Tampilkan postingan dengan label Adlu Fahrezy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adlu Fahrezy. Tampilkan semua postingan
KUNTILANAK (2018)
Rasyidharry
Dalam horor, momen ketika kamera dan/atau karakter bergerak
lambat menghampiri sumber suara atau bayangan misterius atau apa pun yang
takkan didekati manusia normal di dunia nyata, berfungsi memupuk ketegangan dan
antisipasi. Sebagai ganti tempo lambat itu, mesti disiapkan penebusan, di mana jump scare kerap jadi primadona. Apabila
gagal memberi penebusan setimpal, penonton hanya akan ditinggalkan bersama rasa
bosan, yang makin melelahkan jika kegagalan terjadi berulang kali, kemudian
berkembang jadi kekesalan sewaktu kuantitasnya melebihi batas normal. Sutradara
Rizal Mantovani (trilogi Kuntilanak,
Jelangkung, Bayi Gaib: Bayi Tumbal, Bayi Mati) dan tim memahami poin di
atas, sehingga Kuntilanak sedikit lebih
baik dari rentetan horor busuk
belakangan, meski kalau melihat judul-judul pembanding, “sedikit lebih baik”
bukan prestasi membanggakan.
Lima anak penghuni panti asuhan, Dinda (Sandrinna M Skornicki),
Kresna (Andryan Bima), Ambar (Ciara Nadine Brosnan), Panji (Adlu Fahrezy), dan
Miko (Ali Fikry) harus berpisah sejenak dengan ibu asuh mereka, Donna (Nena
Rosier) yang mesti bepergian ke Amerika selama 3 minggu. Sebagai pengganti,
Lydia (Aurelie Moeremans) diminta menjaga mereka. Jangan berharap Lydia maupun
kekasihnya, Glenn (Fero Walandouw), si pembaca acara horor di televisi—yang
bertanggung jawab membawa cermin terkutuk tempat kuntilanak bersemayam ke panti
asuhan—mendapat porsi banyak. Kuntilanak
memang berpusat pada tokoh anak, layaknya IT
(2017) atau karya-karya klasik Steven Spielberg.
Cermin penebar teror tersebut berasal dari sebuah rumah bernama
“rumah kuntilanak”, yang dipercaya ditinggali sesosok kuntilanak yang
menyebabkan hilangnya seorang bocah 4 bulan lalu. 4 bulan yang bagaikan 4 tahun
melihat kondisi rumah yang bahkan telah diselimuti akar-akar besar entah dari
mana. Tentu rumah ini terbengkalai, walau fakta itu terasa membingungkan saat pemilik
lamanya tiba-tiba muncul memergoki kelima protagonis kita yang tengah masuk
guna membuktikan keberadaan kuntilanak. Kebingungan lain: siapa hantu-hantu
selain kuntilanak yang rutin mengganggu anak-anak itu tiap malam? Misalnya Hantu
Penari yang muncul di tengah upaya Rizal memberi homage bagi Poltergeist.
Wujud serta modus operandinya jelas berbeda dibanding kuntilanak yang
mitologinya diperkenalkan ke penonton.
Beberapa momen jump
scares sanggup dikemas cukup solid oleh Rizal dengan segelintir di
antaranya memiliki daya kejut lumayan berkat timing tidak terduga. Kebanyakan berujung datar, tanpa penebusan
setimpal sebaimana telah dibahas di awal tulisan, tapi setidaknya kita bisa
melihat bahwa Rizal bukan sineas horor malas yang asal melemparkan hantu
sedekat mungkin ke layar. Sayangnya, tatkala film versi lama yang dibintangi
Julie Estelle dahulu memperkenalkan penonton akan desain kuntilanak dengan rasa
fantasi, di sini sang titular ghost
tampak medioker, kurang mengerikan, mudah dilupakan. Pernyataan yang disebut terakhir
bisa didebat, karena paling tidak saya bakal selalu mengingat kuntilanak di
sini sebagai “hantu wanita berjidat lebar itu”.
Alim Sudio (Guru Ngaji,
Ananta, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku penulis naskah mungkin urung membangun
pondasi cerita kokoh. Misterinya tak meninggalkan penasaran dan antusiasme,
unsur drama keluarganya berlangsung hambar. Tapi berkatnya, Kuntilanak bukanlah satu lagi horor yang
tersusun atas fragmen-fragmen jump scare overdosis
yang digabungkan paksa. Ada jembatan berbentuk usaha memantapkan hubungan
antara bocah-bocah panti asuhan melalui sederet humor yang lebih efekif
memancing tawa ketimbang jump scare-nya
dalam memancing kengerian, khususnya celetukan-celetukan “semaunya” dari Ciara
Nadine Brosnan selaku pemeran Ambar si bungsu, walau keputusan Rizal
menyelipkan efek suara plus musik konyol khas sinetron tiap humor tersaji terasa mengganggu. Ini bukan Tukang Ojek
Pengkolan.
Ada kepolosan menggelitik dalam celetukan Ambar, berbeda
dengan di banyak kesempatan ketika naskahnya memaksa anak-anak ini bicara,
menjelaskan mitologi kuntilanak bagai orang dewasa. Klimaksnya (baca: penebusan
terhadap keseluruhan film) juga terganggu masalah serupa. Bermaksud
menghadirkan kekacauan menyenangkan, kilmaks film ini justru berakhir sebagai
kekacauan murni akibat percakapan-percakapan—atau tepatnya teriakan-teriakan—tak
perlu yang dilontarkan para protagonis selaku penjelas verbal bagi seluruh hal
yang tengah terjadi. Tidak, kalimat yang terlontar dari mulut anak-anak tidak
semestinya kaku dan membosankan. Sebaliknya, acap kali menarik, tak
terduga, absurd, menggelitik, pastinya lebih menghibur dari (film) ini.
Juni 08, 2018
Adlu Fahrezy
,
Ali Fikry
,
Alim Sudio
,
Andryan Bima
,
Aurelie Moeremans
,
Ciara Nadine Brosnan
,
Fero Walandouw
,
horror
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Nena Rosier
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Sandrinna M Skornicki
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

