REVIEW - ALL WISHES COME TRUE!

All Wishes Come True! yang diangkat dari legenda mengenai Eight Immortals merupakan bukti sahih bahwa sinema animasi Cina telah mengokohkan pondasinya. Bukan soal teknologi, melainkan kejelian memanfaatkan sifat tanpa batas dari mediumnya, untuk mengeksplorasi kekayaan cerita rakyatnya yang sarat keajaiban. 

Tengok saat kita pertama menjejakkan kaki di Gunung Penglai. Detail animasinya mumpuni, tapi yang paling memukau adalah visi Mu Zhengyang selaku sutradara sekaligus penulis naskah, perihal presentasi keajaiban dunia Penglai. 

Entitas ilahi, dan manusia yang berbondong-bondong tiba guna mengungsi dari bencana alam tanpa henti, hidup berdampingan di tengah semesta anakronistis hasil buah pikir Mu Zhengyang. Kadang Penglai nampak sesuai dengan citra kisah-kisah legenda, tapi ada kalanya ia terlihat futuristik (kendaraan bak mobil terbang, terowongan bertabur neon, sistem para dewa mengabulkan doa manusia yang sudah terkomputerisasi).

Dunianya aneh tetapi hidup. Di situlah kita bertemu Lü Dongbin (Li Shaozhe), yang meminta bantuan mantan kakak seperguruannya yang kini alih profesi menjadi pencuri, Zhongli Quan (Chen Hao), guna mencari lentera keramat yang konon dapat menghentikan segala bencana. Lentera tersebut dipercaya ada dalam ruang harta milik dewa. 

Nantinya, enam manusia lain bakal turut serta menantang superioritas dewa: He Xiangu (Lidong), Han Xiangzi (disuarakan bergantian oleh Dong Tianyi, Yu Pengli, dan Huang Yushuo seiring proses tumbuh kembangnya), Cao Guojiu (Zhang Yunqi), Lan Caihe (Cao Zhishan), Zhang Guolao (Deng Xiansen), dan Li Tieguai (Guozi Gege). Rencana pencurian lentera dijalankan, sementara delapan makhluk fana tersebut pun berupaya mencuri peluang memperbaiki nasib.

Sayang, rencana rancangan Mu Zhengyang terlampau sederhana untuk bisa melahirkan cerita heist seru. Kedelapan tokoh utamanya melakukan penggalian supaya bisa menerobos ruang harta melalui bawah tanah. Hanya itu. Tanpa misi sampingan yang menuntut kebolehan spesial tiap karakter, tiada pula trik cerdik yang menyulut kekaguman penonton. 

Paparan heist-nya amat berlawanan dengan kompleksitas mitologi yang ditawarkan All Wishes Come True!. Ada kalanya kompleksitas itu agak membuat kewalahan, akibat eksposisi verbal serba ngebut yang bak menganggap seluruh penonton sudah mempelajari tiap detail cerita rakyat Cina sampai khatam. 

Babak kedua memang jadi titik nadir yang dihadang pelbagai kekurangan, tidak terkecuali soal pendalaman karakter. Di samping Lü Dongbin dan Zhongli Quan, dinamika antara eight immortals luput dikulik secara memadai. Akibatnya, tatkala delapan jagoan kita kembali bersatu pasca sempat hancur selepas hadirnya batu sandungan yang merusak mental mereka, proses penyatuan itu terkesan dipaksakan. Tiada alasan meyakinkan yang membuat penonton percaya bahwa ikatan emosional mereka sudah seerat itu. 

Situasi berbalik 180 derajat begitu figur antagonis yang sebelumnya lebih banyak beraksi di balik layar akhirnya diungkap. Saya akan membiarkan sosoknya tetap jadi misteri. Satu yang pasti, bila pemahaman terbesar anda mengenai legenda-legenda Cina berasal dari serial Journey to the West yang populer di era 90-an, eksistensinya bakal menghadirkan kejutan menyenangkan. 

Sang antagonis menuntun All Wishes Come True! menuju final bombastis yang memiliki segala elemen wajib sebuah spektakel, dari parade visual epik, gelaran aksi seru yang mendorong para protagonis sampai ke titik batas kemampuan, barisan karakter yang akhirnya sukses mengundang simpati lewat tindakan heroik mereka, juga twist yang secara tidak terduga membuktikan kalau film ini senantiasa mengingat statusnya sebagai sajian heist. Begitu keseruan usai, Mu Zhengyang secara resmi sudah mengabulkan satu permintaan saya: menonton film animasi yang hebat. 

REVIEW - CHIIKAWA THE MOVIE: THE SECRET OF THE MERMAID ISLAND

Film ini dibuat berdasarkan manga berjudul sama buatan Nagano (juga duduk selaku penulis naskah), Chiikawa, yang merupakan kependekan dari frasa Jepang, "Nanka Chiisakute Kawaii Yatsu" alias "sesuatu yang kecil dan menggemaskan."

Karena memang tokoh-tokohnya kecil nan menggemaskan. Segudang dagangan pendukung, stiker obrolan, hingga meme berpotensi lahir darinya. Beberapa makhluk mungil ini mampu bicara layaknya manusia, namun ada pula yang hanya mengeluarkan suara-suara imut (termasuk Chiikawa si tokoh utama) serupa Pokémon. 

Pembukaannya sarat kepolosan khas kartun bocah yang rutin kalian putar untuk menghentikan kerewelan anak atau adik. Alkisah, Chiikawa beserta kawan-kawannya, Hachiware, Usagi, Momonga, dan Rakko, menerima undangan menyambangi Pulau Mermaid. Mereka dijanjikan santapan lezat, juga upah tinggi bila mampu menuntaskan misi pemberian warga setempat.

Rutinitas awal Chiikawa dkk. di Pulau Mermaid bukanlah suatu petualangan. Mereka menikmati hidangan, bermain-main, bersantai. Mungkin terlalu santai bagi penonton yang haus akan keseruan di layar perak. 

Sampai akhirnya kita menemukan alasan mengapa kata "mermaid' disematkan sebagai nama pulau. Sesosok Siren raksasa ditemani dua duyung mungil menampakkan diri di hadapan para protagonisnya, sembari menyanyikan nada-nada lucu disertai lirik mengenai keinginan untuk memakan mereka. Kontradiksi unik film ini pun mulai mengungkap jati dirinya, seiring tersibaknya tirai penutup rentetan rahasia mengerikan pulau tersebut. 

Bukan berarti filmnya mendadak bertransformasi jadi kerabat Happy Tree Friends. Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island tetap menjaga keamanannya selaku tontonan semua umur berkat kulit luar yang senantiasa menggemaskan. Visualnya bukan asal cerah, namun dibarengi keputusan cerdik menggambarkan warga Pulau Mermaid sebagai makhluk monokromatik tanpa wajah, guna menghindari sensory overload. Tokoh-tokoh utamanya pun jadi tak perlu berebut sorotan dengan mereka. 

Secara visual, hal terdekat dengan "pemandangan dewasa" hanya berasal dari karakter Shimajiro si pemilik restoran sup kerang. Wajahnya nampak galak, tubuh kekarnya pun cuma dibalut selembar apron. Figurnya menonjol di antara makhluk-makhluk menggemaskan lain. Dialah karakter favorit saya di film ini. 

Mencapai babak ketiganya, sisi kelam Chiikawa the Movie makin mengental dan membawa penceritaannya menuju tingkatan lebih tinggi. Anak-anak bakal tetap memandangnya sebagai kisah sederhana tentang kebaikan melawan kejahatan, atau jagoan gemas melawan monster seram. Penonton dewasalah yang akan bisa melihat wajah gelap dari ambiguitas moral milik plot twist-nya, yang menunjukkan betapa bentuk cinta satu pihak dapat dipandang sebagai hal keji oleh pihak lain.

Menyusul kemudian adalah momen pesta di depan api unggun yang menguarkan aroma bittersweet perihal konsep "bersama selamanya", sementara lagu Kyou no Hi wa Sayounara (Today is the Time for Goodbye) yang terdengar magis, secara sempurna mewakili perasaan kompleks dari peristiwanya. Akhirnya, Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island pun dipungkasi oleh implikasi kelam mengenai ketakutan terhadap malapetaka yang setia mengintai hidup individu pemilik dosa. Hal-hal di atas tersaji dalam film seputar makhluk-makhluk mungil menggemaskan. 

REVIEW - OPERASI PESTA COPET

Operasi Pesta Copet yang dibidani oleh Edy Khemod selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Rino Sarjono) adalah karya yang lahir dari gairah dan cinta. Khemod yang juga penggebuk drum Seringai, menumpahkan antusiasmenya terhadap dunia musik termasuk rangkaian pertunjukannya dalam kulit film heist. 

Bersama ekspresi cinta, rasa resah pun turut serta. Dua hal tersebut mustahil dipisahkan. Fenomena copet konser, yang kebetulan pernah menghampiri Seringai di Solo, jadi keresahan utama sang sineas di film ini. Protagonisnya, Ijal (Iqbaal Ramadhan), adalah pencopet ulung yang tengah menyasar keriuhan Pesta Pora sebagai panggung teranyar aksi besarnya. 

Ijal tidak sendiri. Tiga anggota tim lain ikut berpartisipasi: Adut (Kristo Immanuel) si sahabat yang juga partner mencopet Ijal, Tia (Zulfa Maharani) si mantan pacar yang sempat terciduk kala melancarkan aksi kriminal bersama, dan Melodi (Kawai Labiba) dengan segala ilmunya terkait dunia perkonseran. 

Seiring proses, istilah-istilah dunia copet (ngambang, ngalih, mutus, nadah, dll.) filmnya ajarkan pada penonton. Begitu pula ragam trik licik mereka, semisal semprotan air cabai yang digunakan Silet (Fauzan Lubis) selaku mentor copet Ijal. Bukan sekadar keseruan yang film ini harap penonton bisa peroleh, pula pelajaran berharga supaya tidak kecolongan di dunia nyata. 

Filmnya berhasil meniti titik tengah yang cukup tricky, kala berupaya mendorong penonton bersimpati pada protagonis, sambil menghindari kesan menjustifikasi tindak kriminalnya. Mereka berempat adalah rakyat kelas bawah, dengan pemukiman kumuh padat penduduk selaku tempat bernaung, yang berkat permainan ambiens mumpuni departemen tata suara (misal teriakan berisik bocah yang terus bersahut-sahutan) bisa dipotret secara meyakinkan.

Operasi Pesta Copet bersedia membuka mata atas kegagalan sistem selaku pangkal kemiskinan yang menghimpit tokoh-tokohnya. Tapi di sisi berlawanan, kesimpulan "tidak ada pilihan lain" yang mereka tarik kala memilih jalan mencopet pun enggan dibenarkan. 

Sedangkan kepedulian kepada karakternya banyak dibangun memakai susunan komedi. Selain menyulut tawa, yang mana berhasil dilakukan, humornya berfungsi mengeratkan hubungan antar karakter, pula karakter dengan penonton. 

Apalagi tiap pelakon menyumbangkan performa maksimal. Iqbaal sebagai jamet yang acap kali berlaku bodoh, Kristo bermodal kejelian menimpali banyolan, Zulfa dengan kepiawaian menggilas porsi drama dan komedi sama baiknya, hingga Kawai yang piawai meniupkan nyawa di momen "seremeh" apa pun. 

Pujian khusus rasanya patut disematkan bagi Fauzan Lubis, vokalis Sisitipsi yang menjalani debut aktingnya di sini. Tutur kata sampai gerak-geriknya sebagai "abang-abangan tongkrongan menyebalkan" adalah wujud kenaturalan yang hanya bisa dipertontonkan seorang penampil sejati. 

Tapi bintang utama pertunjukan ini tetap Edy Khemod. Operasi Pesta Copet kentara dibuat oleh individu yang mencintai sekaligus memahami dunia musik hingga ke organ-organ terdalamnya. Akses mengambil gambar langsung di gelaran Pesta Pora memberi dorongan signifikan atas terciptanya kesan imersif, namun tanpa pemafhuman Khemod perihal situasi apa saja yang mesti ditangkap guna mewakili keseruan konser, keistimewaan di atas bakal percuma. 

Ada kalanya Operasi Pesta Copet tampil bak video klip musisi pop karena selipan pernak-pernik efek visual kaya warna yang sang sutradara pakai, tapi tidak jarang, terutama saat teknik shaky cam diterapkan bahkan di obrolan sederhana, Khemod menyuntikkan energi sehingga filmnya tersaji layaknya video rok progresif beroktan tinggi. Beberapa situasi pun hanya bisa dirumuskan oleh pecinta musik (dan konser). Sebutlah adegan wall of death yang menyulut intensitas secara kreatif.

Terkait babak ketiganya, saya yakin sineas dengan tingkat keilmuan musik yang tak semumpuni Khemod akan mengambil langkah mudah ditebak dengan menggaet nama-nama "kekinian", tapi Khemod dengan cerdik memilih Rhoma Irama. Membawakan 1001 Macam (lagu unik yang mengawinkan dangdut dan rap, lengkap dengan lirik sarat relevansi) sang "Raja Dangdut" bukan sekadar hiasan, tapi figur yang sempurna dengan konteks adegannya.

Pun pada dasarnya, Operasi Pesta Copet merupakan heist yang solid. Tanpa gebrakan baru, tapi semua unsur genrenya sanggup ditangani secara apik. Alur rencana operasi pencopetan karakternya dijabarkan dengan jelas, dari ragam tipu daya mencomot dompet, juga proses mengeluarkan barang curian dari lokasi. Penonton dilibatkan untuk memahami detail setiap langkahnya. 

Subplot terkait luka masa lalu Ijal yang melibatkan sang ibu (Yeyen Lydia) juga untungnya tidak dibuat bermuara menuju resolusi khas drama arus utama sinema Indonesia, yang punya tendensi main aman demi memuaskan semua kalangan. Tidak semua kesalahan bisa dimaafkan. Anak tidak melulu wajib dipaksa mengalami amnesia tentang kekeliruan orang tua agar bisa menemukan kedamaian. Luka pun bisa usai sambil tetap menolak begitu saja lupa akan dosa masa lalu. 

REVIEW - AYAH, AKU MAU CERITA

Kejutan! Versi Indonesia dari Drishyam (2013) yang memakai judul sentimental Ayah, Aku Mau Cerita guna menuruti kegandrungan publik atas drama keluarga penguras air mata, rupanya adalah remake yang apik. Adaptasinya cukup setia hingga bisa mempertahankan keseruan judul orisinalnya, namun tidak ragu memodifikasi kala diperlukan. 

Bergulir selama 166 menit (terpanjang kedua dari semua versi, hanya kalah dari Papanasam, remake Tamil yang berdurasi 175 menit), Danial Rifki selaku sutradara sekaligus penulis naskah, langsung menggerakkan alurnya menuju inti konflik. Minim basa-basi, tanpa pembangunan latar belakang berkepanjangan ala sinema India. 

Keputusan di atas dilakukan demi memfasilitasi tambahan eksposisi, sebagaimana bisa kita simak dalam diskursus dua polisi kala melihat protagonis kita, Andi (Vino G. Bastian). Berbeda dibanding Georgekutty (Mohanlal), Andi lebih hangat, emosinya tak mudah tersulut kala menghadapi dua putrinya, Aisha (Ziva Magnolya) dan Ditta (Queen Lubis), bukan pula pengusung paham patriarki dalam memandang peran sang istri, Marini (Niken Anjani). 

Di luar caranya memotret si protagonis, alurnya cenderung setia, masih berpusat pada upaya Andi melindungi keluarganya yang terseret kasus hilangnya putra tunggal Iriana (Marsha Timothy), kapolres yang dengan senang hati menggunakan kebengisan demi menuntaskan kasus, yang kelak membawa kedua belah pihak terlibat adu kecerdasan sarat gesekan psikologis. 

Hanya saja, Danial Rifki memilih menipiskan himpitan mental yang keluarga Andi alimi. Kekhawatiran mengintai, namun tak nampak membebani seberat yang jajaran protagonis di varian aslinya alami. Presentasi Ayah, Aku Mau Cerita pun terasa lebih ringan karena mengutamakan lika-liku permainan pikiran antara Andi melawan kepolisian. 

Di lain sisi, kritik atas para penindas, baik pasukan berseragam yang hobi  memungut pungli di siang hari dan gemar menebar kekerasan demi mencapai tujuan, maupun barisan penguasa sadis berdandanan necis, lebih dipertebal. Tengok saja nama-nama karakter aparatnya. Beberapa sentilannya tepat sasaran, sedangkan lainnya, seperti kemunculan kalimat "Yo ndak tahu, kok tanya saya?" atau foto lelaki berwajah bodoh yang terpampang di suatu restoran, sayangnya hanya dipakai untuk memancing tawa. 

Poin yang saya kagumi dari naskahnya adalah kejelian memperbaiki lubang-lubang milik judul orisinalnya. Di Drishyam, beberapa muslihat Georgekutty terlampau bergantung pada kebetulan-kebetulan. Hal itu mampu diperbaiki. Rangkaian trik sang protagonis, dari cara Andi membuat Ditta terlibat obrolan dengan kondektur bus, sampai metode mengumpulkan nota restoran, orkestrasinya lebih terstruktur.

Pendidikan terakhir Andi hanya SD kelas 4, tapi toh polisi dibuat kelabakan berkat ilmu yang didapat dari kegemaran menonton film. Ayah, Aku Mau Cerita secara ciamik menegaskan statusnya selaku surat cinta pada sinema dengan mengungkai koneksi antara pertunjukan Andi dengan proses perumusan film, yang dilakukan secara superior nan lebih terdengar penuh kecintaan atas mediumnya, melalui monolog Iriana. 

Keunggulan naskahnya sanggup menutupi kekurangan Danial Rifki menunaikan satu perannya yang lain, yakni menyutradarai. Hasil arahannya tidak buruk, tapi kentara betul ia belum menguasai seni menggenjot dramatisasi yang senantiasa jadi keahlian sineas India. Sedikit cela tersebut paling terasa di babak klimaks yang terlalu miskin gaya (terutama perihal pilihan shot) dan letupan intensitas.

Departemen lain untungnya tampil gemilang. Komposisi gubahan Mondo Gascaro memperdengarkan peleburan elok antara bunyi-bunyian tradisional dan musik atmosferik ala sinema noir, sedangkan akting jajaran pelakon, khususnya Marsha Timothy yang secara lincah membolak-balik wajah Iriana, dari figur kapolres keji dan seorang ibu yang didera kekhawatiran akan nasib putranya. 

Ayah, Aku Mau Cerita adalah remake berkualitas. Konklusinya pun masih menyisakan pukulan telak bagi aparat. Tatkala Andi melangkah penuh keyakinan pasca mengungkap rahasia terbesarnya di penghujung kisah, kita pun diingatkan betapa pondasi institusi penegak hukum sudah sedemikian busuk, sehingga bisa menyamarkan aroma busuk yang lain.

REVIEW - INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER

Setelah 16 tahun bertabur enam judul, Out of the Further akhirnya menandai keberanian waralaba Insidious berjalan keluar dari pintu merah yang mengurungnya dalam formula melelahkan seputar rumah berhantu, kendati hanya lewat satu langkah kecil alih-alih lompatan besar.

Lenyap sudah potret kelam Keluarga Lambert. Elise (Lin Shaye), yang tetap bersemayam di The Further selepas kematiannya, jadi penghubung tunggal dengan film-film lalu. Elise kini bertugas memandu si protagonis baru, Gemma (Amelia Eve), yang tanpa ia sadari, kerap menyambangi The Further kala terlelap. 

Gemma adalah ibu satu anak. Gemma pun merupakan putri tunggal dari Ingrid (Laura Gordon), yang semasa kecil tewas mengenaskan di depan matanya. Belum usai upaya Gemma menghalau trauma akibat tragedi tersebut, gangguan dari makhluk-makhluk The Further sudah merecoki kesehariannya. 

Denyut-denyut kesegaran dari naskah buatan sang sutradara, Jacob Chase, mulai terasa kala tiga lansia menyeramkan gemar mondar-mandir di depan kediaman si tokoh utama. Segera penonton bakal berasumsi bahwa pemandangan itu sekadar penampakan hantu biasa yang hanya bisa disaksikan Gemma. Tapi ternyata Maya (Island Austin), putrinya, turut melihat pemandangan serupa. Begitu pun tetangga mereka. 

Kabut misteri yang sudah sekian lama tak terdeteksi di seri Insidious pun seketika menyelimuti alurnya. Semakin menarik sewaktu diungkap kalau Gemma memiliki kekuatan spesial: Dia bisa membawa objek dari The Further ke alam manusia, pula sebaliknya. 

Tentu guliran kisahnya belum secara total mendobrak pakem. Sekitar 100 menit durasi masih didominasi kompilasi teror, dengan build-up yang bergulir jauh lebih lama daripada eksplorasi psikis tokoh-tokohnya. Out of the Further tetap produk arus utama, bukan spesies elevated horror yang bersedia mengedepankan kekuatan narasi.

Tapi seiring Gemma bertambah sering mempertontonkan kekuatan supernya, semakin pula film ini menjauh dari formula klise Insidious, untuk berevolusi menjadi entitas baru yang jauh lebih aneh. 

"Aneh" adalah amunisi yang filmnya siapkan. Pasca sebuah titik balik tak terduga yang mempersingkat rumusan klise nan menyebalkan soal "protagonis vs skeptis", Out of the Further beralih arah dari kisah rumah hantu menuju creature feature sarat momen eksentrik. 

Beberapa penonton akan menertawakan keanehannya (Siapa yang tidak tergelak menyaksikan hantu menodongkan senapan?), tapi toh seluruhnya bersifat intensional. Jacob Chase memilih tampil konyol ketimbang membiarkan penonton terkantuk-kantuk di kursi bioskop. Apalagi ketika ia enggan memungkasi filmnya dengan cara generik, lalu memilih metode over-the-top kreatif guna menuntaskan konflik sembari melempar metafora tentang proses beranjak dari trauma. 

Chase juga jeli mengolah jumpscare yang masih memegang otoritas tertinggi perihal meneror penonton. Selain timing presisi yang acap kali efektif mengecoh ekspektasi, sang sineas pun paham bahwa tidak semua penampakan mesti bersinonim dengan tata suara pengguncang gendang telinga. Ada kalanya kesunyian dibiarkan mengiringi, sementara hembusan napas penonton yang tercekat bak jadi efek suara pengganti. 

Untungnya daya kreasi Chase tidak mentok di urusan mengageti penonton. Cara lain yang menghasilkan efek berbeda tak lupa ditempuh. Sebutlah saat Gemma, yang berprofesi sebagai dokter gigi, mesti mengurus kehadiran sesosok pasien "spesial", yang (tanpa perlu penampakan wajah seram atau banjir darah) melahirkan momen luar biasa menjijikkan, dan tentunya aneh. Jika "aneh" merupakan rute baru yang Insidious akan tempuh ke depannya, dengan senang hati saya akan turut serta.

REVIEW - THE END OF OAK STREET

The End of Oak Street berhasil menangkap jiwa sinema 80an dengan baik, bukan cuma soal estetik, pula perihal naskah garapan sang sutradara, David Robert Mitchell, yang meruntuhkan citra "kekeluargaan aman" area suburban bagi masyarakat kelas menengah. 

Judul-judul dari era 80an (Poltergeist, 1982) atau masa peralihan sebelum (Halloween, 1978) dan setelahnya (The People Under the Stairs, 1991) memang gemar menelisik sisi kelam dari kehangatan tersebut. Tahun 1982 jadi latar The End of Oak Street, di mana Denise (Anne Hathaway) dan Greg (Ewan McGregor) tinggal bersama dua anak mereka, Audrey (Maisy Stella) dan Brian (Christian Convery). 

Mudah memberi cap "keluarga harmonis" pada mereka, tanpa tahu bahwa perceraian mulai mengintai, Greg kehilangan pekerjaan, sementara Denise diam-diam menuangkan kegundahannya dalam novel. Ketidaksempurnaan itu makin ditelanjangi tatkala fenomena aneh menimpa: Oak Street, jalanan tempat mereka tinggal beserta orang-orangnya, terlempar ke zaman prasejarah saat dinosaurus masih menancapkan kuasa di dunia. 

Topeng semu suburban pun ditanggalkan, seiring penonton diajak menyantap menu utama yang bak santapan campuran berbahan Spielbergian dan The Drifting Classroom karya Kazuo Umezu. Tapi Mitchell tidak tergoda untuk menggerakkan kisahnya dengan buru-buru. Para protagonisnya dibiarkan mengurai peristiwa janggal di sekeliling mereka setahap demi setahap. 

Musik gubahan Michael Giacchino yang bagai tengah menyuarakan penghormatan untuk keping-keping klasik John Williams, membantu menggaungkan sayup-sayup misteri yang pelan-pelan merambat. Sedangkan di departemen visual, kegemaran Michael Gioulakis memakai split diopter shot dan beberapa slow zoom khas 80an, menguatkan intensi sang sutradara menyusun ketegangan dengan penuh kesabaran.

Bicara penceritaan, naskahnya belum terlalu eksploratif dalam mengembangkan premis unik miliknya. Selepas latar prasejarah dijamah, The End of Oak Street praktis sekadar berkutat di formula survival generik. Protagonisnya berkeliaran, dihadang dinosaurus, bersembunyi, tertangkap, melawan balik, berhasil kabur, untuk kemudian mengulang skenario serupa dari awal.

Motor penggerak utamanya terletak pada performa Anne Hathaway yang demikian lincah untuk terus beralih wajah antara jagoan garang dan perempuan yang berupaya menekan luka, juga pembuktian keserbabisaan David Robert Mitchell di kursi sutradara. Selain jeli membangun intensitas secara perlahan, sang sineas lihai menyuguhkan spektakel bertenaga tatkala segerombolan dinosaurus (dengan tubuh berbulu yang cukup efektif memberi perbedaan dengan kadal-kadal raksasa Jurassic Park) mulai melancarkan aksi. 

Hanya saja, pilihan konklusinya sedikit mengganjal. Jika Mitchell ingin menciptakan suasana bahagia, ada dampak kelam yang dipantik oleh keputusan karakternya. Sedangkan bila filmnya memang berniat menelusuri sisi gelap hasrat dan ego manusia, tiada eksplorasi memadai dari ending tersebut. Hei, tapi ini film tentang perjalanan waktu bertemu dinosaurus. Rasanya tidak perlu terlampau jauh memusingkan substansi penutup beraroma The Twilight Zone itu.