Tampilkan postingan dengan label Iyam Renzia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iyam Renzia. Tampilkan semua postingan
MENDADAK KAYA (2019)
Rasyidharry
Kita semua punya kerabat atau teman
yang berisik, sok asyik, banyak gaya, dan suka melucu walau tidak lucu.
Alih-alih senang menghabiskan waktu bersamanya, kita justru terganggu, berharap
waktu segera berlalu atau orang itu lenyap dari muka Bumi. Begitulah kesan yang
diberikan Mendadak Kaya, sekuel dari DOA: Cari Jodoh yang mengadaptasi komik
strip terbitan Poskota. Artinya, Anggy Umbara sukses menghasilkan dua installment berkualitas tiarap.
Tiga karakter utama kita masih
sama. Doyok (Fedi Nuril) masih membujang, Otoy (Pandji Pragiwaksono) terus
terlibat pertengkaran dengan sang istri, Eli (Nirina Zubir), sementara Ali
Oncom (Dwi Sasono) tetap menghadapi jalan berbatu dalam memperjuangkan
hubungannya dengan Yuli (Jihane Almira). Tentu saja ketiganya masih sama-sama
miskin dan bergelimang hutang.
Ditulis naskahnya oleh Anggy Umbara
bersama Iyam Renzia, Mendadak Kaya menghabiskan
separuh awal durasi menuturkan usaha tiga tokoh utama mencari kerja.
“Menuturkan” di sini bukan berarti bercerita secara layak, melainkan gabungan
sketsa-sketsa konyol soal keseharian Doyok-Otoy-Ali Oncom di tempat kerja. Tidak
ada cerita sungguhan, hanya pameran gaya Anggy (transisi animasi khasnya pun
masih dipertahankan) yang daripada lucu, justru tampak makin murahan.
Saya paham bahwa kemasan
murahannya, baik dari humor atau efek visual, adalah bentuk kesengajaan demi
menyesuaikan target pasarnya, yakni pembaca Poskota yang biasanya berasal dari
kalangan menengah ke bawah. Masalahnya, bukan cuma tidak lucu, gaya sok asyik
Anggy tidak terasa sebagai usaha melucu. Bagian mana yang lucu dari kemunculan
acak efek visual gelembung sabun sekelas video flash?
Apabila kita bedah satu per satu,
sejatinya humor yang film ini tawarkan tidak buruk. Terkesan “murahan”, namun
kekeliruan bukan terletak di situ, melainkan pada nihilnya kesadaran akan timing. Sekitar tiga atau empat titik
memilikinya, tapi menilik kualitas penghantaran komedin secara menyeluruh, saya
yakin itu sekadar kebetulan. Jam rusak saja masih bisa dua kali menunjukkan
waktu yang benar.
Praktis, Mendadak Kaya amat bergantung kepada trio pemeran utama yang
kembali berusaha semaksimal mungkin, khususnya Dwi Sasono, yang sempurna
memerankan karakter komikal berkelakuan antik berfisik unik macam Ali Oncom.
Setelah menanti beberapa lama,
akhirnya kita tiba pada titik di mana trio protagonisnya mendadak kaya, sesuatu
yang dinanti-nanti karena itulah premis dasarnya, tapi justru dari sini Mendadak Kaya berubah dari komedi
medioker menjadi komedi malas. Doyok, Otoy, dan Ali Oncom menghambur-hamburkan
uang, membeli barang-barang mewah sambil bertingkah norak. Klise, tapi tak
sampai menandingi kemalasan fase kala karakternya berlibur.
Berniat ke Disneyland, sebuah
peristiwa bodoh justru membawa mereka berada di JungleLand. Berikutnya, Mendadak Kaya hanya menampilkan
tiap-tiap tokoh menaiki wahana, diselingi humor ala kadarnya yang telah kita
temui jutaan kali (Doyok, Otoy, dan Ali Oncom ketakutan menunggangi wahana lalu
mual selepas melakukannya). Pun waktu dihabiskan terlalu lama, fase ini dapat
menjadi sebuah episode vlog jalan-jalan di YouTube.
Bahkan vlog sepertinya masih lebih
menghibur. Penataan kamera Edi Santoso (9
Naga, Susah Sinyal, DOA: Cari Jodoh) gagal mewakili keseruan aktivitas
senang-senang di taman bermain. Dan tidak peduli dengan kalimat “Cintailah
produk-produk Indonesia”, JungleLand bukanlah Disneyland. Tidak ada cukup
kemeriahan, apalagi saat dibungkus sinematografi sekenanya.
Juni 23, 2019
Anggy Umbara
,
Comedy
,
Dwi Sasono
,
Edi Santoso
,
Fedi Nuril
,
Indonesian Film
,
Iyam Renzia
,
Jelek
,
Jihane Almira
,
Nirina Zubir
,
Pandji Pragiwaksono
,
REVIEW
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

