Tampilkan postingan dengan label Tora Sudiro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tora Sudiro. Tampilkan semua postingan

REVIEW - NAGA NAGA NAGA

Terakhir kali Deddy Mizwar terlibat di pengonsepan cerita (secara resmi) adalah 15 tahun lalu lewat Nagabonar Jadi 2 yang turut disutradarainya. Di situ ia mendapat kredit "story by". Merupakan kewajaran saat sang aktor senior kembali menduduki dua posisi tersebut di Naga Naga Naga, selaku judul ketiga dari seri Naga Bonar. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada sosok penting industri perfilman, saya merasa Deddy Mizwar masih berada di tahun 2007. Mungkin ia terperangkap dalam lorong waktu. 

Naskah yang ditulis Wiraputra Basri (Sejuta Sayang Untuknya) dari cerita buatan Deddy Mizwar, menghasilkan tuturan yang bakal memancing respon "OK Boomer" dari penonton masa kini. Bahkan bisa jadi kata "oke" digantikan "dasar". Orang-orang di belakang Naga Naga Naga sebenarnya sadar filmnya butuh modernisasi, namun mereka tidak tahu cara menjadi relevan. 

Taktik Naga Naga Naga untuk terlihat relevan adalah membahas perihal gender. Monaga (Cut Beby Tshabina), puteri Monita (Wulan Guritno) dan Bonaga (Tora Sudiro), sekaligus cucu Naga Bonar (Deddy Mizwar), tidak tumbuh layaknya anak perempuan kebanyakan. Dia enggan sekolah, memilih belajar dari alam bersama sang kakek, pula menghabiskan waktu bermain bola bersama anak laki-laki. 

Perdebatan mengenai Monaga pun terjadi, sementara filmnya tenggelam dalam ketidakjelasan sudut pandang. Naga Bonar yang menampik budaya "orang batak harus punya anak laki-laki" namun di lain kesempatan menyatakan bahwa tugas utama istri adalah melayani suami, masih bisa diterima. Masuk akal saat pria berumur 60an berpikiran demikian. 

Lain cerita ketika Monita, si wanita karir independen berpendidikan tinggi yang mengatasnamakan "kesetaraan gender" kala menolak keharusan mempunyai anak laki-laki, menyebut bahwa wanita mesti lembut, karena berperan melembutkan kerasnya dunia. Luar biasa inkonsisten. 

Mungkin naskahnya ingin mengambil jalan tengah, tapi keseimbangan tersebut gagal dibangun. Misal sewaktu Tari (Artta Ivano), teman Monita, mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih berbunyi, "Boleh saja kita memikirkan kesetaraan gender, tapi realitanya kan berbeda". Itu wujud kepasrahan, bukan upaya mencari win-win solution. Makin jomplang karena belum lama ini kita baru mendapatkan Ngeri-Ngeri Sedap, yang juga membicarakan budaya batak, gesekan zaman, nilai kekeluargaan, dan gender, secara jauh lebih baik. 

Pun sama sekali tidak bijak ketika filmnya membicarakan gender, namun dua karakternya dengan santai membanggakan status poligami mereka, dalam situasi yang jelas bukan bernuansa satir. 

Beruntung, tiap menyentil isu khas seorang Naga Bonar, (yang tak perlu perspektif kekinian), filmnya menemukan pijakan. Deddy Mizwar masih cukup ahli melempar kritik menggelitik terhadap hal-hal seperti kelas sosial hingga sistem pendidikan. Trio Pomo (Darius Sinathrya), Ronny (Uli Herdiansyah), dan Zacky (Mike Lucock) mewakili sisi yang senantiasa memandang segalanya melalui kacamata materi. Sindiran paling tajam adalah terkait pihak sekolah, yang katanya bertujuan memintarkan murid, tapi justru menolak menerima mereka yang punya nilai buruk. 

Beberapa konflik terlalu gampang diselesaikan, khususnya tentang Mat Budeg (Norman Akyuwen), ayah Nira (Zsa Zsa Utari), pengamen yang berteman dengan Monaga, kesan "berceramah" khas Deddy Mizwar pun masih mendominasi, tapi setidaknya berhasil ditutupi oleh akting solid para pemain. Pastinya Deddy Mizwar sendiri jadi sumber emosi terkuat, berkat kemampuan olah rasa ditambah kehebatan menangani monolog teatrikal. Naga Naga Naga terlihat baik-baik saja tiap tampil sebagai "drama bermoral Deddy Mizwar" biasa. Memang dalam suatu karya seni, kejujuran adalah poin utama. Kalau tidak, apa kata dunia?

3 DARA 2 (2018)

Komedi adalah “makhluk” yang sulit ditaklukkan, tapi berkomedi sambil menuturkan pesan ada di tingkatan berbeda. Sekuel dari 3 Dara yang tiga tahun lalu sukses mengumpulkan lebih dari 666 ribu penonton ini hendak menunjukkan pada para misogynist, male chauvinist, hingga pemuja toxic masculinity bahwa pekerjaan rumah tangga yang kerap dibebankan pada wanita sungguh bukan main-main. Belum tentu pria sanggup menjalaninya. Tapi cara 3 Dara 2 melucu justru membuatnya gagal meruntuhkan dinding pembatas  just-for-fun-fiction supaya pesannya dapat ditanggapi serius.

Sejatinya, trio penulis naskah: Monty Tiwa (Rompis, Critical Eleven), Nataya Bagya (7/24, 3 Dara), dan Fatmaningsih Bustamar (Demi Cinta, Meet Me After Sunset), telah memilih jalur yang tepat, bahkan cerdik guna mengembangkan cerita tanpa keluar dari persoalan kesetaran gender dan kisah “pria menjadi wanita”. Masih mengetengahkan Affandy (Tora Sudiro), Jay (Adipati Dolken), dan Richard (Tanta Ginting), kali ini, alih-alih berubah jadi wanita, mereka mesti bertukar peran dengan para istri, alias menjadi bapak rumah tangga.

Akibat kegagalan investasi, mereka pun berhutang puluhan milyar, harus terusir dari rumah, dan terpaksa tinggal di rumah Eyang Putri (Cut Mini), ibunda Aniek (Fanny Fabriana), istri Affandy. Demi melunasi hutang tersebut, Aniek bersama Grace (Ovi Dian) dan Kasih (Rania Putrisari) memutuskan bekerja, sementara ketiga suami gantian mengurus hal-hal rumah tangga. Affandy mencuci, Jay bersih-bersih, Richard berbelanja dan memasak.  Mereka semakin kerepotan akibat keberadaan Jentu (Soleh Solihun), si penjaga rumah yang bertindak semena-mena setelah diberi wewenang kuasa oleh Eyang Putri.

Pondasi memadahi telah ditempatkan, pun sebuah pernyataan dari Windy (Rianti Cartwright) sang psikolog cukup menekankan pesan yang filmnya hendak utarakan (melalui perspektif biologis, sebagai dua jenis kelamin, pria dan wanita jauh berbeda, namun tidak dari sisi gender beserta peran-perannya), tapi kemudian 3 Dara 2 melanglang buana terlalu jauh. Kebodohan Affandy-Jay-Richard dalam usaha menebus cicilan rumah justru dikedepankan ketimbang pergulatan ketiganya sebagai bapak rumah tangga, yang sebatas ditampilkan melalui montase singkat.

Semakin kisahnya bergulir, semakin repetitif, di mana pola “berbuat kebodohan-gagal-dimarahi-menyesal-ulangi kebodohan” disajikan secara terus menerus. Daripada proses belajar gradual, karakternya dibiarkan tanpa perubahan sampai konklusi. Sebuah konklusi bertabur twist yang menempuh jalan pintas guna menyelesaikan segala permasalahan. Twist yang mengejutkan? Ya, karena sulit dipercaya 3 Dara 2 menerapkan resolusi semalas itu.

Dipandang selaku hiburan, balutan humornya bekerja cukup baik. Beberapa ide kentara menunjukkan para penulisnya lebih mencurahkan usaha dan kreativitas dalam membalut komedi daripada konklusi kisah. Tidak semua bekerja maksimal, tapi berkat performa sekaligus chemistry menghibur Tora, Adipati, dan Tanta, setidaknya saya bisa dibuat terus terjaga. Belum lagi Cut Mini yang senantiasa menguasai tiap momen kemunculannya dengan kejenakaan "mengerikan". Sementara Fanny Fabriana mampu melakoni peran sebagai jangkar bagi elemen dramatik filmnya.  

Tapi sekali lagi, 3 Dara 2 ingin tampil lebih. Karenanya, gaya “dilebih-lebihkan” dari leluconnya mencuatkan masalah. Benar komedi harus dilebih-lebihkan selaku pendekatan hiperbolis terhadap realita supaya kelucuan tercipta. Namun hiperbola di sini, yang membuat masalah tokoh-tokohnya nampak konyol, berpotensi “membentengi” pihak-pihak yang dikritisi. Mereka bakal berpikir “Situasi begini takkan terjadi di kehidupan nyata”, atau “Kenyataannya takkan seberat ini” kala menyaksikan susah payahnya Affandy, Jay, dan Richard beradaptasi sebagai bapak rumah tangga, mayoritas diproduksi oleh perilaku absurd Jentu, yang memang benar, takkan kita temui di realita. Para misogynist dan male chauvinist pun rasanya hanya akan terkekeh.

GILA LU NDRO! (2018)

Sebagaimana mestinya komedi satir, Gila Lu Ndro! menyindir realita dengan humor. Diharapkan, penonton tertawa sembari merenungkan peristiwa yang tengah disaksikan. Namun film keempat sutradara Herwin Novianto (Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, Tanah Surga...Katanya, Jagad X Code) ini di satu titik lupa akan niatnya menyampaikan sesuatu karena terlampau sibuk berusaha sekonyol mungkin, sebaliknya, di titik lain getol berceramah sehingga lalai melucu. Mau yang mana pun, bobot pesannya berujung terlemahkan.

Guna memahami poin utama film ini, kita perlu mengikuti cerita yang dituturkan Indro (Tora Sudiro) kepada sang istri, Nita—nama istri Indro Warkop di dunia nyata—yang diperankan Mieke Amalia, yang cukup beruntung mendapat jatah kalimat-kalimat terlucu dalam naskah garapan Upi (Tusuk Jelangkung, My Stupid Boss, Sweet 20) bersama “anak didiknya”, Aline Djayakusuma. Deretan kalimat tersebut kebanyakan berfungsi mengutarakan keheranan sekaligus kekesalannya terhadap cerita absurd sang suami yang mengaku bertemu Al (Indro Warkop) alias Alien, Raja dari planet Alienus.

Sebagai Raja, Al merasa perlu menemukan jalan menyelesaikan konflik tak berkesudahan antara warga Alienus. Untuk itulah ia mencari “Sumber Damai”, yang konon dimiliki Bumi. Dibantu Indro, Al pun melakukan perjalanan mengitari Bumi (baca: Jakarta), menemui ragam peristiwa yang filmnya pakai sebagai alat menyindir isu-isu sosial di sekitar. Mulai dari yang mereka lihat langsung seperti penyebaran hoax, penerimaan suap oleh polisi, pembeli yang menawar harga semaunya, obrolan singkat soal kegemaran wakil rakyat tidur pulas tatkala sidang, sampai baliho berupa ajakan berdoa (alih-alih mengusahakan jalan keluar) apabila terkena banjir.

Jadi apa yang Gila Lu Ndro! tawarkan demi menyelesaikan segala masalah di atas? Al sebagai Raja merupakan metafora pemimpin bangsa ini, dan filmnya secara gamblang nan lantang menyebut bahwa turun ke jalan menemui rakyat langsung alias blusukan merupakan jalan keluar. Kata “blusukan” bahkan Indro ucapkan, meniadakan ruang bagi kesubtilan. Daripada “merasakan”, rasanya seperti disuapi oleh Indro, yang penokohannya bisa dirangkum dalam 2 kata, “penengah konflik”. Tidak lebih, tetapi bisa kurang. Sebab di beberapa situasi, ia bahkan tak menengahi permasalahan, sebatas berdiri, mengamati, atau malah kabur.

Bagaimana dengan kita? Para manusia biasa, bukan pemimpin bangsa atau alien dengan sumber daya tanpa batas. Sejujurnya sulit dipahami akibat masing-masing problematika tak mempunyai korelasi pasti, seolah tanpa gambaran besar untuk disampaikan. Terkesan, tiap masalah dipilih bukan atas dasar kebutuhan narasi, melainkan dari pertimbangan, “mana yang paling konyol”. Bahkan ada subplot saat Al mendapatkan peran di sebuah film buatan Alex Abbad setelah seluruh pemain menolak hadir di lokasi. Apa kaitannya dengan pencarian kedamaian?

Untunglah, walau membayangi pesannya, komedi film ini mampu memproduksi tawa. Masih terjadi inkonsistensi, meleset di sana-sini khususnya ketika Herwin Novianto tampak kurang cakap mengatur timing, namun berhasil juga tepat sasaran di banyak sisi berkat sederet ide kreatif Aline dan Upi, yang tetap mengedepankan kelucuan ketimbang berusaha seaneh mungkin (like you-know-who). Saya suka setiap kali Nita memotong cerita Indro, yang dibungkus lewat berbagai cara unik.

Berlawanan dengan sang istri, Tora kurang lepas membanyol karena di saat bersamaan dibebani peran selaku penyampai pesan moral. Sebaliknya, Indro melakoni peran layar lebar terlucunya pasca era Warkop DKI, dengan humor cross-dressing di akhir merupakan momen terbaik. Keseluruhan Gila Lu Ndro! memang lucu. Penonton yang mengisi penuh studio tempat saya menonton jelas terpuaskan. Apabila cuma bertujuan memancin tawa, maka film ini sukses. Tapi Gila Lu Ndro! ingin menjadi lebih.....dan gagal. Coba tanyakan pada penonton yang tergelak sepanjang film mengenai intisari filmnya, besar kemungkinan mereka tidak mampu mengutarakan jawaban pasti.

REUNI Z (2018)

Berjam-jam saya memandangi halaman review yang masih putih polos alias kosong. Sambil duduk ditemani batang demi batang rokok, ingatan saya melayang kembali menuju Reuni Z, kolaborasi kedua Soleh Solihun bersama Monty Tiwa di kursi penyutradaraan setelah Mau Jadi Apa? (2017), berharap memperoleh ide tentang paragraf pembuka. Tapi nihil. Semakin memeras otak, semakin kusut isi kepala. Mungkin saya sedang buntu. Mungkin saya penulis yang buruk. Mungkin karena cuma sedikit hal berkesan dalam filmnya.  Reuni Z memang tidak buruk, tetapi bakal segera terlupakan. Padahal, dilupakan jauh lebih mengerikan dari dikejar zombie.

Berbeda dengan jajaran protagonis, khususnya Juhana (Soleh Solihun) dan Jeffri (Tora Sudiro) yang sulit melupakan permasalahan mereka semasa SMA. Sempat bersahabat, bahkan membentuk band bersama, keduanya bertengkar di panggung, menghasilkan hubungan canggung yang bertahan hingga 20 tahun kemudian tatkala reuni diadakan. Ketika Juhana telah angkat nama sebagai aktor film murahan sekaligus bintang iklan pompa air, Jeffri tetap merasa Juhana menghancurkan mimpinya sukses di dunia musik. Jeffri sendiri kini menikahi Lulu (Ayushita), si mantan bassis, dan sudah dianugerahi momongan, sedangkan Juhana masih hidup seorang diri.
Ketiganya, ditambah Mastur si penggebuk drum yang telah berganti kelamin dan nama menjadi Marina (Dinda Kanya Dewi), bertemu lagi di reuni SMA yang oleh naskah buatan Soleh bersama Agasyah Karim dan Khalid Kashogi bukan cuma dijadikan arena para zombie berburu mangsa empuk, pula memfasilitasi keberadaan ensemble cast. Dari Surya Saputra si tukang bully, Henky Solaiman si guru, Verdi Solaiman si tukang pamer, Fanny Fabriana si MC, Ence Bagus si pria sok alim, Joe P Project si satpam, sampai penampilan pasangan Anjasmara dan Dian Nitami. Begitu ambisius, kisahnya berusaha membagi porsi nyaris sama rata ke setumpuk nama di atas. Waktu pun terbagi, sehingga elemen persahabatan Juhana-Jeffri yang harusnya diutamakan justru sebatas numpang lewat.

Setelah repot-repot menaruh fokus pada banyak tokoh, saat tiba waktunya ajal menjemput akibat serangan zombie, adegan kematian malah tersaji off-screen. Apalagi kalau bukan demi meminimalkan sadisme yang berpotensi memantik debat kusir melelahkan di tahap sensor. Dampaknya, beberapa kematian tak terduga maupun pengorbanan karakternya urung berefek. Polanya sering berulang. Salah satu tokoh terkepung pasukan zombie, sebelum adegan langsung berpindah tanpa memperlihatkan nasibnya. Bahkan sulit mengetahui apakah seseorang sudah meregang nyawa atau belum, jika bukan karena mereka tak muncul di momen penutup.
Poin terkuat Reuni Z, yang sejatinya juga urung dimaksimalkan, adalah komedi. Beberapa kali saya tergelak. Melanjutkan pencapaian di Hangout (2016), Dinda jadi sosok terlucu yang mencuri perhatian berkat kesediaan menanggalkan rasa malu saat melucu. Totalitas. Masalahnya tak semua tokoh menyimpan karakteristik selucu Marina alias Mansur. Jeffri tak lebih dari pria paruh baya yang sesekali bersikap bodoh. Sementara profesi Juhana sebagai aktor film murahan hanya dijadikan jalan supaya film ini bisa memajang beberapa parodi poster film Indonesia klasik serta menyelipkan cameo Joko Anwar. Selebihnya, daya tarik Juhana cuma sebuah slogan yang semakin sering diulang semakin menghilang kelucuannya.

Serbuan zombie dapat memunculkan kesan atmosferik sebagaimana Night of the Living Dead (1968), bisa pula seru seperti Dawn of the Dead, baik versi Romero (1978) atau remake karya Zack Snyder (2004). Tapi kejar-kejaran dengan zombie di Reuni Z tidak menegangkan, mencekam, atau seru. Humornya pun bak berdiri sendiri, di mana mengganti zombie dengan makhluk lain, takkan mempengaruhi gaya leluconnya. Timbul beberapa pertanyaan. Bagaimana zombie mendeteksi korbannya? Mereka bisa ditipu oleh bau, terpancing suara, tapi kadang melihat buruannya. Mereka pun dapat dihentikan melalui serangan di bagian tubuh mana saja, membuat konklusi yang coba bermetafora bahwa mengenai kekuatan persahabatan jadi kurang berarti. Setidaknya riasan dan efek spesial pada klimaks digarap cukup baik.


Untuk ulasan versi vlog bisa ditonton di sini:

HOAX (2018)


Hoax sejatinya telah diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2012, kemudian melanglang buana ke beragam festival internasional sepanjang tahun berikutnya. Saat itu judulnya masih Rumah dan Musim Hujan. Enam tahun berselang, akhirnya film ini rilis di bioskop komersil tanah air setelah berganti judul serta beberapa kru termasuk editor dan penata musik. Perubahan yang sepertinya bertujuan agar filmnya lebih mudah diakses penonton luas. Menurut yang telah menonton versi Rumah dan Musim Hujan (saya belum), Ifa Isfansyah selaku sutradara sekaligus penulis membagi alur menjadi tiga segmen terpisah.

Sementara dalam Hoax gaya narasi interwoven di mana tiap kisah hadir saling bergantian dipakai. Melihat porsi masing-masing karakter, ini keputusan tepat, sebab kualitas antar segmen kurang berimbang. Ketika pengalaman Adhek (Tara Basro) begitu mencekam, pergolakan Ragil (Vino G Bastian) tampil lemah, miskin eksplorasi, pula tak solutif. Menyatukannya membuat ketiga cerita saling melengkapi, menyokong satu sama lain, meski menimbulkan permasalahan baru terkait lompatan tone. Tujuan awal Ifa memang merangkai tiga cerita dengan warna dan genre berbeda.
Hoax dibuka oleh keceriaan buka puasa sekeluarga berkat permainan yang Bapak (Landung Simatupang) bawa dari Korea. Ifa sendiri pernah bersekolah film di Korea. Seusai buka bersama baru kita dihadapkan pada rahasia para tokoh. Ragil yang tinggal bersama Bapak menyimpan fakta di balik kealiman yang mengungguli sang bapak yang menganut kejawen. Bapak menonton televisi, Ragil sudah siap berangkat solat. Bapak bermain wayang, Ragil membaca Al Qur’an. Kakaknya, Raga (Tora Sudiro), gemar berganti pacar dan kali ini giliran Sukma (Aulia Sarah) yang dibawa. Persoalan cinta pelik pun telah menanti. Sedangkan Adhek yang tinggal bersama Ibu (Jajang C Noer) mengalami peristiwa mistis sesampainya di rumah.

“Siapa yang Bohong?”. Demikian tagline film ini. Pertanyaan yang kita sendiri kerap lontarkan di tengah maraknya hoax bertebaran. Ambiguitas informasi mengenai ilmu pengetahuan, isu sosial, seksualitas, sampai agama ditampilkan Ifa, membuat Hoax terasa relevan bagi kondisi sekarang. Sayang, berbagai persoalan di atas belum cukup mencengkeram, terpampang bak sampul semata tanpa mengindahkan dilema batin maupun gesekan sosial, khususnya terkait Ragil yang permasalahannya terkesan disederhanakan. Sebagai bingkai kondisi masyarakat Indonesia, Hoax cuma bermain di permukaan, tetapi sebagai penjaga tensi, penelusuran akan rahasia para tokohnya mampu menjaga dinamika.  
Mengambil alih penyuntingan gambar dari Eddie Cahyono dan Greg Arya, Sentot Sahid berpadu dengan penyutradaraan Ifa memainkan intensitas melalui presisi gerak adegan. Banyak momen diakhiri oleh cliffhanger dan kejutan pemancing rasa penasaran. Eksperimen Ifa untuk membedakan pondasi genre tiap segmen pun menghasilkan alur yang acap kali mengecoh ekspektasi. Berbeda dengan Pesantren Impian, di sini Ifa piawai meramu atmosfer menegangkan melalui permainan tempo serta bahasa visual. Sebuah adegan yang memperlihatkan Ibu sedang solat menjadi puncak intensitas Hoax. Tentu ini tak terlepas dari akting Jajang C Noer. Gestur dan cara bicaranya mengundang kengerian di tengah rumah temaram tatkala identitas jadi hal yang dipertanyakan dan kebenaran nyaris mustahil dipastikan. 

Pemain lain berakting solid sesuai porsi. Khusus untuk Tora, ia mengingatkan kita akan kapasitasnya yang tak terbatas sebagai komedian, pula mampu menjalani lakon serius. Jadi siapa yang bohong? Untungnya Hoax tidak mencoba menjawab gamblang pertanyaan itu, sebab misteri terbaik adalah yang tidak seutuhnya terungkap. Demikian juga soal situasi dewasa ini, bukankah makin sulit menebak siapa penyebar kebohongan, siapa pembawa kebenaran? Ifa memilih setia terhadap realita tersebut demi menjaga relevansi karyanya di samping sebagai drama-thriller yang hadir menegangkan secara konsisten.

WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 2 (2017)

Jangkrik Boss! Part 2 terjangkit penyakit yang jamak menyerang sebuah proyek film besar yang dipecah jadi dua bagian. Ketika Part 1 merupakan kekacauan menyenangkan yang melompat cepat dari satu keserampangan menuju keserampangan berikutnya, deretan lelucon Part 2 terasa dipaksa bergulir selama mungkin demi memenuhi kuota dua film panjang dengan masing-masing berdurasi sekitar 90 menit. Ide Anggy bersama partner penulisan naskahnya, Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya sejatinya segar, namun kerap berlarut-larut, seringkali menurunkan efektivitas. Adegan perpustakaan adalah contoh paling nyata. Untungnya masih terdapat setumpuk amunisi lain.

Langsung melanjutkan akhir film pertama, Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) bersama Sophie (Hannah Al Rashid) melanjutkan petualangan mencari harta karun di Malaysia. Setelah melalui peristiwa yang melibatkan ketiganya dalam eksperimen aneh, akhirnya Nadia (Nur Fazura), si gadis berbaju merah yang kopernya tertukar dengan mereka di bandara berhasil ditemukan. Pencarian harta karun pun berlanjut di suatu pulau kosong yang tidak hanya memunculkan kejutan khas Anggy Umbara, juga kegilaan yang meneruskan kegemaran Warkop bermain-main menggabungkan komedi dan berbagai genre.
Sebelum era 90-an dengan image "jalan-jalan ke pantai melihat cewek seksi" usungan film produksi Soraya (mengisi sebagian fase film ini), Warkop mencapai puncak kualitas lewat beragam bentuk. Manusia 6.000.000 dollar adalah sci-fi, Chips satir sosial bersampul cerita kepolisian, Depan Bisa Belakang Bisa kental unsur detektif, sampai petualangan di IQ Jongkok dan horor dalam Setan Kredit. Dua judul terakhir jadi pondasi utama Jangkrik Boss! Part 2 yang sesampainya pada klimaks, "banting setir" ke ranah fantasi imajinatif (sebelum ditutup oleh ending yang begitu tiba-tiba). Serupa karya Anggy Umbara sebelumnya, transisinya kasar, seketika tumpah semata-mata demi twist tak terduga. Tapi ada faktor lain yang membuatnya bermakna: homage. 

Pada dasarnya Warkop DKI Reborn adalah proyek penghormatan ambisius yang coba meleburkan setumpuk film beserta gaya bercanda Warkop DKI, dan third act Jangkrik Boss! Part 2 mengeskalasi homage-nya ke level lebih tinggi pun lebih luas, bak membawa penonton menyusuri dunia berisikan ikon perfilman tanah air era 70 sampai 80-an (termasuk Rhoma Irama seperti nampak di trailer). Sebuah langkah kreatif dari Anggy dan tim menyatukan mereka dengan Warkop DKI  yang mana juga berasal dari masa itu  sebagai bungkus. Bukan berhenti selaku penghormatan saja, sekuen tersebut pun luar biasa lucu (clue: Soto), menjadi pencapaian terbaik dari keliaran pikir Anggy yang sebelumnya, termasuk di film ini, punya persentase keberhasilan dan kegagalan berimbang. 
Dua pertiga awal Jangkrik Boss! Part 2 cenderung hit-and-miss akibat keinginan menciptakan humor seaneh mungkin. Beberapa berlangsung datar, termasuk repetisi lelucon meta, kala atas dasar tribute, filmnya (terlalu) sering breaking the fourth wall yang mana termasuk kebolehan Warkop DKI dahulu. Toh kali ini pilihan Anggy menekankan absurditas komedi, menolak melangkah di "jalur aman" layak dikagumi. Terlebih ada "adegan soto" yang membayar lunas sederet kekurangan lain, sekaligus mengingatkan betapa keunggulan Warkop terletak pada keluwesan improvisasi mengolah kata dalam komedi verbal. Kecerdasan berkelakar yang sayangnya tertutup citra "film cewek seksi berbikini di pantai" akibat banyak pihak lebih familiar dengan Warkop era Soraya yang mendominasi televisi. 

Trio Abimana-Vino-Tora masih tampil bagus, walau daya kejut hasil perubahan ketiganya otomatis berkurang karena telah memasuki film kedua. Abimana tetap dengan salah satu transformasi peran terbaik di perfilman kita yang mampu memancing tawa walau hanya berdiri diam (sebelum film dimulai ada iklan Top White Coffee yang ia bintangi, silahkan bandingkan). Vino kian apik memasang ekspresi. Salah satu penyebab "adegan soto" bekerja begitu baik adalah respon konyol miliknya. Tora mengakali karakterisasi Indro yang belum sesolid dua rekannya lewat totalitas kejenakaan di tiap kesempatan, layaknya penyerang yang sanggup memanfaatkan peluang mencetak gol sekecil apapun. Sewaktu humor tidak konsisten bekerja maksimal, ketiganya membuat Jangkrik Boss! Part 2 selalu menarik disimak.