Tampilkan postingan dengan label Krisna Purna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Krisna Purna. Tampilkan semua postingan
MEKAH I'M COMING (2020)
Rasyidharry
Lebih dari kelucuannya, Mekah I’m Coming, yang sebelumnya
mengusung judul Haji Hoax, punya value besar karena keberaniannya
menertawakan isu bertema religi. Ketika bangsa ini semakin kehilangan selera
humor akibat mabuk agama, Jeihan Angga selaku sutradara sekaligus penulis
naskah, seolah membawa saya kembali ke masa tatkala lawakan “Bahasa Arab” milik
Bajaj Bajuri dulu belum dianggap
ofensif. Bukan agama yang ditertawakan, melainkan kengawuran penganutnya.
Ibu saya pernah bercerita tentang
keputusannya keluar dari grup WhatsApp haji, karena orang-orang di dalamnya
memanggil satu sama lain dengan sebutan “Bu Hajjah”. “Ya itu kan grup haji.
Otomatis semua haji dan hajjah. Ngapain manggil bu hajjah/pak haji? Kayak minta
ditinggikan banget!”, ujarnya kesal. Realitanya memang demikian. Haji adalah
gelar maha dahsyat yang sering membuat pemiliknya dipandang atau merasa lebih
tinggi, lebih mulia, lebih memahami agama.
Karenanya, saat terancam kehilangan
kekasihnya, Eni (Michelle Ziudith), yang oleh sang ayah, Haji Soleh (Totos
Rasiti), bakal dijodohkan dengan Pietoyo (Dwi Sasono) si saudagar kaya dari
kota, Eddy (Rizky Nazar) mantap berkata, “Saya akan naik haji tahun ini!”. Eddy
sampai harus menjual bengkel kecilnya sebagai biaya. Tapi, akibat keterbatasan
kuota, ia harus mengantre 10 tahun. Terpojok, Eddy nekat menerima tawaran
sebuah agen perjalanan yang berjanji bisa memberangkatkannya haji tahun ini
dengan biaya 240 juta rupiah.
Seperti sudah kita tahu dari trailer-nya, agen tersebut rupanya
membohongi Eddy. Bersama “calon jemaah” lain bernama Fajrul (Ephy Sekurity),
Eddy terjebak di Jakarta karena keduanya merasa malu untuk pulang ke rumah
dalam kondisi gagal naik haji. Jeihan Angga lalu membawa penonton mendatangi
sebuah daerah yang ditinggali oleh banyak korban penipuan agen perjalanan, yang
memilih tidak pulang kampung sebelum benar-benar berangkat haji. Kita diajak
mengintip sebuah sudut realita kelam Indonesia, dibawa mengetahui dampak besar
dari komersialisasi agama serta pengultusan gelar haji.
Keduanya memang saling berkaitan.
Tanpa pengultusan, dampak psikis yang dihasilkan takkan sebesar itu. Jeihan
mampu memunculkan pemahaman terhadap isu tersebut melalui gaya penuh canda,
tanpa memaksakan diri berpindah ke jalur drama sebagaimana kebanyakan komedi lokal yang menyelipkan
subteks di alurnya. Momen yang paling dekat menyentuh ranah dramatis adalah
peristiwa romantis tak terduga di penghujung cerita. Peristiwa yang sejatinya
tidak logis, namun bisa diterima, mengingat sejak awal Mekah I’m Coming jelas sudah menjauhkan diri dari logika.
Humornya memang masih cenderung hit-and-miss akibat tidak seluruh elemen
penyutradaraan (timing, pengemasan hook sebuah banyolan) berjalan mulus. Tapi,
keberanian Jeihan Angga menerapkan ide-ide kreatif dalam debutnya ini patut
diberi pujian tinggi. Ditemani musik bernuansa Timur Tengah garapan Krisna
Purna (Ayat-Ayat Cinta 2, Petualangan
Menangkap Petir, Abracadabra), Jeihan memamerkan absurditas komedi, yang
acap kali hadir dalam bentuk tak terduga, berkat kombinasi referensi segudang dengan
keliaran ide sarat kreativitas, yang biasanya hanya akan berhenti sebagai
kelakar konyol pada obrolan warung kopi. Ketika banyak sineas khawatir karyanya
tampak norak jika secara total menerapkan komedi receh dan/atau tertawa di atas
isu berbau agama, Jeihan melakukan keduanya.
Tertular kegilaan sang sutradara
adalah jajaran pemainnya. Rizky Nazar, Ephy Sekuriti, hingga Totos Rasiti,
semuanya menghibur. Tapi kejutan terbesar ditampilkan Michelle Ziudith.
Meninggalkan zona nyamannya, Michelle tidak ragu mempermalukan diri demi
efektivitas komedi dalam performa terbaik yang bisa saja membuka jalan baru
bagi karirnya. Mekah I’m Coming pun
menandai penampilan terakhir mendiang Ria Irawan, dan sungguh persembahan yang
pantas untuk aktris legendaris sepertinya. Selamat jalan Mbak Ria.
Maret 06, 2020
Bagus
,
Comedy
,
Dwi Sasono
,
Ephy Sekuriti
,
Indonesian Film
,
Jeihan Angga
,
Krisna Purna
,
Michelle Ziudith
,
REVIEW
,
Rizky Nazar
,
Romance
,
Totos Rasiti
SURAT DARI KEMATIAN (2020)
Rasyidharry
Surat Dari Kematian, selaku adaptasi cerita Wattpad berjudul sama buatan Adham
T. Fusama, punya modal kuat terkait penelusurannya terhadap legenda urban yang
menggabungkan persepsi mistis dan logis. Memang menarik menelisik guna
mempelajari asal usul legenda urban. Pernah berkuliah di Universitas Gadjah
Mada selama lebih dari tujuh tahun, saya tahu betul bahwa kampus-kerakyatan-yang-tidak-lagi-merakyat
tersebut menyimpan banyak kisah mengerikan. Sayang, filmnya gagal memaksimalkan
potensi dan hanya menambah panjang daftar horor lokal berkualitas rendah yang
seolah enggan berhenti mengotori industri.
Ceritanya dibuka saat Pasha (Omara
Esteghlal) mendapat surat ancaman kematian yang mengharuskannya bernyanyi
sambil telanjang bulat (definisi “telanjat bulat” film ini rupanya berbeda dari
pemahaman umum) di depan Gama Plaza kalau ingin tetap hidup. Penonton yang
familiar dengan lingkungan UGM tentu tahu adegan itu tidak diambil di depan
Gama Plaza, tapi biarlah. Ada masalah lebih fatal seputar naskah buatan Evelyn
Afnila (Keluarga Tak Kasat Mata, Roh
Fasik) yang punya struktur penceritaan kacau juga kecacatan logika.
Misalnya di beberapa menit awal
yang terkesan disusun acak, asal melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain
yang tak berkaitan tanpa transisi memadai. Atau di pertengahan durasi, ketika
salah satu karakternya mendapat kabar penemuan sebuah mayat. Dia ditelepon di
malam hari, mengunjungi TKP pada siang hari, namun anehnya, warga sekitar masih
heboh dan baru saja mengangkat mayat tersebut.
Tokoh utamanya adalah Zein (Endy
Arfian) dan Kinan (Carissa Perusset), dua mahasiswa UGM yang menyalurkan hobi
jurnalistik mereka dengan membuat konten YouTube tentang legenda urban di
sekitar kampus. Oh, saya lupa menyebut bahwa kepanjangan UGM di sini bukan “Universitas
Gadjah Mada”, melainkan “Universitas Garuda Mandala”. Cukup kreatif, sebab
filmnya tetap bisa memakai kata “UGM” atau “Gama”, tanpa menyalahi urusan
legalitas.
Setelah gagal mengungkap misteri
Jembatan Perawan, Zein dan Kinan tertarik menyelidiki kasus surat kematian yang
diterima Pasha. Apalagi setelah Reno (Eric Febrian dalam akting kaku yang luar
biasa mengganggu), teman Pasha—yang menggilai Britpop sampai memasang
poster-poster Oasis, Stone Roses, Radiohead, The Cure, Arctic Monkeys, sampai
The Killers yang sebenarnya tidak sinkron karena merupakan band Amerika—menghilang
dari kamar. Dua protagonist kita yakin bahwa: 1) surat kematian itu berhubungan
dengan kematian Darius (Jerome Kurnia) yang gantung diri di Gama Plaza; dan 2)
Joe (Justin Adiwinata), kawan Pasha dan Reno merupakan korban berikutnya.
Mayoritas durasi diisi perdebatan
Zein, yang menggandrungi hal-hal mistis, dan Kinan yang cenderung skeptis. Sewaktu
Endy Arfian tampil dengan logat Jawa khas FTV, Carissa Perusset sejatinya tidak
buruk, tapi dia belum punya kapasitas guna menyelamatkan penokohan buruk Kinan
si jurnalis bodoh (ditinjau dari banyak sisi) yang muncul dengan rencana bodoh
untuk mengungkap identitas pengirim surat kematian. Kinan is a clueless journalist and Carissa herself looks clueless on
handling that.
Mestinya adu argumen kedua tokoh
utama dapat melahirkan investigas menarik melalui benturan sisi logis dengan
mistis, tapi yang tersaji hanya deretan debat kusir minim bobot yang gagal memancing
pemikiran dan pemahaman lebih lanjut terhadap kedua sudut pandang. Surat Dari Kematian terlampau banyak
menghabiskan waktu memperlihatkan Zein dan Kinan beradu mulut ketimbang
mengeksplorasi dereta legenda urbannya, yang sekadar muncul sekilas di adegan
pembuka.
Elemen mistisnya menyimpan beberapa
jump scare yang kebanyakan dieksekusi
oleh sutradara Hestu Saputra (Perfect
Dream, Lorong) memakai trik murahan, seperti wajah hantu yang mendadak
memenuhi seisi layar dibarengi musik berisik garapan Krisna Purna (Siti, Talak 3, Abracadabra) dan Cahya
Kalatidha. Ada satu momen menjanjikan, tatkala sesosok hantu mirip Gollum
menampakkan diri, dalam teror yang awalnya mampu memunculkan atmosfer mencekam,
tapi berubah jadi menggelikan begitu si hantu mulai menyerang. Tawa seisi
bioskop pecah ketika itu terjadi.
Menjanjikan. Potensial. Surat Dari Kematian memang akrab dengan
kata-kata itu. Sama halnya seperti kehadiran guru spiritual Zein, Pak Wibowo
(Landung Simatupang), yang sempat memamerkan ilmu melipat jalan (lebih dikenal
sebagai “melibat Bumi”). Andai hal-hal semacam itu lebih sering dimunculkan
agar memperkaya elemen mistisnya. Tapi akhirnya keterlibatan Pak Wibowo justru
menyulut kejanggalan-kejanggalan lain. Apa hasil dari ritualnya di Gama Plaza? Sebelum
kita tahu, filmnya langsung melompat ke entah berapa hari setelahnya,
membuktikan satu lagi kekacauan penceritaan Surat
Dari Kematian.
Setelah klimaks kental aksi
canggung dan kelalaian filmnya bahwa ada proses autopsi yang bisa menjelaskan
penyebab kematian, datanglah twist yang
coba menjembatani perspektif logis dan mistis. Sayang, akibat gagalnya
presentasi mengenai kedua sisi, dampak kejutan itu tidak sekuat harapan. Dan
jika ingin memunculkan respon “Keren! Nggak ketebak! Mengejutkan!” dari
penonton awam, penjelasannya yang berantakan berujung menghalangi tercapainya
tujuan itu.
Januari 11, 2020
Carissa Perusset
,
Endy Arfian
,
Eric Febrian
,
Evelyn Afnila
,
Hestu Saputra
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jerome Kurnia
,
Justin Adiwinata
,
Krisna Purna
,
Landung Simatupang
,
Omara Esteghlal
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



