REVIEW - MENCURI RADEN SALEH

Mencuri Raden Saleh punya segudang alasan untuk diragukan. Genre yang kurang lazim di perfilman Indonesia, kapasitas Angga Dwimas Sasongko mengarahkan aksi yang tak sekuat drama, jajaran bintang idola anak muda yang sekilas dipilih cuma demi mengejar untung, hingga trailer yang tak spesial biarpun jauh dari buruk. Hasilnya? Surprise, this is one of our best blockbusters in years. 

Salah satu upaya terbaru film Indonesia merambah heist adalah lewat The Professionals (2016) yang luar biasa canggung, akibat memandang genre ini sebatas mementingkan karakter ganteng dan cantik bertingkah sok keren, sembari mengenakan setelan mahal. Mencuri Raden Saleh juga dipenuhi karakter ganteng dan keren, tapi mereka bukan sekadar pajangan. 

Ditulis oleh Angga bersama Husein M. Atmodjo (Midnight Show, 22 Menit, Perburuan), naskahnya tahu cara mengelola karakter. Buktinya, ia rela menghabiskan banyak porsi guna mengupas jati diri mereka, walau harus membuat filmnya berdurasi 154 menit (andai di bawah dua jam, hasilnya pasti hambar). 

Piko (Iqbaal Ramadhan) dan Ucup (Angga Yunanda) bekerja sama dalam bisnis pemalsuan lukisan. Piko adalah pemalsu handal, sedangkan sebagai peretas, Ucup mampu memperoleh data yang diperlukan agar lukisan itu terlihat seasli mungkin. Piko mengumpulkan uang demi dua hal: membahagiakan kekasihnya, Sarah (Aghniny Haque), yang sedang berjuang menembus tim PON, dan membebaskan ayahnya, Budiman (Dwi Sasono), dari penjara. 

Maka ketika datang tawaran besar dari mantan presiden, Permadi (Tio Pakusadewo), untuk mencuri lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang disimpan di istana negara, Piko tak kuasa menolak. Tim pun dikumpulkan: Gofar (Umay Shahab) si mekanik, Tuktuk (Ari Irham) si driver, dan Fella (Rachel Amanda) si bandar judi yang jadi tambahan sumber daya sekaligus otak rencana. 

Kita tahu jati diri, motivasi, dan terpenting, kemampuan mereka. Naskahnya meluangkan waktu, memberi porsi merata, supaya penonton yakin mereka merupakan ahli di bidang masing-masing. Kecuali Tuktuk. Mencuri Raden Saleh tak punya sekuen kebut-kebutan memadai sebagai pembuktian kualitas Tuktuk. 

Deretan karakternya pun hidup berkat performa tiap pemain. Iqbaal mengeksplorasi sisinya yang lebih tertutup, Angga Yunanda berevolusi jadi lead matang yang tampil lepas (I didn't know he can be this cool), Umay menampilkan akting dramatik, juga komedik melalui celetukan naturalnya. Mudah mendukung perjuangan mereka. Perjuangan yang senada dengan esensi lukisannya selaku simbol perlawanan terhadap kelicikan para pemegang kekuatan. 

Mengenai lukisan, keberhasilan filmnya mereproduksi karya Raden Saleh (konon dibuat oleh seorang pelukis maestro yang tentu saja tak bisa diungkap identitasnya) juga suatu pencapaian, sekaligus bukti bahwa Angga memedulikan detail. Total lima kanvas dibuat dalam beragam fase (sketsa hingga hasil akhir). 

Menyebut naskahnya mulus total mungkin kurang tepat. Beberapa detail rencana terkadang diolah kurang matang, pun twist-nya agak bergantung pada kebetulan, pula membuat ceritanya lebih rumit dari yang dibutuhkan. Tapi secara keseluruhan, alurnya cukup "belokan" sehingga dua setengah jam durasi terisi padat, entah berupa konflik interpersonal atau terkait jalannya misi. Tentu misinya tak berjalan mudah. Terjadi kegagalan yang sekilas nampak bodoh, namun kebodohan berujung kesalahan itu masuk akal, sebab tokoh-tokohnya bukanlah pencuri profesional.  

Meski tersisa sedikit keluhan, pengarahan aksi Angga kentara mengalami peningkatan. Terlebih, kali ini lubangnya tak terlalu mengganggu berkat iringan musik gubahan Abel Huray yang menyokong intensitas adegan. Bintangnya tentu Aghniny. Kita tahu kemampuan bela dirinya mumpuni, tapi baru di Mencuri Raden Saleh potensinya benar-benar dimaksimalkan. Kamera menangkap seluruh karisma serta gestur Aghniny, seolah ia (kamera) sendiri dibuat kagum olehnya. Aksinya menghajar musuh dalam balutan gaun merah merupakan puncak. Kemunculan Reza Hilman (juga menjabat koreografer film ini) di momen tersebut mungkin terkesan tiba-tiba, pula tanpa substansi berarti selain sebuah easter eggs, namun menyaksikan kombinasi dua jagoan bela diri tetap mengandung daya pikat tersendiri. 

Mencuri Raden Saleh membuktikan betapa industri kita sejatinya telah sangat siap melangkah lebih jauh dalam hal penambahan variasi. Bukan lagi di tahap "mari apresiasi karya unik anak bangsa". Sineas kita sudah menjalankan tugasnya. Sekarang semua terletak di tangan publik, untuk menentukan seberapa jauh upaya menambah keberagaman bakal melangkah. 

REVIEW - NOPE

Kita menyukai spektakel. Sebuah tontonan menghibur. Itu sebabnya media rekam termasuk film diciptakan. Supaya objek hiburan dapat diabadikan, abadi dalam rekaman sejarah. Tapi apakah ketertarikan kita dibarengi kepedulian terhadap objek tersebut? Ataukah cuma perannya sebagai penghibur yang kita pedulikan, tetapi tidak dengan eksistensi aslinya? Lalu apakah semua "hal menarik" perlu dijadikan tontonan? Nope merupakan spektakel mengenai spektakel.

Selepas teks yang mengutip Nahum 3:6 dari Alkitab yang membicarakan "tontonan" dalam definisi berbeda, Nope dibuka oleh peristiwa misterius di sebuah soundstage. Apa yang terjadi? Mengapa studio yang tadinya riuh mendadak kosong? Kenapa seekor simpanse berdiri berlumuran darah? Sebelum memperoleh jawabannya, kita langsung diajak menemui sang protagonis, Otis Haywood Jr. alias OJ (Daniel Kaluuya). Sekali lagi peristiwa misterius terjadi. Ayah OJ, Otis Haywood Sr. (Keith David) tewas. Koin logam menembus matanya. Sedangkan sebuah kunci menancap di tubuh kuda yang ditunggangi Otis Sr. Sebagaimana di dua film pertamanya, Jordan Peele masih cerdik memancing rasa penasaran. 

Sepeninggal sang ayah, OJ melanjutkan usaha merawat serta melatih kuda untuk produksi film dan televisi. Adiknya, Em (Keke Palmer), turut membantu meski tak menaruh minat di sana. Keluarga Haywood memang punja sejarah panjang di industri Hollywood. Konon kakek buyut OJ adalah penunggang kuda dalam Animal Locomotion milik Eadweard Muybridge, yakni kumpulan foto-foto pertama yang dipakai membuat gambar bergerak. 

Seorang pria kulit hitam berkontribusi di awal sejarah sinema. Tapi tak banyak orang tahu. Atau mereka sebatas tak peduli, dan menganggapnya objek tontonan belaka dalam industri yang didominasi kulit putih? Begitu pula dengan kuda-kuda. Para kru di sebuah proyek produksi iklan tak mengindahkan anjuran OJ untuk berhati-hati memperlakukan si kuda, sehingga berujung kekacauan. 

Lalu ada Jupe (Steven Yeun), mantan aktor cilik yang kini mengelola taman hiburan. Melalui cerita Jupe, kita tahu bahwa adegan pembuka Nope bertempat di lokasi produksi komedi situasi Gordy's Home yang ia bintangi. Gordy merupakan nama simpanse yang tiba-tiba mengamuk, melukai bahkan membunuh seluruh cast kecuali Jupe. Karir Jupe hancur seketika. Dia dan simpanse itu juga objek spektakel yang dieksploitasi, tanpa dipedulikan kesejahteraannya di balik layar. Ironisnya, sekarang Jupe mengeksploitasi tragedi itu demi uang. 

Sampai di sini rasanya sudah bisa dipahami kritik yang Peele lempar. Tapi di mana UFO-nya? OJ dan Em perlahan menyadari bahwa sebuah UFO yang bersembunyi di balik awam bertanggung jawab atas kematian sang ayah. Dibantu Angel Torres (Brandon Perea) si teknisi toko alat elektronik dan Antlers Holst (Michael Wincott) selaku sinematografer ternama, kakak-beradik ini berniat merekam penampakan UFO demi pundi-pundi uang. 

Persoalan UFO memang tak langsung diangkat, sebab berbeda dibanding Get Out dan Us, Peele menyajikan satu jam pertama dengan lambat, baik secara tempo, maupun progresi cerita. Ada kalanya pendekatan tersebut didukung oleh kesesuaian suasana, termasuk imageries atmosferik lewat kamera Hoyte van Hoytema, tapi tidak jarang, esensi pacing itu patut dipertanyakan. Nope berjalan kurang pasti di antara hiburan ala Spielberg dan horor/sci-fi alternatif.

Bermodalkan 68 juta dollar, Nope adalah film termahal Peele sejauh ini. Pertumbuhan bujet yang masuk akal mengingat UFO berbasis CGI turut dilibatkan, dan Peele mampu memaksimalkannya. Pasca sejam pertama yang bergulir lambat, Nope bertransformasi jadi spektakel seru, sambil memodifikasi formula film bertema UFO. Peele bersenang-senang, dan bagi saya memang itulah yang selalu ia lakukan. 

Banyak orang menyebut gaya bertuturnya "sok pintar", tapi saya lebih suka memandang ambisi Peele tampil beda sebagai caranya bersenang-senang. Di ketiga filmnya, Peele bak anak-anak yang bebas memainkan apa saja. Mungkin cuma ia yang bersedia mengutak-atik templat UFO dalam medium film, termasuk mengambil inspirasi dari Neon Genesis Evangelion di third act-nya.

Walau demikian harus diakui bahwa dalam hal melempar pesan, sketsanya bersama Keegan-Michael Key, Key & Peele, tampil lebih mulus dan tajam ketimbang film layar lebarnya. Pilihan konklusi Nope sendiri memunculkan kontradiksi dengan kritik yang dibangun, sehingga melemahkan satir mengenai spektakel miliknya. Biarpun dalam statusnya sendiri sebagai spektakel, Nope tetap tampil solid.

REVIEW - FALL

Dua orang terjebak di menara radio setinggi 600 meter, alias setara dua kali lipat tinggi menara Eiffel. Tanpa mengidap akrofobia pun, kondisi tersebut mengerikan bagi semua orang. Selama 107 menit durasinya, Fall selalu mengandalkan itu guna membangun intensitas. Apakah berarti film ini sebuah one-trick pony? Mungkin, tapi melihat judul, poster, premis, hingga trailer miliknya, jika berharap lebih, sama artinya kita ngotot memesan ayam geprek di warung bakso. 

Becky (Grace Fulton) masih belum mampu beranjak dari peristiwa traumatis kala sang suami, Dan (Mason Gooding), tewas di depan matanya akibat terjatuh saat mereka sedang memanjat tebing. Upaya James (Jeffrey Dean Morgan), ayah Becky, untuk membangkitkan semangat sang puteri tak kunjung menemui hasil. Sampai sang sahabat, Hunter (Virginia Gardner), yang juga saksi mata tragedi itu, melempar ide gila. 

Menurut Hunter, Becky harus melawan rasa takutnya, dan cara terbaik adalah dengan ikut memanjat menara radio 600 meter yang berlokasi di area terpencil. Meski sempat ragu, pasca melewati perenungan mendalam selama.....well, satu malam, Becky akhirnya bersedia. Seperti kita tahu, akibat suatu kecelakaan, Becky dan Hunter berujung terperangkan di atas menara itu. 

"Let's climb that stupid tower", ucap Becky saat akhirnya mengiyakan ajakan Hunter. Tapi menara itu jelas tidak sebodoh dua orang karakternya (terutama Hunter). Karena menara tua berbeda dengan tebing, yang mana sudah sangat berisiko. Bahkan di menara rapuh itu, Hunter masih sempat melompat-lompat di tangga untuk mengusili sahabatnya. Hunter pun berencana mengunggah aksi gila mereka di kanal Youtube-nya demi views. Bodoh. Tapi di era saat banyak orang berlomba mencari ketenaran di internet memakai segala cara, kebodohan karakternya tidak mengada-ada. 

Pun sekali lagi, di luar persoalan membangun teror, merupakan kekeliruan bila mencari kecerdasan dalam naskah buatan Jonathan Frank bersama sang sutradara, Scott Mann. Penuturannya klise, tampak dari beberapa elemen, semisal dampak emosional yang dihadirkan melalui twist yang dapat ditebak sejak salah satu karakternya melihat sebuah foto, hingga "obligatory nightmare" yang kerap dialami Becky. Walau adegan mimpi itu nantinya bakal menjadi kecohan cerdik sewaktu muncul twist lain. Twist yang juga klise. Tapi sekali lagi, apakah di film macam ini keklisean merupakan dosa? Jelas bukan. 

Berhasil atau tidaknya Fall cukup dilihat dari tujuan tunggalnya, yakni memancing ketegangan dan ketakutan berbasis lokasi tunggalnya. Bahkan sebelum Becky dan Hunter memanjat, Scott Mann telah sukses memenuhi golnya. Derit menara tua, besi keropos yang bergoyang diterpa angin, juga sekrup yang mulai terlepas, melahirkan sensasi audiovisual yang efektif menciptakan kecemasan. 

Dibantu sinematografi MacGregor, Mann tahu apa saja yang mesti ditangkap kamera, dan dengan sudut seperti apa. Di satu kesempatan, karakternya membuang barang ke bawah, lalu kamera mengikuti seolah mengajak penonton terjun bebas. Wide shot banyak dipakai, entah menyorot menara dari jauh, atau bird's eye view guna mengingatkan kita betapa tinggi latarnya. 

Sudut yang disebut kedua menimbulkan kekaguman tersendiri dari segi teknis. Penggunaan CGI-nya sempurna. Tampak meyakinkan, hingga kadang keberhasilan memisahkan mana efek komputer mana sungguhan, murni berasal dari pemahaman logis "mustahil cast-nya benar-benar berada di tempat seberbahaya itu". Tapi faktanya, Fall memang melakukan pengambilan gambar di menara 30 meter, yang berjasa menguatkan realisme. 

Setiap kameranya beralih dari eksplorasi latar menuju dua tokoh utama, intensitas langsung menurun. Deretan kalimat bodoh maupun lemahnya eksplorasi drama jadi penyebab. Tapi kalau pembahasan kita fokuskan pada perihal pemaksimalan premis, naskahnya cukup solid. Terdapat banyak varian rintangan yang harus karakternya hadapi, pun Fall tidak ragu untuk "menjadi kejam". Sebagai thriller bertema "usaha bertahan hidup", itu keputusan tepat. 

REVIEW - EMERGENCY DECLARATION

"Keputusan itu". Salah satu hal di Emergency Declaration yang bakal sering dibicarakan adalah mengenai "keputusan itu". Keputusan yang membawa filmnya terbang lebih tinggi, mengubahnya dari blockbuster intens menuju cerita luar biasa emosional perihal kemanusiaan. Saat itu terjadi, udara di studio mendadak terasa menyesakkan. 

Tapi Emergency Declaration punya banyak hal lain di samping "keputusan itu". Disutradarai sekaligus ditulis oleh Han Jae-rim (Rules of Dating, The Show Must Go On, The Face Reader), ini adalah disaster movie yang langsung mencengkeram sejak menit pertama, meski penonton belum benar-benar yakin ancaman macam apa yang mengintai.

Kita hanya melihat situasi di bandara, ketika beberapa calon penumpang pesawat tujuan Hawaii tengah menanti jadwal keberangkatan: Jae-hyuk (Lee Byung-hun) dan puterinya, Soo-min (Kim Bo-min); Jin-seok (Im Si-wan) yang bersikap mencurigakan dan menanam benda tak dikenal dalam ketiaknya; hingga Hye-yoon (Woo Mi-hwa) yang hendak berlibur bersama teman-temannya. Pesawat tersebut dipiloti oleh Hyun-soo (Kim Nam-gil). 

Suami Hye-yoon adalah In-ho (Song Kang-ho), seorang detektif yang akibat kesibukannya, tak pernah bisa menemani sang istri berlibur. Setibanya di kantor, In-ho menerima laporan, yang menggiringnya pada kesimpulan bahwa pesawat tujuan Hawaii tersebut terancam bahaya. Lebih baik kalau anda tidak tahu detail kasusnya sebelum menonton, tapi pastinya, Han Jae-rim menciptakan build up menegangkan lewat first act yang secara bergantian menyoroti situasi di udara dan penyelidikan In-ho di darat. Seiring membesarnya kasus, Menteri Sook-hee (Jeon Do-yeon) pun ikut turun tangan.

Han Jae-rim bukan Ryoo Seung-wan atau Choi Dong-hoon. Bukan nama pertama yang langsung muncul saat membahas film aksi dahsyat Korea Selatan. Tapi di sini sang sutradara melakukan tugasnya dengan baik. Didukung naskah yang cukup cerdik menyediakan beberapa jenis ancaman, pula peleburan apik antara efek praktikal dan CGI, Han Jae-rim berkali-kali menghadirkan peristiwa mencekam.

Kru membangun set menggunakan bangkai pesawat yang dibawa dari Amerika, kemudian memodifikasinya agar dapat berputar 360 derajat (sebagaimana dilakukan Nolan di Inception). Hasilnya adalah efek praktikal yang efektif merealisasikan teror dalam kabin pesawat. 

Kualitas CGI-nya memang dibantu oleh pilihan latar malam, sehingga beberapa kekurangan mampu disamarkan. Tapi di sisi lain, kegelapan itu turut menambah daya cengkeram adegannya. Misal saat datang serangan dari pihak eksternal (saya takkan menjabarkan "apa" dan "kenapa"), di mana kengerian dibangun dari sorot cahaya di langit gelap. Begitu pula klimaks yang mengukuhan kelayakan Emergency Declaration sebagai blockbuster masif lewat kesediannya tampil over-the-top. 

Judul film ini merujuk pada situasi saat sebuah pesawat menyatakan kondisi darurat, sehingga mereka yang di darat mesti mengerahkan segala daya upaya guna membantu pendaratan, termasuk menunda maskapai yang akan mendarat atau lepas landas. Tanpa kecuali. Semua soal skala prioritas, soal menyelamatkan nyawa, dan tentu soal kemanusiaan. Tapi apa jadinya bila pertolongan tersebut justru berpotensi mengancam nyawa lebih banyak manusia? 

Filmnya telah memasuki fase pra-produksi sejak 2019, alias sebelum era pandemi. Menariknya, walau bukan tergolong "film pandemi", naskahnya menghadirkan cerminan kuat dengan kondisi saat itu. Han Jae-rim menyentil tentang bagaimana pertimbangan-pertimbangan politis serta bisnis, kerap mempersulit penanganan isu kemanusiaan yang seharusnya dikedepankan. Kemiripan yang tak disengaja, dan justru karena itulah kritiknya terasa makin tajam. Kemunculan sisi gelap manusia bak suatu rutinitas yang mudah ditebak. 

Bahkan di kalangan rakyat biasa, baik di luar maupun di dalam pesawat, juga terjadi perpecahan akibat ego individual yang mengusung prinsip "every man for himself". Ketika rangkaian kepentingan saling bergesekan tanpa akhir, karakternya pun mengambil "keputusan itu". Berkatnya, babak kedua yang sempat kehilangan intensitas dan cenderung stagnan, ditutup oleh sebuah tamparan emosional. 

Sebagai sineas Korea, Han Jae-rim tentu piawai urusan dramatisasi (bersiaplah ketika riuh rendah kokpit berubah jadi perenungan suram dan panggilan telepon mulai dilakukan), tapi jangan lupakan jasa ensemble cast-nya yang besar. Sangat besar, terutama bagi penonton yang familiar dengan hiburan Korea Selatan, baik film atau drama. Di luar para pemeran utama, ada Kim So-jin dan Seol In-A sebagai pramugari, Park Hae-joon sebagai staf kepresidenan, Hyun Bong-sik sebagai detektif, Moon Sok sebagai dokter, dan lain-lain.

Lee Byung-hun dengan speech-nya, Song Kang-ho dengan akting habis-habisannya, bertanggung jawab mengobrak-abrik perasaan penonton di klimaksnya, tapi favorit saya adalah Kim So-jin. Matanya senantiasa "berbicara". Pun karakter peranannya, Hee-jin, terasa spesial. 

Hee-jin tidak punya latar belakang di luar pesawat. Berbeda dengan Jae-hyuk atau In-ho, perjuangannya tanpa dibarengi alasan personal. Dia berusaha mati-matian didorong dedikasinya sebagai pramugari, dan tentunya, kesadarannya akan nilai kemanusiaan. Walau berstatus karakter pendukung dengan screentime tak seberapa, Hee-jin paling mewakili pesan utama filmnya. Seorang manusia yang memanusiakan manusia. 

REVIEW - THE NORTHMAN

"There is nothing either good or bad, but thinking make it so", ucap Hamlet. The Northman karya sutradara Robert Eggers (The Witch, The Lighthouse) mengadaptasi legenda tentang Amleth, yang kisah hidupnya menginspirasi William Shakespeare melahirkan The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark. Sebuah kisah epik yang melempar ambiguitas soal "Apakah kita tengah menyaksikan keberanian seorang prajurit menuntut balas, atau semata wujud kebengisan haus darah?". 

Setiap menemui cerita masa lalu, entah melalui medium film dan serial, atau dalam buku pelajaran sejarah, saya kerap menganggap betapa masa itu sungguh mengerikan. Raja dilengserkan oleh kudeta berdarah, lalu keturunannya menuntut balas sekaligus merebut kembali tampuk kekuasaan, dan itu terus berulang selama beberapa generasi, membentuk lingkaran setan yang menolak putus. 

The Northman melukiskan dunia yang serupa, di mana aroma kematian begitu mencekat, darah bercampur bangkai seolah bisa tercium dari kabut dan lumpur. Latarnya tahun 895, dan Raja Aurvandill (Ethan Hawke) bertahta di Hrafnsey, hidup bersama sang istri, Ratu Gudrún (Nicole Kidman), dan puteranya, Amleth (Oscar Novak). 

Aurvandill menyatakan ingin mati di medan perang, karena itulah kunci menuju Valhalla. Di sebuah upacara spiritual yang dipimpin Heimir (Willem Dafoe), Aurvandill dan Amleth bertingkah layaknya anjing, kemudian Raja bertitah agar kelak setelah ia tewas, sang putera mahkota membalaskan kematiannya. Sisi buas manusia, kematian, balas dendam. Hal-hal itu menguasai dunia The Northman. Tiada ruang bagi kebahagiaan maupun harapan.

Benar saja, Fjölnir (Claes Bang), saudara tiri Aurvandill, membunuhnya, mengambil alih kekuasaan, bahkan menikahi Ratu Gudrún. Amleth berhasil kabur, dan mengabdikan hidupnya untuk menghabisi nyawa si paman. Selang beberapa tahun, Amleth dewasa (Alexander Skarsgård) tumbuh jadi prajurit Viking beringas, yang menjalankan pembalasannya dengan menyamar sebagai budak Fjölnir. 

Sekali lagi, tiada ruang bagi kebahagiaan maupun harapan di sini, dan Eggers memastikan kesan tersebut muncul di tiap sudut. Kembali berkolaborasi dengan Jarin Blaschke sebagai sinematografer, gambar-gambar atmosferik ia bentangkan di hadapan penonton. Warna kuning menyesakkan dalam pencahayaan temaram, sementara tone monokrom jadi pilihan unik untuk mewakili kegelapan pekat. 

Enggan rasanya memalingkan mata dari layar. Semakin menghipnotis tatkala musik gubahan Robin Carolan dan Sebastian Gainsborough pun membangun nuansa atmosferik yang sama, sambil sesekali menaikkan intensitas agar penonton ingat kalau sedang menyaksikan sebuah epik. Segala departemennya mencengkeram, dan tentunya gelap. Bahkan suara Dafoe sewaktu mendeskripsikan pedang ajaib bernama Draugr pun bagai suara dari alam mimpi buruk.

Ada kalanya naskah buatan Eggers dan Sjón terdengar puitis sebagaimana kisah-kisah dari abad pertengahan pada umumnya. Salah satu favorit saya adalah kalimat "Soaked in my blood, it will soon be sliding off your arm like a serpent" yang diucapkan Aurvandill. Indah, tapi tetap lekat dengan kegelapan yang diusung. Romansa terjalin antara Amleth dan Olga (Anya Taylor-Joy), salah satu budak Fjölnir, tapi cinta mereka pun dipersatukan oleh intensi balas dendam. Seksnya biarpun menyimpan hasrat, juga terasa seperti upaya mengenyahkan emosi-emosi negatif yang tak pernah bisa sepenuhnya dilakukan. 

Di bawah penanganan Eggers, tidak mengejutkan saat dunia sarat paham nihilisme ini digiring ke ranah horor. Beberapa adegan trippy ala horor sureal dapat ditemukan, pun ada fase di mana filmnya "meminjam" unsur slasher berdarah. The Northman merupakan karya seorang sineas yang berkat kematangannya, telah menemukan jati diri yang memudahkannya bermain-main dengan formula aneka genre. 

Skarsgård dengan tubuh kekar, jenggot, serta wajah kerasnya tampak intimidatif, meyakinkan sebagai prajurit dengan ketangguhan fisik tanpa tanding. Tapi begitu ia (dan penonton) mengetahui kebenaran di balik tragedi beberapa tahun lalu, timbul berbagai perenungan. Apakah hatinya setangguh itu? Apakah balas dendam yang ia impikan merupakan wujud keadilan dan kedigdayaan? Ataukah Amleth hanya jiwa terluka yang gagal mengolah kompleksnya realita, akibat dunia yang dikuasai kematian di tiap sisinya? 

(iTunes US)

REVIEW - BULLET TRAIN

Dunia penuh pembunuh bayaran eksentrik, aksi stylish, estetika warna-warni. Sampai sekarang kombinasi itu masih diminati, walau dibanding pertengahan hingga akhir 2010-an, excitement-nya mulai menurun lantaran pemakaian yang begitu sering (entah bernuansa machismo atau feminis). Fenomena tersebut tidak lain dipicu oleh kesuksesan John Wick (2014). 

Delapan tahun berselang, David Leitch, yang merupakan satu dari dua sutradara John Wick (tidak mendapat kredit akibat terbentur aturan DGA), kembali menangani kisah mengenai para pembunuh, selepas berpetualang membuat deretan blockbuster seperti Deadpool 2 (2018) dan Hobbs & Shaw (2019). Tapi Leitch kembali tak cuma untuk mengulangi, melainkan memodifikasi. 

Bullet Train, selaku adaptasi novel Maria Beetle karya Kotaro Isaka, memang tampil beda. Bukan hanya karena berlatar di Jepang (tepatnya dalam Shinkansen), juga terkait penanganan kisah, serta bagaimana Leitch mengemas filmnya bak kartun yang menolak bersikap terlampau serius. 

Setidaknya pasca memasuki pertengahan durasi, sebab Bullet Train dibuka dengan cukup kelam, kala Yuichi Kimura (Andrew Koji) mendapati puteranya dalam kondisi kritis akibat didorong dari puncak gedung oleh sosok misterius. Ayah Yuichi (Hiroyuki Sanada) menyalahkan sang putera yang dianggap lalai melindungi anaknya. Mendadak nuansa kelam itu berubah 180 derajat, ditandai oleh diputarnya lagu Stayin' Alive. Saking mendadaknya, kalau tidak ada title card mungkin saya bakal mengira filmnya terkena gunting sensor.

Perubahan tadi turut membawa kita memasuki Shinkansen yang melaju dari Tokyo ke Kyoto, di mana beberapa pembunuh berkumpul guna melakoni berbagai misi berbeda, tanpa menyadari kehadiran masing-masing. Semua punya kode nama, termasuk Yuichi (The Father) dan ayahnya (The Elder). 

Jagoan kita adalah Ladybug (Brad Pitt), yang berlawanan dengan kode namanya, selalu dihantui kesialan (ladybug alias kepik identik dengan keberuntungan), dan belakangan mendapat "pencerahan" sehingga menolak membawa pistol di tengah misi. Misi Ladybug sekilas sederhana, yakni mencuri koper berisi uang tunai milik penumpang. Sesekali ia diberi instruksi lewat panggilan suara oleh handler-nya, Maria (Sandra Bullock). Saya sebut "sesekali", karena obrolan keduanya lebih sering terdengar bak banter antar teman, khususnya saat Ladybug berkali-kali mengeluh soal tingkat kesulitan misi, sembari berkelakar tentang jalan hidupnya yang baru.  

Misi Ladybug jadi tidak sederhana saat terungkap bahwa koper itu rupanya kepunyaan kakak-beradik pembunuh bayaran, Lemon (Brian Tyree Henry) dan Tangerine (Aaron Taylor-Johnson). Lemon dan Tangerine bertugas membawa uang tersebut, sekaligus mengawal putera White Death (Michael Shannon), pemimpin organisasi paling ditakuti. 

Interaksi Lemon-Tangerine, dua pembunuh yang sibuk membicarakan Thomas the Tank Engine, mengingatkan ke obrolan dalam film Quentin Tarantino atau Guy Ritchie. Bisa dibilang "versi murahnya", sebab Zak Olkewicz selaku penulis naskah tak diberkahi kemampuan merangkai dialog menggelitik yang cerdas nan menarik seperti Ritchie (apalagi Tarantino).

Butuh waktu hingga Bullet Train menemukan pijakannya. Seiring waktu, film ini mulai membentuk identitasnya sendiri. Bukan "just another stylish assassin movie", bukan pula replika kelas dua dari karya Tarantino/Ritchie. Bullet Train adalah...well, Bullet Train. Sebuah spektakel yang semakin tampil berlebihan, semakin menghibur. 

Jumlah pembunuh yang diperkenalkan bertambah. The Prince (Joey King) yang sadis meski berpenampilan bak gadis remaja polos, The Wolf (Benito A. Martinez Ocasio) si pembunuh dari Meksiko yang dikuasai hasrat balas dendam, hingga The Hornet (Zazie Beetz) si ahli racun. Beberapa cameo pun turut memperkaya jajaran cast-nya. Nantinya mereka semua bakal berurusan dengan Ladybug, menambah pelik masalah si "pembunuh insaf", yang mayoritas didasari kesalahpahaman. 

Jangan kira konfrontasi antar pembunuh di sini merupakan peristiwa menyeramkan. Tokoh-tokohnya mungkin terbiasa merenggut nyawa, tetapi kekonyolan juga bagian jati diri mereka. Kekonyolan itu tak melucuti karisma, sebab kita dibuat percaya bahwa para pembunuh ini sangat berpengalaman, sampai bisa menghadapi situasi berbahaya sambil bercanda. 

Kemudian terjadi kematian pertama dalam kereta, yang menggiring kisahnya merambah area whodunit. Bukan whodunit cerdas, namun cukup memberi penyegar bagi subgenre yang mulai mengalami saturasi. Benang merah antar tiap konflik dipertemukan oleh sebuah twist, yang di atas kertas terdengar ruwet, tapi naskahnya mampu merangkai itu supaya mudah dipahami.

Humornya senantiasa tepat sasaran berkat jajaran pemain, yang nampak bersenang-senang membawakan karakter mereka yang penuh warna. Termasuk Brad Pitt, yang meneruskan arah karirnya di beberapa tahun terakhir, dengan memarodikan citra alpha male tangguh miliknya. Sangat menyenangkan, setelah film usai, saya terkejut mengetahui durasinya mencapai 126 menit. 

Sebagai sosok yang melakukan debut penyutradaraan melalui John Wick sekaligus veteran di bidang stunt (termasuk menjadi stunt double Brad Pitt di lima film), kapasitas Leitch mengarahkan aksi tak perlu diragukan lagi. Keunggulan utama Bullet Train terletak pada kejelian sang sutradara memanfaatkan lorong-lorong kereta, sembari memakai bermacam benda sebagai alat bantu terciptanya pertumpahan darah (yes, this is a pretty bloody movie), dari boneka, botol minuman, sampai seekor ular. 

Di banyak film aksi Hollywood, seluas apa pun latar tempat yang dipakai, kerap muncul batasan-batasan yang dibuat sendiri akibat minimnya keterampilan sineas. Penyuntingan cepat yang manipulatif sering jadi jalan mengakali lemahnya penyutradaraan. Leitch sebaliknya. Latar boleh sempit, tapi kemampuannya amat luas. Setiap baku hantam di Bullet Train terlihat jelas, koreografi yang disusun sedemikian rupa jadi tak sia-sia. Ketika akhirnya Leitch berkesempatan menghilangkan batasan-batasan tadi dalam set piece besar di akhir durasi, ia pun menggila, lalu membawa filmnya "keluar jalur". 

REVIEW - LIGHTYEAR

Menjadi box office-flop terbesar Pixar (mempertimbangkan pandemi yang mereda, perilisan teatrikal, bujet 200 juta, dan merk dagang Toy Story), ulasan yang cenderung mixed, kontroversi terkait elemen LGBT yang berujung pembatalan rilis di belasan negara termasuk Indonesia. Tapi apakah Lightyear memang bencana besar ditilik dari segi kualitas? 

Babak pertamanya jauh dari kesan tersebut. Buzz Lightyear (Chris Evans) dan sahabatnya, Alisha Hawthorne (Uzo Aduba), tergabung di kesatuan space ranger yang mengawal penjelajahan luar angkasa, untuk mencari planet layak huni. Tibalah mereka di T'Kani Prime, yang kemudian dianggap berbahaya akibat banyaknya makhluk buas. Tapi sebuah kecelakaan akibat kesalahan perhitungan Buzz membuat pesawat gagal lepas landas sekaligus merusak sumber bahan bakar, sehingga memaksa semua orang menetap sementara waktu di sana, sembari mencari cara melanjutkan perjalanan.

Kegagalan Buzz membawa dampak mengejutkan. Bukan cuma karena ia merupakan space ranger tangguh penuh percaya diri, pula bagaimana Angus MacLane selaku sutradara, membangun sense of dread kuat dari kegagalan itu (fade to black, musik mencekam). 

Setahun berselang, bahan bakar baru telah siap dicoba, dan first act-nya makin menarik, saat uji terbang Buzz membawanya mengalami time dilation. Walau cuma berada di luar angkasa selama beberapa menit, Buzz mendapati sudah empat tahun berlalu di T'Kani Prime. Tapi Buzz enggan menyerah, terus melakukan uji terbang hingga 62 tahun berlalu. Efek time dilation membuat petualangan Buzz tak terbatas tatanan waktu, sehingga kalimat ikonik "To infinity and beyond" pun jadi kenyataan. 

Selain status sebagai "film yang ditonton Andy", elemen science fiction dalam efek time dilation, serta eksplorasi luar angkasa bak Star Trek, merupakan ide segar yang dibawa naskah buatan MacLane dan Jason Headley, agar Lightyear tampil beda dibanding installment utama di seri Toy Story. Ditambah montage menyentuh berupa penggambaran berlalunya waktu, juga keberhasilan Evans menghidupkan Buzz tanpa harus meniru suara Tim Allen, kekecewaan atas film ini terasa berlebihan. Sampai babak keduanya datang.

Babak kedua membawa kisahnya melompat lagi, kali ini sejauh 22 tahun, di mana T'Kani Prime sedang menghadapi invasi pasukan robot di bawah pimpinan Zurg (James Brolin). Sudah pasti Buzz enggan tinggal diam dan merencanakan perlawanan dibantu Sox (Peter Sohn), robot kucing pemberian Alisha; Izzy (Keke Palmer), cucu Alisha yang bukan seorang space ranger tangguh seperti sang nenek; Mo (Taika Waititi) yang naif dan kikuk; serta Darby (Dale Soules) si wanita tua perakit bom. 

Banyak keluhan berasal dari betapa ringannya cerita Lightyear, yang setelah melewati tetek bengek perjalanan waktunya, memang mengikuti pola petualangan luar angkasa sederana. Tapi bagi saya, anggapan bahwa produk Pixar wajib menghadirkan banjir air mata sekaligus dilengkapi alur "berat", sejatinya kurang tepat. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir, ketika animasi Pixar dan Walt Disney mulai "disamarkan". Pixar berubah lebih ringan bukanlah kesalahan atau degradasi kualitas. Menjadi demikian kala kesolidan bercerita ikut lenyap, sebagaimana dialami Lightyear. 

Ceritanya berpusat pada proses belajar para karakter. Buzz belajar memercayai orang lain, lalu bersedia bekerja sama dengan mengurangi ego. Sedangkan jajaran karakter pendukung coba memperbaiki diri dengan memahami kelebihan yang mereka miliki. Misalnya Izzy. Biarpun cucu space ranger legendaris, ia mengidap fobia luar angkasa, yang dirasa menyeramkan karena terdiri atas kekosongan tanpa batas. Nantinya, Izzy belajar mengubah sudut pandang, sebab kekosongan tadi sama artinya dengan ketiadaan rintangan. 

Tentu sebelum memperoleh "pencerahan", semua karakter mesti bergulat dengan kesalahan bahkan kegagalan. Fase tersebut wajib ada, namun naskah Lightyear terlalu bergantung pada kecerobohan mereka untuk menggulirkan cerita. Sekali, dua kali, masih wajar. Lain soal jika mayoritas konflik dipicu blunder bodoh karakternya. Pertama, itu menandakan naskahnya minim kreativitas. Seolah daya cipta para penulis telah habis dipakai kala memikirkan konsep time dilation

Kedua, rentetan kebodohan itu menyulitkan timbulnya simpati kepada karakternya (Not Sox. Sox is funny and likeable). Pengarahan MacLane berhasil membangun klimaks uplifting sekaligus intens, di mana semua karakter akhirnya mampu bekerja sama. Tapi pasca barisan kebodohan tadi, satu peristiwa itu saja masih kurang untuk meyakinkan bahwa proses belajar karakternya telah tuntas. Walau momennya dieksekusi dengan baik, tidak dengan perjalanan menuju ke sana.

(SPOILER ALERT) Contoh lain kelemahan naskahnya terletak pada cara menangani twist soal identitas Zurg. Bagaimana Buzz, yang amat memedulikan Alisha, pula melihat langsung kebahagiaan sang sahabat bersama keluarganya, terpikir untuk menghapus semua itu dari eksistensi memang patut dipertanyakan (sekali lagi bentuk ketidakmampuan naskah mempresentasikan proses secara mumpuni), namun penerapan unsur fiksi ilmiahnya lebih mengganggu. MacLane dan Headley luput menjelaskan bagaimana time dilation berujung terciptanya peristiwa alternatif (yang mana dua fenomena berbeda). (SPOILER ENDS)

Sebagai hiburan, Lightyear punya ide-ide spektakel memadai khas blockbuster mahal, yang didukung kemampuan MacLane mengarahkan aksi solid, juga animasi realistis. Sekali lagi, tidak masalah bila "hanya" itu tujuan film ini. Lightyear mengecewakan bukan karena tak bercerita dengan gaya khas Pixar. Lightyear mengecewakan karena tak bercerita dengan baik. Itu saja.  

(Disney+ Hotstar)

REVIEW - CARTER

Carter adalah karya ambisius dari Jung Byung-gil, dan saya punya love-hate relationship dengan ambisi sang sutradara, yang namanya makin dikenal publik internasional pasca kesuksesan The Villainess (2017). Ada kalanya keliaran Jung Byung-gil memancing senyum lebar, bahkan sesekali timbul kekaguman, namun tidak jarang membuat geleng-geleng kepala.

Judulnya merujuk pada nama si protagonis, Carter Lee (Joo Won), yang terbangun tanpa mengingat identitasnya. Belum sempat ia memproses segala kebingungan di kepalanya, Carter harus langsung menyelamatkan diri dari kejaran CIA dan prajurit Korea Utara. Satu-satunya petunjuk berasal dari suara seorang wanita (Jeong So-ri) yang cuma bisa ia dengar karena alat yang terpasang di telinganya. 

Menurut suara tersebut, jika Carter mau mendapat ingatannya lagi, ia harus melakukan sebuah misi. Targetnya adalah menyelamatkan Jung Ha-na (Kim Bo-min), gadis yang diculik karena tubuhnya memiliki DNA untuk memproduksi vaksin penangkal virus mematikan yang telah mengacaukan dunia selama dua bulan. 

Suara wanita tadi melempar beragam instruksi pada Carter. "Belok kanan di pertigaan", "Amankan alat itu", "Sembunyikan mayatnya", "Masuk ke dalam mobil". Rasanya seperti menonton seorang teman sedang bermain video game. Kesan itu makin kuat, sebab Jung Byung-gil mengemas filmya agar tampak dibuat dalam satu take. Inilah asal muasal love-hate relationship yang saya sebut di atas.

Mari bahas dulu sisi positifnya. Jung Byung-gil sama sekali tidak menahan diri. Rasanya dia diberi kebebasan melakukan apa saja sesuai keinginan. Darah sebanyak apa pun, nudity sevulgar mungkin, dan tentunya, aksi liar sebagaimana kemauannya. Menyebut film ini "over-the-top" nampaknya masih kurang mewakili. Komikal. Mungkin itu kata yang paling pas. Semua hukum fisika dilawan. Kala sebuah mobil jungkir balik sebelum menimpa kepala orang sampai remuk bukanlah momen tergila, bisa dibayangkan bagaimana gelaran aksi lainnya. Oh, apakah saya sudah menyebut Carter nantinya bakal menjamah genre zombie?

Makin besar, makin konyol, makin asyik. Carter memang spektakel macam itu. Terkait pilihan one-shot (palsu) miliknya, Jung Byung-gil tidak asal menggerakkan kamera, dalam arti, pengarahannya tampak betul-betul sudah melewati perencanaan detail soal latar terjadinya sebuah aksi. Jika berlatar sebuah mobil, lingkungan seperti apa yang mobil itu lewati? Ada apa saja di sekitarnya? Kemudian ia eksplorasi tiap titik, supaya bisa memposisikan kamera di sudut-sudut unik yang kadang tak terduga. Perspektifnya pun rutin berubah. Kadang menyoroti protagonis, lalu pindah ke antagonis, kadang memakai sudut pandang orang pertama, kadang orang ketiga. 

Sekali lagi, Jung Byung-gil sangat berambisi. Segala bentuk kendaraan ia pakai sebagai tempat adu jotos dan baku tembak, dari mobil, kereta api, pesawat, hingga helikopter. Klimaksnya merupakan puncak pencapaian dari ambisi yang tidak diganggu batasan-batasan logika tersebut. 

Tapi muncul pertanyaan: Apakah kesan one-shot perlu diterapkan? Karena Carter tetap bisa tampil over-the-top sembari mengeksplorasi berbagai sudut kamera dan lokasi, tanpa harus memakai gaya tersebut. Bahkan bisa jadi jauh lebih memukau, karena Jung Byung-gil kentara belum siap menyentuh teknik itu. Menemukan "potongan" di film dengan gaya faux one-shot mungkin bukan perkara sulit, entah berupa trik kamera atau yang memerlukan bantuan CGI, tapi jahitan di Carter benar-benar buruk.

Transisi kasar, juga penggabungan dua shot yang gagal melebur akibat perbedaan framing atau pencahayaan, jadi beberapa masalah mendasar. Kekurangan akibat batasan biaya selalu dapat dimaklumi, tapi Jung Byung-gil terlampau memaksakan diri atas nama ambisi tampil bergaya. 

Di departemen naskah, Jung Byung-gil kembali berduet bersama Jung Byeong-sik setelah The Villainess. Tidak mengejutkan jika penulisannya buruk, mengingat kualitas penceritaan bukan tujuan utama film ini, tapi sebagaimana presentasi aksi, naskahnya turut direcoki ambisi. Ambisi untuk tampil lebih besar dan lebih kompleks dari kebutuhan. 

Sewaktu aksi berlangsung, cerita berhenti. Sebaliknya, begitu aksi rehat, ceritanya masuk, untuk tiba-tiba menjejali penonton dengan rentetan eksposisi mengenai intrik politik rumit, yang mustahil dicerna seutuhnya hanya dalam sekali tonton. Akhirnya, Carter memang masih menghibur, tapi seharusnya bisa jadi salah satu aksi terbaik tahun ini. 

(Netflix)

REVIEW - PREY

Setelah 35 tahun, akhirnya Predator punya installment yang bisa menjaga substansi film orisinalnya, tanpa harus melakukan pengulangan. Predators (2010) memang solid, namun sebatas reka ulang film pertama dengan jagoan yang kalah karismatik. Sedangkan Predator 2 (1990) dan The Predator (2018) kehilangan nyawa akibat coba tampil beda. Prey juga mengakhiri rentetan pemilihan judul yang miskin kreativitas (Thank God it's not 'Prey-Dator'). 

Digarap oleh Dan Tractenberg (10 Cloverfield Lane), Prey bertindak selaku prekuel, mengajak penonton mundur ke tahun 1719, tatkala Predator pertama kali menginjakkan kaki di Bumi. Latar waktunya saja sudah membawa kesegaran. Bagaimana kapak dan panah mampu mengalahkan mesin pembunuh bersenjatakan teknologi, yang bahkan masih tampak canggih bagi para veteran Perang Vietnam 268 tahun berselang?

Patut diingat, Dutch (Arnold Schwarzenegger) menang bukan karena unggul beradu otot atau berkat berondongan peluru. Dutch menang karena akhirnya tak memandang konfrontasi melawan Predator sebagai pertarungan, melainkan upaya bertahan hidup, sembari mengubah peran sang pemburu jadi yang diburu. Dua hal yang jadi keunggulan suku Comanche. 

Naru (Amber Midthunder) ingin diakui sebagai pemburu handal layaknya sang kakak, Taabe (Dakota Beavers), walau ia tumbuh dengan diberi pelatihan sebagai penyembuh. Orang-orang meremehkannya, tapi Naru merasa siap menjalani kuhtaamia, ritual bagi para pemburu Comanche. Sebuah "burung petir" yang ia lihat diyakini merupakan pertanda. Nara tidak tahu bahwa yang dilihatnya bukan burung, melainkan kapal luar angkasa yang menurunkan sesosok Predator. 

Makan waktu sekitar 45 menit sampai sang protagonis melihat wujud Predator secara utuh, tapi naskah buatan Patrick Aison cerdik perihal melakukan build-up. Keputusan menyembunyikan tampilan Predator berdampak positif dalam pembangunan intensitas. Bukan perkara gampang, sebab penonton sudah sangat familiar dengan sosoknya. 

Secara bergantian kita dibawa mengobservasi aktivitas Comanche dan Predator, guna menjelaskan peran kedua pihak. Predator berkeliaran memburu hewan-hewan (ular, singa, beruang) untuk menegaskan statusnya di puncak rantai makanan. Sedangkan Comanche, berbekal keterampilan mereka, terbiasa memburu hewan pemburu. 

Di satu kesempatan, sebuah tim dibentuk (Naru dan Taabe tergabung di situ), ketika salah seorang anggota suku diserang seekor singa. Begitu korban ditemukan, mereka langsung meramu obat serta membuat tandu saat itu juga. Naskahnya membuat kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri, alasan orang-orang Comanche punya peluang mengalahkan Predator meski tertinggal secara teknologi. 

Prey tak membuat berburu sebatas alasan agar dapat membuat adegan aksi atau kejar-kejaran. Berburu benar-benar jadi nyawa cerita. Misal di ritual kuhtaamia, di mana pemburu Comanche harus "berkomunikasi" dengan si mangsa sebelum mengakhiri hidupnya. Perburuan, seperti halnya kehidupan dan kematian, dipandang sebagai hal sakral. 

Naskahnya juga tidak terjebak dalam stigma moralitas baik-buruk dalam memandang peran pemburu dan mangsa. Apakah Predator jahat karena memburu manusia? Kalau begitu mengapa Comanche, selaku mangsa Predator, dipandang baik di saat mereka pun memburu hewan? Lalu bagaimana dengan kelompok penjelajah Prancis yang menguliti bison secara brutal?  

Tatkala tiba waktunya aksi mengambil alih, Dan Trachtenberg melakukan tugasnya dengan cukup baik, dibantu tata kamera cekatan garapan Jeff Cutter. Sentuhan gore turut memberi pernak-pernik penambah daya hibur, meski secara kuantitas maupun kreativitas konsep, belum bisa disebut spesial. Sayang, ada lubang di pengarahan Trachtenberg, yang lumayan mempengaruhi kenikmatan menonton. Ada kalanya detail aksi hilang di tengah transisi, membuat saya beberapa kali memencet tombol rewind agar dapat mencerna suatu peristiwa (termasuk "serangan terakhir" Naru, yang berperan vital menggambarkan kecerdikannya). 

Biarpun kelemahan di atas cukup fatal, untunglah rentetan aksi milik Prey juga menyimpan peran lain di samping sebagai spektakel. Dipenuhi adu strategi serta elemen survival, aksinya menyeimbangkan otot dan otak, yang menunjang proses pendewasaan Naru, yang dihidupkan oleh penampilan organik Amber Midthunder. 

(Disney+ Hotstar)

REVIEW - PENGABDI SETAN 2: COMMUNION

First, let me address the elephant in the room: 'Pengabdi Setan 2: Communion' is not as good as the first movie. Tapi rasanya Joko Anwar menyadari itu. Sadar bahwa ada harga yang mesti dibayar dalam upaya melahirkan crowd-pleaser horror, sekaligus sekuel yang (sebagaimana wajarnya sebuah sekuel) tampil lebih besar dibanding pendahulunya. 

Joko membuka kisahnya dengan flashback ke tahun 1955, mengikuti penemuan mencengangkan Budiman (Egy Fedli), yang langsung menegaskan bahwa peristiwa film pertama hanya puncak gunung es dari intrik yang lebih besar. Jauh lebih besar, juga lebih jahat. Pengabdi Setan 2: Communion membawa aroma kejahatan yang teramat pekat, sampai dunianya terasa tak lagi mampu mendefinisikan "harapan". 

Lalu kita dibawa kembali ke tahun 1984, melihat bagaimana Rini (Tara Basro), bersama kedua adiknya, Toni (Endy Arfian) dan Bondi (Nasar Anuz), serta si bapak, Bahri (Bront Palarae), berusaha lepas dari trauma akibat tragedi tiga tahun lalu. Mereka kini tinggal di rumah susun kumuh (bukan rumah susun di akhir film pertama) di area pinggir laut yang terpisah dari pemukiman penduduk. Rusun yang memutar Rayuan Pulau Kelapa tiap malam menjelang (semasa kecil, saya menganggap lagu ini adalah pertanda para hantu siap beraktivitas)

Kita turut diajak berkenalan dengan beberapa tetangga: Tari (Ratu Felisha sebagai penampil terbaik) yang kerap jadi korban gosip akibat selalu bekerja di malam hari; Dino (Jourdy Pranata) si pemuda begajulan yang sering menggoda Tari; Wisnu (Muzakki Ramdhan) yang tinggal berdua bersama ibunya yang bisu (Mian Tiara); serta Ari (Fatih Unru), teman Bondi yang punya ayah abusive. 

Buruknya kondisi rusun bukan cuma kepentingan estetika atau amunisi membangun atmosfer, pula cara Joko menyentil isu seputar kesejahteraan rakyat. Rusun kumuh pinggir laut, dibangun di atas kondisi tanah jauh dari ideal, sehingga terendam banjir ketika diterjang badai. Ditambah kabar mengenai aksi para petrus, lengkap sudah kengerian dalam hidup orang-orang. 

Hidup di Indonesia, apalagi bila terjerat kemiskinan, nyatanya tidak kalah mengerikan dan mematikan ketimbang menghadapi setan. Terdapat satu sekuen yang bakal terus dibicarakan di masa mendatang berkat kombinasi antara kebrutalan tanpa pandang bulu, dengan kepiawaian Joko terkait build-up menuju "menu utama". Bagi saya, momen yang juga bertindak selaku pemicu segala teror di rusun itulah titik paling menyeramkan di film ini. Karena tanpa campur tangan supernatural sekalipun, tragedi tersebut masih dapat terjadi akibat ketidakbecusan pemerintah menyediakan hunian layak. Sungguh momen yang "jahat". 

Setelahnya, Pengabdi Setan 2: Communion menolak berhenti menginjak pedal gas. Bayangkan The Raid, tapi walau sama-sama berlatar gedung bertingkat, adegan aksi digantikan oleh jump scare. Joko memilih mengesampingkan eksplorasi semestanya, mengisi second act dengan barisan penampakan tanpa henti. 

Memang agak disayangkan, pasca opening luar biasa kuat, ditambah beberapa kreativitas naskah mengaitkan mitologinya dengan elemen-elemen dunia nyata (petrus, Konferensi Asia-Afrika), ceritanya bak cuma jembatan menuju klimaks di film ketiga. Tapi seperti telah saya singgung di awal tulisan, rasanya ini adalah pilihan yang disadari, lalu diambil atas nama memperbesar sekuelnya, minimal dari sudut pandang spektakel. 

Joko mengerahkan segala daya upaya, tata artistik mendukung terciptanya nuansa atmosferik, pun fakta bahwa filmnya tetap nyaman dilihat biarpun didominasi kegelapan wajib diberi pujian, namun kesan repetitif sukar dihindari tatkala kuantitas jump scare digandakan. Bukan berarti digarap asal-asalan, sebab beberapa teror cerdik masih dapat ditemui. Adegan Tari salat menerapkan trik sederhana tetapi efektif, daya kejut kreatif mampu dimunculkan dalam pemandangan yang melibatkan Dino dan sehelai kain, sementara Joko menampilkan pemandangan disturbing dalam momen "ibu hamil" yang jadi kekhasan sang sineas.

Bukan film Joko Anwar namanya kalau tak menemukan celah untuk melucu di tengah segala teror brutal. Serupa tugasnya di dua film Ghost Writer, Iqbal Sulaiman kembali sukses memancing tawa (karakternya bernama Darto, sama seperti karakter Endy Arfian di Ghost Writer). Joko juga membawa sentilannya terhadap figur pemuka agama secara lebih jauh. Ustaz Mahmud (Kiki Narendra) adalah sosok yang kerap memancing rasa geli melalui ketenangan berlebihnya (kalau tak mau disebut "naif"). Bagai orang yang selalu berkata, "Tenang, semua ada jalan keluarnya", tapi tidak sanggup menemukan jalan keluar saat benar-benar menemui masalah.

Ya, Pengabdi Setan 2: Communion merupakan penurunan. Rewatch value-nya pun berkurang karena pengesampingan cerita membuatnya takkan menyulut diskusi dan keliaran berteori sebanyak film pertama (walau petunjuk terkait identitas Batara (Fachri Albar) dan Darminah (Asmara Abigail) bisa memancing beberapa obrolan menarik). Tapi ini tetap crowd-pleaser yang ampuh, sekaligus horor Indonesia terbaik 2022 sejauh ini. Standar yang dipasang pendahulunya memang luar biasa tinggi.