Tampilkan postingan dengan label Short Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Film. Tampilkan semua postingan

PIALA MAYA 10 - NOMINASI FILM CERITA, ANIMASI, DOKUMENTER PENDEK

Setelah cuma menjadi komite pemilih di dua gelaran Piala Maya terakhir (dikatakan "cuma" karena tugas saya memang sebatas memilih pemenang dari nominasi yang ada), tahun ini saya diberi tanggung jawab mengkurasi judul-judul yang mendaftar di medium film pendek. Total ada 144 film, yang kemudian dibagi ke dalam tiga kategori. Dokumenter dan animasi pendek masing-masing ada lima nominasi, sedangkan untuk film cerita pendek, karena jumlah pesertanya terbanyak, terdapat delapan nominasi. Tulisan ini dibuat sebagai wujud apresasi personal kepada tiap nominee dengan keunggulan mereka masing-masing. 

FILM ANIMASI PENDEK

Cipak Cipuk - Tidak hanya berisi visual cantik, pula gagasan kreatif mengenai dunia yang seluruhnya berupa lautan. Bayangkan kombinasi Waterworld dan Avatar: the Last Airbender dengan sentuhan budaya lokal.

Dio - Mengangkat tema yang masih kurang dijamah sineas Indonesia, yakni disleksia pada anak, dengan gaya bertutur hopeful (bisa ditonton di sini)

Diponegoro 1830 - Mengisahkan pengasingan Pangeran Diponegoro lewat gaya tutur kontemplatif, sembari ditopang oleh gaya visual unik yang bak mereplikasi lukisan Raden Saleh.

My Clouded Mind - Mengaduk-aduk emosi lewat isu dengan urgensi tinggi soal revenge porn, sembari tidak lupa menawarkan solusi informatif.

Garuda Naga and the Curse of Kadru - memberi twist unik dengan menyulap cerita dari legenda jadi suguhan aksi bak Saint Seiya. Sangat potensial diangkat ke medium film panjang (bisa ditonton di sini).

FILM DOKUMENTER PENDEK

Different Touch in Batik - Mengajak penonton melihat "sentuhan" yang perlu lebih diketahui publik mengenai para difabel pengrajin batik.

Ketika Tunas itu Tumbuh - Menyuarakan keresahan melalui penuturan informatif mengenai lenyapnya nilai-nilai budaya, yang kini kerap dilihat dari kacamata komersil belaka.

Lingkar Rombengan - Sekilas cerita mengenai thrifting-nya nampak sepele, tapi pemakaian kaca mata akademis dalam memandang fenomena itu menghadirkan dimensi yang lebih luas.

Maramba - Menampilkan ritual pemakaman raja terakhir Sumba secara estetis sekaligus berhasil penonton turut membaur ke dalamnya.

The Age of Remembrance - Sebuah penyatuan antara penelusuran sejarah Indonesia yang terlupakan dengan usaha sang sineas mengenali leluhurnya, dalam kemasan investigasi menarik.

FILM CERITA PENDEK

Angpao - Membawa nilai penting mengenai kejujuran bagi anak lewat presentasi hangat, menggelitik, pula segar berkat aspek kultural yang tidak Jawa-sentris (bisa ditonton di sini).

Culas - Membicarakan bahaya pinjol secara khusus, dan secara lebih general, jadi gambaran heartbreaking soal hilangnya kemanusiaan akibat masalah finansial.

Dear to Me - Memancing kejengahan terkait persepsi keliru terhadap LGBT tanpa perlu dibungkus amarah, namun lewat tuturan lembut nan cantik. 

Ibu Ora Sare - Cerita soal perjuangan sosok ibu yang dikemas hangat, penuh harap, dan terpenting, mampu menghindari keklisean poverty porn.

Membicarakan Kejujuran Diana - Kritik lantang soal isu di lingkup sekolah dan keluarga. Korban diberi ruang bicara, dibela, sedangkan kekeliruan orang tua tak dijustifikasi. Bentuknya agak mengingatkan pada Carnage (2011). 

Please Be Quiet - Mengangkat permasalahan penting tentang pelecehan seksual di dunia kerja, yang berujung pada pembungkaman suara wanita, melalui gagasan artistik kreatif (bisa ditonton di sini).

Ringroad - Gambaran menyakitkan perihal lingkaran setan tanpa ujung bernama "kesenjangan sosial" yang terus berputar dan dilestarikan.

Udin's Inferno - Sentilan menggelitik yang membahas bahaya mencekoki ketakutan atas nama agama kepada anak. Menghibur tanpa kehilangan ketajamannya. 

DUA PERMINTAAN

Artikel ini bukan review film, melainkan berisi dua permintaan sebagaimana tertera pada judul. Permintaan pertama adalah maaf kepada para pembaca yang masih bersedia menantikan review khususnya film-film terbaru (luar dan lokal) tiap minggunya. Jika diperhatikan dalam dua sampai tiga minggu terakhir blog ini tidak secepat dulu dalam meng-update ulasan. Jika sebelumnya sebuah review bisa dipublikasikan tepat di hari pertama pemutaran, belakangan baru satu bahkan tiga hari setelahnya. Alasannya klise. Penulis blog ini yang sebagai mahasiswa tahun keenam sedang berusaha menata kembali urusan akademis yang sempat terpinggirkan selama beberapa waktu. Karena itu juga untuk film-film lama, review akan semakin sulit saya tuliskan. Tapi saya pastikan begitu usaha penyesuaian terhadap ritme keseharian baru ini sudah berhasil, ketepatan waktu akan kembali seperti semula. Semoga kalian tetap setia menunggu.

Permintaan kedua adalah tolong (yes, setelah minta maaf lalu minta tolong). Di bawah ini adalah satu film pendek berjudul "Dawn for the Down" yang bercerita tentang usaha seorang ibu merawat puterinya yang menderita down syndrome. Film ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba "Psyferia" yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Bukan, ini bukan buatan saya, melainkan junior saya di kampus. Saya sendiri secara mendadak diminta bantuan menjadi editor bermodalkan editing skill seadanya serta laptop yang bahkan untuk bermain FIFA 15 saja tak mampu. Mewakili teman-teman yang punya semangat berkarya ini  mayoritas dari mereka baru mengalami proses filmmaking perdananya  saya meminta bantuan pembaca sekalian untuk menonton, membagi, dan kalau berkenan memberi like. Silahkan tinggalkan pula kritik di kolom komentar YouTube. Semoga karya ini dapat menjadi pembelajaran bagi mereka untuk menghasilkan karya-karya lain dalam bentuk apapun kelak. Terima kasih sudah bersedia mendengarkan dua permintaan ini.

PRENJAK (2016)

(THIS REVIEW CONTAINS SPOILER!)
"Apakah perlu?" merupakan pertanyaan yang harus kita lontarkan tatkala sebuah film hadir membawa kontroversi  apapun bentuknya, seberapa tingkatannya. Keperluan mempertanyakan keperluan dapat membawa penonton menemukan kesimpulan subjektif mengenai substansi pengemasan film tersebut. "Prenjak" karya Wregas Bhanuteja yang sukses meraih kemenangan di seksi International Critic's Week Festival Film Cannes tahun ini sempat memunculkan perdebatan mengenai itu. Perlukah mempertontonkan alat kelamin secara vulgar dalam satu karya seni? Perlukah  atau lebih tepatnya pantaskah  filmmaker menyodorkan the ugly truth bangsa ini pada orang asing (juri) di saat banyak sisi kultural "membanggakan" lain?

Wregas mengangkat fenomena "intip kelamin" yang bertempat di pinggiran rel stasiun Tugu, Yogyakarta, di mana para pelacur kelas bawah memfasilitasi konsumen dengan sebatang korek api yang dihargai sekian ribu rupiah untuk mengintip alat kelamin mereka. Tapi protagonis "Prenjak" bukanlah pelacur dan klien, melainkan dua pegawai sebuah rumah makan, Diah (Rosa Winenggar) dan Jarwo (Yohanes Budyambara). Memasuki istirahat makan siang, Diah yang menyatakan sedang butuh uang menawari Jarwo mengintip kelaminnya memakai korek api yang tiap batang dihargai 10.000 rupiah. 
Seingat saya belum ada film Indonesia baik panjang maupun pendek memperlihatkan kelamin segamblang "Prenjak". Kelamin dalam film ini bukan semata-mata alat reproduksi atau ekskresi. Sebagai alat vital yang sifatnya privat, kelamin bisa dipandang sebagai bentuk ketelanjangan. Ketelanjangan rasa pula jati diri. Muncul ketersiratan mengenai perasaan Jarwo pada Diah ketika ia membicarakan perlunya Diah bersuami layaknya "kode", bersedia memberi uang, hingga rasa cemburu saat Diah berniat menawarkan korek api bagi pegawai pria lain. Kemudian Diah pun melakukan hal serupa sewaktu Jarwo menawarinya 60.000 rupiah asal Diah bersedia gantian mengintip miliknya. 

Terdapat bentuk interaksi proses saling mengenal, ketertarikan, lalu pendekatan dalam kegiatan intip mengintip itu. Saat giliran Jarwo, ia bak tengah memulai usaha "mencapai" Diah. Korek api pun sempat secara tak sengaja menyentuh selangkangan Diah yang diresponnya dengan "ojo cedhak-cedhak" sebagaimana timbulnya rasa risih seorang wanita tatkala pria terlampau agresif terhadapnya. Ketika giliran Diah mengintip, awalnya ia menutup mata, namun begitu hitung mundur hampir berakhir (Jarwo memberi waktu 30 detik), ia membuka mata, bagai memilih membuka perasaannya, menolak melewatkan kesempatan.
Nyatanya bukan cuma hubungan pria dan wanita dalam konteks cinta-mencintai atau ketertarikan yang Wregas sajikan. Ada patriarkisme yang disimbolkan oleh kuasa Jarwo membuat Diah mengintip kelaminnya bermodalkan iming-iming 60.000 rupiah. Konklusi yang membuka alasan Diah menawarkan korek api turut menyinggung bentuk kuasa pria atas wanita. Tapi menengok karakterisasi Diah, jelas ia bukan wanita lemah. Mungkin ia tersudut oleh kekuatan pria-pria di sekitarnya, namun sesungguhnya itu dia lakukan sebagai bentuk pengorbanan penuh kekuatan serta kasih sayang teruntuk "seekor prenjak" berukuran kecil. 

Wregas piawai bernarasi, yang mana terlihat dari hidupnya dinamika sepanjang 13 menit durasi. Interaksi dua protagonis amat renyah hingga beberapa kali mengundang tawa. Adegan mengintip juga intens, membuat saya menahan nafas layaknya Diah dan Jarwo di bawah meja berkat nuansa klaustrofobik hasil pencahayaan yang hanya mengandalkan nyala korek api. Kurang tersaji justru dampak emosional akibat hadirnya distraksi dari kegamblangan sensualitas. Fokus (sebagian) penonton akan lebih banyak tersedot ke dalam usaha mengolah paparan metafora ketimbang sepenuhnya terseret aliran emosi kisahnya. Akhirnya, "Prenjak" meski kuat sebagai suguhan metaphorical, tak seberapa selaku paparan dramatik. Bagi mereka yang telah familiar akan praktek "intip kelamin" daya hentak film pun jadi terasa biasa.

Kembali lagi, perlukah kevulgaran? Tentu terdapat setumpuk jalan lain guna menuturkan tema-tema tadi, namun pilihan Wregas tidak keliru, hanya salah satu dari sekian opsi, walau tanpa sentuhan vulgar sekalipun pesan tetap dapat tersampaikan. Namun sentilan "semestinya ada cara lain" sama saja kita meminta Tarantino menghilangan kekerasan, Lynch menanggalkan surealitas, atau Weerasethakul mempercepat tempo film. Selalu ada pilihan lain yang berarti masing-masing pilihan tidak keliru. Soal layak atau tidak membawa sisi kelam ke publik luar jelas bukan urusan Wregas. Sebagai seniman dia sekedar mencurahkan kegelisahan teruntuk tekanan berlebih supaya tunduk pada moralitas semu. Jika output-nya dianggap ekstrim  oleh beberapa kalangan  wajar, sebab gunung berapi pun bakal menggila letusannya semakin lama ia tidur. 

SENDIRI DIANA SENDIRI / FOLLOWING DIANA (2015)

Melalui film pendeknya yang sempat menjalani pemutaran di Toronto International Film Festival 2015 ini, Kamila Andini membuktikan bahwa kisah sederhana yang bahkan di atas kertas terdengar cheesy dapat menjadi cerminan realita mengesankan bila diramu secara tepat. Diana (Raihaanun) sang titular character adalah ibu rumah tangga dengan satu orang putera yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tampak dari situasi rumah, perabotan, serta pakaian yang ia kenakan bahwa Diana bukanlah orang kaya. Namun ia terlihat cukup bahagia menjalani rutinitas rumah tangga dan merawat sang anak dengan senyum tersungging di bibir. Saya pun langsung percaya bahwa Diana adalah seorang istri yang tak akan keberatan menantikan sang suami, Ari (Tanta Ginting) pulang kerja meski hinga larut malam. 
Sebuah adegan sederhana minim dramatisasi pula emosi tersaji saat Diana menyambut kepulangan Ari. Kesunyian malam hari, senyum simpul di wajah seorang istri menyambut kepulangan sang suami yang memunculkan tatapan lelah karena telah seharian mencari nafkah. Pemandangan ini jelas biasa kita temukan di kehidupan sehari-hari. Tapi kemudian Ari menunjukkan sebuah slide dari laptopnya pada Diana. Isinya amat mengejutkan. Sekilas nampak seperti presentasi kerja biasa, namun berisikan pembagian waktu dan materi untuk Diana dan seorang lagi istri. Ya, Ari yang baru saja pulang tanpa lupa membelikan pianika bagi puteranya itu sedang memaparkan niatannya untuk menikah lagi. Wajar bila Diana terkejut, sedih, marah. Tapi tiada luapan amarah penuh teriakan disana. Tidak ada pula tangisan membanjiri Diana layaknya sinetron-sinetron di layar kaca atau film romansa rasa opera sabun yang sering jadi idola masyarakat. Sunyi. Saya pun hanya diam. Tapi dibalik kediaman itu ada berbagai rasa bergejolak. Saya yakin itu pula yang dirasakan Diana.

Bagaimana Kamila Andini menjadikan Sendiri Diana Sendiri tidak terjerumus ke ranah dramatisasi memuakkan? Semua karena ia memahami, bahwa emosi tak dapat ditakar hanya dengan memperhatikan tampak luar. Justru kediaman yang menyembunyikan gejolak itu jauh lebih mencengkeram. Tanpa harus dipertunjukkan secara gamblang, kita tetap mengetahui bagaimana perasaan Diana, bahkan bersimpati. Terciptalah drama melankoli secara esensi yang tidak dipaparkan secara melankoli. Begitulah sajian berkelas. Pastinya tidak hanya kecermatan Andini yang bermain. Tanpa akting kuat Raihaanun, sutradara sehebat apapun bakal kerepotan untuk sampai pada pencapaian tersebut. 
Sang aktris berhasil menyuguhkan penampilan emosional namun secara subtil. Entah melalui tatapan mata, perubahan raut wajah kecil, hingga business act seperti sebuah cengkeraman yang mampu membuat penonton secara tak sadar terhisap menuju kedalaman emosinya. Hanya sekali tangisan ia ledakkan, yakni saat terjadi pembicaraan dengan Ari mengenai pernikahan keduanya di dalam kamar. Itupun tidak ia munculkan dengan berlebih. Dia "hanya" mengajukan beberapa pertanyaan, yang tiap jawabannya makin menghancurkan hati Diana. Setiap progres kehancuran itulah tangisnya setahap demi setahap mulai pecah. Bukan tangis murahan meminta belas kasih penonton, melainkan murni tangis kesedihan seorang wanita yang tersakiti. 

Di samping itu, saya pun makin yakin bahwa Raihanuun merupakan salah satu aktris negeri ini yang paling mampu bertransformasi menjadi sosok wanita dengan tingkat ekonomi menengah kebawah. Lihat bagaimana ia menaiki tangga untuk membetulkan lampu, bagaimana ia menjemur pakaian, bahkan mengendarai motor. Hal-hal sederhana, tapi begitu sering saya mendapati aktris lain seolah ragu melakukan kegiatan-kegiatan "susah" semacam itu. Contoh lain untuk pernyataan ini coba tengok akting Raihaanun di Lovely Man. Tidak ada sedetikpun waktu anda akan melihat sosok seorang selebriti papan atas dalam peran-perannya.
Untuk makin mendekatkan penonton pada Diana, Andini pun sebanyak mungkin memberikan fokus kamera pada sang karakter. Saat terjadi pembicaraan sengit dengan keluarga Ari misalkan, hanya Diana yang nampak. Kita baru berkesempatan melihat anggota keluarga lain saat pembicaraan telah usai. Berkat itu keintiman antara penonton dengan Diana tercipta. Progresi emosi Raihanuun dapat kita perhatikan secara mendetail. Begitu pula untuk sisi kesendirian Diana. Seperti judulnya, Diana memang sendiri. Secara visual, Andini sering menempatkan karakternya di tengah kesendirian, dimanapun dan kapanpun itu. Secara lebih dalam lagi, Diana makin sendiri dikala kerabat-kerabatnya entah ibu kandung maupun mertua bagai tidak memberikan dukungan. Tentu ada rasa iba, tapi dukungan nyata yang dibutuhkan (atau diharapkan) Diana adalah tentangan terhadap keputusan Ari berpoligami. Itu tidak ia dapatkan. Diana makin sendiri, dan saya pun ikut terhanyut dalam kesendirian yang memikat tersebut.

Sisi religiusitas turut disinggung oleh film ini. Ibu dari Diana kecewa dengan keputusan Ari, tapi menyarankan puterinya untuk bertahan dengan alasan berdosa jika bercerai disaat sang imam kehilangan arah. Orang tua Ari pun serupa. Begitu adzan berkumandang, sang ayah memilih pergi untuk menjalankan solat. Dia menyatakan ketidaksetujuan, tapi tak pernah secara frontal memberikan larangan. Ari juga tergambar sebagai pria yang taat beribadah. Dari hal kecil seperti salam yang tak pernah lupa ia ucapkan, hingga kritikannya kepada cara berpakaian sang istri saat nongkrong bersama teman kantornya. Padahal Diana memakai pakaian yang sopan. Disisi lain, istri kedua Ari adalah wanita berjilbab. Ari tak pernah mengungkapkan alasan pastinya berpoligami. Dia pun menyangkal terjadi masalah dengan sang istri. Mungkinkah ia merasa Diana kurang muslimah? Kamila Andini tidak berusaha menjawab itu secara gamblang, karena film ini pun nampak sebagai pencariannya terhadap kebenaran di samping curahatan serta kritikan. 

Nampak luar, Sendiri Diana Sendiri hanyalah drama realis sederhana yang menonjolkan kekuatan seorang wanita di tengah kondisi paling rapuh sekalipun. Tapi dibalik itu, ada banyak hal tak nampak yang membuat saya begitu mudah jatuh cinta. Saya jatuh cinta pada emosi subtilnya. Saya jatuh cinta pada penampilan Raihaanun yang mampu mengeksplorasi emosi tanpa perlu meluapkan dengan berlebih. Saya jatuh cinta pada kesepian serta kesendirian yang dibangun atmosfernya. Bahkan dialog penutup saat Diana mengiyakan pertanyaan sang putera tentang bersama siapa ayahnya akan tinggal pun membuat saya jatuh cinta. 

KISAH CINTA YANG ASU / LOVE STORY NOT (2015)

Kenapa kisah cinta ini asu? Kenapa pula disebut bukan kisah cinta? Mudah saja. Karena memang kisahnya asu, dan tiada cinta di dalamnya. Siapa yang akan menyebut hubungan antara Erik King (Yosep Anggi Noen) dengan kedua kekasihnya, Ning (Astri Kusuma Wardani) dan Martha (Mila Rosinta Totoatmojo). Erik King adalah anggota geng motor RX King. Begitu sayangnya Erik dengan motor itu, bahkan rela ia membeli sebuah knalpot besar, padahal perekonomiannya sendiri jauh dari cukup. Dia tinggal menumpang di rumah kekasihnya, makan pun selalu mereka yang membayar. Tidak pernah sekalipun tampak Erik menunjukkan rasa cinta pada keduanya. Dia menikmati hubungan seks, dan hanya itu interaksi yang rutin kita saksikan. Hanya nafsu dan usaha memanfaatkan. Tidak ada cinta, dan memang jalinan kisah yang asu. 

Penokohannya jelas memperlihatkan bahwa Erik memuja maskulinitas. Dia ingin tampak macho. Karena itulah kebut-kebutan di atas motor jadi rutinitas. Mungkin itu pula yang melandasi hasratnya memiliki dua orang kekasih. Tapi maskulinitas tampak luar itu bukan perlambang kekuatan hakiki, itu yang coba Yosep Anggi Noen paparkan lewat film pendeknya yang sempat diputar di Busan International Film Festival awal bulan Oktober. Penonton pun akan mudah menyetujui pernyataan tersebut, karena pada kenyataannya Erik bukanlah siapa-siapa. Bahkan memenuhi kebutuhannya pun tak mampu. Berlainan dengan kedua kekasihnya yang sesama pekerja seks komersial. Mudah untuk membenci Erik, mudah mengumpat asu pada sosoknya, mudah pula bersimpati pada Ning dan Martha.
Meski sesama prostitusi, "strata" Ning dan Martha amatlah berbeda. Ning bisa dibilang pekerja seks kelas bawah. Dia melayani pelanggan di hotel murahan sambil sesekali menjadi pencatat skor di tempat bilyard. Bahkan di tempat bilyard itu pun tidak jarang Ning mendapat perlakuan tak mengenakkan. Mulai dari sekedar digoda, sampai sentuhan-sentuhan fisik. Tapi Ning adalah karakter kuat yang sesunggunya, bukan Erik. Dia tetap kuat dan secara tegas mengkonfrontasi laki-laki hidung belang yang bertindak kurang ajar. Bahkan dalam sebuah kesempatan ia bisa mengambil kontrol pelanggannya. Sesuatu yang ia sebut sebagai "strategi marketing". Sedangkan Martha adalah prostitusi kelas atas yang melayani pelanggan di hotel mewah. Dia pun memberikan layanan lebih dengan bersedia memakai kostum (seragam sekolah, pramugari, bahkan tarzan) sesuai permintaan. Tentu perlakuan tidak menyenangkan juga sering ia terima.

"Love Story Not" is not a melodrama. Ning dan Martha sama-sama menjalani kehidupan keras, sama pula bernasib sial berpacaran dengan Erik. Kesedihan pasti menghampiri tapi tatapan penuh keyakinan serta tawa bahagia menikmati situasi lebih sering kita saksikan. Yosep Anggi Noen ingin berfokus pada kekuatan sosok wanita. Meski identik dengan kelamahan (karena itu pula banyak pria seenaknya menggoda), justru terdapat kekuatan melebihi laki-laki dalam diri mereka. Kesan itu pula yang saya rasakan selama menonton Kisah Cinta yang Asu. Sebuah drama tentang usaha unjuk kekuatan lewat pemujaan berbagai simbol maskulinitas bersanding dengan feminitas yang menyimpan kekuatan namun tanpa pernah berusaha dipamerkan secara berlebih.
Yosep Anggi Noen pun tidak ingin memaksa penonton bersimpati atau membenci karakter tertentu. Dia berusaha memakai cara yang lebih "elegan" dan alamiah. Dibiarkan penonton melakukan observasi keseharian Ning dan Martha. Film berjalan tanpa narasi lurus, melainkan melompat dari satu momentum menuju momentum lain dalam hidup mereka. Kita dipersilahkan menilai sendiri dan perasaan apa yang kita rasakan pada akhirnya pun bukan hasil paksaan, melainkan respon alamiah terhadap situasi yang teramati. Bahkan tidak ada adegan eksplisit saat Ning dan Martha melampiaskan kesedihan mereka. Hampir tak pernah pula ada konfrontasi langsung kekesalan keduanya pada Erik kecuali saat Martha berucap "koe ncen asu Rik" sewaktu kostum tarzan miliknya dipakai untuk lap motor.

Saya menyukai cara bertutur semacam itu. Mengedepankan observasi, juga bertopang kuat pada realisme minim dramatisasi. Namun saya turut menyayangkan lompatan momentum yang seringkai terlalu "liar". Tanpa fokus lebih kebingungan akan hadir, dan durasi sekitar 40 menit belum cukup untuk mengakomodir segala lompatan berkesan acak tersebut. Justru sebaliknya, keliaran dalam pengadeganan nyaris tidak ada. Tentu ada beberapa momen yang bersinggungan dengan seksualitas, tapi masih terkesan "halus". Bahkan adegan Erik dan Martha berciuman pun dipotong sebelum terjadi. Bukan berarti eksplisitas seksual, minuman keras dimana-mana atau asap rokok yang terus mengepul merupakan keharusan, namun film ini membutuhkan suntikan lebih dari beberapa aspek tersebut sebagai penguat atmosfer. Tapi masalah "kurang gila/liar" itu bukan problema besar. Kisah Cinta yang Asu tetap merupakan "surat cinta" manis yang dibuat seorang laki-laki kepada perempuan sebagai objek cerita. 

THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT (2015)

Seksualitas dan kekuasaan nampak seperti dua hal tak berkaitan, tapi sesungguhnya amat bersinggungan. Siapa lebih berkuasa, ia akan memegang kendali termasuk dalam seks. Sekilas begitulah tema dari film pendek terbaru karya Lucky Kuswandi yang pada bulan Mei lalu telah diputar pada program "Critic's Week" dalam ajang Cannes Film Festival. Begitu banyak adegan penuh libido mulai dari masturbasi hingga aktifitas seksual lain dalam film ini. Namun yang membuat filmnya begitu memukau adalah bagaimana Lucky Kuswandi sungguh-sungguh memperhatikan detail sebagai penguat kisah. Setting waktu dan tempat, latar belakang ras serta status ekonomi karakter, hingga makna tiap pengadeganan semua bersinergi menciptakan satu kesatuan yang saling menguatkan. Cerita pun menjadi kuat dan utuh.

Kisahnya terjadi pada era orde baru yang mana terlihat dari penggunaan uang lima puluh ribu bergambar Soeharto. Salah satu tokoh utamanya adalah Aseng, bocah SMP beretnis Tionghoa. Ibu Aseng membuka warung tembakau sekaligus menjual minuman keras, dan tentu saja kesehariannya banyak diisi dengan membantu usaha tersebut seperti mengambil stok minuman keras. Perkenalan pertama penonton dengan Aseng adalah ketika dia tengah masturbasi di gudang minuman, sebelum "diganggu" oleh kehadiran Aling, sang kakak yang hendak mengambil botol minuman. Tentu saja pemandangan itu begitu wajar, karena Aseng adalah remaja awal yang baru saja mulai berkenalan dengan libido hasil masa puber. Hal yang terasa "tidak wajar" adalah saat kita tahu Aseng bersahabat dengan David. 
Aneh, karena David adalah seorang etnis Jawa, sekaligus putera seorang pejabat militer berpangkat tinggi. Pada era orde baru dimana militer begitu berkuasa, bukan pemandangan aneh saat ibunda Aseng memberikan "salam tempel" kepada salah satu ajudan ayah David. Tentu saja itu perlu demi menjaga keberlangsungan bisnisnya. Tapi pada masa itu juga etnis Tionghoa kurang mendapat perlakuan baik. Maka cukup aneh saat anak pejabat militer (pemegang kekuasaan) berkawan akrab dengan bocah Tionghoa (kalangan tertindas). Bahkan di beberapa kesempatan kita melihat David mengejek logat Aseng. Kegiatan keduanya pun tidak jauh-jauh dari libido. Begitu tiba di rumah Aseng, David langsung terangsang melihat Aling yang tengah mencuci baju sambi berpakaian minim. Dia pun masturbasi. Lalu saat giliran Aseng yang berkunjung ke rumah David, mereka pun masturbasi bersama sambil berkhayal menyetubuhi Eva Arnaz. 

Lucky Kuswandi hampir tidak pernah melewatkan satu momen pun dalam film ini tanpa adegan seksual, bahkan meski sekedar memberikan sexual innuendo macam kehadiran sebuah pistol (atau tangan membentuk pistol). Lucky memperlihatkan cara bagaimana memaksimalkan seks sebagai alat bertutur. Seks menjadi sarana pembangun intensitas, juga humor. Secara bersamaan kita dibuat menahan nafas namun juga tertawa seperti saat Aling diminta berakting ketakutan oleh pacarnya, atau saat Aseng dan David "berebut" Eva Arnaz. Bukan cuma itu, seks juga memiliki peranan penting sebagai penghantar pesan dalam cerita. Setiap aktifitasnya berkaitan dengan kekuasaan. Aling patuh terhadap berbagai tuntutan sang pacar. Begitu pula saat David memaksa bahwa ia yang berhak "mendapatkan" Eva, bukan Aseng. Begitu pula yang terjadi saat ajudan ayah David yang diperankan Surya Saputra mulai meraba-raba ibu Aseng. Tentu yang bisa menghentikan kejadian tersebut hanyalah sang atasan: David. Siapa berkuasa dan punya kekuatan, ialah sang pemegang kontrol.
Mungkin ada penonton yang terangsang, ada yang jijik, dan segala bentuk respon lain. Tapi satu hal pasti, bahwa kentalnya seksualitas film ini bukan semata-mata gimmick, melainkan aspek esensial bagi narasi. Hingga akhirnya film ditutup lewat konklusi memuaskan (masih mengenai kekuasaan dan seksualitas) yang memberi kaitan antara kisah dengan judul unik film ini. Judulnya adalah peribahasa Tionghoa yang jika dalam bahasa setempat disebut Hu Jia Hu Wei. Kisah dibalik peribahasa tersebut adalah tentang seekor rubah yang menantang harimau dengan berkata bahwa ia berani karena dirinya merupakan hewan paling ditakuti di desa. Merasa tidak percaya, harimau pun diajak oleh sang rubah mendatangi desa itu. Sontak seluruh warga desa takut melihat sang harimau, namun harimau terlanjur percaya bahwa ketakutan itu disebabkan oleh rubah. Rubah yang seharusnya merupakan mangsa itu telah menggunakan kekuatan sang harimau sendiri untuk mendapatkan kuasa. 

The Fox Exploits the Tiger's Might adalah contoh bagaimana satu aspek mampu dimanfaatkan untuk menjangkau berbagai macam tema. Sebuah contoh pula disaat pengamatan mendalam kepada detail menyeluruh mampu menguatkan pondasi cerita. Durasi tidak sampai 30 menit pun menjadi begitu intens serta kaya. Lucky Kuswandi telah menunjukkan kekuatannya, dan film ini pun layaknya penguasa itu sendiri dengan saya sebagai penonton rela-rela saja untuk tunduk akan kuasanya.

KOMPILASI PEMENANG XXI SHORT FILM FESTIVAL 2015

Berikut ini adalah review singkat saya untuk 10 pemenang "XXI Short Film Festival 2015" yang kompilasinya baru saja diputar tanggal 20 Mei ini di Yogyakarta. Kapan lagi bisa menonton film-film pendek di layar lebar bukan? Apalagi semuanya hasil karya sineas lokal yang diharapkan bisa memberikan masa depan cerah bagi dunia perfilman Indonesia. Tidak semuanya memuaskan memang, tapi dibandingkan berbagai acara lain yang memutar kompilasi film pendek di Yogyakarta akhir-akhir ini, kompilasi dari XXI ini jelas terasa spesial mulai dari kualitas sampai keberagaman genre yang diusung.

A WEEK WITH HERU
Sutradara: Made Dimas Wirawan (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri Media
Pembuka yang menaikkan mood. Seperti judulnya, film ini membawa penonton pada satu minggu dalam hidup karakter Heru yang dibagi dalam tujuh segmen, dimana tiap segmen menggambarkan kejadian per-hari. Tapi semua itu tidak lewat cara serius. A Week with Heru ibarat campuran antara Happy Tree Friends versi lebih "lembut" dengan komedi ala Sketsa. Kelucuan hadir lewat twist absurd penuh kebodohan karakternya. Bergerak cepat, mengakhiri setiap segmen tepat pada saat punch line komedi terbukti sukses menghadirkan tawa tanpa henti. Aneh, gila, bodoh, tapi sangat menghibur.


O5:55
Sutradara: Tiara Kristiningtyas (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Fiksi Pilihan Juri Media
Sekitar 10 menit awal durasi film memperlihatkan keseharian warga Bantul. Kesan damai dan tentram hadir lewat kesederhanaan mereka. Sebagai sajian eksperimental 10 menit awal itu amat menarik. Saya suka sajian realis yang layaknya dokumentasi hidup sehari-hari. Tapi sisa 2 menit terakhir yang memperlihatkan wajah serta tujuan asli film ini justru merusak semuanya. Gemuruh serta narasi hadir tepat setelah tangisan seorang bayi. Mungkin tujuannya untuk membuat penonton merasakan ironi dari tragedi, disaat bencana bisa datang tiba-tiba, menghancurkan kedamaian yang ada. Penonton diharapkan bisa terhenyak mendapati fakta tragis setelah menghabiskan 10 menit menikmati ketentraman. Tapi bagi saya konklusinya seperti bentuk kemalasan. Rasanya hampa. Konsep unik dan baru memang tidak selalu berhasil.


HARI YANG LAIN UNTUK BAKKA' SENDANA
Sutradara: N. Priharwanto (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri Media
Gambaran kultur sabung ayam yang ada di Toraja ini efektif memberikan tanya, "apakah kultur bisa dibenarkan jika itu menyakiti makhluk hidup?" Memang menyakitkan melihat ayam-ayam saling bertarung, terluka hingga bercucuran darah, bahkan dipotong kakinya. Untuk pemaparan hal itu filmnya berhasil. Tapi dalam hal lain seperti fakta bahwa kemungkinan sabung yang hadir bisa jadi merupakan kali terakhir akibat ancaman penggerebekan polisi, sampai peran sosok Sappe sang pemilik Bakka' Sendana dalam narasi hanya terasa sebagai tempelan yang tidak signifikan. Durasi 7 menit tampak begitu kurang untuk menggali segala aspek yang diniati sang sutradara.


DJAKARTA-00
Sutradara: Galang Ekaputra Larope (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Terbaik
Sebuah kritikan eksplisit terhadap kondisi Jakarta yang penuh kemacetan dan rawan banjir. Setting-nya adalah Jakarta pada masa post-apocalyptic (disebut Djakarta-00) dimana kota dibangun diatas reruntuhan kota lama yang tenggelam dalam air. Visualnya memikat, meski penggambaran beberapa aspek terlalu komedik daripada murni satir seperti tumpukan mobil hasil kemacetan yang menggunung. Sebagai satir, dunia yang diwujudkan terlalu eksplisit, kurang elegan. Karakter Gani sang pelukis hipkorit yang menggambar harapan tapi kehilangan harapan dan Antya yang apatis sebenarnya menarik. Sayang voice acting yang lemah membuat dinamika interaksi keduanya gagal menyampaikan emosi kuat.


ONOMASTIKA
Sutradara: Loeloe Hendra (Yogyakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Fiksi
Akhirnya hadir juga drama penuh makna yang hadir lewat kesederhanaan bertutur. Seorang anak tanpa nama dan tidak bersekolah tinggal bersama kakeknya yang memiliki banyak nama setelah kedua orang tuanya menghilang. Nama adalah jati diri seseorang, dan siapa diri kita hanya kita yang tahu, kita yang menentukan. Onomastika menyajikan pertanyaan tentang jati diri lewat sudut pandang anak-anak. Perjalanannya terasa kuat berkat akting bagus dari sang aktor cilik. Kita bisa merasakan adanya pertanyaan demi pertanyaan yang selama ini ia pendam tentang "nama". Sederhana, tidak dramatis tapi thoughtful.



THE DEMITS
Sutradara: Ruben Adriano (Bandung)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Animasi
Dari judulnya sudah bisa ditebak animasi ini adalah komedi dengan para hantu (dedemit) sebagai objek lelucon. Karakter utamanya adalah Demi yang mendapati dirinya mati dalam posisi memalukan. Kondisi semakin gawat bagi Demi saat Dinda, wanita yang ia sukai akan datang ke rumahnya. Saat itulah muncul tiga hantu tetangga mendatangi Demi. Murni hiburan, murni komedi menyenangkan yang mengolok-olok dunia hantu yang selama ini identik dengan kesan seram. Sama seperti A Week with heru, film ini adalah kekonyolan ringan yang konsisten menghadirkan tawa dari awal hingga akhir.


IBLIS JALANAN
Sutradara: Salma Farizi (Jakarta)
Penghargaan: Special Mention Official Jury Film Pendek Dokumenter
Sederhana saja dokumenter ini, yaitu menghadirkan wawancara dengan dua pembalap Tong Setan yang mengulik sedikit kehidupan pribadi sampai resiko-resiko yang harus siap dihadapi saat beratraksi di atas motor. Eksplorasinya memang tidak terlalu dalam dimana penonton belum akan sampai tahap memahami dua karakter secara intim apalagi emosional. Namun Iblis Jalanan cukup menjadi sarana "mengintip" kehidupan dibalik layar para pembalap. Sayang, adegan pertunjukkan maut dalam tong setan sendiri tidak dihadirkan dengan menarik, meski iringan lagu berjudul sama milik Bangkutaman jelas jadi pembangun suasana yang sempurna.


PRET
Sutradara: Firman Widyasmara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Animasi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kata "pret" memang sering kita layangkan saat melihat para calon wakil rakyat berebut kursi pemerintahan. Janji-janji mereka memang layaknya suara "pret" yang dihasilkan oleh kentut dari pantat. Hanya berbunyi nyaring, tapi tidak ada isinya bahkan seringkali berbau busuk. Sindiran keras yang memang hadir "lewat cara bertutur dan teknik visual asal" (dalam artian positif) seperti judulnya sendiri. Disajikan langsung pada sasaran, juga menggelitik karena mengajak penonton bersenang-senang mencela para "pantat" tapi bukan sebuah sindiran yang cerdas pula.


DIGDAYA ING BEBAYA
Sutradara: BW Purba Negara (Yogyakarta)
Penghargaan: Film Pendek Dokumenter Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association)
Kenapa banyak warga yang tetap nekat tinggal di lereng Merapi meski hidup mereka terancam bahaya setelah beberapa letusan khususnya yang paling dahsyat dan memakan banyak korban jiwa pada 2010 lalu? Apa itu hanya bentuk kebodohan dan keras kepala tanpa dasar? Atau ada alasan lain? Digdaya ing Bebaya adalah dokumenter yang sebenarnya begitu sederhana, memperlihatkan tiga orang wanita tua yang tetap tinggal di lereng Merapi tengah mencari tanaman obat di hutan. Satu per satu dari mereka menuturkan kejadian traumatis tersebut sambil menyampaikan alasan mengapa memilih tetap tinggal. Dipadu dengan suasana sunyi, ini adalah dokumenter yang sanggup mengajakpenonton melakukan merenungi dan memahami secara lebih dalam alasan para warga tersebut. 


LEMANTUN
Sutradara: Wregas Bhanuteja (Jakarta)
Penghargaan: Film Pendek Favorit Penonton, Film Pendek Fiksi Pilihan Juri IMPAS (Indonesian Motion Pictures Association), Film Pendek Fiksi Terbaik
Bercerita tentang seorang ibu yang membagikan warisan berupa lima buah lemari pada kelima anaknya, Lemantun memang yang terbaik dari total 10 film dalam kompilasi ini. Sebuah drama keluarga hangat yang menyoroti hubungan antar anggota keluarga, kasih sayang, dan kenangan masa lalu yang tersimpan dalam memori mereka. Apakah kita akan melupakan kenangan tersebut? Membuangnya? Melupakan kasih sayang dan kebersamaan untuk kepentingan sendiri? Atau justru kita bakal tetap menyimpan semuanya sebagai salah satu kepingan hidup yang akan kita jaga? Semua terserah kita. Tapi Lemantun jelas presentasi indah tentang hangatnya kasih sayang dalam keluarga meski itu hadir lewat hal-hal kecil dan sederhana.

MY SHORT MOVIE - "TO THE BIUTI"

Berawal dari suatu malam minggu penuh kesendirian dan kehampaan (intinya nganggur dah) muncul sedikit ide membuat film pendek. Tapi kondisi keuangan sedang kurang mendukung dan tidak ada yang bisa diajak karena mendadak ingin membuat saat itu juga. Akhirnya nekatlah saya eksekusi ide itu sendiri. Menyusun cerita sendiri, sutradara sendiri, aktor sendiri, ambil gambar sendiri, edit sendiri. Akhirnya teknis dan segalanya kurang bagus sudahlah, yang penting hasrat berkarya ini terpenuhi. Bisa orgasme. Ceritanya sendiri tentang obsesi masyarakat zaman sekarang akan sesuatu (watch it and you know what's the obsession). Musik yang saya pakai disini adalah buatan Kevin MacLeod yang dinaungi lisensi creative commons. Jadi silahkan dilihat film pendek atau apapun namanya karya saya ini.

UN CHIEN ANDALOU (1929)

Seorang pria paruh baya (Luis Bunuel) tengah mengasah pisau sambil menatap bulan purnama dan awan-awan di sekitarnya. Tiba-tiba adegan berganti dengan memperlihatkan close-up wajah wanita muda (Simone Mareuil) yang matanya ditahan oleh sang pria paruh baya. Lalu bersamaan dengan purnama yang disayat oleh awan, mata wanita mudah itu pun disayat oleh pisau sang pria. Begitulah Un Chien Andalou atau yang punya arti An Andalusian Dog ini dibuka. Berawal dari perbincangan Luis Bunuel dan Salvador Dali tentang mimpi mereka, terciptalah film sureal ini. Bunuel adalah sutradara yang punya obsesi dengan mimpi serta metode Freudian seperti asosiasi bebas dan psikoanalisis. Suatu malam ia bermimpi tentang bulan yang dipotong oleh awan, seperti mata yang tersayat pisau. Sedangkan Dali sang pelukis sureal bermimpi tentang tangan seseorang yang dikerubuti semut. Berbasis dua mimpi tersebut, Bunuel dan Dali menulis naskah bersama untuk film pendek yang disutradarai Bunuel ini.

Sebuah karya surealis memberikan gambaran sebuah kejadian atau karakter dengan simbolisasi dan metafora yang tidak jarang hiperbolis. Akan memusingkan bagi penonton, tapi juga menantang bahkan "nagih" bagi mereka yang gemar memutar otak mencari interpretasi. Tapi untuk film ini, pertanyaan sesungguhnya bukanlah "apa interpretasi ceritanya?" melainkan "apakah interpretasi tersebut ada disana?" Un Chien Andalou tersusun oleh narasi yang tidak saling berhubungan Setelah pembuka di atas, kita akan melihat seorang pria muda (Pierre Batcheff) bersepeda dengan dandanan suster, wanita androginus (Fano Messan) yang terobsesi dengan potongan tangan, adegan tangan sang pria muda yang mengeluarkan semut, serta adegan lain yang terkesan dreamy sekaligus disturbing. Bunuel dan Dali menulis naskah dengan perjanjian bahwa "tidak ada satupun ide atau gambar yang bisa dijelaskan secara rasional". Bunuel juga menambahkan "tidak ada satupun hal dalam film ini yang merupakan simbolisasi".
Apakah sebuah film harus punya makna? Apakah surealisme harus menyimbolkan sesuatu? Dengan dua pernyataan Bunuel di atas, bisa disimpulkan film ini dibuat tanpa bermaksud menuturkan apapun. Bagi saya film bisa merupakan bentuk opini pembuatnya terhadap suatu kejadian, tapi juga bisa sebagai cerminan nyata dari sebuah kejadian tanpa dikurangi atau ditambahi. Film ini termasuk yang kedua. Bunuel dan Dali hanya ingin memvisualisasikan mimpi masing-masing dalam film ini dengan beberapa adegan tambahan sebagai benang merah. Adegan tambahan itu tidak bermaksud untuk menciptakan narasi yang koheren, tapi lebih kepada rasa dan suasana. Secara narasi tidak ada kaitan satu dengan yang lain. Tapi secara suasana dan kesan mimpi yang coba dibangun lewat momen demi momen tak beraturan, semuanya selaras. 
Tapi jika mencoba berinterpretasi, saya merasa Un Chien Andalou berkisah tentang obsesi, tentang hasrat yang ditekan, tentang seksualitas yang twisted. Adegan pria muda menyeret piano yang berisikan mayat keledai, batu bertuliskan 10 perintah Tuhan dan dua orang Pendeta sambil mendekat kearah si wanita muda bagai memperlihatkan hasrat seksual sang pria yang tertekan oleh norma dan agama. Sang pria juga diperlihatkan menikmati melihat wanita androginus tertabrak mobil, bahkan setelah itu ia ingin berhubungan seks dengan si wanita muda (simbolisasi twisted sexuality). Bunuel sendiri menyatakan bahwa jika ada interpretasi yang mungkin tepat, itu berbasis dari psikoanalisis. Lewat psikoanalisis dalam buku The Interpretation of Dream, Sigmund Freud menyatakan bahwa mimpi merupakan hasrat terpendam, pelampiasan dari sesuatu yang ingin seseorang lakukan di kehidupan nyata tapi tidak kesampaian. Tapi lagi-lagi tidaklah penting bagi saya apakah suatu film punya makna yang coba disampaikan. Karena salah satu fungsi film adalah menuturkan suatu kejadian apa adanya, seperti Bunuel dan Dali menuturkan mimpi mereka tanpa coba memberikan interpretasi.

Tanpa harus memberikan makna Un Chien Andalou tetaplah pencapian yang luar biasa dan menjadi pondasi bagi film indie sekaligus film sureal masa kini. Disaat pada masa itu para pembuat film cenderung ingin memuaskan penonton (lebih dari yang terjadi saat ini), Bunuel justru sebaliknya ingin memberikan rasa tidak nyaman bagi audience. Kesan itu berhasil tersaji dengan sempurna disini. Kesan sureal tidak hanya terasa aneh, tapi juga digambarkan lewat cara se-disturbing mungkin. Visualisasi itu turut disempurnakan oleh scoring  Richard Wagner. Adegan pria menarik piano adalah contoh sempurna. Saat musik semakin meninggi, saya pun semakin merasa tidak nyaman, jantung semakin berdebar, ketegangan makin memuncak. Sebagai sebuah film bisu tanpa dialog, Un Chien Andalou adalah sajian sureal yang tidak nyaman tapi begitu mengesankan disaat bersamaan.

JOGJA ASIAN FILM FESTIVAL - LIGHT OF ASIA

Light of Asia merupakan sebuah program di JAFF 2014 yang menampilkan berbagai film pendek terpilih buatan sineas-sineas Asia. Saya menonton Light of Asia #2 yang menampilkan lima film, dengan tiga diantaranya berasal dari Indonesia. Salah satu dari tiga film pendek Indonesia yang diputar adalah Maryam buatan Sidi Saleh yang sukses memenangkan Best Short Film pada ajang Venice Film Festival tahun ini. Berikut ini ulasan pendek tentang kelima film yang berpotensi memunculkan cahaya baru dalam dunia perfilman Asia.

MY SHORT MOVIE (...BY FEAR)

Seperti yang saya sebutkan saat membagi film Conversation of Men, ada satu lagi film pendek yang sedang saya kerjakan. Sebenarnya ...By Fear sudah sekitar dua bulan lalu selesai diedit tapi karena beberapa faktor non-teknis baru sempat saya publikasikan tidak lama ini. Film ini adalah proyek coba-coba saat saya datang ke lokasi syuting film teman saya, yaitu sebuah rumah tua. Dari situlah saya tertarik untuk membuat film pendek horror yang di-shoot tanpa naskah dalam waktu sehari. Jadi silahkan menikmati ...By Fear dan silahkan memberikan komentar baik di postingan ini maupun langsung di halaman YouTube saya. Silahkan juga menonton film-film pendek lainnya yang ada di channel saya (bisa langsung ditonton juga di blog ini, ada di kanan atas halaman).

MY SHORT MOVIE: CONVERSATION OF MEN

Yap, seperti yang sudah tertulis di judulnya postingan ini saya maksudkan untuk membagi satu lagi film pendek yang telah saya buat. Film berjudul "Conversation of Men" ini sebenarnya dibuat secara "mendadak". Tidak sampai satu minggu yang lalu saya sedang dalam proses mengerjakan tiga film pendek (satu sedang finishing, satu dokumenter sedang di edit, dan satu lagi masih tahap syuting), tapi karena beberapa kendala, ketiganya harus tertunda dan belum terselesaikan. Saya pun memutuskan untuk membuat satu film secara mendadak tanpa menggunakan naskah. Mengaja dua orang teman saya, setelah briefing selama setengah jam, kami pun langsung mulai pengambilan gambar yang berlangsung dua jam. Setelah melalui proses editing singkat, film ini pun selesai. Lucunya ini adalah film keenam berdasarkan dimulainya proses tapi malah selesai sebagai film ketiga saya. 

MY 2nd SHORT MOVIE - F(R)ICTION

Kali ini postingan saya bukan berbicara tentang review film apapun melainkan sharing tentang film pendek saya yang berjudul "F(R)ICTION". Ini adalah film pendek kedua yang saya buat dimana film yang pertama sampai saat ini masih terbengkalai dalam pembuatan musiknya tapi saya menargetkan akan segera menyelesaikan "hutang" tersebut secepatnya. "F(R)ICTION" sendiri memulai proses syutingnya pada bulan Oktober lalu selama kurang lebih enam hari. Konsepnya sendiri saya buat seperti mockumentary dikarenakan untuk mengakali keterbatasan teknis alatnya hehehe. Untuk sinopsisnya kurang lebih sebagai berikut 

"Proses syuting film pendek yang dilakukan oleh sepasang kekasih perlahan berubah menjadi perjalanan yang meleburkan batasan antara fiksi dan realita"