Tampilkan postingan dengan label Yalitza Aparicio. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yalitza Aparicio. Tampilkan semua postingan
ROMA (2018)
Rasyidharry
“Miracle resides within your will”, ucap guru bela diri/spiritual,
Professor Zovek (diperankan Luchador
Latin Lover), sambil berdiri dengan sebelah kaki dan kedua tangan sementara
matanya ditutup. Para murid dan penonton mengikuti, namun semua gagal, kecuali
Cleo (Yalitza Aparicio), protagonis dalam usaha Alfonso Cuaron menuturkan kisah
seseorang yang kerap dilupakan meski punya jasa besar: asisten rumah tangga (ART)
alias pembantu. Cleo dipedulikan oleh para majikan, tapi tetap saja, nama
tengah, usia, dan tanggal lahirnya tak diketahui.
Seperti ART kebanyakan, Cleo hanya
berdiam diri di belakang, tersenyum sembari tetap mengawasi, ketika majikannya
bersantai menonton televisi atau berlarian di pantai. Dia merapikan kamar,
membersihkan kotoran anjing, menyiapkan makanan, di saat kepala keluarga
tempatnya bekerja, Antonio (Fernando Grediaga) mengeluhkan kebersihan rumah
walau jarang pulang menemani istri dan anak-anaknya. Ketika anak-anak selalu
bertengkar satu sama lain, sementara sang ibu, Sofia (Marina de Tavira),
kesulitan mengatur emosi akibat perilaku sang suami, Cleo, tanpa mereka sadari,
menjadi perekat yang menjaga keluarga tersebut tetap berdiri.
Mengadopsi gaya neorealisme Italia
termasuk pemakaian warna hitam-putih, Cuaron yang kali ini merangkap penulis
naskah, sinematografer, dan co-editor, beralih sejenak dari keriuhan blockbuster setelah mengkhatamkan
ilmunya lewat tiga film terakhir, termasuk Gravity
(2013) yang memberinya piala Oscar untuk “Sutradara Terbaik”. Tapi toh jika diperhatikan,
Roma bukan arthose neorealisme biasa. Ceritanya memang cerminan sehari-hari minim
dramatisasi, pun set-piece berskala
besar takkan ditemukan, namun aspek teknisnya lebih kompleks dari kelihatannya.
Boleh dibilang, “khas Cuaron”.
Gambar pembukanya langsung mengunci
atensi saya. Menampilkan lantai biasa yang ditangkap menggunakan kamera statis,
tak lama kemudian alir mengalir, menciptakan refleksi langit dan pesawat yang
sempat melintas. Momen tersebut membuktikan kemampuan Cuaron mengekstraksi
keindahan dari hal kecil. Berikutnya lihat bagaimana Cuaron menggerakkan
kameranya perlahan ke tiap penjuru ruangan mengikuti langkah karakternya.
Setiap sapuan kamera mengajak
penonton mengamati detail mise en scène
yang tak hanya menghasilkan observasi terhadap aktivitas Cleo, pula orang-orang
serta kejadian di sekitarnya. Dari pesta dansa, memadamkan kebakaran hutan,
hingga yang paling kompleks, reka ulang pembantaian Corpus Christi, menunjukkan
betapa lihai sang sutradara memvisualisasikan peristiwa yang membutuhkan
ketepatan timing tinggi. Dan
menggarap film kecil rupanya tak melunturkan kemampuan Cuaron membangun situasi
intens, yang seperti biasa, banyak dibungkus memakai take panjang.
Mungkin tidak semua orang merasa
terikat dengan jalinan ceritanya, apalagi ditambah penggunaan tempo lambatnya.
Tapi jika tak mampu mengoyak perasaan, setidaknya Roma bisa menyedot seluruh perhatian anda terhadap kisahnya. Kisah
yang lebih mirip tangkapan realita suata masa tatkala Cuaron menyatukan beragam
tema, mulai dari keluarga, gender (termasuk sindiran terhadap maskulinitas),
sampai politik.
Tapi tidak ada tumpang tindih,
sebab keseharian Cleo tetap dikedepankan, sementara elemen-elemen lain
dibiarkan lewat sebagai bagian rutinitas yang memperkaya pemahaman kita akan
kondisi Colonia Roma, Meksiko, pada 1970-1971 kala Cuaron menghabiskan masa
kecil (film ini bersifat semi-autobiografi berdasarkan memori Cuaron tentang
pengasuhnya, Libo Rodriguez). Minim dialog, Cuaron membiarkan kameranya bicara
soal kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitar, atau bagaimana ia memandang
sang ayah sebagai sosok berwibawa ketika tengah memarkir Ford Galaxie miliknya
di garasi kecil sambil merokok.
Sebagai neorealisme yang baik,
segala aspek pun harus tampak senyata mungkin. Di departemen akting, Yalitza
Aparicio tidak berlebihan, tidak pula terlalu menekan luapan emosi sebagaimana
kerap kita temui dalam arthouse.
Cuaron membiarkan aktrisnya, yang masih nihil pengalaman, bermain senatural
mungkin, sembari ia menggerakkan filmnya bagai reka ulang memori yang mengalir
mulus, salah satunya berkat penyuntingan rapi. Pun serupa realita, selalu ada
kejadian dramatis. Cuaron menumpahkan seluruh emosi yang tertahan di sebuah
momen jelang akhir, kala Cleo beserta orang-orang yang ia layani akhirnya “bersatu”
di bawah siraman cahaya mata hari senja.
Desember 19, 2018
Alfonso Cuaron
,
Drama
,
Fernando Grediaga
,
Marina de Tavira
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Yalitza Aparicio
Langganan:
Postingan
(
Atom
)