Tampilkan postingan dengan label Alexa Key. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alexa Key. Tampilkan semua postingan
SWEET 20 (2017)
Rasyidharry
Lebaran bukan melulu soal agama, juga momen
berharga di mana bagi sebagian orang jadi kesempatan langka bertemu keluarga
besar. Mereka bercengkerama, bertukar cerita, tertawa bahagia. Lebaran adalah
liburan. Liburan yang (semestinya) hangat dan menyenangkan. Sehingga "film
lebaran" menjadi sempurna apabila mampu menimbulkan rasa-rasa tersebut
sekaligus bisa ditonton bersama orang-orang tercinta. Sambutlah Sweet 20, satu dari lima remake (ada tiga lagi sedang dipersiapkan) drama-komedi asal
Korea Selatan, Miss Granny, yang niscaya
bakal melambungkan Tatjana Saphira ke jajaran lead actress papan atas.
Adaptasi naskah oleh Upi tak sekedar melakukan
alih bahasa, juga budaya termasuk menempatkan adat sungkeman keluarga kala lebaran yang dilakukan tokoh Fatmawati
(Niniek L. Karim) beserta anak tunggal kesayangannya yang kini sukses menjadi
dosen, Aditya (Lukman Sardi), Salma (Cut Mini) si menantu yang gemar ia kritisi,
juga kedua cucunya, Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key). Kecerewetan
Fatmawati rupanya acap menghadirkan kesulitan, yang akhirnya menyulut wacana
memasukkan sang nenek ke panti jompo.
First act mengenai ujian terhadap
ikatan kasih keluarga kemudian berpindah menyinggung ranah fantasi (genre yang sulit dieksekusi baik dalam
perfilman kita) pada second act
ketika Fatmawati yang terpukul mendengar niat anak-cucunya tadi menemukan
studio foto milik seorang pria tua (Henky Solaiman). Harapan mendapat foto cantik
untuk pemakaman malah memberi keajaiban. Fatmawati kembali bak gadis berusia 20
tahun (diperankan Tatjana Saphira). Mengadopsi nama aktris favoritnya (Mieke
Wijaya), Fatmawati berharap menggapai mimpi masa mudanya yang dahulu urung
tercapai akibat jerat kemiskinan.
Jujur saja, sebelum ini saya cenderung
meragukan kapasitas Tatjana akibat ekspresi maupun luapan emosi tanggung dalam
berakting. Peran sebagai Fatmawati/Mieke membawanya naik kelas, dari aktris
muda berparas ayu menuju pemeran utama kompeten. Aksinya penuh semangat, jago
menangani momen komedik entah melalui raut wajah menggelitik sampai gaya bicara
bagai wanita tua sembari tetap solid melakoni porsi dramatik. Tatjana tidak
terjebak untuk berlebihan tampil konyol supaya nampak lucu. Sebaliknya, kelincahan
berenergi miliknya menguatkan penokohan selaku tingkah wajar Fatmawati kala
mendapat lagi gelora dan tenaga yang telah lama hilang. Fatmawati is excited to chase her old dream and we can easily feel that
excitement.
Bukan sang aktris saja, sutradara Ody C.
Harahap (Me vs. Mami, Kapan Kawin?,
Skakmat) dan Upi sebagai penulis naskah pun saling melengkapi, berujung
pencapaian terbaik sepanjang karir masing-masing. Ramuan komedi Upi sempurna divisualisasikan
oleh Ody melalui pendekatan “makin kacau makin baik” semisal saat Hamzah (Slamet
Rahardjo), si kakek yang terpikat pada Fatmawati berteriak ketakutan setengah
mati menaiki wahana Dunia Fantasi, hingga gemasnya Hamzah bersama Mieke
menonton sinetron di televisi. Demikian pula paparan drama. Upi konsisten memberi
latar (kenangan, kasih sayang keluarga, persahabatan tak terucapkan) dalam tiap
kesedihan atau haru, bukan dramatisasi asal guna memaksa mengucurkan air mata penonton.
Di sinilah Ody melakukan hal yang sutradara
kelas satu pun belum tentu sanggup: memuluskan perpindahan tone. Lompatannya tak tergesa-gesa berkat keberadaan transisi
memadahi, pandai juga ia mengatur dinamika melalui kecermatan menaikturunkan
intensitas rasa. Sang sutradara paham kapan pembangunan emosi dilakukan, kapan hook dilemparkan, kapan mesti menetap di
satu momen, kapan waktunya berpindah ke momen lain. Alhasil baik tawa atau
tangis tersaji total, urung terkikis kekuatannya.
Kembali ke naskah, Upi berhasil
memaksimalkan karakter pendukung yang tidak sedikit. Secara natural
semua diberi porsi mencuri perhatian berkat penempatan tepat di mana seorang
tokoh mendapat fokus karena memang sudah tiba waktunya hadir mengisi sentral. Kelebihan ini mendukung fakta Sweet 20 diisi ensemble cast
yang bermain apik. Slamet Rahardjo terlihat bersenang-senang menjadi kakek centil sambil mempertahankan bobot
akting, Widyawati Sophiaan yang “menggila” dan tidak kalah centil, Lukman Sardi
yang menyentuh hati dalam klimaks emosi film, sampai sejumlah memorable cameo sebutlah Joe P Project
dan Karina Nadila. Bakal terlampau panjang membahas kualitas para penampil sebab nama-nama seperti Cut Mini, Morgan Oey, Kevin Julio, hingga Tika
Panggabean tak kalah memikat.
Sisi artistik Sweet 20 juga ikut melengkapi, memuaskan mata dan telinga melalui nuansa retro yang
cakap ditunjukkan lewat kostum serta tata rias yang dikenakan Tatjana, pemilihan
warna-warni indoor setting, juga
penggunaan lagu-lagu klasik macam Payung
Fantasi dan Bing. Memikat luar-dalam di segala aspek, Sweet 20 akan mengobrak-abrik tembok perasaan anda, jadi apabila sepanjang liburan lebaran hanya satu film sempat ditonton, pastikan pilihan jatuh pada film ini. The best Indonesian movie of the year by far.
Juni 28, 2017
Alexa Key
,
Comedy
,
Cut Mini
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Kevin Julio
,
Lukman Sardi
,
Morgan Oey
,
Niniek L. Karim
,
Ody C. Harahap
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Slamet Rahardjo
,
Tatjana Saphira
,
Upi
,
Widyawati Sophiaan
Langganan:
Postingan
(
Atom
)




