THE LION KING (2019)

The Lion King adalah korban pilihan artistik Disney yang bertujuan memanfaatkan kesuksesan live action remake mereka. Dibuat dalam format fotorealistik, Jon Favreu (Iron Man, The Jungle Book) beserta tim sudah mengerahkan kemampuan terbaik, tapi biar bagaimanapun, pendekatan realistis pada dasarnya memang kurang cocok membungkus kisah si raja rimba.

Mungkin anda sudah mendengar kritik terhadap minimnya ekspresi wajah para hewan di sini. Tidak sepenuhnya benar, sebab bila diperhatikan lebih teliti, di balik tampilan fisik mereka yang digarap luar biasa detail hingga ke tekstur terkecil, dapat ditemukan gurat-gurat wajah humanis meski tidak dalam bentuk ekspresi besar, yang mana cocok bagi karakter macam Sarabi (Alfre Woodard), tapi tidak untuk Mufasa (James Earl Jones), Scar (Chiwetel Ejiofor), apalagi Zazu  (John Oliver).

Bayangkan tengah menonton animasi aslinya, diisi plot serta adegan serupa, hanya saja pengemasannya menekankan realisme. Artinya, kita takkan melihat Scar menelan Zazu, atau sekuen musikal I Just Can’t Wait to Be King yang komikal nan berwarna. Patut disayangkan, namun gantinya, keagungan alam bisa dirasakan, sebagaimana di adegan pembuka saat hewan-hewan penghuni Pride Lands menyambut kelahiran Simba (Donald Glover menyuarakan Simba dewasa,  JD McCrary meyuarakan Simba kecil). Rafiki (John Kani) mengangkat si bayi singa, sementara awan memberi jalan bagi semburat cahaya matahari yang menimbulkan kesan surgawi.

Desain Simba kecil bakal membuat teriakan “Oooh” dan ”Aaaw” sering keluar dari mulut penonton, tapi ketika kelucuan Simba berhasil mencuri hati, tidak demikian soal hubungannya dan sang ayah. Mufasa merupakan sosok pemimpin berwibawa, sehingga menciptakan ekspresinya pun jadi pekerjaan rumit. Walau James Earl Jones tanpa cela, sang raja bak tanpa nyawa akibat wajah yang kurang menyatu dengan suara.

Berikutnya, anda tahu apa yang akan terjadi. Berniat membuktikan kepantasan dan keberaniannya selaku calon raja, Simba mengajak Nala (Beyoncé Knowles-Carter menyuarakan Nala dewasa, Shahadi Wright Joseph menjadi Nala kecil) daerah terlarang berupa kuburan gajah, yang rupanya menjadi sarang hyena. Itulah awal tragedi kala Scar, yang sejak lama berambisi bertahta, membunuh Mufasa yang juga kakaknya, lalu menimpakan kesalahan kepada Simba. Ketakutan, ia menuruti perintah pamannya agar pergi dari Pride Lands.

Momen ikonik tatkala Scar mendorong Mufasa dari tebing gagal dibuat ulang secara apik, kali ini bukan saja akibat kurangnya ekspresi para singa, pula suara Chiwetel Ejiofor yang tanpa aura kekejaman. Padahal, di adegan-adegan lain, Ejiofor mampu melakoni perannya dengan baik. Beruntung, begitu saya mulai bersiap sepenuhnya dikecewakan, paruh keduanya muncul sebagai penyelamat. Pertama, tentu berkat duo Timon-Pumbaa (Billy Eichner-Seth Rogen). Keduanya adalah mesin penghasil tawa yang seketika menjauhkan filmnya dari awan kelam miskin warna bernama “realisme”.

Pun di paruh ini, elemen musik serta visualnya semakin memikat. Mengkreasi ulang karya buatannya, Hans Zimmer dibantu African choir yang kembali dikomandani oleh Lebo M., melahirkan scoring yang mampu menggerakkan perasaan (King of Pride Rock berulang kali membuat saya bergetar), mengiringi visual revolusioner yang bukan saja mengandalkan teknologi tinggi, pula kepiawaian sang sinematografer, Caleb Deschanel (The Passion of the Christ, Never Look Away). Pemandangan alamnya serasa bagian program Disneynature atau dokumenter National Geographic, tentunya dengan tambahan proporsi kecantikan.

Musikalnya pun turut mendapat upgrade. Nomor The Lion Sleeps Tonight berlangsung lebih lama dan menyenangkan tanpa perlu menjadi terlampau komikal, sedangkan biarpun Can You Feel the Love Tonight milik Favreu tak seromantis versi aslinya, keberadaan vokal Beyoncé rasanya telah menutup kekurangan tersebut. Meski minim nuansa “dimabuk kepayang karena asmara”, saya dibuat tersentuh oleh lantunannya.

Modifikasi favorit saya yakni ketika selaku penulis naskah, Jeff Nathanson (Catch Me If You Can, The Terminal) mengembangkan mome kala Rafiki mengetahui bahwa Simba masih hidup. Dibarengi penyutradaraan kaya sensitivitas dari Favreu, sekuen tersebut menangkap substansi “circle of life” lewat perjalanan segenggam bulu, yang menunjukkan bagaimana semesta mempunyai kekuatannya sendiri guna menggiring makhluk-makhluk di dalamnya menuju jalan takdir di mana kebaikan berkuasa.

Semua pendekatan berbasis realisme di The Lion King rasaya lebih mudah diapresiasi penonton dewasa, khususnya yang memahami indahnya keagungan alam. Sebaliknya, penonton anak bisa saja menganggap filmnya kurang seru, bahkan klimaksnya mungkin terlalu mengerikan bagi mereka. Beberapa bocah di studio tempat saya menonton seketika mengangis begitu pertarungan liar antara sekumpulan hewan buas berlangsung di bawah langit malam. Because once again—for better or worse—that’s realistic.

SUPER 30 (2019)

Mahabarata dan Ramayana beberapa kali disebut dalam film ini, sebagai alat bantu karakternya menegaskan bahwa semua orang memiliki hakikat masing-masing yang tak bisa diubah. Pangeran selalu bergelimang kemewahan, sebaliknya rakyat jelata terus menderita. Perpsektif terseut selalu jadi alasan semua ketidakadilan, baik terkait ras, kasta, gender, atau sebagaimana tema utama Super 30, pendidikan.

Filmnya mengangkat kisah hidup Anand Kumar (Hrithik Roshan), seorang jenius matematika berkepribadian canggung dari keluarga miskin. Begitu tergila-gila ia pada matematika, Anand menyebut sang kekasih, Ritu (Mrunal Thakur), tidak cantik karena wajahnya tidak mencapai nilai rasio emas. Anand pun begitu polos, kata-kata manis seorang menteri (Pankaj Tripathi) kala kampanye langsung dia percaya.

Selama 155 menit, naskah garapan Sanjeev Dutta (Kites, Baaghi) menjabarkan perjalanan panjang Anand, dari keberhasilannya meraih beasiswa Cambridge hanya untuk kemudian membuangnya akibat ketiadaan biaya berangkat ke Inggris, hingga akhirnya menginisiasi program belajar Super 30, di mana tiap tahun Anand mengajar 30 anak tidak mampu secara gratis, membantu mereka mempersiapkan ujian masuk IIT (Indian Institutes of Technology).

Bukan perjalanan mudah tentunya. Anand mesti menghadapi setumpuk rintangan, termasuk dari dirinya sendiri, kala ia sempat menjadi sosok yang senantiasa ia benci. Disudutkan kemiskinan, Anand menerima tawaran mengajar di lembaga bimbingan belajar eksklusif, bergelimang harta, meski hal tersebut manusiawi. Arnand tak bisa sepenuhnya disalahkan, mengingat seluruh penderitaan yang sudah ia lalui.

Masalahnya, saya tidak merasa melihat seseorang yang berubah, melainkan dua orang berbeda. Anand bertransformasi dari pria polos yang tulus menjadi, well, Hrithik Roshan. Sebenarnya sang aktor meyakinkan dalam memerankan dua versi karakternya. Mata Anand sebelum bergabung di bimbel memancarkan kenaifan, sementara sesudahnya, dipenuhi luka dan amarah. Tapi Hrithik urung menciptakan keterkaitan di antara keduanya, seolah lupa kalau bukan sedang bermain di seri Krrish.

Bukan seutuhnya kekeliruan Hrithik. Inkonsistensi naskah turut ambil bagian. Memang naskah Super 30 cukup kacau perihal mengolah karakter, sebutlah kemunculan mendadak sesosok wartawan di pertengahan durasi, memposisikan Ritu hanya sebagai pemantik atau penyelesai masalah ketimbang tokoh yang utuh, hingga kurangnya porsi bocah-bocah Super 30 yang membuat keputusan menjadikan Fugga (Vijay Verma) narator patut dipertanyakan.

Kesungguhan ketigapuluh anak itu menuntut ilmu, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa demi menginjakkan kaki di kediaman Anand selalu jadi pemandangan menggetarkan. Super 30 efektif perihal mengingatkan tentang persoalan nyata. Begitu nyata sekaligus terjadi di mana saja, sampai semuanya nampak terlampau familiar. Demikian juga metode mengajar Anand yang tak lagi nampak unik, karena film bertema pendidikan berisi karakter guru yang membawa siswa-siswi belajar di luar kelas guna menerapkan teori di kehidupan sehari-hari, sudah sering kita saksikan.

Klimaksnya berniat tampil beda, tatkala ilmu-ilmu yang Anand ajarkan harus para murid ajarkan dalam situasi tak terduga, namun alih-alih menginspirasi, Super 30 justru bergeser dari film biografi seputar pendidikan ke arah tontonan anak ala Home Alone, dalam dramatisasi yang membuatnya lupa berpijak pada realita. Menghibur, pun sutradara Vikas Bahl (Shaandaar, Queen) punya bakat mengemas suguhan ringan nan menyenangkan, tapi jelas melenceng dari jalur yang diletakkan sedari awal.

Super 30 memang menyimpan sederet kekurangan. Belum jika saya menyinggung mengenai CGI berkualitas rendah yang beberapa kali membuat bagian tubuh aktornya terpotong, atau proses pewarnaan yang bagai lalai dilakukan pada satu-dua shot. Tapi perjalanan seorang pria yang terpaksa mematikan impiannya lalu menghidupkan impian bocah-bocah malang ini pada dasarnya adalah kisah luar biasa, kelemahan-kelemahann di atas tak kuasa mengubur kehangatannya.

0.0 MHZ (2019)

Premis segar dan mengerikan tentang frekuensi yang dapat memanggil makhluk halus, sudah cukup untuk menjual 0.0MHz, selain tentunya debut akting layar lebar Jung Eun-ji “Apink”. Rasa penasaran muncul karena saya tidak tahu ke arah mana ide dasar tersebut dapat dikembangkan. Tapi ternyata, sutradara sekaligus penulis naskah Yoo Sung-dong (Mr. Housewife, Death Bell 2: Bloody Camp) pun tidak lebih banyak tahu.

Struktur alurnya mengikuti formula film-film “cabin in the woods”, yakni soal sekumpulan remaja, berbekal keingintahuan (plus kebodohan) mendatangi rumah tua angker. Mereka, termasuk So-hee (Jung Eun-ji) dan sang pengagum rahasia, Sang-yeob (Lee Seung-yeol, anggota boy group INFINITE), tergabung dalam klub horor bernama 0.0MHz, yang berambisi membuktikan (atau membantah?) keberadaan hantu.

Adegan pembukanya brutal nan menjanjikan, menampilkan seorang dukun melakukan ritual guna mengusir hantu penghuni rumah itu hanya untuk berakhir tewas mengenaskan. Begitu pula sekuen berikutnya, ketika So-hee dan Sang-yeob berjalan beriringan, sementara di belakang keduanya, samar-samar nampak dua hantu berwujud nenek-nenek dan anak kecil, diam-diam mengikuti.

Momen yang turut berfungsi menyiratkan kemampuan supernatural So-hee tersebut, bertempat di siang hari bolong. Tanpa jump scare, tanpa makhluk bertampang seram, hanya situasi normal sehari-hari, namun tak berapa lama, terasa ada yang tidak beres dari dua sosok tersebut. Yoo Sung-dong membawa kengerian dengan cara menggiring penonton membayangkan bahwa detik ini, di belakang kita, mungkin saja sesuatu sedang mengikuti.

Sayagnya, dengan penuh penyesalan saya mesti mengatakan jika 10 menit pertama itu adalah bagian terbaik 0.0MHz. Setelahnya, Sung-dong seolah kebingungan mengolah bahan baku yang dimiliki. Sesampainya di rumah angker yang dituju, karakternya mulai memanggil hantu memakai metode yang menggabungkan unsur sains dan klenik. Namun di luar ritual itu, naskahnya kehabisan akal, tak tahu harus membawa ide menariknya ke mana.

Sung-dong menyerah, lalu memilih menerapkan taktik malas, di mana si hantu berambut panjang penghuni rumah—yang merasuki seorang karakter pasca pelaksanaan ritual—akan muncul tiap kali sang medium tertidur. 0.0MHz berubah menjadi horor klise berisi aksi sesosok hantu memburu dan membunuh para remaja satu per satu.

Selepas pembuka, saya mengira filmnya bakal menerapkan kekerasan tingkat tinggi dalam menghabisi korban, hanya untuk dikecewakan, karena yang menanti di depan adalah pembantaian tanpa taji, tanpa memperlihatkan satu pun kematian secara langsung. Bahkan bodycount-nya begitu rendah bagi film yang mengusung tagline It only ends with a death” dan “You are all dead”.

Terkait penyutradaraan, Yoo Sung-dong sejatinya berani menjalani tantangan untuk mengandalkan gambar-gambar bernuansa tidak nyaman ketimbang jump scare generik, sayang, eksekusinya murahan. Bagian mana yang mengerikan dari repetisi orang-orang tercekik rambut? Dan sewaktu rupa hantu akhirnya diungkap, yang nampak justru pemandangan memalukan akibat CGI berkualitas rendah.

Babak ketiganya sempat memantik sedikit harapan, saat pengaturan tempo solid, penyuntingan dinamis, ditambah penempatan tepat musik elektroniknya, berhasil membangun jembatan menegangkan menuju klimaks. Tapi lagi-lagi, ketika klimaks itu tiba, cuma kekecewaan yang tertinggal, disebabkan konten adegan tak menarik (salah satu karakter mencambuki karakter lain), dan tentu saja, hantu CGI memalukan tadi.

Klimaksnya turut berpotensi menghadirkan puncak emosi dengan menyinggung perihal hubungan kompleks keluarga So-hee, namun gagal mendapat hasil sesuai harapan akibat elemen drama yang datang tiba-tiba, tidak didahului pembangunan yang layak. Itu masalah akut lain naskahnya, yang berkali-kali melemparkan rahasia dan/atau dosa masa lalu karakternya secara mendadak. Bahkan hubungan So-hee dan Sang-yeob pun ambigu. Apakah mereka teman lama? Bagaimana pertemuan keduanya terjadi?

0.0MHz merekrut dua idol sebagai protagonis, dan mereka melakukan pekerjaannya dengan baik meski jauh dari spesial. Seung-yeol hanya berakting mengikuti pola pria pemalu canggung yang sudah kita temui ribuan kali di film lain, sedangkan kapasitas Eun-ji ditekan oleh tuntutan peran, yang memaksanya lebih banyak diam dan memasang tampang misterius. Biar demikian, secercah talentanya masih dapat kita saksikan. Beberapa gerak tubuh maupun ekspresinya niscaya sempurna diterapkan dalam drama remaja quirky, sementara adegan penutup film ini menyiratkan kemampuannya menangani komedi-romantis ringan.

THE HUSTLE (2019)

The Hustle selaku remake dari Dirty Rotten Scoundrels (1988) yang juga hasil remake Bedtime Story (1964) tidak semestinya dibuat. Serupa banyak film daur ulang masa kini (Ghostbusters, Ocean’s 8, What Men Want), gender protagonis diubah menjadi perempuan, dengan harapan menambah relevansi.Tapi cara The Hustle menangani materi adaptasinya justru bagai menarik pesan women’s empowerment-nya mundur beberapa langkah.

Tonton Dirty Rotten Scoundrels, dan anda akan menyadari jika filmnya bergerak bak sajian seksis sebelum twist finalnya datang membalikkan keadaan. Ditulis naskahnya oleh Jac Schaeffer (Captain Marvel, Black Widow), The Hustle mempertahankan twis tersebut, tapi karena perubahan gender karakternya, efek yang dihasilkan pun berlawanan.  

Pun ini adalah reka ulang yang malas, khususnya di paruh pertama. Bukan cuma alur, banyak sudut kamera bahkan dialognya sama persis dengan Dirty Rotten Scoundrels. Rasanya seperti menonton film yang sama, namun bukannya Michael Caine, kita melihat Anne Hathaway memamerkan karisma, sementara pesona penuh warna Steve Martin digantikan kekonyolan Rebel Wilson.

Josephine (Anna Hathaway) dan Penny (Rebel Wilson) sama-sama seorang penipu ulung, hanya saja “berbeda kasta”. Ketika Josephine lebih berkelas dan menjalankan aksinya di kasino mewah, Penny memilih bar biasa sebagai lahan mencari mangsa. Target mereka selalu sama, yaitu laki-laki. Tanpa disengaja, keduanya bertemu di kereta, sama-sama sedang menuju Beaumont-sur-Mer.

Dari situlah kompetisi bermula, sewaktu Josephine dan Penny tak hanya menipu para korban, pula satu sama lain demi ambisi menguasa teritori. Alhasil, taruhan dilakukan. Siapa yang berhasil merampas uang sebesar $500 ribu dari seorang penemu aplikasi populer bernama Thomas (Alex Sharp) jadi pemenangnya.

Perbedaan mendasar The Hustle dibanding pendahulunya adalah soal gaya melucu. Banyolan bodoh sarat slapstick jadi andalan, yang sesungguhnya cukup efektif memancing tertawa di beberapa bagian berkat Anne Hathaway dan Rebel Wilson yang memang ahli melakoni kekonyolan. Ditambah lagi, penyutradaraan Chris Addison sama bertenaganya. 

Tapi sekali lagi, tidakkah itu mengkhianati intensi pembuatan remake ini? Pemilihan humornya, ditambah keputusan mempertahankan twist milik Dirty Rotten Scoundrels sebagaimana saya singgung di atas, membuat para wanita film ini sepenuhnya jadi sosok bodoh. Tidak sekalipun saya dibuat percaya bahwa keduanya merupakan jenius di bidang tipu-menipu.

Jac Schaeffer seperti kurang memahami sumber adaptasinya, sehingga tiap kali ia melakukan perubahan, ketimbang memperoleh penyegaran, filmnya justru memburuk di berbagai aspek, entah soal penyampaian pesan, penokohan, atau komedi. Ambil contoh “adegan rolet”.

Pada Dirty Rotten Scoundrels, situasi itu muncul dua kali. Kemunculan pertama berfungsi mengukuhkan modus operandi Lawrence (Michael Caine), di mana ia memasang taruhan di angka yang sama dengan  sang target, lalu berharap kalah (yang kemungkinan besar akan terjadi) guna menyedot simpati. Alhasil, saat dalam situasi kedua Lawrence malah terus meraup kemenangan, tercipta kelucuan. Sementara The Hustle hanya memiliki situasi kedua, berujung melemahkan dampak kejenakaan berbalut ironinya.

Melangkah ke paruh kedua, The Hustle makin berani menerapkan perubahan. Paling kentara dialami Josephine, yang pelan-pelan kehilangan ketenangan dan wibawa. Hal itu dilakukan supaya kelucuan meningkat, meski sayangnya, hasil yang didapat lagi-lagi berlawanan dari keinginan. Buddy comedy macam ini baru akan efektif jika kedua tokoh utama punya ciri berlawanan, yang artinya, menjadikan Josephine karakter konyol serupa Penny, berakibat melemahkan komedinya.

Durasi The Hustle hampir 20 menit lebih pendek ketimbang pendahulunya karena Schaffer memangkas banyak momentum, yang alih-alih menambah dinamika filmnya selaku hiburan bertempo cepat, justru terasa bak simplifikasi konflik, serta wujud ketergesaan penceritaan. Seolah film ini tidak sabar mempresentasikan kejutan besarnya.

Terakhir, usaha menghembuskan rasa melalui romansa yang juga bertindak selaku perlawanan terhadap standar kecantikan, turut menemui kegagalan. Rasa yang hendak diciptakan tertutupi oleh kekonyolan. Tapi jika anda belum menonton Dirty Rotten Scoundrels dan tak ambil pusing tentang alasan eksistensi remake ini, besar kemungkinan, The Hustle adalah tontonan yang cukup untuk mengembangkan senyum kepuasan.

IKUT AKU KE NERAKA (2019)

Ikut Aku ke Neraka adalah film di mana Sara Wijayanto muncul dalam kapasitas glorified cameo sebagai psikiater yang menyampaikan kepada bawahannya bahwa salah satu pasien yang mereka tangani mungkin bukan mengalami gangguan jiwa melainkan diganggu makhluk halus, sementara Ence Bagus memerankan dokter kandungan yang melontarkan lelucon di tengah proses persalinan. Tidak mengejutkan bila masih tersimpan banyak kengawuran lain.

Merupakan kali kedua Azhar Kinoi Lubis menyutradarai horor pasca Kafir: Bersekutu dengan Setan yang menyiratkan potensi meski eksekusinya jauh dari maksimal, Ikut Aku ke Neraka memang tontonan ngawur dan acak. Termasuk judulnya, yang mengingatkan pada Drag Me to Hell. Ketika film garapan Sam Raimi tersebut memang secara literal menampilkan usaha hantu menarik korbannya ke neraka, judul film ini tak ubahnya clickbait.

Film dibuka dengan memperlihatkan Sari (Cut Mini) di rumah sakit jiwa, kemudian melompat untuk mengajak kita bertemu gadis cilik yang bisa berinteraksi dengan hantu. Gadis itu tak lain adalah protagonis kita, Lita (Clara Bernadeth) yang kini sedang hamil tua. Hanya lewat beberapa menit awal saja, penuturan berantakan dari naskah buatan Fajar Umbara (Comic 8, Mata Batin, Sabrina) seketika dapat dideteksi.

Kebahagiaan Lita dan sang suami, Rama (Rendy Kjaernett) harus sirna akibat teror sesosok hantu, yang terjadi setelah Lita mengoperasi tanda lahir di punggungnya. Malang bagi Lita, Rama tak mempercayai ceritanya. Kemudian kisah bergerak menuju.....well,  sebenarnya untuk berpuluh-puluh menit ke depan, kisahnnya jalan di tempat. Lita diteror, melapor pada Rama yang tak menggubris ceritanya. Begitu seterusnya.

Narasi semacam itu bisa menarik jika berhasil mempermainkan perspektif penonton terkait kondisi psikis Lita. Tanpanya, hanya ada repetisi menyebalkan, sebab respon skeptis Rama praktis menghalangi alurnya bergerak maju. Keadaan membaik setelah Rama mengakui kebenaran cerita sang istri, lalu memanggil dukun bernama Adam (Teuku Rifnu Wikana), yang menjabarkan beberapa teori seputar alasan di balik teror si hantu. Teori yang alih-alih menjawab, justru menyulut pertanyaan lain, yang menunjukkan kebingungan Fajar membangun aturan mistisismenya sendiri.

Naskahnya bertambah remuk jika kita membahas soal diksi. Banyak kalimat, sebutlah, “Mari akhiri malapetaka ini”, “Dia adalah entitas independen”, dan lain sebagainya, takkan kita temukan dalam obrolan kasual di realita. Semakin terdengar aneh ketika penghantaran lemah para pemain turut berkontribusi.

Sekali waktu, kita diajak mengunjungi Sari yang tiap malam juga mendapatkan teror di bangsalnya. Tidak perlu merekrut nama sekaliber Cut Mini untuk peran sekecil Sari, tapi Ikut Aku Ke Neraka adalah film yang memasang Sara Wijayanto sebagai psikiater dan Ence Bagus sebagai dokter kandungan. Keputusan memakai Cut Mini jelas lebih bisa dipahami. Setidaknya sang aktris mampu jadi penampil terbaik, ketika jajaran cast lain tidak terlalu berkesan (Teuku Rifnu Wikana, Clara Bernadeth), atau justru bermain kaku (Rendy Kjaernett).

Beruntung, departemen penyutradaraan sedikit lebih baik. Azhar Kinoi Lubis masih sanggup membuat segelintir jump scare yang cukup efektif meningkatkan intensitas, biarpun metode kemunculan hantunya miskin kreativitas, dan masih terjebak dalam pemakaian tata suara berisik. Elemen soild lain adalah tata artistik dan visual, namun pada titik ini, nuansa vintage dari dekorasi serta pewarnaan tak lagi spesial akibat terlalu sering dieksploitasi pasca kesuksesan Pengabdi Setan (oleh horor produksi Rapi Films).

Ikut Aku ke Neraka ditutup oleh konklusi kelam yang gagal menusuk perasaan akibat ketidakmampuan memancing kepedulian terhadap jajaran karakternya. Seolah belum cukup, pemandangan konyol yang menggabungkan penulisan bodoh dan akting buruk, menyusul beberapa detik kemudian selaku mid-credits scene.

DUA GARIS BIRU (2019)

Petisi penolakan terhadap Dua Garis Biru beberapa waktu lalu justru menguatkan urgensi debut penyutradaraan Gina S. Noer (Posesif, Keluarga Cemara) ini. Filmnya tidak mengajarkan seks bebas, tidak pula mengutuknya, sebab Dua Garis Biru tidak terjebak dalam ruang moralitas seperti para penggagas petisi itu. Ketimbang menyalahkan, kita diajak belajar tentang apa yang mesti dilakukan.

Kegemaran menghakimi adalah mentalitas yang ingin film ini runtuhkan. Bahkan sejak momen awal, kita langsung diperlihatkan contoh mentalitas itu, saat seorang guru berkata bahwa masa depan Dara (Zara JKT 48) cerah karena mendapat nilai 100, sebaliknya, Bima (Angga Yundanda) dengan nilai 40-nya tak punya masa depan. Kedua remaja ini berpacaran meski sekilas amat berlawanan. Bukan cuma soal akademik, juga status sosial. Dara yang berasal dari keluarga kaya bermimpi melanjutkan studi di Korea, sebaliknya, orang tua Bima belum tentu mampu membiayai kuliahnya.

Sampai suatu hari, pasangan ini berhubungan badan, dan seperti kita tahu, Dara akhirnya mengandung. Awalnya mereka berusaha menyembunyikan kehamilan Dara lewat beberapa rencana yang menunjukkan betapa remaja memang naif dan berpikiran pendek. Mereka pikir perut Dara yang makin besar bisa terus disembunyikan sampai kelulusan tiba. Mereka pikir si jabang bayi akan lahir begitu saja tanpa satu orang pun tahu. Mereka pikir proses kehamilan, kemudian persalinan, berjalan semudah itu.

Secepat kilat rahasia itu terbongkar. Cara Dua Garis Biru mengungkap kehamilan Dara sebenarnya terasa dipaksakan, tapi paling tidak, momen itu membuka jalan masuknya deretan situasi emosional, termasuk “adegan UKS” selaku adegan terbaik film ini, baik secara rasa maupun teknis.

Di situlah amarah, keterkejutan, dan keputusasaan menyambar bak petir. Di situlah jajaran cast bertalenta film ini untuk kali pertama berkumpul di satu ruangan. Di situlah kekecewaan Lulu Tobing (ibu Dara) menggelayuti layaknya awan mendung, amukan Dwi Sasono (ayah Dara) membuat orang-orang tersentak, kesabaran Arswendy Bening Swara (ayah Bima) muncul selaku penengah, sementara Cut Mini (ibu Bima), biarpun hanya berenjatakan dua kata, memasuki panggung dengan letupan yang membuat saya terpaku seketika.

Walau terdapat begitu banyak karakter saling melempar kalimat berintensitas tinggi, Gina justru menerapkan single take. Nekat, tapi terbayar. Melalui penataan kamera Padri Nadeak (Belok Kanan Barcelona, Hit & Run) yang bergerak penuh ketepatan timing ditambah kejelian Gina mengatur mise-en-scène, atmosfer “berat” yang membebani karakternya bisa turut kita rasakan.

Gina turut menumpahkan beragam hal yang ingin ia sentil dalam satu adegan itu, dari keputusan sekolah yang sebatas mementingkan citra, sampai kecenderungan orang tua mengedepankan ego dan emosi selepas mendengar kabar buah hati mereka hamil/dihamili. Tentu respon itu manusiawi. Alamiah. Sayangnya, tak sedikit orang tua berhenti di fase tersebut. Karena itu, Dua Garis Biru coba menuntun kita guna menemukan solusi.

Daripada menuding sambil berkoar, “Zina! Haram!! PENDOSA!!!”, Gina dengan cermat menjabarkan satu per satu dampaknya. Dampak di lingkup sosial, keluarga, masa depan, psikis, dan tentunya kesehatan fisik. Dua Garis Biru memandang penontonnya sebagai individu pintar lewat keengganannya menggiring opini. Seolah kita dipersilahkan memilih, sementara filmnya berkata lembut, “Demikian akibat-akibat yang dihasilkan. Apa kalian siap?”, alih-alih berteriak “Jangan lakukan!”. Beginilah sebenar-benarnya “film edukasi”.

Di tengah berbagai pesan usungannya, Dua Garis Biru tetap membawa kita kembali ke akar, apalagi kalau bukan keluarga, yang seharusnya jadi tempat berlindung. Dan dari situ filmnya memperoleh setumpuk momen emosional. Agak terlalu banyak malah, sehingga menjelang akhir, daya bunuhnya sempat berkurang. Makanan selezat apa pun bakal berkurang kenikmatannya jika dikonsumsi berlebihan.

Beruntung, Gina tak menaburkan terlampau banyak bumbu. Dia memilih untuk memanfaatkan akting pemain dan hanya menyelipkan kata-kata sederhana namun bermakna, yang sudah cukup merangkum semua rasa yang perlu penontonnya pahami. Contohnya permintaan maaf Dara kepada sang ibu. Air mata mengalir secukupnya, pula tanpa bait-bait puisi.

Mari membicarakan Dara, atau tepatnya sang pemeran, Zara JKT 48. Walau dikelilingi nama-nama besar, Zara tak pernah tampak kerdil. Bersama Angga, ia membangun chemistry manis, sehingga walau Bima dan Dara melakukan tindakan bodoh, saya masih memedulikan keduanya. Begitu pula yang semestinya terjadi apabila orang di sekitar kita mengalami kejadian serupa. Mereka mungkin bodoh, kita pun boleh marah, namun cinta, kepedulian, serta akal sehat tak boleh menguap.

CRAWL (2019)

Begitu kredit bergulir, lagu klasik See You Later Alligator milik Bill Haley (kemungkinan dari sini nama protagonisnya berasal) dimainkan. Lagu ceria yang terdengar menggelitik, mengingat Crawl adalah horor tentang serangan aligator. Mendengar lagu tersebut, saya berandai-andai, “Mungkin sebaiknya, keseluruhan film ini menerapkan pendekatan serupa”.

Bukan berarti menjadi presentasi campy layaknya seri Lake Placid, tapi melucuti drama keluarga murahan miliknya jelas takkan menghasilkan dampak buruk. Pun bisa dirasakan betapa sutradara Alexandre Aja (High Tension, The Hills Have Eyes, Piranha 3D) beserta duo penulisnya, Shawn dan Michael Rasmussen (The Ward, The Inhabitans), tidak kuat berlama-lama berkutat di keseriusan, hingga sesekali mencoba “nakal” dengan menyelipkan guyonan.

Kisahnya mengedepankan sosok Haley Keller (Kaya Scodelario), atlet renang yang dalam adegan pembuka, diperlihatkan baru mengalami kekalahan di suatu latih tanding. Hubungan Haley dengan sang ayah, Dave (Barry Pepper), renggang. Padahal, dahulu Dave merupakan pelatih renang Haley, yang selalu menyebutnya “apex predator”, sebagai motivasi agar sang puteri urung menyerah.

Segala informasi tersebut muncul pada 10 menit pertama, sebagai upaya overshadowing klise mengenai apa yang tokoh utamanya harus hadapi kala terperangkap di rubanah yang terendam air akibat badai kategori 5, bersama beberapa ekor aligator. Haley harus mengembalikan kepercayaan diri dengan memakai talentanya (berenang), untuk melawan predator yang punya habitat natural di air, guna membuktikan statusnya sebagai “apex”. Tentu saja pertarungan itu juga berperan mendekatkan Haley dan Dave.

Bentuk overshadowing di atas, menegaskan ketidakcakapan kedua penulis, yang seperti terpaksa bermain sesuai pola. Pilihan waktu bagi penempatan momentum emosionalnya hampir selalu canggung, seringkali menghancurkan intensitas, pula diisi dialog-dialog cheesy yang bakal membuatmu merinding tanpa perlu melibatkan terkaman aligator.

Setiap drama merangsek, Crawl kehilangan pijakan. Beruntung, selaku horor soal aligator, film ini bersinar ketika sang monster unjuk gigi. Aja tak berinovasi, namun menunjukkan kapasitas sutradara horor berpengalaman yang menguasai metode memaksimalkan formula. Berbeda dibanding paparan dramanya, jump scare milik Aja dibungkus timing sempurna, hingga selalu berhasil menghentak. Aja pun jeli mengkreasi creepy imageries. Kuncinya satu: Seutuhnya menjadikan aligator monster ketimbang hewan buas biasa. Bahkan di sebuah kesempataan, aligator yang muncul di belakang protagonis nampak bak monster mistis dari horor supernatural (werewolf was the first one that came to mind).

Serahkan kepada Alexandre Aja perihal menyiksa karakter-karakternya. Mereka merangkak di rubanah gelap nan kotor, becek, dan saya yakin beraroma busuk. Tubuh mereka basah, berantakan, juga bersimbah darah akibat luka-luka, yang seiring waktu berlalu, makin fatal. Dan sudah bisa diduga, Aja kembali piawai memuaskan hasrat penonton pencari sadisme.

Mendapat siksaan sedemikian rupa (karakternya), totalitas Kaya Scodelario pun pantas dapat perhatian. Benar bahwa ia tak memiliki kesubtilan atau kemampuan olah emosi tingkat tinggi, yang menyebabkan tuturan dramanya makin tak karuan, tetapi ia adalah scream queen bertalenta dengan teriakan yang mampu memantik adrenalin, sekaligus protagonis menghibur. Sewaktu sesekali para penulisnya bosan memainkan keseriusan lalu usil melontarkan humor, Kaya berhasil menanganinya.

Memasuki babak ketiga, makin banyak aligator terlibat, sementara cuaca enggan berhenti menggila, yang sejatinya memberi panggung sempurna bagi klimaksnya. Sayang, sekali lagi Crawl tertahan oleh pagar yang dipasang sendiri. Pagar berbentuk penolakan tampil campy. Alhasil, tercipta batasan tentang apa saja yang bisa ditampilkan. Alih-alih berpikir kreatif demi memecahkan keterbatasan itu, para penulis memilih menyeleaikan filmnya, tatkala masih banyak hal yang bisa ditawarkan.

A DOG'S JOURNEY (2019)

A Dog’s Journey bukan film yang bisa bekerja dengan baik bagi otak saya. Penceritaannya mengandung setumpuk kelemahan. Tapi ini adalah melodrama. Sebuah fantasi melankolis yang menyentuh hati lewat penggambaran sederhana seputar lingkaran kehidupan dan perjalanan mengarunginya, yang melibatkan sederet pertemuan dan perpisahan, juga kelahiran dan kematian.

Mengadaptasi novel berjudul sama karya W. Bruce Cameron, filmnya melanjutkan akhir kisah A Dog’s Purpose (2017), di mana Ethan (Dennis Quaid) dan Hannah (Marg Helgenberger menggantikan mendiang Peggy Lipton) menjalani masa tua nan damai mereka di peternakan sambil menjaga cucu Hannah, CJ (Emma Volk memerankan CJ balita, Abby Ryder Forstson sebagai CJ kecil, Kathryn Presscott menjadi CJ remaja), setelah ayah si bocah meninggal dunia.

Ibunda CJ, Gloria (Betty Gilpin), jelas belum siap memiliki anak, apalagi menjadi orang tua tunggal. Dia selalu bersikap tak acuh, hanya berpikir soal mengejar impiannya di dunia musik. Hari yang dikhawatirkan pun tiba. Gloria membawa CJ pergi meninggalkan Ethan dan Hannah. Tidak lama berselang, Bailey (Josh Gad), anjing kesayangan Ethan sekaligus protagonis kita, menghembuskan napas terakhir. Mengetahui Bailey bakal bereinkarnasi seperti sebelumnya, Ethan memohon agar di kehidupan berikutnya, Bailey menjaga CJ.

Begitulah awal perjalanan baru Bailey. Biarpun kematian berulang kali menjemput, ia terus kembali sebagai jenis anjing berbeda, dengan nama berbeda, tapi tujuannya tetap sama. Apa pun rintangannya, Bailey selalu menemukan cara untuk kembali pada CJ.

Polanya masih sama. Kita akan melihat si anjing menatap ajal lalu reinkarnasi berkali-kali. Tapi apa yang membedakan A Dog’s Journey dengan pendahulunya adalah bagaimana Bailey memiliki peranan serta dampak lebih nyata terhadap hampir seluruh sendi kehidupan CJ, mulai dari hubungannya dengan kakek-nenek, hingga kisah cintanya dan Trent (Henry Lau), sahabat CJ sejak kecil.

Besarnya kontribusi Bailey berjasa memproduksi banyak momen emosional selaku aspek terkuat film ini, ketika naskah buatan W. Bruce Cameron, Cathryn Michon (A Dog’s Purpose, A Dog’s Way Home), Maya Forbes (Monsters vs. Aliens, Infinitely Polar Bear), dan Wallace Wolodarsky (Coldblooded, The Polka King) gemar terlampau menyederhanakan konflik. Segalanya hitam-putih. Kekasih-kekasih CJ selain Trent selalu brengsek, sedangkan Gloria bagai karakter ibu keji yang diambil dari sinetron, sebelum filmnya menyelipkan sedikit kompleksitas penokohan, yang sayangnya datang terlambat.

A Dog’s Journey memang punya banyak elemen sinetron. Ibu kejam? Ada. Pacar kurang ajar? Ada. Penyakit mematikan? Ada. Kecelakaan? Ada. Penuturannya jauh dari kata “pintar”, namun tiap kali otak saya menyadari itu, hati ini langsung tercuri oleh adegan-adegan menyentuh, yang dikreasi dengan baik oleh Gail Mancuso selaku sutradara. Dia tahu cara menyusun momen mendayu yang efektif membuat penonton mencari-cari tisu.

Anjing-anjingnya masih menggemaskan, dan ditambah voice acting Josh Gad, ketulusan cinta serta kemurnian hati Bailey pun dengan mudah mencengkeram perasaan, walau serupa film pertama, terkadang ketidakmampuan sepenuhnya mengontrol perilaku para anjing berujung menciptakan momen-momen acak yang datang tiba-tiba entah dari mana. Setidaknya film ini coba menyulap faktor di luar kontrol tersebut menjadi situasi jenaka yang membuat Bailey semakin loveable.

Sekali lagi, berbekal screentime terbatas—meski jauh lebih banyak dibanding porsinya di A Dog’s Purpose—Dennis Quaid menghembuskan nyawa melalui matanya yang sarat emosi, juga senyuman hanngat. Mencapai akhir durasi, ditemani air mata saya mulai menyadari betapa panjang, berwarna, pula bermakna perjalanan yang telah Ethan dan Bailey arungi.

SPIDER-MAN: FAR FROM HOME (2019)

Di Far From Home, Spider-Man (Tom Holland) terbebani untuk membuktikan kepantasannya menyandang status keanggotaan Avengers sekaligus penerus Tony Stark (Robert Downey Jr.). Tapi ini juga film soal fase remaja Peter Parker, khususnya perihal kehidupan cintanya. Dua hal di atas terdengar berlawanan. Poin pertama berskala besar juga menuntut tanggung jawab lebih tinggi, sedangkan yang kedua lebih ringan. Hebatnya, Far From Home sanggup mencampurkannya secara seimbang.

Delapan bulan pasca peristiwa di Avengers: Endgame, dunia masih belum sepenuhnya beranjak dari duka akibat kehilangan beberapa pahlawan, temasuk Tony Stark. Bahkan adegan pembukanya lagsung menawarkan penghormatan, yang meski menggelitik, nyatanya tetap menyentuh. Peter sendiri merasa selalu melihat wajah Tony ke mana saja ia pergi. Merasa perlu rehat, Peter mengesampingkan sejenak kehidupan sebagai pahlawan super selama mengikuti karyawisata ke Eropa, memilih fokus mengejar pujaan hatinya, MJ (Zendaya).

Tentu saja masalah terus mengikuti, kali dalam bentuk monster-monster Elemental yang menebar kehancuran di berbagai belahan dunia. Tapi Elemental bukan satu-satunya figur misterius yang muncul. Berusaha melawan mereka adalah Quentin Beck alis Mysterio (Jake Gyllenhaal), pahlawan super yang mengaku berasal dari semesta lain. Mysterio datang ke semesta ini (seperti komiknya, disebut Earth-616), bersatu dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson guna membinasakan para Elemental.

Gyllenhaal menangani perannya secara menghibur, sesekali menampilkan kesan “larger than life” tanpa perlu berlagak berlebihan. Dan kita berkesempatan menyaksikan sisi lembut nan hangat milik Jake, khususnya kala Mysterio mengambil alih peran selaku guru sekaligus mentor bagi Peter.

Tapi Mysterio seorang tak cukup, sehingga Fury merekrut Peter, yang awalnya mengelak karena: (A) Dia belum merasa mampu menangani masalah sebesar itu, ditambah keberadaan Mysterio yang menurutnya lebih dapat diandalkan; (B) Rencana mengungkapkan cinta kepada MJ juga terancam. Spider-Man: Far From Home adalah film pahlawan super di mana sang jagoan bukan cuma meragukan diri, pula kukuh menolak panggilan menyelamatkan dunia karena ia ingin mendapatkan hati seorang gadis.

Apabila terdengar kurang heroik, wajar saja, sebab itulah yang remaja akan lakukan. Naskah buatan duet Erik Sommers dan Chris McKenna (Ant-Man and the Wasp, Jumanji: Welcome to the Jungle, The Lego Batman Movie) bertindak selaku pondasi yang solid, tapi keberhasilan Zendaya dan Tom Holland menghidupkan kecanggungan manis di antara Peter dan MJ adalah alasan terbesar yang menjadikan romansanya bekerja dengan baik.

Terdapat twist sebagai titik balik arah penceritaan. Keberadaannya tak mengejutkan jika anda mengenal lore Spider-Man, tapi tugas utamanya adalah membuka jalan untuk kejutan-kejutan lain. Bahkan dua credits scene-nya menyimpan daya kejut tinggi. Urusan menghibur, Far From Home memang peningkatan pesat dibanding Homecoming. Humornya masih cukup jenaka, sedangkan adegan aksinya (salah satu kelemahan Homecoming) tampil bertenaga, kreatif, dibarengi ragam variasi musik buatan Michael Giacchino (Up, Jurassic World, Spider-Man: Homecoming).

Salah satu sekuen aksinya menandingi suasana trippy milik Ant-Man dan Doctor Strange, yang membuktikan sempurnanya pemilihan antagonis film ini. Dia mempunyai kemampuan mengerikan (anggota Avengers siapa pun bakal kewalahan), pun memfasilitasi sang sutradara, Jon Watts (Cop Car, Spider-Man: Homecoming), membangun pertunjukan penuh kekayaan visual sekaligus jadi musuh yang cocok untuk Spidey hadapi di fase kehidupannya saat ini.

Seperti tertulis di paragraf pembuka, Far From Home menghadapi sukarnya menyeimbangkan dua sisi heroisme Peter Parker. Dituntut membuktikan kepantasan disebut “The Next Tony Stark”, Spider-Man harus melawan sesuatu yang benar-enar mengancam. Tapi di sisi koin lain, Peter masih remaja. Mustahil filmnya menempatkan si manusia laba-laba di pertarungan menghentikan invasi alien seorang diri. Dan kekuatan yang dimiliki sang antagonis memiliki kapasitas merangkum kedua sisi.

Bicara mengenai Peter sebagai penerus Tony, Far From Home menjalankan tugasnya mengoper tongkat estafet sambil mempersembahkan penghormatan bagi si “genius, billionaire, playboy, philanthropist”. Jangan khawatir, sebab film ini tetap milik Peter Parker, dan berkat Tom Holland, elemen di atas terasa lengkap. Baik Tony maupun Peter menghadapi pergulatan serupa, yakni ketakutan akan ketidakmampuan melindungi sosok-sosok tercinta. Setiap pergulatan itu menghampiri, kita bisa merasakannya dari mata Holland, bahwa Peter sungguh memedulikan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan di salah satu adegan—yang jadi momen estafet plus penghormatan paling cerdik juga emosional sepanjang film—Holland menampilkan gestur menyerupai sang mentor. Sang aktor melakukan itu tanpa merendahkan aktingnya ke arah impersonasi murahan. Dia masih Peter Parker. Peter Parker yang amat terinspirasi oleh Tony Stark. Demikian pula Spider-Man: Far From Home. Film ini membuat ketiadaan Iron Man 4 tak perlu disesali, sembari tetap menjadi film Spider-Man yang mumpuni.