Tampilkan postingan dengan label Derek Kolstad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Derek Kolstad. Tampilkan semua postingan

REVIEW - NOBODY

Merasa premis "mantan pembunuh turun gunung untuk membalas kematian anjingnya" sudah menggelitik? Derek Kolstad selaku penulis trilogi John Wick, kembali menuturkan kisah mengenai balas dendam seorang pria. Tapi alih-alih nyawa seekor anjing, kali ini giliran sebuah gelang kucing yang lenyap. Bob Odenkirk memerankan protagonis yang lepas kontrol, menghabisi sekelompok mafia Rusia, sambil berteriak, "Give me the goddamn kitty cat bracelet!". 

Bangun pagi, membuang sampah, sedikit berolah raga, melakukan pekerjaan membosankan di pabrik milik ayah mertua. Demikianlah rutinitas monoton Hutch (Bob Odenkirk). Hanya ada satu variasi. Terkadang ia melewatkan kedatangan truk sampah, sehingga ditegur sang istri, Becca (Connie Nielsen). Pernikahan keduanya tidak lagi harmonis selama beberapa tahun terakhir. Meski masih seranjang, mereka tidur dengan memasang bantal-bantal sebagai sekat pemisah.

Suatu malam, dua perampok bersenjata menyatroni rumah Hutch. Puteranya, Blake (Gage Munroe), berhasil menyudutkan salah satu perampok, namun Hutch malah menyuruh Blake membiarkan mereka pergi, membuatnya dianggap pengecut oleh si sulung. Tapi saat ia curiga gelang kucing kepunyaan Sammy (Paisley Cadorath) si puteri bungsu turut dicuri oleh para perampok, Hutch menolak tinggal diam. Hutch segera melakukan misi pencarian serta pembalasan, tanpa sadar bahwa aksinya menyulut amarah Yulian (Aleksei Serebyakov), seorang sosiopat keji sekaligus bos mafia Rusia. 

Tentu tidak mengejutkan sewaktu nantinya terungkap jika Hutch (dan salah satu karakter pendukung) bukan pria biasa. Justru itulah yang dinanti. Momen di mana para penjahat sadar, justru nyawa mereka yang terancam akibat membahayakan keluarga tokoh utama. Kolstad tahu penonton amat menantikan titik balik tersebut, sebisa mungkin menahan protagonisnya unjuk gigi, kemudian baru melepaskannya ketika antisipasi penonton memuncak. Hasilnya memuaskan, sebab Nobody tidak memeras semua energi sejak awal, tidak pula berlama-lama menyimpannya. 

Baku hantam perdana terjadi dalam sebuah bus. Menariknya, Hutch tak langsung mendominasi. Pada akhirnya ia unggul, namun setelah melewati perjuangan mati-matian dengan luka di sana-sini. Selain alasan realisme (sejago apa pun dia, Hutch sudah belasan tahun hidup damai sebagai family man), sekali lagi ini menunjukkan keengganan Nobody mengerahkan seluruh amunisi sejak awal. 

Semua bertahap, sebagaimana Odenkirk menangani karakternya, dari seorang pria paruh baya yang tidak nyaman dengan kehidupannya, lalu perlahan menanggalkan topengnya meski tetap dibarengi keraguan, sebelum akhirnya menggila, menikmati ketika melepas semua kepura-puraan tersebut. Satu elemen yang kurang tertata rapi adalah klimaks, termasuk proses menuju ke sana, yang terkesan buru-buru. Bahkan mungkin banyak penonton mengira filmnya masih berada di second act, sebelum menyadari baku tembak brutal yang membuat Hutch bak gabungan John Wick dan Rambo itu merupakan puncak aksi.

Mengawali debut penyutradaraan layar lebar lewat Hardcore Henry (2015) yang dikenal berkat keunikannya menerapkan sudut pandang orang pertama ala video game, Ilya Naishuller membuktikan lagi kapasitasnya selaku sutradara aksi penuh inovasi. Dibarengi barisan musik beraneka genre (jazz, rock & roll, dll.) yang sempurna membangun suasana, Naishuller merangkai aksi dengan beragam variasi senjata (dari tali tas sampai perangkap mematikan buatan sendiri), pula kebrutalan yang ditangani secara cerdik. Hard hitting, namun bukan asal sadis (penonton Indonesia tidak perlu khawatir urusan sensor). 

JOHN WICK: CHAPTER 2 (2017)

Sekilas, "John Wick"  yang di luar dugaan menuai sukses secara komersial maupun critical  adalah sajian aksi sekali jalan macam "Taken". Apabila sekuel film yang dibintangi Liam Neeson mencuatkan pertanyaan sarkas "siapa lagi yang diculik?", maka "John Wick", bermodalkan premis seorang pembunuh bayaran kembali dari masa pensiun setelah anjing kesayangannya dibunuh telah membuat publik bergurau "anjingnya dibunuh lagi?" menanggapi perilisan chapter keduanya. Namun sejatinya film karya Chad Stahelski dan David Leitch tersebut menyimpan materi kaya berupa pembangunan dunia dan mitologi, memfasilitasi pengembangan kisah secara lebih jauh. 

Spoiler alert: tidak ada anjing dibunuh kali ini. Pasca mengambil kembali mobilnya dalam 15 menit kebisingan adegan pembuka yang menegaskan kebrutalan film pertamanya tak diturunkan bahkan ditingkatkan, John Wick (Keanu Reeves) berharap dapat kembali menikmati masa pensiun damai di rumah bersama anjing barunya. Tapi harapan itu segera pudar tatkala mafia bernama Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio) menagih hutang budi John, memintanya membunuh sang adik, Gianna (Claudia Gerini). Sisanya adalah rutinitas biasa. John berburu, menghabisi setiap lawan termasuk sederet pembunuh bayaran yang mengincarnya. 
Kembali, ditinjau selintas, "John Wick: Chapter 2" hanyalah full throttle action movie nihil landasan cerita solid, sebab Derek Kolstad sukses melanjutkan pekerjaanya di film pertama yaitu membangun detail dunia lewat jalan sederhana tetapi efektif. Tanpa perlu berbelit dan mencuri fokus (berfungsi sebagai latar, bukan pusat cerita), Kolstad menambah pemahaman bagaimana setting, tata aturan, pula modus operandi para pembunuh. Setelah Hotel Continental selaku tempat bernaung, cleaner, dan koin khusus untuk alat transaksi, kita diperkenalkan pada metode "sayembara". Dunia di mana filmnya bertempat bagai adaptasi buku komik yang imajinatif, kreatif, dan terancang sedemikian mapan. Interaksi antar-tokoh dikemas berdasarkan code of honor, menjelaskan ada aturan dan nilai bagi para pembunuh tersebut, melengkapi bangunan latar di atas. 

Pintar pula cara Kolstad memanfaatkan lingkaran setan dunia kriminal yang tak mengenal kata "istirahat" supaya sang titular character selalu punya alasan kembali, dengan kata lain materi bagi sekuel. Selalu ada sisi baru untuk digali yang tak terasa dipaksakan sebab dunia "bawah tanah" memang penuh rahasia serta misteri yang baru sekali waktu mencuat ke permukaan. Selaku penambah daya tarik adalah sederet karakter pendukung (baca: pembunuh) unik mulai gelandangan, pengamen bersenjatakan biola, hingga pria bertubuh besar dengan dandanan bak pesumo. 
Stahelski selaku sutradara tunggal (Leitch berposisi produser) meningkatkan dosis kebrutalan. Masih mengandalkan gun-fu, sequence aksinya menampilkan kelincahan John melepaskan tembakan jarak dekat mematikan tanpa quick cut atau shaky cam memusingkan. Kreativitas Stahelski menambah kesan badass sang protagonis ketika John tak hanya menembak, juga menabrakkan mobil ke tubuh lawan, menghempaskannya ke dinding dan menghabisi dua pembunuh dengan sebatang pensil. Dipadukan sound mixing mumpuni, deru mesin mobil dan letusan peluru terdengar bombastis, menciptakan mimpi indah bagi penikmat kegilaan action. Dan Laustsen mempertahankan sinematografi artistik film pendahulunya, menempatkan warna-warna berbeda di tiap sudut ruangan, menyalakan gemerlap neon yang bakal membuat Nicolas Winding Refn sekalipun tersenyum senang menyaksikannya.

Melakoni banyak adegan tanpa stuntman, Keanu Reeves terbukti masih aktor laga reliable, piawai menghadapi rangkaian koreografi, memainkan pistol bak sosok "boogeyman" yang berpengalaman, ahli menangani senjata. Sedangkan Laurence Fishburne dalam penampilan singkatnya terjebak pada akting "heeheehaahaa" klise seorang villain, menghadirkan tanya soal pemilihannya selain reuni "The Matrix" dengan Reeves. "John Wick: Chapter 2" diakhiri lewat tease akan film ketiga yang lebih besar, menempatkan John di posisi tersulit. Sepanjang tetap konsisten menjalin aksi tingkat tinggi over-the-top sekaligus kreatif dan eksplorasi atas universe miliknya, berapa chapter pun saya tak keberatan.