Tampilkan postingan dengan label Patrick Doyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Patrick Doyle. Tampilkan semua postingan

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS (2017)

Versi baru Murder on the Orient Express terbentur fakta bahwa banyak pecinta film telah paham seluk beluk misteri adaptasi novel berjudul sama karya Agatha Christie tersebut. Motif, trik, sampai twist mengenai identitas pelaku sudah diketahui. Mengubah berarti mengambil resiko merusak esensi. Penyesuaian yang dilakukan pun bertujuan menggapai pangsa pasar penonton kasual berusia muda, khususnya yang awam akan sumber materinya. Pemakaian huruf bergaya nyala neon plus lagu Believer milik Imagine Dragons pada trailer membuktikannya. Di hasil akhir, peningkatan kuantitas dan kualitas efek visual serta selipan aksi mengusung tujuan serupa. Apakah modernisasi di atas ikut menguatkan poin substansif?

Hercule Poirot (Kenneth Branagh) pun dimodifikasi. Sesekali masih bertingkah jenaka dan punya kepercayaan diri selangit, Poirot bukan lagi jenius tanpa cela. Selain memiliki OCD yang menjelaskan kepekaan analisisnya, ia menunjukkan kerapuhan pria yang kehilangan cinta, gampang terprovokasi, kerap keliru melempar hipotesis, pula terjebak dilema moralitas. Atas nama perbedaan, naskah Michael Green (Logan, Blade Runner 2049) berambisi tak hanya memaparkan kasus pembunuhan, juga drama mengenai sisi problematik tokoh utama. Bahkan tersimpan sikap anti-rasisme tatkala novel maupun cerita pendek Agatha Christie sering mengandung nada rasisme. 
Dasar ceritanya sama, menyoroti pembunuhan terhadap pebisnis bernama Samuel Ratchett (Johnny Depp) yang terjadi kala kereta Orient Express tengah melaju. Seiring salju longsor yang memaksa kereta berhenti, Poirot harus menemukan pelaku di antara para tersangka dari beragam latar belakang. Kunci bangunan intensitas terletak pada proses interogasi yang (seharusnya) jadi sarana penonton terlibat dalam investigasi, ikut menebak makna di balik pertanyaan Poirot, mengaitkannya dengan jawaban penumpang serta berbagai sebaran petunjuk. Sayangnya, di sini naskah Green, juga penyutradaraan Branagh tampak kerepotan. 

Interogasi tampil sambil lalu hingga penggalian informasi terasa dangkal. Dialog tulisan Green sekedar adaptasi hambar, sementara Branagh kurang cakap menyulut ketegangan berbasis barter kalimat. Nampak ketika dua adegan bernuansa aksi dibubuhkan selaku amunisi tambahan kalau penonton bosan mendengar 114 menit penuh pembicaraan. Bahkan momen pengungkapan fakta mengejutkan di akhir bakal seutuhnya gagal menghentak andai tak dibantu iringan Never Foget, musik melankolis nan indah gubahan Patrick Doyle. Namun tidak tertutup kemungkinan, bagi penonton yang sama sekali awam, investigasi Murder on the Orient Express mampu mencengkeram meski sedikit melelahkan.
Seperti sempat disinggung, Murder on the Orient Express memberi porsi lebih untuk eksplorasi karakter Poirot. Keputusan ini menyuntikkan dinamika baru di mana si "detektif terhebat di dunia" tak hanya memecahkan kasus, juga mengalami proses belajar dari pemegang prinsip bahwa hanya ada benar-salah jadi memahami ranah ambigu abu-abu di antaranya. Alhasil, para tersangka yang harusnya memiliki dinamika hasil penokohan berwarna tersisih, sebatas pelengkap dengan kepribadian ala kadarnya sekaligus minim peluang bersinar. Uniknya, berbeda dibanding versi Lumet, Ratchett diberi porsi ekstra khususnya di paruh awal, kemungkinan demi memanfaatkan nama besar Depp.

Sulit dipungkiri, melihat jajaran aktor kelas wahid berbagi layar, saling bertukar argumen tetap menyenangkan disimak. Depp penuh kharisma, untungnya tanpa gaya eksentrik yang kini membosankan, Michelle Pfeiffer dengan tatapan serta tutur kata menusuk namun berkelas, energi Daisy Ridley, wibawa Judi Dench, hingga Penelope Cruz yang mengatur kata-kata atas nama religiusitas. Biar begitu, kegagalan menciptakan karakter utuh membatasi pesona mereka, menyisakan Poirot sebagai satu-satunya tokoh berdimensi. Branagh dan kumis antiknya bak mengandung magnet, sanggup menyandingkan aspek quirky jenaka Poirot bersama sisi bermasalah dirinya. 

A UNITED KINGDOM (2016)

Judul A United Kingdom menyimpan beberapa makna. Bisa merujuk pada Britania Raya, soal usaha penyatuan rakyat Bechuanaland (sekarang Bostwana) guna melawan sistem Apartheid, atau mengenai bagaimana cinta dua insan manusia bersatu hingga sanggup meruntuhkan tradisi mengekang, rasisme, pula kepentingan politis. Karya terbaru sutradara Amma Asante (A Way of Life, Belle) ini tak lain satu lagi kisah dari masa lalu yang tetap relevan bila diaplikasikan ke masa kini, membuktikan bahwa umat manusia masih jalan di tempat perihal menyikapi perbedaan suku dan ras. 

Meski kandungan ceritanya penting, A United Kingdom jelas bukan spesies baru. Urusan pernikahan antar-ras, Loving sudah menetapkan standar tinggi dengan sensibilitas tuturnya. Guy Hibbert (Eye in the Sky) yang mendasari naskahnya dari buku non-fiksi Colour Bar buatan Susan Williams memilih jalur formulaik baik sebagai biopic maupun gelaran romantika. Pada tataran film biografi, A United Kingdom bergerak lurus dan kita tahu filmnya bakal diakhiri dengan foto-foto nyata tokohnya ditemani tulisan narasi tentang nasib mereka pasca cerita dalam film. Sementara sebagai romansa, film dibuka oleh pemandangan familiar kala Seretse Khama (David Oyelowo) dan Ruth Williams (Rosamund Pike) pertama bertemu. 
Keduanya bersua, sepintas bertatapan, sebelum akhirnya memberanikan diri saling menyapa. Suatu cara tradisional untuk menggambarkan percikan cinta pandangan pertama. Penonton dipaksa percaya dua tokoh utama jatuh cinta begitu saja, berpegang pada pernyataan "cinta tak butuh alasan". Kemudian dengan cepat mereka menjadi sepasang kekasih, rutin bertemu dari satu pesta dansa ke pesta dansa lain. Prosesnya bergerak cepat, namun untungnya Hibbert efektif memanfaatkan waktu singkat tersebut guna menjabarkan bermacam poin yang berfungsi melatari konflik, seperti ketidaksukaan ayah Ruth terhadap kulit hitam sampai Seretse yang terbentur tradisi Bechuanaland. Pria ini rupanya bukan mahasiswa asing biasa. Dia adalah pewaris tahta, calon Raja Bechuanaland.

Kita memang tidak diberi banyak waktu menyerap rasa cinta dua protagonis di paruh awal, tapi simpati tumbuh seiring kita menyaksikan ketidakadilan yang menimpa. Di sini, A United Kingdom menyampaikan hal yang jarang atau enggan diungkap banyak film bertemakan ras, yaitu bahwa tindak rasisme tidak "eksklusif" dilakukan satu pihak semata. Rakyat Bechuanaland memang korban sikap sewenang-wenang kaum kulit putih selaku pemegang kuasa, namun penolakan mereka akan kedatangan Ruth sebagai Ratu karena berkulit putih menunjukkan rasisme serupa. Sebagaimana Seretse dan Ruth, A United Kingdon menyuarakan perjuangan penting yang mengingatkan lagi soal makna kesetaraan.
Lambat laun konflik meningkat bukan lagi soal penolakan internal keluarga, mulai menyentuh gejolak kepentingan politik luar negeri ketika Kerajaan Inggris makin jauh turut campur sebisa mungkin menghalangi kebersamaan Seretse dan Ruth. Konflik ini dimanfaatkan untuk menggali hubungan keduanya. Awalnya sang istri nampak lemah, menyatakan tak sanggup menghadapi semua seorang diri tatkala suaminya dengan mantap menyatakan keyakinan, berorasi di depan rakyatnya. Tapi kemudian Seretse mulai putus asa. Tangisnya pecah, dan kini giliran Ruth unjuk gigi, menyempurnakan gambaran seimbang suami-istri yang menyokong penceritaan filmnya soal kesetaraan. Dua pemain utama menyajikan performa apik. Pike memperlihatkan cluelessness wanita di tanah serta kondisi asing lalu bertransformasi menjadi sekokoh batu, sedangkan Oyelowo punya kekuatan seorang Raja namun lembut kala membicarakan istrinya, bahkan meneteskan air mata. 

Asante bukan pencerita dengan kemampuan menggali psikis tokoh-tokohnya secara mendalam. Tidak pula memiliki keunikan gaya atau sensitivitas tinggi membangun adegan. Contohnya ketika alunan musik tradisional Afrika yang begitu indah mulai terdengar, sang sutradara urung memaksimalkannya dan langsung beralih menuju scoring orkestra konvensional garapan Patrick Doyle. Tapi soal merangkai narasi, Asante jelas piawai. Terbukti, sepanjang hampir dua jam durasi, A United Kingdom mengalir lancar, enak diikuti walau sejatinya memiliki cerita yang terbagi dalam babak-babak.