Tampilkan postingan dengan label Ali Eunoia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ali Eunoia. Tampilkan semua postingan
BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI (2018)
Rasyidharry
Inspira Pictures. Dengan nama seperti itu, bisa ditebak rumah
produksi satu ini bertujuan melahirkan film inspiratif. Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi selaku karya komersil perdananya
merupakan adaptasi novel Cinta 2 Kodi
buatan Asma Nadia, yang didasari kisah nyata Kartika, seorang pengusaha baju
muslim anak. Film ini bukan cuma ingin bicara soal kesuksesan bisnis, walau bagaimana
Kartika mampu mengembangkan usaha kecilnya jadi sebesar sekarang sejatinya
sudah cukup mengagumkan. Tapi ini buah pikir Asma Nadia. Harus ada yang lebih
dari sekedar menghasilkan uang.
Ibarat proses membuat lagu, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi menyertakan sebanyak mungkin instrumen
demi hasil maksimal. Ketika semua alat beserta musisi telah terkumpul, sang
komposer justru kebingungan menata porsi dan posisi masing-masing. Pun sang komposer meminta penggebuk drumnya
memainkan pedal ganda walau lagunya bergenre pop. Proses sederhana akhirnya
berujung kerumitan tak perlu. Kartika (Acha Septriasa) tertegun mendapati
suaminya, Fahrul (Ario Bayu) meminta izin menikah lagi untuk memenuhi keinginan
ibunya yang sakit parah. Apa perlunya konflik ini?
Fahrul bahkan meminta Kartika menggugurkan bayi kedua mereka.
Lagi-lagi apa perlunya? Selain itu, permintaan ini berlawanan dengan penokohan
Fahrul si ayah penyayang. Melompat ke pertengahan film, Fahrul tak sengaja
menjatuhkan bahan pesanan Kartika. Fahrul yakin bahan itu jatuh ketika ia
nyaris tertabrak mobil. Bila saya di posisi Fahrul, saya akan bergegas kembali
ke lokasi, mencarinya. Alih-alih demikian, Fahrul cuma minta maaf, meratap,
masuk ke dalam rumah. Tentu Kartika marah besar. Masalah yang takkan
berkepanjangan jika terjadi pada manusia normal di dunia nyata.
Penokohan Kartika sebenarnya cukup menarik. Dia mengatur
hidup kedua puterinya, angkuh, tenggelam dalam pekerjaan dan lupa keluarga. Keputusan karakterisasi yang dalam konteks “film inspiratif”
termasuk berisiko sehingga patut diapresiasi. Andai konflik dikerucutkan di
bagian ini, yaitu tentang orang tua yang membanting tulang demi para buah hati
namun sempat melupakan tujuan tersebut, alurnya bakal lebih tertata. Sebab
seiring masalah bertambah, makin sulit mengidentifikasi arahnya. Soal
pemberdayaan wanita? Kesetiaan cinta? Pengorbanan ibu bagi anak? Mana yang
utama mana yang pendukung tampak kabur, tak saling mengikat, seolah berdiri
sendiri-sendiri.
Penyutradaraan Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo untungnya
memiliki sensitivitas. Lihat saat Fahrul memohon agar Kartika menerimanya lagi.
Ali dan Bobby enggan meledakkan dramatisasi. Dibungkus cahaya temaram sinematografi
Yadi Sugandi, dialognya diucapkan setengah berbisik pun tanpa musik. Kedua sutradara
membangun keintiman sembari mengandalkan akting pemain. Acha dituntut meluapkan
amarah sambil berteriak berulang kali dan sanggup membuatnya tidak repetitif.
Selalu ada detail kecil untuk pembeda antar situasi. Bermodalkan charm-nya, Ario Bayo meyakinkan
memerankan sosok ayah idola anak-anaknya, yang turut diperankan dengan baik
oleh Arina Mindhisya dan Shaquilla Nugraha.
Apakah Bunda: Kisah
Cinta 2 Kodi inspiratif? Sebagai inspirasi semu mungkin saja. Aspek
bisnisnya penuh simplifikasi, berorientasi pada hasil ketimbang menelusuri
pergulatannya lebih mendalam. Memang baru sampai situ makna “inspiratif”
bagi sebagian masyarakat kita. Pokoknya kesuksesan
dapat diraih di tengah keterbatasan tanpa tertarik memahami cara menuju ke sana.
Pokoknya permasalahan seberat apa pun dapat terselesaikan. Entah benar-benar selesai
atau cuma dijustifikasi sebagaimana film ini menyelesaikan problematika
tokoh-tokohnya. Baik Kartika maupun Fahrul menyulut masalah-masalah pelik, berbuat kekeliruan fatal, lalu begitu saja dimaafkan dan terlupakan.
Februari 11, 2018
Acha Septriasa
,
Ali Eunoia
,
Ario Bayu
,
Asma Nadia
,
Bobby Prasetyo
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
REVIEW
,
Yadi Sugandi
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



