Tampilkan postingan dengan label Roland Emmerich. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roland Emmerich. Tampilkan semua postingan

REVIEW - MOONFALL

Banyak yang menyebut bahwa karya terbaru Roland Emmerich ini terlalu bodoh, terutama akibat sebuah twist di pertengahan film. Saya menaruh anggapan berbeda. Tengok judulnya. Moonfall. Bukan asteroid yang jatuh menghantam Bumi, melainkan bulan. Kebodohan berlebih bukanlah sebab filmnya buruk. Justru sebaliknya, Emmerich seolah malu-malu mengakui kebodohannya, sehingga Moonfall jadi tontonan dengan krisis identitas.

Sebagai "master of disaster", tentu Emmerich paham betul formula film bencana. Sayangnya pemahaman itu tak berujung upaya penyegaran, tetapi pengulangan. Menulis naskahnya bersama sang kolaborator, Harald Kloser, dan Spenser Cohen (The Expendables 4), Emmerich memaksa kita melewati elemen paling klise sekaligus paling melelahkan di film bencana: prolog.

Sebelum tsunami menenggelamkan seisi kota, sebelum beragam landmark luluh lantah, kita kembali harus menemui seorang pria dengan kehidupan kacau, diceraikan sang istri yang kini memiliki suami baru yang jauh lebih mapan, sementara hubungannya dan sang anak merenggang. Pria itu adalah Brian Harper (Patrick Wilson), mantan astronot NASA yang karirnya hancur pasca kecelakaan maut di suatu misi. Brian dianggap bersalah, sedangkan rekannya di misi tersebut, Jocinda "Jo" Fowler (Halle Berry), sekarang menjabat sebagai wakil direktur NASA. 

Baik Brian maupun Jo tidak mengemban peran "pembawa pesan yang tak dipercaya" di sini. Peran itu jadi milik K.C. Houseman (John Bradley). Tapi K.C. bukan ilmuwan (atau mantan ilmuwan, atau ilmuwan gila). Dia adalah penganut teori konspirasi, yang meyakini kalau bulan merupakan benda buatan (megastruktur). Dialah yang pertama kali menyadari bulan telah bergeser dari orbitnya. Saya bisa membayangkan para penganut teori Bumi datar merasa Moonfall memahami perasaan mereka.

Intinya, bulan keluar dari orbit, siap menabrak Bumi, dan harapan umat manusia terletak di pundak Brian, K.C., dan Jo. Dari situlah Moonfall mulai tancap gas. Tapi biarpun pedal gas sudah diinjak, Emmerich cuma berkutat di gigi satu. Selepas penantian cukup lama, kehancuran tidak kunjung memuncak, pun eksekusinya medioker. Berbeda dari biasanya, Emmerich bagai setengah hati mengarahkan kiamat. 

Tentu momen-momen yang bakal memancing respon "Namanya juga film" masih dapat ditemui, misalnya mobil yang secara ajaib berhasil lolos dari setumpuk ancaman. Tapi semua itu lebih seperti pemenuhan obligasi, alih-alih perwujudan passion seorang pembuat karya (sesuatu yang senantiasa dimiliki Michael Bay, sejelek apa pun filmnya).

Seolah Emmerich membuat Moonfall hanya karena ingin melempar twist ekstrimnya, yang bak diambil dari novel Empire from the Ashes. Kejutan konyol yang sejatinya sah-sah saja digunakan, bahkan bisa jadi pembeda guna membawa Moonfall keluar dari keklisean film bencana, andai warna serupa konsisten ditampilkan. Moonfall could be a fun-to-watch gonzo sci-fi b-movie thanks to that twist.

Tapi di luar penokohan komedik K.C. (Bradley tampil maksimal, meski kualitas humor naskah cenderung lemah) Moonfall cenderung memandang dirinya terlampau serius, layaknya orang yang sesungguhnya sadar telah melakukan hal bodoh, namun menolak mengakuinya atas nama gengsi. Tone semakin inkonsisten, begitu ending-nya mengambil pendekatan komedi yang bahkan jauh lebih konyol dibanding twist di atas.

Selain Bradley, jajaran cast-nya seperti bingung sedang berada dalam film seperti apa. Kapasitas Wilson menyeimbangkan drama dan komedi lenyap, pun ia kurang meyakinkan sebagai figur jagoan. Sama tak meyakinkannya dengan cara Halle Berry menyampaikan speech khas film bencana. 

MIDWAY (2019)

Didedikasikan untuk prajurit Amerika Serikat dan Jepang yang terlibat Pertempuran Midway, film ini punya niat baik, ingin mengangkat perspektif yang adil tanpa menyudutkan pihak mana pun (baca: Jepang). Tidak ada nasionalisme buta, tidak ada kibaran The Stars and Stripes tiap beberapa menit sekali (I’m looking at you Michael Bay), minim antagonisasi, sementara beberapa prajurit berperang karena “tuntutan pekerjaan”, beberapa lainnya didorong hasrat balas dendam. Seharusnya Midway bisa jadi alternatif blockbuster bertema Perang Dunia II.

Tapi ini adalah karya Roland Emmerich, yang beberapa tahun belakangan, lewat Anonymous (2011) dan Stonewall (2015), ingin keluar dari zona nyaman namun berujung kegagalan. Ditulis naskahnya oleh Wes Tooke, seperti judulnya, Midway ibarat usaha Emmerich mengambil jalan tengah dengan tetap menampilkan kehancuran masif bombastis andalannya sembari menguatkan cerita. Poin kedua sayangnya kurang berhasil.

Tokoh sentralnya adalah Letnan Dick Best (Ed Skrein), pilot angkatan laut Amerika Serikat yang dikenal lewat kenekatannya. Dick pun jadi salah satu ujung tombak serangan balik Amerika pasca Jepang membombardir Pearl Harbor, yang turut menewaskan sahabat Dick. Tapi ini bukan kisah Dick seorang. Sepanjang 138 menit durasi, Midway hendak memaparkan peperangan dari beragam sisi. Ada Edwin T. Layton (Patrick Wilson) selaku inteligen pengumpul informasi rahasia Jepang yang bertugas di bawah komando Admiral Chester Nimitz (Woody Harrelson), juga Letnan Kolonel Jimmy Doolittle (Aaron Eckhart) yang memimpin serbuan ke Tokyo (disebut “Serbuan Doolittle”).

Belum lagi membahas nama-nama yang sempat diberi spotlight singkat seperti para prajurit dalam kapal selam atau Bruno Gaido (Nick Jonas) lewat aksi heroiknya menembak jatuh pesawat musuh seorang diri. Jonas merupakan aktor bertalenta. Bukan saja karena mendapat salah satu momen paling badass, keberhasilannya menghidupkan sisi carefree Bruno yang tak takut menantang maut membuat saya berharap karakternya diberi porsi lebih.

Sementara di kubu Jepang, Admiral Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa), Rear Admiral Tamon Yamaguchi (Tadanobu Asano), dan Vice Admiral Chuichi Nagumo (Jun Kunimura) diberi porsi lebih. Tapi apakah itu cukup sebagai jalan menyimbangkan sudut pandang? Sayangnya tidak. Mampu menggambarkan prajurit Jepang bukan sebagai pembunuh berdarah dingin, itu betul. Pun filmnya menjadikan tingginya harga diri tentara Jepang untuk melandasi sebuah momen sentimentil yang (diharapkan) menyentuh hati. Tapi itu saja tidak cukup. Berbeda dengan lawannya dari Amerika, kita urung diajak mengunjungi ruang intim prajurit-prajurit Jepang. Mereka masih figur-figur tak bernyawa yang selalu sibuk mengatur strategi. Artinya, Midway gagal menyeimbangkan perspektif.

Mungkin beberapa pembaca ingat bahwa saya bukan penggemar Dunkirk-nya Nolan. Tapi bagaimana naskahnya menata cerita dari beragam sudut pandang supaya seimbang patut dipuji. Emmerich dan Tooke mestinya bisa mengambil contoh soal cara membagi fokus. Metode yang Midway pakai bak sekadar asal menyelipkan, membiarkan tercipta distraksi akibat banyaknya karakter datang dan pergi, termasuk yang substansinya pantas dipertanyakan. Misalnya kehadiran sutradara John Ford (Geoffrey Blake) yang terjebak di baku tembak kala mengambil gambar untuk dokumenter pendek The Battle of Midway (1942). Ford tidak memberi dampak pada sentral cerita sekaligus bakal membingungkan bagi penonton yang asing terhadapnya.

Ketika ceritanya setengah matang, bagaimana Emmerich menyusun peperangan (mayoritas berupa pertempuran udara) justru mengundang decak kagum. Bermodalkan $100 juta, yang menjadikannya salah satu film indie termahal (Emmerich sempat kesulitan mencari dana), tercipta tiga set pieces besar: Serangan ke Pearl Harbor, Serbuan Doolittle, dan tentunya Pertempuran Midway. Di Pearl Harbor, Emmerich menyajikan horor di tengah lautan api, yang tambah mencekam saat adegan sesaat berpindah memperlihatkan seorang bocah yang menyaksikan pertempuran (baca: pembantaian) tersebut dari kejauhan. Sejenak saya merasakan teror yang dialami “orang luar”.

Sedangkan pada Pertempuran Midway selaku puncak, Emmerich mengajak kita memasuki kokpit para dive bomber, khususnya Dick Best, yang berani menukik jauh lebih rendah ke arah target dibanding rekan-rekannya. Serupa pengalaman menaiki roller coaster—hanya saja kali ini dibarengi ledakan dan kepulan asap—Emmerich mampu membuat penontonnya menahan napas, merasakan bagaimana mencekamnya aksi para pilot bertaruh nyawa menghindari hujan peluru, terjun mendekati target sedekat mungkin, dan mesti pintar mengatur timing kapan harus meluncurkan bom untuk kemudian kembali lepas landas di detik-detik terakhir, berharap tidak turut jadi korban ledakan yang ia ciptakan.

Ada paralel antara perjalanan karakternya dengan Emmerich sendiri. Dari seorang pilot sombong, Dick Best tertekan kala ditunjuk memimpin skuadron, dan berhasrat menebus “dosa” karena beberapa anak buahnya tewas. Demikian pula Layton, yang bekerja tanpa henti sampai jarang meluangkan waktu bersama istri akibat dihantui rasa bersalah “membiarkan” Jepang meledakkan Pearl Harbor. Melalui Midway, mungkin Roland Emmerich ingin menebus kegemarannya bertahan di zona nyaman membuat tontonan-tontonan brainless bombastis. Untuk itu, ia belum berhasil. Dan rasanya Emmerich perlu berhenti menebusnya. Pertama, karena hal tersebut bukan kekeliruan, dan kedua, sebagaimana ia buktikan (lagi) di sekuen peperangan film ini, Emmerich adalah ahli di bidang tersebut.