Tampilkan postingan dengan label Ehren Kruger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ehren Kruger. Tampilkan semua postingan

REVIEW - TOP GUN: MAVERICK

Popularitas Top Gun tidak bisa disangkal. Merupakan film berpendapatan tertinggi sepanjang 1986 (meraup 357 juta dollar, atau sekitar 940 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang), yang konon memicu lonjakan pendaftaran US Navy sampai 500%. Sebuah blockbuster khas 80an yang ringan, menghibur, cheesy, tapi sejujurnya, tidak luar biasa. Sekuelnya, Top Gun: Maverick yang menyusul 36 tahun berselang, adalah spesies berbeda. 

Menggantikan mendiang Tony Scott di kursi sutradara, Joseph Kosinski beralih dari parade CGI yang menyusun awal karirnya, dari beberapa iklan berbasis CGI hingga film-film macam Tron: Legacy (2010) dan Oblivion (2013), guna melahirkan salah satu sekuel terbaik sepanjang masa, yang melebihi pendahulunya di segala lini. 

Menit-menit awalnya bak reka ulang film pertama. Serupa, bukan cuma di adegan, pula teks intro yang memperkenalkan apa itu program Top Gun. Pete "Maverick" Mitchell (Tom Cruise) pun masih sama. Masih sosok biang masalah, juga masih berstatus kapten. Maverick menghindari peluang naik pangkat agar bisa terus menjadi pilot. Tepatnya pilot uji coba.

Sekuen aerial perdana hadir saat Maverick menguji coba pesawat dengan target mencapai Mach 10 (10 kali kecepatan suara). Di sinilah Kosinski memamerkan sentuhannya. Tentu sekuen tersebut intens dan bombastis. Tapi siapa menduga kalau di beberapa titik ia bakal meminimalkan suara, lalu fokus pada keindahan lanskap langit yang dibelah oleh jejak lesatan jet? Seolah Kosinski mengingatkan bahwa "terbang" merupakan keajaiban bagi umat manusia. 

Pada akhir film pertama, Maverick memutuskan bergabung sebagai instruktur Top Gun, yang ternyata cuma berjalan dua bulan. Mengajar bukan panggilan hidupnya. Tatkala teknologi makin berkembang, dan otomatisasi mulai menggeser pilot manusia, masih adakah tempat bagi Maverick? 

Jawaban datang setelah Top Gun memanggilanya lagi. Kali ini bukan untuk pelatihan biasa, melainkan persiapan menuju misi berbahaya. Begitu berbahaya, reaksi pertama Maverick adalah, "Tidak semua pilot bakal pulang dengan selamat". Langsung tampak perbedaan mendasar alur dalam naskah buatan Ehren Kruger, Eric Warren Singer, dan Christopher McQurrie dibanding Top Gun. Sejak awal, kita dan karakternya mengetahui keberadaan misi.

Masih dipenuhi latihan (termasuk olahraga di pantai, meski voli digantikan american football, dan tak lagi beraroma homoerotic), namun latihan di Maverick terasa lebih esensial. Penonton dibuat memahami detail strategi, pun semakin jauh latihan berlangsung, semakin meningkat kesulitannya, semakin pula kita merasakan betapa berbahaya misi tersebut. Apalagi saat melalui sekuen luar biasa intens, filmnya menegaskan kalau bahaya tidak hanya berasal dari peluru, rudal, atau radar musuh. Alam bisa sama, atau malah lebih mematikan.

Di ranah penokohan, naskahnya mengembangkan karakter Maverick tanpa harus mengubah jati diri. Masih nekat, penuh percaya diri, tapi lebih bisa meredam ego. Tetap ingin bebas, tapi mulai mendambakan tempat untuk pulang, yang diwakili oleh romansanya dan Penny (Jennifer Connelly), yang namanya sempat disinggung sekilas di film pertama (cara cerdik mengubah love interest si protagonis). 

Setelah terbang puluhan tahun, Maverick banyak mendapati kematian sesama pilot, termasuk sahabatnya, Goose (Anthony Edwards). Kematian mereka menyisakan duka di hati para orang tercinta. Tapi siapa yang akan kehilangan Maverick andai ia tiada? Maverick yang selama ini senantiasa "kehilangan", kini berusaha untuk "menemukan". 

Salah satunya menemukan kedamaian. Kematian Goose masih belum mampu ia lupakan. Terlebih, putera sang sahabat, Rooster (Miles Teller), tergabung dalam tim yang dilatihnya. Rooster sendiri menyimpan rasa benci terhadap Maverick. 

Elemen drama di atas dilakoni Cruise dengan amat baik. Saking seringnya menantang maut, banyak orang lupa bahwa Cruise adalah aktor bagus pemilik tiga nominasi Oscar. Sewaktu Maverick dan Iceman (Val Kilmer) terlibat obrolan soal "merelakan", jangkauan akting dramatik Cruise mencapai titik terbaiknya. 

Tapi mari lupakan tetek bengek penceritaan. Semua datang menonton demi dogfight bukan? Saya berani menyebut Top Gun: Maverick memiliki rangkaian dogfight terbaik yang pernah ditampilkan di layar lebar. Lebih megah, lebih kompleks, tapi menariknya, lebih mudah dicerna ketimbang film pertama (siapa melawan siapa, siapa ada di pesawat mana, dll.). 

Semua dogfight memukau, tapi third act-nya berada di tingkatan berbeda. Penuh manuver berbahaya serta aerobatics yang mendefinisikan "you won't believe it until you see it". Hell, even after you saw it, you won't believe that those are achievable. 

Kuncinya terletak pada efek praktikal. CGI dipakai secukupnya kala benar-benar dibutuhkan. Sedangkan sisanya, kamera milik Claudio Miranda selaku sinematografer, menangkap jet asli yang membelah angkasa. Realisme menguat berkat penempatan kamera di kokpit yang dioperasikan langsung oleh cast (mereka sungguh duduk di kursi penumpang dalam pesawat yang mengudara). 

Penceritaannya cenderung klise? Mungkin, tapi rasanya itu bukan perihal yang patut dikeluhkan. Apa perlunya mempermasalahkan keklisean, saat Top Gun: Maverick adalah blockbuster sempurna, dengan jajaran spektakel yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan selipan humornya juga efektif menambah daya hibur. Joseph Kosinski mengembalikan sinema blockbuster ke hakikatnya, yakni sajian yang membuat penonton menyaksikan, kemudian memercayai kemustahilan. 

DUMBO (2019)

Di atas kertas, pilihan menunjuk Tim Burton sebagai sutradara adaptasi live action dari animasi berjudul sama rilisan tahun 1941—yang juga adaptasi novel karya Helen Aberson dan Harold Pearl—ini adalah pilihan masuk akal. Berlatar sirkus penuh anggota unik, menampilkan Colin Farrell sebagai ayah berlengan satu, dan punya protagonis seekor gajah terbang yang dianggap hina karena telinga lebarnya. Sepanjang karirnya, Burton terbukti ahli menangani sosok-sosok eksentrik yang diremehkan karena dipandang aneh.

Tapi sentuhan sang sutradara kentara memudar belakangan ini. Ketika Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016)—film dengan materi yang seolah ditakdirkan khusus untuk Burton—berakhir selaku tontonan ala kadarnya, saya yakin “Burton lama” telah hilang. Setidaknya sampai ia bersedia menepi sejenak dari dunia film studio berbujet besar yang menghalangi keleluasaannya. Tapi rasanya itu takkan terjadi dalam waktu dekat.

Dumbo pun serupa, tatkala Burton kesulitan memadupadankan keanehan dengan drama manis. Sayangnya, “manis” dan “Tim Burton” bukan dua hal yang serasi. Alhasil, sekali lagi kita disuguhi identitas khas karya modern sang sutradara: tontonan mudah dilupakan penuh latar CGI yang tak seberapa cantik, kreatif, apalagi menghadirkan terobosan visual.

Padahal kisahnya memiliki materi memadahi guna melahirkan drama keluarga menyentuh. Sepulangnya dari Perang Dunia I, Holt Farrier (Colin Farrell), kembali ke sirkus milik Max Medici (Danny DeVito), tempatnya dahulu angkat nama sebagai penunggang kuda. Tapi bukan saja mendapati kudanya telah dijual untuk menutup kesulitan ekonomi, Holt turut kelabakan menjalin hubungan dengan kedua anaknya, Milly (Nico Parker) dan Joe (Finley Hobbins). Tidak seperti mendiang istrinya, Holt tak tahu cara berkomunikasi dengan mereka.

Saya tidak menyalahkan Holt, sebab anak-anaknya, terlebih sang puteri yang bermimpi menjadi ilmuwan (elemen yang urung mendapat pengembangan maupunn payoff layak), bicara layaknya orang dewasa. Naskah tulisan Ehren Kruger (Transformers 2-4, Scream 3, The Ring) memaksa Milly bertutur terlampau bijak, yang acap kali menyulitkan si aktris cilik memberi penampilan maksimal.

Tanpa kudanya, Holt ditugasi merawat gajah bernama Jumbo yang tengah mengandung. Bayi Jumbo diharapkan dapat menarik pengunjung. Tapi begitu Dumbo (awalnya bernama Baby Jumbo) lahir dengan telinga super lebar, harapan itu perlahan sirna. Kelainan fisik Dumbo dianggap bencana, hingga Milly dan Joe mengetahui bahwa kepakan telinga itu mampu menerbangkan si gajah kecil ke angkasa.

Tentu orang-orang dewasa tak seketika mempercayai pengakuan dua bocah itu, memberi tantangan bagi mereka untuk membuktikan bahwa alih-alih kegagalan, Dumbo merupakan keajaiban. Pun merupakan tantangan bagi Burton mengeksekusi debut Dumbo terbang di hadapan penonton, yang patut disebut momen “make it or break it” filmnya, dan menentukan apakah atensi penonton bakal terjaga atau tidak. Beruntung, dibantu orkestra menggugah garapan Danny Elfman (Good Will Hunting, Big Fish, Spider-Man) Burton mampu menciptakan pemandangan uplifting agar Dumbo punya cukup tenaga melangkah ke fase berikutnya.

Fase tersebut memperkenalkan kita kepada V. A. Vandevere (Michael Keaton), pengusaha dunia hiburan yang berhasrat menjadikan Dumbo bagian pertunjukkan taman bermain Dreamland miliknya. Eva Green pun turut serta memerankan pemain trapeze dengan julukan “Queen of the Heaven” lewat aura menghipnotis seperti biasa. Mereka berdua mendatangi sirkus milik Max, menawarkan kerja sama bagi seluruh penampil, meski kita tahu betul ia hanya ingin merebut Dumbo.

Lalu apa yang terjadi pasca bergabungnya sirkus dengan kemeriahan Dreamland? Latihan dan atraksi terbang tentu saja. Dumbo berlatih lalu tampil di pertunjukan yang senantiasa menghasilkan masalah. Terus demikian, sampai membuat film ini bagai 112 menit kombilasi latihan terbang tanpa dibantu narasi memadahi. Saya dibuat bertanya-tanya, apa yang naskahnya coba sampaikan? Nilai kekeluargaan? Larangan menilai orang hanya lewat penampilan luarnya? Ajakan untuk berbuat baik? Semua ada dan dicampur paksa. Dampaknya, konklusi Dumbo gagal mengaduk perasaan, sebab proses yang karakternya lalui tak pernah jelas.

Klimaksnya melibatkan misi penyelamatan, tatkala para anggota sirkus berkesempatan unjuk gigi kemampuan masing-masing (Butuh waktu lebih dari 90 menit sampai mereka menjadi lebih dari sebatas pajangan). Momen tersebut bisa terasa menghibur sekaligus rewarding andai (A) Bukan cuma numpang lewat; dan (B) Bersedia mengeksplorasi unsur soal orang-orang (dan hewan) “aneh” yang senantiasa dicemooh. Mungkin naskahnya menghindari kesan eksploitatif, lalu memutuskan bermain aman dengan menyajikan kisah setengah matang.

Filmnya begitu datar dan dingin, hanya menyisakan mata serta senyum Dumbo sebagai satu-satunya hal yang memancarkan hati. Sebuah adegan berpotensi tampil magis, ketika gelembung-gelembung sabun raksasa membentuk wujud cantik gajah-gajah merah muda. Sayang, keajaibannya seketika memudar kala Burton menyusunnya sebagai sekuen konyol dan cartoonish. Sama seperti keseluruhan Dumbo, yang menjadi salah satu adaptasi live action modern Disney terburuk akibat kehilangan sihir sumber adaptasinya.

GHOST IN THE SHELL (2017)

Diangkat dari manga berjudul sama karya Masamune Shirow, "Ghost in the Shell" berusaha mengundang minat publik lewat dua aspek visual: gambaran dunia penuh hologram canggih di tiap sudut kota dan Scarlett Johansson. Sejak trailer perdananya dirilis, mata semua orang langsung tertuju pada "nude" bodysuit yang dia kenakan, meski banyak pula pihak melontarkan kritikan soal whitewashing di balik pemilihan aktris non-Asia untuk memerankan Major Motoko Kusanagi sang protagonis. Pada akhirnya memang ScarJo dan tata visualnya yang menyelamatkan saya dari kebosanan menyaksikan sajian "dingin" nan kosong ini. "Ghost in the Shell" feels like a pretty but empty shell.

Major (Scarlett Johansson) terbangun dan mendapati tubuhnya telah digantikan bahan sintetis buatan Dr. Ouelet (Juliette Binoche) dari Hanka Robotics. Walau demikian otaknya masih bertahan, menjadikan Major sosok pertama yang memiliki tubuh sekuat robot namun pikiran layaknya manusia. Setahun berselang, Major memimpin pasukan anti-terorisme bernama Section 9 yang diketuai Daisuke Aramaki (Takeshi Kitano). Kala menjalankan misi memburu kriminal yang berusaha melakukan sabotase pada sistem Hanka Robotics, perlahan Major mulai mengetahui misteri di balik ingatan masa lalunya yang hilang. 
Gedung-gedung tinggi berhiaskan gemerlap neon, ramainya orang lalu lalang memenuhi jalanan kota, langit yang bagai selalu mendung. Berbagai suasana tersebut tentu terasa familiar, sebab sederet film bernuansa cyberpunk lain telah memberi penggambaran sama. Bedanya, "Ghost in the Shell" memberi sentuhan tambahan berupa hologram raksasa pengganti papan iklan. Walau urung dimanfaatkan untuk menyelipkan kritik sosial soal masyarakat modern bergelimang teknologi (juga sudah kerap dilakukan film lain), mata tetap akan terhibur oleh pemandangan ganjil itu. Keganjilan memikat serupa hadir pula melalui kemasan tata artistik indoor yang menunjukkan kecanggihan teknologi sampai desain karakter unik, sebutlah sepasukan robot geisha. Jess Hall selaku sinematografer piawai mengatur penempatan objek juga warna hingga mayoritas adegan bak lukisan indah sekaligus aneh dari masa depan.

Sebagaimana telah disinggung, meskipun film ini indah di luar, namun kosong di dalam. Lingkungannya tak punya pengaruh berarti. Selain enak dilihat, dunianya mengalami krisis identitas. Hal ini kentara di caranya menangani transisi setting dari Jepang. "Ghost in the Shell" tidak gamblang menyatakan detail lokasi, yang mana bukan masalah. Tapi ketimbang total membaurkan setting, filmnya seperti modifikasi Jepang setengah matang. Section 9 dipimpin orang Jepang yang selalu bicara Bahasa Jepang. Masa lalu Major erat kaitannya dengan orang Jepang. Ditambah lagi kemunculan robot Geisha. Ambiguitas lokasi yang baik bakal membuat penonton sadar kemiripannya dengan tempat tertentu secara tersirat. "Ghost in the Shell" justru sebaliknya. Tampak jelas berada di Jepang, tetapi memaksakan diri menolaknya selaku bentuk kemalasan para penulis naskah mengakali pemilihan cast aktor-aktor Barat (I'm not talking about whitewashing by the way).
Pendekatan naskah garapan Jamie Moss, William Wheeler dan Ehren Kruger terhadap artificial intelligence juga pertanyaan tokoh utama seputar eksistensi pun terlampau dangkal. Makna kemanusiaan serta pencarian Major atas hakikatnya sebagai makhluk hidup berlalu begitu saja, gagal merangkai penceritaan bermakna. Nihil permainan emosi, terasa datar. Semakin "dingin" tatkala sutradara Rupert Sanders meredam gejolak, membuat para tokohnya berbicara lirih cenderung datar bagaikan robot di tengah suasana adegan yang mayoritas sunyi pula ditemani cahaya temaram. Minim luapan kebahagiaan, kesedihan, amarah, atau bentuk ekspresi perasaan apapun. Ironis ketika "Ghost in the Shell" yang mengajak penonton menyaksikan perjalanan Major mencari sisi kemanusiaan malah berakhir sama dengan robot-robot di dalamnya. Dingin, tanpa hati. Saat filmnya sendiri enggan memanusiakan sang tokoh bagaimana penonton bisa merasakan itu?

Serupa di "Snow White and the Huntsman" Rupert Sanders kurang mampu merangkai aksi menarik. Tidak peduli berapa sering ia memanfaatkan slow motion, percuma kala intensitas gagal dipacu. Sanders sekedar meniru sekuen aksi yang melibatkan Scarlett Johansson sebagai Black Widow kemudian menambahkan gerak lambat selaku langkah klise guna memunculkan cool aspect. Satu-satunya yang Sanders paham adalah cara memaksimalkan pesona sang aktris. ScarJo memakai bodysuit warna kulit, tank top, bahkan backless di satu momen. Sanders tahu sudut kamera mana yang sanggup mengeksploitasi fisik aktrisnya supaya terlihat jelas di mata penonton, mulai hero shot kala ia menghajar musuh di genangan air hingga menjatuhkan diri dari puncak gedung. ScarJo sendiri membuktikan ia mumpuni melakoni adegan aksi, meyakinkan sebagai seorang action heroine.