REVIEW - AYAH, AKU MAU CERITA

Kejutan! Versi Indonesia dari Drishyam (2013) yang memakai judul sentimental Ayah, Aku Mau Cerita guna menuruti kegandrungan publik atas drama keluarga penguras air mata, rupanya adalah remake yang apik. Adaptasinya cukup setia hingga bisa mempertahankan keseruan judul orisinalnya, namun tidak ragu memodifikasi kala diperlukan. 

Bergulir selama 166 menit (terpanjang kedua dari semua versi, hanya kalah dari Papanasam, remake Tamil yang berdurasi 175 menit), Danial Rifki selaku sutradara sekaligus penulis naskah, langsung menggerakkan alurnya menuju inti konflik. Minim basa-basi, tanpa pembangunan latar belakang berkepanjangan ala sinema India. 

Keputusan di atas dilakukan demi memfasilitasi tambahan eksposisi, sebagaimana bisa kita simak dalam diskursus dua polisi kala melihat protagonis kita, Andi (Vino G. Bastian). Berbeda dibanding Georgekutty (Mohanlal), Andi lebih hangat, emosinya tak mudah tersulut kala menghadapi dua putrinya, Aisha (Ziva Magnolya) dan Ditta (Queen Lubis), bukan pula pengusung paham patriarki dalam memandang peran sang istri, Marini (Niken Anjani). 

Di luar caranya memotret si protagonis, alurnya cenderung setia, masih berpusat pada upaya Andi melindungi keluarganya yang terseret kasus hilangnya putra tunggal Iriana (Marsha Timothy), kapolres yang dengan senang hati menggunakan kebengisan demi menuntaskan kasus, yang kelak membawa kedua belah pihak terlibat adu kecerdasan sarat gesekan psikologis. 

Hanya saja, Danial Rifki memilih menipiskan himpitan mental yang keluarga Andi alimi. Kekhawatiran mengintai, namun tak nampak membebani seberat yang jajaran protagonis di varian aslinya alami. Presentasi Ayah, Aku Mau Cerita pun terasa lebih ringan karena mengutamakan lika-liku permainan pikiran antara Andi melawan kepolisian. 

Di lain sisi, kritik atas para penindas, baik pasukan berseragam yang hobi  memungut pungli di siang hari dan gemar menebar kekerasan demi mencapai tujuan, maupun barisan penguasa sadis berdandanan necis, lebih dipertebal. Tengok saja nama-nama karakter aparatnya. Beberapa sentilannya tepat sasaran, sedangkan lainnya, seperti kemunculan kalimat "Yo ndak tahu, kok tanya saya?" atau foto lelaki berwajah bodoh yang terpampang di suatu restoran, sayangnya hanya dipakai untuk memancing tawa. 

Poin yang saya kagumi dari naskahnya adalah kejelian memperbaiki lubang-lubang milik judul orisinalnya. Di Drishyam, beberapa muslihat Georgekutty terlampau bergantung pada kebetulan-kebetulan. Hal itu mampu diperbaiki. Rangkaian trik sang protagonis, dari cara Andi membuat Ditta terlibat obrolan dengan kondektur bus, sampai metode mengumpulkan nota restoran, orkestrasinya lebih terstruktur.

Pendidikan terakhir Andi hanya SD kelas 4, tapi toh polisi dibuat kelabakan berkat ilmu yang didapat dari kegemaran menonton film. Ayah, Aku Mau Cerita secara ciamik menegaskan statusnya selaku surat cinta pada sinema dengan mengungkai koneksi antara pertunjukan Andi dengan proses perumusan film, yang dilakukan secara superior nan lebih terdengar penuh kecintaan atas mediumnya, melalui monolog Iriana. 

Keunggulan naskahnya sanggup menutupi kekurangan Danial Rifki menunaikan satu perannya yang lain, yakni menyutradarai. Hasil arahannya tidak buruk, tapi kentara betul ia belum menguasai seni menggenjot dramatisasi yang senantiasa jadi keahlian sineas India. Sedikit cela tersebut paling terasa di babak klimaks yang terlalu miskin gaya (terutama perihal pilihan shot) dan letupan intensitas.

Departemen lain untungnya tampil gemilang. Komposisi gubahan Mondo Gascaro memperdengarkan peleburan elok antara bunyi-bunyian tradisional dan musik atmosferik ala sinema noir, sedangkan akting jajaran pelakon, khususnya Marsha Timothy yang secara lincah membolak-balik wajah Iriana, dari figur kapolres keji dan seorang ibu yang didera kekhawatiran akan nasib putranya. 

Ayah, Aku Mau Cerita adalah remake berkualitas. Konklusinya pun masih menyisakan pukulan telak bagi aparat. Tatkala Andi melangkah penuh keyakinan pasca mengungkap rahasia terbesarnya di penghujung kisah, kita pun diingatkan betapa pondasi institusi penegak hukum sudah sedemikian busuk, sehingga bisa menyamarkan aroma busuk yang lain.

REVIEW - INSIDIOUS: OUT OF THE FURTHER

Setelah 16 tahun bertabur enam judul, Out of the Further akhirnya menandai keberanian waralaba Insidious berjalan keluar dari pintu merah yang mengurungnya dalam formula melelahkan seputar rumah berhantu, kendati hanya lewat satu langkah kecil alih-alih lompatan besar.

Lenyap sudah potret kelam Keluarga Lambert. Elise (Lin Shaye), yang tetap bersemayam di The Further selepas kematiannya, jadi penghubung tunggal dengan film-film lalu. Elise kini bertugas memandu si protagonis baru, Gemma (Amelia Eve), yang tanpa ia sadari, kerap menyambangi The Further kala terlelap. 

Gemma adalah ibu satu anak. Gemma pun merupakan putri tunggal dari Ingrid (Laura Gordon), yang semasa kecil tewas mengenaskan di depan matanya. Belum usai upaya Gemma menghalau trauma akibat tragedi tersebut, gangguan dari makhluk-makhluk The Further sudah merecoki kesehariannya. 

Denyut-denyut kesegaran dari naskah buatan sang sutradara, Jacob Chase, mulai terasa kala tiga lansia menyeramkan gemar mondar-mandir di depan kediaman si tokoh utama. Segera penonton bakal berasumsi bahwa pemandangan itu sekadar penampakan hantu biasa yang hanya bisa disaksikan Gemma. Tapi ternyata Maya (Island Austin), putrinya, turut melihat pemandangan serupa. Begitu pun tetangga mereka. 

Kabut misteri yang sudah sekian lama tak terdeteksi di seri Insidious pun seketika menyelimuti alurnya. Semakin menarik sewaktu diungkap kalau Gemma memiliki kekuatan spesial: Dia bisa membawa objek dari The Further ke alam manusia, pula sebaliknya. 

Tentu guliran kisahnya belum secara total mendobrak pakem. Sekitar 100 menit durasi masih didominasi kompilasi teror, dengan build-up yang bergulir jauh lebih lama daripada eksplorasi psikis tokoh-tokohnya. Out of the Further tetap produk arus utama, bukan spesies elevated horror yang bersedia mengedepankan kekuatan narasi.

Tapi seiring Gemma bertambah sering mempertontonkan kekuatan supernya, semakin pula film ini menjauh dari formula klise Insidious, untuk berevolusi menjadi entitas baru yang jauh lebih aneh. 

"Aneh" adalah amunisi yang filmnya siapkan. Pasca sebuah titik balik tak terduga yang mempersingkat rumusan klise nan menyebalkan soal "protagonis vs skeptis", Out of the Further beralih arah dari kisah rumah hantu menuju creature feature sarat momen eksentrik. 

Beberapa penonton akan menertawakan keanehannya (Siapa yang tidak tergelak menyaksikan hantu menodongkan senapan?), tapi toh seluruhnya bersifat intensional. Jacob Chase memilih tampil konyol ketimbang membiarkan penonton terkantuk-kantuk di kursi bioskop. Apalagi ketika ia enggan memungkasi filmnya dengan cara generik, lalu memilih metode over-the-top kreatif guna menuntaskan konflik sembari melempar metafora tentang proses beranjak dari trauma. 

Chase juga jeli mengolah jumpscare yang masih memegang otoritas tertinggi perihal meneror penonton. Selain timing presisi yang acap kali efektif mengecoh ekspektasi, sang sineas pun paham bahwa tidak semua penampakan mesti bersinonim dengan tata suara pengguncang gendang telinga. Ada kalanya kesunyian dibiarkan mengiringi, sementara hembusan napas penonton yang tercekat bak jadi efek suara pengganti. 

Untungnya daya kreasi Chase tidak mentok di urusan mengageti penonton. Cara lain yang menghasilkan efek berbeda tak lupa ditempuh. Sebutlah saat Gemma, yang berprofesi sebagai dokter gigi, mesti mengurus kehadiran sesosok pasien "spesial", yang (tanpa perlu penampakan wajah seram atau banjir darah) melahirkan momen luar biasa menjijikkan, dan tentunya aneh. Jika "aneh" merupakan rute baru yang Insidious akan tempuh ke depannya, dengan senang hati saya akan turut serta.

REVIEW - THE END OF OAK STREET

The End of Oak Street berhasil menangkap jiwa sinema 80an dengan baik, bukan cuma soal estetik, pula perihal naskah garapan sang sutradara, David Robert Mitchell, yang meruntuhkan citra "kekeluargaan aman" area suburban bagi masyarakat kelas menengah. 

Judul-judul dari era 80an (Poltergeist, 1982) atau masa peralihan sebelum (Halloween, 1978) dan setelahnya (The People Under the Stairs, 1991) memang gemar menelisik sisi kelam dari kehangatan tersebut. Tahun 1982 jadi latar The End of Oak Street, di mana Denise (Anne Hathaway) dan Greg (Ewan McGregor) tinggal bersama dua anak mereka, Audrey (Maisy Stella) dan Brian (Christian Convery). 

Mudah memberi cap "keluarga harmonis" pada mereka, tanpa tahu bahwa perceraian mulai mengintai, Greg kehilangan pekerjaan, sementara Denise diam-diam menuangkan kegundahannya dalam novel. Ketidaksempurnaan itu makin ditelanjangi tatkala fenomena aneh menimpa: Oak Street, jalanan tempat mereka tinggal beserta orang-orangnya, terlempar ke zaman prasejarah saat dinosaurus masih menancapkan kuasa di dunia. 

Topeng semu suburban pun ditanggalkan, seiring penonton diajak menyantap menu utama yang bak santapan campuran berbahan Spielbergian dan The Drifting Classroom karya Kazuo Umezu. Tapi Mitchell tidak tergoda untuk menggerakkan kisahnya dengan buru-buru. Para protagonisnya dibiarkan mengurai peristiwa janggal di sekeliling mereka setahap demi setahap. 

Musik gubahan Michael Giacchino yang bagai tengah menyuarakan penghormatan untuk keping-keping klasik John Williams, membantu menggaungkan sayup-sayup misteri yang pelan-pelan merambat. Sedangkan di departemen visual, kegemaran Michael Gioulakis memakai split diopter shot dan beberapa slow zoom khas 80an, menguatkan intensi sang sutradara menyusun ketegangan dengan penuh kesabaran.

Bicara penceritaan, naskahnya belum terlalu eksploratif dalam mengembangkan premis unik miliknya. Selepas latar prasejarah dijamah, The End of Oak Street praktis sekadar berkutat di formula survival generik. Protagonisnya berkeliaran, dihadang dinosaurus, bersembunyi, tertangkap, melawan balik, berhasil kabur, untuk kemudian mengulang skenario serupa dari awal.

Motor penggerak utamanya terletak pada performa Anne Hathaway yang demikian lincah untuk terus beralih wajah antara jagoan garang dan perempuan yang berupaya menekan luka, juga pembuktian keserbabisaan David Robert Mitchell di kursi sutradara. Selain jeli membangun intensitas secara perlahan, sang sineas lihai menyuguhkan spektakel bertenaga tatkala segerombolan dinosaurus (dengan tubuh berbulu yang cukup efektif memberi perbedaan dengan kadal-kadal raksasa Jurassic Park) mulai melancarkan aksi. 

Hanya saja, pilihan konklusinya sedikit mengganjal. Jika Mitchell ingin menciptakan suasana bahagia, ada dampak kelam yang dipantik oleh keputusan karakternya. Sedangkan bila filmnya memang berniat menelusuri sisi gelap hasrat dan ego manusia, tiada eksplorasi memadai dari ending tersebut. Hei, tapi ini film tentang perjalanan waktu bertemu dinosaurus. Rasanya tidak perlu terlampau jauh memusingkan substansi penutup beraroma The Twilight Zone itu. 

REVIEW - SENI MERAYU TUHAN

"Jangan terlalu bangga kalau ada orang mualaf. Bisa jadi memang dia belum mendalami agama lamanya." Kurang lebih demikian ucapan Habib Ja'far di salah satu siniar. Pernyataan itu melucuti tendensi arogansi serta egoisme dalam beragama, sembari menyoroti kompleksitas perjalanan manusia mencari pencerahan. Kesan serupa dipancarkan oleh Seni Merayu Tuhan. Tipikal film religi yang telah lama saya rindukan keberadaannya di industri kita.

Tidak heran, mengingat ia memang adaptasi buku berjudul sama karya pendakwah bernama lengkap Husein bin Ja'far Al Hadar tersebut. Daripada sekadar menyalin ulang, naskah buatan Gina S. Noer, Salman Aristo, dan Rino Sarjono menyulap esai nonfiksi gagasan sang habib menjadi entitas fiksi baru yang mewarisi segala jiwa bukunya. 

Hikmah (Ari Irham) bukan termasuk golongan alim. Salat lima waktu ogah ia dirikan, tidak peduli secerewet apa pun omelan ibunya, Halimah (Rieke Diah Pitaloka), yang juga kerap mengeluhkan jarangnya si anak mampir ke rumah. Halimah kesepian, namun yang ia temui hanya kehadiran semu putranya dalam bentuk kamera CCTV yang Hikmah tinggalkan. 

Melalui tangkapan CCTV itu, Cesa David Luckmansyah (melakoni debut penyutradaraan setelah lebih dari dua dekade dikenal sebagai editor) memamerkan cara elegan memotret kesepian, tanpa air mata murahan atau erangan kekangenan yang dilebih-lebihkan. Cukup sosok Halimah berdiri seorang diri di tengah rumah yang mendadak sunyi. 

Hikmah memang selalu sibuk. Sibuk menyunting video-video Geri (Onadio Leonardo) si YouTuber yang memandang segala sendi kehidupan sebagai materi konten, pula sibuk melayari percintaan beda agama dengan Sophia (Lutesha) yang tak pernah bosan mengingatkan si pemuda keras kepala itu supaya lebih memedulikan ibunya. 

Sampai suatu malam, Halimah meninggal akibat serangan jantung. Sekali lagi, Cesa David Luckmansyah menampik pendekatan cengeng di momen tersebut. Hikmah duduk seorang diri di kamar dengan wajah bak syair yang terluka, mengopek stiker bertuliskan "Aku Anak Soleh" dari tempat tidur, sementara terdengar sayup-sayup berita lelayu. Semua itu sudah menyuplai cukup informasi. Penonton tidak dianggap selaku makhluk bodoh nan malas oleh si sutradara.

Duka Hikmah turut dibarengi kebingungan. Setiap malam ia dihantui mimpi perihal tangisan Halimah. Masalahnya, sang ibu tidak pernah menangis sepanjang hidupnya. Apakah ini pertanda kalau mendiang justru lebih berduka meninggalkan buah hatinya yang tak jua mau beribadah? Nasihat dari sahabatnya, Hotib (Teuku Ryzki), mendorong Hikmah melakukan pencarian. 

Dari pemuda tidak alim, ia sempat berubah 180 derajat kala alih profesi selaku videografer bagi Ustaz Basir (Alfie Alfandi). Hikmah rajin salat, rutin mengaji, bahkan mulai ragu menyentuh Sophia yang bukan mahram. Tapi toh kunjungan mimpi buruk itu masih tak berkesudahan. 

Di sinilah naskahnya berhasil menangkap kekhasan dakwah sejuk Habib Ja'far. Tiada hal baik bakal didapat dari sesuatu yang serba berlebih, entah ekstrim kanan maupun kiri. Proses mendapatkan pencerahan pun enggan disederhanakan sebagai "yang penting ibadah", sebagaimana disuarakan banyak sinema religi Indonesia yang cenderung menampik kompleksitas psikis manusia. 

Keimanan perlu ditangani dengan sabar dan hati-hati. Begitu pula upaya melangkah pergi dari jejak duka. Keterburu-buruan hanya bakal melahirkan masalah lain. Prinsip serupa diterapkan oleh Cesa David Luckmansyah kala bercerita. 

Di paruh awal, tempo lambatnya agak kurang mujarab mengolah rasa, sebab serupa sang protagonis, narasinya sendiri terkesan masih gamang menentukan arah. Tapi seiring waktu, gerak penuh kesabaran milik Seni Merayu Tuhan mulai melangkah lebih mantap, sehingga mampu memberi ruang bagi penonton meresapi perjalanan Hikmah mengungkai kekusutan batinnya.

Romantika beda agama Hikmah dan Sophia juga menarik disimak. Filmnya mungkin belum sepenuhnya berani mengambil langkah tegas di fase konklusi, tapi setidaknya, dibanding mayoritas film religi kita, fenomena tersebut dipandang secara lebih bijak. 

"Sekarang kamu ke gereja? Kok nggak cerita sama aku?", protes Hikmah pada kekasihnya di satu kesempatan. Selang beberapa waktu, ketika Hikmah mengajak kekasihnya masuk Islam, Sophia merespon singkat, "Kenapa bukan kamu yang ikut aku?" Melalui baris kalimat itu, Seni Merayu Tuhan berani menyentil egoisme kaum mayoritas dalam beragama, yang acap kali disertai kecenderungan mengerdilkan umat lain. 

Kalimat-kalimat sarat perenungan film ini dibawakan secara apik oleh jajaran pelakonnya: Ari Irham dengan keahlian memasang wajah pemuda gamang yang tak jarang menyebalkan, Teuku Ryzki yang petuah-petuahnya lebih terdengar sebagai anjuran untuk sahabat ketimbang ceramah menggurui, hingga Lutesha yang kembali unjuk gigi memainkan emosi secara subtil.

Terselip satu lagi kalimat yang cukup berkesan kala Sophia menceritakan pengalamannya berkomunikasi dengan Tuhan di hadapan Hikmah. "Aku berdoa supaya Tuhan bisa izinin kita berdua, tapi kitanya emang yang beda ya." Mungkin sekat perbedaan memang bukan disusun oleh Tuhan, melainkan manusia sendiri, dengan ego mereka untuk tampak superior.

REVIEW - KUNG FU SOCCER

Menonton babak pertama Kung Fu Soccer sungguh menyiksa. Tanpa basa-basi, penonton dipaksa seketika masuk ke tengah konflik, yang terasa seperti sekuel dari cerita imajiner. Berbeda dengan caranya menggarap Shaolin Soccer (2001), di sini Stephen Chow hanya memedulikan spektakel, yang untungnya masih bekerja secara efektif. 

Bertindak selaku sekuel spiritual, film ini membuang segala elemen narasi yang membuat Shaolin Soccer demikian dicintai. Ketimbang perlahan menyusun dinamika antar tokoh, Chow langsung menempatkan jajaran protagonisnya di tengah turnamen sepak bola dengan tim yang telah terbentuk. 

Saya ingat betul betapa serunya menyaksikan Sing (Stephen Chow) satu demi satu mengumpulkan kakak-kakak seperguruannya. Di sini, adegan pembukanya sudah menampilkan tim bernama Emei, dengan Shuangshuang (Zhang Xiaofei) dan Yu Long (Dilraba Dilmurat) sebagai pentolan, yang menghebohkan media sosial lewat keikutsertaan mereka dalam turnamen sepakbola perempuan. 

Secara beringas dan sambil lalu, anggota tim lain mulai diperkenalkan: Xu Feng (Lay Zhang) yang jadi mentor Shuangshuang, Xueye (Xue Ye) yang susah diatur, Sangbiao (Hu Yu'an) yang kehilangan rasa percaya diri pasca putus cinta, Ziba (Sisley Choi) si fisioterapis buta, dan masih banyak lagi, yang mayoritas takkan meninggalkan kesan berarti. 

Bagaimana bisa Kung Fu Soccer menyulut kepedulian penonton kepada segerombolan manusia yang kurang kita kenal? Jawabannya "tidak bisa". Sesekali kilas balik seputar masa lalu tokoh-tokohnya diselipkan, namun semuanya terkesan numpang lewat. Chow bukannya sama sekali tidak berusaha membangun penokohan, hanya saja usaha itu bak dilakukan sambil malas-malasan. 

Spektakel, spektakel, spektakel. Itu saja yang film ini pedulikan. Tapi Chow bahkan tidak cukup giat untuk memberi perbedaan unik nan signifikan dalam kemampuan masing-masing anggota Emei, yang mana merupakan amunisi penting untuk menguatkan daya hibur spektakelnya. Shuangshuang punya tendangan super keras. Yu Long punya tendangan melengkung yang super keras. Xueye bisa melompat luar biasa tinggi sebelum melontarkan tendangan super keras. Polanya generik.

Penceritaannya membaik selepas Emei hancur oleh satu kekalahan menohok. Dari situ, naskahnya mulai menerapkan formula zero to hero, yang kendati konvensional terbukti efektif berkat penguasaan Chow akan pakem tersebut, sembari menggiring tokoh-tokohnya dalam proses menemukan kekuatan sekaligus menerima kelemahan mereka. Klise, tapi bergerak dengan ritme yang jauh lebih tertata ketimbang babak pertama yang sangat kacau. 

Seiring membaiknya narasi, Kung Fu Soccer pun menemukan pijakan yang memudahkannya melempar hiburan. Banyolan mo lei tau absurd sarat kejutan khas Chow menemukan pasangan sejatinya dalam diri jajaran pemain film ini. Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, Lay Zhang, Hu Yu'an, hingga Sisley Choi membantu penulisan jenaka Chow mencapai potensi maksimalnya. Sederhananya: Kung Fu Soccer luar biasa lucu!

Deretan pertandingan (atau lebih tepat disebut "perkelahian") di atas lapangan hijau pun mampu dibawakan secara menyenangkan, terutama kala babak puncak. Jurus-jurus yang tadinya generik perlahan bertambah daya tariknya seiring batasan logika yang makin ditiadakan (pemain-pemain yang menggabungkan tubuh bak Megazord, kiper yang bisa membikin tubuhnya sekokoh lonceng, lensa kontak dengan kemampuan "hipnotis", dsb.). 

Tim-tim dari beragam negara sempat ditemui Emei: Ada Ehwa dari Korea Selatan dengan "K-beauty" manipulatif yang penuh kepalsuan, Coral dari Australia yang tangguh bak robot, hingga tim dengan dandanan ala ninja dari Jepang, Taiga, dibawah pimpinan Takeru Satoh sebagai pelatih yang gemar berbicara lirih layaknya sosok-sosok misterius khas sinema Negeri Sakura. Stereotipikal? Saya lebih suka menyebutnya "satir pinggir jurang". 

Banyak pula yang mengkritisi buruknya CGI film ini. Saking buruknya, timbul tudingan atas penggunaan AI, yang mana tidak sanggup saya konfirmasi. Andai tudingan itu keliru, kesan murahan dalam efek visualnya bukanlah persoalan berarti, karena ia justru sejalan dengan pendekatan serba bodoh yang Chow pakai. Kung Fu Soccer memang bodoh, dan di situlah letak pesonanya. 

REVIEW - DEAR YOU

Dear You arahan Lan Hongchun adalah film tentang kesetiaan serta kerinduan terhadap rumah. Baik rumah berwujud bangunan tempat berteduh, pasangan yang mencintai, keluarga yang mengasihi, kawan-kawan serumpun yang senasib, juga tanah air yang mendengar tangisan pertama kita di dunia. 

Semua berawal dari pencarian Hiou-ui (Zheng Runqi) terhadap kakek yang tak pernah dikenalnya. Sang kakek, Den Bhagseng, dipercaya menetap sebagai orang sukses di Tailan, setelah berpuluh-puluh tahun lalu meninggalkan istrinya saat kabur guna menghindari wajib militer di tengah Perang Saudara Tiongkok. Butuh waktu agar bisa menikmati keruwetan perjalanan Hiou-ui, yang kerap terlampau liar menggerakkan alurnya. 

Istri Bhagseng, Sogriu (Wu Shaoqing), menghabiskan puluhan tahun menyeka sisa-sisa kenangan perihal sang suami. Pasalnya, qiaopi (istilah bagi sepucuk surat yang dikirim para diaspora untuk keluarga mereka di Tiongkok, biasanya disertai sejumlah uang) terakhir Bhagseng hanya berisi selembar foto berisi sosoknya bersama seorang perempuan dan beberapa bocah. Hati Sogriu tersayat. Kekasih hidup yang sudah puluhan tahun dinanti kepulangannya telah menemukan "rumah baru". 

Sampai hasil investigasi Hiou-ui mengungkap lembar-lembar masa lalu lain yang sempat terkubur, dan membawa Dear You bertransformasi dari melodrama keluarga berbumbu romansa klise menjadi drama epik tentang upaya merawat ingatan. 

Kilas balik segera mengambil alih. Bhagseng muda (Wang Yantong) kita ikuti rutinitasnya. Penghasilan bulanan pas-pasan sebagai penarik angkong yang semuanya ia kirim guna menghidupi Sogriu dan anak-anaknya, mengharuskan Bhagseng tinggal di gudang kumuh dalam penginapan kepunyaan Zia Lamgi (Li Sitong memerankan versi muda, Usha Seamkhum yang angkat nama lewat How to Make Millions Before Grandma Dies memerankan versi tua), perempuan yang wajahnya tercetak di foto. Kedekatan keduanya segera terjalin.

Qiaopi yang tak pernah absen Bhagseng layangkan tiap bulan mewakili peran Dear You selaku surat cinta untuk surat cinta. Betapa rapuh secarik kertas. Kombinasi cuaca buruk dan nasib sial sudah bisa memusnahkan eksistensinya. Tapi itulah kenapa, sebagaimana memori manusia, surat begitu bermakna. Sifatnya tak selamanya, luar biasa ringkih, namun dapat menghilangkan sekat tebal berbahan baku samudra membasuh kerinduan akan rumah. 

Perjuangan Lamgi dan Bhagseng mencuatkan komparasi menarik. Sebagai anak perempuan, yang dalam dialek Tiochiu disebut "zao-gian" alias "anak yang pergi", Lamgi seolah ditakdirkan meninggalkan rumah untuk mengabdi pada suami. Sedangkan selaku laki-laki, Bhagseng juga dituntut meninggalkan rumah dalam rangka wajib militer. Disatukan benang merah berupa kecintaan pada aneka rupa rumah masing-masing, keduanya melancarkan pemberontakan. 

Penginapan milik Lamgi turut jadi rumah sementara bagi para diaspora Tiochiu (termasuk Bhagseng), yang di sela-sela kerinduan akan rumah, tak henti-hentinya saling menjaga. Sebab di tanah asing, solidaritas tersebut bak pengganti rumah untuk masing-masing dari mereka. 

Saya tidak bisa membayangkan betapa bermaknanya Dear You di mata orang-orang Tiochiu. Tapi bisa saya pastikan, filmnya efektif perihal memberi pencerahan terkait setumpuk konteks budaya dan politik kepada penonton awam. Dear You berhasil dipresentasikan sedemikian rupa supaya gampang diakses oleh segala kalangan dengan menyisipkan unsur drama keluarga, percintaan, dan tentunya humor.

Komedinya mengedepankan absurditas sarat sentuhan deadpan khas sinema Cina (juga Tailan). Sebagai taktik meniadakan tubrukan tone dengan sisi dramatiknya, para penulis naskah membelah penceritaannya ke dalam dua wajah. Paruh awal kaya akan taburan humor, yang porsinya makin ditekan seiring eksplorasi atas masa lalu Bhagseng diperdalam. Upaya tersebut berhasil, kendati lahir masalah baru: terkadang Dear You terasa bak disusun oleh dua film berbeda. 

Tapi jika yang anda nantikan adalah banjir air mata, tidak perlu khawatir. Dear You adalah ahlinya. Lan Hongchun tidak merasa perlu mengeksploitasi adegan melodrama secara berlebihan. Rasa haru bakal merambat seiring twist-nya, yang kaya akan bobot emosi, mulai mengupas lapisan-lapisan masa lalu sang protagonis, dan kita pun perlahan menyadari kebenaran yang selama puluhan tahun luput dirawat, dan kerinduan terhadap rumah akhirnya disembuhkan oleh kepulangan.