Tampilkan postingan dengan label Violett Beane. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Violett Beane. Tampilkan semua postingan
TRUTH OR DARE (2018)
Rasyidharry
Truth or Dare adalah Final Destination rasa Disney. Pertanyaannya, bisakah menghasilkan Final Destination yang bagus berbekal keramahan
tanpa sadisme? Tidak. Adakah yang antusias menonton Final Destination dengan kadar kekerasan minim? Tidak. Mungkin
suatu hari Jason Blum tengah bermain truth
or dare, memilih dare, lalu
ditantang untuk memproduksi horor serupa Final
Destination, tapi hanya berisi remaja-remaja tertusuk, terbentur,
tertembak, dengan darah sesedikit mungkin. Blum seharusnya memilih truth dan berkata jujur bahwa ide
tersebut amatlah buruk.
Sutradara Jeff Wadlow (Kick-Ass
2) yang menulis naskah bersama istrinya, Jillian Jacobs, kawannya, Chris
Roach, dan si pemilik gagasan cerita, Michael Reisz jelas hafal tata aturan
serta urutan dalam horor remaja: anak-anak SMA berparas cantik dan tampan
berada di Meksiko guna menghabiskan liburan musim semi terakhir, menggila
sebelum berpisah, lalu entah karena dorongan libido, pengaruh alkohol,
kebodohan darah muda, atau gabungan ketiganya, mereka menciptakan masalah yang
memancing teror pengundang maut. Olivia Barron (Lucy Hale) adalah tokoh utamanya,
sang kompas moral, pun pastinya kandidat final
girl terkuat.
“Semua orang memiliki pilihan”. Itulah tema besar filmnya.
Berulang kali ditekankan, Truth or Dare
sempat memunculkan perenungan di benak saya kala mengamati keputusan-keputusan
karakternya. Bagaimana andai Olivia tetap kukuh menolak ajakan sahabatnya,
Markie (Violett Beane), berlibur? Bagaimana jika Olivia, layaknya mayoritas
manusia waras, enggan mengikuti Carter (Landon Liboiron), pria yang baru saja
ia temui, masuk ke reruntuhan gereja kemudian bermain truth or dare? Tentu perenungan itu tidak berlangsung lama,
mengingat filmnya memang tak berusaha melangkah ke ranah itu, pun tak berapa
lama, telah sibuk menghabisi satu per satu karakternya.
Permainan truth or dare
itu menjadi nyata. Menolak menjawab jujur, menolak melakukan tantangan,
apalagi menolak ikut bermain, bakal membawa kematian. Tapi, di sisi lain, jawaban
jujur berpotensi memecah belah persahabatan. Ya, serupa truth or dare di dunia nyata. Itu poin yang menarik untuk disindir,
bahkan bisa ditertawakan sebagai bahan senang-senang lewat bumbu komedi hitam.
Masalahnya, film ini tampil terlampau serius tatkala banyak sikap karakternya
meneriakkan kebodohan masa remaja. Seolah pembuatnya—dan para aktor yang
bermain tak kalah serius dan justru menghasilkan akting sekaku batang kayu—lupa
bahwa premis soal truth or dare terkutuk
sejatinya menggelikan. Padahal, beberapa momen (contohnya Markie yang selalu pergi
akibat cemburu di saat genting) plus timing
pengadeganan Wadlow justru efektif memancing tawa.
Truth or Dare merupakan horor yang dibangun berdasarkan antisipasi penonton pada tantangan apalagi yang karakternya akan
hadapi, dan terpenting, bagaimana metode untuk menghabisi mereka satu demi
satu. Naskahnya tidak menyuplai cukup amunisi bagi sang sutradara mempermainkan
kematian-kematian itu. Tikaman pisau dan lesatan peluru jadi rutinitas sebagai cara
andalan yang filmnya pakai. Memperburuk keadaan yakni keengganan Wadlow
mendorong batas rating PG-13 sejauh mungkin. Tangan dihantam palu? Hanya lecet.
Mata tertusuk pulpen? Tanpa darah (rembesan di bawah pintu tidak dihitung).
Leher terbentur meja biliar? Cukup sekilas suara tulang patah. Pun mayoritas
tak diperlihatkan gamblang.
Mengetengahkan teror dari sebuah permainan, yang tentunya
dibarengi beragam aturan, Truth or Dare
malah melanggar, atau tepatnya melupakan aturannya sendiri, yang menyiratkan
kebingungan para penulisnya merangkai konklusi. Untuk apa saya mempedulikan
film yang membuyarkan aturan yang dibuatnya? Untuk apa pula mempedulikan film
yang bercerita soal tantangan atas keberanian tokohnya apabila keberanian pun
tak dimiliki filmnya? Ada salah satu tokoh bernama Ronnie (Sam Lerner). Dia
digambarkan cuma besar mulut, berani di luar, namun ciut nyali saat menghadapi
tantangan sungguhan. Truth or Dare
sama seperti Ronnie. Hey movie, I dare
you to grow some balls!
April 29, 2018
horror
,
Jeff Wadlow
,
Kurang
,
Landon Liboiron
,
Lucy Hale
,
REVIEW
,
Violett Beane
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



