Tampilkan postingan dengan label Donny Damara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Donny Damara. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MENUNGGU BUNDA

Seusai pemutaran, Richard Oh selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menyampaikan bahwa Menunggu Bunda terinspirasi dari pengalamannya merawat sang ibunda di rumah sakit. Richard mempertanyakan, "Apakah ibu sedang menderita?". Saya mendengar kejujuran (dan pilu) di balik kata-katanya. Saya begitu ingin menyukai Menunggu Bunda, tapi tak bisa.

Walau jujur sekaligus personal, sayangnya ini karya terlemah Richard. Di bawah eksperimentasi gerak yang kurang berhasil di Love is a Bird (2018), pula di bawah Perburuan (2019) yang juga kurang berhasil selaku adaptasi novel. 

Sejak melihat Putri Ayudya dibalut tata rias seadanya guna memerankan wanita 53 tahun bernama Yenny, saya sudah mencium ketidakberesan di sini, walau akting Putri tetap elemen terbaik Menunggu Bunda. Alkisah, Yenny tengah koma. Ketiga anaknya, Alya (Adinda Thomas), Alma (Steffi Zamora), dan Andra (Rey Mbayang), juga sang suami yang menderita alzheimer, Marsio (Donny Damara), bersama-sama menjaga Yenny. Jika selama ini Yenny bersabar menunggu ketiga anaknya beranjak dewasa, sekarang giliran mereka menunggu sang bunda membuka mata.

Selain Yenny sekeluarga, kita juga melihat diskusi antara Dr. Myra (Gisele Calista) dan Dr. Miyagi (Nobuyuki Suzuki), terkait penanganan terbaik bagi si pasien. Konon, Dr. Miyagi adalah figur terkemuka. Seorang profesor dari Universitas Tokyo. Tapi jangankan urusan menjelaskan perihal medis, cara berdirinya kala "mengecek" kondisi Yenny saja lebih tampak seperti orang kebingungan ketimbang dokter ahli. Canggung.

Menunggu Bunda adalah sajian canggung, termasuk soal penuturan. Entah satu lagi eksperimentasi atau murni inkonsistensi (baca: kebingungan), Richard memadukan warna arthouse dan melodrama, yang alih-alih saling melengkapi dan membentuk hibrida menarik, justru bertentangan bagai air dan minyak. 

Nuansa melodrama mayoritas diciptakan musik mendayu-dayu yang penggunaannya berlebihan. Sedikit saja ada perubahan emosi, musik seketika menggelegar, seolah ada karakter meregang nyawa, atau hendak terjadi perkelahian. 

Di seberang Yenny, dirawatlah pria tanpa nama, dengan perban di sekujur tubuh layaknya mumi. Pada suatu kesempatan, si pria membaca buku harian, tampak tersentuh sembari mengucapkan nama "Santi", kemudian scoring mengharu-biru terdengar, bak memerintah penonton, "Waktunya kalian bersedih". Tapi siapa Santi? Siapa si pria mumi? Kenapa kita mesti menangisi karakter yang tidak kita kenal?

Si pria mumi dan penjaga toilet yang selalu kesulitan mengisi TTS (Paul Agusta), mewakili sisi artsy filmnya. Sosok-sosok misterius yang berguna merepresentasikan gagasan, ketimbang perwujudan manusia sepenuhnya sesuai realita. Keduanya seperti berasal dari film yang berbeda dengan Yenny sekeluarga. 

Naskah buatan Richard berniat menggugat perspektif tradisional tentang keluarga.  Bagaimana keluarga tidak melulu harus punya hubungan darah. Siapa pun bisa menjadi keluarga yang kita sayangi. Sayangnya, daripada mengeksplorasi secara mendalam, poin tersebut hanya tampil sekelebat, sebelum diposisikan sebagai twist jelang akhir. 

Mungkin Richard ingin menekankan bahwa tidak ada perbedaan antara keluarga sedarah dan tidak, sehingga kisahnya dipresentasikan serupa drama keluarga biasa, sambil merahasiakan fakta mengenai tokohnya. Tapi, seperti permasalahan musik si pria mumi, bagaimana penonton bisa terhubung secara emosional dengan sesuatu yang kita tidak tahu?

Richard menyimpan gagasan-gagasan. Mengenai konsep keluarga, hidup-mati, dan lain-lain. Gagasan, setelah dipoles di sana-sini, berkembang jadi penceritaan. Menunggu Bunda belum tuntas melewati fase tersebut, dan berhenti sebagai gagasan belaka. Kebetulan seusai film ini, saya langsung menonton Just Mom milik Jeihan Angga, yang mengangkat tema sama, namun dengan hasil yang berbanding terbalik. 


(JAFF 2021)

REVIEW - RENTANG KISAH

Rentang Kisah diangkat dari novel non-fiksi berjudul sama mengenai perjuangan YouTuber Gita Savitri Devi kala berkuliah di Jerman. Dan tuturannya sendiri memang tampil seperti buku harian nihil konsep, di mana kisah antara satu halaman dengan halaman lain tidak saling berkaitan, alias tanpa fokus. Ditangani sutradara sekaligus penulis naskah Danial Rifki (Haji Backpacker, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, 99 Nama Cinta), filmnya tersusun atas fragmen-fragmen konflik yang datang dan berlalu semaunya.

Alkisah, Gita (Beby Tsabina) yang kebingungan menentukan arah masa depannya, memilih menerima anjuran sang ibu (Cut Mini) untuk berkuliah di Jerman. Semua didasari nasihat ayahnya (Donny Damara), agar Gita “pergi dan melihat dunia”. Tentu realitanya tidak mudah. Gita menghadapi sekat bahasa, keraguan untuk tetap memakai jilbab, juga masalah romansa tatkala kekasihnya (diperankan Junior Roberts? Entahlah. Penampilannya kurang berkesan) berselingkuh dengan salah satu cara berselingkuh paling bodoh yang pernah saya lihat.

Lupakan soal itu. Mari kembali ke perjalanan Gita, yang sesekali diiringi musik-musik easy listening, khususnya saat nomor-nomor klasik macam Juwita Malam atau Manis dan Sayang diperdengarkan. Gita sempat amat terpukul. Mengakhiri hidup pun sempat dipikirkannya. Beruntung, ia punya beberapa teman. Misalnya Fina (Carmela van der Kruk), sesama mahasiswi asal Jakarta, yang saat diperkenalkan pada kita, seolah bakal beperan besar, namun  kemudian menghilang.

Begitu pula sekelompok mahasiswa Indonesia yang mengajak Gita menjadi model video klip mereka. Apakah remaja-remaja ini membentuk band? Nampaknya. Setidaknya itu yang terlihat saat mereka tampil di sebuah bar, dengan Paul (Bio One), yang di kehidupan nyata akhirnya jadi suami Gita, memegang posisi vokalis. Tapi setelahnya, tak sekalipun kita menyaksikan lagi penampilan mereka di atas panggung, pun video klip tersebut entah hasilnya seperti apa.

Begitulah Rentang Kisah. Sebuah buku harian tanpa arah, tanpa jembatan antara masing-masing masalah. Mendadak Gita sudah resmi berkuliah, padahal beberapa menit sebelumnya masih menjalani studienkolleg (program persiapan sebelum menemuh studi di universitas). Mendadak dia lulus, mendadak mulai membuat vlog, lalu mendadak filmnya usai.

Penuturan berantakan turut terjadi pada elemen drama keluarga. Gita dan orang tuanya hidup terpisah. Gita di Jerman, ibu di Indonesia, ayah di Amerika. Naskahnya gagal melakukan sinkronisasi terhadap ketiganya, guna menyampaikan pesan, bahwa meski terpisah, mereka tetap satu keluarga yang utuh. Saya bahkan sempat mengira sang ayah sudah meninggal.

Padahal film ini punya niat baik mengangkat perihal religiusitas tanpa berceramah. Ada pesan toleransi di sini, contohnya saat alih-alih memaksa Gita terus mengenakan jilbab, sang ibu menyerahkan keputusan itu pada panggilan hati puterinya. Tapi membuat suguhan bernuansa religi yang mengedepankan proses spiritual sungguhan memerlukan pendalaman lebih, yang mana gagal Rentang Kisah lakukan. Para tokoh, khususnya Gita dan Paul, melewati fase besar dalam hidup. Perubahan terjadi, pilihan-pilihan penting diambil, namun perjalanan keduanya tak pernah terasa bermakna, karena lagi-lagi, terkesan mendadak. Penonton tak diajak menyelami lebih jauh ruang spiritial personal mereka, guna memahami pergolakan batin beserta alasan-alasan di balik tiap keputusan.

Jajaran pemainnya tidak buruk. Beby Tsabina mampu memanggul beban membawa filmnya, Cut Mini seperti biasa tak kesulitan menghidupkan figur ibu penuh kasih yang “cair” kala berkomunikasi dengan anaknya, demikian pula Donny Damara dengan penampilan emosional yang bisa saja memancing air mata andai dibarengi penceritaan lebih baik dari naskah. Rentang Kisah bak kumpulan kisah-kisah yang saling merentang terlalu jauh, sampai terasa tak berkaitan. 


Available on DISNEY+ HOTSTAR

 

99 NAMA CINTA (2019)

99 Nama Cinta membuktikan jika film bernapas religi cenderung tampil lebih baik bila digarap oleh figur yang tidak “mabuk agama”. Mungkin anda tidak menyangka, tapi Garin Nugroho merupakan penulis naskah dalam karya teranyar sutradara Danial Rifki (Haji Backpacker, Meet Me After Sunset) ini. Walau jauh dari sempurna, damai rasanya mendapati di sini tidak ada kesan memaksa, menghakimi, menyudutkan, apalagi mengafirkan. Bahkan di akhir cerita, protagonisnya tak perlu terdorong mengenakan jilbab selaku bentuk “menemukan iman”.

Protagonis yang dimaksud bernama Talia (Acha Septriassa), pembaca acara gosip televisi dengan rating tinggi berjudul Bibir Talia. Prinsip “semua cuma bisnis, jangan bawa perasaan” diusung Talia. Baginya, kesuksesan program merupakan hal utama, sedangkan sisi kemanusiaan dan moralitas jadi nomor kesekian. Talia tidak ragu menjebak narasumber, mengadakan wawancara tanpa persetujuan demi rating. Talia tidak melangkah di jalan Allah, itu pasti.

Sampai datang ustaz muda misterius, mengaku diperintah oleh ibunda Talia (Ira Wibowo) agar mengajarinya mengaji. Kiblat (Deva Mahenra) nama sang ustaz. Rupanya ia putera Kiai Umar (Donny Damara), kawan lama orang tua Talia, yang dahulu menerima bantuan kala mendirikan pondok pesantren. Kedatangan Kiblat didasari atas janji Kiai Umar membalas budi dalam bentuk pembagian ilmu.

Sekilas 99 Nama Cinta tak ada bedanya dengan film religi kebanyakan. Dua sejoli berlawanan sikap saling jatuh cinta, lalu akhirnya si alim mampu menggiring si biang maksiat menemukan hidayah. Naskah buatan Garin tetap bermuara ke sana, namun proses beserta segala pernak-perniknya jadi pembeda. Melihat penggambaran Kiblat sebagai ulama muda berparas rupawan berpenampilan modis, Garin ingin menjauhkan dakwah Islam dari kekakuan.

Berpijak pada niatan tersebut, dihadirkanlah karakter Husna (Chicki Fawzi), ustazah muda lulusan universitas Korea Selatan yang mengajar di pondok pesantren Kiblat lewat media musik. Membawa ukulele, Husna bernyanyi di kelas sembari menuturkan bahwa dulu Wali Sanga menyebarkan Islam melalui musik. Bagi yang familiar dengan karya Garin, tentu tahu hal ini selaras dengan kegemarannya menyelipkan elemen kesenian sebagai penguat narasi.

Hubungan Talia dan Kiblat tidak langsung berjalan mulus mengingat keduanya amat berlawanan. Si wanita membawakan acara gosip, sedangkan si pria mengajarkan buruknya aktivitas bergosip kepada para murid. Di film lain, saya yakin Kiblat bakal mengonfrontasi Talia, terang-terangan menghakimi profesinya.Tapi tidak di sini. Kiblat adalah sosok toleran. Menyuarakan itu di kelas merupakan bentuk pelaksanaan kewajiban selaku guru agama, namun di depan Talia, ia enggan melarang, meski tak membenarkan juga. Dan baik Kiblat maupun Kiai Umar tak sekalipun menyuruh Talia beribadah.

Semua perubahan murni terjadi atas kesadaran Talia sendiri, yang bermula saat ia dipindahtugaskan mengurus kuliah subuh yang punya rating buruk dan dipandang sebagai acara buangan akibat sebuah kasus. Talia dipusingkan kala mendapati betapa membosankan program tersebut. Para penonton di studio tertidur, dan ketika dievaluasi, sang ustaz pengisi acara (Dedi “Miing” Gumelar) justru berkata “Acara keagamaan memang berat”. Bagaimana bisa muncul ketertarikan memperdalam agama bila ulama berpikiran demikian? Kita pun dapat menebak apa strategi yang dipilih Talia.

Terkait unsur religi, 99 Nama Cinta tampil memuaskan, bahkan termasuk salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Masalah justru timbul di luar itu. Beberapa detail membuat saya mengernyitkan dahi. Kenapa Talia, si pembawa acara ternama, harus repot-repot naik bus ekonomi kala mengunjungi pondok pesantren? Apa susahnya menyewa sopir? Bukankah ia juga datang diantar sopir? Demi rating sekalipun, bukankah mustahil sebuah stasiun televisi bersedia “mengumpankan” anggota timnya sendiri sebagai bahan gosip?  Demi kesan dramatis, logika dikesampingkan.

Terkait dramatisasi, terdapat momen yang mengganggu, menggelikan alih-alih menggugah akibat pengadeganan berlebihan dari Danial Rifki, walau untuk hal ini, naskahnya ikut bertanggung jawab karena terburu-buru ingin menjabarkan bahwa Talia adalah individu berperasaan. Sementara romansanya justru hambar, sewaktu kecanggungan serta perbedaan Talia dan Kiblat mengurangi quality time keduanya. Sulit memedulikan keberlangsungan percintaan mereka. Setidaknya, seperti biasa, Acha Septriassa masih aktris dengan penampilan dinamis yang mampu diandalkan guna menghembuskan nyawa di tiap adegan, entah di ranah serius (drama) atau komedik.

A MAN CALLED AHOK (2018)

Suka/tidak suka itu urusan lain, tapi mayoritas rakyat Indonesia pasti tahu siapa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok beserta ideologi dan segala sepak terjangnya. Tapi A Man Called Ahok bukan sekedar coba memindahkan Ahok yang publik kenal di artikel media cetak atau layar kaca menuju layar lebar, melainkan memanfaatkan familiaritas penonton terhadap Ahok sebagai pondasi guna menuturkan latar belakang watak dan sikapnya. Kita tahu ia keras, dan film ini jelaskan mengapa ia keras. Kita tahu kebenciannya atas oknum korup, dan film ini jabarkan bagaimana masa lalunya, kehidupannya di Belitung, terutama keluarganya, membentuk kebencian tersebut.

A Man Called Ahok memang akhirnya tampil bagai foreshadowing sepanjang 90 menit, khususnya kala tersaji pembicaraan tentang keyakinan sang ayah, Tjung Kim Nam alias Indra Tjahaja Purnama (Denny Sumargo), bahwa kelak puteranya bakal menjadi pejabat, pula pertanyaan soal “Apa bisa orang Cina jadi pejabat?”. Tapi sebagai suguhan yang bertujuan memberi pemahaman akan karakternya, film yang diadaptasi dari buku berjudul sama karya Rudi Valinka ini, telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Satu hal yang dapat langsung kita pelajari, yakni Ahok merupakan “perwujudan” mendiang ayahnya, pemilik tambang timah yang dijuluki “Tauke” alias “bos besar” berkat kesediaannya selalu mengulurkan tangan menolong orang-orang kesusahan, meski itu memaksanya berhutang sana-sini di tengah kondisi bisnis tak menentu akibat praktek korup. Bukan Tjung Kim Nam saja, semua pengusaha di Belitung harus membayar “uang pelicin” apabila tidak ingin proyeknya dipersulit.

Ahok muda (Eric Febrian) melihat ayahnya sebagai pria penyayang, jujur, namun bisa tegas, keras, bahkan tak segan “menyemprot” karyawan yang bertindak curang lalu memecatnya di muka umum. Singkatnya, serupa Ahok yang kita kenal sebagai Gubernur DKI Jakarta. Terasa bagai kumpulan foreshadowing, untungnya naskah hasil tulisan sutradara Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Noah Awal Semula) bersama Ilya Sigma (Rectoverso, Sundul Gan: The Story of Kaskus) dan Dani Jaka (Modal Dengkul, Pizza Man), rapi dalam merajut cerita yang poin-poinnya saling mendukung ketimbang sebaran keping-keping acak fase hidup karakternya yang dijahit paksa layaknya kelemahan banyak biopic (setidaknya pada 2/3 awal durasi).

Akting jajaran pemain pun membantu A Man Called Ahok melaju mulus sebagai drama keluarga. Denny Sumargo menghadirkan performa terbaik sepanjang karir sebagai pria penuh kepedulian, bapak penyayang, dan pebisnis tegas. Tiga sisi itu mampu ia satukan untuk membentuk karakter yang utuh. Hal serupa layak dialamatkan pada Eriska Rein—yang kembali ke layar lebar setelah 3 tahun—selaku pemeran Buniarti Nigsih alias Cibun, ibunda Ahok. Respon Cibun kala sang suami mengambil uang dari tangannya untuk diberikan pada para peminta bantuan adalah conton kepiawaian Eriska memainkan emosi kecil namun efektif.

Kemudian filmnya melompat menuju masa dewasa Ahok (diperankan Daniel Mananta), sewaktu ia baru kembali ke Belitung setelah merantau, berkuliah di Jakarta. Ahok ingin membantu ayahnya (kini diperankan Chew Kin Wah) yang mulai sakit-sakitan mengurus tambang, sekaligus coba meruntuhkan sistem korup. Tapi eksekusinya tidak semudah di teori. Terdapat perdebatan menarik antara Ahok dan Indra, di mana naskahnya sanggup mengutarakan perspektif berdasar milik kedua pihak, sehingga dapat memancing pemikiran penonton mengenai “Sudut pandang mana yang benar?”. A Man Called Ahok bukan tengah membenarkan praktek suap, namun mengingatkan betapa ada garis batas abu-abu di antara benar dan salah.

Masalah terbesar fase ini terletak di pergantian pemain. Terasa mengganjal, ketika Indra dan Buniarti (ganti diperankan Sita Nursanti) “berubah wajah”, namun Donny Damara, Ferry Salim, hingga Yayu Unru masih tetap memerankan tokoh masing-masing, dengan hanya sedikit modifikasi tata rias. Dunia dalam A Man Called Ahok pun terasa inkonsisten, apalagi ditambah perubahan karakter Indra. Jangan salah, akting Chew Kin Wah masih sehebat biasanya, masih jago memunculkan haru pada momen dramatis. Tapi Indra versi Denny Sumargo dan versi Chew Kin Wah jelas dua karakter berbeda.

Daniel Mananta melakukan impersonasi untuk Ahok sebaik mungkin (kecuali rambut palsunya yang nampak aneh dari depan), walau ada kalanya ia terlihat seperti karikatur, ada kalanya ia berhasil menangani ciri-ciri mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, dari suara, gestur, hingga tabiat. Inilah kesulitan memerankan individu nyata dengan kekhasan yang dikenal luas. Aktor mesti melakukan pendalaman ekstra, sebab jika tidak, kebebasan interpretasi aktingnya bisa terkekang. Di samping jajaran cast yang lebih luwes karena memperoleh kebebasan menafsirkan karakternya, Daniel kerap terjebak permasalahan itu.

Sedangkan di departemen penyutradaraan, Putrama Tuta kembali unjuk gigi, memamerkan kapasitasnya mengkreasi adegan dramatis efektif, yang sesekali bicara hanya lewat visual (shot dari belakang saat Ahok membesuk ayahnya yang jatuh sakit), sesekali lewat kombinasi visual dengan bahasa verbal (shot dari liang kubur dibarengi kalimat “Makasih Pa” ucapan Ahok, yang sempurna merangkum hubungannya dengan sang ayah).

Sayangnya, Tuta sendiri tak kuasa menahan agar filmnya tak kehilangan pijakan di sepertiga akhir, tatkala kita akhirnya tiba di babak politik kehidupan Ahok. Penceritaan A Man Called Ahok menjadi terburu-buru, melompat-lompat. Karena saat itu, praktis semua yang film ini ingin sampaikan (pembentuk sosok Ahok) telah usai, dan masih berlanjut mungkin karena anggapan “Kamu tidak bisa membuat film tentang politikus tanpa menampilkan karir politiknya”. Bagai sekedar memenuhi obligasi, penuturannya tak lagi menyertakan hati, dan berakhir sekedar melakukan checklist. A Man Called Ahok sama sekali tidak buruk, tetapi tokoh seperti Basuki Tjahaja Purnama layak diberi film yang lebih dari sebatas “tidak buruk”.

BUFFALO BOYS (2018)

Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan menyelesaikan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan tepat ke tubuh Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi titik tembak yang jelas tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata. Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, aksi yang dinanti akhirnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang 102 menit Buffalo Boys, yang terasa seperti perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.

Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, dia menunjukkan keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan saat Buffalo Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke Indonesia di era kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan pria tangguh amoral yang akhirnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, karena biar bagaimana, ini negeri Timur.

Jamar dan Suwo jelas tak berada di garis abu-abu. Keduanya pemuda baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas kematian ayah mereka di tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa sejak kecil di Amerika, bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach beserta kaki-tangannya. Sakar memiliki dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan jago memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak dipertanyakan.

Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya luput menyampaikan duka dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para jagoan western beristirahat di malam hari di depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai, jagoan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa lalu dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung dilibatkan, karena akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua pemuda nihil kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar” ketika target mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melakukan perjalanan panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk ditunggu.

Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan riasan “kotor” di sekujur tubuh cocok sebagai karakter yang menghabiskan waktu lama tinggal di wild west, sementara Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di saat bersamaan, Jamar punya kapasitas tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.

Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang jajaran pemain pendukung, termasuk para villain yang punya dandanan sekaligus perilaku unik cenderung aneh macam Alex Abbad dan Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat performa over-the-top yang jelas lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi ancaman pada Jamar dan Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal membalikkan keadaan dengan cepat nan mudah langsung terasa. Di luar tokoh-tokoh yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak wanita Van Trach, yang diperankan Happy Salma, yang memperlihatkan akting dengan kepekaan rasa jauh mengungguli penampil lainnya.

Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski dampaknya menurun akibat dibarengi usaha menghindari gunting sensor lewat penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya adalah pemilihan sudut yang dipakai Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya karena keengganan direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari dekat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas laga, bertambah melelahkan film ini.

Anda bisa berargumen bahwa berbagai judul western terbaik tak memiliki banyak aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah isu sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul ketika filmnya sebatas menunjukkan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo Boys bisa menjadi gambaran alternatif terhadap pertempuran skala kecil bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan dahulu. Namun potensi itu tenggelam bersama poin-poin cerita yang berakhir sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan pelurunya.

Saya begitu menantikan Buffalo Boys karena variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya. Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya mengucap dialog, kerap terbenam. Jadi ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.

LOVE REBORN: KOMIK, MUSIK & KISAH MASA LALU (2018)

Banyak film percintaan remaja kita menyamakan romantisme dengan kalimat puitis, momen cantik nan dramatis, maupun gabungan keduanya. Sebagaimana celetukan tokoh utama film ini, “kayak film-film Michelle Ziudith”. Semua soal momen dan buaian verbal maha dahsyat, tapi jarang yang mempedulikan satu unsur penting, yakni “kebersamaan”. Dalam Love Reborn: Komik, Musik & Kisah Masa Lalu, dua tokoh utama kerap, bahkan nyaris selalu menghabiskan waktu bersama, di mana tercipta interaksi yang awalnya terjadi di tatanan pikir (adu ideologi, pertukaran pendapat), baru kemudian lanjut ke hati. Pun agar peduli akan percintaannya, penonton mesti sering dibawa menyaksikan dinamika tersebut. Love Reborn, meski penuh kelemahan, memiliki elemen vital itu.

Mengingat menghidupkan lagi film (dan sinetron) lawas dengan embel-embel “Reborn” di judul sedang tren, wajar kalau anda sempat mengira film ini merupakan lanjutan atau remake dari Love (2008), yang juga remake film berjudul sama asal Malaysia. Tapi bukan. Kata “Reborn” di sini mewakili proses karakternya menemukan lagi rasa cinta, yang seperti tampak pada sub-judul, erait kaitannya dengan kisah masa lalu. Namanya Kirei (Nadya Arina), komikus muda bertalenta yang apatis terhadap cinta setelah mendapati ayahnya meninggalkan sang ibu (Ira Wibowo). Bagi Kirei, cinta sebatas soal “siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan”. Bahkan saat pria misterius bernama Wijaya (Donny Damara) mulai rutin datang, Kirei merasa takut andai sang ibu jatuh cinta lagi. Sebegitu buruk rupa cinta di matanya.
Wijaya rupanya adalah ayah Bagus (Ardit Erwanda), vokalis “Keras Kepala Band” yang memusuhi Kirei serta komunitas komiknya (atau cosplay?) di kampus. Selain Bagus, band ini terdiri dari Rindu (Rani Ramadhany), Jefry (Indra jegel), dan Sobirin (Jui Purwoto). Mereka membawakan lagu rock asyik berjudul “Freak” yang menyindir kegemaran Kira dan kawan-kawan kepada kultur populer Jepang dan mengesampingkan budaya lokal. Aneh sebenarnya, mengingat rock ‘n roll yang mereka anut pun bukan asli Indonesia, namun setidaknya personel “Keras Kepala Band” berjasa menghadirkan tawa. Jefry si playboy bertampang pas-pasan, Sobirin si anak mama, dan Rindu yang bak preman. Jika biasanya laki-laki berebut untuk berduaan dengan wanita cantik, di sini sebaliknya, karena mereka semua takut pada Rindu. Situasi yang lucu.
Kirei dan Bagus sepakat mengesampingkan perbedaan mereka, lalu bersama-sama menyelidiki ada hubungan apa antara orang tua keduanya. Berbagai tempat, bahkan sampai daerah pinggiran Bogor didatangi berdua, kemudian seperti bisa diduga, perlahan timbul asmara. Cinta itu terlahir kembali. Walau segala aral melintang dapat dihindari apabila mereka langsung menemui Wijaya di hotel yang selalu ia kunjungi, saya menikmati cara naskah garapan Bagus Bramanti (Mencari Hilal, Kartini) dan Gea Rexy (Dear Nathan, Yowis Ben) menyusun perjalanan berbasis napak tilas romansa masa lalu yang diisi oleh beragam landmark. Ya, semua romansa indah memang harus memiliki berbagai landmark.
Dari elemen estetika, sayangnya komik tak dipakai mempercantik tata visual sebagaimana musik kurang dimanfaatkan guna membangun emosi. Akad milik Payung Teduh membuat konklusinya manis, tapi itu lebih karena kekuatannya sebagai lagu yang berdiri sendiri ketimbang kejelian sutradara Jay Sukmo (Catatan Akhir Kuliah, The Chocolate Chance) mengawinkan bahasa visual dengan audio. Tambahan kreativitas—yang lebih dari sekedar mengumpulkan para cosplayer dalam pengadeganan canggung—bakal amat berguna bagi Love Reborn. Komik, musik, dan kisah masa lalu. Ada usaha menjadikan ketiganya terikat, walau akhirnya ikatan itu cuma berakhir di permukaan, alih-alih satu kesatuan yang saling mengisi tanpa bisa dipisahkan.
Setidaknya alasan Kirei dan Bagus jatuh cinta bisa diterima nalar dan hati. Kita menghabiskan cukup waktu bersama mereka, biarpun (lagi-lagi) pengadeganan canggung Jay Sukmo kerap melucuti romantisme. Ardit Erwanda masih kewalahan saat melakoni momen emosional. Belum lagi gabungan artikulasi berantakan plus sound mixing buruk membuat kalimat-kalimat dari mulutnya sulit didengar. Ditunjang penokohan yang juga lemah, karakter Bagus yang sering meletup-letup jadi kurang menarik simpati. Lain cerita dengan Nadya Arina pertengahan tahun nanti juga bakal tampil di Kafir. Cantik, jago mengolah emosi di takaran yang tepat, juga tak mati gaya ketika dituntut bicara tanpa kata, pemilihan arah karir yang sesuai berpotensi menjadikan gadis 20 tahun ini bintang di industri perfilman kita kelak.

GURU NGAJI (2018)


Khususnya di kampung, ustaz, guru ngaji, kiai, atau siapa saja yang dipandang warga sebagai ahli agama adalah sosok terhormat. Sebisa mungkin dia harus tanpa cela, yang akhirnya kerap menimbulkan pengultusan terhadapnya. Guru Ngaji, yang merupakan film kedua Erwin Arnada tahun ini setelah Nini Thowok (di sini ia hanya memakai nama “Erwin”), secara mengejutkan coba melawan kesesatan pikir tersebut. Mukri (Donny Damara), si guru ngaji yang dihormati, diam-diam punya pekerjaan kedua sebagai badut pasar malam. Sang pendidik terhormat jadi bahan tertawaan bocah-bocah kala malam saat ia mengolah banyolan serta trik sulap ketimbang ayat suci Al Qur’an.

Pada praktiknya, Mukri, yang merahasiakan pekerjaan badutnya itu tak hanya dari warga sekampung tapi juga istri dan anaknya, memang tidak dituntut banyak mengutip ayat dalam film ini. Mukri (dan filmnya) enggan berceramah. Sekalinya diminta mengisi khotbah solat Jumat, yang merupakan satu dari hanya dua momen ia mengutip ayat suci sepanjang film, Mukri sempat menolak. Dia memang tak merasa paling ahli, pula menolak dipanggil ustaz. “Saya hanya guru ngaji biasa”, begitu ucapnya. Mukri ada di tengah garis pembatas tipis antara rendah ati dan kurang percaya diri.
Dia pun takut sang istri, Sopiah (Dewi Irawan) malu mengetahu suaminya adalah badut. Mungkin karena Mukri menyadari perilaku konsumtif Sopiah, yang sempat diam-diam mengambil uang pelunas hutang untuk membeli baju. Berbeda dengan Mukri, Sopiah ingin dipandang “tinggi” meski kondisi ekonomi mereka serba kekurangan. Subplot ini nantinya memproduksi salah satu momen paling emosional yang dapat tercapai berkat curahan rasa Dewi Irawan. Mungkin sebagai karakter, Mukri terlalu baik hati, tapi fakta bahwa dia bukan “tukang ceramah” patut diapresiasi. Daripada berkata “pacaran haram”, Mukri justru mendukung Parmin (Ence Bagus), partner badutnya, merebut hati Rahma (Andiana Suri). Karena hal terpenting bagi Mukri adalah membahagiakan sesama.

Naskah buatan Erwin Arnada bersama Alim Sudio (Takut Kawin, Ayat-Ayat Cinta 2) menyusun dengan baik keping-keping kisah soal pencarian kebahagiaan yang didapat dari meraih mimpi. Bukan mimpi muluk, karena bagi para tokohnya, memiliki motor demi merenggut hati gadis pujaan atau mengunjungi Masjid Istiqlal andai tak mampu menginjakkan kaki di Mekah juga sudah cukup. Turut tersirat pula kritik sosial mengenai masyarakat yang membiarkan tindak korupsi Pak Kades (Tarzan) tetapi mengutuk profesi Mukri sebagai badut—yang mana halal—walau elemen ini sekedar numpang lewat tanpa resoulsi memuaskan.
Guru Ngaji masih mengusung formula “penderitaan beruntun” yang menguasai kemiskinan, tapi akting jajaran pemain, terlebih Donny Damara dan Ence Bagus, memudahkan untuk menaruh simpati. Keduanya bukan mengedepankan penderitaan namun ketulusan. Bahkan di mata Ence Bagus yang seolah selalu berkaca-kaca ketika dihadapkan pada persaingan melawan Yanto (Dodit Mulyanto) memperebutkan Rahma pun saya melihat ketulusan. Erwin sendiri bagai tak ingin mengemas segala aspek filmnya sebagai “pesakitan”. Walau mengambil setting di kampung dengan tokoh miskin, kekumuhan urung dieksploitasi. Tata artistiknya justru penuh warna, bahkan cuma sekedar gorden pun tampak merah menyala.

Sayang konklusi yang memaksakan diri menyentuh ranah keberagaman justru memancing kesan problematis. [SPOILER ALERT!!!] Mukri dan Parmin diminta memerankan Santa Claus di acara perayaan Natal dan Tahun Baru sebuah Gereja yang diurus oleh Koh Alung (Verdi Solaiman), sang pemilik pasar malam tempat mereka bekerja. Sempat ragu, tawaran itu akhirnya diterima. Tapi alih-alih Santa Klaus, keduanya, ditambah putera Mukri, Ismail (Akinza Chevalier), datang memakai kostum badut, Gareng, dan Petruk. Alasannya, “toh sama-sama tokoh fiktif”. Argumen itu tidak keliru, tapi memberi kesan tanggung terkait pesan “menghargai keberagaman”. Pun kembali ke tujuan Mukri yang ingin menebar kebahagiaan, apakah anak-anak di kursi penonton bahagia? Bayangkan sebaliknya. Anda datang ke pertunjukkan wayang lalu disuguhi Santa Claus dengan alasan “sama-sama tokoh fiktif kan?”. Apa anda bahagia? Sepertinya tidak. Guru Ngaji memaksa memberi resolusi terhadap hal yang sejatinya tidak perlu dijawab karena bukan itu persoalan utamanya. Paling tidak film ini mencoba, meski serupa usaha Parmin mendekati Rahma, “belum to the max”.