REVIEW - THE BRIDE!

Di Bride of Frankenstein (1935), meski namanya terpampang di judul, "sang pengantin perempuan" hanya muncul sekitar lima menit di penghujung cerita. Dia tak ubahnya alat bagi si monster laki-laki untuk merasakan cinta kemudian patah hati. Dari situlah eksistensi The Bride! buatan Maggie Gyllenhaal memiliki makna, yakni mengubah "The Bride" dari entitas nihil identitas menjadi makhluk yang utuh. 

Film orisinalnya membawa elemen meta ketika mengawali durasi dengan menampilkan Mary Shelley menarasikan ide untuk kelanjutan dari novel Frankenstein; or, The Modern Prometheus buatannya. Ada sekat antara fiksi dan realita. The Bride! hadir lewat pendekatan kreatif yang memburamkan batasan keduanya, tatkala memposisikan Mary Shelley layaknya arwah yang merasuki jiwa tokoh utamanya. 

Sebelum kematiannya, Ida (Jessie Buckley) mendadak bertingkah aneh di hadapan para laki-laki yang memandangnya selaku objek hiburan. Kepatuhan serta sopan santun lenyap, kata-kata manis dari mulutnya pun digantikan celotehan tajam. Semua terjadi pasca "hantu" Mary Shelley (juga diperankan Buckley) tiba-tiba memasukinya. Di mata Maggie Gyllenhaal, Mary Shelley bukan sebatas novelis, namun personifikasi dari gagasan feminisme. 

Sayang, Ida mesti membayar pemberontakan kecil tersebut dengan nyawa, karena ucapannya menyinggung Lupino (Zlatko Burić) si bos mafia. Kemudian kisahnya mengalihkan fokus pada monster buatan  Victor Frankenstein, yang setelah hidup ratusan tahun, mengadopsi nama sang pencipta. Kini dia dipanggil "Frank" (Christian Bale). 

Frank yang kesepian, meminta bantuan Dr. Euphronious (Annette Bening) supaya dibuatkan "teman". Mayat Ida pun mereka gali, lalu coba dihidupkan kembali untuk dijadikan calon pengantin bagi Frank. Jika Jacob Elordi dalam versi Guillermo del Toro tahun lalu maupun Boris Karloff di judul klasiknya memotret sang monster sebagai figur tragis, Bale memberi interpretasi yang sedikit berbeda. 

Sang aktor mengedepankan sisi yang lebih canggung, cenderung ramah, pula manusiawi. Wajar. Frank bukan lagi monster kemarin sore. Dia telah mengitari dunia selama lebih dari seabad. Ketimbang anomali dunia, Frank tak ubahnya pemuda dengan kecanggungan sosial yang bergulat dengan insekuritas akibat terlalu sering dihakimi masyarakat. 

Di sisi lain, Ida yang sekarang menyandang identitas "The Bride" justru lebih liar. Masih dirasuki arwah Mary Shelley yang piawai merangkai kalimat, The Bride bicara layaknya mesin kosakata. Ucapannya tak terkendali, mewakili hasrat perempuan untuk bebas berbicara setelah sekian lama terpenjara. Jessie Buckley tampil 1000% dalam tiap situasi, mengeksplorasi ragam gestur dan ekspresi khas seni peran panggung, yang bakal dicap "berlebihan" oleh segelintir penonton yang gagal memahami cabang keilmuan itu. 

Tidak butuh waktu lama bagi dua protagonisnya guna mengobrak-abrik tatanan ibarat Bonnie dan Clyde versi monster. Kepanikan massal pun pecah setelah wajah keduanya terpotret di TKP sebuah pembunuhan. Hubungan The Bride dan Frank merepresentasikan konsen. Mereka menggila bersama, bukannya secara sepihak tanpa persetujuan si pasangan, yang semasa hidupnya, jadi rutinitas pahit yang Ida kerap saksikan bahkan alami sendiri. 

Kemunculan The Bride memercikkan api perlawanan. Banyak perempuan mengenakan riasan serupa dirinya, kemudian menyulut perlawanan secara terang-terangan terhadap persekusi oleh laki-laki. Sayang, naskah buatan Maggie Gyllenhaal mengolahnya dengan kurang matang. Alih-alih dikembangkan sebagai salah satu menu utama, perihal perlawanan ini sekadar remah-remah bumbu yang ditaburkan sekenanya. 

Bicara tentang penceritaan, The Bride! memang kacau balau: Alurnya menggelembung tak terkendali seiring meluasnya cakupan yang ditandai munculnya dua karakter detektif, Jake Wiles (Peter Sarsgaard) dan asistennya yang kurang dihargai akibat seksisme dalam sistem kepolisian, Myrna Mallow (Penélope Cruz); struktur narasinya berkeliaran bak seseorang yang didera kecemasan kala tersesat dalam labirin; fokusnya pun kesulitan menentukan apakah hendak menyajikan romantika atau membuat The Bride berdiri mandiri tanpa memerlukan belahan hati. 

Tapi prinsip filmnya yang menomorsatukan keliaran dan penolakan terhadap norma lama (isu gender yang diangkat pun mengarah ke sana) memang sukar ditolak. Visi tersebut paling sempurna diwakili oleh sebuah duet dansa dua tokoh utamanya di tengah suatu pesta, di mana para hadirin lain mendadak turut serta seolah tengah kerasukan. Tidak ada alasan logis dibutuhkan, karena fenomena itu merupakan wujud ledakan ekspresi emosi.

REVIEW - HAMNET

Perasaan manusia dapat bertransformasi menjadi seni bercerita. Di salah satu pertemuannya dengan Agnes (Jessie Buckley), William Shakespeare (Paul Mescal) mengaku tak jago perihal komunikasi. Tapi sebagaimana kita tahu, ia adalah pencerita handal. Alhasil sebagai ganti obrolan sekaligus cara menyampaikan isi hati, ia menuturkan legenda Orpheus dan Eurydice. Agnes pun terpikat. 

Prolog filmnya menampilkan teks yang menyampaikan kalau di Stratford, "Hamlet" dan "Hamnet" dianggap sebagai dua nama yang sama. Tulisan tersebut merujuk pada hipotesis bahwa William menjadikan naskah Hamlet selaku medium katarsis, upaya penebusan dosa dalam prosesnya memahami makna kehidupan dan kematian, pasca ia digerogoti rasa bersalah akibat kematian putranya, Hamnet.

Tapi karya terbaru Chloé Zhao ini bukan kisah mengenai sang pujangga semata. Bahkan William Shakespeare bukan manusia pertama yang penonton temui. Kita diajak memasuki hutan yang sibuk dengan kesunyiannya, bak sedang merayakan kesyahduan manusia yang berbaring di antara rimbunnya pepohonan. Dialah Agnes Hathaway (lebih jamak dikenal dengan nama "Anne", kendati wasiat mendiang ayahnya menuliskan "Agnes"). 

Mistisisme menyeruak dari pemandangan tersebut. Serupa karya-karya Zhao sebelumnya, emosi manusia dan alam raya saling berkelindan. Dibantu Łukasz Żal selaku penata sinematografi, Zhao berkali-kali menunjukkan kepiawaiannya memantik emosi lewat bahasa visual yang menyoroti ikatan spiritual tak kasat mata di atas. 

Agnes dicurigai sebagai anak penyihir hutan, yang tidak pernah secara tegas ia tampik atau akui. Tapi ia memang dipercaya memiliki beberapa kemampuan spesial, salah satunya melihat masa depan seseorang hanya melalui genggaman tangan. Agnes yang lebih suka berkeliaran di tengah hutan daripada bernaung di bawah atap rumah ibarat representasi ibu pertiwi (mother nature). 

Singkat cerita, Agnes yang tengah hamil bersedia menikahi William walau mesti melawan ketidaksetujuan ibu masing-masing. Semua berawal bahagia, khususnya berkat kehadiran tiga buah hati: Susanna (Bodhi Rae Breathnach), Judith (Olivia Lynes), dan Hamnet (Jacobi Jupe). Tapi suka cita William tertutupi oleh perasaan terkekang di kota kecil seperti Stratford. Luapan frustrasi William akibat kondisi tersebut, ditambah kebuntuannya menelurkan tulisan, diutarakan secara menusuk oleh akting Paul Mescal, dalam adegan berlatar kamar remang yang menyesakkan. 

Agnes pun meminta kakaknya, Bartholomew (Joe Alwyn), mengirim sang suami ke London guna memberinya kesempatan berkarir di dunia teater. Ibarat sepasang burung, William dibiarkan terbang bebas, sedangkan Agnes didomestikasi dalam sangkar, dipaksa menjauh dari alam yang selama ini jadi rumah tanpa sekat. Naskah buatan Chloé Zhao dan Maggie O'Farrell (mengadaptasi novel berjudul sama buatan O'Farrell sendiri), tidak luput menyentil dinamika peran gender secara subtil melalui kondisi tersebut. 

Banyak luka hadir akibat kepergian William. Hamnet si putra sulung senantiasa terlihat tegar, namun air matanya selalu tumpah. Jacobi Jupe yang belum genap 13 tahun, berakting dengan kepekaan ala pelakon dewasa, melalui sorot matanya yang menyalakan kenangan mengenai ketakutan kita semasa kecil perihal kepergian orang tua. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi anak daripada kehilangan tersebut.

Tapi dalam ironi takdir yang tragis, justru Hamnet yang meninggalkan orang tuanya. Wabah pes bubo yang mulai merebak merenggut nyawa si bocah. Agnes yang menyaksikan secara langsung kematian buah hatinya pun hancur seketika. Zhao menempatkan kamera di posisi close-up, membiarkan Jessie Buckley melepaskan jeritan emosi feral mencekik dalam adegan yang berkontribusi memposisikan namanya sebagai unggulan terdepan di musim penghargaan. 

Kemudian tibalah alurnya di bagian fiksi spekulatif yang jadi menu utama. Dipicu duka mendalam, William mulai menulis The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark. Kisah hidup mendiang putranya dimodifikasi, diterjemahkan ke ranah fiksi, lalu dipentaskan di depan lukisan hutan selaku backdrop panggung. Di tengah lukisan terdapat lubang hitam serupa goa pohon yang kerap Agnes kunjungi di hutan, dan sempat memancing rasa penasaran William. 

Semuanya palsu, tapi itulah kekuatan karya seni. Wujudnya mungkin maya, namun rasa yang dihasilkan amat nyata. Koneksi antara tragedi kematian Hamnet dengan cerita rekaan mengenai Hamlet bakal tersaji lebih mulus andai naskahnya tidak gemar menjabarkannya dengan lantang (adegan William mendeklamasikan monolog "To be, or not to be" misal), seolah menganggap penontonnya terlampau bodoh, atau buta literasi sampai gagal menarik benang merah antara keduanya. 

Gerak narasinya memang tak selalu lancar akibat terlampau sering beralih wujud. Pendekatannya berubah dari kisah naturalis lirih nan sederhana menjadi tearjerker dramatis serba besar, sebagaimana fokus alurnya terus bergeser (romansa, drama keluarga, gender, dunia anak, persoalan seni, dll.), hingga memantik pertanyaan, "Apa yang sebenarnya paling ingin Zhao dan O'Farrell kedepankan?"

Beruntung, konklusinya membuat berbagai kelemahan tadi seolah tak lagi perlu untuk dipusingkan. Di atas panggung, kisah fiktif dan realita penuh duka (bukan cuma Agnes dan William, penonton lain pun sedang mengakrabi luka hati akibat wabah) saling terhubung, sementara Zhao kembali unjuk kebolehan merangkai bahasa visual guna melantunkan emosi. Begitu juga akting Jessie Buckley, yang dalam momen tersebut, bergerak di area lebih subtil. Mata serta senyumnya bagaikan sajak indah yang tak lagi memerlukan kata-kata puitis untuk bicara. 

REVIEW - IRON LUNG

"Gamers tahu apa tentang pembuatan film?" Ungkapan merendahkan macam itu kerap menuntun film adaptasi game menuju malapetaka. Pihak studio yang sebatas memandang game selaku properti pengeruk uang, sehingga bukan mustahil ogah repot-repot memainkannya, secara arogan memercayai superioritas mereka, kemudian berujung menghancurkan dunia imajinatif tersebut daripada membuatnya bertransformasi. 

Lalu tibalah Mark "Markiplier" Fischbach lewat Iron Lung, debutnya sebagai sutradara yang mengadaptasi game berjudul sama buatan David Szymanski. Dia mungkin belum menjadi sineas berkompetensi tinggi, namun sebagaimana materi aslinya, Markiplier hadir bermodalkan kobaran jiwa indi, dengan mengedepankan semangat dan niat yang berakar dari cinta.

Selain sutradara, Markiplier turut mengisi posisi produser eksekutif, penulis naskah, editor, serta aktor utama. Diperankannya Simon, seorang narapidana yang dikirim untuk mengeksplorasi sebuah bulan yang terendam dalam lautan darah. Simon mengendarai kapal selam seorang diri, tanpa diberi arahan pasti mengenai apa yang mesti dicari, kecuali bahwa ia perlu mengambil foto memakai kamera sinar-X. Tapi Simon yakin ada sosok misterius yang diam-diam mengintainya di balik remang-remang lautan darah. 

Alkisah, dunia dalam film ini baru mengalami kiamat yang dinamai "Quiet Rapture", di mana seluruh planet dan bintang tiba-tiba lenyap. Umat manusia pun nyaris seluruhnya punah, kecuali mereka yang berada di stasiun serta pesawat luar angkasa. Misi Simon bertujuan mencari kunci kelangsungan hidup para penyintas. 

Mayoritas informasi di atas tersebar acak melalui ragam bentuk suara: narasi voice over, instruksi via radio untuk Simon, sampai bisikan misterius di kepala si tokoh utama. Keengganan Iron Lung menyuapi informasi, termasuk tendensi naskahnya mengemas dialognya seambigu mungkin, berpotensi menyulut frustrasi penonton awam yang kurang familiar dengan permainannya. 

Tapi harus diakui, bila mampu menyusun keping teka-teki tersebut, filmnya menyediakan bangunan dunia menarik, selaku latar bagi ceritanya yang menyoroti persoalan spiritualitas, trauma, degradasi psikologis, dan upaya manusia menjaga eksistensi di tengah mortalitas mereka. 

Wajah Simon mendominasi 125 menit durasi, yang otomatis menuntut kapasitas akting sang pelakon. Markiplier punya kemampuan mengolah raut wajah, juga kapasitas menampilkan beberapa emosi dasar secara memadai, namun dinamika rasa yang masih cenderung berkutat di permukaan belum cukup untuk membuatnya mampu mengemban beban seorang diri selama lebih dari dua jam. 

Apalagi sebagai sutradara, Markiplier cenderung membiarkan beberapa momen mengalir berlarut-larut. Acap kali adegan masih berjalan jauh setelah poinnya tersampaikan, sehingga alih-alih intensitas, penonton justru kerap dihadapkan pada kehampaan. Setidaknya sebelum mencapai paruh kedua yang terasa lebih penuh karena Simon yang terdampar keluar jalur dituntut memeras otak di tengah keterbatasan sumber daya guna menemukan jalan keluar. 

Tapi Markiplier bukan sutradara buruk. Sangat jauh dari itu. Dia hadir dengan ragam pilihan shot yang membawa Iron Lung berhasil menghindari kemonotonan. Belum lagi, didukung kualitas mumpuni timnya kala meleburkan efek praktikal dan komputer, sang sutradara debutan sanggup menyulap biaya cekak (tiga juta dolar) jadi tontonan yang tidak nampak murahan. 

Penceritaan yang enggan mencekoki penonton dengan informasi, tempo lambat, juga keberanian mengeksplorasi horor kosmik sarat imagery beraroma sureal yang cenderung jarang disentuh sinema arus utama. Walau belum maksimal, aspek-aspek tadi membuktikan keberanian sang pembuat film untuk tidak tunduk pada pakem. Tengok babak ketiganya yang jadi puncak keliaran horor kosmik. Markiplier tahu apa yang ingin ia ciptakan, juga apa yang ia perlukan guna merealisasikan visinya. 

REVIEW - MARTY SUPREME

Sepanjang 150 menit, berkali-kali Marty Supreme seperti hendak melangkahkan kaki di rute "from zero to hero" yang familiar, hanya untuk berputar balik dan menjatuhkan protagonisnya ke titik nol. Sebab tidak ada "hero" di karya penyutradaraan teranyar Josh Safdie ini. Hanya individu yang dibuat terombang-ambing oleh permainan sang takdir, bak bola yang bolak-balik dipukul di atas meja pingpong. 

Kredit pembukanya cukup nyeleneh: sekumpulan sperma berlomba mencapai ovum, lalu setelah pembuahan terjadi, sel telur itu berubah menjadi bola pingpong. Seperti itulah kehidupan Marty Mauser (Timothée Chalamet) yang karakternya terinspirasi dari figur Marty Reisman. Konon, rata-rata kecepatan bola pingpong di pertandingan kompetitif adalah 100-140 km/jam. Bayangkan terus melaju sekencang itu tanpa henti setiap hari. 

Marty adalah atlet tenis meja profesional sekaligus wakil Amerika Serikat di kejuaraan dunia tahun 1952 yang digelar di London. Marty berambisi memenangkan turnamen tersebut. Dia YAKIN akan memenangkannya. Sampai laga final mempertemukannya dengan wakil Jepang, Koto Endo (Koto Kawaguchi), yang mempersenjatai diri dengan raket karet yang meredam suara. Marty takluk. Jatuhlah ia dari puncak dunia menuju dasar jurang berlumpur. 

Eksekusi pertandingan tenis mejanya mengagumkan. Kesan autentik bak tengah menyaksikan turnamen profesional sungguhan berhasil Josh Safdie bangun, tatkala para pelakon memamerkan kecakapan bermain masing-masing. Koto Kawaguchi merupakan atlet, sedangkan latihan intens Timothée Chalamet terbukti membuahkan hasil. Kendati menerima bantuan efek komputer (beberapa adegan diambil tanpa bola, yang baru ditambahkan secara digital di fase pasca produksi), bila tak dibarengi gerak tubuh meyakinkan sang aktor, kecanggihan teknologi seperti apa pun akan sia-sia. 

Singkat cerita, Marty berupaya menata ulang kejayaannya, sehingga ia memerlukan sejumlah uang, baik untuk melunasi setumpuk utang maupun membayar biaya pendaftaran turnamen. Belum lagi rentetan masalah pribadi lain, seperti perselingkuhannya dengan Rachel (Odessa A'zion), teman masa kecil Marty yang telah bersuami. 

Seperti karya-karya Safdie lain, konfliknya dipaparkan dalam intensitas tinggi yang memupuk kecemasan lewat penyuntingan secepat kilat, close-up ekstrim, hingga tempo bicara para aktor yang bak berondongan peluru dari senapan mesin. 

Kekhasan sang sutradara pun nampak dari betapa liar guliran alurnya. Bermula dari problematika sederhana seperti mencari dana untuk berlaga di ajang tenis meja, Marty kemudian mesti berurusan dengan polisi, mafia keji, juga Kay Stone (Gwyneth Paltrow), aktris film senior yang sedang berusaha membangun ulang karirnya di dunia panggung. Keliaran dan keanehannya terus bertambah seiring waktu, sampai ketika salah satu karakter "mengakui" identitasnya sebagai vampir yang hidup dari tahun 1616, saya menganggapnya selaku posibilitas. 

"Memang bukan takdirnya" merupakan kalimat yang paling pas dipakai menggambarkan perjalanan Marty. Menyaksikan usaha demi usaha Marty senantiasa membentur tembok kegagalan yang acap kali terasa absurd memang awalnya menyenangkan, tapi karena dilangsungkan selama dua setengah jam, filmnya pun sempat mencapai titik jenuh akibat kesan repetitif. Ketidakterdugaan dari rangkaian skenario liarnya jadi mudah diduga. 

Di sinilah kehebatan performa Timothée Chalamet berperan sebagai penyelamat. Energinya luar biasa. Chalamet membuat Marty bak personifikasi dari kekalutan. Ekspresinya seusai memenangkan pertandingan di paruh akhir bukan semata luapan kegembiraan seorang atlet, tapi kulminasi dari segala emosi yang menyambangi hatinya sedari awal kisah. Berkat kelihaian sang aktor mengolah rasa, konklusinya yang bermaksud mendekonstruksi makna "juara", berhasil menghasilkan dampak emosi secara maksimal. 

REVIEW - CRIME 101

Crime 101 yang mengadaptasi novela berjudul sama buatan Don Winslow punya jiwa serupa Heat (1995) karya Michael Mann. Bukan aksi yang dikedepankan, melainkan alur pikir para manusia yang melakoninya. Kegundahan batin mereka lebih dipentingkan dari spektakel berbasis kriminalitas. 

Seperti Heat, kisahnya berpusat pada pertarungan antara perampok dan polisi yang masing-masing enggan saling merendahkan sang lawan. Si perampok adalah Mike (Chris Hemsworth) yang menjalankan tindak kriminalnya dengan disiplin luar biasa. Alhasil, tak sedikit pun DNA pernah tertinggal di TKP. Chris Hemsworth dengan setelan jas, rambut dipotong pendek rapi, serta kacamata hitam bak personifikasi dari ketelitian Mike. 

Sedangkan si penegak hukum adalah Detektif Lou Lubesnick (Mark Ruffalo) yang diasingkan dari kesatuan akibat rasio pemecahan kasusnya rendah. Lou pun ngotot melempar teori yang ditolak oleh rekan-rekan sesama polisi, bahwa serangakaian perampokan di sekitar jalan raya 101 dilakukan oleh satu pelaku.....dan dia benar. 

Rumah tangga Lou juga tidak kalah bermasalah, di mana sang istri secara sengaja berkali-kali berselingkuh. Sebaliknya, Mike tengah terpikat pada Maya (Monica Barbaro), kendati ia sadar kalau pekerjaannya menuntut hidup yang teralienasi demi menghindari distraksi. 

Tapi jika Heat merupakan "permainan laki-laki", Crime 101 menyediakan ruang bagi perempuan lewat kehadiran Sharon (Halle Berry), yang tak pernah dihargai secara layak di perusahaan asuransi tempatnya bekerja selama 11 tahun. Dunia tiga tokoh utama kita berlainan, namun mereka memiliki kemiripan: baik Mike, Lou, atau Sharon "bermain sesuai aturan" di tengah kekacauan ekosistem yang mengerdilkan keteraturan. 

Ketika Mike beraksi serba hati-hati sembari mengusung prinsip untuk tak melukai satu orang pun, Ormon (Barry Keoghan), yang dikirim sebagai penggantinya di salah satu perampokan, justru berlaku membabi-buta. Lou mendapati kesatuannya tak pernah memedulikan kebenaran, bahkan menutupi brutalitas yang diperbuat sesama polisi. Sharon juga terjebak dilema tatkala menyadari pihak perusahaan tega melakukan segala cara guna mencurangi klien mereka. 

Naskah buatan sang sutradara, Bart Layton, betul-betul membedah penokohan tiap individu. Sekali lagi elemen aksi memang tidak jadi menu utama Crime 101, tapi bukan berarti diolah setengah matang. Tengok bagaimana Layton menginjeksi deretan adegan kejar-kejaran mobil dengan energi serta efek kejut, alih-alih sekadar melakukannya untuk memenuhi formulasi film aksi. 

Alurnya tidak menyediakan lika-liku tak terduga, belum pula mendobrak pakem lama film kriminal sarat drama, tapi Layton memastikan penceritaannya tersaji rapi, kendati selama 140 menit mesti berkali-kali beralih fokus antara tiga tokoh utamanya (plus Ormon sebagai "bonus").

Sebelum sekuel Heat, yang masih berkutat di pra-produksi, resmi diluncurkan, Crime 101 adalah hal terdekat yang bisa kita dapat. Jika Heat merepresentasikan kemurnian aksi khas sinema 90-an, maka Crime 101, dengan konklusinya yang menolak moralitas hitam-putih, menjadi wajah dari kompleksitas masa kini, di mana hukum gagal melindungi kesejahteraan bahkan keselamatan masyarakat. 

REVIEW - BLADES OF THE GUARDIANS

Gurun menjadi panggung kejar-kejaran antara beberapa fraksi prajurit dan sekelompok pendekar dalam misi mereka melindungi sesosok individu penting. Blades of the Guardians ibarat Mad Max: Fury Road yang dipindahkan ke latar Dinasti Sui, di mana alih-alih mobil raksasa dan ledakan bombastis, adaptasi manhua berjudul sama ini dimotori ayunan pedang para pendekar yang mampu menentang gravitasi. 

Salah satunya bernama Dao Ma (Wu Jing), seorang pemburu hadiah yang mendapat misi untuk mengawal Zhi Shilang (Sun Yizhou), pemimpin pasukan pemberontak sekaligus "kriminal paling dicari", untuk memasuki daerah Chang'an. 

Ada sedikit kejanggalan. Zhi Shilang memakai topeng serta riasan guna menyembunyikan identitas, namun penyamaran itu sudah dihafal oleh prajurit kerajaan yang mengincarnya. Mengapa tidak ia buka saja samaran tersebut? Kenapa pula sang pemimpin besar perlawanan punya tindak-tanduk konyol bak orang tolol? Sebelum kehadiran sekuel yang dapat menyediakan jawaban, semua hal di atas masih merupakan anomali mengganggu. 

Seiring perjalanan, Dao Ma bertatap muka dengan ahli bela diri lain. Ada yang bakal memegang peranan besar di alur seperti Ayuya (Chen Lijun) si "Putri Gurun Pasir", Shu (Yu Shi) si pendekar berambut putih, hingga Di Ting (Nicholas Tse) dengan misi rahasianya, namun ada pula yang sekadar numpang lewat. Jet Li sebagai Chang Guiren adalah salah satunya, tapi bukan berarti kemunculannya tak berkesan. Kendati tak selincah masa primanya, sang legenda laga terbukti masih punya karisma luar biasa. 

Dao Ma yang selalu membawa seorang anak kecil bernama Xiao Qi (Ju Qianlang) pun memulai perjalanan melintasi gurun, dalam 126 menit yang punya alur tipis sekaligus penuh sesak secara bersamaan. Bisa demikian sebab naskah buatan Chao-Bin Su dan Larry Yang terus menyuplai film dengan permasalahan yang terus datang dan pergi, tanpa pernah mengembangkannya jadi struktur narasi berarti. 

Jangan harap merasakan kepedulian terhadap cerita maupun manusia-manusianya, tapi untungnya, Yuen Woo-ping selaku sutradara tahu bagaimana menyusun shot supaya jajaran pendekarnya nampak keren kala beradu jurus. Apalagi Blades of the Guardians diberkahi nama-nama yang memiliki screen presence tinggi. Bukan keselamatan karakternya yang bakal penonton pedulikan, tapi bagaimana cara mereka menghunuskan pedang.

Koreografinya sarat gerak akrobatik memukau sebagaimana mestinya film wuxia kelas satu, pun dengan latar yang menolak tampil monoton. Para jagoannya bertarung di tengah beragam elemen, dari kobaran api, badai pasir, hingga hujan salju. Alih-alih jadi penghalang, hal-hal tersebut justru dijadikan amunisi, membuat mereka bisa mengayunkan pedang yang membara, atau terbang ke arah lawan sambil mengendarai ganasnya badai. 

Rangkaian baku sabetnya hadir jauh lebih brutal dari wuxia kebanyakan. Intrik politik kompleks maupun drama humanis menyentuh takkan bisa ditemukan di sini, tapi jika kalian menikmati melihat para pendekar mempermalukan hukum fisika, kemudian memenggal kepala musuh dengan cara menendangnya sekeras mungkin, maka Blades of the Guardians adalah spektakel yang layak dikonsumsi.