Tampilkan postingan dengan label Ben Mendelsohn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ben Mendelsohn. Tampilkan semua postingan

SPIES IN DISGUISE (2019)

Spies in Disguise mengusung tema anti-kekerasan yang terlalu naif jika diterapkan di realita. Menurutnya, guna menumpas teroris, sebaiknya kita tidak menyakiti mereka. Tapi mengingat filmnya ditujukan bagi penonton usia muda, nilai berbunyi “jangan membalas kekerasan dengan kekerasan” memang perlu diajarkan. Sedangkan bagi kalangan dewasa, secara filmis, animasi yang menandai kembalinya Will Smith mengisi suara sejak Shark Tale 15 tahun lalu ini, di luar dugaan menawarkan lebih dari sekadar tontonan kekanak-kanakkan sebagaimana disiratkan trailer-nya.

Selepas sekuen animasi pembuka ala seri James Bond, film yang kisahnya bersifat adaptasi lepas dari film pendek Pigeon: Impossible (2009) ini memperkenalkan kita pada dua tokoh utamanya: Lance Sterling (Will Smith) si agen rahasia terbaik dan Walter Beckett (Tom Holland) si jenius yang kerap dianggap aneh. Kehebatan Lance menjadikannya begitu dipuja. Saat tiba di markas, orang-orang menyambutnya bak megabintang. Hingga dalam suatu misi, ia dijebak oleh  teroris bernama Killian (Ben Mendelsohn), kemudian dituduh membelot dan jadi buronan.

Jika Lance merupakan James Bond, maka Walter adalah Q yang bertugas mendesain peralatan-peralatan canggih. Tapi prinsip anti-kekerasan Walter, yang kerap melahirkan senjata aneh (ia mengganti peledak dengan pelontar glitter berisi endorphin), sehingga dipandang remeh juga dijauhi. Sikap tersebut bukan tanpa sebab. Ibu Walter yang berprofesi sebagai polisi tewas di tengah tugas kala ia masih kecil. Sekarang Walter muncul bersama penemuan yang mampu menghilangkan tubuh seseorang, dan itulah harapan Lance untuk menghentikan rencana Killian sekaligus membersihkan namanya.

Hanya saja temuan itu belum sempurna, dan alih-alih tak terlihat, tubuh Lance berubah jadi seekor merpati. Pengembangan dari premis “merpati dalam koper agen rahasia” milik film pendeknya ke arah “agen rahasia yang menjadi merpati” menjanjikan keunikan. Tantangan berikutnya tinggal sejauh mana naskahnya kreatif bereksplorasi. Setidaknya di konteks hiburan, duo penulis Brad Copeland dan Lloyd Taylor mampu memproduksi komedi yang efektif. Memanfaatkan karkateristik fisik merpati (mata kosong, tampang bodoh), layaknya ayam (ingat Heihei di Moana?), hewan satu ini terbukti ampuh sebagai amunisi humor absurd, yang menyuntikkan banyak warna di tengah perjuangan Lance beradaptasi melangsungkan misi dengan tubuh barunya.

Terkait alur, Spies in Disguise tidaklah spesial, tetap berpijak pada formula. Ada potensi misteri seputar “Benarkah Killian yang menjebak Lance? Bagaimana caranya?”, namun para penulis memilih mengesampingkannya. Keputusan itu sebenarnya dapat dipahami, karena jika tak dibarengi modifikasi, lalu memaksa menyimpan rahasia yang jawabannya bisa penonton raba sejak awal, hasilnya bakal mengecewakan. Sedangkan pesan selaku pondasi kisahnya disampaikan secara solid. Walter dan Killian sama-sama menyimpan alasan atas pilihan mereka, yang tertaut pada pemikiran “kekerasan menyebabkan kematian, kematian melahirkan dendam, dendam memicu kematian lain”. Penonton jadi bisa melihat dua kutub berlawanan mengenai proses menyikapi kekerasan, di mana Lance berada di tengah-tengah.

Jajaran pengisi suara merupakan kekuatan lain Spies in Disguise. Sesosok pria tampan, necis, berkarisma, penuh kepercayaan diri, idola banyak orang. Sulit dipastikan bukan, apakah saya sedang mendeskripsikan Will Smith atau Lance Sterling? Itulah alasan The Fresh Prince sempurna menyuarakan sang agen rahasia. Demikian pula jika saya menyebut “pemuda canggung banyak omong”. Tom Holland atau Walter Beckett? Ditambah kesan intimidatif yang dibawakan oleh Ben Mendelsohn, tampak betul ketepatan filmnya dalam menentukan pengisi suara.

Spies in Disguise sekadar animasi layak tonton sebelum klimaks tiba. Apakah perspektif Walter bisa menciptakan perdamaian dunia? Entahlah. Pastinya itu membuat sekuen aksi puncaknya jauh lebih menarik tatkala senjata-senjata tidak lazim miliknya menggantikan senapan konvensional dan granat. Ketimbang ledakan api bombastis, semburan asap warni-warni justru menghiasi layar. Pun di kursi penyutradaraan, duet Troy Quane-Nick Bruno tidak asal menjalin aksi bertempo cepat, tapi turut memperhatikan intensitas dan urgensi. Cukup menegangkan bagi penonton dewasa melihat nyawa ratusan orang terancam sementara para jagoan didesak sampai ke batas kemampuan mereka, namun tak sampai terlalu kelam apalagi menakutkan untuk anak sebab selipan humor masih setia menemani. Presisi yang tidak selalu ada di film animasi semua umur.

CAPTAIN MARVEL (2019)

Melalui Captain Marvel, Marvel Studios membuktikan penguasaan mereka terhadap formula pengenalan karakter. Dirilis tak sampai dua bulan sebelum Avengers: Endgame, salah satu tujuan utama film ini adalah memperkenalkan protagonis yang mudah penonton cintai, juga suar harapan bagi kompatriotnya sesama pahlawan super pasca Thanos menghapus separuh kehidupan alam semesta. Terkait tujuan tersebut, Captain Marvel melaksanakan tugasnya dengan baik.

Tapi film kedua puluh satu MCU ini justru menampakkan lubang franchise-nya. Sejak Avengers: Age of Ultron, Marvel Studios telah belajar untuk tidak menyulap judul standalone menjadi ladang menanam benih bagi sekuel. Rupanya masalah lain—yang bukan sepenuhnya baru—muncul di sini, di mana haram hukumnya bila “film individu” lebih, atau sama masifnya dibanding “film tim”.

Mengusung kisah berskala lokal (soal intrik di Wakanda), Black Panther terselamatkan dari kendala di atas, sementara Ant-Man and the Wasp terhindar karena sejak awal penciptaannya, seri Ant-Man memang khusus berkutat di skala kecil. Namun tatkala sebuah film menampilkan mantan pemimpin Avengers (di komik tentu saja) yang mempunyai level kekuatan tertinggi (“off the charts” jika meminjam pernyataan Kevin Feige), masalah tadi jadi menonjol.

Satu hal yang tak menyulut keluhan dalam benak saya adalah sosok Captain Marvel a.k.a. Carol Danvers (Brie Larson) sendiri. Carol merupakan anggota Starforce, unit militer milik Kree, ras alien dari planet Hala, yang telah sekian lama terlibat perang melawan Skrull, alien dengan kemampuan meniru wujud orang lain yang dipimpin Talos (Ben Mendelsohn). Carol berlatih di bawah bimbingan Yon-Rogg (Jude Law), yang selalu mengingatkannya agar tak membiarkan dirinya dikuasai letupan emosi. Sebab konflik batin tak pernah berhenti bergejolak dalam hati Carol. Dia kehilangan ingatan masa lalu, hanya melihat kilatan-kilatan memori berisi wajah-wajah serta kehidupan asing.

Kita tahu Carol berasal dari Bumi, dan saya makin tak sabar menantikannya pulang ketika first act filmnya tampil lemah. Hubungan guru-murid maupun persahabatannya dengan Yon-Rogg urung tampak meyakinkan, sedangkan deretan aksi yang berpusat pada pertempuran dua bangsa alien (buku Kree-Skrull War termasuk sumber adaptasi) dibungkus oleh pasangan sutradara Anna Boden-Ryan Fleck (Sugar, Mississppi Grind) lewat camerawork, mise-en-scène, plus koreografi yang menghalangi penontonnya melihat keseluruhan peristiwa. Pun seringkali, aksinya bergulir buru-buru bak pemenuh durasi semata.

Sampai fokusnya berpindah ke Bumi, barulah Captain Marvel menemukan pijakan. Aksinya membaik, meski jauh dari memorable. Setidaknya terselip paparan drama solid, pun akhirnya kita bertatap muka dengan Nick Fury (Samuel L. Jackson dalam balutan teknologi de-aging meyakinkan). Pertukaran kelakar antara Fury dengan Carol kerap melahirkan hiburan brilian berkat beberapa lelucon cerdik dalam naskah tulisan Anna Boden dan Ryan Fleck bersama Geneva Robertson-Dworet (Tomb Raider), termasuk kemunculan kucing menggemaskan bernama Goose yang bakal menjawab sebuah misteri kehidupan, “Mengapa hewan lucu satu ini sering bersikap aneh?”.

Akhirnya kita berkesempatan melihat Samuel L. Jackson memamerkan talenta bercelotehnya di film MCU secara layak, sedangkan Brie Larson menghadirkan performa yang mampu menampar telak para pembencinya. Pihak-pihak penebar komentar bernada miring soal pelitnya senyuman Captain Marvel silahkan berjongkok di sudut ruangan meratapi hidup kalian yang menyedihkan, sebab Brie Larson telah melahirkan salah satu pahlawan super dengan ekspresi paling kaya. Sang aktris piawai menangani humor baik verbal atau non-verbal, juga memiliki bobot akting dramatik yang berada di jajaran teratas di antara deretan pelakon MCU.

Terkait Carol Danvers selaku figur pahlawan, terdapat sebuah momen yang amat saya sukai ketika ia terlibat pembicaraan dengan Monica Rambeau (Akira Akbar)—puteri sahabatnya, Maria Rambeau (Lashana Lynch)—yang di komik sempat menyandang nama Captain Marvel sebelum Carol. Cara Brie menangani adegan itu, bagaimana ia tersenyum, bagaimana bahasa tubuhnya bicara, mencerminkan sosok pahlawan yang “dekat”, sehingga begitu gampang dicintai publik.

Sudah barang tentu elemen feminisme turut dialirkan dalam DNA kisahnya, yang membahas seringnya Carol, sebagai wanita, dianggap tak pantas berada di suatu tempat atau melakukan aktivitas tertentu. Sayang, alih-alih menjadi akar, elemen itu berakhir sebatas satu dari sekian banyak cabang, urung mengambil alih pusat sehingga terkesan sambil lalu. Biar demikian, secara khusus saya mengagumi sekuen kala Carol—dari berbagai fase kehidupannya—digambarkan acap kali terjatuh namun senantiasa kembali berdiri tegak.

Berangkat dari skena indie, kedua sutradara terbukti lebih solid mengharahkan momen drama low-key, seperti obrolan emosional Carol dan Maria. Tapi soal sekuen aksi lain cerita. Seperti telah disinggung sebelumnya, pekerjaan rumah mereka masih menumpuk. Hampir semua pertempuran takkan melekat lama di ingatan kecuali klimaks eksplosif penuh kilatan cahaya, yang meskipun sekali lagi stake-nya terlampau rendah, cukup efektif menegaskan peran Carol sebagai senjata pamungkas Avengers. Belum merasa cukup? Nantikan mid-credits scene yang seketika menggandakan ketidaksabaran menantikan Avengers: Endgame bulan depan.

ROBIN HOOD (2018)

Para purist akan menyebut Robin Hood—sebagaimana King Arthur: Legend of the Sword (2017)—produk hina penuh dosa akibat keengganannya setia pada gaya tradisional. Padahal filmnya sendiri sudah meminta, “Lupakan sejarah dan kisah pengantar tidur yang kalian kenal”. Jadi apa perlunya kita meminta sesuatu yang jelas-jelas tidak coba filmnya raih? Robin Hood merupakan modernisasi yang meski tidak luar biasa maupun cerdas, namun menyenangkan pula efektif. Terima saja kenyataan itu.

Sang bangsawan muda, Robin of Loxley (Taron Egerton), menerima perintah wajib militer dari Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn), di mana ia mesti terjun ke Perang Salib, memaksanya meninggalkan kehidupan mewah serta cintanya, Marian (Eve Hewson). Otto Bathurst, dalam debut penyutradaraan layar lebarnya, mengemas Perang Salib layaknya Perang Irak dengan parade “boom bang”. Para prajurit mengangkat busur panah seperti senapan, dan pihak lawan menghujani mereka dengan crossbow seolah benda itu adalah senapan mesin. Dan saya mengaguminya.

Robin, yang sejatinya pemuda berhati mulia, terganggu menyaksikan rekan-rekannya membantai tawanan perang secara keji. Dia pun memberontak hingga dikirim kembali ke Nottingham. Salah satu tawanan, Yahya alias John (Jamie Foxx), setelah melihat sang putera dipenggal di depan matanya, merencanakan kudeta. John memutuskan diam-diam mengikuti Robin kembali ke Nottingham. Bagaimana John bisa bersembunyi selama tiga bulan di bawah geladak? Bagaimana ia makan dan minum?

Tidak perlu mempertanyakan itu, sebab ketika otak anda sibuk memikirkan setumpuk lubang alurnya, film ini, yang bergerak dalam tempo cepat, telah mencapai destinasi: Nottingham, yang sekarang telah jauh berubah. Di bawah perintah Sheriff, semua penduduk dipindahkan ke tambang untuk bekerja paksa, termasuk Marian yang kini menjalin kasih dengan Will (Jamie Dornan), sebab nama Robin tertera dalam daftar buatan Sheriff of Nottingham perihal prajurit yang gugur dua tahun lalu (Robin pergi selama empat tahun).

Bukan saja urusan kerja, pemaksaan Sheriff of Nottingham juga terjadi perihal pembayaran pajak yang terlampau tinggi. Konon pajak itu dipakai mendanai Perang Salib.  Didorong hasrat balas dendam dan patah hati, Robin, dengan bantuan John yang mengajarinya teknik memanah tingkat lanjut, berubah menjadi “The Hood” yang terkenal lewat aksinya mencuri dari para bangsawan guna dibagikan kepada rakyat miskin. Sedangkan sebagai bangsawan Robin of Loxley, dia coba memenangkan hati Sheriff, untuk mengungkap siapa dalang di balik kediktatoran kejam ini.

Tentu alur dalam naskah buatan Ben Chandler dan David James Kelly tipis sekaligus penuh lubang. Salah satunya lagi-lagi melibatkan perjalanan jalur air menuju Nottingham. Bagaimana bisa para Crusaders (termasuk “kawan lama” Robin di medan perang) tiba sedemikian cepat guna menjadi kaki tangan Sheriff meski jarak tempuhnya memakan waktu tiga bulan? Tapi lagi-lagi, sungguh buang-buang waktu menyibukkan pikiran dengan pertanyaan tersebut ketika Bathurst sibuk mempersembahkan banyak aksi menghibur.

Gerak lambat, musik bombastis buatan Joseph Trapanese (dwilogi The Raid, The Greatest Showman), ledakan-ledakan, set piece raksasa, sampai aksi tembak-menembak panah super cepat dengan koreografi yang mengingatkan saya akan gun fu milik John Woo, semua merupakan usaha modernisasi untuk tuturan medieval yang bagi penonton sekarang rasanya sudah ketinggalan zaman. Aksi-aksinya takkan membuat jantung berdegup keras, namun setidaknnya, mampu menyunggingkan senyum puas.

Robin Hood merupakan film di mana protagonisnya bertarung demi merebut cintanya lagi sembari meruntuhkan pemerintahan korup. Bagaimana saya tidak mendukungnya? Apalagi saat Taron Egerton enggan berusaha terlalu keras tampak keren (yang acap kali menyulut penampilan kaku seorang aktor), membiarkan gaya asyiknya terhampar lepas. Ketika Ben Mendelsohn melakoni pekerjaan langganannya (baca: memerankan pejabat biadab), Eve Hewson yang juga puteri Bono U2, akan mencuri hati penonton sebagaimana yang ia perbuat pada Robin.

Film ini bukan pelajaran sejarah, bukan adaptasi legenda yang setia terhadap sumbernya, bukan blockbuster yang berkesempatan unjuk gigi di ajang penghargaan, bukan pula interpretasi bergaya gritty realism layaknya versi Ridley Scott 8 tahun lalu, yang sejatinya jauh lebih ngawur (Robin Hodd tanpa tudung dan panah???). Film ini adalah hiburan sekali waktu. Cukup terima kenyataan tersebut.

READY PLAYER ONE (2018)

Pada 2045 saat dunia menjadi kumuh akibat overpopulasi, polusi, korupsi, dan perubahan iklim, umat manusia memilih “kabur” ke OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation), dunia virtual ciptaan James Halliday (Mark Rylance) yang dapat diakses memakai kacamata VR, di mana seseorang bebas menjadi siapa saja serta melakukan apa saja. Pada 2018 saat dunia kerap lupa bersenang-senang, umat manusia mestinya “kabur” ke Ready Player One, dunia imajinatif ciptaan Steven Spielberg, yang sebaiknya dinikmati memakai kacamata 3D. Kostum XI dapat memaksimalkan sensasi OASIS yang karakternya alami,  sedangkan format 4DX menghasilkan efek serupa bagi filmnya.

Berasal dari novel fenomenal berjudul sama buatan Ernest Cline (juga selaku penulis naskah bersama Zak Penn) yang dipenuhi referensi kultur populer 80-an, jelas tak ada yang lebih pantas menggarap adaptasi layar lebarnya selain Spielberg. Pertama, ia termasuk sosok paling berpengaruh yang membentuk kultur populer masa itu lewat trilogi Indiana Jones (1981-1989), sampai E.T. the Extra-Terrestrial (1982). Kedua, tidak ada sutradara sehebat dirinya perihal merangkai hiburan visioner kental kreativitas bertabur efek spesial berskala besar. Sekali lagi, TIDAK ADA.
Wade Watts (Tye Sheridan), bocah yatim piatu berusia 18 tahun yang tinggal di pemukiman kumuh di Columbus, Ohio, merupakan protagonis kita. Seperti orang-orang yang lebih betah memamerkan diri di dunia maya (baca: sosial media) karena merasa sosok aslinya payah, Wade pun menghabiskan mayoritas waktunya di OASIS. Menggunakan avatar bernama Parzival, Wade mengikuti kompetisi mencari easter eggs yang ditinggalkan Halliday sebelum meninggal. Si pemenang bakal mewarisi kepemilikan OASIS plus hadiah-hadiah lain. Masalahnya, rintangan yang mesti dihadapi teramat sulit, belum lagi ancaman dari Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) beserta perusahaan penyedia peralatan VR miliknya, IOI (Innovative Online Industries), yang berambisi menguasai OASIS.

Saya berharap Ready Player One meluangkan sedikit lagi waktu menyelami dunia maupun karakternya lebih jauh, namun kehebatan Spielberg merangkai spectacle membuat saya tidak keberatan langsung terjun ke dalam aksi bombastis sejak menit awal. Balapan melintasi versi OASIS untuk New York di mana bola-bola besi raksasa, T-Rex, hingga King Kong telah menanti guna menggagalkan usaha menemukan easter eggs. Ini baru tahap pertama, tapi itu urung memudahkan perjuangan Parzival dengan mobil “Back to the Future” miliknya menembus garis akhir. Begitu pula Art3mis (Olivia Cooke), sosok pemain terkenal pengendara motor merah dari animasi Akira yang jadi pujaan Parzival.

Balapan tersebut membuktikan betapa Spielberg paham cara membangun tensi. Reruntuhan gedung yang membuat mobil saling bertabrakan, amukan King Kong yang menghancurkan kendaraan pemain layaknya mainan plastik murahan, bukan sekedar pawai CGI. Terdapat dimensi, bobot, alih-alih gambar rekayasa komputer yang beterbangan tanpa massa tubuh. Berkatnya, kesan bahwa para tokoh sungguh terancam bahaya pun terasa. Menegangkan, tetapi Spielberg tak pernah lalai menyuntikkan nuansa senang-senang.
Ready Player One mengajak kita merayakan hidup, baik di dunia nyata maupun maya. Keseimbangan itu dibutuhakan. Spielberg wants us to know what it feels like to live our lives at its fullest. Caranya adalah meniadakan set piece yang sifatnya filler. Total ada 3 kunci diperlukan demi mendapatkan hadiah dari Halliday, dan tiap fase pencarian kunci mengandung momen penyulut decak kagum dan sorak sorai berupa visualisasi kelas wahid Spielberg terhadap ide tertulis Cline. Di tangan Spielberg, hal terpenting bukan “ada berapa tokoh dan/atau referensi budaya populer?”, melainkan bagaimana semua dirangkum menjadi adegan solid. Pun naskahnya meniadakan kesan “pamer”, sehingga tur mengelilingi Hotel Overlook, lantai dansa nol gravitasi dilengkapi lagu Stayin’ Alive, sampai pergumulan “tiga raksasa” di klimaks bak fase alamiah yang wajib alurnya lalui.

Tetap ada cela. Sebagai film mengenai ajakan agar tak melupakan realita, adegan “dunia nyata” film ini kekurangan daya pikat. Saya merasa seperti manusia-manusia di dalamnya yang memilih kehidupan OASIS ketimbang kenyataan. Satu-satunya momen (mendekati) realita yang tampil menarik terletak menjelang akhir, Mark Rylance memperlihatkan akting kaya sensitivitas sebagai Halliday, si pria jenius yang introvert pula canggung soal sosialisasi. Namun di kemunculan pamungkasnya, dibalut kehangatan ala Spielberg, Rylance menunjukkan bahwa Halliday telah berubah. Lebih dewasa, lebih matang, lebih bijak. Kita semua mampu mengalami perubahan serupa asal tidak terlampau lama menetap di dunia maya.

DARKEST HOUR (2017)

Orasi dalam film sering dipakai selaku alat penyulut emosi, dan Darkest Hour adalah film di mana orasi mendominasi, menjadi pondasi alur. Masuk akal, mengingat karya teranyar Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, Anna Karenina) ini mengisahkan sosok Winston Churchill (Gary Oldman) yang dikenal sebagai orator handal. Tidak ada yang bisa merangkai kata sebaik dirinya. Setidaknya menurut sang sekretaris, Elizabeth Layton (Lily James). Pernyataan itu sulit disangkal. Suatu ketika Lord Privy Seal menelepon kala Churchill sedang berada di toilet. Responnya menggelitik: “Please tell the Privy Seal that I’m sealed in the privy and I can only deal with one shit at a time”. 

Anthony McCarten menyelipkan humor dalam naskahnya, entah permainan kata seperti di atas atau comedy of manners sebagaimana nampak di pertemuan  canggung Churchill dan Raja George VI (Ben Mendelsohn) pasca ia ditunjuk selaku Perdana Menteri menggantikan Neville Chamberlain (Ronald Pickup) di masa Perang Dunia II . Neville mungkin Perdana Menteri yang baik kala damai, namun lain cerita di tengah peperangan. Churchill dengan kegigihan untuk maju menghadang Nazi pun dipilih, meski banyak pihak meragukan kapasitasnya, terlebih pasca Gallipoli yang memakan korban ratusan ribu pasukan Inggris.
Darkest Hour bersedia menyibak kelemahan Churchill. Ketika Viscount Halifax (Stephen Dillane) terang-terangan menyebut tragedi Gallipoli diakibatkan keputusan Churchill tepat di depan matanya, terbersit keraguan di respon sang Perdana Menteri, walau ia tetap berkelit menolak disalahkan. Mungkin jauh dalam hati kecilnya, Churchill menyadari telah berbuat salah. Dia bermental baja, pantang menyerah, keras kepala, tapi bukannya mustahil dirobohkan. Mencapai satu titik, Churchill sempat terjerembab ke lubang gelap, ketakutan, meragu, bahkan kehilangan kata-kata yang mana adalah keahliannya.

Churchill terbentur dilema. Terus melawan dengan resiko makin banyak nyawa prajurit melayang, atau setuju berdamai yang berarti membuka jalan Nazi makin berkuasa, dan kemungkinan besar melucuti kemerdekaan Inggris. Banyak film membawa kita ke tengah medan perang. Di sana, wajah politikus dan pemegang tampuk kekuasaan selalu sama: orang-orang tanpa hati yang mengirim prajurit untuk mati sedangkan mereka bersembunyi di balik benteng tebal di rumah sendiri. Darkest Hour menyuguhkan perspektif lain, menyoroti yang terjadi di ruang Parlemen, apa yang dilakukan pria-pria berjas selaku pemilik kekuasaan.
Persoalan di balik layar ini mampu mengaduk rasa lewat pidato Churchill yang seolah mampu menggerakkan api perjuangan rakyat. Wright, dalam salah satu penyutradaraan terbaiknya, menyulap orasi di rapat Parlemen yang remang-remang atau siaran radio di bawah siraman lampu merah jadi momen mencengkeram dada. Musik Dario Marianelli membantu mengangkat emosi sembari tetap menjadi keping estetika yang dapat dinikmati sendiri, sementara sinematografi Bruno Delbonnel menghadirkan sekuen luar biasa kuat yang kemunculannya tak terduga (petunjuk: melibatkan mata jenazah). Dramatisasi Wright efektif, keputusan menyelipkan adegan fiktif manipulatif sewaktu Churchill menemui rakyat di kereta bawah tanah pun bisa dimaklumi. Bahkan adegan itu adalah poros emosi yang memberi cukup latar belakang terkait keputusan Churchill.

Selain Wright, Gary Oldman turut melakukan dramatisasi. Bila anda mendengar rekamannya, orasi Churchill menggugah namun tak sedemikian berapi-api layaknya Oldman. Dampaknya sempurna. Tiap kali ia mulai bertutur, seketika itu pula hati ini seperti diremas-remas, terhanyut oleh kecerdikannya menyusun kata sekaligus tersulut berkat semangatnya. Bukan itu saja, Oldman sampai pada tingkat teratas seni peran, di mana ia merasuk begitu dalam, menyatu dengan tokoh yang dimainkan, hingga gestur-gestur kecil macam getaran bibir (beberapa kali ditonjolkan oleh Wright melalui close up) muncul secara alami selaku bagian dirinya. This is a performance so good it makes me cry. Wanita-wanita di sekitar Churchill pun memikat, dari Lily James si sekretaris sampai Kristin Scott Thomas sebagai istri Churchill, Clementine, yang meniupkan sepintas romantisme hangat.