Tampilkan postingan dengan label Lucy Hale. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lucy Hale. Tampilkan semua postingan

FANTASY ISLAND (2020)

Dari sutradara dan tim penulis naskah penghasil horor PG-13 tanpa darah dan taji Truth or Dare (2018), hadir satu lagi horor PG-13 tanpa darah dan taji berjudul Fantasy Island. Berbeda dengan Truth or Dare, ini bukan karya original, melainkan berbasis serial telvisi berjudul sama yang tayang tahun 1977-1984. Tapi seperti Truth or Dare, kekonyolan menggelikan banyak ditemui. Memang ada kesengajaan menyelipkan humor sungguhan di beberapa titik, tapi sekali lagi, pengarahan sekaligus penulisan Jeff Wadlow kerap menghadirkan tawa-tawa tak disengaja.

Berstatus reimagining, sebagian dari Fantasy Island juga dapat dilihat selaku prekuel, mengacu pada penjelasan asal usul salah satu karakter regularnya. Masih bercerita mengenai pulau di mana para tamu dapat mewujudkan fantasi masing-masing, dan harus menjalaninya hingga mencapai “konklusi natural”. Artinya, walau fantasi itu ternyata tak seindah perkiraan atau bahkan berbahaya, semua harus terus berlanjut.

Pengelola pulau tersebut adalah pria misterius dengan setelan jas putih bernama Mr. Roarke yang diperankan Michael Peña, dan membuktikan bahwa peran serius sangat tidak cocok untuknya. Kalau Roarke dari serial televisi bak figur supranatural yang bahkan pernah berhadapan dengan iblis (beberapa percaya ia sejatinya Tuhan, sementara sang pemeran, Ricardo Montalbán, berpikir Roarke adalah malaikat), film ini memanusiakan sosoknya, terlebih setelah rahasia masa lalunya terungkap.

Mr. Roarke menyambut lima tamu yang konon berkesempatan mengunjungi pulau setelah menang undian. Dua bersaudara JD (Ryan Hansen) dan Brax (Jimmy O. Yang) punya fantasi klise khas pria-pria penuh nafsu; Melanie (Lucy Hale) ingin membalas dendam pada perundungnya semasa sekolah; Gwen (Maggie Q) berharap bisa mengulang masa lalu; dan Patrick (Austin Stowell) terobsesi pada hal-hal militer. Satu per satu fantasi kelimanya diwujudkan, tapi ketidakberesan sudah tercium sejak beberapa penampakan sosok pria berwajah penuh luka bakar.

Serialnya sering memposisikan fantasi tamu selaku media bagi mereka mempelajari nilai-nilai berharga, sehingga ungkapan “fantasimu tak seindah kenyataan” jadi punya arti. Filmnya berusaha mengusung pesan serupa, namun tertutupi oleh ambisi mengejutkan penonton sesering mungkin, ditambah mitologi amburadul soal pulau beserta segala aturannya. Sekali lagi, horor garapan Jeff Wadlow bermasalah pada “rules”.

Elemen supranatural dipakai supaya Wadlow bersama dua penulisnya, Christopher Roach dan Jillian Jacobs, bisa berbuat sesuka hati tanpa memedulikan apa pun. Saya tidak mempermasalahkan unsur lintas ruang dan waktunya, yang justru menginjeksi lebih banyak kadar hiburan. Tapi bagaimana dengan para zombie yang mengeluarkan cairan hitam dari mata? Apakah seluruh individu dari fantasi karakternya berubah? Mengapa peluru tak kuasa menghabisi zombie sementara cekikan bisa? Kenapa pula di akhir cerita, fantasi bisa menjadi sebuah realita permanen?

Dan twist-nya.....ya Tuhan, twist-nya! Inilah twist yang eksis hanya untuk mengejutkan dengan cara mencurangi penonton, dan melahirkan kontradiksi bagi hal-hal yang sebelumnya terjadi. Kontradiksi yang menciptakan lubang alur besar. Lubang yang menyulitkan saya menahan tawa terhadap kebodohan Fantasy Island yang seolah tak berujung. Harus diakui beberapa “tawa asli” datang dari segelintir humor, khususnya yang berbentuk kelakar dari mulut karakternya. Di samping premis menarik sekaligus absurdnya, itulah aspek lain yang sedikit meningkatkan kualitas hiburan Fantasy Island.

Wadlow acap kali membangun kecanggungan, yang saya percaya justru bakal berdampak positif bila diterapkan di komedi sungguhan. Minimnya cipratan darah sebagai horor PG-13 bukan masalah selama sutradara sanggup membangun intensitas, yang mana jauh lebih sulit dan gagal dilaksanakan oleh Wadlow. Tapi pesakitan bukan dia seorang. Departemen akting tak kalah menggelikan. Selain Maggie Q yang mampu menghembuskan nyawa tiap kali muncul di layar, pemain lain menyuguhkan akting one-dimentional, yang makin diperparah oleh barisan kalimat cheesy.

Ada dua cara menanggapi film ini. Fantasy Island dapat dipandang sebagai: 1) Semata-mata suguhan buruk, atau 2) guilty pleasure yang kebodohannya bisa ditertawakan. Tapi apakah waktu dan uang kalian pantas dihabiskan hanya untuk menertawakan keburukan seperti ini? Silahkan pikir ratusan kali.

TRUTH OR DARE (2018)

Truth or Dare adalah Final Destination rasa Disney. Pertanyaannya, bisakah menghasilkan Final Destination yang bagus berbekal keramahan tanpa sadisme? Tidak. Adakah yang antusias menonton Final Destination dengan kadar kekerasan minim? Tidak. Mungkin suatu hari Jason Blum tengah bermain truth or dare, memilih dare, lalu ditantang untuk memproduksi horor serupa Final Destination, tapi hanya berisi remaja-remaja tertusuk, terbentur, tertembak, dengan darah sesedikit mungkin. Blum seharusnya memilih truth dan berkata jujur bahwa ide tersebut amatlah buruk.

Sutradara Jeff Wadlow (Kick-Ass 2) yang menulis naskah bersama istrinya, Jillian Jacobs, kawannya, Chris Roach, dan si pemilik gagasan cerita, Michael Reisz jelas hafal tata aturan serta urutan dalam horor remaja: anak-anak SMA berparas cantik dan tampan berada di Meksiko guna menghabiskan liburan musim semi terakhir, menggila sebelum berpisah, lalu entah karena dorongan libido, pengaruh alkohol, kebodohan darah muda, atau gabungan ketiganya, mereka menciptakan masalah yang memancing teror pengundang maut. Olivia Barron (Lucy Hale) adalah tokoh utamanya, sang kompas moral, pun pastinya kandidat final girl terkuat.
“Semua orang memiliki pilihan”. Itulah tema besar filmnya. Berulang kali ditekankan, Truth or Dare sempat memunculkan perenungan di benak saya kala mengamati keputusan-keputusan karakternya. Bagaimana andai Olivia tetap kukuh menolak ajakan sahabatnya, Markie (Violett Beane), berlibur? Bagaimana jika Olivia, layaknya mayoritas manusia waras, enggan mengikuti Carter (Landon Liboiron), pria yang baru saja ia temui, masuk ke reruntuhan gereja kemudian bermain truth or dare? Tentu perenungan itu tidak berlangsung lama, mengingat filmnya memang tak berusaha melangkah ke ranah itu, pun tak berapa lama, telah sibuk menghabisi satu per satu karakternya.

Permainan truth or dare itu menjadi nyata. Menolak menjawab jujur, menolak melakukan tantangan, apalagi menolak ikut bermain, bakal membawa kematian. Tapi, di sisi lain, jawaban jujur berpotensi memecah belah persahabatan. Ya, serupa truth or dare di dunia nyata. Itu poin yang menarik untuk disindir, bahkan bisa ditertawakan sebagai bahan senang-senang lewat bumbu komedi hitam. Masalahnya, film ini tampil terlampau serius tatkala banyak sikap karakternya meneriakkan kebodohan masa remaja. Seolah pembuatnya—dan para aktor yang bermain tak kalah serius dan justru menghasilkan akting sekaku batang kayu—lupa bahwa premis soal truth or dare terkutuk sejatinya menggelikan. Padahal, beberapa momen (contohnya Markie yang selalu pergi akibat cemburu di saat genting) plus timing pengadeganan Wadlow justru efektif memancing tawa.
Truth or Dare merupakan horor yang dibangun berdasarkan antisipasi penonton pada tantangan apalagi yang karakternya akan hadapi, dan terpenting, bagaimana metode untuk menghabisi mereka satu demi satu. Naskahnya tidak menyuplai cukup amunisi bagi sang sutradara mempermainkan kematian-kematian itu. Tikaman pisau dan lesatan peluru jadi rutinitas sebagai cara andalan yang filmnya pakai. Memperburuk keadaan yakni keengganan Wadlow mendorong batas rating PG-13 sejauh mungkin. Tangan dihantam palu? Hanya lecet. Mata tertusuk pulpen? Tanpa darah (rembesan di bawah pintu tidak dihitung). Leher terbentur meja biliar? Cukup sekilas suara tulang patah. Pun mayoritas tak diperlihatkan gamblang.

Mengetengahkan teror dari sebuah permainan, yang tentunya dibarengi beragam aturan, Truth or Dare malah melanggar, atau tepatnya melupakan aturannya sendiri, yang menyiratkan kebingungan para penulisnya merangkai konklusi. Untuk apa saya mempedulikan film yang membuyarkan aturan yang dibuatnya? Untuk apa pula mempedulikan film yang bercerita soal tantangan atas keberanian tokohnya apabila keberanian pun tak dimiliki filmnya? Ada salah satu tokoh bernama Ronnie (Sam Lerner). Dia digambarkan cuma besar mulut, berani di luar, namun ciut nyali saat menghadapi tantangan sungguhan. Truth or Dare sama seperti Ronnie. Hey movie, I dare you to grow some balls!