi Parsons, yang baru genap 20 tahun kala proses produksi film panjangnya dimulai, kehampaan Backrooms memberi ruang eksplorasi tanpa dinding pembatas. Latarnya adalah dunia analog era 90-an, di mana rutinitas Clark (Chiwetel Ejiofor), arsitek gagal yang banting setir jadi pemilik toko furnitur yang juga gagal, merupakan sentral dari naskah buatan Will Soodik.
Bukan cuma karir, pernikahan Clark pun menemui kegagalan. Karenanya ia mencari pertolongan dari terapis bernama Dr. Mary Kline (Renate Reinsve). Reinsve menyuntikkan kedalaman bagi karakter Mary yang turut menyimpan traumanya sendiri, lewat kompleksitas rasa di raut wajahnya yang sempat mendatangkan komentar dari Clark, "Kamu adalah terapis yang tidak jago memasang poker face."
Toko milik Clark yang serba kosong akibat sepi pengunjung sekaligus minim stok barang, menciptakan ruang liminal bahkan sebelum kita dan sang protagonis menemukan backrooms di basemen tokonya. Jika realitanya saja sudah sebegitu hampa dan mengurung, apakah Clark mesti takut terhadap backrooms?
Berbeda dengan cara banyak horor arus utama memperlakukan elemen supernatural, Parsons enggan sebatas menjadikan backrooms selaku medium yang memfasilitasinya melempar teror malas semau sendiri. Ruang liminal tersebut diberi substansi, yakni sebagai manifestasi alam bawah sadar tempat manusia mengubur dalam-dalam beragam hal, yang memungkinkan Parsons menyoroti perihal kenyamanan individu akan kemonotonan, juga proses koping atas luka masa lalu.
Perjalanan mengunjunginya mencuatkan ketidaknyamanan, tidak hanya berkat tata sinematografi arahan Jeremy Cox yang menonjolkan kesan liminal, juga musik atmosferik gubahan Kane Parsons dan Edo Van Breemen yang ampuh memantik kecemasan. Rasa kagum turut hadir seiring kita menyaksikan kepiawaian departemen artistik menyusun kejanggalan kreatif di tiap sudut backrooms yang nampak bak museum instalasi seni absurd.
Pengalaman pertama penonton menyatroni backrooms bersama Clark memang agak berlarut-larut di mana Parsons sendiri bak terhipnotis oleh ruang liminal ciptaannya. Barulah pada kunjungan berikutnya, kala sang protagonis mengajak dua karyawannya, Kat (Lukita Maxwell) dan Bobby (Finn Bennett), kepiawaian Parsons mengolah intensitas semakin kentara, termasuk saat ia jeli memaksimalkan ketegangan khas format mokumenter yang sempat beberapa menit diterapkan secara efektif.
Selama sekitar 110 menit, Backrooms mengobrak-abrik pakem horor arus utama yang sudah sedemikian melelahkan dengan sentuhan surealismenya, juga alur yang menampik struktur formulaik, sewaktu kedatangan Mary di toko Clark, selain menggerakkan narasi ke arah tak terduga, membuat filmnya seperti memiliki second act ganda. Backrooms tidak sekalipun bersedia patuh pada aturan, dan saya pun semakin antusias menyambut era baru sinema horor ini.





.png)



%20(1).png)

.png)