MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON APRIL 18, 2018)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

BEYOND THE CLOUDS (2018)

Jika The Color of Paradise (1999) diawali oleh kalimat “To the glory of God”, maka “In the name of God” membuka Beyond the Clouds. Saya lupa apakah film-film Majid Majidi lain seperti Children of Heaven (1997) juga demikian. Pun melihat judul-judul filmnya, ada kesan sang sutradara berkarya atas dasar ekspresi spiritual, atau bisa disebut berdoa. Bukan doa berupa permohonan, melainkan puja-puji, mengagungkan kebaikan yang selalu ada dalam hati manusia, sekecil apa pun itu, seburuk apa pun si empunya hati. Protagonis film ini misal, yang menurut perspektif umum, tentu kurang layak disebut orang baik.

Aamir (Ishaan Khatter) namanya, yang sehari-hari mencari nafkah sebagai kurir narkoba. Ketika sikap bengalnya membuat kesal seorang pentolan dunia hitam setempat, Aamir pun jadi buronan polisi. Tersudut, ia meminta bantuan sang kakak, Taara (Malavika Mohanan) yang dulu sempat ditelantarkannya. Masih besar sakit hati Taara, tapi sebagaimana ia menyediakan ruang khusus untuk burung-burung bernaung, Aamir pun diberi tempat berlindung. Berbeda dengan Taara, menolong secara cuma-cuma tampak begitu jauh dari jangkauan Amir dengan segala ego miliknya. Sampai hadir ujian, ketika membantu sang adik justru mendatangkan petaka bagi Taara.
Narkoba kepunyaan Aamir dia titipkan pada Akshi (Gautam Ghose), salah seorang rekan kerjanya. Malang, Akshi justru berusaha memperkosa Taara, memaksanya membela diri, memukul kepala Akshi dengan batu. Akshi sekarat. Apabila ia tewas, Taara bakal dipidana atas kasus pembunuhan dan mesti mendekam di penjara seumur hidup. Nasib yang tak jauh beda dibanding kematian melihat kondisi sel yang kumuh. Tentu ini pukulan untuk Aamir. Ketimbang membunuh Akshi guna membalas dendam, yang mana lebih mudah dia lakukan, Aamir mesti berharap pria brengsek itu selamat. Dilema, ironi, pula gejolak-gejolak batin lain campur aduk, menciptakan kompleksitas yang jarang Aamir alami mengingat selama ini dia hanya hidup memikirkan diri sendiri.

Situasi semakin rumit tatkala ibu beserta dua puteri Akshi datang menjenguk. Mereka miskin. Membayar biaya rumah sakit bakal menghabiskan seluruh harta, sementara mendengar perbuatan Akshi bisa seketika menghancurkan hidup mereka. Seperti kebaikan Taara terhadap burung-burung serta dirinya, Aamir memutuskan menolong keluarga Akshi. Di sini prosesnya mengais sisa-sisa kebaikan bermula, dan Majid Majidi, melalui kisah buatannya yang kemudian dituangkan menjadi naskah oleh Mehran Kashani (sebelumnya berduet bersama Majidi lewat The Song of Sparrows), berpesan bahwa sifat kemanusiaan selaras dengan kesedian berbuat baik pada sesama, yang nantinya akan dibalas kebaikan pula.
Kedua belah pihak mulai menjalin kedekatan, bahkan menghadirkan senyum tulus, yang sebelumnya bak sulit merekah di bibir masing-masing. Ada satu momen indah, saat keempatnya bergantian menyanyi dengan latar tembok rumah Taara yang penuh gambar pedesaan hasil coretan crayon warna-warni. Indah, karena di situ mereka berbagi kebahagiaan bersama. Sedangkan di kesempatan lain, sinematografi Anil Mehta kerap menampilkan karakternya berada di tengah keramaian, entah di antara karyawan laundry, kain-kain putih yang dijemur, hingga taman penuh merpati, yang menyulap setting Mumbai bak panggung petualangan berskala besar. Keberadaan A. R. Rahman (Slumdog Millionaire, 127 Hours) di departemen musik menjadikan petualangan itu kental nuansa kultural unik.

Walau mudah menebak akhirnya Aamir sadar, naskahnya enggan menyajikan transformasi instan. Beyond the Clouds tampil selaku gambaran proses, bukan perjalanan ajaib serba tiba-tiba. Bahkan melewati pertengahan kisah, sewaktu mayoritas film bertema serupa telah membawa tokoh utama ke penebusan dosa, Aamir masih menunjukkan sisi kelam mencengangkan. Karena realitanya, sulit berbuat baik apalagi dalam di posisi Aamir. Tidak ada yang mudah, termasuk bagi Tara. Biarpun menemukan secercah kebahagiaan, penjara bukan hal enteng, bukan pula tempat di mana senyum rutin merekah dan bulan bersinar terang. Beyond the Clouds memang positif, namun menolak tampil naif. Konklusinya sederhana. Cukup satu shot bermakna tanpa emosi bergelora yang tegas menyatakan pesannya. Lebih dari cukup, sebab pada titik itu, Aamir dan Taara sudah meruntuhkan kegelapan, rela berbagi kebaikan, kemudian menemukan kedamaian.

BEIRUT (2018)


Alkisah, pemerintah Amerika Serikat bergantung pada Mason Skiles (Jon Hamm), seorang negosiator, guna membebaskan seorang sandera di Beirut, Lebanon. Sama seperti film Beirut yang mengandalkan wibawa Jon Hamm yang begitu meyakinkan memerankan diplomat Amerika Serikat untuk Lebanon. Bermodalkan wajah tegas, senyum mempesona, ditambah setelan necis, Mason jago bercerita, aktif berkeliling menyapa satu per satu tamu pesta di rumah mewahnya, dan tak sulit melihat betapa cocok Hamm melakoni peran ini. Salah satu cerita yang dituturkan Mason adalah analogi soal Lebanon.

Menurutnya, Lebanon ibarat rumah berisi orang-orang yang saling tidak percaya. Beirut memang dipenuhi tokoh-tokoh yang mengundang kecurigaan bahkan berkhianat, entah secara sengaja sebagai bentuk ketamakan, atau cuma menjalankan tugas. Hal kedua dialami Cal Riley (Mark Pellegrino) sahabat Mason sekaligus anggota CIA yang terpaksa menahan bocah Lebanon berusia 13 tahun yang Mason dan sang istri, Nadia (Leïla Bekhti), rawat, atas tuduhan terlibat aksi terorisme yang dijalankan kakaknya di Munich. Karim (Idir Chender) nama bocah itu. Tanpa diduga, upaya penangkapan itu berujung tragedi yang mengubah hidup Mason, menghempaskannya.
Perubahan bukan saja dialami Mason, sebab mayoritas tokoh film ini identik dengan dua karakteristik, yakni “tidak bisa dipercaya” dan “berubah karena perang”. 10 tahun pasca tragedi, Mason kembali ke Amerika, menjalankan profesi sebagai mediator perusahaan, hidup berantakan dalam jeratan alkohol. Mason berubah. Pun setelah kembali ke Beirut, ia mendapati setumpuk perubahan. Kota yang porak poranda akibat perang saudara, juga beberapa orang terdekat yang kini berbalik memusuhinya. Beirut sendiri, layaknya analogi soal rumah di atas, terjebak dalam kepentingan politik internasional. Palestina, Israel, Amerika Serikat, tumpah ruah berebut kendali.

Alasan pemerintah Amerika Serikat meminta (baca: memaksa) Mason kembali tak lain karena Cal diculik, dan sang pelaku meminta Mason khusus didatangkan sebagai negosiator. Di sana, beberapa perwakilan pemerintahan membantunya, termasuk Sandy Crowder (Rosamund Pike) si agen lapangan CIA. Sekali lagi, tak ada yang bisa sepenuhnya dipercaya. Perjalanan Beirut selaku hostage thriller dimulai dengan dipandu naskah buatan Tony Gilroy (trilogi The Bourne), yang sebagaimana biasa, penuh sesak oleh setumpuk intrik rumit, yang mampu memberi dua hasil berlawanan: intensitas mencekat atau penonton tersesat. Beirut sayangnya lebih dekat ke kelompok kedua. Saling tipu, kejutan, maupun konspirasi terus dituangkan tanpa ada kepedulian apakah penonton memiliki cukup kesempatan menyerap seluruhnya.
Tidak hanya penonton, Beirut sendiri tersesat, kebingungan menentukan fokus, apakah harus mengedepankan hostage thriller atau drama tentang gejolak batin Mason. Poin kedua sejatinya menarik. Walau menyangkal, secara tersirat Mason turut menyalahkan Cal atas tragedi yang menimpanya, sementara Cal pun menyalahkan diri sendiri, yang ditengarai menjadi alasannya tetap tinggal di Beirut selama satu dekade terakhir. Tatkala Mason mesti menyelamatkan Cal, berlangsunglah prosesnya berdamai dengan duka, yang semakin berhasil dilalui, semakin cepat pula luka batinnya sembuh.

Di kursi sutradara, Brad Anderson (The Machinist, The Call), mungkin bukan Paul Greengrass yang sanggup menerjemahkan skenario Tony Gilroy menjadi parade intensitas tingkat tinggi, tetapi Beirut tetap solid, walau berbagai musik ritmis kaya ketukan perkusi buatan John Debney bakal memperlihatkan jenis iringan paling klise dalam suguhan thriller yang telah diterapkan dalam ratusan, ribuan, atau malah jutaan tontonan serupa di luar sana. Setidaknya Brad bisa menjaga kerapatan momentum pun mempunyai kepekaan soal bermain timing, di mana adegan meledaknya sebuah bom jadi titik paling menghentak. Jauh lebih menghentak ketimbang keseluruhan filmnya.

TERBANG: MENEMBUS LANGIT (2018)

Salah satu adegan dalam Terbang: Menembus Langit memperlihatkan Onggy (Dion Wiyoko) melamar Candra (Laura Basuki). Bagi karakternya, ini momen penting ketika ia menemukan cinta, kawan hidup yang menyokong sekaligus memberi motivasi bagi perjuangannya. Tapi Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka’s Jakarta Undercover) yang bertindak selaku sutradara dan penulis naskah enggan menghantam penonton lewat dramatisasi tinggi. Berlatar warung mie ayam, ia menarik romantisme keluar dari situasi kurang romantis, setidaknya menurut Candra. Kesederhanaan itu mematenkan rasa juga nilai usungan filmnya, yang menjadikan Terbang, meski masih mempertahankan formula khas melodrama, memiliki nilai lebih dibanding “rekan-rekan sejawatnya”.

Mengangkat kisah hidup motivator sukses Onggy Hianata, Nugros justru tak semata menekankan destinasi berupa keberhasilan finansial. Lahir di keluarga sederhana di Tarakan, Onggy selalu terngiang petuah sang ayah (Chew Kin Wah) tentang ketiadaan kebebasan hidup apabila bekerja bagi orang lain. Begitu melancong ke Surabaya lalu menikah, ia pun nekat meninggalkan pekerjaan kantoran karena takut kelak tidak punya waktu menyaksikan tumbuh kembang si buah hati. Saya kerap mendapati penyesalan serupa dialami banyak ayah begitu menyongsong usia senja sementara anak mereka telah “terbang” seorang diri jauh di sana. Keluarga adalah poin utama Terbang, yang terus Nugros pertahankan sampai konklusi sewaktu ia berani menampilkan bentuk kebahagiaan sederhana ketika banyak penonton mungkin berekspektasi akan gelimag harta.
Bisa dibilang Onggy bukan jenius dalam hal bisnis. Berulang kali ia terbentur kegagalan entah akibat kesalahan strategi maupun tertipu. Sejak kecil pun ia digambarkan tidak secemerlang kakaknya di bangku sekolah. Ditambah keterbatasan ekonomi, saya pun berpikir, “bagaimana ia bisa sukses?”. “Apa rencananya?”. Selain tekad baja, Onggy digambarkan sebagai pria dengan banyak rencana. Kalimat “aku punya rencana” pun sering terlontar dari mulutnya, walau jangankan memancing keyakinan terhadapnya, filmnya lalai menjabarkan rencana apa yang dimaksud. Bahkan Onggy kuliah di jurusan apa pun urung dipaparkan. Karena bagi filmnya, yang penting penonton melihat Onggy mampu menempuh pendidikan di Surabaya, tanah impiannya. Di Surabaya pula Terbang memasuki babak paling menyenangkan berkat sentuhan komedi seputar kehidupan mahasiswa indekos, yang lagi-lagi melukiskan kebahagiaan di tengah kesederhanaan.

Tidak ketinggalan pula pesan nasionalisme, yang meski bisa diperhalus lagi penyampaiannya dengan cara “menunjukkan” alih-alih banyak “menyatakan” secara verbal, tak berkurang relevansinya. Pesan tersebut jelas penting disampaikan sekarang. Kegamblangan macam itu memang senjata andalan film inspiratif dan/atau melodrama, tapi untungnya, penokohan Onggy terhindar dari keklisean serupa. Dia pantang menyerah, namun bukan sosok suci. Penonton berkesempatan melihatnya di titik nadir, saat ia merasa lelah, dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah bersimpuh sambil bertanya pada Tuhan ditemani luapan tangis yang membuktikan kebolehan Dion Wiyoko mengolah rasa. Chemistry yang dibangun bersama Laura Basuki juga solid, menghasilkan pasangan mudah menggaet simpati walau keduanya baru bertemu saat film memasuki separuh durasi.
Salah satu tantangan terbesar Nugros di penulisan naskah tak lain menangani fakta bahwa tokoh utamanya merupakan pentolan Multi Level Marketing (MLM) negeri ini, yang bukan mustahil termasuk alasan mengapa Nugros memilih mengedepankan kekeluargaan. Bayangkan apa respon publik menonton kesuksesan ekonomi karakter yang disebabkan MLM? Fakta itu dikaburkan, dan sayangnya, dari segi naratif keputusan itu menghilangkan beberapa poin krusial. Keseluruhan alurnya memang dipenuhi lompatan kasar dan bukan cuma yang bersinggungan dengan MLM. Waktu berganti begitu saja, masalah-masalah yang dilontarkan juga berlalu sedemikian kilat.

Pada satu titik, Candra mengalami kontraksi di pasar. Dia segera melahirkan. Candra terjatuh, dan kalau saya tidak salah lihat, begitu ia dipapah oleh beberapa orang, perut Laura Basuki tampak mengempis. Ini cacat bagi elemen artistik yang secara keseluruhan terhampar baik. Detail setting dan properti masa lalu, hingga warna yang mengesankan nuansa “hikayat dari era terdahulu”, semua memanjakan mata. Bicara soal era terdahulu, Nugros memang sepertinya hendak mengajak penonton kembali, bukan saja menuju masa lalu, pula kembali ke akar, pulang ke rumah, kembali pada keluarga. Dibalik segala kelemahannya, Terbang: Menembus Langit tetap menonjol bila disandingkan dengan film-film lokal bertema perjuangan inspiratif kebanyakan.

HALO MAKASSAR (2018)

Kalau film sama seperti agama, di mana niat baik telah mendatangkan pahala, saya akan memberikan Halo Makassar penilaian positif. Film buatan Ihdar Nur yang sebelumnya menjabat sebagai penata kamera di Uang Panai’ (2016) ini tanpa intensi macam-macam. Tidak ada tuntutan berpesan moral, tidak ada propaganda, tidak ada pula niatan sok artsy. Menulis naskahnya bersama Matamatahari, Ihdar Nur cuma ingin menghibur (bedakan “menghibur” dan “jualan”) lewat kisah cinta berbumbu komedi. Tapi film bukan agama. Niat baik saja tak cukup, sehingga saya harus adil mengakui bahwa kekurangan Halo Makassar menenggelamkan kelebihannya.

Seperti Uang Panai’, talenta komedi berbakat mengisi film ini. Tapi seperti Uang Panai’ pula, naskahnya tak sanggup menyatukan keping-keping komedi secara rapi, agar tak terasa bak kompilasi sketsa. Pun sketsanya memakai formula yang terus diulang: Dua sopir taksi, Bimbi dan Mellonk (diperankan Bimbi dan Mellonk) bertingkah bodoh, seringkali terlibat pertengkaran konyol, sebelum diakhiri bunyi klise “Ba Dum Tss”. Lucu? Di beberapa kesempatan, ya. Meski dengan talenta Bimbi dan Mellonk, daya bunuh humornya berpotensi meningkat bila berani menambah tingkat absurditas.
Dua adegan pendek yang tampil sebelum logo rumah produksi membuat saya makin mempertanyakan pilihan struktur filmnya.  Salah satu adegannya jadi perkenalan penonton pada Diat (Rizaf Ahdiat), komposer jenius asal Jakarta yang baru menerima pekerjaan membuat musik dari satu perusahaan di Makassar. Perusahaan apa? Musik untuk apa? Jangan berharap mendapat jawaban. Sebab Diat pun hanya dihubungi via telepon, yang menanyakan, apakah ia mau menerima pekerjaan di Makassar? Tanpa menggali informasi lebih jauh, dia langsung mengiyakan. Diat memang tak suka basa-basi. Bahkan dalam pertemuan pertama di kantor klien, ia bersikap tak acuh, sibuk dengan alat perekamnya, lalu melontarkan pernyataan sombong bahwa “musik bagus itu biasa”.

Tapi Diat tak membenci sosialisasi. Keramahannya pada puteri pemilik studio rekaman yang masih kecil jadi bukti. Penokohannya memang penuh tanda tanya. Satu hal pasti, suara Anggu (Anggu Batari), operator taksi yang diidolakan penumpang karena celotehan lucunya, meluluhkan hatinya. Diat pun sibuk merekam suara Anggu, melupakan kewajibannya membuat musik. Cara bicara Anggu Batari mampu mengingatkan pada pengalaman terpikat suara penyiar radio, yang saya yakin, pernah dialami kebanyakan laki-laki. Ditambah polah lucu yang memancarkan aura positif plus senyum manis penyingkap gingsul, Anggu berjasa meniupkan rasa manis dalam romansa dua orang asing ini.
Anggu mulai menyadari ketertarikan Diat ketika alat rekam sang komposer handal asal ibukota itu tertinggal di taksi. Anggu menemukannya, tapi melanjutkan pola naskah Halo Makassar yang penuh tanda tanya soal motivasi karakter, ia menunda mengembalikan perekam itu. Apabila ia mempertanyakan intensi Diat, bukankah lebih baik segera mengembalikannya lalu bertanya langsung atau melaporkannya pada bos? Keputusan Anggu membuatnya diskors selama tiga hari, mengakibatkan taksi-taksi kesulitan memperoleh penumpang, sebab suara Anggu adalah hal yang mereka nantikan. Logis? Tentu tidak. Namun masalahnya bukan soal logika, melainkan kegagalan menjadikan situasi itu kekonyolan absurd selaku bentuk penolakan Halo Makassar menuruti logika.  
Kekurangan naskahnya terulang di babak akhir yang buru-buru, nihil puncak emosi dari momen yang telah dibangun sepanjang durasi. Tapi saya tidak terkejut. Pasca mendapati berbagai kelemahan sebelumnya, mestinya penonton bisa mencium gelagat kelemahan yang satu ini. Justru tata suaranya yang amat disayangkan. Memiliki tokoh utama seorang komposer yang mencintai wanita karena suaranya, telinga saya justru kerap terganggu oleh departemen suara, apalagi saat musik menampilkan distorsi gitar.   Benar jika Halo Makassar belum bisa disebut baik. Tapi saya mengajak anda menontonnya, sebab dengan intensi murni (baca: menghibur) pembuatnya, makin besar dukungan publik, saya yakin kualitas karya bakal bertambah.

REUNI Z (2018)

Berjam-jam saya memandangi halaman review yang masih putih polos alias kosong. Sambil duduk ditemani batang demi batang rokok, ingatan saya melayang kembali menuju Reuni Z, kolaborasi kedua Soleh Solihun bersama Monty Tiwa di kursi penyutradaraan setelah Mau Jadi Apa? (2017), berharap memperoleh ide tentang paragraf pembuka. Tapi nihil. Semakin memeras otak, semakin kusut isi kepala. Mungkin saya sedang buntu. Mungkin saya penulis yang buruk. Mungkin karena cuma sedikit hal berkesan dalam filmnya.  Reuni Z memang tidak buruk, tetapi bakal segera terlupakan. Padahal, dilupakan jauh lebih mengerikan dari dikejar zombie.

Berbeda dengan jajaran protagonis, khususnya Juhana (Soleh Solihun) dan Jeffri (Tora Sudiro) yang sulit melupakan permasalahan mereka semasa SMA. Sempat bersahabat, bahkan membentuk band bersama, keduanya bertengkar di panggung, menghasilkan hubungan canggung yang bertahan hingga 20 tahun kemudian tatkala reuni diadakan. Ketika Juhana telah angkat nama sebagai aktor film murahan sekaligus bintang iklan pompa air, Jeffri tetap merasa Juhana menghancurkan mimpinya sukses di dunia musik. Jeffri sendiri kini menikahi Lulu (Ayushita), si mantan bassis, dan sudah dianugerahi momongan, sedangkan Juhana masih hidup seorang diri.
Ketiganya, ditambah Mastur si penggebuk drum yang telah berganti kelamin dan nama menjadi Marina (Dinda Kanya Dewi), bertemu lagi di reuni SMA yang oleh naskah buatan Soleh bersama Agasyah Karim dan Khalid Kashogi bukan cuma dijadikan arena para zombie berburu mangsa empuk, pula memfasilitasi keberadaan ensemble cast. Dari Surya Saputra si tukang bully, Henky Solaiman si guru, Verdi Solaiman si tukang pamer, Fanny Fabriana si MC, Ence Bagus si pria sok alim, Joe P Project si satpam, sampai penampilan pasangan Anjasmara dan Dian Nitami. Begitu ambisius, kisahnya berusaha membagi porsi nyaris sama rata ke setumpuk nama di atas. Waktu pun terbagi, sehingga elemen persahabatan Juhana-Jeffri yang harusnya diutamakan justru sebatas numpang lewat.

Setelah repot-repot menaruh fokus pada banyak tokoh, saat tiba waktunya ajal menjemput akibat serangan zombie, adegan kematian malah tersaji off-screen. Apalagi kalau bukan demi meminimalkan sadisme yang berpotensi memantik debat kusir melelahkan di tahap sensor. Dampaknya, beberapa kematian tak terduga maupun pengorbanan karakternya urung berefek. Polanya sering berulang. Salah satu tokoh terkepung pasukan zombie, sebelum adegan langsung berpindah tanpa memperlihatkan nasibnya. Bahkan sulit mengetahui apakah seseorang sudah meregang nyawa atau belum, jika bukan karena mereka tak muncul di momen penutup.
Poin terkuat Reuni Z, yang sejatinya juga urung dimaksimalkan, adalah komedi. Beberapa kali saya tergelak. Melanjutkan pencapaian di Hangout (2016), Dinda jadi sosok terlucu yang mencuri perhatian berkat kesediaan menanggalkan rasa malu saat melucu. Totalitas. Masalahnya tak semua tokoh menyimpan karakteristik selucu Marina alias Mansur. Jeffri tak lebih dari pria paruh baya yang sesekali bersikap bodoh. Sementara profesi Juhana sebagai aktor film murahan hanya dijadikan jalan supaya film ini bisa memajang beberapa parodi poster film Indonesia klasik serta menyelipkan cameo Joko Anwar. Selebihnya, daya tarik Juhana cuma sebuah slogan yang semakin sering diulang semakin menghilang kelucuannya.

Serbuan zombie dapat memunculkan kesan atmosferik sebagaimana Night of the Living Dead (1968), bisa pula seru seperti Dawn of the Dead, baik versi Romero (1978) atau remake karya Zack Snyder (2004). Tapi kejar-kejaran dengan zombie di Reuni Z tidak menegangkan, mencekam, atau seru. Humornya pun bak berdiri sendiri, di mana mengganti zombie dengan makhluk lain, takkan mempengaruhi gaya leluconnya. Timbul beberapa pertanyaan. Bagaimana zombie mendeteksi korbannya? Mereka bisa ditipu oleh bau, terpancing suara, tapi kadang melihat buruannya. Mereka pun dapat dihentikan melalui serangan di bagian tubuh mana saja, membuat konklusi yang coba bermetafora bahwa mengenai kekuatan persahabatan jadi kurang berarti. Setidaknya riasan dan efek spesial pada klimaks digarap cukup baik.

THE PERFECT HUSBAND (2018)

Sepertinya sineas kita masih sulit membedakan antara “lelaki pantang menyerah” dengan “lelaki penguntit”. Setelah Dilan (Dilan 1990) dan Nick (Arini), The Perfect Husband, selaku adaptasi novel berjudul sama karya Indah Riyana, mengenalkan kita pada Arsen (Dimas Anggara) seorang pilot yang ngotot mengantar-jemput Ayla (Amanda Rawles), calon istri dari proses perjodohannya, meski sang gadis yang berusia jauh lebih muda (siswi SMA) menolak keras. Arsen pun mengikuti Ayla ke mana saja ia pergi, bahkan berani menggendong secara paksa di depan teman-temannya, di lingkungan sekolah pula. Dan tatkala Ayla mengaku tak lagi perawan, Arsen mengungkapkan kekecewaan sambil berkata bahwa semestinya Ayla lebih menghargai dirinya sendiri.

Saya tidak setuju anggapan film harus mendidik atau mengusung pesan. Namun pada masa di mana gerakan-gerakan positif soal “kemerdekaan diri” maupun “mencerdaskan bangsa” tengah vokal didengungkan, The Perfect Husband bagai proses mundur beberapa langkah. Betapa tidak? Filmnya seolah mendukung perjodohan paksa yang berujung pernikahan dini selepas SMA. Menghadapi persoalan itu, pikiran Ayla tentu kacau. Terlebih ia telah memiliki seorang kekasih, vokalis band rock bernama Ando (Maxime Bouttier), yang tampil di acara bernama “Indienight”, mengenakan dandanan rock ‘n roll yang tidak lagi dipakai rockstar mana pun, tapi menyanyikan lagu pop-punk berlirik galau. Bagaimana Ayla bisa mencintainya adalah pertanyaan besar. Mungkin anak SMA memang sebodoh itu.
Ucapkan selamat tinggal kepada potensi dinamika serta tensi cinta segitiga, sebab Ando dan Arsen jelas timpang saat disandingkan. Selain penokohan Ando yang terlampau menggelikan untuk menjadi pesaing serius, pesona Dimas Anggara dengan mudah menghempaskan Maxime Bouttier dan tato spidolnya. Di sisi lain, Amanda Rawles menghasilkan kesegaran memerankan gadis remaja yang bertingkah sekaligus bicara seenaknya. Pun berkat Amanda pula bumbu humornya mampu bekerja cukup baik, khususnya di paruh awal yang sempat memberi ilusi bahwa The Perfect Husband bakal jadi film terbaik produksi Screenplay yang lebih “manusiawi”, urung mengandalkan dialog puitis.

Apalagi ada Slamet Rahardjo sebagai Tio, ayah Ayla, yang seperti biasa mulus menangani tiap momen, kecuali ketika menyebut nama sang puteri. Dua kali ia luput menyebut “Alya”. Mungkin Rudy Aryanto (Surat Cinta untuk Starla) selaku sutradara segan mengoreksi si aktor senior. Mengapa Tio kukuh menjodohkan Ayla yang belum lulus SMA tentu mengundang tanya. Bisa ditebak ada hal yang Tio dan para penulis naskahnya sembunyikan demi menyulut konflik. Karena, andai Tio mengutarakan alasan perjodohan sedari awal, yang mana merupakan pilihan logis, film ini bakal selesai dalam 15 menit.
Pun sewaktu akhirnya diungkap, rahasia itu tak lebih dari elemen paling klise yang mampu dipikirkan seorang penulis kisah melodrama, yang kebetulan juga ciri khas judul-judul produksi Screenplay. Film Screenplay di bawah arahan Asep Kusdinar memang berlebihan mendramatisasi, tetapi setidaknya keputusan itu menghadirkan ketepatan porsi melodrama. Di tangan Rudi Aryanto, momen yang seharusnya menyajikan puncak emosi justru berujung canggung nan kaku. Rudi cukup sukses di Surat Cinta untuk Starla karena dibantu nomor-nomor balada ciptaan Virgoun. Tanpanya, sang sutradara bak hilang akal dan kekurangan amunisi.

Kembali sejenak menuju fakta yang Tio sembuynikan, rahasia tersebut gagal memberi justifikasi terhadap problematika perjodohan dan nikah muda. Ada begitu banyak alternatif cara menuturkan pesan mengenai bakti anak pada orang tua. Menurut The Perfect Husband, menikah setelah lulus SMA merupakan jalan keluar pemberi kebahagiaan sekaligus bukti bakti terhadap orang tua yang telah memberi segalanya untuk anak. Ya, segalanya kecuali kebebasan menjalani hidup sesuai kemauan sendiri. Dengan pola pikir demikian, jangan heran jika negeri ini dipenuhi orang bodoh. The Perfect Husband menanggalkan gaya Screenplay yang makin repetitif hanya untuk menemukan kelemahan baru yang lebih fatal.

RAMPAGE (2018)

Tim efek spesial dalam film- film macam King Kong (1933), Godzilla (1954), hingga Jurassic Park (1993), bertugas menghidupkan monster raksasa. Sedangkan untuk merespon makhluk rekaaan itu dengan kekaguman, ketakutan, atau terkadang kekaguman di balik ketakutan, adalah tugas aktor. Tapi untuk bersanding sejajar dengan mereka, cuma Dwayne “The Rock” Johnson yang bisa melakukannya secara meyakinkan. Kalau ada seseorang yang sanggup menyelamatkan dunia dari kehancuran, berani terlibat pertarungan terbuka dengan (lebih dari satu) hewan raksasa, Johnson adalah orang tersebut. Sebagai bintang laga, dia bukan cuma bermodal otot, pula karisma agar setiap makhluk menyukainya.

Saya memakai kata “makhluk”, karena dalam Rampage, Johnson memerankan Davis Okoye, ahli primata yang mampu menjinakkan, bahkan bersahabat dengan gorila albino bernama George. Keduanya berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, dan tak hanya saling memahami maksud, juga isi hati satu sama lain. Poin yang membawa kita menuju momen paling berperasaan sepanjang filmnya. Ya, meski hanya sejenak, Rampage memiliki hati tatkala George memahami nasib malang Pavoo, seekor gorila baru yang kehilangan keluarganya akibat pemburu gelap. Ada ketakutan di sorot mata Pavoo melihat sosok gorila albino berukuran jauh lebih besar darinya, sementara di saat bersamaan George menampakkan empati karena persamaan nasib.
Memberikan jiwa kepada tokoh hewan menjadikan Rampage spesial. Sewaktu sampel eksperimen rahasia jatuh dari langit dan menyebabkan George tumbuh luar biasa cepat dan berubah lebih ganas, saya diyakinkan bahwa amukannya cuma ekspresi ketakutan serta kebingungan yang disalahpahami. Seperti Davis, saya tak ingin George jadi sasaran tembak, meski sentimen serupa urung hadir untuk dua hewan lain, Ralph si serigala bersayap, dan buaya raksasa yang bagai gabungan Lizzie dan Crock dari sumber adaptasinya. Pertanyaannya, bagaimana cara menggembangkan plot tipis video game yang murni cuma menyajikan kehancuran kota?

Skenario garapan empat penulis sekaligus (Ryan Engle, Carlton Cuse, Ryan J. Condal, Adam Sztykiel), yang mengubah asal muasal raksasa dari manusia yang bermutasi, memang terasa kekurangan akal. Repetisi pun dipilih. Sepasukan agen rahasia atau militer atau prajurit bayaran muncul guna menghentikan kekacauan, merasa jemawa, meremehkan kemampuan para monster, yang akhirnya mengakibatkan kegagalan mereka. Pola ini diulang beberapa kali, dengan satu-satunya sumbangsih positif berupa penampilan keren Jeffrey Dean Morgan sebagai Harvey Russell, agen pemerintah yang bergaya bak koboi modern, lengkap dengan aksen Southern dan pistol emas di pinggang.
Rampage, sebagaimana video game-nya, menjanjikan amukan monster yang menghasilkan kehancuran massal, dan Brad Peyton dalam kolaborasi ketiganya bersama Dwayne Johnson pasca Journey 2: The Mysterious Island dan San Andreas memenuhi janji tersebut. Rampage baru habis-habisan begitu memasuki klimaks (sesuatu yang mestinya telah kita perkirakan), tapi bukan klimaks sambil lalu yang berakhir prematur. Peyton menembakkan seluruh amunisi, menghancurkan semua yang bisa dihancurkan, sembari memamerkan kepiawaian menyusun intensitas melalui kejelian bermain timing. Rating PG-13 pun tak menghalangi Peyton menjaga kesesuaian film dengan esensi video game-nya yang brutal, penuh adegan monster memangsa manusia. Tunggu sampai anda menyaksikan cara Kate (Naomie Harris), ilmuwan pemrakarsa eksperimen Rampage yang bekerja sama dengan Davis, “menyembuhkan” George.

Menyajikan kehancuran total menjelang akhir, kualtias CGI-nya sendiri tak terlalu mumpuni, khususnya jika melihat kurang meleburnya Johnson dengan para monster ketika berada di satu frame. Namun CGI dalam Rampage memang bukan bertujuan menghasilkan pemandangan realistis. Tugas itu diemban Jurassic Park dan film-film lain yang mengutamakan “sense of wonder”. Begitu juga soal plot, yang saya yakin bakal banyak dikritisi memakai sebutan bodoh, dangkal, dan sebagainya. Mengharapkan kedalaman atau kecerdasan dalam alur film macam Rampage, yang sejak awal sudah menegaskan tujuannya, bagai berharap memperoleh gizi tinggi dari makanan cepat saji. Kalau begitu siapa yang bodoh?

BLACKMAIL (2018)


Blackmail bercerita soal Dev Kaushal (Irrfan Khan), pria paruh baya yang bertransformasi dari pegawai kantoran biasa—namun kurang bahagia—menjadi seorang kriminal, serta bagaimana satu keburukan kecil bakal menggiring pelakunya menujuk keburukan berikutnya yang jauh lebih besar. Dev menyesali pernikahannya, memilih pulang larut, bermain Pac-Man di kantor, sampai bermasturbasi memakai foto istri/pasangan rekan kerja yang diam-diam ia ambil dari meja mereka. Dengan kondisi tersebut, sebagai “budak korporat” kota besar yang penuh tekanan, tendensi Dev terjerumus pada tindak kriminalitas akibat kehilangan kesabaran dan kewarasan pun cukup besar tanpa perlu ada campur tangan kasus pemerasan.

Atas saran teman sekantornya, Anand (Pradhuman Singh), Dev berusaha menyegarkan lagi rumah tangganya dengan Reena (Kirti Kulhari) lewat pemberian kejutan. Pulang sambil membawa bunga, Dev justru mendapati sang istri tengah bersama pria lain. Namanya Ranjit, (Arunoday Singh), suami puteri pengusaha kaya, Dolly Verma (Divya Dutta), yang menikah hanya demi harta istrinya. Beberapa sekuen imajinasi—yang di menit-menit berikutnya bakal sering diulang—menggambarkan keinginan Dev menghabisi Reena dan Ranjit, tapi begitu teringat setumpuk tagihan yang meneror, niat itu diurungkan. Dev memutuskan memeras Ranjit kalau tidak mau perselingkuhannya terbongkar.
100 ribu rupee. Itu jumlah yang diminta Dev. Tidak terlampau besar, karena di samping memberi pelajaran, Dev memang hanya ingin melunasi tanggungan finansial. Namun, berpijak dari satu pemerasan ini, naskah buatan Parveez Sheikh dan Pradhuman Singh (penulis dialog) menyajikan komedi hitam berbasis situasi menggelitik tatkala pemerasan demi pemerasan berikutnya terjadi. Pelaku jadi korban, korban jadi pelaku, sementara uang yang dibayarkan terus berputar, berpindah tangan bak tanpa ujung. Para tokohnya kebingungan, begitu pula penulis naskah yang seiring bertambahnya jumlah pemerasan, terjebak dalam lingkaran setan berupa momen-momen repetitif yang perlahan kehilangan taring, serupa adegan “imajinasi Dev”.

Memaksimalkan potensi komedi hitam jauh lebih sulit ketimbang komedi biasa (yang sudah tergolong sulit). Bagaimana menyulap situasi yang sewajarnya menyulut emosi negatif—kematian, kekerasan, kesedihan—menjadi kelucuan jelas butuh kejelian pengadeganan sekaligus kepekaan. Mengawali karir lewat komedi hitam Delhi Belly (2011) yang membawanya memenangkan Filmfare Award untuk kategori “Best Debut Director”, Abhinay Deo nyatanya masih keteteran di beberapa kesempatan, sehingga daya bunuh banyak humor gelapnya surut. Berbeda dengan Irrfan Khan yang tampak meyakinkan memerankan pria kantoran biasa yang tidak berdaya, tersudut, dan sewaktu ia menjalankan aksinya, saya pun bersedia berdiri di belakangnya.
Blackmail turut melanjutkan pencapaian banyak tontonan Bollywood yang semakin piawai menyentil isu-isu sosial. Secara gamblang, kita dibawa menyaksikan 4 pemerasan, tetapi di balik itu, secara tersirat, muncul bentuk-bentuk pemerasan lain yang sejatinya lebih jamak kita temui di keseharian. Pihak pemerintah daerah yang meminta sejumlah besar uang suap, detektif swasta yang mematok harga luar biasa tinggi, sampai perusahaan yang alih-alih memberi kenaikan gaji atau minimal bonus justru memaksa karyawannya bekerja lebih keras tanpa imbalan lebih. Seluruhnya adalah pemerasan dalam wujud yang berbeda. Sementara lewat kehidupan karakter Dev, kita diajak mengintip kondisi karyawan swasta kelas semenjana di kota.

Sempat berlangsung repetitif di pertengahan, untungnya perjalanan hampir dua setengah jam—tepatnya 139 menit—ini ditutup oleh konklusi memuaskan berkat naskah yang telaten merajut deretan trik dalam rencana kompleks penuh bumbu kejutan yang menyatukan berbagai poin plot dengan cerdik ditambah cara bertutur rapi dari sang sutradara. Blackmail adalah soal kompetisi kecoh-mengecoh, tipu-menipu, dan saling makan, tidak jauh beda dengan Pac-Man yang nyaris tiap malam Dev mainkan. Sekali seseorang berbuat keburukan, tinggal menunggu waktu hingga keburukan-keburukan berikutnya menyusul. Blackmail memperlihatkan itu.

JELITA SEJUBA: MENCINTAI KESATRIA NEGARA (2018)

Saya seringkali menghindari film lokal bertema militer. Kecenderungan glorifikasi ditambah karakter yang terlampau sempurna jadi penyebab utama. Menengok judulnya, saya mengira Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara takkan jauh-jauh dari golongan di atas. Sampai para tokoh tentara mulai diperkenalkan, dan ketika salah satu kalimat pertama yang terucap adalah selorohan “mambu entut” selaku respon terhadap aroma ikan asap, saya lega. Mereka bukan sosok kelewat kaku yang selalu mengucap kata-kata bernada nasionalisme selain “siap Ndan!”, melainkan sebagaimana manusia biasa, gemar berkelakar. Wajar Sharifah (Putri Marino) si gadis Natuna beserta kedua sahabatnya terpikat.

Mereka bertiga pula kreator ikan asap tadi, sebagai salah satu hidangan di warung Jelita Sejuba milik keluarga Sharifah. Nantinya, melalui Sharifah juga, naskah buatan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?, Petualangan Sherina, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) dan Krisnawati menggambarkan apa yang mesti dihadapi istri-istri TNI. Apa saja kesulitan maupun resiko dalam mencintai kesatria negara. Jaka (Wafda Saifan Lubis dalam debut akting layar lebar yang tidak mengecewakan) adalah kesatria yang dimaksud. Walau mencintai Jaka, Sharifah tak perlu diingatkan dua kali oleh ayahnya (Yayu Unru) bahwa profesi prajurit bakal membuat pria idamannya sering ditugaskan ke tempat jauh dalam hitungan bulan bahkan tahun.
Membentang dari awal pertemuan yang malu-malu sebelum benih romantika tumbuh, perpisahan pertama yang tak terasa layaknya perpisahan, pertemuan kembali yang berujung pernikahan, hingga perjuangan merawat anak sembari mencari nafkah tatkala sang suami berada di seberang lautan, kisah Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara memang mempunyai cakupan waktu yang cukup luas. Menjadi tokoh sentral, Putri Marino menampilkan transformasi mulus sehingga tumbuh kembang Sharifah nampak meyakinkan. Mencapai pertengahan durasi, tanpa saya sadari, remaja aktif, cerewet nan usil ini telah matang juga dewasa. Satu hal yang urung berubah yakni aura positif.

Baik ketiadaan sang suami atau himpitan finansial tak pernah menjatuhkan Sharifah, meski ada satu-dua momen di mana kerapuhannya memuncak, yang mana berfungsi menjauhkan karakter dari ketabahan berlebihan. Putri Marino dianugerahi senyum (bukan cuma di mulut, pula mata) yang dapat memancing senyum, bahkan meluluhkan hati siapa saja yang melihat. Senyum miliknya berperan besar menguatkan Sharifah sebagai karakter wanita yang enggan terjatuh. Film ini memang melodrama, namun bukan eksploitasi cerita merana. Komedi, baik lewat interaksi jenaka para gadis dan prajurit maupun sosok Nazar (Harlan Kasman) dengan catchphraseyele yele yele” yang bakal sulit dihapus dari ingatan, senantiasa menyegarkan suaasana.
Pun penyutradaraan Ray Nayoan (Takut: Faces of Fear segmen “Peeper”, Sinema Purnama segmen “Dongeng Ksatria”) menampakkan dinamika serupa. Ada kesan senang-senang yang dibawa sang sutradara supaya karyanya ini tidak kaku. Misalnya sewaktu Sharifah bersama Jaka menjalani produser militer panjang sekaligus berbelit sebelum melangsungkan pernikahan. Bagi Sharifah, proses tersebut terasa menyebalkan nan melelahkan, tetapi Ray memilih mengedepankan sisi jenaka dalam aktivitas itu, lengkap dengan transisi asyik (anda akan tahu transisi seperti apa yang saya maksud). Berkat deretan poin plus di atas, kekurangan pada jalinan alur yang amat formulaik dan nihil perspektif baru (tanpa film ini pun kita tahu istri tentara harus harus berjuang menghadapi penantian dan ketidakpastian) pantas dimaafkan.

Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara berpeluang menghadirkan klimaks intens yang turut menyimpan potensi emosi, sayang, pererakan buru-buru menuju konklusi, pun masih belum cakapnya Ray Nayoan membungkus aksi di medan perang melucuti sederet keunggulan terpendam itu. Biar begitu, penutupnya menyiratkan poin bermakna mengenai kehadiran Jaka dalam hidup Sharifah. Baik langsung atau tidak, sejak kali pertama Jaka menginjakkan kaki di warung Jelita Sejuba, ia berperan menyatukan keluarga Sharifah. Karena Jelita Sejuba sendiri, seperti merujuk pada pernyataan ibunda Sharifah (Nena Rosier), adalah “tempat untuk pulang”, atau dengan kata lain perwujudan keluarga. Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara bukan cuma cinta di tataran romantika, juga keluarga.