Tampilkan postingan dengan label Jennifer Lopez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jennifer Lopez. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MARRY ME

Mempertemukan dua manusia dewasa berparas rupawan, tampil ringan tanpa selipan isu, mengangkat situasi dengan tingkat kemustahilan tinggi. Marry Me jadi pengobat rindu ke era kejayaan komedi romantis. Sebuah genre yang seolah punah memasuki pertengahan 2010-an. Mungkin lebih tepat disebut "formula klasiknya" yang punah.

Ada masanya komedi romantis bukan dijadikan luapan keresahan individu terpinggirkan yang dianggap tak berkesempatan memadu cinta, melainkan bentuk fantasi romansa. Bermimpi menemukan pasangan sempurna, menikahi milyuner, atau merebut hati idola. Komedi romantis mewujudkan semua itu lewat ketidakterbatasan sinema, kala keterbatasan membayangi realita. 

Diadaptasi dari novel grafik berjudul sama karya Bobby Crosby, Marry Me jelas memerlukan suspension of disbelief agar dapat dinikmati. Bagaimana tidak? Kisahnya menyatukan Kat Valdez (Jennifer Lopez), seorang bintang pop ternama, dengan Charlie Gilbert (Owen Wilson) si guru matematika. Kat sejatinya hendak mengikat janji suci bersama kekasihnya, Bastian (Maluma), di tengah konser selepas menyanyikan lagu duet mereka, Marry Me. 

Tapi tepat sebelum tampil, berita perselingkuhan Basian tersebar. Didorong patah hati, Kat mengambil langkah gila. Tatapannya tertuju pada Charlie, yang datang bersama puterinya, Lou (Chloe Coleman). Diajaknya Charlie ke atas panggung, dan dinikahinya si duda beranak satu. 

Kita tahu aksi impulsif di atas bakal berakhir bahagia. Mudah ditebak. Tapi destinasi bukan pondasi komedi romantis. Bagaimana dua insan melewati rangkaian penghalang adalah poin utamanya. Selain tak saling mengenal, tembok pemisah antara Kat dan Charlie jelas dunia mereka. 

Kat seorang bintang global. Menyaksikannya membawakan lagu Church, ditemani para penari latar berkostum suster seksi, saya sangat memahami popularitasnya. Hidupnya glamor, rutinitasnya padat. Sebaliknya, pribadi Charlie bahkan dirasa membosankan oleh sang puteri. Di tangan sutradara Kat Coiro (juga menggarap serial She-Hulk tahun ini), skenario "menikahi idola" ala fan fiction mampu dijadikan tontonan luar biasa menyenangkan.

Bukan sekadar romantisme kosong, sebab biarpun eksekusinya ringan, naskah buatan John Rogers, Tami Sagher, dan Harper Dill, memastikan tiap momen romantis juga mengandung makna lebih bagi dua protagonis. Kat merekatkan hubungan ayah-anak, pun membawa Charlie mengunjungi kembali kenangan masa lalu akan mendiang ibunya. Sedangkan Charlie mendorong istri barunya lepas dari ketergantungan pada kemewahan. 

Chemistry kedua pemeran utama tentu berdampak signifikan. Wilson yang canggung, dan Lopez yang loveable, selalu berhasil memancing senyum lewat interaksi mereka, lewat aktivitias saling mengenal sembari berusaha saling menyesuaikan. Sayangnya, perihal proses adaptasi ini dipaparkan secara kurang seimbang. Kat benar-benar mencoba kehidupan normal. Kat menyambangi murid-murid Charlie, menghadiri pesta dansa sekolah, bahkan mau meninggalkan acara penting di penghujung cerita. Sementara Charlie, yang lebih sering mengeluhkan perbedaan dunia mereka, hingga akhir tetap tak secara gamblang menyampaikan kesediaan menyesuaikan diri.

Tapi toh saya tetap berharap keduanya selalu bersama. Ditambah jajaran pemain pendukung yang tidak kalah bersinar (John Bradley sebagai Collin si manajer likeable, Sarah Silverman sebagai Parker si guru lucu yang memaksimalkan potensi komedi filmnya), juga beberapa lagu manis (After Love jadi favorit saya), Marry Me jadi semakin solid. Mungkin popularitas komedi romantis takkan kembali ke masa jayanya, tapi selama film-film seperti Marry Me tetap dibuat, selalu ada tempat bagi mimpi-mimpi romansa untuk diwujudkan di ruang khayal sinema.

HUSTLERS (2019)

Diangkat dari artikel bertajuk The Hustlers at Scores buatan Jessica Pressler yang dipublikasikan majalah New York pada 2015, Hustlers membungkus feminisme dalam sampul bernama keluarga yang memayungi wanita-wanita bermental baja. Kata “keluarga” memegang kunci. Hustlers mampu memilah, mana perjuangan yang didorong keinginan saling membantu sebagai satu “keluarga”, mana yang semata hasutan keserakahan dan kemarahan.

Perspektif di atas patut dirayakan, sebab kisahnya berjalan di area ambigu kriminalitas. Sedikit saja salah melangkah, tercipta justifikasi atas nama empowerment. Tapi sutradara sekaligus penulis naskah Lorene Scafaria (Seeking a Friend for the End of the World, The Meddler) tidak buru-buru memaparkan elemen kriminalnya. Terlebih dulu kita diajak menilik latar belakangnya, melalui sudut pandang Destiny (Constance Wu) yang tengah diwawancarai oleh jurnalis bernama Elizabeth (Julia Stiles) pada 2014.

Mundur menuju tujuh tahun sebelumnya, Destiny baru memulai karir sebagai penari telanjang di Moves, klub yang akan membuat pecinta musik kegirangan karena di situlah nama-nama seperti Cardi B, Lizzo, sampai Usher muncul dalam peran singkat namun berkesan. Dituntut membiayai hidup neneknya (Wai Ching Ho), Destiny justru kesulitan memperoleh uang akibat belum menguasai teknik memikat pelanggan. Beruntung ia berkenalan dengan Ramona Vega (Jennifer Lopez) sang primadona, yang dimintanya berbagi ilmu. Berawal dari hubungan tutor-murid, perlahan tumbuh persahabatan.

Selain ajang unjuk gigi kepiawaian Jennifer Lopez yang berlatih pole dance selama 2,5 bulan sebelum proses produksi, sekuen di mana Ramona pertama kali mengajari Destiny menari juga memperlihatkan sensitivitas Scafaria terkait penerjemahan rasa ke dalam adegan. Ketimbang musik dansa elektronik, alunan komposisi bak musik klasik dari dentingan piano justru dipakai. Pole dance di klub yang biasanya identik dengan seksualitas dipancarkan keindahan estetikanya, sebagaimana jajaran karakternya yang merobohkan stigma negatif profesi penari telanjang.

Pernah menulis naskah Nick & Norah’s Infinite Playlist (2008) yang menjadikan musik selaku elemen penting serta pernah merilis album musik, Scafaria terbukti handal perihal mengawinkan departemen audio dan visual. Di adegan yang menggambarkan mimpi buruk Destiny, sang sutradara memilih mematikan semua suara kecuali iringan piano bertempo tinggi untuk membangun intensitas yang mengingatkan pada film-film bisu di masa lalu. Pun siapa sangka lagu Royal milik Lorde bisa mengangkat kesan dramatis sebuah peristiwa, menjadikannya suatu pemandangan monumental.

Kembali ke cerita, berkat bimbingan Ramona, Destiny berhasil mengumpulkan uang, sampai krisis ekonomi 2008 menerpa. Para pelanggan kaya menghilang, Moves menderita kesulitan finansial, memisahkan Destiny dan Ramona. Sempat mencoba melakukan pekerjaan lain, Destiny yang telah menjadi ibu tunggal memilih kembali ke dunia malam di Moves. Tapi kondisi telah berubah. Pekerja di sana diisi para imigran Rusia yang bersedia melakukan oral seks (praktek yang sebelumnya dilarang) hanya demi $300.

Kecerdikan Scafaria menarik  garis antara peristiwa nyata dengan pesan tentang gender yang ingin disampaikan nampak di sini. Pria-pria pengunjung peminta blow job ibarat pelaku perbudakan yang ingin mengambil keuntungan dari kesusahan wanita-wanita pekerja, sedangkan Destiny mewakili wanita yang menolak diperbudak. Nantinya turut diungkap bahwa alasan para pria korban trik Destiny dan Ramona (trik macam apa akan saya bahas) menolak melaporkan ke polisi adalah karena malu telah menjadi korban wanita. Harga diri hasil kebanggaan maskulinitas mereka terlampau tinggi, hingga berujung kebodohan.

Tapi Hustlers bukan tuturan dangkal hitam-putih yang membenarkan seluruh perbuatan karakter wanitanya sembari menggambarkan mereka sebagai sosok sempurna dan membuat semua pria terlihat buruk. Untuk mengulik itu, perlu kita tengok dulu bagaimana Destiny dan Ramona bereuni. Bertemu kembali setelah sekian lama, Ramona menawarkan metode penimbun uang baru. Bersama penari lain, Mercedes (Keke Palmer) dan Annabelle (Lili Reinhart), Ramona berburu pria kaya yang bersedia digoda, memberi minuman berisi campuran ketamin dan MDMA guna menghilangkan memori serta kesadaran, lalu menguras kartu kredit mereka. Destiny beredia ikut serta.

Hustlers pun beralih menyentuh genre heist yang dikemas menyenangkan, khususnya karena Scafaria tahu jika Hustlers sedang merambah sisi hiburan miliknya. Beberapa sentuhan komedi dengan ketepatan timing efektif menyegarkan suasana. Penonton pun bisa lepas tertawa, sebab korban yang dipilih protagonisnya merupakan pria-pria kaya hidung belang. Pun kelak, kejatuhan mereka dipicu kesalahan memilih korban akibat keserakahan yang tak terkontrol, menegaskan bahwa film ini bukan empowerment yang “buta”.

Bukannya penceritaan Hustlers nihil cela. Memasuki titik balik di mana hubungan kekeluargaan karakternya mulai menemui benturan-benturan, seolah ada keping kisah yang hilang, ada fase transisi yang dilewati demi mempercepat progresi alur. Pun metode non-linear yang diterapkan tidak sepenuhnya berlangsung mulus. Meski menampilkan keterangan latar tahun, pertanyaan-pertanyaan seputar “Kapan pastinya suatu hal terjadi? Sebelum atau setelah peristiwa ‘A’?”, dan sebagainya.

Beruntung lubang narasi di atas bisa ditutupi kesuksesan Scafaria mengolah rasa. Baik penulisan dialog maupun pengadeganannya dibuat dengan hati, yang terpampang nyata dalam pemandangan emosional di depan kantor polisi, yang kekuatannya dibangun berdasarkan kalimat “motherhood is a mental illness”. Constance Wu yang sejak Crazy Rich Asians tahun lalu mencapai level popularitas baru, membuktikan konsistensi performa lewat caranya bermain rasa, namun bintang sesungguhnya adalah Jennifer Lopez.

Menampilkan akting terbaik sepanjang karirnya, J.Lo ibarat rock star dengan karisma tanpa tanding yang menguasai seluruh panggung bernama “layar” (well, she’s actually a diva). Di tangan Lopez, Ramona jadi sosok kompleks. Bukan rubah licik yang gemar menebar tipu daya, melainkan wanita berhati pesar penuh kasih sayang yang terhimpit realita. Dan ketika Lopez berjalan di depan kawan-kawannya dalam balutan gerak lambat, dia bukan seorang pemimpin biasa. Dia adalah simbol.