REVIEW - THE DEVIL WEARS PRADA 2
"Chick flick". Dahulu, istilah (seksis) tersebut kerap disematkan bagi tontonan semacam ini. Film khusus perempuan. Tidakkah laki-laki juga boleh menikmati film tentang setumpuk gaun bermerek yang dikenakan oleh protagonis perempuan seraya ia menavigasi hidup dan karirnya? Serupa pendahulunya dua dekade lalu, The Devil Wears Prada 2 memberkati mata dengan kecantikannya, pula menyulut tawa serta memenuhi hati lewat perjalanan si tokoh utama.
Kali pertama penonton bertemu lagi dengan Andy (Anne Hathaway), ia sedang berjalan melintasi keramaian New York. Bagaimana kamera menangkap pergerakannya, seketika mengingatkan pada pemandangan dari film-film pop 90-an dan awal 2000-an. Wajar, sebab David Frankel kembali duduk di kursi sutradara.
Andy dihadapkan pada fakta bahwa media cetak mulai hilang termakan zaman, tatkala ia dan rekan-rekan jurnalis lain kehilangan pekerjaan secara mendadak. Di saat bersamaan, Runway yang telah beralih ke medium digital, tengah didera skandal yang mengakibatkan kredibilitas Miranda Priestly (Meryl Streep) dipertanyakan.
Takdir bertaut. Andy direkrut sebagai editor guna mengatrol reputasi perusahaan, bertemu lagi dengan mantan bos yang dulu ia takuti, Nigel (Stanley Tucci) yang masih baik hati, berurusan dengan kekisruhan korporasi, pula bersinggungan dengan Emily (Emily Blunt) yang sekarang memegang jabatan penting di salah satu pendana terbesar Runway: Dior. Saya tersentuh oleh reuni para perempuan (plus seorang lelaki) yang sama-sama berjibaku mengejar karir masing-masing ini.
Andy kembali ke Runway bukan lagi pesuruh Miranda, melainkan rekan yang nyaris setara. Selain karena kini ia adalah jurnalis ternama, perubahan zaman membuat Miranda bukan lagi figur "tak tersentuh" seperti 20 tahun lalu. Dia mesti menggantung mantelnya sendiri, dilarang menghina bawahan, mendapati keterbatasan biaya, bahkan terpaksa menerima disetir oleh keinginan pihak lain.
Penggambaran tersebut sesuai dengan era yang enggan menjustifikasi eksistensi atasan toksik, tapi di sisi lain, rasanya ada "mistisisme" yang lenyap. Salah satu alasan The Devil Wears Prada begitu ikonik adalah penokohan Miranda yang terpisah amat jauh dari realita manusia biasa, dan keputusan lebih mendekatkannya ke bumi atas nama tuntutan zaman agak melucuti pesona filmnya.
Sebagai representasi era, perubahan tersebut memang diperlakukan. Era di mana jurnalisme berubah, sementara majalah mode yang dulu sakral kini direduksi menjadi konten yang publik nikmati sambil buang air. Saya merasa ulasan film pun mengalami nasib serupa. Telaah mendalam dianggap tindak berlebihan oleh publik yang lebih menggandrungi pemberian skor atau penghakiman "baik/jelek" secara instan.
Tapi naskah buatan Aline Brosh McKenna tidak bersikap layaknya makhluk purba yang mengerdilkan paham kekinian sambil mengenang "the good ol' days." Perspektifnya cukup berimbang, dengan mengamini betapa modernisasi, sebagaimana perihal apa pun di dunia ini, punya sisi positif dan negatif. Misal di satu kesempatan saat Andy mendapati stigma buruk yang ia sematkan pada Gen Z dibantah oleh kecerdikan asistennya, Jin Chao (Helen J. Shen).
Keresahan The Devil Wears Prada 2 terkait modernisasi cenderung dialamatkan pada fenomena hilangnya "keindahan" akibat tuntutan industri yang mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Film ini ingin melestarikan keindahan seperti desain baju, karya tulis, lukisan, hingga majalah bak kitab suci, maupun seni untuk membuat segala hal tersebut.
Jadilah dua jam penuh keindahan visual hasil persembahan baju-baju glamornya. Dunia milik kaum jetset yang mewah nan meriah. Di situlah jajaran pelakonnya berperan menginjeksi humanisme. Interaksi antara Anne Hathaway yang masih piawai mencurahkan kecanggungan, Emily Blunt yang membuat tindakan merendahkan orang lain jadi hiburan menyenangkan, dan Stanley Tucci lewat gaya deadpan andalannya, senantiasa membuat senyum saya mengembang.
Meryl Streep tetaplah Meryl Streep. Master seni peran yang punya segudang cara untuk menyulap kalimat sederhana jadi terdengar memiliki jutaan warna. Terdapat dua peristiwa yang menangkap kelihaiannya mengolah rasa. Pertama sewaktu ia dan Tucci berbagi momen personal, kedua saat Miranda mengakui ketidaksempurnaannya sembari menjabarkan realita mengenai perempuan yang mengorbankan banyak hal demi karir.
Miranda memang tak ubahnya monster, tapi dia berasal dari era yang menuntut perempuan bekerja dua kali lebih keras dan bersikap dua kali lebih ganas dari laki-laki supaya berkesempatan mereguk sukses. Kini waktunya bagi generasi Andy untuk memastikan bahwa perempuan di industri tidak perlu bertransformasi menjadi "Miranda 2.0" guna mencapai puncak dunia.
Tentu saya menyadari resolusi konflik yang film ini tawarkan terkesan menggampangkan. Tapi toh saya enggan ambil pusing, sebab realitanya, andai prinsip "women support women" sungguh diterapkan secara tepat, pun perempuan memiliki lebih banyak daya dan kuasa, dunia ini dengan segala badainya memang bakal menjadi lebih gampang diarungi.
REVIEW - MOTHER MARY
Pondasi Mother Mary sesungguhnya tersusun atas kisah klasik (kalau tak mau disebut "usang") tentang pergumulan bintang pop dengan belenggu ketenaran. Tentang masalah personal sebagai manusia biasa yang tersembunyi di balik pemujaan para penggemar, yang memandangnya bak figur religius macam Bunda Maria. Tentang kegelapan yang bersemayam dalam kulit luar penuh pendaran cahaya.
Keberadaan David Lowery selaku sutradara sekaligus penulis naskah, dengan pengalamannya melahirkan sejumlah karya yang menantang narasi konvensional seperti A Ghost Story (2017) dan The Green Knight (2021), menjadi pembeda. Ibarat musisi, Lowery memakai Mother Mary sebagai medium bereksperimen untuk membawa musik pop ke arah yang lebih artistik.
Mother Mary (Anne Hathaway) adalah bintang pop yang bakal mengingatkan ke nama-nama seperti Beyoncé, Taylor Swift, atau Lady Gaga di dunia nyata, namun dengan barisan lagu elektropop atmosferik ala Charli XCX dan FKA Twigs (keduanya turut menyumbang lagu, FKA Twigs bahkan muncul dalam peran kecil).
Karya-karyanya memang menghipnotis. Lowery mengarahkan tiap aksi panggung Mother Mary dengan kemegahan sebagaimana mestinya tur stadion musisi nomor satu, sementara kostum-kostum eksentrik buatan Bina Daigeler bukan cuma cantik, pula mendefinisikan ketegasan si protagonis mengenai identitas personanya.
Tapi akibat suatu peristiwa yang baru akan diungkap di paruh akhir, karir Mother Mary berada dalam titik nadir. Dia berniat kembali, namun tak jua merasa cocok dengan kostum yang timnya sediakan. Dari situlah ia mencari Sam Anselm (Michaela Coel), desainer sekaligus mantan sahabat dan kolaboratornya di awal karir.
Konflik membuat hubungan keduanya kini teramat asing, namun ikatan di antara mereka masih sekuat dulu. Begitu kuat hingga nyaris terasa magis. Tanpa harus melempar kabar, Sam dan Mary dapat merasakan keberadaan satu sama lain dari jarak jauh. Pertalian batin dengan seorang manusia ini lebih substansial dalam hidup Mary ketimbang dengan jutaan pemujanya.
Mary meminta Sam mendesain kostum untuk konsernya. Sam sempat menolak. Sakit hati membuatnya bertahun-tahun menghindari mendengarkan lagu-lagu Mary. Kemudian mereka bicara, bicara, dan bicara, mengenang setumpuk peristiwa lalu sambil sesekali meraba-raba posibilitas masa depan yang masih begitu samar.
Michaela Coel menampilkan performa yang kaya akan eksplorasi ekspresi. Raut wajahnya mampu sedemikian cepat beralih rupa, dari yang bersifat "besar" ke arah yang lebih subtil. Sedangkan Anne Hathaway punya karisma panggung yang meyakinkan selaku bintang pop pujaan jutaan manusia.
Sejatinya menarik untuk menyelisik makna-makna yang bersembunyi di antara kalimat dalam baris dialog hasil tulisan Lowery, yang menuntut Mary dan Sam terus saling bicara dalam ambiguitas. Tapi proses mendengarkan obrolan dua orang yang seolah ingin sok misterius dalam berkomunikasi selama nyaris dua jam memang cukup melelahkan. "These metaphors are exhausting", ucap Sam. Saya pun mengamini.
Mother Mary perlu tambahan injeksi olah visual khas David Lowery, di tengah presentasinya yang mengedepankan ungkapan verbal. Untung babak keduanya memfasilitasi kebutuhan tersebut, tatkala Mary dan Sam mulai membagi pengalaman aneh masing-masing saat melihat sosok hantu berwujud kain merah yang melayang dalam gerak lambat.
Lowery kembali memposisikan "hantu" bukan selaku makhluk supernatural yang mampu diusir memakai mantra atau doa, melainkan entitas abstrak yang mewakili ketidaktuntasan problematika manusia. Mungkin dilandasi tendensi industri musik arus utama untuk bermain aman di hadapan publik, Mary memilih menutup jati dirinya sebagai queer, yang secara otomatis membuat Sam terasing.
Lowery membawa hantu itu kembali ke depan dua tokoh utamanya, lalu menghantarkan breakup story (juga sebuah kisah usang) yang diangkat nilai estetikanya, guna mempercantik proses protagonis mengangkat luka di hati mereka. Kalimat "Your song is the greatest song in the history of song" yang filmnya perdengarkan sebagai penutup pun menjadi ungkapan indah nan emosional mengenai pemujaan terhadap sesosok manusia yang tidak melulu dibarengi obsesi berlebihan untuk memiliki.
REVIEW - PARA PERASUK
Melalui karya terbarunya, Wregas Bhanuteja enggan memandang mistisisme sebagai kekuatan jahat untuk dilawan. Sebaliknya, ia merupakan wadah perlawanan. Daripada ketidaktahuan pembawa ngeri, sifat abstrak dunia mistis dipakai melambangkan ruang bebas tanpa kekangan di mana imaji meruntuhkan batas kemustahilan.
Para Perasuk bukan film Indonesia pertama yang melakukannya, bahkan di tahun ini. Salah satu segmen The Period of Her, yakni Serixad Patah Hati karya Linda Andriyani, menawarkan perspektif serupa. Tapi yang membuat Para Perasuk menonjol adalah bagaimana Wregas (menulis naskah bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra) mengekspansi konsep tersebut guna melahirkan dunia magical realism unik.
Latarnya adalah Desa Latas yang sering menggelar "Pesta Sambetan" (penggunaan kata "pesta" menekankan signifikansi acara tersebut). Di sana, peserta yang disebut "pelamun" membiarkan tubuh mereka dirasuki roh yang kehadirannya dibimbing oleh iringan musik anggota sanggar sambetan yang punya julukan "perasuk".
Bersenjatakan tiupan selompret miliknya, Bayu (Angga Yunanda) bercita-cita jadi perasuk handal di sanggar pusat yang diketuai oleh Guru Asri (Anggun dengan tarikan suara yang seolah sanggup merobohkan dinding pemisah alam). Ketika sanggar pusat mengadakan seleksi, Bayu pun berambisi lolos demi mewujudkan cita-cita tersebut, meski harus bersaing dengan sahabatnya, Pawit (Chicco Kurniawan), juga si rival berat, Ananto (Bryan Domani).
Persoalan finansial jadi salah satu alasan utama. Bayu meyakini bahwa tambahan uang bakal mengurungkan rencana sang ayah (Indra Birowo) menjual rumah mereka pada Wanaria, korporasi yang berencana mengubah Desa Latas menjadi area perhotelan sehingga menyulut amarah banyak warga.
Masalahnya, Bayu belum betul-betul menguasai seni sebagai perasuk, yang oleh film ini dipakai sebagai simbol puncak pencerahan manusia setelah sanggup menyatukan jiwa dengan semesta. Perasuk andal dapat membawa kebahagiaan bagi para pelamun yang gundah. Wujud kebahagiaannya beragam, tergantung roh mana yang sedang dikerahkan.
Momen saat pelamun mencapai kondisi trans kemudian melangkahkan kaki ke alam roh dimanfaatkan oleh Wregas dan tim artistik untuk mengeksekusi ide-ide visual kreatif. Ada kalanya humor absurd menemani perjalanan kita menyatroni alam tersebut. Kombinasi semuanya berjasa meniadakan kesan repetitif saat alurnya berkali-kali mengulangi situasi di mana Bayu gagal menjaga konsentrasi, yang mengakibatkan kekacauan kala sambetan.
Sedangkan dari sisi pelamun, Laksmi (Maudy Ayunda), yang seketika mencuri hati Bayu, mengambil peran sentral. Sambetan merupakan eskapisme bagi Laksmi dari sebuah trauma. Medium yang memberinya tempat berlindung dari garangnya kepenatan dunia nyata, juga luka-luka yang menolak sirna. Bagi orang-orang seperti Laksmi, sambetan bukanlah parade klenik yang harus ditakuti, melainkan ruang aman yang bisa melindungi.
Tidak bisa makan enak? Roh semut bakal menghadiahkan ilusi sehingga para pelamun merasa mereka sedang menyantap hidangan mewah. Ada pula roh bulus yang melindungi dari rasa sakit, juga roh kutu yang memberi kemampuan melompat luar biasa tinggi bak manusia super, seolah membebaskan pelamun dari belenggu realita. Roh hewan-hewan yang sekilas remeh, dalam aktivitas yang oleh para skeptis jadi sasaran olok-olok, nyatanya ampuh selaku pelipur lara.
Wregas berhasil menenggelamkan dalam semesta magisnya yang menghipnotis, berkat bangunan dunia yang memperhatikan detail secara serius. Dunianya memang sarat keajaiban fantastis, namun subteks di baliknya kaya akan cerminan realis. Pembangunan tamak disentil, begitu pula arogansi manusia ibukota yang terlampau mendewakan logika mereka hingga punya tendensi mengerdilkan paham-paham spiritual.
Proses Bayu dan Laksmi kelak bakal mendorong mereka jatuh dalam titik nadir, tatkala masing-masing lalai bahwa semenyenangkan apa pun sebuah eskapisme, masih ada kenyataan yang wajib dihadapi. Ambisi mengaburkan mata Bayu, sementara luka tak tertahankan di hati Laksmi membuat aktivitas rekreasional melenceng ke arah adiksi. Lewat akting mereka, Angga Yunanda dan Maudy Ayunda menjembatani emosi antara persoalan dua insan tersebut, dengan penonton yang direpresentasikan realitanya.
Selepas perjalanan dua protagonisnya mengambil arah yang cenderung kelam, pilihan konklusi Para Perasuk mungkin terkesan naif. Apalagi Wregas (sebagaimana tampak di Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti) punya tendensi menuang banyak pemanis berupa dramatisasi berkadar tinggi di sela presentasi yang cenderung artsy.
Untungnya pendekatan di atas masih sejalan dengan intensi Para Perasuk, yang ingin mengajak penonton merasakan kebahagiaan sembari menemukan cahaya harapan. Filmnya berhasil mengingatkan tentang betapa budaya mistis negeri ini begitu kaya, sehingga semestinya tidak melulu dipakai menakut-nakuti, tapi juga diresapi sebagai cara menjalin keselarasan antara semesta dengan diri kita sendiri.
REVIEW - MICHAEL
Michael menampilkan hampir semua lagu hit Michael Jackson dari era 70-an sampai 80-an, baik lewat montase maupun reka ulang video musik dan pertunjukan panggung. Tapi proses magis seputar penciptaan lagu-lagu itu sama sekali lenyap. Dari mana asal nama Billie Jean? Bagaimana Michael bisa merumuskan sebegitu banyak aransemen luar biasa? Film garapan Antoine Fuqua ini hanya memedulikan nilai komersial, bukan esensi Michael Jackson sebagai salah satu musisi paling jenius sepanjang masa.
Sosok Michael direduksi menjadi produk yang dipamerkan dengan tanda "barang unik". Di salah satu kesempatan, Michael mengundang kebingungan kakak-kakaknya saat berbaring di tengah kolam renang. "Sedang menanti inspirasi lagu dari Tuhan", ucapnya. Segala bentuk kompleksitas seorang Michael Jackson disimplifikasi di sini.
Kisahnya bermula di tahun 1967. Kehidupan Michael kecil (Juliano Krue Valdi begitu luwes membawakan lagu-lagu di atas panggung) dipaparkan sebagai penjabaran bahwa banyak masalah personal yang kelak menolak berhenti menghantui Michael selepas dewasa, termasuk insekuritas terhadap kondisi fisik yang menyulut keinginan menjalani operasi plastik, disebabkan oleh satu orang: Joseph Jackson (Colman Domingo). Ayahnya.
Domingo tampil intimidatif sebagai monster bagi Michael kecil, yang bakal seketika menyabetkan sabuknya ke tubuh si putra bila dirasa gagal mematuhi perintah. Tapi didikan keras ini pula yang menuntun Michael bersama kakak-kakaknya mereguk kesuksesan sebagai The Jackson 5. Kemudian alurnya terus melompat liar dari tahun ke tahun, menyusun rekap dangkal bagi hidup si Raja Pop alih-alih upaya memahami sosoknya secara mendalam.
Michael tampil bak visualisasi halaman Wikipedia yang dapat penonton kumpulkan sendiri. Tiba-tiba Jermaine sudah hengkang dari grup tanpa penjelasan memadai, tiba-tiba The Jackson 5 telah hengkang dari Motown yang membesarkan nama mereka guna bergabung dengan CBS/Epic.
Filmnya tidak sempat menjelaskan poin-poin yang bisa meluaskan pemahaman penonton mengenai protagonisnya, tapi ia merasa perlu menampilkan momen saat Bubbles, simpanse peliharaan Michael, yang sedang bermain seorang diri. Penceritaan berbentuk rekap banal memang penyakit yang jamak menjangkiti film biografi, namun kondisi Michael jauh lebih parah, terutama karena ia mengangkat hidup individu sekompleks Michael Jackson.
Bukankah Thriller, dengan eksplorasi musik luar biasa kaya serta penyandang status "terlaris sepanjang masa" dengan penjualan melebihi 70 juta kopi, patut mendapat penelusuran lebih perihal musikalitasnya ketimbang sekadar menunjukkan dilema soal pemilihan judul album? Tentu barisan nomor seperti Billie Jean, Beat It, sampai Bad menghadirkan daftar putar yang asyik, tapi itu bukan pencapaian filmnya, melainkan Michael Jackson sendiri.
Fuqua mengkreasi reka ulang untuk beberapa video musik serta aksi panggung Michael dengan baik. Solid secara teknis, pula mirip dengan versi aslinya. Kata "mirip" adalah kunci. Tanpa mengerdilkan pencapaian tersebut, Fuqua sudah menerima templat berkualitas yang hanya perlu ia ikuti polanya.
Kemiripan yang layak dibanjiri pujian terletak pada performa Jaafar Jackson. Departemen tata rias berkontribusi besar membuat fisiknya menyerupai sang paman, tapi Jaafar bukan semata-mata sedang melakukan cosplay atau impersonasi hampa, melainkan meresapi jiwa Michael. Olah vokalnya, tariannya, hingga detail ekspresi yang memperkaya tarian tersebut, seluruhnya menampakkan kesempurnaan.
Di adegan sewaktu Billie Jean dibawakan, sesaat saya sempat lupa bahwa yang menghiasi layar bukan rekaman performa Michael Jackson sungguhan. Jaafar layak memperoleh film yang lebih baik. Michael layak memperoleh film yang lebih baik.
REVIEW - THE DRAMA
Sejauh mana kita bisa menoleransi masa lalu pasangan? Bagaimana kita mesti merespon saat mendadak rahasia kelamnya tersingkap? The Drama karya Kristoffer Borgli mengkaji problematika tersebut, dan bagi saya film ini penting ditonton oleh kalian yang berencana mengucap janji suci untuk menghabiskan seumur hidup bersama sosok tercinta.
Seminggu lagi Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) akan menikah. Seluruh persiapan tengah dimatangkan. Dibantu sahabatnya, Mike (Mamoudou Athie), Charlie menyusun pidato mengenai ragam hal berkesan dalam hubungan mereka, termasuk indahnya pertemuan pertama.
Emma kebingungan. Supaya menghindari kesamaan topik, ia harus mencari pokok bahasan lain. Peristiwa mana saja yang dapat ditulisnya? Charlie tidak cukup peka guna menyadari kegundahan si calon istri, terus melanjutkan tulisan tanpa membuka ruang diskusi. Egoisme itulah yang kelak jadi bibit ancaman di hubungan keduanya.
Suatu malam, bersama Mike dan istrinya, Rachel (Alana Haim), dua protagonis kita terlibat obrolan mengenai hal terburuk yang mereka pernah perbuat. Mike menjadikan mantan pacarnya sebagai "tameng" menghadapi serangan anjing. Mendengar itu, forum tertawa. Rachel pernah seharian mengurung anak berkebutuhan khusus dalam lemari. Lagi-lagi semua tertawa. Charlie bercerita soal perundungan secara daring terhadap teman sekelasnya. Sekali lagi forum tidak ambil pusing.
Tapi begitu Emma mengakui rencana melakukan penembakan semasa SMA yang urung ia eksekusi, kecanggungan seketika menyeruak. Amarah Rachel meledak karena sepupunya pernah jadi korban penembakan, sedangkan si calon suami hanya bisa terpana.
Hari-hari Charlie mulai dihantui asumsi liar. Tindakan-tindakan Emma terdahulu yang sebelumnya nampak remeh kini ia kaitkan dengan psikopati. Rangkaian imajinasi absurd yang dipoles memakai surealisme khas Kristoffer Borgli memenuhi kepalanya. Insekuritas serta rasa tidak percaya sejatinya merupakan reaksi yang wajar muncul pasca terungkapnya sebuah dusta. Selanjutnya tinggal bagaimana proses saling memahami berlangsung.
Borgli menggambarkannya sebagai proses yang luar biasa kacau. Gaya bercerita dan penyuntingannya yang sarat lompatan ekstrim mewakili dinamika psikis protagonisnya yang tengah kalut akibat terus diombang-ambingkan asumsi. Liar, kacau, tapi efektif membuat filmnya tampil bertenaga sekaligus menyenangkan.
Daya hibur pun The Drama bakal tereskalasi secara signifikan bagi penonton yang cocok dengan humor-humor gelap yang sudah Borgli siapkan. Hal-hal seperti penembakan massal di sekolah, pelecehan, hingga perundungan disentil, tapi The Drama tidak terkesan ofensif karena sang sutradara bukan mengajak penonton menertawakan isu-isu di atas, melainkan kecanggungan kala sederet pokok bahasan tadi gagal diperbincangkan dengan tepat.
Kecanggungan itu turut disampaikan dengan apik oleh dua pelakon utamanya: Robert Pattinson dengan kekikukan dan ketakpastian dalam tiap sikapnya (mengonfirmasi ketepatan akting sang aktor, saya memiliki teman yang bertutur serta bergestur sama persis dengan Charlie), sementara Zendaya membuat Emma bak nakhoda tangguh yang berjuang menyetir hubungannya agar tidak karam lewat upayanya menepis kecanggungan.
Tidak semua humornya bekerja maksimal. Momen pidato Charlie di pesta pernikahan selaku klimaks cerita yang bergulir bagai detik-detik menuju kecelakaan mematikan memang menggelitik, pula efektif menyulut kecemasan, namun kebodohan tingkah karakternya cenderung dipaksakan. Charlie memang egois, canggung, senantiasa cemas, tapi filmnya gagal membuat saya percaya ia sanggup berkelakuan SEBODOH ITU.
Ada satu poin luput Borgli soroti. Berdasarkan statistik seputar penembakan massal di Amerika Serikat dari tahun 1982 hingga 2026, 54,7% di antaranya dilakukan oleh kulit putih, sementara persentase pelaku kulit hitam hanya 16,9%. Persoalan ras dalam fenomena memprihatinkan tersebut (Adakah perbedaan penyebab antar ras? Apakah rasisme turut berkontribusi? Apa yang membedakan Emma dengan sejawatnya sampai kepalanya mencetuskan ide gila?) sayangnya tidak film ini telusuri.
Tapi toh bukan ganjalan besar, sebab The Drama memang memilih untuk lebih fokus pada tahap-tahap yang individu lalui kala memproses realita mengejutkan tentang pasangan (atau teman dan kerabat) yang baru diketahui secara mendadak. Jadi, seberapa jauh bersedia menerima sisi kelam cinta sejatimu?
REVIEW - THE CHRONOLOGY OF WATER
Berangkat dari memoar berjudul sama buatan Lidia Yuknavitch, The Chronology of Water adalah tipe film yang akan terus bergulir di batin penontonnya jauh selepas durasi tuntas. Penceritaannya menentang keteraturan struktur narasi dalam rangka mengedepankan konstruksi emosi. Kisahnya bisa berakhir, namun rasa yang dihasilkan menetap dan terukir.
Melalui debut penyutradaraannya ini, Kristen Stewart mengambil beberapa pilihan berani. Dibantu tata sinematografi arahan Corey C. Waters, keseluruhan film (bukan parsial sebagaimana gemar dilakukan banyak sineas) ia presentasikan dalam gaya visual video rumahan guna menguarkan aroma keintiman.
Demikian pula terkait voice over Lidia Yuknavitch (diperankan Imogen Poots) yang acap kali diucapkan lewat bisikan luar biasa lirih demi menggarisbawahi kesan personal. Si protagonis bak tengah curi-curi kesempatan mengutarakan setumpuk rahasia yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang.
Tapi tindakan berani Stewart (turut menulis naskahnya) yang paling signifikan terletak pada gaya bertutur. Ibarat aliran air yang memiliki kronologinya sendiri, alurnya bergerak bebas layaknya memori yang datang dan pergi secara acak. Ada kalanya menggenang dengan tenang, namun bisa berdebur deras di lain kesempatan.
Alkisah, Lidia punya dua kegemaran: menulis dan berenang. Keduanya jadi alat untuk kabur dari kehidupannya di rumah. Pasca si kakak, Claudia (Thora Birch) pergi, Lidia jadi target pelecehan ayahnya, Mike (Michael Epp), sementara sang ibu, Dorothy (Susannah Flood), melakukan pembiaran sembari tenggelam dalam kubangan alkohol.
Berenang jadi media pembebasan diri bagi Lidia. Sewaktu melaju di kolam ia seolah bergerak pergi dari penderitaan, dan tatkala luka tak lagi tertahankan, menyelam ke dasar jadi pilihan guna menghilang sejenak dari kehidupan. Tapi bahkan setelah berhasil memisahkan diri dari keluarga untuk berkuliah, masalah masih juga enggan berpisah.
Melalui alurnya yang bergerak maju-mundur, pula metode penyuntingan yang coba meniru bagaimana memori bekerja dengan melepaskan diri dari kesan kohesif, kita dibawa menyaksikan dinamika dunia Lidia. Beberapa hubungan toxic, adiksi alkohol dan narkoba, kehamilan tak terduga, karir olahraga serta prestasi akademis yang satu per satu runtuh, semua mesti dihadapinya. Tentu banyak dari kekacauan tadi hadir akibat ulah Lidia sendiri, dan filmnya tak berniat menampik realita tersebut.
Lidia bukan protagonis yang (selalu) simpatik. Tapi haruskah? Kita terbiasa dikondisikan oleh sinema arus utama, untuk percaya bahwa karakter utama mesti piawai mendulang simpati, seolah hanya individu yang mendekati kesempurnaan saja yang patut diikuti perjalanannya. The Chronology of Water bukan bertujuan mengemis simpati penonton, melainkan memberi ruang bicara bagi orang-orang seperti Lidia, yang menghabiskan seumur hidupnya berjuang menenangkan riak-riak trauma.
Kendati naskah buatan Stewart secara mengagumkan hadir dengan baris-baris kalimat puitis, visualisasinya kental akan ketidaknyamanan. Sebagaimana penokohan Lidia yang menjauhi kesucian khas protagonis Hollywood, Stewart enggan mempermanis presentasi dengan tujuan memudahkan dan menyamankan penonton.
Kekerasan hingga seksualitas tampil gamblang. Bukan selaku perayaan atas kebejatan atau semata ekspresi kenakalan sang sineas, tapi wujud komitmen guna menyediakan ruang berbicara apa adanya bagi individu seperti Lidia. Pelaksanaannya tidak asal. Terlihat dari sensitivitasnya saat menolak kevulgaran saat menggambarkan pelecehan yang Lidia alami.
Imogen Poots bermain luar biasa sebagai perempuan yang disudutkan oleh lika-liku luka yang begitu garang. Matanya sendu. Senyumnya kaya akan ironi. Raut mukanya ibarat pintu menuju batin Lidia, yang tak ubahnya buku berisi cerita yang takkan pernah bisa usai dibaca. Lidia bukannya mampu menyulap segala deritanya supaya lenyap, melainkan tumbuh bersamanya. Saya sendiri tidak bisa melupakan apa yang film ini tampilkan. Sewaktu kredit bergulir, saya cuma terdiam, membiarkan seluruh perasaan mengalir layaknya air yang memenuhi gelas bernama "hati".
(Klik Film)

%20(1).png)

%20(1).png)

.png)



.png)

