Tampilkan postingan dengan label Sofia Boutella. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sofia Boutella. Tampilkan semua postingan

REVIEW - PRISONERS OF THE GHOSTLAND

Kolaborasi antara Sion Sono yang dijuluki "the most subversive Japanese filmmaker" dengan Nicolas Cage si master Nouveau Shamanic, dalam film berjudul sekeren Prisoners of the Ghostland. Terdengar sempurna dan menjanjikan kegilaan yang mustahil berujung kegagalan.

First act-nya nampak berhasil memenuhi janji tersebut. Bahkan sejak menit-menit awal, ketika Cage, si jagoan tanpa nama yang kelak dipanggil "Hero", merampok bank bersama Psycho (Nick Cassavetes). Segala sisi bank itu berwarna putih, sementara karyawannya mengenakan seragam dengan warna berbeda-beda. Cage masuk, mengacungkan senjata, lalu berteriak, "Banzai!". 

Jangan tanyakan alasannya. Prisoners of the Ghostland adalah jenis film di mana penonton bakal sulit menikmati, bila mempertanyakan, "Kenapa si A bertingkah demikian? Kenapa si B bicara seperti itu? Kenapa penampilan si C aneh?", dan semacamnya. Kita cukup menerima bahwa pasca tragedi pada perampokan tadi, Hero ditangkap oleh The Governor (Bill Moseley), yang kedatangannya diiringi barisan wanita berkimono, yang bertepuk tangan sembari menyanyikan namanya. 

The Governor memimpin area kekuasaannya secara semena-mena, pula mencampurkan kultur Jepang dan wild west, yang tentu dipilih demi alasan estetika, dan bukan wujud kritik seputar westernisasi, kolonialisme, dan sebangsanya. Sekali lagi, itu memang tidak penting. Tidak perlu diambil pusing. Kita hanya perlu tahu kalau The Governor meminta Hero mencari cucunya, Bernice (Sofia Boutella), yang ditengarai hilang di Ghostland, sebuah tempat tandus penuh misteri. Konon, hantu-hantu keji meneror di sana. 

Jika berhasil, maka Hero akan diberi kebebasan. Sebagai jaminan, ia harus mengenakan kostum khusus yang dipasangi peledak di tiga area: leher, tangan, dan testikel. Apabila timbul impuls menyakiti wanita, maka salah satu bom langsung meledak. Sudah terbayang tontonan seperti apakah film ini? 

First act-nya amat menghibur. Ciri khas sang sutradara, ditunjang naskah buatan Aaron Hendry dan Reza Sixo Safai, memunculkan keabsrudan menggelitik. Nyaris tidak ada shot terbuang percuma. Sono memastikan, kapan pun mata tertuju ke layar, kita selalu dibuat geleng-geleng kepala oleh keanehannya. Entah berasal dari properti eye-catching, kostum unik, atau tingkah tokoh-tokohnya. 

Tentu Cage jadi sosok terdepan, sebagai jagoan yang saking badass-nya, lebih memilih menaiki sepeda keranjang daripada mobil mewah kala menjalankan misi. Di titik ini saya sadar, apabila Cage tampil buruk, itu bukan kekeliruannya, melainkan si pembuat film tidak tahu bagaimana memanfaatkan talenta sang aktor. Ketika dibiarkan lepas, Cage, yang di sini secara berapi-api berteriak, "TESTIKEL!", selalu memuaskan dahaga pencari hiburan.

Sayangnya, seiring berjalannya durasi, justru Sono yang tampak menahan diri dalam debut film Bahasa Inggrisnya ini. Seperti biasa, penyutradaraan Sono tak memperhatikan tetek bengek pacing atau pembangunan intensitas, dan sepenuhnya fokus melempar apa pun yang bisa ia lempar ke layar. Walau bisa menyulap momen yang di atas kertas membosankan jadi sajian unik (eksposisi mengenai sejarah terciptanya Ghostland dikemas bak performance art), Sono seolah malah kehabisan ambunisi saat dihadapkan pada adegan yang semestinya menarik.

Aksinya medioker, meskipun memiliki samurai, koboi, pasukan "hantu", dan tentunya Nicolas Cage. Eksekusinya terlampau serius dan jinak untuk sebuah film yang menjanjikan kegilaan ala b-movie. Naskahnya pun turut bertanggung jawab. Penuturan berantakan tak tentu arah bisa (bahkan harus) dimaklumi dalam suguhan macam ini, namun tidak dengan keliaran yang direm. Prisoners of the Ghostland masih punya keunikan, terutama di ranah visual, namun kolaborasi Sion Sono dan Nicolas Cage seharusnya tidak sewaras ini.


Available on KLIK FILM

THE MUMMY (2017)

Shared universe sekarang tengah merajalela di Hollywood. Tren satu ini seolah menandakan kepercayaan diri pihak studio akan franchise mereka, meski seringkali pula sekedar latah tanpa perencanaan jelas. Diawali oleh Marvel, kini DC/Warner Bros, Transformers, sampai MonsterVerse milik Legendary Pictures yang mengadu Godzilla dengan King Kong turut mengikuti. Di antara semuanya, jalan Universal dalam meluncurkan Dark Universe berisi sekumpulan karakter monster klasik terhitung paling terjal. Berniat memulai sejak 2014 lewat Dracula Untold, kualitas mengecewakan ditambah pendapatan biasa-biasa saja membatalkan rencana tersebut. 

Tiga tahun berselang, tugas mengawali franchise diemban The Mummy garapan Alex Kurtzman (People Like Us), di mana Tom Cruise berperan sebagai Nick Morton, seorang militer Amerika Serikat yang tengah bertugas di Irak. Ambisi menemukan harta karun terpendam justru mendorong Nick bersama arkeolog bernama Jenny (Annabelle Wallis) pada penemuan sarkofagus peninggalan kerajaan Mesir. Tanpa keduanya tahu, di dalamnya terdapat kutukan hasil perjanjian Puteri Ahmanet (diperankan dengan kombinasi sempurna antara karisma dan sensualitas milik Sofia Boutella) dengan Seth sang Dewa Kegelapan yang dahulu menciptakan pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan. 
Keseruan, ketegangan, kesenangan. Tiga poin tersebut substansial membangun blockbuster, dan kentara ada usaha menyatukan ketiganya. Namun masalah timbul kala Kurtzman kurang cakap mengatur tone terlebih soal komedi. Kurtzman tak pandai memainkan punchline, membiarkan selipan humor di naskah berlalu tanpa penekanan. Contohnya ketika Jenny mengungkapkan bahwa Nick adalah orang baik karena berkorban menyerahkan satu-satunya parasut pada Jenny, yang lalu dijawab singkat oleh Nick, "aku kira ada dua parasut". Pengadeganan Kurtzman memancing kebingungan. Apakah itu momen komedik? Ataukah serius yang menyatakan jika Nick tak sebaik dugaan Jenny? 

Keberadaan Tom Cruise untungnya lumayan menolong. Sang aktor mampu menyeimbangkan penampilan meyakinkan sebagai action hero tangguh dan pembawaan komedik. Bukan kali pertama Cruise memamerkan bakat tersebut, bukan pula yang tergila (masih dipegang Tropic Thunder), tapi melihatnya dihempaskan oleh Sofia Boutella atau menerima tendangan dari Annabelle Wallis tepat di wajah nyatanya luar biasa menghibur. Pun walau urung dimanfaatkan maksimal, fakta bahwa Nick bukan one-man army layaknya banyak karakter Cruise lain, pula sedikit menyentuh ranah antihero di paruh awal, membuatnya menarik. Masih menghabiskan mayoritas waktu berlarian (like Tom Cruie always does in his movies), Nick lebih sering tak berdaya menghadapi Ahmanet, setidaknya sebelum klimaks.
Kelemahan terbesar The Mummy terletak pada inkonsistensi terkait tensi. Diawali flashback ke Mesir kuno, daya tarik meningkat kala Ahmanet pertama kali beraksi di dunia modern, mengumpulkan pasukan memakai cara yang mengingatkan akan Lifeforce-nya Tobe Hooper. Reference lain bagi horor klasik hadir sewaktu Vail (Jake Johnson) "menghantui" Nick guna mengingatkannya akan teror yang segera menyerang. Situasi absurd itu dikemas menggelitik, sebagaimana situasi serupa di An American Werewolf in London. Lalu tensi menurun, bahkan mencapai titik nadir sewaktu film berkutat di pertemuan Nick dengan Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe). Momen itu berlangsung lama tetapi tanpa injeksi emosi maupun tambahan informasi. Apa sebenarnya organisasi yang Jekyll pimpin misalnya, tak pernah diungkap. 

The Mummy gemar memancing antisipasi penonton hanya untuk kemudian memberi payoff mengecewakan. Sewaktu Ahmanet bergerak mengerahkan segenap kekuatannya, kita bak dijanjikan suatu epic finale showdown berisi kehancuran masif London. Namun alih-alih kekacauan berskala besar, klimaks sekedar diisi pertarungan satu lawan satu ala kadarnya antara Nick melawan Ahmanet. Trio penulis naskah kelas wahid David Koepp (Spider-Man, Panic RoomChristopher McQuarrie (The Usual Suspects, Mission: Impossible - Rogue Nation), dan Dylan Kussman pun bagai terlampau malas merangkai resolusi meyakinkan, menambah kesan antiklimaks pergulatan dua tokohnya.