REVIEW - HOLY SPIDER

Holy Spider bukan (cuma) film soal pembunuh berantai. Secara langsung, hilangnya nyawa para korban memang disebabkan oleh satu individu, tapi pokok permasalahannya mengakar jauh lebih dalam. Perwakilan Denmark di ajang Academy Awards tahun 2023 ini menyoroti persoalan sistem serta masyarakat. Masyarakat adalah pembunuh berantai sesungguhnya.

Filmnya mempertemukan fiksi dengan realita. Pembunuhan berantai yang menjadikan PSK sebagai target memang terjadi tahun 2000-2001 di Mashad, Iran. Tercatat 16 nyawa melayang. Pelakunya bernama Saeed (Mehdi Bajestani), dan karena modus operandinya, di mana ia memancing korban ke "sarangnya" sebelum mencekik mereka, kasusnya kerap disebut "spider killings". 

Sentuhan fiksi berasal dari keterlibatan Arezoo Rahimi (Zar Amir Ebrahimi) jurnalis yang menyambangi Mashad guna meliput kasus tersebut. Tapi liputan bukanlah tujuan akhir Rahimi. Dia pun terdorong untuk melakukan investigasi, mencari kebenaran mengenai identitas si pelaku. Bukannya Rahimi sembrono atau berambisi jadi pahlawan, tapi ia tahu betul realita di masyarakat setempat. 

Korbannya adalah PSK, yang kebanyakan juga pecandu narkoba. Mereka dianggap sampah. Akankah si pelaku mendapat hukuman setimpal bila tertangkap, atau malah dielu-elukan sebagai pahlawan? Sesampainya di Mashad, Rahimi dipersulit saat menyewa hotel karena ia wanita yang belum menikah. Sewaktu mewawancarai hakim, Rahimi diminta agar tak mengubah kasus pembunuhan ini jadi skandal beraroma agama. Apakah benar keduanya tidak berkaitan? 

Menulis naskahnya bersama Afshin Kamran Bahrami, sutradara Ali Abbasi menyoroti misogini akibat salah kaprah religiuistas. Agama dijadikan alat membunuh, entah secara literal (menghilangkan nyawa) maupun figuratif (mematikan kebebasan). Sama seperti jilbab, yang di tangan Saeed jadi senjata membunuh. 

Satu keputusan naratif yang mungkin memecah penerimaan terhadap film ini adalah saat Holy Spider lebih banyak menghabiskan waktu menyoroti si pelaku ketimbang korban (atau Rahimi selaku pejuang keadilan). Keluhan tersebut ada benarnya, tapi di sisi lain, Abbasi menjadikan itu cara guna menegaskan bahwa Saaed bukan pahlawan. 

Saeed merupakan veteran perang yang kini berprofesi sebagai buruh bangunan. Dia pun seorang suami, sekaligus ayah bagi dua anak. Saeed rajin beribadah. Salat tak pernah dilewatkan, ziarah ke makam ulama rutin dilakukan. Kepada rekannya, Saeed berkata bahwa ia ingin menjadi sosok spesial. Di medan perang ia merasa memiliki peran. Begitu perang usai, ia merasa tak berguna. Saeed bukan pahlawan atau "pembersih maksiat" sebagaimana dielu-elukan para pendukungnya. Dia hanya pria pecundang yang melampiaskan kelemahannya pada wanita.

Sewaktu Saeed melangsungkan aksinya, pilihan shot Abbasi secara cukup jelas memperlihatkan wajah korban. Tubuh yang menegang, ekspresi ketakutan yang menguat seiring menipisnya napas, semua dapat kita saksikan. Apakah sensitivitas Abbasi patut dipertanyakan? Mungkin. Kekuatan Holy Spider sebagai drama yang bersimpati pada korban memang berkurang, tapi jika filmnya sebatas dipandang sebagai thriller eksploitasi disturbing, itu bisa dipandang selaku keunggulan. 

Holy Spider memang thriller kriminal yang digarap secara kompeten. Gaya estetikanya, baik pilihan musik maupun sinematografi di lorong-lorong gelap Mashad mengambil referensi dari noir yang efektif membangun intensitas. Sebuah twist di babak akhir terkesan bak upaya mengecoh penonton guna menambah ketegangan yang kurang diperlukan, namun ending-nya mampu meninggalkan kepahitan menusuk. Bahwa kekacauan pola pikir masyarakat bertanggung jawab melanggengkan seksisme. 

Sewaktu filmnya lebih banyak menyoroti Saeed daripada Rahimi, paparan investigasi jurnalismenya pun melemah, tapi tidak dengan akting Zar Amir Ebrahimi. Ditunjukkannya ketangguhan tanpa kenal lelah sebagai wanita yang menghadapi dunia. Ketika semua pihak seolah membantu si pelaku, dan sebaliknya, semua pihak seolah menghalangi perjuangannya, Rahimi tetap melawan, dan kita berdiri di belakangnya.

(JAFF 2022)

REVIEW - LIKE & SHARE

Like & Share jadi luapan keresahan Gina S. Noer. Begitu banyak keresahan sampai durasi 112 menit terasa belum cukup mewadahi semuanya. Di satu sisi itu kerap membuatnya terlampau penuh, namun di sisi lain tuturannya menjadi kaya. Setelah Cinta Pertama, Kedua & Ketiga, yang meski tidak buruk tapi menyisakan sedikit kekecewaan, Like & Share ibarat "return to form" dari sang sineas. 

Lisa (Aurora Ribero) dan Sarah (Arawinda Kirana) merupakan sahabat sekaligus rekan dalam membuat video ASMR di YouTube. Banyak penonton pria memandang konten tersebut secara sensual. Apakah konten mereka vulgar? Tentu tidak. Tapi mau bagaimana lagi, di saat video renang Lisa yang dibuat untuk ujian mata pelajaran olahraga pun diseksualisasi oleh teman sekelas. 

Di antara keduanya, Sarah nampak lebih berani. Didorongnya Lisa untuk bereksplorasi. Bukan perkara gampang bagi Lisa, karena sang ibu (Unique Priscilla) terus menjejalinya dengan moralitas dan agama. Lisa merasa tenang tiap menonton video ASMR, sementara bagi sang ibu, ketenangan hati sebaiknya didapat lewat salat dan ngaji. Bahkan disuruhnya Lisa mengganti foto di handphone dengan gambar Allah. 

Bukan religiusitas yang Lisa benci, melainkan perubahan ekstrim sang ibu selepas menikah lagi dan berpindah agama. Lisa tidak membenci agama. Dia bahkan masih mengkhawatirkan neraka. Lisa hanya gamang. Di tengah mental menghakimi masyarakat yang kerap membatasi ruang gerak wanita, bagaimana pencarian jati diri dapat ia lakukan? 

Naskah buatan Gina memasang pondasi solid bagi Lisa. Penokohannya kuat, dan penampilan Aurora tak kalah kuat. Dihidupkannya dilema-dilema batin remaja yang kebingungan memaknai hidupnya sendiri. Lalu datang kebingungan terbesarnya dalam bentuk video porno bertajuk "bokep hape jatoh" yang menampilkan wanita bernama Fita (Aulia Sarah). Berkali-kali ia tonton video itu, bahkan di tengah ujian. Sarah khawatir sahabatnya kecanduan pornografi, tanpa sadar bahwa Lisa sedang mempertanyakan seksualitasnya. Secara subtil Gina turut menyelipkan kebingungan individu perihal orientasi mereka. 

Tapi Like & Share bukan cuma cerita soal Lisa. Sarah pun diberi sorotan setara. Dia jatuh cinta pada Devan (Jerome Kurnia) yang 10 tahun lebih tua. Sarah 17 tahun, Devan 27 tahun. Sarah masih di bawah umur. Gina kembali bermain-main dengan tema berisiko, dan sekali lagi, ia membawa sensitivitas yang menjauhkan kesan problematik. Lagipula Like & Share bukanlah tentang romantika Sarah-Devan, melainkan perlawanan atas rape culture, atas tendensi memojokkan korban, terutama wanita, baik dalam perspektif moral, atau hukum. 

Di sinilah naskahnya mulai terkesan kepenuhan. Pesan dan keresahan dilempar di tiap sisi, bahkan hingga ke rangkaian dialog. Gina ingin menuangkan unek-unek sebanyak mungkin hingga mengesampingkan prinsip "kill your darling" demi penulisan yang lebih solid. Tapi seperti sudah saya singgung di awal tulisan, ambisi Gina dalam bercerita juga membuat Like & Share tampil kaya, khususnya dalam hal karakterisasi yang otomatis melancarkan eksplorasi jajaran pemainnya.

Jika Aurora sebagai Lisa menghadirkan kegamangan bak bangunan yang masih mencari pondasi, maka Arawinda sebaliknya. Di awal, ia berdiri layaknya gedung kokoh yang telah menemukan bentuknya, sebelum akhirnya hancur berkeping-keping. Sungguh meneynangkan melihat dua aktris muda berbakat ini melahirkan chemistry luar biasa, saling bertukar celotehan serta isi hati. Tapi jangan lupakan Aulia Sarah, yang selepas memerankan hantu penari dan janda genit, berhasil naik kelas berkat pemeran sensibilitas yang belum pernah ia munculkan sebelumnya. 

Pemakaian rasio 4:3 memudahkan terhubungnya penonton dengan para karakter. Close-up-nya terasa makin intim. Tentu pilihan rasio tersebut turut mempercantik visual filmnya, menciptakan komposisi shot yang lebih memanjakan mata. Like & Share memang tontonan yang cantik. Tepatnya, ia mempercantik seksualitas, selaku pokok pembicaraan yang kerap dirasa tabu. Kotor. Jorok. Bau. Tapi seperti kata Lisa, hal yang bau bukan berarti harus dibuang. Apalagi terlontar pertanyaan, "Bau buat siapa?".

(JAFF 2022)

REVIEW - DECIBEL

(Tulisan ini mengandung SPOILER!)

Masalah Decibel adalah, sebagai cerita soal teror bom, demi membangun intensitas dan kesan bombastis, ia bergantung pada ledakan bomnya. Sepanjang kurang lebih 110 menit, bom meledak di beberapa titik, dan hampir tiada korban jiwa. Bukan saya mengharapkan nyawa melayang, tapi di mana letak ancamannya? What's at stake?

Premis Decibel sejatinya amat menarik, yakni soal ancaman bom yang dipicu oleh intensitas suara. Bayangkan Speed (1994), tapi gantikan kecepatan dengan suara. Apakah ada banyak ledakan di Speed? Tidak. Fokusnya adalah upaya karakternya menjinakkan bom. Seberapa dahsyat bom itu, dibiarkan tertinggal di imajinasi penonton. 

Sebuah kapal selam Korea Selatan terkena serangan torpedo dan hilang beberapa hari. Hanya separuh kru berhasil diselamatkan, termasuk sang komandan, Kang Do-young (Kim Rae-won). Setahun berselang, muncul penelepon misterius yang mengaku telah memasang "bom suara" di beberapa tempat, dan memaksa Do-young terlibat dalam permainannya. 

Untungnya Do-young tidak sendiri. Seorang reporter bernama Oh Dae-oh (Jung Sang-hoon sebagai comic relief yang cukup efektif) secara kebetulan ikut terlibat. Sedangkan istri Do-young, Jang Yu-jeong (Lee Sang-hee), yang merupakan anggota tim EOD (Explosive Ordnance Disposal), juga terjun ke lapangan, karena rupanya ada lebih dari satu bom di seisi kota.

Di situ masalah utamanya. Naskah Decibel sebenarnya punya beberapa kelemahan, termasuk kurang mulusnya lompatan antar momen yang kerap menjangkiti first act-nya, namun tidak ada yang lebih fatal daripada persoalan stake sebagaimana telah disinggung di awal tulisan.

Mayoritas bom yang terpasang akhirnya meledak. Hwang in-ho cukup piawai merangkai sekuen bombastis, yang makin ampuh mengguncang jantung penonton saat ditunjang oleh tata suara mumpuni. Tapi semasif apa pun ledakannya jadi percuma, saat tiada urgensi yang dimunculkan. Jangankan korban jiwa, salah satu karakter selamat tanpa perlindungan meski berada di pusat ledakan. Kredibilitas ancamannya pun lenyap. Tidak kalah disayangkan adalah, seiring waktu, premis unik soal "bom suara" justru dikesampingkan. 

Poin terbaik Decibel malah berasal dari drama humanis yang mengisi paruh akhirnya. Walau agak terkesan mendadak (sesekali melempar flashback bakal membantu), konklusinya melempar pertanyaan kompleks soal benturan antara kemanusiaan dan logika, hati dan otak, yang mengiringi proses pengambilan keputusan di situasi genting. Dibarengi pendekatan dramatik khas sinema Korea Selatan, pula penampilan solid Cha Eun-woo sebagai Sersan Jeong Tae-ryeong, konklusinya sanggup memainkan perasaan. Ketika sekuen aksi penutupnya tampil antiklimaks, saya pun berharap filmnya tetap menyoroti kru kapal selam itu saja.

REVIEW - SHE SAID

She Said adalah film jurnalistik dengan sumber materi teramat penting. Bagaimana tidak? Investigasi dua wartawan The New York Times (yang kemudian diangkat jadi buku nonfiksi) inilah pemantik pergerakan Me Too. Salah satu pergerakan terbesar sekaligus paling berpengaruh dalam beberapa waktu terakhir. Berkatnya, banyak wanita korban pelecehan menemukan ruang bicara. 

Mayoritas kursi bioskop pastilah diisi oleh penonton yang "melek film", sehingga paham betul detail kasusnya, kemudian datang sambil berharap disuguhi detail-detail baru. Sayangnya itu takkan ditemukan. She Said sebatas rekap dari sumber adaptasinya, yang bahkan lalai menambahkan nilai sinematik. 

Sedangkan bagi para minoritas, alias penonton yang "buta" terhadap kasusnya atau bahkan industri film secara general, bakal melewatkan signifikansi kisahnya. Karena mereka tidak tahu siapa Harvey Weinstein, dan seberapa kuat dia menancapkan kendali di industri Hollywood. Apalagi naskah buatan Rebecca Lenkiewicz (Ida, Disobedience) berhati-hati dalam mempresentasikan status Weinstein, termasuk dengan tidak menampilkan wajahnya. Bisa dipahami. She Said enggan terkesan "membesarkan" si predator. 

Dikisahkan, Jodi Kantor (Zoe Kazan) dan Megan Twohey (Carey Mulligan) memulai penyelidikan mereka atas dugaan pelecehan seksual oleh Harvey Weinstein yang telah berlangsung sejak 90-an. Baik pegawai Miramax (rumah produksi bentukan Weinstein) hingga jajaran aktris jadi korban. Gwyneth Paltrow menyumbangkan suaranya, sedangkan Ashley Judd bersedia tampil di depan kamera memerankan dirinya. Sungguh langkah berani. 

Pengumpulan data yang Kantor dan Twohey lakukan dipenuhi rintangan. Bukti sulit terkumpul akibat beberapa faktor. Beberapa korban dipaksa menandatangani kesepakatan untuk tak membicarakan pelecehan yang dialami, pun mereka dihantui ketakutan atas risiko intimidasi oleh pihak Weinstein. Apalagi The New York Times tak bisa menyediakan dukungan legal atau perlindungan dalam bentuk apa pun. Sederhananya, mereka sendirian.

Segala amunisi untuk melahirkan tontonan kelas wahid dipunyai film ini. Entah sebagai investigasi jurnalistik intens, atau cerita heartbreaking sekaligus empowering perihal isu gender. Di satu kesempatan, Twohey mendatangi kediaman salah satu korban. Mengetahui maksud kedatangan Twohey, wanita itu menangis, berkata bahwa ia telah menunggu momen itu selama 25 tahun. Banyak materi luar biasa tersimpan dalam filmnya. 

Tapi sekali lagi, kita sudah mengetahui hal-hal tersebut. Baik artikel maupun bukunya sudah mencakup segalanya yang perlu diketahui. Eksistensi She Said dapat dijustifikasi selama ia mampu menambahkan nilai sinematik. Sebab sebaik apa pun kualitasnya, karya tulis tetap memiliki batasan. Di sinilah film, selaku medium audiovisual semestinya berperan meruntuhkan batasan tersebut. Peran itulah yang gagal She Said mainkan.

Penyutradaraan Maria Schrader (I'm Your Man) begitu monoton. Jika ada korban memberi penuturan lewat telepon, maka cuma itu yang penonton lihat. Orang berbicara di satu ruangan, orang berbicara melalui panggilan telepon, orang berjalan, orang menyetir, dan deretan aktivitas mundane lain. Schrader hanya menerjemahkan tulisan seadanya, menggunakan pilihan shot generik, yang tak menambah nilai estetika atau dinamika rasa. 

Kazan tampil baik, tapi Mulligan adalah motor penggerak yang membantu She Said menemukan pijakan di tengah kurang matangnya pengarahan Schrader. Sebagai Twohey, Mulligan membawa kompleksitas. Seorang jurnalis berdedikasi yang mesti bergulat secara psikis, terjebak dilema antara profesi dan kehidupan pribadi. Gestur serta ekpsresinya adalah wujud kekuatan sejati. Bukan berarti tanpa kerapuhan, namun ia terlalu kokoh untuk dapat dihancurkan olehnya. Dia pantas mendapat film yang lebih baik. Kisah ini, pergerakannya, suara-suara para penyintas, pantas disampaikan secara lebih baik.

REVIEW - SADAKO DX

Seri The Ring sedang mencapai titik nadir. Crossover dalam Sadako vs. Kayako (2016) menghadirkan kebodohan menyenangkan, namun tiga judul solo terakhirnya, Sadako 3D (2012), Sadako 3D 2 (2013), dan Sadako (2019), adalah bencana. Sadako dengan kutukan VHS miliknya sudah ketinggalan zaman.

Upaya modernisasi bukannya tak terpikirkan. Semua installment terbaru, tidak terkecuali Rings (2017), versi Amerika yang sama buruknya, coba menerapkan kultur media sosial. Masalahnya, mereka terjebak keseriusan berlebih dalam menangani Sadako, di saat setumpuk parodi telah merusak reputasi si hantu rambut panjang.

Lalu datanglah Hisashi Kimura (sutradara) dan Yuya Takahashi (penulis naskah) dengan ide gila. "Jika Sadako sudah jadi bahan olok-olok, kenapa tidak sekalian saja mengarahkan filmnya ke sana?". Mungkin begitu pikir keduanya. Jadilah Sadako DX. Film The Ring pertama yang secara total menggabungkan elemen horor dan komedi, menjadikannya sekuel solo terbaik sejak Spiral (1998). 

Alurnya masih mempertahankan formula biasa. Rentetan kematian terjadi secara misterius, dan sebuah video terkutuk yang beredar di dark web dipercaya sebagai penyebabnya. Di sebuah acara televisi, dukun bernama Master Kenshin (Hiroyuki Ikeuchi) meyakini kutukan itu bakal membawa kepunahan bagi umat manusia. Sebaliknya, Ayaka Ichijo (Fuka Koshiba) selaku perwakilan perspektif sains, memandangnya sebagai fenomena psikologis semata. 

Ayaka adalah protagonis kita. Seorang siswi SMA dengan IQ 200 yang bisa melempar deduksi bak Sherlock Holmes. Ketika berpikir, ia tempelkan kedua tangan ke telinga, lalu membuat gerakan seperti tengah mengejek lawan bicara. Sindiran pedas kerap ia lontarkan, yang semakin terdengar menggelitik berkat pembawaan deadpan Fuka Koshiba. 

Orang yang kerap jadi target sindiran Ayaka adalah Oji Maeda (Kazuma Kawamura) si cenayang pemula dengan tingkat narsisme selangit. Klien pertama Oji tewas di depan matanya selepas menonton video terkutuk. Lewat hasil rekaman Oji, kita melihat si korban dicekik oleh sosok tak terlihat, sebelum melakukan roll depan dan tewas. 

Ya, roll depan. Kalian tidak salah baca. Kelak penyebabnya diungkap, tapi tetap tak mengurangi keabsurdan yang dihasilkan, dan itu memang suatu kesengajaan. Sadako DX bukanlah parodi, namun ia berani mengolok-olok pakem The Ring. Salah satunya mengenai jump scare. Filmnya menyindir kegemaran horor mengageti penonton dengan menciptakan protagonis kagetan. Semua hal bisa membuat Ayaka kaget, yang kemudian ia respon dengan, "Wah mengagetkan sekali". Lucunya, tak sekalipun jump scare-nya dipakai untuk membungkus penampakan hantu. 

Penampakan di Sadako DX justru tak mengejutkan apalagi menyeramkan. Bukan bentuk kegagalan, karena lagi-lagi itu kesengajaan. Hisashi Kimura dan Yuya Takahashi malah memakai kemunculan hantu guna melempar humor. Ada kalanya gagal mengenai sasaran, tapi sulit untuk tak terhibur saat filmnya berani menjadikan segala kekhasan J-horor (termasuk perihal rambut panjang hantu wanitanya) jadi "sasaran tembak" komedi. Reaksi karakter tiap mendapat teror pun beragam. Selain berteriak ketakutan, tidak jarang mereka merespon dengan celotehan lucu. Tunggu sampai ibu Ayaka, Chieko (Naomi Nishida), dikejar-kejar hantu. 

Plotnya mengetengahkan upaya Ayaka mencari jalan memutus kutukan. Dia percaya ada jawaban logis, dan mesti berpacu dengan waktu pasca sang adik, Futaba (Yuki Yagi), menonton video terkutuk. Batas waktunya tidak lagi tujuh hari, melainkan 24 jam. Ingat, ada kata "DX" alias "digital transformation" di judulnya. Sadako DX eksis di era digital yang serba instan, sehingga mempercepat tenggat merupakan langkah tepat. 

Penceritaannya memang kurang mulus, cenderung berbelit-belit, sehingga menciptakan keruwetan yang sejatinya tidak diperlukan. Tapi film The Ring mana lagi yang berani menyamakan kutukan Sadako dengan virus cacar? Di paruh akhir, keabsurdan makin tak terkendali sewaktu konklusinya menampilkan puncak "kesadaran diri" filmnya. Sadar bahwa sebagaimana yang karakternya rasakan di penghujung durasi, penonton pun tidak lagi takut kepada Sadako akibat sudah terlampau sering melihatnya. Jadi, daripada memaksakan teror, mengapa tidak menertawakannya saja?

REVIEW - TEGAR

Minum air adalah kegiatan remeh bagi orang "normal". Taruh gelas di dispenser, tekan tombol, lalu minum. Saking gampangnya kita tak perlu menghafal langkah-langkah tersebut. Lain cerita bagi Tegar (M. Aldifi Tegarajasa). Setelah gelas terisi, ia harus mengapit gelas di leher, menaruhnya di atas meja, mengambil kursi untuk menaiki meja, baru meminumnya. 

Pemandangan itu bisa tampak memilukan, tapi Anggi Frisca (Negeri Dongeng, Nona) selaku sutradara bukan ingin memancing iba. Timbulnya rasa kagum penonton terhadap si protagonis adalah tujuan utama. Tegar memang diniati sebagai tontonan inspirasional, namun ia berusaha tampil beda. Setidaknya di paruh pertama. 

Menginjak usia 10 tahun, Tegar tidak pernah mengenal dunia luar. Dia hidup dalam sangkar emas berupa rumah mewah di area terpencil. Sang ibu, Wida (Sha Ine Febriyanti) melarang Tegar keluar karena khawatir putera tunggalnya bakal jadi korban cemoohan akibat kondisi fisiknya. Tapi benarkah Wida, yang lebih fokus pada pekerjaan ketimbang keluarga,  melakukan itu demi Tegar? 

Di antara para pegawai rumah tersebut, cuma Teh Isy (Joanita Chatarina) yang boleh berinteraksi dengan Tegar. Satu-satunya bocah seumuran yang Tegar kenal hanya Imam (M. Adhiyat nampak lebih dewasa dari biasanya), pun keduanya belum bisa disebut "teman". Paling tidak ada si kakek (Deddy Mizwar) kakek yang selalu mengerti keinginan Tegar. 

Ditulis naskahnya oleh Anggi Frisca dan Alim Sudio, paruh pertama Tegar menolak mengikuti formula film inspirasional. Sejak adegan pembuka sunyi yang secara tersirat menunjukkan keinginan Wida membuang sang putera, kentara bahwa dalam menyutradarai, Anggi menolak pendekatan ala tearjerker. Dramatisasi dimainkan secukupnya, tanpa "menodong" air mata agar membanjiri pipi penonton. 

Alurnya pun demikian. Konflik utama berpusat pada perjuangan Tegar bertahan kala kondisi memaksanya beraktivitas sendirian di rumah. Membuka pakaian, minum, sampai menyiapkan makanan, yang biasanya jadi tugas Teh Isy, harus Tegar lakukan seorang diri. Di beberapa titik, Tegar mengingatkan saya ke Pihu (2018), bedanya, karakter balita diganti bocah berkebutuhan khusus, pun meski mampu sesekali memunculkan ketegangan, Tegar tetap berorientasi pada drama ketimbang thriller. 

Perjalanannya tidak senantiasa mulus. Ada kalanya pengadeganan terasa draggy. Tapi sekali lagi, keputusan menjauh dari pola film inspirasional mampu memunculkan kesegaran. Apalagi Tegar dianugerahi jajaran cast yang membawa penampilan solid. Sha Ine Febriyanti dan Deddy Mizwar jadi penghubung emosi antara penonton dengan kisahnya, sedangkan Joanita Chatarina bertugas mencerahkan suasana lewat celetukannya.

M. Aldifi Tegarajasa pun melakoni debut layar lebarnya melalui penampilan yang mewakili tendensi naskahnya menjauhi keklisean. Tegar merengek saat kesulitan, mengeluh kala menghadapi rintangan, sebab ia manusia, bocah biasa, bukan simbol inspirasi dengan segala kesempurnaannya. 

Sayang, paruh kedua yang membawa filmnya berpindah latar, dengan harapan memperkuat dinamika emosi serta menambah variasi, justru terkesan formulaik. Momen mengharu biru diselipkan, petuah demi petuah sarat pesan kehidupan pun mulai terlontar dari mulut karakternya. Tidak buruk, namun saat itulah Tegar berubah jadi bentuk tontonan yang coba ia hindari di paruh awal. 

Tapi jangan biarkan kekurangan itu menghalangi anda menonton Tegar. Memang ada miskonsepsi perihal status sebagai film Indonesia pertama yang dibintangi penyandang disabilitas fisik. Status itu dimiliki Kuberikan Segalanya (1992) yang menampilkan Nihayah Abubakar. Film tersebut kebetulan juga dibintangi Deddy Mizwar, dan membawanya menyabet piala FFI keempat sepanjang karir. Tapi fakta bahwa perlu 30 tahun sampai aktor difabel mendapatkan representasi lagi, membuat kehadiran Tegar pantas untuk dirayakan.

REVIEW - KERAMAT 2: CARUBAN LARANG

Keramat 2: Caruban Larang adalah horor Indonesia yang paling berhasil mengolah lokasi sejak...well, Keramat pertama 13 tahun lalu. Karakternya tidak menghadapi sosok hantu tertentu, melainkan tempat penuh makhluk gaib. Bukan pertarungan yang bisa mereka menangkan. Bagaimana bisa mengalahkan sebuah tempat? 

Itulah kenapa filmnya amat mencekam. Kita tidak diajak menyaksikan perjuangan melenyapkan hantu atau mencabut kutukan, tapi upaya bertahan hidup yang diisi ketidakberdayaan serta keputusasaan. 

Sudah 13 tahun berlalu sejak lompatan pocong yang pelan-pelan mendekati kamera menghadirkan mimpi buruk bagi penonton. Subgenre found footage tak lagi seefektif dulu, terlebih ketika konten serupa sudah jadi makanan rutin baik di YouTube maupun televisi. Monty Tiwa sadar betul akan fenomena tersebut. Sadar bahwa repetisi takkan melahirkan efek magis yang sama. 

Realisme film pertama pun dikesampingkan. Ditemani Sergius Sutanto dan Azzam (manusia sinting di balik lahirnya horor-horor pendek gila seperti Goyang Kubur Mandi Darah dan Kuntilanak Pecah Ketuban) dalam menulis naskah, Monty bak berkata, "Kalian suka konten penelusuran settingan? Begini cara membuatnya!". 

Bahkan beberapa karakternya pun berpforesi sebagai pembuat konten horor bertema penelusuran di YouTube. Keanu (Keanu Angelo) dan Ajil (Ajil Ditto) tengah berusaha membangun ulang kanal mereka sepeninggal "maskot" mereka, Ute (Lutesha) si gadis indigo. Demi konten, keduanya sepakat berangkat ke Cirebon bersama Umay (Umay Shahab), yang ingin membuat dokumenter untuk membantu tugas akhir Arla (Arla Ailani), Jojo (Josephine Firmstone), dan Maura (Maura Gabrielle). 

Tugas akhir yang dimaksud melibatkan riset soal penari setempat. Riset itu bukan sebatas tempelan. Tidak seperti mahasiswa peserta KKN yang tidak terlihat melakukan aktivitas KKN, riset yang karakternya lakoni berfungsi membentuk plot. Sumbangsih serupa turut diberikan Ute. Jika mayoritas karakter indigo di horor kita hanya bertugas menunjukkan di mana letak hantu sambil sesekali kesurupan, Ute berbeda. Pemahamannya akan mistisisme, terutama berbagai ritual di dalamnya, memberikan sesuatu untuk penonton ikuti. Dialah "pencerita" di film ini. 

Akting Lutesha pun menjauhkan Ute dari keklisean karakter indigo, walau sesekali pelafalan Bahasa Jawa miliknya kurang mulus (she did her best though). Ute tahu yang ia lakukan, menegaskan bahwa indigo bukan semata soal "melihat", pula "memahami". Lutesha menampilkan itu secara meyakinkan, sambil sesekali berkontribusi menciptakan teror melalui transformasinya. 

Di kutub berlawanan ada Keanu. Siapa yang tak meragukan keputusan Monty memilihnya? Saya pun menyimpan keraguan besar, dan Keanu membuktikan kalau saya keliru. Kita semua keliru. Di luar peran sebagai penyegar suasana melalui komedi (Keramat 2 adalah "horor murni" terlucu tahun ini), Keanu sukses jadi sosok paling likeable. Dia berbuat kesalahan, tapi tidak bodoh. Selain Ute, dialah tokoh yang benar-benar memedulikan orang lain, meski dengan caranya sendiri. 

Tapi mari lupakan perihal karakter dan penceritaan. Biar bagaimanapun, Keramat 2: Caruban Larang adalah horor. Menakut-nakuti jadi tugas utama. Sekali lagi, filmnya mengetengahkan "manusia vs tempat". Berangkat dari situ, Monty mendapat kebebasan melempar variasi teror. Sebutkan hantu lokal yang anda tahu, dan besar kemungkinan film ini memilikinya. 

Seperti telah saya sebutkan, Keramat 2: Caruban Larang, khususnya di babak akhir, bagaikan konten penelusuran settingan, hanya saja, dengan skala lebih besar serta kualitas jauh lebih baik. Intensitas yang terjaga rapi, desain hantu mengerikan, kreativitas dalam mengemas penampakan, deretan shot menarik, hingga jump scare yang efektif tanpa dibarengi musik berisik, jadi modal menyuguhkan third act yang enggan melepas cengkeramannya. 

Secara cerdik naskahnya pun menjalin koneksi dengan film pertama. Selain sebagai easter eggs, koneksi itu akhirnya turut menekankan rasa tidak berdaya yang menggelayuti perjalanan karakternya. Keramat 2: Caruban Larang mengerikan tidak hanya berkat terornya. Tapi karena kita tahu, karakternya tidak menentukan nasib mereka sendiri. Sekuat apa pun usahanya, menjadi percuma kala semesta tempat mereka menginjakkan kaki tak merestui.

REVIEW - THE FABELMANS

"Movies are dream that you never forget", ucap Mitzi Fabelman (Michelle Williams) dengan mata berbinar-binar. Apakah pada realitanya kalimat itu juga terlontar dari mulut Leah Adler (ibu Steven Spielberg) dengan cara serupa? Mungkin tidak, tapi itu yang Spielberg rasakan. Bahwa sang ibu mengajarinya keindahan dunia dalam layar perak. Karena sekali lagi, film seperti mimpi. Lebih mudah bagi kita mengingat rasa yang dihasilkan suatu mimpi ketimbang detail peristiwanya. 

The Fabelmans bersifat semi-autobiografi yang terinspirasi dari masa kecil hingga remaja Spielberg. Berawal dari tahun 1952 kala Sammy (Mateo Zoryon Francis-DeFord) dibawa oleh kedua orang tuanya, Mitzi dan Burt (Paul Dano), mengunjungi bioskop untuk pertama kali. Disaksikannya The Greatest Show on Earth, dan momen sewaktu mobil Klaus (Lyle Bettger) dihantam oleh kereta api terus menghantuinya. 

Di rumah, Sammy coba membuat ulang adegan tersebut menggunakan kereta mainan, kemudian berkat bantuan sang ibu, bisa merekamnya memakai kamera 8mm. Apa jiwa sineas Sammy mulai tumbuh? Ya, tapi bukan didorong oleh alasan yang saya kira. Sammy bukan (baca: belum) terpesona oleh sinema. Tujuan utamanya adalah terus mengulang adegan yang meneror pikirannya itu demi menghilangkan rasa takut. Sammy ingin memegang kendali atas ketakutannya. 

Berangkat dari situ, Sammy perlahan menyadari kekuatan medium film. Shot terindah milik The Fabelmans adalah saat Sammy menjadikan kedua tangannya pengganti layar untuk memantulkan sorot proyektor. Wajahnya penuh kekaguman, bak menemukan sebuah dunia baru. Dunia yang bisa dikendalikan. Dunia di mana ia bisa mencurahkan perasaan dan menuang imajinasi tanpa batasan. 

The Fabelmans sendiri merupakan curahan perasaan Spielberg. Naskah yang Spielberg tulis bersama Tony Kushner ibarat kunci jawaban bagi mereka yang mengutarakan pertanyaan, "Apa yang membentuk Steven Spielberg?". Mengapa film Spielberg cenderung meninggalkan cahaya harapan sekalipun mengangkat tema kelam? Kenapa ia merambah aneka genre, dari horor, perang, hingga sci-fi? The Fabelmans menyediakan jawabannya. 

Di satu titik, Mitzi mengajak ketiga anaknya menaiki mobil untuk mengejar tornado. Sekuen intens tersebut jadi satu-satunya spektakel aksi di sini. Sisanya fokus pada drama keluarga yang tak pernah lepas dari cinta atas sinema. Menginjak usia remaja, Sammy (Gabriel LaBelle) terjebak konflik. Apakah kecintaannya membuat film dapat berjalan beriringan dengan kehidupan berkeluarga? 

Mungkin pada kenyatannya, Spielberg sendiri menjadikan The Fabelmans selaku jawaban atas kegundahan di atas. Daripada memilih, Spielberg menyatukan dua hal yang paling ia cintai. Surat cinta untuk sinema, surat cinta bagi keluarga. Bahkan bagi sosok sekaliber Steven Spielberg, perlu waktu lebih dari setengah abad guna melakukannya (walau ide sudah mulai digagas sejak 2004). 

Mengapa selama itu? Ketika menyaksikan The Fabelmans, saya meyakini bahwa ini merupakan film tersulit yang pernah Spielberg buat. Bukan dari sisi teknis atau premis kompleks. Sebaliknya, film ini sulit justru karena amat sederhana. Kesederhanaan yang menghadirkan keintiman. 

Spielberg harus menceritakan rasa sakitnya semasa muda lewat kisah soal keretakan keluarga Sammy. Ayahnya jarang di rumah akibat fokus ke pekerjaan, sedangkan di tengah kesendiriannya, sang ibu terpikat pada Bennie (Seth Rogen), sahabat si suami. Di sekolah pun Sammy jadi korban perundungan karena statusnya sebagai Yahudi. Seluruhnya adalah luka personal yang dapat mengendap seumur hidup, dan film ini bak jadi cara Spielberg menemukan kedamaian.

The Fabelmans mungkin terkesan meromantisasi, namun itu sebuah kewajaran, sebab ia lahir dari sudut pandang seorang pria 75 tahun yang menengok ke masa remaja. Jangankan jarak 50-60 tahun, peristiwa yang 10 tahun lalu kita anggap memilukan pun kini menjadi kenangan manis. 

Bisa jadi dahulu Spielberg membenci sang ayah, tapi sekarang ia arahkan Paul Dano agar menghidupkan figur ayah penyayang yang membanting tulang demi menafkahi keluarga. Mungkin juga kekecewaan besar pernah menguasai Spielberg saat mengetahui bahwa ibu yang ia puja ternyata jadi alasan pecahnya keluarga, sebelum puluhan tahun kemudian akhirnya sadar jika tiap manusia bergulat dengan sisi kelam masing-masing. Tiada yang sempurna. 

Selain shot "proyektor di tangan Sammy", tersimpan satu lagi momen di The Fabelmans yang mencuri perhatian saya. Tatkala sedang mengedit film berisi liburan keluarganya, Sammy terkejut oleh pemandangan tak terduga yang kameranya rekam. Film memang seperti mimpi yang terkadang rancu, namun film pun mampu menangkap realita yang kadang luput dari mata manusia, memaparkan kejujuran yang terlalu pahit untuk disimpan, tapi terlalu manis untuk dilenyapkan.

REVIEW - THE MENU

Film adalah pengalaman spiritual personal. Bukan cuma soal suka atau tidak, pula mengenai cara pandang. Seperti saat saya  menonton The Menu. Alurnya berpusat pada makanan. Tepatnya makanan yang dilihat sebagai karya seni. Karena bukan seorang foodie, apakah saya sulit terkoneksi dengan karya Mark Mylod ini? Tidak juga. Bagi saya selaku pecinta film, satir milik The Menu dapat diaplikasikan ke dunia film. 

Tyler (Nicholas Hoult) dan kekasihnya, Margot (Anya Taylor-Joy), datang ke sebuah restoran eksklusif bernama Hawthorne kepunyaan Chef Slowik (Ralph Fiennes). Hawthorne dikenal lewat presentasi makanan yang unik, dan tentunya harga luar biasa mahal. Maka tidak mengherankan saat pengunjung lain terdiri dari bintang film, pebisnis sukses, pasangan kaya raya, hingga kritikus makanan. 

Hawthorne terletak di pulau terpencil dengan akses transportasi minim. Sebuah panggung sempurna bila seseorang berniat melancarkan aksi keji. Tapi harap bersabar. Meski naskah buatan Seth Reiss dan Will Tracy telah menyiapkan setumpuk kejutan (serupa Barbarian beberapa waktu lalu, semakin sedikit anda tahu soal The Menu, semakin seru), teror serta misteri baru menyeruak selepas 30 menit. 

Sebelumnya, secara pelan tapi pasti filmnya menampilkan observasi. Di sinilah urusan perspektif yang saya singgung di atas berperan. Hawthorne adalah restoran. Tempat menikmati makanan. Sebagaimana bioskop jadi tempat menikmati film. Di situlah sang seniman mempersembahkan karya buatannya. 

Foodie atau bukan, bakal mengakui keindahan karya yang Slowik sajikan. Wajar, sebab The Menu melibatkan Dominique Crenn (satu-satunya chef wanita Amerika pemilik tiga bintang Michelin) sebagai desainer makanan, sedangkan posisi second unit director diduduki oleh David Gelb sang kreator seri dokumenter Chef's Table.  

Slowik bukan juru masak biasa. Dia seniman. "Jangan makan, tapi cicipi, rasakan", demikian bunyi instruksinya ke para tamu. Dia adalah auteur. Layaknya sutradara pencipta sinema dengan karya "level tinggi" yang bersifat segmented. Di jajaran penikmatnya terdapat kritikus dengan diksi-diksi berat sembari mempermasalahkan hal-hal sepele, pengunjung (baca: penonton) kasual yang datang hanya demi prestise tanpa memedulikan sajiannya, sampai snob menyebalkan yang merasa paling paham, namun nol besar kala diminta mempraktikkan pengetahuannya. Naskahnya jeli mengolah penokohan di atas guna melahirkan satir menggelitik mengenai industri seni. Segala seni. Karena dunia seni apa pun pasti diramaikan oleh jenis orang-orang tersebut. 

Di dunia film, cukup banyak kasus di mana auteur bertindak terlalu jauh dalam mengekspresikan keeksentrikannya, dan teror The Menu kurang lebih bermain-main dengan persoalan serupa. Ketika seniman "ditelan" oleh karya seninya sendiri. Fiennes tampil luar biasa sebagai chef yang bisa menjadikan kata "cook" terdengar menyeramkan. Fiennes memberi interpretasi kompleks bagi karakternya, memadukan misteri, kengerian, sekaligus kepedihan. Sementara Anya Taylor-Joy adalah Anya Taylor-Joy. Aktris dengan magnet yang bisa membuat mata penonton terpak ke arahnya, apa pun yang ia lakukan. 

Memasuki paruh akhir, seiring bertambahnya intrik serta kejutan hadir, naskahnya mulai agak kerepotan mengatur porsi, sehingga filmnya bagai piring yang tak lagi cukup menampung makanan. Beruntung The Menu ditutup dengan amat kuat. Didukung kemampuan Mark Mylod, baik dalam menata intensitas maupun merangkai imageries mencekam, konklusinya menyimpan sesuatu yang makin jarang dimiliki horor modern Hollywood, yakni rasa sakit yang nyata, hasil dari penerimaan manusia terhadap akhir tragis bagi hidup mereka.  

REVIEW - SRI ASIH

Alpha male dengan toxic masculinity, polisi korup, pengusaha bergelimang harta yang terang-terangan membenci rakyat jelata, semua itu jadi lawan Sri Asih. Terkesan kurang subtil dalam melempar kritik? Mungkin. Apalagi di skena film superhero sekarang, antagonis dengan kompleksitas yang bisa memecah simpati penonton adalah primadona. Tapi di sisi lain, figur-figur di atas memang sampah masyarakat yang jadi musuh bersama, sehingga tidak sulit bagi kita berdiri di belakang Sri Asih sambil berkata, "Ini pahlawan kami!". 

Filmnya mengetengahkan Alana (Pevita Pearce). Dia lahir di tengah letusan gunung Merapi yang menewaskan kedua orang tuanya, sebelum diadopsi oleh Sarita (Jenny Chang), yang mengajarinya teknik bertarung. Ketangguhan Alana menarik perhatian Mateo (Randy Pangalila), putera Prayogo Adinegara (Surya Saputra) si pengusaha korup. 

Mateo menantang Alana berduel di atas ring, yang tersaji meyakinkan berkat Pevita dan Randy (ingat, dia atlet MMA di kehidupan nyata), sekaligus jadi awal terseretnya protagonis kita ke dalam intrik rumit yang telah berlangsung entah berapa lama. Pertemuan dengan Eyang Mariani (Christine Hakim) dan sang cucu, Kala (Dimas Anggara), membawa Alana menyadari takdirnya sebagai titisan Dewi Asih yang mesti melindungi dunia dari ancaman Dewi Api (Dian Sastrowardoyo). 

Penceritaan Sri Asih memang agak terbata-bata. Pacing-nya inkonsisten. Kadang berlarut-larut hingga menyelipkan peristiwa yang tak perlu, namun sebaliknya, tidak jarang pergerakan antar momen terasa buru-buru. Tapi perihal mitologi lain cerita. Naskah buatan Upi dan Joko Anwar mampu menggaet atensi. Disampaikan oleh Eyang Mariani, kita diajak menyelami mitologi yang menyiratkan masa depan ambisius Jagat Bumilangit. Sulit untuk tak bersemangat menantikan kelanjutannya.

Ceritanya kembali meluas kala memperkenalkan Jatmiko (Reza Rahadian), polisi yang mulai jengah dikontrol oleh Prayogo, juga Tangguh (Jefri Nichol), wartawan idealis sekaligus teman masa kecil Alana. Syukurlah tiada subplot romansa segitiga antara Alana, Tangguh, dan Kala. Dunia Sri Asih sudah cukup penuh serta sarat kekisruhan untuk memberi ruang pada benih-benih asmara. 

Bangunan dunianya menyimpan plus minus. Kekacauan sistem politik dan hukum, penindasan oleh si kaya, sampai kemiskinan yang mengakar, membuat Sri Asih benar-benar terasa eksis di dunia yang sama dengan Gundala (2019). Dampak negatifnya, karena kesamaan nuansa industrial, kita lagi-lagi banyak disuguhi momen penting berlatarkan pabrik. Unggul di konsistensi, namun lemah dalam hal variasi. 

Repetisi latar tersebut untungnya bukan masalah besar tatkala Upi mampu merangkai sekuen aksi dengan baik (keunggulan terbesar Sri Asih dibanding Gundala). Camerawork-nya sesekali tampak canggung, tapi keberhasilan memanfaatkan kualitas olah tubuh Pevita, gaya bertarung unik Sri Asih yang bersenjatakan selendang, juga kualitas CGI mumpuni (penundaan jadwal rilisnya terbayar lunas), menutupi kelemahan tersebut. Terutama di klimaks.

Klimaks Sri Asih membuat segala kekurangan filmnya patut dimaafkan. Klimaks ini wajib jadi patokan bagi blockbuster superhero Indonesia yang segera membanjiri layar bioskop kita di tahun-tahun mendatang. Seru, megah (shot Dewi Api muncul di belakang si antagonis itu luar biasa), dengan porsi yang tepat. Tidak berakhir prematur, tidak juga terasa diulur-ulur. 

Dua figur yang saling beradu pun jadi kunci kesuksesan klimaksnya. Pevita dengan senyum bak jagoan yang menikmati pertempuran (mengingatkan ke penampilan ikonik Gal Gadot di Batman v Superman: Dawn of Justice), bertemu antagonis yang berkarakter berkat kepiawaian sang pemeran. Meski lubang di naskah membuat beberapa detail mengenai si antagonis mengundang pertanyaan. 

Sri Asih masih meninggalkan setumpuk pekerjaan rumah bagi Jagat Bumilangit untuk dibenahi di installment berikutnya. Tapi ia jelas film superhero terbaik kita, setidaknya untuk saat ini. Karya yang pantas dibanggakan, tentang seorang jagoan yang juga layak dipuja sebagai pahlawan.