Tampilkan postingan dengan label Tom O'Connor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tom O'Connor. Tampilkan semua postingan

REVIEW - HITMAN'S WIFE'S BODYGUARD

Premis mengenai pembunuh yang dikawal oleh seorang bodyguard milik The Hitman's Bodyguard (2017) memang unik, tapi selaras dengan aturan tak tertulis bahwa sekuel wajib tampil "lebih", Hitman's Wife's Bodyguard, sebagaimana bisa disimak dari judulnya, punya premis lebih unik. Lebih nyeleneh. Bagaimana jika kali ini si bodyguard giliran mengawal istri si pembunuh?

Pun filmnya sendiri serba lebih. Tepatnya, lebih bodoh dan absurd, yang mana jadi kekuatan utamanya. Fokusnya masih soal menyiksa fisik dan batin Michael Bryce (Ryan Reynolds), yang selepas peristiwa film pertama, terus dihantui mimpi buruk soal Darius Kincaid (Samuel L. Jackson). Gara-gara melindungi pembunuh, lisensi bodyguard-nya terancam dicabut. 

Kesialan terus menghampiri Bryce. Niatnya berlibur guna mendamaikan pikiran kacau balau, ketika Sonia (Salma Hayek), istri Kincaid, mendadak datang meminta bantuannya menyelamatkan sang suami yang diculik. Tentu prosesnya tak sesederhana itu, apalagi setelah Bobby O'Neill (Frank Grillo) dari Interpol dan mafia asal Yunani bernama Aristotle Papadopoulos (Antonio Banderas), turut terlibat.

Lupakan cerita. Lupakan bahwa di luar keunikan premisnya, naskah karya Tom O'Connor, Brandon Murphy, dan Phillip Murphy tak membawa alurnya keluar dari pakem klise komedi aksi. Hitman's Wife's Bodyguard bukan tentang hal-hal tersebut, melainkan suatu usaha menghibur penonton dengan cara tampil sengawur mungkin. 

Salah satunya tentu lewat humor. Kemunculan "orang ketiga" memang membuat Reynolds dan Jackson tidak berkesempatan saling melempar banter sesering film pertama, namun jadi bukan masalah, sebab Salma Hayek menghadirkan dinamika baru. Sebagai wanita "senggol bacok" bermulut kasar, dialah sumber energi filmnya. Banyak kritikus mengeluh karena duet Hayek-Jackson terlalu mengandalkan teriakan, tapi apa yang mereka harapkan dari pasangan pembunuh dan penipu? Tuturan penuh sopan santun bak aristokrat? 

"I certainly love watching Ryan suffer", demikian ungkap sang sutradara, Patrick Hughes, kala ditanya mengenai kemungkinan adanya film ketiga. Itulah fokus Hitman's Wife's Bodyguard: menyiksa Ryan Reynolds hingga ke titik maksimum, menggunakan humor slapstick. Wujud slapstick-nya cukup ekstrim, termasuk di sebuah rentetan peristiwa yang niscaya bakal membunuh manusia biasa. Tapi tidak dengan Bryce. 

Bryce lebih dekat ke arah karakter Looney Tunes daripada manusia biasa, bukti bahwa keseriusan sudah dibuang jauh-jauh oleh para pembuat film ini. Sehingga jadi selaras, saat trauma masa kecil Bryce, alih-alih ditangani sebagai hal serius, justru dipakai menyajikan humor tergelap (sekaligus terlucu) filmnya, yang masih melanjutkan running gag bertema "sabuk pengaman", yang mendominasi sepanjang durasi. Alhasil, inkonsistensi tone pun dapat dihindari.

Walau belum sekuat film pertama, namun Patrick Hughes tetap piawai melahirkan aksi hard-hitting bertempo tinggi yang tak ragu menumpahkan darah. Cepat, seru, ringan, bodoh. Begitulah Hitman's Wife's Bodyguard. Ditambah ending absurdnya, saya tidak keberatan bila film ketiga benar-benar dibuat.

THE HITMAN'S BODYGUARD (2017)

Dalam The Bodyguard (1992), Kevin Costner memerankan bodyguard yang bertugas melindungi Whitney Houston, seorang diva. Sesosok jagoan tangguh menjaga bintang ternama yang tak berdaya. Normal. Namun dalam The Hitman's Bodyguard, Michael Bryce (Ryan Reynolds) harus mengawal Darius Kincaid (Samuel L. Jakcson), salah satu pembunuh bayaran paling berbahaya. Absurditas premis itulah sumber daya tarik karya terbaru Patrick Hughes (The Expendables 3) yang rupanya sampai delapan minggu menjelang pengambilan gambar masih berstatus drama serius. Melihat kelakar Reynolds-Jackson, juga pembawaan over-the-top Hughes, transformasi menuju kekonyolan jelas tepat.

Michael Bryce adalah agen berstatus triple A yang menyediakan proteksi bagi kriminal kelas kakap. Hingga kematian salah satu klien menghancurkan karirnya dan Bryce kini hanya bodyguard untuk penjahat kelas teri atau korporat pecandu narkoba, dengan mobil butut dan botol plastik penyimpan air kencing. Di sisi lain, tengah berlangsung persidangan terhadap diktator keji Belarusia, Vladislav Dukhovich (Gary Oldman) di mana Darius Kincaid jadi saksi kunci. Namun perjalanan membawa Kincaid ke Mahkamah Internasional berlangsung kacau akibat pengkhianatan dalam Interpol, memaksa Agen Roussel (Elodie Yung) meminta bantuan Bryce yang notabene mantan kekasihnya. Masalahnya, Bryce dan Kincaid merupakan musuh bebuyutan yang sudah berulang kali coba saling bunuh.
Konon penulisan ulang naskah buatan Tom O'Connor terjadi pasca Reynolds dan Jackson resmi direkrut. Mudah memahami alasannya. Jackson seperti kita tahu jago bersumpah serapah (khususnya "motherfucker") sedangkan Reynolds piawai melontarkan celotehan bernada sinisme yang teruji lewat Deadpool. Naskah dirombak demi memfasilitasi kelebihan keduanya, alhasil meski beberapa adegan berbasis dialog berlangsung kepanjangan, chemistry Jackson-Reynolds ditambah keahlian plus ketepatan timing komedi mereka cukup solid menjaga dinamika. Terbentuk love/hate bromance relationship kacau (in a good way) yang mengekspresikan benci dengan saling pukul bahkan tembak, dan cinta dengan membunuh musuh masing-masing. 
Di jajaran pemeran pendukung, Salma Hayek sebagai Sonia, istri Kincaid, ikut menggila, dengan mulut tidak kalah busuk, mengeskalasi tingkat humor berkat sikap seenaknya. Baik memakai ucapan atau pukulan, semua pihak dibantai habis, dari teman satu sel di penjara sampai Interpol. Elodie Yung tampil dalam tipikal serupa Salma, hanya saja porsinya lebih minim. Agak disayangkan kala Gary Oldman melalui performa megalomania miliknya banyak menghabiskan waktu duduk di ruang sidang, padahal kegilaan menyenangkan yang paling kita kenal dalam karakter Norman Stansfield di Leon: The Professional kembali terpancar. Satu hal pasti, Hayek, Yung, dan Oldman, sebagaimana dua pemeran utamanya, terlihat bersenang-senang. 

Seolah didorot hasrat yang teredam di The Expendables 3, Hughes meluapkan segala amunisinya, terkait guyonan maupun sekuen aksi. Pondasinya sama, kemunculan di waktu tak terduga. Belum semua berhasil memang. Beberapa momen medioker berseliweran, tapi secara keseluruhan masih efektif menjaga minat menonton berkat keberhasilan menghindari rasa film aksi generik. The Hitman's Bodyguard pun berujung hiburan yang enggan terbatasi sekat-sekat akal sehat. Kejar-kejaran intens melibatkan mobil, motor, dan speedboat misalnya, memperlihatkan kapasitas Hughes membuat set-piece aksi dinamis tanpa perlu mengeksploitasi ledakan. You won't find this movie as a memorable piece of action cinema, but its madness definitely worth the ticket price