Tampilkan postingan dengan label Jaume Collet-Serra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jaume Collet-Serra. Tampilkan semua postingan

REVIEW - JUNGLE CRUISE

Jungle Cruise memberi pelajaran besar tentang kesabaran. Kalau mau bersabar, ketika bioskop kembali dibuka, saya bisa menontonnya di layar lebar hanya dengan 35 ribu rupiah. Kalau mau bersabar, mungkin awal November nanti saya bisa menontonnya di Disney+ Hotstar. Sayangnya saya terburu-buru, merogoh kocek sekitar 430 ribu rupiah demi Premier Access, untuk sebuah petualangan membosankan. 

Sebenarnya karya terbaru Jaume Collet-Serra (terkenal lewat jajaran action flick Liam Neeson) ini tidak buruk-buruk amat. Kemungkinan bakal lebih memuaskan di layar lebar. Tapi bukankah semua film demikian? Film bagus akan menjadi luar biasa di bioskop. Sebaliknya, kalau sebuah film harus ditonton di bioskop hanya untuk mencapai level "cukup", pondasinya memang sudah lemah.

Merupakan film keenam (tanpa menghitung empat sekuel Pirates of the Caribbean) yang dibuat berdasarkan wahana Disneyland, Jungle Cruise sebenarnya diawali secara meyakinkan. Berlatar Perang Dunia I, kita bertemu Dr. Lily Houghton (Emily Blunt) dan adiknya, MacGregor (Jack Whitehall), yang tengah mempresentasikan riset soal Tears of the Moon, pohon legenda asal Amerika Selatan, yang konon dapat menyembuhkan segala penyakit.

Presentasi dilakukan di hadapan anggota Royal Society, dengan harapan, mereka memberi Lily akses pada sebuah mata panah, yang dipercaya menyimpan petunjuk mengenai lokasi Tears of the Moon. Ditolak mentah-mentah, Lily terpaksa mencuri mata panah itu, menghadirkan sekuen aksi perdana di Jungle Cruise, yang mengingatkan kita akan keseruan film-film petualangan seperti The African Queen (1951), Sahara (2005), dan tentu saja seri Indiana Jones.

Melalui sekuen itu pula, Blunt membuktikan ia sempurna memerankan jagoan di kisah petualangan. Cerdik, witty, penuh semangat, tak kenal takut, atletis. Aksi "petak umpetnya" kala mencuri mata panah berbekal segudang akal, memenuhi ciri di atas. 

Berikutnya, Lily dan MacGregor tinggal mencari nahkoda yang mau dan mampu membawa mereka melintasi Sungai Amazon. Perkenalkan Frank (Dwayne Johnson), penyedia jasa tur murah, di mana para turis "dihibur" oleh ancaman-ancaman palsu (self-made backside of water, friendly tribe, etc.) dan pelesetan garing. Cara yang cukup mulus perihal mengadaptasi beragam kekhasan wahananya. 

Selepas diskusi alot, Frank bersedia mengantar Lily dan MacGregor. Di sisi lain, Pangeran Joachim (Jesse Plemons) aristokrat Jerman yang berambisi memanfaatkan Tears of the Moon guna memperkuat persenjataan militer di medan perang. Akhirnya petualangan seru nan menegangkan pun dimulai.....well, seharusnya demikian.

Tapi semakin jauh berlayar, Jungle Cruise justru semakin membosankan, akibat terlalu mengandalkan visual CGI ala "blockbuster keluarga berlatar dunia fantasi", yang cartoonish dan artificial, alias "mati". Tidak bernyawa. Jaume Collet-Serra seolah terlena dengan teknologi berbiaya tinggi, yang untuk pertama kalinya ia dapat, melepas keseruan organik sebagaimana sekuen aksi pertama filmnya, menggantikannya dengan berbagai set piece generik minim ketegangan.

Padahal tersimpan segudang potensi. Baik berupa kemunculan empat antagonis beraroma mistis dengan desain serta kemampuan menarik (ada yang terbuat dari lumpur, akar pohon, sarang lebah, dan ular), maupun twist terkait sosok Frank, yang membuat filmnya bisa menambah sedikit unsur kekerasan dalam aksi, namun tetap aman dikonsumsi semua umur sebagaimana film Disney biasanya. Bahkan kombinasi Blunt-Johnson yang berdaya hibur tinggi (meski kurang meyakinkan kala melangkah ke ranah romansa), tak cukup kuat untuk menjustifikasi durasi 127 menitnya, yang terasa 30 menit lebih lama. 

Naskah buatan Michael Green (Logan, Blade Runner 2049), Glenn Ficarra, dan John Requa (I Love You Phillip Morris, Focus) sebenarnya memiliki banyak niat baik. Penggambaran Lily sebagai figur tangguh dalam kisah petualangan yang didominasi jagoan pria patut diapresiasi. Pada satu kesempatan, Lily ditangkap oleh anak buah Pangeran Joachim. Frank akhirnya memang muncul, namun hanya untuk sedikit mengulurkan bantuan. Lily mampu mengatasi segalanya, membuat saya percaya dia sanggup "berdiri sendiri".

Sedangkan terkait keputusan memasukkan karakter LGBT, ketimbang menghasilkan empowerment, malah terasa dipaksakan, tidak terjadi secara organik. Sekali lagi, itu memang niatan baik. Merilis filmnya di Disney+ pun (in a way) bisa dianggap niat baik, agar penonton tidak perlu menunggu lama untuk menonton Jungle Cruise. Tapi apalah arti niat baik tanpa realisasi matang, yang justru berujung memperburuk keadaan?


Available on DISNEY+ (Premier Access)

THE COMMUTER (2018)

Sebagai whodunit, The Commuter punya destinasi yang telah nampak bahkan sebelum karakter utamanya melangkahkan kaki memasuki kereta menuju perjalanan panjang yang memaksanya berpacu dengan waktu. Kita cuma perlu memberi sedikit perhatian terhadap detail remeh sambil memasang kecurigaan. Tapi whodunit bukan melulu soal twist mengejutkan. Proses yang mengandung unsur “5W 1H” merupakan komponen penting, kalau bukan yang terpenting. Sayangnya, itu pun gagal dipenuhi oleh film kolaborasi keempat Liam Neeson dan sutradara Jaume Collet-Serra ini.

Neeson memerankan Michael MacCauley, karyawan perusahaan asuransi jiwa yang rutin menaiki kereta saat berangkat dan pulang kerja. Alhasil, ia pun mengenal beberapa orang sesama komuter, begitu pula sebaliknya. Tentu ia bukan pria tua sembarangan. Michael adalah mantan polisi. Sang aktor masih bisa diandalkan menjadi action hero. Fisiknya mungkin tak lagi prima melakoni adegan perkelahian, namun wibawanya membuat penonton percaya Neeson bisa melakukan semuanya. Malang bagi Michael, ketangguhan yang dimiliki tak kuasa menghindarkannya dari pemecatan.
Di tengah perjalanan pulang, tatkala rasa gamang karena mesti menceritakan pemecatan itu pada istrinya ketika tanggungan membayar iuran kuliah putera mereka sedang menghantui, Michael didatangi oleh Joanna (Vera Farmiga). Joanna menawarkan $100 ribu untuk Michael, asalkan ia bersedia memakai pengetahuannya tentang para komuter guna mencari sosok misterius bernama Prynne yang tak semestinya berada di atas kereta. Kenapa harus Michael? The Commuter menawarkan jawaban yang sekilas masuk akal tapi jika ditilik lebih lanjut, meninggalkan kejanggalan.

Kalau saya memiliki cukup uang, akses, dan kekuasaan untuk mengendalikan aparat dan menyabotase kereta, takkan sulit melenyapkan apalagi menemukan seseorang. Tidak perlu repot-repot menempuh langkah kompleks yang peluang keberhasilannya tak seberapa. Collet-Serra jelas mengidolakan Alfred Hitchcock. Sejak Unknown, filmnya melibatkan unsur teror ruang sempit, identitas rahasia, atau karakter “wrong man in the wrong place”. Di berbagai film tersebut Collet-Serra bekerja sama dengan penulis berlainan, kecuali Ryan Engle yang menulis The Commuter dan Non-Stop. Lalu bagaimana bisa seluruhnya menyimpan permasalahan serupa? Rasanya kalimat “jodoh tidak ke mana” memang benar adanya.
Karya sang sutradara acap kali lemah di konklusi. Seperti The Shallow, The Commuter melompat menuju klimaks bombastis pasca menghabiskan durasi membangun misteri. Tidak keliru. Collet-Serra hendak membuat Hitchcockian modern yang menggabungkan misteri dan aksi dahsyat. Tapi klimaks The Commuter, yang menerapkan CGI berkualitas medioker, urung menyimpan ketegangan. Penonton urung diajak merasakan kecemasan layaknya sebuah momen sewaktu Michael nyaris terlindas kereta api. Adegan tersebut efektif, karena memberi penekanan akan bahaya yang dialami si tokoh, sedangkan klimaksnya lalai. 

Skenario milik Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle kurang mumpuni membagi fase, kapan mesti menebar pertanyaan, kapan mesti membagi jawaban sedikit demi sedikit. Naskahnya menggantungkan tanda tanya untuk penonton jawab tanpa memiliki teka-teki menarik untuk memancing antusiasme mencari jawaban.  Jaume Collet-Serra jelas diberkahi visi memadahi dalam hal meramu aksi. Dia hanya harus mencari pasangan penulis naskah yang tepat.