REVIEW - GAK ADA MATINYA
Menyebut Gak Ada Matinya sebagai "Agak Laen-nya 2026" mungkin adalah penarikan kesimpulan yang terkesan malas namun tidak hiperbolis. Selain keterlibatan beberapa nama serupa (Muhadkly Acho selaku sutradara dwilogi Agak Laen merupakan produser film ini), keduanya sama-sama komedi situasi absurd hasil dari skenario kelam yang dibenturkan dengan elemen drama keluarga.
Film arahan Etienne Caesar (Pesugihan Sate Gagak, Tiba-Tiba Setan) ini berangkat dari premis yang mengingatkan pada naskah lakon Gerr karya Putu Wijaya, yakni soal upaya tokoh-tokohnya menjaga tatanan kematian yang sudah disepakati, agar tak mengganggu kepentingan finansial mereka.
Tokoh utamanya bernama Binsar (Oki Rengga) yang kerap bersilang pendapat dengan sang istri, Lisa (Ghita Bhebhita), seputar hubungannya dengan si ayah, Luhut (Mathias Muchus). Binsar menolak mengakrabi Luhut yang membuka usaha jahit di rumahnya.
Keluarga ini menjadi disfungsional bukan semata karena sebagai anak laki-laki, Binsar merasa canggung di hadapan Luhut. Ada alasan yang lebih kompleks, yakni amarah si anak terkait keputusan si ayah melakukan poligami. Kompleksitas ini menarik, sebab naskah buatan Ridho Brado tentu tak semudah itu dapat membuat tokoh-tokohnya saling berpelukan dan memaafkan di penghujung cerita demi melahirkan konklusi menyentuh kegemaran pasar.
Lalu kerumitan itu datang. Luhut meninggal akibat serangan strok, yang bakal sepenuhnya mendatangkan duka, andai tiada asuransi jiwa senilai 2 miliar yang akan diwariskan kepada Binsar, yang kebetulan sedang terlilit masalah ekonomi. Silang sengkarut bertambah pelik kala Luhut hidup kembali, memaksa Binsar menyembunyikan keajaiban tersebut dari semua orang, termasuk Viona (Mikha Tambayong), putri istri kedua Luhut yang tiba-tiba datang.
Proses Gak Ada Matinya menyeimbangkan drama dengan komedi situasi perihal hidup kembalinya Luhut belum sepenuhnya melaju lancar, terutama bagaimana segitiga Luhut-Binsar-Viona mengalami evolusi dinamika dari saling jengkel menjadi rukun, yang oleh naskahnya digerakkan secara buru-buru. Transisinya luput diberi gradasi. Lalai pula naskahnya menyediakan ruang katarsis memadai bagi putra-putri Luhut supaya penonton lebih memahami keruwetan hati mereka, yang berujung pada minimnya dampak emosional di momen-momen besar.
Setidaknya film ini enggan menjustifikasi poligami hanya demi menggiring drama keluarganya bermuara ke arah yang lebih populer. "Bapak pikir bisa berlaku adil", ucap Luhut menyesali kegagalannya, sementara kata maaf tak pernah terucap dari mulut anak-anaknya. Binsar dan Viona tidak tertarik memberi maaf apalagi melupakan dosa sang ayah. Mereka hanya ingin memadamkan api kebencian di hati masing-masing, sebab eksistensinya menghalangi kebahagiaan.
Butuh waktu cukup lama sampai Gak Ada Matinya mengeksplorasi premis uniknya, tapi begitu dimulai, ledakan-ledakan tawa tak lagi terbendung. Para pelakonnya berjasa besar. Oki Rengga, Ghita Bhebhita, bahkan Mathias Muchus di adegan gila berlatar nobar pertandingan PSMS, semua memamerkan kebolehan menangani humor.
Jajaran individu di sekeliling Binsar, pun tidak kalah memancing tawa, dari Robert (Lolox) si sopir mobil jenazah, hingga karyawan usaha jahit Luhut: Feri (Arief Didu), Murni (Aci Resti), Tomi (Ilham Akbar), dan Bahlil (Benidictus Siregar) yang jadi sasaran hinaan-hinaan oleh karakter. Tapi sedikit berbeda dengan nasib serupa yang kerap dialami karakter peranan Beni, ada kepuasan lebih menyaksikan Bahlil diposisikan sebagai samsak.
Selain lihai membawa bangkitnya Luhut ke arah rangkaian situasi absurd, menggelitik, sekaligus kreatif, naskahnya cukup cerdik membuat tiap "lelucon besar" saling terhubung untuk menciptakan reaksi berantai alih-alih sekadar kelucuan tanpa tujuan. Keinginan puta Binsar, Riko (Jared Ali), untuk mengikuti les panah misalnya. Hal remeh tersebut nantinya menghasilkan efek domino berupa serentatan kekacauan jenaka lain.
Humor verbal khas "film komika" di mana sebuah kelakar sepele berujung pada perbincangan panjang yang makin lama makin konyol pun sesekali masih jadi andalan, kendati tidak selalu mendatangkan tingkatan tawa yang sama.
Tapi komedi terbesar film ini tentu berasal dari kedatangan maskot skena poligami, yakni Fedi Nuril sebagai Fahri yang bertugas menginvestigasi kesahihan klaim asuransi Binsar. Dari situlah Gak Ada Matinya menawarkan spesies komedi yang masih begitu jarang dijamah sineas tanah air: Komedi beraroma meta yang memanfaatkan kekayaan intelektual sebagai pondasinya. Melalui presentasi itulah filmnya membuktikan bahwa "memenuhi keinginan penonton" tidak harus bersinonim dengan kemiskinan kreativitas.
REVIEW - HENRY'S FIRST DATES
Henry's First Dates berlatar di dunia sarat kebajikan penuh manusia berhati mulia, sehingga saat si tokoh utama mengalami nasib nahas pun hidupnya tak pernah kekurangan cinta. Sebagai remake dari 50 First Dates (2004), film ini mengembalikan kenaifan 2000-an guna menyusun ruang eskapisme dari kelamnya realita masa sekarang.
Anterograde amnesia masih jadi sorotan, tapi sebagaimana judulnya perlihatkan, Henry's First Dates menukar peran gender dua protagonisnya. Henry (Nadech Kugimiya) merupakan si pemilik amnesia, sedangkan Lucy (Nicha Yontararak aka Minnie) jadi pihak yang memberi serangkaian kencan pertama secara berulang. Pakem konservatif soal "laki-laki pelindung perempuan" pun dilucuti.
Pasca kecelakaan, otak Henry tak mampu merekam memori baru sehingga ia bakal mengulang hari yang sama selepas bangun dari tidur. Supaya menjaga perasaan Henry yang selalu terpukul tiap fakta itu diutarakan di hadapannya, ayah (Kiat Kitjaroen) dan adik Henry, Kanoon (Artit Somnoi), senantiasa melakukan reka ulang untuk hari kecelakaan yang kebetulan bertepatan dengan ulang tahun sang ayah.
Humor konyol nan absurd khas sinema Thailand dijadikan pondasi. Tengok saja keisengan yang melandasi kejutan ulang tahun si ayah, di mana setiap hari Kanoon mesti mengenakan kostum ular sembari berlagak bak hewan melata tersebut. Lucu, bodoh, tapi dari situlah kehangatan keluarga Henry berhasil dipotret oleh Mez Tharatorn selaku sutradara. Henry's First Dates menggunakan tawa untuk menata dinamika antara manusia yang berusaha saling berbagi rasa bahagia.
Romansanya bermula kala perhatian Henry tertuju ke Lucy, yang telah berkeliling ke banyak negara guna mencari rute penerbangan balon udara. Menjadi objek asmara laki-laki setempat sudah jadi rutinitas yang Lucy alami di masing-masing destinasi, tapi toh di matanya semua cuma asmara kilat. Tapi Henry yang tidak mampu mengingatnya begitu hari berganti justru meninggalkan kesan berbeda, ibarat rumah bertambat yang telah lama Lucy nantikan.
Cinta mereka pun terbit. Perempuan yang mudah melupakan dan laki-laki yang tidak mampu mengingat. Perempuan yang mencari pijakan untuk mendarat dan laki-laki yang baru berusaha terbang. Terdengar romantis di atas kertas, apalagi terkait kesanggupan Lucy menyiapkan rangkaian skenario kencan, yang karena amnesia milik Henry selalu terasa bagai kencan pertama di setiap harinya.
Sayang, naskah Henry's First Dates terlampau bergantung pada keunggulan dua pelakonnya dalam menyusun chemistry khas pasangan romcom yang menuntut keduanya menyeimbangkan kemesraan dan kejenakaan, ketimbang menginjeksi alurnya dengan skenario kencan sarat kreativitas serta romantisme.
Seluruhnya berlangsung generik. Lucy mencegat Henry di jalan, mengajaknya meneliti rute penerbangan balon udara, sejenak berjalan-jalan, itu saja. Keputusan mengubah nyanyian sederhana selaku metode komunikasi dua tokoh utama di 50 First Dates menjadi nomor musikal konyol memang mendukung tersampaikannya elemen komedi, tapi juga melucuti sisi manis dari kencan protagonisnya. Paling tidak Nadech Kugimiya dan Minnie masih sanggup menjaga senyum penonton sewaktu menyaksikan mereka berbagi rasa.
Tapi seiring kencan dilaksanakan, tanda tanya terkait kondisi medis Henry mulai timbul. Apabila ia melewati hari demi hari tanpa tidur apakah memorinya tetap terhapus? Di beberapa kesempatan, Henry pingsan akibat takut ketinggian (alias kesadarannya hilang serupa saat tertidur) tapi mengapa ingatannya tidak hilang selepas bangun? Sekali lagi, Henry's First Dates memang mengembalikan kenaifan sinema 2000-an, di mana logika acap kali dikesampingkan atas nama hiburan ringan nan hangat.
REVIEW - CLAYFACE
Kentara betul bahwa draf awal Clayface dirancang oleh Mike Flanagan dengan segala padu padan genre khasnya, sebelum Hossein Amini, berbekal kapasitas penulisan yang kalah paten, ditunjuk untuk mengambil alih. Jadilah hibrida horor-drama-superhero yang enggan mengenakan topeng kekonyolan, namun terlalu dangkal guna melahirkan tuturan bermakna.
Tom Hagen (Tom Rhys Harries) adalah aktor muda yang sedang naik daun kala memperoleh nominasi Oscar. Kemonceran karir Hagen bak cerita dongeng, mengingat dirinya berasal dari lingkungan miskin. Kini lampu sorot Hollywood diarahkan padanya. Seluruh kalangan berebut duduk di sampingnya.
Sewaktu nominasi diumumkan di sela-sela syuting, tangisnya pecah. Penampilan Harries, lewat sorot mata sarat kebaikan serta mimpi besar, mendorong kita menaruh simpati. Hagen dibuatnya jadi figur tragis yang mudah dikasihani, tatkala satu keputusan buruk Hagen di satu malam, memancing amarah bos mafia bernama Markos Szabo (David Dencik).
Clayface mengambil latar Gotham, kota di mana degradasi moral mendominasi, sementara dedengkot kriminal menancapkan kuasa mereka. Kekhasan karakterisasi Gotham membuat kita bisa gampang percaya jika Szabo bisa sedemikian mudah merenggut semua hal dalam hidup Hagen, dari karir sampai wajah tampannya yang kini remuk akibat luka sayatan pisau.
Hollywood meninggalkannya, tapi Hagen menemukan Dr. Caitlyn Corr (Naomi Ackie), yang melalui metode eksperimentalnya, bersedia mengobati kerusakan wajah si protagonis. Tapi kita tahu, alih-alih kembali seperti sedia kala, pengobatan tersebut justru menjerumuskan fisik serta psikis Hagen, mengubahnya jadi monster dengan kemampuan alih wujud yang kelak menyandang julukan "Clayface".
Selaku upaya menyuntikkan kesegaran di skena film superhero melalui sentuhan horor, Clayface menghunuskan segala siksaan ke wajah Hagen, yang berulang kali tercabik-cabik, baik oleh mafia, dokter, maupun di tangan Hagen sendiri. Menyakitkan? Ya, untuk ukuran film superhero arus utama, namun jangan mengharapkan body horror kelas satu.
Frekuensi pemandangan brutal perlahan meninggi seiring bangkitnya ambisi Hagen membalas dendam pasca menyadari kekuatannya, tapi sayangnya taburan bumbu horor Clayface terlampau tipis. Sebarannya cenderung jarang, pun beberapa aksi sadis Hagen masih dipresentasikan secara malu-malu oleh sang sutradara, James Watkins, yang bak meragu untuk sepenuhnya menjejakkan kaki ke semesta body horror.
Elemen drama Clayface berpusat pada bagaimana si aktor mengalami krisis identitas akibat kekuatan alih rupa barunya, sementara hati Hagen mulai tertambat pada Caitlyn, satu-satunya individu yang tulus menaruh kepedulian. Di situlah cetak biru khas Flanagan menampakkan jejak, namun minus penelusuran mendalam perihal humanisme, penuh dialog cantik khas sang sineas.
Selaku penerus tongkat estafet, Hossein Amini belum cukup lihai menginjeksi unsur drama ke dalam DNA horor. Eksplorasi tentang krisis identitasnya tersaji dangkal, dinamika romantika Hagen dan Caitlyn pun disusun oleh baris kalimat murahan, yang membuat naskahnya terkesan salah mengartikan "kekosongan" sebagai "sensitivitas".
Sederhananya, Clayface tampil membosankan. Daya tarik sempat menyeruak sewaktu Hagen mulai menjelajahi detail kekuatannya, termasuk di momen pembunuhan brutal yang melibatkan tulang belakang. Tapi bak pisau bermata dua, seiring Hagen melancarkan balas dendamnya, Clayface juga ikut mengalami krisis identitas.
Sekuen pembantaian berlatar kelab malam memang menyajikan tontonan menghibur, namun kekonyolan menyenangkan yang dihadirkannya justru menciptakan bentrokan dengan nuansa serius nan kelam yang dibangun sejak awal. Serupa Tom Hagen, filmnya mengalami kerancuan identitas.
Ditambah babak ketiganya yang berlangsung antiklimaks, lengkap dengan transformasi sang protagonis dari antihero menuju villain murni yang serba buru-buru sekaligus dipaksakan, Clayface pun resmi jadi satu lagi judul yang tidak mampu menjustifikasi eksistensi waralaba DC Universe.
REVIEW - TENTANG SUATU TEMPAT DI WILAYAH KINKI
Novel Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki buatan Sesuji adalah mahakarya horor. Mencekam, sarat kejutan, pula menawarkan dekonstruksi cerdik perihal tersusunnya cerita rakyat. Adaptasi filmnya, kendati jadi satu lagi persembahan solid dari Koji Shiraishi sang dedengkot J-horror, memilih menyederhanakan narasi demi mengakomodasi penceritaan yang lebih ringkas.
Mengikuti jejak bukunya yang dipaparkan bak catatan jurnalistik sungguhan, filmnya menerapkan hibrida antara format konvensional dan found footage yang sudah Shiraishi kuasai betul kala menelurkan Noroi (2005).
Alkisah, Yusei Ozawa (Eiji Akaso) harus menyelesaikan artikel utama dalam waktu singkat di majalah mistis tempatnya bekerja, menggantikan seniornya yang hilang di tengah pengerjaan. Dibantu penulis lepas bernama Chihiro Seno (Miho Kanno), hasil riset dari si senior pun kembali ditelisik, yang mengungkap misteri perihal suatu tempat di wilayah Kinki.
Hasil risetnya mencakup kumpulan video berisi berita lama serta rekaman peristiwa-peristiwa yang seluruhnya menyimpan kejanggalan, dengan wilayah Kinki dan kemunculan gambar bak azimat selaku benang merah. Shiraishi menangani visualisasi tiap video dengan baik. Hantu dibiarkan bergentayangan di latar ketimbang dipaksa meneriakkan eksistensinya guna menguarkan aroma kengerian sembari menjaga realisme. Sedikit disayangkan, pemakaian CGI berkualitas seadanya kerap melucuti "keaslian" yang jadi esensi found footage.
Tapi kekuatan utama Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki terletak pada kemampuan alurnya mengikat atensi penonton. Naskah buatan Koji Shiraishi dan Tetsuya Oishi sanggup mereplikasi ciri narasi Sesuji, di mana tanda tanya serta petunjuk disebar secara acak, sehingga memunculkan kepuasan bagi penonton kala berhasil menghubungkan titik-titik misterinya.
Bentuk video yang ditelusuri pun beragam, dari berita di televisi, rekaman ponsel, siaran langsung kanal YouTube, animasi bergaya lama mengenai "Mashira-sama" yang jadi salah satu figur sentral, dan masih banyak lagi. Biarpun pola "protagonis mengecek video" terus diulang, berkat variasi tontonan yang ditawarkan, kesan repetitif bisa dihindari.
Tapi para "penumpang lama" yang telah melakoni perjalanan menuju Kinki melalui novelnya mungkin bakal meminta lebih. Alasannya, Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki versi film mengubah dekonstruksi cerita rakyat dari Sesuji menjadi penelusuran yang lebih konvensional.
Atas nama menyederhanakan dan mempersingkat (saya rasa format serial akan lebih mendukung tersampaikannya gagasan Sesuji), eksplorasi soal bagaimana cerita mulut ke mulut yang dibagikan secara turun-temurun melahirkan kepercayaan yang dipegang oleh masyarakat.
Terutama sejak kunjungan dua protagonisnya ke rumah seorang rekan yang menandai awal dihapuskannya "kesetiaan mengadaptasi" dari prioritas naskah, banyak mata rantai antar kisash yang terputus, sehingga melucuti identitas unik milik ragam entitas mistis, sebutlah Mashira-sama atau hantu perempuan bergaun merah. Mereka berujung cuma menjadi makhluk mistis biasa, dalam sebuah horor adaptasi novel yang berpotensi memproduksi presentasi luar biasa.
REVIEW - NAZA
Orkestra kesunyian dimainkan di tengah kedamaian malam sebuah kota. Terlihat dari balik jendela, para manusia luruh dalam peristirahatan, entah menonton televisi atau sekadar melepas lelah bersama pasangan. Kemudian cahaya rudal nampak membelah langit, yang hanya memancing respon minimum dari mereka. Hidup berjalan seperti biasa di Tel Aviv, di mana manusia memupuk rasa damai berbekal pengabaian atas genosida di Gaza yang cuma berjarak 70 km.
Tanpa disadari siapa pun, terjalin obrolan diam-diam antara Yuval Abraham, yang menyutradarai film ini bersama Rachel Szor (keduanya turut membidani No Other Land bersama Basel Adra dan Hamdan Ballal), dan 24 anggota IDF dari badan intelijen. Di situlah barisan kontributor genosida mengakhiri kebisuan mereka lewat pembicaraan lirih yang takkan memecah hening kota.
Penjelasan soal istilah yang dipakai sebagai judul, yaitu NAZA, jadi pembuka dialektika. Kata tersebut merupakan akronim IDF untuk "Nezek Agavi" alias "collateral damage". "We say 15 NAZA. We don't say 15 people killed and certainly not that 15 children and women will be killed." ucap seorang narasumber. Di depan kebiadaban zionis, nyawa rakyat Palestina ibarat sampah yang bisa dibuang begitu saja.
Lalu dijabarkanlah detail metode yang badan intelijen IDF pakai. Mikrofon dan kamera ponsel seluruh rakyat Palestina diretas, terutama milik anggota keluarga dari individu yang ditengarai merupakan anggota Hamas. Jika target diyakini telah berada di rumah, serangan bom pun segera dilancarkan. Bayi-bayi turut jadi korban? Bukan masalah. Mereka adalah "NAZA".
Berapa pun "NAZA" yang tewas bukan masalah selama target berhasil dilenyapkan. Di suatu kasus, lesatan bom IDF menewaskan lebih dari 500 rakyat sipil hanya untuk membunuh satu anggota Hamas. Angka tersebut setara dengan populasi sebuah kota kecil di Israel.
Sistem bernama "Lavender" diciptakan guna mengidentifikasi kemungkinan seseorang merupakan agen Hamas. Konon sistem itu punya tingkat akurasi 85%. Bagaimana IDF menyikapi 15% dari ketidakakuratan sistemnya? "Lavender" pernah keliru menandai nenek berusia 80 tahun, dan IDF tetap melepaskan bom yang membunuh ia beserta semua keluarganya.
Kita tahu bahwa di belahan dunia mana pun, pemerintah memata-matai gerak-gerik warga negaranya, termasuk dengan meretas akses data pribadi. Bukan modus operandi IDF yang terasa mencengangkan di film ini, melainkan bagaimana data tersebut diolah dan dipakai untuk apa. AI dengan segala celanya digunakan sebagai basis pengambilan keputusan yang menyangkut hilangnya hidup manusia. Cuma entitas dengan kekejian melampaui setan yang mampu melakukannya.
Setelah No Other Land membuka mata atas kebrutalan zionis dengan mengajak terjun langsung ke pusat genosida, NAZA adalah progresi natural darinya. Sekarang waktunya mengenal musuh kita lebih jauh. Jika No Other Land ibarat tusukan agresif ke dada penonton, maka NAZA membuka ruang bagi perenungan, yang pada akhirnya juga menusuk hati kita secara perlahan pula dalam diam.
Terkadang obrolannya mengambil rehat sejenak, kemudian kamera kembali menyoroti lingkungan sekitar. Misal sebuah berita televisi berupa pidato Netanyahu yang menyebut tindakan Hamas sebagai bentuk kekejian, sedangkan Israel hanya berupaya melindungi rakyatnya. Bahkan ketika narasumber sedang berhenti menyampaikan kisahnya, NAZA tetap bercerita, tanpa putus menelanjangi tipu daya pelaku genosida.
Selain sayup-sayup ambiens yang menguatkan atmosfer menyesakkan, filmnya nihil musik. Kedua sutradara enggan mendramatisasi secara berlebihan, seolah menampik modus operandi ala zionis yang sarat akan kebohongan. Emosi penonton tidak perlu terlalu jauh dimanipulasi, sebab tiap sisi penuturan narasumbernya sudah cukup mengaduk-aduk perasaan.
Tidak jarang narasumbernya berusaha berkelit dari kontribusi dalam genosida. "Kami hanya menjalankan misi" merupakan kalimat yang jadi primadona. "Saya tidak membunuh secara langsung di lapangan karena cuma mengembangkan sistem" juga kerap dipakai sebagai sanggahan.
Tapi Yuval selaku pewawancara enggan memaklumi. Setiap justifikasi senantiasa dibalas dengan pertanyaan susulan, yang secara berani mengonfrontasi upaya narasumbernya untuk berkilah. NAZA tidak berniat mengundang simpati lalu memberi tepukan di pundak para pelaku genosida hanya karena mereka bersedia bicara karena ingin menghapus dosa. Sebab toh seusai wawancara, mayoritas dari mereka tetap bisa berbaring di bawah naungan rumah mewah yang dibayar memakai darah rakyat Palestina yang tumpah.
REVIEW - WHALEFALL
Mungkin benar bahwa hidup bergerak secara misterius. Kita pun dapat menemukan pelajaran tentangnya dalam tempat dan rupa yang acap kali tak terduga.....termasuk film mengenai seorang laki-laki yang tertelan oleh paus sperma, sembari berjibaku melawan cumi-cumi raksasa dalam perut predator bergigi terbesar di dunia tersebut.
Jay (Austin Abrams) baru kehilangan ayahnya, Mitt (Josh Brolin), yang mati menceburkan diri ke laut guna lepas dari penyakit kronis yang menggerogotinya. Mitt adalah penyelam handal yang di kalangan warga lokal dipandang bak legenda. Tapi di mata Jay, ia hanyalah sosok ayah yang ogah memandang sesuatu dari sudut pandang putranya. Sudah lama hubungan keduanya merenggang.
Tapi Jay, yang seumur hidupnya selalu merasa dikerdilkan, bertekad menyelesaikan sebuah misi nekat, yakni menemukan jenazah sang ayah di dasar laut sebagai pembuktian akan kapasitasnya. Perairan gelap pun ia selami, sampai terdengar gemuruh pemecah keheningan kala seekor paus sperma muncul di hadapannya.
Whalefall mengubah kata-kata dalam novel berjudul sama karya Daniel Kraus yang diadaptasinya menjadi presentasi audiovisual dengan apik, berbekal gelegar tata suara mencekam serta penerapan CGI tepat guna (khususnya tiap wide shot dipakai memotret tubuh masif para makhluk laut) yang sama-sama melukiskan betapa kecil nan ringkihnya manusia di depan kedigdayaan lautan.
Paus itu tidak hanya menelan Jay, tapi juga seekor cumi-cumi raksasa yang turut berkontribusi mengancam nyawa protagonis kita. Nantinya, Jay terbangun di bilik lambung pertama yang berfungsi melumat makanan si paus.
Brian Duffield selaku sutradara secara jeli mencuatkan nuansa klaustrofobik kala menampilkan pergulatan Jay, yang bak tengah menjelajahi gua dengan tingkat kesempitan ekstrim. Tapi alih-alih bebatuan, dia dihimpit oleh dinding-dinding lambung dalam wujud abstrak yang makin menebalkan rasa sesak.
Naskah buatan Duffield dan Kraus juga menyediakan rangkaian skenario yang sanggup melibatkan penonton dalam usaha Jay bertahan hidup. Whalefall selalu punya ide menarik sehingga presentasinya tampil padat dan menjauhi kesan repetitif. Jay bakal terjebak di bilik lambung kedua yang lebih mematikan, bertarung melawan cumi-cumi raksasa, lalu melakukan penelusuran ditemani nyala tubuh seekor ubur-ubur yang juga diajaknya bicara bak teman senasib.
Semakin jauh permasalahan bergulir, semakin royal pula film ini membagikan situasi gila serba hiperbolis (money shot sewaktu Jay berteriak dari mulut paus adalah salah satunya). Silakan nantikan momen tatkala Whalefall mengungkap bahaya paling mematikan yang menanti di laut dalam.
Menariknya, di balik spektakel liar ala b-movie milik film ini, bersemayam pula tuturan yang amat humanis. Dimotori kepiawaian Austin Abrams mencurahkan kecemasan, frustrasi, dan kepiluan hati yang menolak sembuh, pergumulan Jay dalam perut paus mewakili kesukarannya lepas dari himpitan luka masa lalu, terkait hubungan disfungsional dengan ayahnya.
Jay jengah dengan omelan keras tanpa henti sang ayah yang tidak jarang mendekati pelecehan verbal, namun berkat petuah demi petuah dari Mitt yang tertanam di otaknya, ia mampu mengatasi rintangan-rintangan dalam perut paus. Bukan berarti Whalefall sedang menjustifikasi, apalagi meromantisasi pola asuh buruk untuk menyusun cerita dangkal mengenai proses memaafkan. Berbekal sensitivitas tinggi, naskahnya mengolah sesuatu yang lebih kompleks.
Seiring bertambah parahnya kondisi fisik dan psikis Jay, ia mulai terlibat obrolan imajiner dengan Mitt, yang membantunya memungkasi segala kekalutan. Bukan berarti perspektif tentang sang ayah bergeser. Jay hanya berusaha mengintip lewat sudut pandang yang menyediakan kedamaian bagi dirinya. Whalefall bukan soal ayah yang disalahartikan, melainkan anak yang ingin berbahagia.

%20(1).png)

%20(1).png)



%20(1).png)



%20(1).png)