REVIEW - THE ODYSSEY

Ada alasan kuat mengapa di karya terbarunya, Nolan mengangkat mitologi epos, sebuah bentuk literatur yang tak memberatkan sisi faktual. Tujuan sang auteur adalah mengeksplorasi proses kala suatu cerita dikonstruksikan oleh banyak kata "konon", di mana unsur kebenaran cenderung samar dan bias personal merupakan pilar utama. 

Nolan di sini bak telah menuntaskan pelatihan yang dijalani sepanjang karirnya, yakni perihal penolakan atas kelinearan melalui pemugaran struktur narasi konvensional. The Odyssey adalah karyanya yang paling berjodoh dengan metode bertutur non-linear. Bukan sekadar gaya-gayaan atau alat penghantar plot twist, melainkan potret berlangsungnya aktivitas bercerita, yang acap kali terjadi secara acak, pun tidak jarang bersifat impulsif sesuai dengan dinamika perasaan si penyampai. 

Sehingga epos Odyssey yang konon sudah dirumuskan oleh Homer lebih dari milenium lalu merupakan kendaraan sempurna untuk Nolan. Pasalnya ia mengisahkan soal Odysseus (Matt Damon), Raja Ithaca yang telah meninggalkan kerajaannya selama 20 tahun guna memimpin pasukan di Perang Troya. 

Benarkah Odysseus merengkuh kejayaan lewat taktik Kuda Troya yang tersohor? Terpenting, apakah ia masih hidup? Benarkah kabar mengenai pemenjaraannya? Mengapa sang raja tidak kunjung pulang tatkala istrinya, Penelope (Anne Hathaway), dipusingkan oleh ratusan laki-laki, termasuk Antinous (Robert Pattinson), yang bernafsu meminangnya? Kapan kekhawatiran putra Odysseus, Telemachus (Tom Holland), bakal disembuhkan oleh kepulangan ayahnya? 

Setumpuk kesimpangsiuran itulah yang Nolan soroti. Melalui naskahnya yang memberatkan penggunaan dialog untuk menyelipkan detail informasi terkait bangunan dunianya, ia beri ruang bagi tiap-tiap karakter guna membagi perspektif mereka yang saling sela-menyela mengenai Odysseus. Sehingga lumrah bila tiada urutan tetap, pun dengan tingkat kebenaran yang senantiasa dipertanyakan. Demikianlah mekanisme konsepsi suatu cerita.

Uniknya, Nolan membubuhkan sudut pandang modern yang agak berlawanan dengan tendensi epos mengagungkan kepahlawanan. Peperangan yang lazim jadi lahan subur penghasil pahlawan enggan dirayakan, tidak peduli sehebat apa sepak terjang sang figur. Sebaliknya, kondisi kelam pascaperang, entah kekalutan berskala besar di sebuah negeri maupun yang lebih kecil berupa serangan PTSD terhadap para prajurit, lebih dikedepankan.

Sama seperti Oppenheimer, The Odyssey punya protagonis yang seiring waktu mulai mempertanyakan warisannya terhadap dunia. Kegamangan Odysseus tentang status mana yang lebih pantas ia sandang antara "pahlawan" dan "pembunuh", melatari upaya Nolan mendekonstruksi perihal kepahlawanan, kemudian mendatangkan twist subtil yang tidak merasa perlu secara lantang memproklamasikan eksistensinya. 

Seiring Odysseus melayari lautan menuju Ithaca, Nolan membentangkan visinya soal dunia ajaib Yunani kuno melalui perspektif yang lebih realistis. Beberapa makhluk mitologi menampakkan diri, namun tidak secara reguler, sebab di mata manusia biasa keberadaan mereka pun tetaplah anomali. Dewa tidak sebegitu narsis membagikan kedigdayaan di hadapan rakyat jelata. Hanya Athena (Zendaya) yang sesekali terlibat dialektika batiniah dengan Odysseus.

Kemegahan lanskap dalam sinematografi arahan Hoyte van Hoytema tidak dipenuhi fenomena ajaib seperti warna-warni letupan ilmu sihir, tapi lebih difungsikan guna memotret sebegitu kerdilnya manusia, bahkan Odysseus, di tengah bentangan semesta. Pun sekalinya fenomena yang mengkhianati logika muncul di depan mata, bukan keajaiban yang Nolan ingin penonton rasakan, melainkan kengerian.

The Odyssey dipenuhi momen yang tak ubahnya kisi-kisi untuk film horor seorang Christopher Nolan. Sebutlah saat sepak terjang Circe si penyihir (Samantha Morton) menampakkan visual khas body horror kelas satu, hingga kunjungan ke sarang Polyphemus (Cyclops putra Poseidon) yang jadi panggung bagi departemen tata suara memamerkan hasil kerja luar biasa tatkala teriakan si monster menggema dengan begitu mencekam.

Mari sejenak membicarakan tentang suara. Ragam jenis suara bertebaran selama 173 menit, tetapi satu yang paling berkesan adalah suara senar busur yang senantiasa Odysseus petik sebelum melesatkan panahnya. Sejak dini Nolan telah menyiratkan betapa suara sederhana itu akan punya peranan esensial dalam narasinya, bahkan ampuh menerbitkan air mata saking menggugahnya. 

Sekali lagi, The Odyssey bercerita tentang cerita. Sebagaimana figur penyair (Travis Scott) yang mengetukkan tongkatnya sembari membagikan puisi oral, Nolan pun memakai suara sebagai alat bantu bertutur, kemudian melanjutkan warisan Homer, memenuhi tugasnya selaku pencerita yang menyuarakan lagu versinya mengenai Odysseus ke masa kini. 

REVIEW - MOANA (2026)

Menonton adaptasi live action dari Moana (2016) ibarat sedang menikmati sajian lezat yang dimasak dengan sepenuhnya mengikuti resep sampai ke detail terkecil. Tentu empunya resep layak dibanjiri pujian lebih deras, namun tidak mengubah fakta bahwa makanan tersebut memang enak disantap. 

Hati saya masih tergerak menyaksikan petualangan orang-orang Motunui melayari perairan luas sembari menyuarakan lagu We Know The Way, kesakralan dari nomor An Innocent Warrior, juga kala sang protagonis melantangkan "I Am Moana" kala pencarian identitasnya mencapai titik resolusi. 

Tapi segala sisi terang Moana (2026) memang berasal dari keidentikan dengan materi aslinya. Baik lagu, dialog, pengadeganan, hingga cerita yang masih menyoroti upaya Moana (Catherine Laga'aia), putri kepala suku Motunui, mengarungi samudera guna mencari Maui (Dwayne Johnson) si manusia setengah dewa, untuk mengembalikan hati Te Fiti yang dipercaya bakal mengusir penderitaan rakyatnya.

Apakah kinerja Thomas Kail selaku sutradara beserta timnya pantang diapresiasi karena hanya sebatas menyajikan kopian? Rasanya perspektif tersebut kurang bijak. Sebab serupa alegori resep masakan di atas, keserakahan industri yang jadi alasan utama eksistensi filmnya, juga kemalasan memodifikasi racikan bumbu, tidak mengubah fakta kalau film ini sarat akan pesona. Di tangan sineas medioker, Moana bisa berujung bencana yang lebih parah, sebagus apa pun materi aslinya. 

Kendati demikian, tidak sukar mendeteksi minimnya ketulusan dari para peramu kisahnya. Alih-alih bersuara dari hati, baik pengadeganan sang sutradara maupun penulisan Jared Bush dan Dana Ledoux Miller terkesan cuma dilandasi tujuan tunggal: menciptakan ulang momen-momen film orisinalnya. Tidak lebih dari menuntaskan daftar periksa, yang acap kali mengalir buru-buru bak tak sabar mencapai garis akhir. 

Penggunaan medium live action juga mengandung plus-minus sama kuat. Setiap elemen fantasinya muncul ke permukaan, sebutlah dalam pertemuan dua protagonis dengan Tamatoa (Jemaine Clement) si kepiting raksasa, atau konfrontasi mereka melawan Te Kā, saya dibuat rutin mempertanyakan signifikansi peralihan mediumnya, akibat gaya CGI yang masih kental nuansa animasi ketimbang menjajal bentuk fotorealisme. 

Di lain pihak, terselip daya pikat tersendiri sewaktu menyaksikan para manusia sungguhan menari secara ekspresif sambil menyanyikan syukur gembira atas anugerah dari semesta. Catherine Laga'aia sempurna menerjemahkan kompleksitas Moana yang mencampuradukkan sisi keras kepala, penyayang, penuh harap, terkadang naif, juga menyisakan ruang bagi kejenakaan. Dwayne Johnson adalah Dwayne Johnson seperti biasa, meski agak janggal melihatnya mengenakan kostum prostetik yang jauh dari kata "natural". 

"Who needs a new song? This old one's all we need." Demikian bunyi sepenggal lirik lagu Where You Are. Ironis. Tatkala pemujaan berlebih terhadap kekolotan budaya lama tersebut merupakan sesuatu yang dienyahkan oleh tokoh utamanya, Moana versi live action justru membuktikan jika ada kalanya lagu baru tak diperlukan, apalagi bila ia lahir prematur. Seumpama dirilis satu sampai dua dekade ke depan ketika publik mulai haus akan nostalgia dunia Moana, bisa jadi reputasi film ini bakal jauh lebih positif. 

REVIEW - OBSESSION

Film horor sudah secara aktif mencerminkan ketakutan masyarakat suatu era, dari destruksi oleh nuklir pada 1950-an sampai teknofobia dan lenyapnya ruang personal di 2000-an. Obsession karya Curry Barker menggemakan salah satu ketakutan generasi masa kini: Hanya ada kepalsuan dalam cinta, sehingga kelak kita akan terdorong menuju lubang kesepian gelap nan tanpa ujung. 

Alkisah, Bear (Michael Johnston), Nikki (Inde Navarrette), Ian (Cooper Tomlinson), dan Sarah (Megan Lawless) adalah empat sahabat yang bekerja di toko musik kepunyaan ayah Sarah. Bear ingin mengutarakan cintanya pada Nikki, namun kekhawatiran akan penolakan senantiasa menutup pintu keberaniannya. 

Kesempatan bukannya enggan mampir di hadapan Bear. Nikki bahkan sempat secara terang-terangan menanyakan apakah Bear menyukainya, yang langsung ia sangkal. Ketimbang merengkuh peluang di depan mata, Bear justru mengambil jalan pintas dengan menggunakan "One Wish Willow", sebuah mainan yang konon mampu mengabulkan segala jenis permintaan. Bear meminta supaya Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia. 

Bukan cuma pengecut, banyak laki-laki cenderung berpikiran pendek, termasuk mengharapkan sesuatu yang tak benar-benar mereka pahami. Mereka sekadar mendambakan permukaan, tanpa mau mengupas lapisan-lapisan yang mungkin menyelubungi suatu harapan tatkala menjadi kenyataan. Bear merupakan representasi sempurna dari spesies laki-laki semacam itu. 

Singkat cerita, harapan Bear terkabul. Nikki terobsesi padanya, meminta untuk bermalam di rumahnya, mengajaknya berbaring bersama di ranjang, menanggalkan pakaiannya lalu meminta Bear mendekap tubuhnya. Malam itu adalah realisasi dari fantasi para laki-laki yang menomorsatukan nafsu daripada otak maupun hati. 

Tapi segera saja, Bear diingatkan ke ungkapan "be careful what you wish for". Perilaku Nikki semakin aneh, dari sekadar memamerkan senyuman janggal, mengamati Bear saat terlelap di malam hari, hingga hal-hal lain yang jauh lebih ekstrim. Bear ketakutan, tapi patutkah ia diberi status "korban"?

Dari sinilah naskah buatan Barker menyediakan observasi berlapis. Penceritaannya memberi penonton ruang guna mengamati detail situasi. Hipotesis pun diutarakan, bahwa sejatinya Bear merupakan pelaku. Di satu titik, identitas asli Nikki menyeruak ke permukaan, dan ia meminta Bear mengakhiri penderitaannya. Bear menolak. 

Protagonis kita menikmati obsesi yang Nikki curahkan, hanya saja tak ingin semua melesat ke luar kendalinya. Inilah satu lagi contoh dari kecenderungan laki-laki mengambil keuntungan dari penderitaan perempuan. Sejatinya bukan Nikki yang Bear dambakan, melainkan citra tentangnya yang dia ciptakan dalam dunia fantasinya. 

Tapi toh poin-poin di atas tidak menampik fakta kalau perilaku Nikki memang mengerikan. Curry Barker secara jeli menyerap prinsip dari konsep uncanny valley untuk menebar teror. Contoh terbaiknya tentu pada adegan yang seketika memantik ingatan terhadap momen penampakan legendaris di Kairo (2001) karya Kiyoshi Kurosawa. 

Selain mencekam, adegan tersebut membuktikan kreativitas sang sutradara yang ogah menyalin mentah-mentah lalu bersembunyi di balik topeng "penghormatan". Barker memodifikasinya, kemudian melahirkan entitas angker yang sepenuhnya baru. Beberapa jumpscare-nya memiliki daya kejut tinggi tanpa perlu bergantung pada tata suara berisik berkat pengaturan timing yang cerdik, pun segelintir elemen kekerasannya mujarab menyulut teriakan penonton. Departemen penyutradaraan Obsession luput dari cela. 

Menariknya, hapuskan keberadaan "One Wish Willow", dan besar kemungkinan segala peristiwanya bakal tetap berlangsung, walau dalam taraf keekstriman yang menurun. Mainan itu bukan artefak berbahaya, mengingat kutukan sebenarnya bersumber dari hasrat yang mengiringi permintaan Bear. Alih-alih hantu, iblis, atau monster, yang menyeruak ke permukaan sewaktu terjadi fenomena supernatural di Obsession adalah sisi gelap manusia. 

Segala sudut Obsession berpusat pada manusia. Itulah sebabnya ia terasa begitu dekat dan cengkeramannya teramat kuat. Manusia yang mendapat sorotan paling benderang adalah Inde Navarrette. Performanya tidak melulu soal pertunjukan seringai aneh khas horor konvensional. Selain untuk mengatrol efek kejut, tindak-tanduknya yang sarat akan ketidakterdugaan berfungsi sebagai penegas kalau Nikki berperilaku di luar kendalinya. 

Ketika tiba waktunya diri Nikki yang asli mengambil alih kesadaran biarpun hanya beberapa detik, ekspresi yang Navarrette hadirkan menampakkan sekelebat luka seorang perempuan yang direnggut dari kebebasannya untuk menyetir jalan kehidupan menuju ke arah yang ia inginkan. 

Saya punya sedikit saran. Ajak pacar atau teman kencan laki-laki kalian menonton dua film, yaitu (500) Days of Summer dan Obsession. Jika dia memandang masing-masing protagonis laki-lakinya sebagai korban, segera lari sejauh mungkin. 

REVIEW - SUPERGIRL

Menilik upaya segerombolan laki-laki kulit putih konservatif Amerika Serikat untuk menyabotase Supergirl karena dipandang tak memuaskan dahaga bejat mereka, sungguh ingin saya, seusai menonton, secara lantang menyuarakan betapa memukaunya film ini. Sayang, adaptasi dari seri komik Supergirl: Woman of Tomorrow punya satu masalah besar yang menyulitkan lahirnya argumen balasan: filmnya memang tidak sebagus itu. 

Kali pertama kita bertemu Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock), ia sedang berkeliling galaksi bersama anjingnya, Krypto, dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-23. Planet dengan matahari merah jadi kesukaannya, sebab di situ kekuatan Kara sebagai Kryptonian dinetralkan, sehingga ia bisa menikmati sensasi memabukkan alkohol. 

Menjadi pahlawan super bak bukan jalan hidup Kara, setidaknya sampai takdir mempertemukannya dengan Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), bocah yang berambisi membunuh Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts), sebagai bentuk balas dendam setelah si penjahat keji membantai keluarganya. 

Dimulailah road trip berlatar luar angkasa yang mengalir selama sekitar 108 menit tanpa banyak daya tarik. Daripada menyuplai cerita dengan rangkaian friksi trengginas atau petualangan yang menyulut rasa cemas, naskah buatan Ana Nogueira sekadar melakukan tarik-ulur terhadap misi dua protagonisnya meringkus Krem. 

Sebagai antagonis, Krem kaya akan potensi. Filmnya tak ragu membuat beberapa warga tanpa dosa kehilangan nyawa demi menandaskan kebiadaban sang penjahat. Tapi di luar itu, karakternya mudah dilupakan karena tak memiliki daya tarik lain. Fakta seputar bagaimana ia rutin menculik perempuan guna dijadikan alat berkembang biak pun luput dikembangkan, baik sebagai modal narasi kuat mengenai gender maupun pondasi untuk mengokohkan mitologi semestanya. 

Untunglah, Craig Gillespie selaku sutradara tak membiarkan penonton melalui perjalanan generik ini tanpa ditemani daftar putar apik, di mana selain jadi asupan energi, lagu-lagu bernuansa alternatif seperti catch these fists milik Wet Leg hingga (I've Got) a Trouble in Mind dari The Limiñanas, turut mencerminkan sisi pemberontak dalam diri Kara. 

Saya suka bagaimana Supergirl memotret sosok Kara Zor-El. Jauh berbeda dibanding interpretasi Helen Slater empat dekade lalu, Milly Alcock, dengan tindak-tanduk bak bintang rok yang ogah terikat pada cara bertutur normatif, menjembatani perspektif bahwa pahlawan perempuan tidak melulu identik dengan keanggunan ala dewi. Individu kacau yang secara sembrono keluar dari zona nyaman (baca: planet bermatahari kuning) sebagai cara mematikan rasa yang penuh sesak oleh luka pun pantas diberi gelar kepahlawanan. Konklusi filmnya turut menegaskan jika Supergirl adalah pahlawan yang menyelesaikan misinya sampai tuntas. 

Pesona serupa sayangnya tak kuasa film ini tampilkan kala memaparkan koneksi antara Kara dan Ruthye, dua individu yang semestinya bertindak selaku obat bagi bilur hati masing-masing. Jangankan kehangatan, dinamika keduanya justru amat melelahkan akibat ketidakcakapan naskahnya mengolah penokohan Ruthye, sehingga ia berakhir sebagai bocah doyan merengek yang minim fungsi. 

Di tengah perjalanan, Kara turut bersinggungan jalan dengan Lobo (Jason Momoa) si pemburu hadiah sinting dari Planet Czarnia, yang kebetulan punya target serupa. Momoa mampu menularkan kegembiraannya berakting secara semaunya kepada penonton, hanya saja, kebingungan departemen naskah yang tidak tahu bagaimana cara menjustifikasi kemunculan si pemburu hadiah betul-betul kentara. Alhasil eksistensi Lobo tak punya signifikansi. 

Bagaimana dengan perkara baku pukul yang cenderung jadi menu utama sinema pahlawan super? Craig Gillespie rupanya belum memiliki daya imaji yang cukup tinggi untuk bisa mempresentasikan ketangguhan makhluk Krypton yang eksplosif. Generik, tidak jarang sukar diikuti gerak-geriknya, pula minim money shot selaku penegas kekuatan bombastis Kara. Klimaks yang jauh lebih masif berhasil menutupi ragam kekurangan tersebut, tapi sekali lagi, kendati bukan sebuah bencana, secuplik keunggulan yang sesekali tersebar belum cukup menghasilkan argumen balasan guna membungkam para penentang filmnya. 

REVIEW - THE FURIOUS

Para pelakon The Furious akan membuat penonton percaya terhadap eksistensi manusia super. Mereka bisa melontarkan jurus-jurus bela diri, berlari secepat kilat, hingga melakukan gerakan-gerakan gimnastik ekstrim bak akrobat dalam waktu sepersekian detik. 

Ceritanya sederhana: Ada pria bisu yang baru kita ketahui namanya di penghujung durasi (Xie Miao) dalam perjuangannya menolong sang putri, Rainy (Yang Enyou), dari sekapan sindikat perdagangan anak; ada pula Navin (Joe Taslim) yang berupaya menyelidiki keberadaan istrinya, Matia (Jeeja Yanin), seorang jurnalis yang hilang saat tengah menginvestigasi sindikat tersebut. 

Keduanya menyatukan kekuatan, berpacu dengan waktu, sembari menunjukkan kapasitas fisik di atas rata-rata manusia biasa guna menghadapi lawan-lawan yang tak kalah gila seperti Ho (Brian Le) si tukang pukul brutal, Tak (Yayan Ruhian) si pembunuh sadis bersenjatakan panah, dan Paklung (Joey Iwanaga) selaku dalang dari segala kejahatan. 

Setiap lapis koreografi memerlukan kemampuan atletik tingkat tinggi, bahkan di luar adegan baku hantam. Hentakan kaki si jagoan sewaktu berlari seolah mampu mengguncang bumi. Sedangkan saat ia dihantam oleh kendaraan yang melaju kencang, peristiwa tersebut nampak mematikan sebab Kenji Tanigaki selaku sutradara memastikan dampak tiap benturan sungguh terasa. 

Pengarahan Tanigaki menggarisbawahi kata "arts" dalam istilah "martial arts". Estetika dinomorsatukan, seperti ketika Xie Miao beraksi sambil berdiri di atas tumpukan tubuh musuh-musuhnya yang sudah tak berdaya, atau bagaimana Joe Taslim akhirnya memamerkan jurus-jurus judo yang selama ini cenderung dipandang kurang sinematik. 

Apa pun yang mampu menguatkan kekerasan estetis dalam The Furious bakal senang hati diterapkan oleh Tanigaki, kendati harus sambil mengacungkan jari tengah pada realisme. Tokoh-tokohnya memanfaatkan barang apa pun untuk berkelahi, dari sepeda sampai palu godam raksasa. 

Bagaimana nasib seorang karakter jika menerima pukulan telak dari palu godam di kepalanya? Jangan khawatir, ia bukan saja bertahan hidup, namun masih cukup kuat untuk terlibat pertarungan melawan empat pria lain. Satu-satunya realisme di The Furious adalah sewaktu memotret tindak korupsi aparat yang mengutamakan keuntungan personal ketimbang melayani masyarakat.

Hampir semua pelakon diberi ruang unjuk kebolehan. Xie Miao yang secara lantang menyuarakan ketangguhan tanpa perlu berkata-kata, Joe Taslim yang kembali mendemonstrasikan "wajah marah" bak monster yang jadi ciri khasnya, Yayan Ruhian dengan seringai yang menguarkan aroma kematian, juga Brian Le yang sanggup bergerak lincah layaknya rudal biarpun berbadan besar. Bahkan si kecil Yang Enyou bukan cuma bocah lemah yang menunggu pertolongan secara pasif. Leher seorang penculik tidak ragu disayatnya demi menyelamatkan diri. 

Satu-satunya keluhan saya untuk The Furious hanyalah momen pengepungan di tangga yang bagai difungsikan untuk tes daya tahan protagonisnya, dengan penyajian yang terlampau berlarut-larut. Saya pikir itulah klimaksnya, dan kebanyakan film aksi memang bakal berpuas diri menjadikan pengepungan tersebut selaku puncak. Tapi The Furious masih menyimpan satu lagi kesintingan. 

Cerita utamanya telah usai, sehingga daripada babak ketiga konvensional, pertempuran pamungkas film ini lebih terasa seperti encore bombastis. Kenji Tanigaki melahirkan klimaks film aksi paling gila sejak threesome di The Raid pertama, berupa kemeriahan royal rumble berdarah yang membawa sang sutradara menyuguhkan kekacauan terkendali. Kamera arahan Meteor Cheung menari-nari, aktor-aktornya berkelahi seolah sambil kerasukan memedi, sedangkan penonton bertepuk tangan sembari berteriak meminta lagi dan lagi. 

REVIEW - POWER BALLAD

Hal yang saya kagumi dari karya-karya John Carney adalah kemampuan (kalau bisa disebut demikian) memanusiakan musik. Lagu/musik menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu, entah pembuatnya, yang memainkannya, atau sebatas para pendengar yang haus akan asupan rasa. Begitu pula dalam Power Ballad. 

Rick Power (Paul Rudd) adalah musisi Amerika yang kini menetap di Dublin, Irlandia, bersama istri dan putri remajanya. Mimpi menjadi bintang rok pengguncang stadion telah lama (terpaksa) ia kubur, dan demi membayar segala tagihan, banting setir jadi vokalis band pesta pernikahan bernama "The Bride and Groove" pun dilakukan. Sesekali Rick coba membawakan lagu ciptaannya, yang selalu direspon dingin oleh para tamu yang berharap mendengarkan jajaran Top 40. 

"Human jukebox". Demikian sebutan yang disematkan bagi Rick dkk. Tidak bisakah band yang hanya dituntut membawakan nomor-nomor terkenal milik musisi lain punya makna lebih? Bisa! Setidaknya itulah yang hendak diutarakan oleh naskah buatan John Carney dan Peter McDonald. Hanya saja, Rick belum menyadarinya. 

Proses menemukan kesadaran tersebut berawal kala Danny Wilson (Nick Jonas) si mantan anggota boy band ternama berduet dengan Rick di atas panggung selaku tamu kehormatan sebuah pesta pernikahan. Malamnya, ia dan Rick menghabiskan berjam-jam berdua. Rick yang mengenang ambisi masa lalunya, juga Danny yang masih berambisi membuktikan kapasitas sebagai musisi serius, saling berkeluh kesah dalam obrolan dua kawan yang berbagi kesukaan serupa, sembari ditemani berbotol-botol bir serta rokok. 

Carney masih jago mengolah obrolan sederhana dua penggila musik jadi momen asyik penyedot atensi penonton, yang diposisikan bak orang ketiga dalam lingkaran pertemanan singkat dua tokoh utamanya. Tentu mereka bakal mengadakan sesi jamming dadakan di sela-sela obrolan. Rick memberi masukan bagi album baru Danny, pun sebaliknya, Danny diajak menikmati nada-nada gubahan Rick. 

Kemudian dimainkanlah How to Write a Song Without You, yang aslinya ditelurkan oleh otak brilian John Carney dan Gary Clark. Sebuah alunan catchy yang menolak lenyap  dan senyap dari otak saya kendati hari demi hari sudah berlalu. Di semesta filmnya, dikisahkan bahwa Rick belum berhasil menyelesaikan lagu yang seketika mencuri hati Danny tersebut. Malam magis pun berakhir, dan keduanya mesti kembali menempuh kenyataan masing-masing. 

Enam bulan berselang, dan album baru Danny mereguk sukses luar biasa berkat sebuah single yang membuat jiwa jutaan pendengar bertekuk lutut. Judulnya? How to Write a Song Without You. Pencurian karya telah terjadi. Tapi, seberapa pun kerasnya ia meyakinkan keluarga maupun rekan-rekan, Rick kesulitan membuktikan keabsahan tudingan kalau Danny mencuri lagunya. Pasalnya, tidak ada hasil rekaman selaku barang bukti. 

Petualangan Rick menggugat keadilan, disajikan oleh Carney dalam wujud pembauran menyenangkan antara komedi ringan dengan drama sarat rasa sakit. Saya memahami alasan Rick sebegitu terluka, bahkan sampai di titik tercipta kesenjangan dengan keluarganya sendiri. Di mata protagonis kita, tidak hanya sekeping lagu atau potensi banjir harta hasil royalti yang dicuri, namun skenario impian di mana mimpi siang bolongnya menyabet kejayaan di industri musik dapat bertaut dengan realita. 

Tapi sekali lagi, lagu baru menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu. How to Write a Song Without You lebih punya makna mendalam bagi Rick ketimbang Danny. "It's just a nice song" ucap Danny pada kekasihnya, Marcia (Havana Rose Liu), yang kemudian merespon, "But it's real". Masalahnya, makna lagu tersebut tidaklah nyata untuk Danny. 

Power Ballad bukan semata mendiskusikan kompleksitas tangga nada, tapi kisah-kisah di baliknya yang banyak menyertakan rasa-rasa milik manusia. Berpijak pada prinsip tersebut, John Carney menggelar adegan klimaksnya yang luar biasa efektif memorak-porandakan dinding pertahanan emosi penonton. Memanfaatkan daya bunuh tinggi dari korus How to Write a Song Without You, Carney memotret pemandangan indah tatkala sebuah lagu akhirnya memberi makna bagi manusia-manusia yang berkaitan dengannya.