Tampilkan postingan dengan label Laura Basuki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laura Basuki. Tampilkan semua postingan

REVIEW - BEFORE, NOW & THEN

Bersama kakaknya, Ningsih (Rieke Diah Pitaloka), Nana (Happy Salma) membawa bayinya kabur untuk lari dari kejaran para "gerombolan". Tidak dijabarkan secara pasti identitasnya, tapi mengingat latar 40-an yang dipakai, kemungkinan mereka adalah gerilyawan. Pemimpin "gerombolan" ingin menikahi Nana, kemudian membunuh ayah Nana saat mendapat penolakan. Sang suami (Ibnu Jamil) menghilang dan diyakini telah tiada. 

Mengadaptasi bab pertama dari novel Jais Darga Namaku karya Ahda Imran, Before, Now & Then menjabarkan bahwa sekalipun penjajah bangsa sudah tumbang, penjajahan terhadap perempuan belum juga hilang. Kamila Andini kembali menyuarakan kegelisahan serta perlawanan. Bukan melalui teriakan, melainkan perenungan.

Peristiwa di paragraf pertama merupakan bagian "before", sedangkan "now" mengajak kita melompat ke 15 tahun pasca pelarian protagonisnya. Nana menikahi Lurah Darga (Arswendy Bening Swara) yang jauh lebih tua, dikaruniai beberapa anak, hidup makmur secara finansial. Walau demikian, kebahagiaan tak nampak di wajahnya. Ada gejolak yang ia pilih untuk pendam. Sewaktu puterinya, Dais (Chempa Puteri), bertanya mengapa perempuan yang sudah menikah menyanggul rambut panjang mereka, Nana menjawab, karena istri harus menyimpan rahasia di balik konde. Sampai kapan rahasia bisa disembunyikan? Haruskah menunggu hingga jadi borok? 

Begitu kukuh Nana memegang prinsip itu, satu-satunya tempat di mana ia bisa jujur adalah mimpinya. Nana bermimpi soal kematian sang ayah, penculikan suami pertama, masuknya seekor sapi ke dalam rumah, juga kedatangan sosok gadis muda misterius (Arawinda Kirana), yang jati dirinya baru diungkap di babak "then". Masa lalu yang belum tuntas terus menghantui Nana, sedangkan masa depan masih sulit ia raba. 

Nana menghadapi beragam hal, termasuk komentar pedas dari ibu-ibu sekitar mengenai latar belakangnya. Inilah keunggulan Kamila dalam menyampaikan isu empowerment. Dia melawan sembari berpijak pada realita. Di Yuni ia membuka mata atas realita hidup perempuan desa (satu hal yang kerap dikritik aktivis kota yang melupakan privilege mereka), sementara di sini, Kamila tak menutup mata soal fakta kalau perempuan juga bisa menghalangi jalan kemerdekaan perempuan lain.

Tapi masalah yang paling menusuk hati Nana adalah ketika mengetahui suaminya berselingkuh dengan Ino (Laura Basuki), seorang penjual daging di pasar. Di sinilah Kamila menampilkan kejeliannya mengolah kisah empowerment. Ketimbang langsung mengonfrontasi Ino, Nana sekali lagi memilih memendam sakit hati. Seiring keduanya saling mengenal, justru tumbuh pertemanan di antara mereka.

Before, Now & Then bukan cerita dua perempuan berebut pasangan, sebab Nana dan Ino lebih membutuhkan kehadiran sesama perempuan dibanding laki-laki. Nana yang tadinya memproses kegelisahan seorang diri dengan hanya ditemani sebatang rokok, sekarang membagi rokok itu, sebagaimana ia membagi kegelisahannya. 

Dua momen secara bergantian menangkap hubungan Nana-Ino. Pertama kala Ino turut serta saat Nana sekeluarga bertamasya. Ino membuka mata Nana akan kebebasan dalam sebuah momen uplifting yang melibatkan sungai. Menyusul kemudian adalah momen dengan suasana berbeda. Lebih kontemplatif. Nana dan Ino merokok berdua, saling berbagi rasa di malam yang sunyi. 

Pengarahan Kamila kali ini, khususnya di fase konklusi, mungkin tak sesukses Yuni dalam hal "mempercantik emosi", namun bisa dilupakan berkat keberadaan dua momen di atas. Ditambah lagi kombinasi mumpuni Happy Salma dan Laura Basuki. Happy Salma dengan "kekuatan dalam diam" yang penuh kehormatan, sementara Laura Basuki (menyabet penghargaan Silver Bear untuk penampil pendukung terbaik di Festival Film Internasional Berlin) mendefinisikan arti kata "supporting". Dia bersinar tanpa mencuri sorotan penampil utama. Karakternya benar-benar jadi pendukung proses yang protagonisnya lalui. 

Before, Now & Then juga jadi presentasi artistik memukau. Pemakaian lagu Sabda Alam memang terlalu gamblang, tapi scoring buatan Ricky Lionardi tak hanya cantik, pula sempurna mewakili sisi elegan karakter utamanya. Bukan cuma pemakaian musik, Kamila juga menyelipkan beberapa bentuk kesenian lain, yang berfungsi menciptakan potret sebuah era. 

Peleburan scoring dan visualnya (gerak lambat, desain properti cantik, mise-en-scène estetis) bakal memunculkan komparasi dengan karya-karya Wong Kar-wai, dan biarpun tidak keliru, saya lebih suka menyebutnya "Bahasa Kamila Andini". Sebuah bahasa cantik yang menegaskan bahwa diam bukan berarti menyerah, bahwa bisikan dapat terdengar lebih lantang ketimbang teriakan.

(Prime Video)

SUSI SUSANTI: LOVE ALL (2019)

Film bertema nasionalisme kita cenderung seperti mesin, menyuarakan “Indonesia raya!” atau “Hidup merah putih!” secara keras, lantang, tapi kosong. Sedangkan untuk film biografi, keharusan mencakup sebanyak mungkin fase hidup karakternya melahirkan penceritaan tak mulus berbentuk kumpulan segmen. Susi Susanti: Love All menggabungkan keduanya sambil mengatasi kelemahan masing-masing genre, guna menciptakan salah satu tontonan terbaik tahun ini.

Ditulis naskahnya oleh lima nama: Syarika Bralini, Raditya Mangunsong (Kamulah Satu-Satunya, Viva JKT48), Raymond Lee (Bajaj Bajuri The Movie, Buffalo Boys), Daud Sumolang (Kebun Binatang), dan Sinar Ayu Massie (Sebelum Pagi Terulang Kembali, 6,9 Detik), film ini tidak memaknai nasionalisme secara buta, namun mengajak penonton menelusuri maknanya lewat frasa “love all” yang diucapkan wasit bulutangkis di awal pertandingan saat kedudukan masih 0-0.

Kisahnya memang melompat mundur ke masa kecil Susi Susanti (Moira Tabina Zayn), tapi itu bertujuan memasang pondasi, bukan didasari pemikiran “Agar ceritanya selengkap mungkin”. Pondasi soal bagaimana ia banting setir menekuni bulutangkis serta bagaimana hubungan dengan ayah (Iszur Muchtar) dan ibunya (Dayu Wijanto) membentuk Susi sebagai atlet maupun individu. Pondasi yang cukup sebagai bekal sebelum melangkah ke fase dewasa Susi.

Nama Susi Susanti (Laura Basuki) melesat cepat, dan berhasil mengharumkan nama bangsa berkat sumbangan banyak juara, khususnya di Piala Sudirman 1989 dan Olimpiade 1992, yang menjadikannya pemenang medali emas Olimpiade pertama asal Indonesia. Tapi ini tidak sesederhana “berlatih-juara-semua bahagia”. Sebab saat itu negeri ini tengah bergejolak. Krisis moneter mencekik, sementara tindak rasisme terhadap warga keturunan Cina semakin gencar. Bahkan meski menjuarai Olimpiade, status kewarganegaraan Susi tak kunjung dipastikan.

Di sinilah Susi Susanti: Love All membuat kalimat “Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat” yang dikampanyekan Try Sutrisno (Farhan) bukan sebatas jargon, tanpa harus melontarkan kalimat-kalimat bernada nasionalis. Melalui bulutangkis Susi belajar makna persatuan, kemudian melalui bulutangkis pula ia menyatukan. Dia hargai perbedaan termasuk menjalin hubungan baik dengan lawan tatkala para pemimpin bangsa mendengungkan pesan serupa namun bertingkah sebaliknya, yang disindir oleh film ini dalam adegan “senam pagi” yang singkat tapi menggelitik.

Punya cakupan kisah selama belasan tahun, naskahnya mampu memilah titik mana saja dalam hidup Susi Susanti yang substansial untuk diangkat, pun (dibantu mulusnya penyuntingan), jeli menjembatani satu momen dengan lainnya. Contoh terbaik adalah ketika selepas pernikahan Susi dan Alan Budikusuma (Dion Wiyoko), kerusuhan pecah. Sekilas dua peristiwa itu tak berkaitan, bahkan (mungkin) tidak terjadi berdekatan, namun muncul dinamika berupa kontradiksi antara kebahagiaan dan kepiluan. Bukan cuma keterkaitan narasi yang film ini ciptakan, juga rasa.

Tentu Sim F yang menjalani debut penyutradaraan solo setelah sebelumnya ambil bagian menggarap segmen Kotak Coklat di omnibus Sanubari Jakarta (2012) turut berjasa besar. Saya mengenal namanya di era MTV Ampuh sebagai sutradara beberapa video klip Peterpan seperti Menghapus Jejakmu dan Walau Habis Terang. Sim F membuktikan bahwa sutradara video klip tidak hanya jago bermain visual kala berhasil membangun atmosfer meyakinkan di partai final Piala Sudirman yang sarat intensitas sampai teror mencekam di tengah kerusuhan. Satu-satunya kelemahan justru terletak di visual berhiaskan “filter Instagram” yang menghilangkan kesan organik kisahnya.

Tapi apa guna film biografi tanpa dibarengi akting mumpuni? Laura Basuki bersinar baik di dalam maupun luar pertandingan. Pada final Piala Sudirman kita bisa melihat transisi Susi, dari set pertama yang dikuasai keraguan, lalu menemukan ketenangan di set kedua, sebelum tampil penuh percaya diri di babak puncak. Pun air mata Laura ketika lagu kebangsaan berkumandang pasca kemenangannya, ampuh menyentuh hati sekaligus memantik nasionalisme. Sedangkan di luar lapangan, seharusnya tiada lagi yang meragukan kombinasi Laura Basuki-Dion Wiyoko sebagai salah satu pasangan penghasil chemistry terkuat di perfilman Indonesia, sebagaimana Susi Susanti: Love All berhasil menjadi salah satu film biografi/olahraga Indonesia terbaik dalam beberapa tahun terakhir.

THE RETURNING (2018)

Saya pertama menyaksikan The Returning sekitar 2 bulan lalu dalam suatu test screening pagi hari. Mengira bakal disuguhi creature feature (seperti Jeepers Creepers misal), saya terkejut mendapati debut penyutradaraan penuh Witra Asliga—pasca 5 tahun lalu menggarap segmen Insomnights dalam omnibus 3Sum—ini adalah horor psikologis slow burning. Ekspektasi yang meleset ditambah fakta kalau pemutaran dilakukan pukul 9:00 ketika nyawa ini belum sepenuhnya terkumpul, saya pun memutuskan bakal menonton ulang.

Pada pengalaman kedua, walau berbagai kelemahan tetap terpampang nyata, saya dibuat terkesan oleh kesubtilan penulisan naskah Witra. Begitu cerdik ia menyembunyikan intensi asli karakter melalui beberapa perilaku tak mencurigakan, yang rupanya punya maksud lain setelah kebenaran diungkap jelang akhir. The Returning diawali kecelakaan yang menimpa Colin (Ario Bayu). Dia terjatuh ketika sedang memanjat tebing. Pencarian dilakukan, tapi tubuhnya tak jua ditemukan.

Tiga bulan berlalu tanpa progres. Colin meninggalkan 2 anak, Maggie (Tissa Biani Azzahra) dan Dom (Muzakki Ramdhan), juga seorang istri, Natalie (Laura Basuki), yang menolak menerima kenyataan bahwa sang suami telah tiada. Berbagai usaha dilakukan, dari menemui psikolog, sampai menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai pengrajin tanah liat, namun tidak banyak membantu. Akibatnya, hubungan Natalie dengan Maggie memburuk, di mana pertengkaran jadi rutinitas. Belum lagi tekanan dari sang mertua (Dayu Wijanto), yang meski murah senyum serta menyayangi kedua cucunya, gemar melontarkan komentar sinis pada Natalie. Dayu Wijanyo cocok melakoni peran ini, menjadikan Oma karakter yang dengan senang hati kita benci.

The Returning dengan penuh kesabaran memakai mayoritas durasinya mengeksplorasi duka yang Natalie alami, pelan-pelan mengungkap beban demi beban karakternya, disokong oleh penampilan cukup solid dari Laura Basuki yang mampu meletupkan emosi kala dibutuhkan. Tapi kadangkala, eksplorasi film ini terasa melelahkan, bukan dipicut tempo lambatnya, melainkan keberadaan momen maupun karakter minim signifikansi. Sebutlah Yasmin (DJ Yasmin) yang andai dihilangkan pun, takkan seberapa mempengaruhi kondisi psikis Natalie.

Sementara itu, musik dreamy garapan Lie Indra Perkasa (Tabula Rasa, Banda the Dark Forgotten Trail) dan lagu haunting berjudul Kecuali Cahaya yang dibawakan Danilla Riyadi sanggup menghanyutkan dalam isi pikiran Natalie yang memang tengah melayang-layang dihantui angan-angan serta luka. Tata kostum bersama departemen artistik yang menampilkan nuansa 90an tanpa terkesan pamer secara berlebihan, juga sinematografi Abdul Dermawan Hadir (Sinema Purnama) yang mengutamakan pemakaian warna hijau, senantiasa memanjakan mata.

Kemudian, di suatu malam Jumat, secara tiba-tiba Colin pulang ke rumah. Tanpa luka, hanya sikap yang lebih dingin dan sedikit aneh di awal. Tapi seiring waktu, Colin semakin normal. Setidaknya di depan, sebab di belakang, keanehan-keanehan justru makin sering terjadi. Cuma terdapat satu jump scare di sini, yang sayangnya sudah dibocorkan oleh trailer-nya. Dipandang dari cara monsternya muncul, adegan itu tidak spesial, tapi dibangun dengan sempurna, demikian pula pilihan timing Witra, yang efektif membuat penonton tersentak. Sisanya, Witra menolak mengandalkan “trik murahan”. Sang sutradara ingin membuat kita takut, bukan terkejut.

Hasilnya tidak selalu baik. Witra jelas memiliki kreativitas tinggi, yang dibuktikan lewat beberapa momen, semisal kemunculan pertama monster atau teror menggunakan papan scrabble. Masalahnya ada di hook. Seringkali, pilihan sudut kameranya gagal memancing bulu kuduk berdiri. Pembangunannya justru kerap lebih mencekam, di mana saya menyukai beberapa penggunaan voice over guna menyiratkan bahwa sesuatu tidak seperti kelihatannya. Desain monsternya pun menarik, walau mata merah dan aura hijau di sekujur tubuh yang dimaksudkan menguatkan kesan out-of-this-world justru mengganggu karena tampak artificial.

Klimaks yang mestinya jadi puncak justru bergulir lemah. Setelah melewati sepanjang durasi bergerak dengan penuh kesabaran, The Returning justru tampil buru-buru kala third act, luput menekankan berbagai poin yang bisa menambah intensitas pula balutan emosi (elemen “tanda mahar” berpotensi menghadirkan konflik rasa yang lebih rumit bagi karakternya). Untungnya ada satu penyelamat, yang memberikan hati sebagaimana filmnya butuhkan. Penyelamat itu berupa penampilan Muzakki Ramdhan yang sukses memannfaatkan sebuah momen singkat. Pasca The Returning juga A Mother’s Love-nya Joko Anwar, tidak sabar rasanya menantikan masa depan aktor cilik ini, termasuk Gundala tahun depan. Way to go, Kiddo!

DOA (DOYOK-OTOY-ALI ONCOM): CARI JODOH (2018)

Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film, ketika Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam mulut alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sebenarnya bisa ditujukan bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu” dengan “aneh” dan “absurd”.

Saya ambil satu lagi adegan dari trailer ketika Doyok (Fedi Nuril) ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud pocong. Doyok diminta agar cepat mencari jodoh, lalu bermuara pada adegan musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh milik Wali, berlagak bak rock star, sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru dan lucu, saya malah dibuat kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.

Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar (Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu jadi sasaran kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akibat hanya bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menggoda wanita walau telah memacari Yuli (Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui berbagai cara. Salah satunya lewat situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan merk yang bagai kegemaran Anggy, yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico Fachriza.

Tapi plesetan di atas masih lebih baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi absurd yang dibuat seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan Anggy Umbara, tampil sebagai cameo, memerankan juri lomba debat bernama Manoj P., yang membuka perlombaan dengan teriakan “Action!”. Seberapa jorok? Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu tersalurkan secara tepat dan terkontrol, ia mampu melahirkan kreativitas tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara aksi yang bagus, Anggy bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.

Karena bagaimana bisa sebuah film amat tidak lucu ketika diisi nama-nama bertalenta? Selain materi lemah, fakta bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang mayoritas pemain utama merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya sulit dikenali, memikat berkat kemampuan menciptakan tawa unik, Pandji adalah Pandji seperti biasa, hanya gaya rambut aneh plus perut (lebih) buncit yang membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir Fahri si pujaan wanita yang ia perankan di Ayat-Ayat Cinta, jelas belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan deretan pemain pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih ahli mengoceh bak lesatan peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, sampai Laura Basuki yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.

Dan kita pun tahu pasti gaya khas Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata. Sehingga, third act-nya, melompat ke satu lagi twist berkonsep tinggi yang menggiring kita menuju klimaks berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya berpikir Anggy mulai mampu mengontrol dosis keliaran eksplorasinya untuk dipakai seperlunya seperti dalam Insya Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang juga karya terburuknya sejak Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015).

TERBANG: MENEMBUS LANGIT (2018)

Salah satu adegan dalam Terbang: Menembus Langit memperlihatkan Onggy (Dion Wiyoko) melamar Candra (Laura Basuki). Bagi karakternya, ini momen penting ketika ia menemukan cinta, kawan hidup yang menyokong sekaligus memberi motivasi bagi perjuangannya. Tapi Fajar Nugros (Yowis Ben, Moammar Emka’s Jakarta Undercover) yang bertindak selaku sutradara dan penulis naskah enggan menghantam penonton lewat dramatisasi tinggi. Berlatar warung mie ayam, ia menarik romantisme keluar dari situasi kurang romantis, setidaknya menurut Candra. Kesederhanaan itu mematenkan rasa juga nilai usungan filmnya, yang menjadikan Terbang, meski masih mempertahankan formula khas melodrama, memiliki nilai lebih dibanding “rekan-rekan sejawatnya”.

Mengangkat kisah hidup motivator sukses Onggy Hianata, Nugros justru tak semata menekankan destinasi berupa keberhasilan finansial. Lahir di keluarga sederhana di Tarakan, Onggy selalu terngiang petuah sang ayah (Chew Kin Wah) tentang ketiadaan kebebasan hidup apabila bekerja bagi orang lain. Begitu melancong ke Surabaya lalu menikah, ia pun nekat meninggalkan pekerjaan kantoran karena takut kelak tidak punya waktu menyaksikan tumbuh kembang si buah hati. Saya kerap mendapati penyesalan serupa dialami banyak ayah begitu menyongsong usia senja sementara anak mereka telah “terbang” seorang diri jauh di sana. Keluarga adalah poin utama Terbang, yang terus Nugros pertahankan sampai konklusi sewaktu ia berani menampilkan bentuk kebahagiaan sederhana ketika banyak penonton mungkin berekspektasi akan gelimag harta.
Bisa dibilang Onggy bukan jenius dalam hal bisnis. Berulang kali ia terbentur kegagalan entah akibat kesalahan strategi maupun tertipu. Sejak kecil pun ia digambarkan tidak secemerlang kakaknya di bangku sekolah. Ditambah keterbatasan ekonomi, saya pun berpikir, “bagaimana ia bisa sukses?”. “Apa rencananya?”. Selain tekad baja, Onggy digambarkan sebagai pria dengan banyak rencana. Kalimat “aku punya rencana” pun sering terlontar dari mulutnya, walau jangankan memancing keyakinan terhadapnya, filmnya lalai menjabarkan rencana apa yang dimaksud. Bahkan Onggy kuliah di jurusan apa pun urung dipaparkan. Karena bagi filmnya, yang penting penonton melihat Onggy mampu menempuh pendidikan di Surabaya, tanah impiannya. Di Surabaya pula Terbang memasuki babak paling menyenangkan berkat sentuhan komedi seputar kehidupan mahasiswa indekos, yang lagi-lagi melukiskan kebahagiaan di tengah kesederhanaan.

Tidak ketinggalan pula pesan nasionalisme, yang meski bisa diperhalus lagi penyampaiannya dengan cara “menunjukkan” alih-alih banyak “menyatakan” secara verbal, tak berkurang relevansinya. Pesan tersebut jelas penting disampaikan sekarang. Kegamblangan macam itu memang senjata andalan film inspiratif dan/atau melodrama, tapi untungnya, penokohan Onggy terhindar dari keklisean serupa. Dia pantang menyerah, namun bukan sosok suci. Penonton berkesempatan melihatnya di titik nadir, saat ia merasa lelah, dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah bersimpuh sambil bertanya pada Tuhan ditemani luapan tangis yang membuktikan kebolehan Dion Wiyoko mengolah rasa. Chemistry yang dibangun bersama Laura Basuki juga solid, menghasilkan pasangan mudah menggaet simpati walau keduanya baru bertemu saat film memasuki separuh durasi.
Salah satu tantangan terbesar Nugros di penulisan naskah tak lain menangani fakta bahwa tokoh utamanya merupakan pentolan Multi Level Marketing (MLM) negeri ini, yang bukan mustahil termasuk alasan mengapa Nugros memilih mengedepankan kekeluargaan. Bayangkan apa respon publik menonton kesuksesan ekonomi karakter yang disebabkan MLM? Fakta itu dikaburkan, dan sayangnya, dari segi naratif keputusan itu menghilangkan beberapa poin krusial. Keseluruhan alurnya memang dipenuhi lompatan kasar dan bukan cuma yang bersinggungan dengan MLM. Waktu berganti begitu saja, masalah-masalah yang dilontarkan juga berlalu sedemikian kilat.

Pada satu titik, Candra mengalami kontraksi di pasar. Dia segera melahirkan. Candra terjatuh, dan kalau saya tidak salah lihat, begitu ia dipapah oleh beberapa orang, perut Laura Basuki tampak mengempis. Ini cacat bagi elemen artistik yang secara keseluruhan terhampar baik. Detail setting dan properti masa lalu, hingga warna yang mengesankan nuansa “hikayat dari era terdahulu”, semua memanjakan mata. Bicara soal era terdahulu, Nugros memang sepertinya hendak mengajak penonton kembali, bukan saja menuju masa lalu, pula kembali ke akar, pulang ke rumah, kembali pada keluarga. Dibalik segala kelemahannya, Terbang: Menembus Langit tetap menonjol bila disandingkan dengan film-film lokal bertema perjuangan inspiratif kebanyakan.