Tampilkan postingan dengan label Rosario Dawson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosario Dawson. Tampilkan semua postingan

ZOMBIELAND: DOUBLE TAP (2019)

Ada kesulitan lebih terkait pembuatan sekuel untuk film yang merengkuh kesuksesan berkat kesegaran kemasannya, yaitu bagaimana menjaga, atau lebih baik lagi menambah, kesegaran itu. Rilis satu dekade selepas Zombieland yang digemari karena kreativitasnya, Zombieland: Double Tap mengembalikan jajaran pemain lama, sutradara sekaligus penulis naskah lama, dan sayangnnya formula lama juga turut serta. Serupa judul bertema zombie kebanyakan, ini sekadar pengulangan.

Tapi tidak bisa dipungkiri, pengulangan itu masih menyenangkan. Kita tahu adegan pembuka bakal mengadu karakter manusia melawan zombie dalam balutan gerak lambat serta musik rock (kali ini Master of Puppets-nya Metallica), pun kita tahu momen ikonik “Zombie Kill of the Week”—yang ditingkatkan jadi “Zombie Kill of the Year” akan muncul. Semuanya menghibur, tapi akibatnya, Zombieland: Double Tap dibangun berdasarkan checklist layaknya fan service.

Beberapa tahun setelah film pertama, Columbus (Jesse Eisenberg), Tallahassee (Woody Harrelson), Wichita (Emma Stone), dan Little Rock (Abigail Breslin) telah tumbuh bersama sebagai satu “keluarga disfungsional”. Mereka menetap di White House yang aman, sementara zombie di luar mulai berevolusi menjadi beberapa jenis—yang dijabarkan melalui sekuen menggelitik di paruh awal—di mana salah satunya disebut T-800, yakni zombie dengan kekuatan juga daya tahan tinggi. Tidak cukup dua kali tembak guna menghabisinya.

Digarap oleh dua penulis film pertama, Rhett Reese dan Paul Wernick, ditambah David Callaham (The Expendables, Wonder Woman 1984), apabila Zombieland membahas posisi manusia selaku makhluk sosial, maka Zombieland: Double Tap mengupas soal keluarga. Wichita merasa Columbus terburu-buru membawa hubungan mereka ke jenjang lebih lanjut, sedangkan Little Rock terganggu atas ketidakpekaan Tallahassee, yang selama ini bertindak sebagai figur ayah. Ketika Little Rock yang sudah beranjak remaja ingin merasakan romansa, Tallahassee justru menghadiahkan pistol.

Wichita dan Little Rock memutuskan kabur (lagi). Di tengah sakit hati akibat ditinggalkan sang kekasih, Columbus bertemu Madison (Zoey Deutch). Menghabiskan bertahun-tahun sembunyi di ruang pendingin tanpa terpikirkan untuk mematikan sistem pendingin, bertingkah genit, repot-repot membawa berbagai koper besar di tengah zombie apocalypse, Madison memenuhi semua stereotip “gadis pirang bodoh”, yang selalu mencerahkan suasana di tiap kemunculan berkat totalitas komedi Zoey Deutch dalam berlagak hiperbolis.

“Daripada tidak ada wanita lain”, mungkin begitu pikir Columbus saat mengiyakan permintaan Madison berhubungan seks, tanpa tahu bahwa di malam yang sama, Wichita kembali. Bukan untuk pulang, melainkan mengambil senjata untuk mencari Little Rock yang kabur bersama Berkeley (Avan Jogia), seorang hippie anti-kekerasan yang menolak mempersenjatai diri.  

Sisanya adalah petualangan berupa pengulangan film pertama. Emma Stone tetap jago memancing tawa (tidak semua orang bisa menirukan velociraptor selucu dia) tapi lemparan humor Zombieland: Double Tap kerap meleset. Penonton, khususnya penggemar film pertama, akan mengangguk-angguk puas menyaksikan pengulangan momen-momen ikonik dari judul sebelumnya, namun karena berupa pengulangan, ledakan tawa yang dihasilkan tak sebesar film pertama.

Lain halnya dengan aksi. Sepuluh tahun berselang, penyutradaraan Ruben Fleischer masih bertenaga, piawai meramu pengadeganan dinamis, yang disempurnakan oleh ketidakraguan membanjiri layar dengan darah dan ceceran organ tubuh zombie. Kini, adegan aksi bukan cuma panggung Woody Harrleson seorang. Rosario Dawson sebagai Nevada yang memikat hati Tallahassee sang serigala penyendiri, juga ambil bagian, menegaskan kalau Zombieland: Double Tap merupakan tempat para penampil wanita bersinar.

Berkaca pada pengulangan yang telah disinggung di atas, tidak mengejutkan kala naskahnya kurang matang mengolah konflik bertema keluarga miliknya, termasuk fase konklusi yang terburu-buru. Mendadak semua masalah berakhir begitu mudah, membuat segala jalan terjal yang karakternya lalui terkesan percuma. Beruntung Zombieland: Double Tap tidak ditutup di titik nadir, ketika mid-credits scene-nya memproduksi humor paling jenius sepanjang film.

SIN CITY (2005)

Kisah kriminalitas yang terjadi di Basin City atau dikenal sebagai Sin City ini diluar dugaan sangat menyenangkan untuk ditonton. Film ini diadaptasi dari 3 komik karya Frank Miller yang disini juga menjadi sutradara bersama Robert Rodriguez, yaitu "That Yellow Bastard", "The Hard Goodbye" dan "The Big Fat Kill". Disini juga kita akan diperlihatkan begitu banyak bintang yang menjadi ensemble cast yang akan sangat panjang bila disebutkan, mulai dari Bruce Willis, Mickey Rourke, Carla Gugino, Clive Owen, Elijah Wood, Rutger Hauer, Benicio del Toro, Rosario Dawson, Brittany Murphy sampai si seksi Jessica Alba yang namanya melambung setelah bermain disini.

Adaptasi dari 3 komik tersebut juga dalam film ini diceritakan secara terpisah, hanyas aja setting tempatnya tetap di Sin City. Selain itu karakter dari ketiga cerita tersebut juga beberapa saling berhubungan walaupun ada yang terbatas sebagai cameo saja. Dalam "That Yellow Bastard" ada detektif veteran John Hartigan (Bruce Willis) yang berusaha untuk menghentikan seorang pembunuh sekaligus pemerkosa anak-anak bernama Roark Junior (Nick Stahl) yang saat itu menyandera bocah 11 tahun bernama Nancy Callahan. Tapi ada beberapa hal yang membuat usahanya tidak mudah mulai dari penyakit jantung yang dia miliki sampai fakta bahwa Roark adalah putera dari Senator Roark yang membuat penangkapan terhadap dirinya tidak mudah karena Sin City jelas tidak memihak pada keadilan melainkan pada orang kuat seperti Senator Roark.

Dalam "The Hard Goodbye ada Marv (Mickey Rourke) yang beringas dan bermuka menakutkan. Dia barus aja melewati malam yang indah bersama wanita pirang bernama Goldie (Jaime King) yang tragisnya telah tewas disaat Marv terbangun. hal itu membuat Marv dikuasai dendam dan mulai menyelidiki siapa pembunuh Goldie dengan cara apapun dan sekejam apapun. Yang ketiga adalah "The Big Fat Kill" yang mengisahkan perjuangan Dwight (Clive Owen) membantu sekelompok pelacur di Old Town dimana wanita menguasai daerah tersebut sampai mereka membunuh seorang anggota polisi bernama Jackie Boy (Benicio del Toro) dimana hal itu berpotensi menimbulkan perang antara mereka melawan pihak kepolisian dan mobster.
Awalnya saya agak kesulitan menikmati "Sin City" karena caranya bercerita yang lebih mengandalkan narasi daripada dialog. Tapi setelah beberapa menit saya mulai terbiasa dan "Sin City" berubah jadi tontonan yang menyenangkan sekaligus menyenangkan. Menyenangkan karena film ini penuh dengan grafik yang unik. Jangan bayangkan teknik CGI kelas wahid, karena film ini dibuat seperti menghidupkan komik karya Frank Miller ke layar lebar secara total baik itu setting lokasi sampai penggambaran karakternya muncul dengan pewarnaan yang unik dan fresh. Karakterisasi tiap tokohnya juga menarik walaupun saya tetap paling suka dengan Marv yang dimainkan begitu baik oleh Mickey Rourke. Saya bilang mencengangkan karena diluar dugaan film ini banyak menampilkan adegan sadis secara lumayan frontal, dan itu adalah kejutan yang menyenangkan bagi saya. "Machete" yang dibuat Rodriguez terasa lembut dibandingkan dengan film ini.

Tidak saja dari visualnya, kisahnya juga sangat brutal. Ketidakadilan dan kerasnya Basin City benar-benar ditampilkan total disini membuat Gotham City yang penuh kejahatan saja terasa lembut. Karena dalam Basin City tidak ada sosok pembela kebenaran atau setidaknya polisi yang bisa menenangkan rakyatnya. Semuanya diisi kebrutalan, yang kuat menang dan yang lemah berakhir tragis. Tidak ada hukum, benar-benar kota yang penuh dosa. Saya tidak akan mengkritisi tentang rendahnya sisi humanisme film ini akibat terlalu sadis, karena saya tetap sangat terhibur dengan segala kebrutalan yang ada. Adegan aksi yang non-stop, grafik luar biasa nan unik, kebrutalan dimana-mana, karakter yang unuk juga. Saya sangat menunggu sekuelnya, ayo Robert Rodriguez!