Tampilkan postingan dengan label Willem Bevers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Willem Bevers. Tampilkan semua postingan

ZETA: WHEN THE DEAD AWAKEN (2019)

Zeta: When the Dead Awaken (berikutnya disebut “Zeta”) membuktikan jika tim sineas kita sudah mampu memproduksi zombie flicks secara layak, selama skalanya minimalis. Filmnya solid perihal memamerkan serangan zombie, bahkan sesekali memancing ketegangan, namun ketika jangkauan kisahnya diperluas hingga mencakup kepentingan nasional dengan melibatkan pemerintah, ilmuwan, dan militer, Zeta tak ubahnya role play anak-anak.

Saya terpikat oleh momen pembukanya, yang begitu rapi mempresentasikan kondisi Jakrta yang tinggal menyisakan puing-puing tanpa penduduk. Berbekal pemakaian CGI efektif ditambah kelihaian menangkap pemandangan langka berupa kesenyapan ibukota, nuansa kiamat yang menghantui mampu ditampilkan.

Kesolidan itu terus berlanjut saat para zombie (di sini dipanggil “Zeta”) melancarkan serangan di sekolah Deon (Jeff Smith), sebelum kisahnya mengajak kita menyaksikan usaha sang remaja bermasalah menyelamatkan sang ibu, Isma (Cut Mini), yang menderita alzheimer dan tinggal di apartemen sendirian. Isma menetap seorang diri selepas dua tahun lalu Deon meninggalkannya, ketika sang suami, Richard (Willem Bevers) menangkap basah perselingkuhannya.

Richard sendiri bekerja di Amerika sebagai ilmuwan sekaligus pakar terkait wabah yang sedang terjadi. Richard menyebut bahwa wabah itu dipicu evolusi amoeba parasit yang masuk ke tubuh manusia lewat air, kemudian menguasai otak korbannya, mengubah mereka menjadi zombie.

Penyutradaraan Amanda Iswan—yang turut merangkap penulis naskah, produser, dan produser eksekutif—sanggup menciptakan keseruan berbasis serbuan zombie yang bergerak cepat. Berlatar apartemen kecil yang dipenuhi lorong sempit serta tangga darurat gelap, Amanda mengkombinasikan modal lokasi tersebut dengan pergerakan kamera dinamis tanpa harus membuat penonton sakit kepala lewat gaya shaky cam, juga ketepatan timing dalam serangan zombie, guna menyusun intensitas.

Bahkan terkadang, para monster pemangsa otak ini tampak menyeramkan berkat tata rias apik, pula efek suara geraman sang zombie. Contohnya ketika Deon mesti mendobrak kamar lain demi mencari makanan, hanya untuk dihadang sesosok zombie bertubuh tambun. Satu-satunya gaya tidak perlu yang sang sutradara terapkan adalah sudut pandang orang pertama layaknya gim video. Penempatannya terlalu acak juga begitu singkat hingga kurang berhasil meninggalkan dampak.

Pada titik ini, sejatinya naskah Zeta sudah menyiratkan tanda-tanda kebodohan, sebutlah saat Deon meminta salah satu anggota Blue River (kelompok militan pembasmi zombie) agar bersedia menunggu di luar selama ia menolong Isma. Tapi apa yang Deon lakukan begitu berhasil bertemu sang ibu? Secara sepihak ia memilih menetap di kamar, lalu tertidur. Memang remaja sekarang perlu diajari sopan santun.

Tapi kebodohan di atas sekadar lubang kecil dibanding apa yang Zeta tampilkan begitu mulai memperbesar cakupan cerita. Dari film zombie berlatar tunggal yang menghibur, film ini bertransformasi menjadi kekonyolan canggung sewaktu mengajak penonton melihat pertemuan antara ilmuwan, militer, dan Blue River. Dekorasi setnya murahan penuh properti ala kadarnya, tiada usaha membangun atmosfer sebuah markas rahasia secara meyakinkan akibat minimnya permainan tata cahaya, penulisan kalimatnya buruk, belum lagi akting yang remuk.

Sang ilmuwan terlihat bak orang bodoh yang berusaha keras terdengar pintar tanpa memahami apa yang ia bicarakan, sementara para tentara bergaya sok gahar. Daripad akting mumpuni, kita malah dipertunjukkan aksi main-main. Main tentara-tentaraan, dokter-dokteran, jagoan-jagoanan.

Hampir seluruh cast-nya mengecewakan, termasuk para pemeran rakyat sipil—kecuali Dimas Aditya yang tak terlihat mengganggu sebagai seorang penyintas tangguh. Jeff Smith tak diberahi aura sebagai protagonis yang dapat diandalkan, tidak pula secara layak menghidupkan sosok remaja bermasalah. Sementara Cut Mini melakoni aspek cluelessness pengidap alzheimer layaknya karikatur stereotipikal. Menyakitkan melihat penampilannya di sini (terburuk sepanjang karir) pasca menakjubkannya Dua Garis Biru.

Karena tidak dibarengi materi cerita mencukupi, Zeta sudah kehabisan bahan bakar di pertegahan, mulai terasa draggy kala berlama-lama dalam situasi dengan pacing menyiksa selaku usaha mengulur waktu. Membosankan, padahal setumpuk aspek berpotensi dieksplorasi. Contohnya, bila ingin melebarkan cakupan, mengapa tidak berhenti sok keren ketimbang berusaha menggali perihak isu sosial politik ketika satu kalimat mengenai “militer yang kehabisan helikopter akibat dipakai mengangkut orang-orang penting” sudah menyiratkan perihal permasalahan tersebut?

Saya suka penerapan konsep dua tipe zeta, juga bagaimana mereka melihat otak dan jantung manusia (kita sempat dibawa melihat apa yang mereka lihat). Paparannya kreatif sampai Amanda Iswan  kelelahan (atau malas?), lalu meninggalkan penonton pada ketidakpastian soal cara kerja antidote, dan lain-lain. “Dan lain-lain” inilah yang semestinya mendapat perhatian lebih.

THE SACRED RIANA: BEGINNING (2019)

The Sacred Riana: Beginning adalah film khas Billy Christian (Rumah Malaikat, Petak Umpet Minako, Mereka Yang Tak Terlihat), tidak kurang, tidak lebih: Tata artistik menawan dan konsep segar yang gagal mencapai potensi akibat kombinasi penulisan dan penyutradaraan lemah, khususnya perihal adegan bertensi tinggi.

Terinspirasi dari karakter The Sacred Riana, sang pesulap pemenang Asia’s Got Talent 2017, filmnya mengisahkan bagaimana Riana kecil (Jessiana Marriera Pariston) yang pendiam selalu dianggap aneh orang teman-temannya. Fakta bahwa kedua orang tuanya (Prabu Revolusi dan Citra Prima) menjalankan usaha pemakaman membuat ejekan terhadapnya makin deras. Seolah belum cukup, kehidupan Riana dipenuhi bencana. Pasca rumahnya habis terbakar, Riana sekeluarga tinggal di kediaman Oom Johan (Willem Bevers). Tidak berapa lama, Oom Johan tewas dalam kecelakaan pesawat.

Sebagai kolektor barang antik bernuansa mistis dari seluruh dunia, rumah Oom Johan pun banyak diisi benda-benda mengerikan, termasuk boneka yang Riana temukan dan ia beri nama Riani. Bagi Riana, Riani merupakan satu-satunya teman. Tapi sejak keberadaan Riani, sikap Riana berubah aneh. Dia tak lagi bicara, kerap melakukan gestur aneh, bahkan mampu menggerakkan barang-barang. Kondisi tersebut berlanjut hingga ia dewasa.

Saya lega ketika filmnya melompat ke masa remaja Riana, sebab sosok Riana kecil benar-benar sulit disaksikan. Saya takkan menyalahkan Jessiana, karena jangankan aktris cilik sepertinya, pelakon berpengalaman pun akan kesulitan menyampaikan deretan dialog kaku milik naskah buatan Billy bersama Andy Oesman. Ketika pemain cilik berakting buruk, maka bobot kesalahan terbesar ada di dua aspek: Naskah yang tak memahami bagaimana anak kecil bersikap dan sutradara yang kurang jeli mengarahkan. Bukan berarti Riana remaja (The Sacred Riana) tampil superior, sebab ia tertolong kekhasan karakternya, yang lebih banyak diam.

Suatu hari, setelah absen beberapa waktu dari sekolah, Riana dikunjungi guru BP-nya, Klara (Aura Kasih). Lega rasanya mendapati Klara bukan satu lagi tokoh psikolog klise yang skeptis akan fenomena mistis. Tidak hanya percaya, Klara bahkan familiar dengan hal berbau supranatural. Di kunjungan berikutnya, dia mengajak serta tiga anak didiknya, Lusi (Agatha Chelsea), Hendro (Angrean Ken), dan Anggi (Ciara Nadine Brosnan). Kelak diketahui, ketiganya pun memiliki kelebihan, yang sebelum bertemu Klara, sempat membuat mereka dikucilkan layaknya Riana.

Mengumpulkan sederet remaja indigo berkemampuan berbeda berpotensi melahirkan kesegaran. The Sacred Riana: Beginning bisa saja dibungkus layaknya X-Men dengan sentuhan horor supranatural (Ya, seperti film “satu itu” yang kemungkinan takkan pernah dirilis). Didukung musik gubahan Andi Rianto (30 Hari Mencari Cinta, Arisan!, Critical Eleven), film ini kadang terasa bagai kisah fantasi kelam khususnya Billy beberapa kali memilih menekankan aura keajaiban ketimbang kengerian.

Sungguh sayang, di mayoritas waktu, The Sacred Riana: Beginning masih tergoda untuk berjalan di jalur horor lokal formulaik, tepatnya pasca pengenalan Bava Gogh (Carlos Camelo), pembunuh berantai dengan korban anak-anak, yang tak berhenti menebar teror bahkan setelah meregang nyawa. Bava Gogh punya tampilan unik berkat dandanan ala Eropa dari period era, namun kemunculannya gagal menebar teror akibat gaya akting over-the-top konyol sang aktor.

Dari cerita menjanjikan soal remaja korban perundungan yang bergulat dengan bakatnya, film ini beralih menuju repetisi melelahkan, ketika satu demi satu karakter jadi korban teror Bava Gogh (serta hantu-hantu lain), berteriak, jatuh ketakutan, sebelum dihampiri karakter lain yang hendak menolong sambil meneriakkan namanya. Satu lagi adegan “andalan” The Sacred Riana: Beginning adalah “sesi curhat” penuh pilihan kalimat membosankan, selaku wujud terapi dari Klara terhadap keempat anak didiknya. Pola itu terus diulang, hingga mencapai pertengahan durasi, saya curiga bahwa para penulisnya lupa kalau film ini berjudul The Sacred Riana, karena Riana sendiri menghilang cukup lama dan baru kembali beberapa saat jelang babak ketiga.

Jurang pembeda The Sacred Riana: Beginning dengan horor lokal beralur tipis kebanyakan adalah saat Billy konsisten mempresentasikan ide menarik seputar metode menakut-nakuti. Tidak selalu mengerikan atau mengejutkan, tapi paling tidak saya beberapa kali dibuat tersenyum, terhibur oleh kreativitas Billy, sebagaimana dicontohkan satu momen yang memanfaatkan sebuah lukisan.

Ironisnya, penyebab kegagalan film ini menelurkan teror mengerikan juga Billy sendiri, tepatnya ketidakmampuan sang sutradara menangani sekuen beroktan tinggi. Kebanyakan gambarnya cantik, pun mudah mengambil banyak photo still menarik dari film ini. Tapi kondisi berubah kala terjadi pergerakan, baik dari kamera maupun objek (termasuk manusia) di layar. Nyaris tiada intensitas, entah disebabkan gerak kamera yang terlampau pelan atau terlambat menangkap momentum. Sederhananya, Billy jago mengambil gambar diam daripada gambar bergerak. Tunggu, tapi bukankah film sendiri merupakan "gambar bergerak"?