REVIEW - GODZILLA MINUS ZERO

Di film kaiju atau serial televisi berisi kehancuran masif berulang di suatu kota akibat pertempuran makhluk raksasa seperti Ultraman dan Super Sentai, entah bagaimana cara para penghuninya bersikap normal. Apakah mereka sudah sedemikian terbiasa sampai menganggapnya sebatas rutinitas? Godzilla Minus Zero bukan sekadar memperlakukan kebinasaan peradaban sebagai spektakel, tapi turut menyoroti dampak psikologis yang dihasilkan. 

Dua tahun pasca ancaman Godzilla di Godzilla Minus One (2023) berhasil dilumpuhkan, Jepang kembali jadi sasaran tembak alien berbentuk naga raksasa. Ghidorah namanya (baru bertransformasi menjadi "King Ghidorah" dengan tiga kepala di pertengahan durasi), yang melancarkan serbuan ke pusat kota Matsutomo. Musik gubahan Naoki Satō yang terdengar bak sirine tanda bahaya, efektif menggodok kecemasan di momen tersebut. 

Biro tanggap bencana berskala besar yang dikepalai Kenji Noda (Hidetaka Yoshioka) pun mulai bersiasat. Meteorologis bernama Makoto Aoyama (Masami Nagasawa) turut ambil bagian, lalu memunculkan ide untuk memanfaatkan sambaran petir guna memusnahkan Ghidorah. Sosoknya mewakili upaya manusia menjalin harmoni dengan kebuasan alam yang kerap mendatangkan bencana, terutama bagi Jepang. 

Hanya dalam waktu empat tahun, warga Jepang mesti menghadapi tiga kehancuran: ledakan bom atom (1945), kemunculan Godzilla (1947), dan gempuran Ghidorah (1949). Naskah garapan sang sutradara, Takashi Yamazaki, enggan memandang remeh dampaknya, dengan mengarahkan lampu sorot ke tiap sudut derita yang menyelimuti manusia di sana. 

Beberapa pilot mau menerima misi bak kamikaze untuk menjatuhkan bom ke tubuh Ghidorah akibat jerat kemiskinan. "Waktunya memperoleh uang dari latihan perang yang kuterima", ucap salah satu dari mereka. Pemandangan lebih menyakitkan nampak dalam area rumah sakit yang penuh tubuh tanpa nyawa. Ketika seorang bocah meninggal, tangis orang tuanya diredam oleh anjuran agar lebih tenang supaya tak memengaruhi kondisi pasien lain. Kebebasan mereka untuk berduka pun direnggut oleh situasi. 

Sementara jagoan kita, Kōichi Shikishima (Ryunosuke Kamiki) si mantan pilot kamikaze, coba menata hidup bersama sang istri, Noriko Shikishima (Minami Hamabe), serta putri angkat mereka, Akiko (Sae Nagatani). Tentu hidup damai masih angan-angan belaka. Kōichi merasa terpanggil untuk kembali mengudara, sedangkan Noriko, sebagaimana radiasi yang dialami korban pemboman tahun 1945 di dunia nyata, mendapati mutasi di tubuhnya akibat terpapar sel Godzilla semakin parah.

Durasi 135 menit film ini kembali dipakai mengeksplorasi drama humanis ketimbang cuma memeras baku hantam antar monster hingga kering, dengan keharusan memutus lingkaran kehancuran diposisikan selaku arah kisahnya bermuara. Di situlah Kanji Murakami (Min Tanaka) si ahli biologi senior memegang peran sentral. 

Murakami merupakan penyintas tiga kehancuran besar yang telah disinggung sebelumnya, di mana seluruh keluarganya tewas mengenaskan akibat ledakan bom atom. Bayangkan betapa remuk hatinya, dan terkikisnya psikis sang profesor dipancarkan dengan begitu apik oleh Min Tanaka. Dimudahkannya penonton menaruh simpati, kendati banyak intensi Murakami yang patut dipertanyakan. 

Kompleksitas berupa ambiguitas terkait benar/salah di mata para penyintas perang mampu filmnya sampaikan. Baik dan buruk ditiadakan. Hanya ada manusia-manusia yang terluka. Sayang, ada kalanya presentasi drama Yamazaki terlampau berlarut-larut, seolah keliru mengartikan "panjang" sebagai "dalam". Tidak terkecuali adegan penutupnya yang penuh tarik-ulur emosi.

Lain cerita perihal penanganan Yamazaki atas pertempuran dua raksasa di babak ketiga yang luar biasa, walau timbul kejanggalan minor saat muncul kesan bahwa Godzilla berhasil unggul hanya karena dialah jagoan film ini. Tapi pengadeganannya tanpa cela, didukung kualitas efek visual kelas satu biarpun cuma bersenjatakan bujet tak sampai separuh versi Hollywood, juga tata suara yang membuat lesatan sinar King Ghidorah maupun raungan Godzilla di antara ganasnya debur ombak terdengar dahsyat nan mencekam. 

Godzilla dan King Ghidorah tidak asal diadu. Aksi keduanya benar-benar dipotret sebagai pertempuran dua predator beringas yang berupaya saling bunuh. Darah tumpah, anggota tubuh pun tercerai-berai. Brutal, sebagaimana kekacauan perang yang mengendapkan horor di benak umat manusia. 

REVIEW - SILENT FRIEND

Sekitar 117 miliar orang pernah lahir sampai hari ini, yang berarti ada 117 kehidupan berbeda. Tapi bagaimana bila seluruhnya dapat dipandang sebagai satu perjalanan besar peradaban manusia, yang terus berkembang melewati garis waktu dengan alam selaku pemerhati setia? Silent Friend karya Ildikó Enyedi menerapkan perspektif tersebut, hanya saja dalam cakupan waktu yang lebih singkat. 

Disampaikannya tiga cerita dari tiga era dengan Universitas Philipp Marburg sebagai latar: Grete (Luna Wedler) di tahun 1908 selaku perempuan pertama yang berkuliah di sana dan mesti menghadapi ragam tindak seksisme; Hannes (Enzo Brumm) di tahun 1972 yang jatuh hati pada Gundula (Marlene Burow) yang tengah bereksperimen dengan geranium miliknya; dan Dr. Tony Wong (Tony Leung Chiu-wai) di tahun 2020, neurologis yang terpaksa tinggal sementara di kampus akibat pandemi COVID-19. 

Setiap era menggunakan identitas visual berlainan (tahun 1908 memakai 35mm hitam putih, 16mm bernuansa grainy di tahun 1972, format digital bagi tahun 2020) sehingga memudahkan penonton mengidentifikasi tiap masa secara instan kendati masing-masing protagonis belum menampakkan diri. 

Pohon gingko yang sudah berdiri di area kampus sejak 1832 menjadi benang merah. Tanaman satu ini lazim dipakai sebagai simbol jembatan antara masa lalu dengan masa depan, dan begitu pula peran yang diembannya di Silent Friend. Baik Grete, Hannes, maupun Dr. Wong punya keterikatan dengan pohon tersebut. 

Di paruh awal, Dr. Wong sempat menjabarkan risetnya yang berpusat pada bagaimana bayi merespon stimulus. Hasilnya, berbeda dengan orang dewasa, bayi cenderung memandang fenomena di hadapan mereka secara holistis, berbasis kebebasan yang mengeliminasi sekat-sekat pikir. 

Sebagai penonton kita dituntut menerapkan sudut pandang serupa, di mana alih-alih tiga hikayat terpisah, alurnya bisa dimaknai sebagai satu perjalanan panjang umat manusia yang senantiasa membasuh batin mereka dengan keingintahuan, ambisi, serta kerinduan akan koneksi antar sesama, yang dituturkan melalui sudut pandang pohon gingko. Sesekali sang sutradara menggunakan close-up cantik guna menyiratkan bahwa si pohon memiliki kesadaran atas ragam stimulus yang manusia berikan. 

Eksperimen Gundula terhadap geranium miliknya pun didasari rasa ingin tahu, tentang "apakah tumbuhan mampu bereaksi atau menerima begitu saja hal-hal yang diberikan padanya." Penelusuran Silent Friend mengenai isu gender berangkat dari tanda tanya tersebut. Jika tumbuhan saja aktif merespon, bukankah merupakan tindakan natural tatkala perempuan menolak pasrah kala diperlakukan semaunya oleh masyarakat patriarki? 

Tengok betapa kentalnya seksisme dalam pertanyaan-pertanyaan bernada merendahkan yang diajukan para profesor untuk Grete dalam wawancara. Grete menolak kalah, bahkan saat respon tegasnya dianggap menyebalkan oleh salah satu penguji. Keberhasilannya pun memantik efek domino terkait transformasi citra perempuan yang berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Jika Grete masih dikerdilkan, Gundula berkesempatan berkuliah sembari menjalankan eksperimen secara bebas, sedangkan di tahun 2020, Dr. Alice Sauvage (Léa Seydoux) yang membantu eksperimen Dr. Wong, merupakan ilmuwan tersohor. 

Manusia beserta masyarakatnya terus berprogres. Demikian pula teknologi, yang oleh Enyedi, tidak melulu dipandang selaku ancaman. Sebaliknya, pemanfaatan teknologi secara bijak justru berpotensi menjembatani harmoni antara manusia dengan semesta: Grete dengan kamera yang dipakainya memotret subjek riset; Gundula beserta kabel-kabel sederhana yang ia tempelkan di geranium; sementara Dr. Wong membekali diri dengan peralatan eksperimen yang lebih canggih. 

Bentuk non-linear alurnya yang terus mengajak penonton bolak-balik dari satu masa ke masa lain memang cenderung menyulitkan terjalinnya koneksi emosional dengan trio protagonis. Belum sempat kita meresapi rasa salah satu dari mereka, kisahnya sudah lanjut melompat ke individu berikutnya. 

Walau demikian, menyaksikan bagaimana setumpuk gagasan mendalam nan kaya empati dari naskah buatan Enyedi divisualisasikan tetap menghadirkan kekaguman. Apalagi sewaktu sinematografi arahan  Gergely Pálos memamerkan kejeliannya mengeksplorasi framing. Sebuah shot berisi dua karakter duduk bersama yang nampak dari sela-sela daun rimbun pohon gingko, bak ingin menyadarkan betapa kecilnya manusia dibandingkan semesta. Maka alangkah bijaknya jika sesekali kita berhenti sejenak dari keriuhan dunia modern, kemudian menarik napas panjang supaya bisa merasakan magisnya alam raya. 

(JWC 2026)

REVIEW - LAUT BERCERITA

Sinema takkan mengubah bangsa apalagi dunia, tapi setidaknya ia punya kuasa untuk meniadakan lupa akan luka-luka. Mengadaptasi novel berjudul sama karya Leila S. Chudori, waktu perilisan Laut Bercerita tidak bisa lebih sempurna lagi, selaku pengingat betapa rezim antikritik dapat sedemikian mematikan. 

"Membaca adalah melawan", ucap Biru Laut (Reza Rahadian). Selama 135 menit, Laut Bercerita mengundang penonton membaca catatan sendu yang ditorehkan si tokoh utama. Melaluinya, api perjuangan bukan coba seketika dibuat membara hebat, namun dipantik perlahan lewat proses kita mengamati cuplik demi cuplik kisah di balik layar salah satu catatan sejarah terkelam negeri ini. 

Semua bermula pada tahun 1991 ketika Laut masih berkuliah di Yogyakarta, di mana kegemaran menulis membawanya berkenalan dengan Kinanti (Dian Sastrowardoyo) beserta organisasi mahasiswa Winatra yang ia pimpin. Kegerahan terhadap opresi rezim orde baru jadi motor penggerak aktivisme Winatra, yang bergerak diam-diam sembari menghindari pengawasan aparat.

Penuturannya meniadakan bumbu-bumbu pop tanpa khawatir penonton awam dengan ekspektasi berbeda bakal merasa teralienasi. Bahkan romansa Laut dan Anjani (Eva Celia Latjuba), salah satu anggota Winatra pun tak pernah mendistraksi elemen politisnya lewat taburan sakarin berlebih. 

Paruh awal narasi Laut Bercerita sarat rangkaian diskusi yang bertujuan mengupas masing-masing ideologi anggota Winatra. Kita pun dibawa mengunjungi ruang terdalam kehidupan aktivisme, yang kerap dikesampingkan karena mungkin dipandang kurang "seksi dan membara" di mata banyak sinema arus utama, yang sekadar tertarik menyulut dramatisasi. 

Dampak negatifnya, drama para aktivis ini bakal terasa renggang di hati sebagian penonton. Sebab ketimbang manusia biasa yang nampak familiar dengan individu di sekeliling kita, mereka cenderung diposisikan sebagai "mesin pergerakan" belaka. Tapi di tengah situasi genting, bukankah wajar bila kepala mereka dikuasai perihal-perihal politis tanpa sempat membahas hobi, makanan favorit, atau kegamangan romantika sebagaimana manusia normal?

Sedikit disayangkan pula, isu soal bagaimana dunia aktivisme masih luput menyediakan ruang aman bagi perempuan, hanya disentil sambil lalu bak formalitas melalui sebaris keluhan singkat dari mulut Anjani, oleh naskah yang ditulis sang sutradara, Yosep Anggi Noen, bersama Leila S. Chudori. Tapi pilihan tersebut bisa dimengerti, sebab eksplorasi lebih jauh berisiko mengaburkan fokus dari pokok bahasannya.

Singkat cerita, pergerakan Winatra semakin masif. Laut pun semakin jarang mengunjungi ayah (Arya, diperankan Arswendy Bening Swara), ibu (Ratih, diperankan Christine Hakim), dan adiknya (Asmara, diperankan Yunita Siregar) di rumah. Sebagaimana rekan-rekannya, Laut diburu rasa keadilan, yang akhirnya membuat mereka diburu pula oleh barisan pembinasa keadilan. 

Paranoia mulai mengakrabi malam-malam Laut. Sekuen saat Winatra dikepung aparat sebelum sempat melangsungkan aksi di Desa Blangguan mampu dipoles oleh Anggi Noen hingga menjadi pemandangan yang aktif memicu kecemasan. 

Serupa pendekatannya di Istirahatlah Kata-Kata (2016) yang kebetulan mengangkat isu senada, sang sutradara memamerkan cara memainkan rasa melalui kecerdikan padu padan audiovisual alih-alih dramatisasi murahan. Komposisi musik bernuansa ritmis gubahan Ofel Obaja Setiawan yang tak jarang terdengar mencekam turut berjasa menyusun suasana muram nan mencekam yang mewarnai hari-hari Laut.

Tapi tiada yang lebih cerdik daripada permainan kata naskahnya yang tampil bak metode komunikasi bersandi, dalam upayanya menyuplai informasi secara subtil. Perihal mata-mata dalam tubuh Winatra (pembicaraan tentang ular di tengah sawah), atau konflik kepentingan dalam aktivisme (perdebatan mengenai pemakaian "saya" dan "kami" sewaktu orasi), jadi beberapa contoh kepiawaian olah kata naskahnya.

Tentu segala dialektika tersebut berhasil tersampaikan juga berkat performa para pelakon. Reza Rahadian otomatis berdiri di barisan terdepan yang lewat tutur katanya memudahkan penonton memercayai tingginya tingkat intelektual Biru Laut, pun tiap dituntut menuangkan emosi, sang aktor senantiasa mengedepankan keotentikan.

Barisan karakter pendukung yang menyusun figur-figur terdekat di hidup Laut pun tidak kalah hebat. Masing-masing mewakili mekanisme koping anggota keluarga dari mereka yang dihilangkan rezim: Arswendy Bening Swara dengan penolakannya menerima realita; Christine Hakim begitu kuat sebagai ibu yang menggeram dalam diam sehingga kualitas buruk dari rambut palsu yang dikenakannya bisa dimaafkan; Yunita Siregar berdiri paling tegak bak tiang kokoh sembari aktif bersuara; juga transformasi Eva Celia dari figur vokal menjadi individu yang runtuh akibat ketidakberdayaan dan melihat mistisisme sebagai satu-satunya tempat mengadu di saat dunia nyata dianggapnya tidak lagi sanggup mengulurkan bantuan. 

Jika diperhatikan, sejatinya tidak satu pun aksi Winatra berjalan lancar. Pada akhirnya mereka cuma sekumpulan anak muda yang ingin bersuara, bukan agen rahasia berbekal kemampuan tipu daya spionase canggih. Sungguh lucu ketika rezim begitu takut sampai merasa perlu membungkam, bahkan menghilangkan eksistensi mereka. Saya pun hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan kelucuan rezim pengecut.

REVIEW - GAK ADA MATINYA

Menyebut Gak Ada Matinya sebagai "Agak Laen-nya 2026" mungkin adalah penarikan kesimpulan yang terkesan malas namun tidak hiperbolis. Selain keterlibatan beberapa nama serupa (Muhadkly Acho selaku sutradara dwilogi Agak Laen merupakan produser film ini), keduanya sama-sama komedi situasi absurd hasil dari skenario kelam yang dibenturkan dengan elemen drama keluarga. 

Film arahan Etienne Caesar (Pesugihan Sate Gagak, Tiba-Tiba Setan) ini berangkat dari premis yang mengingatkan pada naskah lakon Gerr karya Putu Wijaya, yakni soal upaya tokoh-tokohnya menjaga tatanan kematian yang sudah disepakati, agar tak mengganggu kepentingan finansial mereka. 

Tokoh utamanya bernama Binsar (Oki Rengga) yang kerap bersilang pendapat dengan sang istri, Lisa (Ghita Bhebhita), seputar hubungannya dengan si ayah, Luhut (Mathias Muchus). Binsar menolak mengakrabi Luhut yang membuka usaha jahit di rumahnya. 

Keluarga ini menjadi disfungsional bukan semata karena sebagai anak laki-laki, Binsar merasa canggung di hadapan Luhut. Ada alasan yang lebih kompleks, yakni amarah si anak terkait keputusan si ayah melakukan poligami. Kompleksitas ini menarik, sebab naskah buatan Ridho Brado tentu tak semudah itu dapat membuat tokoh-tokohnya saling berpelukan dan memaafkan di penghujung cerita demi melahirkan konklusi menyentuh kegemaran pasar. 

Lalu kerumitan itu datang. Luhut meninggal akibat serangan strok, yang bakal sepenuhnya mendatangkan duka, andai tiada asuransi jiwa senilai 2 miliar yang akan diwariskan kepada Binsar, yang kebetulan sedang terlilit masalah ekonomi. Silang sengkarut bertambah pelik kala Luhut hidup kembali, memaksa Binsar menyembunyikan keajaiban tersebut dari semua orang, termasuk Viona (Mikha Tambayong), putri istri kedua Luhut yang tiba-tiba datang.

Proses Gak Ada Matinya menyeimbangkan drama dengan komedi situasi perihal hidup kembalinya Luhut belum sepenuhnya melaju lancar, terutama bagaimana segitiga Luhut-Binsar-Viona mengalami evolusi dinamika dari saling jengkel menjadi rukun, yang oleh naskahnya digerakkan secara buru-buru. Transisinya luput diberi gradasi. Lalai pula naskahnya menyediakan ruang katarsis memadai bagi putra-putri Luhut supaya penonton lebih memahami keruwetan hati mereka, yang berujung pada minimnya dampak emosional di momen-momen besar. 

Setidaknya film ini enggan menjustifikasi poligami hanya demi menggiring drama keluarganya bermuara ke arah yang lebih populer. "Bapak pikir bisa berlaku adil", ucap Luhut menyesali kegagalannya, sementara kata maaf tak pernah terucap dari mulut anak-anaknya. Binsar dan Viona tidak tertarik memberi maaf apalagi melupakan dosa sang ayah. Mereka hanya ingin memadamkan api kebencian di hati masing-masing, sebab eksistensinya menghalangi kebahagiaan. 

Butuh waktu cukup lama sampai Gak Ada Matinya mengeksplorasi premis uniknya, tapi begitu dimulai, ledakan-ledakan tawa tak lagi terbendung. Para pelakonnya berjasa besar. Oki Rengga, Ghita Bhebhita, bahkan Mathias Muchus di adegan gila berlatar nobar pertandingan PSMS, semua memamerkan kebolehan menangani humor. 

Jajaran individu di sekeliling Binsar, pun tidak kalah memancing tawa, dari Robert (Lolox) si sopir mobil jenazah, hingga karyawan usaha jahit Luhut: Feri (Arief Didu), Murni (Aci Resti), Tomi (Ilham Akbar), dan Bahlil (Benidictus Siregar) yang jadi sasaran hinaan-hinaan oleh karakter. Tapi sedikit berbeda dengan nasib serupa yang kerap dialami karakter peranan Beni, ada kepuasan lebih menyaksikan Bahlil diposisikan sebagai samsak. 

Selain lihai membawa bangkitnya Luhut ke arah rangkaian situasi absurd, menggelitik, sekaligus kreatif, naskahnya cukup cerdik membuat tiap "lelucon besar" saling terhubung untuk menciptakan reaksi berantai alih-alih sekadar kelucuan tanpa tujuan. Keinginan puta Binsar, Riko (Jared Ali), untuk mengikuti les panah misalnya. Hal remeh tersebut nantinya menghasilkan efek domino berupa serentatan kekacauan jenaka lain.

Humor verbal khas "film komika" di mana sebuah kelakar sepele berujung pada perbincangan panjang yang makin lama makin konyol pun sesekali masih jadi andalan, kendati tidak selalu mendatangkan tingkatan tawa yang sama. 

Tapi komedi terbesar film ini tentu berasal dari kedatangan maskot skena poligami, yakni Fedi Nuril sebagai Fahri yang bertugas menginvestigasi kesahihan klaim asuransi Binsar. Dari situlah Gak Ada Matinya menawarkan spesies komedi yang masih begitu jarang dijamah sineas tanah air: Komedi beraroma meta yang memanfaatkan kekayaan intelektual sebagai pondasinya. Melalui presentasi itulah filmnya membuktikan bahwa "memenuhi keinginan penonton" tidak harus bersinonim dengan kemiskinan kreativitas. 

REVIEW - HENRY'S FIRST DATES

Henry's First Dates berlatar di dunia sarat kebajikan penuh manusia berhati mulia, sehingga saat si tokoh utama mengalami nasib nahas pun hidupnya tak pernah kekurangan cinta. Sebagai remake dari 50 First Dates (2004), film ini mengembalikan kenaifan 2000-an guna menyusun ruang eskapisme dari kelamnya realita masa sekarang. 

Anterograde amnesia masih jadi sorotan, tapi sebagaimana judulnya perlihatkan, Henry's First Dates menukar peran gender dua protagonisnya. Henry (Nadech Kugimiya) merupakan si pemilik amnesia, sedangkan Lucy (Nicha Yontararak aka Minnie) jadi pihak yang memberi serangkaian kencan pertama secara berulang. Pakem konservatif soal "laki-laki pelindung perempuan" pun dilucuti. 

Pasca kecelakaan, otak Henry tak mampu merekam memori baru sehingga ia bakal mengulang hari yang sama selepas bangun dari tidur. Supaya menjaga perasaan Henry yang selalu terpukul tiap fakta itu diutarakan di hadapannya, ayah (Kiat Kitjaroen) dan adik Henry, Kanoon (Artit Somnoi), senantiasa melakukan reka ulang untuk hari kecelakaan yang kebetulan bertepatan dengan ulang tahun sang ayah. 

Humor konyol nan absurd khas sinema Thailand dijadikan pondasi. Tengok saja keisengan yang melandasi kejutan ulang tahun si ayah, di mana setiap hari Kanoon mesti mengenakan kostum ular sembari berlagak bak hewan melata tersebut. Lucu, bodoh, tapi dari situlah kehangatan keluarga Henry berhasil dipotret oleh Mez Tharatorn selaku sutradara. Henry's First Dates menggunakan tawa untuk menata dinamika antara manusia yang berusaha saling berbagi rasa bahagia.

Romansanya bermula kala perhatian Henry tertuju ke Lucy, yang telah berkeliling ke banyak negara guna mencari rute penerbangan balon udara. Menjadi objek asmara laki-laki setempat sudah jadi rutinitas yang Lucy alami di masing-masing destinasi, tapi toh di matanya semua cuma asmara kilat. Tapi Henry yang tidak mampu mengingatnya begitu hari berganti justru meninggalkan kesan berbeda, ibarat rumah bertambat yang telah lama Lucy nantikan. 

Cinta mereka pun terbit. Perempuan yang mudah melupakan dan laki-laki yang tidak mampu mengingat. Perempuan yang mencari pijakan untuk mendarat dan laki-laki yang baru berusaha terbang. Terdengar romantis di atas kertas, apalagi terkait kesanggupan Lucy menyiapkan rangkaian skenario kencan, yang karena amnesia milik Henry selalu terasa bagai kencan pertama di setiap harinya. 

Sayang, naskah Henry's First Dates terlampau bergantung pada keunggulan dua pelakonnya dalam menyusun chemistry khas pasangan romcom yang menuntut keduanya menyeimbangkan kemesraan dan kejenakaan, ketimbang menginjeksi alurnya dengan skenario kencan sarat kreativitas serta romantisme.

Seluruhnya berlangsung generik. Lucy mencegat Henry di jalan, mengajaknya meneliti rute penerbangan balon udara, sejenak berjalan-jalan, itu saja. Keputusan mengubah nyanyian sederhana selaku metode komunikasi dua tokoh utama di 50 First Dates menjadi nomor musikal konyol memang mendukung tersampaikannya elemen komedi, tapi juga melucuti sisi manis dari kencan protagonisnya. Paling tidak Nadech Kugimiya dan Minnie masih sanggup menjaga senyum penonton sewaktu menyaksikan mereka berbagi rasa. 

Tapi seiring kencan dilaksanakan, tanda tanya terkait kondisi medis Henry mulai timbul. Apabila ia melewati hari demi hari tanpa tidur apakah memorinya tetap terhapus? Di beberapa kesempatan, Henry pingsan akibat takut ketinggian (alias kesadarannya hilang serupa saat tertidur) tapi mengapa ingatannya tidak hilang selepas bangun? Sekali lagi, Henry's First Dates memang mengembalikan kenaifan sinema 2000-an, di mana logika acap kali dikesampingkan atas nama hiburan ringan nan hangat. 

REVIEW - CLAYFACE

Kentara betul bahwa draf awal Clayface dirancang oleh Mike Flanagan dengan segala padu padan genre khasnya, sebelum Hossein Amini, berbekal kapasitas penulisan yang kalah paten, ditunjuk untuk mengambil alih. Jadilah hibrida horor-drama-superhero yang enggan mengenakan topeng kekonyolan, namun terlalu dangkal guna melahirkan tuturan bermakna. 

Tom Hagen (Tom Rhys Harries) adalah aktor muda yang sedang naik daun kala memperoleh nominasi Oscar. Kemonceran karir Hagen bak cerita dongeng, mengingat dirinya berasal dari lingkungan miskin. Kini lampu sorot Hollywood diarahkan padanya. Seluruh kalangan berebut duduk di sampingnya. 

Sewaktu nominasi diumumkan di sela-sela syuting, tangisnya pecah. Penampilan Harries, lewat sorot mata sarat kebaikan serta mimpi besar, mendorong kita menaruh simpati. Hagen dibuatnya jadi figur tragis yang mudah dikasihani, tatkala satu keputusan buruk Hagen di satu malam, memancing amarah bos mafia bernama Markos Szabo (David Dencik).

Clayface mengambil latar Gotham, kota di mana degradasi moral mendominasi, sementara dedengkot kriminal menancapkan kuasa mereka. Kekhasan karakterisasi Gotham membuat kita bisa gampang percaya jika Szabo bisa sedemikian mudah merenggut semua hal dalam hidup Hagen, dari karir sampai wajah tampannya yang kini remuk akibat luka sayatan pisau. 

Hollywood meninggalkannya, tapi Hagen menemukan Dr. Caitlyn Corr (Naomi Ackie), yang melalui metode eksperimentalnya, bersedia mengobati kerusakan wajah si protagonis. Tapi kita tahu, alih-alih kembali seperti sedia kala, pengobatan tersebut justru menjerumuskan fisik serta psikis Hagen, mengubahnya jadi monster dengan kemampuan alih wujud yang kelak menyandang julukan "Clayface". 

Selaku upaya menyuntikkan kesegaran di skena film superhero melalui sentuhan horor, Clayface menghunuskan segala siksaan ke wajah Hagen, yang berulang kali tercabik-cabik, baik oleh mafia, dokter, maupun di tangan Hagen sendiri. Menyakitkan? Ya, untuk ukuran film superhero arus utama, namun jangan mengharapkan body horror kelas satu.

Frekuensi pemandangan brutal perlahan meninggi seiring bangkitnya ambisi Hagen membalas dendam pasca menyadari kekuatannya, tapi sayangnya taburan bumbu horor Clayface terlampau tipis. Sebarannya cenderung jarang, pun beberapa aksi sadis Hagen masih dipresentasikan secara malu-malu oleh sang sutradara, James Watkins, yang bak meragu untuk sepenuhnya menjejakkan kaki ke semesta body horror. 

Elemen drama Clayface berpusat pada bagaimana si aktor mengalami krisis identitas akibat kekuatan alih rupa barunya, sementara hati Hagen mulai tertambat pada Caitlyn, satu-satunya individu yang tulus menaruh kepedulian. Di situlah cetak biru khas Flanagan menampakkan jejak, namun minus penelusuran mendalam perihal humanisme, penuh dialog cantik khas sang sineas. 

Selaku penerus tongkat estafet, Hossein Amini belum cukup lihai menginjeksi unsur drama ke dalam DNA horor. Eksplorasi tentang krisis identitasnya tersaji dangkal, dinamika romantika Hagen dan Caitlyn pun disusun oleh baris kalimat murahan, yang membuat naskahnya terkesan salah mengartikan "kekosongan" sebagai "sensitivitas". 

Sederhananya, Clayface tampil membosankan. Daya tarik sempat menyeruak sewaktu Hagen mulai menjelajahi detail kekuatannya, termasuk di momen pembunuhan brutal yang melibatkan tulang belakang. Tapi bak pisau bermata dua, seiring Hagen melancarkan balas dendamnya, Clayface juga ikut mengalami krisis identitas. 

Sekuen pembantaian berlatar kelab malam memang menyajikan tontonan menghibur, namun kekonyolan menyenangkan yang dihadirkannya justru menciptakan bentrokan dengan nuansa serius nan kelam yang dibangun sejak awal. Serupa Tom Hagen, filmnya mengalami kerancuan identitas. 

Ditambah babak ketiganya yang berlangsung antiklimaks, lengkap dengan transformasi sang protagonis dari antihero menuju villain murni yang serba buru-buru sekaligus dipaksakan, Clayface pun resmi jadi satu lagi judul yang tidak mampu menjustifikasi eksistensi waralaba DC Universe.