REVIEW - GOOD LUCK, HAVE FUN, DON'T DIE

Apa jadinya bila pemerintah secara serakah mengeruk keuntungan dari AI tanpa membuat regulasi memadai (terdengar familiar?), dan harapan akan keselamatan kita terletak di pundak laki-laki gila yang mengaku datang dari masa depan sembari mengoceh tentang bahaya pemakaian smartphone?

Gagasan utama Good Luck, Have Fun, Don't Die amat dekat dengan realita, walau insiden-insiden kecil yang memenuhinya nampak begitu jauh. Tapi coba renungkan sejenak. Kalau satu dekade lalu muncul film yang bersikap anti terhadap smartphone atau media sosial, niscaya publik bakal melempar reaksi "OK boomer", namun sekarang keresahan tersebut beralasan. Secepat itu teknologi berkembang dan memengaruhi budaya. Kelak, mungkin saja deretan kemustahilan film ini menjadi potret keseharian.

Awalnya semua terlihat senada dengan dunia kita. Di tengah keriuhan para pengunjung restoran yang sedang menikmati makan malam, tiba-tiba muncul laki-laki tanpa nama (Sam Rockwell) yang mengaku datang dari masa depan, memperingatkan soal masa depan suram akibat ketidakmampuan manusia memalingkan wajah dari layar smartphone. 

Tentu para pengunjung menganggapnya gila. Kita pun akan bersikap serupa. Si laki-laki tak ubahnya gelandangan yang gemar berseloroh perihal kiamat di pinggir jalan. Tapi selepas menit-menit penuh kebingungan, si laki-laki menyampaikan tujuan utamanya, yaitu mengumpulkan tim berisi untuk menyelamatkan dunia dari ancaman AI. 

Tim pun terbentuk: Mark (Michael Peña) dan Janet (Zazie Beetz), sepasang kekasih yang sama-sama merupakan guru SMA; Bob (Daniel Barnett) si pembina pramuka; Scott (Asim Chaudhry) yang skeptis terhadap cerita tentang perjalanan si laki-laki menembus waktu; Susan (Juno Temple) yang secara misterius mengetahui rahasia mengenai restoran tersebut; dan Ingrid (Haley Lu Richardson) yang punya tendensi bunuh diri. 

Kemudian alurnya mengajak kita mundur ke belakang guna menggali apa yang orang-orang itu alami sebelum pertemuan di restoran. Sejak itulah penonton disadarkan bahwa dunia tempat Good Luck, Have Fun, Don't Die berlatar sudah lebih maju secara teknologi ketimbang realita. Pada segmen mengenai Mark dan Janet, digambarkan siswa SMA tak mampu lagi memalingkan wajah barang sedetik saja dari layar smartphone. 

Naskah buatan Matthew Robinson untungnya tidak terdengar seperti grumpy old man yang terus-terusan mengeluhkan perilaku generasi muda. Alih-alih sepenuhnya menyalahkan para remaja dalam fenomena di atas, Robinson mengacungkan jari ke arah pihak korporasi dan pemerintah, yang bukannya meregulasi justru mengeksploitasi. 

Kondisi serupa terpampang di segmen tentang Susan yang baru kehilangan putranya akibat penembakan di sekolah. Daripada secara serius mengusut isu yang telah mencapai titik kritis itu, pemerintah malah menerapkan prinsip aji mumpung demi menimbun profit. Di segmen itu pula Robinson menyentil fungsi teknologi sebagai alat untuk mempermudah hidup manusia, yang bak pisau bermata dua. Sebab bila kita terlalu gampang mencapai sesuatu, lambat laun hal itu akan kehilangan nilainya. 

Deretan segmen tersebut bakal lebih berkesan bagi penonton yang belum pernah menyaksikan serial Black Mirror, mengingat banyak elemennya, seperti manusia yang disulap menjadi iklan berjalan, pernah ditelusuri secara lebih menyeluruh di sana. Tapi masalah terbesar penceritaannya terletak pada pembengkakan durasi (134 menit) akibat kekacauan struktur, pula inkonsistensi perihal pernyataan yang ingin disampaikan. 

Di satu kesempatan, filmnya berpesan bahwa eksistensi AI tak bisa dihindari sehingga manusia perlu menemukan titik tengah, namun selang beberapa saat, ia secara tegas menuding kecerdasan buatan selaku iblis kejam yang perlu ditumpas. 

"Energi" adalah faktor yang menghalangi Good Luck, Have Fun, Don't Die kehilangan kekuatan. Setiap departemennya kaya akan energi. Pengarahan Gore Verbinski, cara Sam Rockwell menangani kalimat demi kalimat secara manik, juga naskahnya yang biarpun acap kali berantakan, tetap mendatangkan pesona melalui kreativitasnya. Tengok kemunculan tiba-tiba sesosok monster aneh yang tak ubahnya dibuat memakai prompt ngawur nan aneh khas konten AI TikTok.

Keseluruhan babak finalnya sendiri terasa seperti ditulis memakai AI dalam hal kekacauan yang ia sajikan, namun tetap punya sisi humanis berkat hadirnya satu poin yang mustahil ditiru kecerdasan buatan: emosi. Klimaks Good Luck, Have Fun, Don't Die dipenuhi kekhawatiran serta amarah yang meluap-luap. 

Saya suka caranya mengakhiri cerita (setidaknya sebelum berpaling ke arah konklusi aman penuh harap ala Hollywood), yang mengingatkan pada daya kejut khas horor masa lalu, yang gemar meninggalkan penonton dengan nuansa kelam sarat ketidakberdayaan. Tapi di saat bersamaan, harapan yang akhirnya disertakan mungkin bukan sebatas keputusan "mengalah pada pasar", melainkan sebuah pernyataan betapa umat manusia akan selalu unggul, selama mereka bersedia menebar kepedulian pada sesama. 

REVIEW - HOPPERS

Benar bahwa sihir Pixar tak lagi semujarab dahulu, kala kualitas "bintang lima" serta kejayaan di Oscar sudah jadi garansi. Hoppers sendiri takkan menyediakan bangunan dunia perhewanan sedetail Finding Nemo maupun karya kebanggaan perusahaan induk mereka, Zootopia, namun film buatan Daniel Chong ini punya pencapaian lain yang tak kalah mengagumkan, yakni eksplorasi genre secara kaya. 

Kisahnya diawali oleh prolog berupa montase khas Pixar: Mabel (Piper Curda) si bocah penyendiri yang gagal dipahami oleh lingkungannya, menemukan kebahagiaan dengan menghabiskan waktu bersama sang nenek (Karen Huie) menikmati ekosistem suatu padang rumput penuh hewan. Kita sudah belajar dari Up, bahwa montase tersebut bakal dipungkasi oleh kepergian si nenek. Hubungan kekeluargaan keduanya tak digali seberapa mendalam, tapi menyediakan motivasi memadai bagi aksi protagonisnya. 

Sepeninggal nenek, Mabel menjaga perjuangannya tetap hidup lewat perlawanannya terhadap niat Jerry (Jon Hamm), Wali Kota Beaverton, yang hendak meratakan padang rumput tempat beragam spesies tinggal guna membangun jalan bebas hambatan. Masalahnya, terjadi anomali. Tidak satu pun hewan bisa ditemukan di sana, termasuk koloni berang-berang yang eksistensinya begitu esensial bagi ekosistem. Semua mendadak hilang. 

Beruntunglah Mabel mengetahui keberadaan teknologi "Hoppers" hasil kreasi profesor biologinya, Dr. Samantha (Kathy Najimy), yang memungkinkan manusia memindahkan kesadaran mereka ke tubuh robot hewan. Sederhananya, seperti Avatar. Mabel sendiri sempat berceloteh mengenai kemiripan itu, sebelum bertindak nekat mentransfer dirinya ke robot berang-berang guna menginvestigasi misteri hilangnya para hewan.

Sampai di titik ini, naskah buatan Jesse Andrews masih serba familiar. Mabel pun menyusup ke koloni hewan, lalu mempelajari dinamika hidup mereka yang melahirkan banyak komedi situasi, termasuk kelakar menggelitik antara beruang dan berang-berang mengenai "aturan kolam" yang sudah diungkap oleh trailernya. Humornya takkan memecah tawa secara luar biasa, tapi cukup untuk memotori daya hibur filmnya. 

Terselip satu detail kecil yang menarik. Ketika disimak lewat perspektif manusia, para hewan memiliki mata kecil realistis berwarna hitam. Menggemaskan tapi kosong. Sebaliknya, sewaktu kita diajak memandang hewan melalui perspektif mereka sendiri, mata itu berubah jadi "lebih kartun", konyol, juga kaya emosi. Manusia memang punya tendensi melihat hewan sebagai makhluk imut belaka, bak boneka tanpa nyawa yang bisa diperlakukan semaunya.

Biar demikian, secara keseluruhan, paruh awal Hoppers dipenuhi poin-poin formulaik yang jamak kita temui dalam judul-judul lain, bahkan animasi generik sekalipun. Begitu pula pesan mengenai harmoni alam raya, serta petualangan sepasukan hewan yang bakal memesona bagi penonton semua umur. Sehingga siapa sangka hal-hal itu merupakan gerbang, yang begitu dibuka akan seketika memperluas dunia kecil protagonisnya ke teritori yang tak terbayangkan sebelumnya. 

Seiring alurnya mendengungkan alarm pengingat bahwa senjata ciptaan manusia kelak berisiko berbalik menghancurkan kita (amat relevan dengan wajah dunia masa kini yang berada di bibir jurang peperangan), pelan-pelan naskahnya menggiring penonton menyatroni wilayah cerita yang tidak terduga. Transisinya begitu mulus, melebur apik dengan cerita utamanya, hingga bukan mustahil banyak yang melewatkan keliaran eksplorasi genrenya.

Hoppers tidak ragu melangkahkan kaki menuju kekonyolan khas b-movie yang serba hiperbolis. Salah satu adegan kejar-kejarannya menyuguhkan skenario "Apa jadinya kalau Pixar mengadaptasi Sharknado?" Di penghujung babak kedua pun, kala alurnya sejenak memindahkan latar ke laboratorium Dr. Samantha, Daniel Chong secara cerdik menyusun pengadeganan bak sedang mengarahkan horor fiksi ilmiah dari dekade lalu. 

Kehangatan milik babak ketiganya menjadi pelengkap. Saya mendapati diri menangisi kebaikan sekelompok makhluk hidup yang bersedia menolong spesies lain yang pernah menyakiti mereka. Mungkin kebaikan semacam itulah yang menunda kehancuran total dunia ini dan membuatnya terus bernyawa.

REVIEW - THE BRIDE!

Di Bride of Frankenstein (1935), meski namanya terpampang di judul, "sang pengantin perempuan" hanya muncul sekitar lima menit di penghujung cerita. Dia tak ubahnya alat bagi si monster laki-laki untuk merasakan cinta kemudian patah hati. Dari situlah eksistensi The Bride! buatan Maggie Gyllenhaal memiliki makna, yakni mengubah "The Bride" dari entitas nihil identitas menjadi makhluk yang utuh. 

Film orisinalnya membawa elemen meta ketika mengawali durasi dengan menampilkan Mary Shelley menarasikan ide untuk kelanjutan dari novel Frankenstein; or, The Modern Prometheus buatannya. Ada sekat antara fiksi dan realita. The Bride! hadir lewat pendekatan kreatif yang memburamkan batasan keduanya, tatkala memposisikan Mary Shelley layaknya arwah yang merasuki jiwa tokoh utamanya. 

Sebelum kematiannya, Ida (Jessie Buckley) mendadak bertingkah aneh di hadapan para laki-laki yang memandangnya selaku objek hiburan. Kepatuhan serta sopan santun lenyap, kata-kata manis dari mulutnya pun digantikan celotehan tajam. Semua terjadi pasca "hantu" Mary Shelley (juga diperankan Buckley) tiba-tiba memasukinya. Di mata Maggie Gyllenhaal, Mary Shelley bukan sebatas novelis, namun personifikasi dari gagasan feminisme. 

Sayang, Ida mesti membayar pemberontakan kecil tersebut dengan nyawa, karena ucapannya menyinggung Lupino (Zlatko Burić) si bos mafia. Kemudian kisahnya mengalihkan fokus pada monster buatan  Victor Frankenstein, yang setelah hidup ratusan tahun, mengadopsi nama sang pencipta. Kini dia dipanggil "Frank" (Christian Bale). 

Frank yang kesepian, meminta bantuan Dr. Euphronious (Annette Bening) supaya dibuatkan "teman". Mayat Ida pun mereka gali, lalu coba dihidupkan kembali untuk dijadikan calon pengantin bagi Frank. Jika Jacob Elordi dalam versi Guillermo del Toro tahun lalu maupun Boris Karloff di judul klasiknya memotret sang monster sebagai figur tragis, Bale memberi interpretasi yang sedikit berbeda. 

Sang aktor mengedepankan sisi yang lebih canggung, cenderung ramah, pula manusiawi. Wajar. Frank bukan lagi monster kemarin sore. Dia telah mengitari dunia selama lebih dari seabad. Ketimbang anomali dunia, Frank tak ubahnya pemuda dengan kecanggungan sosial yang bergulat dengan insekuritas akibat terlalu sering dihakimi masyarakat. 

Di sisi lain, Ida yang sekarang menyandang identitas "The Bride" justru lebih liar. Masih dirasuki arwah Mary Shelley yang piawai merangkai kalimat, The Bride bicara layaknya mesin kosakata. Ucapannya tak terkendali, mewakili hasrat perempuan untuk bebas berbicara setelah sekian lama terpenjara. Jessie Buckley tampil 1000% dalam tiap situasi, mengeksplorasi ragam gestur dan ekspresi khas seni peran panggung, yang bakal dicap "berlebihan" oleh segelintir penonton yang gagal memahami cabang keilmuan itu. 

Tidak butuh waktu lama bagi dua protagonisnya guna mengobrak-abrik tatanan ibarat Bonnie dan Clyde versi monster. Kepanikan massal pun pecah setelah wajah keduanya terpotret di TKP sebuah pembunuhan. Hubungan The Bride dan Frank merepresentasikan konsen. Mereka menggila bersama, bukannya secara sepihak tanpa persetujuan si pasangan, yang semasa hidupnya, jadi rutinitas pahit yang Ida kerap saksikan bahkan alami sendiri. 

Kemunculan The Bride memercikkan api perlawanan. Banyak perempuan mengenakan riasan serupa dirinya, kemudian menyulut perlawanan secara terang-terangan terhadap persekusi oleh laki-laki. Sayang, naskah buatan Maggie Gyllenhaal mengolahnya dengan kurang matang. Alih-alih dikembangkan sebagai salah satu menu utama, perihal perlawanan ini sekadar remah-remah bumbu yang ditaburkan sekenanya. 

Bicara tentang penceritaan, The Bride! memang kacau balau: Alurnya menggelembung tak terkendali seiring meluasnya cakupan yang ditandai munculnya dua karakter detektif, Jake Wiles (Peter Sarsgaard) dan asistennya yang kurang dihargai akibat seksisme dalam sistem kepolisian, Myrna Mallow (Penélope Cruz); struktur narasinya berkeliaran bak seseorang yang didera kecemasan kala tersesat dalam labirin; fokusnya pun kesulitan menentukan apakah hendak menyajikan romantika atau membuat The Bride berdiri mandiri tanpa memerlukan belahan hati. 

Tapi prinsip filmnya yang menomorsatukan keliaran dan penolakan terhadap norma lama (isu gender yang diangkat pun mengarah ke sana) memang sukar ditolak. Visi tersebut paling sempurna diwakili oleh sebuah duet dansa dua tokoh utamanya di tengah suatu pesta, di mana para hadirin lain mendadak turut serta seolah tengah kerasukan. Tidak ada alasan logis dibutuhkan, karena fenomena itu merupakan wujud ledakan ekspresi emosi.

REVIEW - HAMNET

Perasaan manusia dapat bertransformasi menjadi seni bercerita. Di salah satu pertemuannya dengan Agnes (Jessie Buckley), William Shakespeare (Paul Mescal) mengaku tak jago perihal komunikasi. Tapi sebagaimana kita tahu, ia adalah pencerita handal. Alhasil sebagai ganti obrolan sekaligus cara menyampaikan isi hati, ia menuturkan legenda Orpheus dan Eurydice. Agnes pun terpikat. 

Prolog filmnya menampilkan teks yang menyampaikan kalau di Stratford, "Hamlet" dan "Hamnet" dianggap sebagai dua nama yang sama. Tulisan tersebut merujuk pada hipotesis bahwa William menjadikan naskah Hamlet selaku medium katarsis, upaya penebusan dosa dalam prosesnya memahami makna kehidupan dan kematian, pasca ia digerogoti rasa bersalah akibat kematian putranya, Hamnet.

Tapi karya terbaru Chloé Zhao ini bukan kisah mengenai sang pujangga semata. Bahkan William Shakespeare bukan manusia pertama yang penonton temui. Kita diajak memasuki hutan yang sibuk dengan kesunyiannya, bak sedang merayakan kesyahduan manusia yang berbaring di antara rimbunnya pepohonan. Dialah Agnes Hathaway (lebih jamak dikenal dengan nama "Anne", kendati wasiat mendiang ayahnya menuliskan "Agnes"). 

Mistisisme menyeruak dari pemandangan tersebut. Serupa karya-karya Zhao sebelumnya, emosi manusia dan alam raya saling berkelindan. Dibantu Łukasz Żal selaku penata sinematografi, Zhao berkali-kali menunjukkan kepiawaiannya memantik emosi lewat bahasa visual yang menyoroti ikatan spiritual tak kasat mata di atas. 

Agnes dicurigai sebagai anak penyihir hutan, yang tidak pernah secara tegas ia tampik atau akui. Tapi ia memang dipercaya memiliki beberapa kemampuan spesial, salah satunya melihat masa depan seseorang hanya melalui genggaman tangan. Agnes yang lebih suka berkeliaran di tengah hutan daripada bernaung di bawah atap rumah ibarat representasi ibu pertiwi (mother nature). 

Singkat cerita, Agnes yang tengah hamil bersedia menikahi William walau mesti melawan ketidaksetujuan ibu masing-masing. Semua berawal bahagia, khususnya berkat kehadiran tiga buah hati: Susanna (Bodhi Rae Breathnach), Judith (Olivia Lynes), dan Hamnet (Jacobi Jupe). Tapi suka cita William tertutupi oleh perasaan terkekang di kota kecil seperti Stratford. Luapan frustrasi William akibat kondisi tersebut, ditambah kebuntuannya menelurkan tulisan, diutarakan secara menusuk oleh akting Paul Mescal, dalam adegan berlatar kamar remang yang menyesakkan. 

Agnes pun meminta kakaknya, Bartholomew (Joe Alwyn), mengirim sang suami ke London guna memberinya kesempatan berkarir di dunia teater. Ibarat sepasang burung, William dibiarkan terbang bebas, sedangkan Agnes didomestikasi dalam sangkar, dipaksa menjauh dari alam yang selama ini jadi rumah tanpa sekat. Naskah buatan Chloé Zhao dan Maggie O'Farrell (mengadaptasi novel berjudul sama buatan O'Farrell sendiri), tidak luput menyentil dinamika peran gender secara subtil melalui kondisi tersebut. 

Banyak luka hadir akibat kepergian William. Hamnet si putra sulung senantiasa terlihat tegar, namun air matanya selalu tumpah. Jacobi Jupe yang belum genap 13 tahun, berakting dengan kepekaan ala pelakon dewasa, melalui sorot matanya yang menyalakan kenangan mengenai ketakutan kita semasa kecil perihal kepergian orang tua. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi anak daripada kehilangan tersebut.

Tapi dalam ironi takdir yang tragis, justru Hamnet yang meninggalkan orang tuanya. Wabah pes bubo yang mulai merebak merenggut nyawa si bocah. Agnes yang menyaksikan secara langsung kematian buah hatinya pun hancur seketika. Zhao menempatkan kamera di posisi close-up, membiarkan Jessie Buckley melepaskan jeritan emosi feral mencekik dalam adegan yang berkontribusi memposisikan namanya sebagai unggulan terdepan di musim penghargaan. 

Kemudian tibalah alurnya di bagian fiksi spekulatif yang jadi menu utama. Dipicu duka mendalam, William mulai menulis The Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark. Kisah hidup mendiang putranya dimodifikasi, diterjemahkan ke ranah fiksi, lalu dipentaskan di depan lukisan hutan selaku backdrop panggung. Di tengah lukisan terdapat lubang hitam serupa goa pohon yang kerap Agnes kunjungi di hutan, dan sempat memancing rasa penasaran William. 

Semuanya palsu, tapi itulah kekuatan karya seni. Wujudnya mungkin maya, namun rasa yang dihasilkan amat nyata. Koneksi antara tragedi kematian Hamnet dengan cerita rekaan mengenai Hamlet bakal tersaji lebih mulus andai naskahnya tidak gemar menjabarkannya dengan lantang (adegan William mendeklamasikan monolog "To be, or not to be" misal), seolah menganggap penontonnya terlampau bodoh, atau buta literasi sampai gagal menarik benang merah antara keduanya. 

Gerak narasinya memang tak selalu lancar akibat terlampau sering beralih wujud. Pendekatannya berubah dari kisah naturalis lirih nan sederhana menjadi tearjerker dramatis serba besar, sebagaimana fokus alurnya terus bergeser (romansa, drama keluarga, gender, dunia anak, persoalan seni, dll.), hingga memantik pertanyaan, "Apa yang sebenarnya paling ingin Zhao dan O'Farrell kedepankan?"

Beruntung, konklusinya membuat berbagai kelemahan tadi seolah tak lagi perlu untuk dipusingkan. Di atas panggung, kisah fiktif dan realita penuh duka (bukan cuma Agnes dan William, penonton lain pun sedang mengakrabi luka hati akibat wabah) saling terhubung, sementara Zhao kembali unjuk kebolehan merangkai bahasa visual guna melantunkan emosi. Begitu juga akting Jessie Buckley, yang dalam momen tersebut, bergerak di area lebih subtil. Mata serta senyumnya bagaikan sajak indah yang tak lagi memerlukan kata-kata puitis untuk bicara. 

REVIEW - IRON LUNG

"Gamers tahu apa tentang pembuatan film?" Ungkapan merendahkan macam itu kerap menuntun film adaptasi game menuju malapetaka. Pihak studio yang sebatas memandang game selaku properti pengeruk uang, sehingga bukan mustahil ogah repot-repot memainkannya, secara arogan memercayai superioritas mereka, kemudian berujung menghancurkan dunia imajinatif tersebut daripada membuatnya bertransformasi. 

Lalu tibalah Mark "Markiplier" Fischbach lewat Iron Lung, debutnya sebagai sutradara yang mengadaptasi game berjudul sama buatan David Szymanski. Dia mungkin belum menjadi sineas berkompetensi tinggi, namun sebagaimana materi aslinya, Markiplier hadir bermodalkan kobaran jiwa indi, dengan mengedepankan semangat dan niat yang berakar dari cinta.

Selain sutradara, Markiplier turut mengisi posisi produser eksekutif, penulis naskah, editor, serta aktor utama. Diperankannya Simon, seorang narapidana yang dikirim untuk mengeksplorasi sebuah bulan yang terendam dalam lautan darah. Simon mengendarai kapal selam seorang diri, tanpa diberi arahan pasti mengenai apa yang mesti dicari, kecuali bahwa ia perlu mengambil foto memakai kamera sinar-X. Tapi Simon yakin ada sosok misterius yang diam-diam mengintainya di balik remang-remang lautan darah. 

Alkisah, dunia dalam film ini baru mengalami kiamat yang dinamai "Quiet Rapture", di mana seluruh planet dan bintang tiba-tiba lenyap. Umat manusia pun nyaris seluruhnya punah, kecuali mereka yang berada di stasiun serta pesawat luar angkasa. Misi Simon bertujuan mencari kunci kelangsungan hidup para penyintas. 

Mayoritas informasi di atas tersebar acak melalui ragam bentuk suara: narasi voice over, instruksi via radio untuk Simon, sampai bisikan misterius di kepala si tokoh utama. Keengganan Iron Lung menyuapi informasi, termasuk tendensi naskahnya mengemas dialognya seambigu mungkin, berpotensi menyulut frustrasi penonton awam yang kurang familiar dengan permainannya. 

Tapi harus diakui, bila mampu menyusun keping teka-teki tersebut, filmnya menyediakan bangunan dunia menarik, selaku latar bagi ceritanya yang menyoroti persoalan spiritualitas, trauma, degradasi psikologis, dan upaya manusia menjaga eksistensi di tengah mortalitas mereka. 

Wajah Simon mendominasi 125 menit durasi, yang otomatis menuntut kapasitas akting sang pelakon. Markiplier punya kemampuan mengolah raut wajah, juga kapasitas menampilkan beberapa emosi dasar secara memadai, namun dinamika rasa yang masih cenderung berkutat di permukaan belum cukup untuk membuatnya mampu mengemban beban seorang diri selama lebih dari dua jam. 

Apalagi sebagai sutradara, Markiplier cenderung membiarkan beberapa momen mengalir berlarut-larut. Acap kali adegan masih berjalan jauh setelah poinnya tersampaikan, sehingga alih-alih intensitas, penonton justru kerap dihadapkan pada kehampaan. Setidaknya sebelum mencapai paruh kedua yang terasa lebih penuh karena Simon yang terdampar keluar jalur dituntut memeras otak di tengah keterbatasan sumber daya guna menemukan jalan keluar. 

Tapi Markiplier bukan sutradara buruk. Sangat jauh dari itu. Dia hadir dengan ragam pilihan shot yang membawa Iron Lung berhasil menghindari kemonotonan. Belum lagi, didukung kualitas mumpuni timnya kala meleburkan efek praktikal dan komputer, sang sutradara debutan sanggup menyulap biaya cekak (tiga juta dolar) jadi tontonan yang tidak nampak murahan. 

Penceritaan yang enggan mencekoki penonton dengan informasi, tempo lambat, juga keberanian mengeksplorasi horor kosmik sarat imagery beraroma sureal yang cenderung jarang disentuh sinema arus utama. Walau belum maksimal, aspek-aspek tadi membuktikan keberanian sang pembuat film untuk tidak tunduk pada pakem. Tengok babak ketiganya yang jadi puncak keliaran horor kosmik. Markiplier tahu apa yang ingin ia ciptakan, juga apa yang ia perlukan guna merealisasikan visinya. 

REVIEW - MARTY SUPREME

Sepanjang 150 menit, berkali-kali Marty Supreme seperti hendak melangkahkan kaki di rute "from zero to hero" yang familiar, hanya untuk berputar balik dan menjatuhkan protagonisnya ke titik nol. Sebab tidak ada "hero" di karya penyutradaraan teranyar Josh Safdie ini. Hanya individu yang dibuat terombang-ambing oleh permainan sang takdir, bak bola yang bolak-balik dipukul di atas meja pingpong. 

Kredit pembukanya cukup nyeleneh: sekumpulan sperma berlomba mencapai ovum, lalu setelah pembuahan terjadi, sel telur itu berubah menjadi bola pingpong. Seperti itulah kehidupan Marty Mauser (Timothée Chalamet) yang karakternya terinspirasi dari figur Marty Reisman. Konon, rata-rata kecepatan bola pingpong di pertandingan kompetitif adalah 100-140 km/jam. Bayangkan terus melaju sekencang itu tanpa henti setiap hari. 

Marty adalah atlet tenis meja profesional sekaligus wakil Amerika Serikat di kejuaraan dunia tahun 1952 yang digelar di London. Marty berambisi memenangkan turnamen tersebut. Dia YAKIN akan memenangkannya. Sampai laga final mempertemukannya dengan wakil Jepang, Koto Endo (Koto Kawaguchi), yang mempersenjatai diri dengan raket karet yang meredam suara. Marty takluk. Jatuhlah ia dari puncak dunia menuju dasar jurang berlumpur. 

Eksekusi pertandingan tenis mejanya mengagumkan. Kesan autentik bak tengah menyaksikan turnamen profesional sungguhan berhasil Josh Safdie bangun, tatkala para pelakon memamerkan kecakapan bermain masing-masing. Koto Kawaguchi merupakan atlet, sedangkan latihan intens Timothée Chalamet terbukti membuahkan hasil. Kendati menerima bantuan efek komputer (beberapa adegan diambil tanpa bola, yang baru ditambahkan secara digital di fase pasca produksi), bila tak dibarengi gerak tubuh meyakinkan sang aktor, kecanggihan teknologi seperti apa pun akan sia-sia. 

Singkat cerita, Marty berupaya menata ulang kejayaannya, sehingga ia memerlukan sejumlah uang, baik untuk melunasi setumpuk utang maupun membayar biaya pendaftaran turnamen. Belum lagi rentetan masalah pribadi lain, seperti perselingkuhannya dengan Rachel (Odessa A'zion), teman masa kecil Marty yang telah bersuami. 

Seperti karya-karya Safdie lain, konfliknya dipaparkan dalam intensitas tinggi yang memupuk kecemasan lewat penyuntingan secepat kilat, close-up ekstrim, hingga tempo bicara para aktor yang bak berondongan peluru dari senapan mesin. 

Kekhasan sang sutradara pun nampak dari betapa liar guliran alurnya. Bermula dari problematika sederhana seperti mencari dana untuk berlaga di ajang tenis meja, Marty kemudian mesti berurusan dengan polisi, mafia keji, juga Kay Stone (Gwyneth Paltrow), aktris film senior yang sedang berusaha membangun ulang karirnya di dunia panggung. Keliaran dan keanehannya terus bertambah seiring waktu, sampai ketika salah satu karakter "mengakui" identitasnya sebagai vampir yang hidup dari tahun 1616, saya menganggapnya selaku posibilitas. 

"Memang bukan takdirnya" merupakan kalimat yang paling pas dipakai menggambarkan perjalanan Marty. Menyaksikan usaha demi usaha Marty senantiasa membentur tembok kegagalan yang acap kali terasa absurd memang awalnya menyenangkan, tapi karena dilangsungkan selama dua setengah jam, filmnya pun sempat mencapai titik jenuh akibat kesan repetitif. Ketidakterdugaan dari rangkaian skenario liarnya jadi mudah diduga. 

Di sinilah kehebatan performa Timothée Chalamet berperan sebagai penyelamat. Energinya luar biasa. Chalamet membuat Marty bak personifikasi dari kekalutan. Ekspresinya seusai memenangkan pertandingan di paruh akhir bukan semata luapan kegembiraan seorang atlet, tapi kulminasi dari segala emosi yang menyambangi hatinya sedari awal kisah. Berkat kelihaian sang aktor mengolah rasa, konklusinya yang bermaksud mendekonstruksi makna "juara", berhasil menghasilkan dampak emosi secara maksimal.