Tampilkan postingan dengan label Paula Beer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paula Beer. Tampilkan semua postingan

REVIEW - UNDINE

Undine mengambil latar di Berlin. Sebuah kota di mana nilai historisnya erat dengan keruntuhan tapi juga persatuan. Di Museum Märkisches, sejarah itu diabadikan lewat maket serta cetak biru arsitektur. Tapi bagi protagonisnya, yang bekerja lepas di sana sebagai pemandu, ada hal lain terabadikan di tiap sudut Berlin selain reunifikasi Jerman. Hal itu adalah cerita cinta.

Kita semua pernah mengalaminya. Tidak harus Berlin. Misal Yogyakarta. Di kepala sebagian orang, saat melihat Taman Sari, yang muncul di kepala bukan istana air dari masa Sri Sultan Hamengkubuwono I, melainkan tempat mereka pernah bergandengan tangan dengan kekasih, lokasi kencan pertama, atau semacamnya. 

Christian Petzold (Barbara, Phoenix, Transit) selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memodernisasi mitologi Ondine/Undine yang sejatinya tragis pun cenderung membicarakan soal obsesi dan pengkhianatan, untuk menuturkan betapa bermaknanya cinta, lengkap dengan segala bahagia, duka, serta pengorbanan di dalamnya.

Undine adalah makhluk mitologi air, yang menginspirasi Hans Christian Andersen melahirkan The Little Mermaid. Tapi di film ini, ia tampak bak manusia biasa, dan hingga akhir, kebenaran mengenai sosoknya, apakah makhluk berkekuatan ajaib, atau sebatas wanita biasa yang dikuasai cinta, tetap ambigu.

Pertama kali kita bertemu Undine (diperankan Paula Beer yang auranya diselimuti misteri), ia tengah berargumen dengan sang kekasih, Johannes (Jacob Matschenz). Johannes tergoda wanita lain, sementara Undine berkata akan membunuh Johannes bila ia pergi. Ya, sama seperti cerita dongengnya. Sayang, ancaman itu tidak mempan. Johannes meninggalkan Undine.

Perpisahan tersebut rupanya berujung pertemuan antara Undine dan Christoph (Franz Rogowski). Tidak butuh waktu lama bagi mereka saling jatuh cinta. Menyusul berikutnya adalah presentasi Petzold akan romansa keduanya, yang terabadikan di ruang-ruang Berlin. Jika sebelumnya Undine melihat sosok Johannes dalam maket di museum, kini lanskap arsitektur kota memunculkan visi berupa dua sejoli yang dimabuk asmara.

Selama 90 menit, Undine berjalan amat sederhana. Murni sebuah kisah cinta. Menjadi berkesan, sebab Petzold, dengan pengarahannya yang kaya sensitivitas, paham apa saja yang membuat romantika patut dikenang.

Undine tinggal terpisah dengan Christoph, yang bekerja sebagai penyelam. Pertemuan hanya terjadi tiap akhir minggu, di mana mereka bergantian mengunjungi kediaman masing-masing menggunakan kereta. Penonton yang pernah mengalami hubungan jarak jauh, akan mengamini bahwa sang sutradara piawai meromantisasi momen pertemuan dan perpisahan.

Bagaimana antusiasme menyambut pasangan yang melangkahkan kaki keluar dari gerbong, maupun saat gerbong yang sama jadi sekat pemisah kala tiba waktunya mengucap "sampai jumpa". Daripada kesedihan, perpisahan itu justru memunculkan kebahagian lain. Karena berarti, kita sudah semakin mendekati pertemuan di akhir minggu berikutnya. 

Apa aktivitas Undine dan Christoph kala bersama? Lagi-lagi sangat sederhana. Sesekali diiringi Concerto in D minor, BWV 974 gubahan Bach, selain mengelilingi Berlin, keduanya lebih sering berada di kamar. Petzold lebih tertarik memperlihatkan momen pasca seks ketimbang seks itu sendiri. Karena di situ, interaksi tak lagi hanya di ranah fisik, juga jiwa. 

Contohnya saat Undine diberi pekerjaan tambahan secara mendadak oleh atasan, dan harus melatih ceramahnya semalaman. Isi ceramahnya biasa saja, kalau tidak mau disebut membosankan bagi orang di luar kalangan pecinta sejarah. Christoph jelas tidak termasuk kalangan itu. Tapi ia mau mendengar celoteh Undine dengan saksama. Sedangkan Undine, yang biasanya berceramah tanpa semangat, kali ini terlihat antusias. Matanya berbinar, mulutnya tersenyum. Begitulah ketika jatuh cinta. Hal remeh membosankan pun bakal terdengar menarik, bahkan indah.

Paruh keduanya memberi titik balik, sembari sempat mengentalkan nuansa mistis ala dongeng, yang sejatinya menunjukkan betapa klise alur milik Undine. Tapi bukankah percintaan memang klise? Dua orang asing bertemu, saling kenal, saling terpikat, bercumbu, bertengkar, kemudian berbaikan dan terus bersama atau berpisah. Arahnya selalu sama, tapi begitu juga pesonanya. Sebab jatuh cinta itu tidak biasa saja. 


Available on HULU

FRANTZ (2016)

Frantz punya setting tahun 1919 alias setahun pasca Perang Dunia I berakhir, merupakan adaptasi bebas dari naskah teater L'homme que j'ai tué karya Maurice Rostand pula versi Bahasa Inggrisnya yang masing-masing dipentaskan pada 1930 dan 1931, pula sebuah remake "tidak sengaja" untuk film rilisan 1932, Broken Lullaby   François Ozon tak menyadari eksistensi film karya Ernst Lubitsch itu kala membuat Frantz   yang dibuat berdasarkan dua pertunjukan tersebut. Singkatnya, film ini adalah kisah dari masa lampau. Biar demikian, jarak puluhan tahun rupanya bukan jurang pemisah. Frantz justru mewakili kondisi mencemaskan kala xenophobia menguasai masyarakat dunia sekarang. 

Quedinburg, Jerman, 1919. Anna (Paula Beer) kehilangan tunangannya, Frantz (Anton von Lucke) di medan perang. Kini ia tinggal di rumah kedua orang tua Frantz, bersama-sama coba beranjak dari duka. Sampai datang Adrien (Pierre Niney), mantan prajurit Prancis yang mengaku sebagai sahabat Frantz dari Paris. Adrien rutin meninggalkan bunga di makam Frantz lalu mengunjungi rumah keluarganya. Walau ayah Frantz, Doktor Hoffmeister (Ernst Stötzner) membenci dirinya   sebagaimana banyak orang tua di Jerman yang merasa orang Prancis membunuh putera mereka di peperangan   tidak demikian dengan sang ibu, Magda (Marie Gruber) dan Anna yang menyambut Adrien ramah, mengundangnya ke rumah.
Sikap awal Hoffmeister, kemudian tindak protes rekan-rekannya di bar kala mendapati sang Doktor mulai melunak pada Adrien, meski berkonteks Perang Dunia I, nyatanya begitu dekat di kondisi sosial masyarakat kini. Kedekatan berbuah ikatan rasa menyaksikan ragam peristiwa itu muncul, sebab seperti kita tahu, kebencian atas "antek asing" tengah menyerang seluruh dunia (berlandaskan agama di Indonesia, white supremacy di Amerika, dan lain-lain). Melalui naskahnya, Ozon dan Philippe Piazzo mengangkat sisi kemanusiaan berlandaskan kenangan serta hubungan para tokoh dengan Frantz. 

Membicarakan humanisme terkait peperangan otomatis mencuatkan rasa anti-war yang dalam film ini diposisikan lembut melatari sikap karakter. Ozon tak lantang apalagi agresif menentang perang, tapi diajaknya penonton memahami, merenungkan perspektif lain. Contoh terbaik terletak pada monolog Doktor Hoffmeister mengenai ironi selebrasi kemenangan perang di antara setumpuk kematian. Bagi Ozon, tidak peduli meski terjadi saat perang, kematian tetap kematian, menghadirkan kehilangan dan duka bagi yang ditinggalkan, bukan elu-elu heroisme didasari semangat nasionalisme. Mewakili gagasan ini adalah kerapnya lukisan Le Suicidé karya Edouard Manet diperbincangkan. Oleh Manet, lukisan tersebut jadi luapan ekspresi bahwa kematian di karya seni tak melulu tentang pengorbanan atau heroisme. Kematian adalah kematian.
Itu pula tujuan dua momen saat Adrien mendengar warga Jerman menyanyikan Deutschlandlied, sementara Anna di Prancis terjebak di tengah semangat rakyat sekitar mengumandangkan La Marseillaise. Lagu kebangsaan ketika/pasca perang biasanya menghadirkan gemuruh rasa perjuangan kental nasionalisme. Namun di sini justru kecanggungan bercampur kepedihan yang terasa. Bayangkan anda menjadi Adriane, terluka akibat perang, mendengar bait "Germany above all, Above all in the world", atau sebagai Anna, mendapati "The roar of those ferocious soldiers. They're coming right into your arms. To cut the throats of your sons, your women" dinyanyikan setelah kekasih tercintanya meregang nyawa akibat desing peluru. Dan keduanya mengalami itu di tempat di mana mereka dipandang penuh kebencian akibat status kewarganegaraan. 

Turut bicara soal white lie membawa Frantz pada serangkaian kejutan mengenai rahasia para tokoh, khususnya yang ditutupi oleh kebohongan mereka. Takkan jadi rahasia mengejutkan apabila anda jeli memperhatikan gerak-gerik karakter. Namun toh sajian twisty bukan tujuan utama François Ozon, melainkan drama seputar jiwa-jiwa yang mencari kedamaian, berusaha melangkah pergi dari kekangan duka masa lalu. Frantz tersaji melankolis, bergaya visual hitam-putih yang sesekali jadi berwarna tatkala flashback, atau tepatnya saat kebahagiaan hasil memori indah tentang sosok tercinta merasuki karakternya. Pula kisah saling menguatkan antar manusia guna menghilangkan pilu hingga tendensi bunuh diri yang dirangkai lembut nan elegan, sebagaimana sinematografer Pascal Marti perlahan menggerakkan kameranya.