Tampilkan postingan dengan label Frank Grillo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Frank Grillo. Tampilkan semua postingan

REVIEW - HITMAN'S WIFE'S BODYGUARD

Premis mengenai pembunuh yang dikawal oleh seorang bodyguard milik The Hitman's Bodyguard (2017) memang unik, tapi selaras dengan aturan tak tertulis bahwa sekuel wajib tampil "lebih", Hitman's Wife's Bodyguard, sebagaimana bisa disimak dari judulnya, punya premis lebih unik. Lebih nyeleneh. Bagaimana jika kali ini si bodyguard giliran mengawal istri si pembunuh?

Pun filmnya sendiri serba lebih. Tepatnya, lebih bodoh dan absurd, yang mana jadi kekuatan utamanya. Fokusnya masih soal menyiksa fisik dan batin Michael Bryce (Ryan Reynolds), yang selepas peristiwa film pertama, terus dihantui mimpi buruk soal Darius Kincaid (Samuel L. Jackson). Gara-gara melindungi pembunuh, lisensi bodyguard-nya terancam dicabut. 

Kesialan terus menghampiri Bryce. Niatnya berlibur guna mendamaikan pikiran kacau balau, ketika Sonia (Salma Hayek), istri Kincaid, mendadak datang meminta bantuannya menyelamatkan sang suami yang diculik. Tentu prosesnya tak sesederhana itu, apalagi setelah Bobby O'Neill (Frank Grillo) dari Interpol dan mafia asal Yunani bernama Aristotle Papadopoulos (Antonio Banderas), turut terlibat.

Lupakan cerita. Lupakan bahwa di luar keunikan premisnya, naskah karya Tom O'Connor, Brandon Murphy, dan Phillip Murphy tak membawa alurnya keluar dari pakem klise komedi aksi. Hitman's Wife's Bodyguard bukan tentang hal-hal tersebut, melainkan suatu usaha menghibur penonton dengan cara tampil sengawur mungkin. 

Salah satunya tentu lewat humor. Kemunculan "orang ketiga" memang membuat Reynolds dan Jackson tidak berkesempatan saling melempar banter sesering film pertama, namun jadi bukan masalah, sebab Salma Hayek menghadirkan dinamika baru. Sebagai wanita "senggol bacok" bermulut kasar, dialah sumber energi filmnya. Banyak kritikus mengeluh karena duet Hayek-Jackson terlalu mengandalkan teriakan, tapi apa yang mereka harapkan dari pasangan pembunuh dan penipu? Tuturan penuh sopan santun bak aristokrat? 

"I certainly love watching Ryan suffer", demikian ungkap sang sutradara, Patrick Hughes, kala ditanya mengenai kemungkinan adanya film ketiga. Itulah fokus Hitman's Wife's Bodyguard: menyiksa Ryan Reynolds hingga ke titik maksimum, menggunakan humor slapstick. Wujud slapstick-nya cukup ekstrim, termasuk di sebuah rentetan peristiwa yang niscaya bakal membunuh manusia biasa. Tapi tidak dengan Bryce. 

Bryce lebih dekat ke arah karakter Looney Tunes daripada manusia biasa, bukti bahwa keseriusan sudah dibuang jauh-jauh oleh para pembuat film ini. Sehingga jadi selaras, saat trauma masa kecil Bryce, alih-alih ditangani sebagai hal serius, justru dipakai menyajikan humor tergelap (sekaligus terlucu) filmnya, yang masih melanjutkan running gag bertema "sabuk pengaman", yang mendominasi sepanjang durasi. Alhasil, inkonsistensi tone pun dapat dihindari.

Walau belum sekuat film pertama, namun Patrick Hughes tetap piawai melahirkan aksi hard-hitting bertempo tinggi yang tak ragu menumpahkan darah. Cepat, seru, ringan, bodoh. Begitulah Hitman's Wife's Bodyguard. Ditambah ending absurdnya, saya tidak keberatan bila film ketiga benar-benar dibuat.

BEYOND SKYLINE (2017)


Beyond Skyline dibuka saat seorang wanita (Lindsey Morgan) tengah terbaring dalam perawatan, yang identitasnya baru terungkap pada penghujung. Bahkan besar kemungkinan "rahasia" tersebut dapat penonton pahami di pertengahan, ketika tanpa urgensi, sang wanita sekilas muncul lagi, memperlihatkan betapa buruknya naskah buatan Liam O'Donnell yang juga menduduki kursi sutradara. Dan serupa The Brothers Strauese, duo sutradara Skyline, walau O'Donnell bukanlah pencerita handal, kisah fiksi ilmiah mengenai alien kentara merupakan passion-nya.


Itulah mengapa tatkala efek visualnya buruk, O'Donnell mampu mengemas momen invasi secara menghibur, membangkitkan sisi kanak-kanak kalangan penonton seperti saya, yang terobsesi akan makhluk asing berukuran masif. Tidak peduli seberapa besar usaha anggota LAPD bernama Mark (Frank Grillo) untuk melindungi Trent (Jonny Weston) dalam hubungan renggang ayah-anak yang dipaparkan dangkal, perhatian tetap tertuju pada alien pemburu otak manusia dan ibu hamil yang menyerang dengan mecha berwujud monster raksasa. Dalam semangat film kelas B, O'Donnell tak segan menampilkan mereka di siang bolong walau kurang didukung CGI memadahi.
Namun itu hanya penggerak sementara. Perlu jalinan cerita menarik, intensitas, atau aksi seru demi menjaga atensi penonton. Beyond Skyline lemah terkait ketiganya. Alurnya setipis kertas, apalagi begitu Mark dan kawan-kawan singgah di pesawat luar angkasa, berputar di lingkup "Frank Grillo berjalan menyusuri satu per satu ruangan" dan "alien memandangi layar". Sekalinya adegan aksi merangsek, O'Donnell gagal memanfaatkan maskulinitas Grillo, yang kita ingat betul sanggup merepotkan Captain America di The Winter Soldier hingga memikul beban menghidupkan The Purge: Anarchy seorang diri.

O'Donnell bersama sinematografer Christopher Probst kurang cakap mengemas sudut kamera supaya adegan aksi tereskalasi dari sebatas baku hantam generik menjadi sajian pemacu adrenalin. Demikian pula bumbu horor/thriller yang urung mencapai kengerian tinggi sebagaimana dijanjikan momen klaustrofobik sewaktu Frank dan Audrey (Bojana Novakovic) menerima pesan misterius untuk jangan menatap sinar. Bicara soal Bojana Novakovic, sayangnya sang aktris kerap melucuti potensi tensi akibat akting kaku dengan teriakan-teriakan yang tidak jelas maksudnya. 
Penulisan O'Donnell tambah berantakan tatkala coba melebarkan mitologi, seperti ketiadaan paparan mengenai otak manusia yang dapat melawan kontrol alien. Bahkan guna mencapai titik terbaik film, tepatnya saat setting berpindah ke Laos (pengambilan gambar dilakukan di Yogyakarta dan Batam), Beyond Skyline harus terlebih dahulu melewati beragam bentuk penulisan naskah buruk, sebutlah perselisihan aparat lokal melawan kartel narkoba pimpinan Sua (Iko Uwais) yang sekedar tempelan, sampai fakta bahwa peristiwa di dua lokasinya bagai dua cerita berbeda yang dipaksa menyatu.

Bukan didorong nepotisme, tetapi Iko Uwais dan Yayan Ruhian memang aspek terbaik Beyond Skyline. Aksi keduanya hadir agak terlambat dan terlampau singkat, namun mendapati mereka menghabisi sederet alien disokong koreografi garapan Yayan Ruhian menghasilkan kepuasan penebus segala kelemahan sebelumnya. Ini menegaskan, betapa Iko juga Yayan dapat seketika melambungkan kualitas suatu sajian laga, termasuk Beyond Skyline yang berakhir sebagai B-movie menghibur, atau setidaknya guilty pleasure.