REVIEW - MASTERS OF THE UNIVERSE
Bagaimana sosok jagoan kekar berjuluk "He-Man" dengan testosteron mengalir begitu deras sampai machismo era 80-an seolah menubuh sempurna pada dirinya bisa tetap memiliki tempat di masa sekarang? Masters of the Universe punya jawaban sederhana: buat dia tetap kuat secara fisik, tetap berotot, tapi pastikan si jagoan punya kualitas lain.
Sebagaimana citra feminin pada perempuan, laki-laki pun sudah sekian lama diharapkan menapaki standar maskulinitas. Adam (Nicholas Galitzine) selaku pangeran dari planet Eternia terjebak dalam problematika serupa. Bagi Raja Randor (James Purefoy), si putra mahkota yang kurang menikmati latihan bertarung di bawah arahan Duncan alias Man-At-Arms (Idris Elba), tidak cukup maskulin.
Ketika Skeletor (Jared Leto) beserta pasukannya menginvasi Eternia, Adam pun dikirim ke Bumi, guna melindungi pedang pusaka yang konon menyimpan kekuatan luar biasa. Bagaimana Adam kecil mampu menghidupi dirinya selama belasan tahun, di dunia yang selalu menertawakan kisahnya mengenai Eternia? Rasanya sempilan montase pendek sebagai penjelas takkan melukai narasi yang sudah terlanjur panjang (140 menit).
Masters of the Universe dengan bangga mengenakan ragam estetika khas 80-an yang cenderung jenaka bila disaksikan sekarang, lalu menjadikannya identitas audiovisual unik. Tengok betapa kerennya jajaran pengawal kerajaan dengan kostum serta kekuatan aneh mereka, dari Ram-Man (Jon Xue Zhang), Fisto (Jóhannes Haukur Jóhannesson), hingga Mekaneck (James Wilkinson). Pun karakter bernama segenerik Dian (Christiaan Bettridge) diberi kesempatan memamerkan gaya bertarung yang spektakuler.
Sedangkan kolaborasi Daniel Pemberton dengan Brian May niscaya bakal mengecoh kuping penonton, membuat kita mengira sedang disuguhi lagu-lagu epik nan autentik dari masa lalu. Travis Knight selaku sutradara juga tidak kalah jeli perihal merumuskan komposisi gambar bertabur warna-warni cerah, lengkap dengan beberapa visual cues ala spektakel kepahlawanan 80-an yang kemunculannya bisa seketika membangkitkan jiwa nerdy penonton, terutama saat Adam mengangkat pedangnya sembari berteriak lantang, "I have the power!"
Selang 15 tahun pasca pelariannya, Adam, dibantu sahabat kecilnya yang juga putri angkat Duncan, Teela (Camila Mendes), memutuskan kembali ke Eternia guna menggulingkan Skeletor.
Petualangan mereka tersaji menyenangkan, seiring kegemaran naskahnya (digarap "keroyokan" oleh Chris Butler, Aaron Nee, Adam Nee, dan David Callaham) menertawakan kenorakan beberapa elemen dari waralaba kepunyaan Mattel ini, termasuk soal penamaan karakter yang terkesan malas, demi menyesuaikan dengan pola pikir sederhana para bocah sebagai target pasar mainan dan serial animasinya dahulu (1983-1985). Alhasil beberapa kebodohan alurnya pun lebih bisa dimaklumi.
Satu elemen 80-an yang filmnya pilih untuk modifikasi tentunya terkait lekatnya figur Adam alias He-Man dengan maskulinitas berlebih. Petuah dari Sorceress (Morena Baccarin) si penyihir Eternia, yang terdengar bak sentilan bagi machismo budaya populer dekade lama, menjadi kunci. Disebutnya bahwa para jawara dari era lalu hanya mengandalkan kekuatan fisik, tanpa empati maupun rasa kemanusiaan sebagaimana dimiliki Adam.
Bukan berarti Adam mesti dilucuti dari kekuatan fisiknya. Dia tetap sanggup berjibaku dengan luar biasa tangguh hingga musuh-musuhnya nampak bak pecundang. Tapi ia wajib menyimpan kualitas lain, dan tidak seperti protagonis dalam lagu Boys Don't Cry milik The Cure, harus dibebaskan mengutarakan perasaan, yang tak semestinya dikonotasikan secara negatif.
Diperankan begitu dinamis oleh Jared Leto yang menyeimbangkan kejenakaan dan kengerian, Skeletor diposisikan oleh filmnya sebagai contoh, apa jadinya tatkala laki-laki gagal mengatasi insekuritas diri. Seolah mempunyai wajah tengkorak tidak cukup, ia menduduki singgasana yang terbuat dari tulang, bahkan melancarkan genosida atas nama membangun citra "tangguh". Tapi masyarakat modern sudah cukup pintar untuk menyadari bahwa figur-figur seperti ini justru yang paling lemah dan menyedihkan.
REVIEW - NOBODY LOVES KAY
Nobody Loves Kay mengisahkan seorang remaja yang memberanikan diri menempuh jalur hidup di luar arus utama, dengan cara yang juga menampik teknik formulaik khas sinema drama arus utama Indonesia. Bernardus Raka yang melakoni debut penyutradaraan layar lebarnya tahu kapan mesti berkata "cukup" perihal mendramatisasi.
Alurnya terinspirasi dari perjalanan Kairi, atlet esports asal Filipina untuk permainan Mobile Legends yang kini berkarir bersama tim Onic Esports di Indonesia. Kay (Bima Azriel) selaku protagonis film ini merupakan versi fiktif dirinya, seorang siswa SMA yang terombang-ambing di antara dua pilihan: menuruti harapan orang tuanya yang bekerja sebagai TKI di Arab Saudi supaya fokus menempuh pendidikan, atau mengejar cita-citanya menjadi pemain gim profesional.
Bersama sahabatnya, Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico), Kay yang sudah tak lagi tertandingi di kampung mereka, senantiasa menghabiskan hari bermain Mobile Legends dengan harapan bakal menggapai status "pro-player" suatu hari nanti. Tentu bukan perkara mudah. Stigma negatif terhadap gim, tekanan ekonomi, serta gesekan di tengah persahabatan membentangkan aral di hadapan Kay.
Tidak harus menjadi penggila Mobile Legends untuk dapat menikmati Nobody Loves Kay, sebab kata-kata kejam yang kerap Kay dengar, baik dari orang tua, guru, bahkan teman sejawat pun mungkin pernah dialamatkan pada kita yang belum mencicipi gimnya. Permasalahannya dapat diaplikasikan ke konteks lain, dalam hidup para pemburu mimpi yang tak sejalan dengan norma konservatif.
Dipayungi warna visual yang sesekali meminjam rasa manis nan hangat khas film Thailand, penceritaan dalam naskah buatan Bernardus Raka dan Johanna Wattimena memastikan penonton sepenuhnya peduli akan suka duka protagonisnya, dengan melakukan eksplorasi mendalam terhadap tokoh Kay, yang juga diperankan secara apik oleh Bima Azriel.
Enggan pula filmnya menyembah moralitas dangkal, karena kita juga diajak memahami tokoh-tokoh lain, yang berlawanan dengan Kay, nekat merangkul kegelapan atas nama bertahan hidup. Sebutlah Ido yang mempertaruhkan persahabatannya, hingga tetangga Kay, Abel (Dewa Dayana) beserta rutinitas COD-nya. Baik Rey Bong maupun Dewa Dayana sama-sama berakting ciamik.
Setiap departemen turut memastikan segala lika-liku manusia-manusia di atas tidak tampak dibuat-buat. Bahkan taburan bumbu romansa antara Kay dan Amanda (Aurora Ribero) si bintang kelas pun mengakar kuat pada kesan naturalistik. Sewajarnya murid SMA, mereka belajar seusai kelas berdua, bertukar janji guna berjuang menempuh mimpi bersama, sebelum dibuat merana oleh cara pandang yang tidak senada.
Realisme Nobody Loves Kay amat ditunjang oleh kehati-hatian pembuatnya menangani tuturan verbal. Tokoh-tokohnya baru membicarakan isi hati mereka hanya di titik yang memang memerlukan penekanan lebih, pun dengan diksi yang dipikirkan secara masak-masak oleh para penulis naskah.
Di film ini, tidak semua rasa yang timbul harus dikatakan, tapi semua kata yang terucap harus bisa dirasakan. Konklusinya pun lepas dari tuntutan arus utama untuk menelanjangi segala peristiwa (yang berujung meningkatkan dampak emosi sekaligus mengenyahkan kesan banal) karena sekali lagi, Bernardus Raka tahu kapan mesti berkata "cukup".
Penggemar Mobile Legends bakal dipuaskan, bukan semata karena eksistensi gameplay di beberapa kesempatan, tapi terkait bagaimana filmnya memperlakukan dunia kecintaan mereka dengan sedemikian serius, sebagai sebuah skena serba profesional alih-alih gim remeh seperti yang dipercaya orang-orang kolot.
Penonton di sebelah yang sepertinya adalah seorang pecinta Mobile Legends ditinjau dari pemahamannya akan berbagai referensi yang disisipkan, bertepuk tangan begitu filmnya usai. Saya, yang tidak menangkap satu pun referensi tersebut, juga memberi reaksi serupa, membuktikan bagaimana Nobody Loves Kay mampu merayakan hidup dua manusia yang sama sekali berbeda.
REVIEW - COLONY
Melalui Colony, untuk pertama kalinya sejak Train to Busan (2016), Yeon Sang-ho yang kembali menyusuri semesta per-zombi-an, akhirnya melahirkan film live action berkualitas memadai yang tidak membuat penonton garuk-garuk kepala sembari mengajukan pertanyaan, "Apa sih yang hendak si sutradara perbuat?!"
Mungkin pasca kesuksesan besar satu dekade lalu Yeon Sang-ho terlalu buru-buru beranjak dari teritori amannya. Di sini ia kembali ke akar, dan kendati Colony takkan diingat sebagai satu lagi "instant classic" sebagaimana Train to Busan, pun filmnya digerogoti oleh penuturan dangkal, Colony memperlihatkan seorang sineas yang tahu betul arah tujuannya.
Kali ini zombinya bersumber dari senjata biologis yang dikembangkan oleh ilmuwan bernama Seo Young-Cheol (Koo Kyo-hwan). Sebagai bentuk balas dendam karena merasa risetnya dikangkangi oleh Chains Bio tempatnya bekerja, Young-Cheol melancarkan aksi bioterorisme dengan mengubah orang-orang dalam gedung tempat diadakannya seminar menjadi zombi.
Sesuai pakem klasik genrenya, para penyintas pun segera bersatu: Kwon Se-jeong (Jun Ji-hyun) si profesor bioteknologi beserta mantan suaminya, Han Gyu-seon (Go Soo); Choi Hyun-seok (Ji Chang-wook) si anggota sekuriti gedung dan kakaknya, Choi Hyun-hee (Kim Shin-rok), yang duduk di kursi roda; So-eun (Lee Dam-hee), siswi SMA yang jadi korban perundungan; juga beberapa individu lain yang eksistensinya tak seberapa signifikan.
Naskah yang Sang-ho garap bersama Choi Gyu-seok berharap bisa menjalin koneksi emosional antara penonton dengan para penyintas, hanya saja penulisannya terlampau dangkal. Sulit memedulikan mereka. Saya bahkan tidak ingat kapan si pembuat sushi dan karyawannya tewas dilahap zombi.
Cuma dua karakter manusia yang mengundang daya tarik di sini: Se-jeong yang digawangi karisma Jun Ji-hyun selaku jagoan yang lebih mengutamakan otak ketimbang otot, dan Young-Cheol. Koo Kyo-hwan luar biasa apik menghidupkan antagonis yang memandang manusia lain bak serangga rendahan, di mana kebodohan serta ketakutan mereka ia pandang layaknya humor konyol yang patut ditertawakan. Terselip beberapa detail mikro yang saya percaya adalah hasil improvisasi sang aktor guna memperkaya karakternya.
Justru pasukan zombi yang lebih dieksplorasi. Diperankan jajaran pelakon dengan fleksibilitas di atas rata-rata untuk menggerakkan badan secara tidak manusiawi, Yeon Sang-ho menginjeksi zombinya dengan sebuah elemen unik, yakni kemampuan mereka berbagi kecerdasan kolektif.
Tanpa harus bertegur sapa, mereka sanggup berbagi informasi bak sedang bertukar telepati, kemudian melewati proses belajar secara gradual, sebelum akhirnya berevolusi. Awalnya zombi-zombi ini tiada beda dengan hewan buas yang berjalan menggunakan empat kaki, lalu belajar berdiri memakai dua kaki, membedakan mana foto mana manusia sungguhan, bahkan kelak mampu berbicara dan menembakkan senjata.
Sekali lagi, Colony punya naskah dangkal. Pengembangannya atas konsep kecerdasan kolektif lebih sering terkesan bodoh daripada sebaliknya. Selain tampak keren di kamera, apa substansi dari membuat para zombi saling menggendong? Mengapa selepas berevolusi sedemikian jauh zombinya masih terkecoh saat si protagonis menyamar menjadi salah satu dari mereka dengan mengenakan kaos bernoda darah? Daftar kejanggalannya masih cukup panjang.
Tapi kesampingkan setumpuk kejanggalan di atas, dan elemen kecerdasan kolektif tersebut nyatanya efektif memberi tokoh-tokohnya lebih banyak tantangan, sehingga memaksa mereka lebih keras pula memeras otak dibanding barisan penyintas di film zombi generik. Hasilnya cukup segar.
Sebagai spektakel, Colony nyaris tak menyisakan ruang untuk melempar keluhan. Selama 122 menit, sang sutradara konsisten menggerakkan aksinya dengan tempo setinggi terjangan beringas pasukan zombinya. Cepat, tangkas, minim basa-basi. Adegan saat salah seorang karakternya membantai zombi seorang diri hanya dengan bersenjatakan pisau, akan memperkuat argumen bahwa di luar kegagalan demi kegagalan belakangan ini, Yeon Sang-ho tetap sineas yang punya kecakapan mengarahkan horor-aksi.
REVIEW - LIVING THE LAND
Living the Land dibuka dengan memperlihatkan satu keluarga menggali tulang kerabat mereka, guna dimakamkan di samping sang istri yang baru tiada. Rasanya sakral. Seiring waktu, bersama bocah bernama Chuang (Wang Shang) yang jadi penghubung antara penonton dengan cerita, kita belajar bahwa orang-orang ini memperlakukan segalanya, baik perihal kebahagiaan maupun kesedihan, sebagai ritual. Hidup pun ibarat serangkaian selebrasi.
Latarnya adalah di Desa Bawangtai pada tahun 1991. Sayup-sayup terdengar berita mengenai lahirnya domba tabung pertama dari embrio beku di Inner Mongolia University. Dunia mereka sedang berada di persimpangan. Tradisi yang sudah sekian lama dijunjung pun mulai dirundung oleh modernisasi.
Menariknya, Huo Meng selaku sutradara sekaligus penulis naskah memposisikan pemahaman kita nyaris setara dengan Chuang, sehingga tidak semua problematika diperbincangkan secara gamblang. Misal bagaimana si bocah hanya tahu kalau guru muda di sekolahnya kerap meminjamkan buku untuk ia bawa pulang, tanpa memahami kaitan rutinitas tersebut dengan bibi kesayangannya, Xiuying (Zhang Yanrong).
Chuang menyaksikan kesedihan Xiuying kala dipinang lelaki asing, juga saat sepupunya terancam dikeluarkan dari sekolah akibat gagal membayar iuran gandum, namun belum memahami akar dari masalah-masalah itu. Begitu pula terkait perbedaan nama keluarganya dari orang tua serta kakak-kakaknya yang tinggal di perantauan.
Satu hal yang Chuang pahami: menikmati es loli bersama keluarga di sela-sela aktivitas panen gandum terasa menyenangkan. Mungkin itu juga peristiwa yang dipeluk mesra oleh ingatan Huo Meng tentang masa kecilnya. Dirindukannya kegiatan komunal, yang oleh Living the Land berkali-kali ditampilkan.
Pengarahan sang sutradara sarat akan kepekaan. Deretan shot yang memamerkan harmoni alam dengan manusia ditampilkan, seiring ia menggulirkan rekam jejak kenangan masa lalu, yang akhirnya turut terekam dan menjadi kenangan masa kini di hati penonton filmnya.
Tapi Huo Meng enggan menuang romantisasi secara berlebih supaya narasinya mampu menghindari simplifikasi atas isunya. Modernisasi tidak seutuhnya diberi label "buruk", pun tradisi tak selamanya mendatangkan kebaikan. Living the Land memandang keduanya memakai perspektif objektif yang berhasil menyibak kompleksitas persoalannya.
Benar bahwa tradisi warga Bawangtai telah dicurangi oleh dahaga pemuja modernisasi akan materi. Sebutlah praktik korupsi akar rumput, sampai ketika ladang gandum mereka terancam bakal bertransformasi jadi tambang minyak. Tapi beberapa tradisi juga membawa represi. Kendati usia keduanya terpaut 60-70 tahun, toh Xiuying dan si nenek buyut (Zhang Chuwen) masih jadi korban patriarki dalam lingkup pernikahan, kendati konteks permasalahannya lain (satu tentang fenomena "kawin bocah", satu lagi soal keperawanan).
Kompleksitas di atas jauh lebih mencengkeram, pun ampuh mendorong penontonnya berkutat dalam kontemplasi, ketimbang andai Living the Land terang-terangan memihak satu sisi. Daripada menyalahkan atau membenarkan, filmnya membiarkan dua jalan itu saling berkelindan membentuk labirin kehidupan. Menontonnya mendatangkan benturan perasaan rumit yang sukar dienyahkan. Ada kehangatan yang tumbuh, bersamaan dengan bilur yang tak kunjung sembuh.
Kerumitan rasa itu secara sempurna dipotret oleh adegan penutup yang tampil bak cerminan momen pembukanya. Di situ, keluarga besar Chuang berbarengan mendorong traktor butut di hamparan jalan bersalju, sembari membawa abu seorang mendiang yang akan segera berpulang ke tanah kelahirannya. Terdengar ratap tangis orang-orang, juga desahan penderitaan mereka, namun di sela-selanya, ada tindak kebersamaan yang terasa menenangkan.
(Klik Film)
REVIEW - SEKAWAN LIMO 2: GUNUNG KLAWIH
Mungkin pernyataan ini terkesan bias, tapi saya selalu merasa bahwa bila dilontarkan memakai bahasa daerah, umpatan cenderung terdengar sebagai ungkapan keakraban yang tak jarang menggelitik ketimbang murni hinaan. Itulah mengapa Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, yang notabene dipenuhi umpatan, masih menyenangkan diikuti kendati kekacauan penceritaan hadir selaku batu sandungan.
Running joke-nya ada di seputaran muka Benidictus "Beni" Siregar sang "tulang punggung sinema Indonesia" yang kemungkinan bakal muncul dalam (minimal) delapan judul tahun ini. Mengolok-olok tampilan visual sang komedian sudah jadi rutinitas di tiap film, tapi toh mendengar karakter lain memanggilnya "rai codot" tetap terdengar lucu. Setidaknya lebih lucu daripada "muka kelelawar".
Tiga tahun pasca peristiwa di Gunung Madyopuro, Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Andrew (Indra Pramujito), Dicky (Firza Valaza), dan Juna (Benidictus Siregar) si arwah penasaran, kembali berkumpul setelah Andrew sekeluarga mendapat serangan klenik yang mengancam nyawa mereka. Keputusan nekat pun diambil. Mereka harus mendaki Gunung Klawih guna mencari pertolongan dukun setempat yang konon sakti mandraguna.
Sekawan Limo 2: Gunung Klawih adalah film yang serba buru-buru. Progresi cerita melaju bak mobil yang dipacu di jalan bebas hambatan, sedangkan penyuntingannya seolah tak membekali diri dengan kerangka pasti, bukan cuma bergerak cepat, pula luar biasa liar hingga tak jarang memusingkan.
Minimal di paruh awal, ketergesaan tersebut tak sampai meruntuhkan fokus penceritaan. Keluarga Andrew dalam bahaya, Bagas mendapati hubungannya dengan Lenni merenggang akibat ketidakjelasannya dalam menapaki hidup, Dicky pun tengah kesulitan merebut hati putri kekasihnya, tapi babak pertama Sekawan Limo 2 praktis berstatus "filmnya Juna".
Juna menjadi figur sentral yang perspektifnya berfungsi sebagai pintu bagi penonton untuk memasuki alurnya. Bersama Juna, kita pun diajak mengunjungi kerajaan demit, kemudian bertemu Wisang (Joshua Suherman) si kepala keamanan beserta asistennya, Kina (Elsa Japasal), yang menjabarkan bangunan dunia unik dari filmnya.
Bagaimana demit diklasifikasikan dalam beberapa jenis, hingga perbedaan antara mereka dan arwah penasaran macam Juna, seluruhnya membentuk semesta absurd yang senada dengan gaya komedik filmnya. Tatkala banyak horor lokal terlalu malas memikirkan lore, berbekal "seni menertawai memedi" serupa film pertama, naskah buatan Nona Ica justru berani bereksplorasi.
Tentu semuanya dipaparkan dengan tawa. Satu hal yang paling mengagumkan terkait humornya adalah bagaimana jajaran pemain Sekawan Limo 2 seolah tak pernah kehabisan selorohan Bahasa Jawa untuk dilontarkan. Mereka saling sindir, melempar hinaan, yang sekali lagi, lebih memancarkan keguyuban daripada kebencian. Di luar para "sekawan limo", Cak Kartolo dan Ning Tini melahirkan duet maut yang bertukar kata bak berondongan senapan otomatis.
Barulah seiring naskahnya memberi sorotan lebih terhadap karakter selain Juna, kesan berantakan filmnya semakin terasa mengganggu. Daripada berbagi dengan rapi, para protagonisnya saling berebut titik fokus dengan cara yang amat semrawut.
Pun tidak semua karakter punya proses semenarik Juna. Bayu Skak yang juga kembali duduk di kursi sutradara memang (seperti biasa) tampil memadai memerankan lelaki yang meratapi nasib menyedihkan miliknya. Hanya saja, karakter Bagas beserta romantika klisenya bersama Lenni, ditambah selipan cinta segitiga dengan Aruna (Jihane Almira) yang dipaksa masuk di pertengahan durasi, tidaklah seberapa menarik.
Upaya menyulut dampak emosi, termasuk kesulitan Bagas beranjak dari bayangan kesuksesan semu pasca peristiwa di Gunung Madyopuro menjadikannya bintang dunia maya pun gagal dicapai akibat kacaunya aliran penyuntingan. Cara bercerita Sekawan Limo 2: Gunung Klawih sangat tidak nyaman diikuti. Untungnya saya tidak keliru menata ekspektasi. Saya cuma berharap dibuat tertawa, dan filmnya mampu memenuhi itu.
REVIEW - MONSTER PABRIK RAMBUT
Beberapa orang mungkin bakal menganggap karya terbaru Edwin ini terlampau aneh, tapi bagi saya di situlah pesona Monster Pabrik Rambut. Dituturkannya kisah tentang bagaimana kebusukan sistem dapat menghancurkan manusia, lewat pendekatan yang terasa menentang sistem di balik keseragaman horor, yang berpotensi menghancurkan industri perfilman Indonesia.
Sesuai judulnya, pabrik rambut bernama PT Raga Abadi jadi panggung investigasi Putri (Rachel Amanda kembali menghadirkan protagonis yang mudah disukai) terhadap kematian misterius sang ibu yang bekerja di situ. Segera saja Putri menemukan keanehan, di mana banyak buruh yang kurang tidur akibat terlalu banyak lembur, bertingkah bak orang kesurupan sebelum mengalami kecelakaan kerja.
Didik Nini Thowok memerankan si pemilik pabrik, perempuan misterius bernama Maryati. Dia bukan satu-satunya karakter yang menegaskan perspektif film ini akan fluiditas gender. Maryati sendiri punya hobi unik memainkan maket pabrik, lengkap dengan figur mini yang mewakili buruhnya. "Rakyat jelata hanyalah boneka mainan bagi para penguasa", mungkin demikian keresahan yang ingin ditumpahkan oleh naskah buatan Edwin, Eka Kurniawan, dan Daishi Matsunaga.
Nantinya penyelidikan Putri juga melibatkan adiknya, Ida (Lutesha), yang mengikuti langkah sang kakak bekerja di PT Raga Abadi. Lutesha membawakan sosok Ida dengan bersenjatakan presisi luar biasa kala menangani komedi bergaya deadpan. Satu lagi saudara mereka adalah Bona (Iqbaal Ramadhan) yang mempunyai kemampuan aneh.
Karakter Bona sejalan dengan keliaran eksplorasi b-movie era 80-an yang dianut Monster Pabrik Rambut. Bona bisa sesuka hati memutilasi anggota tubuhnya, yang kemudian bisa segera tumbuh lagi. Tatkala Putri dan Ida menerima daun telinga sang adik yang dipotong oleh penagih utang, mereka cuma berujar santai, "Nanti juga tumbuh lagi." Bagi rakyat kecil, terluka adalah perihal biasa.
Film ini memang berjalan di garis batas. Serupa kelompok sinema yang jadi sumber inspirasinya, Monster Pabrik Rambut tidak takut memenuhi narasinya dengan elemen eksentrik, dari kemampuan spesial Bona hingga keputusan mengganti hantu dengan monster berbentuk...well, rambut. Beberapa adegan kematian pun dipresentasikan secara over-the-top, termasuk saat badan salah satu karakter menggelembung sebelum meledak.
Biar demikian, relevansi dalam kisahnya, terutama mengenai kegagalan sistem, membuat Monster Pabrik Rambut masih terasa membumi. Asal muasal si monster punya kaitan subtil dengan kegagalan sistem tata kota rancangan pemerintah. Problematika di pabrik pun sama. Alih-alih mengacungkan jari pada perseorangan, Edwin mengarahkan lampu sorot pada sistem yang gagal menyediakan pilihan bagi manusia di dalamnya.
Nantinya segelintir orang akan bangkit untuk menggugat sistem itu, dan di situlah satu-satunya keluhan saya untuk narasi film ini terletak. Perlawanan para buruh, yang sebelumnya berhasil dicuci otak bahkan sampai menggelar "ritual" guna mengucap syukur atas kebaikan Maryati, terkesan hadir secara mendadak, tanpa menyediakan waktu bagi jiwa mereka melewati proses transisi.
Di luar kekurangan tadi, alurnya bergulir dengan apik. Efektivitas misterinya dalam menyulut rasa penasaran seolah jadi bukti bahwa daripada senantiasa bergantung pada kompilasi penampakan hantu guna mengisi guliran durasi, horor lokal juga bisa memiliki sesuatu untuk dipertanyakan dan diresapi.
Estetika filmnya tidak kalah memuaskan. Monster Pabrik Rambut mengembalikan sesuatu yang semakin jarang dipunyai horor modern, yaitu kesan "kotor". Sewaktu horor masa kini cenderung nampak sangat jernih, film ini mengedepankan visual yang serba kusam (in a good way), sehingga tingkat ketidaknyamanan pun meninggi. Citra yang semakin diperkuat oleh penggunaan efek praktikal, yang melenyapkan kehigienisan ala efek komputer dari deretan adegan sadisnya.
Di departemen audio, lagu Kepala, Pundak, Kerja Lagi yang dibawakan Sal Priadi (juga berakting secara natural sebagai buruh bernama Rudi) dengan suara "raw" selaku ciri khasnya, sembari diiringi gitar yang digenjreng bak suara derap langkah pasukan militer, terdengar bagai lagu kebangsaan yang dinyanyikan secara patuh oleh barisan buruh di bawah efek hipnotis sang penguasa.
Ketika horor dalam negeri masih susah (baca: ogah) lepas dari formula melelahkan seperti hantu yang begitu rajin memamerkan wajahnya ke arah penonton, maupun penggunaan lagu beraroma tempo dulu yang makin lama makin kehilangan keangkerannya, Monster Pabrik Rambut datang dan mengacak-acak sistem banal tersebut.

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)



%20(1).png)

.png)