Tampilkan postingan dengan label Dakota Johnson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakota Johnson. Tampilkan semua postingan

THE PEANUT BUTTER FALCON (2019)

Dua individu saling mengisi guna menyembuhkan luka batin masing-masing. Terdengar familiar? Faktanya tema serupa memang telah dipakai berulang kali, jumlahnya tak terhitung lagi. Tapi The Peanut Butter Falcon, selaku debut film panjang duet sutradara sekaligus penulis naskah Tyler Nilson dan Michael Schwartz, membuktikan kisah lama tersebut belum, atau bahkan takkan usang, dalam sebuah perjalanan intim yang mendekap hangat hati penontonnya.

Zak (Zack Gottsagen) adalah pengidap down syndrome berusia 22 tahun yang terpaksa tinggal di panti jompo akibat ditinggalkan oleh keluarganya. Di sana, Zak selalu melakukan dua hal: menonton rekaman aksi pegulat idolanya, Salt Water Redneck (Thomas Haden Church), dan berusaha melarikan diri. Sang penjaga, Eleanor (Dakota Johnson) pun dibuat pusing karenanya. Sampai suatu malam, dibantu teman sekamarnya, Carl (Bruce Dern), Zak kabur. Tujuannya satu: menemui Salt Water Redneck untuk meminta diajari bergulat.

Zak bertemu Tyler (Shia LaBeouf), nelayan yang selepas kematian kakaknya, Mark (Jon Bernthnal), kerap menyulut masalah. Tidak terima disalahkan setelah mencuri kepiting di umpan milik Duncan (John Hawkes), Tyler diburu pasca membakar peralatan menangkap ikan seharga $12 ribu. Sama-sama berstatus buron, Zak dan Tyler berjalan bersama demi mencari Salt Water Redneck. Perlahan, ikatan persaudaraan di antara mereka pun tumbuh.

Mengambil beberapa elemen cerita dari karakter Huckleberry Finn ditambah pengalaman personal Zack Gottsagen yang bermimpi tampil sebagai aktor di layar lebar, Nilson dan Schwartz mengisi naskahnya dengan hati, juga kreativitas. Hanya bermodal $6 juta, keduanya mesti memutar otak bagaimana merangkai petualangan unik nan menarik. Hasilnya, timbul ide-ide kreatif berupa rangkaian peristiwa quirky khas drama-komedi indie yang menyeimbangkan bobot hiburan dengan drama.

Tidak nihil tujuan, sebab tiap peristiwa berkontribusi menguatkan hubungan Zak dan Tyler sedikit demi sedikit. Mungkin kehangatan urung terjalin bila dua pemeran utama tampil tak sebaik ini. Natural dan spontan dalam berinteraksi, begitulah Gottsagen dan Shia LaBeouf di sini. Memerankan versi alternatif dirinya, Gottsagen memperlihatkan jika memilih aktor dengan down syndrome untuk memerankan karakter down syndrome bisa menguatkan realisme. Kesan serupa dimunculkan LaBeouf lewat performa raw, baik kala menghidupkan sisi Tyler yang terluka, maupun Tyler yang sarat perhatian melalui caranya sendiri.

Serupa karakter peranan masing-masing, kedua aktor saling mengisi, menjalin hubungan hangat supaya penonton merasa terundang turut serta dalam petualangan mereka. Dibarengi alunan scoring bernuansa country—yang efektif menggambarkan kejujuran ungkapan rasa lewat alunan nada penuh jiwa—The Peanut Butter Falcon bak membawa saya menuju perjalanan damai nan hangat. Rasanya seperti berada di rumah bersama orang-orang terkasih.

Pun filmnya cermat menentukan timing kapan mesti melibatkan Eleanor secara signifikan. Tatkala alur mulai melangkah jauh dan risiko amunisi menipis mulai tercium, kehadiran Dakota Johnson kembali memperkaya dinamika. Demikian pula saat nama-nama macam Bruce Dern, John Hawkes, sampai Thomas Haden Church melakukan kemunculan kecil berdampak besar. Nilson dan Schwartz tahu, kapan filmnya butuh suntikkan nyawa baru.

The Peanut Butter Falcon juga punya pencapaian spesial, yang sekilas mudah, padahal merupakan perkara rumit, yakni melahirkan tawa melalui karakter pengidap down syndrome. Tanpa kepekaan, humornya berpotensi mengandung stereotip ofensif. Beruntung, The Peanut Butter Falcon adalah tontonan yang suportif.

BAD TIMES AT THE EL ROYALE (2018)

Banyak film bermasalah akibat menjadikan “kebetulan” sebagai jalan pintas malas. Karakter-karakter kebetulan bertemu, terlibat masalah yang dipicu serta diakhiri oleh kebetulan. Tapi melalui Bad Times at the El Royale, Drew Goddard (The Cabin in the Woods) selaku sutradara merangkap penulis naskah, justru sengaja memainkan kondisi tersebut. Bagaimana jika kebetulan (atau nasib sial) membawa sekelompok orang yang masing-masing menyimpan intensi rahasia, saling bersilangan jalan di saat yang kurang tepat? As the title suggests, what a bad time indeed at the El Royale.

El Royale merupakan hotel yang terletak di perbatasan, di mana sebelah sisi berada di California, sementara sisi lainnya di Nevada (terinspirasi Cal Neva Resort & Casino). Empat tamu: Seymour Sullivan (Jon Hamm) si salesman rasis, Daniel Flynn (Jeff Bridges) si Pendeta Katolik, Darlene Sweet (Cynthia Erivo) si penyanyi  berbakat, dan gadis hippie bernama Emily (Dakota Johnson); plus seorang karyawan hotel bernama Miles Miller (Lewis Pullman). Mereka menyimpan niatan terselubung juga masa lalu kelam, yang satu demi satu terungkap di antara title cards bertuliskan nomor kamar tempat masing-masing tokoh menginap (atau nama atau lokasi bagi tokoh tanpa kamar).

Kisahnya mulai menyusuri arah tak terduga tatkala rahasia El Royale terbongkar, yang akhirnya turut membongkar rahasia karakternya. Saya takkan menyebut rahasia seperti apa (trailer-nya telah membongkar beberapa poin), namun satu hal yang bisa saya beri tahu, bahwa titik balik alurnya ditandai momen pembuktian Goddard terkait kapasitas penyutradaraannya. Momen tersebut berupa single take melibatkan mise-en-scène memikat yang memperlihatkan situasi dalam 2 ruangan terpisah, disusun dengan intensitas ketat, sinematografi memukau garapan Seamus McGarvey (Atonement, The Avengers, Nocturnal Animals) di mana pemakaian pantulan cermin jadi highlight, pula cerdiknya pemakaian musik Goddard. Bicara soal musik, pilihan lagu-lagu Goddard plus iringan scoring gubahan Michael Giacchino (Up, Spider-Man: Homecoming, War for the Planet of the Apes) bakal membuatmu tanpa sadar menghentakkan kaki, terhipnotis oleh alunan musik dari era 1950-1960an.

Tapi Bad Times at the El Royale bukan sebatas gaya. Beberapa penonton mungkin bakal menganggapnya sekedar sajian Tarantino-esque berdurasi sama panjang (141 menit) namun dengan dialog kalah tajam untuk menjaga atensi penonton mengarungi perjalanan nyaris 2,5 jam. Tidak sepenuhnya keliru. Durasinya bisa saja dipangkas, meski sejatinya, perjalanan panjang itu memang harga yang harus dibayar dalam upaya menghadirkan kekayaan penokohan. Dan sungguh harga yang setimpal.

Pemakaian flashback menghasilkan kejelasan pemahaman bagi motivasi tiap individu, sekaligus memberi mereka karakterisasi unik yang saling berlainan. Bahkan peran kecil juga memiliki pengaruh, contohnya Buddy Sunday (Xavier Dolan) si produser musik, yang berfungsi membangun kecurigaan serta ketidaknyamanan Darlene kepada pria, khususnya pria pemilik kuasa dan pemegang otoritas. Elemen tersebut berguna pula menciptakan pertarungan psikologis di paruh akhir, yang menghantarkan Bad Times at the El Royale menuju konklusi.

Selama 141 menit, Goddard senantiasa punya cara mempertahankan antusiasme penonton. Misalnya saat muncul flashback di tengah klimaks, yang otomatis memangkas intensitas, sebelum Goddard berhasil membawanya kembali dengan memberi salah satu karakter momen paling badass sepanjang film. Pun menyaksikan jajaran penampilnya saling mengolah peran terasa amat menyenangkan. Bridges seperti biasa menjadi pria tua bersuara growly yang lelah oleh kehidupan; Erivo sebagai penyanyi bersuara emas yang sulit mempercayai dunia; Johnson si wanita tangguh yang tak segan memberantas semua penghalang; Hamm sang mesin kharisma; dan Chris Hemsworth sebagai Billy Lee, pemimpin cult kejam sarat pesona yang gemar memamerkan perut six pack guna memikat para pengikut wanitanya.

Kejutan terbesar dalam Bad Times at the El Royale adalah keberadaan alegori keagamaan. Sejak kemunculan pertama Billy Lee yang terlihat bak kedatangan sesosok messiah, hingga bagaimana filmnya memasang perspetif mengenai Tuhan yang tidak mengenal Pendeta palsu atau Nabi palsu. Hanya ada manusia baik dan buruk, dan Tuhan akan dengan senang hati mengulurkan bantuan bagi sisi baik, meski bantuan itu hadir melalui jalan yang misterius.