REVIEW - LOBANG BUAYA: 309 HARI SEBELUM TRAGEDI BERDARAH
Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah bak visualisasi kumpulan teori konspirasi internet sarat cocoklogi mengenai peristiwa sejarah. Bukan masalah. Sinema negara lain pun gemar melempar gagasan serupa. Sebutlah Hollywood dengan deretan spekulasi liarnya mengenai pendaratan di bulan.
Bedanya, jika menjadikan film-film cocoklogi tentang misi Apollo 11 selaku contoh, maka teori konspirasi berfungsi menjembatani satir kritis, dan peristiwa nyata yang mendasari tak melibatkan elemen sensitif seperti pembantaian terhadap jutaan nyawa yang masih menyisakan trauma bangsa hingga sekarang.
Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah coba mengutarakan beberapa kritik namun dengan setengah hati. Saya mengerti, bahwasanya Hanung Bramantyo dan tim enggan mengambil risiko menyentil figur-figur kuat yang nyaris mustahil diganyang kuasanya. Tapi jika demikian, mengapa tak sepenuhnya bermain di ranah khayali?
Naskah buatan Hanung dan Haqi Achmad menjabarkan misteri pembunuhan berantai yang tengah diusut oleh Soegeng (Baskara Mahendra), anggota angkatan darat yang curiga bahwa pelaku berasal dari kesatuannya. Satu per satu mayat ditemukan di Desa Lobang Buaya, di mana pada masing-masing tubuhnya tertulis kata yang merujuk pada tujuh dosa mematikan.
Cocoklogi pun diutarakan, terutama perihal angka "309" yang bisa ditautkan ke tanggal "30 September", "309 hari sebelum peristiwa G30S sebagaimana tertuang dalam judul", sampai pemaknaan akan ayat 9 dari surat ke-30 (Ar-Rum) di Al Qur'an. Kendati nihil kesubtilan sebagaimana jamaknya teori konspirasi dunia maya, presentasi misteri Lobang Buaya sejatinya cukup menyenangkan. Setidaknya ia efektif menyulut rasa penasaran terkait ke arah mana cocoklogi tersebut bakal bermuara.
Sementara Soegeng melangsungkan penyelidikan, sang istri, Arum (Carissa Perusset), tinggal di rumah untuk menjaga ayahnya (Mathias Muchus) yang sakit keras. Sesekali fokus dialihkan ke Arum, yang memfasilitasi filmnya menghantarkan jumpscare, guna memuaskan dahaga penonton arus utama akan horor hantu-hantuan konvensional. Daya kejutnya cukup efektif, termasuk sebuah penampakan yang jadi wujud pemanfaatan CGI cerdik serta ketepatan timing dalam pengarahan Hanung.
Pun seperti karya-karya non-horor miliknya, dibantu sinematografi olahan Saudi Utama, musik beraroma suspense klasik gubahan Hariopati Rinanto, juga kinerja tim tata artistik, Hanung kembali membuktikan kapasitasnya memproduksi film dengan kesolidan teknis. Sederhananya, "terlihat mahal", yang mana jadi salah satu hal favorit para produser.
Sayang, memasuki babak kedua, Lobang Buaya membuang unsur police procedural miliknya, untuk kemudian mengaplikasikan cerita balas dendam beraroma mistis generik. Apalagi sejak kemunculan karakter Dukun Suradi (Iskak Khivano), yang jadi medium naskahnya menyudahi misteri lewat cara malas, di mana alih-alih mengajak penonton menyusun keping demi keping jawaban secara berkala, kebenaran disampaikan lewat kilas balik dalam kilas balik pada satu waktu, sehingga menumpuk segunung eksposisi kusut yang tak jarang malah mencuatkan tanda tanya baru.
Diperkenalkan pula buku sihir Ghāyat al-Ḥakīm alias Picatrix, yang jadi gerbang pembuka bagi alurnya untuk berbalik arah ke ranah mistis. Bila ditangani dengan cermat, dunia klenik berpotensi menjadi alat menyampaikan kritik metaforis yang "sangat Indonesia". Sebab ketimbang dikerdilkan, bukankah lebih baik andai mistisisme dieksplorasi agar bisa dipakai sebagai identitas yang layak dibanggakan?
Masalahnya, penerapan mistisisme dalam film ini lebih seperti jalan keluar aman yang pembuatnya ambil. Karena menumpahkan dosa pada manusia penguasa menyimpan risiko fatal, lebih aman memposisikan "entitas hitam" seperti iblis atau Dajjal selaku musuh bersama.
Benar bahwa Lobang Buaya menyentil beberapa sosok penindas, tapi mereka sebatas penguasa kelas kampung, alias sekadar teri dibanding "ikan besar sesungguhnya" yang semestinya jadi sasaran kritik utama. Belum lagi twist di penghujung durasi terkesan memotret rakyat jelata dengan segala luka mereka sebagai biang kerok atas segala tudingan yang dialamatkan kepada pemegang kuasa. Perihal ini takkan perlu dipusingkan andai Hanung seutuhnya bermain di area fiksi.
Saya bukan menyebut Hanung dan tim pengecut. Terasa betul mereka bergumul dalam dilema, antara ingin mengutarakan kebenaran (dari hipotesis bahwa area Lobang Buaya dipilih sebagai lahan pembantaian karena lokasinya strategis untuk melancarkan kudeta, sampai keberanian untuk tak membingkai kaum religius sebagai "sosok putih" dan komunis sebagai "sosok hitam") atau kudu berhati-hati. Tapi biar bagaimanapun, dilema tersebut sudah merontokkan taring filmnya.
REVIEW - VERITY
Lowen Ashleigh (Dakota Johnson), si novelis yang punya mimpi mereguk popularitas, tengah berjalan menuju sebuah rapat saat seorang pria tertabrak mobil hingga darahnya terciprat ke arah protagonis kita. Ketimbang hasil kecelakaan lalu lintas, jumlah darah yang membasahi wajah Lowen, juga kekuatan semburannya, lebih mirip dampak ledakan bom. Berlebihan.
Beruntung ada pria baik hati bernama Jeremy Crawford (Josh Hartnett) yang bersedia meminjamkan kemeja cadangan untuk Lowen. Mereka berganti baju dalam bilik sempit sembari mengadakan sesi curhat dadakan, di mana Lowen dan Jeremy berbagi tragedi memilukan di hidup masing-masing, pada orang asing yang baru dikenal beberapa menit lalu.
Seketika, saya pun siap mengarungi dunia triler erotika bertenaga sarat hiperbola bodoh nan menyenangkan, dari adaptasi novel berjudul sama karya Colleen Hoover yang sempat viral di kalangan booktok ini. Tapi secara mengecewakan, yang berhasil Verity persembahkan cuma perihal kebodohan.
Kelak terungkap bahwa Jeremy adalah klien di rapat yang hendak Lowen hadiri. Jeremy menawari Lowen pekerjaan berbayaran tinggi, yakni membantu sang istri, penulis tenar bernama Verity Crawford (Anne Hathaway), guna menyelesaikan buku terbarunya. Verity baru mengalami kecelakaan, sehingga menyulitkannya memenuhi tenggat waktu perilisan.
Jadilah Lowen menetap sementara di kediaman pasutri Crawford, menyusun bahan tulisan, sambil sesekali menjalin keakraban dengan suami orang yang istrinya tengah terkapar tak berdaya. Panggung bagi pertunjukan opera sabun sudah didirikan secara sempurna.
Di atasnya, dipentaskanlah aksi perselingkuhan nakal, dengan seks jinak serta sensualisme malas berupa deretan adegan mandi dan/atau ganti baju selaku hiasan. Belum lagi sentuhan misteri yang menjanjikan twist mencengangkan, kala Lowen menemukan manuskrip rahasia, yang membuatnya mulai mempertanyakan kesehatan mental Verity.
Semua amunisi yang berpotensi memuaskan dahaga target pasarnya telah tersedia, namun sayang, Michael Showalter selaku sutradara yang terlampau miskin gaya gagal memaksimalkannya. Verity tampil begitu polos, pula begitu lemas untuk sebuah b-movie beraroma opera sabun yang semestinya punya energi berlebih.
Filmnya banyak berkutat pada situasi saat Lowen membaca manuskrip buatan Verity, yang kemudian jadi gerbang pembuka menuju kilas balik. Membosankan, apalagi dengan gaya bertutur "lemah syahwat" dari Showalter. Satu-satunya upaya menggenjot intensitas muncul lewat teknik penyuntingan yang melompat semau sendiri tanpa peduli soal kontinuitas, dan lebih banyak menyuplai disorientasi daripada suntikan tenaga.
Dakota Johnson tampil dengan gaya "minim energi" khasnya (karakter Lowen sendiri mengaku dirinya memiliki "resting bored face"), yang kendati tidak buruk, turut berkontribusi memperparah kelemahan Verity menggenjot intensitas. Sebaliknya, Anne Hathaway dalam kapasitas lebih terbatas justru mampu sedikit memperbaiki keadaan. Momen terungkapnya salah satu twist sanggup tereskalasi daya kejutnya berkat gestur kecil (baca: sedikit gerakan kepala) sang aktris.
Verity mengandung twist berlapis. Lapisan pertamanya cukup cerdik bermain-main dengan prasangka yang otomatis terjalin di benak penonton, karena adanya pemahaman terhadap formula klise dari genre yang diangkat. Kemudian dikupaslah lapisan kedua yang lebih menguarkan aroma kekonyolan, dalam upaya menyoroti bagaimana seorang penulis sanggup memainkan persepsi penikmat karyanya terkait garis batas fiksi dan realita.
Lapisan kedua itulah poin utama yang hendak Verity utarakan. Bukan twist berkualitas, sebab ketimbang secara aktif mengonfrontasi persepsi penonton mengenai "mana fiksi mana fakta", filmnya sekadar menumpahkan poin tersebut secara mendadak di penghujung cerita. Verity terlampau bodoh dan dangkal sebagai eksplorasi mengenai penulisan, namun terlalu jinak selaku spektakel konyol yang bersedia mengeliminasi logika.
REVIEW - RESIDENT EVIL (2026)
Bryan (Austin Abrams), seorang kurir medis, diutus mengirim paket penting ke rumah sakit di Racoon City. Bagaimana tugas tersebut diinstruksikan terdengar bak misi dalam gim. Pasca tujuh iterasi yang sebatas mengenakan kulit luar waralabanya, pengambilalihan oleh Zach Cregger melahirkan adaptasi Resident Evil yang membuat penonton merasa bak sedang memainkan gimnya.
Berlatar kala virus (tidak pernah disebut sebagai "t-Virus") yang mengubah penderitanya menjadi monster pertama kali menyebar, Resident Evil jadi pengingat bahwa sebelum petualangan heroik dari nama-nama seperti Leon S. Kennedy, Jill Valentine, atau Chris Redfield, dunia turut berputar di sekitar orang-orang biasa seperti Bryan (poin yang semakin ditegaskan di akhir cerita).
Diselimuti musik pemantik kecemasan gubahan Ryan dan Hays Holladay, Bryan memulai perjalanannya menuju Racoon City, melintasi jalanan bersalju licin, sebelum mobilnya menabrak sesosok perempuan aneh. Tidak perlu banyak beranalisis guna menarik kesimpulan soal identitas si perempuan sesungguhnya.
Naskah buatan Zach Cregger dan Shay Hatten mengambil keputusan tepat dengan tak langsung menaruh protagonisnya di tengah gempuran gerombolan zombi. Selama sekitar setengah jam pertama, sebelum ragam monster berdesain unik yang bagai berasal dari alam mimpi buruk body horror menampakkan diri, Bryan hanya disibukkan oleh seorang zombi saja.
Serupa pemain gim pemula, Bryan masih perlu beradaptasi, belajar mengakali banyak hal termasuk teknik menembakkan senjata. Cregger ingin filmnya sedekat mungkin mencerminkan pengalaman memainkan Resident Evil. Sinematografi arahan Dariusz Wolski pun begitu apik menerjemahkan tata kamera khas gimnya, baik lewat sudut pandang orang ketiga saat kita mengikuti si karakter berjalan dan melangkah keluar dari mobil, atau orang pertama ala FPS (first-person shooter).
Tidak hanya zombi yang membuat Bryan frustrasi. Serupa teknik yang gimnya pakai untuk menantang kecakapan pemain, stok amunisi yang tersembunyi hingga pintu yang senantiasa terkunci rapat merupakan faktor-faktor yang menggiring Bryan nyaris patah arang. Sayang, film ini tak sampai membuat Bryan kepayahan mengatur inventaris barang bawaannya.
Perihal menakut-nakuti, Cregger tidak selalu memerlukan campur tangan departemen musik guna memberi efek kejut. Kehebatan penyutradaraan Cregger jadi bukti bahwa dengan kecerdikan mengatur mise-en-scène serta timing tiap zombi dan monster menebar ancaman, dentuman tata suara tidak melulu wajib dikerahkan, dan cuma perlu diterapkan pada momen tertentu supaya daya bunuhnya tak melemah.
Bergulir selama 95 menit, Resident Evil cenderung mengedepankan upaya si tokoh utama bertahan hidup ketimbang pengembangan cerita. Salah satu metode yang Cregger gunakan untuk menjaga daya tarik adalah memakai humor. Menggelitik, tidak murahan, memberi ruang bagi Austin Abrams untuk mengolah kebingungan Bryan yang dihujani jutaan tanda tanya lewat barisan celetukannya, namun harus diakui juga berdampak pada berkurangnya kengerian.
Menjelang babak akhir, ketipisan alur dan repetisi dari elemen survival-nya mulai berdampak. Di gim, dua poin di atas tidak selalu jadi persoalan, sebab pemain berpartisipasi secara langsung. Ada risiko besar yang kita rasakan langsung bila gagal membuat si jagoan bertahan hidup. Medium film tak punya privilese tersebut, sehebat apa pun sang sineas membangun kesan immersive.
Untungnya Cregger menyimpan amunisi lain berupa kreativitas tinggi dalam mengkreasi set piece. Resident Evil punya ide berlimpah untuk memodifikasi serangan para monster/zombi, sehingga bukan sekadar mengandalkan kejar-kejaran generik, dari adegan "hujan zombi" sampai mayat hidup yang sanggup berfusi dengan begitu ngeri.
Kendati gagal mengulangi level kreativitas yang sama, klimaksnya mampu menghantarkan banjir darah menyenangkan selagi menyoroti kebodohan Umbrella Corporation (sebagaimana kerap diperbincangkan terkait aktivitas mereka di gimnya). Resident Evil adalah prolog efektif bagi gelaran cerita yang lebih masif. Sebuah kisah mengenai kehancuran dunia di tangan manusia-manusia bodoh dengan ego selangit.
REVIEW - AGENSI RUMAH TANGGA
Disusun berdasarkan novel berjudul sama karya Almira Bastari, Agensi Rumah Tangga tidak mendompleng tren cerita perihal kemiskinan dan pergulatan kaum kelas menengah. Protagonisnya tak pernah bergelut dengan persoalan piutang maupun atap rumah yang jebol. Film arahan Naya Anindita ini adalah kisah mengenai perempuan dengan privilese yang sudah berdaya, kemudian berupaya memberdayakan perempuan-perempuan lain yang tak seberuntung dirinya.
Katia (Enzy Storia) nama si tokoh utama. Baru saja ia kehilangan pekerjaan sebagai manajer perusahaan rintisan. Enam bulan sudah ia menganggur, dan si ibu, Titin (Unique Priscilla), sudah merongrong Katia agar mengikuti jejaknya dengan menjadi PNS.
Karakter Titin cukup menarik. Dia tipikal ibu-ibu yang cerewet tentang keteraturan dalam keseharian, pun lebih memercayai rekomendasi Facebook ketimbang saran anak sendiri. Tapi penokohan Titin lebih dari sekadar "rempong". Dia mampu mengobrol santai sembari menerima candaan putrinya, memberi Unique Priscilla peluang untuk selangkah menjauhi figur "ibu sedih" yang belakangan melekat pada peran-perannya.
Kembali ke Katia. Kendati lama menganggur, ia masih menyimpan tabungan, punya mobil untuk dijual serta rumah selaku aset pribadi, juga memiliki ibu yang bakal tetap menerima dana pensiun. Di bawah Katia ada berlapis-lapis jaring yang memberinya peluang untuk jatuh berulang kali. Secara naluriah, individu dengan privilese seperti Katia jadi lebih berani mengambil risiko.
Katia tetap mendaftar ke berbagai perusahaan, bahkan mengikuti tes CPNS sesuai permintaan sang ibu, namun diam-diam, ia mendirikan usaha penyedia jasa pembantu yang diberi nama "Agensi Rumah Tangga". Dibantu mantan ART di rumahnya, Bi Minah (Tike Priatnakusumah), Katia mengumpulkan para perempuan dari desa yang bersedia dipekerjakan di Jakarta.
Bagaimana Katia mampu mengembangkan bisnisnya tanpa pengalaman? Sahabatnya, Sashi (Fita Anggriani Ilham), datang mengulurkan bantuan berupa jaringan luasnya dengan para pesohor. Alhasil, Kafka (Afgansyah Reza) si penyanyi ternama pun jadi klien pertama. Sekali lagi, privilese berperan besar. Keliru? Tentu tidak, sebab Katia memanfaatkan betul keistimewaan miliknya.
Pada suatu kunjungan, Katia terkejut mendengar cerita Bi Minah tentang dinamika gender di desanya. Ketika para suami yang jadi korban PHK memilih ongkang-ongkang kaki sambil bermain judi alih-alih meniadakan gengsi dengan mencari nafkah sebagai kuli, para istri mengambil alih posisi. "Perempuan bisa beradaptasi di segala kondisi dan medan, lebih luwes, sehingga mampu mengerjakan apa saja", kurang lebih demikian ucap Bi Minah.
Disokong pengarahan beraroma power pop (cepat, menyenangkan, ringan) dari Naya Anindita, Agensi Rumah Tangga melebarkan skala penceritaannya melalui setumpuk subplot, yang mayoritas memberi sorotan terhadap suka duka dunia ART. Seorang jadi korban kekerasan, seorang tertusuk rindu akan buah hati di desa, seorang lagi menaruh hati pada majikannya.
Ada pula cerita mengenai Nisa (Nada Novia), putri Bi Minah yang turut bergabung di perusahaan Katia. Sedari lama Nisa cemburu pada Katia, yang dianggapnya lebih diberi kasih sayang oleh Bi Minah. Problematika ini menarik. Kendati jarang diberi sorotan di layar perak, bisa jadi ia marak menghantui dinamika keluarga ART yang dibebani tugas mengurus buah hati majikan sejak kecil.
Deretan subplot di atas urung ditelisik secara memadai, beberapa di antaranya juga minim dampak emosi karena mampu segera teratasi lewat solusi instan. Terasa betul bahwa naskah buatan Ayu Anggraini dan Upi Avianto sebatas ingin merekam sebanyak mungkin fenomena daripada menggalinya sedalam mungkin.
Setidaknya film ini enggan mengambil jalan tengah "populer" kala mesti mengakhiri gesekan antara Katia dan Titin. Agensi Rumah Tangga tetap berpegang teguh pada prinsip modern yang ogah meromantisasi disfungsi dalam hubungan keluarga. Pengakuan atas pengorbanan orang tua bukan berarti mewajibkan anak pasrah membiarkan impiannya disetir.
Jika menyuguhkan hiburan menyenangkan merupakan gol utama, maka Agensi Rumah Tangga berhasil mencapainya. Aroma dramedi dan romcom 2000-an, yang tampil ringan dengan menggiring permasalahan riil ke arah lebih fantastis pun menguar kuat. Apalagi Naya sangat jeli mengarahkan komedi. Humor berbasis interaksi karakter tampil menggelitik lewat kenaturalannya, sementara banyolan absurd yang turut memamerkan kreativitas naskah bisa dimaksimalkan kekonyolannya.
Saya selalu menikmati persahabatan Katia-Sashi yang ditunjang oleh kelincahan Enzy Storia dan Fita Anggriani Ilham saling melempar kata-kata jenaka. Tapi faktor esensial komedinya berasal dari barisan pelakon di balik tokoh-tokoh ART. Nama-nama seperti Ummi Quary (bintang tergila film ini), Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Boah Sartika, hingga Priska Baru Segu, jago menangani komedi, yang selain mengundang tawa, berperan pula selaku dinamo penggerak bagi kebersamaan karakternya dalam perjalanan mereka memberdayakan diri.
REVIEW - OASIS: DON'T LOOK BACK IN ANGER
Teruntuk yang menghabiskan lebih dari satu dekade menanti gencatan senjata Gallagher Bersaudara namun kurang beruntung disambangi oleh tur mereka pada tahun 2025 seperti saya, Oasis: Don't Look Back in Anger adalah hal yang paling mendekati pengalaman menonton konsernya. Rasanya normal bila keran air mata ogah menutup selama dua jam.
Sampai saya menengok ke arah istri di kursi sebelah, dan ternyata matanya pun bak dibasahi titik-titik kabut. Dia bukan penggemar. Beberapa nada serta lirik Oasis familiar di telinganya, tapi tidak kata per kata. Fenomena itu jadi bukti dalil yang diutarakan Will Lovelace dan Dylan Southern selaku sutradara, bahwasanya Oasis membinasakan sekat-sekat pemisah kemanusiaan.
Karya mereka minim kejelian eksperimentasi Blur yang mengundang takzim para cendekia skena musik, bukan pula representasi jejas hati kaum terbuang serupa Suede. Kita tidak perlu punya identitas tertentu untuk merasa terwakili oleh olahan nada Gallagher Bersaudara.
"Kami bukan mewakili gagasan sayap kanan", ucap Noel di sesi wawancara filmnya. Oasis mungkin merupakan satu dari sedikit musisi yang cocok bersikap apolitis. Mereka tidak wajib menggiring persepsi pendengarnya ke satu sisi. Sebagaimana nampak di banyak rekaman film ini, lagu serta konser Oasis ibarat suaka aman bagi siapa saja untuk menyesap setetes kebahagiaan manis kendati hanya sejenak.
Pasca rekap soal puncak karir hingga kejatuhan mereka (yang turut menandai runtuhnya hegemoni Britpop), penonton diajak menyambangi hari-hari latihan Oasis jelang tibanya tur reuni bersejarah yang diawali di Cardiff. Steven Knight selaku penulis enggan sekadar menggambarkan sekumpulan laki-laki paruh baya menggeber distorsi gitar di ruang latihan sempit tersebut.
Intensitas turut dibangun. Kecemasan pelan-pelan makin mencekik tatkala kekhawatiran jika segalanya takkan bergulir mulus jadi posibilitas yang sukar ditepis. Fakta bahwa Liam baru bergabung di hari kedua secara cerdik dipakai oleh para pembuatnya guna menebalkan ketegangan. Mikrofon tak bertuan nampak berdiri di tengah kehampaan. Lovelace dan Southern paham bagaimana cara memberi "suara" bagi visual filmnya.
Nyatanya, begitu Liam menumpahkan karisma sembari bernyanyi (disamakannya dengan proses mengeksorsis iblis), jari-jari Noel menari-nari di atas gitar, sementara Bonehead membentuk "tembok suara" khas Oasis melalui isiannya, semua berlangsung baik-baik saja. Pada akhirnya musik merekalah yang bicara, sebagaimana musik yang sama berbicara ke lubuk hati jutaan pendengar di luar sana.
Tengok saja kisah-kisah humanis yang terpotret di antara rangkaian panggung Oasis Live '25 Tour: Seorang ibu dari Wales memperoleh jembatan berkomunikasi dengan anaknya yang autis berkat Talk Tonight, sepasang sahabat penyelam dari Korea Selatan terhubung lewat Acquiesce, sedangkan penyintas ledakan bom di Manchester mendapat kekuatan guna menghadapi survivor guilt dengan mendengarkan Don't Look Back in Anger.
Setiap negara pun memiliki "lagu kebangsaan Oasis" masing-masing. Argentina dengan Wonderwall, sementara Some Might Say jadi penyulih semangat rakyat Irlandia. Kemudian sewaktu konser digelar, tercipta pengalaman komunal tanpa batasan daerah, gender, ras, maupun usia. Sederhananya, dokumenter ini menangkap hal-hal luar biasa dengan skala yang cenderung sukar dipercaya, terkait relasi musisi dan pemujanya.
Di bioskop tempat saya menonton, tiga bocah yang masih pantas duduk di bangku SMP nampak antusias, tertawa, saling berjabat tangan, bahkan melompat kegirangan seraya memasuki studio. Kaus Oasis dengan bangga mereka kenakan. Band asal Manchester ini memang pernah mati suri selama 15 tahun, namun para penggemarnya terus mewariskan karya mereka ke telinga dan hati generasi berikutnya.
Dibarengi penyuntingan liar dari George Cragg dan Martina Zamolo yang sempurna menggambarkan "kekacauan" lautan manusia dalam konser Oasis, Lovelace dan Southern gemar betul menangkap reaksi emosional para penonton konser, yang pada akhirnya menularkan rasa serupa pada penonton filmnya. Jadilah suguhan sarat empati yang kaya akan sensitivitas, namun tetap sejalan dengan semangat Oasis yang menolak nuansa melodrama secara berlebih.
Kita takkan menyaksikan Gallagher Bersaudara duduk berdua seraya menitikkan air mata sebelum akhirnya berpelukan mesra. Liam tetaplah figur dengan segudang komentar eksentrik yang separuh di antaranya begitu jenaka, sedangkan separuh sisanya sukar dimengerti oleh non-Mancunian. Keduanya masih sama, hanya semakin dewasa untuk bisa memahami bahwa alih-alih berubah, mereka cuma harus menerima satu sama lain.
Di sebuah adegan, seorang pendeta Manchester berkhotbah tentang proses memaafkan sesama manusia, dengan menjadikan reuni Gallagher Bersaudara sebagai pondasi cerita. Apakah Oasis otomatis menjadi band religius? Tentu tidak. Oasis tak perlu memaksakan diri menjadi apa pun selain diri sendiri, atau menggiring karya mereka guna menyokong narasi tertentu. Oasis enggan membatasi bagaimana musik mereka "berbicara", dan karena itulah lagu-lagunya ampuh meruntuhkan segala macam tembok pembatas yang manusia dirikan.
REVIEW - HOPE
Berbeda dengan karya-karyanya sebelum ini (The Chaser, The Yellow Sea, The Wailing) yang punya lapisan cerita tebal, melalui Hope kita melihat Na Hong-jin membuang jauh-jauh substansi dalam naskah guna memberi ruang baginya memamerkan kecakapan mengarahkan spektakel tak berotak, yang diharapkan dapat merintis waralaba layar lebar baru.
Tanpa basa-basi penonton segera ditarik ke tengah konflik, ketika Ko Bum-seok (Hwang Jung-min), kepala polisi Hope, desa pelabuhan kecil dekat zona demiliterisasi, bersama sepupunya, Ko Sung-ki (Zo In-sung), menyelidiki fenomena aneh berupa penemuan bangkai hewan yang ditengarai jadi korban serangan makhluk berukuran super besar.
Mereka pun berpencar, dan tidak butuh waktu lama sampai Bum-seok dan anak buahnya, Im Sung-ae (Hoyeon), menyadari alasan mengapa Hope nampak bak kota mati. Bukan cuma bangkai hewan, setumpuk mayat warga yang tewas mengenaskan mulai ditemukan.
Darah menggenang, potongan tubuh berceceran, reruntuhan berserakan, teriakan ketakutan dari orang yang bertatapan dengan maut pun sesekali terdengar. Na Hong-jin memaksimalkan ragam elemen audiovisual tersebut untuk menyulut kengerian tanpa perlu buru-buru menampakkan wujud si pembawa teror. Asumsi penonton dipermainkan. "Makhluk macam apa yang sanggup semudah itu meremukkan badan manusia?"
Sepanjang babak pertama yang berlangsung cukup lama, ceritanya menolak berprogres. Tapi siapa berani protes di saat Hwang Jung-min kembali memancarkan pesona "dramedi" khasnya sebagai aparat berdedikasi kendati acap kali kurang bisa diandalkan?
Tapi utamanya, babak pertama Hope adalah panggung bagi Na Hong-jin. Dibantu tata kamera arahan Hong Kyung-pyo yang bergerak kesetanan tanpa mengenal batas, sang sutradara meleburkan seluruh ilmu "action directing 101". Bagaimana mengatur bloking di tengah sekuen aksi, di sudut mana kamera mesti diletakkan dan ke mana harus digerakkan, hingga perihal kapan tepatnya gerak lambat dimulai serta diakhiri supaya memperoleh efek dramatis sempurna.
Banyak kritik pedas menghampiri Hope terkait efek komputernya, terutama begitu si monster akhirnya menampakkan diri. Saya setengah setuju. Momen sewaktu sekumpulan monster berlari ngebut di tengah tanah lapang jelang babak final memang terlihat menyedihkan, tapi sisanya merupakan pemandangan yang jamak ditemui dalam blockbuster Korea Selatan.
Kasar, artifisial, namun wajar, mengingat memang baru sampai di situ tingkat teknologi sinema arus utama mereka. Apalagi Na Hong-jin mampu menebusnya dengan penyutradaraan aksi kelas satu, dengan membuat monsternya rutin bergerak secara agresif saat memburu mangsa. Debaran jantung selalu berhasil dipacu tiap si monster, dengan penuh nafsu membunuh, melempar benda-benda berukuran besar ke arah protagonisnya.
Sementara Bum-seok dkk. berburu monster, penonton diajak mengobservasi paranoia lain di seantero desa yang eksis berdampingan dengan zona demiliterisasi. Tampak setumpuk spanduk mewanti-wanti supaya warga mewaspadai penyusup. Ketakutan akan sosok asing pun disebarkan. Tapi begitu babak pertama usai, perlahan Hope membangun kesadaran penontonnya, bahwa ketimbang makhluk asing dari luar negeri maupun luar Bumi, mungkin saja kitalah ancaman mematikan sesungguhnya.
Sayang, seiring narasi yang terus membesar, naskah buatan Na Hong-jin semakin tidak yakin akan apa yang mau disampaikannya. Kemerosotan kualitas Hope bermula tatkala babak keduanya memberi sorotan lebih terhadap "tim hutan" yang dipimpin Sung-ki, di mana mitologi mengenai para monster dipaparkan dengan cara yang terlampau serius sekaligus generik sehingga ampuh menyulut rasa kantuk.
Aura bersenang-senang dari babak pertama pun lenyap seketika. Na Hong-jin bagai terbutakan oleh ambisi, sehingga belum seutuhnya rela menyerahkan jiwa pada pesona b-movie, kendati jejak-jejaknya (serbuan monster, cerita tipis, barisan tokoh yang tidak bisa bersikap serius terlampau lama, humor toilet) sudah berserakan di sepanjang durasi.
Klimaksnya kembali mengaktifkan "mode dewa" dalam pengarahan aksi sang sutradara, melalui kejar-kejaran sarat gerak akrobatik bak pertunjukan sirkus, yang dipungkasi oleh peristiwa konyol tak terduga, senada dengan cara sinema kelas b mengakhiri cerita (dalam artian tertentu, agak mengingatkan ke Feast III: The Happy Finish). Menyenangkan!
Ending-nya tidak semenyenangkan itu. Bukan karena absurditas miliknya, sebab poin tersebut malah berpotensi memberi hentakan pamungkas guna mengukuhkan status Hope selaku kebodohan menyenangkan yang mengacungkan jari tengah pada keseriusan. Konklusi yang mengaburkan pesan tentang "siapa ancaman sebenarnya?" itu menyisakan kekecewaan karena membuat segalanya jadi serba rumit dengan nuansa yang terlampau serius, didasari ambisi membuka posibilitas bagi terciptanya waralaba.





%20(1).png)

%20(1).png)


