Tampilkan postingan dengan label Bastian Steel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bastian Steel. Tampilkan semua postingan
LOVE FOR SALE 2 (2019)
Rasyidharry
Berlandaskan premis unik, akting
ciamik, dan departemen artistik menarik, tahun
lalu Love For Sale mampu mencuri
perhatian, walau berbeda dengan pandangan umum, saya beranggapan naskah buatan
sutradara Andibachtiar Yusuf (Hari Ini
Pasti Menang, Bridezilla) dan M. Irfan Ramly (Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Surat dari Praha) kurang matang
dalam menangani konsep, khususnya di fase konklusi. Love For Sale 2 berhasil memperbaiki itu.
Idenya masih serupa, yakni mengenai
“kunjungan” Arini (Della Dartyan) dari aplikasi kontak jodoh Love Inc., ke
kehidupan protagonis. Bedanya, tidak ada usaha setengah-setengah menjelaskan
soal Love Inc. sebagaimana film pertama. Lubang alur diminimalisir, dan sewaktu
konflik menemukan resolusi, tidak ada distraksi. Konsentrasi sepenuhnya
tercurah pada permainan rasa dalam drama keluarga yang kini jadi fokus utama.
Dibuka oleh pesta pernikahan
beradat Minang yang dibungkus menggunakan satu take panjang, kita segera tahu masalah macam apa yang segera
menjelang. Ican (Adipati Dolken) terus didorong oleh sang ibu, Rosmaida (Ratna
Riantiarno), agar segera menikah. Berulang kali Rosmaida berusaha menjodohkan
Ican, tapi berulang kali pula puteranya itu menolak. Berbanding terbalik dengan
Richard (Gading Marten) di film pertama, Ican doyan berganti-ganti pasangan,
namun enggan melakoni hubungan serius.
Tekanan dari orang tua agar segera
menuntaskan masa lajang tentu terdengar familiar sebab banyak terjadi di
sekitar kita, bahkan mungkin menimpa kita sendiri. Love For Sale 2 merupakan satir menggelitik atas problematika
tersebut. Tentang urgensi menikah. Kunci sindirannya terletak pada kontradiksi
dalam kata-kata maupun perilaku karakter. Rosmaida terus meminta Ican menikah,
tapi saat melihat puteranya itu berbicara dengan wanita, ia buru-buru berujar “Jangan
deket-deket. Nanti fitnah”. Timbul pertanyaan, “Apakah Rosmaida (dan para orang
tua lain) ingin anaknya menikah, atau MENIKAHI PILIHAN MEREKA?”.
Cara pandang masyarakat soal
pernikahan juga tidak ketinggalan disentil. Misalnya saat Ndoy (Ariyo Wahab),
kakak Ican, menyindir seorang karakter yang memasang wajah kucel seorang
karakter akibat ditinggal pergi istrinya, lalu sejurus kemudian menyarankan
Ican segera menikah supaya hidupnya tentram. Lagi-lagi komedi satir berbasis
kontradiksi.
Meski melempar sindiran, Love For Sale 2 menolak tampil berat
sebelah. Rosmaida sekilas menyebalkan, layaknya banyak sosok ibu, menyuruh Ican
segera menikah, selalu cerewet menasihati agar anak-anaknya rajin salat dan
berbagai petuah lain. Rosmaida juga bukan mertua yang menyenangkan bagi istri
Ndoy, Maya (Putri Ayudya), yang walau tengah hamil tua, tetap mendapat
perlakuan tidak menyenangkan. Tapi layaknya seorang ibu pula, selalu ada cinta,
dan film ini tidak lupa menekankan cinta itu. Karena mungkin, Rosmaida hanya
butuh ditemani dan dimengerti. Di situlah Arini berperan.
Demi membahagiakan ibunya, Ican
menggunakan layanan Love Inc., memesan calon istri palsu sesuai preferensi sang
ibu. Jika film pertama mengetengahkan peran Arini menumbuhkan semangat hidup
Richard, di sekuelnya, giliran harmoni keluarga Ican yang ia pupuk. Tertinggal
kekecewaan di fase ini, karena proses “perbaikan” yang Arini lakukan cuma
nampak di permukaan, biarpun gagasan “Arini membawa kebahagiaan sebagai alat
menyembuhkan” telah tersampaikan.
Satu lagi keunggulan sekuel ini
dibanding pendahulunya adalah penokohan Arini. Menampilkan Della Dartyan dengan
senyum yang bisa membuat siapa saja seketika jatuh hati, Arini masih gadis dengan
sensitivitas tinggi, sehingga tahu bagaimana memberi respon yang diinginkan
lawan interaksinya. Kali ini ruang personal Arini mulai dikunjungi. Sosoknya
makin dimanusiakan. Sebuah obrolan Arini dengan Rosmaida di suatu subuh—yang juga
jadi ajang pembuktian kepiawaian Della mengontrol luapan emosi—menyiratkan bahwa
kunjungan kali ini terasa lebih personal bagi Arini. Dugaan jika Love Inc. bukan
sekadar tempat Arini bekerja turut menguat.
Andibachtiar Yusuf mengulangi pencapaiannya
di departemen penyutradaraan lewat kepekaan menangkap emosi suatu momen, dan
menjadikan filmnya tidak semata pameran gambar cantik. Tidak kalah mengagumkan
adalah perhatian Andibachtiar terhadap detail peristiwa yang bertempat di belakang
fokus kamera. Contohnya di adegan pembuka. Daripada hanya memakai figuran, ia
menempatkan Buncun (Bastian Steel) si putera bungsu bersama istrinya, Endah
(Taskya Namya). Keduanya cuma duduk menikmati makanan , tapi itu saja sudah
cukup menghidupkan sebuah peristiwa. Atau sewaktu Ican mengobrol dengan Ibrahim
(Yayu Unru) sementara di belakang, orang-orang asyik bermain domino, dengan
gestur serta suara yang tidak terlalu besar sampai mengganggu fokus, namun
tidak terlalu kecil agar penonton bisa menyadari eksistensi mereka.
Oktober 26, 2019
Adipati Dolken
,
Andibachtiar Yusuf
,
Ariyo Wahab
,
Bagus
,
Bastian Steel
,
Della Dartyan
,
Drama
,
Gading Marten
,
Indonesian Film
,
M. Irfan Ramly
,
Putri Ayudya
,
Ratna Riantiarno
,
REVIEW
,
Taskya Namya
,
Yayu AW Unru
TABU (2019)
Rasyidharry
Horor lokal berkualitas bobrok
memang mengesalkan, namun lebih menyesakkan menonton sajian seperti Tabu, yang menyimpan intensi baik untuk
tak sekadar membuat produk asal jadi, tetapi berakhir sebagai kegagalan akibat
nyaris tiada satu pun elemen yang bekerja. Ditulis naskahnya oleh Haqi Achmad (Sajen, Rompis, Ada Cinta di SMA), pondasi
Tabu mengikuti jalur formulaik soal
siswa-siswi SMA yang ingin menyambangi tempat angker demi menangkap penampakan
hantu. Momen-momen “wajib” seperti
menyusun rencana perjalanan di sekolah lengkap dengan rangkaian pembicaraan
yang telah kita dengar ratusan kali di film-film setipe lain, hingga diperlihatkannya
kliping beberapa lokasi berhantu di kamar salah satu karakternya, bisa anda
temukan di sini.
Pembeda film karya Angling Sagaran
(From London to Bali, Total Chaos)
dari banyak kompatriotnya sesama horor semenjana adalah keberanian untuk tak
bergantung pada hantu yang menyergap tiap lima menit. Haqi berusaha meluangkan
waktu pada eksplorasi karakter sembari menyelipkan konflik keluarga
disfungsional di antaranya. Supaya berhasil, penonton perlu dibuat menyukai
karakter-karakter beserta interaksi mereka.
Tapi sewaktu yang muncul adalah dialog
hambar, penokohan membosankan, plus akting seadanya, interaksi enam remaja yang
nekat mendatangi Leuweung Hejo ini pun kekurangan rasa dan warna agar bisa
dinikmati. Keliru jika mengira kegemaran Mahir (Bastian Steel) mengumbar rayuan gombal kepada Muti (Agatha Chelsea) dapat memancing senyum. Hasilnya ironis. Keberanian menekan kuantitas jump scare berujung menjadi pisau bermata dua, sebab Tabu bergerak tak bertenaga bagai orang
kekurangan gizi. Membosankan.
Bahkan setelah mereka memutuskan
pulang lebih cepat dari Leuweung Hejo, ketika Diaz (Angga Yunanda) kesurupan—yang
dikarenakan inkonsistensi akting, kadang tampak seperti mayat hidup, kadang
seperti demam, kadang seperti anak kurang makan—sedangkan Keyla (Isel
Fricella), karena alasan yang diungkap jelang akhir, memaksa kawan-kawannya
membawa pulang bocah bisu misterius yang mereka temui di tengah hutan.
Andai pengembangan karakternya
berhasil, begitu teror yang membuntuti keenam remaja ini mulai membawa maut, Tabu berpotensi jadi horor yang menusuk
perasaan. Sebab secara struktur penceritaan, pendekatan Haqi sudah tepat dengan
mengajak penonton menghabiskan waktu bersama karakternya sebelum melepaskan
teror ke permukaan. Pun sebuah subplot mengenai rahasia Leuweung Hejo serta
kaitannya dengan beberapa karakter disajikan terburu-buru sehingga hanya
melahirkan eksplorasi mitologi setengah matang.
Tabu menyimpan segelinter ide potensial perihal cara
menakut-nakuti, namun penyutradaraan Angling Sagaran terlampau lemah guna
memaksimalkannya, termasuk dalam klimaks tak bertaring miliknya. Ditambah tata
rias medioker, kita patut bersyukur Tabu
enggan melempar banyak jump scare, sebab
dengan begitu, kelemahan-kelemahan di atas tak berkesempatan menyeruak lebih
sering. Filmnya ditutup lewat cliffhanger,
yang lagi-lagi terdengar menjanjikan di atas kertas tapi berakhir tanpa
dampak karena kegagalan Tabu
memancing kepedulian terhadap karakternya.
Januari 25, 2019
Agatha Chelsea
,
Angga Yunanda
,
Angling Sagaran
,
Bastian Steel
,
Haqi Achmad
,
horror
,
Indonesian Film
,
Isel Fricella
,
Kurang
,
REVIEW
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



