REVIEW - OBSESSION
Film horor sudah secara aktif mencerminkan ketakutan masyarakat suatu era, dari destruksi oleh nuklir pada 1950-an sampai teknofobia dan lenyapnya ruang personal di 2000-an. Obsession karya Curry Barker menggemakan salah satu ketakutan generasi masa kini: Hanya ada kepalsuan dalam cinta, sehingga kelak kita akan terdorong menuju lubang kesepian gelap nan tanpa ujung.
Alkisah, Bear (Michael Johnston), Nikki (Inde Navarrette), Ian (Cooper Tomlinson), dan Sarah (Megan Lawless) adalah empat sahabat yang bekerja di toko musik kepunyaan ayah Sarah. Bear ingin mengutarakan cintanya pada Nikki, namun kekhawatiran akan penolakan senantiasa menutup pintu keberaniannya.
Kesempatan bukannya enggan mampir di hadapan Bear. Nikki bahkan sempat secara terang-terangan menanyakan apakah Bear menyukainya, yang langsung ia sangkal. Ketimbang merengkuh peluang di depan mata, Bear justru mengambil jalan pintas dengan menggunakan "One Wish Willow", sebuah mainan yang konon mampu mengabulkan segala jenis permintaan. Bear meminta supaya Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.
Bukan cuma pengecut, banyak laki-laki cenderung berpikiran pendek, termasuk mengharapkan sesuatu yang tak benar-benar mereka pahami. Mereka sekadar mendambakan permukaan, tanpa mau mengupas lapisan-lapisan yang mungkin menyelubungi suatu harapan tatkala menjadi kenyataan. Bear merupakan representasi sempurna dari spesies laki-laki semacam itu.
Singkat cerita, harapan Bear terkabul. Nikki terobsesi padanya, meminta untuk bermalam di rumahnya, mengajaknya berbaring bersama di ranjang, menanggalkan pakaiannya lalu meminta Bear mendekap tubuhnya. Malam itu adalah realisasi dari fantasi para laki-laki yang menomorsatukan nafsu daripada otak maupun hati.
Tapi segera saja, Bear diingatkan ke ungkapan "be careful what you wish for". Perilaku Nikki semakin aneh, dari sekadar memamerkan senyuman janggal, mengamati Bear saat terlelap di malam hari, hingga hal-hal lain yang jauh lebih ekstrim. Bear ketakutan, tapi patutkah ia diberi status "korban"?
Dari sinilah naskah buatan Barker menyediakan observasi berlapis. Penceritaannya memberi penonton ruang guna mengamati detail situasi. Hipotesis pun diutarakan, bahwa sejatinya Bear merupakan pelaku. Di satu titik, identitas asli Nikki menyeruak ke permukaan, dan ia meminta Bear mengakhiri penderitaannya. Bear menolak.
Protagonis kita menikmati obsesi yang Nikki curahkan, hanya saja tak ingin semua melesat ke luar kendalinya. Inilah satu lagi contoh dari kecenderungan laki-laki mengambil keuntungan dari penderitaan perempuan. Sejatinya bukan Nikki yang Bear dambakan, melainkan citra tentangnya yang dia ciptakan dalam dunia fantasinya.
Tapi toh poin-poin di atas tidak menampik fakta kalau perilaku Nikki memang mengerikan. Curry Barker secara jeli menyerap prinsip dari konsep uncanny valley untuk menebar teror. Contoh terbaiknya tentu pada adegan yang seketika memantik ingatan terhadap momen penampakan legendaris di Kairo (2001) karya Kiyoshi Kurosawa.
Selain mencekam, adegan tersebut membuktikan kreativitas sang sutradara yang ogah menyalin mentah-mentah lalu bersembunyi di balik topeng "penghormatan". Barker memodifikasinya, kemudian melahirkan entitas angker yang sepenuhnya baru. Beberapa jumpscare-nya memiliki daya kejut tinggi tanpa perlu bergantung pada tata suara berisik berkat pengaturan timing yang cerdik, pun segelintir elemen kekerasannya mujarab menyulut teriakan penonton. Departemen penyutradaraan Obsession luput dari cela.
Menariknya, hapuskan keberadaan "One Wish Willow", dan besar kemungkinan segala peristiwanya bakal tetap berlangsung, walau dalam taraf keekstriman yang menurun. Mainan itu bukan artefak berbahaya, mengingat kutukan sebenarnya bersumber dari hasrat yang mengiringi permintaan Bear. Alih-alih hantu, iblis, atau monster, yang menyeruak ke permukaan sewaktu terjadi fenomena supernatural di Obsession adalah sisi gelap manusia.
Segala sudut Obsession berpusat pada manusia. Itulah sebabnya ia terasa begitu dekat dan cengkeramannya teramat kuat. Manusia yang mendapat sorotan paling benderang adalah Inde Navarrette. Performanya tidak melulu soal pertunjukan seringai aneh khas horor konvensional. Selain untuk mengatrol efek kejut, tindak-tanduknya yang sarat akan ketidakterdugaan berfungsi sebagai penegas kalau Nikki berperilaku di luar kendalinya.
Ketika tiba waktunya diri Nikki yang asli mengambil alih kesadaran biarpun hanya beberapa detik, ekspresi yang Navarrette hadirkan menampakkan sekelebat luka seorang perempuan yang direnggut dari kebebasannya untuk menyetir jalan kehidupan menuju ke arah yang ia inginkan.
Saya punya sedikit saran. Ajak pacar atau teman kencan laki-laki kalian menonton dua film, yaitu (500) Days of Summer dan Obsession. Jika dia memandang masing-masing protagonis laki-lakinya sebagai korban, segera lari sejauh mungkin.
REVIEW - SUPERGIRL
Menilik upaya segerombolan laki-laki kulit putih konservatif Amerika Serikat untuk menyabotase Supergirl karena dipandang tak memuaskan dahaga bejat mereka, sungguh ingin saya, seusai menonton, secara lantang menyuarakan betapa memukaunya film ini. Sayang, adaptasi dari seri komik Supergirl: Woman of Tomorrow punya satu masalah besar yang menyulitkan lahirnya argumen balasan: filmnya memang tidak sebagus itu.
Kali pertama kita bertemu Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock), ia sedang berkeliling galaksi bersama anjingnya, Krypto, dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-23. Planet dengan matahari merah jadi kesukaannya, sebab di situ kekuatan Kara sebagai Kryptonian dinetralkan, sehingga ia bisa menikmati sensasi memabukkan alkohol.
Menjadi pahlawan super bak bukan jalan hidup Kara, setidaknya sampai takdir mempertemukannya dengan Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), bocah yang berambisi membunuh Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts), sebagai bentuk balas dendam setelah si penjahat keji membantai keluarganya.
Dimulailah road trip berlatar luar angkasa yang mengalir selama sekitar 108 menit tanpa banyak daya tarik. Daripada menyuplai cerita dengan rangkaian friksi trengginas atau petualangan yang menyulut rasa cemas, naskah buatan Ana Nogueira sekadar melakukan tarik-ulur terhadap misi dua protagonisnya meringkus Krem.
Sebagai antagonis, Krem kaya akan potensi. Filmnya tak ragu membuat beberapa warga tanpa dosa kehilangan nyawa demi menandaskan kebiadaban sang penjahat. Tapi di luar itu, karakternya mudah dilupakan karena tak memiliki daya tarik lain. Fakta seputar bagaimana ia rutin menculik perempuan guna dijadikan alat berkembang biak pun luput dikembangkan, baik sebagai modal narasi kuat mengenai gender maupun pondasi untuk mengokohkan mitologi semestanya.
Untunglah, Craig Gillespie selaku sutradara tak membiarkan penonton melalui perjalanan generik ini tanpa ditemani daftar putar apik, di mana selain jadi asupan energi, lagu-lagu bernuansa alternatif seperti catch these fists milik Wet Leg hingga (I've Got) a Trouble in Mind dari The Limiñanas, turut mencerminkan sisi pemberontak dalam diri Kara.
Saya suka bagaimana Supergirl memotret sosok Kara Zor-El. Jauh berbeda dibanding interpretasi Helen Slater empat dekade lalu, Milly Alcock, dengan tindak-tanduk bak bintang rok yang ogah terikat pada cara bertutur normatif, menjembatani perspektif bahwa pahlawan perempuan tidak melulu identik dengan keanggunan ala dewi. Individu kacau yang secara sembrono keluar dari zona nyaman (baca: planet bermatahari kuning) sebagai cara mematikan rasa yang penuh sesak oleh luka pun pantas diberi gelar kepahlawanan. Konklusi filmnya turut menegaskan jika Supergirl adalah pahlawan yang menyelesaikan misinya sampai tuntas.
Pesona serupa sayangnya tak kuasa film ini tampilkan kala memaparkan koneksi antara Kara dan Ruthye, dua individu yang semestinya bertindak selaku obat bagi bilur hati masing-masing. Jangankan kehangatan, dinamika keduanya justru amat melelahkan akibat ketidakcakapan naskahnya mengolah penokohan Ruthye, sehingga ia berakhir sebagai bocah doyan merengek yang minim fungsi.
Di tengah perjalanan, Kara turut bersinggungan jalan dengan Lobo (Jason Momoa) si pemburu hadiah sinting dari Planet Czarnia, yang kebetulan punya target serupa. Momoa mampu menularkan kegembiraannya berakting secara semaunya kepada penonton, hanya saja, kebingungan departemen naskah yang tidak tahu bagaimana cara menjustifikasi kemunculan si pemburu hadiah betul-betul kentara. Alhasil eksistensi Lobo tak punya signifikansi.
Bagaimana dengan perkara baku pukul yang cenderung jadi menu utama sinema pahlawan super? Craig Gillespie rupanya belum memiliki daya imaji yang cukup tinggi untuk bisa mempresentasikan ketangguhan makhluk Krypton yang eksplosif. Generik, tidak jarang sukar diikuti gerak-geriknya, pula minim money shot selaku penegas kekuatan bombastis Kara. Klimaks yang jauh lebih masif berhasil menutupi ragam kekurangan tersebut, tapi sekali lagi, kendati bukan sebuah bencana, secuplik keunggulan yang sesekali tersebar belum cukup menghasilkan argumen balasan guna membungkam para penentang filmnya.
REVIEW - THE FURIOUS
Para pelakon The Furious akan membuat penonton percaya terhadap eksistensi manusia super. Mereka bisa melontarkan jurus-jurus bela diri, berlari secepat kilat, hingga melakukan gerakan-gerakan gimnastik ekstrim bak akrobat dalam waktu sepersekian detik.
Ceritanya sederhana: Ada pria bisu yang baru kita ketahui namanya di penghujung durasi (Xie Miao) dalam perjuangannya menolong sang putri, Rainy (Yang Enyou), dari sekapan sindikat perdagangan anak; ada pula Navin (Joe Taslim) yang berupaya menyelidiki keberadaan istrinya, Matia (Jeeja Yanin), seorang jurnalis yang hilang saat tengah menginvestigasi sindikat tersebut.
Keduanya menyatukan kekuatan, berpacu dengan waktu, sembari menunjukkan kapasitas fisik di atas rata-rata manusia biasa guna menghadapi lawan-lawan yang tak kalah gila seperti Ho (Brian Le) si tukang pukul brutal, Tak (Yayan Ruhian) si pembunuh sadis bersenjatakan panah, dan Paklung (Joey Iwanaga) selaku dalang dari segala kejahatan.
Setiap lapis koreografi memerlukan kemampuan atletik tingkat tinggi, bahkan di luar adegan baku hantam. Hentakan kaki si jagoan sewaktu berlari seolah mampu mengguncang bumi. Sedangkan saat ia dihantam oleh kendaraan yang melaju kencang, peristiwa tersebut nampak mematikan sebab Kenji Tanigaki selaku sutradara memastikan dampak tiap benturan sungguh terasa.
Pengarahan Tanigaki menggarisbawahi kata "arts" dalam istilah "martial arts". Estetika dinomorsatukan, seperti ketika Xie Miao beraksi sambil berdiri di atas tumpukan tubuh musuh-musuhnya yang sudah tak berdaya, atau bagaimana Joe Taslim akhirnya memamerkan jurus-jurus judo yang selama ini cenderung dipandang kurang sinematik.
Apa pun yang mampu menguatkan kekerasan estetis dalam The Furious bakal senang hati diterapkan oleh Tanigaki, kendati harus sambil mengacungkan jari tengah pada realisme. Tokoh-tokohnya memanfaatkan barang apa pun untuk berkelahi, dari sepeda sampai palu godam raksasa.
Bagaimana nasib seorang karakter jika menerima pukulan telak dari palu godam di kepalanya? Jangan khawatir, ia bukan saja bertahan hidup, namun masih cukup kuat untuk terlibat pertarungan melawan empat pria lain. Satu-satunya realisme di The Furious adalah sewaktu memotret tindak korupsi aparat yang mengutamakan keuntungan personal ketimbang melayani masyarakat.
Hampir semua pelakon diberi ruang unjuk kebolehan. Xie Miao yang secara lantang menyuarakan ketangguhan tanpa perlu berkata-kata, Joe Taslim yang kembali mendemonstrasikan "wajah marah" bak monster yang jadi ciri khasnya, Yayan Ruhian dengan seringai yang menguarkan aroma kematian, juga Brian Le yang sanggup bergerak lincah layaknya rudal biarpun berbadan besar. Bahkan si kecil Yang Enyou bukan cuma bocah lemah yang menunggu pertolongan secara pasif. Leher seorang penculik tidak ragu disayatnya demi menyelamatkan diri.
Satu-satunya keluhan saya untuk The Furious hanyalah momen pengepungan di tangga yang bagai difungsikan untuk tes daya tahan protagonisnya, dengan penyajian yang terlampau berlarut-larut. Saya pikir itulah klimaksnya, dan kebanyakan film aksi memang bakal berpuas diri menjadikan pengepungan tersebut selaku puncak. Tapi The Furious masih menyimpan satu lagi kesintingan.
Cerita utamanya telah usai, sehingga daripada babak ketiga konvensional, pertempuran pamungkas film ini lebih terasa seperti encore bombastis. Kenji Tanigaki melahirkan klimaks film aksi paling gila sejak threesome di The Raid pertama, berupa kemeriahan royal rumble berdarah yang membawa sang sutradara menyuguhkan kekacauan terkendali. Kamera arahan Meteor Cheung menari-nari, aktor-aktornya berkelahi seolah sambil kerasukan memedi, sedangkan penonton bertepuk tangan sembari berteriak meminta lagi dan lagi.
REVIEW - POWER BALLAD
Hal yang saya kagumi dari karya-karya John Carney adalah kemampuan (kalau bisa disebut demikian) memanusiakan musik. Lagu/musik menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu, entah pembuatnya, yang memainkannya, atau sebatas para pendengar yang haus akan asupan rasa. Begitu pula dalam Power Ballad.
Rick Power (Paul Rudd) adalah musisi Amerika yang kini menetap di Dublin, Irlandia, bersama istri dan putri remajanya. Mimpi menjadi bintang rok pengguncang stadion telah lama (terpaksa) ia kubur, dan demi membayar segala tagihan, banting setir jadi vokalis band pesta pernikahan bernama "The Bride and Groove" pun dilakukan. Sesekali Rick coba membawakan lagu ciptaannya, yang selalu direspon dingin oleh para tamu yang berharap mendengarkan jajaran Top 40.
"Human jukebox". Demikian sebutan yang disematkan bagi Rick dkk. Tidak bisakah band yang hanya dituntut membawakan nomor-nomor terkenal milik musisi lain punya makna lebih? Bisa! Setidaknya itulah yang hendak diutarakan oleh naskah buatan John Carney dan Peter McDonald. Hanya saja, Rick belum menyadarinya.
Proses menemukan kesadaran tersebut berawal kala Danny Wilson (Nick Jonas) si mantan anggota boy band ternama berduet dengan Rick di atas panggung selaku tamu kehormatan sebuah pesta pernikahan. Malamnya, ia dan Rick menghabiskan berjam-jam berdua. Rick yang mengenang ambisi masa lalunya, juga Danny yang masih berambisi membuktikan kapasitas sebagai musisi serius, saling berkeluh kesah dalam obrolan dua kawan yang berbagi kesukaan serupa, sembari ditemani berbotol-botol bir serta rokok.
Carney masih jago mengolah obrolan sederhana dua penggila musik jadi momen asyik penyedot atensi penonton, yang diposisikan bak orang ketiga dalam lingkaran pertemanan singkat dua tokoh utamanya. Tentu mereka bakal mengadakan sesi jamming dadakan di sela-sela obrolan. Rick memberi masukan bagi album baru Danny, pun sebaliknya, Danny diajak menikmati nada-nada gubahan Rick.
Kemudian dimainkanlah How to Write a Song Without You, yang aslinya ditelurkan oleh otak brilian John Carney dan Gary Clark. Sebuah alunan catchy yang menolak lenyap dan senyap dari otak saya kendati hari demi hari sudah berlalu. Di semesta filmnya, dikisahkan bahwa Rick belum berhasil menyelesaikan lagu yang seketika mencuri hati Danny tersebut. Malam magis pun berakhir, dan keduanya mesti kembali menempuh kenyataan masing-masing.
Enam bulan berselang, dan album baru Danny mereguk sukses luar biasa berkat sebuah single yang membuat jiwa jutaan pendengar bertekuk lutut. Judulnya? How to Write a Song Without You. Pencurian karya telah terjadi. Tapi, seberapa pun kerasnya ia meyakinkan keluarga maupun rekan-rekan, Rick kesulitan membuktikan keabsahan tudingan kalau Danny mencuri lagunya. Pasalnya, tidak ada hasil rekaman selaku barang bukti.
Petualangan Rick menggugat keadilan, disajikan oleh Carney dalam wujud pembauran menyenangkan antara komedi ringan dengan drama sarat rasa sakit. Saya memahami alasan Rick sebegitu terluka, bahkan sampai di titik tercipta kesenjangan dengan keluarganya sendiri. Di mata protagonis kita, tidak hanya sekeping lagu atau potensi banjir harta hasil royalti yang dicuri, namun skenario impian di mana mimpi siang bolongnya menyabet kejayaan di industri musik dapat bertaut dengan realita.
Tapi sekali lagi, lagu baru menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu. How to Write a Song Without You lebih punya makna mendalam bagi Rick ketimbang Danny. "It's just a nice song" ucap Danny pada kekasihnya, Marcia (Havana Rose Liu), yang kemudian merespon, "But it's real". Masalahnya, makna lagu tersebut tidaklah nyata untuk Danny.
Power Ballad bukan semata mendiskusikan kompleksitas tangga nada, tapi kisah-kisah di baliknya yang banyak menyertakan rasa-rasa milik manusia. Berpijak pada prinsip tersebut, John Carney menggelar adegan klimaksnya yang luar biasa efektif memorak-porandakan dinding pertahanan emosi penonton. Memanfaatkan daya bunuh tinggi dari korus How to Write a Song Without You, Carney memotret pemandangan indah tatkala sebuah lagu akhirnya memberi makna bagi manusia-manusia yang berkaitan dengannya.
REVIEW - TOY STORY 5
Terdapat momen saat Jessie (Joan Cusack) menatap pemilik pertamanya, Emily, dengan "ekspresi mainan" yang terlihat kosong. Tanpa Emily tahu mainan gadis koboi favoritnya itu memiliki rasa, dan tatapan tersebut sarat akan kasih sayang. Seketika saya berandai-andai, apakah mainan saya semasa kecil dulu juga memberi tatapan serupa. Apakah mereka juga merasa sedih kala kebersamaan kami perlahan tergerus seiring singgahnya teknologi dalam hidup saya?
Bentrokan antara mainan konvensional dengan teknologi bukanlah problematika kemarin sore. Tapi berbeda dengan konsol gim, kapasitas smartphone atau tablet mampu mencakup seluruh aspek di kehidupan anak. Alhasil, ancaman yang dirasakan Jessie, Buzz (Tim Allen), dan para mainan lain berada di titik tertinggi sewaktu Bonnie (Scarlett Spears) diberi hadiah tablet bernama Lilypad "Lily" (Greta Lee) oleh orang tuanya.
Bonnie memerlukan Lily guna terkoneksi dengan teman-teman sebaya yang lebih banyak hidup di dunia maya. Tapi apakah berarti ia tidak lagi memerlukan mainan kesayangannya? Situasi begitu genting, sampai Woody (Tom Hanks) dengan kepala yang mulai membotak mesti kembali untuk mengulurkan bantuan.
Di lain pihak, sesekali kita diajak mengikuti petualangan sekelompok mainan Buzz Lightyear versi baru, pasca kargo yang membawa mereka karam di sebuah pulau kosong. Adegan pembuka yang mengambil latar di pulau tersebut jadi ajang unjuk gigi bagi departemen animasi yang kembali memberi terobosan kualitas. Detail alamnya luar biasa nyata, tidak jarang Toy Story 5 seolah bak hibrida berisi karakter animasi yang eksis di dunia live action.
Saya kembali terpukau saat latarnya beralih ke rumah lama Emily yang kembali dikunjungi oleh Jessie akibat suatu "kecelakaan". Semburat sinar surya yang mempersilakan para mainan menikmati kehangatannya tampak amat indah. Lalu ketika hati mereka dirundung pilu, seisi rumah terlihat kelabu seolah dikuasai mendung. Disokong jajaran tim handal, Andrew Stanton selaku sutradara membuktikan bahwa film animasi sudah makin piawai memanipulasi emosi penonton lewat permainan cahaya.
Singkat cerita, Buzz dan Woody mulai mencari keberadaan Jessie, dan film Toy Story pun kembali menggunakan "misi penyelamatan" selaku alat penggerak cerita. Kebencian protagonisnya terhadap Lilypad si benda modern mengingatkan pada keresahan Woody atas kehadiran Buzz di film pertama, dan nantinya, kecemasan mainan akan fakta bahwa si pemilik kelak bakal tumbuh dewasa, juga mengundang kesamaan dengan pokok bahasan film ketiga.
Dibanding judul-judul sebelumnya, Toy Story 5 memang paling banyak menerapkan pengulangan. Tapi toh dampaknya tidak melemah. Salah satunya karena naskah buatan Andrew Stanton dan Kenna Harris selalu punya cara memukau penonton lewat kreativitas mereka mengeksplorasi bangunan dunianya. Sebuah dunia yang sejatinya begitu kaya, namun tak disadari manusia dengan segala ketidakpedulian mereka akan hal kecil.
Tentunya air mata penonton dewasa masih akan tumpah ruah mendapati trauma berkepanjangan di batin Jessie diberi konklusi, yang dimotori kepekaan luar biasa dalam pengadeganan Stanton. Di situlah kita menyaksikan cinta para mainan kepada sang pemilik akhirnya berbalas, seiring timbulnya kesadaran kalau pendewasaan tidak selalu bersinonim dengan melupakan.
Di luar dugaan, proses yang dilalui Lily tidak kalah menyentuh. Serupa Jessie (dan banyak dari kita yang sudah terlalu kenyang menyantap rasa pahit kehilangan serta kegagalan), Lily mulai mempertanyakan seberapa berharga dirinya. Hati saya patah saat karakter yang awalnya nampak seperti antagonis mengesalkan ini mengambil keputusan ekstrim didorong oleh keputusasaan.
Toy Story 5 memang tidak memprovokasi kita untuk serta merta membenci teknologi. Cepat atau lambat teknologi akan menginvasi hampir seluruh sendi keseharian manusia, dan alih-alih seutuhnya menampik, film ini mengajak kita belajar hidup bersama sembari mencari cara untuk memanfaatkannya secara bijak.
Sedikit disayangkan, babak ketiganya kekurangan presentasi seru guna menguatkan puncak penceritaan. Keputusan menaruh fokus pada proses internal Bonnie menggali keberanian yang terkubur terlampau jauh dalam dirinya bukan berarti tiada kesempatan guna mengatrol kualitas spektakel. Setidaknya ia memberi persembahan spesial berupa salah satu pemandangan paling romantis sepanjang sejarah Toy Story.
Di tengah perjalanan menuruni mal selepas menonton, perhatian saya dan istri tercuri oleh seorang anak yang nampak bersemangat membawa pulang mainan yang baru dibelikan oleh orang tuanya. Seketika kenangan soal mainan masa kecil kembali memenuhi dada. Saya teringat bahwa dahulu aktivitas bermain mendatangkan kebahagiaan yang sedemikian besar, jadi rasanya, mainan-mainan saya pun menyimpan kebahagiaan serupa. Semoga.
REVIEW - WARKOP DKI: VIRALIN DOOOONG..!!
Media sosial sempat ramai saat potret mendiang Dono yang berdiri dikelilingi sepasukan tentara sembari mengenakan kaos bertuliskan "We fight for a clean government", disandingkan dengan foto Desta, aktor yang memerankannya di Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sedang berjoget ria di tengah kampanye rezim. Tapi haruskah kita memusingkan sikap politik para pelakon?
Mungkin tidak bila: 1) Dono tidak vokal menyentil pemerintah, 2) Warkop DKI merupakan grup lawak apolitis, 3) Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sama sekali tidak mengangkat isu politis. Ketiga poin di atas tidak terpenuhi. Kendati minim secara kuantitas, tiap humor politis dilontarkan oleh film ini, semuanya keluar dari mulut Desta. Sulit bagi saya ikut tertawa.
Patut disayangkan, sebab Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memiliki poin yang tidak dipunyai para pendahulunya selaku produk "reborn", yakni penceritaan memadai. Alurnya menyoroti sulitnya trio Dono (Deddy Mahendra Desta), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) lepas dari jerat kemiskinan. Sampai tercetuslah ide membuat konten di YouTube. Rasa lapar membuat mereka "kebelet viral".
Tentu dua jam durasinya masih tersusun atas sketsa-sketsa, tapi naskah buatan Theo Arnoldy, Dany Beler (juga selaku konsultan komedi), Daryl Wilson, dan sang sutradara, Herwin Novianto, bisa menjahit seluruhnya secara rapi. Masing-masing sketsa tidak dibiarkan meluber ke segala penjuru, melainkan digiring supaya mengalir ke arah cerita utama.
Proses penulisannya turut melibatkan tiga figur ternama Tailan, Banjong Pisanthanakun, Thamsatid Charoenrittichai, dan Ter Chantavit Dhanasevi sebagai penggagas ide cerita. Pengaruh mereka baru benar-benar terasa di paruh kedua, tatkala trio protagonisnya nekat membuat konten horor yang melibatkan penggunaan mayat sungguhan.
Sentuhan horornya tidaklah baru, tapi efektif menjalankan peran sebagai penyegar suasana di sela-sela usaha tiga aktor utamanya untuk terlihat dan terdengar semirip mungkin dengan Warkop DKI orisinal, sembari mengenakan wig bergaris rambut buruk. Kita sudah familiar dengan interpretasi Vino dan Tora dalam dua film reborn pertama, sehingga wajar jika sorotan lebih diarahkan pada Desta.
Baik cara bicara, permainan raut wajah, sampai olah tubuh dari Desta memang sangat mirip dengan Dono. Mengesankan? Ya, kendati performanya lebih dekat ke arah impression seorang komedian ala sketsa Saturday Night Live ketimbang "akting" sebagaimana ditampakkan Abimana Aryasatya di film pertama. Desta sekadar meniru tampilan luar daripada membuka pintu agar sosok Dono sungguh-sungguh "merasuk" dalam jiwanya.
Keseluruhan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memang terasa bak impression bagi film-film klasik Warkop DKI. Mirip dari luar, namun kurang perihal kedalaman yang substansial. Para penulisnya jelas sudah khatam menonton semua film Warkop DKI. Terlihat dari kesanggupan mereka memadupadankan serta memodifikasi lelucon, misal ketika memelintir "adegan kap mobil" dari Kesempatan dalam Kesempitan (1985).
Masalahnya, humor film ini cenderung tak bertaring. Beberapa menggelitik, tapi lebih banyak yang terkesan kekurangan kreativitas. Karya-karya terbaik Warkop DKI di layar lebar senantiasa jeli mencari titik tengah antara kekonyolan ringan dengan kreativitas sarat ketidakterdugaan. Mereka adalah komedian yang paling piawai menyamarkan kejeniusan sebagai kebodohan.
Begitu pula perihal guyonan beraroma politis yang di sini dilempar secara asal, hanya bersifat performatif dan seolah eksis semata karena Warkop DKI memang gemar mencolek tema tersebut alih-alih didasari keresahan nyata.
Ada perasaan mengganjal seusai menyaksikan konklusi serba bahagia kepunyaan film ini. Seketika saya teringat sebaris lirik lagu tema serial televisi Warkop DKI yang berbunyi, "Kita nggak pernah sukses." Warkop DKI memang lebih sering mereguk kesialan. Selain demi menunjang kelucuan, ketidaksuksesan mereka kerap dijadikan cara menyentil praktik kecurangan.
Dono, Kasino, dan Indro tidak pernah lolos dari kesialan, yang bak mengakali sistem sebagai cara instan meraup keuntungan, atau tatkala pikiran mesum menguasai otak mereka. Kecurangan dan seksisme selalu dikenai balasan setimpal di film-film Warkop DKI. Maka, ketika Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memilih konklusi aman nan bahagia, ia pun gagal mengkritisi kebelet viralnya para manusia modern.
Di fase epilog, kita disuguhi pemandangan ketika Dono, Kasino, dan Indro memberi tumpangan kepada tiga perempuan berpakaian seksi, lalu mengajak mereka ke pantai sambil berujar, "Ini baru Warkop!" Film-film Warkop DKI adalah representasi era di mana ia lahir. Judul-judul produksi Soraya yang sarat seksisme berlatar pantai memberi cerminan akan masa gelap perfilman Indonesia di era 90-an. Momen penutup tersebut makin menegaskan ketidakmampuan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! mewakili zamannya.



%20(1).png)





.png)

