Tampilkan postingan dengan label Anggu Batari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anggu Batari. Tampilkan semua postingan
HALO MAKASSAR (2018)
Rasyidharry
Kalau film sama seperti agama, di mana niat baik telah
mendatangkan pahala, saya akan memberikan Halo
Makassar penilaian positif. Film buatan Ihdar Nur yang sebelumnya menjabat
sebagai penata kamera di Uang Panai’
(2016) ini tanpa intensi macam-macam. Tidak ada tuntutan berpesan moral, tidak
ada propaganda, tidak ada pula niatan sok artsy.
Menulis naskahnya bersama Matamatahari, Ihdar Nur cuma ingin menghibur (bedakan
“menghibur” dan “jualan”) lewat kisah cinta berbumbu komedi. Tapi film bukan
agama. Niat baik saja tak cukup, sehingga saya harus adil mengakui bahwa kekurangan
Halo Makassar menenggelamkan kelebihannya.
Seperti Uang Panai’,
talenta komedi berbakat mengisi film ini. Tapi seperti Uang Panai’ pula, naskahnya tak sanggup menyatukan keping-keping
komedi secara rapi, agar tak terasa bak kompilasi sketsa. Pun sketsanya memakai
formula yang terus diulang: Dua sopir taksi, Bimbi dan Mellonk (diperankan
Bimbi dan Mellonk) bertingkah bodoh, seringkali terlibat pertengkaran konyol, sebelum
diakhiri bunyi klise “Ba Dum Tss”.
Lucu? Di beberapa kesempatan, ya. Meski dengan talenta Bimbi dan Mellonk, daya
bunuh humornya berpotensi meningkat bila berani menambah tingkat absurditas.
Dua adegan pendek yang tampil sebelum logo rumah produksi membuat
saya makin mempertanyakan pilihan struktur filmnya. Salah satu adegannya jadi perkenalan penonton
pada Diat (Rizaf Ahdiat), komposer jenius asal Jakarta yang baru menerima
pekerjaan membuat musik dari satu perusahaan di Makassar. Perusahaan apa? Musik
untuk apa? Jangan berharap mendapat jawaban. Sebab Diat pun hanya dihubungi via
telepon, yang menanyakan, apakah ia mau menerima pekerjaan di Makassar? Tanpa
menggali informasi lebih jauh, dia langsung mengiyakan. Diat memang tak suka
basa-basi. Bahkan dalam pertemuan pertama di kantor klien, ia bersikap tak acuh,
sibuk dengan alat perekamnya, lalu melontarkan pernyataan sombong bahwa “musik
bagus itu biasa”.
Tapi Diat tak membenci sosialisasi. Keramahannya pada puteri
pemilik studio rekaman yang masih kecil jadi bukti. Penokohannya memang penuh
tanda tanya. Satu hal pasti, suara Anggu (Anggu Batari), operator taksi yang
diidolakan penumpang karena celotehan lucunya, meluluhkan hatinya. Diat pun
sibuk merekam suara Anggu, melupakan kewajibannya membuat musik. Cara bicara Anggu
Batari mampu mengingatkan pada pengalaman terpikat suara penyiar radio,
yang saya yakin, pernah dialami kebanyakan laki-laki. Ditambah polah lucu yang
memancarkan aura positif plus senyum manis penyingkap gingsul, Anggu berjasa
meniupkan rasa manis dalam romansa dua orang asing ini.
Anggu mulai menyadari ketertarikan Diat ketika alat rekam
sang komposer handal asal ibukota itu tertinggal di taksi. Anggu menemukannya,
tapi melanjutkan pola naskah Halo
Makassar yang penuh tanda tanya soal motivasi karakter, ia menunda
mengembalikan perekam itu. Apabila ia mempertanyakan intensi Diat, bukankah
lebih baik segera mengembalikannya lalu bertanya langsung atau melaporkannya pada bos? Keputusan Anggu
membuatnya diskors selama tiga hari, mengakibatkan taksi-taksi
kesulitan memperoleh penumpang, sebab suara Anggu adalah hal yang mereka
nantikan. Logis? Tentu tidak. Namun masalahnya bukan soal logika, melainkan kegagalan
menjadikan situasi itu kekonyolan absurd selaku bentuk penolakan Halo Makassar menuruti logika.
Kekurangan naskahnya terulang di babak akhir yang buru-buru, nihil puncak emosi dari momen yang
telah dibangun sepanjang durasi. Tapi saya tidak terkejut. Pasca mendapati
berbagai kelemahan sebelumnya, mestinya penonton bisa mencium gelagat kelemahan
yang satu ini. Justru tata suaranya yang amat disayangkan. Memiliki tokoh utama
seorang komposer yang mencintai wanita karena suaranya, telinga saya justru
kerap terganggu oleh departemen suara, apalagi saat musik menampilkan distorsi
gitar. Benar jika Halo
Makassar belum bisa disebut baik. Tapi saya mengajak anda menontonnya,
sebab dengan intensi murni (baca: menghibur) pembuatnya, makin besar dukungan
publik, saya yakin kualitas karya bakal bertambah.
Untuk ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:
April 14, 2018
Anggu Batari
,
Bimbi
,
Comedy
,
Ihdar Nur
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Matamatahari
,
Mellonk
,
REVIEW
,
Rizaf Ahdiat
,
Romance
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



