Tampilkan postingan dengan label Adam Brody. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adam Brody. Tampilkan semua postingan

REVIEW - THE KID DETECTIVE

Seperti judulnya, The Kid Detective memang sebuah kisah detektif. Melibatkan kasus pembunuhan, diisi berbagai elemen neo-noir, baik dalam penceritaan maupun gaya artistik, termasuk alunan musik jazzy gubahan Jay McCarrol. Tapi di balik penyelidikan-penyelidikannya, ada jalinan cerita yang jauh lebih relatable. Mengenai anak yang (dipandang dan merasa) gagal memenuhi potensinya.

Banyak orang pernah mengalami hal serupa. Tumbuh dewasa sebagai orang biasa, atau malah dianggap pecundang, akibat dibebankan ekspektasi terlampau tinggi. Misal karena semasa kecil ia berstatus juara kelas, atlet berbakat, atau bergelimang prestasi di berbagai lomba. The Kid Detective bicara tentang bagaimana si bocah berusaha membuktikan kemampuannya tatkala menginjak kepala tiga.

Bocah itu bernama Abraham "Abe" Applebaum (Jesse Noah Gruman), yang saat baru berumur 12 tahun menjadi selebritis lokal di kotanya, karena dicap "detektif jenius". Dia mampu memecahkan kasus-kasus minor, seperti uang penggalangan dana yang dicuri, atau peliharaan hilang. Bahkan dia mempunyai kantor sendiri, di mana sang sahabat sekaligus puteri walikota, Gracie (Kaitlyn Chalmers-Rizzato), menjabat sekretaris. 

Sampai terjadilah peristiwa menghebohkan. Gracie lenyap tanpa jejak. Jangankan Abe, kepolisian pun gagal menemukannya. Selang 20 tahun, Abe (kini diperankan Adam Brody) masih merasa gagal. Demikian pula cara masyarakat memandangnya. Bukan lagi bocah jenius, melainkan pecundang berumur 32 tahun, yang menolak tumbuh dewasa, sebab alih-alih mencari "pekerjaan sungguhan", Abe masih menjalankan praktek sebagai detektif. Kasus yang diusut masih tidak jauh beda. Kucing hilang, uang hilang, dan semacamnya.

Naskah buatan sang sutradara, Evan Morgan, menekankan pada bagaimana anak sekecil Abe tidak seharusnya mengemban beban sebesar itu. Abe tak (sepenuhnya) salah. Masyarakat berperan membentuk pribadinya. Ekspektasi dan tuntutan-tuntutan berlebih jadi pemicu. Sewaktu akhirnya Abe menerima kasus penting, sang ayah melarangnya, karena menganggap puteranya itu kurang pengalaman. Tapi sang ayah juga mengeluhkan keputusan Abe mengusut kasus itu tanpa dibayar demi pembuktian diri. Apa pun tindakan Abe, selama tidak sesuai norma sosial, pasti dianggap salah.

Kasus penting tersebut adalah pembunuhan terhadap seorang siswa SMA. Caroline (Sophie Nélisse), kekasih korban, menjadi klien Abe. Kalimat yang Abe ucapkan kepada Caroline, rasanya sempurna merangkum investigasi mereka. "No matter how simple a case may seem, it's always shocking what you find". Alias, sederet kejutan sudah menanti di depan. Siapa pelaku sesungguhnya? Apakah benar korban merupakan remaja kutu buku biasa yang tak bermasalah sedikitpun? Apa kaitannya dengan geng kriminal setempat?

Meski kompleksitas yang seringkali terkesan ruwet jadi salah satu sifat noir, Morgan memilih pendekatan lebih bersahabat demi memperluas jangkauan pasarnya. Keping-keping misteri tersusun rapi, gampang diikuti, sementara pengungkapan petunjuk serta fakta yang dilakukan bertahap, mampu mempertahankan daya tarik alur hingga mencapai babak akhir tatkala mayoritas kejutan ditumpahkan.

Morgan turut membuktikan kepiawaian merangkai komedi. Kebanyakan berupa komedi hitam yang tidak cuma menggelitik, pula tajam, berani, bahkan terkadang ada di garis batas moralitas. Ada kalanya Morgan seperti membuat naskah selepas menghadiri kelas penulisan Shane Black. Karena selain komedi hitam, interaksi dua protagonis (Abe dan Caroline) pun menghadirkan dinamika menarik antara pria dewasa yang ingin menunjukkan dirinya bukanlah seorang pecundang, dan gadis remaja naif, yang tetap meyakini kehebatan sang detektif meski berulang kali ia berbuat hal-hal yang pantas dipertanyakan.

Adam Brody tampil kacau, tentu dalam artian positif. Kadang saya dibuat ikut meragukan kapasitas Abe, tetapi tidak sekalipun menganggapnya pecundang. Abe adalah pria yang jatuh terlalu dalam, dan penampilan Brody membuat saya ingin melihatnya bangkit. Abe mungkin kerap berkelakuan tidak bertanggung jawab, terlebih untuk ukurang orang seusianya, tapi Brody mampu menunjukkan, bahwa sejatinya Abe tetap orang baik, yang terjebak rasa sakit berkepanjangan. 


Available on NETFLIX

READY OR NOT (2019)

Pernikahan itu menyeramkan. Pertanyaan “sudahkah aku siap?” bakal setia menggelayuti. Tapi kita takkan pernah siap berada di posisi Grace (Samara Weaving), tatkala keluarga sang suami (Keluarga Le Domas) bukan cuma menolak, tapi berusaha membunuhnya. Dan sembari Grace ketakutan setengah mati, penonton diajak bersenang-senang menikmati penderitaan sang protagonis.

Sejatinya Grace telah mengetahui bahwa Alex (Mark O’Brien) punya keluarga disfungsional. Si ayah mertua (Henry Czerny) membencinya, si kakak ipar (Adam Brody) gemar merayunya, sementara Helene (Nicky Guadagni), bibi Alex, terus memandanginya lewat tatapan menghantui. Grace siap menghadapi kesulitan adaptasi, tapi tidak dengan ritual aneh yang memaksanya mengikuti permainan tepat tengah malam selepas upacara pernikahan.

Ritual ini adalah rutinitas, layaknya perploncoan bagi calon anggota keluarga baru. Kenapa melalui permainan? Karena kekayaan melimpah Dinasti Le Domas dibangun di atas bisnis permainan. “Kamu hanya perlu bermain”, demikian ucap Alex guna menenangkan sang istri. Tiba tengah malam, dan Grace mesti memilih jenis permainan dengan mengambil kartu acak dari kotak misterius, yang konon diperoleh kakek buyut Keluarga Le Domas dari seorang pria bernama Mr. Le Bail.

Grace menarik kartu bertuliskan “Hide & Seek”. Bukan petak umpet biasa tentunya, karena di sini Grace mesti bersembunyi dari kejaran Keluarga Le Domas yang berusaha membunuhnya sebelum matahari terbit. Muncul pertanyaan, “Apa yang terjadi bila Grace mendapat kartu lain?”. Permainan lain jelas lebih ringan, melihat banyaknya menantu Keluarga Le Domas yang selamat. Sebuah eksplorasi tambahan yang niscaya menambah daya tarik, namun ketiadaannya bukanlah dosa.

Terpenting, bagaimana Ready or Not menghantarkan hiburan efektif melalui sajian horor/thriller seru berbumbu komedi hitam yang cenderung brutal. Tingkat kekerasannya di atas rata-rata, yang bersumber dari situasi sepeti wajah meledak, kepala pecah, pemenggalan, dan lain-lain. Tapi hampir seluruh kebrutalan tersebut berujung memancing tawa, tatkala duo penulis naskahnya, R. Christopher Murphy (Minutes Past Midnight) dan Guy Busick, berani menerapkan selera humor unik sekaligus sakit milik mereka.

Filmnya semakin menggelitik pasca kondisi berbalik, ketika Keluarga Le Domas yang awalnya ditampilkan bak gerombolan psikopat, mulai memperlihatkan kecanggungan, ketidakmampuan, serta kebodohan masing-masing, sedangkan Grace sang buruan pelan-pelan menemukan pijakan bahkan berbalik mengancam para pemburunya.

Diperankan begitu apik oleh Samara Weaving, sosok Grace jadi bukti nyata bahwa skena horor butuh lebih banyak figur protagonis wanita yang sanggup melawan balik. Selain tampak tangguh, Samara pun mampu menangani sikap (dan tutur kata) “peduli setan” milik Grace untuk menciptakan situasi komedik yang tak jarang histerikal. Serupa kesuksesan Jessica Rothe dalam peran serupa di seri Happy Death Day, Samara Weaving pantas mendapat perhatian lebih selepas film ini.

Sayang, penyutradaraan duet Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (V/H/S, Devil’s Due, Southbound) kerap kurang mampu mengejar naskah playful dan performa energetik sang aktris utama. Di beberapa kesempatan, khususnya momen aksi bernuansa kacau, sulit melihat detail kejadian akibat pemakaian close up plus pergerakan kamera yang terlampau cepat. Pun keduanya tak kuasa memberi pertolongann saat naskahnya sempat kehabisan ide jelang babak ketiga, di mana jalan menuju ke sana disusun oleh repetisi melelahkan.

Beruntung, baik departemen penulisan maupun penyutradaraan sama-sama enggan menahan diri meluapkan banjir arah pada klimaks yang menyentuh ranah horor splatter, bak gabungan Scanners dan Dead Alive. Pun selagi menggila, Ready or Not tak ketinggalan menyisipkan pesan, dari persoalan keluarga seperti pola asuh, keserakahan, sampai pertanyaan, “Jika seseorang memihak keluarga ketimbang pasangan hidupnya, apakah itu sungguh wujud kasih sayang atau sebatas sikap pengecut?”