Tampilkan postingan dengan label Lashana Lynch. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lashana Lynch. Tampilkan semua postingan
CAPTAIN MARVEL (2019)
Rasyidharry
Melalui Captain Marvel, Marvel Studios membuktikan penguasaan mereka
terhadap formula pengenalan karakter. Dirilis tak sampai dua bulan sebelum Avengers: Endgame, salah satu tujuan
utama film ini adalah memperkenalkan protagonis yang mudah penonton cintai,
juga suar harapan bagi kompatriotnya sesama pahlawan super pasca Thanos
menghapus separuh kehidupan alam semesta. Terkait tujuan tersebut, Captain Marvel melaksanakan tugasnya
dengan baik.
Tapi film kedua puluh satu MCU ini
justru menampakkan lubang franchise-nya.
Sejak Avengers: Age of Ultron, Marvel
Studios telah belajar untuk tidak menyulap judul standalone menjadi ladang menanam benih bagi sekuel. Rupanya
masalah lain—yang bukan sepenuhnya baru—muncul di sini, di mana haram hukumnya
bila “film individu” lebih, atau sama masifnya dibanding “film tim”.
Mengusung kisah berskala lokal
(soal intrik di Wakanda), Black Panther
terselamatkan dari kendala di atas, sementara Ant-Man and the Wasp terhindar karena sejak awal penciptaannya,
seri Ant-Man memang khusus berkutat
di skala kecil. Namun tatkala sebuah film menampilkan mantan pemimpin Avengers
(di komik tentu saja) yang mempunyai level kekuatan tertinggi (“off the charts” jika meminjam pernyataan
Kevin Feige), masalah tadi jadi menonjol.
Satu hal yang tak menyulut
keluhan dalam benak saya adalah sosok Captain Marvel a.k.a. Carol Danvers (Brie
Larson) sendiri. Carol merupakan anggota Starforce, unit militer milik Kree,
ras alien dari planet Hala, yang telah sekian lama terlibat perang melawan
Skrull, alien dengan kemampuan meniru wujud orang lain yang dipimpin Talos (Ben
Mendelsohn). Carol berlatih di bawah bimbingan Yon-Rogg (Jude Law), yang selalu
mengingatkannya agar tak membiarkan dirinya dikuasai letupan emosi. Sebab konflik
batin tak pernah berhenti bergejolak dalam hati Carol. Dia kehilangan ingatan
masa lalu, hanya melihat kilatan-kilatan memori berisi wajah-wajah serta
kehidupan asing.
Kita tahu Carol berasal dari Bumi,
dan saya makin tak sabar menantikannya pulang ketika first act filmnya tampil lemah. Hubungan guru-murid maupun
persahabatannya dengan Yon-Rogg urung tampak meyakinkan, sedangkan deretan aksi
yang berpusat pada pertempuran dua bangsa alien (buku Kree-Skrull War termasuk sumber adaptasi) dibungkus oleh pasangan
sutradara Anna Boden-Ryan Fleck (Sugar,
Mississppi Grind) lewat camerawork, mise-en-scène,
plus koreografi yang menghalangi penontonnya melihat keseluruhan peristiwa. Pun
seringkali, aksinya bergulir buru-buru bak pemenuh durasi semata.
Sampai fokusnya berpindah ke Bumi,
barulah Captain Marvel menemukan
pijakan. Aksinya membaik, meski jauh dari memorable.
Setidaknya terselip paparan drama solid, pun akhirnya kita bertatap muka dengan
Nick Fury (Samuel L. Jackson dalam balutan teknologi de-aging meyakinkan). Pertukaran kelakar antara Fury dengan Carol
kerap melahirkan hiburan brilian berkat beberapa lelucon cerdik dalam naskah
tulisan Anna Boden dan Ryan Fleck bersama Geneva Robertson-Dworet (Tomb Raider), termasuk kemunculan kucing
menggemaskan bernama Goose yang bakal menjawab sebuah misteri kehidupan, “Mengapa
hewan lucu satu ini sering bersikap aneh?”.
Akhirnya kita berkesempatan melihat
Samuel L. Jackson memamerkan talenta bercelotehnya di film MCU secara layak,
sedangkan Brie Larson menghadirkan performa yang mampu menampar telak para
pembencinya. Pihak-pihak penebar komentar bernada miring soal pelitnya senyuman
Captain Marvel silahkan berjongkok di sudut ruangan meratapi hidup kalian yang
menyedihkan, sebab Brie Larson telah melahirkan salah satu pahlawan super
dengan ekspresi paling kaya. Sang aktris piawai menangani humor baik verbal
atau non-verbal, juga memiliki bobot akting dramatik yang berada di jajaran
teratas di antara deretan pelakon MCU.
Terkait Carol Danvers selaku figur
pahlawan, terdapat sebuah momen yang amat saya sukai ketika ia terlibat pembicaraan
dengan Monica Rambeau (Akira Akbar)—puteri sahabatnya, Maria Rambeau (Lashana
Lynch)—yang di komik sempat menyandang nama Captain Marvel sebelum Carol. Cara
Brie menangani adegan itu, bagaimana ia tersenyum, bagaimana bahasa tubuhnya
bicara, mencerminkan sosok pahlawan yang “dekat”, sehingga begitu gampang dicintai
publik.
Sudah barang tentu elemen feminisme
turut dialirkan dalam DNA kisahnya, yang membahas seringnya Carol, sebagai
wanita, dianggap tak pantas berada di suatu tempat atau melakukan aktivitas
tertentu. Sayang, alih-alih menjadi akar, elemen itu berakhir sebatas satu dari
sekian banyak cabang, urung mengambil alih pusat sehingga terkesan sambil lalu.
Biar demikian, secara khusus saya mengagumi sekuen kala Carol—dari berbagai
fase kehidupannya—digambarkan acap kali terjatuh namun senantiasa kembali
berdiri tegak.
Berangkat dari skena indie, kedua sutradara terbukti lebih
solid mengharahkan momen drama low-key,
seperti obrolan emosional Carol dan Maria. Tapi soal sekuen aksi lain cerita.
Seperti telah disinggung sebelumnya, pekerjaan rumah mereka masih menumpuk. Hampir
semua pertempuran takkan melekat lama di ingatan kecuali klimaks eksplosif
penuh kilatan cahaya, yang meskipun sekali lagi stake-nya terlampau rendah, cukup efektif menegaskan peran Carol
sebagai senjata pamungkas Avengers. Belum merasa cukup? Nantikan mid-credits scene yang seketika
menggandakan ketidaksabaran menantikan Avengers:
Endgame bulan depan.
Maret 07, 2019
Action
,
Akira Akbar
,
Anna Boden
,
Ben Mendelsohn
,
Brie Larson
,
Geneva Robertson-Dworet
,
Jude Law
,
Lashana Lynch
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Ryan Fleck
,
Samuel L. Jackson
,
Science-Fiction
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

