MEET ME AFTER SUNSET (2018)


Meet Me After Sunset adalah film romansa, sehingga saat tokoh utama laki-laki melihat perempuan misterius berjalan sendiri di tengah malam, membwa lentera sambil bersenandung untuk kemudian tiba-tiba hilang di balik kabut, bukan jadi hal menyeramkan. Si laki-laki justru makin tertarik dengan si perempuan. Di film horor, peristiwa itu bakal disebut penampakan. Sementara di kehidupan nyata, saya akan menutup jendela rapat-rapat, berbaring sambil mendengarkan lagu riang. Namun dengan begitu takkan ada drama, takkan ada film.

Si laki-laki bernama Vino (Maxime Bouttier), remaja tampan asal Jakarta yang terpaksa menuruti keinginan orang tuanya pindah ke Ciwidey, Bandung. Walau digilai seisi sekolah, Vino terlanjur kepincut pada perempuan bertudung merah tadi. Gadis (Agatha Chelsea) namanya. Orang-orang memandangnya aneh karena jangankan bersekolah, keluar rumah pun hanya di malam hari, menuju bukit, menari di tengah kunang-kunang. Gadis hanya memiliki seorang sahabat, yakni Bagas (Billy Davidson), yang tahu segala rahasianya.
Usaha Vino merebut hati Gadis dengan cara mewujudkan mimpi-mimpinya pun dimulai. Apabila Vino bagai pangeran dari negeri dongeng, wajar. Sebab Meet Me After Sunset memang ingin terasa dan terlihat seperti dongeng. Negeri dongeng di mana rumah kampung bertembok anyaman bambu memiliki perabot unik berwarna-warni ketimbang nuansa cokelat dari kayu yang telah usang. Di luar, rembulan selalu benderang di malam hari, sedangkan kala sore, langit selalu memamerkan warna khas magic hour tanpa pernah dirundung mendung.

Plotnya bergerak semata demi memfasilitasi sinematografi arahan Gunung Nusa Pelita memamerkan gambar-gambar yang meski acap kali artificial, tampak cantik. Meet Me After Sunset memang enak dilihat berkat komponen visual unik. Tidak hanya sinematografi, pilihan kostum termasuk pemakaian baju astronot saat Vino dan Gadis berkencan meletakkan garis pembeda dibanding romansa remaja di kebanyakan film kita. Aspek ini cukup membantu selaku penawar bagi alur lemah penuh peristiwa yang dipaksakan.
Mengapa Gadis tidak bisa ke Bandung? Bukankah Bagas atau ayahnya (Iszur Muchtar) bisa mengantar? Bagaimana mungkin sang ayah tidak tahu anaknya tidak suka badut atau cokelat? Daftar pertanyaan seputar kejanggalannya bisa diteruskan tetapi akan terlalu panjang. Sisi positifnya, skenario ciptaan Haqi Achmad dan Fatmaningsih Bustamar mampu menggambarkan dilema Gadis yang terjebak cinta segitiga dengan baik. Alasan kebingungannya jelas, biarpun pembagian waktu—kapan penonton mesti mendukung Vino sang protagonis, kapan mesti ikut merasa dilematis—tersaji kusut. Resolusi masalah tersebut kurang berdasar, tapi bukankah cinta tak perlu alasan logis?

Filmnya ditutup oleh twist yang—berbeda dengan paparan konfliknya—tidak datang mendadak. Beberapa benih ditebar sepanjang durasi sehingga penonton yang jeli dapat mengira-ira apa yang bakal terjadi. Sementara iringan lagu Dulu Kini Nanti milik Citra Scholastika tak pernah gagal menyuntikkan rasa manis sekaligus haru pada sebuah adegan film (sebelumnya dipakai oleh Mars Met Venus). Agatha Chelsea cocok mewakili nuansa manis tersebut, sedangkan Maxime Bouttier untuk ke depannya perlu lebih berhati-hati memilah, mana bad boy unik pula asyik, mana yang sebatas tengil dan menyebalkan. Jefri Nichol selalu siap mengajari.

YOWIS BEN (2018)


Saya—dan mungkin banyak dari kalian—pernah merasa jadi manusia paling kreatif ketika mencetuskan nama-nama nyeleneh seperti “Tambal Band”, “Elek Yo Band”, “KepriBand”, dan sebagainya untuk nama band, tanpa menyadari ribuan orang lain di seluruh penjuru Indonesia menyimpan ide serupa. Dalam prosesnya, dengan tujuan utama: a) Mengejar mimpi bermusik, dan b) Memikat hati wanita, studio-studio pun dijajah, panggung demi panggung dijamah. Sampai tujuan kedua terpenuhi dan salah seorang anggota membawa pacar barunya ke latihan selaku ajang pamer, di situ awal perpecahan bermula.

Yowis Ben, yang merupakan debut penyutradaraan Bayu Skak di mana ia berduet dengan Fajar Nugros (Cinta Selamanya, Moammar Emka’s Jakarta Undercover), berpotensi jadi gambaran akurat nan menggelitik soal lika-liku perjalanan band anak SMA kalau bukan karena fokus cerita yang melucuti spesifikasi tersebut. Naskah buatan Bagus Bramanti dan Gea Rexy memilih jalur formulaik from zero to hero. Yowis Ben lebih menyoroti berbagai implikasi dari terciptanya band ketimbang seluk-beluk internal band tersebut, yang mana lebih menarik, unik, dan menggelitik.
Bayu (Bayu Skak) yang dijuluki “Pecel Boy” karena tiap hari membantu ibunya berjualan pecel di sekolah jengah dianggap remeh serta ingin memikat hati Susan (Cut Meyriska). Doni (Joshua Suherman) tidak jauh berbeda, coba membuktikan pada orang tuanya bahwa dia mampu meraih kesuksesan. Akhirnya tercetus ide membuat band guna memenuhi mimpi keduanya. Yayan (Tutus Thomson) si penabuh beduk dan Nando (Brandon Salim) sang keyboardist yang berharap dikenal lewat karya daripada wajah ganteng belaka pun direkrut. Terciptalah Yowis Ben.

Panggung pertama Yowis Ben berujung kegagalan tatkala banyak film memilih langsung menonjolkan para tokoh utama sebagai rising star yang talentanya langsung mencuri perhatian publik di percobaan perdana. Pilihan realistis yang sayangnya ditinggalkan pada fase-fase berikutnya. Yowis Ben tiba-tiba sukses lewat YouTube berkat video klip ratusan ribu penonton yang menampilkan Yowis Ben bernyanyi di hadapan puluhan orang. Bagaimana band SMA melarat mampu merekrut talenta sebanyak itu? Bagaimana lagu-lagunya tercipta? Bagaimana latihan di studio yang tentunya penuh intrik sekaligus kejenakaan berlangsung? Film ini tak mempedulikan proses-proses itu, sehingga sulit pula mempedulikan perjuangan serta merayakan kesuskesan karakternya.
Hambar pula romantika Bayu dan Susan, meski pembawaan membumi, seringai naif, ditambah bakat alam Bayu Skak melucu, memudahkan kita tersenyum. Berstatus penulis cerita, entah seberapa banyak masukan yang Bayu berikan terkait penulisan naskah khususnya bumbu komedi, tapi memang humornya paling efektif tatkala Bahasa Jawa memainkan peranan besar khususnya sewaktu umpatan-umpatan dan selorohan menyeruak masuk. Ganti dengan Bahasa Indonesia, kelucuannya dipastikan menurun drastis. Unsur Jawa akhirnya lebih berperan menguatkan komedi ketimbang alur yang minim kekhasan dan bisa dipindah ke balahan dunia manapun tanpa menimbulkan perbedaan signifikan.

Yowis Ben menyasar banyak hal, mulai pembuktian orang-orang yang dipandang sebelah mata—termasuk Bahasa Jawa yang disebut kampungan oleh netizen—percintaan, persahabatan, hubungan anak dan orang tua, hingga band SMA, tanpa ada yang benar-benar tampil solid. Setidaknya keempat tokoh utamanya amat menghibur berkat ciri masing-masing, terlebih Yayan dengan kebiasaannya meminum kuah pop mie memakai sedotan. Ya, menghibur. Jangan berharap lebih dari itu bagi sebuah film tentang band beraliran musik pop-punk “towat-towet” yang gemar melafalkan “t” sebagai “c”.

MONSTER HUNT 2 (2018)


Suatu ketika pacar saya pernah berkata bahwa ibunya suka menonton film di bioskop, tapi hanya sebagai media hiburan. “Yang penting gambarnya enak dilihat”, sebutnya. Saya percaya itu bukan cuma mewakili penonton dari kalangan ibu-ibu, tapi secara umum. Beramai-ramai, entah bersama kawan atau keluarga, mereka datang mencari eskapisme. Kebanyakan enggan melihat pemandangan sehari-hari di layar. Mereka ingin dihibur, tertawa, terpana, dan kalau bisa, sedikit disentuh perasaannya. Blockbuster Cina belakangan makin ahli melakukan itu sehingga menghasilkan iklim industri yang makin positif.

Monster Hunt 2, selaku sekuel film terlaris keempat sepanjang masa di Cina, sanggup melakukannya. Hebatnya, pencapaian tersebut berlaku ke semua umur. Penonton dewasa akan menyukai tingkah konyol tokoh-tokohnya, Wuba yang menggemaskan, juga tata artistik megah dari penataan setting hingga kostum, sementara anak tentu menyukai pertarungan monster-monster berpenampilan bagai karakter kartun. Monster Hunt 2 memang memposisikan diri sebagai tontonan keluarga. An entertaining one.
Tidak ada usaha untuk menjadi suguhan cerdas dalam naskah buatan Jack Ng, Sunny Chan, dan Su Liang. Bahkan cenderung memaksa untuk melanjutkan kisah yang telah ditutup manis. Bila film pertamanya ditutup saat Song Tianyin (Jing Boran) dan Huo Xiaolan (Bai Baihe) merelakan anak monster mereka, Wuba, tinggal di dunia monster, maka kali ini keduanya menyadari bahwa hidup terpisah dengan keluarga bukan hal terbaik bagi Wuba. Dua cerita terpisah yang merupakan satu rangkaian proses dan sejatinya dapat dirangkum dalam satu film.

Seperti Wuba yang sulit diam dan berlarian semaunya tak tentu arah, alurnya bergerak cepat hanya guna melayani satu aksi menuju aksi berikutnya, melompat dari kekacauan satu ke kekacauan lain, tanpa tertarik memaparkan narasi runtut yang solid. Namun seperti Wuba pula, alurnya memang hanya ingin bersenang-senang. Pertemuan Wuba dengan Tu Sigu (Tony Leung), seorang penjudi dan penipu beserta asistennya, monster tambun bernama BenBen, membuka gerbang petualangan menyenangkan tersebut.
Bersama Tu Sigu lah kita bertemu Zhu Jinzhen (Li Yuchun) dengan metode hukuman uniknya, kegaduhan di kasino, pula kekonyolan sebuah pertunjukan sulap. Kata kuncinya adalah “imajinatif”. Monster Hunt 2 berbeda dengan suguhan Hollywood yang kerap mengasosiasikan hiburan ringan dengan minimnya kreativitas. Karena bukan “film serius”, Monster Hunt 2 bebas bermain-main dan bereksplorasi tanpa peduli logika, menghasilkan bumbu komedi yang tidak berhenti di tataran slapstick, hingga beragam cara terkait eksekusi aksi, termasuk dalam klimaks yang enggan asal besar. Walau ada satu momen di klimaks yang mungkin terlampau mengerikan, bahkan bagi orang dewasa sekalipun.

CGI para monster jelas belum setingkat Hollywood, dan meski penokohannya tidak kompleks, sosok-sosok seperti Wuba yang menggemaskan dan BenBen yang lembut mampu merebut hati penonton. Untuk karakter manusia, Bai Baihe mengasyikkan disimak, tetapi Tony Leung  paling menyedot atensi tiap kali  Tu Sigu mengisi layar. Dia lancar menangani porsi komedi juga (tentu saja) drama. Tu Sigu menjadi tokoh terbaik, sebab ia paling banyak mengalami proses dibanding karakter lain di sini, hingga akhirnya bertransformasi. Andai franchise Monster Hunt hendak bergerak ke haluan berbeda, Leung jelas lebih dari cukup mengisi slot protagonis utama.

THE POST (2017)


Jika Alfred Hitchcock adalah master of suspense, maka gelar master of emotion layak disematkan kepada Steven Spielberg. Tidak peduli betapa rumit konspirasi dan investigasi dalam The Post, sang sutradara bakal menyoroti kehidupan personal tokoh-tokohnya guna menitikberatkan gejolak batin mereka. Karakter Spielberg adalah manusia dengan perasaan yang tengah berusaha mengatasi kekurangan miliknya demi kebaikan. Alhasil, walau name-dropping maupun gempuran beruntun fakta-fakta kompleks memusingkan anda, filmnya tak pernah terasa kosong. Karena The Post tidak pernah sepenuhnya soal konspirasi pemerintah.

Kita sesekali terpapar beberapa hasil riset rahasia mengenai keterlibatan Amerika Serikat di Perang Vietnam, yang telah disembunyikan dari publik sejak era Harry S. Truman sampai Richard Nixon. Namun, ini bukan Spotlight apalagi All the President’s Men. Investigasi jurnalistik memegang peran besar, tapi pergolakan personal karakter lebih diutamakan. Pergolakan yang memicu berbagai debat ideologi. Ben Bradlee (Tom Hanks), pimpinan redaksi The Washington Post, merasa wajib mempublikasikan riset di atas setelah The New York Times—media pertama yang mengungkap konspirasi itu—diperintahkan pengadilan untuk berhenti memuat berita tersebut karena dianggap membahayakan keberlangsungan pemerintah.
Larangan ini tentunya melanggar amandemen pertama soal kebebasan pers. Ketika Ben berhasrat, Katharine Graham (Meryl Streep) si pemilik surat kabar justru meragu, sebab The Washington Post sedang berada dalam proses penjualan saham guna mengatasi permasalahan finansial. Sedikit saja timbul masalah, para investor bisa kabur. Belum lagi pria-pria di jajaran direksi kerap mengatur Katharine yang memang kurang tegas dan minim pengalaman. Pun sahabatnya, Robert McNamara (Bruce Greenwood) termasuk salah satu pihak yang paling dirugikan atas terbongkarnya konspirasi. Seberapa besar seseorang bersedia berkorban demi kebenaran?

Dalam pertukaran ideologinya, Spielberg terkadang membiarkan para aktor memainkan intensitas adegan. Sebab, menyatukan Hanks dan Streep di layar sudah lebih dari cukup. Seperti tampak di momen pertama Katharine dan Ben bersama, saat Spielberg tak menggerakkan kamera dalam satu take panjang. Dinamika suasana tumbuh secara alamiah seiring keduanya saling melempar opini dan lelucon. Hanks, sebagaimana biasa, memancarkan pesona magnetis, tapi Streep lebih memukau. Penuh rasa ragu, bicara yang terbata dengan suara seolah mengawang tak tentu. Begitu ia mampu mengatasi kekurangannya, Streep bukan menunjukkan “perubahan mendadak”, melainkan transformasi alamiah yang tak berkontradiksi dengan karakterisasi.
Perlahan mendekatkan kamera menuju objek (track-in) untuk menguatkan intensitas adalah strategi mendasar pengadeganan. Berulang kali Spielberg menerapkannya untuk menangkap emosi di mata pemain, dan tidak banyak sutradara dengan kepekaan timing sekuat dirinya. Di tangan Spielberg, adegan Tom Hanks menjajarkan koran di meja saja bisa begitu emosional. “It’s not a party, it’s a war”. Demikian ucap seorang tokoh. Spielberg memang menjadikan thriller politik bernuansa jurnalistik ini bak tontonan epic. Musik John Williams sesekali menyeruak di sela-sela kantor surat kabar yang riuh rendah akan bunyi mesin ketik, sedangkan penyuntingan gambar taktis Michael Kahn dan Sarah Broshar acap kali berjasa menyusun ketegangan.

The Post memakai formula bercerita yang familiar, seperti halnya penindasan Nixon terhadap pers menjadi pemandangan familiar bagi publik Amerika di tengah kekuasaan Trump kini. Sepanjang film terdengar rekaman pembicaraan telepon Nixon yang bermuara pada salah satu skandal paling menghebohkan, apalagi kalau bukan Watergate. Skenario buatan Liz Hannah dan Josh Singer menjadikan Watergate sebagai penutup The Post tak lain selaku pengingat, betapa pemerintah mungkin selalu menyembunyikan rahasia lain, yang bisa jadi lebih besar dari sebelumnya.

PREDIKSI PEMENANG OSCAR 2018


Tidak sampai sebulan lagi, tepatnya pada 4 Maret, ajang Academy Awards ke-90 siap digelar. The Shape of Water memimpin dengan 13 nominasi, diikuti Dunkirk (8) lalu Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (7). Seperti banyak orang telah ketahui, Oscar semakin kental nuansa politis. Ketimbang sekedar kualitas, beragam isu dan kepentingan berperan sangat besar menentukan siapa saja yang bakal berjaya. Faktor tersebut tentu saja mempengaruhi prediksi saya kali ini. Tanpa perlu panjang lebar, ini dia prediksi pemenang Oscar 2018 versi Movfreak:

BEST VISUAL EFFECTS
Juri bakal lebih mengagungkan sinematografi Blade Runner 2049 ketimbang efek visualnya. Ini pertarungan Star Wars: The Last Jedi melawan War for the Planet of the Apes. Kemenangan Ex-Machina atas The Force Awakens 2 tahun lalu menunjukkan bahwa Oscar lebih menyukai efek realis ketimbang bombastis. War for the Planet of the Apes memenuhi kriteria itu.
Should Win: War for the Planet of the Apes
Will Win: War for the Planet of the Apes

BEST FILM EDITING
Butuh kejelian luar biasa guna menyesuaikan hentakan musik dengan perpindahan adegan dalam Baby Driver, tapi gerak taktis di medan perang Dunkirk bakal lebih membuai. Apalagi Dunkirk berdasarkan aspek teknis, dan berpeluang besar menguasai kategori-kategori terkait.
Should Win: Baby Driver
Will Win: Dunkirk

BEST COSTUME DESIGN
Phantom Thread adalah film tentang desainer. Fakta itu sudah cukup menyegel kemenangannya.
Should Win: Phantom Thread
Will Win: Phantom Thread

BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING
Tidak ada kontes. Victoria & Abdul masuk hanya sebagai pelengkap, dan kemampuan tata rias Darkest Hour mendukung akting Gary Oldman, yang bisa dipastikan memenangkan Best Actor, memberinya keuntungan.
Should Win: Darkest Hour
Will Win: Darkest Hour

BEST CINEMATOGRAPHY
Nominasi ke-14 Roger Deakins. Mau sampai kapan Oscar membiarkannya nihil piala? Sudah waktunya itu diakhiri.
Should Win: Roger Deakins – Blade Runner 2049
Will Win: Roger Deakins – Blade Runner 2049

BEST PRODUCTION DESIGN
Ada kemegahan Beauty and the Beast serta cyberpunk memukau Blade Runner 2049, tapi mustahil rasanya peraih nominasi terbanyak tak memenangkan satu pun kategori teknis. Ini jatah The Shape of Water.
Should Win: Blade Runner 2049
Will Win: The Shape of Water

BEST SOUND MIXING
Saya tidak begitu menyukai Dunkirk, tapi kehebatan tata suaranya tak perlu diragukan. Tidak ada lawan berarti.
Should Win: Dunkirk
Will WIn: Dunkirk

BEST SOUND EDITING
Kasusnya serupa dengan kategori Best Sound Mixing.
Should Win: Dunkirk
Will Win: Dunkirk

BEST ORIGINAL SONG
Pertarungan Remember Me melawan This is Me. Remember Me adalah pondasi emosi Coco, tapi menilik tema jati diri miliknya yang relevan dengan kondisi sosial sekarang, This is Me berpeluang lebih besar.
Should Win: Remember Me
Will Win: This is Me

BEST ORIGINAL SCORE
Musik bak negeri dongeng Desplat sama indahnya dengan nada-nada elegan ciptaan Jonny Greenwood di Phantom Thread. Tapi cinta juri jelas lebih tercurah pada The Shape of Water.
Should Win: Alexandre Desplat – The Shape of Water
Will Win: Alexandre Desplat – The Shape of Water

BEST DOCUMENTARY – FEATURE
Kategori paling sulit ditebak tatkala dua unggulan, Jane dan City of Ghosts absen sebagai nominee. Strong Island dengan isu rasisme cukup berpeluang, tapi sejauh ini gaung lebih condong ke arah Faces Places.
Should Win: Icarus
Will Win: Faces Places

BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
Loveless adalah film luar biasa dengan setumpuk shot-shot superior. Tapi kembali, faktor relevansi isu memegang peranan. A Fantastic Woman yang mengusung tema LGBT adalah unggulan.
Should Win: Loveless
Will WIn: A Fantastic Woman

BEST ANIMATED FEATURE FILM
Come on, there’s no contest here.
Should Win: Coco
Will Win: Coco

BEST ADAPTED SCREENPLAY
Naskah Aaron Sorkin luar biasa dalam merangkum fakta berbasis dialog tanpa melupakan hati. Namun kemenangan Call Me by Your Name di Writers Guild Awards makin menguatkan posisinya.
Should Win: Molly’s Game
Will Win: Call Me by Your Name

BEST ORIGINAL SCREENPLAY
Semula Lady Bird adalah unggulan, hingga Get Out memenangkan Writers Guild Awards. Ditambah usungan isu rasisme, jalur kemenangannya terbuka lebar.
Should Win: Three Billboards Outside Ebing, Missouri
Will Win: Get Out

BEST SUPPORTING ACTRESS
Laurie Metcalf jelas menyuguhkan akting yang lebih kompleks ketimbang Allison Janney, tapi menilik hasil Screen Actors Guild Awards, kemenangan Janney sulit dibendung.
Should Win: Laurie Metcalf – Lady Bird
Will Win: Allison Janney – I, Tonya

BEST SUPPORTING ACTOR
Kemenangan Rockwell di Screen Actors Guild Awards merupakan modal utama. Satu-satunya penghalang apabila juri termakan backlash seputar karakter rasis yang ia perankan. Bila terjadi, Willem Dafoe siap mencuri kesempatan.
Should Win: Sam Rockwell – Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Will Win: Sam Rockwell – Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

BEST ACTRESS
Alasan yang sama: Screen Actors Guild Awards. Akting McDormand memang luar biasa, walau saya tak keberatan jika Sally Hawkins muncul sebagai pemenang.
Should Win: Frances McDormand - Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Will Win: Frances McDormand - Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

BEST ACTOR
Satu-satunya yang bisa menggagalkan kemenangan Oldman adalah kasus kekerasan yang pernah ia lakukan ke mantan istrinya, Donya Fiorentino mempengaruhi pilihan juri. Di situ peluang Timothée Chalamet muncul.
Should Win: Gary Oldman – Darkest Hour
Will Win: Gary Oldman – Darkest Hour

BEST DIRECTOR
Hasil Directors Guild Awards jelas menguntungkan del Toro. Lawan beratnya adalah Greta Gerwig yang bakal selaras dengan gerakan-gerakan terkait hak wanita yang marak terjadi belakangan.
Should Win: Guillermo del Toro – The Shape of Water
Will Win: Guillermo del Toro – The Shape of Water

BEST PICTURE
Ini perlonbaan tiga kuda pacu: Three Billboards Outside Ebing, Missouri, The Shape of Water, dan Lady Bird. Empat jika menghitung Get Out dengan tema rasialisme miliknya, tapi juri akan puas memberi kemenangan di naskah. Three Billboards merupakan unggulan sampai beberapa waktu terakhir tuduhan rasisme mencuat. Untuk menebak, kita perlu memahami sistem penghitungan kategori ini. Bukan cuma “Siapa yang paling disukaii” yang harus diperhatikan, juga “siapa yang paling tidak dibenci”. The Shape of Water sesuai dengan syarat itu.
Should Win: Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Will Win: The Shape of Water

EIFFEL...I'M IN LOVE 2 (2018)


Eiffel...I’m In Love 2 adalah produk budaya Indonesia terkait pernikahan. Pernyataan “Menikah jangan ditunda-tunda” atau pertanyaan “Kapan nikah?” pun jamak mampir di telinga kita, termasuk telinga Tita (Shandy Aulia). Bayangkan, sudah 12 tahun ia berpacaran dengan Adit (Samuel Rizal) tapi bahtera rumah tangga tak kunjung ditempuh. Bagi kebanyakan masyarakat kita, itu permasalahan besar. Bagi Tita, menanti kalimat “will you marry me?” dari Adit makin lama makin meresahkan. Apakah Adit benar-benar serius menjalani hubungan? Tita kerap mempertanyakan itu.

Sedangkan saya mempertanyakan “Apakah filmnya mampu mengolah isu kekinian yang kompleks tersebut?”. Alkisah 12 tahun pasca film pertama, Adit dan Tita masih menjalani LDR dengan bentuk interaksi serupa: bertengkar, bertengkar, dan bertengkar. Tita yang manja dan selalu merengek, Adit yang ketus dan galak. Sekilas mereka tidak berubah. Tapi sejatinya ada perubahan besar yang menggiring Eiffel...I’m In Love 2 berpindah jalur dibandingkan pendahulunya, yakni status pacaran dua tokoh utama.
Konon setelah berpacaran, romantisme berkurang, hubungan lebih hambar serta gampang ditebak. Eiffel...I’m In Love 2 terjangkit hal serupa. Elemen kejutan dalam dinamika Adit-Tita memudar, sedangkan konfliknya terjerumus keklisean seputar kesalahpahaman yang mestinya dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Pertengahan durasi praktis sekedar diisi jalan-jalan berkeliling Paris sembari diselingi rutinitas obrolan berujung pertengkaran. Obrolan dangkal sekaligus repetitif yang urung dipakai menggali isu pernikahan yang diangkat.

Beruntung chemistry Shandy Aulia dan Samuel Rizal kian rekat, hingga efektif menyunggingkan senyum di bibir penonton. Samuel yang semakin matang tidak lagi datar saat menyampaikan dialog, sementara Shandy adalah sumber tenaga filmnya. Keduanya menyatu bersama warna-warna lembut dari kamera Yunus Pasolang serta lagu-lagu catchy Melly Goeslaw, menciptakan rasa manis guna menebus usaha pendewasaan cerita yang belum dibarengi naskah mendalam maupun kecanggungan Rizal Mantovani membungkus sederet adegan komedi.
Kekurangan naskah buatan Donna Rosamayna tampak dalam penokohan yang inkonsisten bila disandingkan dengan usungan tema. Eiffel...I’m In Love 2 coba merobohkan anggapan “lebih cepat menikah lebih baik”. Pola pikirnya kekinian, tetapi diisi tokoh-tokoh macam Adit dan Bunda (Hilda Arifin) yang kolot pula mengekang. Khususnya Bunda. Di film pertama, sikapnya masuk akal mengingat Tita merupakan gadis 15 tahun sekaligus anak bungsu. Bermaksud membangun kontinuitas, hasilnya justru karakter yang seolah tak berkembang seiring waktu.

Pesan agar tak menggampangkan pernikahan memang relevan pada era saat banyak orang buru-buru menikah karena dipandang selaku solusi permasalahan (yang justru memancing masalah lebih besar kala minim persiapan). Andaikan pesan itu disampaikan bertahap sembari menyertakan gambaran nyata ketimbang diringkas di penghujung dan cuma berbentuk petuah. Kekurangan Eiffel...I’m In Love 2 jelas menumpuk. Saya akan mengingatnya sebagai film buruk kalau bukan karena beberapa menit terakhir yang berisi ciuman romantis dan perbincangan intim nan menyentuh. Konklusi itu bersifat krusial. Bisa menghancurkan atau melambungkan kualitas film. Eiffel...I’m In Love 2 termasuk golongan kedua.

BLACK PANTHER (2018)


Di Black Panther, Wakanda digambarkan sebagai negara adidaya makmur, berteknologi maju, yang tak melupakan akar kulturalnya. Sementara para pemegang tampuk kekuasaan tidak memanfaatkan kekuatan mereka untuk berlaku semena-mena. Itulah surat cinta sekaligus pernyataan filmnya. Apabila kulit hitam yang ditekan diberi kuasa dan sumber daya, apakah mereka akan balik  menginjak-injak? Dengan tegas Black Panther menjawab, “TIDAK”. Ketika realita memperlihatkan Trump enggan menampung pengungsi, T’Challa (Chadwick Boseman) membuka pintu Wakanda lebar-lebar. Setelah pengalami pergolakan batin dan politik tentu saja.

Bisakah orang baik menjadi Raja? Menurut mendiang T’Chaka (John Kani), hal itu sulit, sehingga takkan mudah bagi sang putera memimpin Wakanda. Bagaimana T’Challa berusaha menjadi Raja sebaik mungkin yang dapat memakmurkan dan membahagiakan rakyatnya adalah fokus utama Black Panther. Tidak ada invasi alien, tidak ada Dewa kematian menyerbu. Skala dijaga di lingkup internal Wakanda, dan sebagaimana negara kebanyakan, perebutan kekuasaan serta invasi asing jadi problematika. Ulysses Klaue (Andy Serkis) adalah pihak luar yang ingin mencuri vibranium, tapi ancaman terbesar selalu berasal dari dalam.
Datanglah Erik “Killmonger” Stevens (Michael B. Jordan) demi merebut tahta T’Challa sekaligus bergabung bersama Loki, Baron Zemo, dan Vulture di jajaran villain terbaik MCU. Mampu ia jatuhkan T’Challa ke titik terendahnya, satu hal yang tidak semua villain bisa lakukan pada pahlawan super. Pun terdapat alasan personal sehingga Erik Killmonger tak semudah itu diklasifikasikan sebagai “orang jahat”, di mana pertemuan dengan sang ayah memberi momen personal yang memantapkan pondasi penokohan itu. Saat Chadwick Boseman adalah Raja yang meneduhkan, maka Michael B. Jordan menjadi ekstrimis berapi-api. Keduanya karismatik.

Mengusung gesekan ideologi bernuansa politis, wajar tatkala Black Panther tanpa injeksi humor sebesar mayoritas film MCU, meski balutan komedi tetap hadir dalam takaran secukupnya. Apa jadinya film positif nan penuh harapan macam Black Panther jika tidak dibarengi tawa? Naskah tulisan sutradara Ryan Coogler bersama Joe Robert Cole mungkin bukan naskah dengan alur revolusioner, bahkan cenderung repetitif. Tapi kekurangan itu ditebus lewat dialog kaya subteks soal ras, politik, hingga budaya.
Bicara mengenai budaya, suasana afrofuturism milik Black Panther jelas salah satu penataan artistik terbaik dalam film pahlawan super. Kostum beraneka warna berbalut desain unik, beberapa upacara adat, bahkan pesawat milik T’Challa menyerupai topeng suku-suku di Afrika. Peleburan sisi tradisional dan modernnya berjalan sempurna. Wakanda melestarikan budaya tanpa menutup pintu akan perkembangan teknologi, seperti diwakili oleh Shuri (Letitia Wright), adik T’Challa yang memfasilitasi Ryan Coogler menyuntikkan rasa James Bond ke dalam Black Panther.

Sayangnya Coogler belum terlalu ahli merangkai adegan aksi. Tampak jelas kala klimaks medioker berbalut CGI ala kadarnya berlangsung. Tapi itu pun dikarenakan deretan aksi yang mendahuluinya jauh lebih superior: Kejar-kejaran di jalanan Korea yang melibatkan senjata futuristik hingga pertarungan memperebutkan tahta di samping air terjun yang kental keindahan budaya termasuk musik nuansa Afrika buatan Ludwig Göransson. Semua hal dalam Black Panther, entah musik, kostum, atau penghormatan ala Wakanda bakal membuat black culture lebih terdengar bahkan terlihat keren di mata publik. Apa saya sudah menyebut kalau film ini turut meninggikan para wanitanya yang demikian tangguh? Sungguh sebuah representasi penting.

BAYI GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI (2018)


Seorang polisi (Dorman Borisman) tiba di TKP pembantaian sebuah keluarga. Seluruh tulang sang suami remuk, sang istri terguncang dan meracau, sementara bayi mereka tewas kehabisan darah. Adegan pembuka ini tidak punya maksud kecuali menyiratkan fenomena mistis yang akan jadi pusat konflik filmnya, memperkenalkan tokoh sampingan yang cuma berperan menjelaskan fenomena itu pada protagonis, dan menyebutkan sub-judul “Bayi Tumbal, Bayi Mati”. Bukan awal meyakinkan bagi usaha seorang KK Dheeraj alias KKD alias Dheeraj Kalwani naik kelas.    

Dheeraj memang bagai sedang berusaha mengubah persepsi publik. Tidak hanya menanggalkan identitas legendaris KKD, sejak Gasing Tengkorak (2017) rumah produksinya pun mengusung nama  Dee Company, bukan lagi K2K Production. Tidak pula ia menggaet bintang porno luar negeri atau Dewi Perssik sebagai pemain. Lupakan sangkalannya terhadap pernyataan bahwa film ini merupakan remake Bayi Ajaib (1982). Sebab, menilik trailer-nya, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati tampak well-made. Meski kegagalan production value apik menutupi kelemahan naskah dan penyutradaraan yang berujung merusak film bukan lagi hal baru di industri kita.
Setelah dua tahun, Farah (Rianti Cartwright) dan Rafa (Ashraf Sinclair) akhirnya memiliki momongan. Namun begitu putera perdana yang diberi nama Rangga itu lahir, kejadian aneh mulai menimpa mereka. Rafa dihantui mimpi-mimpi buruk, sementara Farah kerap melihat bayinya dalam wujud mengerikan. Rafa yang skeptis terhadap hal gaib meyakini sang istri menderita baby blues. Pondasi menarik untuk membangun horor psikologis yang sayangnya terlalu malas digali dalam naskah buatan Baskoro Adi Wuryanto.

Satu penyakit akut film horor negeri ini adalah, apa pun sumber terornya, mau ajian maut berbentuk gasing, iblis, santet, atau bahkan imajinasi karakternya, cara yang dipakai untuk menakut-nakuti nihil perbedaan. Hantu akan berlari cepat di balik sofa, muncul di kamar mandi, hingga kasur. Mungkin memang kenyataannya itu tempat favorit makhluk halus. Setidaknya beberapa jump scare punya penempatan waktu yang tepat sehingga tersaji mengejutkan. Poin plus bagi Rizal Mantovani, tatkala penataan kamera Rudy Novan acap kali menyulitkan penonton untuk mengidentifikasi hal menakutkan apa yang tengah muncul.
Menjalani debut di film horor, Rianti tampak kesulitan menjual kengerian yang meyakinkan. Teriakannya, ekspresi ketakutannya, urung menyalurkan perasaan serupa kepada penonton. Tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Melihat desain si bayi gaib (atau bayi tumbal? atau bayi mati? Saya tak peduli), tawa memang akan lebih mudah hadir ketimbang rasa takut. Penampilan Ashraf Sinclair cukup bisa dinikmati, namun lebih dikarenakan tuntutan yang belum sebesar Rianti. Karakter Rafa tidak sesering Farah mendapat gangguan mistis.

Ending-nya memperlihatkan sang pelaku sesungguhnya mendatangi kediaman Farah dan Rafa. Untuk apa repot-repot saat santet yang dikirim terbukti manjur? Lima menit terakhir bak cerminan kebingungan Baskoro Adi Wuryanto mengenai harus bagaimana kisahnya ditutup. Serupa Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism, Jailangkung, hingga Ghost Diary, film ini dipenuhi detail-detail khas Baskoro yang amat menggelitik dan niscaya memberi anda dan teman-teman pengalaman mengasyikkan kala menertawakannya bersama-sama.

BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI (2018)


Inspira Pictures. Dengan nama seperti itu, bisa ditebak rumah produksi satu ini bertujuan melahirkan film inspiratif. Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi selaku karya komersil perdananya merupakan adaptasi novel Cinta 2 Kodi buatan Asma Nadia, yang didasari kisah nyata Kartika, seorang pengusaha baju muslim anak. Film ini bukan cuma ingin bicara soal kesuksesan bisnis, walau bagaimana Kartika mampu mengembangkan usaha kecilnya jadi sebesar sekarang sejatinya sudah cukup mengagumkan. Tapi ini buah pikir Asma Nadia. Harus ada yang lebih dari sekedar menghasilkan uang.

Ibarat proses membuat lagu, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi menyertakan sebanyak mungkin instrumen demi hasil maksimal. Ketika semua alat beserta musisi telah terkumpul, sang komposer justru kebingungan menata porsi dan posisi masing-masing.  Pun sang komposer meminta penggebuk drumnya memainkan pedal ganda walau lagunya bergenre pop. Proses sederhana akhirnya berujung kerumitan tak perlu. Kartika (Acha Septriasa) tertegun mendapati suaminya, Fahrul (Ario Bayu) meminta izin menikah lagi untuk memenuhi keinginan ibunya yang sakit parah. Apa perlunya konflik ini?
Fahrul bahkan meminta Kartika menggugurkan bayi kedua mereka. Lagi-lagi apa perlunya? Selain itu, permintaan ini berlawanan dengan penokohan Fahrul si ayah penyayang. Melompat ke pertengahan film, Fahrul tak sengaja menjatuhkan bahan pesanan Kartika. Fahrul yakin bahan itu jatuh ketika ia nyaris tertabrak mobil. Bila saya di posisi Fahrul, saya akan bergegas kembali ke lokasi, mencarinya. Alih-alih demikian, Fahrul cuma minta maaf, meratap, masuk ke dalam rumah. Tentu Kartika marah besar. Masalah yang takkan berkepanjangan jika terjadi pada manusia normal di dunia nyata.

Penokohan Kartika sebenarnya cukup menarik. Dia mengatur hidup kedua puterinya, angkuh, tenggelam dalam pekerjaan dan lupa keluarga. Keputusan karakterisasi yang dalam konteks “film inspiratif” termasuk berisiko sehingga patut diapresiasi. Andai konflik dikerucutkan di bagian ini, yaitu tentang orang tua yang membanting tulang demi para buah hati namun sempat melupakan tujuan tersebut, alurnya bakal lebih tertata. Sebab seiring masalah bertambah, makin sulit mengidentifikasi arahnya. Soal pemberdayaan wanita? Kesetiaan cinta? Pengorbanan ibu bagi anak? Mana yang utama mana yang pendukung tampak kabur, tak saling mengikat, seolah berdiri sendiri-sendiri.
Penyutradaraan Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo untungnya memiliki sensitivitas. Lihat saat Fahrul memohon agar Kartika menerimanya lagi. Ali dan Bobby enggan meledakkan dramatisasi. Dibungkus cahaya temaram sinematografi Yadi Sugandi, dialognya diucapkan setengah berbisik pun tanpa musik. Kedua sutradara membangun keintiman sembari mengandalkan akting pemain. Acha dituntut meluapkan amarah sambil berteriak berulang kali dan sanggup membuatnya tidak repetitif. Selalu ada detail kecil untuk pembeda antar situasi. Bermodalkan charm-nya, Ario Bayo meyakinkan memerankan sosok ayah idola anak-anaknya, yang turut diperankan dengan baik oleh Arina Mindhisya dan Shaquilla Nugraha.

Apakah Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi inspiratif? Sebagai inspirasi semu mungkin saja. Aspek bisnisnya penuh simplifikasi, berorientasi pada hasil ketimbang menelusuri pergulatannya lebih mendalam. Memang baru sampai situ makna “inspiratif”  bagi sebagian masyarakat kita. Pokoknya kesuksesan dapat diraih di tengah keterbatasan tanpa tertarik memahami cara menuju ke sana. Pokoknya permasalahan seberat apa pun dapat terselesaikan. Entah benar-benar selesai atau cuma dijustifikasi sebagaimana film ini menyelesaikan problematika tokoh-tokohnya. Baik Kartika maupun Fahrul menyulut masalah-masalah pelik, berbuat kekeliruan fatal, lalu begitu saja dimaafkan dan terlupakan.