REVIEW - DANUR: THE LAST CHAPTER

Tidak ada salah kaprah yang benar-benar parah dalam judul keempat dari waralaba yang telah mengumpulkan lebih dari tujuh juta penonton ini. Danur: The Last Chapter merupakan horor konvensional yang digarap secara kompeten oleh orang-orang dengan bekal pemahaman memadai seputar selera penonton arus utama. "Dosa" terbesarnya adalah stagnasi, di mana kemerosotan kualitas selalu bisa dihindari, namun upaya meningkatkan seperti enggan dilalui. 

Alkisah, pasca peristiwa Sunyaruri (2019), Risa (Prilly Latuconsina) telah menutup mata batinnya. Kini ia hanya PNS biasa tanpa ikatan dengan para makhluk dari "dunia sana", termasuk Peter cs. Sampai suatu ketika, perangai sang adik, Riri (Zee Asadel), yang hari-harinya disibukkan oleh balet, mendadak menjadi janggal. 

Keanehan turut dialami Risa. Kendati kemampuan spesialnya sudah lenyap, ia kembali mendapat beberapa penglihatan. Bedanya, alih-alih sekadar mencium bau danur, Risa ikut merasakan kematian menyakitkan para pemilik ingatan yang disambanginya. 

Konsep di atas memang terdengar segar. Naskah buatan Lele Laila pun memberi dimensi berbeda dalam fenomena kerasukan. Bukan semata wujud keusilan atau kejahatan hantu, tapi upaya mengkomunikasikan rasa sakit yang mengiringi akhir hidup mereka. Jiwa-jiwa yang melayang-layang di "dunia antara" ini perlu wadah guna menampung luka yang urung terobati. 

Masalahnya terletak pada eksekusi repetitif. Risa akan mendapatkan penglihatan, merasakan kematian, lalu tiba-tiba kembali ke realita. Begitu seterusnya. Monoton, walau untuk ukuran Danur yang cenderung jinak, menyaksikan Risa berkali-kali kehilangan nyawa sudah termasuk pemandangan mencengangkan.

Formulanya masih stagnan, di mana 98 menit durasinya diisi kompilasi karakternya mondar-mandir, kemudian dikejutkan oleh penampakan hantu.Naskahnya bersedia menahan diri untuk tidak melempar jumpscare setiap lima menit sekali, tapi modus operandi si hantu dalam meneror korbannya terlampau generik. Mau bagaimana lagi? Memang itulah yang digemari target pasarnya. 

Kali ini giliran Canting (Anya Zen) yang diberi kesempatan beraksi. Dibanding Asih atau Ivanna, Canting dengan desain klise khas "hantu penari Jawa", takkan bertahan lama di ingatan penonton, tapi ada kepuasan tersendiri kala menyaksikan film ini memberi payoff bagi teror yang sudah diperkenalkan sejak Maddah (2018).  

Sebagai judul yang menandai kembalinya suatu waralaba sukses setelah absen tujuh tahun, lengkap dengan subjudul "The Last Chapter", skala penceritaan film ini rasanya terlalu kecil untuk bisa menjustifikasi statusnya selaku babak pamungkas. Daripada klimaks sebuah saga ia lebih seperti cerita pelengkap minim urgensi, biarpun keberanian mengakhiri alurnya secara konklusif layak diapresiasi. 

Mengingat Awi Suryadi duduk lagi di kursi sutradara, tak mengherankan saat Danur: The Last Chapter mau lebih meluangkan usaha menyusun berbagai pilihan shot bergaya. Ciri khas sang sutradara berupa putaran kamera kembali diterapkan, obrolan kasual dipresentasikan lewat perspektif unik (pemanfaatan refleksi di microwave jadi salah satu bentuk kreativitas), sementara crash zoom dimanfaatkan guna menguatkan dramatisasi. 

Efek spesial yang diterapkan sebagai cara memanipulasi tubuh salah satu karakternya di klimaks pun cukup mengundang kekaguman, meski sayangnya momen tersebut diselesaikan secara prematur, serba tergesa-gesa, sebelum ia berhasil menguatkan kapasitas filmnya perihal menggedor jantung penonton. 

Tapi toh segala nilai minus tadi sudah saya duga jauh-jauh hari bakal menghiasi film ini. Danur: The Last Chapter memang tak pernah memberi janji muluk mengenai lonjakan kualitas atau perombakan formula. Dia berangkat dengan misi sederhana, yakni memuaskan hasrat pecinta horor konvensional, dan berhasil melakukannya. 

REVIEW - PELANGI DI MARS

Baru kemarin saya menulis tentang bagaimana Na Willa sukses sebagai film anak berkat keberhasilan sang sineas membuat dirinya dan penonton mundur ke masa kecil. Pelangi di Mars karya Upie Guava berada di kutub berlawanan, dengan memotret anak-anak memakai perspektif dewasa, hingga mengerdilkan mereka bak makhluk dangkal miskin nalar. 

Sudah lama tidak ada film Indonesia mendatangkan kekecewaan sebesar ini bagi saya. Bersenjatakan genre fiksi ilmiah serta pernak-pernik efek komputer canggih, Pelangi di Mars berkesempatan menuliskan namanya dalam buku sejarah sinema tanah air. Sayang, kendati visual spektakuler berhasil disajikan, eksistensi naskahnya terkesan begitu samar. 

Alkisah di masa depan Bumi mengalami krisis air bersih akibat monopoli perusahaan bernama Nerotex. Karenanya, misi menuju Mars pun dilangsungkan, guna mencari Zeolith Omega, mineral langka yang konon mampu memurnikan air. Pratiwi (Lutesha) jadi salah satu pelaksana misi, yang kini melanjutkan pencarian bersama putrinya, Pelangi (Myesha Lin), yang lahir di Planet Merah tersebut, serta Batik (Bimo Kusumo Yudo) si robot baik.

Di tengah perjalanan, drone milik Nerotex mengawasi gerak-gerik mereka. Pratiwi segera berlindung, tapi Pelangi, dengan polosnya hanya bengong. Pelangi di Mars merupakan tipe film yang bakal menjelaskan tindakan tak logis bocah dengan selorohan malas, "Namanya juga anak-anak". Kesan serupa hadir saat Pelangi terlibat konflik dengan salah satu rekannya gara-gara alasan bodoh, seolah ia tak mampu secara mandiri memeras otaknya sendiri. 

Belum lama ini saya menonton video berisi seorang bocah yang bisa membongkar trik pertunjukan sulap di sebuah pesta ulang tahun. Kendati kerap dituding mengidap brainrot, di saat bersamaan, konten media sosial turut membuka lebar gerbang ilmu pengetahuan generasi alfa. Intinya, mereka cerdas. Tapi cara naskah buatan Upie Guava dan Alim Sudio memperlakukan bocah-bocah ini (baik protagonis maupun target pasar filmnya), kentara mengecilkan kapasitas pikir mereka. 

Singkat cerita Pratiwi diyakini tewas pasca sebuah kecelakaan, kemudian alurnya melompat menuju enam tahun berselang. Pelangi (kini diperankan Messi Gusti) sudah makin tumbuh, pun Batik yang tadinya cuma berupa potongan kepala, sudah mempunyai tubuh gagah nan sempurna. Bagaimana Pelangi sanggup merakitnya sendiri? Tanpa ada penjelasan, alih-alih berhasil membuat si tokoh utama nampak jenius, naskah Pelangi di Mars sekadar menampakkan kemalasannya. 

Sebagai spektakel pun film ini kekurangan daya hibur. Dihabiskannya sekitar 50 menit hanya untuk memperkenalkan secara berlarut-larut, para robot yang akan menemani petualangan Pelangi: Sulil (Dimitri Arditya) si robot India, Petya (Gilang Dirga) si robot Rusia, Yoman (Kristo Immanuel) si robot rasta, dan Kimchi (Vanya Rivani) si robot (sok) Korea. 

Jangankan penokohan mendalam, selain hal-hal permukaan seperti asal negara dan penulisan stereotipikal, seluruh robot di atas tak memiliki kekhasan. Kemampuannya serupa, begitu pula kepribadian mereka yang bisa dideskripsikan dengan dua kata, yakni "berisik" dan "menyebalkan". Puasa saya nyaris batal akibat rasa kesal sewaktu Batik mengucapkan "monggo" untuk keseribu kali. 

Apa yang terjadi pasca enam individu tersebut berkumpul? Mereka berkeliaran di tengah lanskap gersang Mars sambil mengoceh tanpa henti memperdebatkan bahasan-bahasan trivial. Ketimbang mengembangkan alur, filmnya lebih tertarik menyuruh tokoh-tokohnya menari diiringi lagu K-pop. Apakah pembuatnya berpikir, karena menggandrungi konten TikTok maka generasi alfa dapat dihibur begitu saja tanpa kisah berbobot?

Humornya tidak kalah parah. Mengandalkan banyolan-banyolan tentang "keranjang kuning" hingga budaya populer Korea Selatan, penulisnya bak berupaya keras menyamakan frekuensi dengan anak-anak. Tapi untuk apa menyelipkan lelucon "ankara Messi" yang notabene tidak dipahami bocah? Patut diingat, kita bisa memanggil kenakan masa kanak-kanak yang dahulu pernah dilalui, tapi berubah menjadi bocah zaman sekarang adalah kemustahilan.

Kemegahan visualnya jelas jadi penebus dosa. Efek CGI-nya juara, dari objek-objek yang mengisi fokus adegan sampai lanskap cantik yang melatarinya, pun kendati berakhir hanya sebagai kosmetik tanpa dibarengi kepribadian berwarna, desain jajaran robotnya harus diakui sarat kreativitas. Sempurna? Belum, apalagi bila mau memperhatikan detail (di satu adegan, karakternya menyebut nama "Sofia Petrovsky" tapi tulisan di layar malah berbunyi "Trotsky"), namun untuk ukuran produk tanah air, Pelangi di Mars tetap patut dikategorikan sebagai batu loncatan.

Andai penceritaan tidak dinomorduakan. Andai filmnya tidak menutup kisah begitu saja tanpa menggiring si protagonis belajar memecahkan persoalan, atau minimal membuatnya melewati klimaks seru. Yoman sempat berkata, "Antiklimaks nih!", dan saya cuma bisa menyetujui celetukan tersebut. 

REVIEW - NA WILLA

Na Willa adalah film anak yang enggan menafsirkan kepolosan karakternya sebagai kebodohan, sebagaimana kerap dilakukan banyak sineas dewasa. Adaptasi novel karya Reda Gaudiamo ini menyalakan lentera yang menerangi ruang-ruang gelap tempat ingatan masa kecil tersimpan, terlupa, terkunci di balik realita manusia dewasa yang penuh durjana. 

Kisahnya mengambil latar tahun 1968, tatkala komunikasi jarak jauh masih dilakukan via surat, sedangkan para bocah menghibur diri mereka dengan bermain di luar sebab teknologi yang paling mendekati gawai modern adalah radio. Hari Na Willa (Luisa Adreena) pun berpendaran bersama imajinasi serta obrolan-obrolan yang kelak bakal membentuk kenangan.  

Desain produksi dan tata kostumnya cantik, berhiaskan warna-warni yang merepresentasikan dunia imajinatif tokoh utamanya tanpa harus secara berlebihan menentang realisme. Di dunia semacam itulah Na Willa hidup. Dia tinggal bersama Mak (Irma Novita Rihi), sementara Pak (Junior Liem) jarang di rumah akibat bekerja di bidang pelayaran. 

Melalui naskah episodik buatan sang sutradara, Ryan Adriandhy, Na Willa memaparkan penceritaan slice of life yang memotret rutinitas protagonisnya. Na Willa bermain bersama tiga sahabatnya, Bud (Ibrahim Arsenio), Dul (Azamy Syauqi), dan Farida (Freya Mikhayla); ikut Mak ke pasar sembari menikmati soda dingin pemberian Cik Mien (Melissa Karim); atau sekadar berkeliaran di rumah, lalu menemukan hal-hal baru bagi anak seumurannya, semisal tentang bentuk-bentuk obeng. 

Naskahnya sungguh memahami pola pikir anak, karena Ryan bukan berpura-pura atau memaksakan diri menjadi mereka, melainkan benar-benar menggali jiwa kekanakannya. Ryan ingat rasa nyaman kala memasukkan tangan ke dalam tumpukan kacang hijau, atau bagaimana dahulu, debu yang beterbangan dari kasur nampak bak gemerlap bintang-bintang. Di mata film ini, masa kecil kaya akan seni menikmati kehidupan. 

Na Willa merupakan pertunjukan sutradara yang memegang kendali penuh atas detail artistik. Seperti bocah saat disuguhi sekotak penuh mainan, Ryan mengutak-atik ragam hal, mulai dari departemen visual yang dimotori eksplorasi warna di tata kostum dan dekorasi, gerak kamera kreatif, juga barisan adegan imajinatif. 

Sewaktu Na Willa membaca surat dari Pak, seketika latarnya bertransformasi jadi seperti panggung teater yang mementaskan isi surat tersebut. Di lain kesempatan, saat Na Willa menjenguk seorang teman di rumah sakit pasca kecelakaan yang sekilas membawa si bocah mengintip wajah kelam realita, filmnya menyelipkan elemen musikal bermodalkan lagu catchy dengan lirik menggelitik, yang memandang tragedi sebagai komedi. 

Demikianlah cara Na Willa melihat dunia. Mungkin karena itu pula, Ira Wibowo memerankan Nyonya Chang, salah seorang kenalan yang mengagumi kecerdasan Na Willa, dengan mengenakan wig pirang serta aksen bule yang terdengar konyol. Sekilas terasa mengganggu, tapi mungkin begitulah Nyonya Chang di mata Na Willa. 

Penjahat ala film kartun tidak dibutuhkan untuk membuat filmnya lebih seru. Dunia anak punya keseruannya sendiri, di mana konflik terbesar adalah rasa sepi Na Willa ketika teman-temannya mulai bersekolah, sedangkan ia terpaksa diam di rumah karena Mak merasa mampu mengajari putrinya membaca sendiri. 

Luisa Adreena tampil meyakinkan, dengan tangisan yang bisa terdengar memilukan, pula senyum lebar dan mata berbinar yang menyadarkan betapa luar biasanya hal-hal sederhana di sekitar kita bagi anak-anak. Irma Novita pun begitu hebat dalam menghidupkan figur ibu disiplin, yang mampu melontarkan amarah tanpa terkesan kasar, juga patut dijadikan contoh tapi tak luput dari kesalahan. 

Karakter Mak dipakai Ryan sebagai medium belajar penonton dewasa. Sehingga tatkala filmnya mengutarakan pesan soal larangan berbohong bagi anak, kita pun diingatkan agar mempraktikkan ajaran tersebut. Na Willa bukan cuma kisah tentang tumbuh kembang anak, juga peran penting orang dewasa, baik di rumah maupun sekolah. Sebab tanpanya, bagaimana bisa anak berevolusi menjadi kupu-kupu cantik yang siap terbang tinggi di alam yang tak jarang suram?

REVIEW - SENIN HARGA NAIK

Judulnya mengacu pada jargon populer dari era 2010-an, yang mengeksploitasi kebutuhan individu akan ruang huni menjadi praktik konsumerisme. Padahal rumah bukan soal tempat, melainkan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Setidaknya itu nilai yang sering diangkat oleh drama keluarga, termasuk Senin Harga Naik karya Dinna Jasanti yang mengingatkan supaya kita menempatkan keluarga di atas materialisme. 

Kisah berawal kala Mutia (Nadya Arina) kabur dari rumah akibat merasa sang ibu, Retno (Meriam Bellina), yang juga pemilik toko roti sukses bernama Mercusuar, terlalu mengendalikan hidupnya. Sebab dari hubungan percintaan hingga pekerjaan, semua dicampuri oleh sang ibu. Alih-alih menghalangi, Retno malah berujar, "Kamu tidak akan jadi apa-apa tanpa ibu!" 

Selang tiga tahun, Mutia meniti karir cerah di perusahaan properti, sebagai salah satu karyawan terbaik yang jago merayu pemilik rumah guna menyetujui pembebasan lahan. "Menggusur secara halus" adalah keahlian Mutia. 

Di waktu bersamaan, popularitas Mercusuar meredup. Si anak laki-laki, Amal (Andri Mashadi), telah pergi karena seringnya Retno melontarkan komentar pedas terhadap sang istri, Taris (Givina), meninggalkan si bungsu, Tasya (Nayla D. Purnama), seorang diri menjaga ibu di rumah. Familiar? Naskah buatan Rino Sarjono memang menyertakan berbagai pakem khas tearjerker bersampul drama keluarga. Tentunya bakal ada adegan atap rumah jebol yang belakangan jadi cara favorit penulis film Indonesia untuk menggambarkan kemiskinan. Jangan mengharapkan kebaruan di sini. 

Lalu datanglah misi sulit bagi tokoh utama kita: Dia mesti menggusur ibunya sendiri dari toko roti sekaligus rumah yang sudah ditempati selama puluhan tahun. Mutia tak bisa berbuat apa-apa, sebab tugas itu diberikan langsung oleh si bos (Hamish Daud), pun ia diiming-imingi kenaikan jabatan serta beragam bonus besar. Nyatanya, selepas kabur dari rumah pun hidup Mutia tetap dikendalikan oleh pihak lain. 

Tidak sukar mengira-ngira jalur mana yang hendak filmnya tempuh. Keunggulan Senin Harga Naik memang bukan urusan progresi cerita, tapi momen-momen emosional yang dimotori ketepatan Dinna Jasanti mengolah dinamika rasa, juga akting barisan pemain. Tidak semuanya berbentuk peristiwa besar. Misal obrolan di depan toko roti antara Retno dengan Ida (Nungki Kusumastuti), karyawan senior Mercusuar yang sudah seperti kerabat sendiri. Tiada ledakan emosi. Hanya dua manusia berbagi suasana intim yang menguarkan kehangatan. 

Nadya Arina punya kapasitas menyeimbangkan drama dan humor, tapi jangkar bagi Senin Harga Naik adalah Meriam Bellina. Senyum yang cuma sesekali menghiasi bibirnya, bagi saya merupakan perihal paling menyentuh. Senyum simpul mendapati respon singkat Mutia di grup obrolan, atau tatkala ia diomeli anak-anaknya akibat menyimpan obat kedaluwarsa, ibarat jendela yang memfasilitasi penonton untuk sejenak mengintip isi hati Retno, seorang ibu yang menumpahkan cinta memakai cara yang tidak selalu diinginkan para buah hatinya. 

Sayang, konklusinya cenderung mencuatkan kesan buru-buru ketimbang memantik haru. Titik balik sikap protagonis, juga solusi yang ditawarkan bagi masalah utamanya, terasa dirangkum paksa dalam 5-10 menit terakhir. Setidaknya, sebagai drama keluarga konvensional, Senin Harga Naik bekerja dengan baik. 

Film ini tidak menawarkan dobrakan, namun subteks dalam alurnya mengandung kesesuaian dengan status selaku "film lebaran". Di area halaman toko roti Mercusuar, dibangun sebuah mercusuar yang dijadikan alat pemandu (literal maupun metaforikal) oleh Retno bagi anak-anaknya, supaya mereka dapat pulang ke rumah kendati sempat tersesat. Senin Harga Naik adalah tentang kepulangan, juga kenangan yang selalu terjaga biarpun bangunan fisik sebuah rumah tak lagi ada.  

REVIEW - GOOD LUCK, HAVE FUN, DON'T DIE

Apa jadinya bila pemerintah secara serakah mengeruk keuntungan dari AI tanpa membuat regulasi memadai (terdengar familiar?), dan harapan akan keselamatan kita terletak di pundak laki-laki gila yang mengaku datang dari masa depan sembari mengoceh tentang bahaya pemakaian smartphone?

Gagasan utama Good Luck, Have Fun, Don't Die amat dekat dengan realita, walau insiden-insiden kecil yang memenuhinya nampak begitu jauh. Tapi coba renungkan sejenak. Kalau satu dekade lalu muncul film yang bersikap anti terhadap smartphone atau media sosial, niscaya publik bakal melempar reaksi "OK boomer", namun sekarang keresahan tersebut beralasan. Secepat itu teknologi berkembang dan memengaruhi budaya. Kelak, mungkin saja deretan kemustahilan film ini menjadi potret keseharian.

Awalnya semua terlihat senada dengan dunia kita. Di tengah keriuhan para pengunjung restoran yang sedang menikmati makan malam, tiba-tiba muncul laki-laki tanpa nama (Sam Rockwell) yang mengaku datang dari masa depan, memperingatkan soal masa depan suram akibat ketidakmampuan manusia memalingkan wajah dari layar smartphone. 

Tentu para pengunjung menganggapnya gila. Kita pun akan bersikap serupa. Si laki-laki tak ubahnya gelandangan yang gemar berseloroh perihal kiamat di pinggir jalan. Tapi selepas menit-menit penuh kebingungan, si laki-laki menyampaikan tujuan utamanya, yaitu mengumpulkan tim berisi untuk menyelamatkan dunia dari ancaman AI. 

Tim pun terbentuk: Mark (Michael Peña) dan Janet (Zazie Beetz), sepasang kekasih yang sama-sama merupakan guru SMA; Bob (Daniel Barnett) si pembina pramuka; Scott (Asim Chaudhry) yang skeptis terhadap cerita tentang perjalanan si laki-laki menembus waktu; Susan (Juno Temple) yang secara misterius mengetahui rahasia mengenai restoran tersebut; dan Ingrid (Haley Lu Richardson) yang punya tendensi bunuh diri. 

Kemudian alurnya mengajak kita mundur ke belakang guna menggali apa yang orang-orang itu alami sebelum pertemuan di restoran. Sejak itulah penonton disadarkan bahwa dunia tempat Good Luck, Have Fun, Don't Die berlatar sudah lebih maju secara teknologi ketimbang realita. Pada segmen mengenai Mark dan Janet, digambarkan siswa SMA tak mampu lagi memalingkan wajah barang sedetik saja dari layar smartphone. 

Naskah buatan Matthew Robinson untungnya tidak terdengar seperti grumpy old man yang terus-terusan mengeluhkan perilaku generasi muda. Alih-alih sepenuhnya menyalahkan para remaja dalam fenomena di atas, Robinson mengacungkan jari ke arah pihak korporasi dan pemerintah, yang bukannya meregulasi justru mengeksploitasi. 

Kondisi serupa terpampang di segmen tentang Susan yang baru kehilangan putranya akibat penembakan di sekolah. Daripada secara serius mengusut isu yang telah mencapai titik kritis itu, pemerintah malah menerapkan prinsip aji mumpung demi menimbun profit. Di segmen itu pula Robinson menyentil fungsi teknologi sebagai alat untuk mempermudah hidup manusia, yang bak pisau bermata dua. Sebab bila kita terlalu gampang mencapai sesuatu, lambat laun hal itu akan kehilangan nilainya. 

Deretan segmen tersebut bakal lebih berkesan bagi penonton yang belum pernah menyaksikan serial Black Mirror, mengingat banyak elemennya, seperti manusia yang disulap menjadi iklan berjalan, pernah ditelusuri secara lebih menyeluruh di sana. Tapi masalah terbesar penceritaannya terletak pada pembengkakan durasi (134 menit) akibat kekacauan struktur, pula inkonsistensi perihal pernyataan yang ingin disampaikan. 

Di satu kesempatan, filmnya berpesan bahwa eksistensi AI tak bisa dihindari sehingga manusia perlu menemukan titik tengah, namun selang beberapa saat, ia secara tegas menuding kecerdasan buatan selaku iblis kejam yang perlu ditumpas. 

"Energi" adalah faktor yang menghalangi Good Luck, Have Fun, Don't Die kehilangan kekuatan. Setiap departemennya kaya akan energi. Pengarahan Gore Verbinski, cara Sam Rockwell menangani kalimat demi kalimat secara manik, juga naskahnya yang biarpun acap kali berantakan, tetap mendatangkan pesona melalui kreativitasnya. Tengok kemunculan tiba-tiba sesosok monster aneh yang tak ubahnya dibuat memakai prompt ngawur nan aneh khas konten AI TikTok.

Keseluruhan babak finalnya sendiri terasa seperti ditulis memakai AI dalam hal kekacauan yang ia sajikan, namun tetap punya sisi humanis berkat hadirnya satu poin yang mustahil ditiru kecerdasan buatan: emosi. Klimaks Good Luck, Have Fun, Don't Die dipenuhi kekhawatiran serta amarah yang meluap-luap. 

Saya suka caranya mengakhiri cerita (setidaknya sebelum berpaling ke arah konklusi aman penuh harap ala Hollywood), yang mengingatkan pada daya kejut khas horor masa lalu, yang gemar meninggalkan penonton dengan nuansa kelam sarat ketidakberdayaan. Tapi di saat bersamaan, harapan yang akhirnya disertakan mungkin bukan sebatas keputusan "mengalah pada pasar", melainkan sebuah pernyataan betapa umat manusia akan selalu unggul, selama mereka bersedia menebar kepedulian pada sesama. 

REVIEW - HOPPERS

Benar bahwa sihir Pixar tak lagi semujarab dahulu, kala kualitas "bintang lima" serta kejayaan di Oscar sudah jadi garansi. Hoppers sendiri takkan menyediakan bangunan dunia perhewanan sedetail Finding Nemo maupun karya kebanggaan perusahaan induk mereka, Zootopia, namun film buatan Daniel Chong ini punya pencapaian lain yang tak kalah mengagumkan, yakni eksplorasi genre secara kaya. 

Kisahnya diawali oleh prolog berupa montase khas Pixar: Mabel (Piper Curda) si bocah penyendiri yang gagal dipahami oleh lingkungannya, menemukan kebahagiaan dengan menghabiskan waktu bersama sang nenek (Karen Huie) menikmati ekosistem suatu padang rumput penuh hewan. Kita sudah belajar dari Up, bahwa montase tersebut bakal dipungkasi oleh kepergian si nenek. Hubungan kekeluargaan keduanya tak digali seberapa mendalam, tapi menyediakan motivasi memadai bagi aksi protagonisnya. 

Sepeninggal nenek, Mabel menjaga perjuangannya tetap hidup lewat perlawanannya terhadap niat Jerry (Jon Hamm), Wali Kota Beaverton, yang hendak meratakan padang rumput tempat beragam spesies tinggal guna membangun jalan bebas hambatan. Masalahnya, terjadi anomali. Tidak satu pun hewan bisa ditemukan di sana, termasuk koloni berang-berang yang eksistensinya begitu esensial bagi ekosistem. Semua mendadak hilang. 

Beruntunglah Mabel mengetahui keberadaan teknologi "Hoppers" hasil kreasi profesor biologinya, Dr. Samantha (Kathy Najimy), yang memungkinkan manusia memindahkan kesadaran mereka ke tubuh robot hewan. Sederhananya, seperti Avatar. Mabel sendiri sempat berceloteh mengenai kemiripan itu, sebelum bertindak nekat mentransfer dirinya ke robot berang-berang guna menginvestigasi misteri hilangnya para hewan.

Sampai di titik ini, naskah buatan Jesse Andrews masih serba familiar. Mabel pun menyusup ke koloni hewan, lalu mempelajari dinamika hidup mereka yang melahirkan banyak komedi situasi, termasuk kelakar menggelitik antara beruang dan berang-berang mengenai "aturan kolam" yang sudah diungkap oleh trailernya. Humornya takkan memecah tawa secara luar biasa, tapi cukup untuk memotori daya hibur filmnya. 

Terselip satu detail kecil yang menarik. Ketika disimak lewat perspektif manusia, para hewan memiliki mata kecil realistis berwarna hitam. Menggemaskan tapi kosong. Sebaliknya, sewaktu kita diajak memandang hewan melalui perspektif mereka sendiri, mata itu berubah jadi "lebih kartun", konyol, juga kaya emosi. Manusia memang punya tendensi melihat hewan sebagai makhluk imut belaka, bak boneka tanpa nyawa yang bisa diperlakukan semaunya.

Biar demikian, secara keseluruhan, paruh awal Hoppers dipenuhi poin-poin formulaik yang jamak kita temui dalam judul-judul lain, bahkan animasi generik sekalipun. Begitu pula pesan mengenai harmoni alam raya, serta petualangan sepasukan hewan yang bakal memesona bagi penonton semua umur. Sehingga siapa sangka hal-hal itu merupakan gerbang, yang begitu dibuka akan seketika memperluas dunia kecil protagonisnya ke teritori yang tak terbayangkan sebelumnya. 

Seiring alurnya mendengungkan alarm pengingat bahwa senjata ciptaan manusia kelak berisiko berbalik menghancurkan kita (amat relevan dengan wajah dunia masa kini yang berada di bibir jurang peperangan), pelan-pelan naskahnya menggiring penonton menyatroni wilayah cerita yang tidak terduga. Transisinya begitu mulus, melebur apik dengan cerita utamanya, hingga bukan mustahil banyak yang melewatkan keliaran eksplorasi genrenya.

Hoppers tidak ragu melangkahkan kaki menuju kekonyolan khas b-movie yang serba hiperbolis. Salah satu adegan kejar-kejarannya menyuguhkan skenario "Apa jadinya kalau Pixar mengadaptasi Sharknado?" Di penghujung babak kedua pun, kala alurnya sejenak memindahkan latar ke laboratorium Dr. Samantha, Daniel Chong secara cerdik menyusun pengadeganan bak sedang mengarahkan horor fiksi ilmiah dari dekade lalu. 

Kehangatan milik babak ketiganya menjadi pelengkap. Saya mendapati diri menangisi kebaikan sekelompok makhluk hidup yang bersedia menolong spesies lain yang pernah menyakiti mereka. Mungkin kebaikan semacam itulah yang menunda kehancuran total dunia ini dan membuatnya terus bernyawa.