Tampilkan postingan dengan label Jeff Nathanson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeff Nathanson. Tampilkan semua postingan
THE LION KING (2019)
Rasyidharry
The Lion King adalah korban pilihan artistik Disney yang bertujuan
memanfaatkan kesuksesan live action
remake mereka. Dibuat dalam format fotorealistik, Jon Favreu (Iron Man, The Jungle Book) beserta tim
sudah mengerahkan kemampuan terbaik, tapi biar bagaimanapun, pendekatan
realistis pada dasarnya memang kurang cocok membungkus kisah si raja rimba.
Mungkin anda sudah mendengar kritik
terhadap minimnya ekspresi wajah para hewan di sini. Tidak sepenuhnya benar,
sebab bila diperhatikan lebih teliti, di balik tampilan fisik mereka yang
digarap luar biasa detail hingga ke tekstur terkecil, dapat ditemukan gurat-gurat
wajah humanis meski tidak dalam bentuk ekspresi besar, yang mana cocok bagi
karakter macam Sarabi (Alfre Woodard), tapi tidak untuk Mufasa (James Earl
Jones), Scar (Chiwetel Ejiofor), apalagi Zazu
(John Oliver).
Bayangkan tengah menonton animasi
aslinya, diisi plot serta adegan serupa, hanya saja pengemasannya menekankan
realisme. Artinya, kita takkan melihat Scar menelan Zazu, atau sekuen musikal I Just Can’t Wait to Be King yang
komikal nan berwarna. Patut disayangkan, namun gantinya, keagungan alam bisa
dirasakan, sebagaimana di adegan pembuka saat hewan-hewan penghuni Pride Lands
menyambut kelahiran Simba (Donald Glover menyuarakan Simba dewasa, JD McCrary meyuarakan Simba kecil). Rafiki
(John Kani) mengangkat si bayi singa, sementara awan memberi jalan bagi
semburat cahaya matahari yang menimbulkan kesan surgawi.
Desain Simba kecil bakal membuat
teriakan “Oooh” dan ”Aaaw” sering keluar dari mulut penonton, tapi ketika
kelucuan Simba berhasil mencuri hati, tidak demikian soal hubungannya dan sang
ayah. Mufasa merupakan sosok pemimpin berwibawa, sehingga menciptakan
ekspresinya pun jadi pekerjaan rumit. Walau James Earl Jones tanpa cela, sang
raja bak tanpa nyawa akibat wajah yang kurang menyatu dengan suara.
Berikutnya, anda tahu apa yang akan
terjadi. Berniat membuktikan kepantasan dan keberaniannya selaku calon raja,
Simba mengajak Nala (Beyoncé Knowles-Carter menyuarakan Nala dewasa, Shahadi
Wright Joseph menjadi Nala kecil) daerah terlarang berupa kuburan gajah, yang
rupanya menjadi sarang hyena. Itulah awal tragedi kala Scar, yang sejak lama
berambisi bertahta, membunuh Mufasa yang juga kakaknya, lalu menimpakan
kesalahan kepada Simba. Ketakutan, ia menuruti perintah pamannya agar pergi
dari Pride Lands.
Momen ikonik tatkala Scar mendorong
Mufasa dari tebing gagal dibuat ulang secara apik, kali ini bukan saja akibat
kurangnya ekspresi para singa, pula suara Chiwetel Ejiofor yang tanpa aura
kekejaman. Padahal, di adegan-adegan lain, Ejiofor mampu melakoni perannya dengan
baik. Beruntung, begitu saya mulai bersiap sepenuhnya dikecewakan, paruh
keduanya muncul sebagai penyelamat. Pertama, tentu berkat duo Timon-Pumbaa
(Billy Eichner-Seth Rogen). Keduanya adalah mesin penghasil tawa yang seketika
menjauhkan filmnya dari awan kelam miskin warna bernama “realisme”.
Pun di paruh ini, elemen musik
serta visualnya semakin memikat. Mengkreasi ulang karya buatannya, Hans Zimmer dibantu African
choir yang kembali dikomandani oleh Lebo M., melahirkan scoring yang mampu menggerakkan perasaan
(King of Pride Rock berulang kali
membuat saya bergetar), mengiringi visual revolusioner yang bukan saja
mengandalkan teknologi tinggi, pula kepiawaian sang sinematografer, Caleb
Deschanel (The Passion of the Christ,
Never Look Away). Pemandangan alamnya serasa bagian program Disneynature atau dokumenter National Geographic,
tentunya dengan tambahan proporsi kecantikan.
Musikalnya pun turut mendapat upgrade. Nomor The Lion Sleeps Tonight berlangsung lebih lama dan menyenangkan
tanpa perlu menjadi terlampau komikal, sedangkan biarpun Can You Feel the Love Tonight milik Favreu tak seromantis versi
aslinya, keberadaan vokal Beyoncé rasanya telah menutup kekurangan tersebut. Meski
minim nuansa “dimabuk kepayang karena asmara”, saya dibuat tersentuh oleh
lantunannya.
Modifikasi favorit saya yakni
ketika selaku penulis naskah, Jeff Nathanson (Catch Me If You Can, The Terminal) mengembangkan mome kala Rafiki
mengetahui bahwa Simba masih hidup. Dibarengi penyutradaraan kaya sensitivitas
dari Favreu, sekuen tersebut menangkap substansi “circle of life” lewat perjalanan segenggam bulu, yang menunjukkan
bagaimana semesta mempunyai kekuatannya sendiri guna menggiring makhluk-makhluk
di dalamnya menuju jalan takdir di mana kebaikan berkuasa.
Semua pendekatan berbasis realisme
di The Lion King rasaya lebih mudah
diapresiasi penonton dewasa, khususnya yang memahami indahnya keagungan alam.
Sebaliknya, penonton anak bisa saja menganggap filmnya kurang seru, bahkan
klimaksnya mungkin terlalu mengerikan bagi mereka. Beberapa bocah di studio
tempat saya menonton seketika mengangis begitu pertarungan liar antara
sekumpulan hewan buas berlangsung di bawah langit malam. Because once again—for better or worse—that’s realistic.
Juli 18, 2019
Adventure
,
Alfre Woodard
,
Beyoncé
,
Billy Eichner
,
Caleb Deschanel
,
Chiwetel Ejiofor
,
Donald Glover
,
Hans Zimmer
,
James Earl Jones
,
Jeff Nathanson
,
John Oliver
,
Jon Favreau
,
Lumayan
,
Musical
,
REVIEW
,
Seth Rogen
PIRATES OF THE CARIBBEAN: SALAZAR'S REVENGE (2017)
Rasyidharry
Berbarengan dengan Jack Sparrow yang ditelan Kraken pada akhir Dead Man's Chest, daya pikat Pirates of the Caribbean turut lenyap, bak ikut terbenam di Davy Jones' Locker. Ketika At World's End merupakan petualangan terlalu panjang yang melucuti pesona tokoh-tokohnya, On Stranger Tides menjadi installment yang demikian mudah terlupakan. Namun franchise ini mesti berlanjut. Selain didorong terus meningkatnya pendapatan tiap seri, sang bintang utama, Johnny Depp butuh kendaraan solid pasca rentetan film gagal, image buruk akibat kasus kekerasan terhadap Amber Heard, serta kesulitan finansial yang perlahan mendera karena gaya hidup super mewah yang konon memakan biaya $2 juta tiap bulan.
Melanjutkan tren film-film sebelumnya, Salazar's Revenge (berjudul Dead Men Tell No Tales untuk peredaran di Amerika Utara) menyertakan mitologi yang telah dikenal masyarakat, yakni segitiga Bermuda (disebut Devil's Triangle di sini) dan Trisula Poseidon. Alkisah, Kapten pasukan angkatan laut Spanyol bernama Armando Salazar (Javier Bardem) terjebak di Devil's Triangle akibat perbuatan Jack Sparrow. Bersama para awak kapalnya, Salazar pun dikutuk menjadi hantu, menanti saat balas dendam tiba. Demi melawan Salazar, Jack, dibantu oleh Henry Turner (Brenton Thwaites) yang ingin membebaskan sang ayah, Will Turner (Orlando Bloom) dari kutukan Flying Dutchman dan Carina Smyth (Kaya Scodelario), ahli astronomi yang dituduh penyihir.
Salazar's Revenge diniati sebagai awal petualangan baru berisi darah baru, di mana Henry dan Carina ditugaskan mengikuti jejak Will dan Elizabeth (Keira Knightley). Namun sejatinya poros cerita berkutat di formula familiar. Tidak peduli apa bentuk harta buruan, petualangan berlangsung serupa, seolah ada ketakutan jika menghilangkan satu saja unsur, kutukan bakal menghampiri. Terlihat pada naskah Jeff Nathanson yang walau tak banyak menambah sub-plot dan menjaga alur dari kesan penuh sesak macam film ketiga, masih mengikutsertakan angkatan laut dalam peran kurang penting. Momen penutup klimaks yang dimaksudkan menambah bobot emosi urung berdampak, sebab di tahap ini penonton tahu, baik kematian atau kutukan dapat diakali melalui beragam cara. Pun post-credit scene yang meski berpotensi memuaskan penggemar atas siratan kembalinya tokoh lama, membuktikan franchise ini enggan berlayar jauh, memilih berputar di lautan yang sama.
Setelah 14 tahun, tentu Jack Sparrow sudah menyatu, muncul bagai naluri dalam diri Johnny Depp. Namun daripada performa alamiah, penonton justru disuguhi penampilan sang aktor yang terlihat tanpa tenaga, entah dipengaruhi usianya yang tak lagi muda (53 tahun) atau Depp memang sudah malas dan kembali semata-mata demi bayaran besar. Hilang gerak lincah hingga tindak tanduk tak terduga sang kapten. Di film kelimanya, Jack Sparrow sekedar hiasan yang ada hanya karena merupakan maskot franchise. Depp justru mengesankan tatkala beberapa menit tampil sebagai Jack versi muda yang lebih tenang, menebar pesona melalui senyum penuh percaya diri.
Saat Brenton Thwaites kekurangan karisma, Kaya Scodelario meniupkan semangat memberontak sebagaimana Keira Knightley dahulu menghidupkan seorang wanita kuat pendobrak tradisi. Geoffrey Rush sebagai Barbossa tidak segila dulu yang mana bukan kekeliruan sang aktor, melainkan tuntutan naskah. Barbossa tanpa teriakan "You bloomin' cockroaches!" memang kurang lengkap. Untungnya Bardem (disempurnakan balutan CGI tepat guna) menyajikan penampilan mengerikan sebagai Salazar, hantu kejam yang enteng melakukan pembantaian, juga intimidatif kala berbicara. Setiap kata terucap dari mulut makhluk kegelapan ini, secercah cahaya menyinari filmnya, memberi kekuatan.
Kursi penyutradaraan ditempati duet Joachim Rønning dan Espen Sandberg (Kon-Tiki), meramaikan jumlah sineas independen yang berkesempatan menggarap blockbuster. Beberapa set-piece "kelas menengah" digarap baik, sebutlah pencurian brankas (atau bank) yang ibarat Fast Five versi masa lampau, di mana mobil mewah digantikan barisan kuda. Adegan sewaktu Jack terjebak dalam guillotine berputar pun seru sekaligus sanggup mengocok perut. Dua contoh sequence tersebut seperti mayoritas adegan aksi terbaik Pirates of the Caribbean dikemas bagai wahana taman hiburan: atraktif, menyenangkan, imajinatif. Sementara sisanya (termasuk klimaks) memperlihatkan kesulitan keduanya menangani aksi berbasis CGI. Gubahan musik Geoff Zanelli efektif membangun tensi (pula catchy), tapi Rønning dan Sandberg bak kebingungan menyusun gelaran aksi yang hilang arah di tengah terjangan badai efek visual.
Ralat: Jack Sparrow muda bukan diperankan oleh Johnny Depp, tapi Anthony De La Torre.
Mei 25, 2017
Action
,
Adventure
,
Brenton Thwaites
,
Espen Sandberg
,
Geoff Zanelli
,
Geoffrey Rush
,
Javier Bardem
,
Jeff Nathanson
,
Joachim Rønning
,
Johnny Depp
,
Kaya Scodelario
,
Keira Knightley
,
Kurang
,
Orlando Bloom
,
REVIEW
Langganan:
Postingan
(
Atom
)





