MOVFREAK ON UC NEWS (LAST UPDATED ON FEBRUARY 12, 2019)

Sejak akhir Juni lalu, saya diundang oleh UC News untuk menyumbangkan tulisan bertema religi...maksud saya film. Awalnya saya hanya mempublikasikan ulang review blog ini, sampai tercetus niat untuk fokus pada pembuatan list film, yang mana sering pembaca blog ini minta tapi karena satu dan lain hal (baca: penulisnya pemalas) jarang terpenuhi. Kenapa tidak sekalian membuat list juga di sini? Tidak lain demi menjaga orisinalitas kedua media, sebab pernah artikel saya ditolak karena sistem menyatakan tulisan itu hasil jiplakan dari web movfreak.blogspot.com (lol).

Maka dari itu, jika ada list yang kalian ingin saya buat, silahkan request, bisa di kolom komentar ini atau artikel saya di UC News. Untuk mengakses tulisan di sana, bisa mengunduh aplikasi UC News di smartphone, lalu cari dan ikuti akun "Movfreak". Atau cukup dengan mengikuti postingan ini yang akan selalu saya update tiap ada artikel baru dan akan selalu disematkan di halaman paling atas blog. Dan karena perbedaan media publikasi, gaya penulisan yang saya pakai pun (mostly) berbeda. Silahkan request sebanyak-banyaknya, makin unik makin baik, agar memudahkan saya membuat judul clickbait daftar menarik. Tenang, review tetap saya publikasikan di sini (afterall, this is my home, and all of you, my readers, are the lovely guests).

Berikut beberapa judul yang sudah ada sejauh ini yang akan rutin diperbaharui (klik untuk menuju tautan):

DRAGON BALL SUPER: BROLY (2018)

Dragon Ball Super: Broly merupakan installment monumental dalam seri film Dragon Ball. Film ini jadi yang pertama mengusung merek dagang Dragon Ball Super, memberi Broly status canon setelah memperoleh popularitas tinggi lewat kemunculannya di tiga judul, juga merupakan film Dragon Ball terbaik hingga kini. Dragon Ball Super: Broly sukses memaksimalkan potensi Dragon Ball perihal pertarungan over-the-top yang mengguncang dunia, bahkan banyak blockbuster Hollywood pun akan tampak kerdil di hadapan karya sutradara Tatsuya Nagamine (One Piece Film Z) ini.

Filmnya bisa dibilang terbagi ke dalam dua babak. Babak pertama membawa kita kembali menuju 41 tahun lalu, menuturkan latar belakang Broly, yang dibuang oleh King Vegeta ke planet tandus bernama Vampa sewaktu kecil, sebab sang Raja tak ingin ada anak yang lebih superior daripada keturunannya, Vegeta. Ketika Frieza menghancurkan planet Vegeta bersama sebagian besar ras Saiyan, Broly cilik tengah sibuk melawan monster-monster Vampa bersama ayahnya, Paragus, yang datang untuk menyelamatkan sang anak namun justru ikut terdampar di sana.

Cerita latar ini membangun beberapa poin: Pemahaman bagaimana Saiyan dan Frieza memandang satu sama lain; menambah dimensi penokohan serta bobot emosi bagi Bardock dan Gine yang mengambil keputusan berat untuk mengirim putera mereka, Kakarot alias Son Goku ke Bumi demi keselamatannya; hingga elemen sepele seperti wujud scouter (pendeteksi level kekuatan juga posisi seseorang sekaligus perangkat komunikasi) versi lama yang bakal jadi trivia menarik bagi penggemar.

Terpenting, Broly digambarkan sebagai sosok simpatik. Di Broly- The Legendary Super Saiyan (1993), masalah psikisnya dipicu karena selalu mendengar tangisan kencang Goku sewaktu bayi ditambah kontrol pikiran oleh Paragus. Sekarang, lewat naskah yang ditulis sendiri oleh Akira Toriyama, meski unsur alat pengendali milik Paragus tetap dipertahankan, tangisan Goku ditiadakan, digantikan alasan yang lebih kelam, realistis, dan relatable.

Meski luar biasa kuat, Broly sejatinya berhati lembut bahkan membenci perkelahhian. Dia hanya korban tindakan kasar sang ayah yang secara paksa mengubahnya jadi mesin petarung. Malah filmnya sempat menyelipkan momen menyedihkan yang melibatkan persahabatan singkat Broly dengan monster terbesar planet Vampa. Jalan Broly bersinggungan dengan para jagoan kita saat Frieza mengutus dua anak buahnya, Cheelai dan Lemo, mencari petarung kuat guna membantu rencananya mengumpulkan dragon ball di Bumi. Ya, salah kalau berpikir setelah Universe Survival Saga (klimaks cerita anime dan manga Dragon Ball Super) Frieza bakal berubah.

Memanfaatkan dendam Paragus terhadap garis keturunan King Vegeta, Frieza menjadikan Broly ujung tombak invasinya, dan begitu mereka tiba di Bumi, Dragon Ball Super: Broly memasuki babak keduanya: mahakarya aksi epic yang membawa pertarungannya hingga ke inti Bumi yang membara. Di samping skala kehancuran, poin terbaik dari threesome Goku-Vegeta-Broly (sempat melibatkan Frieza di satu titik) adalah kreativitas tak terbatas presentasi visualnya, biarpun di luar adegan aksi kualitas animasinya kerap menurun yang mana suatu kewajaran.

Bukan saja kaya warna, visualnya pun senantiasa berganti gaya, enggan menetap terlalu lama di satu tipe sehingga kesegaran mampu dipertahankan meski aksinya terus melaju kencang selama sekitar satu jam, dan hanya sekilas diperlambat kala Goku dan Vegeta mundur sejenak dari medan perang. Begitu bombastis pertarungan antar bangsa Saiyan ini, mereka sempat seolah-olah menembus ruang dan waktu, memasuki lokasi yang nampak bak quantum realm dalam sekuen terbaik sepanjang film. Musik gubahan Norihito Sumitomo (Color Me True) juga membantu mempertahankan tensi.

Sejak diperkenalkan 26 tahun lalu, saya selalu menganggap Broly sebagai sosok paling intimidatif dibanding antagonis lain di seri Dragon Ball. Dia brutal, besar, tak terkontrol. Broly versi baru tidak jauh berbeda, di mana wujud normalnya saja mampu mengalahkan Vegeta dalam mode Super Saiyan Rosé (the one with the red hair). Sekalinya ia berhasil menguasai transformasi Super Saiyan, bahkan kombinasi Super Saiyan Blue Goku dan Vegeta dibuat tak berdaya.

Bukan Broly seorang karakter populer yang memperoleh status canon. Seperti telah diketahui melalui materi promosinya, Gogeta (fushion Goku dan Vegeta) pun turut ambil bagian. Kemunculannya tak mengecewakan, walau memunculkan sedikit masalah kontinuitas. Saya ingat betul Goku pernah mengajukan ide fushion di tengah pertarungan melawan Kid Buu, tapi di sini, Vegeta seolah baru pertama kali mendengar gagasan tersebut. Pun agak aneh mendapati film ini tak menyinggung Ultra Instinct, mengingat mode itu sanggup mengatasi Jiren. Tapi jika anda bukan penggemar berat, hal-hal di atas takkan mengganggu.

Jangan khawatir 100 menitnya bakal monoton, karena Dragon Ball Super: Broly masih sempat menyelipkan beberapa momen komikal, dengan guyonan terbaik membahas soal kemiripan permintaan yang ingin diajukan Frieza dan Bulma kepada Shenron. Konklusinya menawarkan posibilitas menarik untuk kelanjutan film maupun serinya. Menilik tradisi Dragon Ball yang gemar mengubah lawan jadi kawan, sulit menahan antusiasme membayangkan bersatunya trio Goku-Vegeta-Broly di masa depan. Kemungkinan tak berujung macam ini adalah alasan saya begitu menggemari Dragon Ball.

COLD PURSUIT (2019)

Liam Neeson membantai puluhan penjahat seorang diri demi membalas kematian sosok tercintanya. Baik premis, trailer, maupun posternya mengesankan bahwa Cold Pursuit merupakan satu lagi installment dalam seri tak resmi “Liam Neeson’s One Man Army Revenge Action Flick”. Dan bagaimana filmnya bermula makin menguatkan kesan tersebut.

Nelson Coxman (Liam Neeson) adalah pembersih salju di sebuah kota resor ski fiktif, Kehoe, yang menjalani hidup bahagia bersama sang istri, Grace (Laura Dern), dan anaknya, Kyle (Micheál Richardson). Kebahagiaan itu makin lengkap kala Nelson dianugerahi gelar “Citizen of the Year”. Hingga suatu malam, beberapa orang menculik Kyle lalu menyuntikkan heroin ke tubuhnya. Pagi harinya Kyle ditemukan tewas overdosis.

Peristiwa itu terdengar seperti “tragedi sempurna” selaku pemicu bangkitnya insting membunuh karakter peranan Liam Neeson, yang biasa kita saksikan di fase karirnya pasca Taken (2008). Sampai adegan di ruang jenazah terjadi, saat tim forensik kesulitan menunjukkan tubuh Kyle kepada orang tuanya. Di situlah saya, yang menonton tanpa membaca ulasan atau menonton film aslinya (Cold Pursuit merupakan remake film Norwegia In Order of Disappearance yang juga disutradarai Hans Petter Moland) sadar, Cold Pursuit berbeda dengan ekspektasi saya dan banyak penonton lainnya.

Ini adalah komedi hitam yang lebih dekat ke arah karya-karya Coen Brothers ketimbang thriller-aksi khas Liam Neeson. Bahkan salah satu adegan menampilkan obrolan dalam mobil antara dua mafia tentang trik menyetubuhi pelayan motel di sela-sela misi penculikan yang mereka emban. Situasi tersebut mengingatkan pada adegan legendaris dari Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino.

Jumlah korban yang berjatuhan masih tinggi, pun berkat metode brutal Nelson banyak dari mereka tewas mengenaskan, yang sayangnya kerap meninggalkan transisi jumpy sebagai dampak penyensoran (Walau saya mencurigai penyuntingan film ini memang buruk di beberapa titik). Selepas masing-masing kematian, kita akan diperlihatkan layar hitam berisi nama korban, yang kebanyakan memiliki panggilan unik sepeti Speedo, Wingman, dan lain-lain. Gaya tersebut kerap menghasilkan tawa, khususnya memasuki klimaks sewaktu banyak nyawa melayang di satu waktu.

Alurnya pun tidak sesederhana kelihatannya. Karena Viking (Tom Bateman), bos mafia yang Nelson bantai, mengira anak buahnya tewas di tangan sang rival, gembong narkoba Indian yang dipimpin White Bull (Tom Jackson). Kedua pihak sempat terlibat perjanjian pembagian wilayah kekuasaan, sehingga mereka (juga para polisi) mengira seluruh kematian ini berkaitan dengan perang memperebutkan teritori. Terciptalah pertikaian sarat kekacauan selaku pondasi memadahi bagi terciptanya suguhan komedi hitam.

Beberapa karakter, khsusunya anak buah Viking, meski mayoritas diberi screentime minim, cukup meninggalkan kesan berkat ciri beragam yang disematkan naskah buatan Frank Baldwin, entah berbentuk sikap tidak biasa, cerita yang mereka sampaikan, atau rahasia yang mereka pendam.

Tidak semua humornya efetktif, dan banyak di antaranya akan segera terlupakan, entah karena di berbagai kesempatan Hans Petter Moland belum begitu piawai melukiskan situasi komedi gelap memorable, atau murni disebabkan penulisan humor yang tak cukup tajam. Konflik seputar kesalahpahaman pun sejatinya bukan merupakan intrik inovatif yang mampu secara konsisten menjaga momentum, terlebih saat Moland gemar menggerakkan filmnya dalam tempo lambat.

Tapi sungguh saya berbohong bila menyatakan bahwa absurditas Cold Pursuit kurang menyenangkan, dan melihat Liam Neeson, yang masih tampil setangguh biasanya, ditempatkan di tengah situasi aneh semacam ini, tatkala alih-alih dentuman ritmis klise khas thriller-aksi justru musik bernuansa Eropa gubahan George Fenton (Gandhi, The Fisher King) yang terdengar, tidak terasa menyegarkan.

KAIN KAFAN HITAM (2019)

Saya mengira Kain Kafan Hitam bakal menghasilkan satu lagi bencana di industri perfilman Indonesia. Sungguh salah kaprah yang parah. Dalam debut penyutradaraan yang dilakukan bersama Yudhistira Bayuadji, siapa sangka Maxime Bouttier berani bereksperimen guna melahirkan horor arthouse yang menyatukan jiwa Roma-nya Alfonso Cuaron, pendekatan Terrence Malick, gerakan Dogma 95 yang diprakarsai Lars von Trier dan Thomas Vinterberg, dan surealisme David Lynch.

Mari kita bedah satu per satu. Roma merupakan lukisan aktivitas sehari-hari, sebagaimana Kain Kafan Hitam bercerita soal Evelyn (Haico Van Der Weken) yang sedang mencari rumah baru ditemani kekasihnya, Bimo (Maxime Bouttier). Pencarian tersebut berujung di sebuah rumah besar dengan harga sewa murah. Ketimbang hanya mengintip beberapa sudut mengerikan, film ini mengajak kita mengikuti paket lengkap tur berkeliling yang dipandu Egi (Egi Fedly) si penjaga rumah.

Egi memamerkan seluruh penjuru, pelan-pelan menjelaskan “ini ruang apa”, “ruang itu di mana”, dan sebagainya. Beberapa kali, gemuruh keras musik buatan Joseph S. Djafar (Jailangkung, Jaga Pocong, Orang Kaya Baru) datang menemani meski tiada satu pun peristiwa supranatural terjadi. Hingga akhirnya Evelyn menetap di sana, hal-hal aneh mulai menampakkan wujudnya.

Adik-adiknya lebih dulu jadi korban. Suatu malam, saat Arya (Rayhan Cornellis) si bungsu henak buang air kecil, hantu berwajah mirip versi busuk dari topeng Aku Aku di serial gim Crash Bandicoot menerornya. Ketakutan, Arya pun ngompol. Berikutnya kita menyaksikan:  Evelyn membawa Arya ke kamar – Evelyn mencari celana ganti – Evelyn menggantikan celana Arya – Evelyn menidurkan Arya. Film mana yang amat murah hati mau memperlihatkan proses mengganti celana secara lengkap? Bahkan musik yang sepanjang durasi punya kebiasaan menggedor gendang telinga pun seketika senyap. Apa ini kalau bukan usaha Maxime menciptakan post-horror ala A24?

Sutradara muda harapan bangsa ini bahkan menggerakkan filmnya selambat mungkin. Para skeptis akan berkata bahwa itu sebatas usaha mengakali naskah tipis karya Girry Pratama (Revan & Reina) yang mungkin cuma berisi sekitar 30-40 halaman. Tapi saya berbeda pendapat. Saya yakin, Maxime berusaha meniru kesabaran Ari Aster kala merangkai tempo Hereditary.

Kain Kafan Hitam juga merupakan penghormatan terselubung kepada Terrence Malick. Sang sutradara legendaris gemar mengambil gambar tanpa naskah, membiarkan aktor berimprovisasi demi memperoleh kejujuran luapan rasa. Bukan mustahil, para pemain Kain Kafan Hitam juga bernasib sama seperti Brad Pitt di The Tree of Life atau Ben Affleck di To the Wonder, yakni hanya menerima arahan singkat di secarik kertas tiap hari, yang kurang lebih berbunyi, “Hari ini kamu berjalan keliling rumah, lalu buka semua gorden. Lakukan perlahan. Resapi cahaya matahari yang menyelinap di antara kisi-kisi jendela”.

Hasilnya bisa kita saksikan, ketika Haico Van Der Weken berakting sama naturalnya dengan Yalitza Aparacio. Caranya membuka gorden sungguh meyakinkan, bisa saja suatu hari nanti lapangan kerja baru sebagai pembuka gorden ia ciptakan. Akting Maxime masih secanggung biasanya, namun bisa dimaklumi. Dia mengampu tugas berat membuat horor eksperimental, sehingga wajar bila tugasnya di depan kamera agak terbengkalai.

Walau tidak begitu kental, jejak Dogma 95 yang berprinsip pada micro-budget filmmaking masih dapat kita temui di sini lewat kemunculan beberapa establishing shot dengan resolusi rendah yang bak diambil memakai kamera telepon genggam.

Menginjak 15 menit akhir, eksperimen Kain Kafan Hitam menggila. Ranah surealisme berani dijamah sewaktu menampilkan kilas balik yang bila dilihat dengan mata telanjang, timing kemunculannya terasa dipaksakan. Tapi melalui kacamata sinematik tingkat tinggi, surat cinta kepada gaya David Lynch yang sering mendadak membawa alur melompat ke dunia absurd bisa dirasakan. Di dalam dunia Lynchian, tindakan maupun motivasi yang melatarinya terkadang sukar dipahami.

Sama seperti di film ini, tatkala seorang ibu mertua mendorong menantunya yang sedang hamil tua dari tangga hingga tewas. Dia memutuskan mengubur sang menantu diam-diam, membungkus jenazahnya memakai gorden berwarna hitam alih-alih kain kafan. Kenapa ia tidak berbohong saja, mengatakan jika menantunya tidak sengaja jatuh dari tangga alias kecelakaan. Melihat kondisi kehamilannya, kebohongan tersebut sejatinya lebih aman, logis, sekaligus mudah dilakukan. Tapi sekali lagi, ini eksperimentasi. Lupakan logika beserta hal-hal mudah lain. Now please welcome Mr. Maxime Bouttier, the new auteur of Indonesian cinema.

Gosh, I need Vodka.

GULLY BOY (2019)

Suguhan seperti Gully Boy merupakan alasan mengapa saya bersemangat menantikan film Bollywood tiap minggu meski harga tiketnya lebih tinggi. Para sineasnya piawai mewakili suara kaum yang ditekan. Bukan saja memotret kesulitan hidup, pula menyediakan suaka di mana rakyat kecil, minoritas, maupun korban represi punya kesempatan berjuang, sementara mereka yang lebih beruntung coba dibangkitkan nuraninya demi menumbuhkan kepedulian berasaskan kemanusiaan.

Film ini dibuat berdasarkan kisah hidup Naezy dan Divine, dua figur penting dalam pergerakan skena hip-hop Mumbai. Kemiskinan dan ketidakadilan di sekitar jadi sumber inspirasi karya mereka. Dalam menuturkan itu, sutradara Zoya Akhtar (Bombay Talkies, Dil Dhadakne Do) yang turut menulis naskahnya bersama Reema Kagti (Dil Dhadakne Do, Gold), kentara memahami substansi kultur hip-hop sebagai bentuk perlawanan terhdap kungkungan sosial-masyarakat.

Murad (Ranveer Singh) adalah pria muslim yang tinggal di perkampungan kumuh. Sang ayah (Vijay Raaz)—yang menikah lagi lalu membawa istri keduanya ke rumah—selalu menyuruh Murad “menundukkan kepala”, menyadari takdirnya sebagai rakyat kecil yang tak pantas bermimpi besar. Murad pun hanya bisa diam menurut. Bait-bait rima tulisannya jadi satu-satunya tempat di mana Murad bebas menyuarakan isi hati. Dia jatuh cinta pada musik rap.

Murad menjalin asmara dengan Safeena (Alia Bhatt), gadis dari keluarga mampu yang bercita-cita menjadi ahli bedah, meski ibunya beranggapan bahwa wanita tak memerlukan pendidikan tinggi. Keduanya terpaksa selalu diam-diam bertemu di bus, sebab mayoritas orang di sekeliling mereka, termasuk orang tua Safeena, adalah muslim konservatif yang menganggap pacaran sebagai tindakan tak bermoral.

Murad dan Safeena muncul bersama di layar untuk pertama kali lewat salah satu momen romansa non-verbal termanis yang pernah saya saksikan. Saya takkan menjabarkan detail situasinya, kecuali bahwa still photo adegan tersebut digunakan sebagai materi poster filmnya. Hanya melalui satu adegan itu, saya langsung terpikat pada pasangan ini. Terlebih, Ranveer Singh dan Alia Bhatt mampu memproduksi chemistry sempurna, di mana sang aktris menampilkan akting berapi-api sebagai “gadis senggol bacok” yang tak segan melakukan tindak kekerasan terhadap wanita yang ingin “mencuri” sang kekasih.

Peluang Murad memasuki skena rap tiba setelah bertemu MC Cher (Siddhant Chaturvedi) di sebuah pertemuan komunitas rap bawah tanah. Walau masih hijau dan perlu banyak belajar lagi perihal permainan beat, Sher mengakui baka Murad dalam menulis bait yang meskipun indah, begitu tajam pula jujur menangkap realita kalangan bawah.

Ada begitu banyak hal coba dipaparkan Gully Boy selama durasinya yang menyentuh 153 menit. Tidak ada semenitpun terbuang sia-sia dalam penuturan bertele-tele, tapi harus diakui, terlampau banyak permasalahan dipadatkan secara paksa. Menyatukan pengalaman nyata dua sosok manusia, Gully Boy bagai berhasrat mengumpulkan sebanyak mungkin cerita tentang para pencari kebebasan. Mulai dari pergulatan Murad guna membuktikan kemampuannya meraih mimpi, keresahan perihal jomplangnya kesejahteraan masyarakat, kemiskinan yang mendorong kriminalitas, kekolotan pola pikir termasuk mengenai cara publik memandang wanita, dan seterusnya.

Setiap isu memancing subplot baru, yang sesekali melelahkan diikuti dan berisiko merusak momentum. Beruntung, deretan problematikanya relatable, sehingga mudah memancing dukungan bagi tokoh-tokohnya. Kita ikut merasa terpuruk ketika mereka dijatuhkan, dan akhirnya, ketika mereka bangkit, melawan, kemudian berjaya, kita bakal bersorak layaknya merayakan kemenangan besar.  

Penyutradaraan Zoya Akhtar cukup dinamis untuk mengikuti atmosfer yang dihasilkan jajaran lagu rap (beberapa dibuat sekaligus dibawakan oleh Naezy dan Divine) yang setidaknya akan membuat anda tergoda menggoyangkan kepala, terserap ke dalam hentakan adiktif juga permainan kata yang acap kali menggelitik. Sewaktu karakternya beradu rap, beberapa kalimat cacian ampuh memancing senyum, tawa, atau bahkan—seperti sekelompok penonton yang duduk di depan saya—teriakan selaku ungkapan kekaguman atas “serangan brutal” tiap rapper.

Ranveer menciptakan protagonis likeable dalam transformasi perlahan Murad dari pria tertekan yang memilih diam menjadi sosok tangguh yang bersedia berdiri untuk melawan. Semua dipicu proses bermusiknya. Dan di atas panggung, Ranveer meyakinkan kala menjadi pemimpin kharismatik yang mengomandoi ratusan penonton untuk bernyanyi bersama, menyatukan teriakan perlawanan yang lama terpendam hingga menyesakkan dada.

ANTOLOGI RASA (2019)

“Selamat datang di kehidupan cinta gue yang berantakan”, sapa Keara (Carissa Perusset) pada penonton. Dan memang pernyataan itu paling pas, sebab Antologi Rasa sungguh menghadirkan kisah cinta segiempat luar biasa rumit nan berantakan. Begitu berantakan, pesan yang filmnya hendak sampaikan soal hubungan pun bak hilang ditelan keruwetannya. Atau memang tiada pesan apa pun? Ketika pikiran para karakter semakin jernih jelang kisah berakhir, tidak demikian halnya penonton.

Tapi jika anda memandang Antologi Rasa hanya sebagai satu lagi film tentang betapa resahnya mencintai seseorang yang tak dapat dimiliki, adaptasi novel berjudul sama karya Ika Natassa ini sesungguhnya bekerja cukup baik. Saya bisa memahami mayoritas rasa sakit karakternya, bahkan nyaris menitikkan air mata tatkala konflik lagi-lagi dibawa menuju resolusi di bandara, yang mana telah dipakai menutup ribuan drama romantika.

Keara, Harris (Herjunot Ali), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime) adalah sahabat yang mencari nafkah di satu kantor, bahkan sama-sama datang terlambat di hari pertama bekerja. Ada persamaan lain di antara mereka, di mana masing-masing saling memendam cinta. Harris mencintai Keara yang mencintai Ruly yang mencintai Denise yang sudah menikah. Rumit memang. Antologi Rasa seperti antologi hal-hal menyakitkan yang terjadi saat cinta bertepuk sebelah tangan.

Begitu banyak hal menyakitkan muncul membuat paling tidak ada satu-dua peristiwa yang pernah penonton alami, sehingga merasa terikat terhadapnya. Cukup ambil contoh perasaan Harris. Dia terjebak di friendzone, terlanjur jadi tempat Keara mencurahkan isi hati soal pria lain yang ia cintai. Fisik sang gadis amat dekat, namun tidak hatinya, yang digambarkan oleh suatu malam di Singapura, kala Keara berbaring di perut Harris, sementara si pria hidung belang mengaku sudah menemukan wanita yang sempurna baginya. Tentu Keara tak tahu bahwa wanita itu adalah dirinya.

Paruh pertama, yang menjabarkan perjalanan Keara dan Harris ke Singapura untuk menyaksikan balapan F1 (Ruly membatalkan keikutsertaannya demi menemani Denise), merupakan bagian paling bernyawa berkat keberhasilan Junot sejenak mengesampingkan persona “cowok cool” yang lekat padanya (AKHIRNYA!). Kepribadian unik dan cerianya membawa energi serta getaran menyenangkan, bukan hanya dalam hidup Keara, juga bagi pengalaman menonton kita. Walau sewaktu dipaksa melakoni adegan serius, kecanggungan kaku khasnya kembali lagi.

Carissa, dalam penampilan layar lebar perdana, menunjukkan kualitas yang hanya bisa dideskripsikan melalui kalimat Ruly untuk Keara berikut: “Efek lo ke cowok itu luar biasa”. Bukan cuma soal paras cantik. Ada aura menghipnotis yang memancing ketertarikan. Sesuatu yang mustahil dilatih, dan kelak bakal menjadikannya bintang besar selama jeli memilih peran. Di situasi dramatik, konsistensi Carissa perlu diperbaiki, tapi caranya menghantarkan kalimat emosional di “adegan bandara” cukup membuktikan potensinya. Sebuah kalimat yang lama saya nantikan keluar dari mulut karakter saat menghadapi perpisahan. Kalimat kuat yang bertindak selaku ungkapan perasaan jujur, sehingga saya memaafkan bagaimana Antologi Rasa tenggelam dalam kerumitannya sendiri.

Fase berikutnya, yang menampilkan perjalanan bisnis Keara bersama Ruly ke Bali, sayangnya tak seberapa menarik. Refal membuktikan kapasitasnya memerankan pria baik kharismatik, tapi fakta bahwa Ruly adalah pria kalem yang kurang jago menyegarkan suasana lewat lelucon seperti Harris, menjadkan interaksinya dengan Keara seringkali hampa. Terlalu banyak kekosongan di paruh kedua Antologi Rasa.

Film ini disutradarai Rizal Mantovani (Kuldesak, 5 cm, Eiffel...I’m In Love 2), yang saya percaya, senantiasa memiliki visi ciamik perihal merangkai gambar cantik meski pengadeganannya kekurangan sensitivitas (itu sebabnya kebanyakan horor Rizal berakhir buruk). Rizal tak kuasa mengangkat bobot emosi adegan, tapi lebih dari mampu untuk membuatnya nampak elegan sekaligus mewah. Dibantu sinematografi garapan Muhammad Firdaus (Sang Kiai, My Stupid Boss, Target), semua selalu terlihat cantik, baik pemandangan (Singapura, Bali, bahkan nuansa malam Jakarta) maupun tokoh-tokohnya. Walau akan lebih baik andai Rizal tak terlalu bergantung pada jajaran pemain atau benih-benih yang ditanam naskah buatan Donny Dhirgantoro (Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh) dan Ferry Lesmana (Danur, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur).

CALON BINI (2019)

Kadangkala sebuah film justru mencapai potensi terbaik saat hadir apa adanya. Keinginan untuk tampil “lebih” kerap jadi batu sandungan berbahaya. Demikian pula Calon Bini. Percintaan mustahil antara pembantu dan majikan entah sudah berapa kali dijadikan dasar jalinan kisah bertema “Cinderella story”, tapi pesonanya tak luntur, sebab sejak zaman nenek moyang, merupakan kewajaran jika seseorang mendambakan pasangan impian. Alih-alih mempertahankan kesederhanaan itu, Calon Bini memaksakan diri menyelipkan isu sosial tanpa dibarengi kualitas serta bekal pemahaman memadahi terhadapnya.  

Isu yang coba diangkat tak lain mengenai persepsi kolot masyarakat tentang kodrat wanita, khususnya wanita desa. Selepas lulus SMA, Ningsih (Michelle Ziudith) si gadis dari Bantul, berkeinginan melanjutkan kuliah hingga S2, walau perekonomian keluarganya pas-pasan. Kedua orang tuanya, Maryadi (Marwoto) dan Ngatinah (Cut Mini), hanya buruh tani. Sementara pakliknya, Agung (Ramzi) berhasrat menjodohkan Ningsih dengan Sapto (Dian Sidik) si putera Pak Kades (Butet Kartaredjasa), demi mengejar harta dan jabatan.

Tidak ada yang mempedulikan fakta bahwa Ningsih enggan menikah, apalagi dengan Sapto. Sebab, kebanyakan masyarakat di desa memang masih beranggapan bahwa paling tidak, pasangan kita wangun dijak njagong (pantas diajak menghadiri pesta pernikahan). Ucapan seperti itu sering saya dengar di lingkungan sekitar rumah sampai sekarang.

Tapi Ningsih kukuh pada pendirian, lalu memutuskan pergi ke Jakarta di hari lamaran. Tanpa memberi tahu keluarganya, ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Pak Prawira (Slamet Rahardjo) dan Bu Andini (Minati Atmanegara). Dari sinilah paparan perihal “wanita berhak mengejar cita-cita” mulai bermasalah, tepatnya begitu Ningsih bertemu Oma ( Niniek L. Karim), yang telah lama mengurung diri, merasa kesepian setelah ditinggal si cucu tunggal, Satria Bagus (Rizky Nazar) berkuliah ke luar negeri.

Sebelum membahas masalah seputar naskahnya, izinkan saya mengutarakan perasaan janggal melihat Niniek L. Karim memerankan mertua Slamet Rahardjo yang notabene hanya lebih muda 7 hari, sekaligus ibunda Minati Atmanegara yang berselisih 10 tahun dengannya. Itu sama saja seperti Vanesha Prescilla menjadi mertua Iqbaal Ramadhan alih-alih kekasihnya.

Kembali ke alur, begitu terpikatnya Oma pada Ningsih, ia berkeinginan menjodohkannya dengan Satria. Di saat bersamaan, Ningsih sejatinya telah jatuh hati kepada sosok bernama Jejak Langkah yang menuliskan kalimat-kalimat pemberi semangat untuknya melalui Instagram, tatkala banyak orang kerap melontarkan komentar bernada miring terkait cita-cita Ningsih.

Kita tahu siapa Jejak Langkah sebenarnya. Kita tahu ia bukan si pria asing (Antonio Blanco Jr.) yang ditemui Ningsih di kereta. Tapi bukan itu masalah terbesarnya. Bukan pula ketidakwajaran jumlah cercaan di Instagram Ningsih (bukan meremehkan cyberbullying, tapi sungguh, pernahkah anda melihat akun berjumlah pengikut sekitar 100 menerima komentar negatif kejam sebanyak itu?), melainkan bagaimana Calon Bini mengkritisi soal “wanita yang penting menikah” dan perjodohan, hanya untuk menuntaskan permasalahan protagonisnya lewat pernikahan dan perjodohan pula.

Sampai filmnya berakhir, jangankan meneruskan S2 atau meniti karir, Ningsih sama sekali tak berkuliah. Naskah garapan Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990) dan Novia Faizal (Cinta tapi Beda, Something in Between) berdasarkan ide cerita Sukdev Singh (One Fine Day, Calon Bini) pun urung memperlihatkan kelebihan Ningsih selain dalam urusan domestik seperti memasak atau membuat teh jahe. Dan akhirnya segala kesulitan hidupnya tuntas begitu si “pangeran berkuda putih” menjemputnya, membawanya kembali ke “kerajaan”.

Itu bukan satu-satunya elemen problematis film ini. Saya juga terganggu akan penggambaran masyarakat Jawa (terlebih Jogja), yang lagi-lagi tampak kampungan, norak, sama sekali buta soal modernisasi, pula tidak tahu adat istiadat layaknya orang barbar. Realitanya, masyarakat desa justru bakal bersikap 180 derajat dari apa yang diperlihatkan Calon Bini (dan ratusan film lokal yang salah kaprah akibat malas riset lainnya). Saya memahami intensinya sebagai bumbu komedi, namun stereotip ngawur ini sudah jadi penyakit kronis perfilman kita, sehingga di titik ini, sudah tak pantas ditoleransi.

Padahal di luar humor stereotipikal miliknya, Calon Bini sebenarnya menyimpan beberapa banyolan menggelitik, yang cukup efektif memancing tawa berkat  pengadeganan dinamis Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story) ditambah penyampaian mumpuni jajaran pemain. Marwoto sang komedian legendaris Jogja sudah tentu paling mencuri perhatian lewat celotehan-celotehan Bahasa Jawanya. Ya, untuk pemakaian bahasa, Calon Bini patut diapresiasi karena sebisa mungkin menghindari percampuran paksa Bahasa Jawa dan Indonesia sebagaimana dilakukan FTV kita.

Michelle Ziudith, biarpun belum sepenuhnya meyakinkan memerankan gadis Jawa dikarenakan gaya bicara yang sesekali masih terjebak logat “ndak gitu maaas...”, mampu menginjeksi energi supaya Calon Bini tak kehabisan daya hingga usai. Tapi jika ada aspek yang paling mencerminkan unsur pemberdayaan wanita, itu adalah akting Cut Mini. Tatapan Ngatinah kala melihat sang suami meluapkan amukannya kepada Agung, dipenuhi harga diri seorang wanita dari kalangan bawah yang tak rela kehilangan martabatnya. Andai Calon Bini juga memancarkan aura serupa.

HAPPY DEATH DAY 2U (2019)

Jika setelah Happy Death Day 2U Jessica Rothe masih belum juga memperoleh peran signifikan di film berskala besar, artinya para pelaku industri di Hollywood memang bodoh, atau sang agen makan gaji buta. Karakter yang Rothe perankan boleh terperangkap dalam lingkaran waktu repetitif, namun tidak dengan penampilannya. Dia terus menampilkan beragam varian jenaka agar Tree tetap menjadi sosok yang menyenangkan diikuti.

Demikian pula filmnya. Saya sempat khawatir bila usaha menjelaskan lingkaran waktu lewat penambahan unsur fiksi-ilmiah justru bakal membuat filmnya memaksakan diri melebarkan mitologi. Sebuah penyakit yang lumrah menjangkit seri slasher. Tapi rupanya, sutradara Christopher Landon (Paranormal Activity: The Marked Ones, Happy Death Day) yang mengambil alih penulisan naskah dari Scott Lobdell, berhasil memanfaatkannya selaku pembuka jalan masuk untuk lebih banyak hiburan yang mengacungkan jari tengah kepada logika serta keseriusan.

Belum sempat menikmati keberhasilan kabur dari lingkaran waktu, Tree terpaksa berada di situasi serupa, ketika sang pembunuh bertopeng bayi beraksi lagi. Kali ini, Carter (Israel Broussard) dan teman sekamarnya, Ryan (Phi Vu) turut diincar. Tree pun harus kembali mengulangi harinya untuk menggagalkan rencana pembunuhan tersebut, sembari mencari tahu penyebab terjadinya kondisi aneh itu.

Sebagai cara menjelaskan lingkaran waktunya, Landon menambah elemen fiksi-ilmiah, kali ini termasuk alternate universe. Presentasinya cukup berantakan, pun penonton butuh meluangkan usaha ekstra guna mencerna seluruh peristiwa, yang setelah tiap keping puzzle terkumpul, sebenarnya mampu membentuk satu kesatuan cerita yang saling melengkapi, selama anda tidak mengharapkan paparan ilmiah cerdas.

Lagipula, mematuhi nalar memang bukan fokus Happy Death Day 2U. Filmnya membenamkan diri ke dalam ketidaklogisan supaya penonton bisa terhibur menyaksikan Tree yang sekali lagi harus mati berulang kali. Ketika film pertamanya bermasalah dengan repetisi tatkala tiap lingkaran waktu terasa serupa satu sama lain, sekuelnya selalu muncul dengan hal kreatif, lucu, dan over-the-top. Semakin konyol cara Tree meregang nyawa, semakin mengasyikkan.

Sebagai sutradara, Landon masih piawai membuat montase dinamis nan menggelitik yang juga merupakan highlight pendahulunya. Kalau Confident-nya Demi Lovato menemani usaha Tree mencari identitas pembunuh di film pertama, sekarang giliran Hard Times milik Paramore melatari montasenya, yang lebih berani menumpahkan darah dan sadisme tanpa sedikitpun kehilangan sentuhan komedi yang kuantitasnya ditingkatkan di sini.

Tentu hasilnya takkan sebaik itu andai tak ada Jessica Rothe, yang sanggup membuat kita tertawa (dan pastinya jatuh cinta) lewat segala cara, dari penyampaian kalimat bernada sarkasme, tatapan yang akan membuatmu merasa layaknya orang paling bodoh sedunia, sampai teriakan histerikal yang memancing rasa penasaran, “Apa jadinya jika sang aktris berperan dalam film komedi-romantis?”. Menyaksikan penampilan Rothe, melakoni peran komedik seolah tampak begitu mudah.

Walau selepas melewati titik tengah mulai melemah sebagaimana kondisi Tree pasca tewas belasan kali, Happy Death Day 2U tak pernah kekurangan daya untuk menggaet atensi, yang mampu dilakukan berkat keengganan tampil realistis. Alhasil, alurnya bebas melangkah ke mana saja, menekan kemungkinan munculnya rasa bosan akibat arah yang mudah ditebak. Bahkan film ini memiliki hati, melalui aspek drama manis yang menghasilkan penutup sempurna bagi perjalanan protagonisnya. Dan setelah mid-credits scene-nya, seri Happy Death Day bisa bergerak menuju teritori baru yang lebih besar dan gila.

THE WAY I LOVE YOU (2019)

The Way I Love You punya kans menjadi suguhan bernilai tentang proses saling menemukan belahan jiwa yang sanggup menambal lubang dalam hati, andai pilihan fokus utama bukan dijatuhkan kepada unsur lain yang lebih dangkal. Tidak sepenuhnya keliru memang, namun menghilangkan peluang filmnya memiliki pembeda dibanding setumpuk cerita cinta remaja pada umumnya.

Faktanya, naskah buatan Johanna Wattimena (#Teman tapi Menikah) dan Gendis Hapsari menyimpan banyak elemen menarik, seperti duka keluarga, persahabatan yang mengobati kesedihan, atau perihal jatuh cinta lewat perkenalan di dunia maya. Semua itu pernah diangkat ke layar lebar tentu saja, tapi eksplorasi lebih jauh dapat menghasilkan kisah kaya rasa yang tak berkutat di drama romantika remaja yang itu-itu saja.

Setelah kehilangan sang ibu, Senja (Syifa Hadju) tinggal bersama sepupunya, Anya (Tissa Biani), beserta kedua orang tuanya (Adi Nugroho dan Windy Wulandari). Usia sepantaran memudahkan keduanya menjalin persahabatan erat, di mana mereka menganggap satu sama lain sebagai hal terpenting dalam hidup. Bahkan saat menghilangkan buku harian yang selalu jadi tempat Senja menuliskan kegundahan termasuk kerinduan akan mendiang ibunya, Anya membelikan laptop untuk menebus kesalahannya. Melihat itu, Senja memeluk sang sahabat, berurai air mata, sambil berkata, “Keterlaluan lo”. Ucapan sederhana itu merupakan satu-satunya kalimat di film ini yang tak terdengar membosankan sekaligus memiliki rasa.

Tanpa mereka tahu, buku Senja ada di tangan Bara (Rizky Nazar), murid baru yang enam bulan lalu juga baru saja ditinggal pergi ibu. Ayahnya (Surya Saputra), memaksa Bara ikut pindah dari Bandung ke Jakarta guna memulai lembaran kehidupan baru, dan itu memancing amarahnya. Hingga pada satu adegan yang sekali lagi menunjukkan kapasitas Surya Saputra memerankan sosok ayah sentimentil nan gundah gulana, keduanya saling memaafkan. Momen itu muncul di paruh awal, mengakhiri konflik ayah-anak yang ada sebelum sempat berkembang.

Buku itu tidak sengaja ditinggalkan Anya—yang jatuh cinta kepada Bara—ketika duduk di sebelah Bara. Anehnya, tidak sekalipun Bara berasumsi buku tersebut kepunyaan Anya. Jika saya adalah Bara, Anya bakal jadi orang pertama yang saya datangi. Setidaknya langkah itu logis, serta punya probabilitas keberhasilan lebih besar ketimbang secara acak meminta satu per satu siswi di sekolah memperlihatkan tulisan tangan mereka.

Berkat laptop pemberian Anya, Senja pun memulai menulis kisah pribadinya di blog menggunakan nama pena Caramel Latte. Di sana, Senja bertemu seseorang dengan nama pengguna BadBoy, yang mengaku menyukai tulisannya. Senja pun terpikat oleh kata-kata manis si pria misterius. Setelah rutin mengobrol di dunia maya, keduanya memutuskan bertemu. Bertatap mukalah akhirnya Senja dengan Rasya (Baskara Mahendra), dan hubungan mereka makin dekat. Tapi pelan-pelan, Senja merasa ada keanehan. Berbeda dengan BadBoy, Rasya lebih “nakal”, gemar merayu, juga “agresif”.

Tentu kita tahu ke mana alurnya bergerak. Kita tahu bahwa Bara, yang selalu terlibat pertengkaran dengan Senja di sekolah, sejatinya adalah BadBoy. Kita tahu hubungan Senja dan Anya akan diuji begitu rahasia identitas BadBoy terungkap. Kita pun tahu, jika kisah semacam ini punya akhir bahagia, ketika kekuatan persahabatan mendorong salah satu untuk mengalah. Dikarenakan Rasya adalah pria brengsek, kita tahu kalau Senja takkan berakhir di pelukannya, sehingga bisa ditebak, Anya yang bakal berbesar hati merelakan cintanya.

Teramat klise, namun sekali lagi, bukan hal haram. Kekeliruan terletak pada ketiadaan elemen dalam plot yang membuat proses tetap layak kita lewati walau tujuannya mudah ditebak. Aspek-aspek penceritaan yang saya sebut di paragraf awal urung dikembangkan agar tak berakhir sebagai pajangan belaka. Naskahnya kekurangan daya guna menciptakan interaksi dinamis di antara karakter, sedangkan Rudi Aryanto (Surat Cinta untuk Starla the Movie, Dancing in the Rain) bagai memasang mode autopilot di penyutradaraannya. Terdapat usaha memproduksi kejenakaan, tapi satu-satunya momen di mana tawa saya meledak yakni ketika Adi Nugroho melontarkan “lelucon Gaara”.

Beruntung, The Way I Love You punya dua talenta muda berbakat. Syifa Hadju mampu menghadirkan protagonis likeable yang piawai memancing senyum tiap kali ia bertingkah canggung menanggapi pesan-pesan BadBoy di layar laptop. Sementara Tissa Biani melahirkan tokoh paling memorable di sini, serupa keberhasilannya di Laundry Show yang juga rilis minggu ini. Lain cerita bagi Rizky Nazar. Bukan kharismanya yang perlu dipertanyakan, melainkan seberapa alamiah ia dalam berlakon. Tengok tawa dipaksakan selaku respon Bara tatkala sang ayah salah mengartikan “kecelakaan” sebagai “menghamili”, yang menambah kecanggungan adegan komedik gagal tersebut.