REVIEW - MICHAEL

Michael menampilkan hampir semua lagu hit Michael Jackson dari era 70-an sampai 80-an, baik lewat montase maupun reka ulang video musik dan pertunjukan panggung. Tapi proses magis seputar penciptaan lagu-lagu itu sama sekali lenyap. Dari mana asal nama Billie Jean? Bagaimana Michael bisa merumuskan sebegitu banyak aransemen luar biasa? Film garapan Antoine Fuqua ini hanya memedulikan nilai komersial, bukan esensi Michael Jackson sebagai salah satu musisi paling jenius sepanjang masa. 

Sosok Michael direduksi menjadi produk yang dipamerkan dengan tanda "barang unik". Di salah satu kesempatan, Michael mengundang kebingungan kakak-kakaknya saat berbaring di tengah kolam renang. "Sedang menanti inspirasi lagu dari Tuhan", ucapnya. Segala bentuk kompleksitas seorang Michael Jackson disimplifikasi di sini. 

Kisahnya bermula di tahun 1967. Kehidupan Michael kecil (Juliano Krue Valdi begitu luwes membawakan lagu-lagu di atas panggung) dipaparkan sebagai penjabaran bahwa banyak masalah personal yang kelak menolak berhenti menghantui Michael selepas dewasa, termasuk insekuritas terhadap kondisi fisik yang menyulut keinginan menjalani operasi plastik, disebabkan oleh satu orang: Joseph Jackson (Colman Domingo). Ayahnya. 

Domingo tampil intimidatif sebagai monster bagi Michael kecil, yang bakal seketika menyabetkan sabuknya ke tubuh si putra bila dirasa gagal mematuhi perintah. Tapi didikan keras ini pula yang menuntun Michael bersama kakak-kakaknya mereguk kesuksesan sebagai The Jackson 5. Kemudian alurnya terus melompat liar dari tahun ke tahun, menyusun rekap dangkal bagi hidup si Raja Pop alih-alih upaya memahami sosoknya secara mendalam. 

Michael tampil bak visualisasi halaman Wikipedia yang dapat penonton kumpulkan sendiri. Tiba-tiba Jermaine sudah hengkang dari grup tanpa penjelasan memadai, tiba-tiba The Jackson 5 telah hengkang dari Motown yang membesarkan nama mereka guna bergabung dengan CBS/Epic. 

Filmnya tidak sempat menjelaskan poin-poin yang bisa meluaskan pemahaman penonton mengenai protagonisnya, tapi ia merasa perlu menampilkan momen saat Bubbles, simpanse peliharaan Michael, yang sedang bermain seorang diri. Penceritaan berbentuk rekap banal memang penyakit yang jamak menjangkiti film biografi, namun kondisi Michael jauh lebih parah, terutama karena ia mengangkat hidup individu sekompleks Michael Jackson. 

Bukankah Thriller, dengan eksplorasi musik luar biasa kaya serta penyandang status "terlaris sepanjang masa" dengan penjualan melebihi 70 juta kopi, patut mendapat penelusuran lebih perihal musikalitasnya ketimbang sekadar menunjukkan dilema soal pemilihan judul album? Tentu barisan nomor seperti Billie Jean, Beat It, sampai Bad menghadirkan daftar putar yang asyik, tapi itu bukan pencapaian filmnya, melainkan Michael Jackson sendiri. 

Fuqua mengkreasi reka ulang untuk beberapa video musik serta aksi panggung Michael dengan baik. Solid secara teknis, pula mirip dengan versi aslinya. Kata "mirip" adalah kunci. Tanpa mengerdilkan pencapaian tersebut, Fuqua sudah menerima templat berkualitas yang hanya perlu ia ikuti polanya. 

Kemiripan yang layak dibanjiri pujian terletak pada performa Jaafar Jackson. Departemen tata rias berkontribusi besar membuat fisiknya menyerupai sang paman, tapi Jaafar bukan semata-mata sedang melakukan cosplay atau impersonasi hampa, melainkan meresapi jiwa Michael. Olah vokalnya, tariannya, hingga detail ekspresi yang memperkaya tarian tersebut, seluruhnya menampakkan kesempurnaan. 

Di adegan sewaktu Billie Jean dibawakan, sesaat saya sempat lupa bahwa yang menghiasi layar bukan rekaman performa Michael Jackson sungguhan. Jaafar layak memperoleh film yang lebih baik. Michael layak memperoleh film yang lebih baik. 

REVIEW - THE DRAMA

Sejauh mana kita bisa menoleransi masa lalu pasangan? Bagaimana kita mesti merespon saat mendadak rahasia kelamnya tersingkap? The Drama karya Kristoffer Borgli mengkaji problematika tersebut, dan bagi saya film ini penting ditonton oleh kalian yang berencana mengucap janji suci untuk menghabiskan seumur hidup bersama sosok tercinta.

Seminggu lagi Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) akan menikah. Seluruh persiapan tengah dimatangkan. Dibantu sahabatnya, Mike (Mamoudou Athie), Charlie menyusun pidato mengenai ragam hal berkesan dalam hubungan mereka, termasuk indahnya pertemuan pertama. 

Emma kebingungan. Supaya menghindari kesamaan topik, ia harus mencari pokok bahasan lain. Peristiwa mana saja yang dapat ditulisnya? Charlie tidak cukup peka guna menyadari kegundahan si calon istri, terus melanjutkan tulisan tanpa membuka ruang diskusi. Egoisme itulah yang kelak jadi bibit ancaman di hubungan keduanya. 

Suatu malam, bersama Mike dan istrinya, Rachel (Alana Haim), dua protagonis kita terlibat obrolan mengenai hal terburuk yang mereka pernah perbuat. Mike menjadikan mantan pacarnya sebagai "tameng" menghadapi serangan anjing. Mendengar itu, forum tertawa. Rachel pernah seharian mengurung anak berkebutuhan khusus dalam lemari. Lagi-lagi semua tertawa. Charlie bercerita soal perundungan secara daring terhadap teman sekelasnya. Sekali lagi forum tidak ambil pusing.

Tapi begitu Emma mengakui rencana melakukan penembakan semasa SMA yang urung ia eksekusi, kecanggungan seketika menyeruak. Amarah Rachel meledak karena sepupunya pernah jadi korban penembakan, sedangkan si calon suami hanya bisa terpana. 

Hari-hari Charlie mulai dihantui asumsi liar. Tindakan-tindakan Emma terdahulu yang sebelumnya nampak remeh kini ia kaitkan dengan psikopati. Rangkaian imajinasi absurd yang dipoles memakai surealisme khas Kristoffer Borgli memenuhi kepalanya. Insekuritas serta rasa tidak percaya sejatinya merupakan reaksi yang wajar muncul pasca terungkapnya sebuah dusta. Selanjutnya tinggal bagaimana proses saling memahami berlangsung.

Borgli menggambarkannya sebagai proses yang luar biasa kacau. Gaya bercerita dan penyuntingannya yang sarat lompatan ekstrim mewakili dinamika psikis protagonisnya yang tengah kalut akibat terus diombang-ambingkan asumsi. Liar, kacau, tapi efektif membuat filmnya tampil bertenaga sekaligus menyenangkan. 

Daya hibur pun The Drama bakal tereskalasi secara signifikan bagi penonton yang cocok dengan humor-humor gelap yang sudah Borgli siapkan. Hal-hal seperti penembakan massal di sekolah, pelecehan, hingga perundungan disentil, tapi The Drama tidak terkesan ofensif karena sang sutradara bukan mengajak penonton menertawakan isu-isu di atas, melainkan kecanggungan kala sederet pokok bahasan tadi gagal diperbincangkan dengan tepat. 

Kecanggungan itu turut disampaikan dengan apik oleh dua pelakon utamanya: Robert Pattinson dengan kekikukan dan ketakpastian dalam tiap sikapnya (mengonfirmasi ketepatan akting sang aktor, saya memiliki teman yang bertutur serta bergestur sama persis dengan Charlie), sementara Zendaya membuat Emma bak nakhoda tangguh yang berjuang menyetir hubungannya agar tidak karam lewat upayanya menepis kecanggungan. 

Tidak semua humornya bekerja maksimal. Momen pidato Charlie di pesta pernikahan selaku klimaks cerita yang bergulir bagai detik-detik menuju kecelakaan mematikan memang menggelitik, pula efektif menyulut kecemasan, namun kebodohan tingkah karakternya cenderung dipaksakan. Charlie memang egois, canggung, senantiasa cemas, tapi filmnya gagal membuat saya percaya ia sanggup berkelakuan SEBODOH ITU.

Ada satu poin luput Borgli soroti. Berdasarkan statistik seputar penembakan massal di Amerika Serikat dari tahun 1982 hingga 2026, 54,7% di antaranya dilakukan oleh kulit putih, sementara persentase pelaku kulit hitam hanya 16,9%. Persoalan ras dalam fenomena memprihatinkan tersebut (Adakah perbedaan penyebab antar ras? Apakah rasisme turut berkontribusi? Apa yang membedakan Emma dengan sejawatnya sampai kepalanya mencetuskan ide gila?) sayangnya tidak film ini telusuri. 

Tapi toh bukan ganjalan besar, sebab The Drama memang memilih untuk lebih fokus pada tahap-tahap yang individu lalui kala memproses realita mengejutkan tentang pasangan (atau teman dan kerabat) yang baru diketahui secara mendadak. Jadi, seberapa jauh bersedia menerima sisi kelam cinta sejatimu?

REVIEW - THE CHRONOLOGY OF WATER

Berangkat dari memoar berjudul sama buatan Lidia Yuknavitch, The Chronology of Water adalah tipe film yang akan terus bergulir di batin penontonnya jauh selepas durasi tuntas. Penceritaannya menentang keteraturan struktur narasi dalam rangka mengedepankan konstruksi emosi. Kisahnya bisa berakhir, namun rasa yang dihasilkan menetap dan terukir. 

Melalui debut penyutradaraannya ini, Kristen Stewart mengambil beberapa pilihan berani. Dibantu tata sinematografi arahan Corey C. Waters, keseluruhan film (bukan parsial sebagaimana gemar dilakukan banyak sineas) ia presentasikan dalam gaya visual video rumahan guna menguarkan aroma keintiman. 

Demikian pula terkait voice over Lidia Yuknavitch (diperankan Imogen Poots) yang acap kali diucapkan lewat bisikan luar biasa lirih demi menggarisbawahi kesan personal. Si protagonis bak tengah curi-curi kesempatan mengutarakan setumpuk rahasia yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang. 

Tapi tindakan berani Stewart (turut menulis naskahnya) yang paling signifikan terletak pada gaya bertutur. Ibarat aliran air yang memiliki kronologinya sendiri, alurnya bergerak bebas layaknya memori yang datang dan pergi secara acak. Ada kalanya menggenang dengan tenang, namun bisa berdebur deras di lain kesempatan.

Alkisah, Lidia punya dua kegemaran: menulis dan berenang. Keduanya jadi alat untuk kabur dari kehidupannya di rumah. Pasca si kakak, Claudia (Thora Birch) pergi, Lidia jadi target pelecehan ayahnya, Mike (Michael Epp), sementara sang ibu, Dorothy (Susannah Flood), melakukan pembiaran sembari tenggelam dalam kubangan alkohol. 

Berenang jadi media pembebasan diri bagi Lidia. Sewaktu melaju di kolam ia seolah bergerak pergi dari penderitaan, dan tatkala luka tak lagi tertahankan, menyelam ke dasar jadi pilihan guna menghilang sejenak dari kehidupan. Tapi bahkan setelah berhasil memisahkan diri dari keluarga untuk berkuliah, masalah masih juga enggan berpisah. 

Melalui alurnya yang bergerak maju-mundur, pula metode penyuntingan yang coba meniru bagaimana memori bekerja dengan melepaskan diri dari kesan kohesif, kita dibawa menyaksikan dinamika dunia Lidia. Beberapa hubungan toxic, adiksi alkohol dan narkoba, kehamilan tak terduga, karir olahraga serta prestasi akademis yang satu per satu runtuh, semua mesti dihadapinya. Tentu banyak dari kekacauan tadi hadir akibat ulah Lidia sendiri, dan filmnya tak berniat menampik realita tersebut. 

Lidia bukan protagonis yang (selalu) simpatik. Tapi haruskah? Kita terbiasa dikondisikan oleh sinema arus utama, untuk percaya bahwa karakter utama mesti piawai mendulang simpati, seolah hanya individu yang mendekati kesempurnaan saja yang patut diikuti perjalanannya. The Chronology of Water bukan bertujuan mengemis simpati penonton, melainkan memberi ruang bicara bagi orang-orang seperti Lidia, yang menghabiskan seumur hidupnya berjuang menenangkan riak-riak trauma.

Kendati naskah buatan Stewart secara mengagumkan hadir dengan baris-baris kalimat puitis, visualisasinya kental akan ketidaknyamanan. Sebagaimana penokohan Lidia yang menjauhi kesucian khas protagonis Hollywood, Stewart enggan mempermanis presentasi dengan tujuan memudahkan dan menyamankan penonton. 

Kekerasan hingga seksualitas tampil gamblang. Bukan selaku perayaan atas kebejatan atau semata ekspresi kenakalan sang sineas, tapi wujud komitmen guna menyediakan ruang berbicara apa adanya bagi individu seperti Lidia. Pelaksanaannya tidak asal. Terlihat dari sensitivitasnya saat menolak kevulgaran saat menggambarkan pelecehan yang Lidia alami. 

Imogen Poots bermain luar biasa sebagai perempuan yang disudutkan oleh lika-liku luka yang begitu garang. Matanya sendu. Senyumnya kaya akan ironi. Raut mukanya ibarat pintu menuju batin Lidia, yang tak ubahnya buku berisi cerita yang takkan pernah bisa usai dibaca. Lidia bukannya mampu menyulap segala deritanya supaya lenyap, melainkan tumbuh bersamanya. Saya sendiri tidak bisa melupakan apa yang film ini tampilkan. Sewaktu kredit bergulir, saya cuma terdiam, membiarkan seluruh perasaan mengalir layaknya air yang memenuhi gelas bernama "hati". 

(Klik Film)

REVIEW - LEE CRONIN'S THE MUMMY

Seorang anak perempuan menerima buah beracun dari perempuan misterius, memakannya, kemudian tertidur. Tapi alih-alih ciuman pangeran tampan, dia baru membuka mata delapan tahun berselang pasca pesawat yang mengangkut sarkofagus tempatnya bersemayam mengalami kecelakaan. Dia bukan terbangun sebagai puteri bahagia, melainkan monster haus darah. 

Menjauh dari petualangan arkeologis milik Stephen Sommers (bakal mendapatkan film keempatnya di tahun 2028), Lee Cronin membawa The Mummy kembali ke akar horornya, lewat peleburan hikayat supernatural Mesir dan versi sinting dari Snow White selaku pondasi cerita, dengan sentuhan khas Evil Dead sebagai cara menumpahkan darah. 

Anak di atas bernama Katie (Emily Mitchell), putri sulung Charlie Cannon (Jack Reynor) dan Larissa Cannon (Laia Costa), pasutri Amerika yang menetap di Mesir. Suatu hari, sewaktu tengah bermain sendirian di taman, Katie diculik oleh perempuan aneh (Hayat Kamille). Charlie berupaya mengejar, namun badai pasir ganas menyapu sisa jejak keberadaan putrinya. 

Delapan tahun berselang, pasutri ini telah pindah ke Albuquerque, New Mexico, tinggal bersama Sebastián (Shylo Molina) si anak kedua dan Maud (Billie Roy) si bungsu, di rumah Carmen (Verónica Falcón), ibu Larissa. Duka akibat hilangnya Katie selalu membayangi, semburat cahaya bahagia cenderung sukar menerangi mereka, tapi pada dasarnya keluarga ini tetap harmonis. Naskah buatan Lee Cronin menampik formula usang seputar keluarga disfungsional dalam horor arus utama Hollywood. 

Sampai pihak berwajib mengabari bahwa Katie (kini diperankan Natalie Grace) telah ditemukan. Katie masih bernyawa namum perangainya berbeda. Departemen tata rias merealisasikan sosok baru Katie dengan apik, mencapai keseimbangan antara figur manusia dan monster untuk mencuatkan ketakutan kita terhadap ketidakpastian. Kegemaran Cronin dan sinematografernya, Dave Garbett, memakai split diopter shot makin mengentalkan nuansa tidak nyaman dari eksistensi Katie. 

Sederhananya, ada pihak yang melakukan mumifikasi pada tubuh Katie, lalu menyimpannya dalam sarkofagus untuk alasan yang belum terungkap. Cronin menggunakan mumifikasi sebagai simbol atas tindak menyembunyikan fakta. Mengubur sejarah. Pembungkaman. Sepanjang 133 menit durasi, beberapa karakternya pun sempat digambarkan kehilangan kemampuan berbicara akibat beragam alasan. Suara mereka dirampas. 

Mitologi mumi didekonstruksi, dijadikan monster yang lahir dar upaya mengubur kebenaran. Di antara paparan mengenai rasa janggal yang pasutri Cannon rasakan mengenai putri mereka, alurnya menyelipkan subplot tentang Detektif Dalia (May Calamawy) beserta investigasinya di Mesir perihal kasus Katie. Subplot tersebut cenderung mengacaukan pacing dan intensitas karena acap kali muncul di tengah jalannya teror, tapi toh keberadaannya memang senada dengan tema film soal "menyibak tabir rahasia."

Sebagaimana di Evil Dead Rise (alasan mengapa bagi saya Evil Dead buatan Fede Álvarez masih jauh lebih gila) ada kalanya Cronin terkesan menahan diri urusan menambah tumpukan mayat. Momen saat sebuah "pertemuan" terjadi sebelum babak ketiga pun enggan dimanfaatkan sebagai wadah pertumpahan bergalon-galon darah. 

Untungnya, tiap tiba giliran bagi sentuhan gore mengambil alih sorotan utama, Cronin mampu memaksimalkan tingkat efektivitasnya. Tengok "adegan kuku" yang sanggup meledakkan rasa sakit tingkat tinggi secara tak terduga. Di beberapa kesempatan, filmnya mendorong daya tahan tubuh Katie (dan toleransi rasa sakit penonton) sampai ke titik paling ekstrim. Pemandangan menjijikkan pun tidak luput disebar di banyak titik, termasuk sebuah peristiwa yang melibatkan cairan dari tubuh jenazah. Entah kapan terakhir kali saya berteriak histeris dan merasa mual sebanyak ini dalam bioskop. 

REVIEW - GHOST IN THE CELL

Ghost in the Cell adalah persembahan yang menunjukkan kepercayaan diri seorang sineas sekaligus bentuk pendewasaan. Bukan dikarenakan hadirnya ketenangan pikir atau kontrol diri. Sebaliknya, kontrol itu justru dienyahkan, sebab sang sineas, setelah bertahun-tahun ditempa proses berkarya, sampai pada kesadaran penuh bahwa sinema tidak terjebak dalam pakem saklek apa pun. 

Joko Anwar merobohkan kurungannya. Enggan memusingkan keruwetan sensor perihal kevulgaran (bahkan sempat menjadikannya candaan), pula secara lantang meneriakkan keresahan terhadap figur-figur bangsa yang polahnya memang semakin meresahkan. 

Penjara sebagai latar pun merupakan pilihan masuk akal. Dikepalai oleh Sapto (Kiki Narendra) dengan Jefry (Bront Palarae) selaku tangan kanan, alih-alih pembinaan, lapas tersebut malah melahirkan lumbung kriminalitas baru. Pelecehan, penghilangan nyawa, hingga bisnis narkoba berjalan bebas. Di kalangan napi, Rendra (Yuhang Ho) si mafia menancapkan kuasanya, dibantu nama-nama seperti Tokek (Aming Sugandhi) dan Bimo (Morgan Oey) yang amat ditakuti. 

Napi yang tak punya kuasa menggantungkan keselamatan mereka di pundak Anggoro (Abimana Aryasatya), figur karismatik yang tidak pandang bulu mengulurkan pertolongan, kendati itu membuatnya dihajar sipir, dijebloskan dalam sel isolasi, atau paling parah, urung diberi remisi. 

Eksistensi perempuan nihil di sini. Beberapa napi diceritakan memiliki istri atau pacar namun wajah mereka tak pernah ditampakkan. Joko bak hendak memotret wajah dunia tanpa perempuan yang bermuara pada kekacauan, sebab pertumpahan darah rutin jadi solusi permasalahan. 

Lalu datanglah Dimas (Endy Arfian) si napi baru. Seorang jurnalis yang dituduh membunuh bosnya secara sadis. Setibanya di lapas, Irfan (Dimas Danang Suryonegoro), salah satu kawan Anggoro, bertugas menangani masa orientasi Dimas, dengan memperkenalkannya pada seluk-beluk penjara. Terpecah dalam kelompok apa saja napi di sana? Siapa yang mesti diwaspadai? Hal-hal semacam itu.

Momen tersebut jadi salah satu medium Joko menumpahkan keluh kesah yang terlampau berisiko bila diutarakan di media sosial. Tidak satu pihak pun luput ia sentil, dari politikus dan koruptor (perlukah dibedakan?) busuk, selebritas bermasalah, kegemaran warganet terhadap keributan, kaum ekstrimis yang mabuk agama, dan masih banyak lagi. Banyak penonton berbagi keresahan serupa, terbukti dari keriuhan di studio tiap film ini melempar sindirannya. Joko memanfaatkan potensi sinema sebagai wadah bersuara secara maksimal.

Nantinya diperkenalkan pula karakter Prakasa (Arswendy Bening Swara), salah satu penghuni blok koruptor yang selnya bakal membuat hotel mewah nampak minim fasilitas. Nama lengkapnya Prakasa Kitabuming. Semasa muda ia adalah aktivis penentang rezim otoriter, yang di salah satu aksinya turun ke jalan, terlihat memiliki rambut agak panjang dan mengenakan kemeja biru. Tidak sulit menerka siapa saja sosok dunia nyata yang karakter Prakasa parodikan. 

Anehnya, pasca kedatangan Dimas, penjara mulai dihadapkan pada serangkaian peristiwa mencekam. Satu demi satu napi ditemukan tewas mengenaskan. Mayat mereka dipotong-potong, lalu disusun layaknya instalasi seni buatan seniman sakit jiwa. Benarkah pelakunya hantu? Apakah masing-masing TKP mewakili simbol tertentu? Tujuh dosa besar mungkin? Atau elemen-elemen penyusun alam (air, api, udara, dll.)?

Teori niscaya akan beredar, yang mana merupakan rutinitas tiap karya terbaru Joko rilis. Tapi semua sebatas spekulasi. Satu hal pasti, kreativitas sang sutradara mencapai puncaknya di sini. Bukan sekadar menggelar parade kekerasan tanpa arti serta cita rasa, Joko seolah menginisiasi pameran seorang seniman yang tak lagi kuasa menahan segala luka batinnya. Unik, menyakitkan, mencengangkan, namun tidak lalai menyulut rasa kagum. 

Terasa betul Joko sedang bersenang-senang. Selain sadisme over-the-top yang mengembalikan ingatan akan betapa menyenangkannya menikmati b-movie (tidak mengejutkan jika Joko termasuk penggemar judul-judul seperti Riki-Oh: The Story of Ricky), humor juga dijadikan amunisi. 

Humornya luar biasa konyol. Karakternya kerap tiba-tiba berkelakuan bodoh di tengah polemik serius, situasi mencekam bisa mendadak banting setir ke arah kejenakaan absurd. Joko meninggalkan tuntutan bermain aman khas arus utama. Kebakuan pola bercerita yang kadang terlalu memuja logika turut dikesampingkan. Kendati penuh momen bodoh, Ghost in the Cell bukan wujud kedunguan, melainkan kebebasan dari kekangan.  

REVIEW - READY OR NOT 2: HERE I COME

Alasan Ready or Not 2: Here I Come punya daya hibur tinggi adalah karena Grace (Samara Weaving) selaku protagonis bak menyikapi pertumpahan darah di sekitarnya sebagai bentuk katarsis untuk meledakkan rasa frustrasi terhadap dunia yang semakin gila. Seolah ia menikmati aktivitas diburu, sama besar dengan orang-orang yang memburunya. 

Pasca peristiwa di Ready or Not (2019), Grace dibawa ke rumah sakit dalam kondisi masih bersimbah darah, sementara alurnya menghabiskan sekitar 10 menit pertama untuk merekap cerita sebelumnya. Kemudian, bukannya memberi pertolongan, polisi justru menjadikan Grace tersangka dalam pembantaian di kediaman Keluarga Le Domas.

Naskahnya enggan berlarut-larut menenggelamkan penonton dalam tetek bengek salah paham membosankan. Nyawa Grace segera jadi incaran lagi, selepas diungkap bahwa Le Domas merupakan bagian dari dewan yang turut diisi oleh enam keluarga lain. Seluruhnya menyembah Mr. Le Bail, dan akibat keberhasilan Grace bertahan hidup dari ritual persembahan, terjadilah kekacauan. Permainan "petak umpet maut" harus kembali digelar, dengan Ursula (Sarah Michelle Gellar) dan Titus (Shawn Hatosy) dari Keluarga Danforth bertindak selaku tuan rumah.

Di luar konsep dunianya yang kentara diperluas memakai cocoklogi dadakan (awalnya ide cerita film ini hendak dikembangkan oleh duo sutradaranya, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, sebagai karya orisinal di luar semesta Ready or Not) sehingga penuh kesan asal, secara garis besar, sekuel ini masih mengulangi formula pendahulunya. 

Aktivitas petak umpet generik direpetisi oleh naskah buatan Guy Busick dan R. Christopher Murphy, pun tatkala banyak sekuel datang dengan ambisi tampil lebih besar (atau lebih brutal di konteks horor bertema pembunuhan) Ready or Not 2: Here I Come menumpahkan darah dalam kuantitas yang tak jauh beda. 

Hanya saja kali ini Grace tidak sendirian. Sang adik, Faith (Kathryn Newton), yang sudah bertahun-tahun tak ia temui juga ikut terseret. Setiap aksi kejar-kejarannya menginjak pedal rem sejenak, pertengkaran kakak-beradik ini gantian mengisi sorotan utama. 

Jangan mengharapkan eksplorasi mendalam perihal dinamika keluarga disfungsional. Kompleksitas dan substansi tidak eksis dalam kamus waralaba Ready or Not. Sekuelnya ini cuma mengusung satu tujuan, yakni mengulangi formula kemenangan film pertama.....dan ia berhasil. 

Kendati tak seberapa brutal pula sebatas pengulangan pakem, pengarahan bertenaga dari Bettinelli-Olpin dan Gillett mampu menjaga daya hibur petak umpetnya. Enam keluarga elit yang memburu dua protagonisnya sama sekali tidak cakap perihal merenggut nyawa, karena berbeda dengan Grace yang berpengalaman memainkan permainan brutal tersebut, mereka hanya sekelompok orang kaya manja, yang merasa berhak mewarisi segala harta serta kuasa tanpa perlu mengasah kemampuan. Tidak jauh beda dengan situasi dunia nyata. 

Humornya pun bekerja dengan baik. Bettinelli-Olpin dan Gillett tanpa rasa takut mencurahkan semangat penolakan terhadap keseriusan berlebih khas sinema kelas B, dengan acap kali secara sengaja menggandakan kebodohan barisan karakternya, juga kekonyolan situasi yang mereka lalui. Tengok baku hantam ugal-ugalan antara Grace dan Francesca (Maia Jae) yang melibatkan kebutaan temporer akibat semprotan merica.

Lalu ada Samara Weaving. Matanya yang melotot tajam ke arah pusat kegilaan, celetukan sinis dan selera humor gelapnya yang enggan menyisakan ruang bagi kelemahan, hingga bagaimana karakter yang ia perankan sanggup mendorong kapasitas fisiknya sampai ke batas maksimum selepas mengalami beragam luka, menjadikan sang aktris ujung tombak dari semua huru-hara sarat hura-hura ini.

Bukannya sama sekali tidak takut, tapi alih-alih membiarkan dirinya dikerdilkan, Grace memilih menertawakan siksaan yang dialaminya. Memasuki babak ketiga, Samara Weaving meninggikan derajatnya. Bukan lagi scream queen biasa yang dikejar-kejar teror entitas mengerikan, melainkan figur yang menjulang tinggi sembari bertitah dengan teriakan karismatik, bak ratu iblis yang membiarkan dunia luluh lantah oleh api amarahnya.