REVIEW - SURAT UNTUK MASA MUDAKU
Saya tumbuh berdekatan dengan panti asuhan berbasis agama di mana kakek menjadi salah satu pengurusnya. Hampir di tiap generasi muncul anomali dalam sosok anak berbakat yang amat menguasai ilmu agama, tetapi kerap memantik masalah, entah tertangkap basah mengutil di swalayan, mabuk-mabukan, atau sekadar doyan berpacaran. Mereka dengan gampang dicap "nakal" tanpa ada upaya menyelisik akar problematikanya. Surat untuk Masa Mudaku adalah ajakan untuk lebih mengerti anak-anak semacam itu.
Si "anak nakal" bernama Kefas (Theo Camillo Taslim), salah satu penghuni Panti Asuhan Pelita Kasih. Kita lebih dulu menyatroni kisah di masa sekarang, saat Kefas dewasa (Fendy Chow) yang sudah bergelimang harta, ditinggal pergi oleh sang istri, Rania (Agla Artalidia), akibat dianggap terlalu berlebihan memproteksi anak mereka.
Sikap overprotektif tersebut bermula dari masa muda Kefas di panti tatkala adiknya meninggal karena sakit, sementara si pengurus harian, alih-alih menolong, malah kabur membawa barang-barang donasi. Ketika datang pengurus baru, pria tua berwajah sendu bernama Pak Simon (Agus Wibowo), Kefas dengan segala ide nakalnya pun berambisi membuatnya tidak betah.
Kita tahu kelak Kefas bakal menanggalkan kenakalan masa mudanya. Kita pun tahu hubungannya dengan Pak Simon bakal bertransformasi menjadi kedekatan bak ayah-anak. Tujuan utama naskah buatan Daud Sumolang bukanlah mendobrak pakem melodrama bertema "chosen family" (kendati melihat panti asuhan Kristen selaku latar sebuah film Indonesia memberi warna baru), melainkan memberi pemahaman seputar alasan di balik "kenakalan" anak panti seperti Kefas.
Mudah bagi pemilik privilege untuk menghakimi tanpa coba memupuk pengertian tentang dinamika psikologis yang mereka alami. Surat untuk Masa Mudaku adalah cerita mengenai orang-orang kesepian, baik Kefas, Pak Simon yang menyimpan rahasia kelam, maupun penghuni panti lain yang tak kunjung mendapat orang tua baru. Dampak emosinya hadir sewaktu seluruh manusia itu berkumpul, merayakan kepemilikan akan satu sama lain, melahirkan kebersamaan yang berpendaran menghapus gelap sepi.
Di kursi sutradara, Sim F. tahu kalau naskahnya sudah menyimpan setumpuk peristiwa melodramatis, sehingga tak memaksakan bumbu tambahan pada pengadeganannya. Ketimbang cengkeraman erat, filmnya lebih terasa seperti pelukan lembut nan hangat. Nilai-nilai kebersamaan ditebar tanpa kesan menggurui atau paksaan menangis. Bukan karya yang luar biasa bagus, namun luar biasa baik.
Para pelakonnya, terutama Agus Wibowo dengan sorot matanya yang perlahan bertransformasi dari kehampaan memilukan menjadi penuh akan cinta, juga deretan nama junior seperti Aqila Herby (sebagai Sabrina, penghuni panti paling senior sekaligus paling galak) dan Cleo Haura (sebagai Joy, salah satu teman terdekat Kefas), memudahkan penonton bersimpati terhadap karakternya melalui akting mereka.
Sebagaimana lagu legendaris Chrisye yang sempat dibawakan dengan demikian indah di sebuah adegan oleh para anak panti, Surat untuk Masa Mudaku ibarat kidung yang dipersembahkan bagi mereka, yang berusaha menghapus mendung kelabu bernama "kesepian". Sebuah "film baik" yang patut menambah panjang daftar tontonan wajib di masa liburan.
(Netflix)
REVIEW - 5 CENTIMETERS PER SECOND
Jika 5 Centimeters Per Second versi animasi (2007) ibarat kilasan memori-memori, maka adaptasi live action karya Yoshiyuki Okayama ini merupakan medium yang memfasilitasi penonton meresapi momen kala suatu peristiwa terjadi. Pendekatan berlainan tersebut, ditambah kesediaan naskahnya memperkaya cerita gagasan Makoto Shinkai ketimbang patuh begitu saja, berhasil menjustifikasi eksistensinya.
Dibungkus dalam nuansa klasik lewat visual berteksturnya, yang juga piawai menangkap lanskap alam dengan indah termasuk senja ungu khas Makoto Shinkai, filmnya masih menyoroti persinggungan dua hati milik Takaki Tōno (Haruto Ueda memerankan versi bocah, Yuzu Aoki versi remaja, Hokuto Matsumura versi dewasa) dan Akari Shinohara (Noa Shiroyama, Mitsuki Takahata). Sebesar apa pun keinginan mereka menyatu, takdir seolah terus coba memisahkan.
Secara garis besar jalinan ceritanya masih serupa. Masih tentang hidup Takaki, yang selepas perpisahan dengan Akari semasa SD, hanya mengenal kesendirian sendu, kendati seiring waktu matanya pernah beberapa kali berserobok dengan perempuan lain, sebutlah Kanae Sumida (Nana Mori) semasa SMA, maupun Risa Mizuno (Mai Kiryû) yang ditemuinya di lingkungan kerja.
Naskah buatan Fumiko Suzuki secara cerdik bukan mengubah "apa yang diceritakan", tapi bagaimana cerita itu disampaikan. Misal terkait alur yang tidak lagi dibagi jadi tiga segmen pendek, melainkan untaian-untaian panjang yang saling berkelindan dan bertransisi begitu mulus.
Keputusan paling jeli yang naskahnya perbuat adalah membalik struktur materi aslinya. Alhasil, reuni singkat Takaki dan Akari di tengah badai salju, yang memberi ruang putar bagi lagu One More Time, One More Chance yang emosional, ditempatkan di penghujung durasi, memposisikannya selaku puncak emosi di mana penonton sudah dibuat terikat dengan perjalanan berliku dua protagonisnya.
Bermodalkan durasi dua kali lebih panjang (63 menit berbanding 123 menit), guliran di beberapa titik memang agak berlarut-larut, tapi penokohan tiap individu, pula dinamika antara mereka, jadi kian berkembang. Hubungan masa kecil Takaki dan Akari jadi yang paling terdampak, sebab kita diberi lebih banyak kesempatan menghabiskan waktu mengobservasi kebersamaan mereka yang demikian hangat.
Secara individual, Takaki pun bukan lagi laki-laki penuh ragu yang sebatas mengakrabi satu rasa. Kepiluan tetap mendominasi, tapi cakupan emosinya meluas. Sesekali senyum simpul mampir ke wajah Takaki, membuatnya nampak lebih manusiawi. Takaki versi live action bukan laki-laki yang membiarkan kebimbangan mengakar terlampau kuat. Dia cuma manusia biasa yang tak berdaya mengangkangi sang takdir.
Di satu kesempatan, Akari sempat mencuri dengar obrolan dua bocah mengenai peluang pertemuan manusia yang konon hanya 0,0003%. Begitulah yang menimpa dirinya dan Takaki. Kendati fisik keduanya sudah sedemikian dekat, walaupun ada beberapa figur yang dapat menjadi jembatan penghubung, tatkala takdir berkata lain, mereka cuma bisa saling merenggang.
Akari lebih banyak dieksplorasi di sini, membuat 5 Centimeters Per Second versi live action tak lagi jadi cerita perseorangan, melainkan kisah sepasang manusia, yang serupa dua satelit nirawak Voyager 1 dan Voyager 2, meski mengudara dalam waktu berdekatan (16 hari), namun seiring terus terbang menjauh satu sama lain di tengah ketidakpastian luar angkasa, sembari membawa cerita lalu yang kelak mungkin bakal didengar "makhluk asing". Cerita tersebut bukan sebatas kenangan yang mungkin memudar, tapi bagian diri yang telah terpatri abadi.
REVIEW - KAFIR: GERBANG SUKMA
Lansia itu, sebagaimana anak kecil, menyeramkan. Apakah masih perlu tambahan horor untuk mengingatkan akan hal tersebut? Mungkin tidak, apalagi Kafir: Gerbang Sukma, yang menempatkan karakter lansia di garda terdepan terornya, masih berjalan sesuai pakem generik genrenya. Tapi setidaknya ia bukan tentang hantu bermuka seram yang muncul dengan berisik tiap lima menit, tidak pula diramaikan oleh jajaran pelakon ibu kota yang dipaksa melafalkan logat Jawa. Sudah cukup dua hal itu meracuni telinga penonton.
Mengambil latar sewindu pasca peristiwa di Kafir: Bersekutu dengan Setan (2018), kita kembali diajak bertemu Sri (Putri Ayudya) beserta dua anaknya, Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina). Upaya mereka untuk beranjak dari trauma akibat serangan santet yang menewaskan sang ayah, Herman (Teddy Syah), belum berjalan mulus. Tidak seperti Andi yang telah menempuh hidup baru bersama istrinya, Rani (Asha Assuncao), Sri masih dihantui ketakutan, masih pula berkutat dengan benda klenik demi meminta perlindungan.
Jangan khawatir bila kalian melupakan detail alur film pertama yang sudah lewat delapan tahun lamanya, sebab naskah buatan Upi dan Dea April berbaik hati memberi rekap di pertengahan durasi, yang untungnya memiliki alasan memadai untuk dimunculkan. Rani meminta sang suami menceritakan hal-hal yang masih ia tutupi mengenai tragedi berdarah tersebut. Andi belum mengungkap segalanya, karena menganggap itu sebagai aib. Bisa dimengerti.
Tapi siapakah lansia yang dimaksud di awal tulisan? Mereka adalah dua orang tua Sri (Arswendy Bening Swara dan Mutia Datau) yang menampakkan gelagat janggal tatkala dikunjungi oleh putri beserta cucu-cucu mereka. Si kakek diam-diam bermandikan darah di tengah hutan, si nenek memasak tanpa menyalakan kompor hingga menguarkan bau busuk di seisi rumah.
Tentu pemandangan-pemandangan di atas sudah jamak kita temui di horor bertema "kengerian lansia", dan alih-alih coba menaburkan bumbu baru, Kafir: Gerbang Sukma memilih mengandalkan kesan familiar itu, lalu terus mengulanginya selama lebih dari 100 menit.
Pengarahan Azhar Kinoi Lubis mampu memaksimalkan efek menjijikkan pada hal-hal janggal yang diperbuat duo lansianya, kuantitas jumpscare yang ditekan hingga seminimal mungkin layak disyukuri, pun performa jajaran pemain (terutama Arswendy Bening Swara dan Mutia Datau yang mencekam, serta Putri Ayudya yang habis-habisan mengolah emosi) jadi jangkar kokoh yang menjaga filmnya tak tenggelam, namun kemonotonan ide terornya acap kali terasa melelahkan.
Jika ada elemen film ini yang nampak superior dibanding pendahulunya, tak lain adalah babak ketiganya. Penyutradaraan yang cenderung canggung kala menangani adegan bertempo tinggi memang melucuti potensinya mengatrol intensitas, tapi keunikan konsep, kesolidan efek spesial, keberanian untuk sedikit merambah kevulgaran, juga kesan tragis dari resolusi konfliknya, memastikan Kafir: Gerbang Sukma ditutup oleh hentakan kendati luput menawarkan kebaruan.
REVIEW - SEND HELP
Terdampar di pulau terpencil, bertahan hidup memanfaatkan hal-hal seadanya, tensi yang perlahan tumbuh di antara penyintas seiring eskalasi terhadap rasa rasa frustrasi. Semua sudah amat sering kita temui di layar sinema hingga pesona genrenya mulai mengendur. Send Help, selaku horor pertama Sam Raimi sejak Drag Me to Hell 17 tahun lalu, membuat saya merasa tengah menyaksikan presentasi baru tanpa harus kabur dari pakem.
Di satu kesempatan, salah satu karakternya tenggelam dan mesti diberi CPR oleh karakter lain. Sebuah pemandangan familiar dalam film survival, setidaknya sampai si pemberi CPR muntah di mulut rekannya berulang kali. Send Help adalah soal ketidakterdugaan, baik terkait gerak alur maupun bagaimana adegan ditangani. Filmnya bermain-main dengan ekspektasi penonton, menggiring kita yakin telah mengetahui segalanya, sembari mengendap-endap di belakang menyiapkan kejutan.
Protagonisnya bernama Linda Liddle (Rachel McAdams), karyawan teladan yang canggung perihal kehidupan sosial. Setelah bertahun-tahun, promosi jabatan pun dijanjikan padanya. Tapi impian tersebut runtuh kala Bradley Preston (Dylan O'Brien) ditunjuk sebagai CEO baru. Alih-alih Linda, karyawan lain lah yang memperoleh promosi, hanya karena ia teman Bradley semasa kuliah, kendati baru bekerja beberapa bulan.
Naskah buatan Damian Shannon dan Mark Swift memberi cerminan realita, saat perempuan bertalenta dikesampingkan demi memberi jalan untuk laki-laki miskin kualitas. Kondisi yang kerap nampak di lingkungan yang tunduk di bawah kuasa berlebih laki-laki seksis. Tapi semua berubah sewaktu pesawat yang ditumpangi Linda dan Bradley dalam perjalanan bisnis ke Bangkok jatuh, sehingga keduanya terdampar di pulau terpencil.
Di pulau tersebut tak ada pemegang kuasa. Individu yang lebih berbakat bakal unggul. Ketika Bradley si anak manja cuma bisa mengeluh, Linda, berkat obsesinya pada acara realitas televisi mengenai upaya pesertanya bertahan hidup di alam liar, begitu gampang beradaptasi. Sementara Bradley kelabakan mencari makanan, Linda bersantai menyantap susyi sambil mengoleskan tabir surya bikinan sendiri.
Bersama alam liar yang gerak-geriknya mustahil diprediksi manusia, alurnya turut berjalan liar ke banyak titik tak terduga dengan efek kejut tinggi. Diiringi musik gubahan Danny Elfman yang rasanya tepat dideskripsikan sebagai "alunan misteri megah khas 90-an", Send Help merangkum persoalan dinamika gender (kerapuhan ego maskulin laki-laki, ketangkasan perempuan yang luput diapresiasi) lewat presentasi yang seolah memodernisasi subgenre screwball dengan meniadakan elemen romansa dan menebalkan sentuhan komedi gelap.
Untungnya, menyuarakan keresahan atas ketidakadilan bagi perempuan tak membuat Send Help merasa perlu menyempurnakan sosok Linda yang tetap penuh sisi problematik. Pada suatu malam, Bradley menceritakan masa lalunya menyakitkan yang diyakini jadi penyebab tabiat buruknya kini. "Monster tidak lahir begitu saja, melainkan dibuat", ucap Linda.
Linda yang perlahan menampakkan wajah liarnya pun ibarat monster yang diciptakan oleh perlakuan Bradley. Bedanya, jika Bradley adalah monster yang meneror semua kalangan, Linda cuma menjadi monster bagi si (mantan) bos. Linda menjadi monster sebagai caranya berbicara memakai bahasa yang bisa Bradley mengerti. Bahasa kekejaman.
Rachel McAdams sempurna memerankan Linda melalui keseimbangan performa dramatik yang memantik simpati, gaya komedik yang selalu efektif menyulut tawa, sekaligus keliaran yang sempat membuat saya curiga Send Help bakal berevolusi menjadi versi masa kini bagi Misery (1990).
Mengenai horornya, Sam Raimi memaksimalkan rating "R" pertama yang ia dapat dalam 26 tahun (The Gift jadi yang terakhir). Send Help adalah tontonan brutal yang menyakitkan sekaligus menjijikkan. Raimi tahu cara mengganggu kenyamanan penonton lewat pengarahannya yang serba hiperbolis. Cairan dari tubuh serangga yang dikunyah muncrat dengan begitu deras, demikian pula darah babi hutan yang bak mengalir lewat pompa pendorong berkekuatan tinggi.
Sebagaimana guliran ceritanya, pengadeganan Raimi, terutama terkait timing kehadiran sebuah teror, juga piawai mengecoh ekspektasi. Dibarengi setumpuk humor gelap yang belakangan memudar dalam karya-karyanya, lewat Send Help, Sam Raimi kembali berbicara memakai bahasa yang dipahami serta digemari para penggemarnya.
REVIEW - SEBELUM DIJEMPUT NENEK
Hantu di horor Indonesia seringkali lucu. Para lelembut ini berhenti nampak mengerikan seiring terdongkraknya popularitas horor yang kini hadir minimal sekali seminggu, sehingga memaksa mereka muncul sesering mungkin di layar bak sosok narsis. Di Sebelum Dijemput Nenek, setidaknya hantu-hantu memang disengaja melucu, tanpa peduli lagi akan citra selaku figur penebar teror.
Semua berawal dari kematian Mbah Siyem (Sri Isworowati), salah satu penghuni Dusun Wangun. Akibatnya, dua cucu kembar simbah yang telah lama berseteru, Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto) kembali berkumpul. Biarpun kembar, paras keduanya sungguh amat berlainan. Tidak perlu saya jabarkan siapa yang dianggap lebih rupawan.
Perbedaan muka tersebut tidak dijelaskan, tapi sejak kapan komedi perlu penjelasan logis? Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Fajar Martha Santosa, bersama Sandi Paputungan, tidak memiliki kewajiban tersebut, kendati mereka melewatkan kesempatan untuk melipatgandakan keabsurdan dengan membuat publik menganggap Hestu sebagai si buruk rupa.
Selepas pemakaman, bukannya kedamaian yang si kembar rasakan, melainkan ketakutan, karena hantu Mbah Siyem menampakkan diri sembari berpesan bakal menjemput mereka dalam tujuh hari. Dibantu Kotrek (Oki Rengga) si preman kampung dan Nisa (Wavi Zihan) yang semasa kecil pernah membuat Hestu jatuh hati, mereka pun mencari cara menggagalkan penjemputan si nenek.
Presentasi horor yang dipenuhi penampakan berisik nan generik tentunya sudah bisa kita duga, tapi memodifikasi pakem horor memang bukan tujuan Sebelum Dijemput Nenek. Kelemahan tersebut ditambal oleh banyolan kreatif yang datang dengan gaya "semau sendiri" khas "komedi tongkrongan" Jawa. Bahkan credits-scene miliknya pun mempertahankan kreativitas menggelitik yang acap kali mengecoh ekspektasi tersebut.
Cukup disayangkan, film ini terjebak dalam tabiat buruk sinema arus utama Indonesia yang memaksa pelakon non-Jawa melafalkan dialog Bahasa Jawa secara ala kadarnya. Oki Rengga sudah berusaha sekuat tenaga, namun logatnya tetap terkesan janggal. Begitu pula Wavi Zihan yang membawa gaya "Jawa FTV" kala berdialog secara dramatis (tutur katanya membaik di situasi yang lebih tenang).
Untunglah sang aktris sanggup melunasi kealpaan itu saat berhasil menghidupkan karakter paling lucu dan berwarna dalam film ini. Dihempaskannya segala wujud keeleganan, tatkala Nisa yang awalnya terlihat seperti tipikal gadis kampung baik-baik, mendadak berubah 180 derajat pasca sebuah twist yang jadi satu lagi bentuk kreativitas filmnya.
Twist lain kelak bakal kita temukan di penghujung durasi, yang turut dipakai untuk memberi resolusi bagi elemen dramanya, namun sayangnya tidak secara solid. Naskahnya menerapkan flashback yang luput mengungkap fakta baru maupun menguatkan penokohan, tidak pula menjustifikasi sikap keras salah satu karakternya di masa lalu. Penonton dipaksa menerima bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi toh humornya senantiasa jadi penolong, dengan puncak keabsurdan terjadi saat Dusun Wangun terjebak dalam suatu serbuan maut yang eksekusinya meminjam formula film zombi, lalu menggesernya ke ranah mistisisme Indonesia. Di momen tersebut harga diri para hantu dilucuti sepenuhnya, tapi setidaknya, mereka bukan lagi sosok-sosok membosankan dengan kehadiran menjemukan sebagaimana di deretan horor medioker tanah air.
REVIEW - PRIMATE
Jika membicarakan kebrutalan simpanse, peristiwa yang pertama muncul di ingatan adalah penyerangan Travis, simpanse peliharaan Sandra Herold, terhadap Charla Nash, yang membuatnya cacat permanen, termasuk mengalami kerusakan parah di area wajah. Kasus itu mencuatkan ragam pokok bahasan, dari persoalan psikis hewan, proses mengatasi duka, hingga etika eksperimen. Primate tidak tertarik mengupas hal-hal di atas.
Film karya Johannes Roberts ini lebih tertarik pada fakta bahwa simpanse, bermodalkan kekuatan otot yang 1,35 kali lebih kuat dari manusia serta kemampuan bergelantungan di mana saja, merupakan mesin pembunuh yang efektif. Sebuah nostalgia untuk era 80-an dan 90-an sewaktu natural horror dan slasher mencapai puncak kejayaan dengan menjadikan pembantaian sebagai komoditas hiburan.
Sang simpanse bernama Ben. Dia bukan karakter CGI, bukan pula hewan sungguhan biarpun nampak begitu nyata. Miguel Torres Umba berakting dalam balutan kostum dan tata efek prostetik yang seluruhnya luar biasa. Ben tinggal di rumah mewah di Hawaii bersama keluarga Lucy (Johnny Sequoyah) yang memperlakukannya bak anak kandung.
Setelah bertahun-tahun meninggalkan rumah, Lucy membawa beberapa temannya ke rumah untuk menghabiskan liburan. Ben pun nampak bahagia menyambut kepulangan "si kakak", sampai perlahan diketahui ia telah terjangkit rabies yang mengubahnya dari figur adik menggemaskan jadi monster pembunuh brutal.
Sehari-hari, Ben dirawat oleh Adam (Troy Kotsur), ayah Lucy, seorang novelis ternama yang juga seorang kawan tuli. Komunikasi dilakukan memakai bahasa isyarat, yang oleh Johannes Roberts dibiarkan mengalir dalam kesunyian. Selalu menyenangkan tiap mendapati "film studio" yang tak merasa perlu menciptakan kebisingan demi meniadakan kantuk penonton kasual.
Pendekatan tersebut dipertahankan kala teror Ben dimulai, di mana banyak jumpscare tak memerlukan suara berisik guna mengumumkan kehadirannya. Musik bernuansa 80-an garapan Adrian Johnston lebih berfungsi sebagai alat pembangun suasana daripada senjata penggedor jantung.
Atmosfer mencekam pun tercipta. Terutama saat kita berkesempatan menatap Ben, yang di satu titik menampakkan seringai yang seolah menggaungkan sajak kematian, sementara bulu acak-acakan di tubuhnya menguarkan aroma darah memuakkan.
Sayang, pengolahan ketegangannya cenderung inkonsisten, saat Roberts kerap berlama-lama menggulirkan jalannya adegan, seperti tengah mengulur waktu karena menyadari naskah buatannya bersama Ernest Riera mengandung cerita setipis tisu. Inilah dampak ketiadaan eksplorasi psikologis, entah bagi karakter manusia maupun simpanse. Penonton hanya dibuat menunggu kematian-kematian yang dijembatani oleh kekosongan.
Tapi memang begitulah cara kerja horor old-school yang filmnya jadikan rujukan utama. Setidaknya Primate senantiasa mendatangkan kepuasan tatkala Ben merenggut nyawa korbannya. Ada kecerdikan dalam pengarahan sang sutradara. Di tangan sineas minim kompetensi, deretan kematian film ini bakal penuh ketidakjelasan, entah karena terlalu gelap, atau akibat kamera yang terlalu bergoyang maupun diposisikan terlalu dekat dari objek.
Roberts tahu cara memperoleh keseimbangan dengan tidak mengumbar terlampau banyak, namun tetap membuat penonton merasa sudah diajak mengintip kekerasan yang terjadi dalam takaran memadai. Apakah perlu? Sebenarnya tidak, mengingat kekerasan berlebih termasuk ciri subgenre yang dijadikan kiblat, namun kecerdikan penyutradaraannya tetap layak diakui.

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)