REVIEW - EMPAT MUSIM PERTIWI

"Beneran diperkosa?", ucap seorang polisi merespon sebuah aduan. Di negeri ini, pengakuan perempuan tentang pelecehan yang ia alami memang kerap dimentahkan, seolah itu sama tak lazimnya dengan laporan mengenai kemunculan UFO. Apa jadinya bila perkosaan sungguh terjadi hingga merenggut nyala hidup seorang manusia? Pun apa jadinya kalau UFO benar-benar eksis, dan skeptisme merenggut kemungkinan-kemungkinan untuk kita melompat lebih tinggi dalam hidup?

Setelah 20 tahun mendekam dalam bui, Pertiwi (Putri Marino) pulang ke kampungnya, yang direspon seluruh warga dengan kecemasan. Mereka khawatir Pertiwi bakal memantik kekacauan lagi, sebagaimana kala terjadi pembunuhan yang dituduhkan padanya dua dekade lalu. Menurut pengakuan Pertiwi, tindakannya adalah bentuk pembelaan diri. 

Pertiwi sendiri bukannya pulang dengan hati riang. Sesekali ia perlu menghitung sampai empat (tidak pernah lebih) guna mengais ketenangan batin. Sebuah langkah terapeutik yang turut memotret bagaimana sang protagonis masih terpenjara dalam siklus kekerasan terhadap perempuan, sama halnya dengan ketidakmampuan "ibu pertiwi" lepas dari siklus empat musimnya. 

Semua laki-laki memandang Pertiwi bak ancaman mematikan, atau gagal memahami dirinya. Sang ayah (Iswadi Pratama) yang jadi kacung Pak Sapto (Donikus Indarto) yang menancapkan kuasa di desa lewat usaha listriknya, mengira mangut lele kesukaannya pun merupakan makanan favorit putrinya. 

Sedangkan Bisma (Arya Saloka) si mantan kekasih yang kini justru menikahi Niken (Hana Malasan), sahabat Pertiwi, memberi "bunga ungu favoritnya", di saat bunga kuning jadi pilihan Pertiwi untuk disematkan di tasnya. Cara subtil nan efektif dari naskah buatan sang sutradara, Kamila Andini, guna memotret persoalan dinamika gender. 

Listrik sudah menerangi seisi desa tetapi Pertiwi tetap bergulat dalam gelap, dianggap hantu menyeramkan oleh warga, di saat dia sendiri senantiasa dibuntuti hantu berwujud monster hitam bertubuh besar dengan mata merah menyala, yang jadi representasi trauma perempuan. Raras (Hanna Aretha), gadis bisu anak dukun kuda lumping (Maryam Supraba), juga kerap disatroni si monster. 

Di tengah rutinitas mengunjungi warung Mak Ira (Christine Hakim) di area Gunung Bromo, atau memenuhi panggilan Fajar (Totos Rasiti) selaku kepala desa yang resah atas kepulangannya, sesekali Pertiwi terlempar ke masa lalu, mengunjungi memori-memori destruktif yang memperlihatkan cara unik Empat Musim Pertiwi mempertontonkan kilas balik. 

Kenangan Pertiwi diputar ulang dalam bentuk tayangan televisi serta siaran radio, seolah listrik yang selama ini pernah mengaliri barang-barang elektronik tersebut, jadi saksi bisu perekam jejak kelam desanya. Tersimpan relasi antara Pertiwi dan listrik desa yang dipasok oleh perusahaan Sapto. Selalu terjadi gangguan daya ke mana pun Pertiwi melangkah. Eksistensinya bagai disrupsi bagi sistem busuk yang Sapto tancapkan ke seluruh penjuru desa. Satu lagi contoh kelihaian Kamila Andini menerapkan kesubtilan bercerita tanpa harus kehilangan kelantangan suaranya. 

Sinema fiksi ilmiah sudah kerap mengajari kita bahwa gangguan terhadap aliran listrik merupakan pertanda kemunculan makhluk ekstraterestrial. Pertiwi pun ibarat alien. Individu yang terbuang, dialienasi karena dianggap mengancam dan/atau berbeda. Begitu pun Mak Ira, Raras, dan Kuntet (Dwika Pradnyana), sahabat karib Pertiwi yang dikurung bak hewan buas akibat mengidap skizofrenia. 

Banyak karakter dimunculkan. Saya bahkan belum menyebut Jonet (Nagra Kautsar Pakusadewo), putra Pak Sapto yang hendak mencalonkan diri sebagai kepala desa berikutnya, juga Rahma (Cut Mini Theo) yang berkontribusi besar menjaga harkat hidup Pertiwi. Saya tak menganggap filmnya terlalu membengkak, sebab mereka bukannya tanpa peran. Masing-masing individu mewakili fragmen (baik berukuran besar atau kecil) dari dunia si tokoh utama. Tanpa satu saja dari mereka, kisah Pertiwi, kepiluannya, kebangkitannya, kontribusinya bagi masyarakat, takkan terpotret secara utuh.

Kelak, sekumpulan manusia yang teralienasi berkumpul dalam suaka yang Pertiwi ciptakan, bekerja sama menyambung hidup tanpa perlu bergantung pada sistem sarat kecurangan. Salah satunya dengan membuat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Ketika penguasa lalim memegang kendali atas cahaya, karakternya mengejar cahaya mereka sendiri dengan berserah pada kuasa semesta. 

Kamila Andini membawa Empat Musim Pertiwi menuju ranah magical realism yang pernah ia sambangi di Sekala Niskala (2017), saat memposisikan alam beserta makhluk-makhluk mistisnya, yang belum ternodai racun materialisme selaku sekutu bagi para individu yang diasingkan oleh sesamanya. Tatkala seorang karakter menemui ajal, ia kembali dalam wujud arwah yang membantu Pertiwi. Tubuhnya menyala terang bak lampu kendati tanpa aliran listrik. Ditemukannya cahaya begitu lepas dari cengkeraman tangan-tangan gelap penguasa.

Di luar kepiawaian Kamila Andini bercerita sembari mengulik metafora, Empat Musim Pertiwi juga memperoleh daya dari penampilan jajaran pelakonnya. Putri Marino yang wajahnya kerap kita saksikan dari dekat melalui close-up menampilkan kediaman yang jauh dari senyap. Dipotretnya amarah perempuan yang sudah terlalu lama diredam. Cela di aktingnya hanya satu: percampuran Bahasa Indonesia dan Jawa yang kurang natural. 

Christine Hakim yang meletup-letup lewat rentetan sumpah serapah, Maryam Supraba sebagai ibu yang kenaifannya perlahan digoncang oleh amarah, Hana Malasan dalam gurat-gurat ketidakberdayaan perempuan di hadapan laki-laki berpengaruh di wajahnya, sampai Hanna Aretha dengan ledakan emosi yang meremukkan hati, bersatu memproduksi hasil kerja kolektif yang menunjukkan kapasitas seni peran sebagai cerminan rasa realita. 

Adegan saat Raras menumpahkan traumanya sungguh memilukan. Kamila Andini membantah anggapan bahwa mempertontonkan perkosaan secara eksplisit merupakan keharusan bila ingin membuat penonton memahami apa yang korban rasakan. Menurut sang sineas, kita hanya perlu mendengarkan kisah sang korban secara saksama. 

Itulah yang coba Kamila sampaikan ketika menempatkan kamera begitu dekat di hadapan wajah Hanna Aretha. Semua detail ekspresinya adalah corong bagi luka yang telah sekian lama menghantui, sedangkan gerak-gerik bahasa isyaratnya bak pisau yang menghunus tepat ke jantung penonton selaku pendengar katarsisnya. 

Empat Musim Pertiwi memang jadi ruang untuk ledakan female rage yang selama ini coba diheningkan oleh paham patriarki. Jejaknya bertebaran di sepanjang durasi, dari kalimat "Fuck them all!" dari Mak Ira, sampai momen Pertiwi membacakan puisi di atas panggung diiringi Melukis Memar di Langit Ibu milik Rekah, yang bagi saya merupakan salah satu pemakaian musik hardcore terbaik di sinema Indonesia. Kamila mengerti bahwa esensi musik keras bukanlah media bertingkah sok jagoan, melainkan ungkapan perlawanan. 

Sayang babak puncaknya kurang memuaskan, akibat pertumpahan darah yang datang mendadak alih-alih buah pikir yang disusun secara bertahap. Bukannya tanpa maksud. Sebagaimana diutarakan jelang babak ketiga, akibat paksaan kondisi, privilese Pertiwi untuk dapat mencanangkan rencana jangka panjang telah direnggut darinya. Dia hanya mampu melangkah setapak demi setapak. Pilihan narasi tersebut berasalan, namun di saat bersamaan, turut merenggut efektivitas momennya. 

Tapi sekali lagi, klimaksnya berhasil memberi ruang sempurna bagi representasi female rage. Amarah tersebut memerlukan intervensi ilahi, sebab ketika dunia nyata memilih berpangku tangan, atau tak lagi punya kemampuan melawan, mistisisme pun jadi satu-satunya jalan guna merengkuh keadilan, kemudian memutus siklus yang telah terlalu lama memayungi perempuan dengan kegelapan. 

REVIEW - OTHER MOMMY

Isyarat positif pertama dalam Other Mommy dihadirkan oleh minimnya waktu yang ia habiskan untuk berbasa-basi. Kurang dari 15 menit, adaptasi novel Incidents Around the House karya Josh Malerman ini sudah membuat tokoh-tokohnya menyadari eksistensi sosok "ibu yang lain", tanpa mengharuskan penonton melalui friksi klise mengenai skeptisisme.

Bela (Arabella Olivia Clark) beserta orang tuanya, Russell (Jay Duplass) dan Ursula (Jessica Chastain), sekilas nampak bahagia, namun tidak butuh waktu lama bagi naskah buatan Nathan Elston menampakkan wajah disfungsional dalam keluarga kecil ini. Jejak-jejak penelantaran sesekali terdeteksi, pun jelas bahwa Ursula tengah terlibat perselingkuhan. 

Segera pula teror dari entitas misterius berupa doppelgänger yang menyerupai fisik Ursula (sehingga dipanggil "Other Mommy") menebar teror dengan mengiming-imingi kebahagiaan abadi bagi Bela. Chastain menghidupkan sang makhluk misterius lewat senyum janggal yang melucuti segala nuansa kemanusiaan dari wajah manusia. 

Menyusul setelahnya adalah rangkaian serbuan imajinatif, dalam skala lebih besar nan lebih ambisius ketimbang penampakan hantu milik horor generik. Kuncinya terletak pada percampuran ragam subgenre, yang membawa Other Mommy mendekati paparan horor kosmik (sang doppelgänger bak berasal dari perguruan entitas jahat yang sama dengan Pennywise), dengan sedikit bubuhan warna body horror tiap filmnya memamerkan sisi sadis si antagonis. 

"Other Mommy" tidak pernah dilukiskan selaku hantu atau makhluk mistis biasa, melainkan entitas kosmik ajaib penghuni kasta lebih tinggi dengan segala kuasanya atas manipulasi ruang. Sederhananya, ia luar biasa sakti. Poin yang turut menjadi bumerang kala hadir pertanyaan: Kalau sekuat dan sesakti itu, kenapa mesti muncul dan menghilang alih-alih menyerang terus-terusan? Kenapa ada kalanya menyalakan lampu dapat mengusirnya, sedangkan di kesempatan berbeda ia mampu menyerang di tengah keramaian terang benderang? 

Mungkin saya saja yang terlalu memusingkan logika dan aturan. Tapi tidak bisa disangkal bahwa Other Mommy adalah horor dengan daya hibur tinggi. Alurnya padat berkat konsistensi naskahnya menyuguhkan problematika tanpa henti, temponya pun cepat. Bahkan terlalu cepat, terutama perihal bagaimana Rob Savage selaku sutradara meramu jumpscare yang tak jarang usai terlampau prematur sebelum penonton sempat meresapi kengeriannya.

Klimaksnya tidak kalah buru-buru. Walau meleburkan ragam subgenre, nyatanya Other Mommy masih terjangkit penyakit khas horor supernatural berupa kelalaian menawarkan hentakan di babak puncak yang berakhir instan. Bedanya, jika para hantu dan iblis lain dienyahkan oleh doa serta ritual miskin imajinasi, Other Mommy, dalam upayanya tampil kekinian, menggunakan kata-kata bernada katarsis, yang sayangnya tidak dibarengi penulisan mendalam maupun pilihan diksi mumpuni. 

Elemen dramanya menempuh jalur kegemaran horor modern, di mana ancaman yang mesti protagonisnya hadapi merepresentasikan pergulatan batin mereka daripada sekadar tipu daya iblis kejam. Kisahnya menitikberatkan soal keharusan individu menghadapi ketidaksempurnaan yang kerap dipaksa bersemayam dalam gelap, tersembunyi di balik pintu bernama "kebohongan". Biarpun kebohongan merupakan tindak manusiawi, bukan berarti ia layak dilanggengkan. 

Masalahnya, keinginan membangun kesan modern itu menemui batu sandungan berupa ketidakseimbangan perspektifnya. Ketika Ursula dipotret bak biang segala luka, Russell ibarat figur suci tempat seluruh kesabaran terpatri. Menjadikan mereka sesama manusia pemilik cela rasanya bakal memproduksi drama humanis yang lebih efektif. 

REVIEW - FORGOTTEN ISLAND

Hingga detik ini Forgotten Island adalah animasi terkuat hasil produksi Hollywood sepanjang tahun 2026. Di samping hal-hal yang terpampang nyata seperti apresiasi kultural serta pesan persahabatan, ceritanya mampu mempertemukan konstruksi berpikir logis dengan emosional, yang kerap saling berbenturan di zaman serba cepat nan sarat tuntutan seperti sekarang. 

Dimotori animasi ekspresif kaya warna bertekstur kuat yang membentuk tren baru sejak Spider-Man: Into the Spider-Verse (Forgotten Island digarap oleh tim Puss in Boots: The Last Wish yang menerapkan gaya serupa), alurnya membentangkan petualangan dua sahabat asal Filipina, Jo (H.E.R.) dan Raissa (Liza Soberano), yang memiliki kepribadian berlawanan namun tak pernah terpisahkan. 

Jo menjalani hidup dengan sikap peduli setan akan segala persoalan, sedangkan Raissa lebih berakal sehat. Kecintaan terhadap legenda tentang dunia magis bernama Nakali, yang konon pernah dikunjungi nenek Jo, Fatima (Dolly de Leon), jadi ikatan pemersatu mereka. 

Gestur cium tangan kala bersalaman dengan orang tua, maupun frasa Tagalog "Tayo Na!" (berarti "Ayo!") yang kerap dua protagonisnya ucapkan, jadi beberapa detail penyusun elemen kultural penyusun representasi segar dalam Forgotten Island. 

Karena Nakali, sebagaimana hal-hal bersifat budaya tradisional dewasa ini, mulai tenggelam dalam amnesia yang dihasilkan modernisasi. Bahkan ketika Jo dan Raissa akhirnya menemukan portal ajaib ke sana, mereka pun segera melupakan malam penuh petualangan yang sempat dijalani. 

Serupa karakter-karakter di The Hangover, keduanya terbangun di bibir pantai yang berantakan tanpa membawa sisa ingatan. Jo kehilangan sepatu kesayangannya, sementara di pundak Raissa (yang separuh rambutnya terpangkas) terpasang sayap kepunyaan Manananggal (Lea Salonga), monster haus darah yang eksistensinya menyulut rasa penasaran mereka sedari kecil. 

Setidaknya ada Raww (Dave Franco), makhluk setengah manusia setengah anjing, yang menawarkan bantuan guna mengembalikan memori mereka. Jejak-jejak misteri ala The Hangover tersebut menjauhkan alurnya dari keklisean, seiring kita diajak berkenalan dengan makhluk-makhluk aneh penghuni Nakali yang disebut "aswang".

Tapi mereka lebih dari sebatas monster berdesain unik. Sebagaimana perspektif Studio Ghibli terhadap mistisisme, Forgotten Island memotret para aswang sebagai entitas dengan akar budaya kuat. Kendati filmnya berlatar era 90-an, tiap aswang mewakili berbagai pergulatan masyarakat modern: Raww enggan jadi figur tak kasatmata, Batiba (Jenny Slate) takut melangkahkan kaki ke dunia luar, Mermahn (Kevin McCann) khawatir dicap inkompeten, sedangkan Bungi (Manny Jacinto) masih sukar berjauhan dari sang ibu. 

Nakali yang indah namun mematikan, pula dihuni ragam jenis penduduk, adalah dunia fantasi yang bertindak selaku representasi realita. Bagaimana Jo dan Raissa, selaku dua protagonis dengan penokohan kuat, bereaksi terhadap Nakali pun turut menangkap dua sudut pandang berlawanan untuk dunia masa kini.

Jo yang sudah kenyang menelan pahitnya penelantaran selalu bersikap liar, bukan hanya demi menikmati hidup, juga supaya eksistensinya diakui. Raissa kadang terkesan kurang dapat bersenang-senang, tapi itulah caranya memperoleh status penyintas di tengah desakan modernisasi. 

Naskah buatan duo sutradaranya, Joel Crawford dan Januel Mercado, tak mengerdilkan dua perspektif di atas. Benar bahwa sesekali kita perlu sejenak berhenti melangkah, memotret keindahan sembari menarik napas untuk membiarkan kebahagiaan yang ditawarkan dunia memenuhi dada, namun terlalu lama bersantai di persinggahan pun bakal membuatmu hilang arah. Keseimbangan tersebut diperlukan agar individu tidak dimangsa realita, yang ada kalanya lebih buas dibanding Manananggal. 

Forgotten Island memang belum sempurna. Beberapa faktor penyusun kisahnya, baik problematika persahabatan, persoalan budaya yang terlupakan, hingga antagonis yang lebih tepat disebut "disalahpahami" ketimbang murni jahat, adalah poin-poin familier yang jamak menyusun animasi arus utama Hollywood. Naskahnya pun terjangkit penyakit film fantasi, yang menggunakan unsur magis sebagai taktik malas mengakhiri konflik. 

Tapi energi yang dibawa Joel Crawford dan Januel Mercado dalam merangkai spektakel mampu mengaburkan deretan kelemahan tadi. Tengok bagaimana kedua sutradara menyusun adegan kejar-kejaran yang bukan sekadar bentuk pemenuhan obligasi dengan segala kekonyolan khas animasi semua umur. 

Seru, bertenaga, kaya akan sapuan-sapuan visual tegas. Apalagi Manananggal dipotret bak mesin pembunuh haus darah yang intimidatif layaknya Predator (Jo dan Raissa sempat menonton adegan ikonik kala Arnold Schwarzenegger dan Carl Weathers bersalaman secara super maskulin) kala mengejar para protagonisnya. 

Adegan tersebut, sama halnya dengan sentuhan humornya yang kreatif, meleburkan sisi kekanakan dengan materi yang bisa diapresiasi penonton dewasa. Mungkin itu pula yang dibutuhkan dunia sekarang. Manusia perlu mendewasa guna memahami kelamnya realita, namun jangan sampai kemurnian pikir khas bocah dienyahkan sepenuhnya, karena hal itu merupakan salah satu sumber rasa bahagia. 


REVIEW - DIGGER

Digger termasuk sulit diulas, sebab mustahil mengupas tuntas gagasan serta keresahan yang Alejandro González Iñárritu tumpahkan tanpa menebar spoiler (bahkan tim pemasaran pun kesulitan menentukan strategi). Saya hanya bisa bilang bahwa Iñárritu secara ajaib berhasil merealisasikan visi yang oleh kebanyakan sineas bahkan takkan berani disentuh. 

Namanya Digger Rockwell (Tom Cruise). Seorang taipan dunia minyak yang berkongsi dengan pemerintah Amerika Serikat supaya mendapat izin mendirikan kilang di Alaska dan Greenland. Rumah megah Digger dipenuhi hiasan taksidermi, termasuk sekumpulan buaya kecil di langit-langit, bak memproklamasikan kedigdayaan si pebisnis di puncak rantai makanan. 

Sampai keserakahan Digger mendatangkan bencana, yang sejatinya bisa ditangkal andai ia mau mendengarkan saran para cendekiawan (terdengar familiar?). Seolah membungkam mulut para penentang teori pemanasan global, sebongkah es berukuran masif terlepas dan siap membuat Eropa porak-poranda. 

Rapat darurat yang kekacauan dan kengawurannya hampir sebanding dengan situasi ruang perang dalam Dr. Strangelove (1964) pun segera dilangsungkan. Arogansi pihak Amerika Serikat di bawah pimpinan Presiden Compson (diperankan John Goodman lewat intensitas luar biasa di hadapan sorotan close-up) pun demikian kentara. Ketimbang pasrah akan ketidakmampuan mengontrol alam, mereka berkeras kalau kekuatan militer Amerika bakal menuntaskan segalanya.

Di tengah kekacauan tersebut, Tom Cruise memamerkan kendali tingkat tinggi atas karakternya. Penampilannya komplit, memadupadankan ledakan gestur-gestur besar selaku perwujudan kesombongan sang pebisnis licik, dengan akting mikro yang menyiratkan riak-riak insekuritas dalam hatinya. Monolog Digger di depan puluhan pembencinya menuntut letupan energi yang tak kalah besar dibanding rentetan aksi berbahayanya di waralaba Mission: Impossible. 

Kelak twist besar mengubah arah alurnya. Bukan sekali tapi dua kali. Twist yang secara cerdas memberi ruang bagi naskah yang Iñárritu tulis bersama Alexander Dinelaris Jr., Nicolás Giacobone, dan Sabina Berman, guna menangani lebih banyak isu tanpa menjadikannya saling tubruk. Digger terasa padat tapi tidak menyesakkan. 

Selaku sutradara pun, selain jago menyusun mise-en-scène momen-momen komedik di mana humor dapat dilempar hanya lewat susunan bloking para aktor di depan kamera, Iñárritu hadir dengan kepresisian bercerita yang mumpuni. Semuanya besar, semuanya masif, namun tidak membengkak tak terkendali. Iñárritu ibarat arsitek gila yang didukung kepercayaan diri tinggi, menyapukan garis demi garis dalam desain bangunannya yang maha kompleks. 

Begitu Digger mengubah treknya, perenungan berbeda (tapi tetap menautkan benang merah dengan persoalan alam, kapitalisme, dan penyalahgunaan kekuasaan) dihadirkan oleh kisahnya: Apakah status karya seni, termasuk di dalamnya sinema, sebagai "aksi pura-pura" lantas mengecilkan urgensinya? Antara akurasi dan eksplorasi, mana yang semestinya lebih diutamakan kala berkarya? 

Digger pun bertindak selaku pengingat, bahwasanya karya seni memang bisa menjadi medium katarsis dalam belenggu derita, juga perekam peristiwa lampau supaya masyarakat tak terjangkit amnesia sejarah hingga jatuh ke lubang yang sama. Tapi tidakkah lebih baik bila umat manusia tersadar sejak dini supaya penderitaan tersebut tidak perlu menghampiri? Ada kalanya film ini tampil kelam, namun Iñárritu menolak kehilangan harapan terhadap kemampuan generasi masa depan memperbaiki keadaan. 

Digger merupakan karya yang menuntut penonton menahan impresi prematur maupun penghakiman buru-buru. Biarkan struktur raksasanya menampakkan wujud nyata secara menyeluruh. Pada masa serba instan di mana publik dengan gampang menarik konklusi tanpa pikir panjang, Digger adalah latihan yang sempurna bagi kemampuan kita merespon dan mengapresiasi kecakapan seniman beserta karyanya. 

REVIEW - LOBANG BUAYA: 309 HARI SEBELUM TRAGEDI BERDARAH

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah bak visualisasi kumpulan teori konspirasi internet sarat cocoklogi mengenai peristiwa sejarah. Bukan masalah. Sinema negara lain pun gemar melempar gagasan serupa. Sebutlah Hollywood dengan deretan spekulasi liarnya mengenai pendaratan di bulan. 

Bedanya, jika menjadikan film-film cocoklogi tentang misi Apollo 11 selaku contoh, maka teori konspirasi berfungsi menjembatani satir kritis, dan peristiwa nyata yang mendasari tak melibatkan elemen sensitif seperti pembantaian terhadap jutaan nyawa yang masih menyisakan trauma bangsa hingga sekarang. 

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah coba mengutarakan beberapa kritik namun dengan setengah hati. Saya mengerti, bahwasanya Hanung Bramantyo dan tim enggan mengambil risiko menyentil figur-figur kuat yang nyaris mustahil diganyang kuasanya. Tapi jika demikian, mengapa tak sepenuhnya bermain di ranah khayali?

Naskah buatan Hanung dan Haqi Achmad menjabarkan misteri pembunuhan berantai yang tengah diusut oleh Soegeng (Baskara Mahendra), anggota angkatan darat yang curiga bahwa pelaku berasal dari kesatuannya. Satu per satu mayat ditemukan di Desa Lobang Buaya, di mana pada masing-masing tubuhnya tertulis kata yang merujuk pada tujuh dosa mematikan. 

Cocoklogi pun diutarakan, terutama perihal angka "309" yang bisa ditautkan ke tanggal "30 September", "309 hari sebelum peristiwa G30S sebagaimana tertuang dalam judul", sampai pemaknaan akan ayat 9 dari surat ke-30 (Ar-Rum) di Al Qur'an. Kendati nihil kesubtilan sebagaimana jamaknya teori konspirasi dunia maya, presentasi misteri Lobang Buaya sejatinya cukup menyenangkan. Setidaknya ia efektif menyulut rasa penasaran terkait ke arah mana cocoklogi tersebut bakal bermuara.

Sementara Soegeng melangsungkan penyelidikan, sang istri, Arum (Carissa Perusset), tinggal di rumah untuk menjaga ayahnya (Mathias Muchus) yang sakit keras. Sesekali fokus dialihkan ke Arum, yang memfasilitasi filmnya menghantarkan jumpscare, guna memuaskan dahaga penonton arus utama akan horor hantu-hantuan konvensional. Daya kejutnya cukup efektif, termasuk sebuah penampakan yang jadi wujud pemanfaatan CGI cerdik serta ketepatan timing dalam pengarahan Hanung. 

Pun seperti karya-karya non-horor miliknya, dibantu sinematografi olahan Saudi Utama, musik beraroma suspense klasik gubahan Hariopati Rinanto, juga kinerja tim tata artistik, Hanung kembali membuktikan kapasitasnya memproduksi film dengan kesolidan teknis. Sederhananya, "terlihat mahal", yang mana jadi salah satu hal favorit para produser. 

Sayang, memasuki babak kedua, Lobang Buaya membuang unsur police procedural miliknya, untuk kemudian mengaplikasikan cerita balas dendam beraroma mistis generik. Apalagi sejak kemunculan karakter Dukun Suradi (Iskak Khivano), yang jadi medium naskahnya menyudahi misteri lewat cara malas, di mana alih-alih mengajak penonton menyusun keping demi keping jawaban secara berkala, kebenaran disampaikan lewat kilas balik dalam kilas balik pada satu waktu, sehingga menumpuk segunung eksposisi kusut yang tak jarang malah mencuatkan tanda tanya baru. 

Diperkenalkan pula buku sihir Ghāyat al-Ḥakīm alias Picatrix, yang jadi gerbang pembuka bagi alurnya untuk berbalik arah ke ranah mistis. Bila ditangani dengan cermat, dunia klenik berpotensi menjadi alat menyampaikan kritik metaforis yang "sangat Indonesia". Sebab ketimbang dikerdilkan, bukankah lebih baik andai mistisisme dieksplorasi agar bisa dipakai sebagai identitas yang layak dibanggakan? 

Masalahnya, penerapan mistisisme dalam film ini lebih seperti jalan keluar aman yang pembuatnya ambil. Karena menumpahkan dosa pada manusia penguasa menyimpan risiko fatal, lebih aman memposisikan "entitas hitam" seperti iblis atau Dajjal selaku musuh bersama. 

Benar bahwa Lobang Buaya menyentil beberapa sosok penindas, tapi mereka sebatas penguasa kelas kampung, alias sekadar teri dibanding "ikan besar sesungguhnya" yang semestinya jadi sasaran kritik utama. Belum lagi twist di penghujung durasi terkesan memotret rakyat jelata dengan segala luka mereka sebagai biang kerok atas segala tudingan yang dialamatkan kepada pemegang kuasa. Perihal ini takkan perlu dipusingkan andai Hanung seutuhnya bermain di area fiksi. 

Saya bukan menyebut Hanung dan tim pengecut. Terasa betul mereka bergumul dalam dilema, antara ingin mengutarakan kebenaran (dari hipotesis bahwa area Lobang Buaya dipilih sebagai lahan pembantaian karena lokasinya strategis untuk melancarkan kudeta, sampai keberanian untuk tak membingkai kaum religius sebagai "sosok putih" dan komunis sebagai "sosok hitam") atau kudu berhati-hati. Tapi biar bagaimanapun, dilema tersebut sudah merontokkan taring filmnya. 

REVIEW - VERITY

Lowen Ashleigh (Dakota Johnson), si novelis yang punya mimpi mereguk popularitas, tengah berjalan menuju sebuah rapat saat seorang pria tertabrak mobil hingga darahnya terciprat ke arah protagonis kita. Ketimbang hasil kecelakaan lalu lintas, jumlah darah yang membasahi wajah Lowen, juga kekuatan semburannya, lebih mirip dampak ledakan bom. Berlebihan.

Beruntung ada pria baik hati bernama Jeremy Crawford (Josh Hartnett) yang bersedia meminjamkan kemeja cadangan untuk Lowen. Mereka berganti baju dalam bilik sempit sembari mengadakan sesi curhat dadakan, di mana Lowen dan Jeremy berbagi tragedi memilukan di hidup masing-masing, pada orang asing yang baru dikenal beberapa menit lalu.

Seketika, saya pun siap mengarungi dunia triler erotika bertenaga sarat hiperbola bodoh nan menyenangkan, dari adaptasi novel berjudul sama karya Colleen Hoover yang sempat viral di kalangan booktok ini. Tapi secara mengecewakan, yang berhasil Verity persembahkan cuma perihal kebodohan.

Kelak terungkap bahwa Jeremy adalah klien di rapat yang hendak Lowen hadiri. Jeremy menawari Lowen pekerjaan berbayaran tinggi, yakni membantu sang istri, penulis tenar bernama Verity Crawford (Anne Hathaway), guna menyelesaikan buku terbarunya. Verity baru mengalami kecelakaan, sehingga menyulitkannya memenuhi tenggat waktu perilisan. 

Jadilah Lowen menetap sementara di kediaman pasutri Crawford, menyusun bahan tulisan, sambil sesekali menjalin keakraban dengan suami orang yang istrinya tengah terkapar tak berdaya. Panggung bagi pertunjukan opera sabun sudah didirikan secara sempurna. 

Di atasnya, dipentaskanlah aksi perselingkuhan nakal, dengan seks jinak serta sensualisme malas berupa deretan adegan mandi dan/atau ganti baju selaku hiasan. Belum lagi sentuhan misteri yang menjanjikan twist mencengangkan, kala Lowen menemukan manuskrip rahasia, yang membuatnya mulai mempertanyakan kesehatan mental Verity. 

Semua amunisi yang berpotensi memuaskan dahaga target pasarnya telah tersedia, namun sayang, Michael Showalter selaku sutradara yang terlampau miskin gaya gagal memaksimalkannya. Verity tampil begitu polos, pula begitu lemas untuk sebuah b-movie beraroma opera sabun yang semestinya punya energi berlebih. 

Filmnya banyak berkutat pada situasi saat Lowen membaca manuskrip buatan Verity, yang kemudian jadi gerbang pembuka menuju kilas balik. Membosankan, apalagi dengan gaya bertutur "lemah syahwat" dari Showalter. Satu-satunya upaya menggenjot intensitas muncul lewat teknik penyuntingan yang melompat semau sendiri tanpa peduli soal kontinuitas, dan lebih banyak menyuplai disorientasi daripada suntikan tenaga. 

Dakota Johnson tampil dengan gaya "minim energi" khasnya (karakter Lowen sendiri mengaku dirinya memiliki "resting bored face"), yang kendati tidak buruk, turut berkontribusi memperparah kelemahan Verity menggenjot intensitas. Sebaliknya, Anne Hathaway dalam kapasitas lebih terbatas justru mampu sedikit memperbaiki keadaan. Momen terungkapnya salah satu twist sanggup tereskalasi daya kejutnya berkat gestur kecil (baca: sedikit gerakan kepala) sang aktris. 

Verity mengandung twist berlapis. Lapisan pertamanya cukup cerdik bermain-main dengan prasangka yang otomatis terjalin di benak penonton, karena adanya pemahaman terhadap formula klise dari genre yang diangkat. Kemudian dikupaslah lapisan kedua yang lebih menguarkan aroma kekonyolan, dalam upaya menyoroti bagaimana seorang penulis sanggup memainkan persepsi penikmat karyanya terkait garis batas fiksi dan realita. 

Lapisan kedua itulah poin utama yang hendak Verity utarakan. Bukan twist berkualitas, sebab ketimbang secara aktif mengonfrontasi persepsi penonton mengenai "mana fiksi mana fakta", filmnya sekadar menumpahkan poin tersebut secara mendadak di penghujung cerita. Verity terlampau bodoh dan dangkal sebagai eksplorasi mengenai penulisan, namun terlalu jinak selaku spektakel konyol yang bersedia mengeliminasi logika.