Tampilkan postingan dengan label Pamela Bowie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pamela Bowie. Tampilkan semua postingan

REVA: GUNA GUNA (2019)

Anda tahu dunia horor tanah air sedang mengalami krisis jika film macam Reva: Guna Guna tak sampai membuat anda kejang-kejang. Sebab, tentu saja Jose Purnomo (Jelangkung, Alas Pati, Silam) punya selera visual lebih baik, pula lebih bertalenta dibanding orang-orang di belakang Kain Kafan Hitam atau 11:11: Apa yang Kau Lihat?. Dinilai dari sampul luar, film ini memang produk layar lebar layak putar.

Turut mengambil peran sinematografer seperti biasa, setidaknya Jose tak memberi kesempatan gambar dengan resolusi tiarap dan/atau luput dari proses color grading muncul di hasil akhir filmnya. Sering tampak glitch yang mengindikasikan proses pasca-produksi yang terburu-buru (mungkin DCP baru selesai di saat-saat akhir?), tapi itu bukan kekeliruan sang sutradara. Tiga hantu antagonis (Gemet Aresan, Jurig Jarian, Emak Bongkok) pun wajahnya dibalut riasan memadahi. Tingkat kengeriannya bisa didebat, namun Kiki Aston (Silam, Kuntilanak) dan Dicky Etto (Jaga Pocong, Anak Hoki) jelas tak asal meniupkan bedak ke wajah pemain.

Reva: Guna-Guna memang takkan melukai mata penonton. TAPI, jika diskusi diteruskan menuju pertanyaan “Apakah filmnya melukai otak?”, jawabannya masih “Ya”. Bahkan sejak adegan pembuka yang memperlihatkan Reva (Angel Karamoy) tengah berada di sel tahanan tanpa toilet, seolah memperlihatkan kerja setengah hati tim penata artistik. Pantas Reva nampak begitu tertekan, karena untuk kencing selepas diteror hantu saja ia dipersulit.

Reva merupakan terdakwa pembunuhan atas seluruh anggota keluarganya, kecuali sang ayah, (Ferry Salim). Reva menolak tuduhan tersebut, kukuh pada jawaban bahwa pelakunya adalah tiga setan yang selalu menebar teror selepas ulang tahunnya yang ke-21. Karena psikolognya, Dr. Karina (Wulan Guritno), menyatakan Reva mengidap manik depresif (membahas ketepatan pemakaian istilah medis di film macam ini rasanya percuma), ia pun dikirim ke rumah sakit jiwa.

Keputusan tersebut dijatuhkan pasca proses persidangan ala kadarnya, di mana pengacara Reva menyebut bahwa tak ditemukannya senjata sebagai ketiadaan “motif” alih-alih “barang bukti”. Ya. Motif. Jadi kalau pelaku pembunuhan diajukan pertanyaan, “Apa motif kamu membunuh mereka?”, dia akan menjawab, “Pisau, pak polisi”.

Reva akhirnya tiba di rumah sakit jiwa yang dikepalai Nixon, yang diperankan Marcelino Lefrandt dalam gaya akting over-the-top yang dapat menggiring film ini ke arah psychological b-horror seru, namun naskah garapan Aviv Elham (Suster Ngesot The Movie, Arwah Tumbal Nyai, Alas Pati) memilih bertahan di ranah kisah supernatural medioker dengan plot berupa lompatan antara penampakan hantu, yang jauh dari mengerikan, bahkan tak mengadung jump scare mengejutkan. Mungkin Jose berniat menghindari trik murahan, tapi saat musik berisik buatan Joseph S. Djafar (Suster Keramas, Kain Kafan Hitam, Orang Kaya Baru) tak henti membombardir telinga, niat mulia tersebut terasa semu.

Seiring waktu, serangan trio hantu semakin berbahaya, bahkan sempat membuat Reva berada di kondisi kritis akibat luka tusukan Gemet Aresan. Pendarahannya cukup untuk membuat kolam darah mini, tapi anehnya, jangankan luka, baju Reva sama sekali tidak sobek. Film ini melupakan logika itu, tetapi membuat Angel Karamoy menanggalkan pakaian di beberapa momen tanpa substansi.

Selama di rumah sakit jiwa, Reva sempat dikunjungi sahabatnya, Devi (diperankan Pamela Bowie selaku penampil terbaik film ini), yang lewat dua kunjungannya membuat saya mempertanyakan SOP karyawan di sana. Pada kunjungan pertama, Devi diusir karena membuat Reva menangis, tapi di kunjungan berikutnya, saat paranormal yang ia bawa terlempar hingga memecahkan pintu kaca, semua orang berdiam diri.

Singkat cerita, Devi akhirnya nekat berencana membawa sahabatnya (Atau kekasih rahasia? Kadang film ini seperti berusaha malu-malu menyiratkan hubungan lebih di antara keduanya) kabur. Rencana yang menghasilkan adegan paling intens di Reva: Guna Guna. Tidak perlu hantu. Cukup keberhasilan Jose bermain-main dengan kecemasan penonton, di mana ia bergantung pada atmosfer natural tanpa distraksi musik.

Namun begitu adegan tersebut berhasil menjadikan filmnya terlihat meyakinkan, Reva: Guna Guna kembali terjerumus dalam kebodohan seperti biasa. Sungguh bodoh ketika para petugas rumah sakit jiwa, termasuk Nixon yang digambarkan begitu teliti, tidak mencari keberadaan pasien yang hilang memakai CCTV, memilih repot-repot mengitari seisi gedung di tengah malam. Tapi hal terbodoh datang saat sang pembunuh mengungkap identitasnya lewat adegan konyol, dilengkapi kalimat tak kalah konyol, yang menunjukkan betapa penulisnya bingung bagaimana mesti menutup filmnya.

MARS MET VENUS - PART COWO (2017)

Keputusan membagi Mars Met Venus menjadi dua bagian jelas berisiko. Masing-masing film harus mewakili tiap sisi guna menghadirkan perspektif berlainan namun saling melengkapi. Ibarat puzzle, Part Cewe dan Part Cowo mesti bisa menyatu menghasilkan gambaran besar utuh mengenai hubungan dua tokoh utama. Hasil akhirnya campur aduk. Serupa pendahulunya, Part Cowo amat menghibur, tapi menegaskan bahwa proses saling mengisi yang terjadi justru berbentuk tambal sulam. Walau kelemahan Part Cewe seputar dinamika mampu diperbaiki, Part Cowo bagai filler yang menyelip masuk di sela-sela kecil kisah, meninggalkan mayoritas gejolak substansial di film pertama.

Serupa Part Cewe, Part Cowo pun disusun berdasarkan stereotip mengenai gender, dan sebagaimana kita tahu, cowok dikenal atas kebodohan mereka (kami). Itulah mengapa kali ini komedi jauh lebih kental. Berbeda dengan sahabat-sahabat Mila (Pamela Bowie) yang menanggapi curahannya lewat saran, sahabat Kelvin (Ge Pamungkas) adalah apa yang bakal orang-orang definisikan sebagai "idiot". Tidak ada situasi berlalu tanpa tingkah konyol maupun komentar bernada mesum. Fokus pun condong ke komedi, yang akhirnya jadi pembeda urusan dinamika. Kala Part Cewe berisi pertengkaran beruntun nan melelahkan, Part Cowo lebih santai, di mana kebanyakan konflik adalah situasi menggelikan daripada perang urat syaraf. 
Masuk akal mengingat Kelvin memandang kemarahan Mila dengan penuh kebingungan layaknya cowok yang selalu clueless terhadap kekesalan sang kekasih. Dan menyelami sisi cowok seolah memberi kesempatan pada sutradara Hadrah Daeng Ratu bersama penulis naskah Nataya Bagya untuk meluapkan hasrat menggila. "Boys are stupid" jadi kunci. Semisal, alih-alih berkata "ciee selamat ya" tatkala seorang teman berhasil jadian, mereka memilih berbuat konyol seperti tampak dalam salah satu adegan terlucu di film Indonesia tahun ini (let's call it "jangan berantem" scene) yang kemampuan memancing tawanya setingkat momen "sate padang" kepunyaan Part Cewe. 

Tapi ide Nataya atau kemasan absurd Hadrah mungkin urung seefektif itu andai tanpa jajaran cast mumpuni. Keempat personil Cameo Project membuat tokoh pendukung tim Mars jauh lebih menarik dibandingkan tim Venus. Karena telah lama bersama, jalinan chemistry berupa lempar-tangkap lelucon berjalan mulus. Masing-masing memiliki ciri khas. Tingkah "kotor" Bobby (Ibob Tarigan), Martin (Martin Anugrah) yang kerap asal bicara, Steve (Steve Pattinama) dengan wajah sangar tapi hati "lembut", sampai Reza (Reza Nangin) yang paling bijak meski tak kalah bodoh. Sedangkan Ge Pamungkas masih ahli berekspresi. Sebagaimana "sate padang", lelucon "mie" takkan maksimal tanpa pembawaan ekspresifnya. Bahkan di sini Ge membuktikan punya jangkauan cukup baik menangani situasi dramatik. 
Apakah Part Cowo sanggup mewakili perspektif para Mars? Ada detail menarik terkait itu. Mila di Part Cewe mungkin terasa berlebihan, tetapi karena kita terus mengikutinya, sedikit menyelami isi hatinya, sikapnya bisa dimaklumi. Berbeda dengan Mila di sini yang begitu menyebalkan. Bukan kesalahan karakterisasi, melainkan kesengajaan selaku usaha membawa penonton sepenuhnya ada di posisi Kelvin. Kita hanya tahu apa yang Kelvin tahu, sementara Mila jadi sosok asing di luar sana, berperan sebagai faktor eksternal pemicu masalah. Poin ini termasuk satu lagi keunggulan Part Cowo. Berbeda dengan film pertama yang meski menyoroti Mila dan kawan-kawan masih menjadikan Kelvin tokoh dominan hingga kurang pas disebut Part Cewe.

Seperti sudah disinggung di atas, Part Cowo bak filler bagi keseluruhan cerita. Memang ada beberapa peristiwa tambahan yang belum muncul di Part Cewe karena merupakan perspektif Kelvin seorang, namun tidak lebih dari peristiwa selingan, sebutlah soal apa yang terjadi sebelum Kelvin datang meminta nomor Mila. Sisanya, selaku garis besar cerita, sudah kita lihat di Part Cewe. Bahkan deretan konflik penting langsung masuk ke inti persoalan  tanpa pembangunan terlebih dulu. Bertujuan menghindari repetisi bagi penonton yang telah menonton Part Cewe, keputusan itu berpotensi membingungkan bagi yang belum. Padahal "film paket" semacam ini mestinya dapat dinikmati secara terpisah. Alhasil sulit menghilangkan pemikiran bahwa Mars Met Venus akan lebih baik andai dilebur sebagai satu film. Di samping itu, Part Cowo tetap luar biasa lucu, pun sempat terasa manis. Jika pada Part Cewe ada pemberian bunga diiringi Dulu Kini Nanti yang dibawakan Citra Scholastika, kali ini versi Adis Putra menemani momen pameran foto yang tak kalah menyentuh. 


Review film ini juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_wEBN

MARS MET VENUS - PART CEWE (2017)

Cewek selalu benar, cowok selalu salah. Cewek menghabiskan waktu berjam-jam berdandan dan memilih baju sebelum pergi, cowok asal mandi dan bersiap secepat kilat. Beragam stereotype gender yang lekat pada dinamika pacaran generasi milenial tersebut merupakan basis Mars Met Venus yang dibagi jadi dua bagian, Part Cewe dan Part Cowo yang menyusul rilis 3 Agustus nanti. Ini bukan satir cerdas. Bukan pula eksplorasi mendalam, yang bahkan membuat teori John Gray sang penulis Men Are from Mars, Women Are from Venus  which is very stereotypical  terkesan kokoh. Ini semata-mata media bagi penonton remaja menertawakan lika-liku romantika mereka sendiri. 

Kelvin (Ge Pamungkas) dan Mila (Pamela Bowie) akhirnya memutuskan siap lanjut ke jenjang berikutnya setelah berpacaran lima tahun. Untuk itu, dibuatlah video pre-wedding di mana keduanya mengisahkan hubungan selama ini, mencurahkan isi perasaan masing-masing. Seiring Kelvin dan Mila bercerita, penonton sesekali dibawa mundur ke belakang, menyaksikan dari awal tumbuhnya benih cinta mereka. Namun proses itu justru memancing konflik demi konflik akibat perbedaan pola pikir, dari hal kecil macam lupa akan momen pertemuan pertama hingga hal serius yang mengancam kelangsungan hubungan. Seperti judulnya, kita lebih dulu dibawa masuk ke dunia Mila yang mayoritas diwakili curhatan pada dua sahabatnya, Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany).
Konsep berupa ironi sewaktu keraguan justru timbul di tengah niat mempererat ikatan sejatinya potensial. Sebab dari situ penelusuran menarik soal cinta dua sejoli dapat tersaji. Tentu saya tak berharap tuturan pintar, tetapi ketimbang narasi propernaskah Nataya Bagya (3 Dara, 7/24) menjadikan momen pembuatan video tak ubahnya checklist untuk tiap stereotip yang ujungnya memancing pertengkaran repetitif. Polanya sama: Kelvin dan Mila bermesraan, berbeda pendapat, salah satu marah (biasanya Mila), menutup hari dengan kekacauan. Apalagi tiada pembagian intensitas. Seluruh pertengkaran bagai puncak konflik. Hasilnya melelahkan. 

Bicara penokohan, Kelvin dan Mila sebatas karikatur terhadap gambaran masing-masing gender. Toh tujuannya memang demikian. Eksistensi dua protagonis ini "hanya" selaku representasi "kekhasan" cewek dan cowok. Amat stereotipikal, tapi jangan lupa, stereotip ibarat asap yang takkan muncul tanpa api. Artinya, sangat mungkin penonton merasa terwakili oleh (meski tak semua) banyak poin. Potensi merasa terikat oleh rangkaian peristiwanya cukup besar baik pada penonton pria maupun wanita. Anda bakal tersenyum, mengangguk-angguk karena pernah mengalami hal serupa, entah kegembiaraan tiada tara kala pertama berboncengan, tegang luar biasa merangkai kata ungkapan cinta, atau membaca kepribadian pujaan hati lewat zodiak. 
Deretan peristiwa di atas dikemas jenaka, dan komedi adalah keunggulan terbesar Mars Met Venus. Pamela Bowie melucu bersenjatakan tingkah manja yang seringkali menggemaskan sembari ditopang totalitas berekspresi. Ketika bahagia ia tak segan menari-nari bagai hilang akal, sebaliknya tatkala dikuasai amarah, teriakan bertubi-tubi terlontar. Ketepatan performa Pamela menjaga Mila  yang super posesif dan sensitif  tetap mudah disukai. Sedangkan Ge Pamungkas tak ubahnya perwujudan laku konyol lelaki saat dibuat frustrasi masalah cinta. Ekspresi berlebihan yang menggelikan (in a good way) ditambah celetukan-celetukan lucu yang sepertinya hasil improvisasi cerdik sungguh menguras tawa. Adegan "sate padang" merupakan comic gold yang takkan sebegitu efektif andai tanpa kesempurnaan timing dan respon Ge. 

Seperti telah disinggung, Mars Met Venus lemah seputar narasi yang rawan mempengaruhi fase dramatik. Untungnya walaupun tidak didukung pondasi mumpuni, sutradara Hadrah Daeng Ratu (Super Didi, Heat Beat) paham betul cara merangkai nuansa manis. Contoh terbaik sewaktu Mila mengenang hadiah pemberian Kelvin. Dihiasi mawar merah dan kejutan-kejutan, Hadrah Daeng Ratu menghidupkan imajinasi manis mengenai kenangan berharga bersama sosok tercinta yang menjadi jembatan solid supaya dampak emosi konklusinya tersampaikan. Iringan lagu Dulu, Kini, Nanti milik Citra Scholastika pun ikut menguatkan. Film ini memang kisah cinta generasi milenial yang bisa saja konfliknya dianggap tidak penting dan lebay. Namun lebay juga berarti lebih. Lebih ekspresif, lebih bergelora, lebih menyenangkan. Dan Mars Met Venus (Part Cewe) sangat menyenangkan.


Ulasan film ini juga bisa dibaca di: http://tz.ucweb.com/7_1KBVV