Tampilkan postingan dengan label Safdie Brothers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Safdie Brothers. Tampilkan semua postingan
UNCUT GEMS (2019)
Rasyidharry
Sebelumnya, dalam ulasan Temen Kondangan, saya sempat menyinggung
soal kesengajaan membangun kekacauan. Melalui Uncut Gems, duo sutradara Josh dan Benny Safdie alias Safdie
Brothers (Heaven Knows What, Good Time),
menerapkan teknik serupa, hanya saja dalam tingkatan yang mungkin tidak berani
(atau tidak mampu) dilakukan sineas lain. Pernah dihantam kecemasan akibat diserang
setumpuk masalah pelik secara bersamaan, di hari yang sama, jam yang sama,
menit yang sama, bahkan detik yang sama? Begitu rasanya menonton film ini.
Howard Ratner (Adam Sandler),
seorang pemilik toko berlian, sedang dihimpit banyak hutang, termasuk sebesar
$100 ribu kepada Arno (Eric Bogosian), rentenir sekaligus saudara iparnya. Demi
melunasi hutang tersebut, Howard memilih cara tidak biasa. Dia membeli opal
hitam langka dari Ethiopia, yang rencananya akan dia lelang dengan harga
tinggi. Tapi kedatangan pebasket veteran, Kevin Garnett (Kevin Garnett), yang
percaya dirinya mempunyai ikatan spiritual dengan opal itu.
Safdie Brothers bersama penulis
naskah langganan mereka, Ronald Bronstein, menarik pangkal konflik itu menuju
kemelut dan nasib buruk Howard yang seolah tiada berujung. Peribahasa “Gali
lubang tutup lubang” tepat menggambarkan protagonisnya, yang menyelesaikan satu
masalah dengan membuat masalah lain. Bukan cuma urusan uang dan hutang, kondisi
rumah tangga turut memperkeruh kondisi Howard. Dia dan sang istri, Dinah (Idina
Menzel) telah sepakat bercerai, setelah Howard berselingkuh dengan Julia Fox
(Julia), gadis muda yang juga karyawannya.
Pelik, kacau, berantakan. Demikian
situasi Howard, dan naskah serta pengadeganannya berhasil menyalurkan perasaan
serupa ke penonton. Sebab bukan cuma kisah penuh problematika yang terus
bermunculan tiap beberapa menit sekali, pengarahan Safdie Brothers juga mampu membuat
kita merasakan apa yang Howard rasakan, dengan memaksimalkan semua sumber kecemasan.
Apa saja yang membuat individu
cemas? Konflik-konflik beruntun? Suasana ricuh dan bising? Ketidakpastian?
Ketergesa-gesaan? Ketidaksabaran menanti sesuatu yang tak kunjung terlaksana? Ancaman
bahaya? Rahasia yang hendak terkuak? Semuanya ada, bahkan tidak jarang, terjadi
secara simultan. Safdie Brothers menggunakan teriakan aktor-aktornya, permainan
alur tempo tinggi yang dibantu penyuntingan taktis, kamera sinematografer
Darius Khondji (Se7en, Evita, Okja)
yang bergerak cekatan, hingga musik suasana garapan Daniel Lopatin.
Hebatnya, semua tersusun rapi
sebagai kekacauan yang direncanakan. Sekilas berantakan, namun sejatinya
terstruktur berkat naskah yang telah memposisikan poin-poin tujuan secara
seksama biarpun sekilas tak teratur, juga penyutradaraan presisi yang tidak
asal menginjak pedal gas. Jelas teknik ini bukan untuk semua orang. Beberapa
penonton mungkin jengah dan lelah. Pun pengulangan pola “semua tindakan Howard
pasti berujung kehancuran”, meski meningkatkan dramatisasi, turut pula
mengurangi elemen kejutan.
Tapi jika semua itu bukan masalah,
bersiaplah dibawa menaiki wahana gila, yang semakin lama semakin menegangkan
hingga membuat durasi 135 menit bak berlalu cepat. Third act-nya merupakan puncak intensitas, yang sebenarnya takkan
berhasil bila penonton gagal dibuat mendukung Howard. Di atas kertas,
pencapaian itu mustahil. Howard adalah pria kasar, egois, penjudi yang terlilit
hutang, pembohong, pengambil keputusan buruk, sekaligus pelaku perselingkuhan.
Di sinilah kecerdikan trio penulisnya berperan penting.
Simpati kepadanya perlahan timbul sewaktu
orang-orang di sekitarnya melakukan ketidakadilan yang lebih parah. Howard
pantas menerima balasan, namun tidak seekstrim itu. Howard akhirnya juga menjadi
korban tanpa menghilangkan statusnya sebagai pelaku (baca: pembuat masalah). Uncut Gems bersikap adil, membuat Howard
pantas didukung, tapi menolak menjustifikasi kesalahan-kesalahannya. Maka dari
itu, pilihan konklusinya—yang bersama opening-nya
menciptakan lingkaran sempurna mengenai hukum semesta di mana “hal yang diawali
oleh keburukan pasti berakhir dengan keburukan juga—tepat.
Simpati terhadap Howard pun bisa
lahir karena performa Adam Sandler. Bukan rahasia lagi bahwa di luar
komedi-komedi murahan yang belakangan rajin ia buat, sang aktor punya kapasitas
melakoni peran “berbobot”, yang kembali dibuktikan dalam film ini. Sandler
menampilkan dua wajah. Pertama, sisi “chill”
ciri khasnya yang bak penawar di tengah segala kemelut, dan kedua,
letupan-letupan amarah yang menguatkan kemelut. Howard selalu (berusaha) tersenyum,
ingin menyiratkan semua baik-baik saja, bahwa ia memegang kendali. Padahal
sejatinya tidak. Dan seiring waktu, senyuman sarat kepercayaan diri itu berubah
jadi kegetiran.
Available on NETFLIX
Februari 05, 2020
Adam Sandler
,
Crime
,
Daniel Lopatin
,
Darius Khondji
,
Eric Bogosian
,
Idina Menzel
,
Julia Fox
,
Kevin Garnett
,
REVIEW
,
Ronald Bronstein
,
Safdie Brothers
,
Sangat Bagus
,
Thriller
GERALD'S GAME / BRAWL IN CELL BLOCK 99 / GOOD TIME
Rasyidharry
Karena serangkaian kesibukan, banyak sekali film yang belum ditonton dan ditulis. Permintaan mengulas judul-judul di luar rilisan bioskop mendorong saya merasa perlu tetap membuat review, tapi karena penulisan review penuh seperti biasa butuh waktu 2-4 jam, mustahil rasanya menerapkan itu di semua film. Akhirnya saya memilih review pendek khusus bagi FILM NON-BIOSKOP, di mana tiap artikel memuat tiga judul, walau tak menutup peluang review panjang bakal sesekali dibuat, tergantung filmnya.
GERALD'S GAME (2017)
Merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Stephen King, Gerald's Game mengisahkan sepasang suami istri, Gerald (Bruce Greenwood) dan Jessie (Carla Gugino) yang menghabiskan akhir pekan di kawasan terpencil, dengan tujuan menyelamatkan pernikahan mereka. Permainan seks nakal yang direncanakan Gerald berujung ancaman maut begitu kisahnya secara cerdik menghasilkan teror dari jalur tak terduga. Ini bukti ketajaman insting horor King yang oleh Mike Flanagan dan Jeff Howard mampu diterjemahkan dengan baik, termasuk beragam metafora, semisal soal kekangan pria terhadap wanita yang tertuang rapi. Horor psikologis, thriller satu lokasi, sampai sedikit bumbu supernatural tumpah ruah. Pada unsur supernatural, Flanagan mumpuni menyusun kesan atmosferik. Sementara jelang akhir, sang sutradara tidak ragu memberi gore eksplisit nan detail yang dapat membuat penonton mengalihkan tatapan. Gugino memikat, nyaris seorang diri memanggul beban menyampaikan ketegangan hingga rasa sakit. Dia pun tak kalah solid melakoni fase dialogue-based filmnya, tatkala naskah Gerald's Game jeli mengolah psikis Jessie dalam presentasi tentang kematian, pernikahan, dan masa lalu traumatik. (4/5)
BRAWL IN CELL BLOCK 99 (2017)
This is a weird movie for some reasons. Pertama karena Vince Vaughn melawan typecast, tampil intimidatif, bahkan saat kamera menyoroti sisi belakangnya, memperlihatkan kepala botak berhiaskan tato salib. Kedua, terkait tone. Brawl in Cell Block 99 dibuka bagai drama realis kelam mengenai Bradley Thomas (Vince Vaughn) yang dihantam pemecatan lalu perselingkuhnya sang istri (Jennifer Carpenter). Sutradara S. Craig Zahler (Bone Tomahawk) merangkai tempo lambat plus nuansa low-key. Namun begitu setting berganti, filmnya bertransformasi, menampilkan penjara maximum security tak masuk akal dengan Tuggs (Don Johnson) sebagai kepala penjara keji nan komikal, sampai kekerasan over-the-top saat kepala manusia dengan mudahnya remuk seperti kue. Uniknya, aura kontemplatif bertahan sepanjang film, yang akan seketika menguap sewaktu Bradley terlibat baku hantam. Brawl in Cell Block 99 tak ubahnya Riki-Oh versi gritty. Kisah Bradley terasa ironis, sebab sejak awal ia berniat memperbaiki hidupnya dan sang istri, hanya untuk dipaksa berjuang pindah dari sel "nyaman" menuju "lubang neraka". Sempat muncul inkonsistensi tone, tapi hawa menusuk penjara kumuh, kekerasan tinggi, pula terjaganya intensitas, berujung menghasilkan b-movie menyenangkan. (3.5/5)
Disutradarai Safdie Brothers, Good Time merupakan drama spesial karena bisa tampil kritis tanpa perlu menjadi ekstrimis. Karakternya melanggar hukum atas nama persaudaraan, namun kriminalitas tidak dijustifikasi. Si karakter adalah Connie (Robert Pattinson), yang mengajak adiknya, Nick (Ben Safdie), selaku penderita gangguan mental untuk merampok bank. Connie mendukung Nick, membuatnya merasa berharga dan berguna, memanusiakannya. Tatkala terjadi kekacauan dan Nick tertangkap polisi, Connie bersedia menempuh segala cara demi membebaskannya. Kisah kasih persaudaraan ditekankan, tapi tanpa glorifikasi tindak kejahatan, memastikan ada harga yang wajib dibayar. Estetika "hipster" pada scoring synth ala 80-an serta pencahayaan warna-warni yang kini makin klise masih diandalkan, namun setidaknya, di departemen musik Oneohtrix Point Never memberi modifikasi berupa aransemen liar pula trippy. Serupa karakternya, Good Time bergerak bak tengah berlari berkat pengarahan chaotic nan dinamis Safide Brothers. Tidak melulu sprint, tapi cukup menjaga kerapatan intensitas. Sementara Robert Pattinson dengan jenggot berantakan langsung menggebrak sejak awal kemunculan, senantiasa menggoncang situasi lewat performa paling powerful sepanjang karirnya. (4/5)
November 13, 2017
Bagus
,
Bruce Greenwood
,
Carla Gugino
,
Crime
,
Don Johnson
,
Drama
,
horror
,
Jennifer Carpenter
,
Lumayan
,
Mike Flanagan
,
REVIEW
,
Robert Pattinson
,
S. Craig Zahler
,
Safdie Brothers
,
Vince Vaughn
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





