REVIEW - COMING 2 AMERICA

Jauh sebelum penonton film mengenal Wakanda, Coming to America (1988) sudah lebih dulu muncul dengan Zamunda. Sebuah negara fiktif di Afrika yang makmur, dengan istana mewah, pakaian glamor, serta tradisi-tradisi unik. Salah satunya rutinitas pagi Pangeran Akeem (Eddie Murphy), saat pelayan wanita membersihkan "royal penis" miliknya. Ditengok sekarang, bagaimana film itu menggambarkan wanita memang nampak bermasalah, dan menilik premisnya, Coming 2 America bak usaha melakukan penebusan. 

Selang 33 tahun sejak film pertama, Akeem dan Lisa (Shari Headley) telah dikaruniai tiga anak. Semuanya perempuan, yang artinya, menurut tradisi Zamunda, tak satu pun dari mereka berhak atas tahta. Meski demikian, puteri sulung mereka, Meeka (KiKi Layne), pantang menyerah dan terus mempersiapkan diri sebagai calon penguasa Zamunda. Sampai sebelum ajalnya, Raja Jaffe Joffer (James Earl Jones) menyampaikan kabar mengejutkan: Akeem mempunyai anak laki-laki di Queens!

Lavelle (Jermaine Fowler) namanya, putera dari Mary (Leslie Jones). Demi menjaga kejutan, saya takkan memberi tahu bagaimana Akeem, yang dahulu cuma berfokus pada Lisa, bisa berhubungan dengan Mary. Tapi momen itu memberi kesempatan pada departemen efek visual untuk unjuk gigi, menciptakan flashback dengan CGI mumpuni, yang membuat Eddie Murphy dan Arsenio Hall terlihat tiga dekade lebih muda. Momen yang turut menunjukkan, sebagaimana sekuel/remake berjeda waktu lama lain, Coming 2 America juga penuh nostalgia.

Nostalgia baik berupa kemunculan sosok-sosok lama seperti "trio pangkas rambut" (masih diperankan Murphy dan Hall berbalut tata rias luar biasa) yang masih jago mengocok perut lewat selorohan tanpa saringan mereka, tipe-tipe humor familiar yang juga belum kehilangan daya bunuh, atau momen-momen bersifat referencial. Sedikit penyesuaian muncul di sana-sini, sebutlah restoran McDowell's yang kini berpindah ke Zamunda, dan mempunyai versi kulit hitam dari Ronald McDonald selaku maskot. 

Naskah buatan dua penulis film pertamanya, Barry W. Blaustein dan David Sheffield, yang kali ini mendapat tambahan tenaga dari Kenya Barris (Barbershop: The Next Cut, The Witches), memastikan agar komedinya tetap memuaskan penggemar lama. Tapi bagaimana dengan elemen lain? Di sinilah masalah terbesar Coming 2 America berada. 

Ketimbang sekuel, Coming 2 America lebih seperti remake terselubung, di mana unsur nostalgia kerap jatuh menjadi pengulangan semata. Lavelle tidak hanya dipersiapkan sebagai pangeran, pula calon suami bagi puteri Jenderal Izzi (Wesley Snipes), penguasa Nextdoria selaku rival dari Zamunda, sekaligus kakak Imani (Vanessa Bell Calloway). Ya, mantan calon istri Akeem yang ia "kutuk" sehingga terus melompat dengan satu kaki sambil menggonggong. Berikutnya, menyusul poin-poin alur, yang mencerminkan perjalanan Akeem dahulu.

Saya bukan golongan anti "repetisi-berkedok-tribute". Saya bersuka cita kala mendapati The Force Awakens merupakan carbon copy dari A New Hope. Nostalgia itu menyenangkan. Pun sejatinya, repetisi tersebut malah bisa dimanfaatkan guna menguatkan gagasan utama kisahnya, yakni tentang Akeem, yang seiring pertambahan usia, semakin mirip dengan hal yang dulu dibencinya: kekolotan sang ayah. 

Film pertama sukses mengubah resistensi Akeem terhadap hal konservatif menjadi suguhan komedi-romantis yang amat manis. Ada hati. Ada rasa. Pencapaian itu gagal diulangi, akibat para penulis seolah kebingungan menaruh fokus. Apakah soal Akeem yang mencari kembali "api" dalam dirinya? Apakah soal Lavelle yang mengejar kebebasan? Apakah soal para wanita Zamunda? Hasilnya tumpang tindih. Bukan saja repetisi, Coming 2 America adalah repetisi yang disajikan sambil memencet tombol fast forward, sementara para pembuatnya mencentang checklist, tiap alurnya melewati poin demi poin film pertama yang ingin diulangi.

Seharusnya ini menjadi kendaraan Eddie Murphy membangkitkan karirnya, namun walau ia mampu memberi kehangatan di segelintir momen dramatik, Akeem seperti terpinggirkan dari franchise-nya sendiri. Begitu pun para wanitanya. Ketangguhan KiKi Layne, keberhasilan Headley (masih secantik 33 tahun lalu) menjadikan Lisa figur bijak serupa mendiang Madge Sinclair sebagai Ratu Aoleon dahulu, maupun "keliaran" Leslie Jones, jadi sia-sia. Sedangkan percintaan Lavelle dan Mirembe (Nomzamo Mbatha) si royal groomer jauh dari romantisme Akeem-Lisa, akibat presentasi yang buru-buru serta kurangnya fokus pada hubungan keduanya. Mau bagaimana lagi? Kisahnya memang terlalu penuh.

Paling tidak, jika sebatas mencari hiburan atau obat rindu, sutradara Craig Brewer (Hustle & Flow, Dolemite Is My Name) sanggup melahirkan lanjutan, yang dalam konteks hiburan, masih menyimpan tenaga dan jiwa yang sama dengan pendahulunya. 


Available on PRIME VIDEO

REVIEW - RAYA AND THE LAST DRAGON

Karakter Raya (Kelly Marie Tran) di Raya and the Last Dragon, tak ubahnya nama-nama seperti Merida, Elsa, dan Moana, memimpin langkah animasi Disney menuju era baru, sebagai protagonis wanita (tidak harus termasuk "Disney Princess") kuat nan mandiri, yang tak terlibat romansa, tak perlu menunggu satu kecupan dari pria untuk memancarkan cahayanya. 

Sah atau tidaknya film ini sebagai representasi orang Asia Tenggara mungkin menyulut perdebatan, meski gelombang protes tersebut bagi saya malah bentuk ketidakhormatan terhadap Kelly. Seorang keturunan Vietnam, yang tengah berusaha bangkit pasca menjadi korban rasisme para penggemar Star Wars. Keterlibatannya membuat film ini patut dirayakan. 

Di luar soal representasi, sebagaimana dilakukan Black Panther dengan budaya Afrika, Raya and the Last Dragon meleburkan elemen-elemen kultural Asia Tenggara, guna melahirkan dunia fiktif bernama Kumandra, yang tampil beda, terlihat menyegarkan dibanding animasi Disney lain. Sebuah sekuen di awal yang merangkum sejarah Kumandra misalnya, dikemas menggunakan estetika bak pertunjukan wayang. Sebuah epos, ketimbang flashback generik ala Hollywood. 

Dahulu kala, manusia dan naga hidup harmonis di Kumandra. Sampai Druun, entiti jahat berbentuk asap hitam dengan cahaya ungu di intinya, menyerang. Umat manusia selamat berkat pengorbanan para naga. Seluruh naga punah, termasuk Sisu (Awkwafina), yang konon merupakan pahlawan terbesar di peperangan itu. Sisu meninggalkan permata naga ajaib yang dapat melindungi dari Druun, namun manusia malah saling berperang memperebutkannya, berujung memecah belah mereka menjadi lima suku: Heart, Fang, Spine, Tail, dan Falon. 

Raya merupakan puteri dari kepala suku Heart, Benja (Daniel Dae Kim), yang bertugas menjaga permata tadi. Cita-cita Benja adalah menyatukan lagi seluruh suku, agar keharmonisan Kumandra dapat kembali. Diundanglah keempat suku lain dalam perjamuan, yang justru berakhir bencana, tatkala Namaari (Gemma Chan), puteri kepala suku Fang, menipu Raya dengan tujuan mencuri permata naga. Timbul kekacauan, saat secara tak sengaja permata itu pecah, membangkitkan Druun yang seketika mengubah orang-orang menjadi batu, termasuk Benja. Sekali lagi, peradaban manusia terancam.

Beberapa tahun berselang, kita berjumpa lagi dengan Raya. Dia bukan lagi sesosok bocah. Ditemani sahabatnya, armadillo raksasa bernama Tuk Tuk (Alan Tudyk), Raya melakukan perjalanan mengumpulkan pecahan permata naga yang tersebar di tiap suku, untuk membangkitkan Sisu, yang diharapkan mampu memulihkan segalanya, termasuk sang ayah. Raya dipersenjatai pedang ayahnya yang tampak seperti keris raksasa (satu lagi sentuhan kultural menarik), namun senjata terkuat yang membuatnya jadi salah satu protagonis wanita Disney favorit saya sepanjang masa, adalah keberanian. Melalui suaranya, Kelly menghidupkan keberanian Raya. 

Tapi ada satu hal yang masih harus Raya pelajari, yakni soal rasa percaya. Sulit baginya mempercayai orang lain, apalagi setelah pengkhianatan Namaari, yang di awal pertemuan mereka, bersikap layaknya teman. Raya belajar menaruh rasa percaya, tatkala umat manusia dikuasai keserakahan. Druun bukanlah antagonis utama film ini. Bahkan, Druun bisa dipandang bukan sebagai monster, melainkan wabah, yang diciptakan pula ditularkan oleh keserakahan manusia, yang mana adalah musuh sesungguhnya.

Di tiap daerah, kawan perjalanan Raya bertambah. Ada Boun (Izaac Wang, yang mencuri perhatian lewat debutnya di Good Boys) si bocah 10 tahun pemilik restoran perahu dari Tail, Noi (Thalia Tran) si balita penipu dari Talon yang melancarkan aksi bersama trio ongis (separuh monyet, separuh lele), dan Tong (Benedict Wong) si prajurit bertubuh besar namun berhati lembut dari Spine. Mereka merupakan jajaran tokoh pendukung penuh warna yang mudah mencuri hati penonton, khususnya Noi yang menggemaskan. Pun fakta bahwa selain berasal dari lokasi berbeda, mereka juga mempunyai kepribadian, usia, serta gender berbeda-beda, turut mewakili pesan utama filmnya, yakni soal "persatuan di balik perbedaan". 

Naskah buatan Qui Nguyen (keturunan Vietnam) dan Adele Lim (berkebangsaan Malaysia) memang apik perihal menjalin pesan bermakna. Kelemahannya, naskah kerap terburu-buru. Alurnya kerap terkesan bergerak melewati jalan pintas, termasuk beberapa simplifikasi, semisal terlalu mudahnya upaya membangkitkan Sisu. Menurut legenda, jiwa Sisu masih bersemayam di salah satu dari sekian banyak ujung sungai di Kumandra. Tentu sebagai makhluk legendaris nan misterius, kebangkitannya takkan segampang merapal mantra sederhana bukan? Well, pikir lagi.

Berlatar dunia sarat keajaiban, rupanya tak otomatis menghindarkan Raya and the Last Dragon dari plot generik. Bahkan cenderung seperti video game yang terdiri atas deretan checkpoint, di mana jagoan kita tiba di suatu lokasi, melewati beberapa rintangan, mengambil permata, lalu beranjak menuju lokasi berikutnya guna melakukan proses serupa. Begitu pula penanganan aksi duo sutradara, Don Hall (Winnie the Pooh, Big Hero 6) dan Carlos López Estrada (Blindspotting), yang biarpun jauh dari kata "buruk", tidaklah sefantastis premisnya. 

Beruntung, segala kekurangan di atas, dibayar oleh kemampuan mereka mengolah rasa. Jangan mengharapkan pertempuran epik naga melawan monster di klimaks, namun di situlah puncak emosi film terletak. Karena Raya and the Last Dragon bukanlah kisah soal pertempuran fisik, melainkan batin. Saya teringat pada klimaks Guardians of the Galaxy, tapi dengan dampak emosi berkali-kali lipat. 

Saya dibuat terharu bukan cuma karena unsur drama, juga oleh keindahannya. Visualnya memanjakan mata, tapi seindah apa pun rasanya menyaksikan Sisu terbang di bawah guyuran hujan, keindahan terbesar justru muncul dari pemandangan yang terasa dekat. Terutama di Heart. Bentangan alam hijau, deretan pohon kelapa, dan dataran yang basah selepas guyuran hujan, membuat saya ingin berdiri, merasakan siraman matahari pagi di sana. 

REVIEW - PERSAHABATAN BAGAI KEPOMPONG

Persahabatan Bagai Kepompong bakal membangkitkan kenangan banyak orang. Entah pendengar lagu Kepompong milik Sind3ntosca yang pada mengisi daftar putar remaja-remaja pada masanya, penonton sinetron adaptasinya yang tayang tahun 2008 hingga 2009, maupun penikmat keduanya. Tapi karya penyutradaraan kedua Sentot Sahid yang melakoni debutnya hampir dua dekade lalu lewat Titik Hitam (2002) ini, bukan mengandalkan nostalgia semata. Filmnya mampu berdiri sendiri, bahkan menonjol dibanding kebanyakan drama berlatar sekolah.

Naskah buatan Alim Sudio memberi relasi unik antara film dengan sinetronnya, di mana Kepompong merupakan karya fiksi, tepatnya "sinetron jadul", yang jadi inspirasi di balik pemilihan nama geng karakternya. Sebuah meta sequel. Pendekatan serupa pernah dilakukan oleh New Nightmare (1994), Book of Shadows: Blair Witch 2 (2000), The Human Centipede 2 (2011), sampai Muppets Most Wanted (2014). Di Indonesia, setahu saya baru seri Warkop DKI Reborn yang melakukannya. 

Apa pengaruh dari status sebagai meta sequel? Eksplorasi kisahnya lebih bebas. Tentu tribute dan reference tetap diselipkan, baik berupa cameo, juga pemakaian lagu-lagu seperti Gelora Asmara, Tuhan Tolong, dan pastinya Kepompong. Izinkan saya mengapresiasi keputusan memakai lagu Kepompong versi asli (bagi yang aktif di forum-forum internet saat lagunya meledak dulu, tentu tidak asing), yang lebih kental sentuhan rock, dan bisa kalian dengar di kanal YouTube "sind3ntosca". 

Cerita berpusat pada siswa SMP bernama Ben Sarjono (Bio One), yang sepeninggal ibunya, mesti pindah dari Bandung ke Jakarta, sementara sang ayah (Gunawan Sudrajat) menjalani dinas ke Papua. Menetap di rumah Om Bimo (Pascal Azhar) dan Tante Indah (Lulu Tobing), Ben pun harus tinggal serumah bersama sepupunya, Isabel (Yasmin Napper), yang selalu mengejeknya sebagai "anak mami". 

Keduanya memang berlawanan. Jika Ben termasuk golongan rakyat jelata cupu di sekolah, Isabel merupakan anggota geng Kepompong yang populer. Selain Isabel, ada si lugu Bembi (Shanice Margaretha), si kutu buku Dana (Jihan Safira), dan si sporty Lydia (Thalita Putri Riantani). Tipikal formasi geng cewek di film-film remaja. Tentu Kepompong punya geng saingan, yakni The Fabulous Diva, yang dipimpin Paula (Cut Beby Tsabina). Isabel dan Paula sejatinya bersahabat saat kecil. Keduanya bahkan lahir di rumah sakit dan hari yang sama. Hubungan itu merenggang, lalu berkembang jadi permusuhan, pasca persahabatan ibu mereka kandas akibat kegagalan suatu bisnis.

Persaingan kedua geng memanas, tatkala pihak sekolah mengadakan lomba pembuatan konsep acara perpisahan. Fokus Ben terpecah. Di satu sisi, ia ingin membantu Kepompong, namun di sisi lain, mulai tumbuh benih cinta antara dirinya dan Paula. Masalah tidak berhenti di situ. Sebagai "rakyat jelata", Ben dan temannya, Kimo (Fatih Unru), kerap jadi korban perisakan geng The Mafioso. Siapa ketua geng tersebut? Bobby (Joshua Rundengan), mantan pacar Paula. 

Konfliknya begitu ramai, yang mana mewakili kompleksitas sinetron remaja mana pun (tidak cuma Kepompong). Hebatnya, meski hanya punya waktu sekitar 95 menit, naskah buatan Alim Sudio mampu menyatukan segalanya dengan rapi, saling terkait, saling mengisi, tanpa tumpang tindih. Pun terasa menyegarkan, mendapati sebuah drama remaja, di mana kedua tokoh utamanya bukan merupakan pasangan romantis. 

Ada satu momen menarik, ketika di kamar, Ben menceritakan patah hati yang ia rasakan kepada tantenya, sementara Isabel mencuri dengar dari luar. Momen sederhana, kalau tidak mau dibilang klise, tetapi keberadaan Isabel yang tampak sedih mendengar penderitaan Ben, betul-betul memperkuat hubungan persaudaraan yang coba dibangun film ini. Semakin emosional momen tersebut, berkat Lulu Tobing beserta afeksi hangat yang ia berikan.

Akting para pemain lumayan memuaskan, meski penampilan mereka diganggu oleh buruknya tata suara. Keputusan Sentot Sahid menyertakan lagu dengan kuantitas cukup banyak, malah jadi bumerang ketika dibenturkan dengan lemahnya penataan suara, yang membuat dialog acap kali tenggelam di balik musik.

Bio One memberi performa memadai, meski tetap aneh rasanya, melihat aktor berumur 23 tahun memerankan siswa SMP. Sebagai perbandingan, Derby Romero baru berumur 18 tahun tatkala menjadi anak SMA di sinetronnya. Sedangkan bagi Yasmin Napper, Persahabatan Bagai Kepompong menegaskan potensi yang ia tunjukkan semasa menjalani debut lewat Imperfect dua tahun lalu. Bagi saya, Yasmin seperti Mawar de Jongh. Bintang muda dengan screen presence kuat, yang mampu membuat penonton jatuh cinta seketika. Terakhir, jangan lupakan pula Fatih Unru dengan akting dramatik mumpuni, yang menandakan kesiapannya melangkah, dari fase "aktor cilik" menuju "aktor remaja".

Persahabatan Bagai Kepompong mungkin punya alur formulaik, namun segala formula tersebut berhasil dikemas secara solid. Termasuk urusan konsistensi. Seperti telah saya sebutkan, naskahnya mampu menyatukan setumpuk konflik agar saling terkait dan mengisi. Semua bermuara pada dua pesan utama: anti-perisakan dan prasangka. Hampir seluruh gesekan antar karakter, timbul akibat prasangka. Akibat kurangnya pemahaman satu sama lain, sehingga kisahnya menjadi proses karakternya belajar membuka diri, untuk kemudian saling terkoneksi. 


Available on DISNEY+ HOTSTAR 

REVIEW - NOMADLAND

"Home, is it just a word? Or is it something you carry within you?". Demikian kutipan lirik Home is a Question Mark, yang sempat dibicarakan oleh karakter film ini. Lagu kepunyaan Morrissey tersebut memang sempurna mewakili perjalanan para nomad di Nomadland, dalam mencari definisi rumah. Apakah RV bisa disebut rumah? Atau harus berupa bangunan beratap? Apakah rumah adalah kebersamaan dengan orang-orang terkasih? Ataukah suatu hal lain, yang meski tak dapat dilihat namun bisa dirasa?

Pastinya, protagonis kita, Fern (Frances McDormand), menolak disebut "homeless". "I'm just houseless. Not the same thing, right?", ungkapnya. Fern memilih kehidupan nomad, tinggal di RV berpindah dari satu tempat ke tempat lain, satu pekerjaan musiman ke pekerjaan lain, pasca kehilangan segalanya. Suaminya meninggal. Kehilangan lain menyusul, kala USG Corporation selaku perusahaan di mana ia bekerja sekaligus pemilik kota Empire tempatnya menetap, gulung tikar. Selain pekerjaan, Fern juga kehilangan tetap tinggal, karena bersamaan dengan tutupnya perusahaan, Empire juga dihapus dari peta. 

Nomadland diproduksi selama empat bulan di sela-sela fase pra-produksi Eternals, di mana Chloé Zhao selaku sutradara, bersama McDormand dan para kru, juga hidup secara nomaden dalam van. Walau memiliki naskah (ditulis sendiri oleh Zhao berdasarkan buku non-fiksi berjudul sama karya Jessica Bruder), prosesnya cenderung lekat dengan metode improvisasi, khususnya mengenai momen apa saja yang bakal diambil. Tujuannya apa lagi kalau bukan realisme.

Dan realismelah yang didapat. McDormand kembali membuktikan kapasitasnya, sebagai salah satu pelakon terbaik, untuk urusan kesubtilan. Penampilannya bukan "kepura-puraan (pretend)", namun "menjadi (be)". Detail-detail kecil mengalir alami, mewakili salah satu fungsi film sebagai potret realita. 

Ada satu adegan yang sangat saya suka, yakni ketika lewat satu take, penonton diperlihatkan Fern, yang berjalan mengelilingi tanah lapang tempat para nomad singgah. Kamera bergerak, menyapu tiap sudut, memperlihatkan segala aktivitas orang-orangnya. Ibarat tur singkat, adegan ini memperkenalkan penonton pada keseharian nomad. McDormand terus berjalan, lebih sering diam kecuali saat membalas sapaan, tapi bahasa tubuhnya berbicara banyak. Bagai seorang pemandu, gerak-geriknya seolah mengarahkan kita untuk meresapi keindahan di sekitar, sembari ditemani musik gubahan Ludovico Einaudi (J. Edgar, Mommy, The Father) yang terdengar menentramkan.

Adegan di atas spesial karena sanggup merangkum segala keunggulan Nomadland. Akting realis McDormand, sensitivitas penuturan Zhao, hingga sinematografi Joshua James Richards (kolaborator sekaligus kekasih Zhao), yang mewakili metode penceritaan visual sang sutradara. Bisa kita tengok di The Rider (2017), Zhao menyukai lanskap. Bentangan alam luas yang bak menyatukan tokoh-tokohnya dengan semesta. Gaya yang tepat guna membungkus Nomadland, sebuah kisah mengenai makhluk hidup sebagai bagian alam. 

Selain McDormand dan David Strathairn (memerankan David, pria yang menaruh hati pada Fern), mayoritas pemain lain adalah amatir. Tepatnya nomad sungguhan. Hasilnya, tercipta momen-momen genuine yang menguatkan dampak emosional, dari hubungan manis Fern dengan Linda (Linda May) selaku sahabat sekaligus mentornya dalam menjalani kehidupan nomad, hingga monolog Swankie (Swankie), saat mengingat kembali peristiwa masa lalu yang membuatnya yakin bahwa hidupnya sudah lengkap. 

Saya sempat menemukan pertanyaan yang kira-kira berbunyi, "Kalau diadaptasi dari buku non-fiksi, juga menampilkan nomad asli, mengapa tidak sekalian membuat dokumenter?". Sederhana saja, karena Zhao punya tujuan spesifik (sebelum Zhao direkrut, McDormand berniat memerankan versi fiktif dari Linda). Bukan semata soal nomad, melainkan nomad yang masih melakukan pencarian. Fern masih menimbang-nimbang, gamang, terombang-ambing dalam pemikiran, "Apakah ini jalan hidup yang benar?". Dokumenter dapat mengangkat hal serupa, namun bersifat "past", bukan "present", tidak terjadi "langsung" tepat di depan mata penonton, yang mana memudahkan terciptanya koneksi dengan karakter.

Salah satu yang mengganggu pikiran Fern adalah persoalan romansa. David menyukainya, dan secara tersirat, Fern pun tak sepenuhnya menutup pintu hati. Sayangnya, poin ini jadi titik terlemah Nomadland, yang melucuti nuansa organik ceritanya, cenderung konvensional dibanding bagian-bagian narasi lain, pula kurang menyatu dengan gagasan besar filmnya. Terasa tidak tepat, sama seperti yang Fern rasakan terkait konsep "tinggal dan menetap di bawah atap".

Mendominasi sepertiga akhir alur, kelemahan tadi cukup menggoyang stabilitas Nomadland (membuat saya urung menjagokan kemenangan naskahnya di Oscar nanti) sebelum menemukan lagi pijakannya melalui kesimpulan menyentuh nan sarat makna mengenai perjalanan. Mengenai hidup. Para nomad tidak mengenal "selamat tinggal". Setiap kali berpisah di jalan masing-masing, atau bahkan saat salah satu meninggal dunia, mereka berkata "See you down the road". Nyatanya pertemuan memang kembali terjadi. Entah hitungan hari, minggu, bulan, tahun, atau mungkin di kehidupan berikutnya dalam wujud yang berbeda.


Available on HULU

REVIEW - MINARI

Di Korea Selatan, saat sepasang suami istri telah dikaruniai buah hati, panggilan mereka berubah sesuai nama sang anak. Kedua orang tua Anne di Minari misalnya. Ayahnya dipanggil "Anne appa", sedangkan ibunya "Anne eomma". Bukan berarti status individu mereka lenyap. Selain karena menyebut nama orang lain bisa dianggap tidak sopan di sana, aspek kultural tersebut turut menegaskan kuatnya nilai kekeluargaan. Bagaimana sekali lagi, keluarga adalah harta paling berharga yang mesti diprioritaskan. 

Bagi Jacob (Steven Yeun) dan Monica (Han Ye-ri), selaku imigran yang telah menetap bertahun-tahun di Amerika, penggunaan panggilan di atas bak cara keduanya mempertahankan identitas. Tapi kini keduanya berada di persimpangan. Haram hukumnya kehilangan jati diri, namun adaptasi juga wajib dilakukan. Bukan perkara gampang menentukan, mana yang harus dijaga, mana yang perlu disesuaikan sebagai bentuk toleransi dalam usaha beradaptasi.

Jacob membawa istri beserta kedua anaknya, Anne (Noel Kate Cho) dan David (Alan Kim), pindah dari California ke daerah rural di Arkansas. Jengah akan pekerjaannya memilah kelamin anak ayam, Jacob memutuskan menapaki American dream, mewujudkan impiannya mengelola lahan pertanian sendiri. Monica sejatinya kurang setuju. Urusan finansial, karena Jacob memakai sebagian besar tabungan untuk ambisinya itu, jadi kekhawatiran terbesar Monica. Belum lagi soal kondisi kesehatan David. Jantung si bocah lemah, dan menurut dokter, bisa berhenti berdetak tiap saat. 

Dilandasi ambisi agar tidak menjadi seperti ayam jantan, yang dibuang di tempat pemotongan karena dianggap tidak berguna, Jacob pantang mundur. Dibantu Paul (Will Patton), pria lokal yang tiap minggu mengitari desa sembari memanggul salib raksasa layaknya Yesus, lahan mulai diolah. Jacob yakin, dengan etos kerja serta kecerdasan khas Korea, ia bakal berhasil. Jacob kukuh menerapkan caranya, termasuk saat menolak bantuan mencari sumber air menggunakan dowsing. Menurutnya, orang Amerika sungguh bodoh karena mempercayai metode macam itu. 

Di sinilah gesekan bermula, baik dalam diri Jacob sendiri, maupun di internal keluarga. Dia ingin menggapai American dream (alasannya memilih bercocok tanam mungkin karena di berbagai media, mempunyai ladang luas kerap diidentikkan denga kehidupan nyaman nan tentram di Amerika), namun memandang sebelah mata pola pikir setempat. Sebaliknya, kengototan mempertahankan jati diri justru nampak kontradiktif, tatkala Jacob mulai menomorduakan keluarga. Naskah yang dibuat oleh sang sutradara, Lee Isaac Chung, memaparkan dinamika hidup para imigran melalui benturan-benturan di atas. 

Sementara itu, karena Monica pun harus bekerja di tempat pemotongan ayam, datanglah sang ibu, Soon-ja (Youn Yuh-jung), guna membantu menjaga Anne dan David. Awalnya David menolak kehadiran Soon-ja, yang baginya "bukan nenek", akibat tidak bisa memasak kue, hobi main kartu, kerap melempar sumpah serapah, dan menghabiskan hari menonton gulat di televisi. Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan. Jadi, apa syarat seseorang bisa disebut nenek? Apa itu keluarga? Dan tentunya, "Apa itu rumah?".

Pastinya, Minari terasa bagaikan rumah yang hangat dan dipenuhi keping-keping memori. Seluruh departmennya memancarkan kesan serupa. Contohnya musik gubahan Emile Mosseri, yang bahkan sejak opening sudah memancing tetes-tetes air mata, lewat alunan minimalis disertai choir bernuansa dreamy yang sarat keindahan (dengarkan lagu Big Country). Begitu pula bagaimana Lachlan Milne menyajikan lanskap bertemunya hamparan padang hijau dengan langit biru melalui kameranya. Semua berkat sensitivitas.

Sensitivitas yang dikomandoi oleh Lee Isaac Chung, yang jelas paham betul pondasi-pondasi kisahnya, mengingat Minari dibuat berdasarkan kenangan masa kecilnya. Lagi-lagi sensitivitas di ranah familial memang keunggulan sineas Asia. Kemudian, kala sensitivitas itu dipertemukan dengan penonton Asia juga, hasilnya adalah kedekatan yang memperkuat dampak emosi, bahkan dari hal-hal kecil. Kalimat "What do you say?", yang selalu diucapkan Jacob kepada David tiap puteranya itu menerima sesuatu, pasti akan mengembalikan anda menuju momen masa kecil, sewaktu orang tua berkata, "Hayo, bilang apa?".

Fokus Lee adalah memainkan rasa secara natural melalui rangkaian keintiman. Sebuah dekapan, pelukan, atau sekadar tatapan lembut, menyimpan sejuta makna. Pendekatan yang turut dipakai oleh jajaran pemainnya. Steven Yeun dan Han Ye-ri melahirkan pasangan suami istri, yang meski kerap berbeda pandangan, tak pernah memaksa penonton memilih salah satu pihak. Karena kita tahu, pada dasarnya mereka sama-sama berjuang bagi keluarga. Sedangkan Youn Yuh-jung mencurahkan hati, kasih sayang yang amat besar, sehingga kala menyaksikannya, kerinduan akan masa kecil, di mana kedamaian dan kenyamanan kita dapatkan dari berbaring di pangkuan orang tua/nenek, seketika membuncah. Terakhir, jangan lupakan Alan Kim. Bocah tujuh tahun ini luar biasa. Sungguh luar biasa!


Available on iTUNES

REVIEW - GEEZ & ANN

Melihat kualitas deretan "film Wattpad", di mana Mariposa (yang biarpun cukup solid, masih jauh dari kata "spesial") tampak menonjol dibanding jajaran kompatriotnya, saya pun cukup pesimistis menyambut Geez & Ann, yang diangkat dari novel berjudul sama karya Nadhifa Allya Tsana alias Rintik Sedu ini. Tapi rupanya, walau tetap menyimpan setumpuk kekurangan sekaligus keklisean, Geez & Ann punya lebih banyak "rasa". Hal mendasar yang dalam mayoritas adaptasi Wattpad, kerap dilupakan, tenggelam di balik berondongan kalimat-kalimat (sok) puitis, atau dramatisasi yang (maunya) manis.

Ann (Hanggini) bertemu Geez (Junior Roberts) dalam sebuah acara alumni di sekolah. Ann menjadi panitia, sementara Geez sang alumni, tampil bersama bandnya. Sejak itu, Geez berusaha mendekati Ann, salah satunya dengan memperdengarkan beberapa lagu ciptaannya, dengan alasan "meminta pendapat". 

Izinkan saya membicarakan sesuatu. Ann memberi saran pada Geez, yang intinya kurang lebih, "Musik rock bukan asal keras. Musik rock tidak asal berisik". Padahal lagu-lagu buatan Geez lebih tepat disebut power pop, atau pop rock minim distorsi, sehingga kritik di atas terasa out-of-place. Sebenarnya hal ini tak mempengaruhi kualitas film secara menyeluruh, hanya saja, terasa mengganggu. Mari kembali ke alurnya.

Bersama Geez, Ann menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sayang, hubungan mereka mendapat batu sandungan, berupa tentangan dari ibunda Geez (Dewi Rezer), yang ingin putera tunggalnya melanjutkan kuliah di Berlin. Pun menurutnya, Ann sekeluarga adalah pecundang miskin yang tidak pantas bagi Geez. Sikap keras tersebut (kalau tidak mau disebut jahat) dipicu oleh kebencian terhadap si mantan suami yang pergi meninggalkan keluarganya. Sebuah latar yang berpotensi menjadikan ibu Geez karakter kompleks, yang secara bersamaan bisa memancing benci sekaligus simpati penonton. Tapi eksplorasi ala kadarnya menghilangkan potensi itu, sekaligus membuat klimaks emosi antara Geez dan sang ibu tak sekuat harapan.

Di tatanan romansa, Geez & Ann merupakan kisah mengenai hubungan jarak jauh alias LDR. Naskah buatan Adi Nugroho (Kuldesak, Jelangkung, Ruang) dan Cassandra Massardi (Get Married 2, Tampan Tailor) tidak terburu-buru melangkah ke fase LDR, seolah paham betul, bahwa segala dinamika rasa dari dua pasangan yang terpisahkan jarak, baru akan tersampaikan apabila penonton sudah lebih dulu merasakan manisnya kebersamaan mereka.

Alurnya bergerak penuh kesabaran, membiarkan penonton terhanyut dalam percintaan Geez dan Ann, yang oleh Rizki Balki (Ananta, Laundry Show) selaku sutradara, dikemas dalam dramatisasi yang tidak asal mengharu biru. Romantis, namun realistis. Iringan lagu-lagu manis pun cukup membantu.

Tentu semua bakal percuma, andai dua pemeran utamanya gagal menjalin chemistry. Saya bersyukur Geeze bukanlah satu lagi "bad boy sok keras" atau "pujangga dadakan" khas romansa remaja Indonesia belakangan. Junior Roberts akan membuat banyak gadis histeris, tapi bintang sesungguhnya adalah Hanggini, yang dalam debutnya ini, tampil begitu natural. Emosi yang dimunculkannya organik. Ketika Ann merasakan cinta, saya pun demikian. Hanggini juga mampu menjaga kenyamanan suatu adegan, menjaganya agar tidak terlampau menggelikan, tatkala naskahnya beberapa kali melempar kalimat-kalimat cheesy.

Pesona filmnya malah luntur saat akhirnya Geez dan Ann menjalani hubungan jarak jauh. Kita lebih sering menghabiskan waktu bersama Ann dengan segala kemangannya, sementara Geez nyaris sepenuhnya hilang. Rasanya ini kesengajaan, di mana perspektif Geez memang disimpan, untuk kemudian dikupas di sekuelnya. Pilihan berisiko yang mengakibatkan kegagalan kisahnya membentuk penelusuran menyeluruh mengenai LDR, dan hanya menyisakan keklisean-keklisean. Geez & Ann hendak menampilkan runtuhnya hubungan saat terpisah jarak, sayangnya saat itu terjadi, filmnya ikut runtuh. Beruntung, konklusinya sukses mengembalikan rasa yang hilang, sekaligus membangkitkan keinginan menanti lanjutan kisahnya. 


Available on NETFLIX

REVIEW - THE CON-HEARTIST

Dibuat oleh duo penulis yang sama, Pattaranad Bhiboonsawade dan Thodsapon Thiptinnakorn (nama kedua juga menulis naskah SuckSeed, May Who?, dan Homestay), dalam The Con-Heartist mengalir DNA yang sama seperti Friend Zone (2019). Sebuah komedi romantis, di mana Pimchanok Luevisadpaibul alias Baifern, memerankan wanita cantik dengan tingkah yang (for lack of a better term) "kurang cantik". Tapi di situlah formula kunci merebut hati penonton.

Baifern memerankan Ina, yang melalui vlog bertajuk "Ina's Review", memberi tips bertahan hidup dengan kondisi finansial serba kekurangan. Dari mengambil tisu toilet kantor, cara menghemat bedak, sampai mengatur persediaan pisang berdasarkan warna, semua ditunjukkan oleh gadis yang 80% dari penghasilannya dipakai membayar cicilan dan hutang ini. Naskahnya menyediakan deretan skenario konyol, sutradara Mez Tharatorn (ATM: Er Rak Error, I Fine...Thank You Love You) piawai mengemas humor visual, namun tanpa totalitas Baifern "mempermalukan diri sendiri", opening-nya takkan seefektif itu menggaet perhatian penonton pada Ina.

Tidak hanya penonton, seorang penipu bernama Tower (Nadech Kugimiya) pun tertarik padanya. Bukan tertarik dalam konteks jatuh cinta (well, belum), melainkan tertarik melancarkan tipu daya, guna menguras isi tabungan Ina. Beruntung, berbekal pengalaman sebagai mantan pegawai bank, Ina mampu menggagalkan rencana Tower, bahkan memanfaatkannya untuk balas dendam. Target Ina tak lain adalah mantan pacarnya, Petch (Thiti Mahayotaruk).

Rupanya keuangan Ina yang kembang kempis diakibatkan perbuatan Petch, yang menipunya. Petch adalah tipe lintah, yang hidup dari hasil menguras tabungan wanita kaya yang berusia lebih tua. Bersama Tower, Ina berniat balas menipu Petch. Turut serta dalam rencana mereka adalah Nongnuch (Kathaleeya McIntosh), mantan guru Ina yang tengah kesulitan uang, dan Jone (Pongsatorn Jongwilak), kakak Tower yang juga seorang penipu ulung. Tentu pada akhirnya, benih asmara tumbuh di antara Ina dan Tower.

Sayangnya naskah The Con-Heartist kurang maksimal perihal membagi fokus tiga cabang penceritaan: aksi penipuan, romansa, pergolakan hati Ina. Elemen romansanya jadi korban. Kita hampir tidak disuguhi momen-momen intim nan manis, yang memperlihatkan bagaimana hubungan kedua tokoh utama berkembang secara bertahap. Kalau bukan berkat pesona individual Baifern dan Kugimiya, serta chemistry solid mereka, bakal sulit mempercayai percintaan karakternya.

Mengenai konflik batin Ina pun, di mana ia rendah diri akibat menganggap dirinya bodoh, tak mendapat eksplorasi memadai. Bedanya, kekurangan tersebut dibayar lunas oleh adegan "menusuk", yang dengan cerdik mengubah dampak Ina's Review, dari tempat bagi kita menertawakan kebodohan Ina, menjadi media penarik simpati. Andai dieksplorasi lebih lanjut, akan tampak bahwa The Con-Heartist sejatinya bukan sekadar cerita tentang "membalas perbuatan mantan", melainkan perjalanan seorang wanita menemukan nilai dirinya lagi, pasca mempertanyakan itu akibat kejahatan pria. 

Terkait aksi tipu-menipunya, biarpun filmnya kurang cermat dalam menjabarkan rencana karakternya sehingga acap kali terdengar lebih rumit dari semestinya, mampu memberikan hiburan tingkat tinggi. Kemampuan humor-humornya memancing tawa, melalui gaya absurd khas komedi Thailand (khususnya GDH) tak perlu diragukan lagi. Terpenting, walau sarat kekonyolan, The Con-Heartist berhasil menjadikan tiap rintangan yang karakternya alami di tengah aksi, sekecil apa pun itu, sebagai sumber ketegangan.