Tampilkan postingan dengan label Zizan Razak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zizan Razak. Tampilkan semua postingan

POLICE EVO (2019)

Film produksi gabungan antara Malaysia dengan Indonesia ini bagaikan quasi-reboot bagi seri Polis Evo. Walau masih menampilkan Shaheizy Sam dan Zizan Razak sebagai pemeran utama, filmnya berubah jalur dari buddy cop berbumbu komedi menjadi sajian police procedural yang lebih kelam. Cerita kedua film pun tak berkaitan, sementara pemilihan judulnya dibedakan, antara versi Malaysia (Polis Evo 2) dan internasional termasuk Indonesia (Police Evo).

Ceritanya mengetengahkan usaha pihak kepolisian memberantas kelompok teroris al-Minas, yang punya keterkaitan dengan pengedar narkoba bernama Riky (Tanta Ginting). Polri yang membantu kepolisian Malaysia, menempatkan Rian (Raline Shah) sebagai mata-mata di kubu Riky. Tapi setelah sebuah penyergapan yang gagal, Rian pun sadar bahwa ada pengkhianat yang selama ini selalu membocorkan rencana polisi kepada Riky.

Celaka bagi Rian, suatu insiden membuatnya dituduh sebagai pembunuh. Guna membersihkan namanya, dia pun mesti meringkus Riky, yang menyimpan seluruh barang bukti. Situasi semakin kompleks setelah Riky justru ditangkap pihak al-Minas, yang juga berencana menyandera puluhan warga pulau fiktif bernama Cherong. Al-Minas menuntut pembebasan ketua mereka, yang ditahan polisi pasca tertembak di suatu penyergapan berujung baku tembak.

Secara bersamaan, Inspektur Khai (Shaheizy Sam) dan Inspektur Sani (Zizan Razak) dari Malaysia pun tengah memimpin penyelidikan sebuah tim kecil di Cherong. Terjebak di situasi mematikan yang tidak terduga, kedua aparat beda negara itu pun harus bersatu, bukan hanya untuk melumpuhkan para teroris, pula melindungi nyawa puluhan manusia, termasuk mereka sendiri.

Timbul masalah penceritaan tatkala naskahnya kerepotan membagi fokus antar-karakter, yang masing-masing menyimpan potensi melahirkan konflik kompleks nan menarik. Misalnya Sani, yang sepanjang film menemui berbagai situasi—yang senantiasa melibatkan “pemakaian pistol” serta “menyelamatkan warga sipil”—di mana ia dituntut menarik keputusan cepat. Puncaknya adalah ujian terhadap prinsip sekaligus kondisi psikisnya, walau gejolak yang dihasilkan kurang dieksplorasi, pun berakhir terlampau gampang. Sedangkan story arc milik Rian yang menghadapi tuduhan palsu hanya berakhir selaku hiasan yang tak pernah terasa substansial, tidak peduli semeyakinkan apa pun Raline Shah memerankan jagoan aksi wanita.

Aktor Hasnul Rahmat memerankan Hafsyam, adik pimpinan al-Minas yang untuk sementara menggantikan peran sang kakak menggerakkan aksi para anggotanya “mencari surga”. Hasnul tampil apik memerankan antagonis sinting, seorang teroris seksis yang penuh keyakinan bahwa ia merupakan prajurit Tuhan. Sosoknya semakin mengerikan berkat kemampuannya mempermainkan psikis korban. Di tangan Hasnul, orasi-orasi Hafsyam mengingatkan saya betapa teroris pembawa bendera agama garis keras memang iblis mengerikan. Andai terdapat lebih banyak eksplorasi untuk ideologi Hafsyam, terlebih melihat keterlibatan al-Minas dalam bisnis jual-beli narkoba (yang mana diharamkan) demi membantu tercapainya tujuan mereka.

Jajaran aksi penuh letusan senjata maupun ledakan bom hadir dalam dosis tinggi, walau di banyak kesempatan, duo sutradara, Joel Soh dan Andre Chiew, terlalu bergantung pada quick cuts yang melucuti intensitas. Beruntung kelemahan itu dibayar lunas oleh keseruan babak ketiganya. Menampilkan musik heart-pumping garapan tim Maveriq Studios dan momen heroik tokoh-tokohnya, klimaks menegangkan tercipta. Ketiga tokoh utama digiring menuju pertarungan maha berat yang mampu memancing saya bertanya, “Bagaimana mereka akan lolos dari semua ini?”. Police Evo juga layak diapresiasi atas kesediaan menghormati penonton dengan tak menerapkan deus ex machina sebagai alat penyelesai masalah, meski pilihan itu sejatinya terbuka lebar.

Di dalam medan perang berbahaya di Pulau Cherong, sosok Shaheizy Sam paling menonjol. Dikenal sebagai aktor penuh komitmen yang bersedia mengubah tubuhnya demi peran, Shaheizy bukan cuma terlihat meyakinkan selaku jagoan aksi lewat otot-otot besarnya, pula mengerahkan seluruh daya upaya kala menangani luapan-luapan emosi juga pertarungan hard-hitting.

KESEMPATAN KEDU(D)A (2018)

Saya bisa membayangkan bagaimana banyak orang memandang sebelah (bahkan menutup) mata Kesempatan Kedu(d)a begitu tahu filmnya diproduksi RA Pictures, bahkan menampilkan Raffi Ahmad sebagai salah satu pemeran utama. Bisa dipahami melihat rekam jejak rumah produksi satu ini. Tapi saya memberinya kesempatan, sebab kursi penytutradaraan ditempati Awi Suryadi (Danur Universe) yang kembali menggarap komedi setelah sekian lama. Awi pun menulis naskahnya bersama duet Agasyah Karim-Khalid Kashogi (Madame X, Badoet, Reuni Z), yang memiliki filmografi lumayan baik. Dan terlihat, meski masih dibarengi setumpuk kelemahan, Kesempatan Kedu(d)a merupakan produk terbaik RA Pictures sejauh ini.

Dua kawan lama, Abi (Raffi Ahmad) dan Ken (Zizan Razak) bereuni di pengadilan agama, ketika keduanya bercerai di saat bersamaan. Walau awalnya bersedih, mereka sadar, status duda memberi kesempatan kedua untuk menggapai mimpi yang tertunda akibat tentangan para mantan istri. Abi ingin membuka cafe, sedangkan Ken coba merintis ulang karirnya sebagai aktor. Tapi kesuksesan tak semudah membalikkan telapak tangan. Cafe Abi sepi pengunjung, dan Ken selalu gagal mendapat peran kecuali di audisi obat pencahar, yang ia tolak mentah-mentah. 

Suatu hari, Syafa (Cut Meyriska), puteri produser ternama (Diky Chandra), datang ke cafe bersama temannya, Dianti (Marsha Aruan), si penggemar drama Korea. Keduanya datang dalam kondisi memiliki masalah, dan masalah itu memberi Ken ide untuk menyelesaikan masalahnya dan Abi.

Di sini masalahnya. Rencana licik Ken tidak simpatik, yang mana bukan masalah besar, andai secara bertahap (bukan tiba-tiba di akhir), ia mampu membuktikan kelayakannya untuk menutupi kesalahan tersebut. Sayangnya tidak, ketika sepanjang waktu, ia hanya bertingkah bodoh, kebingungan menangani situasi yang diciptakan sendiri, sehingga romansa yang dipaksa hadir antara dia dan Syafa berlangsung kurang meyakinkan. Kelebihan Ken adalah keberhasilannya memancing tawa Syafa. Namun meski punya ayah yang memintanya terjun ke dunia hiburan alih-alih bersekolah serta mantan menyebalkan (Bastian Steel), hidup Syafa tak seberapa merana sampai menjadikan tawa suatu hal langka yang hanya bisa diberikan Ken. Apalagi, dibanding tipu daya Ken, gelak tawa beberapa hari jelas tidak sebanding.

Romansa mereka tidak bekerja, tetapi sebagai komedi, cukuplah memberi hiburan. Razak masih kurang mumpuni menyokong beban film selaku pemeran utama, walau sang aktor asal Malaysia bisa diandalkan dalam memancing tawa, khususnya dibandingkan kecanggungan penghantaran humor Raffi. Khusus bagi Raffi, jika perannya diberikan pada aktor dengan sensibilitas tinggi dalam melakoni momen dramatis, niscaya Kesempatan Kedu(d)a bakal jauh lebih baik.

Mengapa khusus Raffi? Karena kisah Abi, tanpa diganggu kebodohan-kebodohan Ken, dapat membuat film ini lebih manis, lebih menyentuh, mengenai usaha seorang pria mengumpulkan lagi keping-keping hatinya yang berantakan demi sang buah hati, sampai di kemudian hari, menemukan cinta yang baru (sewaktu Ken mencintai Syafa, Abi pelan-pelan kepincut pada Dianti). Saya suka ketika naskahnya membuat hubungan Abi dan puterinya terjadi 2 arah, di mana mereka ingin dan coba saling membahagiakan. Sementara keberhasilan Marsha Aruan memainkan peran love interest yang manis dan kadang jenaka, menambah keasyikan menyaksikan sisi romansanya. 

Awi jelas menunjukkan sisi lainnya sebagai sutradara komedi-romantis bertalenta yang banyak pihak mungkin lupa setelah ia banyak berkutat di horor beberapa tahun belakangan. Comedic timing-nya solid, pun Awi mampu memberi momen romantis menjelang akhir lewat reka ulang sebuah momen manis drama Korea, Oh My Venus (2015). Momen itu terasa manis karena Awi tak berusaha keras membuatnya romantis sekaligus dramatis, memilih tetap menyuntikkan humor. Andai saja Kesempatan Kedu(d)a lebih mengutamakan kisah kekeluargaan dengan bumbu percintaan ketimbang buddy comedy.....