Tampilkan postingan dengan label Raffi Ahmad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Raffi Ahmad. Tampilkan semua postingan

RUMPUT TETANGGA (2019)

Sejauh ini, meski masih menyisakan sedikit kepahitan, 2019 adalah tahun yang menjanjikan bagi industri perfilman Indonesia. Banyak judul berkualitas paten buatan sineas kawakan, tapi hal paling menyenangkan adalah ketika beberapa pihak yang identik dengan produk bermutu jongkok, mulai melahirkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah minggu lalu MD Pictures merilis Sunyi, kini giliran RA Pictures—salah satu rumah produksi dengan reputasi paling negatif—melepas drama-komedi yang biarpun tetap menyimpan setumpuk kekurangan, sanggup tampil menghibur, bahkan menghangatkan hati.

Kita pernah berada di posisi Kirana (Titi Kamal). Dihantui ketidakpuasan, penyesalan, dan ingin menjalan kehidupan berbeda sesuai impian. Kirana merupakan ibu rumah tangga, sementara suaminya, Ben (Raffi Ahmad) bekerja di bidang jual-beli mobil. Kehidupan mereka berkecukupan, cukup bahagia, meski Kirana kerap kerepotan mengurusi kedua anaknya. Alergi sang puteri, Windy (Aqila Herby), terhadap kacang membuatnya harus selalu waspada, sedangkan puteranya, Rega (Daffa Deddy), mengidap disleksia. Kirana kekurangan percaya diri, merasa status sebagai ibu rumah tangga tak cukup mentereng, apalagi selepas pertemuannya dengan seorang kawan lama, Diana (Donita). Diana adalah konsultan PR ternama yang hidup bergelimang kemewahan dan masih melajang. Kirana menginginkan kehidupan semacam itu.

Mengusung premis fantasi menarik soal “hidup yang tertukar” seperti Freaky Friday, The Change-Up, dan lain-lain, Rumput Tetangga enggan terburu-buru membawa alurnya memasuki materi jualan utamanya itu. Digarap oleh Alim Sudio (99 Cahaya di Langit Eropa, Chrisye, Kuntilanak), naskahnya bergerak penuh kesabaran, terlebih dulu memantapkan pondasi, mendeskripsikan betapa beratnya keseharian Kirana supaya penonton bisa memahami frustrasinya.

Memasuki sekitar setengah jam, barulah elemen fantasi diperkenalkan. Di malam reuni SMA, Kirana bertemu Madam Sri Menyan (diperankan Asri Welas lewat kejenakaan khas yang tak pernah gagal mengocok perut lewat kata-kata tanpa saringan), peramal yang sanggup mengabulkan permintaan Kirana. Pagi berikutnya, Kirana terbangun di apartemen mewah, menyandang gelar CEO perusahaan sekaligus konsultan PR nomor satu, memiliki segala yang telah lama diimpikan. Hanya satu yang sekarang tidak ia punya: keluarga.

Sebaliknya, kini Diana menjadi ibu rumah tangga, istri Ben, sekaligus ibu bagi Windy dan Rega. Seperti telah judulnya tuliskan, mudah menebak ke mana Rumput Tetangga bakal berujung: Kirana akan menyadari betapa ia terlalu dikuasai rasa iri dan selalu merasa “rumput tetangga lebih hijau”. Tapi mudah ditebak atau tidak bukanlah soal. Terpenting adalah bagaimana film karya Guntur Soeharjanto (Jilbab Traveler, Ayat-Ayat Cinta 2, Belok Kanan Barcelona) ini menjadi drama-komedi menyenangkan yang lancar menyampaikan pesan sambil memainkan perasaan.

Sejatinya Rumpu Tetangga berpotensi turut mengolah kisah seputar pemberdayaan wanita, tepatnya membahas bahwa ibu rumah tangga bukan profesi memalukan, terlebih jika itu dijalankan tanpa paksaan alias merupakan pilihan. Cukup disayangkan, naskahnya urung mengeksplorasi isu di atas secara mendalam, tapi toh memang bukan itu fokusnya, melainkan tentang mensyukuri kehidupan.

Dramanya bergerak dengan baik, dihiasi ketepatan Guntur Soeharjanto memilih lagu-lagu pengiring seperti Yang Kumau-nya Krisdayanti atau Andai Aku Bisa milik Chrisye, yang berkontribusi menambah bobot emosional beberapa momen, tatkala Titi Kamal memamerkan talentanya memadukan comic timing dengan akting dramatik. Saya yakin anda akan menemukan banjir pujian bagi Titi di ulasan-ulasan lain, sehingga biarkan saya turut menekankan betapa bagusnya penampilan Gading Marten sebagai Indra, asisten Kirana (dan Diana), bukti betapa kualitasnya di Love for Sale bukan kebetulan. Gading punya sensitivitas yang berguna menghadirkan akting subtil, sehingga ia mampu banyak bicara meski tanpa tuturan kata.

Unsur fantasi pun dipresentasikan lumayan rapi, saat berbagai tebaran petunjuk bisa ditemukan sepanjang durasi sebelum kebenaran sesungguhnya terungkap. Sayang, mencapai babak ketiga, naskahnya keteteran. Berbagai lubang serta ketidakjelasan aturan perihal “tukar-menukar hidup”, datang silih berganti begitu twist diungkap. Mencuat pula beberapa tanya, misalnya, “Mengapa Madam Sri Menyan harus berteka-teki tentang cara kembali ke kehidupan semula?”. Beruntung filmnya memiliki protagonis likeable ditambah cerita yang mendapat eksplorasi memadahi, di mana saya mampu diyakinkan jika kehidupan lama Kirana memang layak diperjuangkan. Alhasil, biarpun telah tercium sedari awal filmnya bergulir, Rumput Tetangga memiliki penutup yang memuaskan.

KESEMPATAN KEDU(D)A (2018)

Saya bisa membayangkan bagaimana banyak orang memandang sebelah (bahkan menutup) mata Kesempatan Kedu(d)a begitu tahu filmnya diproduksi RA Pictures, bahkan menampilkan Raffi Ahmad sebagai salah satu pemeran utama. Bisa dipahami melihat rekam jejak rumah produksi satu ini. Tapi saya memberinya kesempatan, sebab kursi penytutradaraan ditempati Awi Suryadi (Danur Universe) yang kembali menggarap komedi setelah sekian lama. Awi pun menulis naskahnya bersama duet Agasyah Karim-Khalid Kashogi (Madame X, Badoet, Reuni Z), yang memiliki filmografi lumayan baik. Dan terlihat, meski masih dibarengi setumpuk kelemahan, Kesempatan Kedu(d)a merupakan produk terbaik RA Pictures sejauh ini.

Dua kawan lama, Abi (Raffi Ahmad) dan Ken (Zizan Razak) bereuni di pengadilan agama, ketika keduanya bercerai di saat bersamaan. Walau awalnya bersedih, mereka sadar, status duda memberi kesempatan kedua untuk menggapai mimpi yang tertunda akibat tentangan para mantan istri. Abi ingin membuka cafe, sedangkan Ken coba merintis ulang karirnya sebagai aktor. Tapi kesuksesan tak semudah membalikkan telapak tangan. Cafe Abi sepi pengunjung, dan Ken selalu gagal mendapat peran kecuali di audisi obat pencahar, yang ia tolak mentah-mentah. 

Suatu hari, Syafa (Cut Meyriska), puteri produser ternama (Diky Chandra), datang ke cafe bersama temannya, Dianti (Marsha Aruan), si penggemar drama Korea. Keduanya datang dalam kondisi memiliki masalah, dan masalah itu memberi Ken ide untuk menyelesaikan masalahnya dan Abi.

Di sini masalahnya. Rencana licik Ken tidak simpatik, yang mana bukan masalah besar, andai secara bertahap (bukan tiba-tiba di akhir), ia mampu membuktikan kelayakannya untuk menutupi kesalahan tersebut. Sayangnya tidak, ketika sepanjang waktu, ia hanya bertingkah bodoh, kebingungan menangani situasi yang diciptakan sendiri, sehingga romansa yang dipaksa hadir antara dia dan Syafa berlangsung kurang meyakinkan. Kelebihan Ken adalah keberhasilannya memancing tawa Syafa. Namun meski punya ayah yang memintanya terjun ke dunia hiburan alih-alih bersekolah serta mantan menyebalkan (Bastian Steel), hidup Syafa tak seberapa merana sampai menjadikan tawa suatu hal langka yang hanya bisa diberikan Ken. Apalagi, dibanding tipu daya Ken, gelak tawa beberapa hari jelas tidak sebanding.

Romansa mereka tidak bekerja, tetapi sebagai komedi, cukuplah memberi hiburan. Razak masih kurang mumpuni menyokong beban film selaku pemeran utama, walau sang aktor asal Malaysia bisa diandalkan dalam memancing tawa, khususnya dibandingkan kecanggungan penghantaran humor Raffi. Khusus bagi Raffi, jika perannya diberikan pada aktor dengan sensibilitas tinggi dalam melakoni momen dramatis, niscaya Kesempatan Kedu(d)a bakal jauh lebih baik.

Mengapa khusus Raffi? Karena kisah Abi, tanpa diganggu kebodohan-kebodohan Ken, dapat membuat film ini lebih manis, lebih menyentuh, mengenai usaha seorang pria mengumpulkan lagi keping-keping hatinya yang berantakan demi sang buah hati, sampai di kemudian hari, menemukan cinta yang baru (sewaktu Ken mencintai Syafa, Abi pelan-pelan kepincut pada Dianti). Saya suka ketika naskahnya membuat hubungan Abi dan puterinya terjadi 2 arah, di mana mereka ingin dan coba saling membahagiakan. Sementara keberhasilan Marsha Aruan memainkan peran love interest yang manis dan kadang jenaka, menambah keasyikan menyaksikan sisi romansanya. 

Awi jelas menunjukkan sisi lainnya sebagai sutradara komedi-romantis bertalenta yang banyak pihak mungkin lupa setelah ia banyak berkutat di horor beberapa tahun belakangan. Comedic timing-nya solid, pun Awi mampu memberi momen romantis menjelang akhir lewat reka ulang sebuah momen manis drama Korea, Oh My Venus (2015). Momen itu terasa manis karena Awi tak berusaha keras membuatnya romantis sekaligus dramatis, memilih tetap menyuntikkan humor. Andai saja Kesempatan Kedu(d)a lebih mengutamakan kisah kekeluargaan dengan bumbu percintaan ketimbang buddy comedy.....

RAFATHAR (2017)

Karya Umbara Bersaudara senantiasa kaya ambisi. Berkiblat pada blockbuster Hollywood, tercipta deretan alur fantastik walau kerap memaksakan pun kurang masuk akal, visual bergaya keren walau sering melupakan substansi, hingga kuantitas pemakaian CGI tinggi meski kadang urung dibarengi kualitas. Selalu muncul kata "tapi" dan tidak jarang hasil akhirnya memecah penonton menjadi dua kubu, biar demikian, keberanian memasuki area yang jarang disentuh sineas tanah air jelas layak diapresiasi. Sekilas Rafathar bagai sekedar usaha Raffi Ahmad memanfaatkan rasa gemas publik akan puteranya yang baru dua tahun, namun bisa juga dipandang selaku angin segar, karena sejauh ini belum ada film Indonesia bertema petualangan dengan tokoh utama bayi.

Cerita high concept khas Umbara Bersaudara langsung nampak sejak adegan pembuka kala Profesor Bagyo (Henky Solaiman) kabur dari suatu laboratorium canggih. Di waktu bersamaan, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) tengah melancarkan aksi perampokan. Akibat kebetulan bercampur kekonyolan, dua peristiwa ini saling bersinggungan, memberi kesempatan Profesor Bagyo meninggalkan Rafathar (Rafathar Malik Ahmad) di depan pintu aktris sinetron asal Malaysia, Mila (Nur Fazura). Bagi Mila beserta sang suami, Bondan (Arie Untung), kemunculan Rafathar adalah anugerah setelah bertahun-tahun pernikahan tanpa dikaruniai anak, tanpa tahu bahwa Rafathar bukanlah bayi biasa.
Kemudian kisah menyoroti Jonny dan Popo menjalankan misi dari Bos Viktor (Agus Kuncoro) untuk menculik Rafathar. Pada paruh ini filmnya mengusung pola serupa Baby's Day Out, di mana dua penculik minim kompetensi dibuat kerepotan oleh seorang bayi. Bedanya, si bayi bukan dinaungi keberuntungan melainkan punya kekuatan besi berani. Jadilah banyolan berupa Jonny dan Popo dihujani segala macam perabot mendominasi. Walau sentuhan slapstick-nya tak sampai memancing tawa menggelegar, keputusan sutradara Bounty Umbara memanfaatkan CGI demi menambah kadar "siksaan" terhadap duo penculik bodoh itu agak menolong. Setidaknya timbul kegilaan pemancing senyum.

Di luar unsur slapstick, Rafathar sebagai komedi masih cukup menghibur. Materi dari naskah buatan Bounty Umbara bersama Bene Dion Rajagukguk sebenarnya tergolong hit-and-miss, tapi tiap kali kena sasaran, tawa sejenak dapat hadir termasuk berkat sokongan para pemain. Sewaktu Raffi Ahmad lebih banyak berteriak-teriak atau menggerutu tak lucu meski secara mengejutkan lumayan baik di satu momen dramatik, Babe Cabita sebagai karakter yang setipe dengan seluruh peran di karir keaktorannya sesekali menyegarkan suasana. Demikian pula gaya hiperbolis Agus Kuncoro sebagai penjahat multi logat.
Masalahnya, persentase hit-and-miss komedinya setara, sehingga tatkala humor gagal mengena, praktis Rafathar kehabisan daya. Bagi film komedi keberadaan plot kuat bukan kebutuhan utama, namun lain cerita ketika dua per tiga durasi nyaris kosong melompong, semata-mata mengandalkan lelucon yang tidak selalu berhasil. Sebaliknya, menjelang akhir mendadak setumpuk poin alur ditumpahkan, termasuk konspirasi bertaraf internasional ditambah sederet kejutan yang seluruhnya menggelikan karena sulit diterima nalar. Film ini bertutur soal bayi mutan, membuatnya sah jika diisi aspek yang melawan logika andai diiringi kesadaran atas kebodohan miliknya daripada semata-mata bentuk pemaksaan hasrat supaya terlihat keren. 

Kualitas CGI-nya terhitung lumayan sampai tiba klimaks pertarungan Rafathar melawan robot kulkas dan ATM, saat acap kali susah mencerna apa yang tengah berlangsung akibat CGI kasar. Belum lagi penonton hanya disuguhi tiga robot (yang katanya) senjata perang kelas satu bergerak secara canggung, saling tabrak, saling lempar, bagai minim usaha memberi sentuhan estetika dalam koreografi pertempuran. Sekali lagi film ini patut diapresiasi karena mengusung konsep yang belum dijamah film tanah air, meski soal kualitas, Rafathar adalah ambisi tinggi yang amat lemah dieksekusi. Paling tidak Rafathar Malik Ahmad masih bocah dua tahun super menggemaskan.


Review Rafathar juga tersedia di: http://tz.ucweb.com/8_PXdL