REVIEW - AGENSI RUMAH TANGGA
Disusun berdasarkan novel berjudul sama karya Almira Bastari, Agensi Rumah Tangga tidak mendompleng tren cerita perihal kemiskinan dan pergulatan kaum kelas menengah. Protagonisnya tak pernah bergelut dengan persoalan piutang maupun atap rumah yang jebol. Film arahan Naya Anindita ini adalah kisah mengenai perempuan dengan privilese yang sudah berdaya, kemudian berupaya memberdayakan perempuan-perempuan lain yang tak seberuntung dirinya.
Katia (Enzy Storia) nama si tokoh utama. Baru saja ia kehilangan pekerjaan sebagai manajer perusahaan rintisan. Enam bulan sudah ia menganggur, dan si ibu, Titin (Unique Priscilla), sudah merongrong Katia agar mengikuti jejaknya dengan menjadi PNS.
Karakter Titin cukup menarik. Dia tipikal ibu-ibu yang cerewet tentang keteraturan dalam keseharian, pun lebih memercayai rekomendasi Facebook ketimbang saran anak sendiri. Tapi penokohan Titin lebih dari sekadar "rempong". Dia mampu mengobrol santai sembari menerima candaan putrinya, memberi Unique Priscilla peluang untuk selangkah menjauhi figur "ibu sedih" yang belakangan melekat pada peran-perannya.
Kembali ke Katia. Kendati lama menganggur, ia masih menyimpan tabungan, punya mobil untuk dijual serta rumah selaku aset pribadi, juga memiliki ibu yang bakal tetap menerima dana pensiun. Di bawah Katia ada berlapis-lapis jaring yang memberinya peluang untuk jatuh berulang kali. Secara naluriah, individu dengan privilese seperti Katia jadi lebih berani mengambil risiko.
Katia tetap mendaftar ke berbagai perusahaan, bahkan mengikuti tes CPNS sesuai permintaan sang ibu, namun diam-diam, ia mendirikan usaha penyedia jasa pembantu yang diberi nama "Agensi Rumah Tangga". Dibantu mantan ART di rumahnya, Bi Minah (Tike Priatnakusumah), Katia mengumpulkan para perempuan dari desa yang bersedia dipekerjakan di Jakarta.
Bagaimana Katia mampu mengembangkan bisnisnya tanpa pengalaman? Sahabatnya, Sashi (Fita Anggriani Ilham), datang mengulurkan bantuan berupa jaringan luasnya dengan para pesohor. Alhasil, Kafka (Afgansyah Reza) si penyanyi ternama pun jadi klien pertama. Sekali lagi, privilese berperan besar. Keliru? Tentu tidak, sebab Katia memanfaatkan betul keistimewaan miliknya.
Pada suatu kunjungan, Katia terkejut mendengar cerita Bi Minah tentang dinamika gender di desanya. Ketika para suami yang jadi korban PHK memilih ongkang-ongkang kaki sambil bermain judi alih-alih meniadakan gengsi dengan mencari nafkah sebagai kuli, para istri mengambil alih posisi. "Perempuan bisa beradaptasi di segala kondisi dan medan, lebih luwes, sehingga mampu mengerjakan apa saja", kurang lebih demikian ucap Bi Minah.
Disokong pengarahan beraroma power pop (cepat, menyenangkan, ringan) dari Naya Anindita, Agensi Rumah Tangga melebarkan skala penceritaannya melalui setumpuk subplot, yang mayoritas memberi sorotan terhadap suka duka dunia ART. Seorang jadi korban kekerasan, seorang tertusuk rindu akan buah hati di desa, seorang lagi menaruh hati pada majikannya.
Ada pula cerita mengenai Nisa (Nada Novia), putri Bi Minah yang turut bergabung di perusahaan Katia. Sedari lama Nisa cemburu pada Katia, yang dianggapnya lebih diberi kasih sayang oleh Bi Minah. Problematika ini menarik. Kendati jarang diberi sorotan di layar perak, bisa jadi ia marak menghantui dinamika keluarga ART yang dibebani tugas mengurus buah hati majikan sejak kecil.
Deretan subplot di atas urung ditelisik secara memadai, beberapa di antaranya juga minim dampak emosi karena mampu segera teratasi lewat solusi instan. Terasa betul bahwa naskah buatan Ayu Anggraini dan Upi Avianto sebatas ingin merekam sebanyak mungkin fenomena daripada menggalinya sedalam mungkin.
Setidaknya film ini enggan mengambil jalan tengah "populer" kala mesti mengakhiri gesekan antara Katia dan Titin. Agensi Rumah Tangga tetap berpegang teguh pada prinsip modern yang ogah meromantisasi disfungsi dalam hubungan keluarga. Pengakuan atas pengorbanan orang tua bukan berarti mewajibkan anak pasrah membiarkan impiannya disetir.
Jika menyuguhkan hiburan menyenangkan merupakan gol utama, maka Agensi Rumah Tangga berhasil mencapainya. Aroma dramedi dan romcom 2000-an, yang tampil ringan dengan menggiring permasalahan riil ke arah lebih fantastis pun menguar kuat. Apalagi Naya sangat jeli mengarahkan komedi. Humor berbasis interaksi karakter tampil menggelitik lewat kenaturalannya, sementara banyolan absurd yang turut memamerkan kreativitas naskah bisa dimaksimalkan kekonyolannya.
Saya selalu menikmati persahabatan Katia-Sashi yang ditunjang oleh kelincahan Enzy Storia dan Fita Anggriani Ilham saling melempar kata-kata jenaka. Tapi faktor esensial komedinya berasal dari barisan pelakon di balik tokoh-tokoh ART. Nama-nama seperti Ummi Quary (bintang tergila film ini), Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Boah Sartika, hingga Priska Baru Segu, jago menangani komedi, yang selain mengundang tawa, berperan pula selaku dinamo penggerak bagi kebersamaan karakternya dalam perjalanan mereka memberdayakan diri.
REVIEW - OASIS: DON'T LOOK BACK IN ANGER
Teruntuk yang menghabiskan lebih dari satu dekade menanti gencatan senjata Gallagher Bersaudara namun kurang beruntung disambangi oleh tur mereka pada tahun 2025 seperti saya, Oasis: Don't Look Back in Anger adalah hal yang paling mendekati pengalaman menonton konsernya. Rasanya normal bila keran air mata ogah menutup selama dua jam.
Sampai saya menengok ke arah istri di kursi sebelah, dan ternyata matanya pun bak dibasahi titik-titik kabut. Dia bukan penggemar. Beberapa nada serta lirik Oasis familiar di telinganya, tapi tidak kata per kata. Fenomena itu jadi bukti dalil yang diutarakan Will Lovelace dan Dylan Southern selaku sutradara, bahwasanya Oasis membinasakan sekat-sekat pemisah kemanusiaan.
Karya mereka minim kejelian eksperimentasi Blur yang mengundang takzim para cendekia skena musik, bukan pula representasi jejas hati kaum terbuang serupa Suede. Kita tidak perlu punya identitas tertentu untuk merasa terwakili oleh olahan nada Gallagher Bersaudara.
"Kami bukan mewakili gagasan sayap kanan", ucap Noel di sesi wawancara filmnya. Oasis mungkin merupakan satu dari sedikit musisi yang cocok bersikap apolitis. Mereka tidak wajib menggiring persepsi pendengarnya ke satu sisi. Sebagaimana nampak di banyak rekaman film ini, lagu serta konser Oasis ibarat suaka aman bagi siapa saja untuk menyesap setetes kebahagiaan manis kendati hanya sejenak.
Pasca rekap soal puncak karir hingga kejatuhan mereka (yang turut menandai runtuhnya hegemoni Britpop), penonton diajak menyambangi hari-hari latihan Oasis jelang tibanya tur reuni bersejarah yang diawali di Cardiff. Steven Knight selaku penulis enggan sekadar menggambarkan sekumpulan laki-laki paruh baya menggeber distorsi gitar di ruang latihan sempit tersebut.
Intensitas turut dibangun. Kecemasan pelan-pelan makin mencekik tatkala kekhawatiran jika segalanya takkan bergulir mulus jadi posibilitas yang sukar ditepis. Fakta bahwa Liam baru bergabung di hari kedua secara cerdik dipakai oleh para pembuatnya guna menebalkan ketegangan. Mikrofon tak bertuan nampak berdiri di tengah kehampaan. Lovelace dan Southern paham bagaimana cara memberi "suara" bagi visual filmnya.
Nyatanya, begitu Liam menumpahkan karisma sembari bernyanyi (disamakannya dengan proses mengeksorsis iblis), jari-jari Noel menari-nari di atas gitar, sementara Bonehead membentuk "tembok suara" khas Oasis melalui isiannya, semua berlangsung baik-baik saja. Pada akhirnya musik merekalah yang bicara, sebagaimana musik yang sama berbicara ke lubuk hati jutaan pendengar di luar sana.
Tengok saja kisah-kisah humanis yang terpotret di antara rangkaian panggung Oasis Live '25 Tour: Seorang ibu dari Wales memperoleh jembatan berkomunikasi dengan anaknya yang autis berkat Talk Tonight, sepasang sahabat penyelam dari Korea Selatan terhubung lewat Acquiesce, sedangkan penyintas ledakan bom di Manchester mendapat kekuatan guna menghadapi survivor guilt dengan mendengarkan Don't Look Back in Anger.
Setiap negara pun memiliki "lagu kebangsaan Oasis" masing-masing. Argentina dengan Wonderwall, sementara Some Might Say jadi penyulih semangat rakyat Irlandia. Kemudian sewaktu konser digelar, tercipta pengalaman komunal tanpa batasan daerah, gender, ras, maupun usia. Sederhananya, dokumenter ini menangkap hal-hal luar biasa dengan skala yang cenderung sukar dipercaya, terkait relasi musisi dan pemujanya.
Di bioskop tempat saya menonton, tiga bocah yang masih pantas duduk di bangku SMP nampak antusias, tertawa, saling berjabat tangan, bahkan melompat kegirangan seraya memasuki studio. Kaus Oasis dengan bangga mereka kenakan. Band asal Manchester ini memang pernah mati suri selama 15 tahun, namun para penggemarnya terus mewariskan karya mereka ke telinga dan hati generasi berikutnya.
Dibarengi penyuntingan liar dari George Cragg dan Martina Zamolo yang sempurna menggambarkan "kekacauan" lautan manusia dalam konser Oasis, Lovelace dan Southern gemar betul menangkap reaksi emosional para penonton konser, yang pada akhirnya menularkan rasa serupa pada penonton filmnya. Jadilah suguhan sarat empati yang kaya akan sensitivitas, namun tetap sejalan dengan semangat Oasis yang menolak nuansa melodrama secara berlebih.
Kita takkan menyaksikan Gallagher Bersaudara duduk berdua seraya menitikkan air mata sebelum akhirnya berpelukan mesra. Liam tetaplah figur dengan segudang komentar eksentrik yang separuh di antaranya begitu jenaka, sedangkan separuh sisanya sukar dimengerti oleh non-Mancunian. Keduanya masih sama, hanya semakin dewasa untuk bisa memahami bahwa alih-alih berubah, mereka cuma harus menerima satu sama lain.
Di sebuah adegan, seorang pendeta Manchester berkhotbah tentang proses memaafkan sesama manusia, dengan menjadikan reuni Gallagher Bersaudara sebagai pondasi cerita. Apakah Oasis otomatis menjadi band religius? Tentu tidak. Oasis tak perlu memaksakan diri menjadi apa pun selain diri sendiri, atau menggiring karya mereka guna menyokong narasi tertentu. Oasis enggan membatasi bagaimana musik mereka "berbicara", dan karena itulah lagu-lagunya ampuh meruntuhkan segala macam tembok pembatas yang manusia dirikan.
REVIEW - HOPE
Berbeda dengan karya-karyanya sebelum ini (The Chaser, The Yellow Sea, The Wailing) yang punya lapisan cerita tebal, melalui Hope kita melihat Na Hong-jin membuang jauh-jauh substansi dalam naskah guna memberi ruang baginya memamerkan kecakapan mengarahkan spektakel tak berotak, yang diharapkan dapat merintis waralaba layar lebar baru.
Tanpa basa-basi penonton segera ditarik ke tengah konflik, ketika Ko Bum-seok (Hwang Jung-min), kepala polisi Hope, desa pelabuhan kecil dekat zona demiliterisasi, bersama sepupunya, Ko Sung-ki (Zo In-sung), menyelidiki fenomena aneh berupa penemuan bangkai hewan yang ditengarai jadi korban serangan makhluk berukuran super besar.
Mereka pun berpencar, dan tidak butuh waktu lama sampai Bum-seok dan anak buahnya, Im Sung-ae (Hoyeon), menyadari alasan mengapa Hope nampak bak kota mati. Bukan cuma bangkai hewan, setumpuk mayat warga yang tewas mengenaskan mulai ditemukan.
Darah menggenang, potongan tubuh berceceran, reruntuhan berserakan, teriakan ketakutan dari orang yang bertatapan dengan maut pun sesekali terdengar. Na Hong-jin memaksimalkan ragam elemen audiovisual tersebut untuk menyulut kengerian tanpa perlu buru-buru menampakkan wujud si pembawa teror. Asumsi penonton dipermainkan. "Makhluk macam apa yang sanggup semudah itu meremukkan badan manusia?"
Sepanjang babak pertama yang berlangsung cukup lama, ceritanya menolak berprogres. Tapi siapa berani protes di saat Hwang Jung-min kembali memancarkan pesona "dramedi" khasnya sebagai aparat berdedikasi kendati acap kali kurang bisa diandalkan?
Tapi utamanya, babak pertama Hope adalah panggung bagi Na Hong-jin. Dibantu tata kamera arahan Hong Kyung-pyo yang bergerak kesetanan tanpa mengenal batas, sang sutradara meleburkan seluruh ilmu "action directing 101". Bagaimana mengatur bloking di tengah sekuen aksi, di sudut mana kamera mesti diletakkan dan ke mana harus digerakkan, hingga perihal kapan tepatnya gerak lambat dimulai serta diakhiri supaya memperoleh efek dramatis sempurna.
Banyak kritik pedas menghampiri Hope terkait efek komputernya, terutama begitu si monster akhirnya menampakkan diri. Saya setengah setuju. Momen sewaktu sekumpulan monster berlari ngebut di tengah tanah lapang jelang babak final memang terlihat menyedihkan, tapi sisanya merupakan pemandangan yang jamak ditemui dalam blockbuster Korea Selatan.
Kasar, artifisial, namun wajar, mengingat memang baru sampai di situ tingkat teknologi sinema arus utama mereka. Apalagi Na Hong-jin mampu menebusnya dengan penyutradaraan aksi kelas satu, dengan membuat monsternya rutin bergerak secara agresif saat memburu mangsa. Debaran jantung selalu berhasil dipacu tiap si monster, dengan penuh nafsu membunuh, melempar benda-benda berukuran besar ke arah protagonisnya.
Sementara Bum-seok dkk. berburu monster, penonton diajak mengobservasi paranoia lain di seantero desa yang eksis berdampingan dengan zona demiliterisasi. Tampak setumpuk spanduk mewanti-wanti supaya warga mewaspadai penyusup. Ketakutan akan sosok asing pun disebarkan. Tapi begitu babak pertama usai, perlahan Hope membangun kesadaran penontonnya, bahwa ketimbang makhluk asing dari luar negeri maupun luar Bumi, mungkin saja kitalah ancaman mematikan sesungguhnya.
Sayang, seiring narasi yang terus membesar, naskah buatan Na Hong-jin semakin tidak yakin akan apa yang mau disampaikannya. Kemerosotan kualitas Hope bermula tatkala babak keduanya memberi sorotan lebih terhadap "tim hutan" yang dipimpin Sung-ki, di mana mitologi mengenai para monster dipaparkan dengan cara yang terlampau serius sekaligus generik sehingga ampuh menyulut rasa kantuk.
Aura bersenang-senang dari babak pertama pun lenyap seketika. Na Hong-jin bagai terbutakan oleh ambisi, sehingga belum seutuhnya rela menyerahkan jiwa pada pesona b-movie, kendati jejak-jejaknya (serbuan monster, cerita tipis, barisan tokoh yang tidak bisa bersikap serius terlampau lama, humor toilet) sudah berserakan di sepanjang durasi.
Klimaksnya kembali mengaktifkan "mode dewa" dalam pengarahan aksi sang sutradara, melalui kejar-kejaran sarat gerak akrobatik bak pertunjukan sirkus, yang dipungkasi oleh peristiwa konyol tak terduga, senada dengan cara sinema kelas b mengakhiri cerita (dalam artian tertentu, agak mengingatkan ke Feast III: The Happy Finish). Menyenangkan!
Ending-nya tidak semenyenangkan itu. Bukan karena absurditas miliknya, sebab poin tersebut malah berpotensi memberi hentakan pamungkas guna mengukuhkan status Hope selaku kebodohan menyenangkan yang mengacungkan jari tengah pada keseriusan. Konklusi yang mengaburkan pesan tentang "siapa ancaman sebenarnya?" itu menyisakan kekecewaan karena membuat segalanya jadi serba rumit dengan nuansa yang terlampau serius, didasari ambisi membuka posibilitas bagi terciptanya waralaba.
REVIEW - ALL WISHES COME TRUE!
All Wishes Come True! yang diangkat dari legenda mengenai Eight Immortals merupakan bukti sahih bahwa sinema animasi Cina telah mengokohkan pondasinya. Bukan soal teknologi, melainkan kejelian memanfaatkan sifat tanpa batas dari mediumnya, untuk mengeksplorasi kekayaan cerita rakyatnya yang sarat keajaiban.
Tengok saat kita pertama menjejakkan kaki di Gunung Penglai. Detail animasinya mumpuni, tapi yang paling memukau adalah visi Mu Zhengyang selaku sutradara sekaligus penulis naskah, perihal presentasi keajaiban dunia Penglai.
Entitas ilahi, dan manusia yang berbondong-bondong tiba guna mengungsi dari bencana alam tanpa henti, hidup berdampingan di tengah semesta anakronistis hasil buah pikir Mu Zhengyang. Kadang Penglai nampak sesuai dengan citra kisah-kisah legenda, tapi ada kalanya ia terlihat futuristik (kendaraan bak mobil terbang, terowongan bertabur neon, sistem para dewa mengabulkan doa manusia yang sudah terkomputerisasi).
Dunianya aneh tetapi hidup. Di situlah kita bertemu Lü Dongbin (Li Shaozhe), yang meminta bantuan mantan kakak seperguruannya yang kini alih profesi menjadi pencuri, Zhongli Quan (Chen Hao), guna mencari lentera keramat yang konon dapat menghentikan segala bencana. Lentera tersebut dipercaya ada dalam ruang harta milik dewa.
Nantinya, enam manusia lain bakal turut serta menantang superioritas dewa: He Xiangu (Lidong), Han Xiangzi (disuarakan bergantian oleh Dong Tianyi, Yu Pengli, dan Huang Yushuo seiring proses tumbuh kembangnya), Cao Guojiu (Zhang Yunqi), Lan Caihe (Cao Zhishan), Zhang Guolao (Deng Xiansen), dan Li Tieguai (Guozi Gege). Rencana pencurian lentera dijalankan, sementara delapan makhluk fana tersebut pun berupaya mencuri peluang memperbaiki nasib.
Sayang, rencana rancangan Mu Zhengyang terlampau sederhana untuk bisa melahirkan cerita heist seru. Kedelapan tokoh utamanya melakukan penggalian supaya bisa menerobos ruang harta melalui bawah tanah. Hanya itu. Tanpa misi sampingan yang menuntut kebolehan spesial tiap karakter, tiada pula trik cerdik yang menyulut kekaguman penonton.
Paparan heist-nya amat berlawanan dengan kompleksitas mitologi yang ditawarkan All Wishes Come True!. Ada kalanya kompleksitas itu agak membuat kewalahan, akibat eksposisi verbal serba ngebut yang bak menganggap seluruh penonton sudah mempelajari tiap detail cerita rakyat Cina sampai khatam.
Babak kedua memang jadi titik nadir yang dihadang pelbagai kekurangan, tidak terkecuali soal pendalaman karakter. Di samping Lü Dongbin dan Zhongli Quan, dinamika antara eight immortals luput dikulik secara memadai. Akibatnya, tatkala delapan jagoan kita kembali bersatu pasca sempat hancur selepas hadirnya batu sandungan yang merusak mental mereka, proses penyatuan itu terkesan dipaksakan. Tiada alasan meyakinkan yang membuat penonton percaya bahwa ikatan emosional mereka sudah seerat itu.
Situasi berbalik 180 derajat begitu figur antagonis yang sebelumnya lebih banyak beraksi di balik layar akhirnya diungkap. Saya akan membiarkan sosoknya tetap jadi misteri. Satu yang pasti, bila pemahaman terbesar anda mengenai legenda-legenda Cina berasal dari serial Journey to the West yang populer di era 90-an, eksistensinya bakal menghadirkan kejutan menyenangkan.
Sang antagonis menuntun All Wishes Come True! menuju final bombastis yang memiliki segala elemen wajib sebuah spektakel, dari parade visual epik, gelaran aksi seru yang mendorong para protagonis sampai ke titik batas kemampuan, barisan karakter yang akhirnya sukses mengundang simpati lewat tindakan heroik mereka, juga twist yang secara tidak terduga membuktikan kalau film ini senantiasa mengingat statusnya sebagai sajian heist. Begitu keseruan usai, Mu Zhengyang secara resmi sudah mengabulkan satu permintaan saya: menonton film animasi yang hebat.
REVIEW - CHIIKAWA THE MOVIE: THE SECRET OF THE MERMAID ISLAND
Film ini dibuat berdasarkan manga berjudul sama buatan Nagano (juga duduk selaku penulis naskah), Chiikawa, yang merupakan kependekan dari frasa Jepang, "Nanka Chiisakute Kawaii Yatsu" alias "sesuatu yang kecil dan menggemaskan."
Karena memang tokoh-tokohnya kecil nan menggemaskan. Segudang dagangan pendukung, stiker obrolan, hingga meme berpotensi lahir darinya. Beberapa makhluk mungil ini mampu bicara layaknya manusia, namun ada pula yang hanya mengeluarkan suara-suara imut (termasuk Chiikawa si tokoh utama) serupa Pokémon.
Pembukaannya sarat kepolosan khas kartun bocah yang rutin kalian putar untuk menghentikan kerewelan anak atau adik. Alkisah, Chiikawa beserta kawan-kawannya, Hachiware, Usagi, Momonga, dan Rakko, menerima undangan menyambangi Pulau Mermaid. Mereka dijanjikan santapan lezat, juga upah tinggi bila mampu menuntaskan misi pemberian warga setempat.
Rutinitas awal Chiikawa dkk. di Pulau Mermaid bukanlah suatu petualangan. Mereka menikmati hidangan, bermain-main, bersantai. Mungkin terlalu santai bagi penonton yang haus akan keseruan di layar perak.
Sampai akhirnya kita menemukan alasan mengapa kata "mermaid' disematkan sebagai nama pulau. Sesosok Siren raksasa ditemani dua duyung mungil menampakkan diri di hadapan para protagonisnya, sembari menyanyikan nada-nada lucu disertai lirik mengenai keinginan untuk memakan mereka. Kontradiksi unik film ini pun mulai mengungkap jati dirinya, seiring tersibaknya tirai penutup rentetan rahasia mengerikan pulau tersebut.
Bukan berarti filmnya mendadak bertransformasi jadi kerabat Happy Tree Friends. Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island tetap menjaga keamanannya selaku tontonan semua umur berkat kulit luar yang senantiasa menggemaskan. Visualnya bukan asal cerah, namun dibarengi keputusan cerdik menggambarkan warga Pulau Mermaid sebagai makhluk monokromatik tanpa wajah, guna menghindari sensory overload. Tokoh-tokoh utamanya pun jadi tak perlu berebut sorotan dengan mereka.
Secara visual, hal terdekat dengan "pemandangan dewasa" hanya berasal dari karakter Shimajiro si pemilik restoran sup kerang. Wajahnya nampak galak, tubuh kekarnya pun cuma dibalut selembar apron. Figurnya menonjol di antara makhluk-makhluk menggemaskan lain. Dialah karakter favorit saya di film ini.
Mencapai babak ketiganya, sisi kelam Chiikawa the Movie makin mengental dan membawa penceritaannya menuju tingkatan lebih tinggi. Anak-anak bakal tetap memandangnya sebagai kisah sederhana tentang kebaikan melawan kejahatan, atau jagoan gemas melawan monster seram. Penonton dewasalah yang akan bisa melihat wajah gelap dari ambiguitas moral milik plot twist-nya, yang menunjukkan betapa bentuk cinta satu pihak dapat dipandang sebagai hal keji oleh pihak lain.
Menyusul kemudian adalah momen pesta di depan api unggun yang menguarkan aroma bittersweet perihal konsep "bersama selamanya", sementara lagu Kyou no Hi wa Sayounara (Today is the Time for Goodbye) yang terdengar magis, secara sempurna mewakili perasaan kompleks dari peristiwanya. Akhirnya, Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island pun dipungkasi oleh implikasi kelam mengenai ketakutan terhadap malapetaka yang setia mengintai hidup individu pemilik dosa. Hal-hal di atas tersaji dalam film seputar makhluk-makhluk mungil menggemaskan.
REVIEW - OPERASI PESTA COPET
Operasi Pesta Copet yang dibidani oleh Edy Khemod selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Rino Sarjono) adalah karya yang lahir dari gairah dan cinta. Khemod yang juga penggebuk drum Seringai, menumpahkan antusiasmenya terhadap dunia musik termasuk rangkaian pertunjukannya dalam kulit film heist.
Bersama ekspresi cinta, rasa resah pun turut serta. Dua hal tersebut mustahil dipisahkan. Fenomena copet konser, yang kebetulan pernah menghampiri Seringai di Solo, jadi keresahan utama sang sineas di film ini. Protagonisnya, Ijal (Iqbaal Ramadhan), adalah pencopet ulung yang tengah menyasar keriuhan Pesta Pora sebagai panggung teranyar aksi besarnya.
Ijal tidak sendiri. Tiga anggota tim lain ikut berpartisipasi: Adut (Kristo Immanuel) si sahabat yang juga partner mencopet Ijal, Tia (Zulfa Maharani) si mantan pacar yang sempat terciduk kala melancarkan aksi kriminal bersama, dan Melodi (Kawai Labiba) dengan segala ilmunya terkait dunia perkonseran.
Seiring proses, istilah-istilah dunia copet (ngambang, ngalih, mutus, nadah, dll.) filmnya ajarkan pada penonton. Begitu pula ragam trik licik mereka, semisal semprotan air cabai yang digunakan Silet (Fauzan Lubis) selaku mentor copet Ijal. Bukan sekadar keseruan yang film ini harap penonton bisa peroleh, pula pelajaran berharga supaya tidak kecolongan di dunia nyata.
Filmnya berhasil meniti titik tengah yang cukup tricky, kala berupaya mendorong penonton bersimpati pada protagonis, sambil menghindari kesan menjustifikasi tindak kriminalnya. Mereka berempat adalah rakyat kelas bawah, dengan pemukiman kumuh padat penduduk selaku tempat bernaung, yang berkat permainan ambiens mumpuni departemen tata suara (misal teriakan berisik bocah yang terus bersahut-sahutan) bisa dipotret secara meyakinkan.
Operasi Pesta Copet bersedia membuka mata atas kegagalan sistem selaku pangkal kemiskinan yang menghimpit tokoh-tokohnya. Tapi di sisi berlawanan, kesimpulan "tidak ada pilihan lain" yang mereka tarik kala memilih jalan mencopet pun enggan dibenarkan.
Sedangkan kepedulian kepada karakternya banyak dibangun memakai susunan komedi. Selain menyulut tawa, yang mana berhasil dilakukan, humornya berfungsi mengeratkan hubungan antar karakter, pula karakter dengan penonton.
Apalagi tiap pelakon menyumbangkan performa maksimal. Iqbaal sebagai jamet yang acap kali berlaku bodoh, Kristo bermodal kejelian menimpali banyolan, Zulfa dengan kepiawaian menggilas porsi drama dan komedi sama baiknya, hingga Kawai yang piawai meniupkan nyawa di momen "seremeh" apa pun.
Pujian khusus rasanya patut disematkan bagi Fauzan Lubis, vokalis Sisitipsi yang menjalani debut aktingnya di sini. Tutur kata sampai gerak-geriknya sebagai "abang-abangan tongkrongan menyebalkan" adalah wujud kenaturalan yang hanya bisa dipertontonkan seorang penampil sejati.
Tapi bintang utama pertunjukan ini tetap Edy Khemod. Operasi Pesta Copet kentara dibuat oleh individu yang mencintai sekaligus memahami dunia musik hingga ke organ-organ terdalamnya. Akses mengambil gambar langsung di gelaran Pesta Pora memberi dorongan signifikan atas terciptanya kesan imersif, namun tanpa pemafhuman Khemod perihal situasi apa saja yang mesti ditangkap guna mewakili keseruan konser, keistimewaan di atas bakal percuma.
Ada kalanya Operasi Pesta Copet tampil bak video klip musisi pop karena selipan pernak-pernik efek visual kaya warna yang sang sutradara pakai, tapi tidak jarang, terutama saat teknik shaky cam diterapkan bahkan di obrolan sederhana, Khemod menyuntikkan energi sehingga filmnya tersaji layaknya video rok progresif beroktan tinggi. Beberapa situasi pun hanya bisa dirumuskan oleh pecinta musik (dan konser). Sebutlah adegan wall of death yang menyulut intensitas secara kreatif.
Terkait babak ketiganya, saya yakin sineas dengan tingkat keilmuan musik yang tak semumpuni Khemod akan mengambil langkah mudah ditebak dengan menggaet nama-nama "kekinian", tapi Khemod dengan cerdik memilih Rhoma Irama. Membawakan 1001 Macam (lagu unik yang mengawinkan dangdut dan rap, lengkap dengan lirik sarat relevansi) sang "Raja Dangdut" bukan sekadar hiasan, tapi figur yang sempurna dengan konteks adegannya.
Pun pada dasarnya, Operasi Pesta Copet merupakan heist yang solid. Tanpa gebrakan baru, tapi semua unsur genrenya sanggup ditangani secara apik. Alur rencana operasi pencopetan karakternya dijabarkan dengan jelas, dari ragam tipu daya mencomot dompet, juga proses mengeluarkan barang curian dari lokasi. Penonton dilibatkan untuk memahami detail setiap langkahnya.
Subplot terkait luka masa lalu Ijal yang melibatkan sang ibu (Yeyen Lydia) juga untungnya tidak dibuat bermuara menuju resolusi khas drama arus utama sinema Indonesia, yang punya tendensi main aman demi memuaskan semua kalangan. Tidak semua kesalahan bisa dimaafkan. Anak tidak melulu wajib dipaksa mengalami amnesia tentang kekeliruan orang tua agar bisa menemukan kedamaian. Luka pun bisa usai sambil tetap menolak begitu saja lupa akan dosa masa lalu.

%20(1).png)




%20(1).png)

%20(1).png)

.png)