REVIEW - BADUT GENDONG
Hantunya tampak unik sekaligus mengerikan, pengarahan aksi Charles Gozali masih bertenaga seperti biasa, akting jajaran pemainnya pun tepat sasaran. Sayangnya Badut Gendong terjerembab akibat naskah yang tanpa arah. Film ini ibarat rumah besar penuh perabot mewah serta teknologi modern, tapi karena pondasinya ringih, terlihat bisa roboh kapan saja.
Idenya dilandasi eksplorasi terhadap budaya menarik dari Solo yang (setahu saya) belum pernah diangkat ke layar lebar. Bukti betapa kaya budaya negeri ini, baik yang bersifat mistis maupun yang berpotensi terkoneksi ke sana. Badut gedong sebutannya, di mana sesuai nama tersebut, si seniman menari sembari mengenakan kostum badut, untuk menghasilkan ilusi seolah ia sedang digendong oleh benda mati itu.
Darso (Marthino Lio) jadi pelakon badut gendong yang kita ikuti kisah hidupnya. Dia memilih pulang kampung pasca suatu tragedi merenggut nyawa istrinya, Darsi (Dayinta Melira), yang tengah hamil muda. Alih-alih kedamaian, kepulangan Darso justru menempatkannya di antara konflik antara warga dengan korporasi yang berniat mengambil alih lahan secara paksa.
Serangkaian gesekan pun terjadi. Kendati Arini (Clara Bernadeth) selaku pengacara perusahaan berniat menempuh jalan damai, Billy (Khiva Rayanka) lebih menyukai cara yang menampik kemanusiaan. Ketika amarah Ki Kamboja (Barry Prima) si dukun sakti desa membuncah, turunlah kekuatan jahat haus darah yang turut menyeret Darso dan badutnya ke pusat permasalahan.
Kemudian filmnya melangkah ke teritori slasher, ketika Darso yang tubuhnya dikendalikan oleh si boneka badut mulai membunuh satu per satu penghuni kampung, dari mereka yang pernah bersalah padanya, anggota perusahaan yang bersikap kasar, hingga warga tak bersalah. Iblis tidak pandang bulu dalam menumpahkan amarahnya, dan para penyuka horor brutal bakal puas menyaksikan anggota tubuh manusia berceceran di sepanjang durasi.
Charles beberapa kali menyusun shot yang berhasil memotret sisi angker sang badut, terutama setiap ia mengambil alih tubuh Darso yang terlelap, kemudian menggerakkannya secara perlahan di sela-sela keheningan.
Saya kagum pada bagaimana teknis "gendong-menggendong" ini dieksekusi. Marthino Lio seperti benar-benar ada dalam kondisi tak berdaya dan bergerak di bawah pengaruh badutnya. Ada adegan di mana Darso dikejar-kejar oleh Billy beserta anak buahnya, yang saya asumsikan melibatkan kombinasi antara akting meyakinkan dengan trik kamera apik.
Gelaran aksi Badut Gendong juga sama mengagumkannya. Didukung koreografi tangkas dan tata kamera yang menari lincah, Charles membuat (badut) Darso bak jagoan laga dengan refleks tingkat dewa yang sanggup begitu cekatan menghindari desingan peluru.
Semua terdengar memuaskan? Memang. Karena seperti telah disinggung di awal tulisan, hanya satu departemen di Badut Gendong yang meninggalkan kekecewaan. Departemen yang semestinya merupakan tulang punggung, yakni naskah. Sewaktu deretan keunggulan di atas absen dari layar guna memberi waktu bagi ceritanya mengalir, daya tarik filmnya pun turut absen. Badut Gendong terasa hampa kala aroma kematian tidak sedang menyeruak.
Diceritakan, gara-gara bencana alam yang mendadak menyerang, akses menuju desa terputus, sehingga saat pembantaian terjadi, mereka tidak bisa mengandalkan pertolongan pihak luar. Tapi naskahnya gagal membangun kesan bahwa penonton sedang terjebak bersama tokoh-tokohnya. Semua berjalan nihil urgensi. Belum lagi ketiadaan misteri yang mesti dipecahkan atau problematika mendalam untuk ditelusuri.
Marthino Lio tampil efektif memerankan laki-laki berhati rapuh yang hanya mengenal kepiluan akibat rasa kehilangan, tapi penokohan Darso luput dieksplorasi oleh naskahnya. Darso mesti berbagi sorotan dengan duo Arini dan Jamil si Babinsa (Derby Romero) dengan investigasi miskin daya tarik mereka, yang didominasi adegan berboncengan motor. Badut Gendong tidak buruk, hanya saja naskahnya gagal menjalankan peran menggendong penceritaan.
REVIEW - THE TESTAMENT OF ANN LEE
Kita cenderung terlampau ringan menghakimi suatu perihal berdasarkan perspektif hasil bentukan norma umum. Misal kala melabeli ritual suatu sekte dengan cap "sesat" namun mewajarkan ibadah agama-agama yang "diakui". Bila mengupasnya lebih jauh dari ini, niscaya saya pun bakal dianggap menistakan ajaran.
The Testament of Ann Lee menampilkan kisah hidup figur pemimpin dari sekte Shakers yang berkembang di abad 18. Dipresentasikan bak hikayat dengan segala "konon" yang terucap dari mulut naratornya, alih-alih upaya menyebarkan kesesatan, film ini bertujuan memotret bagaimana paham religius lahir dari keresahan umat manusia.
Ann Lee (Amanda Seyfried) menemukan pencerahan spiritualnya kala menghadiri pertemuan kelompok Shakers yang dipimpin oleh pasutri Jane (Stacy Martin) dan James (Scott Handy). Nama aneh tersebut diambil dari cara beribadah yang mengharuskan penganutnya menggetarkan tubuh mereka sembari mengeluarkan teriakan liar selaku cara detoksifikasi dosa.
Di kursi sutradara, Mona Fastvold mempresentasikan jalannya ibadah kelompok Shakers dalam bentuk musikal yang tampil bak ritual sakral. Setiap gerakan dan nyanyian adalah wujud katarsis atas emosi-emosi yang tak diberi ruang untuk meletup di luar lingkup sekte, dan pengadeganan musikal dari Fastvold memastikan penonton dapat menangkap emosi yang karakternya lepaskan. Hasilnya menghipnotis.
Melalui pertemuan kelompok Shakers pula Ann Lee bertemu suaminya, Abraham (Christopher Abbott). Pernikahan keduanya tidak berlangsung mulus. Ann Lee terganggu dengan kesukaan Abraham pada sadomasokisme, yang membangkitkan lagi trauma masa kecil kala menyaksikan sang ayah menyetubuhi ibunya secara kasar. Baginya, hubungan badan semacam itu adalah dosa. Ditambah lagi, Ann Lee kehilangan empat anak yang semuanya meninggal sebelum menginjak usia setahun.
Duka tersebut yang mendorong Ann Lee makin aktif menyusuri jalan religi, bahkan menjadi salah satu pentolan Shakers, hingga sempat dijebloskan ke penjara akibat dianggap mengganggu ketertiban. Di tengah pengurungan, Ann Lee memperoleh penglihatan yang membuat anggota Shakers percaya bahwa ia merupakan mesiah yang telah lama dinantikan.
Penglihatan itu Ann Lee dapat tatkala ia melakukan aksi mogok makan dan minum. Bisa jadi semuanya cuma halusinasi bukan? Benar, tapi filmnya enggan menghakimi secara instan. Timbul sebaris pertanyaan provokatif: Apa yang membedakan pengalaman spiritual Ann Lee dengan penglihatan yang didapat para figur agama?
"Mother Ann", begitu ia dipanggil sejak peristiwa tadi. Ajaran Shakers pun semakin gencar disebarkan, termasuk soal penolakan atas aktivitas seksual yang dipandang selaku dosa terbesar. Memang aneh, pun penonton dipersilakan berpikir demikian. The Testament of Ann Lee menjabarkan alasan di baliknya, yang tidak pernah bermuara pada penyimpulan benar/salah.
Semua kembali pada trauma masa lalu Ann Lee, yang entah sadar atau tidak, memandang seks sebagai medium para lelaki memamerkan kendali mereka. Itulah keresahan yang Ann Lee beserta banyak anggota perempuan Shakers rasakan. Mereka mendambakan kesetaraan, baik seputar gender maupun ras (Ann Lee menentang keras perbudakan terhadap kulit hitam, dan menjalin kekerabatan dengan suku Indian). Bukan agama lain yang ingin Ann Lee lawan, melainkan kemapanan.
Penampilan Amanda Seyfried begitu piawai menyedot atensi. Sosoknya tak seberapa karismatik, tapi saya rasa itulah citra yang ingin dibangun oleh Mona Fastvold. Berbeda dengan banyak pemimpin sekte laki-laki, Ann Lee enggan menggunakan metode manipulasi, tapi meyakinkan para pengikutnya bahwa ia berbagi keresahan dan luka yang sama dengan mereka, dan mungkin juga kita.
(Disney+)
REVIEW - BUGONIA
Seiring masyarakat yang semakin mengedepankan sifat individualis, saya merasa upaya saling memahami antar individu pun semakin melemah. Tutur kata sesama manusia dipandang bak kebisingan semata, alih-alih petunjuk untuk mengerti jalan pikirannya.
Itulah kenapa saya mengagumi Bugonia, yang bertindak selaku remake dari film Korea Selatan, Save the Green Planet! (2003). Dia pintar. Bukan karena twist gilanya yang hanyalah bumbu penyedap bagi bahan pokok berupa naskah kuat (ditulis oleh Will Tracy) yang menempatkan penonton di tengah perdebatan dua karakter. Kita diajak memahami mereka, daripada buru-buru menghakimi.
Michelle Fuller (Emma Stone) dan Teddy Gatz (Jesse Plemons) jadi figur yang saling bentrok. Michelle adalah CEO perusahaan farmasi, sedangkan Teddy si penggila teori konspirasi meyakini kalau perempuan sukses tersebut sejatinya merupakan bagian spesies alien bernama "Andromedans" yang berencana menghancurkan Bumi. Dibantu Don (Aidan Delbis), sepupunya yang autis, Teddy menculik Michelle dengan tujuan memaksanya membatalkan niatan tersebut. Apakah tudingan itu berdasar atau sebatas teori konspirasi liar?
Jurang kelas yang memisahkan keduanya tidak mungkin lebih lebar lagi. Sewaktu Teddy berolahraga dengan gerakan-gerakan canggung nan ngawur yang ia pelajari sendiri, Michelle membekali diri dengan pelatih pribadi serta teknologi berbiaya tinggi. Jika kediaman Teddy ditampilkan dalam kesemrawutan berhiaskan warna-warna mencolok, sinematografi arahan Robbie Ryan banyak menerapkan wide shot guna menangkap rumah serba teratur kepunyaan dengan sentuhan warnanya yang memudar.
Harta melimpah, rumah mewah, seluruh tubuh yang terawat. Tanpa harus berasal dari galaksi Andromeda pun, Michelle sudah nampak bagai alien di hadapan Teddy. Tapi jangan buru-buru menghakimi. Bugonia lebih dari sekadar gesekan kelas biasa. Kelak, bentangan lanskap yang mendominasi di paruh awal bakal perlahan dikurangi kuantitasnya, berganti dengan close-up seiring menguatnya intensitas. Kita tidak lagi melihat gambaran luar dan mulai dibawa menelisik lebih jauh ke dalam.
Yorgos Lanthimos adalah sutradara hebat yang paham betul jika ia diberkahi dua aktor hebat. Mengambil gambar dari jarak dekat memungkinkan Emma Stone memainkan gurat-gurat mikro di wajahnya, menghadirkan performa menggelitik sekaligus janggal yang menyedot atensi bak magnet berdaya tarik tinggi. Sementara Jesse Plemons memunculkan dualisme menarik sebagai laki-laki yang omongannya seolah penuh keyakinan tetapi rautnya menguarkan keraguan.
Baik Michelle maupun Teddy sama-sama bukan figur simpatik, dan memang tidak perlu menjadi demikian. Daripada dipusingkan soal mesti kepada siapa menaruh simpati, kita diajak mengobservasi benturan dua individu yang membawa kebenaran mereka masing-masing. Banyak terjadi aksi saling manipulasi, pun tampuk kekuasaan silih berganti, sementara musik gubahan Jerskin Fendrix terdengar menggelegar untuk menggarisbawahi betapa pentingnya obrolan yang tak ubahnya debat kusir konyol ini.
Dibanding film orisinalnya, Yorgos memilih pendekatan yang cenderung "membisukan" luapan emosi. Terkadang memang sedikit melelahkan, tapi kesabaran penonton untuk mencurahkan perhatian bakal terbayar lunas di babak ketiga.
Ditemani lantunan sendu lagu Where Have All the Flowers Gone versi Marlene Dietrich, Bugonia menunjukkan rapuhnya manusia dengan mortalitas mereka. Kekayaan maupun kekuasaan tak ada artinya di hadapan akhir dari segalanya. Seketika timbul pertanyaan "nakal" di kepala saya: Apakah kita memang pantas dihukum akibat kegagalan mengasihi dunia, atau Sang Pencipta yang banyak dipuja sejatinya cuma entitas sadis belaka?
REVIEW - THE SHEEP DETECTIVES
Kendati mendapat ulasang sangat positif, The Sheep Detectives tidak bakal berseliweran di musim penghargaan, maupun meraup pendapatan hingga ratusan juta dollar. Tapi suatu hari, entah berapa tahun lagi, akan ada orang yang iseng-iseng menontonnya di layanan OTT atau siaran televisi Minggu pagi, kemudian terhipnotis oleh pesonanya, atau bahkan menjadikan adaptasi novel Three Bags Full karya Leonie Swann ini sebagai "comfort movie" mereka. Tipikal film semacam itu.
Awalnya semua berlangsung damai sebagaimana biasa di kota kecil bernama Denbrook. George Hardy (Hugh Jackman), si gembala yang mengisolasi diri di antara hijaunya padang rumput pinggiran kota, mengabdikan hidup untuk merawat domba-domba miliknya. Makanan serta obat-obatan tak pernah lalai ia berikan, pula afeksi, termasuk kala tiap sore membacakan novel misteri di hadapan para domba yang seolah memperhatikan dengan takzim.
Satu jenis peran yang mampu Hugh Jackman lakoni secara meyakinkan selain jagoan super kekar nan tangguh adalah figur laki-laki penyayang. Kehangatan terpancar dari sorot matanya. Tapi tentu domba-domba tersebut hanya peduli soal mengisi perut dan tak memahami cinta sang gembala bukan?
Salah! Sebagaimana film tentang dunia hewan lain, terungkap kalau domba-domba ini lebih cerdas dari yang manusia tahu. Mendiskusikan cerita whodunit yang George bacakan jadi salah satu hal rutinitas, kendati cuma Lily (Julia Louis-Dreyfus) alias si "domba terpintar di dunia" yang senantiasa berhasil memecahkan misterinya. Tapi semuanya menyayangi George. Sehingga saat suatu pagi tubuh George ditemukan tak lagi bernyawa, Lily dan teman-teman merasa wajib menyibak tirai kebenaran mengenai tragedi itu.
George dibunuh memakai racun. Dari situlah kita diajak semakin jauh berkenalan dengan warga Denbrook lain, dan persis seperti yang bisa diharapkan dari "film Inggris" atau "film whodunit" atau "film whodunit Inggris", The Sheep Detectives punya segudang karakter unik, dengan beberapa yang paling menonjol antara lain Tim (Nicholas Braun) si polisi bodoh, Caleb (Tosin Cole) yang juga seorang gembala, Beth (Hong Chau) si pemilik penginapan, hingga Elliot (Nicholas Galitzine) si reporter yang datang untuk meliput festival kebudayaan.
Tapi yang menjadikan presentasi The Sheep Detectives terasa spesial adalah penokohan penuh warna bagi makhluk dalam peternakan, yang biarpun punya segudang perilaku absurd, eksistensinya nampak nyata berkat perpaduan penulisan dengan kualitas CGI mumpuni.
Domba-domba ini bukan semata karakter komputer tanpa jiwa. Interaksi mereka acap kali menggelitik berkat selipan humor eksentrik khas sinema Britania dalam naskah buatan Craig Mazin, pun secara mengejutkan, terselip hati yang besar di tengah dinamika para hewan berbulu yang konon punya kompleksitas emosi ini. Sehari sebelumnya, saya menonton Gohan yang memperlakukan seekor anjing dengan penuh cinta, dan di sini, Kyle Balda selaku sutradara menaruh sikap serupa terhadap domba.
Alurnya juga mengandung setumpuk pesan yang dapat berguna bagi pembelajaran anak, sekaligus menghadirkan perenungan untuk penonton dewasa: Menelaah konsep kematian yang muncul dari bagaimana para domba percaya jika mereka akan berubah menjadi awan sewaktu hidup telah menemui akhir, proses memberanikan diri menghadapi rasa sakit (para domba digambarkan cenderung memilih menghapus memori mereka bila terjadi peristiwa memilukan), sampai perihal keberagaman yang diwakili oleh diskriminasi yang diterima anak domba apabila lahir di musim dingin alih-alih musim semi seperti rekan-rekannya.
The Sheep Detectives adalah film keluarga yang sempurna. Penonton bakal dengan senang hati memaafkan andai elemen misterinya digarap setengah-setengah. Hebatnya, itu tidak terjadi, sebab filmnya berhasil melahirkan whodunit berkelas. Sepanjang 109 menit, The Sheep Detectives rutin menebar remah-remah misteri, sembari secara aktif melibatkan kita dalam proses investigasi.
Narasi George saat membacakan surat yang sedang ia tulis dipakai mengawali penceritaan. Kepada siapa surat tersebut dialamatkan? Pertanyaan sederhana tersebut merupakan lapisan pertama misterinya, yang akan dikupas secara berkala, untuk kemudian mengungkap misteri-misteri lain yang jauh lebih besar. The Sheep Detectives mungkin bukan "film terhebat tahun ini" tapi ia jelas salah satu yang paling komplet.
REVIEW - GOHAN
Seperti yang diekspektasikan dari film seputar anjing, Gohan bakal menguras air mata sampai tuntas, tapi ia melakukannya secara "cantik". Alih-alih pesakitan, si anjing dijadikan pembawa harapan. Proses menemukan nurani lebih diutamakan oleh produksi terbaru GDH 559 ini ketimbang tragedi.
Filmnya mendefinisikan peran anjing selaku sahabat manusia dengan menjadikannya saksi penciptaan memori-memori seiring berlalunya guliran waktu. Sepanjang 141 menit durasi, ia memaparkan tiga cerita yang merambah tiga warna genre berbeda, digarap oleh tiga sutradara, serta menampilkan tiga aktor anjing sebagai pemeran utama.
Di kisah pertama, Gohan (diperankan anak anjing bernama Kori) yang masih kecil terlantar di emper 7-Eleven sebelum diselamatkan oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur bidang otomotif yang sedang menimbang-nimbang untuk pulang ke Jepang pasca dipaksa pensiun oleh perusahaan tempatnya mengabdi selama 35 tahun. Nama "Gohan" disematkan oleh si kakek.
Dari tiga cerita filmnya, inilah yang paling emosional. Tidak heran, sebab ia digawangi oleh figur paling berpengalaman, yakni Chayanop Boonprakob, yang bermodalkan deretan judul-judul hebat dalam filmografi miliknya, sebutlah SuckSeed (2011), A Gift (2016), Friend Zone (2019), sampai The Red Envelope (2025).
Chayanop enggan membangun melankoli. Dua karakternya dibawa saling menyelamatkan hidup masing-masing daripada digiring meratapi nasib buruk mereka. Pun sesekali muncul selipan humor yang dengan apik mengawinkan dua wajah eksentrik sinema Jepang dan Tailan. Dipandu pengarahan sang sutradara yang menolak buru-buru sementara musik bergaya akustik mengalun lembut, segmen pertamanya hadir bak semilir angin yang mendamaikan.
Kitachima Yasushi menciptakan protagonis yang mudah mencuri hati (bahkan caranya melafalkan nama "Gohan" pun sanggup mengaduk-aduk emosi!) lewat sosok Hiro yang tengah belajar untuk beranjak dari kenangan lama sembari merekam kenangan baru.
Cerita kedua menjejakkan kakinya ke ranah road trip, di mana Gohan dewasa (Meechok) mesti kabur dari tempat penampungan anjing yang memperlakukannya secara kejam. Pelariannya mendapat uluran tangan dari Namcha (Poe Mamhe Thar), migran asal Myanmar yang bekerja tanpa dokumen di penampungan tersebut. Namcha memberinya nama baru: Brownie.
Kendati memaparkan fenomena meresahkan seputar penyalahgunaan penampungan sebagai medium pengeruk uang, segmen garapan Baz Poonpiriya (Bad Genius) ini berujung jadi yang terlemah. Naskahnya luput mengembangkan ketersesatan para protagonisnya jadi sajian bermakna. Kebersamaan Namcha dengan Gohan/Brownie yang secara kuantitas cenderung singkat, gagal ditutupi oleh kualitas presentasi, sehingga terkesan cuma bertugas menjembatani dua cerita yang lebih kuat.
Atta Hemwadee (Not Friends) memungkasi perjalanan Gohan melayari samudra kehidupan lewat sebuah romantika manis. Gohan tua yang kini dipanggil Hima (juga diperankan anjing bernama Hima) kembali hidup terlantar di stasiun Hua Takhe. Dia menggantungkan diri pada makanan pemberian para penumpang, termasuk Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pelé (Jinjett Wattanasin), yang pertama kali kita temui tatkala hendak mendaftar ke universitas.
Sang waktu terus bergerak dalam aliran pasti tepat di depan mata kita dan Gohan/Hima. Jaideen dan Pelé mulai berkuliah, benih romansa tumbuh kemudian runtuh, Jaideen menjalani profesi sebagai pramugari selepas lulus, sedangkan Pelé kesulitan menyelesaikan studinya. Bagi dua manusia tersebut kehidupan di dunia nyata baru saja dimulai, tapi ujung jalan sudah nampak dekat di mata Gohan/Hima.
Segmen penutup ini adalah romantika berkualitas khas sinema "Negeri Gajah Putih", yang tidak sekadar mencuatkan rasa manis, pula membawa sayatan yang meninggalkan bilur di hati, sekaligus menawarkan perspektif mendalam terhadap konfliknya, ketika ia menampik justifikasi dan romantisasi atas kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Karakternya berproses bukan semata demi cinta buta, tapi perbaikan atas kualitas diri.
Saya mencintai pilihan konklusinya. Gohan menjauhi pakem generik beserta segala kegemarannya memakai dramatisasi murahan demi menguras air mata penonton. Filmnya tidak tertarik mengeksploitasi dan hanya ingin "mengabadikan" sebagai caranya mencintai.
REVIEW - BILLIE EILISH - HIT ME HARD AND SOFT: THE TOUR (LIVE IN 3D)
"Birds of a feather, we should stick together, I know". Sewaktu Billie Eilish melantunkan baris lirik indah dari tembang Birds of a Feather yang jadi penutup konsernya, sekelompok penonton dalam studio turun ke depan layar, bernyanyi, berjingkrak, sembari berangkulan bak bulu-bulu yang terjalin erat kala sang burung mengangkasa. Mereka seperti benar-benar sedang menyaksikan konser secara langsung. Sebuah pengalaman transendental yang hanya bisa dicapai sinema kelas satu.
Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) merupakan film yang akan membuatmu mengagumi dua sutradaranya: Billie Eilish si musisi muda dengan kekayaan visi yang bukan bintang pop kosong hasil kurasi industri semata, dan James Cameron sang "Dewa Sinema" yang mau berusaha memahami generasi sekarang alih-alih bersikap arogan dengan mengerdilkan mereka.
Latarnya adalah konser di Manchester (2025) yang jadi bagian Hit Me Hard and Soft: The Tour. Di lagu Chihiro selaku nomor pembuka, Eilish muncul dari dalam sangkar lalu membagikan lirikan tajam khasnya ke arah lautan manusia yang meneriakkan namanya. Cameron menangkap figur sang musisi bagai jagoan laga karismatik yang kerap menghiasi karya-karyanya.
Cameron jelas mengagumi Eilish. Dia hadir bukan untuk unjuk gigi sebagai pemeran utama, melainkan sosok pendukung yang memfasilitasi upaya si bintang muda merealisasikan visinya. Sebelum konser dimulai, Eilish menjabarkan keinginannya, pula hal apa saja yang hendak ia lakukan di atas panggung, kemudian menutup dengan pertanyaan, "Bisakah kita melakukan itu?" Cameron menjawab santai, "Ya." Jika salah satu sutradara paling jenius berada di pihakmu, kemustahilan bukan lagi sesuatu yang patut dikhawatirkan.
Seiring konser berjalan, kita pun perlahan dibuat menyadari bahwa dua seniman lain era dan medium ini sejatinya tidak seberapa jauh berbeda. Sebagaimana Cameron, Eilish pun gemar mengeksplorasi ragam teknologi yang bisa menyulap konsernya jadi pesta meriah, bahkan saat tengah membawakan lagu-lagu bertempo lambat.
Tata cahaya dengan warna-warni tajam yang menyesuaikan suasana tiap lagu, pemakaian teknik vocal loops yang mengharuskan puluhan ribu orang dalam Co-op Live untuk membisu sejenak setelah bernyanyi dan berteriak tanpa henti, semua melahirkan pengalaman sensoris yang terasa imersif kala diterjemahkan ke layar perak oleh Cameron.
Format 3D jadi senjata pamungkas guna menggenjot kesan imersif tersebut. Gambarnya memiliki kejernihan serta kedalaman luar biasa, sehingga setiap kali kamera diletakkan dari perspektif penonton, kita akan merasa seperti sungguh-sungguh berdiri di belakang kerumunan manusia tersebut. Sadarkah kalian kalau para anggota band pengiringnya mengenakan baju merah dan biru sebagai simbol efek 3D?
Sekali waktu kita diajak mengunjungi kondisi di balik panggung untuk mendengarkan obrolan Eilish dan Cameron. Beberapa topik dibicarakan, mulai dari pilihan gaya berpakaian, ambisinya menginspirasi sebagai figur publik perempuan, hingga keinginan membahagiakan para penggemar lewat performanya di atas panggung. Sederhananya, hal-hal yang sudah sering kita temui di banyak film konser.
Bukan tipikal wawancara yang mengupas ruang intim sang narasumber secara mendalam, tapi bukan masalah, sebab dokumenter Billie Eilish: The World's a Little Blurry (2021) sudah eksis untuk memenuhi tujuan tersebut. Sedangkan Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) lebih mengedepankan spektakel, kendati itu bukan berarti ia mengeliminasi emosi. Hanya saja, daripada berasal dari obrolan, dinamika rasa terbesarnya dihasilkan oleh atmosfer konsernya.
Memotret reaksi penonton sepanjang konser merupakan praktik lumrah dalam film konser, namun di sini pemandangan tersebut lebih sering ditampilkan. Cameron memakainya selaku medium observasi seputar budaya generasi muda, yang tak sekalipun terkesan menghakimi.
Pemujaan terhadap bintang pop bukan dibingkai sebagai obsesi tak sehat, melainkan tali pengaman yang mengentaskan mereka dari titik nadir kehidupan. Pun Cameron enggan memandang aktivitas merekam jalannya konser secara negatif. Bukannya anak-anak muda ini larut dalam jerat teknologi. Begitulah cara mereka menciptakan serta menyimpan kenangan.
Wajah mereka senantiasa dibanjiri air mata. Setiap lagu mampu menyentuh hati orang yang berbeda-beda, setiap orang pun membawa beragam cerita yang seketika terbayang tiap saya mengamati gurat-gurat rasa di wajah mereka. Tanpa sadar, terjalin koneksi antara dua kelompok penonton (konser dan bioskop) yang terpisah oleh sekat ruang dan waktu.

%20(1).png)





.png)

.png)

.png)