Tampilkan postingan dengan label Jeremy Renner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeremy Renner. Tampilkan semua postingan
AVENGERS: ENDGAME (2019)
Rasyidharry
(JANGAN MEMBUKA KOLOM KOMENTAR KALAU BELUM MENONTON.
IT'S A WILD JUNGLE FULL OF SPOILERS THERE!)
Merasa Infinity War merupakan keberhasilan mengeksekusi kemustahilan?
Tunggu sampai anda menyaksikan sekuelnya. Marvel
Cinematic Universe (MCU) adalah soal kesabaran dalam perencanaan. Total 21
film selama hampir 11 tahun dihabiskan demi membangun kisah, yang dibayar lunas
lewat kulminasi epik bernama Avengers:
Endgame. Hampir seluruh guratan emosi maupun pertarungan masif miliknya,
berpijak pada pondasi yang disusun sekian lama. Begitu film usai (kali ini
tanpa post-credits scene) wajar saat
penonton bertepuk tangan melihat jajaran kredit, khususnya enam anggota “asli”
Avengers.IT'S A WILD JUNGLE FULL OF SPOILERS THERE!)
Karena seperti telah dikonfirmasi,
salah satu tujuan Endgame adalah memberi
penghormatan bagi perjalanan yang telah dilalui Tony Stark (Robert Downey Jr.),
Steve Rogers (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Banner (Mark
Ruffalo), Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), dan Clint Barton (Jeremy
Renner). Saya takkan membocorkan sedikit pun poin plot, kecuali bahwa bersama
nama-nama lain yang tidak menjadi debu, mereka berusaha memulihkan akibat
perbuatan Thanos (Josh Brolin).
Melanjutkan atmosfer konklusi Infinity War, film ini dibuka dengan
melankoli. Bahkan dibanding judul keluaran Marvel Studios lain, selama 181
menit durasinya, Endgame punya proporsi
drama terbesar, tatkala duo penulis naskah, Christopher Markus dan Stephen
McFeely (The Winter Soldier, Civil War,
Infinity War), memilih banyak menggulirkan studi karakter, khususnya proses
coping jagoan-jagoan kita pasca
tragedi jentikkan jari Thanos. Beberapa menolak menyerah, beberapa tenggelam
dalam amarah, ada pula yang coba meneruskan langkah.
Hal di atas bukan sebatas
pernak-pernik. Di sinilah penanaman benih selama satu dekade menuai hasil. Kita
mengenal karakternya, terikat pada mereka, sehingga memahami keputusan serta
respon emosional yang muncul. Berkatnya, paparan dramatik Endgame pun menyentuh ranah detail, di mana tiap gestur, ekspresi,
juga baris kalimat pendek, menyimpan makna kaya rasa, yang seringkali merujuk
pada peristiwa film-film sebelumnya. Dan semuanya mustahil diraih tanpa kegemilangan
jajaran pemain.
Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy
Renner, Mark Ruffalo, hingga Karen Gillan membuktikan diri telah melebur dengan
sosok peranan masing-masing, sementara kepiawaian memadukan talenta komedi dan dramatik
dipamerkan oleh Chris Hemsworth dan Paul Rudd (that “running scene” is really heartbreaking). Tapi bintang
utamanya tetap sang maskot: Robert Downey Jr. Melalui performa yang layak
diganjar nominasi Oscar, secara meyakinkan ia tunjukkan konflik batin seorang
pahlawan yang dihantui kegagalan dan kehilangan. Apabila Infinity War menggiring Tony menuju tantangan fisik dalam
pertarungan satu lawan satu menghadapi Thanos, maka Endgame memberinya ujian psikis terberat.
Ini memang cerita di mana status “pahlawan”
para jagoannya diuji, kala pengorbanan mesti dilakukan dan egoisme bukan
pilihan. Ketimbang melawan Thanos, Endgame
cenderung menonjolkan pertarungan Avengers melawan musuh lain: diri mereka
sendiri. Terdengar kelam, namun tak pernah depresif, mengingat jalinan humor
tetap dapat ditemukan, yang penempatannya memperhatikan presisi, sehingga
alih-alih mendistraksi, kita justru bakal dibuat tertawa sembari meneteskan air
mata atau terpaku dalam cengkeraman ketegangan. Menyenangkan pula menyaksikan
tokoh-tokoh yang baru bertemu seperti Nebula (Karen Gillan), Rhodey (Don
Cheadle) dan Scott Lang (Paul Rudd) saling bertukar interaksi kasual.
Di samping deretan drama humanis,
spektakel utama Endgame tetaplah soal
mencari jalan “membatalkan” perbuatan Thanos. Beragam teori membanjiri
internet. Beberapa jadi kenyataan, namun banyak kejutan masih tersimpan rapat.
Akan sulit mempersiapkan hati menyaksikan kecerdikan Markus dan McFeely menyulap
petualangan Avengers menjadi penghormatan bagi mereka, dengan membawa kita
mengunjungi kumpulan momen (plus sosok) familiar, sementara karakternya coba
berdamai dengan permasalahan silam yang belum usai.
Puncaknya adalah pertempuran epik
yang menebus perencanaan jangka panjang Marvel Studios. Semua shared universe, tidak peduli dalam
media apa pun, bermimpi mencapai titik ini. Russo Bersaudara mengangkangi
pencapaian di Infinity War lewat
kesuksesan memproduksi salah satu set
piece terbesar dan tergila penuh momen fan
service, yang berkat tangkapan kamera sang sinematografer langganan, Trent
Opaloch, banyak menampilkan heroic money
shot. Alhasil, tiap individu memperoleh kesempatan bersinar meski hanya sejenak,
termasuk jajaran jagoan wanita. Walau mengharapkan porsi lebih bagi Captain
Marvel (Brie Larson), saya bisa memaklumi mengingat Endgame mengutamakan pemberian spotlight
untuk keenam anggota asli Avengers.
Belum cukup mendengar pujian?
Tunggu sampai anda mendapati keberhasilan Endgame
memberi konklusi yang pantas terhadap seluruh konflik personal menahun yang
karakternya hadapi, sembari tak lupa menebar petunjuk terkait masa depan.
Mungkin anda tak menganggap Avengers:
Endgame sempurna, namun jika pulang tanpa merasakan kepuasan, mungkin film blockbuster memang bukan untuk anda.
April 24, 2019
Action
,
Brie Larson
,
Chris Evans
,
Chris Hemsworth
,
Don Cheadle
,
Fantasy
,
Jeremy Renner
,
Josh Brolin
,
Karen Gillan
,
Luar Biasa
,
Mark Ruffalo
,
Paul Rudd
,
REVIEW
,
Robert Downey Jr.
,
Russo Brothers
,
Scarlett Johansson
WIND RIVER (2017)
Rasyidharry
Terpencil, dingin, sunyi, kerap dilanda badai salju ganas. Wind River, reservasi suku Indian di Wyoming memang panggung sempurna menuturkan misteri pembunuhan. Sutradara sekaligus penulis naskah Taylor Sheridan memakai karakteristik lokasi itu untuk membangun atmosfer, menjelaskan psikis para tokoh, pula menebar rintangan rintangan bagi mereka. Suatu pendekatan cermat yang selaras dengan karya-karya wahid Sheridan lain seperti Sicario dan Hell or High Water. Meski punya menu utama pemecahan kasus, Wind River bukan misteri konvensional saat memberi sorotan lebih pada korban beserta sosok tercinta yang ditinggalkan.
Dibuka oleh pemandangan domba yang diintai serigala, sempat diisi obrolan mengenai miliarder "memakan" jutawan, kemudian ditutup fakta ketiadaan data pasti jumlah wanita Indian yang hilang, Wind River jadi perlambang soal si kuat (korporat, pembunuh) memangsa si lemah (Indian, korban pembunuhan). Alegori serupa sempat Sheridan terapkan di Sicario, bedanya kini para domba bukannya tidak berdaya. Walau berujung dimangsa pun, mereka melancarkan perlawanan terbaiknya, sebagaimana Natalie (Kelsey Chow), gadis 18 tahun yang ditemukan tewas membeku setelah berlari sekitar 8 kilometer tanpa sepatu dan pelindung dingin. Sebelum tewas, diduga ia sempat mengalami tindak kekerasan juga perkosaan.
Agen FWS (United States Fish and Wildlife Service), Cory Lambert (Jeremy Renner) adalah yang pertama menemukan mayat Natalie, kala tengah bertugas memburu singa pemangsa hewan ternak warga. Kasus ini mengembalikan ingatan pahit Cory, mendorongnya membantu penyelidikan Jane Banner (Elizabeth Olsen), agen FBI. Cory juga merupakan korban, namun serupa Indian di Wind River yang tetap berdiri tegak, ia pantang terpuruk. Sebagai pemburu dari pemburu (singa), Cory mengerahkan seluruh keahliannya melacak keberadaan pembunuh Natalie. Dalam penampilan terbaiknya sejak The Hurt Locker, Renner tak ubahnya alam Wind River, tenang di luar, bergejolak hebat di dalam.
Begitu pula naskah Sheridan, jarang meluap-luap dengan emosi maupun kejutan tetapi punya struktur luar biasa solid. Baris dialog pintar yang selalu memancing daya tarik menyelami masing-masing kalimatnya, kejelasan motivasi tiap karakter, hingga presisi penempatan kapan menggiring penonton pada pertanyaan, kapan menyuguhkan jawaban secukupnya, tidak terlalu pelit yang bakal menghadirkan frustrasi ketimbang tensi, tidak pula terlalu banyak sampai melucuti atensi. Ibarat makanan, Sheridan paham betul bentuk serta waktu menyajikan appetizer pembangkit minat menyusuri cerita, hidangan utama berupa konflik "mengenyangkan", dan dessert yang menutup segalanya dengan rasa memuaskan.
Disutradarai sendiri oleh Sheridan, kekuatan naskah Wind River tersalurkan sepenuhnya. Berjalan tidak begitu cepat namun rapat, disokong aliran pembicaraan yang terkadang berfungsi memainkan dinamika emosi atau menyiratkan fakta. Selain Renner, jajaran pemeran lain pun menjalankan tugas mengemban character-driven ini dengan baik. Seperti Kate Macer-nya Blunt di Sicario, Jane bak domba kebingungan yang terhimpit kerasnya alam liar. Tapi berbeda dibanding Macer, Olsen sanggup menekankan bahwa sang tokoh di antara ketidakpahaman itu memilih coba meyesuaikan diri lalu bertambah kuat. Sementara Gil Birmingham sebagai Martin, ayah Natalie, hanya muncul dalam dua kesempatan yang maksimal dipakai menyampaikan luapan duka dan perenungan penggugah rasa.
Selain pertunjukan misteri mencengkeram, Wind River tambah bernilai berkat ajakannya terkait menghargai kehidupan. Kasus pembunuhan yang terjadi sejatinya adalah jalan menyampaikan pesan itu. Mengutuk pembunuh yang menghilangkan kehidupan, menekankan perjuangan korban mempertahankan kehidupan, dan kekuatan para kerabat yang pasca ditinggalkan terus berusaha melanjutkan, merangkai kembali kehidupan. Dingin, kelam, nan menusuk di permukaan, Wind River nyatanya tetap menyimpan kehangatan dari harapan.
September 17, 2017
Bagus
,
Elizabeth Olsen
,
Gil Birmingham
,
Jeremy Renner
,
Kelsey Chow
,
Mystery
,
REVIEW
,
Taylor Sheridan
,
Thriller
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





