Tampilkan postingan dengan label Yadi Sugandi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yadi Sugandi. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KELUARGA CEMARA 2

Ada perbedaan antara "film anak" dan "film dengan protagonis anak". Jenis pertama berbentuk hiburan ringan, sedangkan yang kedua punya jangkauan lebih luas, dari crowd-pleaser untuk semua kalangan hingga arthouse. Di bawah pengarahan Ismail Basbeth, Keluarga Cemara 2 ingin menyeimbangkan sisi mainstream dan alternatif (hal yang nampak dalam filmografi sang sutradara), namun justru melahirkan inkonsistensi. 

Akibat COVID, Abah (Ringgo Agus Rahman) mesti mencari pekerjaan baru, sedangkan Emak (Nirina Zubir) mendapati penjualan opaknya menurun drastis. Tabungan menipis, padahal kini sudah ada puteri ketiga, Agil (Nilouger Bahalwan). Tapi Keluarga Cemara 2 adalah "filmnya Ara (Widuri Puteri)". Ara yang merasa keluarganya selalu ingkar janji. Ara yang merasa ditinggalkan oleh kakaknya, Euis (Adhisty Zara), yang memasuki usia remaja dan mulai mengenal cinta. 

Saat itulah Ara mulai akrab dengan Aril (Muzakki Ramdhan), lalu memulai petualangan bersama, yang melibatkan seekor ayam. Film ini memang penuh dengan ayam. Ara mendengar suara ayam memanggilnya, bahkan bisa mengajak bicara Neon, anak ayam yang ia temukan di jalan. Mungkin karena Ara sendiri seperti anak ayam yang terpisah dari keluarga. Hanya saja, Ara dan keluarganya terpisah bukan secara fisik. 

Mereka tetap serumah, selalu bersama, namun sulit bersatu. Abah makin sibuk karena pekerjaan baru, Emak harus memikirkan bisnis sampingan sembari menjaga Agil, sementara Euis memasuki masa puber. Kondisi berubah, anggota keluarga berubah, hubungan pun berjarak. Sulitnya Abah memercayai kemampuan Ara berkomunikasi dengan ayam juga menunjukkan jurang pemisah, di mana orang tua kesulitan memahami dunia anak yang jauh dari "masuk akal". Alhasil, Ara lancar berkomunikasi dengan dengan Neon, tapi tidak dengan keluarganya.

Naskah buatan M. Irfan Ramly sudah punya gagasan dasar kuat nan kreatif, tentang bagaimana karakternya menghadapi perubahan, guna mempertahankan nilai "harta paling berharga adalah keluarga". Mudah bersimpati pada Ara yang merasa dipojokkan semua orang, tapi kita pun dibuat tak serta merta menyalahkan Abah maupun Euis, sebab perubahan mereka beralasan. 

Satu kelemahan naskahnya adalah, tingginya kuantitas konflik berujung merendahkan kualitas dalam hal kematangan cerita. Tiada yang benar-benar maksimal. Jika film pertamanya terasa utuh, maka Keluarga Cemara 2 bak rangkuman berbagai episode serial. 

Lalu ada perihal inkonsistensi yang telah saya singgung di atas. Di satu sisi, Keluarga Cemara 2 tampil bagai film anak berisi petualangan dua karakter bocah. Selipan humor yang masih digawangi Asri Welas dan Abdurrahman Arif pun menguatkan kesan "ini hiburan ringan". Tapi tidak jarang, filmnya muncul dengan kemasan yang sukar dinikmati penonton bocah, yang membuatnya terombang-ambing di antara dua sisi tanpa kepastian. 

Mari simak perjalanan Ara dan Aril mencari keluarga Neon. Bagi penonton dewasa yang tumbuh di pedesaan seperti saya, menyaksikan mereka melewati hujan dan menembus kabut di tengah alam asri, yang ditangkap secara cukup cantik oleh kamera Yadi Sugandi selaku sinematografer, memancing rasa homey yang mendamaikan. Tapi penonton anak bakal sulit mempertahankan atensi akibat minimnya dinamika. Ketimbang "petualangan" mungkin lebih pas disebut "jalan santai".

Pacing-nya tak kalah memberatkan. Beberapa adegan bergulir beberapa detik lebih lama dari semestinya, pun sebuah shot bernuansa sunyi yang berlangsung tidak sebentar, kala Emak merenung di malam hari, terasa out-of-place bagi film anak. Walau harus diakui, beberapa shot yang Basbeth rangkai, mampu berbicara lebih kuat dibanding bahasa verbal. Misal sewaktu Ara duduk di meja makan, dan kursi sebelahnya, yang biasa diduduki Euis, nampak kosong. Momen tersebut efektif menggambarkan kehilangan yang menusuk hati Ara. 

Setidaknya jajaran cast masih muncul dengan akting memuaskan. Ringgo dan Nirina kembali membawa sensitivitas yang hangat, Zara semakin nyaman di depan kamera, pun Widuri membuktikan diri pantas diberi porsi lebih. Muzakki tidak perlu ditanya. Memerankan Aril adalah tugas ringan baginya. 

Tapi jangan harap dibuat mengharu biru seperti film pertama. Pendekatan alternatif yang Basbeth terapkan cenderung menekan luapan emosi. Ada kalanya ekspresi rasa berhasil dipercantik sebagaimana adegan Ara di meja makan tadi, namun acap kali, rasa itu sebatas ditahan. Dibiarkan mengendap. Setidaknya, babak konklusi Keluarga Cemara 2 menyimpan keindahan bermakna, saat semua orang diperlihatkan "menuju ke Ara". Ara menyatukan semuanya, karena sekali lagi, mereka adalah keluarga cemara. 

REVIEW - KAMU TIDAK SENDIRI

Lahir dari cerita gagasan Lukman Sardi, kemudian ditulis naskahnya oleh Titien Wattimena, Kamu Tidak Sendiri memiliki bentuk menarik. Berlatar di tengah gempa dahsyat, ini bukan tentang hancurnya seisi kota akibat bencana, tapi bagaimana bencana itu berdampak pada segelintir individu. 

Ada dua tokoh sentral, yakni Mira (Adinia Wirasti), bos yang dikenal galak oleh anak buahnya, dan Adrian (Rio Dewanto), mantan anggota SAR yang kini menjadi sekuriti gedung kantor Mira. Suatu malam setelah lembur, Mira berada satu lift dengan Mika (Ganindra Bimo), yang sudah lama menjadi pengagum rahasianya. Mendadak lift tersebut macet, mengurung Mira bersama pria yang baru dikenalnya.

Saya mempertanyakan fungsi Mika di narasinya. Jika diniati sebagai pemicu kesediaan Mira membuka diri pada orang lain (selama ini dia menutup diri, baik dari keluarga maupun rekan kerja), rasanya kurang sesuai. Pertama, karena tutur kata Mika memberi kesan creepy, yang ada di garis batas antara pengagum dan penguntit. Kedua, peran itu sudah diemban Adrian, begitu ia berkomunikasi dengan Mira melalui interkom. 

Dimulainya interaksi Mira-Adrian turut mengawali titik balik Kamu Tidak Sendiri, dari thriller satu lokasi biasa, menjadi tuturan yang berorientasi psikis. Saya yakin, banyak penonton juga mengira Adrian bakal melakoni peran ala jagoan dalam film bencana, yang dengan heroik muncul selaku penyelamat. Rupanya tidak. Kita justru hampir tidak pernah melihat wajah Adrian, dan lebih banyak mendengar suaranya.

Inilah daya tarik terbesar filmnya. Bukan sebuah upaya bertahan hidup sarat aksi, melainkan soal kekuatan kata-kata dalam interaksi manusia. Adrian memberi pertolongan pertama, yang bukan (hanya) menyasar fisik, pula psikis. Naskahnya secara bertahap membangun hubungan kedua tokoh, menjadikan ikatan keduanya terasa masuk akal, ketika pelan-pelan mereka (khususnya Mira) mulai membuka diri. 

Obrolan Mira dan Adrian pun tersaji menghibur berkat sentuhan humor. Ketika banyak thriller kita justru melelahkan akibat menganggap dirinya terlampau serius, Kamu Tidak Sendiri tampil sebaliknya. Materi humornya memang cenderung hit-and-miss, namun kehadirannya tidak dipaksakan, bukan sebatas "ayo melucu" demi pemanis, tapi substansial membangun dinamika karakternya. 

Arwin T Wardhana selaku sutradara, dibantu Yadi Sugandi sebagai penata kamera, banyak memakai close-up, yang selain langkah cerdik menutupi sebuah twist, juga bentuk kepercayaan terhadap talenta Adinia Wirasti.  Seperti biasa, penampilannya kuat. Adinia tahu kapan harus meredam diri, kapan waktunya meledakkan emosi. Dialah pondasi yang menjaga film ini berdiri kokoh, biarpun acap kali Arwin bak terbuai akan performa sang aktris, sehingga terlalu lama menghabiskan waktu di satu titik (terutama tiap Adinia bercucuran air mata). Pacing penuturannya pun jadi terganggu.

Kamu Tidak Sendiri juga masih belum lepas dari masalah film berlokasi tunggal, yakni kurangnya variasi peristiwa. Ada kalanya timbul kesan monoton, apalagi saat momen-momen halusinasi tampil lebih banyak dari seharusnya, termasuk "pertemuan khayal" antara Mira dan Adrian, yang daripada menyentuh, malah berakhir cheesy. 

(JAFF 2021)

NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI (2020)

Sebuah pesawat kertas melayang di atas awan, diiringi lagu Rehat milik Kunto Aji yang mengeset keseluruhan mood Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (damai, agak puitis, sesekali sendu, terkadang hangat), membuka film panjang kesebelas sutradara Angga Dwimas Sasongko ini, yang merupakan adaptasi novel berjudul sama buatan Marchella FP. Menurut Angga, inilah karyanya yang paling membanggakan. Pernyataan itu beralasan. Mengingatkan akan gaya Hirokazu Koreeda, Angga menangani materi yang oleh sutradara lain mungkin bakal digiring ke arah tearjerker menjadi sajian slice of life bernuansa kontemplatif bertema keluarga yang tetap mudah dinikmati kalangan luas.

Pasangan suami-istri, Narendra (Oka Antara) dan Ajeng (Niken Anjani) sedang menyambut kelahiran puteri bungsu mereka, Awan. Tapi ketimbang kebahagiaan, kesedihan justru terpancar. Kemudian kisahnya melompat menuju beberapa tahun kemudian, kala ketiga buah hati Narendra dan Ajeng (kini diperankan Donny Damara dan Susan Bachtiar) telah beranjak dewasa. Walau keluarga ini sekilas bahagia, tampak betul Narendra menganakemaskan Awan (Rachel Amanda). Disuruhnya Angkasa (Rio Dewanto) si anak sulung menjemput adiknya tiap pulang kerja, sedangkan Aurora (Sheila Dara) si anak kedua lebih gemar mengurung diri di studio, membuat benda-benda seni kontemporer.

Dampaknya, Angkasa kerap terdistraksi dan tak berkesempatan mengejar kebahagiaannya sendiri; Aurora merasa dikesampingkan; pun Awan mulai jengah dikekang. Bahkan Awan sampai harus berulang kali terlibat pertengkaran dengan ayahnya kala mulai menjalin kedekatan dengan Kale (Ardhito Pramono), rekan Angkasa sekaligus manajer band idolanya. Apa alasan Narendra begitu mengatur anak-anaknya? Mengapa sebegitunya ia “menjaga” Awan? Apakah semata karena Awan puteri bungsu? Beberapa flashback yang sesekali muncul, akan pelan-pelan mengupas alasannya, meski jika memperhatikan, jawaban itu bisa anda dapat sedari momen pembuka.

Ditulis oleh Angga bersama Jenny Jusuf (Filosofi Kopi, Critical Eleven, Mantan Manten) dan Melarissa Sjarief, naskahnya sanggup menjadikan deretan kilas balik tersebut media mengokohkan pondasi penokohan. Dorongan suatu perbuatan maupun sikap hingga perasaan yang dirahasiakan, terpapar secara subtil namun jelas. Subtil. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tidak menganggap penontonnya bodoh. Kita diseret oleh dinamika kisah yang oleh Angga dialirkan dengan penuh kesabaran, dibiarkan merasakan ketimbang disuapi, sehingga kisahnya makin kaya dan bisa dimaknai berbeda oleh masing-masing penonton.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah tentang dinamika kompleks antara anak sulung, tengah, dan bungsu. Pun ini juga soal kebebasan dalam hubungan, baik itu bersifat romansa atau di lingkup keluarga. Ini juga mengenai impian, kebahagiaan, bahkan menyentil perihal patriarki, dan maskulinitas di mana ayah sebagai kepala keluarga senantiasa mengatur, sedangkan anak laki-laki (apalagi kalau berstatus putera sulung) harus jadi yang paling kuat. Sampai akhirnya film ini memperlihatkan bahwa kedua laki-laki yang awalnya tampak lebih meledak-ledak itu malah jauh lebih rapuh dibanding para perempuan yang sebelumnya dituntut atau memilih diam.

Naskahnya pun jeli mengolah dialog, melahrikan sederet kalimat quotable yang puitis, tapi tetap terdengar kasual. Poin tersebut senada dengan nuansa yang dibangun Angga melalui pengarahannya. Ditemani kombinasi pilihan lagu-lagu sang sutradara yang seperti biasa meneduhkan pula enak didengar (Rehat, Lagu Pejalan, Awal & Akhir, Fine Today), juga sinematografi garapan Yadi Sugandi (Petualangan Sherina, Athirah, Ada Apa Dengan Cinta 2) yang mampu menggali ruang personal dalam interaksi manusia, Angga memamerkan kepekaannya, melalui pengadeganan yang mengutamakan keintiman tanpa banyak menerapkan “rekayasa” teknis seperti scoring mendayu misalnya.

Bahkan setelah memasuki third act, yang sejatinya merupakan parade peristiwa-peristiwa penguras air mata selaku payoff yang memang pantas penonton dapatkan selepas menyaksikan fragmen-fragmen keseharian sederhana selama lebih dari 90 menit. Di tangan Angga, jajaran pemain mendapat panggung unjuk gigi. Duet Oka Antara-Niken Anjani mengobrak-abrik perasaan di latar masa lalu; Donny Damara dan Rio Dewanto sebagai ayah-anak menyiratkan kerapuhan di balik kerasnya karakter masing-masing; Sheila Dara melanjutkan rentetan kegemilangannya dalam judul-judul produksi Visinema melalui keheningan menusuk; Rachel Amanda akan menarik simpatimu; dan saat Susan Bachtiar memecahkan kediamannya, di situlah film ini meledakkan pesan empowerment-nya. Berkat mereka semua, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini membuka 2020 secara hangat.

KOKI-KOKI CILIK (2018)

Mengawali debut lewat Garuda Di Dadaku (2009) pun pernah mengarahkan Ambilkan Bulan (2012), sutradara Ifa Isfansyah kembali menangani film anak, atau lebih tepatnya film dengan karakter anak, mengingat kontennya bukan saja dapat dinikmati penonton usia dini, orang dewasa pun bisa memetik pelajaran berharga di balik usaha tokoh utamanya menjadi koki cilik terbaik. Bagi Ifa sendiri, Koki-Koki Cilik membuktikan kapasitasnya menggarap film semua umur belum luntur, bahkan lebih baik ketimbang karya-karya di luar zona aman miliknya seperti Pendekar Tongkat Emas (2014) apalagi Pesantren Impian (2016).

Film ini punya judul awal Cooking Camp yang merujuk pada acara yang ingin diikuti si protagonis, Bima (Farras Fatik), di mana anak-anak berkemah sambil belajar sekaligus berlomba masak. Berasal dari keluarga sederhana yang mesti memaksa ia dan sang ibu (Fanny Fabriana) memecah celengan plus menerima sumbangan warga demi membayar biaya masuk, Bima pun dipandang remeh. Jangankan menggulingkan dominasi Audrey (Chloe Xaviera) selaku juara tiga tahun beruntun, mengucapkan “chef” dengan benar saja dia tak mampu. Tapi berbekal buku resep buatan mendiang ayahnya, Bima optimis mampu bertahan dan menang.

Mengambil latar di perkemahan anak, pastilah elemen persahabatan turut hadir. Teman-teman Bima, meski tak semua punya kepribadian menarik dan saya yakin mayoritas penonton takkan mampu mengingat seluruh nama mereka, cukup piawai perihal mengajak kita bersenang-senang. Apalagi saat Melly yang diperankan Alifa Lubis, sang pemenang Little Miss Indonesia 2013, mengeluarkan polah antik yang melibatkan celotehan serba dramatis bak remaja hingga gerakan yoga. Tapi fokus tak sampai terbelah, tetap mengerucut pada perjuangan Bima.

Naskah karya Vera Varidia (Surat Cinta untuk Kartini, Me vs Mami) urung mengutak-atik formula from-zero-to-hero, sehingga pertemuan Bima dengan karakter father figure yang bakal membimbingnya mencapai status “hero” bisa ditebak kehadirannya sedari awal. Sosok itu adalah Rama (Morgan Oey), petugas kebersihan Cooking Camp yang diam-diam merupakan mantan chef ternama. Polanya jelas: Bima minta diajari memasak, Rama menolak, Bima kukuh, Rama luluh, kemudian dalam montase latihan singkat, Bima diperlihatkan belajar satu-dua hal seputar memasak. Bukan cuma itu, Rama turut mengingatkan Bima akan pesan mendiang ayahnya dahulu, “Yakin akan kekuatan lidah kamu”, atau dalam konteks lebih umum, “percaya pada kemampuanmu”.

Bima coba meningkatkan rasa masakannya, dan hubungannya dengan Rama pun merupakan sumber rasa Koki-Koki Cilik. Farras dalam film keempat sekaligus peran utama perdananya pandai memainkan emosi, sedangkan Morgan mulus menangani Rama yang tengah berkonflik batin. Rama senantiasa ketus, membuat senyum simpul pertamanya, kala Bima melakukan “transfer energi” menghadirkan kehangatan. Kalau bukan karena ketepatan timing Morgan menyunggingkan sekilas senyum, dampak serupa takkan terasa.  

Apabila penonton anak bisa belajar dari perjuangan Bima, para orang tua yang menemani mereka wajib memperhatikan kisah Rama. Awalnya, Rama bersedia mengajari Bima demi menuntaskan dendam personalnya. Menurut Rama, semua peserta adalah saingan. Sebaliknya, Bima menganggap mereka teman. Dia ingin juara namun enggan terbutakan persaingan panas. Ketika orang dewasa dikuasai ambisi, hasrat kompetitif, dan praduga, para anak sebatas ingin bersenang-senang sembari mencintai sesuatu dan/atau seseorang. “Jadi orang jangan terlalu lugu” merupakan pernyataan yang belakangan makin kerap terdengar, dan Koki-Koki Cilik seolah menantang perspektif terseut sewaktu Bima dan Rama sering berbenturan akibat perbedaan cara memandang lomba di Cooking Camp.

Sebagai food movie, adegan penyajian makanan enak dilihat pula menggugah selera. Tampak betul Ifa memahami bahwa momen memasak tak perlu sudut pengambilan gambar penuh gaya. Cukup close up sehingga makanan terlihat jelas. Karena kini, sewaktu proses memasak dimulai, semua adalah tentang masakannya, bukan lagi sang koki. Ifa, dibantu penataan kamera Yadi Sugandi (Sang Penari, Kuntilanak), memastikan penonton bisa merasakan tekstur kenyal daging maupun gurihnya kuah kare. Pun rangkaian momennya dinamis berkat tempo cekatan dari Ifa plus penyuntingan lincah Cesa David Luckmansyah (Sang Penari, Guru Ngaji).

Sayang, selaku “film kompetisi” di mana perlombaan berjalan beriringan dengan proses belajar tokohnya, film ini berlubang. Koki-Koki Cilik bak gemar memencet tombol fast forward. Contohnya saat Bima, si ahli masakan Indonesia yang tak tahu sushi, berhasil mengkreasi masakan Jepang sebagai simbol kesuksesan melampaui batasan diri. Bisa menjadi peristiwa bermakna andai sebelum merengkuh sukses, kita dibawa sejenak menyaksikan Bima meresapi apa yang telah dipelajari, menerapkannya, kemudian baru memetik hasilnya. Alih-alih demikian, Koki-Koki Cilik bergegas mencapai garis akhir saat ramen buatan Bima disajikan. Masalah itu pula penyebab tensi kompetisinya kurang. Kita tak diberi kesempatan “gigit jari” menantikan koki-koki cilik ini berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan tugas yang dibebankan.

Tugas pertama bagi koki-koki cilik yakni membuat hidangan berbahan dasar buah. Saya bersorak dalam hati ketika Bima berjaya berkat rujaknya. Itulah titik di mana Koki-Koki Cilik mengingatkan penontonnya kepada hal penting dalam hidup. Ini bukan bagaimana terlihat elegan dan tidak kampungan. Itu dangkal. Bima hanya jujur dan melakukan apa yang dia cinta (masak), yang ia tekuni karena seseorang yang dia cinta (bapak). Do what you love and love what you do. Klise, sederhana, namun benar adanya.  

BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI (2018)


Inspira Pictures. Dengan nama seperti itu, bisa ditebak rumah produksi satu ini bertujuan melahirkan film inspiratif. Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi selaku karya komersil perdananya merupakan adaptasi novel Cinta 2 Kodi buatan Asma Nadia, yang didasari kisah nyata Kartika, seorang pengusaha baju muslim anak. Film ini bukan cuma ingin bicara soal kesuksesan bisnis, walau bagaimana Kartika mampu mengembangkan usaha kecilnya jadi sebesar sekarang sejatinya sudah cukup mengagumkan. Tapi ini buah pikir Asma Nadia. Harus ada yang lebih dari sekedar menghasilkan uang.

Ibarat proses membuat lagu, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi menyertakan sebanyak mungkin instrumen demi hasil maksimal. Ketika semua alat beserta musisi telah terkumpul, sang komposer justru kebingungan menata porsi dan posisi masing-masing.  Pun sang komposer meminta penggebuk drumnya memainkan pedal ganda walau lagunya bergenre pop. Proses sederhana akhirnya berujung kerumitan tak perlu. Kartika (Acha Septriasa) tertegun mendapati suaminya, Fahrul (Ario Bayu) meminta izin menikah lagi untuk memenuhi keinginan ibunya yang sakit parah. Apa perlunya konflik ini?
Fahrul bahkan meminta Kartika menggugurkan bayi kedua mereka. Lagi-lagi apa perlunya? Selain itu, permintaan ini berlawanan dengan penokohan Fahrul si ayah penyayang. Melompat ke pertengahan film, Fahrul tak sengaja menjatuhkan bahan pesanan Kartika. Fahrul yakin bahan itu jatuh ketika ia nyaris tertabrak mobil. Bila saya di posisi Fahrul, saya akan bergegas kembali ke lokasi, mencarinya. Alih-alih demikian, Fahrul cuma minta maaf, meratap, masuk ke dalam rumah. Tentu Kartika marah besar. Masalah yang takkan berkepanjangan jika terjadi pada manusia normal di dunia nyata.

Penokohan Kartika sebenarnya cukup menarik. Dia mengatur hidup kedua puterinya, angkuh, tenggelam dalam pekerjaan dan lupa keluarga. Keputusan karakterisasi yang dalam konteks “film inspiratif” termasuk berisiko sehingga patut diapresiasi. Andai konflik dikerucutkan di bagian ini, yaitu tentang orang tua yang membanting tulang demi para buah hati namun sempat melupakan tujuan tersebut, alurnya bakal lebih tertata. Sebab seiring masalah bertambah, makin sulit mengidentifikasi arahnya. Soal pemberdayaan wanita? Kesetiaan cinta? Pengorbanan ibu bagi anak? Mana yang utama mana yang pendukung tampak kabur, tak saling mengikat, seolah berdiri sendiri-sendiri.
Penyutradaraan Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo untungnya memiliki sensitivitas. Lihat saat Fahrul memohon agar Kartika menerimanya lagi. Ali dan Bobby enggan meledakkan dramatisasi. Dibungkus cahaya temaram sinematografi Yadi Sugandi, dialognya diucapkan setengah berbisik pun tanpa musik. Kedua sutradara membangun keintiman sembari mengandalkan akting pemain. Acha dituntut meluapkan amarah sambil berteriak berulang kali dan sanggup membuatnya tidak repetitif. Selalu ada detail kecil untuk pembeda antar situasi. Bermodalkan charm-nya, Ario Bayo meyakinkan memerankan sosok ayah idola anak-anaknya, yang turut diperankan dengan baik oleh Arina Mindhisya dan Shaquilla Nugraha.

Apakah Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi inspiratif? Sebagai inspirasi semu mungkin saja. Aspek bisnisnya penuh simplifikasi, berorientasi pada hasil ketimbang menelusuri pergulatannya lebih mendalam. Memang baru sampai situ makna “inspiratif”  bagi sebagian masyarakat kita. Pokoknya kesuksesan dapat diraih di tengah keterbatasan tanpa tertarik memahami cara menuju ke sana. Pokoknya permasalahan seberat apa pun dapat terselesaikan. Entah benar-benar selesai atau cuma dijustifikasi sebagaimana film ini menyelesaikan problematika tokoh-tokohnya. Baik Kartika maupun Fahrul menyulut masalah-masalah pelik, berbuat kekeliruan fatal, lalu begitu saja dimaafkan dan terlupakan.