REVIEW - GOHAN

Seperti yang diekspektasikan dari film seputar anjing, Gohan bakal menguras air mata sampai tuntas, tapi ia melakukannya secara "cantik". Alih-alih pesakitan, si anjing dijadikan pembawa harapan. Proses menemukan nurani lebih diutamakan oleh produksi terbaru GDH 559 ini ketimbang tragedi. 

Filmnya mendefinisikan peran anjing selaku sahabat manusia dengan menjadikannya saksi penciptaan memori-memori seiring berlalunya guliran waktu. Sepanjang 141 menit durasi, ia memaparkan tiga cerita yang merambah tiga warna genre berbeda, digarap oleh tiga sutradara, serta menampilkan tiga aktor anjing sebagai pemeran utama. 

Di kisah pertama, Gohan (diperankan anak anjing bernama Kori) yang masih kecil terlantar di emper 7-Eleven sebelum diselamatkan oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur bidang otomotif yang sedang menimbang-nimbang untuk pulang ke Jepang pasca dipaksa pensiun oleh perusahaan tempatnya mengabdi selama 35 tahun. Nama "Gohan" disematkan oleh si kakek. 

Dari tiga cerita filmnya, inilah yang paling emosional. Tidak heran, sebab ia digawangi oleh figur paling berpengalaman, yakni Chayanop Boonprakob, yang bermodalkan deretan judul-judul hebat dalam filmografi miliknya, sebutlah SuckSeed (2011), A Gift (2016), Friend Zone (2019), sampai The Red Envelope (2025). 

Chayanop enggan membangun melankoli. Dua karakternya dibawa saling menyelamatkan hidup masing-masing daripada digiring meratapi nasib buruk mereka. Pun sesekali muncul selipan humor yang dengan apik mengawinkan dua wajah eksentrik sinema Jepang dan Tailan. Dipandu pengarahan sang sutradara yang menolak buru-buru sementara musik bergaya akustik mengalun lembut, segmen pertamanya hadir bak semilir angin yang mendamaikan.

Kitachima Yasushi menciptakan protagonis yang mudah mencuri hati (bahkan caranya melafalkan nama "Gohan" pun sanggup mengaduk-aduk emosi!) lewat sosok Hiro yang tengah belajar untuk beranjak dari kenangan lama sembari merekam kenangan baru. 

Cerita kedua menjejakkan kakinya ke ranah road trip, di mana Gohan dewasa (Meechok) mesti kabur dari tempat penampungan anjing yang memperlakukannya secara kejam. Pelariannya mendapat uluran tangan dari Namcha (Poe Mamhe Thar), migran asal Myanmar yang bekerja tanpa dokumen di penampungan tersebut. Namcha memberinya nama baru: Brownie. 

Kendati memaparkan fenomena meresahkan seputar penyalahgunaan penampungan sebagai medium pengeruk uang, segmen garapan Baz Poonpiriya (Bad Genius) ini berujung jadi yang terlemah. Naskahnya luput mengembangkan ketersesatan para protagonisnya jadi sajian bermakna. Kebersamaan Namcha dengan Gohan/Brownie yang secara kuantitas cenderung singkat, gagal ditutupi oleh kualitas presentasi, sehingga terkesan cuma bertugas menjembatani dua cerita yang lebih kuat.

Atta Hemwadee (Not Friends) memungkasi perjalanan Gohan melayari samudra kehidupan lewat sebuah romantika manis. Gohan tua yang kini dipanggil Hima (juga diperankan anjing bernama Hima) kembali hidup terlantar di stasiun Hua Takhe. Dia menggantungkan diri pada makanan pemberian para penumpang, termasuk Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pelé (Jinjett Wattanasin), yang pertama kali kita temui tatkala hendak mendaftar ke universitas. 

Sang waktu terus bergerak dalam aliran pasti tepat di depan mata kita dan Gohan/Hima. Jaideen dan Pelé mulai berkuliah, benih romansa tumbuh kemudian runtuh, Jaideen menjalani profesi sebagai pramugari selepas lulus, sedangkan Pelé kesulitan menyelesaikan studinya. Bagi dua manusia tersebut kehidupan di dunia nyata baru saja dimulai, tapi ujung jalan sudah nampak dekat di mata Gohan/Hima. 

Segmen penutup ini adalah romantika berkualitas khas sinema "Negeri Gajah Putih", yang tidak sekadar mencuatkan rasa manis, pula membawa sayatan yang meninggalkan bilur di hati, sekaligus menawarkan perspektif mendalam terhadap konfliknya, ketika ia menampik justifikasi dan romantisasi atas kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Karakternya berproses bukan semata demi cinta buta, tapi perbaikan atas kualitas diri. 

Saya mencintai pilihan konklusinya. Gohan menjauhi pakem generik beserta segala kegemarannya memakai dramatisasi murahan demi menguras air mata penonton. Filmnya tidak tertarik mengeksploitasi dan hanya ingin "mengabadikan" sebagai caranya mencintai. 

REVIEW - BILLIE EILISH - HIT ME HARD AND SOFT: THE TOUR (LIVE IN 3D)

"Birds of a feather, we should stick together, I know". Sewaktu Billie Eilish melantunkan baris lirik indah dari tembang Birds of a Feather yang jadi penutup konsernya, sekelompok penonton dalam studio turun ke depan layar, bernyanyi, berjingkrak, sembari berangkulan bak bulu-bulu yang terjalin erat kala sang burung mengangkasa. Mereka seperti benar-benar sedang menyaksikan konser secara langsung. Sebuah pengalaman transendental yang hanya bisa dicapai sinema kelas satu. 

Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) merupakan film yang akan membuatmu mengagumi dua sutradaranya: Billie Eilish si musisi muda dengan kekayaan visi yang bukan bintang pop kosong hasil kurasi industri semata, dan James Cameron sang "Dewa Sinema" yang mau berusaha memahami generasi sekarang alih-alih bersikap arogan dengan mengerdilkan mereka. 

Latarnya adalah konser di Manchester (2025) yang jadi bagian Hit Me Hard and Soft: The Tour. Di lagu Chihiro selaku nomor pembuka, Eilish muncul dari dalam sangkar lalu membagikan lirikan tajam khasnya ke arah lautan manusia yang meneriakkan namanya. Cameron menangkap figur sang musisi bagai jagoan laga karismatik yang kerap menghiasi karya-karyanya. 

Cameron jelas mengagumi Eilish. Dia hadir bukan untuk unjuk gigi sebagai pemeran utama, melainkan sosok pendukung yang memfasilitasi upaya si bintang muda merealisasikan visinya. Sebelum konser dimulai, Eilish menjabarkan keinginannya, pula hal apa saja yang hendak ia lakukan di atas panggung, kemudian menutup dengan pertanyaan, "Bisakah kita melakukan itu?" Cameron menjawab santai, "Ya." Jika salah satu sutradara paling jenius berada di pihakmu, kemustahilan bukan lagi sesuatu yang patut dikhawatirkan.

Seiring konser berjalan, kita pun perlahan dibuat menyadari bahwa dua seniman lain era dan medium ini sejatinya tidak seberapa jauh berbeda. Sebagaimana Cameron, Eilish pun gemar mengeksplorasi ragam teknologi yang bisa menyulap konsernya jadi pesta meriah, bahkan saat tengah membawakan lagu-lagu bertempo lambat. 

Tata cahaya dengan warna-warni tajam yang menyesuaikan suasana tiap lagu, pemakaian teknik vocal loops yang mengharuskan puluhan ribu orang dalam Co-op Live untuk membisu sejenak setelah bernyanyi dan berteriak tanpa henti, semua melahirkan pengalaman sensoris yang terasa imersif kala diterjemahkan ke layar perak oleh Cameron.

Format 3D jadi senjata pamungkas guna menggenjot kesan imersif tersebut. Gambarnya memiliki kejernihan serta kedalaman luar biasa, sehingga setiap kali kamera diletakkan dari perspektif penonton, kita akan merasa seperti sungguh-sungguh berdiri di belakang kerumunan manusia tersebut. Sadarkah kalian kalau para anggota band pengiringnya mengenakan baju merah dan biru sebagai simbol efek 3D? 

Sekali waktu kita diajak mengunjungi kondisi di balik panggung untuk mendengarkan obrolan Eilish dan Cameron. Beberapa topik dibicarakan, mulai dari pilihan gaya berpakaian, ambisinya menginspirasi sebagai figur publik perempuan, hingga keinginan membahagiakan para penggemar lewat performanya di atas panggung. Sederhananya, hal-hal yang sudah sering kita temui di banyak film konser. 

Bukan tipikal wawancara yang mengupas ruang intim sang narasumber secara mendalam, tapi bukan masalah, sebab dokumenter Billie Eilish: The World's a Little Blurry (2021) sudah eksis untuk memenuhi tujuan tersebut. Sedangkan Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) lebih mengedepankan spektakel, kendati itu bukan berarti ia mengeliminasi emosi. Hanya saja, daripada berasal dari obrolan, dinamika rasa terbesarnya dihasilkan oleh atmosfer konsernya. 

Memotret reaksi penonton sepanjang konser merupakan praktik lumrah dalam film konser, namun di sini pemandangan tersebut lebih sering ditampilkan. Cameron memakainya selaku  medium observasi seputar budaya generasi muda, yang tak sekalipun terkesan menghakimi. 

Pemujaan terhadap bintang pop bukan dibingkai sebagai obsesi tak sehat, melainkan tali pengaman yang mengentaskan mereka dari titik nadir kehidupan. Pun Cameron enggan memandang aktivitas merekam jalannya konser secara negatif. Bukannya anak-anak muda ini larut dalam jerat teknologi. Begitulah cara mereka menciptakan serta menyimpan kenangan. 

Wajah mereka senantiasa dibanjiri air mata. Setiap lagu mampu menyentuh hati orang yang berbeda-beda, setiap orang pun membawa beragam cerita yang seketika terbayang tiap saya mengamati gurat-gurat rasa di wajah mereka. Tanpa sadar, terjalin koneksi antara dua kelompok penonton (konser dan bioskop) yang terpisah oleh sekat ruang dan waktu. 

REVIEW - MORTAL KOMBAT II

Lebih dari 600 fatality telah hadir dalam lebih dari tiga dekade perjalanan Mortal Kombat. Beberapa keren, beberapa buruk. Ada sadisme, ada pula kekonyolan. Posibilitas tanpa batas guna menghabisi lawan. Di situlah pesona gim satu ini, yang menjauhkannya dari barisan peniru gagal di luar sana. Tapi Mortal Kombat II entah bagaimana memilih bermain terlalu aman dengan mendesain mayoritas eksekusinya secara generik. 

Invasi Shao Kahn (Martyn Ford) terhadap Edenia, yang bertindak selaku pembangun latar belakang tragis bagi Kitana (Adeline Rudolph) kala menyaksikan sang ayah, Raja Jerrod (Desmond Chiam), tewas mengenaskan sementara ibunya, Ratu Sindel (Ana Thu Nguyen), terpaksa berlutut di hadapan si kaisar keji, berhasil jadi momen pembuka yang menjanjikan. 

Begitu pun kala (AKHIRNYA!) kita dibawa mengunjungi Johnny Cage (Karl Urban), jagoan laga 90-an yang karirnya telah meredup. Di bawah bimbingan Raiden (Tadanobu Asano), bersama Sonya Blade (Jessica McNamee), Liu Kang (Ludi Lin), Jax (Mehcad Brooks), dan Cole Young (Lewis Tan), Cage terpilih sebagai perwakilan Earthrealm dalam turnamen Mortal Kombat. 

Setelahnya, naskah buatan Jeremy Slater nyaris secara total meniadakan alur. Tapi toh ini waktunya turnamen berlangsung pasca upaya licik Shang Tsung (Chin Han) melucuti kekuatan Earthrealm di film pertama. Tiada lagi waktu berbasa-basi, yang turut ditegaskan pada keberanian filmnya menghabisi siapa saja. Tidak satu karakter pun terjamin keselamatannya. 

Sayang, cara Simon McQuoid selaku sutradara menangani barisan "pertarungan sampai mati" (yang kebanyakan bergulir singkat demi mengatrol kuantitas setinggi mungkin) terlalu ala kadarnya, tanpa koreografi mumpuni, termasuk ketika masing-masing karakter memamerkan special moves mereka yang akhirnya tidak nampak spesial. 

Kegagalan paling fatal adalah sempitnya ruang eksplorasi terkait fatality. Tentu saya tidak berharap Liu Kang menjatuhkan mesin arkade, Jax mengubah kakinya jadi seukuran raksasa, atau Quan Chi menarik leher lawan hingga memanjang. Masalahnya, kecuali hantaman palu perang Shao Kahn yang luar biasa brutal, serta sayatan over-the-top dari kipas Kitana di klimaks, filmnya gagal mengeksplorasi opsi selain aksi saling tusuk membosankan. 

Alhasil ketiadaan plotnya makin terasa. Film pertama setidaknya masih punya konflik lintas generasi antara klan Shirai Ryu dengan Lin Kuei, yang kali ini masih membara saat Hanzo Hasashi / Scorpion (Hiroyuki Sanada) mendapati musuh bebuyutannya, Bi-Han (Joe Taslim), hidup kembali dengan identitas baru: Noob Saibot. 

Sedangkan di Mortal Kombat II, tiap perhentian sewaktu aksinya rehat sejenak, terasa begitu hampa nan membosankan. Dua karakter paling menarik, Kitana dan Johnny Cage, terpaksa mendapati proses mereka menemukan kedamaian hidup dipaparkan dengan luar biasa mentah. Usaha filmnya memancing tawa lewat humor verbal murahan buatan Slater pun berakhir hambar. 

Tidak ada yang salah dengan performa jajaran pemainnya. Karl Urban diberkahi karisma selaku penghantar one-liner, kendati naskahnya terlalu bergantung pada celetukan yang kaya akan referensi budaya populer namun miskin kreativitas guna membangun penokohan Johnny Cage. Adeline Rudolph pun berhasil menghidupkan figur prajurit tangguh dengan masa lalu tragis yang mudah penonton dukung kejayaannya.

Ditilik dari permukaan, tokoh-tokohnya tampak luar biasa berkat pilihan estetika yang presisi terkait desain mereka. Lihat bagaimana Baraka (CJ Bloomfield) diinterpretasikan. Mortal Kombat II memang punya kulit yang sempurna, tapi lalai mengasah taringnya supaya tidak tumpul.

REVIEW - SALMOKJI: WHISPERING WATER

Sebagian alasan mengapa Salmokji: Whispering Water terasa menonjol dibanding sesamanya adalah perihal latar (berdasarkan legenda urban sebuah lokasi nyata bernama Waduk Salmokji) yang tidak diperlakukan sebagai tempat angker biasa, melainkan seperti karakter tersendiri. Kita dibuat memahami medannya, juga apa yang mampu ia perbuat terhadap para tamu tak diundang. Sederhananya, kendati menguarkan aroma kematian, Salmokji terasa hidup. 

Pondasi ceritanya memang tidak jauh beda dibanding banyak horor bertema tempat angker. Sekelompok kru perusahaan penyedia street-view yang dikepalai Han Su-in (Kim Hye-yoon), mendatangi Waduk Salmokji guna merekam kondisi di sana. Rekaman sebelumnya tidak bisa digunakan akibat kemunculan sosok misterius dalam salah satu foto. Ada kekhawatiran, tapi toh mereka mesti bersikap profesional.

Begitu pengambilan gambar dimulai, rangkaian fenomena di luar nalar pun segera terjadi, termasuk kedatangan mendadak Woo Gyo-sil (Kim Jun-han) si produser senior yang sempat berhari-hari hilang. Yoon Ki-tae (Lee Jong-won), salah satu produser sekaligus mantan pacar Su-in, kelak turut menyusul. Saya mengapresiasi bagaimana masa lalu Su-in dan Ki-tae hanya dipaparkan tersirat selaku pondasi bagi dinamika karakternya, alih-alih dibiarkan mendistraksi konflik utama.

Waduk Salmokji memiliki pesona misterius yang perlahan mengaliri tubuh kita dengan sensasi kecemasan yang sukar dijelaskan. Perlahan kita dibuat mengakrabi lokasinya, sembari berusaha menguraikan rahasia kelam yang terbenam jauh di dalamnya. Ada rasa tidak nyaman kala mengamati waduk penuh air di malam hari yang seolah membentang tanpa mengenal batasan dimensi. 

Sayang, walau mampu memberi lokasinya karakteristik kuat, naskah buatan Lee Sang-min, belum seberapa piawai mengeksplorasi mitologi yang bersemayam di sana secara menarik, untuk dapat lebih jauh menyulut keingintahuan penonton. Tidak banyak subteks, tiada pula jejak sejarah guna ditelusuri. 

Tapi sebagai sutradara, Lee Sang-min berhasil menjalankan tugasnya menjauhkan film ini dari kemonotonan visual. Deretan karakternya merupakan orang media yang sedang bertugas, sehingga mereka pun membekali diri dengan berbagai peralatan. Ada kamera pendeteksi gerakan, kamera 360 derajat, sampai kamera ransel perekam street-view. Visualnya variatif.

Selain membantu terciptanya setup menarik menuju tiap teror, karena ragam peralatan di atas belum sejamak itu dimanfaatkan oleh film horor lain, kesan familiar pun lenyap. Kita tidak tahu dari mana teror bakal muncul, sehingga kecemasan dalam proses mengantisipasinya pun dibangun secara efektif. 

Di luar beberapa desain visual mengerikan (adegan "barisan kepala mengambang" jadi favorit saya), sejatinya payoff yang Salmokji berikan untuk berbagai setup menarik tersebut masih berkutat di pemandangan-pemandangan yang cenderung generik, seperti penampakan muka hantu, penampakan tangan hantu, dll. 

Eksekusinya menjadi solid berkat kejelian sang sutradara mengatur timing, supaya seklise apa pun wujud terornya, jantung penonton tetap berhasil digedor. Komposisi musiknya turut berperan. Penggunaan musik yang riuh memang berujung mengeliminasi kengerian, namun ia bak injeksi adrenalin yang mengatrol intensitas. Salmokji Whispering Water bukan tontonan menyeramkan, melainkan tipikal horor arus utama yang mengutamakan keseruan, dan berhasil mencapai tujuannya. 

Di jajaran penampil, Kim Hye-yoon menyalurkan teror melalui olah ekspresinya, yang seolah menghipnotis penonton supaya turut mencurigai ketidakberesan Waduk Salmokji. Misteri berkutat di tiap sorot mata sang aktris. Misteri yang seiring waktu lebih banyak melempar pertanyaan baru ketimbang jawaban penghilang rasa ragu.

Ada kalanya Salmokji Whispering Water terasa melelahkan karena bak berusaha terlampau keras bersikap ambigu, tapi lewat ambiguitas itulah filmnya bisa terus menetap di benak penonton, bahkan jauh selepas pemutaran berakhir. Entah lewat diskusi bersama, maupun perumusan teori-teori. 

Termasuk perihal konklusi sarat enigma yang bagai peleburan dua horor legendaris: The Shining (1980) dan The Descent (2005). Sayang, dampak emosi yang berpotensi amat menusuk dari konklusi itu, dilucuti kekuatannya oleh repetisi berlebihan terhadap elemen ilusi dalam alurnya. Penonton sudah berulang kali mengalaminya. Alhasil, kita takkan dikuasai keterkejutan sebesar protagonisnya tatkala film ini memamerkan ilusi pamungkasnya.

REVIEW - THE DEVIL WEARS PRADA 2

"Chick flick". Dahulu, istilah (seksis) tersebut kerap disematkan bagi tontonan semacam ini. Film khusus perempuan. Tidakkah laki-laki juga boleh menikmati film tentang setumpuk gaun bermerek yang dikenakan oleh protagonis perempuan seraya ia menavigasi hidup dan karirnya? Serupa pendahulunya dua dekade lalu, The Devil Wears Prada 2 memberkati mata  dengan kecantikannya, pula menyulut tawa serta memenuhi hati lewat perjalanan si tokoh utama. 

Kali pertama penonton bertemu lagi dengan Andy (Anne Hathaway), ia sedang berjalan melintasi keramaian New York. Bagaimana kamera menangkap pergerakannya, seketika mengingatkan pada pemandangan dari film-film pop 90-an dan awal 2000-an. Wajar, sebab David Frankel kembali duduk di kursi sutradara. 

Andy dihadapkan pada fakta bahwa media cetak mulai hilang termakan zaman, tatkala ia dan rekan-rekan jurnalis lain kehilangan pekerjaan secara mendadak. Di saat bersamaan, Runway yang telah beralih ke medium digital, tengah didera skandal yang mengakibatkan kredibilitas Miranda Priestly (Meryl Streep) dipertanyakan. 

Takdir bertaut. Andy direkrut sebagai editor guna mengatrol reputasi perusahaan, bertemu lagi dengan mantan bos yang dulu ia takuti, Nigel (Stanley Tucci) yang masih baik hati, berurusan dengan kekisruhan korporasi, pula bersinggungan dengan Emily (Emily Blunt) yang sekarang memegang jabatan penting di salah satu pendana terbesar Runway: Dior. Saya tersentuh oleh reuni para perempuan (plus seorang lelaki) yang sama-sama berjibaku mengejar karir masing-masing ini. 

Andy kembali ke Runway bukan lagi pesuruh Miranda, melainkan rekan yang nyaris setara. Selain karena kini ia adalah jurnalis ternama, perubahan zaman membuat Miranda bukan lagi figur "tak tersentuh" seperti 20 tahun lalu. Dia mesti menggantung mantelnya sendiri, dilarang menghina bawahan, mendapati keterbatasan biaya, bahkan terpaksa menerima disetir oleh keinginan pihak lain.

Penggambaran tersebut sesuai dengan era yang enggan menjustifikasi eksistensi atasan toksik, tapi di sisi lain, rasanya ada "mistisisme" yang lenyap. Salah satu alasan The Devil Wears Prada begitu ikonik adalah penokohan Miranda yang terpisah amat jauh dari realita manusia biasa, dan keputusan lebih mendekatkannya ke bumi atas nama tuntutan zaman agak melucuti pesona filmnya. 

Sebagai representasi era, perubahan tersebut memang diperlakukan. Era di mana jurnalisme berubah, sementara majalah mode yang dulu sakral kini direduksi menjadi konten yang publik nikmati sambil buang air. Saya merasa ulasan film pun mengalami nasib serupa. Telaah mendalam dianggap tindak berlebihan oleh publik yang lebih menggandrungi pemberian skor atau penghakiman "baik/jelek" secara instan. 

Tapi naskah buatan Aline Brosh McKenna tidak bersikap layaknya makhluk purba yang mengerdilkan paham kekinian sambil mengenang "the good ol' days." Perspektifnya cukup berimbang, dengan mengamini betapa modernisasi, sebagaimana perihal apa pun di dunia ini, punya sisi positif dan negatif. Misal di satu kesempatan saat Andy mendapati stigma buruk yang ia sematkan pada Gen Z dibantah oleh kecerdikan asistennya, Jin Chao (Helen J. Shen). 

Keresahan The Devil Wears Prada 2 terkait modernisasi cenderung dialamatkan pada fenomena hilangnya "keindahan" akibat tuntutan industri yang mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Film ini ingin melestarikan keindahan seperti desain baju, karya tulis, lukisan, hingga majalah bak kitab suci, maupun seni untuk membuat segala hal tersebut. 

Jadilah dua jam penuh keindahan visual hasil persembahan baju-baju glamornya. Dunia milik kaum jetset yang mewah nan meriah. Di situlah jajaran pelakonnya berperan menginjeksi humanisme. Interaksi antara Anne Hathaway yang masih piawai mencurahkan kecanggungan, Emily Blunt yang membuat tindakan merendahkan orang lain jadi hiburan menyenangkan, dan Stanley Tucci lewat gaya deadpan andalannya, senantiasa membuat senyum saya mengembang. 

Meryl Streep tetaplah Meryl Streep. Master seni peran yang punya segudang cara untuk menyulap kalimat sederhana jadi terdengar memiliki jutaan warna. Terdapat dua peristiwa yang menangkap kelihaiannya mengolah rasa. Pertama sewaktu ia dan Tucci berbagi momen personal, kedua saat Miranda mengakui ketidaksempurnaannya sembari menjabarkan realita mengenai perempuan yang mengorbankan banyak hal demi karir. 

Miranda memang tak ubahnya monster, tapi dia berasal dari era yang menuntut perempuan bekerja dua kali lebih keras dan bersikap dua kali lebih ganas dari laki-laki supaya berkesempatan mereguk sukses. Kini waktunya bagi generasi Andy untuk memastikan bahwa perempuan di industri tidak perlu bertransformasi menjadi "Miranda 2.0" guna mencapai puncak dunia. 

Tentu saya menyadari resolusi konflik yang film ini tawarkan terkesan menggampangkan. Tapi toh saya enggan ambil pusing, sebab realitanya, andai prinsip "women support women" sungguh diterapkan secara tepat, pun perempuan memiliki lebih banyak daya dan kuasa, dunia ini dengan segala badainya memang bakal menjadi lebih gampang diarungi. 

REVIEW - MOTHER MARY

Pondasi Mother Mary sesungguhnya tersusun atas kisah klasik (kalau tak mau disebut "usang") tentang pergumulan bintang pop dengan belenggu ketenaran. Tentang masalah personal sebagai manusia biasa yang tersembunyi di balik pemujaan para penggemar, yang memandangnya bak figur religius macam Bunda Maria. Tentang kegelapan yang bersemayam dalam kulit luar penuh pendaran cahaya.

Keberadaan David Lowery selaku sutradara sekaligus penulis naskah, dengan pengalamannya melahirkan sejumlah karya yang menantang narasi konvensional seperti A Ghost Story (2017) dan The Green Knight (2021), menjadi pembeda. Ibarat musisi, Lowery memakai Mother Mary sebagai medium bereksperimen untuk membawa musik pop ke arah yang lebih artistik. 

Mother Mary (Anne Hathaway) adalah bintang pop yang bakal mengingatkan ke nama-nama seperti Beyoncé, Taylor Swift, atau Lady Gaga di dunia nyata, namun dengan barisan lagu elektropop atmosferik ala Charli XCX dan FKA Twigs (keduanya turut menyumbang lagu, FKA Twigs bahkan muncul dalam peran kecil). 

Karya-karyanya memang menghipnotis. Lowery mengarahkan tiap aksi panggung Mother Mary dengan kemegahan sebagaimana mestinya tur stadion musisi nomor satu, sementara kostum-kostum eksentrik buatan Bina Daigeler bukan cuma cantik, pula mendefinisikan ketegasan si protagonis mengenai identitas personanya. 

Tapi akibat suatu peristiwa yang baru akan diungkap di paruh akhir, karir Mother Mary berada dalam titik nadir. Dia berniat kembali, namun tak jua merasa cocok dengan kostum yang timnya sediakan. Dari situlah ia mencari Sam Anselm (Michaela Coel), desainer sekaligus mantan sahabat dan kolaboratornya di awal karir. 

Konflik membuat hubungan keduanya kini teramat asing, namun ikatan di antara mereka masih sekuat dulu. Begitu kuat hingga nyaris terasa magis. Tanpa harus melempar kabar, Sam dan Mary dapat merasakan keberadaan satu sama lain dari jarak jauh. Pertalian batin dengan seorang manusia ini lebih substansial dalam hidup Mary ketimbang dengan jutaan pemujanya. 

Mary meminta Sam mendesain kostum untuk konsernya. Sam sempat menolak. Sakit hati membuatnya bertahun-tahun menghindari mendengarkan lagu-lagu Mary. Kemudian mereka bicara, bicara, dan bicara, mengenang setumpuk peristiwa lalu sambil sesekali meraba-raba posibilitas masa depan yang masih begitu samar. 

Michaela Coel menampilkan performa yang kaya akan eksplorasi ekspresi. Raut wajahnya mampu sedemikian cepat beralih rupa, dari yang bersifat "besar" ke arah yang lebih subtil. Sedangkan Anne Hathaway punya karisma panggung yang meyakinkan selaku bintang pop pujaan jutaan manusia. 

Sejatinya menarik untuk menyelisik makna-makna yang bersembunyi di antara kalimat dalam baris dialog hasil tulisan Lowery, yang menuntut Mary dan Sam terus saling bicara dalam ambiguitas. Tapi proses mendengarkan obrolan dua orang yang seolah ingin sok misterius dalam berkomunikasi selama nyaris dua jam memang cukup melelahkan. "These metaphors are exhausting", ucap Sam. Saya pun mengamini. 

Mother Mary perlu tambahan injeksi olah visual khas David Lowery, di tengah presentasinya yang mengedepankan ungkapan verbal. Untung babak keduanya memfasilitasi kebutuhan tersebut, tatkala Mary dan Sam mulai membagi pengalaman aneh masing-masing saat melihat sosok hantu berwujud kain merah yang melayang dalam gerak lambat. 

Lowery kembali memposisikan "hantu" bukan selaku makhluk supernatural yang mampu diusir memakai mantra atau doa, melainkan entitas abstrak yang mewakili ketidaktuntasan problematika manusia. Mungkin dilandasi tendensi industri musik arus utama untuk bermain aman di hadapan publik, Mary memilih  menutup jati dirinya sebagai queer, yang secara otomatis membuat Sam terasing. 

Lowery membawa hantu itu kembali ke depan dua tokoh utamanya, lalu menghantarkan breakup story (juga sebuah kisah usang) yang diangkat nilai estetikanya, guna mempercantik proses protagonis mengangkat luka di hati mereka. Kalimat "Your song is the greatest song in the history of song" yang filmnya perdengarkan sebagai penutup pun menjadi ungkapan indah nan emosional mengenai pemujaan terhadap sesosok manusia yang tidak melulu dibarengi obsesi berlebihan untuk memiliki.