Tampilkan postingan dengan label Michelle Pfeiffer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Michelle Pfeiffer. Tampilkan semua postingan

MALEFICENT: MISTRESS OF EVIL (2019)

Maleficent: Mistress of Evil dibuka lewat aerial shot memukau, menangkap lanskap kerajaan Moors yang dibuat menggunakan CGI. Tapi begitu kisah mulai diperkenalkan, ketika Puteri Aurora (Elle Fanning) mengumpulkan makhluk-makhluk Moors guna mendengar keluh kesah mereka, kemegahan itu digantikan oleh sekuen kekanak-kanakan, lengkap dengan humor slapstick yang akan membuatmu tersenyum canggung. Transisi tersebut cukup menggambarkan keseluruhan filmnya, yang berjaya saat pamer visual, lalu terjatuh ketika bercerita.

Lima tahun setelah film pertama, kedamaian tercipta di Moors, meski masyarakat sekitar masih takut kepada Maleficent (Angelina Jolie) akibat berita tentangnya yang meracuni Aurora, tersebar luas. Tapi bukan itu yang dikhawatirkan sang “mistress of evil”, melainkan saat puteri angkatnya menerima pinangan Pangeran Phillip (Harris Dickinson) dari Kerajaan Ulstead. Semakin mengkhawatirkan kala orang tua Phillip, Raja John (Robert Lindsay) dan Ratu Ingrith (Michelle Pfeiffer) mengundangnya makan malam.

Maleficent: Mistress of Evil paling menghibur saat Jolie membawa kejenakaan dari ketidakmampuan karakternya menghadapi undangan makan malam, di mana ia dituntut beramah tamah dengan manusia, yang mana begitu asing baginya. Sejak film pertama Jolie telah menghembuskan kehangatan di balik kegelapan sosok Maleficent, dan kali ini ia menambah dinamika baru lewat humor.

Tapi tawa itu tidak berlangsung lama. Situasi memanas sewaktu Ingrith mulai menebar provokasi, memancing amarah Maleficent, lalu berpuncak pada tuduhan bahwa Maleficent mengutuk Raja John, membuatnya koma. Perang antar kerajaan pun tak terelakkan, sayangnya sebelum perang itu sempat menghancurkan kedua kubu, filmnya sudah lebih dahulu dirusak oleh buruknya penggarapan.

Naskah garapan Micah Fitzerman-Blue, Noah Harpster, dan Linda Woolverton berusaha melakukan banyak hal, dari mengangkat lagi tema ibu-anak, menyelipkan pesan persatuan, sampai menggali mitologi di balik sosok Maleficent, tapi tak satu pun tampil menarik. Datar, khususnya akibat penulisan dialog membosankan, sebab deretan kalimatnya bak ditulis hanya karakternya harus berbicara alias obligasi semata.

Satu-satunya poin menarik mengenai eksplorasi mitologinya adalah tatkala Maleficent, tanpa mengenakan penutup tanduknya, terbangun di sebuah tempat asing yang seperti tersusun atas akar-akar pohon berwarna putih. Jolie, dengan riasan wajah pucat, tanduk menjulang, dan rambut panjang tergerai tampil layaknya sosok menakjubkan dari negeri dongeng, sementara tata artistiknya membantu sinematografer Henry Braham (The Golden Compass, Guardians of the Galaxy Vol. 2) melahirkan visual memesona.  

Memang tidak ada keluhan terkait bagaimana Maleficent: Mistress of Evil memanjakan mata, namun Joachim Rønning (Kon-Tiki, Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales) yang untuk pertama kali menyutradarai solo tanpa ditemani Espen Sandberg, tak kuasa menjadikan filmnya lebih dari sekadar parade visual. Adegan-adegannya nihil intensitas, bahkan ia gagal memaksimalkan standoff antara Jolie dan Pfeiffer yang semestinya monumental, biarpun kharisma kedua nama besar ini terlalu kuat untuk bisa dihalangi oleh lemahnya penyutradaraan.

Elle Fanning berusaha sekuat tenaga bermain emosi, sayang, naskahnya mengkhianati usaha sang aktris ketika menjadikan Aurora salah satu Disney Princess terbodoh yang sukar menggaet simpati. Kebodohan yang menyulitkan Aurora berdiri sejajar di antara rekan-rekannya, pada masa di mana Disney tengah gencar membangun citra “wanita kuat” bagi puteri-puterinya.

ANT-MAN AND THE WASP (2018)

Dilihat melalui kacamata mana pun, Ant-Man and the Wasp adalah film keluarga. Semata bertujuan menghibur, bernuansa ringan, dan pastinya, berkisah mengenai keluarga. Rasanya bagai sedang menyaksikan tontonan Minggu pagi yang semakin seru bila dinikmati bersama seisi rumah. Pendekatan ini dibutuhkan selaku jeda pasca segala kedahsyatan Avengers: Infinity War, pun supaya film-film serupa (baca: bersakal besar) produksi Marvel tetap menjadi suatu hal spesial, sebuah puncak, sebuah “event” alih-alih rutinitas. Walau bagi saya, Ant-Man (2015) sendiri adalah sajian spesial.

Alasannya tak lain unsur keluarga. Scott Lang (Paul Rudd) bersedia mengenakan kostum buatan Hank Pym (Michael Douglas) “hanya” demi sang puteri, Cassie (Abby Ryder Fortson). Bukan perkara menyelamatkan dunia. Sedangkan Hank sendiri mengalami rekonsiliasi dengan puterinya, Hope (Evangeline Lilly). Pada sekuelnya, elemen itu dipertahankan. Ant-Man and the Wasp adalah soal menyatukan kembali sebuah keluarga pasca puluhan tahun, dan kini Scott berada di tengah, membantu mewujudkannya. Bukan reuni keluarga biasa saja, sebab ketiganya beruaha menyelamatkan Janet (Michelle Pfeiffer), istri Hank dan ibunda Hope dari quantum realm.

Sesederhana itu. Skalanya kecil, urung melebar dari satu kota, tanpa kehancuran dunia, tanpa penjahat megalomania. Bahkan Ghost (Hannah John-Kamen), sosok misterius yang mampu menembus benda padat, bukan tipikal villain biasa dalam film pahlawan super. Sewaktu villain kebanyakan berambisi memusnahkan kehidupan, Ghost justru ingin mengembalikan kehidupan. Ya, salah satu pembeda bila dibandingkan dengan “film Minggu pagi”, selain tentunya production value yang jauh lebih mewah, yaitu ketiadaan “hitam-putih” pada penokohan. Hank seperti biasa masih pria tua pemarah nan egois, sementara pihak-pihak yang berseberangan pun tidak seutuhnya keliru. Semua soal perbedaan kepentingan. Tapi jangan pula berharap penggalian terkait gesekan serta karakter secara kompleks. Film ini bukan tempatnya.

Mungkin anda akan bertanya, “Bagaimana perabotan dalam laboratorium yang disusutkan itu tidak hancur berantakan setelah dilempar ke sana kemari?”, atau “Mengapa salah satu karakter begitu cepat berubah sikap?”, atau “Kenapa resolusi untuk konflik villain-nya sedemikian mudah?”. Semua itu sempat terbersit di pikiran saya. Tapi kita perlu menjadi layaknya Scott. Dia enggan ambil pusing meski kesulitan memahami tetek bengek sains yang meluncur bertubi-tubi dari mulut Hank, Hope, dan Bill Foster (Laurence Fishburne)—di mana filmnya juga tidak berusaha membuat penonton mengerti—dan memilih menikmati petualangan di hadapannya.

Petualangannya menyenangkan diikuti dan kapasitas sutradara Peyton Reed menggiring penonton menuju kesenagan tak perlu diragukan, walau seperti mayoritas sekuel, kesan segar milik pendahulunya sudah memudar karena di kesempatan kedua, unsur-unsurnya bukan lagi hal baru. Contohnya quantum realm, yang tetap dibungkus visual imajinatif dalam sinematografi buatan Dante Spinotti (X-Men: The Last Stand, Hercules), namun takkan membuat kita terpana lagi oleh vibe surealnya. Sama dengan deretan sekuen aksi menarik yang menampilkan ragam perubahan ukuran ekstrim pada benda-benda hingga kemampuan Ghost menembus hampir semua hal termasuk tubuh manusia. 

Begitu pun urusan komedi, sebab setelah kemunculan James Gunn kemudian disusul Taika Waititi di MCU, semua lelucon bakal terasa “normal”. Biar demikian tawa masih efektif dipancing, entah tatkala Paul Rudd unjuk gigi menangani humor gender swap, atau daur ulang cerdik terhadap momen paling berkesan kepunyaan Luis (Michael Peña) dari film pertama tanpa perlu menjadi repetitif. Tapi sesuai dengan statusnya sebagai film pertama MCU yang mencantumkan nama pahlawan super wanita di judulnya, Ant-Man and the Wasp punya kesearan dalam bentuk lain, yaitu tatkala tiga pemeran wanita sanggup mencuri perhatian.

Evangeline Lilly memamerkan ketenangan sekaligus ketangguhannya yang membuat sosok Hope tampak begitu menikmati berada di medan pertarungan. Lalu si bocah 10 tahun, Abby Ryder Fortson, yang mulus menghidupkan Cassie sebagai gadis cilik lucu, menggemaskan, nan pintar. Apabila memperhatikan beberapa ucapannya plus rumor terkait casting, tidak berlebihan rasanya berasumsi bahwa Ant-Man and the Wasp memberi sekelumit petunjuk soal peran Cassie di film keempat Avengers tahun depan. Terakhir ada Michelle Pfeiffer, yang meskipun total penampilannya tidak melebihi 5 menit, aktris 60 tahun (yang nampak 20 tahun lebih muda) ini menunjukkan satu kekuatan yang makin jarang dimiliki pelakon Hollywood sekarang: pesona bintang. Suatu ketika, Kevin Feige berkata, “...in a room full of movie stars, Michelle Pfeiffer rises to the top.”, dan saya mengamini itu.

Apakah film ini menyenangkan? Ya. Spesial? Tidak. Bahkan bukan termasuk salah satu installment teratas MCU. Tapi tanpa hiburan ringan macam Ant-Man and the Wasp, yang saya yakin oleh banyak kalangan akan dipandang sebelah mata dan dianggap selingan, “event movie” alias film bersifat kulminasi niscaya kehilangan gereget. Tatkala satu per satu studio dengan ambisi membangun shared universe tumbang akibat kebingungan, Ant-Man and the Wasp jadi contoh kejelian Feige dan timnya menyusun struktur penceritaan dinamis. Hanya saja, cerita itu bukan mengalir selama 2 jam durasi, melainkan satu dekade lebih.

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS (2017)

Versi baru Murder on the Orient Express terbentur fakta bahwa banyak pecinta film telah paham seluk beluk misteri adaptasi novel berjudul sama karya Agatha Christie tersebut. Motif, trik, sampai twist mengenai identitas pelaku sudah diketahui. Mengubah berarti mengambil resiko merusak esensi. Penyesuaian yang dilakukan pun bertujuan menggapai pangsa pasar penonton kasual berusia muda, khususnya yang awam akan sumber materinya. Pemakaian huruf bergaya nyala neon plus lagu Believer milik Imagine Dragons pada trailer membuktikannya. Di hasil akhir, peningkatan kuantitas dan kualitas efek visual serta selipan aksi mengusung tujuan serupa. Apakah modernisasi di atas ikut menguatkan poin substansif?

Hercule Poirot (Kenneth Branagh) pun dimodifikasi. Sesekali masih bertingkah jenaka dan punya kepercayaan diri selangit, Poirot bukan lagi jenius tanpa cela. Selain memiliki OCD yang menjelaskan kepekaan analisisnya, ia menunjukkan kerapuhan pria yang kehilangan cinta, gampang terprovokasi, kerap keliru melempar hipotesis, pula terjebak dilema moralitas. Atas nama perbedaan, naskah Michael Green (Logan, Blade Runner 2049) berambisi tak hanya memaparkan kasus pembunuhan, juga drama mengenai sisi problematik tokoh utama. Bahkan tersimpan sikap anti-rasisme tatkala novel maupun cerita pendek Agatha Christie sering mengandung nada rasisme. 
Dasar ceritanya sama, menyoroti pembunuhan terhadap pebisnis bernama Samuel Ratchett (Johnny Depp) yang terjadi kala kereta Orient Express tengah melaju. Seiring salju longsor yang memaksa kereta berhenti, Poirot harus menemukan pelaku di antara para tersangka dari beragam latar belakang. Kunci bangunan intensitas terletak pada proses interogasi yang (seharusnya) jadi sarana penonton terlibat dalam investigasi, ikut menebak makna di balik pertanyaan Poirot, mengaitkannya dengan jawaban penumpang serta berbagai sebaran petunjuk. Sayangnya, di sini naskah Green, juga penyutradaraan Branagh tampak kerepotan. 

Interogasi tampil sambil lalu hingga penggalian informasi terasa dangkal. Dialog tulisan Green sekedar adaptasi hambar, sementara Branagh kurang cakap menyulut ketegangan berbasis barter kalimat. Nampak ketika dua adegan bernuansa aksi dibubuhkan selaku amunisi tambahan kalau penonton bosan mendengar 114 menit penuh pembicaraan. Bahkan momen pengungkapan fakta mengejutkan di akhir bakal seutuhnya gagal menghentak andai tak dibantu iringan Never Foget, musik melankolis nan indah gubahan Patrick Doyle. Namun tidak tertutup kemungkinan, bagi penonton yang sama sekali awam, investigasi Murder on the Orient Express mampu mencengkeram meski sedikit melelahkan.
Seperti sempat disinggung, Murder on the Orient Express memberi porsi lebih untuk eksplorasi karakter Poirot. Keputusan ini menyuntikkan dinamika baru di mana si "detektif terhebat di dunia" tak hanya memecahkan kasus, juga mengalami proses belajar dari pemegang prinsip bahwa hanya ada benar-salah jadi memahami ranah ambigu abu-abu di antaranya. Alhasil, para tersangka yang harusnya memiliki dinamika hasil penokohan berwarna tersisih, sebatas pelengkap dengan kepribadian ala kadarnya sekaligus minim peluang bersinar. Uniknya, berbeda dibanding versi Lumet, Ratchett diberi porsi ekstra khususnya di paruh awal, kemungkinan demi memanfaatkan nama besar Depp.

Sulit dipungkiri, melihat jajaran aktor kelas wahid berbagi layar, saling bertukar argumen tetap menyenangkan disimak. Depp penuh kharisma, untungnya tanpa gaya eksentrik yang kini membosankan, Michelle Pfeiffer dengan tatapan serta tutur kata menusuk namun berkelas, energi Daisy Ridley, wibawa Judi Dench, hingga Penelope Cruz yang mengatur kata-kata atas nama religiusitas. Biar begitu, kegagalan menciptakan karakter utuh membatasi pesona mereka, menyisakan Poirot sebagai satu-satunya tokoh berdimensi. Branagh dan kumis antiknya bak mengandung magnet, sanggup menyandingkan aspek quirky jenaka Poirot bersama sisi bermasalah dirinya. 

THE FAMILY (2013)

Film garapan Luc Besson ini dibintangi Robert De Niro dan diangkat dari novel karya Tonino Benacquista berjudul Malavita yang artinya Badfellas membuat film ini seolah menjadi versi tidak serius dari Goodfellas karya Martin Scorsese. Tapi meskipun ceritanya memang seputar dunia mafia dan Scorsese menjadi eksekutif produser bahkan ada adegan yang menampilkan pemutaran film Goodfellas, The Family sama sekali bukanlah parodi dari film tersebut. Selain De Niro, ada nama-nama besar lain seperti Michelle Pfeiffer, Tommy Lee Jones hingga Dianna Agron di jajaran pemainnya. Saya sendiri tidak mengharapkan kisah yang berbobot dari The Family yang memang cukup mengedepankan unsur komedi, apalagi melihat jajaran film Luc Besson akhir-akhir ini yang kualitasnya biasa saja bahkan beberapa diantaranya termasuk film yang buruk. Namun sebagai hiburan yang menyenangkan The Family cukup punya potensi memuaskan saya apalagi melihat jajaran cast yang meyakinkan tersebut. Ceritanya berada seputaran keluarga Giovanni Manzoni (Robert De Niro) dan keluarganya yang sedang berada dalam program perlindungan saksi di bawah pengawasan FBI.

Manzoni terpaksa meninggalkan hidupnya sebagai bos mafia setelah terlibat masalah dengan Don Luchese (Stan Carp) yang membuat sang Don harus mendekam dalam penjara. Atas perbuatannya tersebut, Manzoni dan keluarganya terpaksa hidup di bawah perlindungan FBI yang dipimpin oleh Robert Stansfield (Tommy Lee Jones) dan tingga berpindah-pindah sampai sekarang akhirnya mereka tinggal di kota kecil yang terelat di Normandy, Prancis. Disana masing-masing dari keluarga tersebut harus menghadapi permasalahan yang mereka alami. Giovanni yang hidup dengan identitas Fred Blake tidak bisa meninggalkan rumah karena terus diawasi oleh FBI dan terpaksa menghabiskan waktunya dengan menulis riwayat hidupnya sebagai mafia. Permasalahan datang saat ia mengaku sebagai penulis novel sejarah tentang Normandy landing pada tetangganya walaupun ia sama sekali tidak tahu menahu mengenai peristiwa sejarah tersebut. Sang istri, Maggie (Michelle Pfeiffer) merasa harus menanggun semua perbuatan suaminya yang temperamental dan dia sendiri bermasalah dengan beradaptasi disana. Puteri mereka, Belle (Dianna Agron) yang juga selalu main kasar sedang jatuh cinta pada mahasiswa yang mengajar matematika di sekolahnya. Sedangkan sang putera, Warren (John D'Leo) banyak terlibat permasalahan kekerasan di sekolah. Tapi yang mereka tidak tahu adalah Don Luchese semakin dekat untuk mengetahui keberadaan mereka saat ini dan berniat menghabisi satu keluarga tersebut.

Yang paling menarik dari The Family / Malavita bukanlah kualitas cerita tapi karakter-karakter yang ada di dalamnya. Giovanni a.k.a Fred Blake yang diperankan De Niro adalah sajian utamanya. Dari luar ia seperti pria tua pengangguran biasa yang bahkan tidak bisa memperbaiki pipa ledeng dan hanya menghabiskan waktunya di depan mesin ketik, namun jika dia sudah tersinggung, Fred tidak ragu-ragu menghajar habis orang yang membuatnya marah sampai mematahkan semua tulangnya. Sedangkan Maggie tidak ragu-ragu meledakkan supermarket disaat ia merasa tersinggung oleh komentar orang Prancis tentang dirinya. Sedangkan kedua anak mereka tidak jauh beda dimana untuk menyelesaikan masalah mereka tidak ragu memakai kekerasan, bahkan Warren sang putera seolah benar-benar mewarisi darah mafia sang ayah dengan sanggup melakukan berbagai bisnis kotor dan perekrutan anak buah. Terkesan brutal? Memang The Family tampil brutal tapi dibalik kebrutalan keluarga gila tersebut selalu diselipkan unsur komedi yang membuat masing-masing karakternya tampil lebih menarik. Mungkin mereka terkesan sebagai keluarga disfungsional yang bertindak semau sendiri, tapi di balik itu mereka saling menyayangi dan melindungi satu sama lain dimana faktor itulah yang membuat interaksinya lebih menarik.

Seperti yang sudah saya duga tidak ada yang spesial dari ceritanya. Di samping karakternya yang asyik, ceritanya tergolong sangat sederhana. Tidak ada intrik rumit yang sering muncul dalam film-film bertemakan mafia dengan tone yang serius. Tapi The Family memang tidak berusaha untuk tampil serius. Ceritanya tidak berusaha cerdas dan memang terasa bodoh di beberapa bagian namun juga tidak berusaha terlalu keras untuk menjadi bodoh dengan menjadi parodi film-film mafia seperti Goodfellas. Ini adalah murni hiburan dengan selipan komedi yang cukup efektif. Terkadang komedinya memang berlalu begitu saja dalam artian tidak lucu, tapi saya lebih sering mendapati komedinya berhasil membuat saya tersenyum bahkan beberapa kali membuat tertawa. Bukan komedi cerdas namun tetap menarik untuk ditonton. Sebagai contoh adalah saat Fred yang diperankan De Niro datang ke acara pemutaran sekaligus debat film yang menampilkan film Goodfellas dimana kita tahu bahwa De Niro adalah salah satu aktor yang bermain dalam film garapan Martin Scorsese tersebut. De Niro sendiri tampil bagus disini. Yah jangan harapkan kualitas nomor satu seperti aktingnya di The Godfather II ataupun Goodfellas, namun kemampuannya membawakan sosok karakter yang dingin, brutal namun tetap terlihat lucu jelas patut mendapat pujian disini.

Sampai akhirnya kita dibawa pada sebuah klimaks yang untungnya berhasil menjaga tensi film. Pembangunan konflik menuju final showdown yang memperlihatkan anak buah Don Luchese menginvasi Normandy dan menyerbu rumah Fred terasa sangat menegangkan. Apalagi saat masing-masing anggota keluarga itu berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan keluarga mereka dari maut. Momen menuju final tersebut memang begitu intens dan menegangkan. Namun sayangnya saat eksekusi di pertempuran akhirnya malah terasa anti-klimaks dan berakhir begitu saja seolah-olah Luc Besson kebingungan bagaimana harus mengakhiri pertempuran yang (maunya) epic tersebut. Bahkan adegan aksi "mini" saat masing-masing keluarga Blake menghajar orang-orang di sekitarnya masih lebih menghibur daripada klimkas tersebut. Pada akhirnya The Family jelas tidak setara dengan karya-karya terbaik Luc Besson macam Nikita ataupun Leon: The Professional. Kisahnya juga dangkal dan tidak menyinggung hal-hal seperti ambiguitas yang muncul dalam istilah "keluarga" dalam dunia gangster meski punya potensi besar untuk itu. Tapi setidaknya bukan juga karyanya yang masuk daftar terburuk dan masih jadi hiburan yang cukup menghibur khususnya berkat komedinya yang cukup berhasil dan penampilan maksimal para pemainnya dalam membawakan tokoh-tokoh dengan karakterisasi yang asyik.